[FF] Beyond Recollection (Chapter 1)

COVER FF-BEYOND RECOLLECTION

Tittle : Beyond Recollection   || Author : MDhiah (Twitter : @MDhiah_ ) || Starring by : Im Yoon Ah, Choi Siwon, Lee Donghae, Tiffany Hwang, Liu Wen, etc || Genre : Mystery, Romance || Rating : NC 17 || Type : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni pemikiran dari author, sama sekali tidak memplagiat atau meniru karya dari oranglain. Untuk nama tokoh saya sebagai author hanya meminjamnya, sepenuhnya mereka–Choi Siwon dan Im Yoon Ah, hanyalah milik kedua orangtua mereka, dan orang-orang yang mereka sayangi. Dan jika terdapat kesamaan kejadian maka itu hanyalah sebuah kebetulan semata.

Summary : Kenangan yang dimiliki Yoona terasa begitu membelenggu dirinya dan mengurungkannya dalam waktu yang cukup lama. Kenangan itu ingin selalu disembunyikannya, tidak ingin diperlihatkannya pada siapapun. Namun, kedatangan Siwon membuatnya sulit untuk menyembunyikannya lagi. Belum lagi, sifat keras kepala dan dominan yang dimiliki pria itu semakin memperumit segalanya.

Also posted at : http://paradiseofmind.wordpress.com

***

 

Prolog

 

 

Perempuan berambut blonde itu tampak mengamati sederet kertas yang tertempel di sebuah papan kaca dalam ruangan gelap yang begitu minim dengan penerangan itu. Tangannya kemudian bergerak untuk mengusap sederetan tempelan kertas tersebut sembari membacanya satu-persatu.

 

[Presdir Hanjin Group meninggal demi menyelamatkan putri tunggalnya dalam sebuah kecelakaan mobil.]

[Im Seo Yeon resmi menggantikan posisi presdir Im Jo Sung.]

[Im Seo Yeon memindahkan putrinya untuk tinggal di Busan.]

[Tinggal berjauhan dari keluarga, apakah Im Yoon Ah hidup dengan baik?]

[Putri tunggal presdir Im Jo Sung mengalami pembullyan oleh teman sekelasnya?]

[Im Yoon Ah bukanlah satu-satunya penerus Hanjin Group.]

 

Seketika gadis itu mengalami pusing di kepalanya tepat setelah membaca tiga berita terakhir itu, ditatapnya tulisan itu lebih dalam lagi hingga membuat amarahnya memuncak seketika. Kenangan-kenangan gelap itu kembali berputar di dalam pikirannya hingga membuat tubuhnya bergetar. Sebisa mungkin ia mencoba untuk menghilangkan kenangan-kenangan itu agar tidak terus-menerus menghinggapinya secara tiba-tiba.

 

Membalikkan tubuhnya dengan cepat, gadis itu lantas memilih duduk pada sebuah sofa di ruangan itu. Ia memijat pelan pelipisnya yang terasa berdenyut. Ini selalu terjadi, kejadian seperti ini selalu terjadi ketika ia membaca berita-berita koran sialan yang ditempelkan sendiri olehnya. Ia menghela napas dengan panjang dan memejamkan matanya sebentar.

 

Bangkit berdiri, yeoja itu kemudian berjalan untuk mengambil ponselnya yang ia geletakkan di atas meja yang tampak begitu berantakan dengan setumpuk kertas dan berbagai majalah. Namun, lagi-lagi sebuah berita bodoh tidak sengaja kembali terbaca olehnya. Membuat emosinya kembali memuncak setelah sebelumnya mereda.

 

[Perayaan ulangtahun ke-25, Im Yoon Ah resmi diangkat menjadi direktur di Hanjin International Hospital. Bagaimana dengan saudaranya?] Gadis itu menggeram marah, kekesalannya sudah tidak bisa ditahan lagi hingga membuat tangannya bergerak melemparkan ponsel yang ada dalam genggamannya itu.

 

Bab I

Beyond Recollection: Satisfaction and Passivity

 

 

YOONA’S SIDE

Waktu kini menunjukkan pukul lima sore, seorang perempuan tampak begitu terburu-buru memakai jas dokternya, tatapannya begitu tajam dan ekspresi wajahnya terlihat sedikit marah. Kakinya kemudian melangkah dengan cepat keluar ruangan, bahkan sesekali ia berlari kecil untuk segera mencapai tempat tujuannya. Gerak-geriknya terlihat gusar namun tatapannya terlihat begitu fokus. Gadis itu, dialah Im Yoon Ah. Seorang direktur Hanjin International Hospital sejak 7 minggu yang lalu.

 

“Direktur…” seorang dokter menegurnya namun dia terlihat sama sekali tidak memperdulikannya. Kakinya terus melangkah hingga pada akhirnya langkahnya terhenti tepat di depan ruang operasi.

 

Seorang dokter membungkukkan padanya dan meminta maaf pada Yoona. “Direktur, kami tidak bisa melakukannya.”

“Jelaskan padaku apa yang sedang kalian lakukan? Kalian bahkan belum mencobanya!”, Yoona berteriak marah.

 

Sebelumnya ia tengah berada di ruangannya, membaca sebuah buku yang memang menjadi makanan tambahannya sejak dirinya diangkat menjadi direktur rumah sakit. Tapi kemudian dia mendapatkan kabar dari seorang perawat jika proses operasi pada pasien akibat terkena peluru tidak bisa dilakukan. Awalnya Yoona tidak mengerti, namun setelah perawat itu menjelaskan jika dokter Hwang tidak yakin untuk melakukan operasi akibat luka tembaknya yang cukup parah membuatnya marah seketika. Karena itulah dia segera bergegas menuju ruang operasi.

 

“Lukanya tepat di bagian perut kanan atas dan kemungkinan peluru tersebut mengenai organ hatinya.” Tiffany mencoba untuk menjelaskan.

“Dokter Hwang, apa kau benar-benar tidak bisa mencobanya?!”

“Jwesonghamnida, saya…tidak yakin bisa melakukannya. Karena itu saya tidak bisa mencobanya.” Yoona menghela napas dengan kasar begitu mendengar jawaban dari Tiffany. Dia segera menarik lengan perempuan itu untuk menjauh dari pintu masuk ruang operasi.

“I really can’t believing you. Seharusnya kau bisa mencobanya meskipun kemungkinan operasinya akan berjalan lancar tidak mencapai 50%.” Yoona menatap tajam Tiffany, membuat gadis itu menundukkan kepalanya.

“I’ll do it.” Desis Yoona tajam, ia kemudian segera pergi meninggalkan Tiffany dan beberapa dokter lainnya untuk mempersiapkan dirinya melakukan operasi.

 

“Apa direktur bisa melakukannya?”, Tiffany hanya diam tidak berminat untuk menjawab pertanyaan rekan dokternya.

“Kemungkinan adanya perdarahan berlebih cukup besar, aku tidak bisa mengambil resikonya. Lagipula aku belum pernah menangani pasien dengan luka tembak.” Tiffany membuka maskernya dan berjalan meninggalkan ruang operasi.

 

 

**

“Direktur Im…”, dokter Min terkejut begitu melihat Yoona masuk ke dalam ruang operasi. Ia menatap Yoona dengan tatapan bingung.

“Aku akan melakukan operasi untuknya.” Ucap Yoona dengan tegas dan yakin. Dokter Min hanya menganggukkan kepalanya mendengar pernyataan yang terlontar dari bibir direkturnya tersebut.

 

Yoona mendekat untuk melihat keadaan pasien. “Karena luka tembaknya berada di bagian perut kanan atas, maka kemungkinan besar mengenai organ hatinya. Bisa saja pelurunya terdapat di bagian bawah diafragma, karena itu kemungkinan terjadinya pendarahan berlebih akan lebih besar.”

“Kalau begitu anda bisa memisahkan organ hati dari diafragma terlebih dahulu.” Yoona menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan dokter Min.

 

“Ya, memang itu yang akan aku lakukan.” Di balik maskernya, dokter Min tersenyum senang karena ia memiliki pemikiran yang sama dengan direkturnya tersebut.

 

Yoona membalikkan badannya ketika beberapa perawat hendak memakaikannya seragam operasi. Setelah selesai, ia kembali berjalan mendekat pada pasien. Yoona menarik napasnya panjang, menenangkan dirinya sendiri sekaligus memberi keyakinan pada dirinya jika ia mampu melakukan operasi ini dengan lancar. “Give me a scalpel.” (Scalpel : pisau bedah).

 

**

Hari sudah berubah gelap ketika Yoona beserta dokter Min keluar dari ruangan operasi, baju mereka berlumuran darah karena pendarahan yang mereka duga sebelumnya benar-benar terjadi. Itu semua diakibatkan adanya kerusakan pada arteri utama dan vena hepatica. Beruntung saja, meskipun pendarahan pasien cukup parah namun operasinya mampu berjalan dengan baik.

 

Dokter Min membungkukkan badannya dan tersenyum pada Yoona. “Good job, direktur.” Yoona hanya menganggukkan kepalanya dan menatap dokter Min dengan ekspresi datar.

 

“Direktur…” Yoona mengalihkan pandangannya begitu mendengar seseorang telah memanggilnya. Tatapannya kembali berubah tajam ketika melihat Tiffany yang saat ini sudah berdiri di hadapannya, wajahnya tampak merah padam menahan amarah yang sepertinya begitu meluap-luap.

 

“Jika kau bisa berfikir mengenai keberadaan peluru itu maka kau bisa mengoperasinya tanpa harus merasa khawatir! Bahkan dokter Min tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan pasien.” Yoona berkata tajam pada Tiffany hingga membuat gadis itu hanya mampu membungkukkan badannya dan meminta maaf.

“Direktur, saya belum pernah menangani pasien yang mengalami luka tembak.” Tiffany berusaha membela dirinya.

“Tidak ada bedanya ketika kau mengoperasi pasien serangan jantung dan juga kanker. Aku jadi bertanya apa saja yang kau lakukan selama ini.” Nada suara Yoona semakin meninggi, membuat beberapa dokter dan perawat yang berada di sekitar mereka mengalihkan pandangannya. Yoona menyadari jika beberapa orang disekitarnya itu melihat ke arah mereka, maka yang dilakukannya adalah menatap sekelilingnya dengan tajam sekaligus marah.

 

Dokter Min menelan ludahnya dengan susah payah. Yoona–atasannya itu memang seperti ini. Dia memiliki sifat pemarah yang benar-benar berada diatas kadar normal. Sikapnya selalu dingin dan tatapannya begitu tajam pada semua orang. Semua pegawai yang ada di Hanjin International Hospital sudah mengetahui perihal sikap pemarah, dingin, serta tatapan tajam Yoona. Direktur muda mereka bahkan tidak segan-segan memaki siapa saja yang melakukan kesalahan. Tidak perduli meskipun itu adalah kesalahan yang tidak perlu dipermasalahkan. Yoona juga tidak pernah memperdulikan situasi jika ia sedang marah. Entah itu siang hari, atau bahkan malam hari. Emosinya itu akan selalu dilemparkannya saat itu juga, saat di mana seseorang telah melakukan kesalahan. Karena itu, tidak heran jika banyak dokter dan perawat di rumah sakit yang tidak menyukainya.

 

“It’s really fine if you think you are on the highest sky right now. Tapi jangan pernah lupakan jika suatu saat nanti kau akan terjatuh ke dasar bumi karena kecerobohanmu.” Gadis itu kembali menatap tajam kearah Tiffany sebelum akhirnya melangkah, menjauhi tempat itu.

 

**

Yoona tengah berjalan menuju ruangannya, namun secara tidak sengaja ia bertemu beberapa dokter yang sedang berbincang-bincang. Sesekali mereka tertawa seperti tidak ada beban di pundak mereka untuk menangani pasien. Yoona mendekat, ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas dokter yang dikenakannya dan menatap beberapa dokter itu dengan tajam.

 

“Apa yang kalian lakukan?”, tanyanya dengan nada yang begitu tegas dan mengintimidasi. Beberapa dokter tersebut seketika itu juga menghentikan perbincangan mereka dan membungkuk meminta maaf, beberapa dari mereka bahkan menundukkan kepalanya dan hanya mampu mengatakan kata maaf pada Yoona.

 

“Mereka baru saja menangani pasien dan berbincang sebentar denganku.” Donghae berucap, membuat Yoona akhirnya menatap tajam ke arahnya.

“Should I send all of you to work at emergency room? Sepertinya kalian memiliki banyak waktu luang. Kalian tampak tidak lebih baik daripada seorang dokter magang.” Yoona menekankan setiap kata yang diucapkannya, ia lantas menatap tajam Donghae sebelum akhirnya kembali berjalan menuju ruangannya.

 

 

“Kalian tidak harus mendengarkan ucapannya. Kembalilah ke ruangan kalian.” Donghae tersenyum, ia merasa bersalah pada beberapa dokter yang berbincang dengannya itu. Dialah yang mengajak rekan dokternya itu untuk berbincang, bahkan dia juga mengajak mereka untuk makan siang bersama. Namun sepertinya, kata-kata kasar Yoona membuat rencana mereka rusak dan mengakibatkan mood mereka menjadi buruk.

 

“Im Yoona!”, Donghae segera mengejar Yoona dan ikut masuk ke dalam ruangannya.

“Jangan mencoba untuk mengatakan hal yang tidak penting padaku, dokter Lee.” Yoona menatapnya dengan sinis. Ia lantas duduk di kursinya dan kembali membaca buku-buku ilmu kedokteran yang ditingalkannya tadi saat harus melakukan operasi.

 

“Tidak bisakah kau memberi mereka waktu untuk istirahat?”

“No more time to rest, sebagian dari mereka juga akan pulang 30 menit lagi.” Jawab Yoona dengan tegas dan penuh penekanan. Donghae melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Oh, apa yang dikatakan oleh perempuan di hadapannya itu memang benar. Tiga puluh menit lagi bebeapa dokter mungkin akan meninggalkan rumah sakit karena jam kerjanya yang sudah berakhir.

“I’m sorry, tapi kau tidak perlu membandingkan mereka dengan dokter magang. For sure, they are really different.” Yoona diam, tidak berminat untuk menjawab pernyataan Donghae.

 

“Aku tidak harus bersikap baik pada mereka hanya karena sahabatku ada bersama mereka. Aku juga tidak bisa memperlakukanmu dengan spesial.” Ucap Yoona pada akhirnya.

Donghae mengertakkan giginya, “aku sama sekali tidak mengharapkannya karena aku tahu kau tidak akan pernah melakukannya.” Suara Donghae mulai meninggi, pria itu kini sudah terlanjur kesal padanya.

“Kau memang berbeda dengan adikmu, Im Yoona.”

 

Yoona menggeram marah begitu Donghae menyebutkan kata adik, dengan tiba-tiba ia membanting buku bacaannya tersebut ke atas meja dan membuat Donghae tersentak kaget. “Jangan pernah membicarakan gadis sialan itu di hadapanku!”, nafas Yoona memburu karena marah, ia lantas berjalan menuju pintu ruangannya dan membukanya, mengisyaratkan Donghae untuk segera keluar dari ruangannya.

 

“You never know how much I hate her, Lee Donghae.” Donghae diam, ia hanya mampu tersenyum kecut menatap sosok perempuan yang ada di hadapannya itu.

 

**

Yoona merasa kepalanya berdenyut, begitu pusing memikirkan rentetan kejadian yang terjadi hari ini. Beberapa dokter sudah sukses membuatnya marah hari ini hingga membuat dirinya sulit untuk fokus membaca kembali buku-buku tebalnya.

 

Yoona melirik jam yang tergantung di dinding ruang kerjanya, baru pukul sembilan malam tapi ia sudah merasakan lelah yang teramat. “Benar-benar memuakkan.” Dengan segera Yoona menutup kasar bukunya dan menyimpannya kembali di dalam laci kemudian beralih untuk melepaskan jas putihnya dan menggantungnya di kursi. Gadis itu menggertakan giginya kemudian segera mengambil ponsel dan juga kunci mobilnya.

 

“Direktur, anda ingin pulang?”. Yoona hanya menganggukkan kepalanya.

“Eummm….” Dokter Min terlihat ragu ketika melihat ekspresi dingin Yoona seolah mengatkan jika dirinya benar-benar mengganggu perempuan itu.

“Ahhh…kalau begitu hati-hatilah di jalan, direktur.” Dokter Min membungkukkan badannya kemudian segera bergegas pergi dari hadapan Yoona.

 

Dokter Min menghentikan langkahnya saat dirinya sudah berjalan menjauh dari Yoona. “Tumben sekali direktur pulang lebih awal.” Dokter Min mengacak rambutnya bingung, direkturnya itu selalu pulang larut bahkan terkadang tidak pulang ke rumah. Dia benar-benar terlihat seperti seorang perempuan workaholic.

 

Dokter Min menggelengkan kepalanya, tidak ingin terlalu pusing memikirkan direkturnya itu. Pria itu kemudian kembali melangkah, kembali ke ruangannya.

 

 

**

“Good evening, Yoona.” Yoona tersenyum ketika melihat Dokter Kim yang tidak lain adalah pamannya berjalan menghampirinya. Dokter Kim adalah wakil direktur di Hanjin International Hospital dan juga merupakan kakak dari ibunya. Dokter Kim Joon merupakan satu-satunya orang kepercayaan Yoona. Satu-satunya orang yang mendapatkan perlakukan hangat dari Yoona adalah pria tua itu. Sosok Yoona akan berubah menjadi hangat dan ceria ketika bersama dokter Kim, itu semua terjadi karena dokter Kim tahu betul bagaimana kehidupan Yoona juga setiap masalah perempuan itu.

 

 

“Apa hari ini kau baik-baik saja?”.

Yoona tertawa, “paman selalu tahu aku tidak pernah baik-baik saja.” Dokter Kim ikut tertawa mendengarnya.

“Ku dengar kau memarahi dokter Hwang. Apa yang terjadi?”

“Seperti biasa, kesalahan kecil yang bisa berakibat fatal. Paman ke mana saja satu hari ini?”

“Seharian ini aku berada di rumah sakit Konkuk. Kau sudah ingin pulang?”

 

Yoona mengangguk, “aku harus segera pulang sebelum aku semakin kacau.” Dokter Kim kembali tertawa.

“Baiklah, jika terjadi sesuatu hubungi paman.” Yoona kembali mengangguk.

 

 

Setelah kepergian dokter Kim, Yoona kembali berjalan menuju mobilnya. Namun, begitu melihat sekretaris Yoo yang tidak lain adalah orang kepercayaan ibunya itu mendekat ke arahnya, Yoona menghentikan langkahnya seketika. Moodnya bahkan mendadak buruk dan entah kenapa emosinya kembali meluap.

 

Oh Tuhan..

Apa lagi sekarang?

Yoona beteriak dalam hati, sesekali gadis itu juga mengumpat karena begitu kesal melihat kedatangan sekretaris Yoo.

 

“Apa yang anda lakukan di sini?”, sekretaris Yoo membungkukkan badan memberi hormat pada Yoona.

“Presdir meminta saya untuk memberikan ini pada anda, beliau juga meminta saya untuk menjemput anda agar bisa makan malam di rumah besar, ada sesuatu yang ingin beliau katakan pada anda.” Sekretaris Yoo berbicara dengan lembut pada Yoona namun perempuan itu justru tersenyum miring dan menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia menerima sebuah amplop coklat itu dari sekretaris Yoo dan memasukkannya ke dalam tas.

 

“Terimakasih. Tapi aku tetap tidak ingin ke rumah besar.”

Sekretaris Yoo tersenyum, “beliau ingin sekali makan malam bersama anda dan membicarakan banyak hal mengenai anda.”

“Membicarakan banyak hal? Kurasa aku tidak melakukan kesalahan apapun. Jadi tidak ada yang perlu untuk dibicarakan dengannya. Karena itu, maafkan aku tidak bisa pergi bersama anda.” Yoona berjalan masuk kembali ke dalam rumah sakit, tidak berniat untuk pulang ke rumahnya. Dia sudah menolak untuk makan malam di rumah besar karena itu dia yakin ibunya akan datang ke rumahnya yang ada di kawasan Cheondamdong, karena itulah ia memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah sakit daripada harus pulang ke rumah dan bertemu dengan ibunya.

 

Sekretaris Yoo hanya pasrah dengan keputusan Yoona, nona muda Im itu memang tahu cara menghindari ibunya dengan tetap berada di rumah sakit. Ia tahu betul jika nyonya Im tidak akan sudi datang ke rumah sakit karena ia begitu membenci aroma obat-obatan.

 

**

SIWON’S SIDE

Mulai saat ini, kita akan menjalankan bisnis A.N.A Group yang saat ini direncanakan pembangunannya di Jepang. Untuk penggambaran situasi saat ini dari berbagai shopping mall yang ada di sana, maka kita memiliki peluang yang cukup besar jika memperluas bisnis A.N.A Group di Jepang. Saat ini ada total 5 bisnis yang beroperasi di Shanghai, jika bisnis yang direncakan di Jepang berjalan dengan baik maka bisa dipastikan penghasilan A.N.A Group akan meningkat sebesar 15% dan kita akan menjadi perusahaan pertama dengan tingkat penghasilan terbesar.

 

Pria berparas tinggi dan bertubuh atletis itu bangkit dari duduknya dan berjalan di sekeliling meja rapat, pikirannya fokus untuk mendengarkan setiap kata demi kata yang dipresentasikan oleh sekretaris Kim. Ia hanya sesekali memberikan komentarnya jika bawahannya itu menggunakan kata-kata yang kurang tepat saat melakukan presentasi di hadapan para pemegang saham.

 

Sekretaris Kim menyelesaikan presentasinya dan Siwon kembali duduk di kursinya, “aku pikir apa yang dijelaskan oleh sekretaris Kim cukup jelas untuk kita semua. Aku mengharapkan kerja keras kalian semua untuk tujuan terbesar ini. Terimakasih.” Siwon melepaskan kancing jasnya dan membiarkan kemeja dalamnya terlihat, dia segera bangkit dari kursinya dan meninggalkan ruang rapat terlebih dahulu.

 

**

“Apa ada kesalahan yang aku lakukan tadi?”, sekretaris Kim menoleh mendengar pertanyaan Siwon yang ditujukan padanya.

“Mereka kecewa karena anda menyelesaikan rapat begitu cepat bahkan tanpa perundingan lebih panjang lagi.” Ucap sekretaris Kim ragu-ragu. Siwon menggeram mendengarnya, ia melepaskan dasinya dengan kasar dan melemparkannya pada sebuah sofa yang ada di ruang kerjanya itu.

“Kau fikir sudah jam berapa sekarang? Hah? Beberapa dari mereka meminta untuk mengadakan rapat saat jam sudah menujukkan pukul 5 sore. Kau fikir apa yang aku pikirkan?!”, Siwon mengambil dokumen yang ada di tangan sekretaris Kim dengan kasar, menandatanganinya dan menyerahkannya kembali pada pria yang lebih tua 3 tahun darinya tersebut.

“Mereka memang penting, tapi diriku sendiri lebih penting dibandingkan mereka.” Sekretaris Kim mengangguk mengerti.

 

“Jwesonghamnida, sajangnim. Saya akan berusaha agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Saya akan memastikan jika rapat mendadak seperti ini tidak akan ada lagi. Anda bisa beristirahat sekarang.” Siwon menghela panjang lantas menganggukkan kepalanya, tangannya bergerak dengan cepat mengambil ponselnya dan pergi meninggalkan ruang kerjanya terlebih dahulu.

“Selamat beristirahat, sajangnim.”

“Ya, terimakasih.”

 

**

Siwon berjalan menuju lemari pakainnya dengan bertelanjang dada, ponselnya sedari tadi terus berbunyi namun ia mengabaikannya begitu saja bahkan sama sekali tidak berminat untuk sekedar mengetahui siapa orang yang sedari tadi mencoba untuk menghubunginya. Tangan halusnya itu bergerak untuk memilah-milah baju, mencari baju yang cocok yang dapat ia kenakan malam ini. Seperti biasanya, ia akan pergi ke klub untuk mencari kesenangan. Menghabiskan waktu yang ia miliki di malam hari bersama sederet perempuan cantik beserta wine mahal di gengamannya.

 

Pilihannya akhirnya jatuh pada sebuah kemeja putih polos. Kemeja itu begitu pas ditubuhnya sehingga memperlihatkan tubuh atletisnya, jika pakaian itu basah maka habislah sudah. Lekukan tubuhnya pasti akan terbentuk dengan sempurna. Choi Siwon–pria itu memang benar-benar sempurna.

 

Kaya, sukses, tampan, bertubuh atletis, cerdas serta posesif terhadap perempuan. Siapa wanita yang tidak akan berminat padanya? Bahkan sekalipun ia memiliki sifat kasar dan dingin namun itu sama sekali tidak membuat pesonanya meredup, justru sebaliknya. Sifat kasar dan dingin yang dimilikinya seakan menjadi nilai plus di mata perempuan. Jika ia memiliki kedua sifat buruk itu bukankah akan terlihat manis jika ia bersama perempuaan yang dicintainya? Oh, betapa beruntungnya wanita yang memiliki malaikat posesif seperti Siwon. Dia…pasti akan menjaga wanita-nya dengan baik. Namun sayang sekali, sampai saat ini tidak ada wanita spesial dalam kehidupannya. Yang ada hanyalah wanita-wanita cantik, seksi, dan penurut yang bisa diperlakukannya sesuka hati kemudian dengan mudahnya akan ditinggalkannya begitu saja.

 

 

Ia memandang pantulan dirinya sendiri di cermin sembari mengancingkan kemeja putihnya kemudian mengambil jam berwarna perak di laci dan melingkarkannya pada pergelangan tangan kanannya. Tak lupa pula ia menyemprotkan parfum merk Terre D’Hermes kesukannya yang memiliki aroma sensasional yang sangat maskulin, begitu cocok untuk dirinya.

 

Tak ingin terlalu lama ia segera memutuskan untuk mengambil kunci mobilnya dan bergegas keluar dari rumah mewahnya, membelah jalanan Seoul menggunakan Audi R8 kesayangannya.

 

**

Sebotol wine jenis Chateau Lafite Rothschild Pauillac beraroma mint itu sudah ada di genggaman Siwon sejak 10 menit yang lalu, dituangkannya dengan perlahan wine mahal itu ke dalam sebuah gelas kristal bening, meminumnya sedikit demi sedikit. Di belakangnya, seorang perempuan berambut pirang bergelombang telah duduk di belakangnya, memeluknya dari belakang dan menyenderkan kepalanya di punggung Siwon. Inilah yang selalu dilakukan Siwon setiap malam, sekedar bermain-main dengan alkohol dan wanita. Siwon tidak suka jika seorang wanita terlebih dulu berbuat lebih padanya, jika ia sedang meminum wine maka yang ia minta pada wanita hanyalah memeluknya dan tidak melakukan hal lebih sebelum dia sendiri yang memerintahkannya.

 

Inilah kehidupan Choi Siwon di malam hari. Menghabiskan waktunya bersama perempuan yang berbeda-beda setiap malamnya dan tak lupa ditemani wine mahal yang hanya mampu dibeli oleh golongan konglomerat seperti dirinya. Hal ini bahkan tidak lagi menjadi sebuah rahasia. Publik sudah mengetahui bagaimana kehidupan Siwon di malam hari. Namun tetap saja, itu tidak cukup mampu untuk menjatuhkan posisinya menguasai perdagangan pasar.

 

 

“Oppa, wanna go to apartment?”, Siwon menggeleng pelan.

“Tidak, aku hanya menginginkanmu untuk disini. We’ll do it…here.” Siwon meletakkan botol winenya ke atas meja kemudian meraih dagu wanita itu. Mencium bibirnya dalam dan menentut. Sesekali Siwon menggigit bibir bawah wanita itu dan membuatnya mengerang.

 

 

Tangan kanan Siwon menekan tengkuk wanita itu untuk memperdalam ciuman mereka sedangkan tangan kirinya digunakannya untuk mengelus punggung telanjang wanita itu. Siwon melepaskan ciumannya. “I just wanna feel your taste, baby.” Wajah Siwon kemudian jatuh di leher wanita itu, mengecupnya, menghisapnya dan sesekali menggigitnya. Tak hanya itu saja, tangan kanan Siwon kini mulai bergerak menuju kaki jenjang wanita itu. Mengelusnya dari betis hingga masuk ke dalam roknya, menuju daerah sensitifnya.

 

Wanita itu hanya mampu memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya dengan begitu menggoda. Tangan kirinya menelusup dalam setiap helai rambut Siwon, menekan pria itu untuk semakin mengeksplorasi leher jenjengnya. “Ahhh…” wanita itu kini tidak dapat lagi menahan desannya tatkala tangan kiri Siwon meremas bokongnya, sedangkan tangan kanannya masuk menggelitik kewanitaannya.

 

Sialan!

Pria ini benar-benar tahu bagaimana caranya menyiksa seorang perempuan.

Wanita itu kemudian mencoba untuk membuka kedua matanya dan menatap sekeliling.

 

Ya Tuhan!

Apa yang mereka lakukan saat ini menjadi perhatian beberapa orang. Meskipun tidak semua orang, karena sebagian dari mereka memilih untuk larut dalam pusaran gairah bersama pasangan masing-masing.

 

“Jangan perdulikan mereka.” Ucap Siwon secara tiba-tiba. Wanita itu hanya mampu tersenyum dan kembali menikmati setiap sentuhan Siwon pada tubuhnya.

 

“Oh God…”, tubuh wanita itu sepenuhnya merasakan panas yang luar biasa saat bibir Siwon turun menuju bagian dadanya yang tidak tertutupi oleh pakaiannya.

“Apa yang kau inginkan sayang?”, tanya Siwon dengan suara serak.

“Sentuh aku oppa, sentuh aku di mana saja kau inginkan.” Siwon menyeringai, ia kembali menjatuhkan wajahnya tepat di bagian dada wanita itu dan meniupnya.

 

“Ouhhh!”, wanita itu hilang kendali. Ia benar-benar menginginkan lebih daripada sentuhan-sentuhan sialan ini di tubuhnya. Maka yang dilakukannya adalah membuka kancing kemeja Siwon dengan perlahan. “Hentikan!”, Siwon segera menjauhkan wajahnya dan menatap wanita itu dengan tajam.

“Damn it! Aku tidak suka jika seorang wanita menyentuhku tanpa persetujuan dariku!”.

 

Oh!

Lelaki ini ternyata adalah seorang lelaki dominan.

Dan seorang lelaki dominan tidak akan pernah mengizinkan siapapun untuk menyentuhnya barang sejengkal pun tanpa persetujuannya terlebih dahulu.

 

Siwon bangkit berdiri, dengan langkah cepat ia menjauhi tempat itu, tidak perduli dengan teriakan wanita tadi yang terus-menerus memanggil namanya dan minta untuk disentuh kembali olehnya.

 

**

Siwon mengendarai mobilnya dengan tidak fokus hingga beberapa kali mobilnya itu berada di jalur yang salah. Kepalanya begitu pening hingga ia memutuskan untuk menghidupkan musik, berharap itu dapat membantunya untuk menghalau keinginan dalam tubuhnya untuk segera terbaring diatas kasur.

 

“Sialan!”, Siwon menggeram marah ketika ponselnya berbunyi. Ia segera memasang alat bantu di telinganya dan menerima panggilan tersebut.

“Yeobseo..” suara seorang wanita dari seberang sana terdengar. Siwon mengerutkan keningnya, ia segera melirik layar ponselnya untuk melihat dengan jelas siapa perempuan yang tengah berbincang dengannya ini.

“Ada apa?”, ucap Siwon dengan ketus begitu mengetahui jika perempuan yang meneleponnya itu adalah Liu Wen–wanita yang sempat disentuhnya di klub beberapa saat yang lalu.

“Oppa, aku kehilangan kendali hingga membuatku tidak tahan untuk ikut menyentuhmu.” Siwon memutar bola matanya dengan malas.

“I’ll go to your house, aku janji tidak akan melakukan kesalahan seperti itu lagi. Promise.” Siwon benar-benar muak, pria itu akhirnya memutuskan sambungan telepon dengan sepihak tanpa berpikir bagaimana respon wanita itu.

 

Siwon menarik napas panjang, tangannya kemudian mengetikkan nama sekretaris Kim di pencarian kontak. Pria itu mencoba untuk menghubungi sekretarisnya tersebut. “Pergilah ke rumahku sekarang dan mintalah bagian keamanan yang ada di sana untuk melarang siapa saja yang mencoba untuk mendekati kediamanku.” Ucap Siwon begitu sekretaris Kim menjawab panggilannya.

“Baiklah sajangnim, tapi di mana anda sekarang. Apa anda mabuk?”, terdengar jelas nada kekhawatiran dari pria itu.

“Aku sedang ada di jalan dan—”

 

Brukkk!

 

Siwon menjatuhkan ponselnya begitu saja karena secara tiba-tiba ia harus menghindari mobil yang berlawanan arah akibat mobilnya yang berada di jalur yang salah. Mobil Siwon akhirnya membentur pembatas jalan hingga membuat kepala pria itu terbentur dashboard mobil dan membuatnya kehilangan kesadaran seketika itu juga. Sementara itu, ponsel Siwon masih menyala dan sambungan teleponnya dengan sekretaris Kim juga belum terputus.

 

**

Bab II

Beyond Recollection: Obsession

 

 

Siwon membuka kedua matanya tepat saat mobil ambulance yang membawanya itu tiba di rumah sakit. Pria itu mengerang menahan sakit di kepalanya. Sesaat dia mencoba untuk memegang kepalanya dan akhirnya ia menemukan darah di sana. Ia berdecak kesal namun tidak mencoba untuk berbuat apa-apa.

 

“Sajangnim!”, Siwon menoleh dan melihat sekretaris Kim yang sedang berlari kearahnya saat ia sudah tiba di emergency room.

“Anda baik-baik saja?”

“Ya”, ucap Siwon dengan singkat dan masih dengan nada bicaranya yang dingin. Seorang dokter datang menghampirinya dan mencoba untuk mengobati lukanya namun sebelum dokter itu berhasil menyentuh kepalanya ia telah lebih dulu menepis tangan dokter itu.

“Aku tidak ingin ditangani oleh seorang dokter pria.” Mendengar pernyataan itu dokter Oh lantas mengerutkan keningnya.

“Apa yang—”

 

Dokter Oh menghentikan ucapannya begitu melihat beberapa perawat datang dengan membawa beberapa pasien yang terluka. Dokter Oh mencoba untuk menahan seorang perawat dan bertanya padanya. “Apa yang terjadi?”

“Terjadi kebakaran di gedung yang tidak jauh dari rumah sakit. Beberapa dari mereka terkena luka bakar karena terjebak di dalam gedung.” Perawat tersebut kemudian kembali keluar dari ruangan emergency dengan terburu-buru.

 

“Tuan, tidak ada waktu lagi. Kami memiliki masalah lain jadi kami harus segera menangani anda.” Siwon mengubah posisinya menjadi duduk. Ditatapnya wajah dokter Oh dengan tajam dan begitu mengintimdasi.

“Brengsek! Apa susahnya kau menyuruh dokter perempuan untuk menaganiku!”, tangan Siwon bergerak untuk mencengkram jas putih yang dikenakan dokter Oh hingga membuatnya terkena noda darah yang berasal dari tangan Siwon.

 

“Sajangnim, tidak ada yang berbeda.” Sekretaris Kim mencoba untuk membujuk Siwon meskipun ia sendiri tidak yakin jika Siwon akan mendengarkannya.

“Kubilang suruh dokter perempuan untuk menanganiku!”, Siwon kembali berteriak hingga membuat beberapa pasang mata mengalihkan pandanga mereka kearahnya.

 

“Arggghh!”, dokter Oh panik saat melihat wajah Siwon yang tampak kesakitan.

“Aish! Benar-benar menyusahkan.” Dokter Oh mengacak rambutnya dengan frustasi kemudian mendorong badan Siwon hingga membuat tubuh pria itu kembali terbaring.

 

“Sera-ya, bisakah kau membantuku di sini?”, ucap dokter Oh begitu melihat Sera yang baru saja masuk ke ruang emergency.

“Jangan bercanda, kau adalah salah satu dokter terbaik yang kami miliki. Aku yakin kau mampu mengobati pasienmu sendiri.” Mendengar jawaban Sera membuat Dokter Oh berdecak pinggang dan hanya menatap Siwon dengan kesal.

 

“Oh Kwanghee, apa yang kau lakukan dengan pose seperti itu?”, dokter Oh yang memiliki nama lengkap Oh Kwanghee itu menoleh begitu mendengar suara dingin seorang wanita.

 

Ya Tuhan..

Apa yang akan kau lakukan sekarang Kwanghee?

Kau…melakukan kesalahan di hadapan direkturmu!

 

“Aku…”

“Tidak memiliki pekerjaan?”, Yoona coba melanjutkan perkataan Kwanghee dan tentu saja membuat pria itu menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“Apa dia sudah selesai kau urus?”, Yoona mengalihkan pandangannya kearah pasien yang tidak lain adalah Siwon.

“Aku mencoba untuk mengurusnya, tapi dia tidak ingin ditangani oleh seorang dokter pria.”

 

“Mwo?”, Yoona menatap tajam Kwanghee lalu beralih menatap Siwon dengan lekat.

“Just leave him, bantulah mereka untuk mengurus korban kerbakaran itu. Jangan lupa berikan diazepam untuk meredam perasaan cemas yang dialami oleh pasien.” Ucap Yoona kemudian.

“Baiklah, terimakasih direktur Im.” Kwanghee membungkukkan badannya dan segera pergi untuk membantu rekan-rekannya.

 

 

“Maafkan presdir karena telah merepotkan anda, direktur Im.” Sekretaris Kim membungkukkan badannya mencoba untuk meminta maaf pada Yoona. Ia merasa tidak enak karena orang yang harus menagani Siwon adalah seorang direktur rumah sakit sendiri.

“Ya, tidak masalah.” Ucap Yoona dengan nada dinginnya tanpa sedikitpun menatap sekretaris Kim.

 

“Sajangnim, sudah ada dokter perempuan yang menangani anda. Saya akan keluar untuk membereskan masalah administrasi terlebih dahulu.” Sekretaris Kim berbisik di telinga Siwon.

“Jangan lupa untuk menutup tirainya.” Ucap Siwon lirih. Sekretaris Kim bingung dengan ucapan Siwon.

 

 

“Sera! Bantu aku disini jika kau selesai.”

“Jangan lupa berikan mereka diazepam!”

“Patikan luka mereka bersih, jangan sampai terinfeksi.”

“Perawat, bisakah kau megambilkan rivanol untukku?”

“Bantu aku membaringkannya, miringkan tubuhnya.”

 

 

“Diluar sana begitu berisik, jadi ku minta tutup tirainya.” Sekretaris Kim menatap Siwon dan Yoona secara bergantian. Dia ingin melakukan apa yang diperintahkan Siwon padanya tapi disisi lain dia tidak memiliki hak untuk melakukan itu terlebih lagi ketika ia sedang berhadapan dengan seorang direktur rumah sakit. Keduanya tentu sama-sama penting.

 

“Tidak apa-apa, tutup saja. Lakukan perintahnya.” Yoona berucap tanpa melihat wajah sekretaris Kim.

“Saya akan melakukannya.” Sekretaris Kim kembali membungkukkan badanya lalu keluar dari ruang emergency untuk mengurus administrasi setelah sebelumnya ia menutup tirai tempat Siwon terbaring di ranjang rumah sakit.

 

Sepeninggal sekretaris Kim, Siwon mencoba untuk membuka matanya. Kepalanya terasa sakit namun ia mencoba untuk melihat wajah perempuan yang kini tengah membersihkan noda darah di kepalanya. Gadis di hadapannya ini memiliki ekspresi yang dingin di wajahnya, namun itu sama sekali tidak membuat aura kecantikannya meredup. Matanya begitu jernih, hampir semua pahatan di wajahnya tampak begitu sempurna.

 

Gadis itu..

Dia juga memiliki bibir yang tipis seperti dirinya.

Siwon merasakan tubuhnya kini memanas.

Dia…menginginkan Yoona. Entah kenapa dia menginginkan gadis itu.

 

“Im Yoon Ah?”, Siwon mengalihkan pandangannya pada nametag milik Yoona dan mengeja nama gadis itu. Yoona diam, tidak merespon apa yang diucapkan Siwon padanya. Pria itu lantas mencoba untuk mendudukkan dirinya, membuat Yoona terpaksa harus menghentikan aktifasnya sejenak.

Masih dengan kepala yang sedikit berdenyut, Siwon menyeringai. “Bukankah kau direktur di rumah sakit ini?”, Yoona hanya mengangukkan kepalanya. Ia sama sekali tidak penasaran bagaimana Siwon dapat mengetahui hal tentang dirinya karena ia sudah pasti tahu alasannya. Pemberitaan di berbagai media masalah, hanya itulah alasan tepat mengapa Siwon dapat mengetahui posisinya di rumah sakit.

 

Yoona selesai memasangkan perban di kepala Siwon kemudian berniat untuk segera pergi, namun secara tiba-tiba Siwon menarik menahan pergelengan tangan Yoona dan menarik pinggang gadis itu untuk mendekat padanya. “What do you do?”, tanya Yoona dengan nada bicaranya yang dingin–seperti biasanya.

“Mencoba untuk menarikmu, apalagi memangnya?”. Yoona tidak nyaman karena tangan Siwon yang begitu erat mencengkram pingganggnya. Jika saja tempatnya mengobati Siwon saat ini tidak tertutup tirai mungkin dia akan memberontak untuk agar segera dilepaskan oleh pria itu.

“It’s better if you get off your hands from my hips.” Ucap Yoona berusaha setenang mungkin.

 

Siwon menggelengkan kepalanya. ” Aku akan melepaskanmu, tapi biarkan tetap seperti ini lebih lama lagi.” Yoona tidak menjawab, ia hanya diam menatap lurus ke depan. Posisi mereka benar-benar tidak terasa nyaman untuknya, wajah Siwon tepat berada di depan lehernya dan jika pria itu semakin mendekat maka habislah sudah.

 

“Aku akhirnya tahu bagaimana sosok sebenarnya dari seorang putri keluarga Im. Ternyata dia tidak terlalu ramah dan baik hati.” Yoona memutar bola matanya dengan malas.

“Terimakasih karena sudah mengobatiku.” Siwon tersenyum dan Yoona hanya diam. Tanpa diduga, Siwon benar-benar menarik Yoona mendekat sehingga wajah pria itu jatuh tepat di lehernya.

 

Tubuh Yoona menegang, terutama saat Siwon menghembuskan napasnya di leher jenjangnya yang tidak tertutupi oleh rambut blondenya. Gadis itu dapat merasakan dengan jelas napas hangat Siwon di lehernya. “Terimakasih.” Siwon menjauhkan wajahnya dan tersenyum menyeringai.

 

Oh, sialan!

Pria itu tahu jika tubuhnya menegang mendapatkan perlakuan seperti itu.

 

Yoona mengatur napasnya yang terasa berat, “dan terimakasih juga karena telah memperlakukanku dengan tidak sopan.” Yoona menatap tajam Siwon kemudian pergi meninggalkan ruang emergency.

 

**

“Mobil anda sudah saya urus, sajangnim.” Siwon hanya menganggukkan kepalanya.

“Apa kau kemari membawa mobilku?”

“Tentu, saya begitu panik jadi rasanya tidak akan sempat jika saya mencari taksi.” Sekretaris Kim menatap Siwon seolah ada sesuatu yang ingin dikatakannya tapi terlihat ragu untuk mengatakannya.

 

Wajah Siwon begitu tidak bersahabat. Meskipun Siwon selalu seperti itu tapi sepertinya telah terjadi sesuatu yang membuat Siwon kesal. “Sajangnim..”, nada suara sekretaris Kim terlihat ragu untuk kembali melanjutkan ucapannya.

Siwon hanya berdehem, membuat sekretaris Kim terlihat semakin ragu. “Presdir menunggu anda di rumah anda.”

 

Siwon menoleh, rahangnya mengeras. Pria itu menatap sang sekretaris dengan tajam. “Kau memberitahu ibu tentang keadaanku?”, nada bicara Siwon meninggi.

“Saya terpaksa memberitahu presdir. Beliau menelepon anda dan marah ketika saya yang mengangkatnya.” Siwon menggeram marah.

“Suruh ibu pulang, aku tidak ingin dia melihatku seperti ini.”

“Tapi…”

“Bagaimanapun caranya kau harus membuat ibu pulang. Katakan padanya aku akan menemuinya besok.”

 

Sekretaris Kim akhirnya mengangguk pasrah, “kalau begitu saya akan membantu anda masuk dari pintu samping terlebih dahulu.”

“Tidak perlu, kau bisa meninggalkan mobilku di sini. Aku masih memiliki beberapa urusan.”

“Tapi anda masih..”

“Leave my car here and don’t try to speak anymore.” Siwon menggertakkan giginya, menatap tajam sekretaris Kim.

 

“Ba-baiklah. Ini kunci mobil anda.” Siwon mengambil dengan segera kunci mobilnya dari tangan sekretaris Kim kemudian meninggalkan pria itu sendiri di tempatnya.

 

**

Siwon kembali masuk ke dalam rumah sakit begitu sekretaris Kim telah pergi meninggalkan rumah sakit. Siwon tidak pulang, pria itu memutuskan untuk hanya memindahkan posisi mobilnya agar sekretraris Kim mengira dia telah pergi meninggalkan rumah sakit.

“Apa kau tahu di mana ruangan direktur Im Yoon Ah?”. Tanya Siwon pada seorang perawat yang kebetulan lewat di depannya.

Perawat itu memperhatikan Siwon sesaat sebelum memutuskan untuk memberi jawaban.

 

“Tentu, tapi direktur tidak pernah ingin seseorang mengganggunya.” Siwon menyeringai, membuat perawat itu ngeri melihatnya.

“Apa dia benar-benar seorang direktur?”

“Kurasa anda tidak mengenal bagaimana sifat beliau. Dia benar-benar akan marah jika seseorang menginterupsinya. Dia selalu membaca buku di ruangannya, dan dia tidak pernah ingin diganggu.”

“Aku mengenalnya, kau hanya perlu menunjukkan padaku di mana ruangannya.”

“Tapi–”

 

 

“Perawat Ahn..”, begitu mendengar suara seseorang lelaki menegurnya perawat Ahn yang tadi berbicara dengan Siwon segera menoleh dan mendapati Donghae telah berdiri tidak jauh dari sana. Perawat Ahn kemudian membungkuk memberi salam.

“Selamat malam dokter Lee.” Donghae hanya mengangguk merespon sapaan perawat Ahn.

“Apa yang terjadi?”

“Pria ini ingin–”

“Tidak ada apa-apa. Terimakasih informasinya.” Siwon memaksakan diri untuk tersenyum.

 

Perawat Ahn bengong ketika Siwon pergi dari hadapan mereka. “Sekarang kembalilah bekerja, Yoona akan marah jika melihatmu.” Donghae tertawa kecil kemudian pergi meninggalkan sekretaris Ahn. Pria itu tidak ambil pusing soal keanehan sikap Siwon karena ia juga tidak ingin tahu apa yang terjadi.

 

**

“Kau tampak bingung.” Siwon menoleh, mencari sumber suara yang sepertinya mengarah padanya. Tiffany–perempuan itu kini berdiri di hadapan Siwon dengan kedua tangannya yang berada di dalam saku jas putih kebanggaannya.

“Kau mencari sesuatu?”.

 

Bukannya menjawab pertanyaan Tiffany, Siwon justru memandanginya dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Tiffany merasa risih dengan apa yang dilakukan Siwon, karena itulah ia menggerakan badannya ke samping lalu kembali menatap Siwon. “Aku melihatmu kebingungan jadi aku memutuskan untuk menghampirimu. Apa kau membutuhkan bantuanku?”.

 

 

Siwon tersenyum, “I have to find your president room.”

“Direktur Im?”, tanya Tiffany. Siwon mengangguk.

“Aku tidak yakin harus memberitahumu di mana ruangannya. Ia akan mengamuk jika tahu seseorang berniat memasuki ruangannya.”

“Tidak pernah ada seseorang yang masuk ke sana?”, Tiffany tertawa mendengar pertanyaan Siwon.

“Tentu ada. Hanya disaat darurat.”

 

“Setahuku hanya dokter Lee dan juga dokter Kim yang sering bolak-balik dari ruangannya. Dokter Lee adalah sahabatnya dan dokter Kim sendiri merupakan pamannya yang menjabat sebagai wakil direktur di rumah sakit Hanjin.” Lanjut Tiffany. Tiba-tiba saja Siwon mengingat sosok seorang dokter yang tadi bertemu dengannya ketika ia sedang berbicara dengan seorang perawat. Perawat tersebut sempat menyapa dokter itu dengan sebutan dokter Lee.

 

 

“Show me her room, please.” Nada bicara Siwon terkesan begitu dingin dan memaksa, membuat Tiffany tidak nyaman mendengarnya.

“Tapi…”

“Aku tidak akan membawamu dalam masalah jika kau menunjukkan di mana ruangan perempuan itu.” Siwon tampak mulai jengah. Dia ingin segera bertemu dengan Yoona tapi sepertinya orang-orang benar-benar mempersulitnya.

 

“Okay, mari ikut aku.” Tiffany akhirnya mengalah. Dengan segera ia menutup pintu ruangannya dan berjalan menuju ruangan Yoona dengan langkah santai. Siwon menggertakan giginya akibat langkah pelan Tiffany. Berkali-kali Siwon menghela napas dengan kasar karena hal ini.

 

Selama tiga menit berjalan, Tiffany akhirnya menghentikan langkahnya dan menunjuk sebuah ruangan berpintu kaca buram bertuliskan DIREKTUR IM YOON AH. Tiffany melipat kedua tangannya di muka dada. “Direktur akan mengabaikan ketukanmu. Karena itu ketuklah beberapa kali dengan cara yang tidak sabar. Mungkin dia akan kesal, tapi dia akan membukanya.” Selesai bicara Tiffany segera meninggalkan Siwon yang masih berdiri di tempatnya.

 

Mengetuknya dengan cara tidak sabar?

Tanpa diminta maka aku juga akan melakukannya.

Jika perlu, aku akan langsung masuk ke dalam ruangannya.

 

 

Dengan tidak sabar Siwon segera melangkahkan kakinya. Benar saja, pria itu masuk ke dalam ruangan Yoona tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu kemudian menutupnya kembali dengan segera.

“That is very annoying!”, Siwon menggertakan giginya dengan marah setelah apa yang dilihatnya barusan.

 

Yoona menurunkan lengan kiri bajunya dan memperlihatkan bahu dan juga sebagian pungung sebelah kirinya terekspos di depan Siwon. Yoona tidak sengaja melakukannya. Beberapa hari ini Yoona memang selalu melakukan hal itu untuk mengobati luka yang ada di bagian kiri punggungnya.

 

Beberapa hari yang lalu, seorang pasien ketergantungan alkohol melukainya dengan pisau bedah hingga membuat punggungnya berdarah. Beberapa dokter perempuan sudah menawarkan bantuan agar mereka dapat membantunya mengobati luka Yoona tapi perempuan itu menolaknya. Yoona ingin melakukannya sendiri, dia tidak ingin seorangpun mengganggunya.

 

“What did you do?!”, suara Yoona pelan namun terkesan dingin dan mengintimidasi. Dengan segera Yoona menaikan lengan bajunya dan mengancingkan kembali kemejanya, tak lupa untuk memasang jas putihnya kembali.

“Apa yang kau lakukan di ruanganku?!”. Yoona berdiri di belakang mejanya dan menatap Siwon tajam.

 

Siwon diam, dia masih belum bisa mengalihkan pikirannya setelah apa yang dilihatnya barusan. “Menurutmu apa yang kau lakukan?”.

 

Yoona semakin marah mendengar pertanyaan Siwon. “What did you say? Bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu?”.

Siwon mengusap wajahnya dengan tangan kanannya. “Oh my gawd, Yoona. Kau benar-benar seorang gadis yang kasar.”

“Kau sama sekali tidak mengenalku.”

“Memang, tapi sejak beberapa jam yang lalu aku telah memutuskan untuk lebih mengenalmu.” Yoona tersenyum miring mendengar pernyataan Siwon padanya.

 

“Out of my room, now!”

“It’s difficult to know more about you, right?”

“Aku tidak ingin berkenalan dengan seseorang sepertimu!”

“Why? Apa karena respon tubuhmu padaku terlalu berlebihan?”

 

Siwon menyeringai, pria itu kembali mengingat kejadian di ruang emergency. Respon tubuh Yoona benar-benar tidak terduga saat dirinya membenamkan wajahnya pada leher perempuan itu. “Demi Tuhan, Yoona. Make it easy for us.”

 

Yoona menaikkan sebelah alisnya. “Kau berbicara seolah kau sudah lama mengenalku.”

Siwon menggeram kemudian berjalan mendekat pada Yoona. Langkahnya pelan tapi terasa begitu mematikan bagi Yoona.

“Kurasa aku memang telah mengenalmu dalam waktu yang cukup lama.” Siwon terus melangkah semakin dekat namun Yoona tetap diam di tempatnya semula.

“Apa kau marah karena ini terlalu cepat?”

“Aku tidak pernah mengenal waktu ketika tertarik dengan seseorang, sayang.”

 

 

“Good enough, right?”, saat Siwon tinggal beberapa langkah saja darinya Yoona barulah melangkah mundur. Namun sia-sia, jarak Siwon yang begitu dekat dengannya membuat pria itu dengan mudah menarik tangannya. Siwon kembali menarik pinggang Yoona, merapatkan tubuh keduanya.

 

“Lepaskan aku.” Yoona mencoba melepaskan diri dari Siwon tapi tidak membuahkan hasil. Pria itu benar-benar menahan tubuhnya. Bahkan cengkraman Siwon di pinggangnya membuat dirinya meringis kesakitan.

“Be mine.” Yoona menatap Siwon dengan tidak percaya.

 

 

“Be yours? What? Haruskah aku merelakan tubuhku mengacaukan ranjangmu?”. Mata Yoona berkilat marah. Yoona tahu maksud ucapan Siwon bukan untuk menjadikan dirinya milik pria itu karena alasan cinta. Tidak, bukan itu. Mata Siwon menggelap dan Yoona tidak cukup bodoh mengartikannya. Pria itu ingin memiliki tubuhnya, hanya tubuhnya.

“Kau benar.” Siwon membenarkan ucapan Yoona.

 

 

 

“How dare you are!”. Siwon benar-benar tidak tahan dengan ucapan Yoona yang benar-benar memusingkan kepalanya. Maka dengan segera Siwon membungkam mulut Yoona dengan bibirnya, mencium perempuan itu dengan irama pelan namun menuntut.

 

Berkali-kali Yoona mencoba untuk melepaskan ciuman Siwon. Yoona mencoba mendorong Siwon berkali-kali namun tidak berhasil. Gerakannya begitu terbatas karena kedua tangannya juga ikut terperangkap diantara tubuhnya dan juga tubuh Siwon.

 

Siwon semakin menekan bibirnya pada milik Yoona. Yoona sama sekali tidak membalas ciumannya, perempuan itu justru terus-menerus memberontak dalam pelukannya. “Kau yang memutuskannya, maka aku juga tidak akan membuat ini menjadi mudah, sayang.” Siwon melepaskan ciumannya sekilas kemudian kembali mencium bibir Yoona dengan intens.

 

Tangan kiri Siwon bergerak menuju rambut halus Yoona, menyibakkannya agar leher gadis itu dapat terlihat jelas olehnya sementara tangannya yang lain masih memeluk Yoona dengan posesif.

“Your neck, is mine.” Siwon segera beralih pada leher jenjang Yoona.

 

Yoona diam, nafasnya masih memburu akibat ciuman Siwon padanya. Dia tidak sanggup untuk berbicara bahkan saat Siwon telah mendapatkan lehernya.

“What the–“, Yoona tidak mampu melanjutkan ucapannya ketika tangan Siwon membuka jas dan kemejanya sedikit. Membuat bahu kanannya terekspos dengan begitu bebasnya.

 

 

Yoona mencengkram kemeja putih Siwon begitu pria itu mencium setiap inci dari bagian bahunya lalu beranjak naik mencium daun telinganya. Yoona tidak tahu, dia benar-benar merasa kacau sekarang. “Kau mungkin bisa menolaknya, tapi tubuhmu berkata sebaliknya, sayang.”

 

Siwon menyeringai karena Yoona sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Siwon tahu Yoona tengah menatap dirinya dengan perasaan marah yang teramat. Tapi Siwon tidak memperdulikannya. Lagipula Yoona tidak mengatakan apa-apa padanya.

 

Siwon mendorong tubuh Yoona hingga punggung gadis itu bertubrukan dengan dinding. Siwon benar-benar tidak perduli dengan tatapan kebencian yang dilemparkan Yoona untuknya. Perlahan namun pasti, tangan Siwon bergerak menuju kancing kemeja teratas Yoona dan melepasnya tanpa mengalihkan pandangannya dari mata tajam Yoona.

 

Siwon berhenti ketika tangannya telah menyentuh kancing kemeja kedua Yoona. Pria itu kembali menenggelamkan wajahnya pada leher Yoona dan berucap. “Aku suka aroma mawar dari tubuhmu, sayang. Rasanya nyaman.”

 

 

Yoona membeku, lututnya terasa lemas ketika mendengar kalimat yang terucap dari bibir Siwon barusan. Kepala Yoona tiba-tiba pening dan entah kenapa sekelebat kenangan masa lalu yang tidak diketahuinya tiba-tiba saja berputar dalam ingatannya.

 

“Mereka melemparkan telur ditubuhku, tapi ini menyengangkan.”

“Kau terlalu baik pada mereka.”

“Apa tubuhku masih bau?”

“Tidak, justru aku suka aroma mawar dari tubuhmu. Rasanya nyaman.”

 

 

Siwon menghentikan tindakannya sejenak begitu menyadari perubahan pada tubuh Yoona. Siwon sadar jika tubuh Yoona terasa lemas di dalam pelukannya. Siwon bisa merasakan jika tubuh Yoona akan merosot ke lantai karena itulah ia mengarahkan tangannya untuk kembali memeluk pinggang Yoona dengan erat.

 

“Yoona…”, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pada pintu Yoona. Ekspresi Siwon tidak berubah, pria itu sepertinya tidak perduli jika memang mereka harus ketahuan.

 

Jika orang diluar itu mengenali dirinya maka ia tidak perlu menjelaskannya. Orang itu pastilah tahu jika dirinya adalah seorang pria kaya yang begitu terobsesi pada wanita yang dirasa menarik untuknya.

“Paman…”, suara Yoona terdengar begitu lirih. Dengan lemah Yoona berusaha untuk menoleh ke arah pintunya.

 

Siwon mengalihkan pandangannya pada Yoona. Gadis itu tampak begitu pucat, membuat hati Siwon sedikit tergerak karenanya. Siwon berniat untuk mendudukkan Yoona di kursinya tapi sebelum ia berhasil melakukannya Yoona telah lebih dulu jatuh tak sadarkan diri dalam pelukannya bersamaan dengan sosok pria yang sempat dipanggil paman oleh Yoona tadi masuk ke dalam ruangan dan terkejut begitu melihat Yoona yang tak sadarkan diri berada dalam pelukannya.

 

To Be Continue~

 

Author kembali lagi mengirim ff baru. Terimakasih buat kak Echa or kak Resty yang mau meluangkan waktunya untuk memposting ff ku yaa J

Semoga readers semua menyukainya.. jangan ada yang jadi silent reader yaa.. jika responnya tidak bagus maka FF ini tidak akan lanjut. So, berikan responmu ya gaesss..

Sampai jumpa di chapter selanjutnya J J

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

83 Komentar

  1. Choi Ara

     /  November 9, 2015

    Alur ceritanya masih abu abu, jadi penasarannnn. Ceper update yaaa wkwkwk

    Balas
  2. Kimy

     /  November 14, 2015

    Siwon ko berani berani nya ya baru jg kenal udah sejauh itu😦
    Tapi keseluruhan suka banget sama ceritanya, ga ringan tp ga terlalu berat juga, dibuat penasaran, keren. Ditunggu banget kelanjutannya🙂

    Balas
  3. gila Siwon dominan? suka banget deh kalo Siwon dominan gak tau kenapa. modus bgt ya pake minta dokter cewe lagi baru ketemu aja langsung megang megang tuh Siwon haha

    Balas
  4. HanA

     /  November 20, 2015

    keren.keren.keren.
    sebelumnya, salam kenal ya untuk authornya.. ini cerita ok banget..
    sekarang jarang banget ada FF kaya ini.. semuanya jelas.
    tolong dilanjut ya! kapanpun itu, aku tunggu. asalkan dilanjut. SEMANGAT author.. semangat juga admin yang ngepost ff ini.

    Balas
  5. Huwaaaaa sebenernya masa lalunya YoonA eonni apa sih? terus siapa adiknya? busyeettt dah Siwon Oppa gitu banget yak di ff ini. YoonA eonni juga sadis banget!! kereenn pokoknya!!

    Balas
  6. lianuramalia36

     /  Desember 5, 2015

    Keduanya samasama pemarah ,siapa sih adiknya yoona itu? Trs mungkinkah siwon yang ada d masa lalu yoona itu ?
    Aah pkonya seru deh lanjut ka😉

    Balas
  7. bikin penasaran sama chapter selanjutnya.. di tunggu ya
    oh ya kunjungi juga ya blogku http://www.coretcoretcerita.wordpress.com aku baru post ff yoonwon disana
    gomawo

    Balas
  8. pokoknya ff ini wajib di lanjut,, q akan menunggu Faighting author

    Balas
  9. im bunny

     /  Desember 13, 2015

    suka sama ffnya thooorr. setelah sekian lama ga baca ff eh dapat ff yang karakter yoonanya belum pernah aku temuin sebelumnya. buruan next partnya ya thoor penarasan akuu. fighting!!

    Balas
  10. nadila sari pramahesti

     /  Desember 17, 2015

    woahh siwon berani banget padahal baru kenal beberapa jam yang lalu. tapi apa sebelumnya yoona perna mengenal siwon? lanjut min

    Balas
  11. Atikah YoonWonited

     /  Desember 18, 2015

    ffnya bagus seru mnarik n bkin pnasaran wow wonppa prilakunya bkin geleng2 kepala dominan mesum pdahal baru brtemu tpi dah brani bnget mnyentuh yoong eon ckckck pnasaran ma masalalu yoong eon apa yg trjdi smpai yoong eon jdi dngin sikapnya n knapa ma adiknya knapa yoong eon benci bnget emng siapa adiknya? pnasaran bnget next

    Balas
  12. Dara Novi

     /  Desember 20, 2015

    Aaaa, bagus bgt alurnya
    Suka bgt deh, tapi semuanya masih abu”

    Balas
  13. Ditunggu update tan nya …..

    Balas
  14. Wawww, sebuah cerita yg menantang, tpi blum terlalu jelas terlihat inti permasalahannya? Aku suka cerita dengan alur seperti ini, di next part semoga bnyak moment yoonwon nya,,,
    Next part….

    Balas
  15. deka

     /  Desember 31, 2015

    bacanya aja gerah bgt, haduh author bisa next chapter jgn lama2? Suka bgt sm karakter yoona disini beda sm yg lain deh dn siwon omg frontal bgt si dirimu

    Balas
  16. Waaah daebakk thor! Penasaraan ama kelanjutannya,, lanjuttt

    Balas
  17. Nadiyaa

     /  Januari 12, 2016

    Bagus ceritanya, keep reading yaa

    Balas
  18. ceritanya bagus lanjutin dong

    Balas
  19. Phiaa

     /  Januari 20, 2016

    Wah bagus nih critax,,, yoona yg dingin dan kasar dgn siwon yg dominan gak ad yg mau ngalah ni,,, hidup yoona berat bgd ya bnyk masalahx,, dia kykx trauma deh tpi ap pnyebabx ya,,,

    Balas
  20. Suka sama karakternya yoona disini. Cool, dan terkesan misterius.
    Tapi kenapa siwon koq bisa merlakuin yoona kaya gitu.
    Nyesek waktu baca bagian siwon ama tante Lw😦
    Alur ceritanya juga masih sulit ditebak. Penasaran sama cerita toona waktu dibully dulu.

    Daebak thor ^^ keep writhing🙂

    Balas
  21. sikpa siwon benar- benar deh, mkin pensran sma lnjutannya

    Balas
  22. AuliaYW

     /  Juni 17, 2016

    Adxny yoona eon siapa ea ? kOx yoona eon sprtiny bnci sami adxny..
    Ska sami sft siwon oppa yg dominan

    Balas
  23. Siwon frontal banget udah bertindak seperti itu ke yoona. Sepertinya mereka temen kecil? Lanjut thor next chapternya penasaran abis ditunggu. Ohiya next chap kalo bisa agak panjangan lagi dan moment yoonwonya jangan lupa.heheh. keep writing thor

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: