[FF] Timeless (Chapter 1)

Cover Timeless

AUTHOR                   : TIKA PINKY (SARTIKA CITRA HIPPY)

CONTACTS               : Facebook (Pinkverz Tika Citra)

Twitter (@TikaPink_507)

Gmail (smantikalove@gmail.com)

WP (tikapinkystory.wordpress.com)

CAST                          : CHOI SIWON & IM YOONA

OTHER CAST           : CHOI WOO HYUK, LEE JOON, SHANNON WILLIAMS

GENRE                      : SAD ROMANCE, ANGST OR SET BY YOUR SELF

RATING                     : +17

COVER                      : DESIGN BY “MISS M”

 

This story was adapted from “MV Timeless By Zhang Liyin ft. Xia Junsu”. But not of all. Each sentence in the paragraph purely the result of my thinking. Sorry for Typo if you found it. Happy Reading!!!

 

 

Love may often come at wrong time and the wrong people.

But despite the pain, the heart will lead to the right love.

 

Author Pov

Berada di dalam ruang rawat sebuah rumah sakit merupakan salah satu hal yang mencekam bagi Im Yoona. Banyak kejadian buruk yang menimpanya di dalam ruangan yang sebenarnya ditujukan untuk merawat seseorang yang sedang sakit. Nafasnya sesak seakan lehernya tercekik. Bau ruangan yang sudah terkontaminasi dengan bau obat-obatan tak pernah bersahabat dengan hidungnya hingga membuatnya sangat tidak nyaman. Selang infus yang mengganggu. Semuanya benar-benar membuatnya tak tahan.

Seharusnya dia berdiri saja dan meninggalkan tempat itu tempat yang selalu membawa ketakutan tersendiri untuknya. Tempat yang dibencinya sejak dia kehilangan ibunya. Ibunya yang telah meninggalkannya selama bertahun-tahun tanpa alasan yang jelas ternyata harus kembali ditemuinya di tempat seperti ini dengan kondisi yang begitu menyayat hati. Berbagai alat medis terpasang di tubuh lemah ibunya yang sebenarnya sudah tak punya harapan lagi untuk menyembuhkannya dari penyakit kanker yang telah diderita ibunya bertahun-tahun sebelumnya. Itulah alasan ibunya meninggalkannya dan Yoona membenci alasan itu. Alasan yang sebelumnya tak diketahuinya sehingga dia membenci ibunya. Selang setahun kemudian Yoona juga harus kehilangan ayahnya di ruangan seperti ini setelah mengalami serangan jantung. Yoona tidak tahu kenapa dia harus sering kehilangan seperti itu. Kadang dia merasa takdir begitu kejam padanya. Namun dia tetap berusaha untuk menjalani hidupnya dengan tabah karena dia yakin Tuhan punya rencana yang indah untuknya meski harus melewati berbagai macam kebaikan buruk.

Namun apa kemungkinan itu masih ada? Yoona sendiri kini sudah tidak yakin lagi. Untuk kesekian kalinya dia harus menghadapi kejadian buruk dan kembali ke tempat yang dianggapnya sangat buruk. Kali ini dia kembali berada di sebuah ruang rawat rumah sakit. Lebih tepatnya sudah setahun ini dia menempati sebuah kamar di salah satu rumah sakit yang ada di Seoul. Menghadapi ketakutan dan ketidaknyamanannya. Tapi bukan karena penyakit kanker yang sama seperti yang diderita ibunya atau penyakit jantung yang merenggut ayahnya dan juga bukan karena dia sedang sakit dan perlu dirawat di rumah sakit. Dia berada di tempat itu hanya untuk satu alasan … Pria itu. Pria yang membawa kebahagiaan dengan senyuman dan tingkahnya. Pria yang selalu melindunginya. Pria yang selalu menghiburnya dan melupakan kesedihannya. Yoona sadar dia mencintai pria itu. Tak pernah ada pria yang pernah dekat dengannya dengan membawa keceriaan dalam hidupnya. Mereka selalu bersama. Meski tak pernah ada kata cinta tapi Yoona juga bisa merasakan jika pria itu juga mencintainya. Hanya saja Yoona sebagai wanita ingin mendengar kalimat indah itu dari pria yang dicintainya sekali saja dalam hidupnya. Namun sampai pria itu melamarnya setahun yang lalu kalimat cinta itu tak pernah terucap. Yoona sedikit kecewa tapi dia yakin suatu saat nanti pria itu akan mengucapkan kalimat cinta itu untuknya. Yoona bersedia menanti untuk itu.

Pria yang dicintainya tengah terbaring di bangsal pasien di depannya dengan beberapa alat medis yang dipasangkan ditubuhnya. Pria itu sudah tak sadarkan diri sejak dibawa ke rumah sakit dengan kondisi berlumuran darah akibat luka tembak di dada bagian kirinya. Bahkan setelah dioperasi pria itu tak kunjung membuka matanya. Hanya jantungnya saja yang masih berdetak yang menandakan pria itu masih hidup.

“Eonni … !!!” sebuah suara menyadarkan Yoona dari keterpakuannya. Seorang gadis cantik berparas khas Eropa sedang berdiri di samping Yoona seraya menatap pria yang sedang sakit itu.

“Eonni pulanglah. Biar aku yang menjaga Oppa hari ini.” Ujarnya.

Yoona menggeleng. “Aku tidak ingin pergi Shannon. Aku tetap ingin di sini.”

Gadis yang bernama Shannon itu menatap Yoona dengan kesal.

“Eonni, kau sudah menjaganya setiap hari. Apa kau tidak lelah? Kau juga butuh istirahat. Lihat dirimu! Kau nampak sangat kurus. Biar aku yang menjaganya untuk hari ini. Kau perlu untuk beristirahat.”

Yoona kembali menggeleng lemah tanpa mengalihkan pandangannya dari pria yang sedang terbaring sakit itu.

“Aku baik-baik saja Shannon. Aku tidak akan kemana-mana!”

“Oh ya? Selama setahun ini kau berada di sini menjaganya. Mandi dan ganti baju di sini, makan makanan siap saji tiap hari, tidur di sofa tiap hari, apa itu yang kau katakan baik-baik saja? Eonni, kau tampak sangat menyedihkan! Kau merawat orang sakit tanpa memperhatikan dirimu sendiri. Oppa tak akan membuka matanya lagi … Dia tidak akan …”

“Shannon!!!” bentak Yoona. Dia berdiri dan menatap Shannon marah. “Berhenti! Oppa … Seunggi Oppa akan sadar. Dia akan membuka matanya. Kau tahu kan dia seorang polisi yang hebat. Dia tidak selemah itu. Dia akan membuka matanya untukku. Dia harus bertanggung jawab karena telah melamarku. Dia akan sadar…!!!” Yoona mulai terisak. Shannon pun tak bisa membendung air matanya. Gadis itu segera memeluk Yoona yang tampak mulai rapuh.

Yoona tahu apa yang dikatakan Shannon mungkin benar. Dia tahu sepertinya tak ada lagi harapan untuk Seunggi bertahan setelah setahun ini tak pernah sadarkan diri dari komanya karena meski peluru tak menembus jantungnya tapi peluru itu sudah menimbulkan luka yang cukup parah. Dokter pun sudah mengatakan kalau Seunggi tak punya harapan lagi karena sistem otaknya sudah mati meski jantungnya masih berdetak. Pihak rumah sakit sudah menyerah. Mereka akan melepas semua alat medis yang telah menopang hidup pria itu selama setahun ini. Entah mengapa Yoona merasa hari yang buruk itu akan datang lagi dalam hidupnya. Perpisahan dengan Seunggi tak mungkin bisa dielakkan lagi. Yoona merasa ketakutan itu makin menguasai hatinya. Bayangan orangtuanya yang telah pergi satu persatu berkecamuk di kepalanya. Tapi dia tidak ingin beranjak dari sisi pria itu. Dia akan cukup menguatkan dirinya untuk tidak tenggelam dalam ketakutannya. Sehingga jika kemungkinan terburuk memang sudah tidak bisa dihindari lagi, jika pria itu benar-benar akan meninggalkannya … Setidaknya pria itu akan tahu Yoona ada disisinya sampai akhir.

***

“Sialan! Apa maksud semua ini?” umpat Choi Siwon seraya melempar sebuah berkas dengan kasar ke meja kerjanya. Kemarahan tampak sangat jelas di mata pria itu.

Lee Joon yang merupakan asisten pribadinya tak pernah berani menatap mata atasannya itu secara langsung terlebih saat pria itu sedang sangat marah.

“Maafkan aku! Aku …”

“Maaf?” Siwon menyela ucapannya. “Tidak Joon. Kau tidak harus minta maaf karena ini bukanlah salahmu. Sepupuku tampak cukup berani mencari gara-gara denganku bahkan setelah dia memberiku kerepotan setahun yang lalu … Ah, sial! Aku bahkan harus melibatkan diri dalam hal seperti itu.” Ujar Siwon seraya melempar sebuah gelas dan pecah berserakan di lantai.

“Itu bukan salahmu Boss! Bukan kau yang harus bertanggung jawab akan hal itu.”

Siwon menggeleng. “Bagaimana aku tidak merasa bertanggung jawab? Seorang polisi tertembak saat itu dan aku …”

“Tapi itu bukan kesalahanmu! Saat itu Kau hanya … Boss, ada apa?” Lee Joon tak melanjutkan kalimatnya karena saat itu dia melihat Siwon jatuh seraya memegang salah satu bagian dadanya. Dia segera menghampiri Siwon yang tampak sangat kesakitan itu.

“Kau baik-baik saja? Apa kau meminum obatmu tadi?” Tanya Joon cemas. Dari semua yang bekerja untuk Choi Siwon hanya dia yang tahu kalau pria itu mengidap penyakit jantung akut. Tanpa menunggu jawaban Siwon, dia segera mengambil obat jantung dari laci penyimpanan dimana Siwon menyembunyikan obat jantungnya.

Siwon sangat kesal. Belum cukup dia dibuat marah oleh sepupunya yang mencoba untuk menghancurkannya dan menjadi musuhnya, dia juga harus berurusan dengan penyakit jantungnya yang semakin hari semakin menyiksa. Obat saja tidak cukup untuk menyembuhkan jantungnya yang kata dokter sudah rusak itu. Hanya tranplantasi yang bisa menyelamatkannya tapi sampai saat ini belum ada donor yang cocok. Dan entah sampai kapan dia bisa menyembunyikan penyakitnya yang mematikan ini agar tidak diketahui oleh orang-orang yang memang menginginkan kematiannya.

Joon kembali menghampirinya seraya membawa beberapa butir obat dan segelas air. Tapi sebelum dia bisa mengambilnya rasa sakit yang luar biasa menyerangnya dan setelah itu Siwon tak tahu apa-apa lagi.

***

Yoona baru saja selesai membersihkan tubuh Seunggi saat Shannon masuk bersama seorang dokter, dua orang perawat dan seorang pria muda berpakaian serba hitam yang sudah tak dilihatnya selama beberapa bulan ini. Yoona bisa melihat kecemasan di wajah Shannon. Gadis itu segera menghampiri Yoona.

“Shannon ada apa ini?” tanyanya penasaran. Tiba-tiba dia juga menjadi sangat cemas. Terlebih lagi saat para perawat mulai melepas peralatan medis dari tubuh Seunggi. Yoona segera menyingkirkan tangan-tangan perawat itu dari tubuh kekasihnya.

“Apa yang kalian lakukan? Dia masih bernafas. Kenapa kalian ingin melepas alat-alat ini darinya?” Tanya Yoona kesal.

“Maaf Nona, tapi sudah tidak ada harapan lagi untuknya. Kami akan melepas alat-alat ini sekarang dan kami juga sudah mendapat ijin dari keluarganya.” Kata dokter yang selama ini menangani Seunggi.

Yoona mengalihkan pandangannya ke pria muda yang memang dikenalnya sebagai adik kandung Seunggi.

“Apa yang kau lakukan? Setelah kau menghilang selama beberapa bulan ini kenapa kau tiba-tiba datang untuk melakukan ini? Seunggi Oppa … Kakakmu masih bernafas. Dia akan membuka matanya. Kenapa kau malah ingin dia mati?” Tanya Yoona seraya menatap pria itu marah.

Pria itu tidak membalas menatap Yoona. “Shannon, bawa Yoona keluar dari sini.” Kata pria itu.

“Oppa, apa kau harus melakukan ini sekarang?” Tanya Shannon yang juga tampak enggan. “Tak bisakah kita menunggu …” Shannon tak bisa melanjutkan kalimatnya karena pria itu mengunci mulutnya dengan tatapan tajam pria itu yang mematikan. Shannon segera menarik Yoona agar menyingkir dari bangsal Seunggi. Yoona menepis tangannya dengan kasar.

“Apa sebenarnya yang ingin kau lakukan? Kenapa kau melakukan ini pada kakakmu? Kenapa kau ingin dia mati?” Tanya Yoona marah.

Tanpa diduga pria itu balik menatapnya marah. “Siapa yang ingin dia mati? Aku … Aku adalah orang pertama di dunia ini yang tidak menginginkan kematiannya.” Ujarnya marah. Air mata tampak mulai jatuh membasahi pipi pria itu. “Dia kakakku. Dia satu-satunya keluarga yang aku miliki setelah kami kehilangan orangtua kami. Apa kau tahu bagaimana rasa sakit yang harus aku tahan karena harus membiarkan dia mati seperti ini? Terlebih aku adalah orang yang akan memberikan jantungnya untuk orang lain …”

“Apa maksudmu? Apa maksudmu hendak memberikan jantungnya ke orang lain? Jawab aku!!!” tuntut Yoona. Pria itu menatap Shannon yang menggelengkan kepalanya seakan tahu maksud tatapan pria itu padanya.

“Aku belum mengatakan apa-apa pada Eonni. Aku tidak tega!” ujar Shannon pelan. Yoona menatap mereka bergantian.

“Jadi siapa yang bersedia menjelaskannya padaku saat ini? Apa sebenarnya yang sudah kalian rahasiakan dariku?” tanyanya menuntut jawaban.

“Aku sudah menandatangani persetujuan pemberian donor jantung sesuai dengan wasiat yang telah dibuatnya. Aku hanya menyetujui apa yang ingin dia lakukan!” jawab pria itu pelan nyaris seperti sebuah bisikan. Namun bagi Yoona itu bagaikan petir yang menggelegar ditelinganya yang membuat seluruh tubuhnya lumpuh sehingga dia duduk terkulai lemas di tempatnya tadi berdiri.

Pria itu ikut berjongkok dan meraih Yoona dalam pelukannya. Yoona tampak begitu rapuh seakan bisa hancur berkeping-keping kapan saja.

“Maafkan aku, Yoong! Aku juga tidak rela melakukannya. Aku juga tidak ingin tapi … Tapi ini keinginannya. Dan mungkin … mungkin ini bisa menjadi jalan agar semua menjadi baik seperti yang seharusnya. Relakan dia, Yoong! Aku mohon!” pinta pria itu memelas.

Yoona tidak menjawab. Hanya tangisan histerisnya yang kemudian terdengar dalam ruangan itu seiring dilepasnya semua alat yang menopang kehidupan Seunggi. Seperti cintanya yang juga direnggut darinya dengan kejam. Meski Yoona sudah mempersiapkan untuk hari ini, dia tidak menyangka kalau rasanya akan sesakit ini.

***

Yoona melepaskan cincin yang menyemat di jari manis tangan kirinya dan meletakkannya di antara foto Seunggi dan guci yang menjadi wadah abu hasil kremasan jasad kekasihnya itu. Tak disangkanya semua berlangsung sangat cepat tidak seperti penantiannya setahun ini. Kepergian Seunggi lebih cepat daripada menanti pria itu untuk membuka matanya.

“Eonni, ini untukmu!” Shannon yang sejak tadi berdiri di belakangnya menyodorkan sebuah kamera yang sangat familiar bagi Yoona karena itu adalah miliknya.

Yoona mengambil kamera itu. “Ini memang milikku! Oppa meminjamnya sehari sebelum …” Yoona tak sanggup melanjutkan kalimatnya.

“Hmm, maksudku ada sesuatu yang mungkin harus kau lihat di situ. Aku tak sengaja menemukan itu kemarin saat sedang membereskan barang-barangnya.” Kata Shannon. “Aku akan menunggumu di mobil karena kau mungkin butuh beberapa saat untuk melihatnya.” Lanjutnya lalu meninggalkan Yoona sendiri.

Yoona menghidupkan kamera mini miliknya itu. Menekan tombol yang mengarahkannya pada koleksi foto dan video yang tersimpan di memory card kamera itu. Yang menarik perhatiannya adalah sebuah video yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Dia menekan tombol play untuk memutar video itu dan wajah Seunggi mulai memenuhi layar kamera itu.

Yoona duduk di lantai sambil bersandar di dinding untuk mencari posisi yang nyaman.

“Ahh, seharusnya aku tidak perlu melakukan ini. Rasanya menulis surat lebih gampang daripada merekam diri sendiri.” Terdengar Seunggi berbicara pada dirinya sendiri. Lalu menatap kembali ke kamera.

“Im Yoona, apa kau melihat ini? Kau pasti tertawa kalau melihat ini … Hmm, bagaimanapun kau tidak akan melihat ini selama aku masih hidup. Karena aku tidak akan membiarkannya.” Ujar Seunggi sambil tertawa. Tawa yang akan selalu dirindukan Yoona.

“Aku merasa ini begitu kekanak-kanakkan. Tapi sepertinya aku harus melakukannya … Aku tahu kau pasti merasa seperti berada dalam hubungan yang tidak pasti denganku, Yoong. Tapi … Tapi … Tapi aku sangat mencintaimu, Im Yoona!!!”

Yoona terpana mendengar kalimat itu. Seakan tidak yakin dia mengulang bagian itu lagi.

“Aku sangat mencintaimu, Im Yoona!!! … Maafkan aku karena tidak mampu mengatakannya secara langsung. Aku … aku selalu saja kelu jika berhadapan denganmu … !!! —– Tapi aku tidak ingin menyembunyikannya lagi, Yoong. Akan kupastikan aku bisa mengatakannya padamu secara langsung saat aku melamarmu nanti. —- Ya, aku akan melamarmu, Yoong. Karena aku rasanya tak bisa hidup tanpamu. Dan jika aku belum bisa mengungkapkannya di hari aku melamarmu, aku berharap kau bisa mengerti dan tetap bersedia menjadi istriku. Aku … aku berjanji akan mengungkapkan isi hatiku yang sebenarnya padamu. Aku … aku benar-benar mencintaimu, Im Yoona!!!” ujar Seunggi sungguh-sungguh. Yoona kembali tak bisa membendung air matanya. Seunggi mengatakan kalau pria itu mencintainya. Kalimat sederhana yang selalu dinantikannya selama ini kini menggema ditelinga dan hatinya.

“Kau seharusnya mengatakannya secara langsung bukannya membuat video seperti itu!” tiba-tiba seorang pria muncul dari balik lemari di belakang Seunggi. Seunggi terkejut dengan kehadiran pria itu tanpa didugannya.

“Yaaa, sejak kapan kau ada di situ?” Tanya Seunggi.

“Cukup lama untuk mendengar pengakuan cintamu.” Ledek pria itu lalu kamera tampak terangkat tanda pria itu mengambilnya. “Im Yoona, jangan buat Hyeong-ku patah hati, ya!!! Kau dengarkan kalau dia benar-benar mencintaimu?!”

Yoona tertawa singkat melihat bagian itu.

“Yakkk, berikan kamera itu …!!!” kata Seunggi seraya mencoba merebut kamera itu. Untuk beberapa saat Yoona melihat gambar kamera yang tidak menentu sampai akhirnya wajah Seunggi kembali muncul di kamera.

“Im Yoona, aku sangat mencintaimu!” kata Seunggi dengan sungguh-sungguh menutup durasi video itu. Yoona mendekap kameranya erat-erat.

“Aku juga mencintaimu, Oppa! Aku juga sangat mencintaimu!!!” ucapnya pelan lalu mulai terisak lagi. Kata cinta itu akhirnya bisa didengarnya. Kata cinta yang sangat dinantikannya akhirnya bisa sampai ke telinganya. Dia bahagia karena selama ini cintanya memang berbalas. Hanya saja semua itu terjadi tidak seperti yang ada dalam bayangannya dan dia tidak tahu apakah dia masih bisa merasakan perasaan itu nantinya.

***

“Bangunlah!” sebuah suara memanggil Siwon dari alam bawah sadarnya dengan lembut. Lalu tampak sosok wajah cantik nan mungil dipelupuk matanya yang masih tertutup. Sosok wajah yang tak pernah dikenalnya sebelumnya. Perlahan-lahan Siwon membuka matanya yang terasa berat. Pandangannya seakan berputar-putar tak fokus. Tapi dia tahu saat ini dia berada di sebuah kamar VVIP sebuah rumah sakit.

“Syukurlah kau sudah sadar!” suara Joon mengalihkan perhatiannya dan dapat dilihatnya pria itu sedang memandanginya. “Aku akan panggilkan, Dokter!” kata Joon namun Siwon menahan tangannya.

“Tidak perlu.” Cegah Siwon tapi Joon meragukannya. “Aku baik-baik saja.” Tambahnya sehingga Joon tak meneruskan niatnya untuk memanggil dokter.

“Sejak kapan aku ada di sini?” Tanya Siwon ingin tahu.

“Seminggu.” Jawab Joon singkat. Dia mengambilkan air minum untuk Siwon dan menyerahkannya pada pria itu.

“Apa aku sudah tak sadarkan diri selama itu?” Tanya Siwon lagi setelah selesai meneguk airnya dan menyerahkan gelasnya lagi pada Joon yang kemudian diletakkan di meja nakas samping tempat tidur.

“Hanya seminggu, Boss. Kondisimu tidak seburuk yang kau pikirkan. Lagipula operasinya berjalan lancar. Kau tidak perlu khawatir lagi mengenai penyakitmu.”

Siwon meraba bagian dadanya secara naluriah. Dapat dirasakannya rasa perih luka dibalik perban yang membalut bagian dadanya itu.

“Siapa yang telah mendonorkan jantungnya untukku?”

“Hanya orang yang sedang menuju kematian.” Jawab Joon enteng. Seakan itu bukan hal penting untuk dibahas. Alhasil dia mendapat tatapan kesal Siwon.

“Ohh, Boss. Kondisimu sangat parah saat aku membawamu kesini tanpa sepengetahuan orang lain. Dan saat itu kebetulan ada seseorang yang sudah tak sadarkan diri setahun lamanya. Orang itu tak punya harapan hidup lagi. Dokter telah memastikannya. Lagipula dia juga punya wasiat jika dia meninggal nanti dia ingin mendonorkan jantungnya untuk orang yang membutuhkan. Dan beruntungnya dirimu dia sangat cocok untuk menjadi donormu. Maka kau pun dioperasi dan Puji Tuhan kau selamat. Just it. Hanya itu yang aku tahu.” Jelas Joon tanpa ingin mengatakan apapun lagi mengenai hal itu.

Tapi Siwon nampak belum puas. “Setidaknya kau bisa mengetahui siapa keluarga dari pendonor itu. Agar aku bisa berterima kasih dengan layak.”

Joon termenung beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Boss, kau hanya perlu hidup dengan baik untuk menunjukkan rasa terima kasihmu. Maka jantung itu takkan sia-sia didonorkan padamu.” Kata Joon. “Sudahlah tak perlu memikirkan hal itu untuk saat ini. Aku tahu kau baru sadar dan mungkin ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahas masalah apapun. Tapi kau harus tahu selagi kau tak sadarkan diri Sepupumu sudah berhasil mengambil alih proyek yang kau tangani di Jeju.”

“Apa?” Siwon terbelalak mendengar hal itu.

Joon mendesah. “Bukan hanya itu. Jika kau tidak juga menampakkan wajahmu minggu ini maka dia akan mengadakan pertemuan dengan para dewan komisaris di pesta ulang tahun bibimu yang tinggal beberapa bulan lagi.”

Siwon mengepalkan tangannya. Kesal. “Sialan!!! Apa yang membuatnya berani melakukan ini padaku?! Aku takkan membiarkannya melakukan itu. Segera atur kepulanganku. Aku tidak ingin melewatkan pesta yang diadakan oleh sepupuku yang licik itu. Dia akan bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya padaku!” geram Siwon. Joon tersenyum.

“Aku rasa kau memang sudah baik-baik saja! Baiklah, aku akan segera meminta ijin pada dokter untuk membawamu pulang, Boss!!!” ujar Joon bersemangat.

“Joon, siapa wanita yang membangunkanku tadi?” pertanyaan Siwon itu menghentikan Joon yang hendak membuka pintu. Joon tampak ragu-ragu sejenak sebelum kembali melihat Siwon.

“Wanita? Saat kau bangun hanya ada aku, Boss!!!” Joon menjawab seakan dia kebingungan juga akan apa yang ditanyakan Siwon padanya.

“Benarkah?” Siwon tertawa kecut. “Apa mungkin karena aku sudah lama tidak berkencan sampai aku mulai berkhayal yang tidak-tidak? Tapi aku merasa aneh. Aku merasa suara wanita itu yang menjadi kekuatanku agar aku bisa bangun lagi. Kenapa aku merasa suara dan wajahnya begitu nyata?” Tanya Siwon seperti hanya ditujukan pada dirinya sendiri.

Joon menghela nafasnya pelan. “Mungkin dia memang nyata. Mungkin dia ingin membangunkanmu untuk membangunkan jantung barumu, Boss!”

Siwon menatap Joon penasaran. Dapat dirasakannya ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh asisten sekaligus orang yang sudah menjadi sahabatnya selama beberapa bulan terakhir ini.

“Apa maksudmu, Joon?”

Joon tersadar dari pikirannya. Dengan cepat dia bisa menguasai dirinya lagi.

“Aku akan menemui dokter!” kata Joon segera mengalihkan pandangannya dan pergi meninggalkan ruangan itu untuk menemui dokter. Siwon merasa penasaran kenapa Joon agak bersikap kikuk tadi setelah menjawab pertanyaannya. Tapi yang lebih membuatnya penasaran adalah sosok wanita yang membuatnya sanggup membuka matanya tadi. Dirasakannya jantungnya seakan berdetak lebih cepat saat memikirkan hal itu. Apa mungkin suara yang didengarnya itu hanya untuk membangunkan jantung yang kini berdetak dalam tubuhnya? Apapun hal itu, saat ini yang terpenting adalah mencegah sepupunya melakukan hal licik dan kejam untuk menyingkirkannya dari perusahaan. Dia tidak akan membiarkan sepupunya mengambil perusahaan dan semua asset yang memang miliknya. Tidak akan!!!

***

Sudah sebulan ini Yoona tidak keluar rumah. Yang dia lakukan hanya menjaga Coffe Shop miliknya yang memang terletak di lantai bawah rumahnya lalu mengurung diri di kamar jika Shannon datang untuk menggantikannya. Dia enggan keluar rumah setelah apa yang menimpa hidupnya. Setelah kepergian Seunggi, dia bahkan tidak tahu apa masih sanggup menghadapi orang-orang di luar sana. Dia hanya merasa aman berada di rumahnya. Di luar rumah dia merasa akan banyaknya ancaman bahaya yang dapat menimpanya. Dia sudah tidak sanggup jika harus menghadapinya lagi.

Tapi kali ini dia harus memaksakan diri untuk keluar rumah. Karena memang dia harus melakukannya. Rumahnya terancam akan digusur karena dibangun di atas tanah yang menjadi milik salah satu perusahaan ternama di Korea. C.A Cooperation adalah nama perusahaan yang mengklaim kepemilikan tanah itu. Rumah dan Coffe Shop miliknya yang memang terletak di kawasan yang sangat strategis itu akan hancur dan dirubah menjadi salah satu pusat perbelanjaan yang besar. Sebagian besar orang-orang yang memiliki bangunan rumah atau semacamnya di tempat itu mungkin akan menyetujui penggusuran setelah mendapat imbalan yang sangat menggiurkan dari perusahaan itu. Tapi tidak dengan Yoona. Rumah itu adalah satu-satunya peninggalan ayahnya untuknya. Dia tidak akan dengan mudah menyerahkannya. Oleh sebab itu dia saat ini tengah berdiri di depan pintu sebuah gedung mewah yang menjulang tinggi dihadapannya. Gedung yang merupakan tempat dia bisa menemui pemilik dari perusahaan yang ingin menyingkirkan rumahnya.

“Aku ingin bertemu dengan direktur perusahaan ini!” kata Yoona saat dia berhadapan dengan seorang wanita petugas resepsionist perusahaan itu.

“Maaf Nona, apa Anda sudah membuat janji lebih dahulu?” Tanya petugas itu dengan ramah.

Yoona menggeleng. “Tidak. Tapi aku harus menemuinya sekarang!”

Dengan senyum yang dipaksakan wanita itu menjawab “Maaf Nona, tapi Pak Direktur sedang tidak ada di tempat!”

Yoona tahu wanita itu berbohong. Jawaban itu memang selalu ditujukan untuk orang yang hendak menemui atasan mereka tanpa membuat janji lebih dulu. Yoona mengerti jika wanita itu memberikan jawaban itu untuknya. Tapi saat ini Yoona tak ingin mendengar penolakan. Dia harus bertemu dan bicara dengan pimpinan tertinggi perusahaan itu hari ini juga.

“Tolonglah. Aku tahu Pimpinanmu ada di sini. Aku harus bertemu dengannya. Ini sangat penting!”

“Maaf Nona tapi itu tidak bisa. Saat ini Presdir sedang …”

“Oho, seharusnya kau tidak membuat kebohongan seperti itu!” kata seorang pria muda tampan yang menghampiri bagian resepsionst itu bersama beberapa orang mengikutinya dari belakang. Melihatnya Yoona sudah bisa tahu pria itu punya posisi yang penting di perusahaan ini.

“Direktur Choi!” kata petugas resepsionist itu seraya membungkukkan badannya memberi hormat dan diikuti petugas yang lainnya.

Pria itu tersenyum. Senyuman yang pasti sudah membuat banyak wanita tergila-gila padanya.

“Apa Anda Pimpinan tertinggi di Perusahaan ini?” Tanya Yoona tanpa ingin berbasa-basi.

Pria itu tertawa singkat membuat Yoona mengernyitkan keningnya.

“Nona, sopanlah sedikit!” bisik wanita petugas resepsionist itu.

“Aku rasa aku sudah bertanya dengan cukup sopan. Aku hanya tidak ingin berbasa-basi.” Jawab Yoona membela diri.

Pria itu menghentikan tawanya dan kembali tersenyum ramah pada Yoona.

“Well, aku mungkin akan mendapatkan posisi itu dengan segera. Tapi untuk saat ini ada seseorang yang menempati posisi itu. Aku Choi Woo Hyuk. Bisa dikatakan aku punya posisi yang penting di perusahaan ini.” Ujar pria itu seraya mengulurkan tangannya.

Yoona menjabat tangan itu singkat. “Im Yoona. Ya, aku bisa melihatnya!”

“Jika tidak keberatan bisakah aku tahu apa yang membawamu ingin bertemu dengan Presdir perusahaan ini?” Tanya Woo Hyuk ingin tahu.

Yoona menghela nafasnya. “Aku ingin membicarakan masalah penggusuran di kawasan Gyeonggi-do. Aku tinggal di sana.”

Woo Hyuk mengangguk sambil tersenyum. “Oh, aku paham. Kau ingin menentang proyek itu kan?”

Yoona mengangguk. “Ya. Bisakah kau membantuku?”

“Tentu saja. Aku akan mengantarmu untuk menemuinya!”

“Tapi Direktur …!!!” wanita sang petugas resepsionist ingin protes tapi seketika terdiam karena tatapan Woo Hyuk.

“Aku akan mengantarkan Nona ini!” ujarnya penuh penekanan. “Kalian tunggulah di ruang rapat III. Aku tidak akan lama.” Katanya lagi pada orang-orang yang masih berdiri di belakangnya. Lalu orang-orang itu memberi hormat sebelum pergi untuk melaksanakan perintah pria itu.

“Ayo, silahkan!” Yoona mengangguk dan mengikuti langkah pria itu menuju ke tempat di mana dia bisa menemui pimpinan tertinggi perusahaan itu.

“Sebelum kau bertemu dengannya aku hanya ingin memberitahumu kalau sepupuku bukanlah orang yang menyenangkan. Dia adalah Sang Presdir.” Kata Woo Hyuk memberitahu saat mereka berada dalam lift.

“Apa tampangnya menyeramkan?” Tanya Yoona ingin tahu. Yoona tahu nama pemimpin perusahaan itu dan juga kesuksesannya dari majalah-majalah bisnis dan TV. Hanya Yoona belum pernah melihat wajah pria itu. Banyak yang mengatakan kalau pria itu memang tidak terlalu suka diekspos. Maka Yoona berasumsi mungkin pria itu mempunyai wajah yang menyeramkan.

Woo Hyuk menggeleng. “Tidak. Dia bahkan sangat tampan, aku rasa. Hanya saja sikapnya kurang menyenangkan. Kau mungkin akan kesulitan jika menghadapinya.”

“Aku sudah terlalu banyak menghadapi kesulitan dalam hidupku. Satu lagi kesulitan yang datang bukan suatu permasalahan yang besar untukku.”

“Kau begitu percaya diri, Nona. Aku suka itu. Mungkin suatu saat aku membutuhkan bantuanmu untuk menghadapinya.”

“Apa?”

Woo Hyuk tertawa “Bukan apa-apa. Tak perlu dipikirkan.” Bersamaan dengan itu lift berhenti dan pintunya terbuka. “Kita sudah sampai!”

Yoona mengikuti langkah Woo Hyuk keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan yang berada di jalur lurus dengan lift. Yoona memperhatikan sekitarnya. Bagian tempat itu tampak sunyi. Seakan pemimpin perusahaan ini adalah orang yang penyendiri dan mungkin berbahaya.

“Apa semua bagian di perusahaan ini tampak sesunyi ini?” tanpa sadar Yoona menyuarakan pikirannya.

“Tentu saja tidak. Hanya bagian ini saja yang seperti ini. Siwon tidak terlalu menyukai kebisingan. Jadi hanya sedikit saja karyawan yang ditempatkan di sini. Tapi meski bagian ini sunyi, ini adalah bagian yang paling aman dari semua bagian yang ada di tempat ini.” Jelas Woo Hyuk. Dia lalu membuka pintu. Ternyata di balik pintu itu Yoona dapat melihat beberapa orang yang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Di situ terdapat beberapa ruangan lagi dan di salah satu sudut tak jauh dengan pintu yang dibuka Woo Hyuk terdapat bagian resepsionist.

Woo Hyuk tertawa renyah. “Tidak sesunyi yang kau pikirkan, bukan?”

Yoona menatapnya kesal. “Kau mengecohku!”

Woo Hyuk meredakan tawanya dan tanpa harus berbasa-basi di resepsionist Woo Hyuk berjalan mendahului Yoona membuka salah satu pintu yang mempunyai ukuran yang agak besar dari pintu-pintu yang lainnya. Bahkan tanpa mengetuk lebih dahulu.

“Aku semakin yakin kau memang tidak diajarkan sopan santun, Woo Hyuk! Pintu itu tertutup agar kau bisa mengetuknya jika ingin memasuki ruangan orang lain. Terlebih lagi seseorang yang punya posisi lebih tinggi darimu!” protes seorang pria yang duduk sambil meneliti beberapa berkas di mejanya. Yoona yakin pria itu adalah Choi Siwon. Pemilik sekaligus Pimpinan Tertinggi C.A Cooperation.

Yoona bisa melihat kekesalan diwajah Woo Hyuk setelah mendapat sindiran itu. Namun Yoona juga merasa Woo Hyuk adalah pria yang dengan cepat bisa menguasai dirinya. Terbukti dengan senyum khasnya yang kemudian mengganti raut kekesalan diwajahnya.

“Kau tahu sendiri aku lebih suka membuka pintu itu sendiri tanpa harus mengetuk terlebih dahulu. Bagaimanapun ruangan ini akan menjadi ruanganku nantinya.”

“Tidak selama aku masih di sini, Sepupu! Kau tidak akan mendapatkannya dengan mudah!” pria itu menengadahkan wajahnya untuk melihat Woo Hyuk. Tapi seketika matanya tertumbuk pada Yoona yang berdiri di sisi Woo Hyuk.

Yoona merasa tatapan itu begitu mempesona dan berbahaya disaat yang bersamaan. Seperti yang dikatakan Woo Hyuk, pria itu memang sangat tampan. Bahkan merupakan pria yang paling mempesona yang pernah Yoona lihat. Tatapan matanya yang tajam seakan bisa menembus pertahanan siapapun yang menatapnya secara langung. Yoona juga bisa merasakan pria itu bukanlah pria yang mudah ditangani. Garis-garis ketegasan dan sifat arogannya terpancar dengan jelas diwajah pria itu. Entah kenapa Yoona mulai memperingati dirinya.

“Aku hanya ingin mengantarkan tamu untukmu.” Ujar Woo Hyuk. Lalu dia mengalihkan pandangannya pada Yoona.

“Aku akan sangat senang jika kita bisa bertemu lagi, Nona Im. Dan akan aku pastikan itu akan terjadi. Selamat berjuang!” imbuhnya pelan. Lalu pergi meninggalkan Yoona dan sepupunya tanpa lupa menutup pintu.

 

Siwon merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Bahkan bisa diibaratkan ingin keluar dari tempatnya dan melompat ke pelukan gadis yang kini sedang duduk di sofa di hadapannya. Siwon yakin gadis itu adalah gadis yang selama ini menghantui pikirannya. Saat melihatnya tadi Siwon langsung merasa pasti. Jantungnya bahkan terasa nyeri saat itu. Mata, hidung, bibir, kini wujud gadis itu nyata di depannya. Gadis ini sangat cantik. Lebih cantik daripada yang sering dia lihat dalam tidurnya. Tapi apa yang membuat gadis ini datang untuk menemuinya? Apa gadis ini memang punya hubungan dengan sang pemilik jantung yang kini menjadi jantungnya? Apa gadis ini datang mencarinya seperti halnya dia mencari gadis itu selama sebulan ini? Apa sebegitu kuatnya ikatan jantung barunya dengan gadis ini sehingga kini dia bisa berhadapan dengannya secara langsung?

Yoona berdehem memecah kebisuan yang tercipta selama beberapa saat. Merasa kikuk mungkin karena pria di depannya menatapnya sejak tadi tanpa mengatakan apapun setelah mempersilahkannya duduk.

“Maafkan saya jika saya mengganggu kesibukan Anda.” Yoona mulai berinisiatif untuk membuka percakapan. Lagipula tujuannya untuk menemui pria itu bukanlah hanya untuk duduk sambil bertatapan dengan pria itu. Entah mengapa Yoona merasa aneh karena dia hampir melupakan tujuan kedatangannya selama beberapa saat.

“Hmm, nama saya Yoona … Im Yoona. Saya … saya tahu kedatangan saya mungkin tanpa persiapan yang matang. Tapi … saya ingin Anda membatalkan proyek pembangunan departemen store anda di Gyeonggi-do. Itu kawasan tempat tinggal saya.” Ujar Yoona akhirnya bisa mengutarakan maksudnya. Semakin cepat dia mengatakannya semakin cepat urusannya. Baru beberapa saat berada di ruangan dengan pria di depannya itu membuatnya merasa terintimidasi.

Ternyata Siwon salah mengira. Gadis itu datang menemuinya bukan karena merasa ada keterikatan batin dengan sang pemilik jantungnya sebelumnya. Tapi untuk memintanya membatalkan proyek besarnya.

“Apa mungkin kau pemilik Coffe Shop yang menolak untuk menandatangani surat penggusuran itu?” Siwon merasa tidak perlu menggunakan bahasa formal untuk menghadapi gadis yang mengaku bernama Im Yoona itu. Ketertarikannya pada Yoona membuatnya tak ingin melakukan itu. Siwon bisa melihat kekesalan di wajah Yoona karena hal itu. Dan dia menyukainya.

“Ya, benar. Jadi saya mohon Anda tidak melanjutkan niat Anda. Karena sampai kapanpun saya tidak akan menyetujuinya.”

Siwon tertawa singkat. “Aku tidak perduli dengan ketidaksetujuanmu, Nona! Sebagian besar orang yang tinggal di situ sudah menyetujuinya dan satu orang yang tidak setuju bukanlah sesuatu yang begitu menyulitkan. Aku bisa memberikan ganti rugi yang sangat baik untukmu setelahnya.”

Yoona tersenyum kecut. Dia tak menyangka kalau Choi Siwon benar-benar sangat tidak menyenangkan seperti yang dikatakan Woo Hyuk padanya. Bahkan pria itu dengan terang-terangan menyepelekannya.

“Aku pikir rumor bahwa Anda adalah orang yang tidak menyenangkan tidak benar. Tapi ternyata Anda lebih menyebalkan daripada rumor yang tersebar.” Ungkap Yoona kesal.

“Benarkah? Ahh … Aku bukanlah orang yang begitu tertarik dengan rumor atau gossip yang beredar. Kebanyakan dari mereka memang orang yang tidak menyukaiku.” Siwon menyeruput kopinya pelan. Lalu meletakkan gelasnya kembali ke atas meja.

“Dan aku yakin kalau sepupuku juga pasti sudah memberitahukan padamu bahwa aku sangat teramat tidak menyenangkan.” Imbuhnya.

“Dia tidak menggambarkan sedetail itu. Dia hanya mengatakan Anda adalah orang yang tidak menyenangkan. Jika dia menjelaskan sebegitu menyebalkannya Anda, mungkin Saya akan merasa sangat berterima kasih.”

Siwon tertawa melihat kekesalan Yoona.

“Well, apa alasanmu untuk tidak menyetujui penggusuran itu? Apa ada alasan khusus yang bisa membuatku mempertimbangkannya kembali?” Siwon kembali menatap Yoona dengan seksama. Entah mengapa Siwon merasa ini akan menjadi kebiasaan barunya yang menyenangkan. Yoona sangat cantik dan menarik. Jika benar pemilik sebelumnya dari jantungnya yang sekarang punya keterikatan dengan Yoona, Siwon bisa merasakan orang itu pasti sangat mencintai Yoona. Tak heran Siwon merasa begitu penasaran akan gadis itu. Bahkan saat berhadapan dengan Yoona secara langsung Siwon mulai merasa ada ketertarikan luar biasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dan dia tidak ingin menghindari hal itu.

“Coffe Shop itu bukan hanya sekedar Coffe Shop untuk saya. Tapi juga rumah saya. Satu-satunya peninggalan orangtua saya. Saya juga yakin orang-orang yang tinggal di sana tidak begitu menyetujui penggusuran itu. Kami sudah tinggal di kawasan itu selama bertahun-tahun dengan damai. Anda bisa mendapatkan lokasi yang lebih baik dari tempat itu. Ada kawasan kosong di daerah sebelum kawasan itu. Anda bisa membangun Departement Store itu tanpa harus melakukan penggusuran.” Jelas Yoona.

Siwon tersenyum dan demi Tuhan itu adalah senyum yang paling menawan yang pernah Yoona lihat selama hidupnya. Bahkan dia mulai tidak yakin apakah senyum Seunggi adalah senyum terindah yang ingin dimilikinya. Seketika itu juga Yoona tersadar dan mengenyahkan pikirannya.

Siwon mengerti maksud Yoona. Mungkin gadis itu belum tahu bahwa kawasan kosong itu juga menjadi bagian dari proyeknya. Tapi dengan ditambah dengan kawasan yang ditempati gadis itu, dia bisa membuat pembangunan proyeknya lebih luas lagi. Dia bisa saja membatalkan penggusuran itu dan mengabulkan permintaan Yoona. Lagipula itu hanya proyek bayangan yang sedang dirintisnya. Proyek sebenarnya bukanlah di tempat itu. Dia hanya ingin musuh-musuhnya mengira itu adalah proyek terbesarnya sementara proyek yang sesungguhnya saat ini sedang dirintis dan tinggal butuh sedikit waktu lagi untuk diresmikannya. Tapi dia tidak ingin membuat ini menjadi begitu mudah bagi Yoona. Selama ini gadis itu telah menghantui hari-harinya dengan selalu hadir dalam tidurnya atau bahkan pada saat-saat tertentu. Setelah bertemu secara langsung dan mendengar suara gadis itu secara nyata, Siwon menjadi sangat menginginkan gadis itu secara nyata untuknya. Dia ingin memiliki gadis itu dan dia harus memilikinya. Lagipula saat ini para anggota dewan perusahaan sedang gencar-gencarnya mencarikannya calon istri. Meski dia adalah pemilik perusahaan dan pemegang saham tertinggi, dia tidak bisa mengabaikan peran para anggota dewan dan pemegang saham lainnya. Dia dianggap sudah cukup umur untuk memberikan calon pewaris perusahaan yang sah untuk menggantikannya. Jika tidak perusahaannya akan jatuh ke tangan sepupunya yang sebentar lagi akan bertunangan. Karena ini merupakan perusahaan keluarga maka Para anggota dewan berpendapat lebih baik menyerahkan perusahaan kepada orang yang punya pewaris bukan kepada orang yang tidak ingin berkeluarga seumur hidupnya.

Selama ini Siwon memang dekat dengan banyak gadis. Tapi hanya untuk bersenang-senang saja dan melampiaskan kebutuhannya sebagai seorang pria. Namun belum ada seorangpun yang bisa mengikatnya dan dia memang belum membiarkan dirinya terikat secara emosional dengan seseorang apalagi seorang wanita. Tapi entah mengapa dia merasa ingin melakukannya dengan Yoona. Bukan karena jantungnya yang juga seakan punya keinginan seperti itu tapi hatinya mengatakan dia ingin memiliki Yoona seutuhnya untuk dirinya sendiri. Bahkan sejak tadi dia tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana rasanya jika memeluk gadis itu, betapa halusnya kulit gadis itu dalam belaiannya dan betapa nikmatnya jika dia bisa merasakan bibir tipis gadis itu yang terasa begitu menggodanya. Dia yakin jika merasakannya dia tidak akan mampu untuk melepaskan diri.

“Aku mungkin bisa mempertimbangkan usulanmu jika kau bisa menyetujui kesepakatan yang ingin aku buat denganmu secara pribadi.” Ujar Siwon setelah berusaha membuyarkan lamunannya tentang Yoona.

“Apa maksud Anda?” Tanya Yoona tak mengerti.

“Aku ingin menawarkan sebuah kesepakatan denganmu, Nona Im!” ulang Siwon lebih menjelaskan maksudnya.

Yoona agak ragu. Tapi dia tetap ingin mendengar kesepakatan apa yang ingin ditawarkan oleh pria itu untuknya.

“Kesepakatan seperti apa yang ingin kau tawarkan padaku?” tanyanya.

“Aku berjanji tidak akan mengusik kawasan tempat tinggalmu asal kau menyetujui persyaratanku. Aku bahkan akan menggajimu dengan pantas jika kau menginginkannya.”

“Dan kesepakatannya adalah …?” Yoona sudah tidak sabar karena Siwon mencoba memperumit pembicaraan. Sedangkan dia adalah tipe orang yang lebih suka to the point.

Siwon tersenyum lalu dengan meyakinkan dia menatap Yoona, “Menikahlah denganku!”

Sontak saja itu membuat Yoona terbelalak. Merasa tidak percaya dengan yang didengarnya, Yoona bertanya hanya untuk memastikan kalau tidak ada yang salah dengan pendengarannya.

“Apa? Apa yang baru saja Anda katakan?”

“Aku memintamu untuk menikah denganku. Jadilah istriku. Maka semuanya akan seperti yang kau inginkan!”

Perkataan Siwon barusan membuat Yoona semakin tidak percaya. Mungkin ada yang salah dengan pria itu. Dengan entengnya pria itu melamarnya. Ya, memintanya untuk menikah bukankah dikatakan dengan melamar?! Bahkan tanpa mengenal dirinya, pria itu menginginkannya untuk menjadi istrinya. Yoona belum pernah bertemu pria segila ini.

Yoona tertawa kecut. “Apa Anda sudah gila? Saya bisa mengerti jika Anda memang menyebalkan tapi tidak mengerti jika Anda juga punya pikiran yang gila seperti itu! Bagaimana mungkin Anda meminta saya untuk menikah dengan Anda padahal kita baru pertama kali bertemu? Kita tidak saling mengenal dengan baik. Apa Anda tidak berpikir bahwa kemungkinan saya adalah seorang wanita yang sudah mempunyai suami?”

Siwon tersenyum dan lagi-lagi senyum itu begitu menggoda Yoona.

“Kemungkinan itu sangat kecil sekali. Di jari-jarimu tak ada cincin yang tersemat menandakan kau masih seorang wanita single. Dan aku yakin kau memang masih seorang gadis. Perkiraanku tidak pernah salah.”

“Maka Anda juga pasti sudah memperkirakan bahwa saya akan menjawab tidak untuk kesepakatan anda itu.” Kata Yoona seraya berdiri. “Saya akan kembali lagi kesini jika Anda sudah punya kesepakatan lain untuk saya yang tidak menyangkut pernikahan atau pikiran-pikiran kotor yang sekarang mungkin sudah bersarang dalam pikiran Anda.”

Siwon menyandarkan pungungnya seraya beredekap.

“Percayalah selain menyetujui kesepakatan ini, kau takkan bisa mengubah keputusanku mengenai proyek itu. Kau hanya punya waktu sampai akhir minggu ini. Karena seperti yang kau ketahui aku tidak akan menghentikan para kontraktor tanpa alasan yang benar-benar meyakinkan.”

“Dan menurut Anda alasan yang meyakinkan adalah saya?” Yoona makin kesal dibuatnya.

Siwon mengangguk. “Jika kau menyetujui itu kau akan menjadi istriku. Dan tidak mungkin untukku menghancurkan tempat yang pernah ditinggali istriku yang tercinta. Bukankah begitu?”

Yoona mendesah tak percaya.

“Anda benar-benar sudah gila.” Yoona berjalan menuju pintu. Lalu berhenti sejenak untuk melihat pria itu yang masih duduk dengan santainya.

“Saya bertanya-tanya apa yang akan terjadi saat kita bertemu lagi jika dipertemuan pertama saja sudah seperti ini?!”

Siwon lagi-lagi tersenyum. “Kau tidak perlu mengira-ngira. Aku yakin aku akan menciummu dipertemuan kita yang selanjutnya. Karena saat ini saja aku nyaris tidak bisa menahan diriku untuk tidak menahanmu di dinding dan merasakan bagaimana bibirku melumat habis bibir tipismu itu.” Jawaban Siwon yang terkesan erotis itu membuat Yoona merinding. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan pria yang bisa berkata sevulgar itu.

Yoona membalikkan badannya. Tepat saat dia memegang gagang pintu, pintu itu terbuka dari luar dan seorang pria masuk ke ruangan itu.

“Joon???” Yoona sedikit terkejut melihat pria yang dikenalnya itu. Sama terkejutnya dengan pria itu saat melihatnya.

“Yoona? Kenapa kau ada di sini?” Tanya Joon.

“Kau sendiri apa yang sedang kau lakukan di sini?” Yoona balik bertanya.

Joon berdehem. Melihat sebentar ke arah Siwon lalu kembali menatap Yoona.

“Aku bekerja di sini.” Jawabnya singkat.

Yoona mengangguk. “Well, aku berharap kau tidak akan menjadi orang yang menyebalkan dan segila atasanmu itu karena bekerja di sini.” Ucap Yoona meledek Siwon. “Aku pulang dulu!” tambahnya seraya berlalu meninggalkan tempat itu dengan kesal.

***

“Kenapa harus Yoona?” Tanya Joon saat Siwon selesai menceritakan pertemuannya dengan Yoona beberapa waktu lalu. Jelas Joon tidak setuju jika Siwon ingin menjadikan Yoona sebagai calon istri atasannya itu.

“Kenapa jika bukan dia? Apa aku salah jika memilihnya?” Siwon balik bertanya tanda dia tidak menyukai ketidaksetujuan Joon itu terhadap keputusannya.

“Bukan seperti itu. Kau belum mengenal Yoona, Boss. Bukankah kau bisa melamar gadis lain yang lebih cantik dan …”

“Joon!!!” sergah Siwon menghentikan kalimat Joon. Dia menatap Joon dengan seksama. “Ada apa denganmu? Tidak seperti biasanya kau meragukan keputusanku seperti ini! Memangnya kenapa jika aku memilih gadis itu untuk menjadi istriku? Dia juga cantik. Bahkan lebih cantik dari semua gadis yang pernah aku lihat sebelumnya. Aku menginginkannya. Aku menginginkannya untuk diriku. Tapi tidak seperti biasanya seperti aku menginginkan gadis-gadis sebelumnya. Aku menginginkannya untuk menjadi milikku. Menjadi istriku. Apa ada yang salah dengan itu?” ungkap Siwon agak kesal.

“Maafkan aku, Boss! Hanya saja Yoona adalah temanku. Dia sangat baik. Aku tidak ingin dia berada dalam bahaya.”

“Apa kau menyukainya? Kau mencintai Yoona?” tebak Siwon. Tapi dalam hatinya dia takut jika pertanyaannya akan menjadi kebenaran. Walau bagaimanapun Joon bukan hanya sekedar asisten baginya. Tapi juga sahabat terbaiknya.

Saat Joon menggeleng, Siwon merasa hawa sejuk merasuki seluruh tubuhnya. Dia sangat lega.

“Yoona sudah seperti saudara untukku. Aku tidak mencintainya layaknya seorang pria mencintai seorang gadis. Dia sebatang kara. Aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk menimpanya.”

“Apa dia salah satu alasan kau tidak setuju ketika aku mengutarakan ingin menggusur tempat itu?”

“Tidak seperti itu. Aku juga pernah tinggal di sana. Tempat itu juga bagaikan rumah untukku.” Jawab Joon. Siwon bisa melihat kejujuran pria itu.

Siwon mengangguk. “Maka yakinkan Yoona untuk menerima tawaranku. Aku butuh sesuatu yang lebih meyakinkan agar orang lain tidak akan mencurigai kenapa aku membatalkan penggusuran itu. Dan kau tenang saja, aku akan melindunginya jika dia bersedia menjadi istriku.”

Joon tidak bisa menjawab apa-apa lagi selain, “Baiklah, akan aku coba!”

“Ngomong-ngomong soal bahaya, Yoona malah mendatangiku bersama sepupuku yang sangat berbahaya. Dan sepertinya terjadi percakapan yang menyenangkan diantara mereka.” Joon terpana sekaligus cemas. “Jadi sebelum dia mencoba untuk dekat dengan bahaya itu, kau sebaiknya sudah berhasil membuat tempat yang aman untuk temanmu itu di sisiku. Dengan satu catatan … kau jangan berani mencintainya. Karena aku takkan membiarkannya.” Tegas Siwon.

Joon tersenyum. “Kau tenang saja tentang perasaanku, Boss. Aku mencintai gadis lain.”

***

“Sudah kukatakan padamu berulang kali kalau aku tidak akan menerima tawaran konyol itu, Joon. Dan sekarang pun aku menjawab TIDAK untuk itu.” Jawab Yoona kesal atas pertanyaan Joon yang hanya itu-itu saja.

“Bisakah kau menerima tawaran Bossku, Yoong?”

Entah ini sudah keberapa kalinya Yoona pun menjawab TIDAK pada Joon. Setelah pulang dengan kesal gara-gara menemui Choi Siwon di perusahaannya, Joon begitu gencar mendatanginya hanya untuk melanjutkan tawaran konyol atasannya itu. Telepon dan SMS pun tak henti-hentinya. Bahkan Joon meminta Shannon untuk membujuknya agar menyetujui tawaran itu.

“Sudah kukatakan padamu Eonni pasti takkan mau, Oppa!” timpal Shannon. Gadis itu sedang sibuk membersihkan Coffe Shop setelah mereka tutup beberapa saat yang lalu. Namun dia tidak ingin ketinggalan pembicaraan antara Yoona dan Joon yang sedang duduk di salah satu meja di ruangan itu.

Joon menghela nafas. “Yoong, para kontraktor yang akan menggusur kawasan ini akan datang besok pagi. Jika kau tidak menerima tawarannya maka kau akan kehilangan semuanya. Ini terakhir kalinya aku datang meminta kesediaanmu.” Ujarmya putus asa.

“Joon, kau tahu aku tidak menyukai Bossmu yang arogan dan kurang ajar itu. Apalagi harus menjadi istrinya. Aku tidak akan sudi.”

“Tapi ini semua demi kebaikan bersama, Yoong. Kau tentu saja tidak ingin kehilangan tempat ini. Begitu juga denganku.”

“Lalu kenapa kau tidak membujuk Bossmu itu untuk tidak melakukannya? Kenapa harus aku?”

“Aku hanya seorang yang bekerja untuknya, Yoong. Jika hanya aku maka dia tidak punya alasan yang cukup kuat untuk mengubah keputusannya. Tapi kau bisa mengubahnya, Yoong.”

“Pertanyaannya kenapa harus aku? Kenapa dia begitu menginginkanku menjadi istrinya? Bukankah dia sangat tampan dan kaya? Dia bisa saja mencari gadis lain dan aku yakin takkan ada yang menolak. Kenapa aku yang diinginkannya?”

Joon terdiam sejenak tampak berpikir. “Mungkin karena kini dia memiliki sesuatu yang pernah dimiliki oleh orang yang mencintaimu.” Gumam Joon pelan. Yoona bahkan tidak bisa mendengarnya.

“Apa yang kau katakan?” Tanya Yoona ingin tahu dan seketika membuat Joon tersadar. Dia tampak sedikit salah tingkah.

“Mungkin karena dia tertarik padamu.” Jawab Joon kemudian mencoba menutupi kekikukannya. “Apapun alasannya hanya dia yang tahu dengan pasti, Yoong. Lagipula kau takkan dirugikan. Hidupmu akan terjamin. Rumahmu dan rumah orang-orang yang tinggal di sekitar sini juga akan aman. Semuanya akan baik-baik saja.”

Yoona tertawa kecut. “Rupanya bekerja dengan orang seperti Choi Siwon memang telah mengubahmu menjadi orang yang sangat menyebalkan, Joon. Aku bahkan tidak yakin apa kau masih temanku atau bukan.”

Joon sadar kali ini dia telah melakukan kesalahan. Tak seharusnya dia mengatakan Yoona takkan dirugikan karena sebenarnya Yoona pasti merasa dirugikan. Yoona harus berkorban untuk orang banyak dengan menikahi pria yang bahkan tak pernah dikenalnya sebelumnya. Lalu apa yang membuat Joon yakin kalau Yoona malah diutungkan oleh hal itu?! Joon merasa sangat konyol.

Yoona berdiri dari tempat duduknya. “Aku tak akan menikah dengan Bossmu, Joon. Karena aku tak ingin menikah dengan orang yang tidak aku cintai apalagi yang tidak aku kenal. Dan kau tahu dengan pasti siapa yang aku cintai.” Yoona berbalik hendak menuju ke kamarnya di lantai dua.

“Kau seharusnya melupakannya saja, Yoong. Dia sudah meninggal!” kata Joon keras. Membuat lankah Yoona yang sudah menapaki 3 anak tangga terhenti. Dikepalkannya tangannya kuat-kuat seakan menahan amarahnya.

Shannon yang juga merasa cukup kaget dengan ucapan Joon segera menghampiri pria itu.

“Oppa …!!!” geramnya pelan.

“Kenapa Shannon? Yang aku katakan memang benar. Seunggi sudah meninggal. Seharusnya dia melupakannya saja. Bukannya membatasi dirinya dengan duka itu seumur hidupnya. Hidup tetap harus berjalan. Dia tidak mungkin menikah dengan orang yang sudah tak ada lagi.” Ujar Joon kesal.

“Oppa!!!” Shannon berusaha menghentikannya.

Yoona mengalihkan pandangannya menatap Joon. Dia menghela nafasnya pelan lalu mengangguk.

“Kau benar, Joon. Seunggi oppa … orang yang aku cintai memang sudah meninggal. Maka … maka tak ada alasan lagi untuk aku menikah. Orang yang aku cintai sudak tak ada. Jadi pernikahan takkan ada dalam hidupku.” Ujar Yoona dengan susah payah. Dia berusaha untuk tidak menangis tapi dia tahu itu tidak mungkin karena saat ini air matanya sudah mulai mengalir membasahi pipinya. Dia segera berbalik agar Joon dan Shannon tidak bisa melihat tangisannya lebih lama.

Joon merasa sangat bersalah. Dia tahu telah melukai perasaan Yoona. Kepergian Seunggi baru lewat sebulan. Mana mungkin Yoona sudah bisa melupakan pria yang dicintainya secepat itu? Terlebih lagi Joon tahu Seunggi adalah pria pertama yang dicintai sahabatnya itu.

“Yoong, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin kau bisa …”

“Pulanglah, Joon!” sela Yoona. Lalu dengan cepat dia menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dan tak lama kemudian Joon dan Shannon mendengar pintu yang ditutup dengan keras. Tanda Yoona tak ingin diusik lagi.

Joon mendesah. Dia merasa bersalah telah menyakiti Yoona dengan mengungkit masalah Seunggi. Seharusnya dia tidak melakukan itu sekesal apapun dia.

“Oppa, kepergian Seunggi oppa berat untuk Eonni. Kau tahu sendiri hal itu.”

Joon mengangguk lemah. “Maafkan aku Shannon. Aku hanya tak ingin dia terlalu lama terperangkap dalam kesedihannya. Aku juga tak ingin dia kehilangan tempat ini.”

“Eonni pasti akan menyelamatkan tempat ini, Oppa. Ini peninggalan orangtuanya jadi dia pasti akan mempertahankannya. Percaya padaku.”

Joon tersenyum menatap kepolosan gadis di depannya itu. Dipeluknya gadis itu dengan erat.

“Aku percaya padamu seperti halnya aku percaya pada diriku sendiri.” Gumamnya dalam hati. Apapun keputusan Yoona dia berharap semua akan baik-baik saja.

***

“Eonni … Bangun Eonni … Eonni !!!” Yoona terbangun dengan suara ketukan dan panggilan Shannon yang tak henti-hentinya di pintu kamarnya. Setelah pertengkarannya dengan Joon semalam dia mengurung diri di kamar dan tertidur. Dia mencoba membuka matanya yang berat mungkin akibat kelelahan mengeluarkan air mata semalam dan dipaksakannya untuk bangun membuka pintu.

“Ada apa?” tanyanya malas.

“Eonni, gawat Eonni. Gawat!!!” kata Shannon panik.

“Gawat apanya? Ada apa sebenarnya?” Tanya Yoona masih ogah-ogahan.

“Di ujung jalan … Di ujung jalan ada beberapa Buldozer dan mobil-mobil besar, Eonni. Sepertinya itu akan digunakan untuk menggusur tempat ini.”

“Apa?” seketika itu juga Yoona seperti sadar seutuhnya. Tanpa pikir panjang dia berlari keluar rumah untuk memastikan apa yang dikatakan Shannon. Dan memang benar. Dia dapat melihat banyak warga yang berkumpul untuk melihat alat-alat penghancur rumah itu.

“Ahh, sial!!!” umpatnya.

“Eonni, apa yang harus kita lakukan?” Tanya Shannon yang berdiri dengan cemas di sampingnya. “Mereka mengatakan akan menggusur kawasan ini pada pukul 10 nanti. Para warga sudah diperintahkan untuk mengemasi barang-barangnya. Apa yang harus kita lakukan?”

Yoona tampak kesal. Rupanya Choi Siwon memang sungguh-sungguh akan melakukan ini padanya. “Dasar pria menyebalkan!!!” umpat Yoona lagi. Dia lalu kembali ke dalam rumah. Membersihkan wajahnya ala kadarnya lalu mengambil blazer, syal dan tasnya.

“Eonni, kau mau pergi kemana?” Tanya Shannon saat Yoona sedang memakai sepatunya.

“Menemui orang gila yang bisa menghentikan masalah ini.” Jawabnya.

“Eonni …” tampak Shannon masih cemas dengan apa yang akan dilakukannya.

Yoona tersenyum. “Aku baik-baik saja. Bukalah toko seperti biasa. Karena takkan pernah ada penggusuran di tempat ini.” Katanya menenangkan Shannon lalu pergi ke tempat di mana dia bisa menghentikan masalah ini. Dia tidak akan membiarkan tempat tinggalnya digusur. Dia bahkan sudah tak perduli lagi jika dia harus mengorbankan dirinya sendiri untuk mempertahankan tempat itu.

 

Siwon sedang asyik membaca majalah bisnis saat tiba-tiba saja pintunya dibuka dengan kasar dan Yoona tengah berdiri di hadapannya dengan kesal. Joon melihat Yoona sejenak lalu beranjak keluar ruangan itu tanpa lupa menutup kembali pintunya.

“Aku heran kenapa tidak ada yang mencoba mencegahku untuk menemuimu seperti pertama kali aku ke sini.” Sindir Yoona kesal mengingat tadi saat diresepsionist petugas itu tidak mengutarakan berbagai alasan lagi untuk mencegahnya.

Siwon meletakkan majalahnya dan tersenyum. “Aku tak tahu kalau kau pernah dipersulit untuk menemuiku. Tapi untuk hari ini aku memang sudah memerintahkan mereka untuk membiarkan kau langsung menemuiku.”

“Dan bagaimana jika mereka tahu yang kau maksud itu aku?”

“Simple. Jika ada seorang wanita yang datang dengan kesal hendak menemuiku, maka itu adalah tamuku. Hanya itu.”

Yoona tertawa kecut.

“Jadi apa maumu?” tanyanya.

“Apa mauku?” Siwon balik bertanya bersikap seolah-olah bingung dengan pertanyaan Yoona.

“Apa yang kau inginkan dariku agar dapat membatalkan penggusuran itu?” Tanya Yoona kesal.

Siwon berdiri dan menghampiri Yoona. Ditatapnya mata Yoona lebih jelas lagi. Meski menyiratkan kekesalan, mata itu tetap saja menarik.

“Seperti yang kau ketahui keinginanku saat ini adalah kau menyetujui kesepakatan yang aku tawarkan. Maka aku berjanji tidak akan mengusik tempat itu dan kau juga takkan mengalami kerugian.”

“Apa yang kau tahu tentang kerugian!” batin Yoona. “Baiklah, aku akan menerima kesepakatanmu.” Jawab Yoona.

Siwon tersenyum puas. Dia lalu kembali ke belakang mejanya dan menyodorkan map yang terbuka dan Yoona dapat melihat selembar kertas dengan bolpoint di atasnya.

Yoona mengangkat alisnya menatap Siwon bingung.

“Well, aku butuh bukti persetujuanmu.” Kata Siwon singkat. Dan tanpa dia jelaskan pun Yoona sudah mengerti apa maksudnya. Dengan kesal diambilnya bolpoint itu dan menandatangani surat kesepakatan itu setelah membacanya beberapa saat.

“Kau memang menyebalkan!” kata Yoona setelah menandatangani surat itu.

“Jika sikap menyebalkanku bisa membuatmu tak berbicara dengan formal denganku, maka aku dengan senang hati akan terus melakukannya. Namun jika kau berbicara dengan tidak formal denganku asalkan aku bersikap tak menyebalkan lagi, maka aku akan berusaha menghilangkannya. Dan kau tenang saja, ini hanya berlaku untukmu. Aku tidak pernah menawarkannya pada orang lain.”

Yoona tertawa miris. “Aku merasa sangat terhormat.” Kata Yoona lalu berbalik dan pergi meninggalkan ruangan itu tanpa mau memandang ke arah Siwon lagi. Bahkan dia tidak memperdulikan Joon yang memanggilnya saat dia berpapasan dengan pria itu.

Ponselnya berdering tepat saat dia keluar dari lift dan berjalan menuju lobby. Nama Shannon muncul di display ponselnya.

“Eonni, penggusuran itu dibatalkan. Baru saja mereka memberitahu bahwa penggusuran itu dibatalkan!” ujar Shannon begitu Yoona menjawab telfonnya. Yoona merasa lega. Setidaknya meski menyebalkan Choi Siwon menepati janjinya.

“Eonni, kau mendengarku kan?” Tanya Shannon karena Yoona belum memberikan jawaban.

“Iya. Syukurlah kalau …” Yoona tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena pada saat itu tubuhnya ditarik dengan kuat sehingga dia menubruk dada bidang seorang pria dan pria itu mendekapnya dengan erat. Dia terkejut terlebih lagi yang menariknya tak lain dan tak bukan adalah Choi Siwon. Belum sepenuhnya sadar dari keterkejutannya, tiba-tiba saja Choi Siwon mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya. Ciuman singkat namun cukup membuat Yoona gemetar.

“Apa … apa yang baru saja kau lakukan?” Tanya Yoona marah. Dia mencoba melepaskan diri, namun dekapan Siwon terlalu erat untuk dilepas.

Siwon tersenyum. Sedang beberapa orang sudah berlari mendekati mereka.

“Sudah kukatakan padamu bahwa aku akan menciummu jika kita bertemu lagi. Kau takkan menduga bagaimana tersiksanya aku menunggu hari ini.” Jawabnya. Lalu tanpa peringatan dia kembali mencium bibir Yoona. Lebih intens dan lebih lama dari sebelumnya. Yoona bahkan tidak bisa melepaskan diri.

Setelah cukup lama berciuman, Siwon pun akhirnya melepaskannya. Dan saat itu mereka berdua telah dikerumuni banyak orang yang mungkin telah mengambil gambar mereka saat mereka berciuman tadi. Yoona bisa melihat mereka semua adalah para wartawan-wartawan yang haus akan berita.

Siwon menggenggam tangan Yoona sambil tersenyum.

“Untuk pertama kalinya aku ingin mempublikasikan diriku pada semua orang. Aku yakin kalian semua telah mengetahui siapa aku sebenarnya tapi kalian belum mengenal wanita cantik yang berdiri di sebelahku!” ujar Siwon. Pada saat itu Joon sudah berdiri untuk menghalangi para wartawan yang ingin berdiri lebih dekat lagi.

“Siapa dia Tn. Choi Siwon? Apa dia kekasih Anda?” Tanya salah seorang wartawan.

“Apa rumor Anda akan segera menikah itu benar?”

Dan setelah itu beberapa pertanyaan mulai menyusul. Yoona bahkan tidak bisa mendengarnya dengan pasti.

Siwon tersenyum ke arah para wartawan yang sedang menunggu konfirmasinya.

“Dia bukan kekasihku. Lebih tepatnya dia adalah calon istriku, Nona Im Yoona. Dan kami akan menikah akhir bulan ini. Mohon restunya.” Ujar Siwon yang semakin membuat Yoona tak bisa berkata-kata saking terkejutnya. Dia memang setuju untuk menikah tapi dia tak menyangka kalau Siwon memutuskan untuk melaksanakan pernikahan itu secepat itu. Hanya tinggal dua minggu lagi bulan ini akan berakhir.

Yoona merasakan genggaman tangan Siwon makin erat tapi tidak sampai membuatnya sakit. Pria itu menatapnya dan dengan begitu yakin mengatakan, “Aku akan membahagiakannya dan tak akan membuatnya menyesal menjadi istriku.” Seakan dia benar-benar mencintai Yoona. Bahkan Yoona pun tak bisa mengatakan bahwa itu hanya sandiwara karena Siwon menatapnya layaknya seorang pria yang benar-benar mencintainya.

***

To Be Continued

 

Author said :

Oke, chapter 1 done. Meski awalnya aku menginginkan ff ini hanya one shoot aja, tapi ternyata aku tidak bisa benar-benar menuntaskannya dalam satu chapter. Masih ada beberapa konflik yang ingin aku sajikan dalam ff ini dan aku tidak bisa mengatakannya saat ini. Aku pun sadar ff ini pasti terkesan membosankan dan gak jelas. Maklumlah, aku bukanlah seorang author yang hebat. Aku juga bukan orang yang puitis sehingga kalimat-kalimatku terkesan berantakan. Meski begitu aku tetap mengharapkan dukungan para readers yang telah bersedia menyempatkan diri untuk membaca ff ini dengan menyempatkan sedikit waktu untuk mengisi kolom komentar yang sudah tersedia. Aku akan sangat menghargainya. Please don’t be silent reader and give your comment after read this.

Trims.

Tika Pinky ♥♥♥

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

317 Komentar

  1. via

     /  Januari 24, 2016

    siwon lgs ngajak yoong merid
    wah.gmn ya nanti.kayaknya siwon yg nerima jantungnya seunggi ya.makanya dia klau didkat yoong berdebar-debar.tp siwon koq pikirannya mesum bgt ya klau dkt yoong

    Balas
  2. songhyeseob

     /  Januari 25, 2016

    Dududuhh, ulala siwon kek ahjussi ahjusi mesum yg ngerecokin hidup “bocah” kek yoona 😁
    Sadis amat ya cintanya yoong ama sunggi, sepertinya mereka memang tidak ditakdirkan bersatu, buktinya siwon dapet donor jantungnya dari sunggi kan? Itu bener kan jantung sunggi, klo bener yaa berarti siwon sama aja separuhnya sunggi. Aah ribet amat bahasaku,, tapi ff nya seru walo rate nya rada rada mature sih yaa. Udah bagus sih, karna kata kata yg ada konotasi negatifnya gak terllu vulgar jadi aman dibaca buat yg underage 😂

    Balas
  3. Trie

     /  Januari 25, 2016

    Annyeong…q reader baru ff kmu.lgi cri2 n pngn bca ff yoonwon eh nemu ff ini.telat nih!!!q tau n baca ffnya baru skg tp gpp kn thor🙂 dripda g sma skli hehehe…kren critanya🙂
    Jangan2 jantungnya seung gi yg d donorin k siwon…pnasaran deh ma kelanjutanya.lanjut dulu dah baca chapter 2🙂

    Balas
  4. Swari kartika

     /  Januari 25, 2016

    Omoooo love at the first sight yah wonppa ditambah ikatan batin gara2 donor jantung seunggie oppa..
    Smoga yoona oennie bisa nerima wonppa aku yakin sih wonppa bakalan ngelindungi yoona oennie amiin.

    Balas
  5. bestaaa

     /  Januari 28, 2016

    akhirnya nyampe chapter 1 mana bacanya mundur wkwk gpp tetep keren kok thor. daebak lah pokoknya🙂

    Balas
  6. YoongNna

     /  Februari 4, 2016

    Ksahn jg yoona hrus mnkh ma siaon yg arogan gto,, Aduuhh siwon serem jg yaaa klau keinginannya blm terwjud hrus ngelkuin bnyk cra..
    Pnsarn pa yg donorin jntung buat siwon tu jntung seunggi knpa pas lhat yoona udh tertrik gto..

    Balas
  7. Jadi itu siwon yg nerima jantung seunggi atau gimana?

    Balas
  8. seru nih..
    ga sabar baca next chapternya.. ^^

    Balas
  9. Tara Moritz

     /  Februari 14, 2016

    Yak! Ketinggalan tau ada ff nya author tika pinky yg judulnya Timeless.. pas tau udh chap 4 aja,, dan buru2 deh cari chap 1nya DANNN ini keren bgt thor!! Suka bgt sm karakter siwon.. dia tuh emg paling cocok dgn karakter yg seperti ini…..
    Cus baca chap 2nya..

    Balas
  10. Seru kok author ceritanya…tp gak nyangka aja lngsung di ajak married gitu…yoona bakalan gmn ya kalo itu jantungnya seunggi..

    Balas
  11. kusuma subandrio

     /  Februari 25, 2016

    Memang ya org kaya bisa berbuat apa aja..haha.. Semoga siwon menang lawan sepupunya itu. Biar hidup siwon tenang sama yoona..

    Balas
  12. Seruuu..ga sabar baca next chapternya🙂

    Balas
  13. kim yoora

     /  Maret 17, 2016

    Eonniiii annyeong!! udh lama gk baca ff eonni lg dan udh jarang mampir ke sini jg
    awalnya aku gk tau ff ini dibuat sm eonni eh tiba2 kaget liat nama authornya *jdcurcol
    Ok tinggalin jejak komen dulu
    next part!!

    Balas
  14. AuliaYW

     /  Juni 18, 2016

    Wktu bca nhe ff kirain Pria itu (?) adlh siwon oppa trnyta bkn..
    Sgtuny yoona eon..
    Siwon oppa lgsg berpikir yg ngax2 pas prtma kli ktmu yoona eonni..
    Ye siwon oppa bakal nikah sami yoona eonni…

    Balas
  15. Wow… Menarik nih critax. Wonpa lngsung ngajak nikah yoona aje ye, udh kaya ajjuesi” aje. Kira” mau ngga yoona nikah dg wonpa.?

    Balas
  16. eriika

     /  Juli 10, 2016

    hai aku reader baru .aku suka dengan ff nya. cerita nya menarik dan ak suka dengan karakter siwon di sini walaupun agak memaksa tapi semoga mereka nanti saling mencintai

    Balas
  17. ayana

     /  Juli 16, 2016

    baru pertaman bertemu udah ngajak nikah aja siwon ini. tapi ceritanya menarik, siwon yang arogan dan yoona yang jutek nikah. pasti seru ceritanya. hahaha…
    nggak sabar baca part selanjutnya.

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: