[OS Special YoonWonDay] Say You Love Me ( Noona, I Love You series )

 

Say You Love Me

( Noona, I Love You series )

By

Uchie

Special for YoonWonitedDay

Happy Reading ^^

~~

Sebulan, dua bulan, tiga bulan….

 

Ya, tepat hari ini tiga bulan yang lalu Siwon melamarnya. Bagaimana prosesnya? Kalian tidak akan percaya, dia dilamar didepan makam ibu Joon dan tanpa ada cincin untuk disematkan dijarinya. Tapi Yoona tetap menerimanya. Tentu saja ia menerimanya karena ia menyukai pria itu, mencintai tepatnya.

 

Berbicara soal cinta, itu yang sekarang sedang mengusik pikiran Yoona. Sejak hari dia dilamar Siwon, ia merasa ada sesuatu yang kurang dari hubungan mereka. Kau tahu, semacam hati yang diisi bunga-bunga tapi ada sedikit celah yang belum bisa dimasuki bunga tersebut. Dan itu adalah pernyataan cinta. Ia mencintai Siwon, dan itu pasti tapi Siwon?

 

Kata orang cinta bisa dilihat dari sikap si pria, cara mereka memperlakukan wanita yang ia cintai. Kalau dari hal itu orang menilai cinta, Yoona yakin 100% kalau Siwon mencintainya. Setiap perlakuannya selama ini mencerminkan kasih sayang tidak terhingga untuknya. Apapun yang ia inginkan Siwon selalu berusaha penuhi. Ya walau terkadang ia harus mengalah dengan kesibukannya, tapi ia mengerti. Lain dari itu, Siwon selalu ada untuknya.

 

Cinta….

 

Masalahnya, Siwon belum pernah sama sekali menyatakan kata itu kepadanya dan ia merasa butuh mendengar kata itu. Bilang ia kekanak-kanakkan, itu memang benar. Ia baru 23 tahun tahun dan untuk perempuan muda sepertinya, hal yang lumrah menginginkan hal itu bukan?

 

Yoona merasakan sesuatu mengenai kepalanya. Ia mendongak, melihat kesekeliling siapa yang telah berani mengganggu waktu tenangnya. “Yak! Tidak bisakah Kau tidak menggangguku?”

 

Yoojin memutar bola matanya, perlahan mendekat lalu duduk didepan meja Yoona. “Biasanya senyam-senyum sendiri karena si pangeran. Apa sekarang wajah kucelmu itu juga karena si pangeran duren mu itu?”

 

Yoojin memang selalu tahu isi pikirannya, apa karena selalu berada berdekatan atau memang ia punya kemampuan seperti itu? Entahlah.

Yoona mengangguk lemah lalu kembali menempelkan wajahnya dengan kertas-kertas yang berserakan diatas meja. “Memangnya ada apa euh? Dia membatalkan kencan kalian? Atau mengingkari janjinya? Atau mungkin….” Mata Yoojin membesar, “dia sudah berselingkuh??!!”

 

Yoona langsung menyentil kening Yoojin. “Kau pikir dia Joowon!”

 

“Yak! Joowonku tidak akan pernah melakukannya!”

 

Yoona mendengus, “ck! Percaya diri sekali. Terakhir aku melihatnya bersama polisi wanita rekannya itu berduaan, yakin tidak ada hubungan apa-apa?”

 

“Oya? Namanya Jung Eumjung, 30 tahun dan dia sudah bersuami, puas?”

 

“Wah! Kau benar-benar menyeramkan Yoojin-ah sampai-sampai tahu latar belakang rekan Joowon.”

 

Yoojin mengabaikan sindiran Yoona lalu fokus menatap wajah sepupunya itu, “jangan mengalihkan pembicaraan, jadi katakan ada apa?”

 

Yoona menopang kepalanya dengan kedua tangan. Sebenarnya malu untuk menceritakan masalahnya, tapi ya hanya Yoojin yang ia punya. “Dia belum mengatakan kalau dia mencintaiku Yoojin-ah.”

 

“Apa?”

 

“Iya, dia tidak pernah mengatakan mencintaiku. Dia hanya pernah mengatakan menyukaiku itupun dapat dihitung jari pada satu tangan.”

 

“Kau ini, dia bukan pria belasan tahun yang senang mengumbar kata-kata. Dia itu pria dewasa Yoong.”

 

“Tapi tetap saja. Aku ingin mendengar dia mengatakannya. Apa itu salah?”

 

Yoojin menghela napasnya. Tidak salah memang Yoona menginginkan hal itu, anggap saja untuk lebih memantapkan hatinya pada pria yang sekarang berada dihatinya. Kalau dia diposisi Yoona, mungkin juga akan merasa seperti itu. Untung Joowon pernah mengatakan mencintainya, walau cuma sekali tapi lebih mendingan dari pada gadis dihadapannya ini.

 

“Tanyakan langsung padanya Yoong, bilang kalau Kau ingin mendengarkan ia mengatakannya.”

 

“Bagaimana mungkin aku langsung menanyakannya Yoojin-ah. Itu memalukan, lagian Kau tahu sendiri pribadi macam apa dia.” Benar juga, pikir Yoojin. Pria cool cenderung pendiam dan punya harga diri yang sangat tinggi itu mungkin lebih memilih bekerja tanpa henti dari pada mengucapkan pernyataan cinta kepada orang yang dicintainya. “Aku ingin dia mengatakannya tanpa paksaan, kau tahu seperti tiba-tiba saja ia mengatakannya kepadaku tanpa aku sangka. Itu akan menjadi momen teromantis dalam hidupku.” Lagi, Yoona mendapati sesuatu mengenai kepalanya.

 

“Berhenti berkhayal, pikirkan caranya.” Yoona mendengus kesal.

 

“Aku sudah memikirkannya dari tadi.”

 

Beberapa saat diam, Yoojin meraih tangan Yoona lalu meletakkan kedadanya. “Aku mencintaimu,” Yoojin membuat matanya tampak seperti mendambakan orang dihadapannya.

 

Yoona buru-buru menarik tangannya, bergidik ngeri. “Kau menggelikan.”

 

“Aku membantumu mempraktekkan caranya. Jadi saat kalian makan bersama pilihlah momen yang tepat untuk melakukannya. Lakukan seperti tadi. Aku yakin ia akan membalas mengatakannya.”

 

Yoona menyipitkan matanya, “apa Kau yakin?”

 

“Kalau tidak dicoba kita tidak akan tahu hasilnya.” Yoojin mengedipkan matanya, “semangat! Kau pasti bisa!”

 

~~

 

Entah karena Tuhan sayang padanya dan mungkin ditambah doa dari Yoojin (walaupun ia sedikit meragukannya), siang ini tiba-tiba saja Siwon menghubunginya dan meluangkan waktu untuk bisa makan berdua dengannya. Hal yang sangat langka! Biasanya pria itu sibuk sepanjang hari hingga mereka jarang sekali bisa makan siang berdua. Sekalinya pun bisa, pasti akan selalu ada Joon bersama mereka. Karena itulah Yoona menyebutnya langka, makan siang bersama dan hanya berdua. Rencana yang disarankan Yoojin bisa segera ia laksanakan.

 

“Kenapa tidak makan? Makanannya tidak enak?” Yoona mengerjapkan matanya, sadar kalau ia sudah bersama Siwon sekarang. Pria itu tampak sangat tampan siang ini dengan memakai kemeja putih dan dasi berwarna biru langit yang sedikit dilonggarkan dilehernya.

 

“Tidak, ini enak.” Yoona tersenyum kikuk lalu kembali menyantap makanan dihadapannya. Sudah setengahnya ia santap, memikirkan kapan waktu yang tepat untuk melakukannya. Sekarang atau menunggu makanannya habis? Yoona melirik makanan Siwon, ia perkirakan dua suapan lagi mungkin akan menyelesaikan makanannya. Yoona memutuskan untuk menunggu sampai Siwon menghabiskan makanannya. Tinggal satu suapan lagi, dan Yoona meletakkan sendok dan garpunya mempersiapkan diri untuk meraih tangan Siwon. Jantungnya berdegup lebih cepat, tiba-tiba saja keringat dingin mengalir dari keningnya.

 

Drrtt… Drrtt…

 

Getar ponsel diatas meja mengalihkan perhatian Yoona, handphone milik Siwon.

 

“Ada apa?”

“…..”

“Lakukan saja sendiri!”

“……….”

Siwon tampak menggelengkan kepalanya kesal, “Baiklah, aku usahakan segera ke kantor.”

 

Siwon menatap horor handphone miliknya. “Siapa yang menelepon?” Siwon mengalihkan tatapannya kepada Yoona.

 

“Kyuhyun, sangat tidak bisa diandalkan. Dia meminta bantuan dalam laporannya.” Siwon menangkap wajah gelisah Yoona. “Kau kenapa?”

 

“Tidak, aku baik-baik saja. Pergilah, mungkin itu sangat penting. Aku akan menghabiskan makananku dan akan kembali ke butik.”

 

“Kau yakin? Kenapa dahimu berkeringat?” Siwon menyentuh kening Yoona mencoba memeriksa, lalu mengambil tisu mengusap keringat Yoona yang mengalir.

Yoona mengangguk yakin, “hanya sedikit kepanasan. Pergilah…”

 

Siwon meraih tangan Yoona, menggenggamnya erat, “Kau lebih penting dari pada urusan Kyuhyun, jadi habiskan dulu makananmu lalu aku akan mengantarkanmu kebutik.”

 

Oke, itu memang sangat manis sekali. Tapi bukan itu, ini tidak sesuai dengan rencananya.

 

Yoona menelan salivanya, mengangguk lalu kembali menyantap makanannya secepat yang ia bisa. Kegugupannya yang diatas rata-rata mengalahkan keberaniannya, jadi sepertinya ia harus menyerah dengan rencana yang disarankan Yoojin, sekarang.

 

~~

 

“Sangat memalukan! Aku tidak akan melakukannya.”

 

“Belum juga dicoba,” cibir Yoojin.

 

“Belum dicoba saja aku sudah sangat gugup hingga keluar keringat dingin, aku tidak bisa melakukannya.” Yoona melempar sepatu yang dipakainya kesudut ruang kerjanya lalu menghempaskan tubuhnya diatas sofa.

 

“Aku punya rencana lain. Aku mendapatkan ide saat Joon datang tadi.”

 

“Joon kesini?” Yoojin mengangguk. “Untuk menemuiku? Dengan siapa?”

 

“Tentu saja untuk menemuimu, dan ia datang dengan Joowonku.”

 

“Lalu apa yang Kau katakan kepadanya?”

 

“Kau makan siang diluar dengan Ayahnya.”

 

“Apa?! Sudah tahu dia pencemburu, kenapa Kau beritahu dia kalau aku bersama Ayahnya?” Yoona mengusap wajahnya frustasi, dia yakin sekarang Joon marah kepadanya.

 

“Ya, Kau benar. Saat dia tahu Kau bersama Ayahnya dia jadi pendiam dan tidak mau menunggumu kembali. Walau sudah aku bujuk, tapi dia tetap merengek kepada Joowon untuk mengantarkannya pulang.”

 

“Ya Tuhan….. Apa yang harus kulakukan sekarang?”

 

“Tidak usah memikirkan hal itu dulu. Aku punya cara untuk mu. Mau dengar?”

 

“Aku tidak ingin mendengarnya!”

 

“Dengarkan saja dulu, Kau yang memutuskan melakukannya atau tidak.” Tidak mendapatkan bantahan dari Yoona, Yoojin berbisik ketelinga Yoona.

 

“Mwo? Haruskah aku melakukannya?”

 

“Terserah, tapi aku jamin ini akan berhasil. Tidak mungkin ia tidak cemburu, kalau memang ia mencintaimu.”

 

“Jadi?”

 

“Mulailah hari ini, nanti malam pergi kerumahnya dan temui Joon. Lakukan seperti yang aku katakan.”

 

Yoona mendesah, selama ini ia bersikap normal dan sekarang demi pernyataan cinta saja dia harus berbuat hal itu? Tidakkah nantinya akan terlihat aneh?

 

“Yoojin-ah….”

 

“Lakukan! Kalau Kau memang menginginkannya.”

 

Yoojin meraih tas tangannya, “Kau jaga butik ya, aku akan mengunjungi Joowonku dulu. Jangan lupa setelah butik tutup segera kerumah Joon. Bye sepupuku sayang.” Yoojin memberi kecupan jauhnya untuk Yoona, hingga Yoona menggumam kata ‘gila’ untuk sepupunya itu. Lagi-lagi ia ditinggal sendirian dibutik untuk berkencan, sepupu macam apa dia. Yoona berdecak kesal.

 

Bangkit dari sofa, Yoona menuju meja kerjanya. Beberapa rancangan sudah menari-nari diotaknya meminta untuk segera ditumpahkan ke atas kertas. Walau pikirannya kacau, otak merancangnya masih bekerja dengan baik. Segera saja dia meraih pensil lalu mulai mencoret-coret diatas kertas.

 

Tanpa ia sadari hari telah mulai larut, dua orang karyawan yang bekerja dibutik sudah menutup pintu depan butik dan berpamitan sejak dua jam yang lalu. Sedangkan Yoona masih asyik dengan pensil dan kertasnya.

 

“Belum pulang?” Suara berat menyapanya dari arah pintu masuk ruangan kerjanya. Siwon dengan setelan jas lengkap tersenyum kearahnya, sedikit membuat Yoona terpana. Kapan ia tidak terpana dengan pria tampan didepannya? Sepertinya tidak pernah. Inilah kelemahan terbesarnya.

 

“Ayo, aku akan mengantarmu pulang.” Yoona mengerjapkan matanya, berusaha fokus dengan ucapan Siwon, bukan dengan wajah tampannya itu.

 

“Oke, tapi tunggu ya, sedikit lagi…” Yoona dengan cepat memeriksa beberapa gambar rancangannya, menandai detail yang ia rasa kurang dan akan ia perbaiki besok.

 

Yoona meraih tas sandangnya, lalu memakai sepatu yang tadi ia lempar disudut ruangan. Membiarkan Siwon mendahuluinya, karena ia akan mengunci ruang kerja serta pintu depan butiknya.

 

“Kita makan malam dulu?”

 

Tawaran Siwon memang menggoda tapi ada yang lebih penting yang harus ia lakukan terlebih dahulu.

 

Joon…

 

Yoona melirik jam tangannya, sudah pukul sepuluh malam. Dasar! Dia bahkan tidak sadar kalau sudah selarut ini. Joon pasti sudah tidur.

 

Melihat wajah gelisah Yoona Siwon bertanya, “ada apa?”

 

Yoona menatap Siwon, wajah tampan itu lagi. Fokus Yoona, FOKUS!! “Hmm… Joon mungkin sedang marah padaku, tadinya aku berencana menemuinya tapi karena keasyikan bekerja jadi tidak sadar dengan waktu, sekarang sudah terlalu larut dan Joon pasti sudah tidur.”

 

Siwon menatap Yoona bingung, “kenapa dia marah?”

 

“Tadi dia kebutik dan Yoojin mengatakan kalau aku makan siang denganmu. Dan setelah itu Joon langsung minta diantar pulang.” Siwon mengangguk mengerti. “Mungkin besok saja aku menemuinya.” Yoona melirik Siwon, “Ahjussi benar-benar belum makan malam?”

 

“Sebenarnya sudah, tapi Kau pasti belum makan kan?”

 

Iya sih, tapi dia sedang tidak selera makan. “Aku tidak lapar, aku langsung pulang saja.”

 

“Tidak Yoona, Kau harus makan. Aku tidak ingin Kau sakit. Aku akan menemanimu” Ya, perhatiannya perlu apresiasi tapi ini kesempatan bagus memulai menjalankan rencana. Menjaga jarak, dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Joon.

 

“Baiklah aku akan makan, tapi dirumah. Aku sedikit lelah.”

 

Yoona melirik Siwon, memastikan bagaimana reaksi pria itu, tapi tak terbaca. Wajahnya seperti biasa. Datar. ‘Ck! Bahkan dia tidak terlihat kecewa.’ Batin Yoona.

 

~~

 

“Kenapa baru pulang Yoong?”

 

Ayah Yoona membukakan pintu untuknya.

 

“Selamat malam tuan.” Siwon membungkuk menyapa tuan Im.

 

“Aku dari butik, tidak sadar kalau sudah malam.” Yoona mengecup pipi Siwon, “terimakasih sudah mengantarku pulang, Ahjussi.” Yoona lalu masuk tanpa melihat reaksi kedua pria yang melihatnya dengan pandangan terkejut.

 

“Maafkan perilaku Yoona, Siwon-ssi.” Tuan Im tersenyum malu. Bisa-bisanya anak perawannya melakukan hal itu dihadapan ayahnya sendiri dan kepada Siwon yang jelas-jelas adalah pria dewasa yang punya tata krama.

 

Siwon hanya membalas dengan senyuman kikuk, dia juga merasa tidak enak karena Yoona melakukannya didepan ayahnya. Yoona tidak seharusnya melakukan hal itu, bahkan tidak pernah sekalipun mereka menampilkan sentuhan fisik secara publik. Paling hanya pegangan tangan dan itupun jarang mereka lakukan.

 

Siwon langsung berpamitan pulang. Dengan suasana yang kurang nyaman itu dia juga tidak akan bisa bersikap normal akibat dari ciuman Yoona tadi. Tuan Im yang mengerti kegugupan Siwon tidak mencoba menahan, ia mengijinkan Siwon pulang. Dan sekarang ia berencana bicara dengan putrinya.

 

Yoona mendengar ketukan dari pintu kamarnya, pintu terbuka memperlihatkan sosok ayahnya yang langsung masuk tanpa menunggu persetujuan Yoona.

 

“Appa tidak mengira Kau seberani itu melakukannya dihadapan Appa.”

 

“Melakukan apa Appa?” Yoona yang telah berganti pakaian dengan piyama, menggulung rambutnya ke atas lalu mengambil novel di atas meja yang biasa ia baca saat ia akan tidur.

 

“Mencium Siwon tepat didepan Appa. Kau pikir itu tidak memalukan? Appa malu karena putri Appa yang melakukannya. Dan Appa yakin, Siwon pun juga malu karena kelakuanmu itu.”

 

“Appa, itu kan hal biasa. Hanya di pipi, lain hal nya kalau dibibir. Appa boleh marah. Lagian dia kan sudah menjadi tunanganku.” Jawab Yoona enteng.

 

“Tunangan? Sejak kapan? Kapan dia minta menikahimu?”

 

“Tiga bulan yang lalu.”

 

“Dengar, dia belum pernah meminta secara resmi untuk menikahimu, pertunangan yang Kau sebut itu tidak sah karena tidak ada keterlibatan keluarga dan kalian belum meminta ijin.”

 

“Appa….”

 

“Dia belum sah jadi tunanganmu Im Yoona.” Tuan Im berbalik meninggalkan Yoona sambil menahan senyumnya. Melihat wajah Yoona tertegun begitu membuatnya ingin tertawa, sesekali anak gadisnya memang perlu dikerjai.

 

Setelah pintu kamarnya tertutup, Yoona mendudukkan dirinya diatas kasur. Mencerna kalimat yang disampaikan ayahnya. Yoona mendesah. Mereka memang belum resmi bertunangan. Siwon bahkan belum memberinya cincin ataupun melamarnya secara resmi didepan orangtua mereka. Dan yang lebih mengacaukan pikirannya, belum ada pernyataan cinta!

 

Yoona mendesah berat, mengacak rambutnya frustasi hingga rambutnya kembali tergerai.

 

“Aaaa!!! Lama-lama aku bisa gila!”

 

~~

 

Pagi hari dengan menenteng bungkusan cupcake, Yoona sudah berdiri didepan rumah keluarga Siwon. Masalah yang dikemukakan ayahnya semalam itu urusan belakangan, ia tidak ingin memikirkannya sekarang. Yang jelas hari ini dia akan melihat senyuman Joon dan kalau Joon bersedia, ia akan mengajaknya ke taman bermain.

 

“Yoona?”

 

“Selamat pagi Eommoni….” Bibirnya sudah sangat terbiasa dengan panggilan itu. Mengingat apa yang dikatakan ayahnya semalam ingin rasanya mengubah panggilan itu untuk ibu Siwon. Aish! Kenapa tiba-tiba dia merasa belum pantas memanggil ibu Siwon dengan panggilan itu?

 

“Ayo masuk Yoong…”

 

Yoona mengekor nyonya Choi dibelakang, menutup pintu dibelakangnya lalu mengikuti ibu Siwon ke dapur.

 

“Aku baru saja akan menyiapkan sarapan, kebetulan sekali Kamu datang sekalian kita sarapan bersama.” Yoona tersenyum menanggapi.

 

“Aku membawa cupcake untuk Joon, Eomoni. Sebenarnya aku kesini untuk bicara padanya karena sepertinya dia marah kepadaku.”

 

“Kenapa ia marah?”

 

Yoona menimbang sejenak, apa ia perlu menceritakan hal ini atau tidak. “Hmm… Kemarin Joon kebutik dan aku tidak sedang berada disana. Ia tahu kalau aku sedang bersama Ayahnya.”

 

“Kamu bersama Siwon kemarin siang?” Mata berbinar nyonya Choi sangat jelas terlihat. Yoona mengangguk kikuk. “Bagus itu, kalian memang harusnya lebih sering menghabiskan waktu berdua.” Nyonya Choi kembali sibuk dengan piring serta cangkir yang akan ia bawa ke ruang makan. “Soal Joon, tidak usah khawatir lambat laun dia pasti akan mengerti.”

 

Yoona menyusun cupcake-cupcake yang ia bawa diatas piring lalu membantu nyonya Choi membawa sarapan keruang makan. Menyusun roti, selai, piring serta cangkir-cangkir minuman diposisinya masing-masing.

 

“Siwon menyukai selai kacang dan untuk minuman ia memilih cappucino hangat. Beda dengan Joon yang lebih suka rotinya diolesi selai cokelat lalu ditaburi keju diatasnya.” Yoona mencatat diotaknya apa yang ibu Siwon katakan. Katakan saja ia sedang belajar tentang kebiasaan orang-orang yang akan menjadi masa depannya. PD sekali dirimu Im Yoona! “Kalau untuk minuman dia menyukai susu rasa vanila. Oke sudah selesai, aku akan menyuruh mereka turun, kamu mau menunggu disini atau diruang tamu Yoong?”

 

“Eomoni, bolehkah aku yang membangunkan Joon?”

 

“Tentu saja! Kamu tahu kan dimana kamarnya?” Yoona mengangguk. “Pergilah, dia pasti sangat senang karena saat bangun tidur hari ini yang pertama ia lihat adalah wajahmu.

 

Yoona meninggalkan ibu Siwon menaiki tangga menuju lantai dua. Ada tiga pintu dilantai dua, dan kamar Joon dipintu kedua. Kalau kamar Siwon jangan tanya padanya karena Yoona tidak mengetahui yang mana. Dan dia juga tidak tertarik untuk mengetahuinya, tidak untung sekarang.

 

Yoona mengetuk pintu kamar Joon beberapa kali tapi tidak ada sahutan dari dalam. Akhirnya Yoona memutuskan untuk membukanya sendiri, beruntung ternyata pintu itu tidak terkunci. Yoona mendorong pintu agar terbuka, sesaat ia terpana dengan pemandangan dihadapannya.

 

Tempat tidur yang hanya seukuran untuk satu orang dewasa itu kini beralih fungsi untuk dua orang. Joon dengan nyamannya memeluk tubuh tegap yang juga sedang tertidur pulas disampingnya.

 

Yoona secepat kilat mengaduk isi tas tangannya, mencari benda yang bisa mengabadikan moment manis didepannya. Beberapa kali jepretan kamera ponselnya terdengar, Yoona berhasil memperoleh gambar terbaik. Buru-buru ia masukkan kembali ponselnya lalu mendekati pasangan ayah dan anak itu. Hati Yoona menghangat, ingin pula rasanya dipeluk dan memeluk mereka seperti itu. Yoona mendesah panjang, bukan itu tujuannya kesini, bukan!

 

Melepas pelukan Joon dari Siwon ternyata bukanlah hal yang sulit. Mereka bahkan tidak sadar saat Yoona memegang tangan mereka untuk melepaskan pelukan mereka masing-masing.

 

“Joon-ah… Joon, bangun.” Yoona berbisik ditelinga Joon membuat Joon menggeliat. Bocah itu mengerjapkan matanya hingga terbuka sempurna.

 

“Noona!”

 

“Ssttt…. Appamu masih tidur. Ayo kekamar mandi, cuci wajahmu lalu kita kebawah untuk sarapan.” Joon mengangguk, turun dari tempat tidur lalu perlahan melangkah menuju kamar mandinya.

 

Menunggu Joon yang sedang melakukan rutinitas paginya, Yoona mendudukkan diri diatas kasur Joon. Menatap pria tampan yang masih nyaman diposisi tidurnya. ‘Saat tertidur seperti inipun masih saja tampan.’ Gumam Yoona.

 

Suara pintu kamar mandi membuat perhatian Yoona teralih. Joon dengan wajah segarnya tersenyum mendekati Yoona. Yoona merentangkan tangannya hingga Joon bisa memeluknya.

 

“Joon tidak marah pada Noona, kan?”

 

“Hmm, sedikit sih, karena kalian berdua tidak mengajakku!”

 

“Kalau begitu untuk menebus kesalahan Noona, maukah kamu berkencan dengan Noona? Hari ini kita ke taman bermain, bagaimana?”

 

“Aku mau, aku mau!”

 

“Ssttt… Jangan sampai Appamu bangun, kita hanya berdua saja, oke?.”

 

“Oke!”

 

Yoona berdiri lalu menggenggam tangan Joon, “sekarang kita sarapan, setelah itu Joon mandi lalu kita langsung berangkat.” Yoona mengiring Joon keluar dari kamar meninggalkan Siwon yang masih bergumul dengan mimpinya.

 

~~

 

“Joon-ah! Joon!”

 

Siwon menuruni tangga sambil memanggil Joon. Tapi tidak ada sahutan yang ia dengar. Keheranan Siwon bertambah saat hanya ada satu piring yang terletak diatas meja. “Eomma, Joon dimana?”

 

Ibu Siwon yang sedang asyik menyiram tanaman ditaman belakang rumah tersenyum, “ia pergi dengan Yoona.”

 

“Yoona? Sepagi ini?!”

 

“Ini sudah hampir pukul sepuluh, Kau saja yang bangun kesiangan.”

 

Siwon duduk dimeja, mengambil roti lalu memolesnya dengan selai kegemarannya. “Kenapa dia tidak membangunkanku?”

 

“Eomma yang mengetuk pintu kamarmu tadi, tapi kamu tidak bagun-bangun. Apa kamu maunya Yoona yang membangunkanmu?” Goda nyonya Choi.

 

Yoona? Akan sangat memalukan kalau Yoona melakukannya, “bukan Yoona tapi Joon. Aku kan tidur bersamanya Eomma.”

 

“Kau tidur dengan Joon semalam? Tadi Yoona yang membangunkan Joon, harusnya dia juga sekalian membangunkanmu.” Wajah nyonya Choi sekarang sama herannya dengannya. “Berarti dia tidak ingin tidurmu terganggu. Pengertian sekali dia.” Nyonya Choi tersenyum kecil, meletakkan selang penyiram tanaman ditempat semula lalu mendekati Siwon.

 

Yoona pasti memperhatikan wajah tampannya saat tertidur. Pikiran itu membuat Siwon tersenyum kecil. Buru-buru ia memasang wajah datarnya saat ibunya sudah berada dihadapannya.

 

“Hmm…. Appa kemana?”

 

“Entahlah, tadi Eomma tanya dia bilang ingin bertemu temannya.” Nyonya Choi membuatkan cappucino untuk Siwon lalu meletakkannya diatas meja. “Jadi kapan kalian akan menikah?”

 

“Uhuk!” Siwon tersedak, segera meraih minumannya agar kerongkongannya kembali lancar. “Kenapa Eomma tiba-tiba bertanya? Kami belum merencanakan apapun.”

 

“Kau kan sudah melamarnya, ya walaupun dengan cara tidak biasa tapi Yoona sudah setuju kan?” Siwon tidak menjawab, nyonya Choi menatapnya intens, “Apa mungkin Kau tidak berniat menikahinya?”

 

“Tidak! Bukan, bukan begitu Eomma, hanya aku merasa ini terlalu cepat.”

 

“Sudah tiga bulan Siwon, dan Eomma rasa itu sudah cukup. Kau bukan pria umur dua puluhan lagi yang bisa santai dengan kesendirianmu itu.” Nyonya Choi menyentuh bahu Siwon, “mulailah membicarakannya dengan keluarga Yoona lalu kalian bisa mempersiapkannya secara bertahap. Mungkin dengan melamar secara resmi dulu.”

 

Siwon mengangguk pelan, “Baiklah Eomma.”

 

“Satu lagi, Eomma mau pastikan. Kau mencintai Yoona kan? Karena kalau hanya sebatas suka itu belum bisa dijadikan pedoman untuk meminangnya, Nak. Ingat, kalian akan hidup bersama. Membesarkan Joon dan juga anak kalian nanti bersama-sama.”

 

Sesaat Siwon terdiam, mencintai Yoona… Membayangkan wajah gadis itu dengan semua sikap dan perilakunya. Senyuman untuknya dan Joon, kasih sayangnya untuk Joon. Dan kalau semua itu tiba-tiba hilang dihidupnya…. Tidak! Ia tidak akan pernah bisa. Ya, ia mencintai Yoona! “Aku mencintainya, Eomma….”

 

~~

 

“Bagaimana dengan mencoba permainan itu?” Yoona menunjuk ke tempat permainan melempar koin. Hanya sedikit orang disana jadi mereka tidak perlu mengantri lama. Sedangkan semua permainan yang diinginkan Joon banyak yang mengantri dan mereka akhirnya menyerah karena tidak sanggup untuk berdiri mengantri selama itu.

 

“Tidak seru Noona.”

 

“Ayo kita coba dulu!” Yoona menarik tangan Joon menuju tempat permainan itu. Walau dengan ogah-ogahan akhirnya Joon mau juga memainkan permainan itu. Melempar koin keatas meja yang sudah dipetak-petakki menjadi berbagai macam warna. Pengunjung hanya perlu melempar koin tepat diatas warna yang diinginkan. Mereka akan mendapatkan hadiah sesuai dengan dikotak mana koin mereka berhenti.

 

Yoona mencoba beberapa kali tapi hasilnya nihil. Joon yang sebelumnya hanya menonton Yoona akhirnya menyerah karena rasa penasarannya. Ia ingin mencobanya. Sekali dua kali tidak berhasil. Tapi untuk ketiga kali ia berhasil mencapai warna kuning.

 

“Waw!! Kamu berhasil Joon! Noona tidak menyangka Kamu lebih mahir dari Noona.” Joon tersenyum bangga, “apa jangan-jangan Kamu sudah pernah mencoba permainan ini sebelumnya?” Yoona menyipitkan matanya seolah-olah menyelidik.

 

“Tidak….”

 

“Yang benar?” Yoona mendekati Joon lalu mulai menggodanya dengan menggelitik tubuh bocah itu.

 

“Aaaak, Noona! Sudah! Geli!”

 

“Ayo mengaku dulu! Noona tidak akan berhenti sampai Kamu mengaku!”

 

“Tidak! Sungguh aku baru pertama kali memainkannya… Hahah… Hahaha… Sudah Noona!”

 

~~

 

Siwon melihat jam dinding diruang kerjanya. Sudah pukul enam sore dan Joon belum juga pulang. Sejak dari siang tadi dia sudah berencana menelepon Yoona tapi ia urungkan, karena larangan ibunya.

 

“Jangan ditelepon, biarkan saja mereka hari ini bermain sepuasnya. Yoona bilang, ia merasa bersalah karena tidak berada dibutik saat Joon datang kemarin. Jadi hari ini dia ingin menebusnya.”

 

Siwon mendesah, ia mendumel sendiri. Seharusnya Yoona mengajaknya juga. Mereka kan bisa pergi bertiga.

 

Siwon menutup laptop didepannya, tidak ada gunanya dia bekerja saat pikirannya dipenuhi Joon dan Yoona yang mungkin sedang bersenang-senang diluar sana. Tanpa dirinya dan tanpa kabar….

 

Siwon keluar dari ruang kerjanya menuruni tangga. Diruang keluarga ia melihat ibu serta ayahnya asyik membincangkan sesuatu. Siwon melewati mereka berjalan menuju dapur. Ia perlu minuman dingin untuk memulihkan kerja otaknya.

 

Bunyi bel rumah memecah pikirannya. Tanpa menunggu seseorang membuka pintu, Siwon dengan langkah besar menuju pintu depan untuk membukanya sendiri. Ia yakin itu Joon dan Yoona.

 

“Hai Appa….” Raut bahagia Joon menyapa terlebih dahulu. Siwon membalasnya dengan senyum simpul. Ia menyilangkan kedua tangannya didepan dada.

 

“Kamu tahu sudah jam berapa sekarang?” Yoona yang langsung bisa membaca raut wajah pria itupun langsung mendorong lembut Joon agar masuk kedalam rumah.

 

“Joon-ah kamu masuk dulu ya, bersihkan dirimu.”

 

“Noona akan ikut makan malam disini kan?” Yoona mengangguk. “Baiklah, aku mandi dulu Noona. Dah Appa…”

 

Saat Joon menghilang dibalik tembok, Yoona langsung mendapatkan tatapan tidak biasa dari Siwon, sedikit membuat Yoona bergidik.

 

“Apa?”

 

“Jelaskan….”

 

“Apa yang harus aku jelaskan?” Siwon melebarkan matanya, dan itu membuat Yoona takut, “aku hanya mengajaknya ketaman bermain, mencoba berbagai macam permainan. Lalu ke bioskop untuk menonton film yang sangat ingin ia tonton. Dan aku tidak sadar ternyata hari sudah sesore ini.”

 

“Tanpa memberi kabar?”

 

“Kan aku sudah bilang, aku tidak menyadarinya Joon-Appa….”

 

“Lalu tadi pagi kenapa tidak membangunkanku, dan hanya membangunkan Joon?”

 

Yoona menatap mata Siwon, ‘Ya Tuhan…. Mata itu…. Ck! Fokus Yoona!’

 

“Hmm…. Karena aku hanya berkepentingan dengan Joon, maka hanya Joon yang aku bangunkan. Lagian aku tidak memiliki wewenang untuk membangunkanmu.”

 

“Wewenang?” Yoona mengangguk, “bukankah aku sudah memintamu untuk menikah denganku? Aku rasa itu sudah cukup membuatmu memiliki wewenang itu.”

 

“Iya sih, tapi belum secara resmi. Apa Ahjussi lupa kalau hanya Joon yang notaben nya seorang anak berumur tujuh tahun yang menyaksikannya.” Yoona memelankan suaranya, “tanpa cincin lagi…”

 

“Apa?”

 

“Ah tidak…”

 

“Jadi kamu ingin pertunangan yang resmi?”

 

“Ani…. Tidak.., hmm, aku hanya ingin mendengar alasanmu memintaku menikah denganmu.”

 

“Ya ampun Yoona, apa harus? Kita kan sudah sama-sama mengetahuinya?”

 

“Aku tidak pernah mendengarnya? Memangnya apa itu?”

 

“Yoona….” Yoona hanya diam menatap pria didepannya, “baiklah kalau kau ingin mendengarnya. Aku memintamu karena Kau menyayangi Joon. Tidak ada orang lain yang bisa menyayangi Joon sebesar Kau menyayanginya. Dan begitupun sebaliknya, Joon juga sangat menyayangimu, bahkan sekarang seperti bergantung padamu.”

 

“Ya aku memang sangat menyayanginya. Tidak akan ada seorangpun yang tidak menyayangi anak sepintar dan selucu dia. Hanya itu?”

 

“Dan, karena aku juga menyukaimu, Yoona…”

 

“Hanya menyukai?”

 

“Aku menyayangimu….”

 

Yoona menyipitkan matanya menunggu lanjutan dari ucapan Siwon. Ia benar-benar berharap satu kata yang dari dulu ia tunggu meluncur dari mulut Siwon. Bahkan ia berdoa saat ini, memohon agar Tuhan membantunya. Walaupun jantungnya berdetak cepat menunggu kalimat Siwon, beruntungnya Yoona masih bisa menjaga raut wajahnya.

 

“Aku….”

 

“Kenapa kalian malah bicara didepan pintu? Kalian tidak masuk?”

 

Yoona melihat ibu Siwon sudah berdiri dibelakang Siwon, memandang mereka berdua dengan heran. Sesaat Yoona memejamkan matanya menarik napas dalam lalu kemudian memasang wajah penuh senyuman untuk ibu Joon.

 

“Selamat malam, Eomoni…”

 

“Ayo masuk Yoona,” Yoona mengangguk, melirik tajam Siwon sebelum melewati pria itu mengikuti ibunya ke dalam rumah.”

 

Siwon menghela napas lega. Ia mengusap wajahnya yang sedikit memerah. Hampir…. Kenapa ia begitu gugup mengucapkan kata itu kepada Yoona. Jantungnya berdegup lebih cepat, perasaan sama tapi terasa berbeda yang pernah ia rasakan saat menyatakan cintanya kepada mendiang istrinya dulu. Siwon tersenyum sendiri, tidak pernah terbayangkan kalau ia akan merasakannya lagi sekarang.

 

Kekehannya terlepas begitu saja mengingat kejadian semenit yang lalu. Yoona…. Kenapa gadis ini bisa membuatnya kembali seperti pria remaja yang jatuh cinta?

 

~~

 

“Bagaimana acara ke taman bermainnya Joon? Kamu bersenang-senang kan?” Tanya nyonya Choi.

 

Joon mengangguk antusias dengan mulut yang penuh makanan. Saat mulutnya sudah kosong barulah ia bersuara, “Walau hanya bermain lempar koin dan mengambil boneka, aku tetap senang. Ternyata permainan itu tidak terlalu buruk.”

 

“Kenapa hanya bermain permainan itu?”

 

“Permainan lain antriannya sangat panjang, aku dan Noona tidak sanggup untuk berdiri selama itu.” Jawab Joon kecewa, “Tapi aku akhirnya bisa ke bioskop untuk menonton film yang dari minggu lalu ingin aku tonton. Aku pernah mengajak Appa, tapi Appa selalu sibuk.”

 

“Benarkah? Kapan kamu mengajak Appa? Sepertinya tidak ada.” Ujar Siwon mencoba mengingat-ingat apa Joon memang pernah mengatakannya.

 

“Ada! Appa saja yang sibuk.” Gerutu Joon, kini ia menyeruput sup didepannya.

 

“Tidak ada Joon,”

 

“Sudah, kalian ini sedang dimeja makan bukan ditempat untuk bertengkar. Ayo makan.” Tuan Choi menengahi perseteruan putra dan cucunya, “Yoona, maafkan kelakuan mereka. Pasti membuat selera makanmu hilang. Ayo teruskan makannya.

 

Yoona yang masih kepikiran dengan akhir pembicaraannya dengan Siwon tadi tersadar, “oh, iya…” Yoona tersenyum mengangguk. Mendengar pertengkaran lucu ayah dan anak ini membuatnya ingin segera menjadi bagian dari mereka, bagian dari keluarga ini. Seandainya…..

‘Hufh… Pernyataan cinta saja belum keluar dari mulut pria itu, jadi jangan berharap terlalu tinggi Im Yoona’, pikir Yoona, mengingatkan dirinya sendiri.

 

“Nanti biar Siwon mengantarkanmu pulang ya Yoon.”

 

“Aku ikut!!” Joon mengangkat tinggi tangannya, “Aku juga ingin mengantar Noona.”

 

“Tidak Joon, kamu harus istirahat karena besok kamu sekolah.” Ujar nyonya Choi.

 

“Aku tidak capek kok, lagian kan kasihan Appa sendirian nanti pulangnya.”

 

Siwon memutar mata mendengar ke-care-an putranya terhadap dirinya. ‘Kalau bukan karena Yoona, mustahil bocah ini melakukannya,” pikir Siwon.

 

“Benar kata Haelmoni, Joon. Kamu harus istirahat. Sejak pagi tadi kita kan sudah pergi jadi malam ini saatnya mengistirahatkan tubuhmu itu, agar besok disekolah kamu tidak kelelahan.” Jelas Yoona.

 

“Tapi Noona….”

 

“Turuti Noonamu Joon.” Kini giliran tuan Choi yang bersuara.

 

Joon menekuk wajahnya, “Tapi minggu depan kita pergi berdua lagi ya, Noona.” Yoona mengangguk, dan itu membuat senyum Joon kembali.”

 

“Ok!”

 

Kemudian Joon mendekati Yoona lalu berbisik ditelinganya, “Hanya berdua, tidak boleh ada Appa.”

 

Yoona melirik sekilas Siwon, lalu kemudian mengangguk.

 

“Janji!” Yoona meraih kelingking Joon tanda kesepakatan mereka.

 

“Janji.”

 

Siwon melirik dua orang kekanakan dihadapannya itu dengan perasaan geli, entah apa yang mereka sepakati tapi itu juga membuat ia sedikit penasaran.

 

~~

 

Joon telah meninggalkan meja makan beberapa saat yang lalu. Semua peralatan makanan dimeja pun sudah dibersihkan oleh pekerja rumah tangga dirumah itu. Sementara Siwon mengganti pakaiannya untuk mengantarkan Yoona pulang, Yoona dan orang tua Siwon berbincang diruang keluarga.

 

“Terimakasih untuk makanan enaknya Eomoni, aku bahkan menghabiskan semua yang berada dihadapanku tadi.” Yoona tersenyum malu, atas kerakusannya tadi. Tapi memang benar sih, masakan ibu Siwon enak, dan itu membuatnya menyesali saat-saat ia menolak membantu ibunya didapur. Jadinya dia sekarang tidak ahli diruangan spesial untuk para wanita itu.

 

“Syukurlah kalau kamu suka, Eomoni senang kamu makan malam disini. Mulai sekarang lebih seringlah main kesini dan makan disini. Dan kalau kamu mau, kamu bisa belajar sekalian dengan Eomoni. Walaupun Eomoni tahu Eommamu pasti juga pintar memasak dan bisa mengajarkanmu tapi Eomoni juga ingin melakukannya denganmu. Pasti menyenangkan.”

 

“Aku akan sedang sekali kalau Eomoni mengajariku, karena Eomma sepertinya sudah tidak mau mengajari putrinya ini.”

 

“Kenapa begitu?”

 

“Dia sudah lelah dari dulu membujukku untuk kedapur dan sekarang ia tidak mau lagi melakukannya. Jadilah sekarang aku tidak bisa memasak.”

 

Ibu Siwon hanya tersenyum lalu meraih tangan Yoona. “Tak masalah, kan sudah Eomoni katakan, nanti Eomoni akan mengajarkanmu.”

 

“Jaman sekarang banyak wanita karir seperti itu Yoona, jadi jangan malu. Nanti perlahan kamu pasti akan bisa memasak.” Sekarang ayah Siwon yang bersuara.

 

“Yoona tidak bisa memasak?” Tanya Siwon yang tiba-tiba muncul. Yoona tersentak, menatap Siwon dengan mata bersalahnya, sebaliknya Siwon menatapnya dengan pandangan menghakimi.

 

“Sudah larut, ayo segera antar Yoona pulang. Lagian besok kalian bekerja.”

 

Mereka berpamitan dan hanya saling diam, hingga mereka sudah dimobil.

 

“Jadi?”

 

Yoona tidak berani menatap kearah Siwon, “Ya, aku memang tidak bisa memasak.”

 

“Dan…?”

 

Crap! Ya dia harus jujur sekarang. “Dan semua yang pernah aku kirim kekantormu itu adalah masakan Eomma dan ada juga yang sengaja aku beli untukmu.”

 

“Lalu kenapa berbohong?”

 

“Aku tidak bohong? Ahjussi tidak pernah bertanya.”

 

“Iya, tapi selama ini aku mengira semua itu kamu yang memasakkannya untukku.”

 

“Ahjussi kecewa? Pasti Ahjussi menyesalinya.”

 

“Tidak Yoon. Aku tidak masalah Kamu bisa masak atau tidak. Tapi lebih baik belajar dari sekarang.”

 

“Untuk apa?”

 

“Lakukan untuk Joon dan aku.”

 

Kalau sudah menyangkut pria ini dan anaknya, Yoona tidak bisa menolak. “Baiklah….”

 

~~

 

“Bagaimana perkembangannya?”

 

“Tidak ada Yoojin-ah. Aku sudah melakukan seperti yang Kau katakan tapi tidak ada efek apapun.” Yoona mengetuk-ngetuk pensil yang dipegangnya keatas meja.

 

Sudah tiga kali minggu ia hanya pergi berdua dengan Joon dan Siwon sepertinya tidak terganggu dengan kebersamaannya dengan Joon. Ia hanya berpesan untuk selalu mengabarinya. Yoona juga sengaja menahan dirinya untuk tidak terlalu intens berkomunikasi dengan Siwon beberapa minggu ini, bahkan hari untuk berkencanpun ia tiadakan. Dan sikap Siwon seperti biasa tidak merasa terganggu. Yoona bahkan merasa greget sendiri dengan Sikap Siwon itu. Ia tetap perhatian, selalu menanyakan kegiatannya dan Yoona sengaja tidak membalas walau ia ingin tapi demi rencananya ia tidak membalasnya. Dan Siwon masih bersikap dengan Normal! Entah pria itu kurang peka atau memang selalu berpikiran yang baik-baik saja dengan hubungan mereka, entahlah. Yoona merasa sudah lelah, sepertinya rencana Yoojin untuk membuat Siwon cemburu akan kebersamaannya dengan Joon tidak akan pernah berhasil.

 

“Aku akan menunggunya saja tanpa melakukan apapun.”

 

“Yakin?”

 

“Bagaimana lagi?”

 

“Ya sudah kalau begitu,” Yoojin meraih ponselnya yang bergetar lalu menempelkannya ketelinganya. Beberapa menit kemudian, ia meletakkan ponselnya kembali diatas meja.

 

“Siapa?”

 

“Jung Soojung, pelanggan kita yang mirip denganmu itu. Ia akan mengadakan acara pertunangan beberapa bulan lagi dan ia ingin dikirimkan foto beberapa gaun dari butik kita.”

 

“Dia bisa melihatnya kesini langsung kan?”

 

“Dia sedang berada di Amerika Yoona sayang, jadi Kau akan menjadi modelnya.”

 

“Aku?”

 

“Iya, jadi coba kenakan gaun warna peach selutut yang baru kita buat minggu lalu itu.”

 

“Tapi Yoojin, itu kan belum kita rilis.”

 

“Sudah pakai saja,” Yoojin memaksa Yoona berdiri dari dudukannya lalu mendorong Yoona ke ruang ganti sambil menyuruh salah satu karyawannya membawakan beberapa gaun yang ia inginkan.

 

“Malam ini akan ada pesta di hotel Grand Seoul, kita akan memakai rancangan yang akan kita rilis bulan depan. Aku rasa ini bisa menjadi strategi penjual butik kita.”

 

“Bagaimana sih, katanya hanya mau memperlihatkannya kepada Soojung.”

 

“Iya, sekalian Yoona.” Yoojin memilih salah satu gaun yang dibawa karyawannya. “Kau pakai ini, dan aku pakai yang ini.” Menunjuk salah satu gaun yang lebih simpel.

 

Setelah mengganti pakaiannya, Yoojin langsung menarik Yoona kedepan meja rias. “Malam ini Kau harus terlihat cantik Yoona.”

 

“Apa?”

 

“Maksudku, malam ini Kau harus terlihat cantik supaya gaun yang Kau kenakan itu menarik perhatian para tamu disana.”

 

Satu jam didandani Yoojin, sekarang Yoona merasakan kaku diwajahnya. Kapan terakhir kali ia berdandan full makeup seperti ini? Sepertinya tidak pernah. “Apa ini tidak terlalu berlebihan?” Rambut lurusnya sudah berubah menjadi ikal berkumpul di depan bahu sebelah kanan. Menggunakan perhiasan rambut berbentuk hati disisi sebelah kanan, ia yakin rambutnya tidak akan kalah menarik perhatian dari pada gaun yang dipakainya. Wajahnya memang full makeup tapi kelihatan tidak seberat yang ia rasakan diwajahnya.

 

Dan gaunnya, oke! Ini cantik sekali. Gaun peach tidak berlengan, dengan aksen lipit dibagian dada dan manik-manik dibagian pinggang. Bagian pinggang kebawah mengembang beberapa centi dibawah lutut. Gaun rancangannya dan Yoojin.

 

“Aku tidak punya sepatu yang cocok untuk gaun ini.”

 

Yoojin mengeluarkan sepasang sepatu highheels dari bawah mejanya. Yoona terpana, “sejak kapan Kau punya sepatu seperti ini?”

 

“Ini milikmu.”

 

“Apa?”

 

“Maksudku, aku membelinya minggu lalu tapi ternyata ukurannya tidak sesuai dengan ku. Dan aku rasa ini cocok untukmu.”

 

“Kau kan bisa ganti ukurannya?”

 

“Ck! Seharusnya Kau bersyukur karena sudah aku belikan sepatu secantik itu. Sudah cepat pakai.” Setelah mengambil beberapa foto Yoona dengan ponselnya, Yoojin berjalan menuju pintu keluar, “Aku akan menunggumu dimobil.” Yoojin, terlihat tidak kalah cantik dengan gaun berwarna hitam ditubuhnya itupun meninggalkan Yoona menuju parkiran mobil.

 

~~

 

“Kau yakin disini pestanya?” Yoona melihat sekelilingnya, ada sekitar 50 orang di ruang ini dan tidak ada satupun yang ia kenal. “Katamu ada orang-orang penting disini.”

 

Dengan senyum yang ia sembunyikan Yoojin diam-diam meninggalkan Yoona menghilang dibalik pintu ballroom pesta. “Yoojin?” Yoona berbalik, “Yoojin-ah!” Tidak menemukan sosok Yoojin dimanapun, sekarang Yoona mulai gelisah. Ini aneh, ballroom sebesar ini dan tamu yang tidak sampai seratus orang, dan Yoojin yang menghilang entah dimana. Yoona menggenggam erat clutch yang ia bawa, memanggil pelayan dan mengambil minuman dari nampan si pelayan. Yoona meminumnya merusaha menetralisir rasa gugupnya.

 

Tiba-tiba saja lampu disekitarnya meredup dan ditempatnya berdiri satu-satunya lampu yang menyala, seperti ia pusat dari pesta ini.

 

“Ya Tuhan!”

 

Didepannya, Yoona melihat samar sosok Siwon yang berjalan kearahnya tersenyum dengan mata yang berbinar menatap dirinya seperti dia satu-satunya wanita dihadapannya atau seperti dia satu-satunya wanita dihidupnya. Ya Tuhan, ini saat nya kah?

 

Siwon berdiri selangkah dihadapannya, menatapnya dalam persekian detik lalu meraih kedua tangannya lalu membawanya kebibirnya. Yoona merasakan kecupan hangat ditangannya, dan itu baru pertama kali ia rasakan.

 

“Ada apa ini?” Yoona bertanya pelan, masih merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi saat ini.

 

“Beberapa bulan yang lalu aku tidak sengaja bertemu seorang gadis muda dengan jeans robek dan tas punggung ala anak remaja dikantor polisi sedang melapor menemukan seorang anak. Ia terlihat marah saat ayah si anak memarahi anak tersebut. Disaat itulah, aku merasa kalau gadis ini akan menjadi bagian penting dihidupku.” Yoona menahan napasnya, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. “Aku bukan pria romantis yang bisa dengan mudah mengungkapkan isi hatiku. Aku bukan pria muda yang mungkin selama ini kamu harapkan jadi pendampingmu. Tapi aku menyayangimu Yoona,” Yoona terperangah saat Siwon berlutut didepannya, “aku mencintaimu, menikahlah denganku.” Sebuah Kotak kecil yang sudah terbuka diarahkan kepada dirinya.

 

Ya Tuhan, ia kehilangan kata-kata. Siwon mencintainya, ya ia mencintainya. Dia tidak mungkin salah dengar. Yoona menutup mulutnya tidak percaya, air mata perlahan mengalir dari sudut matanya. Ruangan ballroom yang tidak penuh ini sekarang terasa kosong karena semua orang terdiam menunggu jawabannya.

 

“Yoona….”

 

“Ya!”

 

Siwon tergelak mendengar jawaban kaget Yoona.

 

“Menikah denganku?”

 

“Ucapkan lagi kalimat sebelum yang itu.”

 

Oh, “aku mencintaimu Im Yoona….”

 

“Ya! Ya! Ya! Aku bersedia menikah denganmu!”

 

Yoona berhamburan kepelukan Siwon, airmatanya bahagia membasahi tuxedo yaang Siwon pakai.

 

“Terimakasih Yoong.”

 

Yoona menggeleng, “aku yang seharusnya berterimakasih, Ahjussi sudah membuatku bahagia hari ini.” Yoona menatap dalam mata Siwon, “satu lagi, aku mencintaimu.” Siwon tersenyum manis meraih leher belakang Yoona, mendekatkan wajah mereka. Keinginan untuk mencium tunangannya tiba-tiba harus terhenti saat ia merasakan kehadiran Joon diantara mereka.

 

“Joon-ah…”

 

“Eomma….”

 

“Joon?”

 

Senyum terukir di wajah polosnya, ternyata tidak seberat itu melepas noonanya untuk Ayahnya. “Appa, Eomma selamat ya.” Joon yang digendong Siwon pun memeluk mereka berdua bersamaan. Mereka bertiga berpelukan sebagai calon keluarga baru.

 

Yoona kembali meneteskan airmatanya, Eomma? Joon memanggilnya Eomma. Bukan Noona lagi. Entah kenapa ia merasa cocok dengan panggilan itu.

 

“Dan jangan panggil aku Ahjussi lagi.” Bisik Siwon ditelinga Yoona.

 

~~

 

Para tamu mengucapkan selamat kepada mereka. Keluarga Yoona, keluarga Siwon bahkan keluarga Hyena hadir memberi dukungan bagi hubungan mereka. “Hyena pasti lebih tenang dan bahagia sekarang.” Kata ibu Hyena.

 

“Yang sudah dilamar resmi jadi lupa dengan sepupu terbaiknya ini.”

 

Langsung saja Yoona memeluk erat Yoojin, “aku bahagia sekali! Terimakasih Yoojin.”

 

“Stt! Simpan ucapan terimakasihmu sampai Kau menikah. Karena Kau akan sangat memerlukan bantuanku untuk mempersiapkan rencana pernikahanmu itu dan aku yakin aku akan menjadi orang tersibuk kedua setelah dirimu.”

 

“Ya tentu saja!”

 

“Jadi kapan rencananya?”

 

Kapan? Yoona menyapu pandangannya mencari sosok yang sekarang resmi menjadi tunangannya dan tidak lama lagi akan menjadi suaminya. Saat menemukan sosok Siwon yang sedang berbincang hangat dengan kakaknya, Youngwoon dan beberapa rekan bisnisnya, Yoona termangu. Menatap diam-diam prianya itu. Dan saat pandangan mereka bertemu, ia merasakan cinta yang luar biasa diantara mereka. Jadi kapan mereka menikah? Dia rasa itu bukan lagi masalah, karena yang terpenting Siwon mencintainya, dan ia mencintai Siwon, cepat atau lambat pernikahan itu pasti akan terjadi, biarkan waktu yang menjawab.

 

“Secepatnya Yoojin, bersiaplah….”

 

~FIN~

 

Happy YoonWonitedDay Niteds!!! Setahun gak update FF tapi cuma begini hasilnya. Buru-buru kelarin demi hari spesial. Maafkan atas keabsurdan cerita, alur yang gak jelas dan typo yang merajalela….

 

Tetap jadi shipper yang baik ya Niteds…. Luv luv❤❤

Tinggalkan komentar

80 Komentar

  1. Anah Sanggy Sonelf

     /  Maret 21, 2016

    So sweet banget jdi iri
    Keren pokoknya

    Balas
  2. sekar paramitha

     /  Maret 24, 2016

    Ahhh kerennnn akhirnya mereka bakalan nikah jugaaa… ditunggu karya” lainnya eonnie

    Balas
  3. Eoni post lagi dong kangen sama mereka 😢😢😢😢

    Balas
  4. sivayolla

     /  April 2, 2016

    Kayaknya salah baca nih wkwk😅 nanti baru baca yang chapter sebelumnya
    Uuuuwww siwon sweet❤

    Balas
  5. Waaah udah lama Ga denger kabar siwon,yoona dan joon. Mereka makin manis saja.
    Dan ceritanya so sweet meskipun ada sedikit ketegangan antara yoonwon tp tetep manis. Jadi aku sukaaa banget sama ff nya.

    Balas
  6. Post dong, kan sekarang ulang tahun nya siwon daddy

    Balas
  7. Fanny

     /  April 15, 2016

    Ceritanya bikin senyum” sama ngebayangin itu bneran :v
    Tapi pasti bneran kok/?
    Cepat menikahh. Joon pasangin sama aku aja eon. Haha. Next chap ditungguu. Jangan lama” :’3

    Balas
  8. It's Me Zarra

     /  April 16, 2016

    ya ampun kak uchie daebak daebak daebak gakda yang slah sma sx. .alurx gya bhsamu menarik.cramu bercerita bner2 membuatku terhanyut.awalnya gak ngeh ya kalo ni crita joon. .hx 1 bhsa yg krag baku.penggunaan kata ‘lagian’ krag nyaman pas bca.soalnya smuanya sdah EYD. .hnya itu z koreksinya. .untk yg lainx perfect dech pkokx. .diterusin jdi chapter knapa c kak nanggung bget pgen sxan tau nkahx hanimunx adkx joon lair trz dech bleh end. .yayaya pliss rindu karyamu

    Balas
  9. lasma

     /  April 19, 2016

    akh so sweet bget.. walaupun pertma dingin tpi akhirnya sweet juga

    Balas
  10. andreani

     /  April 27, 2016

    Keren,sequelnya donk

    Balas
  11. Ceritanya bagusss,
    Mungkin butuh sequel untuk adik joon
    Happy ending for yoonwon

    Balas
  12. So sweet bgt.. yoonwon fighting..

    Balas
  13. paris

     /  Mei 13, 2016

    Aaaaa sweet banget…
    Aku suka banget sama pasangan ini ….

    Balas
  14. sdhifakhri

     /  Mei 21, 2016

    Baru baca ff di sini lagi. Setelah sekian lama udah gak baca ff yoonwon. Semangat buat ff yg lain ya thor, fighting!!!
    Happy yoonwon day🎉🎉🎉 Telat bgt ngucapinnya ini:v

    Balas
  15. Ada yang tau alamat blog yg khusus buat yoonwon ga minta dong 😅😅😅😅

    Balas
  16. Agak geli bacanya siwon punya anak, dan yoona jadi ibu tirinya, tapi tetap romantis kok..

    Balas
  17. deananda

     /  Juni 25, 2016

    kerennn>< miss nih sama joon. bukan 'noona' lagi ya sekarang udah jadi 'eomma' #butuhsequel pengen denger siwon manggil yoona yeobo :v

    Balas
  18. vellaok

     /  Agustus 4, 2016

    hhmmm…yoona udah di panggil omma nih sama joon,, siwon oppa so sweet

    Balas
  19. Terlambat baca saya
    Udh lama kali gak buka link ini
    Habis authornya pada gak ada yg update cerita ini lagi
    Terima kasih author sudah melanjutkan cerita Noona, I Love You
    Sumpah kemaren cerita terakhir itu masih gantung benget memang kurang puas endingnya, tapi syukur bgt kelar ceritanya. Aku suka cerita mereka apa cerita si duren. Wkwkwk..

    Balas
  20. Kangen sama joon…. jd kapan nih yoonwon merried nya? Ngga nunggu wamilnya kelar dl kan!!! Udah penasaran sama cerita merriednya pasangan absurd ini hihi….. ditunggu ya ff nya…

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: