[FF] Love Oh Love (Chapter 1 – Princess’ Diamond)

LOL COVER

Love Oh Love

 

Love Oh Love (Chapter 1-Princess’ Diamond) // MDhiah_ // Im Yoon Ah, Choi Siwon, Im Nana, Hong Jong Hyun, Kim Yura, others / Romance, Comedy, Friendship, School Life // PG-16 // Chapter //

Blog : http:// paradiseofmind.wordpress.com

Cerita dalam Karangan ini hanyalah fiktif belaka. Semua cast saya sebagai author hanya meminjamnya. Apabila terdapat kesamaan cerita maka itu hanyalah sebuah kebetulan semata. Hanya untuk hiburan, menuangkan ide dalam sebuah tulisan.

“Cerita tentang seorang gadis penyuka fashion. Ia merupakan seorang anak pengusaha kaya yang mendapatkan gelar fashionista terbaik. Dia selalu bertindak sesuka hatinya. Rival utamanya adalah Nana dan selanjutnya–Choi Siwon. Kehidupannya selalu indah, namun ia sama sekali tidak akan menyangka jika dibalik keindahan itulah ada hal lain yang dapat menjungkibalikkan kehidupannya.”

I HOPE YOU’LL LIKE THIS STORY…

DON’T BE SILENT READERS!
DON’T YOU EVER COPY THIS STORY!

Sorry if you find typo(s)

*****

 

Senja kembali menyapa. Matahari bersiap kembali menuju singgasana miliknya. Menerangi dunia. Membawa kehangatan, kedamaian. Jingga sudah tidak lagi menghiasi langit, yang tampak hanyalah biru laut yang indah membentang luas dan juga awan putih yang terlihat indah. Embun pagi yang menempel pada dedaunan perlahan jatuh, menyentuh bumi Seoul. Bunga bermekaran kembali. Para serangga telah berterbangan ke sana-ke mari mencari tempat yang tepat untuk sarapan paginya.

 

Yoona–gadis itu masih saja bersembunyi dibalik selimut tebalnya. Dia meringkuk dengan begitu damainya, seakan benar-benar tidak perduli jika ini sudah menjelang siang.

Jam dinding terus berdetak, hingga akhirnya pekikan suara alarm berhasil mengusik tidur lelapnya.

Dengan malas ia menyibakkan selimut, membenarkan tatanan rambutnya sejenak. Ia lantas berjalan menuju tempat di mana ia meletakkan handuknya. Menyambarnya, lalu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

 

**

“Aku bisa gila jika terus berjauhan dari eomma. Sungguh tega sekali appa membiarkan putri cantiknya ini hidup sendiri di apartemen ini. Ini memang luas, tapi apa gunanya jika aku sengsara?” Yeoja itu terus saja mengomel cantik (/?) sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

Ya, dia adalah Im Yoon Ah. Princess kesayangan tuan Im sang pemilik perusahaan Hanjin Group.

Dua hari terakhir ini ia selalu mengomel setiap paginya lantaran harus menerima kenyataan jika ia baru saja ditendang dari rumah sang ayah karena kelakuannya sendiri. Bagaimana tidak? Dia selalu mengajak ayahnya beradu mulut di pagi hari. Ada saja yang dilakukannya. Terkadang ia sengaja hanya berpamitan pada ibunya hingga membuat sang ayah mengomel kecil. Atau tindakannya yang memakai kamar mandi pribadi orangtuanya dengan semuanya sendiri ketika bangun kesiangan. Tidak logis memang, tapi dia beralasan jika ia menggunakan kamar mandi miliknya maka ia tidak lagi memiliki waktu untuk membuang air dalam bathup sehingga itu akan membuat kamar mandinya kotor.

 

Baginya, tidak mengapa jika ia menggunakan kamar mandi orangtuanya tanpa membersihkannya,’kan?

Bukan hanya itu saja masalahnya, setiap hari ia berbelanja baju mewah dan barang lainnya yang kesemuanya itu tentunya adalah barang-barang dengan merk terkenal. Ia bahkan tidak segan untuk menghabiskan banyak uang demi menghadiri fashion week. Teman-temannya berasal dari kalangan chaebol yang kesemua keluarganya memiliki nama yang tidak bisa dipandang sebelah mata dalam perekonomian Korea Selatan. Bukan Yoona namanya jika tiada hari tanpa berbelanja, mengomentari fashion oranglain, dan bermalas-malasan dalam kamar mewah bernuansa pink pastel miliknya.

Tapi masalahnya tidak sampai dengan takdirnya yang harus tercampakkan sementara. Tidak, bukan hanya itu memang. Menjadi ‘Princess yang Terbuang’, setidaknya begitulah julukannya sekarang.

 

Dengan perlahan ia terus menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya sendiri, tidak perduli dengan waktu yang bahkan sudah hampir menuju angka delapan pagi. Ia masih dengan santainya meminum susu, bahkan membalas pesan yang masuk di ponselnya.

 

“Ahhh… hari ini akan jadi menyebalkan kembali.” Ia mengeluh ketika membaca pesan dari Jiyeon yang isinya adalah Jung seosangnim telah memberikan ultimatum padanya untuk segera datang ke sekolah mengikuti pelajarannya, karena jika tidak maka ia akan mendapatkan nilai D lagi untuk kesekian kalinya. Seharusnya ia tidak perlu membaca pesan itu jika pada akhrirnya akan membuat moodnya turun seketika.

 

“Tidak bisakah aku membolos lagi untuk pelajarannya hari ini?”, dia bertanya pada dirinya sendiri. Yoona tersenyum, ia bahkan memang mengira ia akan gila karena keputusan ayahnya ini. Dunianya kini seakan dijungkirbalikkan oleh ayah kandungnya sendiri. Sungguh kejam, batinnya.

 

Puncak masalah yang menyebabkan ayahnya serius memaksanya untuk tinggal terpisah adalah tindakan nekatnya pergi ke Dubai untuk menghadiri peluncuran tas limited edition bernama “The Mouawad 1001 Nights Diamond Purse” hasil rancangan dari House of Mouawad. Sebuah tas berbentuk hati bertahtakan 4.517 butir berlian 381 karat yang bahkan telah disahkan oleh Guiness Book of World Records sebagai tas termahal dan hanya diproduksi satu di dunia. Dengan mudahnya dan tanpa beban, ia membelinya seharga US$ 3,8 juta dan membawanya pulang, menunjukkan tas tersebut pada kedua orangtuanya dengan wajah yang begitu polos seperti tidak sama sekali melakukan kesalahan.

 

Sebenarnya, tidak masalah mengenai hal itu, satu-satunya masalah adalah ia berangkat ke Dubai hingga meninggalkan ujian blok yang akhirnya berakibat fatal pada nilainya dalam semua mata pelajaran.

 

Mengingatnya membuat Yoona kembali senang, jika ia datang terlambat mungkin orang lain yang mendapatkannya.

Meskipun ia merasa dirugikan namun jika mengingat tas berlian itu seakan rasa sengsara yang ia terima sekarang hilang seketika.

Lagipula ia mendapat dua keuntungan sekaligus akibat tindakannya itu.

Pertama, ia mendapatkan tas yang hanya di produksi satu di dunia.

Kedua, namanya semakin melambung di dunia entertainment karena selera fashion yang baik ditambah lagi dengan statusnya sebagai putri dari seorang chaebol yang namanya ada di pencarian paling utama. Bahkan ia telah berhasil menerima penghargaan sebagai “Most Popular Princess” untuk kategori putri paling bersinar dari pengusaha Korea Selatan yang membuatnya semakin berada di atas awan.

 

 

“Omo!” Yoona terlonjak kaget saat mendapati nama sang ayah terpampang jelas pada layar ponselnya.

Dengan gerakan cepat ia mengangkat telepon itu.

 

“Yeobseo, appa. Aku ada di sekolah… appa tidak perlu khawatir. Aku sedang belajar dengan baik.” Dengan nada yang begitu lembut ia berusaha membohongi Tuan Im. Berharap jika pria paruh baya itu akan percaya dengan ucapannya meskipun kadang Yoona berpikir apakah ayahnya benar-benar belum mengetahui kebohongan yang selama ini dia buat?

“Appa ada di dalam kelasmu sekarang. Apa kau bersembunyi di bawah meja. Eodisseo?” Yoona memegangi jantungnya yang seakan ingin melompat dengan segera setelah indra pendengarannya menyampaikan pada saraf otaknya tentang apa yang telah dikatakan oleh sang ayah. Tiba-tiba saja ia membayangkan sang ayah yang berjongkok di kolong mejanya hingga membuatnya merasa gila seketika.

 

“Nde?”

“Nde?! Im Yoona, appa sengaja menyekolahkanmu di yayasan yang ada di bawah naungan perusahaan appa agar appa bisa mengontrolmu. Tapi kau menggunakan ini untuk membuat peluang lain dengan seenaknya? Datang ke mari dalam 15 menit atau appa akan memberikan hukuman yang lebih parah dari hanya sekedar hidup hemat dan mandiri!”, Yoona menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Ia menjauhkan sebentar ponselnya dan menatap ngeri nama ayahnya sendiri.

 

“Appa….tidak mungkin aku ke sana dalam waktu secepat itu. Menunggu bus saja butuh waktu 10 menit.” Rengeknya. Di seberang sana, Tuan Im memutar bola matanya dengan malas saat mendengar rengekan dari Yoona.

“Naik taksilah.”

“Appa akan membayarnya?”

“Tidak….” Tuan Im segera memutus sambungan teleponnya hingga membuat Yoona menghentakkan kaki kesal dan tidak percaya mengapa sang ayah berubah menjadi kejam terhadap dirinya.

 

“Ayah, kejamnya kejamnya dirimu padaku…..” Yoona setengah berteriak dan mengucapkan kalimat itu dengan bernada. Ia meletakkan tangannya pada dada sebelah kiri dan membuat gerakan seolah ia tengah menyeka air mata yang telah jatuh membasahi pipi tirusnya.

 

“Jika aku menggunakan taksi sama saja aku akan kelaparan selama 1 hari.” Dengan kesal ia bangkit berdiri, memasukkan ponselnya ke dalam tas, berlari menuju rak sepatu, dan memakainya dengan tergesa.

 

**

 

25 menit.

Oh tidak… ia bahkan terlambat 10 menit dari waktu yang ditentukan oleh sang ayah.

Dengan tergesa ia masuk ke dalam sekolah setelah sebelumnya satpam sekolah itu membukakan pagar dengan mudahnya untuk nona muda seperti Yoona. “Ahjussi, kau seharusnya memakai ikat pinggang berwarna coklat pudar. Kau terlihat sangat jelek memakai ikat pinggang hitam itu. Warna sepatumu membuatnya tidak seimbang. Kau harus menggantinya, arraseo?”

Sungguh tak dapat dipercaya, ditengah situasi genting seperti ini ia bahkan sempat mengomentari bagaimana cara berpakaian seseorang. Ahjussi Gong hanya melongo tak percaya, ia memperhatikan dirinya sendiri kemudian menggelengkan kepalanya sembari menatap Yoona yang sudah berlari jauh hingga tidak nampak lagi oleh indra penglihatannya.

 

 

Langkahnya berubah menjadi pelan ketika ia sudah berada di ambang pintu.

Ia tidak berani mengintip ke dalam, hingga membuatnya kembali menyembunyikan sedikit badannya agar tidak terlihat oleh teman-temannya yang ada di dalam.

Ya Tuhan…

Apa yang akan terjadi jika ia masuk nanti?

Pasti ayahnya saat ini sedang duduk manis di tempatnya dan memberikan aura yang tidak menyenangkan bagi Jiyeon.

Jadi? Haruskah dia akan berani menerima itu?

 

Yoona.

Matilah kau..

Ia terus saja menggumam dan mengumpati dirinya sendiri.

 

Yoona menundukkan kepalanya, seiring dengan langkah kakinya yang perlahan mulai memasuki kelas. Ia merasa sesak secara tiba-tiba hingga membuatnya bahkan seperti tidak memiliki waktu untuk bernapas karena terus memikirkan apa yang akan diterimanya setelah ini.

Tidak. Jangan terjadi. Aku mohon. Batinnya terus berusaha mengucapkan berbagai do’a meskipun ia tahu mungkin Tuhan tidak akan mengabulkan do’a gadis nakal seperti dirinya.

 

Ah, siapa yang baru saja mengatakan kau gadis nakal, Im Yoona?

Dia merasa gila sekarang, marah, mengumpat, bahkan berdebat dengan dirinya sendiri.

 

“Oh, kau benar-benar datang?”, itu suara Jung seosangnim. Bahkan mendengar suaranya saja ia seperti merasa jika nyawanya akan tercabut dengan segera.

Ah, apa ia baru saja mengatakan jika Jung seosangnim sama dengan malaikat maut? Konyol.

 

“Kenapa kau hanya berdiri di sana? Apa kau datang ke mari hanya untuk absen?”, Yoona memekik dalam hati. Bagaimana mungkin ia akan duduk di tempatnya sedangkan sang ayah ada di sana? Memikirkannya saja sudah membuat bulu kuduknya merinding. Dengan beribu keberanian yang telah terkumpulkan ia mendongak.

 

Dan…

Alangkah terkejutnya ia ketika melihat bangkunya kosong.

Kosong? Tidak ada sang ayah?

Yoona bersorak dalam hati namun tubuhnya masih mematung.

Ke mana ayahnya?

 

Yoona menaruh tasnya ke salah satu meja siswa di dekatnya dan dengan bodohnya ia berjongkok. Mengintip kolong mejanya sendiri.

Ah, benar-benar tidak ada sang ayah.

 

Yoona terduduk dan tertawa senang, tidak memperdulikan Jung seosangnim yang telah menghadirkan tatapan horor hingga membuat para siswa di ruangan itu merasa sedang berada pada puncak ketegangan yang bahkan melebihi film horor.

 

Yoona mengalihkan tatapannya pada Jiyeon, masih dengan senyum yang merekah pada wajahnya.

Tidak…

Ia menangkap makna yang tidak baik dibalik wajah Jiyeon–sang sahabat.

Ia menoleh, dengan susah payah ia menahan ludahnya sendiri melihat Jung seosangnim yang bertopang dagu dengan tangan kanannya di atas meja. Tangan kirinya ia pakai untuk mengetukkan pena yang dipegangnya itu ke atas meja.

 

Tatapannya begitu dalam.

Membuat Yoona seketika mengehentikan tawanya.

 

Bodoh, melihat Jung seosangnim yang seperti itu justru membuatnya bertingkah konyol.

Ia menarik-narik bulu halus pada sendal sekolah yang dikenakannya sembari menundukkan kepalanya. Ia mengedipkan keduanya matanya beberapa kali serta digigitnya sendiri bibir bawahnya kemudian membuat raut wajah sepolos mungkin.

Ya, berikan aku waktu sebentar untuk berpikir dengan baik. Ucapnya dalam hati.

 

“Im Yoona! Apa kamu mau me….”

“Seosangnim, maukah kau menemaniku ke Fashion week di Perancis minggu depan?”, Yoona memotong ucapan wanita berambut blonde itu dengan cepat.

 

Di belakang sana Jiyeon sang sahabat menjatuhkan kepalanya keatas meja, ingin rasanya ia melempar Yoona dengan buku tipis miliknya itu agar sarafnya yang mungkin sudah terputus itu tersambung lagi.

Bagaimana mungkin ia berusaha untuk menyogok gurunya sendiri?

Kau benar-benar ingin berakhir dengannya, Yoona.

 

Yoona terus memperhatikan Jung seosangnim yang masih diam.

Ya Tuhan…

Yoona hampir memekik ketika melihat raut wajah Jung seosangnim yang berubah menjinak dengan seketika.

Sepertinya kau berhasil, Im Yoona.

Sungguh, Yoona benar-benar ingin tertawa karena situasi seperti ini.

 

Jung seosangnim terlihat begitu tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya hingga membuat seluruh siswa kelas itu bengong.

Apakah Yoona baru saja memberikan tutorial menjinakkan macan betina yang sedang kelaparan kepada mereka?

Oh, daebak!

 

**

Kedua sahabat itu duduk di kantin, ditemani beberapa menu makanan dan minuman yang sebelumnya telah mereka pesan.

Yoona dan Jiyeon, mereka telah bersahabat sejak tiga setengah tahun yang lalu saat Yoona menjadi siswa pindahan. Saat itu keduanya masih berada di jenjang Junior High School. Jiyeon adalah sosok gadis yang berbeda dari Yoona, ia penyabar, penuh dengan kelembutan dan tentunya tidak suka membuang-buang uang. Ia termasuk siswi yang cerdas, namanya selalu masuk di deretan 5 besar ketika hasil ujian sekolah terpampang di mading. Dan sekarangpun masih sama seperti tiga tahun lalu. Tentu sangat jauh berbeda dari Yoona yang bahkan hanya mampu menduduki peringkat 50-an. Meskipun begitu, sebenarnya ia memiliki sifat yang lebih cuek dibandingkan dengan Yoona. Tak masalah, toh selain cerdas ia juga merupakan siswi yang berasal dari keluarga kaya. Ayahnya adalah orang terpandang yang dihormati di dalam kejaksaan Korsel karena statusnya sebagai Ketua Jaksa Agung.

 

 

Yoona hanya terbengong mendengar penjelasan dari Jiyeon.

Sahabatnya itu, dia menceritakan semuanya jika Jung seosangnim yang menghubungi ayahnya dan meminta pada ayahnya untuk memaksa Yoona masuk sekolah. Tuan Im tidak benar-benar ada di dalam kelas saat meneleponnya. Pria paruh baya itu telah berbohong pada dirinya.

Yoona menghela napas, ayahnya sekarang sudah seperti aktor papan atas yang pandai berperan. Apakah ia iri Yoona juga terkenal di dunia entertainment? Yang benar saja.

 

Mengaduk-aduk jus alpukat yang dipesannya 5 menit yang lalu, ia hanya diam. Terlalu malas dan kesal–tentunya.

“Kuakui kau benar-benar terlihat bodoh, Yoona.” Jiyeon membuka suara, dan akhirnya ia mendapatkan jitakan dari Yoona akibat perkataannya itu.

 

Ia mengelusnya pelan, bibirnya ia kerucutkan hingga membuat Yoona mencubitnya.

“Ya! Aku belum selesai berbicara.” Tangannya bergerak untuk memukul tangan Yoona yang masih berusaha untuk mencubitnya. Yoona berhenti, ia menjauhkan tangannya dan mengisyaratkan pada Jiyeon untuk melanjutkan ucapannya.

“Tapi kau juga keren, dari mana kau tahu jika Jung seosangnim sangat menyukai fashion?”

“Tidak sulit untuk mengetahui wajah-wajah para pencinta fashion sepertiku. Dia memiliki selera fashion yang bagus, beberapa kali aku melihatnya berbelanja barang-barang yang juga aku inginkan.” Yoona menjawabnya asal namun sudah cukup memuaskannya.

 

Jiyeon beralih untuk mengambil ponsel dalam saku dan memainkannya, tidak berniat untuk bertanya lagi pada Yoona.

“Oh ya, kau apakan tas berlianmu itu?”, tanya Jiyeon masih dengan fokus pada layar ponselnya.

“Aku menjaganya dengan baik di rumah appa. Aku tidak membawanya ikut pindah.” Jiyeon mendongak, menggelengkan kepalanya.

“Kau benar-benar menimbun uang 3,8 juta dollar? Mengapa kau tidak memberikannya padaku saja? Sayang sekali kan jika tidak kau pakai”, Jiyeon kembali mendapatkan jitakan pelan di kepalanya. Dengan kesal ia memukul tangan Yoona.

“Aku akan melapisi setiap helai rambutku dengan berlian agar kau tidak seenaknya menyentuh kepalaku.” ucapnya kesal hingga membuat Yoona tertawa mendengarnya.

 

“Jiyeon~ah?”, Jiyeon hanya menanggapinya dengan gumaman kecil, nada bicaranya menunjukkan jika ia masih merasa kesal pada sahabatnya itu.

“Aku tidak bisa lebih lama lagi berjauhan dari rumah dan barang-barangku. Dua hari ini benar-benar bisa membuat badanku turun 1,5 kg. Apa yang harus aku lakukan?”. Yoona menidurkan kepalanya di meja. Tangannya masih sibuk mengaduk jus alpukatnya dengan pipet, sembari menunggu solusi apa yang kali ini akan diberikan oleh sang sahabat.

 

“Mungkin kau bisa melibatkan ayahmu sendiri untuk membuatmu kembali ke dalam rumah.” jawabnya sekenanya. Yoona berpikir sejenak, mengaitkan ide yang dierikan oleh Jiyeon dan juga sedikit tindakan bagaimana caranya ide itu benar-benar membantunya untuk kembali ke rumah dengan segera. Meskipun Jiyeon terlihat tidak serius memberikan solusi kepadanya namun ucapan yeoja itu sepenuhnya tidak salah.

Melibatkan ayahnya?

Apakah dia harus merampok toko berlian?

Atau berjalan di trotoar dengan tas berliannya?

Ah, tidak-tidak. Jangan lakukan hal norak seperti itu, Yoona. Batinnya berusaha untuk mengingatkan dirinya sendiri.

 

Tangan kanannya diam, tidak lagi mengaduk-aduk jus miliknya, sesaat kemudian ia bergerak cepat, mengambil paksa ponsel milik Jiyeon hingga membuat sang empunya terkejut.

“Aku pinjam sebentar.” Yoona lantas bangkit berdiri dan meninggalkan Jiyeon begitu saja.

 

 

Hei, ia merasa seperti telah dirampok oleh sahabatnya sendiri.

Jiyeon melongo, memandangi Yoona dari kejauhan.

Bertanya-tanya apa yang akan dilakukan yeoja itu bersama ponsel kesayangannya.

Sudahlah, ia memutuskan untuk meminum jusnya daripada pusing memikirkan Yoona yang semakin hari menjadi tidak jelas.

 

**

 

Sekretaris Hong masuk ke dalam ruang tuan Im dengan terburu-buru, tangannya memegang sebuah ponsel yang digunakannya untuk membuka sebuah pesan. Ia menunjukannya kepada tuan Im, hingga setelahnya tuan Im kembali memandanganya.

“Apa yang sedang dilakukannya di luar sana?”, Tuan Im menghela napas panjang setelah membaca pesan yang memberitahukan jika Yoona sedang melakukan wawancara bersama para wartawan mengenai status ‘Most Popular Princess’ yang tidak lagi melekat pada dirinya di dalam lingkungan sekolah.

 

Tidak, jika putrinya itu benar melakukannya maka para wartawan akan memburu lebih banyak berita tentang bagaimana pemikirannya tentang status seperti itu, jika begitu maka nantinya akan membuat pekerjaannya di kantor menjadi terganggu.

“Saya juga mendengar jika nona muda akan memberitahukan pada media bahwa dirinya tidak lagi tinggal di rumah bersama anda dan juga nyonya.”

Oh, dia tidak khawatir untuk persoalan yang satu itu. Dengan mudah dia bisa mengatakan langsung alasannya dan ia yakin publik pasti akan mengerti dengan keputusannya. Tapi, ia tahu betul bagaimana Yoona. Princess kesayangannya itu akan memanfaatkan berbagai pemberitaan mengenai dirinya untuk lebih membuatnya populer. Itu sama saja, ia akan membuat Yoona lebih diatas awan sehingga akan sia-sia meskipun ia menyuruh Yoona untuk tinggal secara terpisah dan belajar untuk hidup mandiri.

 

“Hanya selama dua hari aku menurunkannya dari takhta kerajaan tapi secepat itu ia menemukan jalan pintas untuk kembali ke dalam istananya. Aku tidak tahu bagaimana ini, suruh beberapa orang untuk membawanya pulang. Lebih baik dia kembali ke dalam rumah dan merusuh di dalam istananya daripada ia harus membuat hal-hal aneh dan melibatkan namaku beserta nama perusahaan.” Sekretaris Hong mengangguk mantap, ia segera permisi untuk keluar dari ruangan tersebut untuk menghubungi beberapa pengawal keluarga Im. Tuan Im menggelengkan kepalanya, bingung harus bagaimana lagi menghadapi Yoona yang membuatnya kewalahan.

Satu orang Yoona saja sudah membuat dirinya kewalahan, bagaimana jika ia memiliki lebih dari satu Yoona?

 

**

Di sisi lain, Jiyeon terus mengumpat pada Yoona setelah mengetahui jika yeoja itu menggunakan ponselnya untuk menghubungi para wartawan seolah, membuat fakta seolah ia yang memberikan informasi pada mereka jika putri chaebol Im Jo Sung memiliki status baru, tidak lagi ‘Most Popular Princess’ melainkan ‘Princess yang Terbuang’.

 

Dan kini ia harus menerima akibat dari tindakan Yoona, ia seolah berperan menjadi saksi atau lebih cocoknya saksi paksa untuk berita yang disebarkan oleh Yoona sendiri.

Satu jam lebih mereka melakukan wawancara, tidak banyak yang mereka tanyakan hanya saja jawaban dari Yoona yang membingungkan membuat mereka harus meminta penjelasan lebih padanya.

 

“Sebenarnya karena apa ini?”, salah seorang wartawan bertanya pokok permasalahan dari kepindahan Yoona dari rumah orangtuanya. Sebenarnya ia melayangkan pertanyaan yang benar-benar mendasar karena telalu pusing mendengarkan jawaban Yoona yang terus berbelit-belit.

“Aku membeli sebuah tas seharga 3,8 juta dollar di Dubai. Salahnya, aku ke sana ketika sekolahku sedang melaksanakan ujian blok semester pertama. Tentu saja abeoji marah karena semua itu berimbas pada nilaiku. Aku tidak bisa menaiki Lexa lagi, kartu kreditku tidak ada lagi ada di dompetmu. Dan aku kacau karena itu.” Wajahnya nampak murung namun sesaat kemudian wajahnya berubah menjadi berseri.

“Tapi aku senang, aku mendapatkan tas itu.” Jawabnya dengan penuh rasa bangga.

 

Ia menyeruput jusnya, merasa haus karena harus menjawab setiap pertanyaan beruntun dari para wartawan.

 

“Sebenarnya, apa tujuannya menyebarkan informasi mengenai status barumu?”, para wartawan mengalihkan pertanyaan pada Jiyeon namun dengan cepat Yoona-lah yang justru menjawabnya.

“Ah, dia hanya membantuku untuk mendapatkan kembali posisiku dalam rumah.” Yoona akhirnya mengakuinya sendiri hingga membuat Jiyeon merasa pusing dan malu dengan tingkah sang sahabat. Apa yang sebenarnya sedang dilakukan gadis ini?

 

“Jadi, sebenarnya kau yang menyebarkan informasi ini?”, Yoona mengangguk hingga membuat para wartawan tertawa.

“Baiklah Yoona-ssi, kami akan mengedit bagian ini nantinya.”

 

Oh, tentu saja mereka melakukannya.

Toh, tidak akan ada yang dirugikan.

Mereka membantu Yoona, dan begitupun sebaliknya.

Jiyeon hanya diam, dia terlalu malas untuk berbicara sekarang.

 

Jiyeon segera mengambil ponsel Yoona dalam tasnya, ada pesan di sana.

Kabar bahagia untuk Yoona. Ia segera menyikut Yoona, dan menunjukkan pesan tersebut.

 

Berhasil.

Yoona tersenyum penuh kemenangan saat membaca pesan dari ayahnya.

Tuan Im memintanya kembali pulang dan mengemasi semua barang-barangnya karena telah ada beberapa orang yang menunggunya di apartemen.

Jangan lagi melibatkan media karena itu akan menganggu pekerjaan di perusahaannya nanti.

Tuan Im, mengembalikan semua fasilitas Yoona.

 

Yoona merasa senang, ia kembali, menjadi ‘Most Popular Princess’. Julukan dengan embel-embel terbuang itu akan segera hilang menjauh darinya.

Dengan segera ia berlari, setelah lebih dulu mengambil tas sekolahnya dan juga menarik Jiyeon.

 

Gerakan Yoona tak terduga, hingga membuat para wartawan terkejut.

“Yoona-ssi, kau belum membayar makanan ini!”

 

Dari kejauhan Yoona menoleh, “aku berhutang pada kalian. Bayarkan milikku terlebih dulu!”, pekiknya.

Para wartawan itu terkejut dan hanya memandangi bekas piring Yoona dengan menganga.

Ya! Bagaimana ini?

Bahkan menu yang dipesan Yoona hampir saparuh dari pendapatan mereka mencari satu berita.

 

 

“Bukankah tidak seharusnya secepat ini kau kembali ke rumah? Ini terlalu cepat, Yoona.”

“Kau tidak merasakannya, jadi ku mohon kau harus membantuku menghilangkan penderitaan ini sesegera mungkin.” Jawab Yoona masih dengan menarik tangan Jiyeon.

 

>>LOL<<

 

Sebuah mobil sekelas Bentley Continental GT itu berhenti di kawasan Myeongdong Shopping Street. Sebuah tempat perbelanjaan yang sangat terkenal di Seoul. Di sana banyak sekali toko-toko besar yang menjual barang-barang mewah produksi dalam negeri maupun internasional. Lokasi ini bahkan sudah dijuluki sebagai lokasi belanja termahal di Korea Selatan. Disini merupakan pusat fashion, terdapat perusahaan ternama di sana seperti Migliore dan Lotte Department Store.

 

Yeoja dalam mobil itu keluar, membenarkan letak kacamata pelindung sinar mataharinya.

Beberapa orang yang lewat memandangnya dengan takjub.

Dress sepaha berwarna hijau pudar pada bagian atasnya bersatu dengan sebuh rok berwarna merah muda soft yang dipadukan dengan sebuah ikat pinggang berwarna senada. Rambutnya ia ikat dan disampirkannya di bahu sebelah kanannya.

Heels yang berwarna cream membuat penampilannya terlihat sempurna apalagi dengan kaki jenjangnya yang putih mulus.

Cantik, seksi, dan anggun tentunya.

 

Ia datang mengunjungi kawasan tersebut dengan tujuan seperti biasanya, membeli barang-barang terbaik yang dapat meningkatan mutu fashionnya. Nana–yeoja itu melangkahkan kakinya memasuki mall tersebut, ia sudah tahu ke mana tujuannya sehingga ia tidak perlu lagi mencari-cari tempat yang cocok untuk mencari barang branded yang kesemuanya merupakan limited edition.

Sungguh, tidak masalah baginya mengeluarkan banyak uang hanya untuk membeli barang-barang mewah. Toh ia juga memakainya dan sang ayah tidak keberatan jika ia harus mengeluarkan banyak uang untuk menyenangkannya. Ia putri satu-satunya, dan bukankah itu sudah wajar?

 

“Annyeong nona Im, anda datang?”, sang pemilik mall menyambutnya dengan baik.

Jangan heran jika yang menyambut dirinya adalah sang pemilik mall secara langsung, Nana adalah pelanggan utamanya yang selalu absen ketika ia menghadirkan barang limited edition di tokonya. Hubungannya dengan Nana bahkan bukan hanya sekedar penjual dan pembeli namun sudah seperti seorang bibi dengan keponakannya.

 

“Hem, aku penasaran dengan sepatu yang bibi katakan.” Dengan lembut presdir Ahn menarik tangan Nana, segera membawanya menuju ruang pribadinya yang berada pada lantai 4 mall tersebut.

Ia mengambil sebuah kotak persegi berwarna saphire blue di dalam lemarinya dan menyerahkannya pada Nana.

Sepasang heels berwarna hitam pekat yang dihiasi dengan lilitan tali berwarna kuning keemasan yang berfungsi untuk menambah kesan elegan. Nana tersenyum, ia terlihat senang melihat sepatu yang diberikan untuknya itu. Tangannya bergerak untuk mengelus bagian dalam sepatu tersebut. Halus. Ia memutuskan untuk mencobanya dan tersenyum ketika heels itu benar-benar terlihat cocok untuk dirinya. Dengan wajah berseri ia kembali menutup kotak tersebut dan memasukkannya ke dalam sebuah paper bag yang diberikan oleh Presdir Ahn.

 

“Kau memberikan karya terbaik untukku. Bibi benar-benar mengetahui seleraku..” Nana menyentuh tangan Presdir Ahn lalu tersenyum pada wanita paruh baya itu.

“Aku hanya menyediakan satu pasang saja di toko milikku, dan itu aku berikan untukmu. Aku tahu kau tidak ingin oranglain memiliki barang kesukaanmu juga.” Keduanya sama-sama tersenyum.

 

“Baiklah bibi, aku harus pergi sekarang. Aku harus ke Hanjin Orasted School untuk membeli seragam sekolahku.”

“Kau akan menetap di Korea lagi?”

“Yah, ayah tidak lagi mengizinkanku untuk tinggal di Perancis.”

“Aku fikir kau kemari hanya untuk menghabiskan liburan musim panasmu. Ah, kau pasti dengan senang hati menuruti perintah ayahmu,’kan?”. Nana tersenyum, atau lebih tepatnya tersipu malu. Presdir Ahn, dia mengenal betul bagaimana Nana. Tanpa mengatakan alasan mengapa ia kembali ke Korea dengan senang hati, wanita itu telah lebih dulu mengetahuinya.

 

**

Nana menghentikan langkahnya meskipun jarak tempat berdirinya ia saat ini dengan mobil miliknya hanya beberapa langkah lagi. Tatapannya terfokus pada seorang pria yang menyenderkan punggungnya pada mobil mewah kesayangannya.

Ia melorotkan sedikit kacamatanya dan menatap serius namja itu.

Matanya membulat dengan sempurna, setelah indra penglihatannya itu dengan jelas mampu menangkap siapa sosok namja yang dengan seenaknya bersender pada mobilnya.

 

“Ya!”, dengan gerakan cepat ia melepaskan heels miliknya dan melemparkannya begitu saja kearah namja itu.

Got it!

Lemparannya berhasil mengenai selangkangan pria itu, hampir saja mengenai alat vitalnya. Nana tidak ambil pusing. Ia berlari dengan satu kaki dan segera mengambil kembali heelsnya tanpa memperdulikan namja yang telah dilemparnya itu mengalami syok dan kesakitan secara mendadak.

 

“Ah, untung aku ahli melempar sehingga tidak mengenai mobilku sendiri.” Nana tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Ia mendorong pria itu agar menyingkir dari pintu mobilnya dan dengan santainya masuk ke dalam.

 

Siwon tertawa renyah akibat perlakuan Nana padanya. Ia menaruh kedua tangannya di muka dada dan memberikan senyum manis pada yeoja itu. “Lama tidak berjumpa dan kau semakin cantik saja.” Siwon berniat untuk mentoel dagu Nana namun sebelum ia berhasil melakukannya yeoja itu terlebih dahulu menyingkirkan tangannya.

 

“Jangan mengganguku lagi Choi Siwon, aku memiliki Jong Hyun sekarang.” Ia menghentikan Siwon dengan gerakan tangannya hingga membuat pria itu tertawa mendengarnya. Siwon memikirkan ucapan Nana, kemudian dengan sendirinya saraf otaknya menjabarkan setiap ucapkan yang terlontar dari bibir yeoja itu.

Oh, jangan katakan jika Nana masih mengira jika Siwon masih menyukainya sebagai seorang mantan kekasih dan ingin mendapatkannya lagi.

Siwon tertawa memikirkannya, ia menggelengkan kepalanya dan menyentil kening Nana pelan.

 

“Sungguh, Nana. Aku memang masih menyukaimu hingga saat ini.” Siwon memberikan kalimat yang ia tujukan untuk membuktikan pemikirannya mengenai Nana.

Dan yang selanjutnya terjadi benar-benar menahan tawanya melihat ekspresi Nana yang hanya melongo mendengar ucapannya. Dugaannya benar, gadis itu memang masih mengira jika ia memiliki rasa dengannya. Begitu jelas terlihat dari mimik wajahnya dalam merespon ucapan Siwon.

 

 

“Kau bahagia bersamaku, untuk apa bersama Jong Hyun?”

“Aku hanya bahagia bersamamu. Hanya sedikit, tidak sangat.” Ia mendorong kepala Siwon yang bertengger pada pintu mobilnya.

“Kau tidak bertanya mengapa aku juga bisa ada di sini?”

“Tidak perlu. Aku terlalu lelah mengeluarkan pertanyaan seperti itu.” Jawabnya ketus. Lagi-lagi Siwon tertawa dibuatnya. Ia mengacak rambut Nana hingga perbuatannya itu mendapat respon tidak baik dari sang pemilik rambut.

 

Nana menarik napas, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.

“Pergilah atau aku akan menghancurkan mobil kesayanganmu itu.” Siwon mengikuti arah jari telunjuk yeoja itu.

Hei, bagaimana bisa Nana mengetahui mobil barunya itu?

 

“Baiklah, baiklah. Aku pergi sekarang. Selamat datang kembali ke Korea dan sampai jumpa besok pagi…” Siwon mengalah lantas memilih untuk memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans yang dikenakan olehnya dan melangkah pergi.

“Ya! Apa maksudmu?”, Siwon menoleh. Bukannya beniat untuk memberikan jawaban atas pertanyaannya pria itu justru memberikan kedipan sebelah mata padanya.

 

“Ya! Iblis kau Choi Siwon!”, pekiknya. Karena pekikannya itu sontak saja orang-orang yang lewat disana berhenti sebentar dan menatap aneh padanya.

Ia berdehem sebentar, memakai kacamatanya kembali dan dengan segera menyalakan mesin mobilnya. Pergi dari tempat yang dianggapnya terkutuk semenjak keberadaan Siwon di sana.

 

>>LOL<<

 

Yoona meninggalkan koper dan barang-barangnya dengan sesuka hati begitu ia memasuki rumah. Dengan langkah gesit ia berlari menuju kamarnya, meninggalkan Jiyeon yang masih diam diambang pintu dan tak percaya melihat akibat dari perbuatan Yoona.

Karena seenaknya dia berlari? Oh, bukan karena itu.

Kopernya?

Ah tidak, bukan karena itu juga.

Sebuah tas merah marun yang tidak cukup besar itu tergeletak di lantai, Jiyeon hanya mampu menganga melihatnya.

Celana dalam, baju, dan juga bra yang berserakan di lantai akibat Yoona menjatuhkan tas itu begitu saja.

Bagimana tidak? Tas tanpa resleting dan hanya bertali membuat hal tersebut wajar saja terjadi.

 

“Im Yoona….”, gumamnya sembari menatap kosong kamar Yoona yang berada di lantai kedua rumah mewah itu.

 

“Omo! Apa yang terjadi?”, Nyonya Im terkejut melihat begitu banyak pakaian dalam yang ada di lantai. Ia menggelengkan kepalanya, ia tahu penyebab pasti semua ini. Dengan cepat wanita paruh baya itu berjongkok dan memasukkan kembali pakaian dalam tersebut ke dalam tas.

“Apa dia meninggalkanmu?”, Jiyeon hanya mengangguk membenarkan. Nyonya Im lantas merangkul pundaknya dan mengajak Jiyeon untuk duduk di sofa setelah sebelumnya ia memanggil ahjuma Kim untuk membereskan kekacauan yang terjadi akibat ulah putrinya. Ia mengambilkan minum untuk yeoja itu. Jiyeon tersenyum, dan menerimanya dengan senang hati.

 

 

Baik Jiyeon maupun Nyonya Im sama-sama menghentikan langkahnya, mereka berdiri di ambang pintu karena begitu terkejut dengan keadaan yang ada di hadapannya saat ini.

Boneka teddy bear, tas berlian, sepatu rancangan Jinny Kim, dan beberapa gaun berwarna merah muda kesayangan Yoona. Semua benda-benda itu bertengger dengan manisnya di ranjang empuk miliknya. Yoona–gadis itu memeluk erat gaunnya, menjepit boneka beruang di kakinya dan mengalungkan tas berlian miliknya seolah benda itu benar-benar sebuah kalung yang ukurannya kecil.

 

“Chagi~ya… neomu bogoshipeota….eomma kembali ke dalam rumah bersama kalian.” Nyonya Im dan Jiyeon saling bertatap muka mendengar gumaman Yoona. Wanita paruh baya itu mendekat pada sang putri dan mengguncang bahunya pelan.

Tidak mendapat respon. Bahkan Yoona sama sekali tidak mengomplain padahal biasanya ia akan mengomel jika sang ibu sedikit saja mengganggu aktivitasnya bersama barang-barang kesayangannya.

Nyonya Im menghela napasnya, tertawa pelan melihat tingkah putrinya sendiri.

Yoona sepertinya begitu senang kembali ke dalam rumah, sehingga hanya dengan waktu yang begitu singkat gadis itu sudah terbang menuju alam mimpi bersama benda-benda branded miliknya.

 

Ia menyentuh bahu Jiyeon, menyuruh gadis itu untuk menginap saja di rumah karena waktu yang sudah menunjukkan angka delapan malam. Belum terlalu larut memang, tapi ahjussi Kim sudah tidak ada di rumah lagi sehingga tidak akan ada yang mengantarkan Jiyeon pulang.

Nyonya Im akan khawatir jika membiarkan Jiyeon pulang sendiri menaiki taksi. Bagaimanapun juga, ia sudah menganggap Jiyeon seperti putri kandungnya sendiri. Jiyeon menyayangi Yoona, jadi sudah sewajarnya jika ia juga menyayangi yeoja itu.

 

**

Burung-burung berkicau, hinggap di ranting pohon yang tengah memekarkan dedaunannya kembali. Membangkitkan kembali bumi Seoul.

Yoona masih bersembunyi di balik selimut tebalnya bersama barang-barang miliknya, angin sudah sejak tadi menerbangkan gorden yang ada di dalam kamarnya, membiarkan sinar matahari memasuki celah-celah kecil yang semula tertutupi.

 

Tuan Im berdecak pinggang melihat putrinya sendiri yang begitu tenangnya meringkuk di atas kasur, barang-barang mewah miliknya masih berserakan diatas keranjang. Pria tua itu menoleh kearah jendela, ia dapat merasakan dengan jelas saat sinar matahari menyentuh bagian tubuhnya. Ia bergeser, membiarkan sinar matahari menyinari putri tunggalnya tersebut.

 

“Eunghhh…”, tuan Im menggelengkan kepalanya.

Oh astaga, bahkan gadis kecilnya itu masih memakai seragam sekolahnya.

 

Yoona kembali melenguh, saat sinar matahari semakin banyak meneranginya. Membuat matanya tidak bisa lagi menutup dengan damai. Dengan begitu malas ia mencoba membuka matanya, mengumpulkan raganya yang mungkin masih berada jauh di tempat yang lebih indah.

 

Yoona tersenyum manis, ketika melihat wajah sang ayah-lah yang pertama kali ditangkap oleh bola mata coklat miliknya.

Dengan malas ia duduk, menyenderkan kepalanya dan sedikit mengacak rambutnya, membuatnya semakin terlihat berantakan.

“Appa, jam berapa sekarang?”, tuan Im hanya menunjuk sebuah jam kecil di meja samping tempat tidur Yoona dengan dagu.

 

“Jiyeon sudah berangkat. Jika dia menunggumu maka dia akan ketinggalan kelas musiknya.”

“Hem, aku tahu. Aku ada kelas fashion pukul 9 nanti.”

“Jam 9? Sejak kapan sekolah itu membuka pelajaran pertamanya pukul 9?”

“Aku memintanya pada seosangnim. Terlalu cepat jika pukul 7 pagi, aku mengatakan padanya jika aku tidak bisa bangun secepat itu. Syukurlah dia mengerti denganku. Yah, dengan sedikit ancaman tentunya.” Yoona menjawab dengan begitu santainya, ia beranjak turun dari kasurnya dan berlalu menuju kamar mandi tanpa mengatakan apa-apa lagi. Bahkan ia mungkin tidak perduli bagaimana lagi ekspresi sang ayah mendengar penuturan darinya.

 

Tunggu.

Kenapa ia memiliki putri yang gila seperti Yoona?

Membuat peraturan dengan semaunya tanpa memikirkan jika ayahnya sudah bersusah payah membuat peraturan di sekolah itu?

Ia tahu Yoona berzodiak gemini, banyak yang mengatakan jika pemilik rasi itu adalah orang yang suka melanggar peraturan dan membuat peraturan baru untuk dirinya sendir. Tapi, apa mitos itu benar-benar ada?

Tidak, pasti ada alasan lain yang lebih logis dari pada itu.

 

Tiba-tiba saja ia mengingat sesuatu yang terjadi ketika sang istri tengah mengandung Yoona.

Ah, sungguh konyol.

Ia benar-benar ingat ketika sang istri mendandani dirinya sendiri, mengubahnya seperti seorang pria waria berpenampilan barbie.

Ya Tuhan.. Ia terlalu tua untuk mengingat lelucon seperti itu.

 

Tuan Im menggelengkan kepalanya, ia menarik napas dan benar-benar merasa putus asa sekarang.

Sebelum ia megalami hal yang lebih membuatnya putus asa, ia memutuskan untuk keluar dengan cepat dari kamar Yoona. Sesegera mungkin berangkat ke kantor, tidak ingin lagi bertemu dengan Yoona di meja makan.

 

>>LOL<<

 

“Ya! Apa kau gila? Cari tempat parkir lain!”, Yoona berteriak dengan kencang hingga membuat beberapa orang yang ada di parkiran itu menoleh padanya. Ia berteriak pada sang pemilik mobil berwarna putih mengkilap yang sama denganya itu karena berusaha untuk memakirkan mobil di sampingnya.

 

Yoona tentu tidak akan membiarkannya, ia bisa mengira dengan baik jika sisa tempatnya itu sudah tidak cukup lagi untuk satu mobil dan akan fatal jika pengemudi itu mencoba memaksanya.

Mobilnya akan lecet dan jika itu terjadi maka ia benar-benar tidak akan melepaskan orang itu begitu saja.

 

Seorang namja tinggi, bertubuh atletis, dan memakai kacamata hitam itu keluar dari dalam mobil. Ia membuka kacamatanya dan memandang Yoona dengan tatapan dingin. Namja itu terus menatapnya dengan dingin hingga membuatnya jengah dan tertawa mengejek.

“Ku bilang, parkirkan mobilmu di tempat lain. Dasar tuli,” kalimat terakhir ia ucapkan dengan pelan namun masih terdengar oleh telinga namja itu.

 

Ia berjalan mendekat pada Yoona, “kau masih junior di sini,’kan?”.

“Ne, wae?”, Yoona menjawabnya dengan begitu ketus.

“Kalau begitu sebaiknya kau yang mengalah.” Yoona berjalan menuju mobil namja itu dan menendang ban mobilnya.

 

“Aku tidak perduli, singkirkan.” Yoona mengibaskan tangannya, benar-benar berniat untuk mengusir pria itu dari sana.

“Aku Choi Siwon, kau pikir aku akan menuruti keinginanmu?”, Yoona kembali mendekat pada Siwon dan memberikan tatapan menantang pada namja itu.

“Aku Im Yoon Ah, ayahku pemegang saham tertinggi untuk sekolah ini. Kau fikir aku juga mau menuruti keinginanmu?”

“Cih, memalukan. Sudah dewasa tapi tetap saja berada di bawah ketiak ayahnya.” Kali ini Yoona menendang kaki kanan Siwon hingga membuat pria itu mengaduh.

 

“Dasar macan!”, Yoona memilih untuk diam dan tak merespon. Ia menganggap ucapan yang baru saja terlontar dari bibir Siwon hanyalah angin lewat yang meniupkan helai rambutnya.

Yoona memperhatikan Siwon, pria itu memilih tempat parkir tepat di depan mobilnya.

Ia memutar bola matanya–malas.

 

“Mercedes Benz SLK R172. Bahkan warna dan merk mobilmu mengikuti mobilku.” Yoona yang semula sudah berjalan menjauh kini kembali menghentikan langkahnya, membalikan tubuhnya dan menatap Siwon dengan sinis. Pria ini sepertinya ingin mencari masalah dengannya. Ia sudah ingin melupakan semuanya, tapi kenapa justru namja itu kembali memancingnya.

“Aku? Mengikutimu? Yang benar saja!”, Yoona tertawa, atau lebih tepatnya tawa ia buat-buat. Ia menganggap perkataan Siwon adalah sebuah candaan yang konyol hingga membuatnya merasa ingin mual.

 

“Aku yang lebih dulu membelinya.”

“Tahun berapa kau membelinya?”

“Wae? Apa kau pikir kau yang lebih dulu membelinya?”, Yoona meniggikan volume suaranya hingga kembali menarik perhatian beberapa orang yang ada di parkiran tersebut. Siwon tidak mau kalah, ia terus saja mendesak Yoona untuk memberikan jawaban mengenai pertanyaan terakhir yang diberikannya.

 

Sebenarnya, Yoona bukan tidak ingin memberitahukannya.

Hanya saja jika ia mengatakannya, ia khawatir jika ternyata namja itulah yang terlebih dulu membeli seperti dirinya. Jika itu terjadi maka habislah dia. Kalah beradu, itulah yang pastinya akan didapatkan olehnya.

Yoona baru saja selangkah melangkahkan kakinya, berniat untuk memukul kepala Siwon dengan sebuah bedak yang sedari tadi digenggamnya. Namun, niatnya itu ia urungkan ketika sebuah mobil berwarna merah muda itu berhenti tepat di tengah jalan. Menghalangi Siwon dan juga dirinya.

 

Yoona melipat tangannya di muka dada, ia sudah terlalu malas sekarang.

 

“Ah, terlalu kekanakan sekali ribut di parkiran.” Yoona menoleh, karena ia begitu mengenal suara itu.

Yang benar saja, ia tidak salah mengenalinya.

Yoona terus bergumam dalam hati.

Yeoja itu adalah Nana.

Ia keluar dari dalam mobil, beralih menatap Siwon dan Yoona secara bergantian.

Bagaimana mungkin ia bisa kembali bertemu dengan Nana?

Di sekolah yang sama. Ia tidak bisa memikirkan bagaimana hari-harinya setelah ini.

Ah, jangan lupakan untuk segera memberitahukan para penjual barang mewah terbaik di Korea Selatan agar jangan sampai menjual barangnya selain kepadanya. Hanya dia. Batinnya berusaha untuk mengingatkan.

 

Nana adalah ancaman baginya, gadis itu juga senang memburu barang-barang mewah. Dia mengenal Nana, karena yeoja itu merupakan teman sekolahnya selema 4 semester. Yang ia tahu, Nana pindah ke Perencis saat kenaikan kelas 3 SMP.

Baik Nana maupun Yoona, keduanya diam-diam melirik Siwon. Yoona mengalihkan pandangannya, tak suka. Dia pikir hanya dia yang mampu menujukkan pose dinginnya?

“Ehem,” Nana berdehem sekilas. Gadis itu memancing Siwon untuk menyapanya namun justru yang didapatkannya adalah ekspresi kebingungan dari Siwon yang seolah bertanya ada apa. Yoona memberikan senyum mengejeknya pada Nana, ternyata yeoja itu tahu gelagatnya.

 

“Apa yang kau tertawakan?”, tanya Nana dengan ketus. Yoona menggeleng.

“Tidak, hanya saja aku lupa mengatakan sesuatu. Kau ingat tas berlian saat di Dubai itu? Apa kau tahu jika aku yang mendapatkannya?”, Nana memekik. Membuat Siwon maupun Yoona sama-sama menutup kedua telinganya.

 

Ah, Siwon sudah tidak tahan lagi berada di antara kedua gadis penyuka fashion itu. “Kalian sama-sama seperti macan”. Siwon pergi berlalu, namun baru beberapa langkah saja ia harus menerima akibatnya. Akibat dari ucapannya.

Kedua yeoja itu menarik seragamnya dari belakang, membuatnya tertarik akibat tindakan dari keduanya. Bahkan ia hampir saja terjengkang dibuatnya.

 

“Neo michige!”, Nana memberikan isyarat pada Yoona untuk mengambil tindakan pada Siwon. Yoona mengangguk hingga akhirnya ia benar-benar memukul Siwon dengan bedaknya. Puas telah memberikan tindakan mengintimidasi pada Siwon Yoona lantas tersadar.

Ia beralih menatap Nana yang sedang merapikan rambutnya. “Ya! Kau fikir kau siapa menyuruhku seenaknya hah?”, Nana tidak menaggapinya. Ia membiarkan Yoona yang terus mengomel padanya.

 

Siwon merapikan seragamnya, dengan aura yang kembali dingin ia berjalan menajauh dari keduanya. Nana bingung, kemarin bertemu dengannya Siwon begitu bergairah menggodanya(/?) tapi kenapa pria itu tiba-tiba kembali bersikap dingin.

Tetap sama menyebalkan. Batin Nana.

 

 

Tiba-tiba saja mereka sama-sama diam, saat Yura berjalan mendekat kearah mereka. Gadis itu memberikan senyum meremehkan pada keduanya. “Ah, aku bertemu dengan dua orang yang sedang reunian sekarang. Tapi mereka tidak mengajakku. Tak masalah sih sebenarnya, aku juga tidak ingin memalukan diriku sendiri.” Yura berbicara dengan ponsel yang menempel pada telinga kananya. Ia terus berjalan melewati mereka tanpa menoleh sedikitpun. Sesaat kemudian Nana dan Yoona saling bertatapan, mereka seakaan tersadar jika kalimat Yura itu ditujukan untuk mereka berdua.

Akhirnya keduanya berteriak, hingga membuat Yura dengan segera mengambil tindakan dengan berlari kecil meninggalkan lokasi parkiran.

 

“Ya! Kim Yura !!”

 

 

To be Continue~~

 

Hello, author dtng lgi yaa..

Soalnya kmren2 update dib log pribadi (MDhiah_ Kingdom)..

Ini ff comedy tapi gatau berhasil apa kagak…

Buat echa eonni or resty eonni thanks udh posting FF ku lagi yaa…

Gomawo :’))

 

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

59 Komentar

  1. Eliza fie

     /  Juli 13, 2015

    ceritanya seru bnget dan lucu juga ,wkwkwk…
    yoona sampe segitunya sama barang2 mahalnya..sampe buat nemenin dia tidur? ohhh..yang bener aja ?
    #gokil ffnya ditunggu next chapnya !
    buat authornya FIGHTING

    Balas
  2. Ha.ha.ha….ffnya lucu bnget.,,yoona ada2 aja kelakuannya….

    Balas
  3. Fany Yoonadict Yoonwonited

     /  Juli 14, 2015

    lucu. sumvah ngakak thor. wkwk. yoona & nana yg sama gila fashion/? wkwk. siwon sifatnya unik. kkk~ next ya. ditunggu~ ♡♡♡

    Balas
  4. Keren bgt thor.aku ga ada saran apapun karena ffnya bnr2 daebak.tp jgn di w nanti ya thor, krn kami akan jadi reader yg baik

    Balas
  5. bhakk keren banget 👍 NEXT!!

    Balas
  6. Yui Chan

     /  Juli 18, 2015

    lucu….. ntar gmn siwon jatuh cinta sama yoona nyaa…

    Balas
  7. Aiueo

     /  Juli 20, 2015

    Ohhhhhh ff ini Keren jga
    Yoona, Nana suka fashion bgt… Dan ga segan” beli barang yg mewah bgt ckckc
    Salut sma mrka
    D tunggu lanjutannya author
    Gomawo^^

    Balas
  8. Kwan Menzel

     /  Juli 20, 2015

    hadeuhh yoong bar² bgt sih

    Balas
  9. Sekar Paramitha

     /  Juli 26, 2015

    hahahaha yoona eonnie brutal + gila kalo udh nemu barang kesukaannya. Appa im aja sampe pusing sendiri hahahaha. gimana ya reaksi yoonwon nanti? makin penasaran

    Balas
  10. ya ampun yoona..pngen ktwa trs q…sft yoona dsni wah bgt

    Balas
  11. Lophe2

     /  Agustus 12, 2015

    keren nie critanya….ceritanya cewek bgt coz lbh condong ttg yg cew d part ini seru bgt ada komedinya jg…sifatnya yoona parah bgt…smp appanya kalah…ntar bs berubah sikap ga dia …lanjuttt

    Balas
  12. Yoona sama nana sama2 gila fashion yah^^
    Ditunggu kelanjutannya

    Balas
  13. Aulia Araby

     /  Agustus 13, 2015

    Wkwkw lcuny, yoona n nana sami2 ska fashion..
    Cacingan wonppa :3

    Balas
  14. Next chap nya eoddiega ??

    Balas
  15. choi zuazua

     /  Agustus 17, 2015

    astaga,, astaga.. Nemu ff bner2 kerenz .. Suka bgt dg karakter yoona,, princess ,, alurnya juga gg monoton,, bikin ngakak dahh

    Balas
  16. dias puspita

     /  Agustus 17, 2015

    So funny yoona agag mirip2 sm songyi yaa narsis gtu,,di tunggu lanjutannya..

    Balas
  17. Mudah YoonAddict sone

     /  Agustus 20, 2015

    Ngakak liat tnggah yoona . .
    Nana kePDan bnget. .
    Bner” cwe2 pnggila fashion. .

    Kira” siwon bkal mlih yoona or nana???

    Keren crita’a . . Lucu bnget

    Balas
  18. ria

     /  Oktober 2, 2015

    Yoona2 lucu bgt,
    Kok bs sampai segitu’a..
    kasihan appa&eomma’a

    Balas
  19. keren, lucu ceritanya.
    tapi cast di siwonnya lebih di perbanyak dan juga yoowon moment yah lebih di perbanyak juga..
    tapi masih bingung masuk dari” menjungkir balikan kehidupan yoona itu apa”
    semoga siwon duluan yang suka yoona

    pokoknya di tunggu kelanjutannya!

    Balas
  20. asik nih plotnya…
    ^^^^

    Balas
  21. Echa

     /  Oktober 15, 2015

    Keren ceritanya, semoga yoonwon segera dipersatukan…

    Balas
  22. aniskhz

     /  Oktober 20, 2015

    Suka banget dengan karakternya yoona, moment yoonwon nya diperbanyak yah chingu… Next yaaaaa…

    Balas
  23. Hahaha… Yoona oenni benar2 brutal.
    Dia benar2 princess…
    Yoonwon baru benci2an nih disini…
    Ceritanya sangat keren Thor…
    Keep writing and FIGHTING!!!

    Balas
  24. dhyta

     /  Januari 21, 2016

    Ceritanya seru and fresh, cuma saran aja nih thor siwon oppa cepet ditamatin sma nya, soalnya ngebayangin wonppa dgn badan atletis pake seragam sma agak aneh2 gimana gitu. Oh ya cepet lanjutin chapter berikutnya ya🙂

    Balas
  25. AuliaYW

     /  Juni 17, 2016

    Hihihi lucu..
    Yoona eon & Nana sami2 pnggila fashion ..

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: