[FF] 2: 한번 더 기회 (One More Chance)

one more chance poster

g e e  p r e s e n t s

한번 더 기회 ‖ Length: Chaptered ‖ Rating: General

Genre

 Romance ‖ Friendship ‖ Sad

Starring

시원 ‖ 임윤아

Disclaimer

Please don’t do plagiarism

―ONE MORE CHANCE―

● 한번 더 기회 

“Cinta dan kesetiaan diuji ketika jarak dan waktu memisahkan kita”
“Terkadang kita baru menyadari betapa berharganya seseorang ketika dia telah menghilang”

제2휘

  episode 2

Apa oppa baik-baik saja? jika sudah pulang bekerja, hubungi aku, ya? Aku merindukanmu. Saranghae💕

    Siwon membuka ponselnya. Ada 5 panggilan tak terjawab dan dua pesan yang belum terbuka. Siwon sudah dapat menebak bahwa itu adalah panggilan dan pesan dari Yoona. Setiap hari kekasihnya itu memang tidak pernah absen untuk menanyai kabar atau sekedar mengingatkannya untuk beristirahat.

Siwon menghela nafasnya berat. “Seharusnya kau tak lakukan ini padaku, Yoong”.

Ia mendesah kembali, lalu bangkit dari kursi kerjanya. Sampai akhirnya seorang wanita bertubuh tinggi memasuki ruangannya. “Apa kau akan pergi?”, tanya wanita oriental itu dengan rambut yang dibiarkan terurai berkata dalam bahasa China.

Siwon menghentikan langkahnya. “Ah, ya. Saya baru akan makan siang, Nona”.

Wanita itu memberenggut lalu menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. “Choi Siwon, sudah ku katakan aku tidak suka saat kau memanggilku dengan embel-embel nona. Panggil saja aku Liuwen”.

“Tapi ini di kantor dan saya tidak akan merasa enak jika Presdir mendengarnya”, jawabnya dengan segan.

Liuwen mendesah, pria itu memang sangat keras kepala. “Ayahku memang mungkin saja akan marah padamu, tapi aku bisa membuatnya untuk tidak memarahimu. Begitupun sebaliknya. Jadi, jika kau tidak mengabulkan permintaanku, bersiap-siaplah untuk mendapatkan surat peringatan dari ayahku”, tantangnya sambil tersenyum.

Ya, Siwon tahu wanita itu memang tidak serius. Tetapi tak ada hal lain yang dapat ia lakukan lagi selain menuruti perkataannya. “Ya, baiklah Liuwen”, katanya sambil tersenyum, berusaha untuk melakukannya dengan tulus di hadapan wanita itu.

“Nah, seperti itu terdengar lebih baik, kan? Jika kau ingin pergi makan siang, aku akan menemanimu. Ayo pergi”.

Sebenarnya ia sangat ingin menolak. Makan bersama anak presdir membuatnya sangat canggung. Tapi apa boleh buat, menolak permintaannya malah akan membuat keadaan semakin rumit.

Acara makan siang bersama tadi semakin menambah keakraban keduanya. Dari awal Liuwen memang terlihat menyukai Siwon. Senyumnya, lesung pipinya, dan wajah tampannya, siapa yang dapat berpaling. Siwon juga terlihat sangat telaten dan pekerja keras dalam bekerja, ditambah cara bicaranya yang terdengar sangat cerdas, rasanya Liuwen mendapatkan segala yang ia inginkan dalam satu paket.

Dan bukan Liuwen namanya jika tidak bisa mendapatkan apa yang ia mau. Dengan mudah ia meminta kepada sang Ayah untuk dipindahkan ke departemen yang sama dengan Siwon. Apalagi jika bukan karna ia ingin selalu bersama dengan Siwon. Liuwen yang sekalipun tidak pernah tahan berdiam diri di kantor sampai pukul 12.00, sekarang ia bahkan rela bekerja sampai lembur jika itu dengan Siwon.
Setiap akhir pekan dimana seharusnya menjadi waktu istirahat Siwon, wanita itu sering kali meminta Siwon untuk menemaninya pergi. Entah itu menemani pergi berbelanja, pergi ke salon, mengehadiri undangan pernikahan, menemui koleganya, teman-temannya, selalu ada saja yang ia jadikan alasan untuk bisa bersama dengan Siwon sepanjang waktu.

Tetapi jujur saja, kesenangan itu tak membuat Siwon nyaman sedikitpun dan terkadang ia merasa menjadi pria yang amat buruk.

“Siwon, apa baju ini cocok untukku?”, tanya Liuwen berlenggok di hadapan Siwon yang tengah duduk menunggunya.

Siwon diam sebentar. Pakaian yang dipakai Liuwen sangat terbuka membuat… jujur saja… sebagai pria normal pasti….

Siwon menghela nafas panjang dan membenarkan posisi duduknya. “Itu sangat bagus Liuwen. Apapun pakaian yang kau pakai akan terlihat cocok untukmu”.

Senyum Liuwen merekah puas. “Benarkah? Kalau begitu aku akan pilih ini”, ia berbalik ke ruang ganti diikuti dua pelayan toko yang selalu mengiringinya. Maklum saja Liuwen adalah konsumen VVIP disana.

Saat Liuwen hilang dari pandangannya, Siwon menghela nafas panjang. Berpacaran dengan Yoona memang membuatnya sedikit bosan karena sikap wanita itu yang terkesan selalu mengaturnya, tetapi dipinta untuk selalu bersama dengan Liuwen adalah sesuatu hal yang lebih mengerikan dari apapun.

Siwon sadar betul bahwa Liuwen menyukainya, maka dari itu ia tak pernah berani menolak sedikitpun permintaannya saja, atau menolak barang-barang yang Liuwen sengaja berikan untuknya. Semua ini karena Siwon yang telah bersikap bak pecundang saat itu, dimana Liuwen―tanpa sepengetahuan Siwon mempertemukannya dengan sang Ayah, orang yang di segani di perusahaan.

“Jadi, kau adalah Siwon Choi?”, tanya pria paruh baya yang terlihat begitu dingin tetapi sangat berwibawa.
    
    “Ya, saya delegasi dari perusahaan pusat Korea, Presdir”.

    “Dia tampan seperti yang aku katakan kan, Ayah”, Liuwen terlihat begitu berbangga untuk mempertemukan dua pria di hadapannya ini.
    
    “Apa kau sudah memiliki kekasih?”, tanya Ayah Liuwen.
    
    Siwon terlihat bingung, Jujur saja, ingin sekali ia mengatakan bahwa ia sudah memiliki tunangan, tetapi melihat ekspresi Liuwen yang sangat berbahagia membuatnya takut akan melenyapnya senyum itu dari wajahnya.
    
    “Kurasa dia tidak akan punya waktu untuk mengencani seorang gadis, Ayah”, lagi-lagi Liuwen masuk dalam percakapan mereka.
    
    “Kelihatannya putriku sangat menyukaimu, tuan Choi”, ungkap ayah Liuwen yang hanya dibalas oleh Siwon dengan mulut yang terbungkam.

Siwon ingin sekali menyumpahi diri sendiri sampai sekarang, kalau saja saat itu ia berterus terang, ia pasti tidak akan berada dalam keadaan yang sangat rumit seperti sekarang ini.

Malam harinya Siwon tiba di penginapan. Dengan wajah lesu, ia langsung membaringkan diri di atas tempat tidurnya tanpa mengganti pakaiannya dahulu. Baru akan terlelap, tiba-tiba ponselnya berbunyi.

Ia menyumpat keras sebelum mengangkat panggilan itu.

“Waegeurae?”.

‘Oh, oppa, akhirnya kau menjawab teleponku. Kau sedang apa?’.

“Aku baru pulang bekerja”.

‘Pasti lelah sekali, kan’.

‘Sudah tahu aku lelah, seharusnya kau tidak meneleponku malam-malam begini’, umpat Siwon di dalam hati.

“Ya, seperti biasanya”.

‘Oppa, ada yang ingin berbicara…’.

“Yoong, oppa benar-benar lelah sekali dan butuh tidur. Kita lanjutkan besok saja, ya”, Siwon tak memberikan kesempatan kepada Yoona untuk menyelesaikan pembicaraannya. Ia langsung main memutuskan sambungan telepon dan bahkan mencabut baterai ponselnya karena ia pasti akan sangat murka jika lagi-lagi ponselnya itu berbunyi.

 “Oppa.. yeobeoseyo?”, Yoona cukup terkejut saat tak terdengar lagi suara Siwon di sebrang sana.

“Waeyo? Apa yang dia katakan?”, wanita paruh baya itu mencondongkan tubuhnya kearah Yoona, tampak sangat penasaran.

Dengan menyesal, Yoona hanya melengguh dan berkata, “Dia mematikan teleponnya, eommonim”.

Nyonya Choi terlihat tak kalah kecewa, sudah lama sekali ia tidak saling berkomunikasi dengan putranya itu. “Tak apa, mungkin dia memang sangat sibuk dan kecapean. Biarkan dia istirahat”.

Yoona menganggukkan kepala setuju. Malam ini ia memang bermalam di kediaman orang tua Siwon di Busan. Beberapa hari yang lalu ia mendengar kabar bahwa tuan Choi―calon mertuanya itu jatuh sakit, dan kebetulan hari Sabtu ia libur mengajar, sehingga ia bisa bermalam satu malam disana, sebelum Minggu siang nanti ia akan kembali ke Seoul.

Begitulah, hubungan Yoona dengan keluarga Siwon memang sudah sangat dekat. Bahkan ia lebih sering mengunjungi kediaman keluarga Siwon dibandingkan keluarganya. Apalagi jika bukan karna jarak Seoul menuju Busan jauh lebih dekat dibandingkan Jeju, tempat asalnya. Dan memang tuan Im yang lebih sering datang ke Seoul, selain mengunjungi kedua putrinya yang sama-sama tinggal di Seoul, ia juga sering kali memiliki projek kerja disana. Ayah Yoona memang tipe orangtua yang sangat pekerja keras, ia memiliki pabrik tekstil yang tak terlalu besar di Jeju, tetapi digeluti olehnya dengan sangat serius sehingga bisa bertahan sampai sekarang.

“Yoona-ya, apa kabar dengan ayahmu?”.

“Dia sangat sehat bugar, eommonim”.

“Syukurlah. Dan―apa dia masih bertahan sendiri?”.

Pertanyaan dari nyonya Choi itu membuat keduanya tergelak bersama.

“Ne, dia lebih mencintai pekerjaannya dibandingkan mencari kekasih baru, eommonim. Aku sudah kehilangan akal harus berbuat apa agar dia mau jatuh cinta lagi”, Yoona menunjukkan wajah putus asanya, sangat menggemaskan.

“Kau pasti sangat mengkhawatirkan ayahmu, kan?”, katanya sambil mengelus punggung Yoona. Yoona terdiam sesaat, menikmati apa yang dilakukan nyonya Choi terhadapnya.

Yoona yang sudah kehilangan ibunya sejak kecil, membuatnya merasa bahwa wanita dihadapannya ini seperti ibunya sendiri. Ia mendapatkan perhatian seorang ibu dari wanita itu. Dan Yoona sangat menyayanginya.

“Eo, paling tidak jika ada yang mengurusnya aku akan lebih tenang disini”.

“Tidak apa-apa, masih banyak yang menyayangi ayahmu disana”.

“Ne, beruntung appa memiliki para pekerja yang sangat loyal padanya”.

“Mereka tak akan seloyal itu pada ayahmu jika ayahmu tak memperlakukan mereka dengan baik, kan? Kau beruntung memiliki ayah sepertinya, Yoona-ya”.

Mendengar kata-kata itu membuat mata Yoona mulai berkaca-kaca, ia jadi ingin bertemu dengan sang ayah dan memeluk pria itu dengan sangat erat.

“Aigooo, eomma membuat mu sedih, ya? Mianhae”, katanya sambil merengguh Yoona dalam pelukan hangatnya.

Yoona membalas pelukan wanita itu, ‘Siwon oppa juga sangat meruntung karena memiliki ibu sepertimu, eommonim’, katanya dalam hati.

•●•

“Sayang, maaf waktu itu aku langsung mematikan teleponmu. Saat itu aku baru saja pulang dan merasa seluruh tubuhku remuk semua”, kata Siwon pada seseorang dalam sambungan teleponnya. Waktu itu Siwon memang habis mengantarkan Liuwen berbelanja seharian, bahkan ia juga menemaninya melakukan perawatan di salon. Siwon yang notabene sangat membenci soal berbelanja apalagi salon, tentu tak terbiasa dan merasa sangat kelelahan hari itu.

  ‘Tidak apa-apa, aku mengerti. Oppa, sudah kubilang jangan terlalu keras bekerja. Kesehatanmu lebih penting dari segalanya’.

Siwon terdiam, merasa berdosa karena wanita itu mengiranya ia kelelahan akibat pekerjaan, padahal nyatanya ia lebih sering mengurusi Liuwen disini. Tapi perlu digaris bawahi, itu bukan kemauannya sendiri, sepertinya Liuwen dan ayahnya memang telah mengatur semuanya sedemikian rupa sehingga Siwon memiliki jadwal kerja yang lebih renggang dibandingkan saat di Seoul. Waktu senggangna itu lah yang sering kali Liuwen manfaatkan untuk selalu bersama dengan Siwon, walau itu memakai alasan yang tidak masuk diakal sekalipun.

“Apa kau baik-baik saja?”, ucap Siwon mencoba mengalihkan pembicaraan.

‘Tidak, badanku juga hampir remuk karena sedang mempersiapkan ujian akhir dan kenaikan kelas anak-anak’.

Siwon terkikik geli, “Ya Tuhan, kasihan sekali. Jangan memaksakan dirimu, sayang”.

 ‘Jika bukan kewajiban, aku juga tidak akan memaksakan, oppa’.

Siwon kembali tertawa mendengar runtukkan Yoona yang terdengar begitu lucu ditelinganya. Ia sampai lupa bahwa ia baru saja melakukan rapat besar dengan para pemegang saham, tadi.

 ‘Lalu bagaimana denganmu?’.

“Sejauh ini pekerjaanku berjalan dengan lancar… oh, sebentar Yoong, kututup dulu teleponnya”. Siwon memutuskan panggilannya dengan Yoona saat seseorang memasuki ruangannya. Ia meletakkan ponselnya keatas meja.

“Ada apa, Liuwen?”, tanyanya dalam bahasa Cina yang fasih.

Wanita itu tersenyum lebar. Suara ketukan sepatunya terdengar saat ia berjalan mendekat pada Siwon. “Aku hanya ingin menyampaikan pesan ayahku untukmu, kau telah melakukan tugasmu dengan sangat baik hari ini”, katanya berbisik pada telinga Siwon, tubuhnya yang hampir sama tingginya dengan Siwon tak membuatnya kesulitan untuk melakukan itu.

Desahan nafas Liuwen membuat bulu kuduk Siwon berdiri. “Ah, itu tidak apa-apa. Memang sudah seharusnya aku lakukan”, katanya sambil menjaga jarak satu langkah dari Liuwen.

“Sebagai hadiah, malam ini kau tidak usah lembur”, ucapan Liuwen tadi membuat Siwon langsung bernafas lega, ia sudah menginginkan berada di tempat tidurnya lebih lama. “Tapi kita pergi ke club bersama. Ada pesta ulang tahun temanku malam ini, aku jamin acaranya akan sangat mengenangkan”.

“Mworago?!”, kelepasan, Siwon malah berbicara dalam bahasa Korea.

“Maksudmu, Siwon?”, Liuwen menaikkan alisnya bingung.

Siwon menghela nafas. Ini bukannya mengurangi bebannya, tapi malah menambahkan dua kali lipat. Jujur saja, Siwon kurang menikmati setiap menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman Liuwen yang kebanyakan adalah seorang model yang tentunya memiliki pergaulan yang tidak sinkron dengannya.

“Ya, itu ide yang bagus, Liuwen”, katanya dengan senyuman berat.

Siwon merasa kepalanya berdenyut dan pusing yang luar biasa saat mendengar suara musik yang sangat kencang dan lampu disko yang berkelap-kelip. Maka dari itu ia memutuskan untuk duduk di kursi bar sambil mengisap satu batang rokok. Oh, betapa ia ingin sekali berada di penginapan sekarang juga.

Sementara Liuwen tampak masih asyik menari bersama teman-temannya di lantai dansa.

“Liu, ada apa dengan pria lugu yang kau bawa? Dia tampak sedikit kelelahan”, kata salah seorang teman Liuwen dengan berteriak karena harus menyaingi suara musik yang mengalun kencang.

Liuwen mengikuti arah pandang temannya dan baru menyadari bahwa Siwon ada disana.

“Ajaklah dia bersenang-senang malam ini”.

Liuwen hanya tersenyum dan segera menghampiri Siwon.

“Siwon, ayo menari denganku”, katanya sambil memegang tangan Siwon.

Namun Siwon menahannya, “Ini sudah hampir pagi, lebih baik kita segera pulang, Liuwen”.

“Acaranya bahkan belum selesai”, kata Liuwen tampak sedikit kesal. Lalu kembali berusaha membawa Siwon ke lantai dansa.

“Liuwen, lebih baik kita duduk saja disana? Bagaimana?”. Setidaknya disana Siwon bisa duduk dan meregangkan otot-ototnya yang sudah terasa kaku.

Akhirnya Liuwen setuju. Liuwen langsung menyuruh salah seorang pelayan untuk membawakannya beberapa botol minuman―yang Siwon tak pedulikan apa jenisnya. Yang jelas Siwon dapat memastikan bahwa minuman itu merupakan minuman dengan harga fantastik.

Mereka duduk berhadapan, dan melihat Liuwen dengan pakaian glitter seperti itu membuat Siwon terkadang menjadi salah fokus. Ya Tuhan, wanita ini selalu membutakan matanya.

Saat itu Liuwen minum cukup banyak sehingga ia sudah mulai mabuk berat sekarang. Sementara Siwon memang sengaja menghindari minuman beralkohol itu karena akan sangat gawat jika mereka berdua sama-sama mabuk, siapa yang akan membawa pulang wanita ini.

Keesokkan harinya, dengan mata memerah dan lingkaran hitam disekitar matanya, Siwon terlihat seperti zombie hidup. Pukul setengah lima pagi Siwon baru sampai di penginapannya karena kemarin malam ia cukup kesulitan mengantarkan Liuwen kerumahnya. Jam lima ia baru benar-benar bisa tidur sementara pukul delapan ia sudah harus berada di kantor untuk melakukan breafing.

‘Oh, sial. Kepalaku pusing sekali’, batin Siwon saat melihat tumpukan dokumen di atas mejanya.

Tak lama dari itu ponsel Siwon yang berada di atas mejanya bergetar menandakan sebuah pesan masuk.

From: Liuwen
Siwon, bisa kau ke ruanganku sekarang?

Liuwen tersenyum saat Siwon memasuki ruangannya. “Duduklah, Siwon.
Seperti yang diperintah wanita itu, Siwon duduk di kursi depan meja Liuwen. “Ada apa, Liuwen?”.

“Sebenarnya…”, kata-katanya terhenti saat melihat betapa menyeramkannya wajah Siwon saat itu. “Siwon, kau terlihat tidak baik”, katanya dengan cemas.

“Hanya kurang tidur”, jawab Siwon dengan suara parau.

“Ah, pasti ini karena kita pulang terlalu pagi kemarin”, Liuwen berdiri dari duduknya dan mendekat pada Siwon. Tangan wanita itu memegang wajah Siwon. “Ya, ampun Siwon, kau harus istirahat”, lalu tangannya memegang kening Siwon, “Tubuhmu juga sedikit panas”.

“Tidak apa-apa Liuwen, tugasku akan semakin menumpuk jika terus ku tunda”, jawabnya dengan canggung.

“Tidak, ini akan semakin parah jika dibiarkan”, Liuwen menuntun Siwon untuk duduk di salah satu sofa disana. “Duduklah disini, aku akan memijitmu”.

Siwon terlihat terkejut, “Tidak Liuwen, ini sudah berlebihan. Bagaimana jika ada yang melihatnya”.

“Aku akan mengunci pintu ruanganku jika itu perlu”, jawabnya terlihat tak main-main.

“Tapi Liuwen”.

“Turuti saja perkataanku”.

Akhirnya pertahanan Siwon runtuh. Ia duduk dipinggir sofa sementara Liuwen berada di lengan sofa. Tangannya mulai memijit pelipis Siwon. Ternyata wanita itu cukup baik melakukannya, Siwon saja sampai dibuat mengantuk.

Kali ini Liuwen mulai memijit sekitar kepala Siwon. “Bagaimana? Apa aku melakukannya dengan benar?”.

“Yah, aku tak menyangka ternyata kau pandai melakukan ini”.

Liuwen tersenyum puas. Setelah memijit pundak Siwon, tangan Liuwen melepaskan dasi Siwon. Siwon cukup terheran dengan apa yang baru saja dilakukan wanita itu. Bahkan dia melepaskan dua kancing teratas kemeja Siwon.

“Apa kau sudah merasa lebih baik sekarang?”, bisiknya tepat ditelinga Siwon, sementara tangannya mulai meraba-raba dada Siwon dari belakang.

Siwon benar-benar dibuat risih, apa maksudnya Liuwen melakukan itu?

“Ya, sekarang aku sudah tidak merasa pusing lagi”, kata Siwon sambil berdiri sehingga kedua tangan Liuwen terlepas seketika dari tubuhnya. “Dan sepertinya aku harus segera kembali keruanganku”, lanjutnya sambil melipat lengan kemejanya sampai sikut. Yang menurut Liuwen itu terlihat sangat seksi.

“Tidak Siwon, wajahmu tak bisa berbohong”, ucap Liuwen sambil menahan tangan Siwon. “Selama beberapa jam kau harus tidur disini”, katanya sambil menepuk-nepuk sofa. Sofa yang cukup lebar dan panjang sehingga memang lumayan nyaman jika dipakai untuk tidur.

“Tapi…”.

“Pekerjaanmu biar asistenku yang menghandle nya. Kau tidak usah khawatir”.

Setelah didesak beberapa kali akhirnya Siwon tidur juga diruangan Liuwen. Baru merebahkan diri beberapa menit saja Siwon langsung terlelap.

Sementara itu, setelah mendapatkan satu panggilan dari temannya, Liuwen berjalan menuju dimana Siwon berada. Ia duduk diatas meja dan memandang pria yang sudah tertidur itu. Lengkungan bibir Liuwen muncul, tangannya mengusap-usap kepala Siwon. Cukup lama ia memandangnya dalam posisi seperti itu. Tak disangka, wanita itu mendekatkan wajahnya pada Siwon.

Siwon sadar saat merasakan sesuatu menempel pada bibirnya. Wanita itu―ya, dia, pasti mencium bibirnya. Walaupun begitu Siwon tak melakukan apa-apa dan berpura-pura tak tahu.

•●•

Yoona berjalan sendirian menuju salah satu coffee shop di pusat kota. Ia baru saja pulang mengajar dan telah berjanji untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya disana.

“Apa kalian sudah lama menungguku?”, tanya Yoona sambil duduk di salah satu bangku yang kosong diantara teman-temannya yang tampak sudah lebih dulu berada disana.

“Tidak masalah, bu guru. Kami tidak keberatan menunggumu”, canda Sooyoung sambil berbicara begitu formal padanya.

Yoona berdelik sebal, “Saya tersanjung sekali mendengarnya, Choi Sooyoung”.

Kemudian mereka tergelak bersama.

“Yoong, kau ingin minum apa?”, tanya Yuri.

Vanilla Latte saja”.

“Kalau begitu aku pesan dulu”, katanya sambil berdiri dari tempat duduknya, tak lupa membawa catatan pesanan teman-temannya.

“Yoong. Apa kau masih ingat, temanku yang bernama Stella Kim?”, tanya Jessica memulai pembicaraan

Yoona menganggukkan kepalanya, “Temanmu yang pindah ke Amerika?”.

Exactly! Beberapa bulan ini dia berada di Seoul. Sekitar minggu kemarin kami bertemu dan ya… mengobrol-ngobrol sedikit. Dan apa kau tahu, ternyata sekarang dia sudah menjadi wedding organizer di Amerika”.

Yoona mengerutkan dahinya, “Lalu apa hubungannya denganku?”.

Jessica dan Sooyoung mendesah dengan bersamaan.

“Aku saja yang memiliki IQ lebih rendah darimu bisa mengerti dengan apa yang dia katakan, Im Yoona”, sungut Sooyoung.

“Ya, aku juga tahu. Tapi Sica, kau berbicara begitu seperti aku yang akan segera menikah saja”.

“Loh, bukannya memang begitu? Tinggal menunggu Siwon oppa pulang dari Cina, lalu kalian akan segera melangsungkan pernikahan kalian yang kemarin tertunda, kan?”.

“Iya, Yoong. Tak ada salahnya kau mempersiapkan lebih dulu pernikahanmu selagi menunggu kepulangan Siwon oppa. Nah, untuk masalah keuangannya itu baru urusan tunanganmu”, ucap Sooyoung.

“Ya tentu saja harus begitu”, tambah Jessica. “Dan Yoong, bukankah Stella dan Siwon oppa berteman baik? Aku yakin dia juga akan setuju”.

“Sedang membicarakan apa? Serius sekali”, Yuri datang dengan nampan berisikan empat gelas kopi dengan rasa yang berbeda-beda.

“Mari bicarakan tentang masalah ini lagi nanti saja. Lagipula aku dan Siwon oppa masih sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Pernikahan bukan persoalan gampang yang bisa ditentukan dengan cara sekilat dan sesederhana ini, kan? Perlu ada pembicaraan intens terlebih dahulu antara aku, Siwon oppa, dan keluarga kita”.

Jessica dan Sooyoung hanya terdiam, apa yang dikatakan Yoona memang tidak salah. Sementara Yuri yang baru masuk dalam pembicaraan mereka masih belum benar-benar mengerti.

“Yasudah, tapi jika suatu saat kalian berminat, kalian bisa menghubunginya”, ungkap Jessica sambil memberikan kartu nama Stella Kim.

“Jessica Jung, apa kau mendapatkan sepersekian persen keuntungan dari wedding organizer Stella?”, tanya Yoona tergelak.

“Bisa saja, dia sudah seperti seorang sales saja tadi”, acuh Sooyoung sambil menyeruput kopinya.

Jessica kesal dan langsung menyenggol lengan Sooyoung membuat bibir Sooyoung tertusuk ujung sedotan. “Ya, Jessica Jung”.

Setelah menghabiskan waktu bersama =, merekapun kembali dengan urusan masing-masing. Jessica pulang dijemput oleh suaminya, Lee Donghae. Dan Sooyoung kembali ke tempat kerjanya yang berada tak jauh dari coffee shop tadi. Sementara Yoona dan Yuri pulang bersama ke apartemen mereka. Yoona dan Yuri memang telah menjadi roommates hampir dua tahun ini.

“Tadi kalian membicarakan apa?”, tanya Yuri saat mereka baru sampai.

“Jessica menawariku untuk memakai jasa wedding organizer temannya yang baru pulang dari Amerika”.

“Oh”, Yuri akhirnya sedikit mengerti. “Apa Siwon oppa pernah membicarakan lagi denganmu soal pernikahan kalian?”.

Yoona menghela nafasnya dan duduk di kursi sambil menyalakan televisi. “Dia terlalu sibuk, Yul. Mana ada waktu untuk membicarakan itu”.

“Kapan terakhir dia menghubungimu?”.

Yoona tampak berpikir. “Mungkin satu minggu yang lalu”.

“Ya Tuhan, selama itu? Yoong, saat melakukan hubungan jarak jauh, kalian tetap harus menjaga komunikasi. Dan bagaimanapun, sebaik-baiknya seorang laki-laki―kau harus tetap selalu mengawasi kegiatannya. Jangan seperti ini”.

Sebenarnya Yoona juga menginginkan seperti itu. Ia ingin tahu kemana saja pria itu pergi, bersama dengan siapa saja dia setiap harinya, atau sekedar tahu apa saja yang ia lakukan. Tapi dihubungi saja Siwon sangat sulit.

“Aku percaya padanya, Yul”, ucap Yoona. Yoona percaya sang kekasih kini tengah bekerja keras dengan pekerjaannya sekarang karena itu ia tak memiliki waktu untuk memberinya kabar setiap hari.  Itu saja. Yoona benar-benar tidak ingin memikirkan hal yang tidak-tidak.

“Kau selalu saja membelanya”.

“Aku tidak membelanya. Aku hanya berusaha mengerti posisi dia sekarang”.

Yuri menghela nafasnya sambil memeluk bantal sofa. “Jika aku jadi dirimu, aku tak yakin akan setegar dirimu”.

 ‘Kau mungkin hanya belum menemukan pria yang benar-benar kau cintai dimana kau akan rela mengorbankan segalanya untuk pria itu, Yul’

To Be Continued

투 비 컨티뉴드

Haha beneran deh, ide FF ini muncul ngebut banget kalo pake orang ketiganya cewek itu xD

Jujur aja sampai sekarang masih sedikit kesel sama si hmm.. apalagi kalo foto2 dia sering muncul di instagram. (aku ga ngstalk ya, tapi fans nya suka tag foto dia ke akun siwon atau jiwon)

Jiwon juga sama aja tuh, sampe sekarang masih suka nglike foto nya si hmm.. sedih tau ga liatnya, baper pake banget nih xD haha

hari ini semoga puas dengan hanya dua chapter ya.. jangan lupa ninggalin coment nya, kalo mau tetep lanjut, hhe 😅

Tinggalkan komentar

101 Komentar

  1. hanna lee

     /  Februari 28, 2016

    ihhhhhh kesel sebel sama tu cewek. duh aku setuju bgt thor sm km di igku juga mubcul foto siwon bareng ty cewek mulu males deh padahal jg gapernah ngestalk. duh kan jd baper plis deh oppa jangn lemahhh duhhh pengen dia jd ceo aja deh drpd jd anak buah-\- but so far udh bikin greget eonn lovebeud dahh next part yuhu

    Balas
  2. typo nya masih ada ya

    Balas
  3. Aiueo

     /  Maret 14, 2016

    Ya ampun yoona Percaya bgt sma siwon 😂 jadi nyesek bgt klo Sampe yoong tau

    Balas
  4. Itu cwe keganjenan,siwon oppa jngan smpai lemah krna godaan iru cwe ksian yoona eoni,lnjut thor

    Balas
  5. Tuhh cwe’ centil ihhh pengen gw gorokk..siwon jg nyebelin lembek bgt jd cowok g ada tegas2’a.👊👊#pelukyoona Karakter siwon di sni bkin gw baper pemirsa ><

    Balas
  6. fanny

     /  April 15, 2016

    Jahat bgt siwonnya.😭
    Eonniku disakitin kek gtu😭
    Kesel😭
    Eon, bkin cerita siwon rindu sama yoona😭

    Balas
  7. AuliaYW

     /  April 22, 2016

    Ihhh tu yeoja ganjen bnr dach2 :3 kasian yoona eonz prcya bngts mi wonppa >_<

    Balas
  8. Ra_YoonAddict

     /  Mei 6, 2016

    Bener2 g suka sama sifatnya Siwon. Kenapa dia bisa gampang banget luluh sama liu wen. Harusnya dia juga bisa ngomong jujur dan menolak keinginan liu wen. Si Liu wen juga kenapa ganjen banget sama Siwon.. aku tahu kalau Yoona itu emang orang yang baik, pengertian, dan sayang banget sama Siwon. Aku g tahu apa yang bakal Yoona lakuin ke Siwon kalau dia tahu selama Siwon alasan Siwon ke China dan apa aja yang dia lakuin di China. Yoona pasti kecewa berat sama Siwon. Semoga Siwon nyesel sama perbuatannya.

    Balas
  9. yoonwonitedappler

     /  Juni 18, 2016

    Wh eh si liuwen kayak nenek lampir disini.
    Daddy iii nyebelin banget.
    Mommy sabar ya. Mommy juga udah dibutakan dengan cinta sampai-sampai apapun yg dilakukan Daddy itu benar.
    Hufft
    Kok daddy di penginapan sih? gak mahal dad? Enakan ngekost kan 😂😂
    Mending uangnya di tabung buat nikah.

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: