Belle in the 21st Century (Chapter 2)

belle

Belle in the 21st Century

kkezzgw storyline

Main Cast: SNSD’s Yoona, SJ’s Siwon

Other Cast: more than 12~

belle-cast-yoonwon

Genre: Romance, Marriage Life, Family

Rated: General

BELLE IN THE 21ST CENTURY: CHAPTER 1

FacebookTwitter: ELF SONE RANDOM Blog:  keziagw wonkyoonjung Ask.fm

Disclaimer: FF ini terinspirasi dan di adaptasi dari series Disney Princess ‘Beauty and the Beast’ (1991) yang akan diterjemahkan menjadi versi abad 21 dengan berbagai perombakan yang tetap berhubungan dengan cerita aslinya. Series pertama dari Disney Princess di abad 21 versi kkezzgw ini dimulai dari YoonWon dan nanti akan dilanjutkan ke HaeSica, SeoKyu, dan seterusnya. FF ini sudah dibuat dalam berbagai versi. Mohon maaf untuk kesamaan cerita, alur, karakter, adegan, nama, maupun typo.

————————————————————————

Sinar matahari yang menusuk permukaan bumi sukses membuat seorang pria terjaga dari tidur lelapnya, matahari sudah naik ke permukaan untuk menyinari aktifitas masyarakat Korea Selatan yang kian memenuhi jalan – jalan di pusat kota. Pria itu menggeliat sesaat sebelum kelopak matanya membuka sempurna, ia mengerjap sekilas lalu mendudukkan dirinya di tempatnya tidur yang menjadi alasnya menidurkan tubuh kekarnya selama bertahun – tahun, “Akhirnya kau bangun”

Siwon menoleh begitu mendengar suara adiknya menggema di telinganya dengan senyum mengembang, ia berdecak malas lalu turun dari tempat tidurnya, “Kau tidak kuliah?”

Minho mengangkat bahunya cuek, “Sekarang belum saatnya aku di izinkan ke kampus, menurut jadwal aku harus datang setelah jam 11 siang”

Siwon mengangguk seadanya lalu berjalan kearah kamar mandi, namun langkahnya terhenti saat mengingat sesuatu yang aneh disini, “Siapa yang membawaku pulang?”

“Donghae Hyung

Pria itu mengernyitkan dahinya heran. Donghae? Kemarin malam jelas ia pergi ke club malam sendiri, dan ia tidak menghubungi Donghae sama sekali untuk menjemput dan mengantarkannya pulang ke rumah dengan selamat. Ah mungkin kemarin malam Donghae juga ke club itu tanpa sepengetahuannya, ya siapa yang tahu? Siwon kembali mengangguk cuek lalu mengambil handuk yang ia sampirkan di jemuran balkon kamarnya, tanpa mempedulikan Minho yang tampak gusar di tempatnya, Siwon melenggang ingin masuk ke kamar mandi.

“Tadi appa menanyakan keadaanmu, Hyung

Langkah kaki Siwon langsung terhenti begitu saja, Minho menelan ludahnya begitu melihat tubuh Siwon langsung kaku dan terlihat tegang, ia merutuki dirinya sendiri mengapa mengatakan hal yang lebih baik tak ia sampaikan, “Omong kosong, pria itu tak mungkin mengkhawatirkanku” ujarnya dengan ketus nan dingin.

Minho menguatkan mentalnya sebelum berdebat dengan kakaknya, “Tapi dia benar – benar mengkhawatirkanmu Hyung, bahkan ia menyuruhmu untuk tidak ke kantor hari ini”

Siwon memejamkan matanya muak lalu menoleh kearah adik tirinya dengan sinis, “Jika dia khawatir dengan keadaanku, mengapa ia tidak datang sendiri dan mengatakannya sendiri?”

“Itu—” Minho sudah membuka mulutnya untuk membalas perkataan Siwon, namun ia urungkan niatnya dan memilih diam. Ia tidak mendapat ide untuk menyanggah kalimat sakratis kakaknya, Ia juga tak mau berdebat dengan kakaknya yang memiliki tingkah kesinisan dan keangkuhan diatas rata – rata. Pria berumur 20 tahun itu hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah.

Siwon memutar bola matanya kesal lalu kembali meneruskan acara ke kamar mandinya yang sempat tertunda tadi. Minho menghela nafasnya kasar lalu keluar dari kamar Siwon dengan lesu, “Dengan cara apalagi aku harus membantu appa untuk berbaikan dengan Hyung?” katanya putus asa.

**

Kemacetan besar melanda salah satu jalan utama di Seoul, tepatnya di daerah barat Jongno-gu. Hal itu dipicu oleh meledaknya para demonstran yang semakin lama jumlahnya semakin bertambah selama 3 hari berturut – turut di depan kantor Jaekyo Group, dengan semangat dan tanpa menyerah sedikitpun, mereka terus berteriak meminta keadilan yang di dukung oleh bantuan toa serta banner – banner bertuliskan penolakan mereka tentang pemecatan hubungan kerja secara sepihak itu.

“APA KITA AKAN MENYERAH UNTUK MEMPERTAHANKAN PEKERJAAN KITA?”

“TIDAK!”

“APA KALIAN RELA HARUS MENCARI PEKERJAAN SERABUTAN DAN TIDAK DAPAT LAGI MENOPANG HIDUP KELUARGA KALIAN?”

“TIDAK!”

“APA KALIAN INGIN MENJADI PENGANGGURAN?”

“TIDAK!”

“KALIAN INGIN PERUSAHAAN TETAP MEMAKAI MANUSIA SEBAGAI TENAGA KERJA MEREKA?”

“IYA!”

Seruan dari seorang juru bicara yang berdiri paling depan dan menghadap kearah para pendemo itu jelas memancing semangat maupun ketangguhan dalam memprotes tindakan kejam perusahaan raksaksa ini. Para pengendara mobil maupun motor terus menatap kearah lautan manusia yang memakai baju serba merah itu dengan tatapan heran, penasaran, namun terganggu.

NENONENONENO~

Suara sirine polisi seakan menjadi harmoni yang membuat para demonstran panik dan mulai terlihat kalang kabut untuk membubarkan diri, terlebih disaat polisi – polisi dengan seragam biru tua keluar dari dalam mobil dan memburu satu per satu dari mereka. Sang juru bicara dari demo itulah yang paling panik, sekitar 10 polisi langsung berlari menangkapnya setelah yakin ialah sumber dari demo ini. Sang juru bicara tak dapat berkutik ataupun kembali meneruskan langkah kakinya yang tadi sempat berlari begitu 10 polisi yang lain mencegatnya di depan, kanan, maupun kirinya.

“ANGKAT TANGAN!” gertak polisi – polisi itu membuat sang juru bicara demo tak dapat melawan, bahkan ia pasrah mengikuti perintah polisi itu sebelum ia dibawa masuk ke dalam mobil polisi untuk diamankan.

**

“Ah geurae? Kalau begitu aku pulang dulu Yoona-ah, annyeong!” kata Hyoyeon sambil melambaikan tangannya kearah Yoona yang tersenyum hangat untuk mengawali perpisahan mereka.

“Hati – hati di jalan!”

Ne, gomawo!”

Yoona mulai melangkahkan kakinya menuju halte bus, ia harus segera sampai di toko kue tempatnya bekerja atau ia harus kembali mendengar nyanyian merusak telinga oleh Shin ahjumma yang kerap kali memarahinya jika ia terlambat. Udara dingin yang menusuk sampai ke tulang membuat Yoona mengeratkan pelukannya pada diri sendiri dan memasukkan kedua tangannya ke kantung hoodie ungunya. Jalanan di tempatnya menginjakkan kaki sekarang cukup sepi dan suasana hening pun tak dapat dihindari.

Yoona merogoh kantung hoodienya dan mendapati ponselnya menampilkan reminder tentang semua pekerjaan yang harus ia jalani hari ini. Reminder yang selalu ia pasang setelah waktu kuliahnya selesai itu selalu terngiang di kepalanya, namun ia tetap harus memakai reminder untuk menasihati diri sendiri agar tak terlalu memaksakan diri, ya walaupun faktanya jelas reminder bodoh itu hanya sebagai pelengkap calendar di ponselnya. Nyatanya ia selalu pulang malam untuk bekerja lembur, “Ah, dari toko kue aku harus pergi ke pom bensin dan setelah itu menjadi supir pengganti, semoga hari ini job-ku mengalir deras!” katanya penuh semangat.

Yak, kau! Berhenti disana!”

Yoona menoleh kearah belakang begitu mendengar suara – suara aneh yang menganggunya, matanya membulat begitu ia melihat seorang pria yang bisa dikategorikan anak muda berlari kearahnya dengan wajah ketakutan, “Chogiyo, agassi! Tolong menyingkir, cepat!”

Yoona mengerjap – ngerjapkan matanya bingung dan pria itu tak sanggup melambatkan acara larinya, dengan terpaksa tubuh berotot laki – laki itu menabraknya dan membuat mereka sama – sama terjatuh di aspal dan mengguling terus kearah kanan dengan kecepatan tinggi.

“AW!” pekik Yoona begitu merasakan punggung dan pantatnya mencium aspal dengan sempurna, bahkan kepalanya juga terbentur trotoar beton yang ada di sampingnya. Detik berikutnya ia bisa merasakan keningnya mulai mengeluarkan darah segar yang membuatnya cukup shock, seketika kepalanya berdenyut nyeri dan sekujur tubuhnya memar begitu saja. Bagaimana tidak, mereka berguling diatas aspal berbatu dan kepalanya membentur trotoar.

Yoona baru saja berniat membuka mulutnya saat menyadari pria yang menabraknya tadi sudah jatuh terkapar dan dikepung oleh 4 pria lainnya dengan keadaan babak belur. Yoona membulatkan dan langsung bangkit berdiri untuk menyelamatkan pria malang itu, tak peduli dengan kepalanya yang mulai pening maupun tubuh memarnya yang terpaksa harus ia paksakan untuk berdiri.

PLANG~

Sebuah kaleng berwarna biru berhasil mendarat mulus tepat di belakang kepala salah satu pria pengroyok itu, pria itu langsung menjerit kesakitan membuat keempatnya menoleh kearah Yoona dengan ekspresi terkejut, bingung, dan marah.

“Yak! Beraninya ikut campur! Apa hak-mu melempariku dengan kaleng bodoh ini, huh? Siapa kau?”

Pria yang menabrak Yoona hanya bisa tercengang melihat keberanian gadis yang tak sengaja ia tabrak tadi, benar – benar mengagumkan, “Aku hanya tidak suka melihat minimnya keadilan di situasi ini. Sebagai pria sejati, bagaimana kalian bisa melawan seorang pria dengan bantuan 3 pria lainnya? Memalukan!”

“Jangan macam – macam dengan kami! Kau tidak takut pada kami yang sekarang bisa saja mematahkan lehermu hingga mati?” tanyanya dengan wajah garang, berusaha menakuti Yoona.

Pria itu membelalakan matanya begitu melihat justru Yoona tertawa lebar nan sinis lalu menatapnya dengan tatapan menantang, “Takut? Aku takut pada laki – laki seperti kalian? Tak ada satupun alasan di dunia ini yang dapat membuatku takut pada laki – laki biadab seperti kalian!” sentak Yoona emosi.

Keempatnya langsung mengepalkan tangannya dengan tatapan menyala – nyala mendengar jawaban sakratis Yoona, mereka tersinggung, “Kau berani pada kami? Baik, lebih baik bunuh mereka berdua!”

Yoona membulatkan matanya kaget dan detik berikutnya ia langsung menghindari serangan dari 3 laki – laki yang sekarang menyerangnya sekaligus. Namun dengan gesit dan cekatan, Yoona yang memang ahli dalam hal bela diri dengan mudahnya menghindar dan bahkan berhasil melayangkan tinjuan ke wajah pria – pria itu. Tubuhnya ia rendahkan dan kaki kanannya terangkat untuk menendang salah satu pria itu, sikutnya berhasil ia gunakan untuk menjinakkan pria yang ingin menyerang di belakangnya. Ketika salah satu dari mereka mulai bangun, Yoona dengan gesit segera memukul mereka dengan lututnya membuat pria itu mengerang kesakitan di bagian dagunya. Yoona benar – benar berhasil mengalahkan pria – pria itu dengan mudahnya—dan sendirian.

Pria yang menabrak Yoona tadi sibuk menganga lebar melihat aksi Yoona yang terlihat sangat keren dan menganggumkan. Ia terbiasa melihat para actor – actor di film action beradegan seperti ini, namun berbeda rasanya jika kau melihat itu secara langsung dan ‘pemeran utamanya’ adalah seorang wanita.

Wanita? Pria itu mengerjap – ngerjap untuk memastikan dan memang benar, gadis yang sekarang sibuk berkutat dengan para lelaki yang mengerjarnya, sedangkan ia? Hanya pria lemah yang terlihat semakin lemah saat melihat wanita secantik Yoona ahli bela diri. Detik berikutnya, ia berinisiatif untuk menelpon polisi agar segera datang ke tempat kejadian, ia juga melirik papan nama jalan yang terdekat di sekitarnya dan dengan keringat dingin yang bercucuran, ia berhasil menyembunyikan kembali ponsel yang sejak tadi ia gunakan untuk menghubungi pihak berwajib.

Ketua dari pria – pria yang sekarang sudah terkapar di aspal itu melebarkan matanya kaget sekaligus kagum melihat Yoona yang sanggup menaklukkan anak buahnya. Namun sepesekian detik setelahnya ia mengeram marah dan langsung menyerang Yoona, namun siapa sangka justru Yoona langsung memasang kuda – kuda dan berputar cepat. Anak buah dari pria itu terkejut begitu melihat Yoona memutar tubuh dan menendang kepala pria itu dengan mudahnya, seketika itu juga pria yang membuat Yoona naik darah berhasil ia taklukkan dengan mudahnya.

NENONENONENO~

Semua yang ada disana langsung menoleh saat mendengar suara sirine polisi menggema, ketika keempat pria itu ingin kabur dari sana, Yoona langsung membungkam mereka dengan pukulan di punggung maupun injakkan keras di punggung mereka membuat keempatnya langsung meringis sakit dan kembali

Saat polisi – polisi itu keluar, mereka dengan cepat langsung mengamankan keempat dalang dari masalah ini menuju mobil polisi. Yoona masih mengatur nafasnya yang memburu, ekor matanya tak sengaja melihat pria yang menabraknya tadi bangkit berdiri. Dengan sedikit tertatih – tahih, pria itu menghampirinya, “Noona, jeongmal gomapseumnida! Mungkin tanpa kehadiranmu, nyawaku berakhir hari ini juga” katanya sambil membungkuk 90 derajat dengan hormat.

Yoona mengernyitkan dahinya, “Noona? Oh dear, apa wajahku setua itu hingga ia memanggilku dengan sebutan ‘Noona’?” batinnya menyuarakan protes.

Walaupun Yoona sedikit tidak terima dengan panggilan pria itu padanya, ia tersenyum tulus lalu menepuk bahunya lembut, “Gwaenchana, sudah kewajibanku menolong orang lain jika aku memang bisa. Apa kau lukamu parah?”

“Ah, aku sudah biasa menghadapai hal seperti ini, sudah tidak terasa sakit lagi.” Ujar pria itu tersenyum sungkan selama beberapa detik sebelum ia menyadari luka baru yang ada di kening Yoona, “Noona, keningmu berdarah! Joesonghabnida, kau harus segera ke rumah sakit, Noona! Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu”

Yoona menggeleng cepat dengan ekspresi santai walaupun sebenarnya ia menahan sakit. Perbincangan singkat mereka harus terhenti saat seorang polisi menghampiri keduanya untuk mengamankan mereka sebagai saksi dalam kejadian ini.

**

CKLEK~

Yoona langsung bangkit berdiri begitu melihat pria yang ternyata bernama Choi Minho itu keluar dari ruangan interogasi yang memerangkapnya selama 2 jam terakhir, pria itu terlihat letih, putus asa, dan sedikit ketakutan entah karena apa.

“Apa interogasinya berjalan dengan lancar?” Tanya Yoona ragu, terlebih saat melihat wajah Minho.

Minho hanya mengangguk seadanya membuat Yoona semakin mengernyitkan dahinya bingung dengan tingkah pria ini, “Tapi kenapa kau terlihat gelisah dan ketakutan seperti ini? Apa kau sudah menghubungi keluargamu?”

“Itu..itu—“

“CHOI MINHO!”

Yoona terlonjak kaget begitu mendengar suara nyaring yang menusuk gendang telinganya menggema di kantor polisi itu, ia menoleh kearah belakang dan membulatkan matanya kaget begitu melihat wanita tinggi langsing berjalan kearahnya sambil menghentak – hentakkan kakinya dengan ekspresi siap menerkam mangsanya. Yoona terkesiap begitu melihat Minho menyembunyikan dirinya di belakang Yoona dengan ekspresi takut, ada apa ini? Dan..siapa gadis ini?”

Gadis itu membelalak begitu melihat Minho berada di belakang punggung Yoona sambil meringkuk takut, tangannya ia renggangkan agar ia bisa menghajar Minho sesuka hati dan langsung menarik kausnya—membuat Yoona benar – benar kaget.

YAK! KAU BERKELAHI LAGI, HUH?”

Minho langsung mengatupkan kedua tangannya seraya menunduk penuh penyesalan, “Noona, maafkan aku, kali ini aku benar – benar minta maaf. Aku serius, mereka benar – benar menyebalkan!” cicit Minho dengan ketakutan yang begitu kentara pada setiap kata yang ia ucapkan.

Choi Sooyoung—kakak Minho—menggertakkan giginya sambil menggeram kesal lalu tanpa berpikir dua kali langsung memukul punggung Minho kencang membuat Yoona yang sejak tadi hanya menjadi penonton yang kebingungan terlonjak kaget. Minho mengaduh saat merasakan punggungnya panas mendapat ‘ciuman’ manis dari tangan kecil Sooyoung yang minim daging itu.

“AISH NOONA! APPO!” jeritnya kesal dan juga malu. Bagaimana tidak? Minho jelas menyadari kehadiran Yoona diantara mereka, namun ia ragu kakaknya yang cantik ini sadar akan hal itu. Jika ia sadar, tidak mungkin wanita yang cinta dengan ‘kesan-baik-orang-lain-untuk-dirinya’ berani melakukan kekejaman ini di depan orang lain.

Sooyoung menatap Minho sinis lalu melipat kedua tangannya di dadanya, posenya saat ini benar – benar menunjukkan segala kegarangan seorang kakak pada adiknya yang tidak tahu diri seperti Minho. Yoona semakin kaget begitu melihat Sooyoung menarik telinga Minho kencang membuat Minho kembali memekik kesakitan, “AH AH! APPO APPO YAK NOONA! AH LEPASKAN!”

Yoona benar – benar harus menahan tawanya begitu melihat dua kakak adik yang terlihat akur dengan caranya sendiri itu saling mendebat satu sama lain, namun Yoona tahu mereka saling mengasihi satu sama lain. Perilaku sang kakak yang dengan mudahnya menghukum sang adik dimanapun mereka berada jelas menunjukkan mereka sering merasakan hal itu, membuat Yoona yakin mereka saudara yang lucu.

Yoona memilih untuk menjadi penonton yang baik dan hanya memperhatikan mereka sambil mengulum senyum, tak berniat sama sekali untuk menginterupsi acara mendebat itu.

Minho yang sibuk menggosok telinganya yang memerah baru sadar jika sedari tadi ada manusia lain yang berada di antara mereka berdua, ia memejamkan matanya sambil merutuki dirinya sendiri begitu melihat ekspresi Yoona. Sooyoung sepertinya juga baru menyadari kehadiran Yoona, saat matanya bertemu dengan mata almond Yoona, mata Sooyoung membulat sempurna lalu telapak tangannya menutup mulutnya yang menganga karena kaget.

Detik berikutnya Sooyoung terlihat gelagapan dan gusar di tempatnya saat menyadari fakta bahwa ‘kekerasan’ yang ia lakukan pada adiknya menjadi santapan orang lain, ia benar – benar malu kali ini, “Omo! Aku baru sadar ada orang lain disini, mianhae Agassi” kata Sooyoung sungkan, sedangkan Minho yang melihatnya hanya bisa mencibir sinis.

Yoona tertawa untuk menyairkan suasana diantara mereka, “Gwaenchana, kalian terlihat lucu. Aku merasa terhibur melihatnya”

Oh demi Tuhan Choi Sooyoung, kau menghibur orang lain dengan cara seperti ini—batin Sooyoung menyuarakan kata hatinya, namun Sooyoung mulai memperhatikan Minho dan Yoona secara bergantian dengan tatapan ragu, “Tunggu….apa kau wanita yang ditabrak bedebah ini?”

“Bedebah!?” bentak Minho tak terima namun tak digubris oleh Sooyoung.

Yoona mengangguk pelan untuk membalas pertanyaan Sooyoung. Sooyoung menepuk keningnya frustasi dan kembali menyerang Minho dengan cubitannya, “AH!!! NOONA! Kau ini kenapa, huh?”

Sooyoung menatap geram kearah adiknya yang tampak tak berdosa atas kejadian ini, terlebih saat ia melihat wujud gadis yang ditabrak adiknya, “Kau namja bodoh! Lihatlah, kau sudah membuat nona ini terkena serangan musuh – musuhmu! Kau pasti belum minta maaf, kan?”

“Siapa bilang? Aku sudah meminta maaf pada Noona ini sebelum kau datang!”

Sooyoung menggeleng tak setuju, “Minta maaf lagi, kali ini di depanku atau kau akan ku adukan pada eomma dan appa!”

Minho menghela nafasnya pasrah. Percuma berdebat dengan kakaknya yang bernama Choi Sooyoung ini, mungkin karena terlalu sering bergaul dengan Siwon, kakaknya yang lain—walaupun selalu ditanggapi Siwon dengan sinis dan dingin—membuat Sooyoung menjadi menyebalkan dan semakin banyak bicara ataupun ceramah.

Joesonghabnida  Noona, joesonghabnida” kata Minho sambil membungkuk hormat pada Yoona yang menatap takjub kearah Minho. Sepertinya Yoona sudah tahu alasan Minho terlihat gugup saat keluar dari ruang interogasi, pasti ia takut pada Sooyoung.

Sooyoung tersenyum tak enak pada Yoona, “Mianhaeyo, Agassi. Adikku ini memang terkadang sulit diatur, untuk biaya berobatmu, aku yang akan menanggungnya”

Yoona menggeleng, “Tidak perlu sampai seperti itu, aku sudah terbiasa mendapat luka seperti—”

“APA KAMI SALAH MENUNTUT HAK KAMI?”

“DIAM!”

Ketiganya langsung menoleh kearah belakang mereka begitu mendengar suara gaduh kembali terdengar, namun yang membuat mereka heran mengapa seorang tersangka saja harus dikawal oleh sekian banyak polisi. Apa ia teroris? Sepertinya tak ada berita terbaru tentang hal – hal berbau kudeta seperti itu. Mereka semakin heran begitu melihat beberapa bodyguard ada di belakang polisi – polisi itu, oh…apa ia koruptor?

Noona, bodyguard itu sepertinya familiar di mataku”

Sooyoung mengernyitkan dahinya sambil menilai perkataan Minho, ia mengangguk tipis, “Kau benar, aku juga seperti pernah melihatnya”

Namun berbeda dengan Yoona. Gadis itu menyipitkan matanya curiga sambil terus memperhatikan ‘rombongan’ itu, perasaanya mengatakan sesuatu telah terjadi entah apa itu sebelum ia menyadari siapa pria tua yang dibawa oleh polisi – polisi itu, matanya membulat sempurna, telunjuknya menunjuk kearah ayahnya dengan tatapan tak percaya, “Appa..” gumamnya pelan namun nada panik tak dapat dielakan.

“Atau jangan – jangan—Eo, Agassi, kau mau kemana? Agassi!?”

Sooyoung dan Minho kaget begitu melihat Yoona berlari kencang mengejar rombongan polisi yang entah membawa siapa, “Aish aku belum sempat membawanya ke rumah sakit”

“Tapi apa yang Noona itu katakan sepertinya masuk akal..”

“Apa maksudmu?”

Minho berdeham singkat sebelum memberi tahu hal yang membuatnya takjub dan tentunya malu, “Luka di kening Noona itu sebenarnya bukan karena serangan musuh – musuhku, tapi karena aku yang tak sengaja menabraknya hingga—“

Sooyoung membulatkan matanya kaget dan langsung memelototi Minho kejam, “MWO? MENABRAKNYA?  NEO JUGGEO SHIPP—“

Jamkkaman! Memang aku yang menabraknya, tapi astaga Noona itu benar – benar ahli dalam bela diri! Ia bahkan bisa menghajar 4 pria bertubuh besar dalam hitungan menit, daebak!” ungkap Minho menggebu – gebu seolah ia baru saja melihat member girlband menari dihadapannya dan memberinya fanservice—entah karena ia kagum atau itu hanyalah trik untuk menghindari serangan Sooyoung.

Sooyoung melongo tak percaya sambil menunjuk kearah Yoona pergi, “Ga—gadis selembut itu…ahli bela diri?” tanyanya shock. Minho mengangguk pasti dan mendesah pelan, “Hah, aku menyesal kenapa tidak pernah mempelajari hal seperti itu, dan lihatlah sekarang! Aku harus di tolong oleh seorang yeoja, kaum manusia lemah!”

Sooyoung mengangguk setuju sambil membayangkan gadis yang tadi ia temui mengeluarkan bakat bela dirinya untuk membela sang adik, ia berdecak kagum saat membayangkannya, terlebih mengingat Yoona terluka karena adiknya, ia mengatupkan kedua tangannya dan memiringkan kepalanya dengan ekspresi berbinar, “Oh, pasti yeoja bernama Yoona itu sangat keren! Suatu saat aku harus berkenalan dengannya secara resmi!”

Minho mengangguk setuju sambil tersenyum aneh, Sooyoung mengerjapkan matanya begitu menyadari ucapan Minho tadi, ia melirik adiknya kejam dan langsung memukul punggungnya lagi, “MWO? Kau bilang apa? Kau bilang yeoja adalah kaum wanita lemah? NEO JUGGEO!”

YAK APPO! KENAPA KAU INI KEJAM SEKALI PADA ADIKMU SENDIRI?”

**

Yoona mengintip dari balik tembok lorong kantor polisi yang membuat mata almondnya langsung menyipit begitu melihat 5 orang polisi menjaga pintu dengan jeruji besi yang menjadi pintu masuk, seakan mengamankan apapun yang ada di dalam ruangan itu. Yoona yakin sekali itu ayahnya, walaupun ia hanya meliriknya sekilas, model rambut, tinggi badan, dan pakaian yang pria itu kenakan Yoona sangat mengenalinya.

Ia terdiam memikirkan rencana untuk membuatnya bisa masuk ke dalam ruangan berjeruji itu tanpa harus ‘mengotori’ tangannya ataupun membuang energi berlebih. Ia tersenyum aneh lalu menarik ikat rambutnya dan menata rambutnya sekilas, lipatan di lengannya pun ia turunkan sehingga Yoona terlihat lebih feminim dan cantik. Kaki jenjangnya ia lenggangkan kearah para polisi – polisi itu dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.

Yoona tersenyum penuh kemenangan begitu melihat para polisi yang ada disana tercengang melihatnya. Tak ada baju minim yang menempel di tubuh langsing Yoona ataupun make up tebal yang biasanya membuat wanita jauh lebih cantik, tapi pesona gadis itu sukses membuat kelima polisi itu terdiam menganga, “Chogiyo~”

N—ne, ada yang bisa kami bantu, Agassi?”

“Bolehkah aku masuk ke dalam? Ada urusan penting yang harus kuselesaikan disana”

Para polisi itu mengernyitkan dahinya heran. Sepertinya orang – orang yang ada di dalam tidak ada hubungannya dengan gadis ini sama sekali, mengingat di dalam hanyalah sekumpulan orang yang ingin mengintergoasi seorang laki – laki berumur diatas kepala lima, “Joesongheyo Agassi, tapi anda tidak bisa masuk karena ruangan sedang di pakai”

Tatapan Yoona mulai mengeras begitu mendengar jawaban yang tak di harapkannya, topeng keanggunannya sudah luntur karena kesabarannya mulai menipis, “Aku tidak ada waktu lagi, jadi hentikan semua ini dan beri aku jalan!”

Polisi – polisi itu terlonjak kaget begitu melihat perubahan Yoona, salah satu dari mereka langsung tersadar dengan tujuan Yoona lalu menunjuk – nunjuk wajah gadis itu kesal, “Hah, jadi kau hanya mempermainkan kami, kan? Sekarang pergi atau kau akan kami tahan!”

Yoona menyeringai acuh mendengarnya, “Geurae? Kalau begitu tangkap aku sekarang!”

BUG~!

Polisi yang tepat berada di depan Yoona langsung jatuh tersungkur begitu sikut Yoona mencium hidungnya, dengan cekatan Yoona menghindari pukulan dari polisi lainnya dengan menendang perut polisi itu. Polisi berkumis itu langsung tersungkur di lantai dan membuat polisi yang lainnya memasang kuda – kuda untuk menyerang Yoona.

Yoona mendesah di buat – buat sambil menatap mereka dengan tatapan meremehkan, “Jadi kalian juga ingin menghalangiku?”

**

Tuan Choi duduk dengan tenang di balik meja cokelat yang membatasi ‘keagungannya’ dengan siapapun yang ada di ruangan ini. Tampak kepuasan tersirat di balik kulit wajahnya yang keras dan dingin, matanya menatap keji kearah sesosok pria berumur 50 tahun yang sudah teronggok tak berdaya. Tinggal menunggu waktu baginya untuk melihat pria itu mendekam di penjara atau mungkin mendekam dalam liang kuburan. Asap rokok mengepul sempurna dari mulutnya yang tersenyum sinis begitu pria itu kembali memuntahkan darahnya yang sudha tercampur saliva akibat serangan para bodyguardnya.

Pemilik Jaekyo Group itu mulai bangkit dari duduknya seraya melangkahkan kakinya mendekati sang ‘tersangka’ diiringi dengan ketukkan tongkat kayunya yang bertemu dengan lantai membuat harmoni yang semakin membuat sang tersangka muak, “Cepat angkat kepalanya agar aku tidak perlu waktu terlalu lama untuk mengantarnya ke alam kubur sana”

Para bodyguard berbadan kekar itu mengangkat sang tersangka dengan enggan lalu seorang yang lainnya memegang dagunya untuk memudahkan Tuan Choi menatapnya, “Apa kabarmu, Im Sangwoo? Siapa sangka ternyata Im Sangwoo yang kukenal dulu menjadi salah satu karyawan tak berguna di perusahaanku sendiri?” kata Tuan Choi dengan tatapan menghina.

Tuan Im—sang korban di dalam status tersangka—hanya menatap Tuan Choi dengan tatapan mengutuk, “Siapa sangka, ya? Sejujurnya aku tidak akan sudi bekerja disini jika kebutuhan keluargaku tidak mendesak. Aku bertanya – tanya siapa yang rela sepenuh hati bekerja di perusahaan penganut tangan besi ala Daendless seperti Jaekyo Group?” katanya tak peduli dengan wajah Tuan Choi yang sudah memerah menahan amarah.

Tinjuan kembali melayang kearah perut Tuan Im membuat pria itu tersungkur di lantai sambil terbatuk darah, ia sudah tidak sekuat dulu. Jika kejadian ini terjadi saat mereka masih duduk di bangku sekolah, mungkin Tuan Choi sudah teronggok tak berdaya di lantai. Namun, posisi dan tentunya jumlah pengawal yang dimiliki Tuan Choi tidak bisa ditembus oleh karyawan biasa se-miskin Tuan Im.

“JANGAN PERNAH MENGHINA PERUSAHAANKU, ORANG MISKIN! Semakin hari kau semakin terlihat mengenaskan, apa semua orang miskin sepertimu? HABISI DIA!”

Para bodyguard itu langsung  menghajar Tuan Im tanpa ampun namun aksi mereka terhenti begitu pintu ruangan tertutup itu terbuka lebar dan menampakan seorang gadis dengan perawakan sempurna. Gadis itu terlihat emosi, terlihat dari rahangnya yang mengeras serta tangannya yang mengepal sempurna, sorot matanya yang gelap menatap nanar kearah sang ayah yang terduduk tak berdaya di lantai. Seketika darahnya mendidih melihat hal itu, tanpa berpikir dua kali, Yoona langsung menyerang semua bodyguard yang berniat menghajar ayahnya. Kali ini ia mengeluarkan semua kemampuannya dalam bela diri membuat Tuan Choi yang masih terdiam menatapnya takjub sekaligus takut. Bayangkan saja, gadis itu sukses menghadapi sekitar sepuluh bodyguardnya yang sudah terlatih seorang diri, namun detik berikutnya ketakutan langsung menghantuinya begitu Yoona menoleh kearahnya dengan tatapan penuh kebencian.

Gadis itu langsung berlari memeluk ayahnya yang sudah tak sadarkan diri dengan luka-luka yang baru ia dapatkan hari ini, “Appa…appa…ironabwa! APPA!” pekik gadis itu histeris begitu menyadari ayahnya tidak kunjung membuka matanya, ia dapat merasakan sang ayah bernafas dengan kepayahan membuatnya semakin kalut.

“APA YANG KAU LAKUKAN PADA AYAHKU?” pekiknya penuh emosi.

Tuan Choi tersenyum miring melihatnya, ia pun menepuk tangannya perlahan, seakan meledek kejadian tragis yang disebabkan oleh dirinya sendiri. Ia sadar gadis itu berusaha keras untuk tidak membunuhnya detik ini juga, “How sweet…pasti kau putri dari pria menyedihkan ini, bukan?”

Im Yoona mengepalkan tangannya sempurna, seakan amarahnya terkontrol dalam genggaman tangannya yang mengepal bak batu yang tak tergoyahkan, “Aku bertanya apa yang kau lakukan pada ayahku, tuan yang terhormat!”

“Kau yakin ingin tahu jawabannya?”

Yoona terdiam lalu ekor matanya melirik tubuh ayahnya yang terkapar tak berdaya di pangkuannya, “Ya, aku ingin tahu alasan apa yang membuatmu melakukan tindakan sekeji ini pada ayahku!”

Tuan Choi bangkit berdiri—tidak lupa dengan tongkat yang menyangga tubuhnya—lalu menghampiri Yoona dengan perlahan. Para bodyguard—yang sempat dilumpuhkan Yoona tadi—dengan sigap berdiri untuk melindungi sang majikan dari serangan gadis ini. Yoona tidak gentar, ia malah menatap Tuan Choi tanpa rasa takut sedikitpun, “Kau tahu siapa aku? Aku adalah CEO dari Jaekyo Group, tempat ayahmu ini bekerja.”

Seakan wajahnya disiram air es dan pipinya ditampar dengan tajam oleh seseorang, Yoona tercengang begitu mendengar fakta mengejutkan yang baru saja ia dengar. Pantas saja pria tua ini memiliki begitu banyak bodyguard—yang ternyata sangat payah—dan pria tua ini pasti memiliki kedudukan yang tinggi hingga dapat membuat kantor polisi tunduk padanya, “Ja—jadi…anda—“

Tuan Choi tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Yoona yang pucat pasi, “Ya, dan sepertinya kau tahu kenapa alasan aku menangkap ayahmu sekarang”

Dengan susah payah Yoona menelan salivanya sambil sesekali membasahi bibirnya yang terasa kering itu, ia mendadak gugup dan sedikit takut dengan sosok pria di depannya. Ia takut perlakuan dan perkataannya tadi membuat ayahnya dikeluarkan dari perusahaan dan kembali bersedih karena tidak dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia harus melakukan sesuatu….ya harus.

Tuan Choi terbelalak begitu melihat Yoona berjalan mendekatinya dan menunduk memohon maaf, gadis itu terlihat ketakutan dan kalut. Ia tersenyum puas begitu menyadari perkataannya berhasil membuat Yoona meminta maaf, “Joesonghabnida atas tindakan dan perkataan ayahku yang menyinggung hati anda. Namun, kumohon…jangan pecat beliau..kumohon” kata Yoona pelan.

“Choi Siwon….kenapa aku memikirkan anak itu saat melihat gadis ini?” Tuan Choi menatap Yoona ngeri, tanpa sadar ia mengeratkan genggamannya pada tongkatnya.

Yoona terus menunduk memohon maaf pada Tuan Choi dengan takut. Jika bersangkutan dengan ayahnya, ia rela menjatuhkan harga dirinya dan bahkan melakukan apapun, “Hanya ayahku yang kami bertiga miliki…kumohon Tuan”

Tuan Choi tersentak dari lamunannya lalu menatap Yoona intens. Gadis itu terlihat masih muda dan berhati tulus, sekalipun tindakannya kasar beberapa menit yang lalu, namun melihat perubahan emosi dan perilakunya hanya dalam sekejap—dan itu semua hanya demi ayahnya—Tuan Choi sadar gadis ini….mungkin…

“Aku tidak akan memecat ayahmu, tapi tuntutan tetap akan kulayangkan karena aksi demonya membuat perusahaan ku rugi ribuan dollar hanya dalam sekejap”

Yoona langsung mengangkat kepalanya kaget lalu menatap Tuan Choi, gadis itu menggeleng takut dan tanpa berpikir dua kali, ia langsung berlutut sambil menangis tepat di hadapan Tuan Choi, “Kumohon tuan, jangan! Jangan tuntut ayahku……atau—atau biar aku saja yang menanggungnya, kau boleh lakukan apapun padaku tapi jangan pada ayahku. Aku memohon padamu”

“Kau bersedia menangung tuntutanku?” ujar Tuan Choi, terselip nada kekaguman disana.

Yoona mengangguk tegas, “Ya, tuntut saja aku”

“Berapapun biayanya?”

Gadis itu mengangguk pasrah, “Berapapun”

“Apapun yang harus kau lakukan agar ayahmu bebas dari tuntutan?”

Gadis itu terdiam sebentar lalu perlahan mengangguk, “Apapun”

Bahkan para bodyguard tercengang dan kagum melihat cinta Yoona untuk sang ayah yang begitu besar, sejujurnya Tuan Choi sedikit cemburu dan mengharapkan hal yang sama pada ketiga anaknya, namun ia sadar hal itu tak akan pernah terjadi, bahkan anak sulungnya begitu membencinya.

Tuan Choi mengangguk, “Baiklah jika kau bersedia melakukannya. Datang ke kantorku besok tepat pukul 12 siang. Jika kau tidak dating…kupastikan ayahmu mendekam di penjara sesegera mungkin. Ayo kita pergi”

Air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata Yoona pun menetes tanpa diperintah. Saat pintu ruangan sudah tertutup denagn sempurna—yang menandakan Tuan Choi sudah pergi, gadis itu langsung berlari menghambur ke pelukan ayahnya yang masih tak sadarkan diri, “Appa….appa….”

Dengan segala kekuatannya, Yoona membawa sang ayah keluar sambil merenungkan nasibnya. Entah apa syarat yang diajukan Tuan Choi untuk tuntutannya, kemarin ia baru saja mendapat surat peringatan dari kampusnya tentang penunggakan uang kuliah. Apa mungkin ia berhenti saja? Apapun yang Tuan Choi ajukan padanya, ia berjanji akan memenuhinya.

**

Malam pun menyapa bumi Seoul yang keramaiannya justru semakin terasa begitu matahari mengistirahatkan diri setelah seharian membantu umat manusia di dunia, sinar rembulan yang redup namun cantik mulai menerangi langit diabntu dengan lampu – lampu yang memancarkan cahayanya membuat suasana kota terlihat cantik dan menakjubkan jika dilihat dari atas. Jalanan di Gangnam pun semakin padat seiring berjalannya waktu.

Im Yoona yang terlihat masih kacau sejak kejadian tadi siang ditambah dengan ocehan dari Shin ahjumma di sore hari karena terlambat dating ke cafe pun melangkahkan kaki jenjangnya menyusuri jalanan di daerah Gangnam. Mantel tebal yang menyelimuti tubuh rampingnya serta sneakers berwarna ungu tua yang ia kenakan sedikit membantunya menghalau udara dingin yang berterbangan.

Gadis itu menghela nafasnya berat lalu melangkah masuk ke tempat kerjanya yang lain. Ia melirik jam tangannya yang menunjukan waktu pukul sepuluh malam. Entah sampai jam berapa ia akan berada di club malam ini, yang jelas ia tetap harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya—dan yang terbaru adalah tuntutan dari Tuan Choi.

“Yoona-ah, wasseoyo!” ujar Seohyun tersenyum senang melihat Yoona melangkah masuk ke dalam ruang make up dan tuang istirahat untuk pelayan di club malam ini, “Mianhae aku datang terlambat, ayahku sedang sakit”

Gwaenchana, santai saja Yoona-ah. Oh iya, semoga ayahmu cepat sembuh”

Yoona hanya tersenyum masam mendengarnya, ia berniat menceritakan masalahnya namun ia urungkan niatnya dan memilih untuk diam, “Gomawo, Seohyun-ah. Kalau begitu aku akan mengganti pakaianku dulu”

Geurae, cepatlah! Aku akan mendandanimu sebelum kita bekerja” ujar Seohyun sambil lalu. Yoona berjalan melalui lorong sepi yang mengantarnya menuju toilet terdekat, pikirannya  masih melayang – layang memikirkan beban hidupnya yang seakan terus bertumpuk tanpa ada jalan keluar, namun pergerakan kakinya terhenti begitu mendengar suara aneh di dekat lorong.

“LEPASKAN AKU! LEPASKAN!”

“DIAM!”

Yoona mencengkram dressnya begitu mendengarnya. Gadis itu langsung membuang dressnya asal lalu mencari wanita itu. Matanya membulat sempurna begitu melihat 2 orang lelaki berusaha keras merobek dress yang dipakai wanita itu. Gadis itu sudah meronta sambil menangis namun kedua lelaki itu tetap melecehkannya sambil tertawa senang.

BUG~! BUG~!

Gadis itu tercengang begitu melihat kedua pria tadi terkapar tak berdaya di lantai, ia pun mendongakkan kepalanya dan melihat seorang gadis menyelamatkannya dari lingkaran ketakutan yang bisa saja akan menghantuinya seumur hidup. Gadis itu langsung menghambur ke pelukan Yoona sambil menangis histeris, “Gomawo…gomawo sudah menyelamatkan hidupku! Jika kau tidak datang, entah apa yang terjadi pada nasibku”

Yoona tersenyum tipis lalu mengelus punggung gadis itu perlahan, “Ne, lain kali kau harus lebih berhati – hati”

Taeyeon?! Kim Taeyeon?”

Keduanya menoleh begitu mendengar suara wanita berteriak memanggil nama seseorang dengan panic. Gadis yang ada dalam pelukan Yoona pun tersadar namanya mulai dicari – cari. Gadis yang ternyata bernama Kim Taeyeon itu melepas pelukannya dan tersenyum manis, “Sekali lagi, terimakasih telah menyelamatkanku. Oh iya, Kim Taeyeon imnida!”

Yoona ikut tersenyum lalu menjabat tangan Hyoyeon dengan ramah, “Im Yoona imnida

“Kau bekerja disini? Aku sering melihatmu di kampus”

Yoona mengangguk malas lalu memperhatikan pakaian yang dipakai Taeyeon, “Kau pasti juga bekerja disini dan kuliah di tempat yang sama denganku” sahutnya pelan.

Taeyeon tertawa ringan lalu mengangguk santai, “Ne, lebih tepatnya aku penyanyi disini dan beberapa kali berbagi ruang kelas denganmu. Kalau begitu aku pergi dulu, sepertinya mereka sudah mencariku. Annyeong, Yoona-ssi”

Yoona hanya menghela nafasnya kasar begitu melihat Taeyeon pergi, setidaknya ia menyelamatkan orang lain dari hal – hal yang menggelikan seperti tadi. Ia pun kembali ke kamar mandi untuk mengganti baju sebelum Seohyun mencarinya.

**

Yoona hanya bisa tercengang begitu menatap gedung pencakar langit di depannya. Ia mulai menatap sekelilingnya, melihat aktifitas beberapa orang keluar masuk dari lobby gedung pencakar langit ini. Dan tentu saja pakaian yang dikenakan mereka terlihat rapi dan berkelas, tidak seperti dirinya yang hanya memakai kaus putih polos yang dipadu dengan celana panajng merah serta sneakers hitam, rambut panjangnya ia ikat asal dan ia hanya memakai lipgloss untuk mewarnai bibirnya. Namun ia tak peduli, tujuannya datang kesini bukan untuk melamar kerja atau sejenisnya, ia ingin memenuhi tuntutan Tuan Choi—yang tidak mengharuskannya memakai baju-baju seperti karyawan di kantornya. Yoona menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya, ia yakin dengan sangat jika keputusannya kali ini memang benar apa adanya. Langkah kakinya teratur dan penuh kepercayaan diri, banyak mata yang memandanginya entah itu intens atau sambil lalu, ia tak peduli.

“Dimana ruangan CEO Jaekyo Group? Lebih tepatnya Tuan Choi Kiho?”

Receptionist itu terdiam sebentar lalu memandangi penampilan Yoona dari atas sampai bawah yang diluar ekspektasi tamu-tamu yang datang untuk menemui raja dari Jaekyo Group ini. Bahkan, penampilannya jauh lebih rapi dan berkelas dibanding Yoona. Yoona menatap malas kearah receptionist ini, apa semua orang hanya bisa dilihat dari penampilannya saja? Toh dia kesini karena permintaan bossnya sendiri.

“Apa kau sudah puas memandangiku, Nona?”

Receptionist itu menunduk malu mengetahui aksinya tertangkap Yoona, “Apa anda sudah membuat janji dengan beliau?”

Yoona memutar bola matanya malas, “Bukankah pertanyaan itu harusnya diajukan oleh seorang sekretaris?”

Receptionist itu tertegun mendengar jawaban gamblang Yoona. Dengan sedikit kesal, wanita itu memberitahu bahwa sang CEO berada di lantai 30 gedung ini. Tanpa berlama-lama, gadis berumur 20 tahun itu segera masuk ke lift dan menekan angka 30 yang membuat sebagian karyawan terdiam dan memandangi Yoona bingung—yang tidak digubris sedikitpun oleh Yoona. Semakin tinggi lift itu membawa para karyawan, semakin sepi orang yang berada di dalam lift dan kini hanya menyisakan Yoona yang masih harus bersabar untuk mencapai lantai 30.

TING~

Saat Yoona bersiap melangkah keluar dari lift, ia terkejut melihat seorang pria dengan raut wajah dingin serta aura menyeramkan yang masih terpancar dari matanya berdiri tepat di depannya. Seketika jantung Yoona berdegup kencang serta darahnya berdesir tanpa diminta. Ada apa dengannya? Bahkan matanya terpaku pada kedua mata tajam milik pria itu, seakan sorot amta itu menguncinya untuk tetap menatap pria itu.

“Apa kau akan tetap disitu dan membuang waktu berhargaku?”

Yoona terperanjat kaget, dengan segera ia kembali kea lam sadarnya ia menunduk enggan lalu keluar dari lift. Pria itu mendengus dan langsung masuk ke dalam lift dengan angkuh. Tak perlu waktu yang lama untuk lift itu bergerak dan meninggalkan Yoona yang masih berdiam di depan lift dengan tatapan kesal, “Cih, tampan tapi sombong. Buat apa, huh?”

Yoona memperhatikan lantai 30 yang baru saja ia pijaki setelah turun dari lift. Telrihat jelas lantai ini sengaja di desain sebaik dan semewah mungkin dibanding lantai yang lainnya. Dan ia baru sadar lantai ini merupakan ‘penthouse’ di kantor ini. Dengan ragu ia mulai mendekati seorang karyawati yang menempati salah satu meja di luar pintu kayu yang berdiri dengan gagahnya di depannya, ia yakin inilah sekretaris dari CEO Jaekyo Group.

Jogiyo…apa Tuan Choi ada?”

Sekretaris itu menoleh lalu tersenyum, “Ah, apa anda Nona Im Yoona?”

Yoona tersenyum canggung lalu mengangguk, “Oh, anda sudah ditunggu beliau di dalam ruangannya, mari saya antar”

.

.

“Aku kira kau tidak akan datang, Nona Im”

Yoona langsung menoleh kearah Tuan Choi yang berada di kursi kebesarannya sambil meminum segelas kopi yang masih panas. Pria itu tersenyum miring melihat wajah Yoona yang tidak bersahabat terhadapnya, “Duduklah, aku tidak sedang menghukummu”

Dengan berat Yoona mulai melangkah menuju sofa di ruangan itu, menghempaskan tubuh rampingnya ke sofa sambil melirik sinis kearah Tuan Choi yang sepertinay sedang mengambil berkas – berkas—tunggu…apa ia harus menandatangani sesuatu? Ia berusaha menepis pikirannya dengan memandangi ruangan Tuan Choi yang begitu luas dan landscape kota Soeul bisa dilihat dari ruangan ini mengingat sisi kanan ruangan ini terbuat dari kaca.  Sofa putih yang ia duduki terletak di tengah ruangan, beberapa lukisan maupun patung berbentuk binatang buas menghiasi sudut – sudut ruangan. Yoona tertegun begitu melihat sederet foto prestasi maupun piala penghargaan yang diberikan negara maupun dunia international untuk Jaekyo Group. Tiba-tiba ia gugup menghadapi Tuan Choi, entah berapa ribu dollar yang harus ia bayar untuk menutupi kerugian perusahaan adidaya Korea Selatan ini.

Dentingan cangkir dan piring kecil pada meja kaca di depannya sanggup mengalihkan perhatian Yoona, ia kaget begitu menyadari Tuan Choi sudah duduk di depannya dengan aura bossy yang begitu terasa di setiap sendi – sendi tubuhnya, “Minum tehnya sebelum dingin”

Yoona tersenyum meremehkan lalu melipat tangannya di depan perut, serangan rasa gugup itu masih terasa, “Aku tidak ingin membuang waktuku, Tuan Choi yang terhormat. Masih banyak part-time job yang harus kulakukan. Lebih baik anda katakan berapa yang harus kubayar”

Tuan Choi tertawa sinis mendengar pernyataan sakratis Yoona, “Ternyata kau dan ayahmu sama saja, sama-sama liar dan tak tahu aturan”

Yoona menghembuskan nafasnya sambil memejamkan matanya menahan emosi mendengar kalimat Tuan Choi yang membuat gadis itu ingin menendang bokong pria tua ini, namun ia hanya diam tak bergeming dan tersenyum, “Mungkin menurut anda kami seperti itu, tapi setidaknya ayahku mengajarkanku untuk bertanggung jawab akan suatu hal dan berani menghadapi hal yang menurutnya tidak benar”

Sejujurnya Tuan Choi kagum akan sosok gadis yang sekarang duduk di depannya dengan keberanian yang tak bisa diabaikan, sepertinya ia tidak salah memutuskan, “Baiklah, sepertinya nona Im yang pemberani ini memiliki jadwal yang penuh sehingga sulit sekali bertemu dengan CEO Jaekyo Group yang menganggur ini”

Tanpa berbasa – basi lagi, Tuan Choi meletakan map berwarna merah ke atas meja yang langsung membuat Yoona membeku di tempatnya. Lidah gadis itu terasa kelu dan bibir gadis itu terasa kering—inilah alasan Yoona memakai lipgloss, ia kerap kali gugup—jantungnya berdebar begitu Tuan Choi membuka map itu dengan pelan seakan mengejeknya.

Tuan Choi membaca gerak-gerik Yoona yang terlihat sedikit bingung dan linglung, namun ia justru senang menyadari fakta itu, “Nona Im Yoona”

Seakan itu panggilan kematian, Yoona mengangkat kepalanya dengan ragu, ia menatap Tuan Choi yang kini tersenyum aneh kearahnya membuat Yoona merinding, “Ne?”

“Saya tidak akan menuntutmu dengan uang ataupun membawa kasus ini ke meja hijau. Bukan, bukan itu tuntutan yang harus kau bayar. Kau memang akan dikurung dalam penjara namun bukan penjara itu yang kumaksud”

Kening Yoona berkerut mencoba memahami maksud perkataan Tuan Choi, “Maksud anda? Lalu anda menuntut saya dengan apa?”

Tuan Choi menghembuskan nafasnya berat lalu menatap Yoona tegas, “Menikahlah dengan putra sulungku”

DEG.

Demi Neptunus yang ada di mitologi Yunani.

Tubuh ramping Yoona terasa seperti disambar petir di siang hari atau melihat buah papaya yang tumbuh di pohon apel. Yoona melongo tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia belum setengah jam berada di ruangan ini dan pikirannya sudah kosong, seakan perkataan Tuan Choi merupakan kalimat para malaikat pencabut nyawa yang langsung membuat Yoona linglung.

“A—apa…anda baru saja mengatakan sesuatu tentang menikah yang berhubungan denganku?”

Tuan Choi mendesah kesal melihat tingkah Yoona yang seakan divonis penyakit mematikan oleh dokter, ia pun mengangguk santai seolah kalimatnya barusan hanyalah gossip tentang pernikahan Barbie dan Ken, “Iya, Im Yoona. Aku memintamu menikah dengan putra sulungku. Itu tuntutanku padamu”

Yoona terbelalak mendengarnya, bagaimana bisa…ia menikah dengan putra sulung dari Jaekyo Group?

“Jika kau menerimanya, aku akan memberikan beberapa asset berharga Jaekyo Group untukmu. Namun jika kau menolaknya, jangan harap ayahmu akan terbebas dari tuntutanku. Aku memberimu waktu 5 menit”

5 MENIT? Kau pikir ini tidak menyangkut kehidupan seorang wanita, dimana hal ini akan menjadi peristiwa penting dalam hidupnya?

Yoona rasanya ingin meneriakkan kalimat itu tepat di wajah Tuan Choi yang terlihat tenang dengan apapun yang diputuskan gadis ini, seakan ia tahu apa jawaban yang akan diterimanya.

“Kenapa harus aku? Bukankah kau tahu tabiatku seperti apa?”

Tuan Choi mengendikkan bahunya tak peduli lalu menatap Yoona dengan sorot mata tak terbantahkan, “Aku rasa putraku bisa kembali seperti dulu jika memiliki seorang istri dengan sifat keras sepertimu—setidaknya sikap dan sifatnya harus kuperbaiki sesuai standard  untuk calon CEO Jaekyo Group di masa mendatang dan untuk urusan bercerai, kalian pasti akan melewatinya, kau tenang saja. Sudahlah cepat tanda tangani surat itu!”

Yoona menatap nanar kearah surat dan bahkan ballpoint yang berada tepat di samping map itu. Pernikahan untuk seorang wanita bukanlah hal sepele yang bisa diputuskan dalam detik ini juga tanpa persiapan. Siapapun dan apapun itu, jika menyangkut pernikahan harus memikirkan dengan baik tentang keputusan yang akan ia ambil. Namun, keadaan yang mendesak membuat Yoona tak dapat berpikir jernih.

“Ini demi appa. Sejak kecil aku sudah menyusahkannya, kali ini aku harus membahagiakannya”

Dengan tangan bergetar, Yoona meraih ballpoint itu dan mulai membubuhi surat itu dengan tanda tangannya. Tuan Choi tersenyum penuh kemenangan begitu melihat tanda tangan Yoona sudah menghiasi surat itu dengan baik.

Tuan Choi menepuk bahu Yoona pelan, “Selamat datang di keluarga Choi, Im Yoona. Aku akan menghubungimu untuk urusan pertemuan dengan putraku”

Yoona hanya diam tak bergeming, ini masih terasa seperti mimpi dalam bayangannya. Demi apapun, seumur hidupnya ia tak pernah bermimpi akan menikah dengan cara seperti ini, dan yang terpenting—ia tidak menyangka akan menikahi putra sulung Jaekyo Group, putra mahkota Jaekyo Group.

TO BE CONTINUE

Aku jamin banyak yang lupa sama FF ini, bahkan gak tahu ada FF ini wkwk mianhae aku bener-bener sibuk sekolah, ada yag kena kurikulum 2013 disini? Yap inilah masalah authorT~T tapi katanya udah mau diapus kan? Baguslah wkkw

Sekedar pemberitahuan, FF ini dibikin jadi 3 versi dan di post di 5 tempat yang berbeda, jadi jangan heran kalau nemu FF ini di blog lain, asal authornya atas nama kkezzgw, berarti itu emang FFku^^ Udah ah bingung mau ngomong apalagi wkwkkw intinya semoga kalian suka sama FF ini, dan jika ada kemiripan dsbnya, maafkan author T_T

See you on Chapter 3 kkk~<3

Tinggalkan komentar

123 Komentar

  1. jayjay

     /  Maret 8, 2015

    KYaaaaaaa… Ini daebak.. Unnie aku mau baca yang versi lain dong… Aku salut banget sama yoona disini.. Eon.. Aku tunggu part duanya yah.. Aku ngga sabar baca lagi…

    Balas
  2. lanjutannya di blog unnie ya/?
    aigoo ceritanya mkin seru ><
    nnti aku mampir di blog unnie :v

    Balas
  3. ria

     /  Oktober 3, 2015

    Yoona baik bgt,
    Rela banting tulang demi klg’a

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: