[FF] Wife for My Husband (Chapter 10)

WFMH-YOONWON

Wife for My Husband

kkezzgw art&storyline

Cast:  SNSD’s Yoona, SJ’s Siwon

Other Cast: SNSD’s Tiffany, SJ’s Kim Kibum (Choi Kibum), SNSD’s Kim Taeyeon (Choi Taeyeon), f(x)’s Sulli, SNSD’s Yuri, SJ’s Jungsoo (Park Jung Soo), SISTAR’s Dasom

Genre:  Marriage Life, Family, Sad, Romance, Hurt, Drama

Rated: +15

Length: Chapter

WIFE FOR MY HUSBAND: CHAPTER 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9

  Facebook Twitter: ELF SONE YOONWONITED Blog: keziagw – wonkyoonjung Ask.fm

‘Disclaimer of ‘Wife For My Husband’

————————————————————————

PREVIOUS CHAPTER

“Yoon—Yoona mengajukan gugatan cerainya hari ini, yeobo”

Siwon tidak dapat merasakan sakit yang tangannya alami sekarang begitu mendengar kalimat mematikan yang diucapkan Tiffany dengan raut wajah sedih palsunya. Siwon tersenyum getir sambil membuka amplop itu, dan hatinya terasa dipecahkan begitu saja begitu melihat tanda tangan Yoona tertera disana atas status ‘penggugat’. Siwon tertawa sinis begitu melihat surat itu dengan tangan bergetar, “Wow, kau bergerak cepat, Im Yoona.” Katanya pelan namun sarat akan kesinisan dan sindiran yang begitu menyayat hati Yoona.

 

WIFE FOR MY HUSBAND: CHAPTER 10 – ©kkezzgw

————————————————————————

“Seharusnya aku yang melakukan hal ini karena kau telah berselingkuh dengan Kibum dibelakangku, disaat kita masih terikat dalam sebuah pernikahan. Harusnya aku!” ungkap Siwon dengan marah.

Yoona hanya bisa menahan tangis mendengarnya, sungguh mengapa ia dijebak dalam situasi seperti ini? Ia tidak ingin membohongi Siwon maupun hatinya sendiri, namun apa daya jika ancamannya adalah nyawa ayahnya sendiri?

“Lebih baik kau segera tanda tangani ini, oppa. Aku takut mereka berdua akan melarikan diri bersama hartamu dengan cara mengerikan yang mungkin sudah disiapkan oleh mereka berdua pasca Yoona melahirkan”

Rahang Siwon mengeras begitu mendengar Tiffany kembali menyuarakan suaranya, namun tangan dan pikirannya seakan sudah buta karena diselimuti oleh kabut amarah, dengan cepat ia meraih ballpoint yang ada di tangan Tiffany. Tanpa berpikir dua kali, Siwon membubuhkan tanda tangannya secara resmi dalam surat gugatan cerai itu lalu melemparkan kertas itu kearah Yoona sambil mengepalkan tangannya untuk menyalurkan emosinya.

“Terimakasih untuk gugatan ceraimu, Im Yoona. Selamat bersenang – senang dengan Choi Kibum dan aku sangat menunggu panggilan dari pengadilan untuk siding perceraian kita. Sekarang…lebih baik kau angkat kaki dari rumahku sebelum aku yang menyeretmu keluar!”

Siwon langsung meninggalkan kamar itu dengan emosi yang meledak – ledak, tak pernah terpikir olehnya sekalipun bahwa Yoona akan menceraikannya dengan cara seperti ini disaat ia sedang berusaha untuk memikirkan jalan keluar dari kisah cinta mereka yang rumit. Namun, seakan gadis itu menamparnya dengan surat cerai hanya demi bersama Choi Kibum? Lelucon macam apa itu?

Tiffany mengambil surat malang itu dengan sorot mata penuh kemenangan. Ekor matanya melirik kearah Yoona yang kini hanya diam mematung di tempatnya dengan pandangan kosong seakan seluruh dunianya runtuh detik itu juga. Tiffany sedikit tersentak begitu Yoona menatapnya dengan sorot mata berbeda dari biasanya, wanita itu menatap dirinya seakan ia seorang penjahat kelas kakap yang sudah merampas seluruh harta bendanya dan membunuh orang yang ia cintai bersamaan. Pada detik itu Tiffany menyadari kesalahannya, namun pikirannya mulai terganggu semenjak ia terlalu sering memikirkan Siwon akan meninggalkannya dan pergi bersama Yoona, mengingat hal itu Tiffany kembali menjadi Tiffany yang lain dan justru menatap Yoona benci.

“Apa eonnie puas….sudah memfitnahku seperti ini?”

“Sangat. Setidaknya, kalian akan benar – benar terpisah untuk selamanya, dan aku sendiri yang akan memastikan itu. Karena hanya aku yang dapat memiliki Siwon oppa, dan hanya aku saja yang boleh ada di hatinya. Jika ia meninggalkanku, lebih baik kami meninggalkan dunia bersama.”

Mata Yoona terbelalak mendengar pernyataan Tiffany. Apa wanita ini mulai gila? Yoona memang kerap kali mendapati sorot mata Tiffany yang tampak kosong dan sedikit linglung,  namun ia hanya menganggap itu hanya karena beban pikiran. Namun Tiffany yang ia lihat sekarang sanggup membuat Yoona sedikit bergidik ngeri.

Yoona menggeleng cepat sebelum Tiffany benar – benar akan melakukan hal tersebut, “Aku pastikan aku akan segera menghilang setelah melahirkan anak ini” cicit Yoona parau.

Tiffany hanya tersenyum tipis sebelum mendengar derap langkah kaki yang tergesa – gesa sedang berjalan masuk ke kamarnya. Kedua wanita itu menoleh dan mendapati sosok Kibum yang berpeluh dan terlihat sedikit khawatir—tentu saja pada Yoona. Tiffany mendelik tak suka melihat Kibum ada di kamar ini, “Apa yang kau lakukan di kamarku?”

“Menjemput Yoona yang ada di kamarmu, tentu saja.” jawabnya santai.

Tiffany berjalan keluar sembari menatap Kibum penuh arti seakan memberikan isyarat dalam bahasa yang hanya dapat di mengerti oleh mereka berdua, detik berikutnya Kibum tersenyum bahagia melihat Tiffany menunjukkan tanda tangan dalam surat itu dalam sepersekian detik. Keduanya saling mengangguk paham lalu kembali menjalankan ‘tugas’ mereka masing – masing.

Kibum langsung mendudukkan diri di samping Yoona yang sudah kehilangan tenaganya setelah penanda tanganan surat perceraian sambil membelai perutnya yang sudah besar. Seakan tidak tahu apapun, Kibum mengenggam jemari Yoona yang ada di perutnya kemudian mengelusnya perlahan, membuat raga Yoona yang sejak tadi melayang kembali dan kini ia menatap Kibum lurus.

“Kau membuatku khawatir, kukira kau melupakan tentang janji kita kemarin.”

Yoona tersenyum kecut sembari menggeleng pelan, “Aniya, aku sudah siap. Tadi….hanya ada sedikit masalah antara aku, Tiffany eonnie, dan…Siwon oppa” ucapnya dengan nada tercekat di akhir. Kibum mengangguk mengerti sebelum akhirnya memaksa Yoona untuk pergi bersamanya kembali.

“Tanpa perlu kau minta pun, detik ini juga aku akan segera meninggalkan rumah ini untuk selamanya”

Mata Kibum membulat mendengar Yoona mengucapkan kalimat itu. Bukan, bukan kalimat itu yang membuatnya sedikit kaget, namun bagaimana cara kekasihnya ini mengucapkannya dengan dingin dan ketus, serta sorot matanya yang menatap kosong kearah rumah mewah yang berdiri gagah di belakang mereka.

Neo gwaenchana?” tanya Kibum khawatir.

Melihat kondisi Yoona yang tak pernah ia lihat sebelumnya seperti sekarang, ia mulai menerka – nerka sebenarnya apa yang dilakukan Tiffany pada kekasihnya ini.

“Aku merasa tidak pernah seburuk ini sebelum hari ini” ujar Yoona pelan sambil berjalan gontai kearah mobil Kibum, meninggalkan Kibum yang mematung terpaku karena perkataan Yoona. Entah apa yang terjadi dengan Kibum dan Tiffany, keduanya justru senang melihat Siwon dan Yoona menderita. Seperti sekarang, Kibum menahan senyum kemenangannya begitu sadar rencananya dan Tiffany berhasil.

.

.

“Untuk sementara tinggalah disini. Apa kau menyukainya?”

Yoona masih mengamati apartement minimalis yang ia pijaki saat Kibum mulai menyuarakan suaranya. Apartement yang didominasi warna hitam dan putih itu memang terlihat mewah dan cukup besar untuk ditempati mereka berdua, namun interior maupun suasana di sekelilingnya membuatnya nyaman.

Ne, apa ini apartementmu?”

Kibum mengangguk sambil memasukkan koper – koper Yoona ke dalam, “Tentu saja. Aku menyiapkan apartement ini untuk kita setelah menikah nanti.”

DEG.

Mendengar kata ‘pernikahan’, Yoona kembali teringat dengan kejadian tadi siang dimana ia dipaksa untuk bercerai dengan Siwon, dengan status pengaju perceraian. Fakta itu membuatnya kembali mengatupkan mulutnya dan membisu. Kibum yang menyadari reaksi diam Yoona hanya bisa terdiam sambil bertingkah tidak tahu apapun, “Kita sudah sepakat untuk tidak membahas ini dulu, Kibum-ah.” ucap Yoona sambil tertawa kaku.

“Lupakanlah Siwon dan hiduplah bersamaku, aku yakin sebentar lagi kau akan melahirkan.”

“Kibum-ah, kumohon jangan bahas ini dulu.”

Kibum berdecak sinis mendengarnya, “Wae? Apa kau mulai  meragukanku?”

Aniya, bukan begitu. Aku hanya belum siap untuk ini semua.”

Kibum menyeringai sinis mendengarnya, “Belum siap? Bukankah kau akan bercerai dengan pra itu sebentar lagi?”

Yoona langsung menoleh kearah Kibum dengan ekspresi kaget dan bingung. Mengapa Kibum tahu tentang perceraian itu? Padahal sejak tadi Yoona tidak membahasnya dan memikirkannya, bagaimana bisa pria ini tahu?

“Kau…darimana kau tahu tentang perceraian itu?”

Pria yang kini ditatap Yoona curiga hanya mengumpat dalam hati ketika kalimat itu dengan gamblangnya keluar dari bibirnya, ia berusaha bersikap santai namun tegas, “Itu tidak penting. Yang harus kau tahu adalah…..Yoona-ya, jika kau meninggalkanku demi Siwon, mungkin hari itu juga kau akan menemukan jasadku terkapar tak berdaya di tempat ini”

Mata Yoona terbelalak kaget mendengarnya, sorot matanya yang teduh kini berapi – api. Jelas ia tidak suka dengan arah pembicaraan  Kibum saat ini, “Jaga bicaramu, Choi Kibum!”

“Kau pikir aku bercanda?!”

Tubuh gadis itu terlonjak begitu Kibum kini menatapnya dengan mata gelap dan rahang mengeras, belum lagi pria itu kini sedang memegang sebuah pigura foto di tangan kanannya. Yoona berusaha mencari jiwa seorang Choi Kibum yang ia kenal namun ia tak dapat menemukannya dari balik matanya saat ini, “Matahari adalah poros dari tata surya, eksistensinya sangat penting untuk kelangsungan hidup terutama untuk bumi. Menurutmu apa yang akan terjadi di bumi jika matahari tidak memancarkan sinarnya lagi? Seluruh dunia akan dilanda kegelapan, seakan tidak ada kehidupan dan tak bernyawa. Dan Im Yoona, sekarang kau adalah matahariku, poros kehidupanku, tujuan hidupku, oksigen untuk kehidupanku. Mungkin jika kau meninggalkanku, aku akan menjadi seperti kota – kota yang tak ada matahari dan tidak bernyawa detik itu juga.”

“Choi Kibum, neo micheoseo? Lebih baik hentikan dan lupakan topic ini, aku ingin mandi.” Yoona menutup topic pembicaraan  yang sedang dihindarinya dengan segera melangkahkan tubuh berisinya—yang mulai membesar semenjak memasuki fase hamil tua—ke dalam kamar mandi.

Suara pintu tertutup menyadarkan Kibum dari kekosongan pikirannya yang sempat mencuri kesadarannya selama beberapa detik. Matanya menatap tajam kearah pintu dengan tangan mengepal keras, perasaan bencinya pada Siwon semakin menjadi sekarang membuat kesadaran jiwanya semakin menipis terbakar oleh api cintanya untuk Yoona.

“Jika aku tidak dapat memiliki Yoona, aku tidak akan membiarkan kau memilikinya, Choi Siwon”

**

Darah yang menetes dari lengan kanannya pasca aksinya beberapa menit yang lalu bukanlah alasan mengapa Siwon merasakan sakit yang begitu menyiksa dirinya hingga ke ulu hatinya. Beberapa pigura foto sudah  berserakan di atas lantai bersama dengan beberapa lembar kerja yang ada di mejanya saat ini, bahkan sebuah computer layar datar nan tipis dengan harga fantastis pun kini tergeletak tak berdaya di lantai marmer ruang kerjanya. Kini Siwon menangkupkan wajahnya diatas meja kerjanya yang kosong, membiarkan meja itu terkena darahnya yang memang belum dibersihkan sama sekali sejak tadi. Bahkan ia tak mempedulikan fakta bahwa ia bisa saja kehilangan nyawanya detik ini juga karena kehabisan darah. Karena yang ia pikirkan hanyalah sosok gadis bernama Im Yoona yang sukses membuat dirinya kacau balau.

Suara pintu terbuka menggema di tengah sunyinya ruangan, menampakan sosok wanita dengan dress berwarna hijau tosca yang membawa kotak P3K besar sedang menatap nanar kearah suaminya yang terlihat akan mati detik itu juga jika ia tidak muncul untuk memeriksa dan mengkhawatirkan keadaannya.

Tiffany menghela nafasnya singkat lalu menghampiri Siwon yang masih termenung tanpa menyadari kehadirannya. Wanita itu menghiraukan suasana kacau ruangan ini atau suara bunyi retak kaca karena terkena heels sepatunya yang mengetuk – ngetuk mengisi kekosongan ruangan.

“Berikan tanganmu padaku”

Suara lembut itu menggema halus di gendang telinga Siwon, pria itu mendongak singkat dan melihat sosok istrinya sudah berdiri di dekatnya sambil membawa sebuah kursi yang memang ada di ruangannya. Tiffany berdecak sebal saat melihat Siwon tidak mengikuti perintahnya, wanita itu segera menarik tangan bersimpah darah suaminya dari atas meja dan mulai mengeluarkan beberapa kapas, obat, dan alcohol. Setidaknya setelah beberapa minggu ia melayani di Afrika, ia tahu bagaimana caranya untuk menghalau infeksi dan pertolongan pertama.

“Setelah aku membersihkan ini, kita harus segera ke rumah sakit”

Siwon hanya memandangi surai cokelat Tiffany yang menutupi sebagian wajahnya yang sedang fokus mengobati luka – lukanya. Pria itu mendesah pelan lalu menatap jauh ke depan dengan tatapan kosong, “Aku tidak tahu Yoona bisa mengkhianatiku sejauh ini” gumam Siwon pelan namun sukses membuat tubuh Tiffany membeku di tempat dan pergerakannya terhenti selama beberapa detik sebelum wanita itu memutuskan untuk menutup telinganya dan berkonsentrasi pada darah – darah yang mengotori dan melukai tangan suaminya.

Pandangan mata Siwon memandang lurus kearah jendela ruang kerjanya yang menampilkan taman belakang rumah besarnya. Kesadaran jiwanya mulai menguap saat ia kembali teringat pada Yoona dan perceraiannya, ia ingin mengungkapkannya pada seseorang sampai otaknya seakan buta untuk menyadari siapa yang ada di depannya saat ini, “Walaupun aku jarang menghabiskan waktu dengannya, namun aku seakan sudah mengenalnya dengan baik, terlebih saat kami berada Macau. Aku melihat sisi dari dirinya yang tak pernah ia tunjukkan pada orang lain dan aku menyimpulkan ia memang bukan gadis seperti itu. Namun, surat cerai itu sukses menamparku dengan semua kepalsuannya padaku…namun aku tahu ia mencintaiku.”

Kesadaran Siwon seakan kembali begitu mendengar geraman Tiffany, namun pandangannya tetap datar saat menatap sorot mata istrinya yang mengandung luka, jiwanya seperti sudah dibawa pergi oleh gadis bernama Im Yoona….begitupun cintanya.

“Apa oppa baru saja membahas wanita lain di depan istrimu sendiri?”

“Tapi wanita yang sedang kubahas istriku juga”

Tiffany menatap tak percaya mendengar kalimat singkat Siwon yang diucapkannya dengan begitu cepat dan lugas. Kalimat itu langsung menamparnya dengan begitu kejam, betapa sakitnya dia menyadari bahwa suaminya sudah berpaling pada wanita lain, istrinya yang lain.

“Dia hanya istri kontrak yang melahirkan bayi untuk melengkapi pernikahan kita, apa aku harus memasang spanduk itu di depan pintu kamar kita? Dan bukankah kau membencinya dan pernikahan kalian sejak awal?”

Suasana mencekam langsung menyelimuti keduanya begitu Tiffany menyelesaikan kalimatnya membuat emosi Siwon meningkat drastis dari sebelumnya. Bahkan wanita itu terkesiap melihat Siwon langsung menatapnya dengan tatapan dingin yang baru pertama kalinya pria itu lontarkan untuk dirinya, pria itu jelas menunjukkan kemarahannya dari bahasa tubuhnya dengan mata tajamnya.

“Mungkin aku memang membencinya dulu, namun perasaan itu menghilang dan digantikan oleh perasaan tak ingin kehilangna yang begitu mendominasi. Dan tolong berhenti menyebutnya istri kontrakku! Aku tidak peduli apa status yang kau berikan untuknya, namun untukku ia tetap istri yang aku cintai. Karena aku akan bercerai dengannya, aku tidak berminat untuk terikat dalam sebuah hubungan pernikahan lagi. Fany-ah, kumohon ceraikan aku.”

DEG.

BRAK~

Kotak P3K yang ada di pangkuan Tiffany terjatuh saat pemegangnya menghempaskannya begitu saja, begitupun tangan Siwon yang kini berada di atas meja dengan beberapa balutan kapas. Bola mata Tiffany membulat sempurna diiringi dengan otot tubuhnya yang melemah seakan kehilangan tenaga untuk menopang daging di tubuh langsingnya, sorot matanya meneriakkan penolakan itu dengan begitu lantang namun lidahnya terasa kelu untuk menyuarakan pemberontakan dalam hatinya.

MWO?”

Dari sekian juta kalimat yang ingin Tiffany ucapkan, hanya kata itu yang sanggup diucapkan wania itu dengan lugas.

Siwon membuang nafasnya kasar sebelum menatap Tiffany kembali—masih dengan tatapan kosong dan hampa. Air mata Tiffany sudah membanjiri kedua matanya walaupun mulutnya masih bungkam dalam mimpi buruknya ini.

Siwon ingin bercerai darinya karena Yoona?

Ini mimpi buruk Tiffany selama ini yang menjadi kenyataan. Kesadaran pasangan suami istri ini mulai menguap seiring dengan bayangan Yoona yang merasuki pikiran keduanya. Siwon sangat ingin bersama Yoona sedangkan kini Tiffany benar- benar membenci Yoona sepenuh hati dan bersumpah akan melakukan segala cara untuk membunuh Yoona jika wanita itu berani merebut Siwon darinya.

“Aku sudah terlanjur mencintai gadis itu”

Tatapan Tiffany kali ini jauh lebih menyeramkan daripada singa yang mengamuk. Wanita yang biasanya akan berusaha terlihat tenang dalam menghadapi apapun kini harus menahan diri untuk tidak memecahkan vas bunga di belakangnya, “Neo baboya? Kau mencintai gadis yang bahkan mengkhianatimu disaat ia masih terikat suatu pernikahan dengan seorang laki – laki? Oppa, Yoona berpacaran dengan Kibum sekarang! Mengapa kau memilih wanita yang tidak setia sepertinya dibanding diriku?”

“Aku yakin Yoona memiliki suatu alasan mengapa menerima keparat bodoh itu. Yoona mencintaiku dan ia mengira aku tidak mencintainya sehingga ia terpaksa menerima Kibum yang mengemis meminta cintanya. Aku tahu itu dan bahkan kau tahu tentang ini, Tiffany Hwang!”

Oppa, neo michesseo? Kau tetap mempertahankan gadis desa itu dibanding aku?”

Ne, karena aku benar – benar tidak bisa melanjutkan ini, Tiffany-ah. Aku lelah, pernikahan kita membuatku kacau dan bingung serta depresi.”

“Jadi maksud oppa….kau menyesal pernah menikah denganku?”

“Bukan begitu, aku—“

“SEHARUSNYA AKU YANG MENYESAL DAN MERASA DEPRESI!”

Siwon terkesiap kaget melihat perubahan emosi Tiffany, bahkan wanita itu sudah berdiri sembari mencengkram bahu Siwon dengan kuku – kuku panjangnya, menatap Siwon marah dengan deraian air mata yang membanjiri kedua pipinya, “Apa oppa tahu betapa tersiksanya aku saat berusaha untuk bersamamu sejak dulu? Ibumu bahkan menentang hubungan kita sejak awal namun kita terus berjuang hingga sampai sejauh ini. Namun, setelah kita berhasil melewati badai pertama, kita gagal di badai kehidupan kedua? Apa sebenarnya oppa memang bertujuan untuk membuatku seperti ini sejak awal, jatuh cinta padamu sampai seperti ini dan kau mencampakanku seperti sampah? Lalu apa arti semua kata cinta yang kau ucapkan selama ini? Apa oppa tidak mencintaiku sejak awal? Aku rasanya ingin mati jika mengingat betapa besarnya rasa cintaku padamu!”

Siwon memang sedikit terhenyak melihat kondisi Tiffany yang begitu menderita saat ini, namun ia harus menyadarkan istrnya ini, “Aku memang mencintaimu, Tiffany Hwang. Tapi bukan Tiffany Hwang yang ada di hadapanku sekarang.”

“Apa kau bilang?”

Keduanya kini saling menatap dengan tatapan sinis seakan sedang menatap musuh mereka, berbeda sekali dengan saat pertama kali mereka bertemu. Siwon menyeringai tipis sebelum membuka mulutnya, “Aku memang mencintai wanita bernama Tiffany Hwang, tapi bukan Tiffany Hwang yang sekarang ada di depanku. Aku tidak mengenalmu lagi Tiffany, kau berubah dan aku tidak mengenal dirimu yang sekarang. Saat ini kau adalah Tiffany Hwang yang penuh akan ambisi dan segala kejahatan yang ada di kepalamu, bukan seperti Tiffany Hwang yang anggun dan tulus seperti saat pertama kali mataku bertemu dengan matamu.”

Air muka Tiffany langsung meredup mendengar untaian kalimat membunuh yang dikatakan Siwon beberapa detik yang lalu. Air mata semakin membanjiri wajah cantiknya, matanya memejam menahan perih yang menghujam dadanya, kini ia merasa terpuruk dan tak tahu lagi harus berbuat apa disaat seluruh nafasnya akan pergi meninggalkannya. Siwon meninggalkannya, pusat kehidupannya akan pergi meninggalkannya.

“Aku melakukan ini karena oppa melupakan janji kita untuk hidup bersama sampai maut memisahkan kita dan mencintai satu sama lain dengan sepenuh hati. Ternyata janji hanyalah sekedar janji untukmu, Choi Siwon.”

Memori pemberkatan pernikahan mereka seakan berputar di pikiran keduanya seperti sebuah film lama, membuat keduanya sedikit terhenyak beberapa menit. Siwon memejamkan matanya frustasi sedangkan Tiffany kini menumpahkan seluruh air matanya begitu ingatannya seakan membawanya ke masa lampau, dimana ia melihat mereka berdua saling mencintai tanpa kehadiran Yoona, sambil menatap penuh cinta terhadap satu sama lain. Betapa keduanya merindukan kenangan itu, namun Siwon sudah membuang cintanya pada Tiffany sejak ia menyadari istrinya mulai berubah…dan ia baru menyadarinya hari ini.

“Aku bukanlah penyebab janji kita terlanggar, tapi kau yang membuat aku melakukannya. Jika kau tidak menunjukkan ketamakanmu dan tetap menjadi Tiffany Hwang yang dulu, mungkin hatiku tidak akan tergerak. Namun melihat perubahanmu serta sosok wanita yang kuingini kini ada dalam diri Yoona, bersama dengan itu perasaanku untukmu telah hilang. Mianhae, Fany-ah….kita harus berpisah, aku tidak bisa bersamamu lagi.”

Setelah mengatakan kalimat yang membuat Tiffany tewas di tempat, Siwon melewati Tiffany dan berjalan keluar ruang kerjanya, tanpa mempedulikan tubuh langsing Tiffany yang kini terjatuh tak berdaya di lantai dengan deraian buliran-buliran bening yang mengalir deras lewat matanya, membuat dirinya terlihat mengenaskan setiap detiknya. Isakannya begitu pilu dalam tangisnya yang begitu lama dan keras seakan tidak ada hari esok untuk menuntaskannya. Tanpa disadari, Tiffany Hwang yang lama benar – benar pergi saat ini, jiwa maupun sifat lamanya seakan membeku oleh air mata yang berdesakan tumpah di pipinya, kini yang ada hanyalah Tiffany Hwang yang penuh ambisi akan cintanya pada Choi Siwon.

“Aku tidak akan pernah membiarkan kau mencampakanku dengan cara rendahan seperti ini, Choi Siwon”

**

Semenjak hari dimana Siwon memutuskan untuk bercerai dengan Tiffany, mereka tidur di kamar yang terpisah meskipun tetap berada dalam satu atap walaupun terkadang Siwon tidak pulang dan memutuskan untuk menginap di kantornya atau di apartement pribadinya. Tiffany menempati kamar utama sedangkan Siwon memilih untuk tidur di kamar Yoona sewaktu wanita itu tinggal disini. Mencium feromon Yoona yang sayup – sayup menempel di bantalnya seakan menjadi obat rindu Siwon saat ini.

Siwon tidak mengerti mengapa dirinya bisa terlarut akan sosok Yoona sedalam ini, ia memang sempat tidak menyukai Yoona, namun ada sisi dari gadis itu yang selama ini ia cari dalam diri Tiffany namun tak kunjung menemukannya. Mungkin itu alasannya sangat mudah berpaling dari istri yang begitu ia cintai ke istri yang selama ini tak pernah ia anggap keberadaannya. Kini Siwon terheran mengapa seseorang sanggup memiliki pasangan hidup lebih dari satu, ia bisa merasakan pening yang begitu menyiksa jika teringat nasib yang menyebalkan ini. Setidaknya jika ia hanya memiliki Tiffany atau Yoona, beban hidupnya tidak akan seberat ini. Malam semakin merayap jauh hingga tak Siwon sadari ia sudah tenggelam ke dalam lautan dunia mimpi yang menariknya jauh dari maslaah pelik yang ia hadapi sekarang.

Sedangkan Tiffany belum bisa memejamkan mata indahnya begitu saja setelah dirinya dan orang yang ia cintai memulai perang dingin sejak beberapa hari yang lalu. Single sofa di balkon kamarnya selalu ia duduki setiap malam sambil sesekali tertawa sendiri untuk meredakan rasa sakit yang menyiksa di dalam hatinya.

Sayup – sayup ia mendengar nada dering ponselnya berdenting riang dari meja kecil di sampingnya, dengan setengah kekuatannya ia meraih ponsel itu dan mendekatkannya ke telinganya begitu melihat nama Kibum tertera di layarnya, “Kibum-ah

“Ada apa, Tiffany Hwang?”

“Aku butuh bantuanmu”

“Tentang apa kali ini?”

“Memang masalah apalagi yang menjadi permasalahan utama dalam hidupku jika bukan tentang Siwon?”

Kibum tertawa tipis mendengar nada sakratis Tiffany yang terdengar begitu lantang di telinganya, “Easy, honey. Seharusnya aku bisa menebak akan ada masalah diantara kalian setelah surat gugatan cerai Siwon dan Yoona keluar, kali ini apa?”

Tiffany mulai terisak di tempatnya saat ia akan menceritakan mimpi terburuk dalam hidupnya, “Siwon…dia ingin bercerai denganku karena ia sudah mengaku padaku bahwa ia mencintai Yoona.”

Kibum nyaris saja menjatuhkan ponselnya jika ia tidak memusatkan konsentrasi penuh. Ia jelas terkejut mendengar berita yang baru ia ketahui setelah beberapa hari pengumuman itu diucapkan. Siwon bercerai dengan Tiffany karena ia mencintai Yoona? Kenapa hal mengerikan ini baru sampai di telinganya sekarang?

“MWO? Kenapa kau baru mengatakannya padaku!?”

“Aku terlalu kalut untuk berbicara padamu, pikiranku benar – benar kacau beberapa hari ini, karena itu aku baru bisa menghubungimu tadi sore karena aku membutuhkan bantuan dan otak cemerlangmu untuk menyelesaikan ini”

Kibum terlihat berpikir keras untuk mencari akal agar Siwon dan Tiffany tidak bercerai. Yang benar saja, selama berbulan – bulan ia sudah menyusun berbagai rencana licik untuk membuat Siwon dan Yoona berpisah dan ia bisa bersama Yoona, sekarang bom atom seakan jatuh merusak semua rencana yang sudah ia bangun. Kibum seakan buta akal saat ini karena ia terlanjur panik dan takut kehilangan Yoona, pria itu mengacak – acak rambutnya frustasi sambil terus berfikir keras.

Kini keduanya terdiam masih dalam sambungan telepon sambil memikirkan cara untuk keuntungan masing – masing. Tiffany tersenyum puas begitu sebuah ide terlintas begitu saja dipikirannya, tanpa ragu ia mulai berdeham untuk mencarikan suasana, “Kibum-ah, menurutku lebih baik kita mempercepat seluruh rencana kita yang sudah tersusun rapi dibanding membuat rencana baru dan menghancurkan semuanya, bagaimana?”

Kibum mengernyitkan keningnya bingung, “Apa maksudmu?”

“Bagaimana kalau kau mempercepat rencanamu yang ingin melamar Yoona? Jika kau sudah melamarnya semua akan terasa lebih mudah dan efisien. Jawaban apapun yang diberikan Yoona nanti, kita harus tetap menjalankannya sesuai rencana kita.” Ucap Tiffany dengan nada misterius, entah apa yang sudah mereka rencanakan pada Siwon dan Yoona.

Kibum tersenyum mendengar gagasan Tiffany yang terdengar begitu cemerlang kali ini. Kenapa ia sibuk berpanik ria sedangkan ia sudah menyiapkan rencana itu dengan Tiffany dengan sangat matang dan rapi? Jika seperti ini, ia hanya bisa menyalahkan diri sendiri yang terlalu cepat panik.

“Ide bagus. Kalau begitu, aku akan melamar Yoona secepatnya, mungkin besok atau lusa mengingat aku bahkan belum membeli cincin bodoh itu”

Tiffany hanya tersenyum kecut mendengarnya, “Sudah kuduga akan sedikit terhambat karena kelambananmu, Choi Kibum! Lebih baik bergerak cepat, kalau bisa kau sudah melamarnya sebelum Siwon mendapat panggilan dari pengadilan untuk sidang perceraiannya dengan gadis itu.”

Kibum mengangguk tipis sembari jemari tangannya mengelus tembok yang berisi foto Yoona. Senyumnya mengembang begitu membayangkan dirinya akan mengucap janji suci bersama gadis itu. Pria ini sudah terobsesi dengan Yoona terlalu jauh dan rela menyakiti siapapun yang merebut gadis itu dari tangannya, terutama Choi Siwon.

“Aku akan mengabarimu nanti setelah aku mendapatkan cincinnya. Kumohon awasi Siwon dari sana dan ingat….gunakan senjata – senjata kita disaat genting seperti waktu kau membeberkan hubunganku dengan Kibum kemarin”

“Arasseo”

KLIK~

Kibum melempar ponselnya kearah meja namun matanya fokus ke satu foto Yoona yang sedang tersenyum manis di depan kamera. Rasa cinta Kibum yang sudah berlebihan kian bertambah setiap detiknya. Terlebih ruangan ini dipenuhi oleh foto gadis itu.

Ruangan dengan penyinaran remang – remang ini terlihat begitu misterius dan bengis, walaupun ruangan didominasi oleh warna putih dan foto Im Yoona, namun seluruh foto keluarga Choi terpampang di dinding dengan kondisi foto Siwon yang sudah robek – robek terkena tusukkan paku payung, seakan Kibum menyalurkan rasa bencinya pada Siwon lewat foto itu.

Sungguh, orang yang melihat kondisi Kibum saat ini pasti bisa menerka kondisi kejiwaannya. Di ruangan ini ia sepuasnya memandangi ribuan foto Yoona sejak gadis itu masih balita hingga sekarang, semua tersusun dengan rapi sebagai wallpaper ruangan, belum lagi beberapa foto kemesraan Siwon dan Yoona serta berita – berita yang meliput tentang Siwon dan Yoona beberapa bulan yang lalu juga terpampang disana. Semua yang berhubungan dengan gadis bernama Im Yoona itu ada disana.

Karena Kibum begitu mencintai gadis itu.

Dan akan membunuh siapapun yang akan merebut kekasih hatinya dari sisinya.

Termasuk Choi Siwon.

**

Yeobo!”

Jungsoo mencari – cari sumber suara cempreng khas istrinya di seluruh penjuru airport. Lesung pipi pria itu mencuat keluar saat melihat sosok mungil berperut buncit kini sibuk melambaikan tangannya kearahnya sambil membawa banner ‘Suamiku Tercinta, Aku Disini!’ dengan font huruf yang begitu besar dan warna yang sangat mencolok. Jungsoo hanya tertawa pelan melihatnya sebelum ia berlari kencang karena tak sabar memeluk tubuh istrinya yang begitu ia rindukkan selama hampir 3 minggu.

Yeobo, na bogoshippo!”

Nado, apa oppa sudah makan?”

Jungsoo hanya mengangguk diatas bahu putih Taeyeon, keduanya merasakan kehangatan dan kerinduan yang menjalar seakan menikmati moment kebersamaan mereka.

“Kau tidak lupa membawa oleh – oleh, kan?” cicit Taeyeon dengan mata menyipit setelah melepaskan pelukannya.

“Tenang saja, aku membawa kado special untukmu!”

Taeyeon mendesah senang melihat boneka ginger berukuran bear serta dookong peas ada di tangan Jungsoo. Gadis itu segera memeluk suaminya riang sambil merebut boneka itu, “Gomawo, yeobo! Kau memang suamiku yang terbaik”

Jungsoo hanya tersenyum tipis lalu mengelus perut Taeyeon dengan penuh kasih sayang, “Apa dia tidak apa – apa di dalam sini? Bagaimana dengan princess kita yang ada di rumah?”

“Semuanya baik dan tentunya merindukan ayah mereka yang jelek ini. Huh, kenapa oppa tidak kembali saja bersama Kibum saat itu, bilang saja pada kantor kalau kau di undang ke pesta ulang tahun temanmu juga”

Jungsoo tertawa lalu mengelus rambut lurus Taeyeon lembut, “Untuk jabatan sepertiku tidak akan mudah pergi seperti Kibum. Tapi tunggu, pesta ulang tahun?”

Taeyeon mengangguk pelan sembari menatap suaminya aneh, “Ne, saat aku ke rumah Siwon kemarin ia bilang ada pesta ulang tahun teman lamanya sehingga ia harus kembali lebih awal. Waeyo yeobo?”

Jungsoo menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil menatap Taeyeon ragu, “Aneh, ia bilang padaku sahabatnya saat SMA sedang sakit keras dan ia ingin menjenguknya sebelum terlambat sehingga ia harus pulang cepat. Apa aku salah dengar? Mengapa jawabannya sangat berbeda?”

Taeyeon terhenyak mendengar pernyataan Jungsoo tentang alasan kepulangan Kibum. Dari sini Taeyeon dapat menyimpulkan bahwa Kibum berbohong padanya—dan juga pada suaminya. Entah kenapa wanita ini semakin menyadari apa tujuan Kibum pulang cepat, sepertinya benar dugaannya selama ini, Kibum memang menyukai adik iparnya dan itu tidak boleh terjadi.

“Ini sudah malam, ayo kita pulang!”

Taeyeon tersentak kaget begitu tangan kekar Jungsoo sudah melingkari bahunya. Ia pun harus menunda keinginan untuk menghancurkan wajah Kibum dan kembali ke dunia nyata bersama sang suami yang baru saja pulang, “Ne, kajja!”

**

Perceraian Siwon dan Yoona pun mulai diurus oleh Tiffany—dibantu oleh Kibum—dengan cukup baik. Tiffany dan Kibum menyuap hakim untuk mengikuti perintah dari mereka kapan harus memanggil Siwon untuk pengadilan perceraiannya, dan hakim itu setuju mengingat uang yang diberikan untuknya sangat besar dan menggairahkan kedagingannya. Kedua insan ini sibuk memikirkan rencana – rencana kotor mereka untuk menghancurkan Siwon maupun Yoona, tanpa sadar mereka sudah terpuruk terlalu jauh dalam kejahatan mereka sendiri. Keduanya sangat mencintai pasangan masing – masing terlalu dalam namun tak dapat menghalaunya dengan bijak sehingga inilah yang terjadi, mereka memilih melihat orang yang mereka cintai menderita dibanding harus berpisah dengan mereka.

Sedangkan Siwon dan Yoona yang tidak tahu apa – apa hanya bisa berpasrah dalam permainan takdir yang terjadi pada mereka. Keduanya sama – sama murung dan sedih jika mengingat tentang perceraian itu, terlebih Siwon yang baru menyadari betapa ia sudah menaruh hati pada Yoona sejak lama. Yoona terus menangis dalam diam agar tidak terdengar oleh Kibum sedangkan Siwon mulai masuk ke dunia malam yang dipenuhi dengan alcohol dan hal – hal duniawi yang lainnya.

Namun Siwon tidak sebodoh itu, ia terus menyelidiki beberapa hal yang menurutnya sangat mencurigakan, terutama pengajuan cerai yang diajukan Yoona atas nama dirinya sendiri. Siwon menyuruh beberapa anak buahnya untuk mencari tahu kebenarannya sedangkan ia sudah menemukan kegiatan lainnya selain pulang – pergi antara rumah-kantor-club malam, yaitu memandangi Yoona dari kejauhan.

Seperti dugaannya, Yoona memang selalu menjenguk sang ayah yang masih tak berdaya di atas ranjang rumah sakit selama berbulan – bulan. Ternyata Kibum tidak sepenuhnya mengurung Yoona di apartement—yang sudah Siwon ketahui tempat dan bahkan nomor apartement mereka. Memang tetap Kibum yang mengantar jemput Yoona saat sang ayah, namun tidak ada pengawasan yang ketat untuk Yoona sehingga Siwon dengan bebasnya bisa mengamati wajah tirus nan pucat Yoona yang entah mengapa ia rindukan. Pria itu hanya bisa memperhatikan gerak – gerik Yoona sera mendengarkan dengan baik setiap perkataan gadis itu dari balik kaca pintu yang ada di ruangan Im Sang Woo, ayah mertuanya.

Appa, kau harus bangun agar aku bisa menanggung beban ini dengan dukunganmu dari belakang. Kau tahu, semenjak kau terbaring disini, aku benar – benar lemah dan merindukanmu.” ucap Yoona parau.

“Banyak hal yang kau lewati saat matamu terpejam dan tubuhmu tergeltak tak berdaya disini. Bukankah appa ingin melihat putrimu yang cantik ini menikah dan bahkan memiliki anak? Aku sudah melewati fase itu walaupun tanpamu di sisiku secara visual. Walaupun pernikahan ini hanay sementara, namun aku senang pernah merasakan bagaimana kehidupan berumah tangga bersama pria bernama Choi Siwon”

Siwon membuang nafasnya kasar setelah mendengar untaian kalimat Yoona, pria itu tahu Yoona juga tersiksa dengan ini semua. Tunggu, siapa yang tidak akan tersiksa jika dihadapi oleh situasi seperti ini? Bahkan ia tahu Tiffany dan Kibum juga tersiksa akan keadaan ini.

“Tapi sungguh appa….aku tidak pernah menginginkan perceraian ini terjadi. Aku tahu ini salah, tapi aku mencintai suamiku. Aku terpaksa menceraikannya karena dipaksa oleh Tiffany eonnie, aku sesak membayangkan harus berpisah darinya sekalipun selama ini hubungan kami tidak pernah terlihat benar – benar baik. Terlebih saat melihat wajah terlukanya saat Tiffany eonnie mengatakan aku menggugat cerai dirinya, sungguh aku tidak tahu apapun tentang surat itu…aku hanya boneka yang di kendalikan dan menurut saat sang majikan menyuruhku menandatangani itu. Aku benar – benar hancur sekarang, mungkin jika appa tidak bertahan hidup aku sudah menyusulmu detik ini juga.  Appa ireonabwa, aku membutuhkanmu”

Siwon menatap miris kearah Yoona melalui sela kecil yang sengaja ia buat untuk mendengarkan seluruh ungkapan perasaan Yoona. Perasaan marah dan kecewa kini menerjang Siwon, ia sudah menduga Yoona bukanlah gadis yang seperti itu. Ia hanya tidak menyangka Tiffany yang ia kenal benar – benar berubah sekarang, bahkan dengan teganya wanita itu memfitnah dan menuduh Yoona atas tindakan yang ia lakukan sendiri? Kemana sisi lama Tiffany pergi? Ia harus menghentikan aksi Tiffany dan menyelesaikan permasalahan ini, ia yakin surat cerai itu ada di tangan Tiffany dan bukan Yoona.

Namun ada sisi lain dari dalam dirinya yang ingin membawa gadis itu ke dalam pelukkannya, ia lelah melihat air mata Yoona yang terus keluar semenjak masuk ke dalam kehidupannya. Dan dengan adanya bukti nyata dari mulut Yoona sendiri tanpa rekayasa belaka, ia semakin yakin Yoona benar – benar terjebak dalam situasi yang tak dimengerti Siwon. Baru saja kakinya akan melangkah meninggalkan rumah sakit dengan serangkaian rencana untuk memecahkan barang, deringan ponsel menginterupsi kegiatannya. Siwon melihat secercah harapan begitu nama anak buahnya terpampang di layar.

“Apa ada perkembangan tentang pengajuan surat cerai itu?” tanyanya tanpa basa – basi.

Sebenarnya Siwon sudah tidak memerlukannya mengingat ia sekarang tahu bukan Yoona yang mengajukannya, namun siapa tahu anak buahnya ini akan menyampaikan sesuatu seperti angin segar yang dapat membuka kebenaran permasalahan ini.

“Kami berhasil menemukan siapa pengaju surat cerai itu, boss”

.

.

“Pria ini bernama Kim Heechul, berusia 34 tahun, asal negara Korea Selatan dan baru kembali ke negara ini setelah menetap hampir 25 tahun lamanya di Amerika, dan tidak ada pekerjaan pasti yang tertulis disana saat kami mencari tahu tentangnya”

Siwon mengangguk pelan sembari memperhatikan rekaman CCTV hitam putih yang kini terpampang dihadapannya.

“Kami berhasil mendapatkan rekaman ini dan setelah memperhatikannya, kami menduga pria inilah yang mengajukan surat cerai atas nama Yoona agassi. Tentunya dengan beberapa uang tambahan untuk pengurus surat – surat itu agar bisa meluluskannya menjadi sebuah pengajuan resmi.”

Siwon mengamati pria bertubuh jangkuk dan kurus itu dengan seksama. Terlihat dari sisi manapun perawakan pria ini jelas pria asing untuknya, mungkin tidak terlalu asing tapi ia merasa wajah pria ini bukan dalam daftar penting kehidupan maupun bisnisnya sehingga tidak perlu untuknya mengingat siapa gerangan dirinya. Jika diperhatikan, tingkah pria ini memang aneh. Dalam rekaman CCTV tak bersuara itu, Siwon dapat menangkap gerak – gerik mencurigakan dari pria berwajah cantik ini. Terlihat ia seperti sedang bernegoisasi dengan pembuat surat cerai itu, terutama saat pria itu mengeluarkan sebuah amplop dan mendorongnya kearah seorang administrator, dan setelah itu semuanya terjadi begitu saja saat administrator itu mengangguk paham lalu mulai mengetik sesuatu di komputernya. Tak lama pria itu keluar dari sana dan sosoknya menghilang dari kamera CCTV itu.

“Apa kalian menemukan rekaman CCTV lain saat pria ini pergi?”

Anak buah Siwon mengangguk semangat sembari membuka file video lainnya dan menunjukkannya pada bossnya, “Kami juga berhasil mendapat rekaman CCTV di luar gedung dan kebetulan kamera CCTV menyorot kearah pria itu pergi”

Siwon kembali memfokuskan matanya melihat rekaman yang kedua ini. Pria itu dengan santainya keluar dengan sebuah map merah yang sempat ia pegang beberapa hari yang lalu. Ah, jadi memang seseorang mengharapkan perceraian antara aku dan Yoona, siapa kira – kira yang melakukan ini? Batin Siwon mendengus jijik berakting tak tahu siapa yang paling bernafsu melihat mereka bercerai.

Pria itu masuk ke kursi pengemudi dan mobil itu statis selama beberapa menit sebelum akhirnya mulai meninggalkan lapangan parkir. Siwon mengernyitkan keningnya tak terima.

“Hanya seperti ini?”

Anak buah itu mengangguk ragu, “Ne. Kami sudah memeriksa seluruh CCTV dalam jangka seminggu sebelum maupun sesudah kedatangannya dan kami hanya menemukan dua potongan gambar yang berhubungan tentang pria itu dalam hari yang sama, sisanya hanyalah gambaran orang berdarah tinggi mengacak – ngacak kantor ini, seorang wanita menggendong bayi sembari menangis, atau sepasang suami istri berdebat di depan notaris. Semuanya terlihat normal selain pria ini karena ialah yang memasang wajah datar dan menyuap para administrator, karena itu kami mencurigainya, boss.”

Siwon memang menyetujui pernyataan anak buahnya mengenai gerak – gerik pria ini yang datang kesini tidak dengan motif untuk bercerai dengan seseorang, tapi menceraikan seseorang. Ia terus mengulang dan mengulang rekaman CCTV itu sekalipun tak ada yang berarti selain pergerakan pria itu menuju mobil serta mobil berjalan meninggalkan tempat parkir, namun hal itu tak membuat Siwon gentar karena ia sudah mencurigai pria itu, terlebih melihat amplop yang dibawa pria itu sama persis dengan amplop yang Tiffany berikan padanya beberapa hari yang lalu.

Mata Siwon membulat sempurna begitu melihat secercah harapan mulai muncul begitu ia menemukan sebuah petunjuk, “Chamkkaman, plat mobil pria ini…astaga, kenapa aku tidak memikirkannya sejak tadi! Cepat cari keterangan tentang mobil ini!”

Beberapa anak buah Siwon pun terkesiap menyetujui kecerdasan majikan mereka. Kini mereka mulai sibuk mencari – cari posisi dan pemilik mobil ini, beberap dari mereka pun ada yang meminta ke kantor kepolisian atau mencarinya dengan hacking system kepolisian. Sedangkan Siwon sibuk mengusap dagunya sambil menajamkan pandangannya pada rekaman CCTV itu.

“Boss! Ternyata mobil ini milik Tuan Choi Kibum, setelah kami selidiki Choi Kibum siapa yang dimaksud, ternyata beliau merupakan Choi Kibum saudara anda.”

Siwon tersenyum sinis mendengarnya. Sudah ia duga, pasti pria sialan itu yang melakukan ini semua, siapa lagi yang bisa melakukan hal – hal sejenis ini dengan begitu rapi dan tak terbaca? Ini sangat-sangat Choi Kibum.

“Ternyata memang ia dalang dari masalah rumah tanggaku. Kurasa aku tahu siapa yang merubah Tiffany menjadi sosok asing seperti ini. Yoona…aku harus membawanya pergi dari apartement itu malam ini juga sebelum sesuatu yang bruuk terjadi.”

**

Langit hitam pekat itu kini tampak tersenyum berkat sinar rembulan yang memantulkan cahaya redup menghiasi malam ditemani oleh bintang – bintang yang bertebaran diatas sana seakan menunjukkan bahwa cakrawala sangatlah luas. Angin malam yang berembus pun kian memadatkan kota Seoul di tengah kesibukannya. Lampu – lampu yang menyala sungguh menjadi pemandangan yang begitu indah jika dilihat dari atas.

Namun keindahan malam ini tak dapat Kibum nikmati dengan santai karena hatinya kini sedang disiram oleh kegundahan dan keraguan yang begitu membuat kepala nyaris meledak. Ia terus membuka-tutup kotak berludru biru yang ada di dalam genggamannya, sesekali pria itu memasukannya ke dalam kantung celananya sebelum detik berikutnya kembali mengambilnya.

“Kau harus melakukan ini malam ini dan kita lakukan rencana kita selanjutnya, Choi Kibum. Aku mendukungmu dari balkon kamarku.”

Kibum memejamkan matanya untuk menguatkan dirinya. Ia sudah melakukan berbagai persiapan, terutama persiapan jika ia ditolak walaupun semua rencananya hampir sama jika Yoona menerima ataupun menolaknya. Tapi tentu saja menerima artinya perlakuan halus dan menolak artinya perlakuan kasar.

Pria itu akan melamar Yoona mala mini dengan kesiapan yang dipaksakan dan dikejar waktu mengingat Yoona akan segera melahirkan dan ia takut Siwon menemukan apartementnya dengan mudah. Ia melirik Yoona yang kini sedang menyiapkan makan malam untuk keduanya dengan perut buncitnya yang membuat wanita itu kesulitan berjalan walaupun paras cantiknya selalu membuat Kibum di mabuk cinta dan buta akan kehidupan.

Ia menghembuskan nafas beratnya sekali lagi sebelum benar – benar menghampiri Yoona. Pria itu berdeham singkat membuat aktifitas Yoona terhenti dan wanita itu memandangnya heran, “Waeyo Kibum-ah?”

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu, ini penting. Sangat penting”

Sebenarnya Yoona ingin mengelak namun ia melihat sorot mata Kibum yang memancarkan keseriusan dan aura gelap saat ia menatap mata pria itu. Yoona mengangguk ragu sambil mematikan kompornya sebelum benar – benar mengikuti Kibum ke ruang tamu. Mengingat bobot tubuhnya yang sudah besar, Yoona memutuskan untuk duduk di sofa sedangkan Kibum berdiri kikuk di depannya dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam kantung celananya.

“Ada apa?”

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Kibum segera berlutut di depan Yoona sambil menangkup kedua tangan wanita itu ke dalam dekapan tangan hangatnya, Yoona sedikit terkesiap mendapat perlakuan itu, “Yoona-ya

Waegurae?”

“Maukah kau menikah denganku?”

DEG.

Mata Yoona membulat sempurna sembari menelan ludahnya saat ia merasakan tuubhnya mendadak beku dan menegang, bahkan Kibum dapat merasakannya  dari jemari tangannya yang menggenggam tangan Yoona setelah ia mengajukan lamaran itu.

Kau harus menerimanya Im Yoona, kumohon jangan biarkan aku menyakiti diriku sendiri dan juga dirimu, batinnya menyuarakan.

Yoona masih statis di depan bahkan saat Kibum mulai menangkup rahangnya dengan tatapan tajam, “Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Perasaanku padamu sudah terlalu dalam untuk diabaikan dan dibuat lebih lama menunggu. Karena itu aku membutuhkan jawabanmu sekarang juga.”

Yoona terlihat gelagapan saat jiwanya kembali ketubuhnya setelah tiba – tiba terbang entah kemana. Pupil mata gadis itu bergelak gelisah, jemarinya saling meremas satu sama lain dan kedua kakinya menggesek lantai apartement Kibum karena sedikit panik dan bingung dengan apa yang harus ia ucapkan—dan sekali lagi Kibum menyadarinya. Kali ini Kibum dilanda perasaan takut dan marah begitu matanya bertemu dengan pandangan Yoona yang menatapnya penuh penyesalan, ketakutan, dan ragu? Apa maksudnya?

Hatinya mencelos begitu melihat kini Yoona justru sambil menunduk penuh penyesalan, Kibum tidak mau mengakui apapun yang ada di dalam pikirannya sebelum akhirnya Yoona membuka mulutnya, “Jeongmal mianhaeyo, Choi Kibum. Aku—aku tidak bisa menerimanya, aku sudah mencintai pria lain yang sekarang masih berstatus sebagai suamiku. Aku mencintai Siwon karena itu aku tidak bisa menerimamu, kumohon maafkan aku”

Kibum menggeleng tegas dengan sorot mata menakutkan sambil mengguncang bahu Yoona kalut, melupakan fakta bahwa Yoona sedang mengandung, “Andwaeandwae! Kau harus menerimaku Yoona! Katakan bahwa kau akan menikah denganku, katakan kau bersedia menjadi istriku, katakan kalau kau mencintaiku Im Yoona! Kumohon katakan itu padaku atau kita akan mati!”

Isak tangis Yoona semakin kencang seiring dengan gelengan kepalanya yang semakin keras, “Aku tidak sanggup mengucapkannya, jika aku melakukannya aku membuatmu semakin tersiksa dengan kebohongan itu. Aku benar – benar tidak bisa bersamamu Kibum-ah, kumohon maafkan aku.”

Kibum masih tak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini. Penolakan Yoona benar – benar membuat mentalnya jatuh ke titik terendah dalam hidupnya, akal pikirannya langsung hilang detik itu juga dan kini dalam pikirannya hanyalah ingin memiliki Yoona dengan cara apapun.

Kini sorot mata Kibum menampakan kekejian saat menatap Yoona. Wanita itu jelas menyadarinya dan berusaha untuk menghindari ancaman bahaya yang dapat ia rasakan hanya dengan tatapan tajam Kibum padanya. Reflek gadis itu memeluk perut besarnya untuk melindungi sang jabang bayi.

Kibum tertawa ringan melihat reaksi Yoona namun itu terdengar seperti ancaman kematian untuknya. Saat wanita itu baru saja berniat kabur dari serangan Kibum, pria itu sudah mencium bibir Yoona dengan desakan gairah yang menggebu, seakan ingin mengungkapkan emosinya dalam ciuman itu. Yoona langsung meronta dalam tindihan tubuh berat Kibum serta ciuman yang sarat akan gairah itu, ia mengkhawatirkan bayi yang ada di dalam perutnya.

PLAK~

Yoona berhasil menampar Kibum dan ia langsung bergerak cepat menuju pintu apartementnya saat Kibum masih terdiam di tempat. Yoona mendesah lega saat ia berhasil membuka pintu apartement itu, kaki jenjangnya segera melangkah keluar setelah itu dengan ketakutan dan kepanikan yang mendera seluruh inchi tubuhnya.

Namun detik berikutnya, Kibum berhasil menarik Yoona kembali masuk ke dalam apartement. Rontaan dan teriakan permintaan tolong Yoona terbungkam dalam kain hitam yang menutupi mulutnya seiring dengan tangannya yang diikat oleh Kibum.

“TOLONG! TOLONG!”

Kibum mengeram marah mendengarnya. Pria itu segera menjambak rambut Yoona kasar sambil tetap berusaha menarik tubuh berisi Yoona ke dalam apartement.

Yoona terisak saat tubuhnya membentur lantai apartementnya, wanita itu segera memeluk perutnya sembari menghindari Kibum yang kini berjalan mendekatinya tanpa mempedulikan pintu apartement yang terbuka lebar.

“Kibum-ah, kumohon lepaskan aku! Aku membencimu!”

Kibum menyeringai sinis sambil tertawa kejam, “Melepaskanmu setelah aku tergila – gila dengan dirimu? Jangan harap Im Yoona, jika aku tidak dapat menjadi milikku, maka tidak ada  satupun pria yang dapat memilikimu, termasuk keparat bernama Choi Siwon itu!”

“KAU GILA CHOI KIBUM! KAU GILA!”

“Ya, aku gila, aku gila karena dirimu Im Yoona! Dan sekarang, aku benar – benar akan membawamu pergi dari sini dan aku bersumpah tidak akan membiarkan seorang pun selain diriku untuk menemui, bahkan sekedar membelai sehelai rambutmu. Karena hanya aku yang kau butuhkan, hanya aku…pria yang mencintaimu”

Tubuh Yoona bergetar dalam aksinya menjauhkan diri dari Kibum. Wanita itu terkesiap kaget saat Kibum mulai menyemprotkan suatu cairan ke kain hitam yang tadi membekapnya. Kini ia yakin bahwa Kibum benar – benar akan menculiknya. Wanita itu menangis ketakutan sembari memejamkan matanya pasrah sedangkan Kibum menyeringai puas.

BUG BUG~!

Mata Yoona terbuka sempurna begitu merasakan Tubuh Kibum jatuh tersungkur ke bawah. Yoona lebih kaget lagi saat kepalanya mendongak dan melihat sosok pria jangkung yang begitu ia kenali dan ia rindukan kini sedang berdiri di hadapannya dengan tatapan menyala – nyala dan tangan terkepal sempurna.

Choi Siwon disini, suaminya disini untuk menyelamatkannya.

Pandangan mereka bertemu dan keduanya sama – sama memancarkan ekspresi yang tak terbaca satu sama lain, namun mereka dapat merasakan kerinduan dan cinta yang begitu terpancar dan menusuk bola mata mereka. Siwon tersenyum bahagia dan lega sedangkan Yoona kini menangis terharu melihat Siwon menyelamatkannya dari mimpi buruknya.

“Yoona-ya

“Siwon…oppa

Siwon baru saja ingin menghampiri dan menenangkan Yoona yang ketakutan dan kalut sekarang, tiba – tiba pekikkan Yoona menggema nyaring begitu melihat tubuh Kibum bangkit dan tangannya langsung meninju wajah Siwon. Yoona menutup mulutnya dengan telapak tangannya melihat aksi baku hantam antara Siwon dan Kibum.

Keduanya kini terlibat dalam perkelahian yang serius dan mencekam. Bahkan kepala mereka mulai berdarah dan tangan serta wajah mereka merah lebam akibat kemarahan dan kebencian yang ingin mereka salurkan kepada satu sama lain hari ini. Keduanya yang memang ahli bela diri kini mulai mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk mengalahkan musuh mereka. Namun Siwon langsung menyerang pergelangan kaki Kibum dengan cekatan. Jeritan Kibum terdengar begitu pilu saat Siwon menyerang titik lemahnya, tubuh pria itu langsung terkulai lemas karena kedua pergelangan kakinya terasa mati rasa detik itu juga. Ia ingin kembali melawan namun bahkan tubuhnya terlalu lemah untuk berdiri karena alat gerak bawahnya sudah dibuat ‘lumpuh’ oleh Siwon.

Setelah memastikan Kibum tak dapat berkutik lagi, Siwon segera menghampiri Yoona yang tersungkur ketakutan dan langsung membawa wanita itu ke dalam pelukan hangatnya. Yoona terlalu lemah untuk menolak dan membiarkan dirinya tenggelam dalam kenyamanan yang langsung menyelimutinya saat tubuh mereka bersentuhan. Yoona menangis ketakutan, haru, namun bahagia dalam waktu yang sama sehingga ia tidak tahu harus berbuat apalagi selain memeluk Siwon dengan mendekap leher pria itu erat sedangkan tangan yang lainnya kembali memeluk sang buah hati dengan penuh cinta. Kini keduanya bisa merasakan dada Siwon dan puncak kepala Yoona basah terkena air mata masing – masing. Bahkan Siwon menangis karena takut kehilangan wanita ini lagi, sesekali pria itu mengecupi puncak kepala Yoona yang langsung mengantarkan wangi feromon khasnya yang begitu SIwon rindukan.

Oppagomawoyo, a—aku tidak bisa membayangkan jika kau tidak datang, mungkin sekarang aku—“

“Ssst…” Siwon segera membungkam Yoona dengan kecupan lembut di bibirnya lalu menghapus jejak – jejak air matanya, “Jangan bahas ini sekarang. Kau sudah aman bersamaku, sayang. Untuk yang lain kita bisa membicarakannya nanti, sekarang yang terpenting adalah kita harus segera pergi dari sini sebelum bajingan di belakang kita kembali melakukan aksinya. Kajja!”

Siwon segera memapah tubuh Yoona, keduanya langsung berjalan cepat keluar dari apartement itu tanpa sekalipun melirik kondisi Kibum yang terkapar disana dengan kebenciannya. Kibum melirik marah kearah punggung tegap Siwon dan Yoona yang mulai menjauh dari pandangan matanya, pria itu berteriak marah dengan suara yang lebih menakutkan dibanding raungan singa.

“Kau memang melumpuhkanku sekarang, namun bukan berarti aku kehilangan akal untuk membunuhmu, Choi Siwon”

Kibum segera merogoh saku celananya dan segera mencari kontak Kim Heechul—anak buahnya yang sudah bersumpah akan mengabdi padanya—yang kini sedang menunggu di basement apartement untuk membawa Yoona pergi, jika gadis itu menerima maupun tidak menerima lamaran Kibum.

“Tuan, aku melihat—“

Kibum langsung membuang nafasnya kasar mengetahui sepertinya anak buahnya ini cukup pintar untuk membaca situasi, namun ia sedang tidak ada waktu untuk sekedar memuji kemampuan Heechul dan malah membentaknya, “CEPAT IKUTI MEREKA! CARI TAHU KEMANA MEREKA PERGI! JIKA KAU KEHILANGAN MEREKA, KUPASTIKAN NYAWAMU MENGHILANG DETIK ITU JUGA!”

Kibum tidak mempedulikan kesopanan pada seseorang yang lebih tua jika sudah menyangkut tentang Yoona. Pria itu harus bangkit secara perlahan karena ia merasakan kaki kirinya membengkak setelah Siwon menyerang titik lemahnya, mengingat Siwon tahu dengan jelas ia pernah mengalami patah tulang di bagian itu.

Kali ini Kibum akan menghubungi orang yang harus bertanggung jawab dan membantunya menyelesaikan masalah ini. Kibum segera meletakkan ponselnya di telinga kanannya sembari menunggu wanita itu mengangkat panggilannya.

“Bagaimana hasilnya?”

“Kita langsung ke rencana B”

Tiffany terkesiap di sebrang sana, “Apa maksudmu dengan rencana—tunggu, rencana B? Yak Choi Kibum, kau—“

“Kau benar, Yoona menolak lamaranku. Dan berita buruknya, suamimu membawa pergi gadis itu entah kemana?”

“MWO? SIWON DATANG KESANA?”

“Sialnya iya…aku tidak tahu bagaimana caranya pria itu bisa mendapatkan lokasi apartementku, yang jelas aku sudah mengutus Heechul untuk mengikuti mobil mereka karena suamimu melumpuhkanku.”

Tiffany terduduk lemas di single sofa balkon kamarnya begitu mendengar kabar mengejutkan ini. Siwon menyelamatkan Yoona, artinya pria itu terus mencari tahu posisi Yoona semenjak gadis itu angkat kaki dari rumah ini. Hati Tiffany seakan ditusuk dengan samurai membayangkannya saja, rasa kecewa dan sakit hati kini begitu menyiksa kejiwaannya. Namun dibalik semua ini, wanita itu benar – benar membenci Im Yoona dan ia menyesali dirinya sendiri mengapa saat itu ia menarik gadis itu masuk ke dalam kehidupan pernikahannya dengan Siwon. Kini ia hanya bisa meratapi diri sendiri dan menyalahkan kebodohannya di masa lalu, penyesalan memang selalu datang terlambat.

“Kibum-ah, aku tidak mau kehilangan Siwon. Aku sangat mencintainya.”

“Kau pikir aku tidak mencintai Yoona? Astaga Tiffany, sudah belasan tahun aku menaruh cintaku dan memupuknya hingga sedalam ini cintaku pada Yoona dan karena itulah aku tidak akan membiarkan gadis itu dimiliki oleh siapapun.”

“Kita memang harus bekerja sama”

Kibum mengangguk, “Tiffany, apa kau bisa menggunakan senjata api?”

“MWO?”

“Aku bertanya padamu apa kau bisa menggunakan senjata api atau menembak?”

Tiffany menggeleng, Tentu saja tidak bodoh, untuk apa aku mempelajarinya?”

“Untuk rencana B, kau lupa?”

“Ah majayo, lalu bagaimana denganku?”

Kibum menyeringai pelan, “Tenang saja aku bisa mengajarimu. Karena itu bisakah kau datang ke apartementku sekarang? Kakiku tidak bisa kugerakan sama sekali sekarang, setelah merawat ratusan orang sakit di Afrika, kau pasti bisa kan membantuku? Sekalian kita membahas rencana kita selanjutnya”

Tiffany mendengus malas, “Kau benar – benar merepotkanku! Baiklah aku kesana sekarang”

KLIK~

Kibum menatap layar ponselnya sinis. Tanpa diketahui siapapun, ia mulai membuka sebuah aplikasi rahasia yang dibuatnya di Amerika beberapa tahun lalu untuk mempersiapkan ini semua. Ketika ia mengklik sebuah tombol merah di layar ponselnya, beberapa lukisan dan tembok di sisi apartementnya bergetar dan tak lama semuanya terangkat keatas seperti sebuah tirai dan begitu melihat apa yang ada di dalamnya, Kibum tersenyum menyeringai.

Ratusan senjata api illegal yang ia selundupkan dari Negeri Paman Sam itu kini berada di dalam sana dan siap digunakan.

**

Yoona tidak sanggup menatap Siwon yang kini sedang menggendongnya di koridor sebuah hotel bintang lima yang ada di pusat kota. Wanita itu harus menyembunyikan semburat merah yang menghiasi kedua pipinya menahan malu mendapat perlakuan ini dari Siwon. Siwon yang menyadarinya hanya mengulum senyum tipis namun tetap meneruskan aksinya.

Wanita itu mendengus pasrah dan lelah begitu menyadari Siwon memesan sebuah President Room hotel ini untuk dijadikan tempatnya menginap sementara. Kepala Yoona terasa pening begitu melihat interior super mewah yang disajikan di depannya saat ini, membayangkan dirinya harus membiasakan diri dengan hal – hal berbau mewah saat ini membuatnya merasa kikuk dan canggung.

“Aku akan tinggal sendirian disini, oppa. Untuk apa menyewa ruangan sebesar dan semewah ini?”

Siwon mengernyitkan dahinya tak setuju, “Siapa bilang kau akan tinggal disini sendirian? Aku juga akan tinggal disini?”

MWO?”

Yak, apa aku tidak boleh tinggal bersama istriku sendiri?”

Wajah Yoona bersemu merah mendengar Siwon memanggilnya ‘istri’. Terdengar aneh namun ia menyukainya, Yoona merasa seakan ia benar – benar istri Siwon jika Siwon memperlakukannya selembut ini. Sejak ia dibawa pergi oleh Siwon dari apartement Kibum, suaminya ini memperlakukannya begitu lembut dan penuh cinta kasih.

Wae? Oh, atau karena kau berniat untuk menceraikanku sehingga kau terganggu dengan kehadiranku?

DEG.

Yoona lansung tersadar jika Siwon masih marah karena kejadian gugatan cerai itu. Ia tidak ingin menyalahkan siapapun dan ia tidak mau membawa nama Tiffany dalam kejadian ini, ia harus melindungi ayahnya sendiri. Wanita itu hanya bisa menunduk dalam dengan ekspresi bersalah dan takut, namun ia tidak bisa berbuat apa – apa selain diam.

Siwon mencelos melihat Yoona yang diam saja walaupun keduanya sama – sama tahu bahwa Yoona tidak pernah melakukannya. Pria ini hanya ingin melihat reaksi gadis itu tanpa maksud lain, namun sepertinya Yoona tidak menyadarinya. Ekspresi Siwon yang sempat mengeras kini berubah lembut seiring dengan kaki panjangnya yang melangkah mendekati Yoona yang tertunduk dalam diatas sofa.

Choi Siwon hanya bisa tertawa pelan saat bahunya merangkul bahu Yoona yang menegang mendapat sentuhan dari Siwon, “Yoona-ya, tatap aku.”

Walaupun sempat dilanda keraguan yang mendominasi, pada akhirnya gadis itu mengikuti perintah Siwon dan menatap mata Siwon yang kini memandangnya teduh, “Apa kau benar – benar ingin bercerai denganku?”

Yoona menggeleng cepat merespon pertanyaan Siwon, hal itu membuat senyum Siwon semakin lebar dan tanpa sadar ia menarik wanitanya ke dalam pelukannya lagi, “Aku sudah tahu kau tidak akan melakukannya, kau tenang saja, aku sudah tahu siapa dalang dari perceraian kita.”

“Siapa?” cicit Yoona gugup.

“Kibum. Dia yang membuat surat cerai itu, anak buahnya terekam CCTV saat sedang mengajukan permintaan surat cerai atas namamu”

Tanpa sadar Yoona mencengkram kemeja Siwon kencang. Ia tidak menyangka hubungannya dan Siwon selama ini dimanipulasi oleh Kibum dan mungkin pria itu juga menjadi kendala hubungan keduanya.

Mianhae oppa, aku pasti membuatmu marah dan kecewa.”

“Kenapa kau harus minta maaf? Ini bukan kesalahanmu, dan kenapa kau diam saja saat Tiffany mengatakan itu semua?”

Yoona menggigit bibir bawahnya ragu, jemarinya memainkan ujung dressnya menahan gugup. Siwon mengernyitkan keningnya tak mengerti melihat tingkah Yoona yang terus bungkam, namun sepertinya ia mulai mengerti mengapa Yoona tidak bisa membela dirinya saat itu, Siwon membuang nafasnya kasar, “Apa Tiffany mengancam dengan membawa ayahmu?”

Bagaimana kau bisa tahu? Batin Yoona berteriak menyuarakan pertanyaan itu namun yang terjadi sebenarnya ia hanya membulatkan matanya kaget dan kembali menunduk.

Siwon mengeram menahan emosinya yang siap meledak detik ini juga, bagaimana Tiffany bisa melakukan hal keji seperti ini sekarang? Sungguh Siwon sudah tidak mengenali sosok istrinya, Tiffany benar – benar berubah semenjak Yoona datang diantara mereka. Sejujurnya Siwon tidak tahu harus menyalahkan siapa dalam posisi ini. Ia memang sempat membenci gadis ini, namun begitu ia tahu mengapa ia merelakan semuanya hanya demi sang ayah, ia yakin Yoona adalah gadis yang baik.

“Mulai sekarang kau tidak perlu takut lagi, Yoona-ya. Aku sendiri yang akan melindungimu dari mereka berdua, kau tenang saja.”

“Melindungiku? Apa maksud oppa? Lalu bagaimana dengan Tiffany eonnie? Ia membutuhkanmu.”

Siwon berusaha memasang ekspresi setenang mungkin saat memberitahu Yoona tentang ini. Ia berdeham singkat sebelum mulai menyuarakan suaranya, “Aku menceraikannya tepat setelah surat gugatan ceraimu melayang untukku.”

Yoona memekik tertahan. Ia tidak percaya jika ia baru saja mendengar bahwa Siwon akan menceraikan Tiffany karena dirinya? Ini sungguh diluar dugaan dan tidak logis, dari belahan dunia manapun Tiffany jauh lebih baik dibanding dirinya tapi mengapa Siwon justru memilihnya? Ia senang dengan kenyataan itu, namun gadis sepertinya jelas jarang sekali menunjukkan egonya, termasuk dalam hal ini.

Yoona menggeleng, “Tidak bisa. Oppa tidak boleh bercerai dengan Tiffany eonnie

Siwon memalingkan wajahnya kearah Yoona dengan tatapan kaget dan bingung, “Mwo? Kenapa tidak boleh? Aku berhak menentukan pilihanku dan aku memilihmu”

Tidak ada yang lebih menggembirakan bagi Yoona selain mendengar seseorang yang ia cintai mengatakan kalimat semerdu itu untuk hatinya yang selalu terluka selama ini. Gadis itu menampakan senyum samarnya sebelum ingatannya tentang beberapa kalimat Tiffany yang menyatakan betapa ia mencintai suaminya ini dan meminta Yoona untuk tidak merebutnya. Ingatan itu begitu jelas sehingga Yoona kembali tersiksa karena dilema dihatinya tak kunjung surut bak badai di tengah laut yang tak mengenal waktu.

“Tapi dia mencintaimu.”

“Jadi kau tidak mencintaiku?”

Aku sangat mencintaimu oppa, tapi kita tidak bisa menerjang badai kehidupan yang sudah berputar seperti seharusnya, kita tidak ditakdirkan bersama selamanya.

Yoona sudah membuka mulutnya namun ia menutupnya kembali. Ia termangu sesaat tak tahu harus menjawab apa, ia bukan tipe gadis yang bisa dengan mudahnya berbohong pada siapapun, terutama jika ia sudah tahu apa jawaban yang seharusnya ia ucapkan.

“Aku memang mencintaimu, tapi cinta tidak harus saling memiliki. Jika kita sudah mencintai seseorang, kita harus siap akan segala kemungkinan yang terjadi. Termasuk mencintai seseorang yang tak akan pernah menjadi milikmu selamanya.” Ucap Yoona dengan pelan dan penuh keraguan sambil melirik Siwon yang masih menatapnya intens sejak tadi.

Siwon hanya tersenyum simpul mendengar jawaban Yoona, “Selain siap menerima apapun yang takdir gariskan, ada kalanya cinta berarti memperjuangkan sesuatu dengan berbagai cara. Mungkin kita memang tidak bisa melawan takdir, tapi bagaimana jika perlawanan itu hanyalah sebuah cobaan untuk cinta itu sendiri?”

Oppa…”

“Jungsoo Hyung pernah menasihatiku tentangmu waktu itu. Aku bahkan bisa mengingat seberapa detail dia menceritakan sosokmu padaku saat itu dan membuat hatiku tergerak dengan sendirinya. Namun kalimat yang benar – benar menempel di benakku adalah saat ia menyuruhku mencari tulang rusukku yang sesungguhnya. Saat ia mengatakan hal itu, aku jelas langsung memikirkan Tiffany, namun semakin hari sosok itu berganti menjadi rupa dan gambaran yang lain. Sekarang, setiap aku mengingat perkataan Jungsoo hyung saat itu, wajahmulah yang terlintas di pikiranku.”

“Ta—tapi bagaimana dengan Fany—“

Siwon mengenggam tangan Yoona erat dengan sorot mata yang sanggup meluluh lantakan hati Yoona detik ini juga, pria itu menatap Yoona dengan ekspresi memohon dan frustasi, “Bisakah kau tetap disisiku saja saat ini? Bisakah kau mementingkan egomu sekali saja, Yoona-ya? AKu tahu kau mencintaiku dan kau menginginkanku sama seperti aku. Dan perlu kau ketahui…aku jauh lebih mengenal siapa itu Tiffany Hwang dibanding dirimu, aku berpaling darinya karena aku tidak bisa menemukan jiwanya yang dulu lagi dalam dirinya, sifat yang membuatku jatuh cinta padanya sudah tidak melekat di tubuhnya. Ia menjadi Tiffany yang berbeda sekarang, dan aku justru menemukan jiwa itu dalam dirimu saat ini, bahkan kau memiliki sisi kewanitaan yang selama ini kucari namun tak dapat kutemukan dalam diri Tiffany. Jadi kumohon, tetaplah di sisiku dan biarkan aku menjadi suami yang baik untukmu dan ayah yang hangat untuk anak kita. Biarkan aku melindungimu dari Kibum, kau percaya padaku, kan?”

Baiklah, kali ini Yoona akan mementingkan ego maupun perasaannya sendiri. Ia begitu mencintai Siwon, dan ia tahu itu. Memang hal apalagi yang membuatnya bertahan dari segala sakit yang ditorehkan kehidupan padanya jika bukan karena perasaan cinta ini? Walaupun ia tidak pernah berharap perasaannya akan terbalas, namun kini Yoona merasa terharu mendengar untaian kalimat Siwon untuknya. Sebagai wanita normal yang selama ini hanya memendam semuanya, kini Yoona langsung menumpahkannya detik ini juga dalam pelukannya pada Siwon.

Siwon tersenyum begitu merasakan tubuh hangat Yoona—serta perut buncit Yoona—menempel erat dengan tubuh kekarnya. Pria itu segera memeluk pinggang Yoona erat sembari menciumi pelipis wanita itu. Yoona pun merasakan desiran hebat mendapat perlakuan ini dari Siwon, betapa ia merindukan bau maskulin yang menyelubungi Siwon sepanjang hari. Terakhir kali ia memeluk Siwon adalah saat mereka berada di Macau beberapa minggu yang lalu.

Saranghae, Yoona-ya.”

Nado saranghae

.

.

Setelah malam itu, hubungan Siwon dan Yoona benar – benar berubah seperti layaknya suami istri pada umumnya. Hanya saja, mereka yang baru merasakan kebebasan berhubungan itu kini terlihat seperti newly-wed couple yang masih dilanda keromantisan melebihi ambang batas normal. Yoona selalu menyambut kepulangan Siwon di kamar hotel mereka dengan hangat, dan bahkan memasak sebisanya karena kondisi kehamilannya mempersempit pergerakannya untuk beraktifitas.

Dan untuk acara mengidam di malam hari, tentunya kini Siwon sangat bersemangat untuk melayani Yoona. Walaupun ia harus bangun subuh untuk mencari berbagai makanan aneh yang kerap kali diminta Yoona, namun ia merasakaan euphoria kebahagiaan yang meletup – letup seperti api yang membakar kayu – kayu. Ia bahagia bisa merasakan ini semua setelah selama ini selalu menutup mata pada istrinya ini.

Namun, selama seminggu ini ia juga mengurus perceraiannya dengan Tiffany. Ia mendapatkan panggilan dari pengadilan tentang perceraiannya dengan Yoona, namun disaat yang bersamaan ia juga mengajukan surat perceraian keapda Tiffany. Terserah para notaries ataupun hakim memandangnya sebagai pria bodoh yang memiliki dua istri namun naasnya akan segera diceraikan dan menceraikan kedua istrinya dalam waktu bersamaan.

Siwon tidak pernah pulang kerumahnya lagi semenjak ia memutuskan untuk bersama Yoona malam itu, ia memutuskan untuk membeli kemeja setiap harinya dan membelikan Yoona beberapa dress untuk ibu hamil. Ia tidak mau mengambil resiko untuk bertemu dengan Tiffany, ia tidak mau bertemu dengan wanita itu lagi sejujurnya.

Keluarga mereka tidak ada yang tahu permasalahan besar yang sebenarnya terjadi di dalam rumah tangga Siwon. Bahkan Leeteuk yang biasa dengan mudahnya dapat membaca situasi tidak dapat mendeteksi apapun, mungkin karena wajah Siwon tetap seperti biasanya mengingat ia selalu menghubungi Yoona disela kesibukannya di kantor.

“Berhentilah menghubungiku, Tuan Choi. Kau harus konsentrasi dengan pekerjaanmu.”

Siwon terkekeh geli mendengar suara jengkel nan manja dari sebrang sana, “Oh wae? Aku hanya ingin menanyakan keadaaan anak kita. Apa yang sedang dia lakukan sekarang?”

“Jangan bercanda, oppa. Tentu saja dia baik – baik saja selama ibunya masih disini”

“Okay, okay. Hari ini jangan memasak, aku akan mengajakmu makan di luar, berdandanlah yang cantik.”

“Arayo, aku akan mengusahakannya untuk yang terakhir dan sampai jumpa nanti malam. Annyeong oppa!”

“Chamkkaman, saranghae yeobo!”

“Heol, nado. Keuno!”

KLIK~

Siwon memandangi ponselnya dengan senyum mematikan khas dirinya. Di kepalanya sudah tersusun berbagai rencana untuk menyenangkan hati Yoona. Ia tahu kehamilan Yoona sudah mencapai 9 bulan, karena itu ia ingin mengajak gadis itu berpegian agar tidak stress dan tertekan sebelum kehamilan, terlebih banyaknya permasalahan yang terjadi selama ia hamil membuat Siwon harus menjaga Yoona dengan baik.

Dan pria jangkung itu pun kembali melanjutkan pekerjaannya dengan perasaan gundah karena tak sabar menantikan tenggelamnya matahari agar ia bisa kembali menghabiskan waktunya bersama sang istri tercinta.

.

.

Sejujurnya tidak hanya Siwon yang tidak sabar menunggu malam menyapa, Yoona pun mengalami sindrom yang sama dengan suaminya. Bahkan ia berjingkrak riang saat melihat fenomena lembayung senja mulai menyelimuti dengan warna oranye yang begitu menakjubkan mata telanjangnya. Ia pun bergegas untuk mempersiapkan diri demi menyambut kepulangan sang suami.

Dengan dress berwarna pink muda selututnya, rambut hitam yang tergerai bebas dengan aksen gelombang dibagian bawah, serta flat shoes berwarna hitam, tampilan Yoona terlihat sederhana namun anggun dan mempesona. Yoona hanya memberikan sentuhan make up natural pada wajahnya.

Yoona memutarkan tubuhnya di depan cermin panjang di kamarnya. Tubuhnya yang memang terlihat gemuk saat hamil membuatnya sedikit tidak percaya diri, namun pujian yang selalu Siwon lontarkan untuknya sukses membangun kepercayaan dirinya. Toh memang begini kondisi wanita yang sedang hamil tua dan ia pun tidak berniat menebar pesona kepada lelaki lain, jika suaminya mengatakan ia tetap cantik seperti biasanya, lalu apa yang harus ia ambil pusing dari perkataan orang lain?

Saat dirinya sedang sibuk memandangi pantulan dirinya sendiri, suara bell menginterupsi kegiatannya, Yoona langsung menoleh kearah pintu dengan wajah sumringah, “Siwon oppa” gumamnya pelan sembari berlari kecil—ala ibu hamil—kearah pintu dengan wajah bahagia. Bahkan ia sudah siap pergi terbukti dengan tas selempang yang sudah ia sampirkan di pundak kanannya.

CKLEK~

“Akhirnya oppa pul—hmmph—“

Dan semua terlihat gelap di matanya detik berikutnya.

.

.

Langkah kakinya ia percepat dengan senyum terukir manis di bibirnya. Sungguh, Siwon benar – benar tidak sabar bertemu dengan sang istri yang begitu ia rindukan. Bayangan hal – hal romantis yang ingin ia lakukan kembali lewat tanpa permisi di benaknya membuat Siwon gugup dan malu dalam waktu yang bersamaan. Lift itu terasa bergerak lama jika seseorang di dalamnya sudah tidak sabar untuk mencapai tujuannya.

Siwon masih berjalan dengan tenang ke dalam kamar hotelnya, semua terlihat normal walaupun seperti tak ada tanda – tanda keberadaan makhluk hidup disana. Siwon mengernyitkan keningnya bingung. Pria itu segera berjalan cepat menuju kamar tidurnya namun tak menemukan siapapun disana.

“Yoona-ya?”

Tak ada sahutan sama sekali. Wajah Siwon pucat pasi, pikiran buruk mulai memasuki jalan pikirnya namun ia berusaha mengelak pemikiran itu dengan menelusuri seluruh kamar hotelnya namun nihil. Yoona benar – benar tidak ada.

Siwon menggelengkan kepalanya lalu segera menghubungi ponsel Yoona, namun gadis itu tidak mengangkatnya juga.

“Im Yoona…IM YOONA!”

Kini Siwon tak dapat mengendalikan rasa paniknya lagi. Ia berteriak histeris bercampur panik namun kakinya terus bergerak untuk mencari Yoona. Sampai ekor matanya tanpa sengaja menangkap sebuah amplop besar dan tebal yang berada di coffee table di ruang tamu kamar hotelnya. Dengan langkah dipercepat, Siwon langsung mengambil amplop anonim itu dengan tingkat kepanikan yang semakin menjadi. Rasanya Siwon sudah tidak menapak di bumi lagi begitu membaca tulisan yang ada di dalam surat itu.

“Sepertinya Juliet membutuhkan Romeo yang baru. Haruskah aku menggantikan posisi Romeo untuk menjaga Juliet?”

Di dalam amplop itu terdapat foto Yoona yang jatuh terkulai lemas. Melihat latar foto itu, jelas pengambilan foto ini masih di dalam kamar hotel ini. Emosi Siwon meningkat drastis dari sebelumnya, pria itu langsung meremas surat dan foto Yoona dengan kekuatan penuh lalu menyobek mereka secara bersamaan.

“Choi Kibum…sebenarnya hal gila apa lagi yang kau rencanakan sekarang?” desisnya marah.

Ia membuang serpihannya ke lantai dan Siwon segera berlari keluar dari kamar hotelnya. Ia harus mencari Yoona, bagaimanapun caranya. Ia bersumpah akan membunuh Kibum jika berani melukai Yoona barang sesenti pun.

Next Chapter

“IGEONWA!”

“Tidak sampai hari pernikahan kita Im Yoona.”

“CHOI KIBUM!”

.

.

“Tiffany Hwang….sebenarnya ada apa dengan dirimu?”

“Harusnya aku yang berkata seperti itu padamu! Kau yang membuatku seperti ini, oppa. Rasa cintaku yang begitu dalam dan menjadi poros kehidupanku kau anggap seperti sampah yang dapat kau buang seenaknya. Karena itu, jika aku tidak bisa mendapatkanmu kembali, lebih baik aku, lebih baik kau mati, LEBIH BAIK KITA SEMUA MATI!”

.

.

“Kau terpengaruh dan dimanfaatkan oleh bajingan ini, Tiffany! Kau harus sadar!”

“Diam kau, jalang perebut suami orang. Jika kau masih banyak bicara, aku bersumpah akan menarik pelatuk ini agar peluru yang ada di dalamnya menembus otak kurang ajarmu ini!”

“JANGAN SENTUH DIA!” pekik Siwon dan Kibum bersamaan.

Kini ketiganya saling menudingkan pistol satu sama lain, hanya Yoona yang bisa berpasrah pada takdirnya jika ia memang mati konyol hari ini. Ia memandangi perutnya yang terikat erat oleh rantai besi, ia takut terjadi apa – apa pada bayinya, “Mianhae, aegi-ya. Eomma bukanlah orangtua yang baik untukmu, kali ini eomma benar – benar gagal menjadi ibumu.”

.

.

“SIWON OPPA!”

“BAJINGAN KAU! APA YANG KAU LAKUKAN PADA SUAMIKU?”

DOR~

DOR~

DOR~

“EONNIE! KIBUM! TOLONG KA—astaga perutku….SIAPAPUN AH~~ TOLONG SELAMATKAN KAMI!”

TO BE CONTINUE

Woah! Akhirnya chapter ini kelar juga kkk~ gimana2, makin seru dan bikin penasaran ato bosenin? Kalo makin bosenin sorry bgt, author udah berusaha semaksimal mungkin buat bikin FF ini gak mainstream kayak cerita marriage life yg biasa. Chapter ini adalah chapter pre-klimaks/? Dari WFMH sendiri dan Chapter selanjutnya adalah TITIK KLIMAKSNYA alias PUNCAK KONFLIK dari FF ini sendiri so pastikan kalian komen disini dan jadilah readers yang baik, karena kemungkinan yang sangaaaaat besar chapter 11 akan di protect mengingat Chapter 11 merupakan ‘mastepiece’ dari FF ini.

Dan untuk WFMH sendiri, author mau PUBLISH ULANG FF WFMH dengan BAHASA YANG SUDAH DIPERBAHARUI di blog author sendiri yaitu keziagw.wordpress.com dan setelah WFMH resmi selesai, mungkin author akan jarang share FF di YWK lagi, jadi kalo ada yg pengen baca2 FFku, kalian bisa kunjungi blog diatas^^

Ada yang baca FF Belle in the 21st Century? Itu juga author akan update jauh lebih cepat dibanding yg disini so…jangan lupa berkunjung ya kkkk~

Mungkin itu aja dari author, semoga kalian masih menikmati FF ini dan author janji FF ini selesai tahun ini mengingat untuk chapter2 terakhir author udah bikin draftnya dari awal bikin FF ini><

See you on the next chapter~~~ ANNYEONG<3

Tinggalkan komentar

458 Komentar

  1. Next dong ceritanya jgn digantung. Udah lama bgt ini ff ga dilanjutin. Ayo dong lanjuyin jgn bikin penasaran para readers

    Balas
  2. sahwa purem

     /  Agustus 3, 2016

    next nya doonnnkkkk…………… penasaran sama akhirnya niii…..

    Balas
  3. semoga yoona nya gak apa apa yah
    makin gak sabar untuk baca next chapternya ^^

    Balas
  4. sahwa purem

     /  Agustus 6, 2016

    next lom ada ya….

    Balas
  5. Almira Putri

     /  Agustus 21, 2016

    Next chapter thor,bikin deg-deg an cuplikannya, semoga gak ada yang kena tembak ,lanjutin ceritanya thor,dan terus berkarya

    Balas
  6. Rui

     /  Agustus 29, 2016

    Alur ff nya nice..
    Kapan nih ff nya dilanjut?^__^

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: