[FF] Wife for My Husband (Part 9)

wfmh-cover

Wife for My Husband

kkezzgw art&storyline

 Cast:  SNSD’s Yoona, SJ’s Siwon

Other Cast: SNSD’s Tiffany, SJ’s Kim Kibum (Choi Kibum), SNSD’s Kim Taeyeon (Choi Taeyeon), f(x)’s Sulli, SNSD’s Yuri, SJ’s Leeteuk (Park Jung Soo), SISTAR’s Dasom

Genre:  Marriage Life, Family, Sad, Romance, Hurt, Drama

Rated: +15

Length: Chapter

WIFE FOR MY HUSBAND: CHAPTER 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8

  Facebook Twitter: ELF SONE YOONWONITED Blog:  keziagw kageweyoonwon Ask.fm

‘Disclaimer of ‘Wife For My Husband’

————————————————————————

 

PREVIOUS CHAPTER

Yoona membalikkan tubuhnya dengan air mata yang sudah berlinang, senyum kepedihan terpancar jelas di wajahnya, “Geurae, Im Yoona. Ini bukan seperti kau tidak tahu tentang hal ini. Mari kita tidak terluka.” Gumam Yoona sangat pelan, seperti angin yang berhembus.

Kibum memegang kedua bahu Yoona sambil menatap Yoona dengan mata teduhnya, mata Yoona masih berlinang air mata walaupun ia tidak terisak, “Bagaimana kalau kita kembali ke Gangwon?”

Yoona menatap Kibum dalam, mencari sebuah maksud dari tatapan itu, namun yang ia tangkap hanyalah ketulusan berdasar cinta untuknya, ia pun menghembuskan nafasnya dengan berat, sejujurnya ia tidak mau berpisah kembali dengan Siwon mengingat waktu kebersamaan mereka semakin menipis, namun ia tak mungkin menyakiti banyak pihak hanya karena cinta bodohnya ini.

Yoona mengangguk, “Baiklah, ayo kita kembali kesana..”

 

WIFE FOR MY HUSBAND: CHAPTER 9 – ©kkezzgw

Kibum tersenyum mendengar jawaban Yoona, ia membelai rambut panjang Yoona lembut sebelum menatapnya lagi, “Sejujurnya, aku sudah menyiapkan tempat untuk kita berdua, tanpa sepengetahuan siapapun, tanpa kita harus terlibat dalam keluarga ini lagi. Jadi…jika kau tidak mau kembali ke Gangwon dan masih ingin di Seoul, aku sudah menyiapkan tempatnya.”

Yoona terkejut mendengarnya, ia tak menyangka Kibum benar – benar serius ingin menikahinya padahal ia bahkan belum yakin menetapkan hatinya pada pria ini, “Rumahmu?”

Kibum yang menyadari mimik wajah Yoona hanya bisa menatapnya ketus lalu mengangguk, “Lebih tepatnya akan menjadi rumahmu juga, kau mau kan?”

Yoona kembali terdiam mendengarnya karena ia masih tak mengerti dengan pilihan hatinya sendiri, ia tak mau menyakiti Kibum, namun hanya Kibum yang mau menerima kondisinya saat ini. Dan tak mungkin juga ia mengharapkan lelaki bernama Choi Siwon yang akan menjadi sosok pria yang akan menemaninya sampai akhir hayat, “Diammu kuanggap sebagai ‘iya’, Nona Im”

**

“Kau jahat Sulli-ah! Leeteuk oppa baru akan kembali seminggu lagi dan kau malah ingin meninggalkan eonnie hanya karena Siwon sudah kembali dari Macau?  Benar – benar menyebalkan!” umpat Taeyeon saat dirinya dan Nyonya Choi dalam perjalanan mengantar Sulli ke rumah Siwon.

Sulli hanya bisa menyipitkan matanya mendengar tuduhan kakak perempuannya yang terpaut usia 12 tahun dengannya dengan sinis, “Aigoo, lihatlah! Eonnie bertindak seakan kaulah korbannya! Apa eonnie pikir berdiam diri di rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah itu menyenangkan, sedangkan eomma dan eonnie tidak mau mengajakku shopping? Aku juga ingin underwear terbaru yang dikeluarkan Victoria’s Secret untuk Summer Collection mereka!” sungut Sulli sakratis.

Taeyeon membelalakan matanya dan ikut tersulut emosi, mulutnya terasa gatal ingin mengomeli adiknya yang tidak sadar umur ini, “Yak! Seharusnya kau memang mengerjakan tugas sekolah karena kau masih duduk di Sekolah Menengah! Dan apa kau bilang? Underwear Victoria’s Secret? Kau benar – benar boros! Siapapun yang menjadi suamimu pasti akan sangat menyesal meminangmu menjadi istrinya!”

Sulli mengepalkan tangannya kesal tak terima dengan perkataan kakaknya, “Mwo? Gadis manja dan boros? Itu lebih baik dibanding kakak perempuan yang tua, bawel, dan suka mengatur seperti eonnie!”

Taeyeon menunjuk – nunjuk Sulli geram, “Yak Choi Sulli, Neo juggeo shippo? Eo?”

“OH DIAMLAH! Kalian ini seperti anak kecil saja! Choi Taeyeon, kau ini akan menjadi seorang ibu, seharusnya kau lebih dewasa dan menanggapi segala hal dengan tenang! Bukannya tersulut emosi hanya karena masalah kecil seperti adikmu ini!”

Sulli tersenyum penuh kemenangan saat mendengar ibunya membelanya, terlebih melihat wajah Taeyeon yang langsung tertekuk dalam sambil menatap kearahnya sinis. Sulli terkikik geli lalu menjulurkan lidahnya meledek eonnie-nya itu, ia memang suka sekali berdebat dengan kedua kakaknya yang bisa dibilang sudah dewasa mengingat perbedaan usia mereka kurang lebih 10 tahun , tapi saat bersamanya ketiganya terlihat seperti anak berusia 5 tahun yang memperebutkan lollipop.

“Dan kau Choi Sulli, bersikaplah dewasa! Kau ini sebentar lagi akan lulus dan melanjutkan kuliahmu di Harvard, bagaimana kau bisa lulus di Universitas bergengsi sekelas Harvard jika kau masih suka menganggu kedua kakakmu dan bertingkah seperti anak kecil?”

Kali ini Taeyeon yang tersenyum puas sambil melirik Sulli yang menatapnya geram, dan Taeyeon pun meledek Sulli sama seperti yang ia terima barusan. Sulli mendengus kesal lalu melipat tangannya di dada sambil mengalihkan perhatiannya kearah taman – taman di rumah Siwon, tak terasa mereka sudah memasuki area rumah Siwon yang memang luas. Taeyeon yang melihatnya tak mau kalah, ia pun juga ikut memalingkan wajahnya kesal kearah jendela.

Nyonya Choi akhirnya tersenyum geli melihat tingkah Sulli dan Taeyeon yang masih seperti anak kecil, mengingat usia mereka yang terpaut jauh sehingga Taeyeon dan Siwon terbiasa untuk mengimbangi Sulli, karena itulah setiap mereka berdebat, perdebatan mereka terlihat seperti anak kecil.

Mobil yang sempat diselimuti hawa hening itu kembali dibuat sedikit ribut karena mata Sulli menyipit melihat hal yang aneh yang terjadi di depan rumah Siwon, lebih tepatnya di beranda rumah yang dihiasi dengan jalan setapak panjang untuk mencapai pintu utama, “Oh, bukankah itu Fany eonnie? Seingatku oppa bilang Fany eonnie akan kembali 4 hari lagi kan?” tanya Sulli bingung saat melihat Tiffany keluar dari dalam rumah.

Nyonya Choi mengernyitkan dahinya tak mengerti sedangkan Taeyeon memejamkan matanya panik, “Gawat!” batin Taeyeon bersuara. Mata Taeyeon mengikuti pandangan Sulli, seketika itu juga matanya membulat sempurna melihat Tiffany berurai air mata di depan rumah saat melihat Siwon dan Yoona yang tampaknya baru tiba dari Macau.

“Pak, berhenti disini!” pekik Taeyeon nyaring membuat sang supir terlonjak kaget dan langsung menghentikan laju mobil mereka mendadak, Nyonya Choi dan Sulli sedikit terpental ke depan karena komando mendadak Taeyeon, “Omo! Kenapa kita harus berhenti? Memang ada apa—“

Eomma, eonnie igobwa! Bahkan Fany eonnie menangis!”

Taeyeon menghela nafasnya berlebihan, ia yakin akan seperti ini jadinya jika Tiffany tahu Siwon dan Yoona pergi bersama, namun ia heran mengapa Tiffany sudah kembali ke Korea sebelum waktunya? Setahunya dari Siwon, Tiffany sedang berada di Afrika untuk pelayanan yang menghabiskan waktu 2 minggu, tapi mengapa Tiffany bisa berada di hadapan Siwon dan Yoona sekarang?

Nyonya Choi, Taeyeon, dan Sulli mengawasi gerak – gerik mereka yang sepertinya sedang terlibat cekcok mulut, hal itu terlihat jelas dari gerak bibir Tiffany yang seperti memaki dan air matanya yang terus mengalir, belum lagi gerak tubuh Siwon dan Yoona yang terlihat kacau begitu melihat Tiffany berada di hadapan mereka.

Tak lama, Taeyeon yang sejak tadi hanya menatap kearah mereka bertiga khawatir langsung membulatkan matanya sempurna saat melihat seorang pria yang sangat ia kenali keluar dari dalam rumah sambil menatap kearah Siwon dan Yoona prihatin, ia mengerjap – ngerjapkan matanya seakan tak percaya pria yang keluar tadi adalah Choi Kibum, “KIBUM?”

Nyonya Choi dan Sulli sibuk mendongak – dongak untuk melihat sosok Kibum, mereka juga heran melihat Kibum berdiri disana, “Mengapa Kibum bisa disini? Bukankah dia harusnya bersama suamimu?”

Taeyeon terdiam sejenak, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi diantara Siwon, Yoona, Tiffany, dan Kibum. Seketika pikirannya mulai menyadari dan mencium bau mencurigakan dari tingkah Kibum dan Tiffany yang datang bersamaan disaat Siwon dan Yoona datang bersama dari ‘bulan madu’ mereka, kali ini ia langsung memperhatikan gerak – gerik seseorang yang paling mencurigakan dari semua ini, yaitu Choi Kibum.

Mereka bertiga terkesiap begitu melihat Tiffany berlari masuk ke dalam rumah sambil menangis, Siwon yang ingin mengejar Tiffany terdiam sebentar sebelum menengok kearah Yoona. Kali ini Taeyeon benar – benar focus kearah Siwon dan Kibum, bahkan saat Siwon dan Kibum bertatapan dengan tatapan mematikan serta Siwon yang menyenggol bahu Kibum kasar membuat Taeyeon mengerti situasi yang terjadi diantara mereka dan menarik kesimpulan.

Kibum menyukai Yoona. Ya pasti, Taeyeon yakin akan kesimpulannya yang berdasarkan fakta itu.

Terlebih saat Kibum menghampiri Yoona lalu memeluk gadis itu erat. Taeyeon bisa menangkap harapan dalam mata Kibum untuk mendapatkan Yoona. 3 pasang mata langsung membuka matanya lebar – lebar begitu Kibum mendekatkan wajahnya kearah Yoona, namun wanita itu langsung mengalihkan pandangannya kearah berlawanan.

Aigoo, apa yang dilakukan Kibum?” Nyonya Choi sedikit geram melihatnya, namun ia tidak menyadari situasi yang terjadi sebenarnya seperti Taeyeon, “Ahjussi seperti Spiderman yang menolong korban terjatuh” gumam Sulli saat melihat Kibum memapah Yoona masuk ke dalam rumah.

Ahjussi?”

Sulli tersenyum canggung, “Maksudku Kibum oppa..”

Taeyeon tak memperhatikan percakapan tak penting antara sang ibu dan adiknya, tangannya mengepal sempurna saat tahu Kibum menyukai Yoona. Ini tidak boleh dibiarkan, bagaimanapun Yoona adalah istri Siwon, istri sepupunya sendiri, Kibum harusnya sadar akan hal itu, tangannya terasa gatal ingin memukul kepala Kibum.

“Ayo kita turun sekarang..” desis Taeyeon pelan.

Nyonya Choi dan Sulli saling bertatapan, mereka merasakan aura tak enak yang terpancar dari sorot mata Taeyeon saat ia keluar dari mobil, dan mereka lebih kaget lagi saat Taeyeon membanting pintu mobil, “Apa Taeyeon eonnie masih marah karena tadi? Tidak seru sama sekali!” gerutu Sulli yang salah paham akan sikap sakratis Taeyeon.

Taeyeon membuka pintu mobil dan melirik kearah Sulli dan Nyonya Choi, “Bersikaplah biasa dan tidak membahas tentang apa yang kita lihat!” kata Taeyeon dingin.

Taeyeon hafal betul sifat ibu dan adiknya itu, mereka seperti anak kembar yang hanya terhalang status ibu dan anak, mereka sama – sama tidak bisa menutup mulut mereka dengan baik. Karena itu Taeyeon harus segera menyumpalnya dengan tatapan galak yang sukses  membuat keduanya menelan saliva mereka pelan, takut.

.

.

Tiffany sibuk menghapus air matanya saat ia berlari ke kamar, kini duduk di tepi ranjang sambil terisak, ia memegang dadanya yang terasa sakit saat melihat Siwon bersama Yoona, tangannya yang bebas kini menjambak rambutnya sendiri. Ia benar – benar kalut sekarang, terlebih saat melihat Siwon dan Yoona yang tampak akrab dan mesra sebelum dirinya mengacaukan moment itu.

Derap kaki seseorang yang berlari kearah kamarnya membuat Tiffany mengalihkan perhatiannya, ia tersenyum sinis begitu melihat Siwon kini berdiri di ambang pintu dengan nafas yang tersenggal – senggal dan wajah khawatir.

“Fany-ah

Gegogisso!” pekik Tiffany dengan nada mengusir.

Siwon langsung menghentikkan langkahnya begitu mendengar teriakan Tiffany, ia menghela nafasnya kasar lalu berjalan pelan kearah istrinya yang sekarang sedang terisak di tepi ranjang.

Yeobo, aku—“

Tiffany langsung menepis tangan Siwon yang menyentuh bahunya lembut lalu ia bangkit berdiri dan berjalan menuju jendela kamarnya, masih dengan linangan air matanya. Siwon berdecak pelan, ia pun memutuskan untuk menutup pintu kamar mereka yang tak sempat keduanya tutup.

Siwon merasa dadanya kembali sakit melihat Tiffany yang terus mengacuhkannya sambil menangis di depan jendela, “Miyoung-ah, mianhae. Kau harus dengar penjelasanku dulu sebelum kau merajuk seperti ini..”

“Penjelasan apa lagi, oppa? Sudah jelas aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kau memang pergi bersama Yoona. Dan tentunya kau melupakanku!” pekik Tiffany sakratis.

Siwon memegang kepalanya yang terasa sakit, beban pernikahan ini benar – benar menyebalkan. Ia berjalan menuju Tiffany dengan langkah lambat sambil menatap istrinya intens, “Sungguh aku menyesal karena ini, aku tidak ingin melihatmu menangis terus…aku mengerti perasaanmu tapi—” ujar Siwon dengan nada penuh penyesalan.

Tiffany tersenyum tak percaya lalu menoleh kearah Siwon, “Kau tidak mengerti perasaanku oppa! Kau dan Yoona sama saja, kalian egois! Kalian tidak memikirkanku sama sekali, bukan? Kalian bersenang – senang disana sedangkan aku setiap harinya mengkhawatirkanmu! Kau tidak pernah menelponku atau bahkan sekedar mengirimkan pesan singkat. Aku pikir oppa memang sibuk, ternyata sibuk dalam hal lain!” air mata semakin deras membasahi kedua mata indah Tiffany saat ia mengatakan itu semua.

Emosi Siwon tersulut saat mendengar perkataan Tiffany yang seakan memojokkan dirinya dan Yoona, “Mworagu? Kau bilang kami egois? Kau salah besar, Tiffany Hwang! Kau tidak tahu kan kalau saat kami di Macau, kami terus memikirkanmu disana, memikirkan reaksimu saat tahu aku dan Yoona pergi ke Macau tanpa sepengetahuanmu? Yoona terus – menerus menanyakan soal dirimu disana. Inilah yang kutakutkan, reaksimu akan seperti ini karena itu aku tidak menghubungimu!” bentak Siwon.

Tiffany terkesiap mendengar nada tinggi yang dipakai Siwon saat mengatakan isi hatinya, tangisnya justru semakin kencang, “Jadi oppa membelanya?”

Siwon menatap Tiffany frustasi, “Aku tidak membelanya, Hwang Miyoung! Aku hanya ingin kau berpikir logis dan terbuka tentang kepergian kami ke Macau. Perjalanan kami ke Macau sarat akan motif bisnis, seharusnya kau tahu itu setelah bersama Kibum!” sindir Siwon halus.

Tiffany menundukkan kepalanya lalu tangannya tergerak menyentuh dada Siwon, ia memukul pelan dada Siwon secara terus menerus dengan air mata yang terus mengucur deras, Siwon mendiamkan aksi istrinya itu dan hanya menatapnya , “Kau jahat, oppa! Kau jahat! Aku sangat merindukanmu disana, tapi kau tidak menghubungiku sama sekali, aku merindukan segalanya tentangmu disana, aku sering kali kesepian karena kau seakan tidak mempedulikanku lagi. Dan sekarang kau malah sibuk memarahiku…you’re so fucking mean..”

Wanita itu tak dapat membendung kegundahan hatinya lagi, kepalanya menempel sempurna di dada Siwon, kemeja yang digunakan Siwon mulai basah terkena tetesan air matanya. Siwon berusaha menahan tangisnya dan hanya bisa menarik pinggang Tiffany untuk menenangkan istrinya ini.

Siwon merasa bersalah membuat  kedua istrinya menangis, ia pun mengelus punggung Tiffany lembut, “Mianhae, aku tahu aku salah. Aku tak akan mengulanginya lagi, kau mau kan memaafkanku?”

Tiffany masih terisak di dadanya, Siwon tersenyum tipis lalu mengelus rambut Tiffany lembut,  “Mau kan?”

Perlahan Tiffany melepaskan pelukan mereka lalu menatap suaminya intens, “Aku memaafkanmu oppa..” Siwon lega mendengarnya, “Geureunde, aku ingin bertanya satu hal padamu dan oppa harus menjawabnya dengan jujur..”

Firasat Siwon mengatakan ini bukanlah hal yang baik, ia pun menatap Tiffany ragu sambil menghembuskan nafasnya kasar, “Marhaebwa..”

“Apa oppa mencintai Yoona?”

DEG.

Siwon tersentak mendengar pertanyaan yang selalu ia hindari, namun saat suasana seperti sekarang, hal apa yang bisa membuatnya mengelak. Siwon terus mengatupkan bibirnya tak berani menjawab pertanyaan Tiffany.

Tiffany tersenyum miring membaca reaksi tubuh Siwon saat mendengar pertanyaannya, “Oppa mencintainya, kan?”

Siwon memejamkan matanya berusaha mencari solusi dari situasi terjepit ini. Oh Tuhan, ingin sekali rasanya detik ini juga ia menghilang dari permukaan bumi untuk menghindari pertanyaan menjebak serta tatapan tajam istrinya yang tertuju padanya, “Benar dugaanku, kalau oppa hmphh—”

Perkataan Tiffany terhenti saat Siwon membungkam bibirnya dengan ciumannya, mata Tiffany mengerjap – ngerjap kaget. Detik berikutnya ia mulai membalas setiap kuluman suaminya pada bibirnya. Wanita itu melingkarkan tangannya di leher Siwon sedangkan Siwon memeluk pinggang Tiffany erat.

“Ya, aku mencintainya, Tiffany Hwang. Aku memang mencintai Yoona..” batin Siwon menyuarakan jawabannya saat mereka masih berciuman. Hanya saja ia tak sanggup untuk mengutarakan perasaannya, dan memutuskan untuk menghentikan topik yang sedang mereka bahas dengan ini.

.

.

Taeyeon, Sulli, dan Nyonya Choi berjalan beriringan memasuki rumah Siwon dengan langkah ragu, terlebih Sulli yang terus menunduk canggung saat memasuki rumah yang sudah ia tinggali selama hampir 2 tahun tersebut. Sulli menghentak – hentakkan kakinya frustasi lalu memutar tubuhnya menghadap Taeyeon dan ibunya, “Eomma, eonnie, lebih baik aku kembali ke rumah! Lihatlah aura rumah ini sangat buruk karena kejadian tadi, sangat mencekam dan panas. Aish jinjja, aku seperti berada di neraka! Aku tidak mau terkurung di rumah dengan kisah cinta yang begitu rumit!”

Taeyeon tersenyum mengejek lalu memutar jari telunjuknya di depan wajah Sulli, “Heol, maldo andwae! Jangan harap aku akan membawamu lagi setelah seharian tadi kau membujukku untuk mengantarkanmu kesini! Nikmatilah, Choi Sulli!”

Sulli mengenggam tangan Taeyeon sambil menatapnya dengan aegyo andalannya, “Ah, Taeyeon eonnie yang cantik…bukankah kau butuh teman selama Leeteuk oppa di Amerika? Aku siap menemanimu selama sebulan penuh, eotte?”

Taeyeon tertawa meledek mendengar rayuan Sulli untuknya, “Hah, simpan saja rayuanmu, anak muda! Aku tak peduli, sekali kau memutuskan untuk kesini, artinya kau sudah siap dengan apapun yang terjadi di rumah ini! Sudah kubilang lebih baik kau di rumah eomma sampai minggu depan, tapi kau dengan keras kepala ingin tetap kesini, maka hadapilah!”

Sulli mengerucutkan bibirnya kesal sambil merutuki Taeyeon dalam hati lalu menoleh kearah Nyonya Choi seakan meminta bantuan, ibunya yang memang tidak punya hati dan cuek hanya mengangkat bahunya tak mau ikut campur, “Eomma tidak mau membantu jika itu membuat eonniemu semakin mengamuk dan mengacaukan sarapan pagiku besok” kata Nyonya Choi sedikit takut melihat ekspresi horror Taeyeon yang memang mengeras sejak di mobil tadi. Tubuh Sulli terasa lemas, ibu dan kakaknya benar – benar membuatnya jengkel. Ia pun mendengus sebal lalu melangkah masuk ke dalam rumah.

Omo, eomeonim, eonnie, Sulli-ah! Wasseoyo..” sapa Yoona ramah lalu menghampiri keduanya.

Ekspresi ketiganya terlihat kaku saat melihat Yoona, terlebih disampingnya berdirilah Kibum yang dengan setia terus menemaninya. Sejujurnya Taeyeon ingin sekali menarik Kibum untuk menjauh dari Yoona dan memarahinya, namun ia lebih memilih memasang poker face dan bertindak seolah tak terjadi apapun dan ia tak tahu apapun.

“Ah Yoona-ya, bagaimana perjalananmu ke Macau? Apa menyenangkan?” tanya Nyonya Choi berusaha bersikap normal.

Senyum Yoona sedikit memudar begitu mendengar pertanyaan dari ibu mertuanya itu, dan dengan kontrol diri yang cepat ia dapat bersikap normal kembali, “Dangyeonhaji, eomeonim. Kami membelikanmu selendang sutra dengan tenunan emas yang selama ini kau cari!”

Nyonya Choi membulatkan matanya tak percaya, “Omo, jinjjayo?? Mana, Yoona-ya? Berikan padaku!”

Yoona tersenyum senang mendapat respond positif dari ibu mertuanya, ia pun menoleh kearha Sulli, “Ah Sulli-ah, kami juga membelikanmu shower gel traditional yang cukup langka, bahkan Siwon oppa berani membayar mahal untuk membelinya!”

Sulli juga membelalakan matanya senang, “Jinjjayo? Wah, gomapta eonnie! Berikan padaku cepat!” hebohnya sambil berjingkrak senang. Nyonya Choi dan Sulli yang memiliki sifat sama dalam hal shopping langsung menarik Yoona menuju tempat barang – barang mereka.

Eonnie, punyamu—”

“Ambilkan saja Yoona-ya, kau pasti membelikanku yang terbaik!” seru Taeyeon sambil tersenyum manis. Kibum yang ingin mengikuti Yoona pun mengurungkan niatnya, tidak sopan jika ia meninggalkan Taeyeon sendirian disini.

Taeyeon menepuk bahu Kibum santai seolah tak terjadi apa – apa, “Bagaimana kabarmu, Bum-ah? Sudah lama aku tak melihatmu!”

Kibum tertawa lalu menatap Taeyeon dengan tatapan menghina, “Yang jelas kabarku baik, apalagi saat Noona merindukanku seperti ini..” keduanya pun tertawa mendengar candaan Kibum.

“Oh iya, bukankah saat ini kau harusnya masih di Amerika bersama suamiku? Mengapa kau pulang duluan?” tanya Taeyeon tak mau mengulur – ngulur waktu lagi.

Kibum sedikit tersentak dengan pertanyaan Taeyeon yang tepat sasaran, ia terlihat kelabakan karena bingung ingin menjawab apa. Dalam hati ia merutuki pertanyaan Taeyeon sedangkan Taeyeon tersenyum dalam hati, “Kutangkap kau!”

“Oh, keugo—aku harus menghadiri acara ulang tahun teman lamaku, sekalian melepas rindu”
ujar Kibum asal dan tentunya bohong. Taeyeon hanya mengangguk mengerti, dalam hati ia mengumpat pada Kibum yang dengan beraninya membohonginya, namun ia hanya bisa tersenyum manis dan bersikap ramah seperti biasanya. Terkadang memasang poker face memang yang terbaik dalam situasi tertentu.

Noona, sejak kapan kau disini?”

Keduanya menoleh begitu mendengar suara Siwon memenuhi ruang tamu, pria itu menuruni setiap anak tangga dengan cepat lalu menghampiri kakaknya. Taeyeon menelan ludah cemas begitu melihat Kibum dan Siwon yang tak sengaja saling melempar tatapan sinis dan penuh kebencian.

“Dan untuk apa kau kesini?” tanya Siwon lagi. Raut wajahnya berubah 180 derajat setelah berhadapan dengan Kibum. Taeyeon mencari – cari sosok Tiffany namun tak ada siapapun, sepertinya wanita itu masih sedikit terguncang.

Taeyeon berdeham singkat untuk mencairkan suasana, “Kami hanya mengantar Sulli kesini. Kau tahu? Sejak tahu kau akan pulang hari ini, ia terus merengek minta di pulangkan kesini! Huh, kau beri makan apa adik kita yang satu itu?” cibir Taeyeon yang hanya dijawab oleh tawa dari Siwon.

Omona  Siwon, ini benar – benar bagus, gomawo sayang! Kau benar – benar mengerti selera eomma!” ketiganya menoleh saat mendapati Yoona, Nyonya Choi dan Sulli menghampiri mereka. Di tangan ibu dan anak itu terdapat barang oleh – oleh dari Yoona, sedangkan Yoona membawa dua gantungan kunci bergambar angsa dan memberikannya pada Taeyeon.

Taeyeon tertawa seakan menebak apa maksud gantungan kunci ini, “Yoona, kami ini bukan remaja lagi. Masih sempat – sempatnya kau membelikan pasangan tua ini sejenis ‘Leeteuk love Taeyeon’, huh?”

Yoona hanya tertawa mendengarnya, “Tapi, terima kasih! Neomu kyeopta!” ujar Taeyeon sambil memamerkan hadiahnya.

“Kalau begitu, kami pamit pulang ya. Annyeong!” ujar Nyonya Choi, Taeyeon ikut melambaikan tangan saat mereka memasuki mobil. Perlahan mobil itu mulai meninggalkan halaman rumah Siwon. Keempatnya—Siwon, Yoona, Kibum, Sulli—langsung terdiam dalam keheningan yang terasa sangat canggung ini.

“Ah aku mengantuk…annyeong!” ujar Sulli lalu mempercepat langkahnya masuk ke dalam rumah, tidak mau merasakan suasana mencekam di sekelilingnya terlalu lama.

Kali ini hanya mereka bertiga yang tersisa dengan Yoona berada dalam sirkulasi perang dingin diantara dua pria yang mencintainya, tatapan membunuh saling dilemparkan pada lawannya. Yoona memejamkan matanya frustasi lalu memilih untuk pergi dari situasi menyebalkan itu.

Kibum tersenyum miring sambil memasukkan kedua tangannya pada saku celananya lalu memutar badan untuk masuk ke dalam rumah, “Bisa kita bicara sebentar?” desis Siwon sinis sambil menatap punggung Kibum yang membelakanginya.

Kibum tertawa ringan lalu membalikkan badannya, samurai seakan berada di mata Siwon saat menatap dirinya, “Baiklah, ayo kita bicara”

.

.

Tiffany membaringkan tubuh langsingnya di atas ranjang, selimut tebal berwarna putih gading sudah membungkusnya sejak tadi namun matanya masih tak mau bekerja sama untuk tidur. Ia menatap langit – langit kamarnya lalu sekelibat bayangan mulai muncul dalam pikirannya yang sedang kalut itu.

FLASHBACK

Kibum tersenyum manis begitu melihat Tiffany keluar dari pintu penerbangan luar negeri dengan pakaian yang glamour serta kacamata hitam yang membuat tampilannya semakin elegant, seperti biasanya. Tiffany menangkap sosok Kibum berdiri disana sambil membawa banner dengan tulisan, “HWANG MI YOUNG IPARKU TERCINTA!” membuatnya mendengus jijik lalu menghampiri pria itu.

“Apa perlu semua orang tahu kalau aku adalah ipar dari seorang pria menyedihkan sepertimu?”

Kibum tertawa lalu menurunkan banner itu, “Sepertinya begitu, maaf membuatmu merasa di untungkan karena pengumuman ini” mereka pun tertawa sambil masuk ke dalam mobil Kibum.

Suasana di mobil langsung berubah 360 derajat dari yang tadi, mereka masuk dengan wajah muram, “Cepat katakan apa rencanamu?”

Kibum merengut cuek lalu mengambil sesuatu dari dashboard mobilnya lalu meletakkannya tepat di paha Tiffany, “Bukalah, itu foto – foto kencan mereka selama 2 hari..”

Tiffany menghembuskan nafasnya kesal untuk menguatkan batinnya lalu membuka amplop cokelat itu, terlihat Siwon dan Yoona memang benar – benar menikmati kencan mereka. Mereka tertawa, bergandengan tangan, dan bahkan berciuman. Istri mana yang tidak sakit melihat itu semua?

Dengan gesit Tiffany langsung menghapus air matanya. Tanpa sadar tangannya mengepal sempurna untuk menahan segala emosi yang seakan menyerang bertubi – tubi. Kibum tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi Tiffany yang sesuai harapannya, “Kau tenang saja, aku sudah punya rencana untuk menyingkirkan pasangan baru itu…” ujarnya sinis.

“Katakan padaku rencana bodohmu itu sekarang juga..” desis Tiffany tanpa menoleh, wajahnya terlihat dingin dan kaku. Hatinya sudah dipenuhi dendam yang seakan membakar jiwa dan raganya menjadi Tiffany yang baru.

“Sebenarnya sangat mudah, saat mereka pulang besok, kau ‘sambutlah’ mereka dengan segala kebencianmu pada mereka berdua. Dan setelah itu, aku akan membantumu untuk memisahkan keduanya..”

Tiffany mengernyitkan dahinya, “Maksudmu kau hanya memanfaatkanku?”

Kibum terdiam sebentar, memang benar ia memanfaatkan Tiffany, namun wanita itu sepertinya terlalu naïf untuk menyadarinya, pertanyaannya barusan hanya sekedar menyindir tanpa ia menyadari kebenarannya, “Tentu saja tidak, bodoh! Seharusnya aku yang mengatakan hal itu padamu karena aku yang di manfaatkan olehmu!” ujar Kibum yang sejujurnya membalikkan fakta.

Tiffany mencibir sebentar lalu mengangguk setuju, “Baiklah, aku akan melakukannya..” kata Tiffany dengan polosnya.

“Dan bersikaplah peka, kau harus tahu dimana saatnya kau harus diam, dimana saatnya kau membelaku dengan kata – katamu. Gunakanlah rahasia Yoona dalam situasi yang membuat kita kalah, ara?”

Tiffany hanya mengangguk malas. Kibum yang selalu menghadapi situasi apapun dengan tenang hanya bisa—selalu—tersenyum licik lalu kembali focus pada jalan di depannya.

”Kau memang boneka paling bodoh yang pernah ada di dunia, Tiffany Hwang” batin Kibum.

END of FLASHBACK

Dan disinilah dirinya, hanya mengikuti rencana Kibum yang memang tidak buruk dan meringkuk di bawah selimut tebalnya. Ia merasa ada hal yang ganjil dari setiap rencana Kibum, namun ia tak tahu apa itu, dan menurutnya selama rencana sepupunya itu menguntungkan baginya, ia tak masalah menjalaninya.

Tiffany melirik jam dinding yang menggantung sempurna di dinding kamarnya, sesekali ia melirik daun pintu serta menepuk tempat di sebelahnya, “Kemana Siwon oppa? Mengapa sampai sekarang ia belum kembali juga?” gumam Tiffany pelan.

.

.

Air kolam renang yang menggenang di depan mereka membuat suasana semakin dingin dan mencekam, lampu – lampu di sekitar mereka pun tak sanggup menghangatkan suasana yang tercipta diantara dua pria yang bahkan tak sudi untuk saling menatap itu, mereka memilih untuk menatap air kolam yang tak tahu menahu tentang masalah mereka.

Kibum menghembuskan nafasnya malas lalu menoleh kearah Siwon—untuk pertama kalinya setelah beberapa menit—dengan tatapan menghina, “Lebih baik cepat katakan apa yang kau ingin katakan, Choi Siwon-ssi. Aku tidak mau membuang waktu berhargaku hanya untuk berdiam diri di depan kolam seperti orang bodoh”

Kali ini Siwon juga menoleh dengan tatapan mata yang sudah di peruncing agar dapat menatap Kibum lebih tajam, sedangkan Kibum tetap bersikap normal dan tenang, “Apa maksudmu dengan mengajak Tiffany pulang lebih awal dari yang seharusnya?” tanya Siwon to the point.

Kibum tersenyum miring lalu menatap Siwon, “Mwo? Mengajaknya pulang lebih awal? Ani, itu hanya kebetulan semata”

Siwon tertawa sinis mendengar jawaban Kibum yang penuh akan kebohongan itu, “Kau bukan pengarang cerita yang handal, Choi Kibum. Kau tahu aku dan Yoona pergi ke Macau, kan?”

Kali ini Kibum menatap Siwon cuek sambil melipat tangannya di dada, “Kalau aku memang tahu, lalu apa masalahmu?”

“Bagaimana caranya kau tahu? Aku tidak mengumumkannya pada siapapun, terlebih pada orang sepertimu…” tanya Siwon penuh selidik.

Kibum mengangkat bahunya cuek, “Tentu saja aku mencari tahu, memang aku tidak boleh mengawasi wanita yang kucintai?”

Mendengar kalimat itu, darah Siwon seakan memanas, otaknya tak bisa berfikir normal lagi dan matanya menyala menandakan emosinya yang menggebu – gebu, segera ia menarik kerah baju Kibum dengan emosi yang masih terkontrol, “Kau benar – benar menantangku hah?”

Kibum tertawa sakratis menghadapi mata elang Siwon menyala saat menatapnya, “Aku tidak pernah merasa menantangmu dalam hal merebut hati Yoona, tapi jika kau memang merasa aku menantangmu, maka aku hanya bisa mengiyakannya”

Siwon mengencangkan cengkramannya pada kerah baju Kibum, berusaha menahan emosinya yang bisa meledak kapan saja seperti bom waktu, ia menghembuskan nafasnya kasar sebelum menatap Kibum, “Jauhi Yoona!” kata Siwon padat namun tegas.

Kibum menyeringai singkat sambil memberikan tatapan menantang kearah Siwon, rahang pria itu semakin mengeras melihat tatapan mata Kibum, “Aku tidak mau, tuan Choi Siwon”

Siwon mengepalkan tangannya penuh emosi, matanya menyala mendengar jawaban Kibum yang seakan menyulut emosinya, “Aku tidak pernah main – main jika aku sudah mengancam seseorang, Choi Kibum. Kau tahu aku!”

Kibum tersenyum miring dengan kesinisan yang sangat kentara, ia pun menaikkan dagunya sambil menatap Siwon tajam, “Kau juga tau siapa aku, Choi Siwon. Kita pria keturunan keluarga Choi, keluarga dengan gen keras yang tak bisa dihilangkan. Jika aku menginginkan sesuatu, aku tidak segan – segan mengeluarkan segala cara, bahkan kalau aku harus membunuh saudara sepupuku sendiri!”

BUG!

Kibum tersungkur ke lantai begitu Siwon menghajarnya dengan tinjuan yang sanggup membuat bibirnya sedikit terluka, ia mengerang sedikit begitu merasakan bibirnya berdarah. Tanpa menunggu lama Siwon segera membangunkan Kibum dengan mencengkram kerahnya, “Sebelum kau membunuhku, aku yang akan membunuhmu duluan!”

Kibum meludah dengan keangkuhan yang terlihat jelas, “Kau pikir dengan menghajarku masalahmu akan selesai? Istrimu yang diatas saja masih belum bisa kau taklukan dan malah sibuk mengurusi istri kontrakmu? Memalukan!”

BUG!

Siwon kembali menghajar Kibum dengan segala emosinya, lalu ia melepaskan cengkramannya sambil menatap Kibum frustasi, “Sebenarnya apa maumu?”

Kibum menyeringai sinis, “Aku hanya ingin menjadikan Yoona istriku setelah yeoja itu bercerai denganmu”

“Jadi selama ini kau mencintainya?” tanya Siwon sakratis. Emosinya kembali tersulut, terbukti dari tatapan matanya yang mulai memanas kembali dan kembali mencengkram kerah baju saudaranya itu.

Kibum dengan santainya mengangguk, “Sangat, aku sangat mencintainya lebih dari segalanya. Tidak sepertimu yang sepertinya tidak tahu harus menetapkan hati kemana!” sindirnya.

Siwon tersentak dan langsung terdiam begitu Kibum mengatakan kalimat tadi, itu memang fakta dan ia tak bisa mengelak. Seakan dapat membaca pikiran Siwon, Kibum pun menyeringai puas, “Bagaimana denganmu? Apa kau mencintainya?”

Siwon mengalihkan pandangannya lalu membuang nafasnya asal, ia benar – benar harus berlatih pernafasan jika ingin bertengkar dengan Kibum suatu saat, ia tanpa ragu mengangguk “Ya, aku mencintainya, dan wanita yang kucintai itu sekarang adalah istriku, kalau kau lupa atau mungkin buta dengan kenyataan yang ada, Kibum-ssi.”

Kibum tertawa mendengar kata ‘istri’ yang meluncur begitu mulus dari mulutnya, apa karena mereka berhasil kencan romantis di Macau membuatnya bisa dengan mudah mengatakan hal itu, “Istri? Setelah kau pulang dari Macau sepertinya kau baru mengakui status itu. Bahkan kau tidak tahu apa – apa tentang wanita yang kau bilang ‘istri’ tadi!”

“Kau berkata seolah kau tahu banyak hal tentangnya, Choi Kibum!”

Untuk kesekian kalinya, Kibum tertawa meledek lalu menatap Siwon dengan tatapan jenaka, “Aku memang tahu segalanya tentang dia, Siwon-ah.”

“Hal apa yang kau ketahui tentangnya? Sebutkan contohnya”

Kibum tersenyum mengejek mendengarnya, ia dengan santai merapikan kemejanya yang sudah berantakan setelah Siwon menghajarnya lalu menatap lurus kearah Siwon, “Apa kau tahu siapa orang tua Yoona?”

Siwon membulatkan matanya kaget mendengar pertanyaan Kibum. Benar, ia bahkan tidak tahu siapa orang tua Yoona.

“Bagaimana keadaan orang tua Yoona dan dimana beliau sekarang?”

Kibum tersenyum penuh kemenangan begitu mendapati lidah Siwon yang terasa kelu untuk menjawab pertanyaannya, “Dan…apa kau tahu alasan sebenarnya Yoona rela menjadi istri kontrakmu dan bahkan mengandung anak untukmu dan Tiffany?”

Siwon menatap Kibum dalam diam, seakan pertanyaan – pertanyaan yang dilontarkan sepupunya itu sanggup meruntuhkan tembok pertahanannya yang dengan susah payah ia bangun sejak tadi, “Kau tidak tahu, kan? Karena itu jangan berharap untuk mendapatkan Yoona sebelum kau tahu hal – hal mendasar tentangnya dan jangan salahkan aku jika besok aku akan membawa Yoona menjauh darimu” ancam Kibum sinis seraya berjalan menuju pintu yang menghubungkan kolam renang dengan rumah Siwon.

“Beritahu aku dimana orang tua Yoona berada”

Kibum menghentikan gerakannya lalu memutar tubuhnya menghadap Siwon, “Mworagu?”

Siwon yang sejak tadi menunduk langsung mengangkat kepalanya dan menatap Kibum dengan tatapan yang tak bisa dibantah, “Aku bilang beritahu aku dimana orang tua Yoona berada!”

“Kau yakin ingin tahu dimana beliau berada?”

**

Siwon sudah memegang gagang pintu itu dengan segenap keraguan yang menyelimuti hatinya. Lidahnya terasa kelu untuk sekedar membasahi bibirnya yang terasa mengering. Tidak salah lagi, pasti ruangan VIP bernomor 407 ini menjadi jawaban dari segala bentuk kecurigaannya terhadap kedua istrinya selama ini. Ia pun mengingat ucapan Sulli yang melihat Yoona dan Tiffany berada di sekitar ruangan VIP di rumah sakit ini /part 5/.

Ia menghela nafas sambil menguatkan hatinya untuk menyelesaikan ini semua, ia harus melihatnya secara langsung. Tanpa menunggu lama lagi, Siwon pun mendorong pintu itu pelan dan tercengang saat melihat seseorang yang sangat tidak ia duga kehadirannya dan semakin membuktikan rasa curiganya. Kwon Yuri berada di ruangan itu sambil membacakan sebuah cerita untuk seorang pria di umur 50 keatasnya yang sedang terbaring tak berdaya diatas tempat tidur dengan berbagai alat medis yang menggerayangi tubuhnya.

Pria itu semakin bingung, ia takut Kibum hanya menjebaknya dan ia berniat pergi sampai ia melihat Yuri yang tiba – tiba menghubungi seseorang di sebrang sana dan mengatakan kalimat yang sangat ambigu, “Ne, ayahmu baik – baik saja, tadi dokter sempat mengatakan padaku bahwa jantung ayahmu sempat melambat beberapa hari yang lalu namun kembali stabil beberapa menit kemudian. Kau tahu kan, semacam mimpi dalam tidur panjangnya”

Siwon terus memperhatikan gerak – gerik Yuri yang dengan telaten memijat lengan pria itu pelan sambil terus berbicara dengan orang di seberang sana. Siwon tidak melihat kemiripan barang sedikitpun pada wajah keduanya, Siwon yakin pria itu bukanlah orangtua Yuri. Ia pun semakin penasaran dengan siapa gadis itu bicara, sampai otaknya menemukan berbagai kemungkinan dari segala bentuk kecurigaannya.

Yoona.

Apa pria ini adalah orangtua Yoona? Tuan Im Sangwoo?

Siwon menelusuri ruangan itu dengan matanya, sibuk mencari papan nama pasien tersebut sebelum telinganya mendengar sesuatu yang sudah menjawab segalanya, “Yak Im Yoona, kenapa kau selalu merasa sungkan pada sahabatmu sendiri? Ini bukanlah sesuatu yang berat, aku merasa senang bisa menjaga ayahmu, beliau sudah seperti ayah keduaku”

.

.

Setelah memastikan keadaan ayahnya sudah membaik kembali, kini tangannya sibuk melipat dan memasukkan pakaian – pakaian yang ada di dalam lemari ke dalam koper berwarna ungu yang ia letakkan tepat disampingnya  bergantian. Sesekali ia menghela nafasnya kecewa dan mata beningnya menatap ruangan itu lekat – lekat. Fakta bahwa hatinya sedih dan terasa hampa karena harus segera meninggalkan rumah ini membuatnya sedikit tidak nyaman dan terus merutuki kebodohan hatinya yang terlalu banyak berharap. Ia mengabsen barang – barangnya sekali lagi sebelum kakinya tak diizinkan untuk masuk ke kamar utama di rumah ini lagi.

Bunyi pesan masuk menganggu konsentrasi gadis itu, ekor matanya melirik ponsel layar sentuhnya yang menampilkan nama ‘Kibum’ disana, “Apa kau sudah menyiapkan barang – barangmu? Sebentar lagi aku sampai, bersiaplah”

Yoona mengambil ponselnya dengan malas namun jari – jari lentiknya menari dengan lincah diatas layar, mengetik beberapa kata untuk membalas pria itu walaupun ia tidak berniat sama sekali. Saat jarinya ingin menekan tombol ‘send’, keraguan tak dapat ia elak. Otak dan akal sehatnya berteriak untuk melepaskan semua ini dan kembali ke kehidupan sebelumnya—termasuk kembali dengan pria bernama Choi Kibum itu. Namun, hatinya meneriakan hal sebaliknya, seakan terdapat dua kubu dalam pikirannya yang sudah letih karena beban pikiran yang terus berdatangan tanpa henti. Ia ingin tinggal disini, bersama pria yang ia cintai—atau pria yang sampai sekarang berstatus sebagai suaminya.

“Kau ini berpikir apa, Im Yoona?” gumamnya sedih sambil tersenyum getir.

Setelah yakin dengan keputusannya, ia pun segera menarik koper dengan tangan kirinya serta sebuah tas selempang yang menggantung manis di bahu kanannya. Pergerakan kakinya terhenti sekali lagi, ia tak dapat menguasai matanya yang seakan ingin terus menatap kamar ini, kamar yang walaupun hanya beberapa kali ia diami namun memiliki kenangan tersendiri untuknya, kamar ini menjadi salah satu saksi cintanya terhadap suaminya.

“Apa kau sudah puas menatapi kamarku dan suamiku dengan tatapan memuja seperti itu, Nona Im?”

Yoona tersentak kaget begitu suara lembut namun sinis dan dingin menusuk gendang telinganya dan langsung menyadarkannya dari alam bawah sadarnya. Wanita itu berdiri di ambang pintu kamar dengan segala aura menyeramkan yang ada pada dirinya, dress berwarna hijau tosca yang membentuk lekukkan tubuh wanita itu dengan begitu sempurna tak dapat menyembunyikan aura seram yang ada dalam wanita itu untuk dirinya. Yoona menggeleng pelan sambil menunduk beberapa kali menunjukkan penyesalannya, “Mianhae, Fany eonnie. Aku tidak bermaksud—“

“Sebelum kau meninggalkan rumahku, ada beberapa hal yang harus kau lakukan”

Kaki Yoona bergerak mundur begitu Tiffany berjalan pelan kearahnya, entahlah firasatnya seakan mengatakn untuk mundur dan menghindari bahaya ini—tunggu, bahaya? Sepertinya jalan pikir Yoona benar – benar sedang bermasalah sampai menganggap Tiffany adalah bahaya yang harus ia hindari sekarang. Aroma mawar menyeruak ke indera penciuman Yoona begitu Tiffany sudah berdiri tepat di depannya. Wanita itu memekik kaget begitu Tiffany melempar koper yang Yoona pegang lalu menarik tangan gadis itu untuk duduk di meja rias di sudut ruangan.

“Cepat duduk!” perintahnya dingin.

Eonnie, waegurae—“

“Aku tidak sudi kau panggil dengan sebutan itu lagi! Mulai sekarang biasakan memanggilku nyonya, mengerti?”

Mata Yoona terbelalak kaget mendengar untaian kalimat bernada tajam dan sinis yang pertama kali di dengarnya dari Tiffany. Ini pasti karena kejadian semalam, dan Yoona tidak berniat untuk memprotes lantas hanya mengangguk kecil, “Algesseupnida

Tiffany menghiraukan ucapan formal Yoona terhadapnya, toh memang itu yang ia ingikan. Tanpa berbasa – basi lagi, Tiffany segera melempar amplop merah yang sejak tadi ia bawa—yang sejujurnya sudah menarik perhatian Yoona sejak wanita itu masuk ke kamar ini—tepat ke wajah Yoona. Darah Yoona terasa mendidih begitu mendapat perlakuan tidak sopan dari Tiffany, namun ia berusaha menahannya dengan mengepalkan tangannya gemas.

Dengan wajah penuh kebencian, kali ini Tiffany melempar bolpoint ke wajah Yoona dan serta merta menjambak rambut Yoona, “Cepat tanda tangani surat itu dan kau boleh angkat kaki dari rumah ini”

Yoona menghempas tangan Tiffany yang ada di rambutnya dengan tatapan penuh amarah, dengan emosi yang sudah tak terbendung, ia membuka amplop itu untuk mengakhiri urusannya dengan ‘nyonya besar’ ini.

DEG.

Tidak mungkin.

Mengapa…mengapa secepat ini?

Yoona bisa merasakan tubuhnya membeku seiring matanya membaca kalimat yang dicetak dengan huruf besar dan tebal yang menjadi kalimat pembuka yang begitu hangat. Otaknya sibuk mencerna kalimat itu dengan baik dan positif, namun…

‘Surat Gugatan Cerai’

Seakan boomerang datang di siang hari. Apa Yoona sedang bermimpi? Ia tahu surat ini akan segera datang cepat atau lambat, namun ia tak menyangka ‘cepat’ maupun ‘lambat’ yang Tuha kehendaki adalah detik ini. Detik dimana ia baru saja menghabiskan waktu bersama dengan suaminya dan tentu saja dengan harapan besar yang tak terbendung setelah berhari – hari bersama sang suami tanpa gangguan siapapun. Dan seakan surat itu membantingnya dari langit ketujuh dan menyadarkannya bahwa mimpinya terlalu indah untuk ditinggalkan, namun apa yang bisa kau harapkan dari sebuah mimpi.

Tiffany tersenyum senang begitu melihat raut wajah Yoona berubah menjadi kaku, tegang, dan…kecewa? Oh rasanya ia ingin menertawai gadis malang ini karena terlalu berharap pada suaminya yang—tentu saja mencintainya. Tiffany menepuk bahu gadis itu dengan senyum tulus yang penuh rekayasa lalu mengelusnya pelan seakan pergerakan jemarinya itu bisa menyampaikan betapa ia senang melihat penderitaan Yoona, “Kau terkejut, Nona Im Yoona?”

Yoona menatap Tiffany dengan tatapan penuh pertanyaan dan kalut, “Siapa….siapa yang mengajukan surat cerai ini, Nyonya Hwang?”

Tiffany tertawa girang mendengar nada frustasi Yoona, telunjuknya menunjuk nama pengunggat yang tertera di paling bawah. Mata Yoona membulat sempurna, ia langsung melempar kertas itu ke lantai membuat Tiffany kaget, “AKU TIDAK PERNAH MENGAJUKAN SURAT CERAI INI!”

Tiffany kaget melihat reaksi Yoona yang diluar dugaannya, gadis itu terlalu naïf dan polos untuk melakukan hal ini, namun justru inilah yang dilihat Tiffany sekarang. Gadis itu meneriakan kalimat kemarahannya dengan begitu lantang seakan berhasil menciutkan nyali Tiffany yang tadinya besar, “DAN APA MAKSUD NYONYA MELAKUKAN INI? AKU TIDAK PERNAH MELAKUKANNYA!”

“KAU PIKIR KAU SIAPA BERANI MENERIAKIKU DENGAN SUARA LANTANG SEPERTI ITU, GADIS MISKIN?”

Yoona tersenyum sinis, sudah cukup ia bersabar dengan semua tindakan Tiffany padanya. Namun ia tidak terima ia harus berpasrah pada suatu hal yang sama sekali tak ia inginkan, “Lalu apa maksud Nyonya menyuruhku menandatangani sebauh surat yang tak kuharapkan kehadirannya sekarang, dengan atas nama aku yang mengajukan, dan berakhir dengan tanda tanganku yang tertera sebagai ‘pengaju perceraian’? Mengapa tidak Nyonya saja yang bercerai mengingat anda yang mendaftarkan ini?”

PLAK!

Mata Tiffany berkilat marah saat menampar pipi Yoona. Air mata yang sudah ditahan Yoona sejak tadi akhirnya keluar seiring dengan tamparan yang diberikan Tiffany, “Apa…apa kau baru saja menyuruhku untuk bercerai dari suamiku? BERKACALAH, IM YOONA! KAU HANYA SEORANG WANITA JALANG YANG KUMINTA UNTUK MENGANDUNG BAYIKU DENGAN IMBALAN SEJUMLAH UANG YANG MEMBUATMU TERGIUR!”

Yoona merasakan hatinya perih mendengar ucapan Tiffany yang begitu menyayat hatinya, ia tersadar dengan tindakannya yang memang tidak patut untuk ia lakukan. Mengapa mulut bodohnya ini bisa menyuruh Tiffany menceraikan Siwon dan malah memaki wanita itu karena memintanya bercerai dari Siwon? Sungguh, terlalu banyak beban pikiran yang ia alami akhir – akhir ini membuatnya bingung harus melakukan apalagi untuk menata hidupnya.

“Kau—kau cepat tanda tangani surat itu sebelum aku membunuh ayahmu, Im Yoona!”

Yoona menggeleng pelan dengan air mata yang terus keluar dari matanya. Tanpa berpikir panjang, ia bersujud di kaki Tiffany dengan kekalutan yang membuatnya nyaris gila, “Andwae, Nyonya boleh melakukan apapun padaku tapi tolong…tolong jangan sentuh ayahku. Ia alasanku masih bertahan di dunia ini, kumohon maafkan atas kelancanganku Nyonya” ujar Yoona cepat. Ia menahan tangisnya dengan menggigit bibirnya, berusaha mengahalau isakan tangisnya sendiri.

Tiffany memejamkan matanya sambil menahan desakan tangisnya, entahlah ia merasa begitu kejam pada seorang wanita. Cinta memang buta. Mungkin kalimat itu memang benar, semua kejahatan yang ia lakukan selama ini hanyalah karena perasaan cintanya pada Siwon, ia mencintai suaminya, dan ia tak rela suaminya meninggalkannya untuk wanita lain, termasuk ibu kandung anak mereka kelak. Mengingat fakta itu jalan pikir Tiffany kembali tertutup rapat, ia segera menarik rambut Yoona untuk bangkit sambil melempar map itu secara bersamaan. Persetan dengan bayi yang sekarang sedang dikandung Yoona.

“Kalau begitu, tanda tangani surat itu! SEKARANG!”

Yoona mengangguk cepat, mulutnya ia tutupi dengan telapak kirinya agar isakan tangis itu tak terdengar. Ia memang mencintai Siwon, namun ia lebih memilih ayahnya dan tak akan membiarkan dirinya berlarut terlalu lama dalam perasaannya pada Siwon. Tiffany mendesah lega begitu bolpoint itu bergerak dengan perlahan dan sarat akan keraguan, tanda tangan Yoona terbubuh disana. Ia pun tersenyum senang lalu segera merebut map itu dari tangan Yoona.

“Sekarang kau boleh pergi, dan jangan harap kau bisa menemui suamiku sampai kau melahirkan. Atau…sesuatu akan terjadi pada pembayaran rumah sakit ayahmu”

Yoona mengangguk pasrah, ia sudah tidak punya energi lagi untuk melawan. Baru saja kakinya berjalan untuk memunguti barang – barangnya yang berantakan akibat ulah Tiffany, pria yang sedang tak ingin ia temui berlari ke dalam kamar dnegan keadaan…kacau?

“HWANG MIYOUNG!”

Tiffany menoleh begitu mendengar seseorang memanggil nama aslinya, wanita itu terbelalak kaget begitu melihat Siwon berdiri disana dengan wajah memerah menahan amarah serta buku – buku jarinya yang terkepal menandakan pria itu sedang marah, “Ada apa, yeobo?”

Siwon menatap lurus kearah Tiffany saat kakinya bergerak mendekati istrinya, “Apa maksudmu selama ini?”

Pupil mata Tiffany bergerak bingung dan gelisah, ia tak mengerti dengan apa yang dibicarakn suaminya sekarang, “Museuntteusie-yo, oppa?”

“KENAPA KAU MENYEMBUNYIKAN FAKTA BAHWA YOONA MELAKUKAN INI UNTUK AYAHNYA?”

Yoona dan Tiffany benar – benar kaget dengan pernyataan Siwon yang seperti guntur menyambar pepohonan. Tiffany tertawa canggung berusaha untuk menguapkan emosi Siwon, namun sepertinya usahanya gagal karena Siwon justru meninju kaca yang ada disampingnya sebagai luapan emosinya yang bisa meledak kapan saja. Tiffany memekik kencang begitu melihat darah segar mengucur dari tangan suaminya.

“AAAA! Oppa, neo baboya?” Tiffany bergerak untuk mengobati tangan Siwon, namun Siwon langsung menepis tangan istrinya dengan kilatan amarah yang semakin menggebu. Kini ekor matanya menangkap Yoona yang terduduk di sisi ranjang dengan tatapan shock dan kosong. Kejadian kemarin malam dan siang ini benar – benar membuat jalan pikir gadis itu semakin terdesak untuk memikirkan jalan keluar yang selama ini tak pernah terlintas dipikirannya.

Dengan emosi yang meluap – luap, Siwon berjalan mendekati Yoona dan langsung mencengkram bahu gadis itu, Yoona meringis sakit dan takut mendapat perlakuan kasar Siwon, “Jelaskan padaku kenapa kalian berdua menipuku seakan aku ini domba bodoh yang tak tahu apa -apa? KENAPA!?”

Yoona terkejut mendengar teriakan Siwon, buliran air mata itu kembali jatuh membasahi kedua pipinya, “Jawab aku, Im Yoona. Kenapa kalian berdua menipuku? JAWAB AKU!”

“Karena aku ingin menyelamatkanmu oppa.”

Siwon dan Yoona menengok kearah Tiffany—yang entah sejak kapan menangis—dengan tatapan heran dan bingung. Namun wanita itu tersenyum—berakting sedih lalu berjalan perlahan menuju kearah Siwon maupun Yoona dengan amplop yang tadi sempat membuat Yoona patah hati dan lemas sampai sekarang. Siwon melepaskan cengkramannya lalu menatap Tiffany bingung namun masih ada kilatan marah dari mata tajamnya yang sanggup menusuk Tiffany jika itu mata pedang, “Menyelamatkanku dari apa? Jangan banyak alasan! Kalian berdua, terutama kau benar – benar membuatku seperti—“

“Yoona ingin menguasai hartamu setelah kalian bercerai dan berencana membawa bayi itu pergi”

“Nyonya Tiffany Hwang yang terhormat, tolong jaga ucapan anda!” Yoona memekik tak terima dengan tuduhan Tiffany.

Siwon menatap Yoona dan Tiffany bergantian, seakan semakin bingung seakan situasi pelik yang dihadapinya sekarang, “Dan..apa oppa tahu Yoona menjalin hubungan dengan Kibum? Lebih tepatnya mereka sudah berpacaran sekarang”

“A—apa kau bilang?” Kontan saja hal itu membuat keduanya menatap Tiffany dengan tatapan mengerikan.

 

Double sialan! Yoona menatap Tiffany marah serta bingung. Tidak mungkin—mengapa wanita ini tahu tentang hal yang selama ini ia rahasiakan, dan mengapa wanita itu membeberkannya? Lidah Yoona terasa kelu dan kepalanya pening untuk membalas fakta yang disampaikan Tiffany, ia benar – benar sudah tidak punya tenaga untuk melawan. Hanya air mata saja yang mewakili bantahannya, berharap pria disampingnya mengerti.

Siwon segera menoleh kearah Yoona meminta kepastian, “Cepat ucapkan suatu hal untuk menampik perkataan Tiffany, Im Yoona!”

Yoona hanya bisa menunduk sambil terus menggigit bibirnya menahan isak tangis, Siwon menatap Yoona tak percaya, “Jadi, inikah alasan kalian selama ini selalu berdekatan?”

Masih dengan senyum tipisnya yang ia sembunyikan dengan baik, Tiffany menyerahkan amplop tadi membuat  Siwon menoleh dengan ekspresi terluka, “Apa ini?”

“Yoon—Yoona mengajukan gugatan cerainya hari ini, yeobo

Siwon tidak dapat merasakan sakit yang tangannya alami sekarang begitu mendengar kalimat mematikan yang diucapkan Tiffany dengan raut wajah sedih palsunya. Siwon tersenyum getir sambil membuka amplop itu, dan hatinya terasa dipecahkan begitu saja begitu melihat tanda tangan Yoona tertera disana atas status ‘penggugat’. Siwon tertawa sinis begitu melihat surat itu dengan tangan bergetar, “Wow, kau bergerak cepat, Im Yoona.” Katanya pelan namun sarat akan kesinisan dan sindiran yang begitu menyayat hati Yoona.

Yoona hanya bisa terdiam sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya yang bebas. Ia ingin sekali membalas dan membela dirinya namun tatapan mata Tiffany seolah mengancamnya yang membuatnya terpaksa membungkam mulutnya dengan baik dan hanya bisa meratapi kebodohannya.

Tanpa mereka sadari, Choi Kibum berdiri diluar kamar mendengarkan semuanya dengan hati yang membuncah bahagia, ia senang rencananya berhasil. Tiffany benar – benar naïf dan bodoh, tanpa bersusah payah Kibum bisa mendapatkan Yoona karena bantuan ketiganya.

 

                                                                TO BE CONTINUE        

Yay! Akhirnya ada updatean sama FF lumutan ini T~~~T hikssss beneran sekolahku sibuk banget, gak bisa diganggu gugat. Aku kira aku masuk IPS bakal nyantai kayak kakak kelasku, tapi gara2 kurikulum 2013 malah jadi begini:” tapi aku janji FF ini bakal selesai, dan maaf juga aku bener – bener baru bisa selesain FF pas liburan, waktuku numpuk di ulangan, tugas, sama teater</3

Gimana sama FFnya? Semoga kalian suka dan maaf kalau mengecewakan T_T tapi aku janji FF ini bakal beda dari FF Mariagge Life yang lainnya, karena imajinasiku yg udah gak terbendung ini mulai mikirin hal – hal aneh nih wkwk dan untuk Lovely Haters, aku lagi selesain juga. Dan untuk sequel Forced Marriage, aku berencana bikin 2 lagi wkwk berhubung Forced Marriage gak ada di YWK, kalian rajin2 ya maen ke blogku di keziagw^^

Okay, semoga liburan ini aku bisa kelarin semua FF yang numpuk kkk~<3 Oh iya, aku juga punya blog baru yang bakal kuisi sama FF yang main castnya Siwon/Kyuhyun, kalo ada yang mau maen iseng2, kalian bisa kunjungi wonkyoonjung, belum dihias2 sih atopun belom ada postingan tapi aku bakal bikin FF Kyuhyun mulai sekarang lol

Thankyou buat semua readers yang bersedia baca dan ninggalin komentar, makasih juga buat kak echa dan resty yang mau bantu posting^^

SEE YOU AS SOON AS POSSIBLE<3

Tinggalkan komentar

363 Komentar

  1. AuliaYW/Aulia Araby/Choi Lilia

     /  Juni 18, 2016

    Tiffany & Kibum jht bngts..
    Kasian yoona eon..
    Cba siwon oppa liat law tiffany eon lh yg memaksa yona eon agar menanda tangani surat prceraian itu..

    Balas
  2. sahwa purem

     /  Agustus 3, 2016

    kasihannn sanggaaatt yoonaa nyaaaa…. hhiiiikkkkssss

    Balas
  3. kasian banget sama yoona nya
    kimbum sama tiffany nya juga makin jahat banget
    semoga ntar mereka bersatu^^
    next part ^^

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: