[FF] TIMELESS (Sang Terkasih) / Chapter 4

TIMELESS 2

Tittle               : [FF] TIMELESS (Sang Terkasih) / Chapter 4

Author            : Tika Pink / Tika Citra

Email/Twitter : smantikalove@gmail.com / @TikaPink_507 (Mention For Follback)

Main Cast      : Im Yoona, Choi Siwon

Other Cast     : Lee Joon, Choi Woo Hyuk, Shannon William

Genre             : Set by Your Self^^

Length            : Chapter

Rating             : PG + 18

Cover              : Special ArtDesign by “Puspa Imanda

Tarra … kejutan nih nggak di PW … So, jangan pelit-pelit komennya ya ^^

Oh ya, sekedar info bahwa untuk ff LOVE THE CONQUEROR (Cinta Sang Penakluk) maupun ff TIMELESS (Sang Terkasih) udah dibuat versi novelnya ya. Pastinya ceritanya lebih panjang dan lebih lengkap #Mungkin^^. Yang mau bertanya tentang ketentuan POnya silahkan langsung inbox ke akun fbku (Pinkverz Tika Citra) atau bisa juga lewat BBM (5475839F). Begitupun halnya dengan permintaan pw ffku yah. Aku agak slow respon kalau via sms … Hihihi😀

Anyway silahkan menikmati chapter 4 dari ff ini dan jangan lupa nanti meninggalkan jejaknya di kolom komentar yah. Jangan jadi SILENT READERS atau sampai jadi PLAGIATOR. Apresiasinya sangat diharapkan. Terima kasih^^

 

Warning : Typo bersembunyi di mana-mana!!!

 

#Happy Reading#

 

Yoona duduk dengan lemas di sudut ruangan seraya bersandar pada dinding di belakangnya. Tatapan matanya yang kosong bagaikan menyiratkan kehampaan yang ia rasakan. Matanya yang bengkak dan agak sedikit merah jelas menampakkan wanita itu telah menangis selama beberapa jam terakhir ini. Ia bahkan sudah tidak lagi memperdulikan orang-orang yang berdatangan untuk menunjukkan rasa bela sungkawa padanya sehingga Shannon yang harus menggantikan tempatnya untuk menerima ungkapan dari orang-orang tersebut.

Hati Siwon terasa tersayat melihat keadaan Yoona yang seperti itu. Ia merasakan ada butiran bening mengalir membasahi pipinya. Siwon mengusap pipinya yang basah dan ia merasa begitu aneh saat menyadari ternyata ia menangis. Ditatapnya foto yang terpajang di tengah ruangan, foto seorang pria paruh baya yang baru saja meninggal. Ternyata hatinya malah merasa semakin sakit. Ada rasa duka, bersalah dan penyesalan yang berkecamuk dalam hati Siwon. Siwon merasa aneh dengan perasaannya saat ini tapi itulah yang ia rasakan.

“Yoona …” tiba-tiba saja seorang pria masuk ke ruangan penghormatan melewati Siwon yang masih terpaku di pintu. Pria itu langsung menghampiri Yoona dan memeluknya.

“Yoong, maafkan aku terlambat.” Ujar pria itu tapi Yoona tetap diam seakan tak bisa merasakan apapun di sekelilingnya. Pria itu sadar tak mendapatkan respon dari Yoona. Ia menggoncang-goncangkan pundak Yoona mencoba membawa kembali kesadaran diri wanita itu. “Yoong, jangan seperti ini! Demi Tuhan, aku mohon jangan seperti ini!”

Rupanya hal itu membuat Yoona tersadar. Siwon mengikuti gerak mata Yoona yang perlahan menatap pria itu, “Oppa … Oppa … ayahku … ayahku! Seharusnya kami bertemu tadi tapi …” Yoona merasa seakan tidak bisa bernafas, dadanya sesak, terlalu terpukul karena kejadian ini. “Ayahku meninggal.” ucap Yoona lirih. Yoona mengedarkan pandangannya, “Bukankah ini rumah sakit, Oppa? Bukankah ini tempat untuk menyelamatkan orang yang sakit? Tapi kenapa … kenapa orangtuaku tidak selamat meski mereka di rawat dengan baik di tempat seperti ini? Kenapa mereka … Oppa, aku …”

Ya Tuhan, Yoona sepertinya akan hancur berkeping-keping. Wanita itu terlihat begitu rapuh saat ini. Siwon menekan dadanya, ia bisa merasakan sakit yang sama seperti yang dirasakan Yoona saat ini. Ia ingin mendekat dan memeluk Yoona dalam dekapannya. Meluapkan duka yang sama-sama mereka rasakan. Ini juga menyakitinya, ini juga menghancurkannya.

“Kenapa ayah juga harus meninggalkanku? Kenapa aku harus ditinggalkan sendirian? Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi!” tangis Yoona kini pecah dalam pelukan pria yang duduk di sampingnya.

“Kau tidak sendirian, Yoong. Kau masih punya aku. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu setelah ini.” pria itu dengan sabar mengelus-elus punggung Yoona yang bergetar karena sedang terisak. Siwon bisa melihat perasaan sayang yang diberikan oleh pria itu pada Yoona, tapi anehnya ia tidak merasa marah. Siwon justru merasa menyesal karena tidak bisa berada di sisi Yoona. Ia merasa menyesal karena harus memilih bertindak sebagai pengecut dan tidak mendekati Yoona.

Ada apa ini? Ini bukanlah perasaannya? Tidak mungkin ia tidak merasa marah sementara seorang pria yang tak dikenalnya sedang memeluk Yoona seperti itu? Dan kenapa ia merasa bersalah tidak bisa ada di sisi Yoona? Bukankah ia yang saat ini seharusnya berada di sana untuk menenangkan Yoona? Bukankah ia bisa menghampiri Yoona? Tapi kenapa Siwon merasa tidak bisa? Ada apa ini?

 

Siwon membuka matanya seketika. Sinar mentari yang masuk menembus tirai jendela menusuk pandangannya sehingga Siwon harus menghalau sinar matahari yang mengenai wajahnya itu dengan tangannya. Siwon mengerjabkan mata mencoba menyesuaikan pandangannya dengan keadaan. Siwon bangun dengan perlahan dan duduk seraya memijit keningnya yang terasa sakit. Perlahan ia menyapukan pandangannya. Ruangan dengan nuansa hitam putih serta perabotan-perabotan yang eksotis dan elegan itu menyadarkannya bahwa saat ini ia berada di tempat yang familiar. Ternyata saat ini ia berada di kamarnya. Lalu apa yang baru saja dialaminya? Apa ia bermimpi lagi? Tapi semua terasa begitu nyata seolah ia memang berada di sana dan merasakan semua itu.

Yoona! Mengingat wanita itu membuat Siwon sontak menoleh ke sampingnya. Tanpa sadar ia menghembuskan nafas lega saat mendapati sosok wanita cantik bak malaikat yang sedang terlelap dalam tidurnya. Perlahan Siwon menyentuhkan tangannya ke wajah Yoona, ingin memastikan apa saat ini ia berada di dunia nyata atau masih dalam buaian dunia mimpi. Saat ia merasakan kelembutan kulit wajah Yoona, ia kembali menghembuskan nafas lega. Ya, ini nyata. Ini dunianya. Inilah dirinya.

Lalu apa semua itu hanya bagian dari mimpi anehnya lagi? Kenapa mimpi itu semakin terasa begitu nyata? Mimpi hanyalah bunga tidur. Dunia yang tercipta di alam bawah sadar seorang manusia dan Siwon yakin tidak mungkin mimpi bisa membuatnya merasakan kesedihan yang amat mendalam hingga nyaris tak bisa bernafas. Bahkan mimpi tidak mungkin membuatnya melihat duka yang di alami Yoona ketika ayah wanita itu meninggal, dan lebih tidak mungkin lagi mimpi bisa membuatnya melihat sosok ayah Yoona dengan jelas meski hanya dari foto. Wajah pria asing yang memeluk Yoona bahkan sangat jelas terlukis di benaknya.

Mungkin saja itu tidak seperti itu. Mungkin saja wajah-wajah dan suasana itu hanya ilusinya saja. Tapi … tapi jantungnya terasa berdetak lebih cepat dari biasanya. Bahkan ia bisa merasakan nyeri di sekitar dadanya ketika mengingat kembali mimpinya. Ya Tuhan, ada apa ini? Kenapa setiap ia bermimpi tentang Yoona selalu terasa seperti ini? Kenapa mimpi-mimpi aneh itu selalu melibatkan Yoona? Dan kenapa ia merasa itu bukanlah sekedar mimpi tapi melainkan bagian dari kenangannya yang ia lupakan? Mungkinkah ini kenangan dari pemilik jantungnya sebelumnya? Apakah pemilik jantung yang kini berdetak di tubuhnya adalah seseorang yang erat kaitannya dengan istrinya itu? Mungkin saja! Jika tidak, mana mungkin Siwon tidak mungkin merasa dihantui oleh mimpi-mimpi itu seperti sekarang ini. Siwon harus segera menghubungi Park Seo Joon – sahabatnya yang telah dimintanya untuk mencari tahu hal itu. Park Seo Joon adalah salah satu dokter yang bekerja di rumah sakit tempat Siwon dirawat ketika ia dioperasi. Meski sahabatnya itu bukanlah dokter yang menanganinya tapi Siwon yakin Seo Joon pasti menemukan petunjuk siapa pendonor jantungnya. Ia harus segera tahu jantung siapa yang kini berdetak di tubuhnya dan apa kaitan orang itu dengan Yoona.

Perlahan Siwon turun dari tempat tidur menjaga agar gerakannya tidak akan mengusik Yoona yang masih tidur. Akhir-akhir ini istrinya itu sering bangun kesiangan tapi Siwon membiarkannya. Yoona pasti butuh tidur lebih banyak akibat setiap malam istrinya itu nyaris tidak bisa tidur karena dirinya. Siwon tersenyum jika mengingat hari-hari yang telah dilewatinya bersama Yoona belakangan ini sungguh terasa menakjubkan. Wanita itu – Yoona – istrinya, telah benar-benar menjadi miliknya seutuhnya selama sebulan belakangan ini. Siwon memakai jubah tidurnya lalu mengambil ponselnya yang ada di atas meja di samping tempat tidur dan berjalan keluar dari kamar hampir tanpa bersuara.

Siwon menghubungi nomor Seo Joon dan menunggu sampai panggilannya dijawab.

“Halo, ini aku. Apa kau sudah menemukannya?” tanya Siwon tanpa basa-basi ketika Seo Joon menjawab panggilannya.

“Demi Tuhan Choi Siwon ini baru pukul tujuh pagi dan aku baru saja tidur kurang dari lima menit. Aku baru saja ingin istirahat …” protes Seo Joon dengan nada yang terdengar masih mengantuk.

“Aku meneleponmu bukan untuk menanyakan apa yang sedang kau lakukan sekarang, Seo Joon. Aku ingin tahu apa kau sudah menemukan yang aku minta?” sela Siwon. “Aku sudah tudak bisa menunggu lebih lama lagi.” imbuhnya seakan ingin mempertegas bahwa ia benar-benar memerlukan informasi itu.

Siwon mendengar umpatan kesal Seo Joon sebelum pria itu melanjutkan, “Tadinya aku memang sudah berniat untuk memberikan data-data itu pada asistenmu siang ini. Semalam aku melihatnya, mungkin saja dia masih ada …”

“Asistenku?” lagi-lagi Siwon menyela. Alisnya mengernyit, “Siapa maksudmu?”

“Lee Joon! Siapa lagi?! Bukankah dia asistenmu? Aku mengenalinya karena dialah yang menjagamu selama kau dirawat waktu itu.” Jawab Seo Joon. “Oh ya, ngomong-ngomong soal pria itu, bukankah dia adalah orang yang tepat untuk kau mintai pertolongan yang kau limpahkan padaku? Aku rasa dia mengetahui identitas pendonormu lebih akurat karena saat itu aku yakin dia sendiri yang menangani masalah operasi dan perawatanmu.”

“Benarkah?” tanya Siwon tampak menerawang. Seo Joon benar. Jika memang Joon yang mengurus semua hal tentang operasinya, bukankah Joon lah yang paling tahu tentang identitas pendonornya? Tapi kenapa selama ini Joon tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan padanya? Joon hanya mengatakan bahwa itu adalah jantung milik seseorang yang tak punya harapan untuk hidup lagi dan identitasnya dirahasiakan sesuai permintaan pihak keluarga. Meski begitu tetap saja Joon pasti bisa mendapatkan identitasnya jika pria itu mencari tahu dan bisa memberikan informasinya pada Siwon sehingga Siwon bisa berterima kasih dengan layak pada keluarga pendonornya. Atau mungkinkah Joon sedang menyembunyikan sesuatu dari Siwon?

“Siwon … Choi Siwon! Apa kau masih di sana?” suara Seo Joon membuyarkan pikiran Siwon. “Choi Siwon, apa kau mendengarku?”

Siwon berdeham, “Maafkan aku. Apa kau mengatakan sesuatu?”

“Hubungi dia dan minta untuk menemuiku. Aku akan menyerahkan data yang kau minta padanya.” Seo Joon kembali mengulang pernyataannya yang tadi tidak didengar oleh Siwon.

“Tidak!” sergah Siwon keras bahkan ia sendiri pun sedikit terkejut dengan suaranya. “Tidak, maksudku itu tidak perlu!” Siwon mengulang dengan nada yang dipelankan. “Aku … aku yang akan datang untuk mengambilnya sendiri. Kita bertemu satu jam lagi di coffe shop yang ada di dekat rumah sakit.”

“Ya, baiklah!”

“Sampai jumpa!” lalu Siwon pun memutuskan panggilan itu.

Siwon kembali masuk ke dalam kamarnya. Tampak olehnya tempat tidur yang acak-acakan dan Yoona sudah tidak berada di atasnya. Rupanya wanita itu sudah bangun. Siwon tersenyum, lalu terdengar suara Yoona yang …

Siwon segera berlari ke kamar mandi, “Demi Tuhan, apa yang terjadi padamu?” tanya Siwon cemas sembari menghampiri Yoona yang sedang membungkuk di depan wastafel memuntahkan sesuatu dari dalam mulutnya. Siwon menepuk-nepuk pelan punggung Yoona, “Kau kenapa? Semalam kau tampak baik-baik saja, tapi kenapa sekarang kau malah muntah-muntah seperti ini?”

Yoona membasuh mulutnya lalu berbalik menghadap Siwon, “Entahlah. Ketika bangun aku merasa sangat mual.” jawab Yoona lemah. Rasanya ia hampir menghabiskan tenaganya saat mengeluarkan isi perutnya beberapa menit yang lalu.

Siwon menangkup wajah Yoona dan melihat betapa pucatnya wajah istrinya pagi ini. “Kau tampak sangat pucat, sayang. Sebaiknya kau kembali berbaring di tempat tidur. Aku akan meminta dokter untuk datang memeriksamu.”

Yoona menggeleng, “Tidak perlu. Aku rasa ini hanya masuk angin biasa saja.”

“Sayang, kau sedang sakit jadi …”

“Aku pikir aku butuh istirahat lebih lama dari biasanya. Tapi dokter … aku rasa tidak perlu. Aku akan merasa lebih baik setelah istirahat sebentar saja. Kemarin juga aku seperti ini tapi siangnya aku …” Yoona menelan kata-katanya. Ia menatap Siwon yang juga sedang menatapnya dengan salah satu alis yang terangkat tanda pria itu sedang menuntut penjelasan atas ucapan Yoona yang tidak selesai itu.

“Apa yang kau alami kemarin, sayang? Apa kau juga muntah-muntah saat kau bangun pagi kemarin?” tuntut Siwon dengan nada yang tenang namun tegas.

Yoona menelan ludahnya. Ia tahu jika ia mengatakan kemarin dirinya juga muntah-muntah maka Siwon akan marah karena Yoona tak mengatakan hal itu padanya. Seandainya saja Siwon juga tak memergokinya beberapa menit yang lalu, ia pasti tetap tidak akan mengatakan hal itu pada Siwon. Yoona tidak terbiasa mengatakan pada siapapun jika ia sakit. Ia tidak ingin merepotkan orang lain karena merawatnya. Lagipula saat mengalami ini kemarin ia merasa baik-baik saja setelah siang harinya. Jadi ia pikir mungkin hanya masuk angin biasa dan tidak perlu memberitahukannya pada Siwon.

“Yoona, kau sama sekali belum menjawab pertanyaanku! Apa kemarin juga kau mengalami hal ini?” suara Siwon membuyarkan pikiran Yoona. Yoona bingung harus bagaimana menjawab tapi sudah terlambat untuk menghindar karena secara tidak sengaja ia tadi telah mengungkapkannya pada pria itu. Dengan perlahan Yoona mengangguk dan mendapati tanggapan Siwon yang memang sudah diantisipasinya. “Kalau begitu kita akan ke rumah sakit sekarang.” ucap Siwon tegas lalu menarik Yoona keluar dari kamar mandi.

Yoona menepis tangan Siwon, “Aku tidak ingin ke rumah sakit! Tidak, aku tidak ingin ke tempat itu.” Siwon mengernyit, ada sesuatu yang terasa aneh dengan keengganan Yoona.

“Memangnya kenapa dengan rumah sakit? Kita hanya perlu menemui seorang dokter untuk memeriksamu. Muntah-muntah dipagi hari selama dua hari berturut-turut bukan karena tanpa alasan. Pasti ada yang salah dengan kesehatanmu.”

“Ohh, aku sangat tahu dengan apa yang aku rasakan. Ini tidak separah yang kau kira. Aku tidak perlu ke rumah sakit.” Yoona bersikeras.

Siwon mendesah, “Baiklah. Kalau begitu kita akan panggil dokter ke sini.”

“Choi Siwon, kau terlalu berlebihan.” keluhnya. “Aku sama sekali tidak butuh dokter untuk …”

“Memanggil dokter ke rumah atau kita yang akan ke rumah sakit.” cetus Siwon menyela kalimat Yoona. “Hanya itu pilihannya. Terserah padamu.”

Yoona menggeram seraya memutar matanya kesal. Tapi akhirnya ia menyetujui untuk memanggil dokter ke rumah saja daripada harus ke rumah sakit. Yoona tak ingin datang ke rumah sakit.

***

“Seharusnya kau memanggil dokter wanita untuk memeriksa keadaan istrimu bukannya aku.” protes Seo Joon seraya menyimpan kembali stetoscopenya ke dalam tas kerjanya. Siwon yang saat itu sedang berdiri di salah satu sisi tempat tidur di samping Yoona hanya mengernyit tidak paham.

“Apa kau tidak bisa mendiagnosa penyakitnya?” tanya Siwon.

“Oh ayolah, aku bahkan tidak melakukan apa-apa sehingga bisa mendiagnosa apapun dari keadaan istrimu. Saat aku menyentuhnya saja kau tidak pernah berhenti menggeram seakan siap mengulitiku hidup-hidup.” Seo Joon mengeluh yang dihadiahi Siwon dengan tatapan tajam langsung ke matanya.

“Park Seo Joon sebaiknya kau mengatakan sesuatu yang bisa menahanku untuk tidak membunuhmu detik ini juga karena aku yakin aku akan punya alasan yang cukup untuk melakukan hal itu sekarang.” geram Siwon.

Seo Joon melambaikan tanggannya acuh, “Ohh aku yakin kau bisa melakukannya melihat dari sikapmu saat ini. Tapi lain kali jika kau bersikap seposesif ini pada istrimu sebaiknya kau mempertimbangkan untuk memanggil dokter yang jenis kelaminnya bukanlah pria.” Seo Joon menoleh pada Yoona yang terlihat sedang menahan senyum gelinya. “Yoona, apa kau tahu suamimu itu pria yang posesif? Aku yakin dia sudah mengurungmu di istananya ini hanya agar kau terhindar dari tatapan-tatapan pria lain.”

“Hmm, sepertinya begitu!” jawab Yoona tak bisa menahan diri untuk tidak ikut berkomentar untuk menggoda Siwon.

“Sejak kapan kalian menjadi sedekat ini hingga berani berkomplot untuk membuatku kesal?!” Siwon menatap Seo Joon dan Yoona yang sedang menertawakan kekesalannya. Membunuh dua orang ini rasanya bukanlah ide yang buruk. “Seo Joon, jadi apa yang bisa kau katakan mengenai kondisi istriku?”

Seo Joon berhenti tertawa lalu berdeham, “Sebaiknya kau mengajaknya untuk menemui dokter wanita, eh maksudku lebih tepatnya dokter kandungan untuk memastikannya. Tapi aku cukup yakin kalau saat ini Yoona mungkin sedang mengandung.”

“APA???” tanya Siwon dan Yoona bersamaan dengan nada suara yang hampir bisa dikatakan memekik.

“Yakk, kalian mengagetkanku!” protes Seo Joon seraya mengelus dadanya yang terkejut karena suami istri di depannya itu.

“Oh maafkan aku. Tapi bisakah kau lebih menjelaskan apa maksudmu dengan … mengandung? Yoona … apa dia sedang …?”

“Mengandung! Hamil! Akan punya bayi!” Seo Joon menyelesaikan pertanyaan Siwon dengan menegaskan jawabannya. Ia melirik pasangan itu secara bergantian yang tampak masih terperangah dengan pengumumannya. “Kalian ini kenapa sih? Bukannya ini kabar baik? Kalian kan pasangan yang sudah menikah tapi kenapa kesannya kalian begitu terkejut mendengar apa yang aku katakan”

Seakan baru tersadar Siwon langsung menangkup wajah Yoona dan memberikan kecupan tepat di bibir wanita itu. “Sayang, kau dengar itu? Kau hamil. Kita akan punya anak!” ujar Siwon riang lalu kembali menghujani wajah Yoona dengan ciuman-ciumannya.

Seo Joon yang tampak sedikit canggung berdeham untuk menyadarkan pasangan itu akan kehadirannya namun pasangan itu sepertinya tidak perduli. Ia memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu saja dan membiarkan pasangan suami istri itu melanjutkan kemesraan mereka tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu yang penting. Ia menoleh dan mendapati pasangan itu yang kini terlihat sedang asyik berciuman. Ia berdehem namun lagi-lagi tidak ada tanggapan sehingga dengan terpaksa ia menghampiri pasangan itu lalu menarik Siwon untuk menghentikan apa yang tengah dilakukannya. “Maafkan atas interupsiku tapi aku pikir kita harus bicara sebentar.” katanya seraya menyentak Siwon. Wajah Yoona tampak bersemu merah karena malu sementara Siwon menatap Seo Joon kesal. “Jika kau masih menganggap apa yang kubawa adalah sesuatu yang penting maka kita harus berbicara.” Seo Joon menegaskan seraya berjalan menuju ke arah pintu.

Siwon terlihat sedikit bingung tapi sedetik kemudian pria itu mengumpat kesal. “Aku akan segera kembali, sayang!” ucapnya pada Yoona lalu segera menyusul Seo Joon keluar.

 

“Apa yang kau temukan?” tanya Siwon ketika dirinya dan Seo Joon sudah berada di dalam ruang kerjanya.

“Aku rasa kewaspadaanmu terlalu ketat sehingga kau harus mengunci pintu ruanganmu saat kita berada di dalam.”

“Aku tidak memerlukan komentarmu akan hal itu.” protes Siwon. “Berikan padaku apa yang kau temukan.”

“Kau selalu saja bersikap menyebalkan.” keluh Seo Joon lalu ia mengeluarkan sebuah map dari dalam tas kerjanya dan meletakkan map itu ke atas meja yang ada di antara mereka. “Kau tahu, sebelum ke sini aku sempat meneliti kembali berkas-berkas itu. Aku mendapatkannya dengan susah payah karena aku bukanlah bagian dari departemen jantung jadi aku pikir tidak ada salahnya jika aku menelitinya sedikit.” Siwon tidak berkomentar jadi Seo Joon melanjutkannya. “Seperti yang kukatakan tadi pagi di telepon, asistenmu Joon adalah satu-satunya orang yang mengurusi segala sesuatu tentang operasimu itu. Setelah lebih aku teliti ternyata dia merupakan adik kandung dari pemilik jantung yang kini ada di tubuhmu.”

“Apa?” Siwon menoleh, merasa terkejut dengan penuturan Seo Joon. Seo Joon hanya mengangguk.

“Kau bisa melihatnya di situ. Di surat kuasa pendonor jelas nama asistenmu lah yang ada di sana. Tanda tangannya pun sama persis dengan tanda tangan yang ada di berkas administrasimu di mana dia bertindak sebagai wali pasien.” jelas Seo Joon.

Siwon melihat surat kuasa yang dimaksud Seo Joon dan mengamatinya selama beberapa saat. “Ini pasti tidak mungkin.” ucapnya lirih. Menoleh sebentar pada Seo Joon lalu kembali meneliti kertas-kertas yang ada di tangannya. Kemudian matanya menangkap sebuah nama yang cukup mengejutkannya. “Kau pasti bercanda Park Seo Joon. Ini pasti bukan …”

“Melihatmu seperti ini aku yakin kau pasti terkejut sama halnya denganku.” Seo Joon menatap Siwon dengan raut wajah yang serius. “Im Yoona …” Seo Joon mengucapkannya lambat-lambat. “Nama wanita yang persis sama dengan nama istrimu … dia adalah wali dari pria yang mendonorkan jantungnya padamu.” ucapan Seo Joon seakan menegaskan apa yang baru saja Siwon lihat. “Dan bukankah istrimu juga merupakan teman baik asistenmu itu? Mungkinkah Yoona punya hubungan dengan pria itu?” Seo Joon menambahkan.

Siwon bersandar dengan lemas di sofa. Yoona, kenapa harus nama itu yang ia temukan. Siwon memang sudah mengantisipasi kemungkinan keterkaitan Yoona dengan pendonor jantungnya, tapi entah kenapa rasanya sulit menerima jika hal itu memang benar adanya. Dan bukan hanya itu saja, Joon orang kepercayaannya lebih dari setahun ini ternyata juga punya hubungan dengan pendonor jantung itu. Tapi kenapa Joon merahasiakannya darinya? Lalu Yoona, apakah wanita yang kini adalah istrinya itu mengetahui kebenaran ini? Apa wanita itu menyadari bahwa Siwon adalah orang yang mendapat donor jantung dari pria yang dikenalnya? Apa hubungan Yoona dengan pria itu? Kenapa Yoona bisa menjadi wali pria itu ketika pria itu dirawat di rumah sakit?

***

Malam harinya Siwon meminta Joon untuk datang menemuinya di cafe langganan Siwon. Siwon sudah meneguk tiga gelas tequila ketika Joon menghampirinya dan berdiri di sampingnya.

Siwon menoleh seraya tersenyum, “Kau datang?! Duduklah dan temani aku minum!”

“Maafkan saya, Presdir. Saya tidak sedang ingin minum, tapi saya akan menemani anda, Presdir.” ujar Joon sopan tanpa bergeser sedikitpun dari tempatnya berdiri.

“Oh kau bersikap menyebalkan. Sudah kukatakan padamu kau tidak perlu seformal itu denganku jika kita tidak sedang dalam urusan pekerjaan.” cetus Siwon. “Bukankah hubungan kita sekarang cukup dekat untuk dinyatakan sebagai teman? Lagipula kau juga berteman dekat dengan istriku, jadi apa salahnya jika kau bersikap santai denganku dan menganggapku sebagai temanmu? Atau kau tidak ingin menjadi temanku?”

“Tentu saja tidak seperti itu, Presdir. Saya hanya tidak ingin menjadi lancang dengan melakukan itu. Anda adalah atasan saya.”

“Ohh baiklah, terserah kau saja.” Siwon melambaikan tangannya seakan tidak perduli. “Aku memintamu datang ke sini sebenarnya memang ingin meminta kau melakukan suatu tugas untukku. Tadinya aku ingin memintanya sebagai bentuk bantuan dari seorang teman, tapi karena kau menolak untuk menganggapku sebagai temanmu dan lebih memilih aku sebagai atasanmu maka aku rasa ini akan menjadi seperti sebuah perintah untukmu. Bisa dibilang ini adalah tugas yang sangat penting.” kata Siwon dengan nada setenang mungkin.

“Saya akan berusaha melaksanakannya sebaik mungkin.”

“Ya, aku tidak meragukannya. Kau selalu membuatku puas dengan hasil kerjamu selama ini.” kata Siwon. “Tapi entah kenapa untuk kali ini aku sedikit bertanya-tanya apakah kau sanggup melakukannya atau tidak? Apa kau bisa memberiku semua informasi yang aku butuhkan atau tidak?” Siwon sama sekali tidak menutupi keraguan dari nada suaranya.

Joon mengernyit, tidak biasanya Siwon bersikap seperti ini padanya. Siwon tidak pernah mempertanyakan kemampuannya jika pria itu ingin ia mengerjakan sesuatu secara diam-diam sekalipun. Tapi kali ini rasanya sangat berbeda, dan Joon merasa tidak nyaman akan hal itu.

“Informasi seperti apa yang anda butuhkan, Presdir?” tanya Joon.

Siwon meneguk kembali minumannya sebelum berkata, “Aku ingin kau mencari informasi tentang identitas pendonor jantungku.” kata Siwon pelan namun tegas.

Joon sedikit terkejut dengan perintah Siwon. Sudah beberapa bulan ini Siwon tidak pernah menyinggung perihal identitas pendonor jantung itu.

“Presdir, seperti yang aku katakan setiap kali bahwa aku sama sekali tidak bisa …”

“Melacak identitas pendonor itu!” Siwon menyelesaikan kalimat Joon. “Joon, itu sama sekali tidak masuk akal! Tidak mungkin jantung yang sekarang berdetak di dalam tubuhku milik seseorang yang tidak punya keluarga atau kerabat sama sekali.”

“Presdir …”

“Aku tahu pemilik jantung ini sudah meninggal dan dia pasti adalah orang yang sudah sangat sekarat. Tapi, dia pasti mempunyai keluarga atau kerabat yang menjadi kuasanya ketika mendonorkan jantung ini. Separah apapun pasien yang membutuhkan donor jantung dan seberapa inginnya seorang dokter memberikan sebuah jantung pada pasien itu, mereka tidak akan melakukan transplantasi tanpa persetujuan ataupun surat kuasa dari orang yang bertanggung jawab atas pendonor. Kau adalah waliku saat itu, aku yakin pihak rumah sakit memberitahukanmu sesuatu sebelum operasi dilakukan.”

“Anda benar, Presdir tapi tidak sepenuhnya.” Joon menanggapi dengan tenang. “Pihak rumah sakit sama sekali tidak memberitahukan tentang identitas pendonor itu pada saya karena pihak pendonor meminta untuk tetap dirahasiakan. Mereka hanya mengatakan jantung yang cocok dengan anda tersedia dan saya yang bertindak sebagai wali anda menyetujui operasi itu tanpa mencari tahu identitas pendonor lebih jauh. Yang saya ketahui hanya pendonor itu adalah pasien yang sudah mengalami koma selama setahun dan tidak punya harapan untuk bangun lagi.”

“Tapi bukan hal yang tidak mungkin kau bisa melacaknya jika kau memang ingin mencari tahu.” timpal Siwon dingin. “Kau adalah tipe pria yang bisa melacak identitas bos mafia jika kau memang menginginkannya. Kau tidak pernah mengecewakanku sekalipun dalam hal mencari informasi. Tapi kenapa kau tidak bisa melacak identitas seseorang yang sudah mendonorkan jantungnya padaku? Atau mungkinkah kau sudah mengetahuinya hanya saja tak ingin mengatakannya padaku?”

Joon merasakan tatapan penuh kecurigaan yang terpancar di mata Siwon ketika mengucapkan kalimat terakhirnya. Joon merasa tidak nyaman akan hal itu tapi ia mencoba berusaha untuk tetap bersikap tenang.

“Presdir, saya tidak …”

“Kau mengetahuinya kan Joon.” Itu jelas bukan pertanyaan. Itu adalah bentuk pernyataan tegas. Siwon menatap Joon semakin tajam. “Kau mengetahui identitasnya tapi kau tidak ingin memberitahukannya padaku. Pria itu … pendonor itu, adalah kakak kandungmu Lee Seung Gi. Apa aku benar?”

Kali ini Joon tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Ia terperangah, dan melihat Siwon sedang tersenyum kecut padanya.

“Melihat tampangmu sekarang aku yakin apa yang kukatakan pasti benar.” Siwon melanjutkan. “Jantung ini … jantung yang berdetak di dalam tubuhku ini …” Siwon menepuk dadanya, “sebelumnya adalah milik kakakmu kan? Benar kan?”

Siwon merasa kesal dengan Joon yang hanya diam tak menaggapinya. “Aku tidak tahu apa alasanmu sehingga kau memilih untuk mendonorkan jantung kakakmu padaku, tapi satu hal yang ingin aku tahu darimu. Satu hal yang aku ingin kau jawab dengan sejujur-jujurnya padaku. Yoona … apa hubungan Yoona dengan kakakmu? Apa hubungan istriku dengan kakakmu?” tanya Siwon geram.

Joon berdeham mencoba melegakan tenggorokannya yang terasa kering. Namun dengan berani ia menatap Siwon, “Yoona adalah tunangan kakakku, calon istrinya.”

Jawaban Joon seakan petir yang menyambar tubuh Siwon. Ia mendengus tidak percaya dengan situasi yang dialaminya seharian ini.

“Presdir, aku tidak bermaksud …”

“Jangan panggil aku Presdir lagi!” bentak Siwon marah. “Mulai detik ini aku bukanlah atasanmu. Kau … dipecat!” kata Siwon lalu sedetik kemudian ia melayangkan tinjunya ke rahang Joon. Membuat pria itu tersungkur di lantai. Pekikan terdengar dari beberapa pengunjung wanita yang melihat kejadian itu namun tidak ada yang berani mendekat. Siwon mengambil mantelnya lalu pergi meninggalkan cafe itu dengan perasaan yang semakin kusut.

***

Sesampainya di rumah Siwon mendapati Yoona sedang duduk bersandar di tempat tidur seraya membaca sebuah buku. Yoona menoleh ke arahnya sambil tersenyum. Ya Tuhan, senyuman itu, apa benar-benar untuknya?

“Kau sudah pulang?” Yoona tidak perlu mendapatkan jawaban atas pertanyaannya itu karena Siwon sudah berjalan melintasi ruangan hingga kini berada tepat di sampingnya. Menariknya berdiri dan melumat bibirnya dengan ciuman yang membara.

“Demi Tuhan, apa yang harus aku lakukan padamu?” tanya Siwon disela-sela ciumannya. “Aku tidak bisa mengendalikan diriku jika aku berdekatan denganmu.” Ia melumat bibir Yoona lagi. Yoona tidak bisa melakukan apapun selain membiarkan pria itu menariknya semakin dekat ke dalam dekapan pria itu. Yoona merasa tubuhnya bergetar setiap kali Siwon menyentuhnya. “Katakan padaku apa yang harus aku lakukan padamu, Yoona.” kali ini bibir Siwon menyusuri leher Yoona yang jenjang.

“A … aku tidak … tahu …” Yoona berkata dengan susah payah, terbuai oleh sentuhan-sentuhan Siwon di tubuhnya. “Tapi … aku pikir … aku … aku menginginkan seperti … apa yang kau inginkan.” Siwon menatapnya dan menangkap kilatan hasrat yang sama dengan apa yang dirasakan Siwon saat ini dari mata Yoona. Sial, bisa saja hasrat itu bukan karena dirinya. Bisa saja hasrat yang dirasakan Yoona saat ini karena wanita itu merasa …

Siwon mengumpat dalam hati. Apa sebenarnya yang dipikirkannya? Tapi ia kembali merapatkan tubuh Yoona di tubuhnya, merasakan kehangatan yang bisa ia rasakan saat ini.

“Ohh, aku sangat menginginkanmu. Sangat teramat menginginkanmu.” Siwon kembali menyentuhkan bibirnya dengan bibir Yoona. Perlahan dirasakannya tangan Yoona yang mulai berpartisipasi. Melepaskan jas Siwon dan mulai membuka kancing kemejanya satu persatu.

Semakin lama ciuman-ciuman itu semakin membara, sentuhan-sentuhan itu semakin menyulut gairah, menuntut pelepasan. Mereka bercumbu di atas tempat tidur mereka. Tapi ketika Siwon hendak melepaskan gaun tidur Yoona, tiba-tiba ia langsung menarik diri dengan kuat.

“Ada apa?” tanya Yoona merasa bingung. Nafasnya masih tersengal-sengal akibat cumbuan Siwon.

Siwon turun dari tempat tidur, “Aku rasa aku ingin berenang.” kata Siwon sambil memaksakan sebuah senyuman terukir di wajahnya.

“Apa? Hmm, maksudku kau ingin berenang? Tengah malam begini? Di tengah cuaca yang dingin? Kenapa?” Yoona tidak menyadari ia telah mengajukan pertanyaan yang beruntun.

Siwon mengangguk, “Aku merasa sedikit tidak nyaman.” jawabnya. “Tidurlah lebih dulu. Kau harus lebih menjaga kondisimu.” Siwon membungkuk lalu mengecup kening Yoona dengan khidmat selama beberapa saat. Kemudian setelah mengambil pakaian renangnya ia berjalan keluar dari kamar yang diikuti dengan tatapan kebingungan Yoona.

Di luar kamar sambil bersandar di pintu yang tertutup, Siwon memejamkan matanya dengan perasaan terluka. Ia mengutuk dirinya, mengutuk atas apa yang tengah ada dalam pikirannya saat ini, mengutuk karena telah meninggalkan Yoona dengan hasrat yang sama dengan yang ia rasakan, mengutuk dirinya yang semakin menginginkan Yoona. Sambil bersumpah serapah ia berjalan menuju ke kolam renang. Air kolam yang dingin pasti akan bisa membantunya untuk memadamkan hasratnya yang kini semakin tak bisa tertahankan.

***

Yoona tidak mengerti apa yang terjadi pada Siwon akhir-akhir ini. Pria itu seakan berubah menjadi sosok yang dingin. Pria itu seakan mencoba menghindari berbagai kontak fisik di antara mereka. Ya, meski tidak sepenuhnya. Pria itu tetap perhatian padanya. Terutama ketika mereka sudah memastikan bahwa Yoona tengah hamil tiga minggu. Pria itu selalu memprioritaskan Yoona, dan Yoona merasakannya. Hanya saja semua terasa sedikit tidak tepat. Terkadang Yoona melihat Siwon tampak kacau. Ada sesuatu yang membebani pikiran pria itu. Tapi setiap kali Yoona bertanya, pria itu selalu menghindar. Yoona semakin penasaran namun tidak tahu bagaimana caranya agar ia bisa menemukan jawabannya tanpa membuat Siwon marah. Entah kenapa Yoona merasa apa yang tengah dipikirkan Siwon ada kaitannya dengan dirinya. Karena setiap kali mereka bercumbu, Siwon seolah memikirkan sesuatu yang bisa mengacaukan pikirannya yang membuat pria itu menarik diri. Yoona bahkan tidak bisa menyuarakan protesnya karena Siwon pasti langsung pergi untuk menghindarinya. Ohh ini tidak benar. Yoona sangat tidak ingin diperlakukan seperti ini oleh Siwon sementara semakin hari Yoona merasa semakin menginginkan Siwon.

Tunggu dulu, apa ia baru saja mengatakan pada dirinya bahwa ia menginginkan Siwon? Ya Tuhan, apa yang sedang dipikirkannya?

“Apa yang sedang kau pikirkan adik ipar sehingga tak menyadari kedatanganku?” sebuah suara membuyarkan pikiran Yoona. Ia menoleh dan mendapati Choi Woo Hyuk berdiri sambil bersender di salah satu tiang beton di hadapannya.

“Choi Woo Hyuk, sejak kapan kau berdiri di situ?” tanya Yoona. Tidak biasanya Choi Woo Hyuk datang berkunjung ke rumahnya.

“Cukup lama untuk mengamatimu yang sedang melamun.”

Yoona tampak salah tingkah. “Ohh, aku hanya sedang memikirkan sesuatu.” kata Yoona kikuk. “Siwon belum pulang, tapi kau bisa menunggunya sambil menikmati secangkir kopi jika kau mau. Aku yakin dia akan pulang sebelum makan malam.”

“Ohh aku datang bukan untuk menemuinya, tapi aku datang untuk menemuimu. Atau lebih tepatnya aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Woo Hyuk berjalan menghampiri Yoona yang masih belum beranjak dari tempat duduknya. “Aku harap kau mau ikut.” katanya menambahkan.

“Kemana?”

“Ke sebuah tempat yang mungkin akan membuatmu tertarik.” Woo Hyuk bersikap misterius. “Aku janji tak akan lama. Siwon bahkan tidak akan menyadari kalau kau keluar untuk berjalan-jalan.”

“Kalau begitu aku harus meneleponnya dulu. Dia akan marah jika aku pergi tanpa ijinnya.”

“Ohh Demi Tuhan adik iparku tersayang …” Woo Hyuk menarik Yoona sehingga mereka berdiri berhadapan. “kita tidak akan pergi terlalu lama. Sekali-kali kau harus membangkangnya agar dia tidak akan terlalu mengukungmu.”

“Tapi …”

“Ayolah!” sebelum Yoona menyuarakan keraguannya, Woo Hyuk sudah menariknya untuk mengikutinya dan masuk ke dalam mobil pria itu.

~~~

Yoona berdiri di depan pintu rumah sakit dengan perasaan yang tidak nyaman. Ia masih belum bisa menghilangkan rasa tidak sukanya akan rumah sakit. Kenangan-kenangan pahit dalam hidupnya seakan kembali membayangi di pelupuk matanya.

“Kenapa kau mengajakku ke sini?” tanya Yoona tanpa menoleh ke arah Woo Hyuk yang berdiri di sampingnya.

Sebuah senyum sinis terukir di sudut bibir Woo Hyuk, “Aku ingin mempertemukanmu dengan seseorang yang mungkin sangat kau kenal.”

“Apa maksudmu?” tanya Yoona seraya menoleh untuk melihat Woo Hyuk. Sebuah perasaan tidak enak menjalari tubuhnya. “Siapa yang kau ingin pertemukan denganku?”

“Kau akan tahu setelah melihatnya.” Woo Hyuk kembali menarik Yoona untuk mengikutinya. Mereka menggunakan lift untuk naik ke lantai lima rumah sakit itu, melewati beberapa koridor sampai tiba di depan sebuah kamar rawat.

“Sebaiknya kau menyiapkan dirimu karena mungkin kau akan terkejut melihat penghuni ruangan ini.” ujar Woo Hyuk.

“Apa kau sedang berusaha menakutiku?”

Woo Hyuk tersenyum, “Hanya mencoba mengantisipasi.” Yoona tidak memberikan tanggapan sehingga Woo Hyuk merasa Yoona pasti sudah menyiapkan dirinya. Sebentar lagi kemenangan akan menjadi miliknya.

Woo Hyuk membukakan pintu kamar itu untuk Yoona. Perlahan Yoona mulai melangkahkan kakinya masuk ke ruang rawat VVIP itu. Langkah demi langkah membawanya melintasi ruang duduk kecil yang kemudian mengarahkannya ke ruang di mana pasien dirawat sampai matanya terpaku pada sosok itu. Langkahnya terhenti dengan jarak satu meter dari bangsal di mana sosok itu terbaring dengan berbagai alat medis yang terpasang di tubuhnya. Yoona benar-benar membeku.

“Aku yakin kau pasti masih mengenali tunanganmu! Oh maafkan aku, maksudku mantan tunanganmu.” kata Woo Hyuk sambil mengamati Yoona yang terpaku di sampingnya. “Lee Seung Gi … Agen kepolisian Seoul yang menjadi korban tembakan oleh suamimu, Choi Siwon!!!” imbuhnya dengan memberikan penekanan di kata yang tepat.

Yoona mengalihkan pandangannya untuk menatap pria di sampingnya itu. “Apa maksudmu?” suara Yoona terdengar sangat lirih namun Woo Hyuk dapat menangkapnya dengan jelas.

“Pria yang mengakibatkan tunanganmu terbaring koma tidak lain dan tidak bukan adalah Choi Siwon, suamimu.” ujar Woo Hyuk santai. Yoona baru menyadari bahwa pria di sampingnya itu adalah seorang pria yang jahat.

“Itu tidak mungkin!” sangkalnya. “Seunggi oppa sudah meninggal berbulan-bulan yang lalu!”

“Ohh adik iparku sayang,” Woo Hyuk mendorong Yoona agar lebih mendekat ke bangsal di mana sosok pria yang mirip Seunggi itu terbaring. “lihatlah dengan seksama!” Woo Hyuk menunjuk wajah Seunggi, “Dia adalah Lee Seunggi, tunanganmu! Dia sama sekali belum meninggal.”

Yoona menggeleng, “Tidak! Aku menyaksikan sendiri bagaimana Seunggi oppa meninggal. Dia bukanlah Seunggi oppa.” Yoona masih menyangkal. Dia bahkan tidak ingin melihat sosok yang terbaring itu.

Woo Hyuk memutar matanya kesal, “Pria ini benar-benar Seunggi. Aku berani menjamin hal itu.”

Yoona kembali menggeleng. “Tidak! Tidak mungkin! Dia bukan Seunggi oppa.” Yoona berbalik ingin meninggalkan ruangan itu namun ketika ia akan mencapai pintu, seseorang membuka pintu itu dari luar dan ia hampir saja kehilangan keseimbangannya saat melihat pria itu.

“Yoong?” pria itu tampak sangat terkejut melihat Yoona.

“Ohh akhirnya ada yang bisa menegaskan ucapanku.” kata Woo Hyuk yang sudah berada di belakang Yoona.

“Choi Woo Hyuk, sialan kau!” pria itu dengan cepat melewati Yoona dan menerjang Woo Hyuk. Menghantamkan tinjunya dengan kuat ke rahang Woo Hyuk, menghajar pria itu di lantai ruangan itu. “Kau sudah berjanji tidak akan mengusikku!” Sebuah pukulan menghantam hidung Woo Hyuk, “Kau sudah berjanji tidak akan mengganggu Yoona.” Sebuah pukulan lagi mendarat di wajah Woo Hyuk mengiringi ucapan pria itu.

“Hentikan!” pekik Yoona. Pria itu menghentikan tangannya yang sudah terkepal di udara untuk memukul Woo Hyuk lagi. Tapi dia sama sekali tidak ingin melepaskan Woo Hyuk. “Demi Tuhan Joon, lepaskan dia!” bentak Yoona sehingga pria itu melepaskan Woo Hyuk namun ketika Woo Hyuk mencoba berdiri, Joon – pria itu kembali melayangkan pukulannya ke rahang Woo Hyuk sekali lagi sehingga Woo Hyuk kembali tersungkur di lantai. “Lee Joon, hentikan!!!” Yoona kembali berteriak. Kali ini Joon benar-benar berhenti. Ia melihat Yoona yang sedang menatapnya penuh kemarahan.

“Yoong … aku …” Joon tidak tahu harus mengatakan apa. Yoona pasti membencinya saat ini. “Aku bisa menjelaskannya!” katanya lirih.

“Apa yang ingin kau jelaskan? Bagaimana kau bisa menjelaskannya?” pekik Yoona. Emosinya bercampur aduk menusuk hatinya hingga ke dasar yang paling dalam. “Oppa … Seunggi oppa, bagaimana …” Yoona merasa putus asa karena tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan apa yang dipikirkannya saat ini. Air mata mengalir tanpa disadarinya.

“Oppa, aku sudah membeli …” suara sesuatu terjatuh ke lantai. “Eonni …?”

Yoona menoleh ketika menyadari suara yang sangat dikenalinya. Shannon berdiri dengan mimik wajah terkejut, takut dan rasa bersalah menjadi satu. Yoona mendengus tak percaya melihat Shannon lalu melihat Joon lagi kemudian kembali mendengus.

“Demi Tuhan, apa yang kalian lakukan padaku?” untuk kesekian kalinya Yoona memekik kesal.

“Eonni, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku dan oppa …” Yoona mengisyaratkan agar Shannon menghentikan langkah untuk mendekatinya.

“Jangan katakan apapun!” sela Yoona ketus. “Apapun yang kalian katakan tidak akan mengubah kenyataan bahwa kalian telah membohongiku! Ohh tidak, kalian telah membodohiku!”

“Eonni …”

“Aku tidak pernah menyangka kalian tega melakukan ini padaku!” Yoona menatap Shannon dan Joon bergantian. Ia membiarkan air matanya mengalir di pipinya. “Kalian berdua … kalian berdua adalah orang-orang terdekatku. Bagaimana bisa kalian … bagaimana … Oh Tuhan, aku benar-benar membenci kalian!” ujar Yoona lalu berlalri pergi meninggalkan ruangan itu dengan segenap perasaannya yang terluka.

***

Yoona mengunci dirinya di dalam kamar. Rasa sakit karena dibohongi oleh dua orang yang sangat ia percaya merupakan pukulan yang cukup besar baginya. Seunggi, Ya Tuhan … pria itu masih hidup. Meski kondisinya tidak jauh berbeda dengan beberapa bulan yang lalu tapi pria itu masih hidup, pria itu masih bernafas.

Sebuah ketukan di pintu kamar mengusik Yoona. “Nyonya, saya ingin memberikan sesuatu.” Kepala pelayan itu memberitahukan maksudnya.

“Sebentar!” jawab Yoona. Dengan enggan Yoona turun dari tempat tidur, mengusap matanya yang mungkin tampak sembab karena habis menangis lalu membuka pintu kamar itu.

“Saya menemukan benda ini di saku jas Tuan seminggu yang lalu tapi saya sedikit lupa untuk segera mengembalikannya.” Kepala pelayan itu menyerahkan sebuah cincin kepada Yoona lalu pergi setelah membungkuk dengan sopan.

Yoona meneliti cincin yang tampak familiar itu, dan ternyata dugaannya memang benar. Ukiran inisial SY yang ada di bagian dalam cincin itu mempertegas dugaannya. Itu adalah cincin yang diberikan Seunggi ketika pria itu melamarnya. Itu adalah cincin pertunangan mereka.

Tapi kenapa cincin ini bisa ditemukan di saku jas Siwon? Batin Yoona. Ia cukup yakin telah meletakkan cincin itu di tempat di mana abu Seunggi … Oh bukan. Lebih tepatnya abu yang diyakininya adalah abu jenazah Seunggi di semayamkan.

Rasa penasaran menyergapi Yoona. Ia segera berjalan masuk ke ruang ganti Siwon yang terletak di seberang ruang tidur mereka, berdampingan dengan ruang gantinya.

Ini pertama kalinya ia masuk ke ruangan ini bukan untuk memilihkan pakaian yang akan dipakai Siwon. Ia sendiri juga tidak tahu apa yang ingin dilihatnya di dalam ruangan ini, tapi rasanya ada sesuatu yang sering ia lewatkan meski setiap hari ia membantu Siwon untuk memilih pakaian yang akan dikenakan suaminya itu.

Semuanya masih tertata dengan rapid an pada tempatnya. Sama sekali tidak ada yang aneh. Pakaian-pakaian yang tergantung rapi di lemari kaca, sepatu-sepatu yang juga tersusun rapi di raknya, dasi, dan aksesoris …

Mata Yoona tiba-tiba terpaku pada deretan aksesoris itu. Tampak sedikit tersembunyi, namun cukup jelas jika dilihat lebih dekat. Tangan Yoona terulur ingin mengambil benda itu.

“Apa yang kau lakukan?”

Yoona terlonjak, terkejut saat mendengar suara Siwon di belakangnya. Ia menoleh dan mendapati Siwon sedang menatapnya dengan mata terpicing. “Apa yang kau lakukan?” pria itu mengulang pertanyaannya. Yoona masih tidak menjawab sehingga Siwon harus menghampirinya dan mengguncang bahunya agar bisa menarik perhatiannya. “Kau kenapa?”

Yoona mendapatkan kembali kesadarannya. Ia menelan ludah dengan pahit dan dengan tangan yang gemetar ia menunjukkan cincin yang diserahkan oleh kepala pelayan padanya.

“Apa maksudnya ini? Kenapa cincin ini bisa ditemukan di saku jasmu?” tanya Yoona mencoba menguatkan dirinya.

Untuk sesaat Siwon tampak bingung, tapi setelah melihat cincin itu lebih dekat ia mengerti dan untuk pertama kalinya ia merasa … takut. Yoona pasti sudah mengetahui sesuatu yang apapun itu tidak Siwon inginkan dan semua karena kelalaiannya.

“Apa kau mengenali cincin itu?” Siwon berusaha bersikap tenang. Bagaimanapun caranya ia harus tetap bisa mengendalikan emosinya.

Yoona mengangguk, “Ya, cincin pertunanganku!” jawab Yoona tanpa sedikitpun keraguan.

Siwon bersandar di salah satu sisi lemari pakaiannya. “Aku merasa tidak pernah memberikan cincin seperti itu padamu, Sayang!”

“Ohh bukan denganmu!” Yoona masih berusaha mengimbangi ketenangan pria di depannya itu. “Ini cincin pertunanganku dengan pria lain, jauh sebelum aku bertemu denganmu.”

“Benarkah? Mungkin kau harusnya mengatakan itu bekas cincin pertunanganmu mengingat kau sudah menjadi istriku selama lima bulan terakhir ini.”

Yoona kesal, Siwon terasa semakin menyebalkan.

“Aku rasa kau belum menjawab pertanyaanku, Choi Siwon. Kenapa cincin ini bisa ada padamu?”

“Karena aku mengunjungi tempat penitipan abu di mana guci abu pria itu disimpan, terkejut melihat fotomu yang sedang tersenyum dalam rangkulan pria itu, cemburu ketika melihat video pria itu yang mengatakan bahwa dia mencintaimu dan cukup bodoh dengan mengambil cincin sialan itu untuk kubawa. Oh ya satu hal lagi, bahwa aku adalah pria yang menerima donor jantung dari mantan tunanganmu itu dan saat ini aku merasa pria yang paling konyol sedunia karena aku cemburu pada sesuatu yang kini ada di dalam tubuhku.” tentu saja itu hanya terucap dalam hati Siwon.

Siwon mengangkat bahunya acuh, “Aku hanya ingin merasa penasaran dengan kehidupan masa lalu istriku. Apa dia punya kekasih sebelum aku? Itu saja.”

Yoona tertawa kecut, “Perlu kuingatkan padamu kita sama sekali tidak pernah menyatakan bahwa kita adalah sepasang kekasih.” kata Yoona. “Aku tidak menyangka bahwa kau tertarik untuk menyelidiki masa laluku di tengah-tengah kesibukanmu, Choi Siwon. Dan kenapa kau tidak melakukannya berbulan-bulan yang lalu sebelum kau memutuskan untuk memilihku sebagai istrimu?”

Siwon dapat menangkap kesinisan dari kalimat Yoona itu. Apa wanita itu benar-benar mengetahui bahwa Siwon adalah … Siwon menggeleng. Itu tidak mungkin. Sejak hari ia mengetahui fakta ini Yoona sama sekali tidak menunjukkan bahwa wanita itu mengetahui sesuatu. Bahkan tadi pagi sebelum Siwon berangkat ke kantor, Yoona masih bersikap seperti biasanya. Tidak sesinis ini. Apa hanya dengan menemukan cincin itu bisa membuat Yoona menarik kesimpulan seperti itu? Itu sama sekali tidak mungkin. Pasti ada sesuatu.

Siwon menegakkan badannya, “Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa aku merasa kau seperti sedang mencoba memojokkanku saat ini?”

“Ohh aku sama sekali tidak sedang memojokkanmu. Aku hanya ingin mencari tahu apa lagi yang bisa mengejutkanku hari ini setelah sejam yang lalu melihat Seunggi oppa yang ternyata masih hidup hanya saja tetap terbaring koma di rumah sakit, lalu menyadari bahwa dua orang yang aku percaya dengan hidupku ternyata telah membohongiku selama beberapa bulan ini, kemudian melihat cincin ini …”

“Tunggu dulu!” Siwon menyela. Alisnya bertaut mencoba mencerna perkataan Yoona. “Kau mengatakan bahwa kau baru saja melihat Seunggi masih hidup, apa dia Seunggi mantan tunanganmu?” tanpa sadar Yoona mengangguk. “Kau yakin?” Siwon ingin memastikan.

“Tentu saja aku yakin. Aku tidak sebodoh itu tidak mengenali Seunggi oppa sementara di sana aku juga melihat Joon dan Shannon, dua orang yang aku kenal.”

Siwon merasa hatinya dipenuhi kelegaan secara tiba-tiba. Berarti jantung yang berdetak di dalam tubuhnya bukanlah milik dari mantan tunangan istrinya. Perasaan yang ia rasakan terhadap Yoona adalah murni perasaannya, bukan perasaan milik orang lain.

Siwon baru saja ingin memeluk Yoona, meluapkan kelegaannya dengan mendekap tubuh istrinya itu tapi salah satu tangan wanita itu menahan dadanya, mencoba mendorongnya.

“Yoona?”

“Aku belum menanyakan semua pertanyaanku.” cetus Yoona datar.

“Sayang, aku memiliki cincin itu karena aku merasa sedikit penasaran …”

“Bukan tentang cincin itu.” sela Yoona. “Aku mungkin bisa menerima alasanmu tentang cincin itu. Tapi aku butuh penjelasan tentang ini. Kenapa aku bisa menemukan kalung ini di lemarimu?” saat itu Yoona menunjukkan maksudnya. Wanita itu memperlihatkan seuntai kalung sederhana yang berliontinkan hati dengan inisial SY yang bertaut di bagian tengah liontin itu. Siwon pernah melihat kalung itu. Di dalam mimpinya. Tapi kenapa … kenapa kalung itu bisa ada di dalam lemari aksesorisnya?

“Aku …”

“Kalung ini adalah milikku. Kalung pemberian Seunggi oppa ketika dia selesai menjalani wajib militernya.”

Ya, aku tahu itu. Aku melihatnya dalam mimpi. Batin Siwon.

“Kenapa kalung ini ada padamu?” tanya Yoona. “Seingatku kalung ini hilang kurang lebih satu setengah tahun yang lalu ketika aku …” Yoona berhenti. Kenangan itu menari-nari di pelupuk matanya. Kenangan ketika ia …

 

“Lee Seung Gi … Agen kepolisian Seoul yang menjadi korban tembakan oleh suamimu, Choi Siwon!!!”

 

“Pria yang mengakibatkan tunanganmu terbaring koma tidak lain dan tidak bukan adalah Choi Siwon, suamimu.”

 

Perkataan Woo Hyuk kembali terdengar di telinganya. Lalu kenangan buruk itu kembali terpampang jelas di matanya. Ia menatap Siwon tak percaya. Ya Tuhan, apa yang telah terjadi? Kenapa dirinya tidak pernah menyadari hal itu?

“Yoona kau kenapa?” tanya Siwon cemas. Yoona tampak terpukul dan rapuh. Siwon mengulurkan tangan untuk menyentuh Yoona namun wanita itu menepisnya dengan kasar.

“Jangan sentuh aku!” jerit Yoona. Siwon terperangah, bingung dengan situasi yang kini ia hadapi. “Jangan berani menyentuhku!” Yoona menegaskan. Ia berjalan keluar dari ruang ganti itu dengan amarah yang seketika muncul merajai hatinya.

Siwon menyusul Yoona dan melihat wanita itu sedang mengeluarkan sebuah koper dan beberapa pakaian wanita itu dari dalam ruang gantinya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Siwon heran.

“Berkemas! Aku akan meninggalkan rumah ini! Aku tidak sudi tinggal bersama pria kejam sepertimu.” Yoona mulai melipat bajunya dengan asal-asalan dan meletakkannya ke dalam koper.

Siwon menghentak Yoona, “Aku tidak mengerti apa yang kau katakan saat ini, Yoona. Jadi jelaskan padaku!”

“Bagian mana yang tidak kau mengerti?” Yoona menepiskan tangan Siwon darinya dengan kasar. “Berkemas? Pria kejam? Ohh, atau kau lebih suka aku menyebutmu bejat? Katakana padaku apa yang tidak kau mengerti?!”

“Yoona …” geram Siwon.

Yoona tersenyum sinis, “Mungkin memang tidak ada yang bisa kau mengerti. Pria sepertimu tidak akan mengerti apapun selain kekerasan!” ujar Yoona. “Yah, kenapa aku sampai tidak menyadarinya padahal kau sudah melakukannya padaku dua kali. Tapi aku malah terpesona padamu dan melupakan insiden yang melukai harga diriku. Ohh, kau memang pria bejat, Choi Siwon!”

Siwon mengusap wajahnya frustasi, “Yoona, aku sama sekali tidak bisa menebak apa maksudmu! Kapan aku memperlakukanmu dengan kasar? Aku …”

“Kau mungkin melupakannya tapi aku tidak!” untuk kesekian kalinya Yoona menyela perkataan Siwon. “Kau pernah memperlakukanku dengan kasar ketika di butik saat kau merobek gaun pengantin yang aku kenakan.” Siwon ingin berkomentar tapi Yoona buru-buru melanjutkan. “Aku pikir hanya itu saja tapi ternyata tidak! Jauh sebelum aku mengenalmu kau bahkan telah melakukan sesuatu yang buruk atas hidupku.” Yoona menelan ludahnya. Ia kembali menunjukkan kalung itu di depan Siwon. “Hari ketika kalung ini hilang adalah hari di mana aku ditarik sebagai sandera oleh salah satu pria tersangka gembong narkoba yang kemudian menembak Seunggi di depan mataku. Kau, Choi Siwon … kau adalah pria yang menembak tunanganku! Kau yang menghancurkan hidupku!” teriak Yoona histeris. Ia tidak bisa menahan amarahnya lagi. Air matanya mengalir tak terbendung lagi. Yoona memukul-mukul dada Siwon. “Kenapa kau melakukan ini padaku? Sebenarnya apa salahku padamu? Kenapa kau menikahiku setelah kau menghancurkan rencana pernikahanku? Kenapa kau menghancurkanku seperti ini? Kenapa?” Yoona terduduk lemas di tempat tidur. Menangis sejadi-jadinya.

Siwon bergerak mundur, kakinya terasa kebas dan ia nyaris saja jatuh jika tidak segera menopangkan tangannya di meja. Saat Yoona mengungkapkannya, kenangan buruk yang ingin ia lupakan itu seolah diputar dalam reka ulang sebuah video. Kelegaan yang ia rasakan tadi lenyap sudah digantikan oleh ketakutan dan rasa bersalah yang begitu berat. Yoona benar. Dirinya memang bejat. Ia telah menghancurkan wanita itu dan sekarang ia bersikap seolah ingin menjadi pahlawan di dalam hidup wanita itu. Ingin menjadi satu-satunya pria yang akan melindungi Yoona? Jangan konyol, Choi Siwon. Kau tidak pantas mendapatkannya, batinnya.

Yoona sudah kembali mendapatkan kesadarannya. Dengan cepat ia kembali mengemasi barang-barangnya tapi Siwon kembali menariknya, menjauhkannya dengan koper yang masih terbuka itu. “Lepaskan aku! Aku harus pergi!”

“Tidak Yoona! Kau takkan kemana-mana!” hardik Siwon dingin. Tatapannya pun tak kalah dinginnya seakan bisa membuat beku lawan bicaranya. “Kau takkan kemana-mana tanpa ijinku.”

Yoona tersenyum culas, kemarahan Siwon saat ini sama sekali tidak sebanding dengan kemarahan maupun kesedihan yang tengah ia rasakan saat ini.

“Kau tidak bisa memaksaku untuk tetap di sisimu setelah apa yang kau lakukan padaku dan pada orang yang aku cintai, Choi Siwon! Kau sama sekali tidak berhak!”

Cinta? Jadi Yoona lebih mencintai pria lain daripada diriku yang kini adalah suaminya? Pikir Siwon sinis. “Berbicara hak, aku tahu dengan jelas apa hakku atas dirimu, Im Yoona. Aku suamimu dan aku punya hak atas hidupmu.”

“Ya, kau mendapatkannya setelah kau membuatku hancur terlebih dahulu. Kau membuat Seunggi …”

“Jangan menyebut nama pria lain di hadapanku!” bentak Siwon. “Aku tidak suka kau menyebut nama pria lain di hadapanku!”

Yoona ingin menjawab tapi kata-katanya tenggelam dengan desahan nafasnya. Ia sudah sangat lelah dan tak tahu harus mengatakan apa lagi.

Menyadari Yoona yang diam saja, Siwon melanjutkan, “Kau tetap akan berada di sini! Kau takkan kemana-mana tanpa ijinku. Kau mungkin sudah lupa tapi aku akan menegaskannya.” Siwon mendesah. “Kau tidak akan meninggalkan tempat ini sejengkalpun karena saat ini kau tengah mengandung anakku, pewarisku, dan aku tidak akan pernah membiarkan kau pergi meninggalkanku bersama darah dagingku. Kau akan menyesal bahkan jika sampai berani memikirkannya. Camkan itu!” ancam Siwon lalu dengan kuat ia menarik Yoona merapat ke tubuhnya. Melumat bibir wanita itu dengan kasar dan bergairah, kemudian pergi meninggalkan Yoona di dalam kamar yang terkunci dari luar.

Yoona kembali menghempaskan tubuhnya di tempat tidur sambil menerawang ciuman yang masih membekas di bibirnya dan menyadari sesuatu yang bahkan lebih mengejutkan daripada semua yang baru saja ia alami hari ini.

Ia tidak akan pernah bisa menang melawan Siwon. Tidak akan pernah jika perasaannya seperti ini.

***

Tubuh itu bergetar, detak jantungnya meningkat. Seluruh anggota tubuh yang mati rasa kini perlahan mulai peka. Kedua tangan terkepal di setiap sisi dengan tegang sampai akhirnya mulutnya meneriakkan satu nama dan mata itu pun terbuka.

 

Joon bergerak tidak nyaman di sofa yang ia tempati untuk tidur. Terlebih suara gemerisik itu mengganggunya, dan ia mendengar teriakan tertahan itu. Ia bangun dan menoleh ke arah bangsal yang di tempati kakaknya. Berjalan mendekat ke arah Seunggi lalu ia melihat gerakan kepala Seunggi yang pelan menoleh padanya.

“J … jjoon …! Yoona … di … mana … Yoona?”

Dan Joon merasakan nafasnya tercekat.

 

***

To Be Continued~~

 

Author said :        Jjejjrennggg !!! Sebentar lagi menuju end^^ … Hayo, setelah baca chapter ini gimana perasaannya? Pasti pada penasaran siapa yang udah donorin jantungnya buat Siwon kan? Tenang aja, bakal dikupas identitasnya di chapter depan yang akan menjadi chapter akhir Timeless di page. Tenang aja, ada versi novelnya. Buat yang berminat bisa ikut PO dengan inbox ke akun fbku atau ke BBM juga bisa. Yang pasti ceritanya akan lebih lebar daripada versi yang di page ini.

Anyway apapun pendapat kalian tolong tuliskan di kolom komentar. Sekedar pemberitahuan aja untuk chapter ini aku ngasih kebijaksanaan untuk nggak di protect tapi untuk chapter depannya (end) udah pasti aku protect. Jadi kalau aku nggak menemukan ID kalian di kolom komentar, kemungkinan aku bakal masukin kalian dalam list Sider yang aku punya. So, mau komentarnya semanis gula ataupun sepedas cabe rawit, sangat amat diharapkan untuk tetap meninggalkannya di kolom komentar. Akan lebih berterima kasih lagi kalau kalian memberikan vote untuk cerita ini.

Oh ya, sekali lagi aku memberikan info bahwa untuk ff LOVE THE CONQUEROR (Cinta Sang Penakluk) juga udah dibuat versi novelnya ya dan cetakan pertamanya udah dip roses tinggal nunggu penyalurannya aja dari penerbit setelah libur tahun baru. Pastinya ceritanya lebih panjang dan lebih lengkap #Mungkin^^. Yang mau ikutan PO untuk cetakan selanjutnya silahkan langsung inbox ke akun fbku (Pinkverz Tika Citra) atau bisa juga lewat BBM (5475839F). Begitupun halnya dengan permintaan pw ff 2Snya yah. Aku agak slow respon kalau via sms … Hihihi😀

 

 

Lewat ff ini aku juga mau ngucapin #BIGTHANKS buat semua readers yang aktif & pastinya readers yang baik (No siders or plagiator) atas semua dukungannya dan loyalitas kalian terhadap semua ffku. Kontribusi (coment) kalian terhadap semua karyaku benar-benar sangat berarti untukku. Thank you so much.

 

                          Ok, aku rasa kata penutupnya udah cukup. PLEASE LEAVE YOUR COMMENT AFTER READ THIS. DON’T BE SILENT READERS OR PLAGIARISM, OKAY !!! SEE YOU !!! LOVE YOU ALL ♥♥♥

 

Buat Echa / Resty yang sering aku repotin untuk mempublish ff gajeku lagi, Thank you so much. Jangan bosen-bosen yaw say !!! ^^

 

Tika Pink ^^

Tinggalkan komentar

81 Komentar

  1. Yeonta

     /  Februari 6, 2016

    Smoga yoonwon cepat baikan..
    Semangat author ya..

    Balas
  2. Fanny

     /  Februari 6, 2016

    Yg jadi pendonor siwon bkn seunggi? Astaga. Bikin penasaran ><
    Seunggi udah sadar ya. Trus apa yoona mncintsi siwon? Dari gerak gerik tbhnya memang begitu hanya sj dia msih labil? Aigoo ditunggu chap selanjutnya eon ^^

    Balas
  3. yhanies_Nited

     /  Februari 8, 2016

    Aigoo , , , , makin rumit dah tuh masalah , ,
    nape juga si itu sadar dari koma :-@
    Sepupu wonppa rese’ nih pingin digetok palanya , ,
    dan Si joon , , bingung gue dy emang mau nusuk wonppa apa cuma dimanfaatin sepupu wonppa apa gimana ko’ ampe ngasih map ke sepupu wonppa , , sdgkn sepupu wonppa malah bongkarin kalo si itu masih idup

    Balas
  4. author mian, saking penasarannya aku jadi loncat langsung baca yg chap4 ini..
    karena belum dapat balasan d dm tentang pw chap3..
    dan setrlah baca ff ini aku kaget bukan main..
    why ? cause seunggi masih hidup..
    dan selama ini joon dan shannon merahasiakannya dari yoona..
    aku ngerasa kasian sama yoona and siwon. karna seberenya mereka ga tahu semua fakya yg menyangkut mereka. tapi mungki joon juga punya alasan sendiri kenapa dia merahasiakan itu sumua..
    well kita tunggu kelanjutannya..
    aku harap yoona dan siwon akan terus bersama dan bahagia..

    Balas
  5. EQ_Kimchie

     /  Februari 14, 2016

    Daebak👍🏻
    Lanjutkan
    YoonWon ❤️😘💕

    Balas
  6. Fira

     /  Februari 14, 2016

    uwahhhhh akhirnya part ini publish juga eonn
    aku udh ampir bulukan nih nunggu nih chapter,wkwkwwk #lebay
    next chap jd chap trakhir nih eon????ahhhh ngg mau pisah sama yoonwon….

    duh part ini bkin greget bangett…akhirnya semua masalah udah mulai terpecahkan
    tinggal nunggu woo hyuk ama joon oppa ktauan kedoknya,trus dihukum seberat2nya

    pkoknya next part kudu panjanggggg,and happy ending yah eon,hehhe
    rada maksa ngg papa kan??🙂

    gomawo
    fighting!!!

    Balas
  7. Nida

     /  Februari 14, 2016

    Rumit
    Cerita’a OK bgt n wajib diikutin
    Ditunggu segera next capt’a cingu

    Balas
  8. mimo

     /  Februari 16, 2016

    Keren… Di tunggu chapter selanjutnya jangan lama2 ya 😃

    Balas
  9. Tara Moritz

     /  Februari 17, 2016

    Jiahhh tuh si seung gi pake sadar lagi.. beuhh
    Dan yoona apa2an si pake marah2 ke siwon karna merasa hidupnya hancur karna siwon nembak seunggi? Bukannya dia udh cinta sm siwon? Knp responnya smpe segitunya pas tau kenyataan itu??
    Iyalah itu murni perasaan siwon sendiri bukan karna jantung org lain.
    Chap 5 endingnya ya thor? Ga sabar pengen tau kebenaran yg sesungguhnya dr semua itu..

    Balas
  10. Vi2n nurul

     /  Februari 17, 2016

    Gmna bz Seunggi msh hidup sementara Yoong melihat sendiri dia dh meninggal,, dan Knp Joon &Shannon hrs menyembunyikan kebenarannya dr Yoong.
    Msh bertanya2 ap map yg d berikan Joon pd Hyun Wook dan siapa org yg mendonorkan jantungnya pd Wonppa.,, jgn2 itu Appa Yoong gy.
    Seunggi dh sadar dan dia nyariin Yoong,,ap yg akn d lakukan Yoong,, siapa yg akn d pilih Yoong,Wonppa atau Seunggi??
    Berharapnya happy ending,, YOONWON Bersatu dam semuanya terungkap dg jelas!!!

    Balas
  11. aryantie

     /  Februari 18, 2016

    next chapter……..!!!
    d tunggu kak……

    Balas
  12. aryantie

     /  Februari 18, 2016

    next chapter……..!!!

    Balas
  13. wahhh,, chapter ini makin tambah penasaran aja.. kira2 apa yg akan yoona lakuin kalau tau seunggi udh sadar..
    moga aja yoona gak balikan sama seunggi.. penasaran siapa yg donorin jantung buat siwon ya?? pokoknya ditunggu dehh lanjutan ff nya semangat buat author..

    Balas
  14. wahh,, makin penasaran aja kelanjutannya.. kira2 apa yg bakal yoona lakuin klo tw seunggi udh sadar.. siapa ya yg donorin jantung buat siwon.. next chap ditunggu ya thor

    Balas
  15. h_ra307

     /  Februari 19, 2016

    keren…tapi knapa harus sunggi yg jadi tunangan yoona??? dari part 1 sampai skrng baru enek mbaca nama itu,,,,,,, kyak’a pnting bgt buat yoona….
    next chapter and keep fighting thor

    Balas
  16. kusuma subandrio

     /  Februari 25, 2016

    Ternyata seunggi masih hidup dan malah udah sadar 😱😱😱 jgn blg nnt yoona balikan sama tunangannya 😭😭😭

    Balas
  17. Seunggi msh hidup…jadi jantung yg selama ini dirasakan siwon bagaimana… Dan joon apa mksd dia merencanakan semua ini..penasaran banget jadi nya..

    Balas
  18. Anissa P.S

     /  Februari 28, 2016

    Yaampun penasaran banget sama ceritnya😦 😭

    Balas
  19. gw Jg lega sma kyk siwon! ternyata jantung yg ada di dlm tubuh siwon bukn punya seunggi😁 dan itu napa jg si seunggi sadar dari koma,,,hadehh! apa yoona benar2 akan ninggalin siwon dan kembali ke seunggi?? Omaigat jgn sampe! next chap nya happy ending kn thor? Iya dong masa enggak😁😁 Di tunggu part ending’a 💪

    Balas
  20. Dewy ocha

     /  April 19, 2016

    Id it yg mn sih?

    Balas
  21. ayana

     /  Agustus 27, 2016

    ow…ow…ow…. apa yang akan terjadi ma yw?
    och, moga semua masalah cepat brerlalu dan bahagia datang. seungi kayaknya sadar tuch.
    hadech makin runyam aja. ditunggu part selanjutnya. penasaran berat.

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: