[OS] DEAR

Cover [OneShoot] DEAR

Tintin’s Present

Im yoona | Choi siwon

Oneshoot || PG 15+

Education (maybe) | Romance | family | friendship | sad.

 

Disclaimer :The cast’s   belong to god. The plot of this  story  is mine

 

 

Back song :

“Mikha Nakashima—Dear

 

.

 

.

 

.

Cinta? ya, mungkin aku tak mengetahui detailnya

tapi kupikir…  aku merasakanya

 

 

“Na-ya..”

 

Wanita itu menoleh cepat, wajahnya langsung menagkap sosok pria yang berlari kecil mendekat.

Ada keanehan yang ia lihat sehingga dengan sadar Alis itu bertaut rapat,  bingung dengan ekspresi bahagia yang  kepalang terlihat  di setiap Siwon menatap.

 

“Kenapa dengan wajahmu itu?  Kau membuatku takut, sungguh”

 

Siwon terbahak mendengar  respon  Yoona yang mengundur jarak.  Sepersekian detik setelahnya tubuh tegapnya telah bersandar nyaman  pada kursi,  tepat di mana meja yang tengah gadis itu bereskan.

 

“Kau takkan percaya ini, aku… anni Jessie nuuna ia menerimaku” Siwon mengucap dengan santainya, tetap dengan wajah yang berbinar bahagia,

 

Tanpa tahu perubahan mimik di wajah Yoona, yang seketika itu juga terpekur dengan pernyataanya

 

Ini terlalu sulit. begitu pikirnya.

Jika saja Yoona bisa, ia ingin membalas senyuman itu, senyuman yang mampu mendesirkan rasa hangat kesekujur tubuh,  senang melihat seorang yang teramat ia sayang  begitu menampakkan ekspresi girang.

Tapi dia Yoona, gadis yang  takkan bisa melakukannya di saat Siwon,  pria yang  melekat dengan bandrol sebagai sahabat, jutru  telah lama di sukainya.

 

Sesak menyulut, menatap sosok bahagia dan itu  jelas bukan aku penyebabnya.  Perasaan sakit ini.. bukankah  pertanda cinta?

.

 

.

 

.

 

“Na-ya.. lihatlah”

 

“Kau..  pindah” ragu menyesap lidahnya menatap rona senyum pria yang sampai kini belum sirna.

 

“Ya. Kurasa aku perlu bersekolah di tempat yang sama dengan Jessie nuuna sebelum ia menamatkan sekolahnya”

 

Alasan itu…

Bisakah  cukup di pendam saja? Yoona merasa tubuhnya kini mengambang di atas awan hitam yang mengiringnya jauh ketepian jurang.

 

Persaan sakit menyusup menisik penuh ke rongga hati menekan penuh kesadaran itu untuk kembali jikasanya alasan semangat itu ada karna hal lain dan itu bukan dirinya.

 

 

Cinta pada dasarnya membuatmu belajar itu yang pernah kudengar dan sekarang akan ku coba praktikkan apa itu benar..

. 

 

 

.

 

 

.

 

“Ahh.. minhe Na-ya,  aku tak  bisa pulang  denganmu. Jessie nuuna memintaku pulang bersama”

 

Tatapan nanarnya  tersorot begitu saja. punggung  Siwon menjauh  sangat  jauh,  tertutup kabut tebal  yang menumpuk dan terjatuh menjadi aliran kecil di sudut matanya.

 

Tangisan ini, entah sudah keberapa kalinya.

Dan kali inipun,  masih dengan alasan yang sama, Siwon yang membuat sesak itu kembali menekanya

 

Dan saat dimana kini kesakitan itu menghimpinya, seketika itu juga  rasa sesal membesit  pikiranya,

sesal telah mengunci sepenuhnya hati untuk satu lelaki, sesal telah jatuh dalam kharisma itu lagi, cinta yang tak terbalas nyatanya  membuat luka dalam yang teramat menyakitkan

 

Sesedih ini kah kehidupan?

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

 

Gadis itu tersudut,  duduk di bawah pohon besar pemisah lapangan tenis panjang di depan.

Matanya sibuk  memperhatikan sesosok pria dengan lekat. Sorak sorai terdengar memenuhi seluruh pendengaran,

 

Siwon s-a-h-a-b-a-t-n-y-a berdiri disana dengan penuh amarah memukul bola hijau kecil hingga memantul keras ke arah lawannya, pria yang juga balik menatapnya seram.

 

“Donghae!!.. Donghae!!”

 

“Siwon!! … Siwon!!”

 

Seperti itu, teriakan beberapa gadis berseragam sepertinya.

 

Donghae dan Siwon.. siapa tak mengenal?  Keduanya merupakan pria populer sekolah sains. Siwon anak baru dari sekolah umum biasa,  masuk dan mengeser citra remaja pria di sekolah sains yang pada umumnya berperawakan cupu dengan kacamata khas yang selalu bertenger di wajah

sedang Donghae, oh ayolah.. ia  sudah terlalu sering menjadi bahan omongan sisiwi yang kepalang suka dengan setiap kharisma yang ia punya.

 

Keduanya begitu berpengaruh di sekolah,  hal apapun yang mereka lakukan jelas akan langsung menjadi tontonan heboh seluruh siswa. Tanpa terkecuali kali ini..

 

Namun ada hal yang membuat

Senyum kegetiran mencuat begitu saja di sudut wajahnya,

 

Kedua pria itu bukan hanya sekedar bermain tenis untuk kesenangan semata, tapi untuk suatu tujuan, yang ia tahu persisnya.

 

Mendapatkan hati gadis yang kini berdiri cemas di sisian lapangan.

 

Jessica senior sains yang cukup berpengaruh karna kecantikanya

 

Sedang gadis ini, gadis yang kini hanya melihat keruman orang itu dari kejauhan,  hanyalah siswi biasa yang beruntung dengan  IQ  tinggi yang dimilikinya hingga mendapat beasiswa di sekolah sains tempatnya kini berada.

 

Yoona bukanlah apa-apa jika di bandingkan semuanya. Ia hanya gadis pendiam yang benar-benar menutup diri dari keramaian.

 

Anggaplah suatu keberuntungan karna Siwon justru bisa berdekatan dan bersahabat denganya. Ketertutupanya sering membuat siswi lain menjadikanya bahan pergunjingan.

terlebih saat tahu sang siswa baru, Siwon adalah sahabat baik si gadis pecundang, julukan yang melekat saat pertama kali menginjakkan kelas.

 

 

Iris mata itu masih terus memperhatikan dan termurung seketika wajahnya begitu tahu Siwon terkalahkan.

 

Donghae di depanya bersorak, terlalu girang menuruntya.

sedang Siwon terduduk dengan mengacak rambut kesal.

 

Ohh.. andai Yoona bisa, ia ingin menenangkan Siwon di sana namun sosok gadis lainya justru mendekat lebih cepat

Membuat helaan napas beratnya  mencuat..

 

‘apa yang kau pikirkan Im yoona.. bukankah kekasihnya lebih berhak’

 

 

***

Bisakah kita berdua berhenti di sebuah ruang, hanya sedetik? Aku hanya  ingin kembali melihat wajahmu dengan nyaman

 

 

 

 

“Sendirian?”

 

Yoona menoleh singkat lalu kembali menatap kedepan tak menjawab.

 

“Aku Donghae, senior sains-A” pria itu mengulur tangan ke kanan, pada Yoona tepatnya

 

Namun Yoona justru  milirik sekilas

“semua orang mengenal sunbae dengan baik tak perlu perkenalan” itu jawabnya

 

“Begitukah..” cengiran kecil lantas mencuat di wajahnya. matanya fokus menatap ke arah Yoona. Iris mata gadis itu mengerjab, mengemaskan menurutnya.

 

“Aku selalu melihatmu di bawah pohon ini. sebenarnya apa yang kau lakukan di sini?”

 

“Istirahat..”

 

Jawaban yang singkat, tapi entah mengapa membuat Donghae kembali merasa magnet menariknya untuk mengetahui kepribadian gadis ini lebih dalam.

 

Percayalah,

Donghae telah mengenal Yoona bahkan saat gadis itu masih menjadi kandidat penerima beasiswa full di sekolahnya.

 

Namun Sosok tertutup sepertinya seakan menjadi sekat bagi Donghae untuk mendekat.

 

Hingga keberuntungan datang padanya,  memecah ragunya hingga disinilah dia di pohon yang menjadi saksi dimana ia yang setiap waktunya menjadi penguntit setia sesosok gadis pendiam seperti Yoona.

 

“Ku dengar kau dan Siwon berteman baik, sejak kapan?”

 

Yoona kali ini benar-benar beralih dari fokusnya di depan, kearah Donghae yang ketika itu juga menggaruk tengkuk dengan sungkan

 

“Ahh.. aku hanya bertanya,  karna setahuku tak ada yang namanya pertemanan antara lelaki dan perempuan”

 

Dia benar, sejak saat itu, saat dimana hatiku menanam rasa yang ku tahu siwon sosok pria yang pertama dan berhasil merubah segalanya..

 

.

 

 

.

 

 

.

 

Tak  bisakah takdir mengubah? aku tak ingin bertemu dengannya sebagai teman…

 

 

Suatu hal yang jarang terlihat saat  jam istrirahat, sosok si pecundang melangkah pelan di koridor kelas hal yang kemudian  membuatnya   menjadi tontonan yang cukup mengherankan.

Namun berselang semenit setelahnya,  tontonan lebih mengehebohakn kembali terlihat

 

Di arah berlawanan,  Jessica dengan tangan yang terkepal geram melangkah mendekat

 

“Kali ini apa..” itu ucapan pertama yang ia layangkan. Tak sopan memang.Tapi nyatanya Yoona terlalu malas jika kembali berhadapan dengan gadis yang memiliki  ganguan psicis seperti Jessie

 

Hey.. ia benar,  setiap gadis itu mendatanginya,  akan ada makian yang mendegung di sudut telinga,  menyalahkan  dirinya  atas  kekasih  yang  notaben sahabatnya,  selalu mencuri waktu lebih banyak dengannya.

 

“Sudah ku katakan untuk tak lagi dekat dengan Siwon! Apa kau tuli!!!”

 

See..

Semua kekesalan itu bertumpu pada satu orang. Pada Siwon yang kembali menjadikanya tawanan amarah dari senior setingkat di atasnya itu.

 

Yoona  bukanlah  seorang  yang pandai melawan,  namun  kelebihanya  ialah bersikap dingin dan mengabaikan.

 

Seperti  sekarang,  setelah beberapa saat terdiam yang di lakukannya justru melanjutkan langkah yang sempat tersedat.

 

“hey! are you really deaf huh! Back here bitc—“

 

Dukk…

 

Suara lemparan itu mengusiknya. Yoona menoleh dengan cepat,   hingga detik lanjutan, langkahnya membesar.  Berlari  kembali menuju gadis yang kini di kerumuni begitu banyak sisiwi yang siap melemparkan cacian atau bahkan lebih buruk

 

Dukk..

 

Dukk..

 

Dukk..

 

Mata itu terpejam erat,  bau amis telur hingga tomat busuk menyeruak di pencimuan. Siswi seangkatannya yang semula ingin  melempari itu kearah  Jessie kini malah  tepat mengenainya.

 

Kebodohanyalah,  yang membuatnya  menjadi tameng setia untuk gadis yang nyatanya rival baginya

 

Ini terlalu mengejutkan

Setidaknya Yoona bersyukur Jessica tak banyak berkata

matanya hanya terarah pada titik dimana Yoona  menutup erat kelopaknya.

 

 

Sementara itu,  di lain tempat, dalam detik yang sama, Siwon berlari dengan begitu cepatnya melalui beberapa koridor panjang hingga terhenti tepat di sebuah kerumunan

 

Ia melihatnya, tentu. Bahkan kini ekspersi mengerikan itu siap Siwon layangkan

 

“Apa yang kalian lakukan!!!” iris hitam itu memerah ada amarah yang memuncak di  sana.  tak lagi perduli  kenyataan jika kerumunan itu bernotaben perempuan

 

Begitu Siwon mendekat, kerumunan sisiwi itupun dengan segera mengambil langkah lebar berlalu meningalkan tempat

 

Sedang Siwon dengan cepat berbalik, iris sayunya menatap khawatir keduanya

 

“Gwencana?”

 

Yoona diam, sedang Jessica menganguk pelan namun ekspresi Shock masih terpantri jelas

 

“Sudah kukatakan untuk tidak berkeliaran di sekitar sini..  Nuuna akan dapat masalah”

 

Jessie menganguk, seakan membenarkan.

membingungkan memang,  Jessica pada dasarnya tak pernah melakukan suatu kejahatan, tapi ia yang di ketahui sedang menjalin hubungan dengan siswa si aktor dadakan sekolah menjadikannya sosok jahat dimata siswi pelajar sederajat.

 

“kita pergi saja won-ah aku perlu menganti baju” langkah Jessie sedikit tertatih tapi dengan perlahan meraih lengan Siwon dan membimbimnganya pergi

 

“tapi nuuna—”

 

“kajja”

 

Yoona teracuhkan, itu sudah menjadi kebiasaan jika Siwon dan senior kesayangan itu telah berada dalam jarak yang dekat.

 

Meskipun harusnya, ia  lebih berharap  mendapat perhatian. Baju serta rambut yang ia biarkan tergerai itu telah terlumuri kotoran telur dan tomat yang menjijikan hanya untuk membantu seorang yang sampai kini sedikitpun tak memberikan rasa simpatik  padanya. Atau setidaknya sahabatanya itu,  sedikit mengerti dengan kondisinya.

 

Kejadian ini mengingatkan nya ketika dahulu saat ia masih menduduki  awal kelas  sekolah tingkat menengah, ada begitu banyak cemoohan yang ia dapati dari rekan sekelasnya yang kemudian memaksa Siwon turun tangan, Siwon melindunginya, pindah dari kelas favorit kala itu dan memilih masuk ke kelas biasa dimana Yoona berada disana hanya untuk memastikan keadaanya akan terus baik-baik saja.

 

Jika dulu Siwon-nya tak pernah menyukai orang yang menyentuh terlebih melukainya, kini sudah berbeda

Siwon berubah, jauh berbeda hingga  Yoona seakan tak lagi mengenalnya

 

Tidak,

 

Yoona terlalu kuat.

ia takkan menangis di waktu sekarang. Toh.. ia masih memiliki tangan untuk membersihkan kotoran yang melekati seragam, ia masih punya kaki yang membantunya melangkah pergi, ia masih punya mata dan pendengran yang mendukung lebih dan masih banyak lagi. Yoona bisa melakukan sendiri ia sudah terlalu terbiasa dengan sikapnya yang menyendiri.

 

Dan dengan kesadaran penuh nya, yoona berjalan pergi..

Namun baru satu pijakan kaki ia langkahkan, rasa nyeri dan perih langsung mengeleyar

 

Kakinya yang berbalut sepatu tipis itu tanpa sadar menginjak serpihan kaca yang entah bermula darimana, mengahambur di depanya

 

Mengerikan, selain melempari telur dan tomat busuk, nampaknya  rekan siswi itu  juga melempar botol kaca hingga pecah.

 

Meski begitu, Yoona tak punya pilihan selain pergi dari tempat itu, sebelum masalah baru kembali datang.

Kaki kiri itu  di angkat perlahan, dengan langkah terseok Yoona berjalan meninggalkan tempat.

 

Siwon yang  dari kejauhan tak juga melepas pandang jelas melihat langkah Yoona yang tersauk kesakitan

Dan dengan kesadaran penuh ia melepas rangkulan Jessie dengan perlahan

 

“nuuna miann..  Aku perlu mengurus sesuatu..”

 

.

 

.

 

.

 

 

aku pernah sekali membayangkan, betapa sangat menyenangkan mendapat perhatian lebih dari seseorang. Tapi sekalipun aku bayangkan, Yang bersal dari pemikiran hanya akan menjadi angan-angan.

 

 

Di tempatnya biasa, Yoona gadis itu kembali terduduk  ria di sudut pohon besar belakang  sekolah

 

Bajunya telah terganti dengan pakaian olah raga yang kebetulan  tersimpan di lokernya.  jam istirahat telah berakhir, namun kali ini gadis itu memilih membolos. lagi pula Miss Jang,  guru kimianya akan mempersalahkan pakaian yang ia kenakan jika masih nekat masuk dan mengikuti pelajaran.

 

Dan dari kedua alasan itu, yang paling rasional  ialah kaki kirinya yang sulit ia gerakkan.  kaki yang sesaat lalu tanpa sengaja menginjak belingan sampai saai ini belum juga ia sembuhkan

 

Terlalu lelah beranjak dan pergi mencari obat yang nantinya ketika ia paksakan berjalan,  nyeri yang tak tertahankan mengeleyar.

 

Keheningan siang itu terganti dengan dentuman sepatu hitam lekam, yang terhenti tepat di sudut padang

 

Yoona mendongak.

 

Siwon entah bagaimana,  telah ada di di depanya mengambil posisi jongkok dan meraih pergelangan kaki kirinya,  yang seketika membuat ringisan kecil terdengar dari ranum tipisnya.

 

“apa yang kau lakukan?”

 

Pria itu tak memperdulikan,  yang ia lakukan justru memfokuskan pandang kearah kaki Yoona, membuka sepatu putih yang sedikit membercak merah di pinggiranya.

 

Setelah sepatu  itu benar terlepas, darah jelaslah terlihat memenuhi kaos putih yang Yoona kenakan membuat helaan nafas Siwon semakin terdengar tersendat.

 

Perlahan dan dengan sangat hati-hat di gulungnya kaos yang berubah warna kemerahan itu dan diangkatnya sedikit pergelangan kakinya,  namun geraknya terhenti ketika Yoona kembali meringis.

 

“sakit?” iris hitamnya  menatap Yoona lembut

 

Dan Yoona  menjawabnya dengan anggukan lemah

“kalau begitu duduklah disini” Siwon mengubah posisi jongkoknya dan menumpukan sebelah kakinya sedang sebelahnya di buat meninggi, di kaki kanan tepatnya.

Siwon menepuk pelan paha dan menyuruh Yoona untuk duduk di sana

 

Yoona tak kuasa menolak karna pada dasarnya ia sangat membutuhkan pertolongan kakinya mulai terasa amat sakit sekarang. Jadi, dengan sedikit paksaan ia mendudukan diri perlahan dan membiarkan Siwon mengobati luka kakinya yang dalam.

 

“maaf  karna  melindungi  Jessie nuuna kau jadi begini” Siwon perlahan membalut luka yang masih basah itu dengan perban panjang di tangannya yang bebas.

 

Yoona diam..

Matanya sibuk memperhatikan Siwon dari posisinya yang dekat.

 

Debaran itu kembali menyeruak

Perasaan tak tenang-pun kembali hinggap

Tubuhnya melemas

 

Semuanya  seirama,  menyelip  hingga  menghulus  tepat  di  perantara  jantung  dan  paru, di hati yang masih aktif  bekerja menopang  aliran  darah  yang  langsung  tersebar  keseluruh  titik  di  tubuhnya.

 

Eksprseinya  tetap  sama,

Sebab  Ini  sudah  terlalu  biasa,  jadi  Yoona  tak  pernah  salah  tingkah  dengan perubahanya,  atau  mungkin  karna  Siwon  tak pernah sekalipun  tahu apa yang di rasakanya.

 

 

Di saat mata tak dapat melihat, indra pendengar bisa melakukanya, tapi jika keduanya tak dapat digunakan, bukankah harusnya indra perasa yang mendominan?.

Tapi kenapa seklipun tak kau lihat aku dengan hatimu?

 

***

 

Tubuh Yoona terasa begitu ringan, ia merasa kini tengah berbaring dalam kasur empuk dengan kapas yang mengelilingi badan, begitu nyaman dan damai. Meskipun pada nyatanya tak demikian

 

Ia kini tengah berada di atas punggung pria yang terus meniti langkah menuju rumah.

Tertinggal satu blok lagi maka komplek tempatnya dan Siwon tinggali akan nampak

 

katakanlah sebuah keuntungan baginya, karna kaki yang terluka ini, ia bisa bersandar nyaman pada punggung Siwon yang hangat

 

“Benar, kau ingin masuk ke Perteknikan arsitek?” suara bass Siwon mengalihkan keterpakuanya sesaat

 

“eoh? Kau tahu dari mana?”

 

“Guru Jang yang memberitahuku. Ku pikir kau ingin jadi dokter.. tapi mengapa Arsitek?”

 

Yoona tersenyum,  lebih dulu mengeratkan pegangan di leher jenjang  sang  pujaan

“tak ada alasan spesial..  aku  hanya ingin merubah rumah yang ku tinggali. Rumah yang bagus dengan  penghangat di setiap sudutnya.  dengan begitu ketika Dongwook oppa kembali dari pelatihan ia bisa tidur dengan nyenyak di sana”

 

Langkah Siwon terhenti begitu mendengar penuturan polos darinya

Mata hitam itu berkaca-kaca menumpukkan beningan yang siap  lolos dari tempatnya

 

Ia tahu dengan jelas kehidupan Yoona. Lebih dari siapapun, Siwon sangat tahu seberapa menderitanya gadis di gendongannya kini.

 

Awalnya biasa,  keluarganya hanya sosok  biasa berbeda dengannya yang merupakan keluarga pebisnis, orang tua Yoona hanya pegawai sipil biasa.  Ayahnya petugas patroli polisi di distrik Inceon sedang ibunya pegawai pencatatan sipil  di seoul.

 

Mereka keluarga yang bahagia yang  selalu berusaha menghabiskan waktu bersama, Yoona, orangtunya dan juga dongwook kakak lelakinya.

 

Saat Siwon kecil ia yang bertetanga dua rumah darinya sering berkunjung untuk sekedar bercengkrama biasa

 

Semuanya masih sama tawa dan canda itu masih ada, hingga sebuah musibah  datang melanda  keluarga  kecilnya.  Kedua orang tua Yoona terbunuh dengan tragisnya oleh seorang  narapidana  yang  berusaha  kabur  dari  penjara.  saat itu ayah Yoona bertugas untuk berjaga dan ibunya datang untuk menemaninya.

 

Siapa yang menyangka saat keduanya dinyatakan telah tiada, senyum dan tawa kedua anaknya menghilang seketika.

 

Yoona saat itu baru beranjak 14 tahun ketika dengan keadaan hidup yang tak lagi memungkinkan ia berkerja keras sampai sekarang.  begitupun kakak lelakinya Im Dongwook berusa mati-matian untuk bisa menghidupi dirinya dan Yoona

 

Siwon juga merasakan kesedihan yang sama atas meningalnya kedua orangtua Yoona karna ketahuilah orang tua Yoona  adalah orang tua kedua baginya,   begitupun sebaliknya sampai sekarang-pun pemikiran itu masih melekat padanya.

 

 

“kenapa berhenti?”

Seruan kecil Yoona dengan cepat membuatnya tersadar dari kilasan balik kehidupan gadis yang betah dalam gendonganya.

 

“anni hanya ingin berlama saja mengendongmu”

 

Saat perhatian itu ada aku merasa seperti berada dalam surga, salahkah jika persaanku semakin besar padanya?

 

 

***

 

 

“nuuna menunggu lama?”

 

Jessica mengeleng pelan kemudian dengan gerakan kecil mengeser tubuhnya kesisian membiarkan Siwon menempati posisi kosong di sisi kirinya

 

“Yoona bagiamana dia?”

 

“kakinya sudah lebih baik”

Seulas senyum tergambar menyatu dengan raut wajah tampan yang Siwon perlihatkan

 

“jadi.. apa yang membuat nuuna menyuruhku datang?”

 

Mata itu saling bersitatap tapi Jessie cukup tahu pandangan yang kini Siwon layangkan berbeda jauh ketika pria itu menatap seorang yang sampai saat kini takkan pernah bisa tergeser tempatnya.

 

“kita berhenti saja..”

 

“ne?”

 

“aku dan kau berhenti disini saja”

 

Iris hitam itu melemah dengan kerutan di sekitar wajah

“kenapa harus berhenti?  Nuuna  mencintai orang lain?”

 

“anni.  kau yang mencintai orang lain..”

 

“aku mencintai orang lain? Maksud nuuna apa?”

 

“you might like me siwon. But,  with yoona, your eyes telling how much you love her..”

 

 

***

 

Terkadang  saat kau mencoba untuk  mulai meng-ikhlaskan,  kehendak bisa saja  merubah jalan

 

 

Yoona memasang raut kesal pada sosok penganggu yang dengan santainya duduk sibuk dengan ponsel di tangan

 

“kau menganguku”

 

Siwon menoleh menatap polos padanya. Hanya sesaat, karna setelahnya ia malah sibuk kembali dengan ponsel yang ia gengam

 

“katakan apa yang kau mau”

 

Yoona kali ini sedikit menekankan ucapnya, mulai kesal dengan tingkah siwon yang aneh.  karna ketahuilah, sejam yang lalu Siwon memintanya berhenti sejenak dari pekerjaannya dan menemaninya sesaat di taman depan komplek rumahnya  namun sampai saat ini ia sediri di buat bingung dengan maksud kedatangnya.

 

“tak ada. Apa salah jika aku menemui sahabatku..”

 

Yoona memutar pupil itu jengah lalu kembali fokus ke perhatianya semula

“yang ku tahu itu salah. Bagiamana jika kekasihmu  tahu  malam minggu seperti ini kau malah mendatangiku?”

 

Siwon mendengus kasar, kini ia bernar-benar mengenyahkan ponselnya dan balas menilik Yoona dengan dalam

 

“aku dan Jessie nuuna sudah berakhir Yoona.. dia bukan lagi kekasihku..”

 

“ jadi, kau benar-benar menyerahkanya karna kalah taruhan tenis?!”

 

Ahh..

Siwon tahu ekspresi Yoona ini akan mengarah kemana, jika bukan mendiaminya lagi karna prespesi gadis itu yang mulai salah mengiranya, yang terburuk adalah tak membiarkan Siwon berdekatan dengnya.

 

“bukan begitu, taruhan tenis itu untukmu bukan untuk Jessie nuuna..”

 

Terdiam yoona di buatnya..

Matanya sibuk menelisik iris hitam Siwon  yang balik menatap lurus padanya mencari kejangalan dari tatapnya. Namun, ia tak menemukanya.

 

“maaf karna membohongimu. Aku menantang Donghae hyung bermain tenis jika ia bisa mengalahkanku dia biasa mendekati—“

 

“jangan teruskan!”

 

“Na-ya..”

Iris hitam Siwon berubah sayu tanganya mencoba meraih lengan Yoona namun gadis itu segera menepisnya.

 

“berbalik sekarang jangan menatapku!”

 

Siwon menurut, tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

 

Sudah menjadi kebiasaan ketika Yoona merasa ingin menangis, gadis itu akan menyuruhnya berpaling sampai tangisan itu mereda.

 

Oh, ya itu aneh.  Sampai saat ini Siwon selalu beranggapan demikian.

 

Ia mungkin terlampau sering melihat wanita menangis.  tapi untuk Yoona, selama hidupnya  Siwon sekalipun tak pernah melihatnya.

 

“ku pikir kita benar-benar teman tapi kau malah tega menjadikanku barang taruhan” di sela tangisanya Yoona mengucap pelan

 

andai Yoona tahu alasan Siwon sebenarnya

Masih mungkinkah gadis itu menangisi tindakanya?

 

Siwon hanya kurang senang saat mengetahui sahabatnya menjadi perhatian orang lain entah suatu kebaikan baginya atau tidak mengetahui Donghae telah lama menguntit sang gadis.

 

Sang gadis? Rasanya itu telah pantas jika Siwon menyatakan demikian.  setelah beberapa hari meratap dengan kenyataan, seakan mendapat pencerahan, Siwon mulai bisa membaca satu persaan yang bertumpu dalam dan tertancap hingga ke  pikiran bahwa-sanya sudah sejak lama persaan itu ada namun sama sekali tak di sadarinya.

 

Ya, terdengar konyol memang siapa yang tak bisa memahami persaan? Tapi seseorang terkadang bisa begitu tolol untuk mengetahui perasaan itu sendiri atau bahkan berusaha mengenyahkan demi satu alasan yang agaknya relefan.

 

oh come on love it’s  stupidly right?

 

 

 

 

Hari ini semuanya berjalan seperti biasa,  Siwon masih dengan ketutupan hatinya sedang Yoona setia dengan persaan cintanya.  tak ada yang bisa merubah meski tatapan keduanya nyata terbaca.

 

Kali ini Siwon tak lagi punya waktu sibuk seperti saat menyadang status kekasih seseorang. Ia kini menyibukkan diri untuk memperhatikan  Yoona yang tengah melayani pelanggan.

 

Gadis itu bekerja di sebuah restoran dua blok dari kompleknya yang terkenal.

Sesekali mereka saling memandang dan melempar senyuman yang agaknya menjadi anggapan jika mereka pasangan kekasih yang  tengah kasmaran

 

Mungkin Yoona sempat merasa geram dengan sikap Siwon yang menjadikanya barang taruhan namun,  heyy…  bukankah seorang yang mencinta akan lebih lapang hatinya?

 

menit-menit yang berjalan tak membuat suatu kebosanan nampak. Siwon terlalu senang dengan posisinya sekarang,  ia yang terduduk di pojok ruangan lebih leluasa memandang gadis pujaan yang berlalu lalang dengan nampan di tangan.

 

Sesekali  ada tawa yang megiringi lirikan iris hitanya,  melihat tingkah konyol Yoona pada pelangganya namun tarkadang juga dengusan menguap begitu saja melihat kilatan nakal pelanggan pria yang melirik  Yoona tanpa jeda.

 

Benar-benar mengesalkan..

 

“kupikir kau akan merenung setelah di putuskan” suara lain mengusik kesenangannya.

Pandangan Siwon kini beralih  menatap Donghae dari arah pintu cafe dengan  tajam

 

Pria itu berjalan dengan sesekali mebenarkan kacamata tanpa lensa yang ia kenakan lalu menutup padangan Siwon dengan duduk berhadapan.

 

“apa yang kau lakukan disini?”

 

“ini tempat umum bukan? Lagi pula aku ingin menemui seseorang” iris teduh Donghae melirik sekilas pada Yoona yang tengah menata pesanan,  mengesankan jikalau seorang yang ia maksud itu tengah sibuk dengan tugasnya sebagai pelayan.

 

“jauhi dia sebelum kau mendapat masalah” ketus Siwon mengucap,  matanya masih menilik tajam

 

Sedanag yang ditatap demikian hanya tertawa,  seolah apa yang terucap barusan sebuah bunyolan lucu yang tak harus di indahkan

 

“hey.. aku menang taruhan kawan, jadi jangan mengancamku”

 

Bitch..

Siwon telah termakan tidakan bodohnya sendiri,  sekarang cara apa yang bisa menjauhkan seorang seperti Donghae dari hidupnya dan Yoona..

 

 

***

Tuhan takkan memberikan suatu cobaan lebih dari apa yang bisa kita lakukan. Dan aku sangat berharap apa yang ia janjikan itu benar.

 

 

“kulihat kau semakin dekat dengan Donghae”

 

Yoona menangapi dengan cengiran kecil mendapati betapa kekanakannya wajah Siwon kala berucap barusan

 

“memanganya kenapa?”

 

“kenapa?! Hey.. dia dekat denganmu karna punya maksud buruk”

 

Kali ini tawa Yoona yang memecah

Seburuk itukah Donghae dalam pandanganya…

 

“ku pikir Donghae sunbae tak punya maksud apapun. Lagi pula aku dekat denganya hanya untuk pelunasan taruhan bodohmu itu”

 

Oh.. baiklah

Kali ini Siwon terpaksa bungkam. Jika tahu begini jadinya, harusnya tak pernah terlintas pikiran untuk melakukan taruhan

 

“jadi, apa saja yang kalian lakukan kemarin”

Dengan kehati-hatian pria itu mengucap takut menyinggung persaan Yoona,  karna kedekatan dengan Donghae  yang mungkin tak sekalipun gadis itu inginkan berawal darinya

 

“hanya bercerita saja. lagi pula aku dan dia tak mungkin melakukan hal lain di saat Donghae sunbae masih sibuk kencan dengan jessie-nya”

 

Pulpil Siwon membulat tak percaya,  penuturan Yoona benar-benar  membuatnya terkejut tak menyangka

 

“kenapa? Sakit hati mengetahui jessie-mu sudah memiliki pria lain?”

 

“anni tentu saja tidak!”

 

Tawa Yoona kembali menghias

Langkah keduanya terhenti bersamaan begitu tiba di depan pagar  pembatas rumah bercat coklat, rumah yoona tepatnya.

 

Namun ada hal  yang membingungkan

Di sana ada sosok pria berjas hitam dengan koper di tangan berdiri di sisian pagar.

 

“Im yoona?”

 

“ne. Anda siapa?”

 

Pria itu memilih berdiam dengan sedikit menunduk mengambil sebuah berkas dalam koper yang sedari tadi di gengam

 

“saya jaksa yang di utus dari camp kemiliteran untuk memberikan  kabar jika salah satu bantara muda  bernama Im Dongwook telah berpulang saat  memulai pelatihan tembak” sebelah tangan pria itu menyingkap jarak dan memberi berkas yang sesaat lalu di keluarkan

 

Yoona merasa kedua iris mata itu telah mengemul benigan hangat tapi berusah ia tahan

 

Tubuhnya serasa kaku.  dingin menghampiri menjalar bersamaan dengan denyutan nadi membaur dengan perasaan hampa yang menghulus keseluruh titik di tubuhnya.

 

Kakaknya, keluarga satu-satunya telah berpulang meningalkanya?

Tidak tahukah sesedih apa sekarang  persaanya?

 

Tubuh kakunya berjalan cepat, Mengabaikan pria dan berkas yang masih mengambang tanpa sedikitpun ia pegang. Yoona dengan sedikit paksaan berlari kecil menuju kamar

 

Dan Siwon yang tentunya masih berda tak jauh dari saana menyusul langkah Yoona tak kalah cepat

 

Hikss…

 

Tangisan itu terdengar hingga keluar ruang kamar

Menghentikan langkah Siwon dengan perlahan.

 

Siwon sudah terlalu mengenal Yoona, di saat sedih seperti ini gadis itu pastilah butuh waktu  sedirian,  tapi sejak dulu disaat kondisi Yoona seperti ini ia takkan bisa membiarkan sosok yang teramat berharga di hidupnya itu melaluinya sendiri.

 

Saat usia Yoona 14 tahun  misalnya,  ketika itu kedua orang tuanya telah selesai di makamkan ia yang juga seumuran denganya terus mendampinginya meski pada akhirnya gadis itu terus memarahinya karna tindakkannya

 

Dulu dan kini masih tetap sama alasan Utama mengapa ia mengabaikan egonya ialah Ingin memastikan jika Yoona akan tenang setelahnya.

 

“Dongwook hyung orang yang baik, dia pasti mendapat tempat yang indah di surga”

 

Tangisan Yoona sedikit mereda tersisa segukan kecil yang nyata mengema

 

“aku heran kenapa sampai sekarang kau masih sulit memperlihatkan air mata itu depanku?” Siwon merubah topiknya

 

“ini terdengar sedikit jahat, tapi aku.. ingin sekali melihat wajahmu ketika menagis”

suara bassnya terus terdengar,  mendominasi malam yang mulai beranjak

 

Pria itu kini terduduk dengan punggung bersandar lemah pada pintu bercat biru yang memudar

 

Di balik pintu itu,

Yoona juga melakukan hal yang sama ia bersandar di sisian sebaliknya dengan tangan mengenggam sebuah frame,   gambar keluarga kecilnya yang bahagia.

 

Ya, keluarga kecil yang bahagia pada masanya

 

 

Hening menemani,

Siwon tak tahu lagi apa yang bisa ia lakukan di tengah duduknya

 

Sesekali wajah pria itu terangkat menatap langit-langit rumah Yoona yang telah usang kemudian kembali menunduk menyeka cairan bening yang lolos dari kemulan iris hitamnya

 

“Onjen-gani odumi gothigo

Ttaseuhan hessari I-nunmureul mallyojugil..”.

 

Serak mengiringi nada yang Siwon pijak (?), ia tengah bernyanyi berharap itu bisa sedikit memberi ketengan batin meski agaknya ia kini tengah berusaha menengadah wajah menghalau beningan itu lolos kembali

 

“Gwencananeul gorago ne seuseurareul wirohamyon botinue—“

Siwon tak lagi bisa menahan,  kedua tanganya menagkup wajahnya yang merah dengan  keras,  ia sesegukan sekarang.

 

Mengeherankan memang,  karna pada dasarnya cinta membuat perasaanmu terbawa ke sisi yang jauh dari yang terkira. letak hati seorang tak tahu pasti, ketika tiga persaan menyelimuti, bahagia, sedih, dan emosi  secara relefan hati merubah diri, sikap serta kondisi batin.

 

Tak ada yang benar-benar bisa menjelaskan dan menguraikan setiap makna dari peguraian cinta itu sendiri, baik Yoona maupun Siwon yang pada dasarnya masih terlalu muda untuk mengerti itu,  jelaslah tak paham dengan perubahan yang terkehendak dalam benak meaing-masing. Yang mereka lakukan hanya terus mengikuti kemauan hati tanpa perlu mengintrupsi.

 

Aku tak tahu pasti mengapa kisahku bisa sesedih ini salahkah jika kini aku mulai menyalahkan tuhan dengan takdir yang ia jalankan

 

***

 

 

Pekarangan rumah itu terlihat lebih  ramai dari biasanya.

Beberapa pelayat melakukan sembahyang sebagai penghormatan terakhir di depan frame seorang pria yang tengah tersenyum manis di depannya.

 

Yoona di sana, tepat duduk di tengah dengan pakaian serba hitam yang ia punya.  iris kecoklatanya terfokus menatap  senyuman sang kakak.

 

Tak tahukah tuhan jika apa yang di takdirkan padanya Ini berat?, melepas sosok yang paling ia harap, sosok yang menjadi  tumpuan dalam hidupnya yang kejam.

Bagaiman bisa ia mengikhlaskan di saat penyemangat dalam hidupnya telah berpulang..

 

“apa kakak bahagia sekarang?” lirihan suaranya terdengar lantang. Tatapanya masih ia condongkan kedepan

 

“ya, kakak pasti bahagia, ada ibu dan ayah di sana. Pasti menyenangkan, iya kan?” kebisuan dalam ruangan kecil itu semakin menyekam. Diantara puluhan pelayat, tatapan lekat masih Siwon perlihatkan. Bagaimana dengan tidak memperhatikan sekitar, Yoona masih saja berkutat dalam asa yang coba ia gapai, meski kenyataan menampar,  Yoona seakan tak berkutik dan tetap berada dalam dunianya sendiri.

 

“kenapa tidak ajak aku bersama?  Kalian pikir ini mudah?! Aku berjuang sendirian disini, kenapa hanya kakak yang kalian ajak, kenapa?!”

 

Tak ada lagi tangisan yang bisa ia luapkan, Yoona sudah teramat sering menangisi kehidupanya yang tak sejalan, tidak,  tangisan bukan satu-satunya penyaluran kepedihan

 

Hanya mimik wajah datar dan pucat yang ia perlihatkan

Dengan sedikit tenaga yang ia punya, di bangkitkan tubuh ringkihnya,  berjalan perlahan melewati kerumunan yang terdiam

 

Ia tahu jikalau kini dirinya menjadi  fokus para pelayat yang menatap penuh iba dan kasihan padanya

 

Dan itu sungguh memuakan. Yoona benci di kasihani,  tatapan iba itu harusnya tertuju pada orang-orang yang lemah

 

‘Ohh.. lucu sekali Im yoona bukankah kau terlihat lemah sekarang?’

 

 

.

 

.

 

.

 

 

Wajah sumringah Siwon terlihat jelas dari kejauhan. Tepat dalam gengamananya kini,  ada  secarcik  kertas  yang  sesaat  lalu  di  berikan  guru  Nam,  wali kelas yoona.

 

Karna  kondisi  berduka,  Yoona belum  sempat  hadir  ke sekolah.  seminggu ini gadis itu tak lagi menghadiri  kelas  seperti  biasa,  yang  di  lakukanya  hanya berdiam  diri di rumah  dan kondisi itu, jujur  sedikit  membuat  kekhawatiran  menyelip perasaanya.  Meski begitu,  Siwon masihlah dapat bernapas lega karna kondisi fisik Yoona sampai kini masihlah baik-baik saja.

 

 

Karnanya,  melalui Siwon,   guru Nam  memberikan secarcik  formulir  pendaftaran jalur undangan universitas  padanya untuk kemudian  diberikan  pada Yoona nantinya.

 

Teralu  dini  memang  mengingat  Yoona masihlah  berada  pada  semester genap kelas dua  di  Inceon International  Sains School,   namun karna gadis itu menempuh jalur besiswa full,  ia mendapat kesempatan  pertama memilih universitas tanpa perlu melakukan jalur tes tertulis.

 

Itulah mengapa Siwon kini terlihat bahagia.  Bangga jelaslah dirasakanya,  karna bagaimanapun Yoona sudah dianggap sebagai  keluarga baginya,   meski pada dasarnya gadis itu adalah wanita spesial dalam hidupnya

 

Drtt… drtt..

Getaran ponsel dalam sakunya seketika menghentikan langkanya.

 

“Siwon…”

 

Kenig  Siwon mengerut, suara ibunya di seberang terdengar berat  dan entah mengapa ia merasa ibunya tengah menahan isakan

 

“ya, bu.. ada apa?”

 

“…”

 

Kerutan itu berangsur hilang  terganti dengat  keterkejutan  yang  nyata terlihat.

napas  Siwon  tercekat,  sesegara  mungkin ia berjalan  mengitari  pelataran kelas berlari menuju gerbang,  keluar dari sekolah  itu  dengan  napas  yang  tak  lagi beraturan.

 

Dadanya berdetak,  menggebu.  Berbaur  rasa sesak  yang mengitar  ke seluruh rongga pernapasan

 

Salahkan kebodohnya  melupakan fungsi taxi yang dapat  mempercepatnya sampai ketujuan

 

Yang ada dalam benaknya kini justru hanya terus berlari,  hingga sampai ketempat gadis itu berada.  meskipun pada kenyataanya,  komplek rumah mereka ada bermil-mil jauhnya

 

Yang terpikir justru kondisi yoona.

 

Gadis yang  sesaat lalu melalui sang ibu ia dengar  kabarnya

Gadis yang sesaat lalu membuatnya merasakan  kebanggan yang luar bisa

Dan gadis yang justru membuatnya merasa  ketakutan itu  mengitari pikiranya

 

Bahkan saat  mengingat hal sesederhan itu, air matanya  tanpa bisa ia hentikan lolos begitu saja  mengaliri  wajahnya  yang  terpaut cemas.

 

.

 

.

 

.

 

 

 

“Siwon-ah kenapa baru datang sekarang”

 

“ apa yang terjadi bu? Yoona..  dimana dia?”

Di tengah keletihannya, siwon berusaha menuntut penjelasan atas apa yang sebenarnya terjadi dengan kerlingan mata yang seketika itu  berubah sayu

 

“mereka, mereka membawanya ke RSJ  seoul,  mereka bilang  Yoona tak waras dan menelpon pihak RSJ untuk membawanya pergi.  mereka membawa Yoona pergi Siwon..”

 

Sistem pendarahanya seakan lumpuh.  ibunya masih sedikit  sesegukan di sampingnya pastilah merasakan kesedihan yang serupa denganya

 

Tapi agaknya kini ekspresinya berbeda,  tubuhnya menegang kaku  iris hitamnya lantas terfokus kearah kumpulan orang  yang  ia tahu pasti diantaranya adalah dalang dari penjemputan paksa gadis yang saat  ini sungguh dikhawatirkanya

 

 

 

.

 

.

 

.

 

 

 

“anda bisa masuk sekarang”

 

Dengan langkah Tertatih,  Siwon membuka perlahan pintu bercat keputihan itu.

Di sana, tepat di depanya,  ada  Yoona yang tengah duduk mengetukkan jari pada kaca yang  membingakai  jendela dengan tempo yang  pelan.  iris madu itu  menatap kosong  pemandagan di depan.

 

Siwon  mendekat mengambil posisi duduk disisian,  sedikit  berjongkok dengan mata yang  menatap penuh pengharapan

 

Mengharap apa yang ia lihat ini salah, berharap penuh jika kondisi Yoona tak seperti apa yang orang katakan padanya. Yoona-nya baik-baik saja dia gadis  yang terlalu pintar  jika harus memiliki ganguan mental

 

Meskipun  kehidupanya penuh dengan tekanan, Siwon  tahu dengan pasti,  Yoona adalah orang  yang   sangat kuat,  cukup  kuat  hingga gadis itu bisa bertahan hidup  sendirian hingga sekarang.

 

Jadi suatu hal yang mustahil jika gadis itu memiliki keterbelakangan mental,  seperti apa yang  santer tentanga sekompleknya katakan.

 

“Na-ya..”

Tangan kekar itu meraih perlahan jemari Yoona yang bebas,  mengelusnya dengan lembut.  jemari gadis itu terlihat memucat selaras dengan wajahnya yang tak kalah pucat

 

Siwon tak tahu sejak kapan tangan Yoona bisa  selembut ini atau mengapa jemari gadis itu terlihat  lentik dengan kuku putih  yang  menghias  indah  setiap  garis jemarinya.

Tapi sungguh,  apa yang ia perhatikan kini membuat kekaguman  demi kekaguman menumpuk menjadikannya sebuah penghias yang  apik tersimpan dalam hatinya  yang  paling dalam.

 

“kau pasti senang mendengar ini”  Siwon memberi jeda dalam pengucapanya, menatap lekat pergelangan  tangan Yoona yang lebih kurus dari seminggu sebelumnya

 

“tiga  universitas besar memberikan  jalur beasiswa untukmu”

 

Wajah itu memaksa senyuman,  menatap iris madu yang  sekalipun tak balik menatapnya

 

Yoona memang  seperti itu,  setidaknya sehari semenjak  kabar  kakanya terdengar.

Jadi, Siwon bisa makluminya.

 

Namun meski begitu, kekhawatiran tentang  kondisi  Yoona masih terus menyelipinya.  Tak tahukah  jika  gadis ini lebih mengerikan dengan sifatnya yang diam.

Meskipun pada dasarnya ia memang  demikian,  hanya saja sikap diamnya kali ini berlipat-lipat lebih menghawatirkan.  mungkin hal itu juga yang menjadikan alasan keluar Park yang tepat  bertetanga di sebelah rumahnya  memanggil  pihak medis untuk mengani kejiwaanya.

 

“ayahku sedang  berusaha mengeluarkanmu dari  sini, kau tunggu saja Na-ya kau pasti keluar dari sini”

 

“tidak perlu…”

 

Dua kalimat yang baru saja terlontar membuat kelegaanya mencuat

 

Yoona tidak gila, Yoona masih bisa berbicara  dengan tenang  dan  menaggapi ucapanya,  dan kenyataan itu  sungguh sangat melegakanya

 

“kau akan keluar Yoona…  akan ku pastikan  itu”

 

“Sudah ku bilang tidak perlu!!”  Nada suara Yoona  mengeras iris itu kini benar-benar beralih menatap Siwon dengan tajam

 

“kenapa? Kau senang di anggap gila oleh semua orang?!”

Siwon berucap tak kalah keras,  ada emosi dalam dirinya yang seketika itu ikut meluap

 

“ya, lebih baik mereka mengangapku begitu..”

 

“Na-ya…”

Raut lemah terpantri jelas takkala iris hitam itu menatap

 

“Aku lelah Siwon, semua masalah ini benar-benar membuatku gila”

 

“Tidak, kau tidak boleh menyerah ada aku, ibu dan juga ayahku kami ada denganmu kau tahu itu”

 

“aku tidak bisa Siwon.. ada baiknya untukku tetap disini”

 

“Tidak! Tempat ini bukan tempatmu Yoona!!”

 

Yoona dengan cepat memalingkan wajah kembali pada fokusnya di luar jendela, sedang  Siwon bangkit dari posisinya,  berdiri dengan setengah amarah yang ia punya

 

“aku akan datang lagi besok untuk menemputmu,  jadi  bersiaplah”

 

.

 

.

 

.

 

“apa maksud ayah?”

 

“ayah tak bisa berbuat banyak…   Yoona sudah di pindahkan ke ruang  isolasi, jadi ayah mohon untuk tidak memkasakan kehendak.  Yoona mungkin memang sudah amat tertekan sekarang biarkan dia—“

 

“Annio!!  Yoona  tidak gila ayah! Sudah ku bilang  Yoona hanya berpura-pura!” Siwon sedikit mengerasakan ucapanya,  kaki jenjangnya mengiring  keluar dari ruang kerja sang ayah,  menghilang dari balik pintu yang di desain apik dengan kaca di sekelilingnya

 

Melihat itu,  sang ayah menarik nafas berat karnanya

 

 

 

***

 

 

 

Gerak  pijakan kaki itu mendentumkan bunyi di setiap tumpuannya,  jemarinya terkepal gusar.  matanya menilik setiap ruang  hingga tiba pada sebuah koridor panjang , tepat berada di ujung pembelokan tertulis  jelas “Isolasi Room”.

 

Langkah itu semakin melebar,  di pandanginya seluruh pintu yang memperlihatkan sedikit keadaan di dalam,  lewat kaca berukuran sedang di tengah pintu yang berderet panjang.

 

Langkahnya mengebu dan tak sabaran hingga tepat di bilik ruangan,  dengan papan bertuliskan  nama seseorang,  Siwon bisa melihat dari jendela berjeruji,  pembatas pandangan koridor dan ruangan isolasi  dimana Yoona  tengah terpekur duduk di sisian ranjang

 

“Na-ya!” Siwon mengedor pintu berbahan baja itu dengan keras.  tangan kirinya berusaha membuka paksa knop pintu namun  sia yang  ia dapat,  Pintu  itu  berbahan baja dan  terkunci dengan beberapa gembok kecil di pinggirannya

 

“Yoona-ya!!”

 

Namun Siwon tak juga  menyerah di tengah persaannya yang  berkecamuk,  ia  kembali meneriaki  nama Yoona dengan gerak yang terus mengedor pintu dengan kekalutan yang masih sama.

 

Sedang  Yoona  dibaliknya  berusaha menguatkan hatinya untuk tak terpengaruh dengan suaranya

 

“sudah ku bilang  aku akan membawamu  keluar tapi kenapa kau malah bersikap seperti ini?!”

 

Rahang  Siwon  mengeras,  air  matanya tumpah merembas,  iris hitamnya memerah ada rasa sakit di hatinya begitu tahu  Yoona mengabaikanya.

 

Ia benci kenyataan itu, kenyataan jika  Yoona tak  pernah sekalipun menumpahkan kesedihan padanya,  kenyatan jika  gadis itu  terlalu memaksa diri untuk menahan kesakitan yang  ia rasa.

 

“NA-YA!!”

 

Untuk kesekian kalinya teriakan Siwon menggema, namun tak ada respon berarti di dalam sana. Yoona hanya diam dengan tatapan lurus  yang  tak pernah lepas..

 

Beberapa  detik setelahnya,  Justru petugas keamanan dan beberapa staf yang kemudian menariknya menjauh dari sana

 

Siwon memberontak dengan kuatnya,  tetap mengedor keras pintu baja dimana Yoona masihlah berada dalam  posisi duduknya

 

“kenapa kau lakukan ini padaku Yoona-ya!! KENAPA?!!!”

 

Namun sentakan keras petugas berhasil membuatnya menjauh dari sana,  menyeretnya keluar dari koridor ruang  Isolasi  denganya yang masih terus meracaukan nama Yoona  yang masihlah bisa terdengar dari biliknya.

 

Setetes air mata mengulir dengan bebasnya, Yoona menangis sejadinya,  melihat respon Siwon yang dengan kefrustasianya meneriaki namanya.

 

Tapi ini pilihanya ia takkan pernah bisa menyusahkan orang terdekatnya, Yoona sudah cukup menjadi beban untuk mereka, ia takkan lagi bisa membiarkan keluarga yang selama ini mengurusnya dan sang kakak terbebani karnanya. ia takkan bisa membalas segala kebaikan keluarga Siwon padanya.

 

Untuk itu biarlah seperti ini,  biarlah ia berada di tempat ini meratapi diri dan tertinggal sendiri.

Kehidupan itu kejam, ada kalanya menyerah menjadi satu-satunya jalan jika tidak maka hidupmu benar-benar terhenti sekarang

Aku hanya terlalu lelah untuk berjuang, maaf..

 

.

.

 

 

.

 

A/N : Anyeong yerobun  Tintin back!^^ jadwal comebacknya saya percepat hehe.. habis kalau  nunggu ampe tahun depan tuh  bertepatan ma kegiatan “MUSWIL III” dimana di sana saya jadi panitia so.. semua hutang ff insyaallah bergulir perminggunya (posting perminggu maksudnya). And than..  ini cerita agak aneh emang..  sengaja jadi pembuka comback  saya.  Sequel?  Ada kok!  Ni cerita panjang tau.. cumant saya cut ampe situ ajah.. postingnya Tergantung komentar ye.. kalu responya banyak sequel nyusul setelahnya..

Big Thanks to echa and resty unnie for publishing my fanfict here^^

 

 

See you next time readers^^

 

 

Tinggalkan komentar

207 Komentar

  1. nur khayati

     /  Desember 28, 2014

    Hore Author Tintin comeback lg, tp langsung bawa OS yg
    super sedih kyk gini,, Hu hu, smpe nangis Q baca….
    Knp nasib Yoona tragis gini,, malah d tambah dia
    nyerah n pura2 gila krn gk mau nyusahin Siwon
    & keluarganya,, Squel sangat2 d butuhkn,
    Smoga nanti Siwon bisa sukses n ngeluarin Yoona
    dr RSJ itu,,
    Pokok.a harus Happy Ending lho cerita ini,,
    He he maksa dikit gak papa lah y,,,

    Balas
  2. tirzananda

     /  Desember 28, 2014

    sedih banget baca endingnya..
    kenapa yoona harus nyerah? padahalkan ada siwon yang selalu siap buat bantuin yoona.. moga2 yoona bisa sadar dan bisa keluar dari rumah sakit itu dan bisa melanjutkan studinya..
    ditungu sequelnya thor FIGHTING

    Balas
  3. Wati88

     /  Desember 28, 2014

    Wah harus dan wajid eon sequelnya.lama banget gak baca karna eonnie.tetep keren dan seru.ayo eon semangat.di tunggu banget sequelnya nih..

    Balas
  4. Kimy

     /  Desember 28, 2014

    memang jgn cukup sampe disini thor, segera lanjut 😦 yoona ga hrs berakhir kaya gitu 😦

    Balas
  5. yuliana

     /  Desember 28, 2014

    Seruuu n sediihh bacanya mpe nangis yunah kasian , beban nya berat banget tp kmu harus tetep majuu ..
    Dan siwon pasti lom menyadari perasaan nya ma yunah

    Balas
  6. deery00ng

     /  Desember 28, 2014

    Nyesek banget bacanya. Kenapa harus kayak gitu coba.berharap nanti bakal ada sequelnya unn next ff ditunggu unn jangan lama-lama . .

    Balas
  7. Aaaarhh sedih~
    kata2nya begitu puitis..
    eonie kambek/? dan menyayat hatiku sehingga berlinang airmataku.. T-T
    kenapa harus menyerah?
    Yoona kenapa harus melakukan itu? Ada siwon yg akan selalu berada disisimu!
    Apa kau tidak melihat itu?
    Aku benar2 tdk sedikit menyukai sad ending. Ditunggu sequelnya eonni…

    Balas
  8. Sampe nangis baca endingnyas thor 😢😢
    Dotunggu sequelnya ya.😀😀

    Balas
  9. ayu nur saleha

     /  Desember 29, 2014

    nih ff bikin aku mengeluarkan bnyk air mata, kasian bgt yoona nya. ga tega ngeliat yoona dan siwon kyk gitu 😦

    Balas
  10. tabita

     /  Desember 30, 2014

    Sedih ;’)

    Balas
  11. hanna lee

     /  Januari 1, 2015

    Demi apasih eonn yoona eonni kasian bgt masalah hidupnya berat banget. Tp wonppa lbh kasian dia pasti bingung gmn skrg oh please yoona eonni harus bangkit ga blh terpuruk terus2an msh ada wonppa.. Sequel ditunggu bgttt soalnya ini endnya bkn grege eonn._.

    Balas
  12. marsiah

     /  Januari 1, 2015

    Awal baca agak sedikit bingun tapi lama2 seru juga next di tungu ya thor.

    Balas
  13. azzryia noer hayyati

     /  Januari 1, 2015

    Aq g bisa nahan air mata pas baca ff ni, yoona kasihan bgt hidupnya….selalu menderita, smpe masuk RSJ mkn sedih tp tw2 tbc……next sequelnya jgn lama2 ya chingu…

    Balas
  14. Anyeong thor aku reader baru nih,salam kenal ya 🙂
    Wah thor ff nya keren….
    Jadi kebawa nangis nih :-[
    Penasaran deh kelanjutannya ^^?
    Pokoknya SEMANGAT terus ya… 😉

    Balas
  15. wiwin

     /  Januari 5, 2015

    Yae ampu sedih banget,apalagi yg akhir” yoona berpura-pura gila,oh my kasian,oh gue tnggu sequelnya.pleis.

    Balas
  16. YoongWonie

     /  Januari 13, 2015

    5x baca masih berasa bener feelny,..
    sequel… sequel… plissss…

    Balas
  17. relly

     /  Februari 2, 2015

    Hiks…. hiks…hiks…. nyesak banget ff nya…. kenapa Siwon ga bilang kalau dia cinta banget sama yoona… jadi yoona ga akan berpura2 gila….. ga rela ga happy ending…. hehehe… maksa ya thor…. mian… smg ada sequel nya dah di os… hehehe tetap maksa….

    Balas
  18. choclorieda

     /  Februari 15, 2015

    Huhu sedih bgt ceritanya..
    tapi gantung nie..
    sequel ya chingu, biar jelas gmn akhir kisah mereka

    Balas
  19. ya ampun nyesek banget, coba siwon sm yoona sama2 ngungkapin perasaanya mungkin ga berakhir setragis ini. bisa2 nantinya malah siwon yg gila beneran.

    Balas
  20. Yahh masa nulisnya trgntung komntar sih thor huhu #nangiskejer aku suka bngt loh tntng ff yg sedih apalagi castnya yoonwon#gaknanya aku jd makin penasaran gmna keadaan yoona selanjutnya,please lanjut dong ya-ya-ya

    Balas
  21. wow…
    kenapa Yoona gitu??
    kasian Siwonnya frustasi!!
    cerita bikin gereget

    Balas
  22. Muliachan

     /  Maret 17, 2015

    Sequel thor…aku maunya happy ending

    Balas
  23. 2nd comment. . .

    Can’t wait to read next part of DEAR. . .

    Hohoho

    Balas
  24. yaaa ampun terlalau kejam nasibnya yoona …..mau sequelnya dong

    Balas
  25. Kok gini endingnya, tanoa sadar cairan putih dimata menetes saat baca endingnya!

    Balas
  26. nytha91

     /  September 21, 2015

    endingnya sedih thor..please bikin yoona bwt open minded sama siwon…bikin sequelnya dong thor…

    Balas
  27. Yoonwonited

     /  November 6, 2016

    Rindu banget sama blog ini, dan sampe sekarang masih nunggu comebackny blog..
    Udah baca berulang kali, masih aja baper, kapan sequelny? Ngarep banget authorny comeback buat lanjutin ini cerita..

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: