[FF] The Princess Love (Chapter 11)

TPL cover new

©bianglalala

(bianglalala27@gmail.com)

The Princess Love

Casts : Choi Siwon | Im Yoona

Lee Donghae | Seo Joo Hyun | Kwon Yuri

Leeteuk | Kim Taeyeon | Kim Joong Won, etc

Length : Series || Rating : PG 15

Genre : School Life, Romance, Family

 

Disclaimer : This is a work of fiction, purely come from the author’s imagination. The author only borrow the casts’ names. Characters, places, events, and incidents are either the products of the author’s imagination or used in a fictious manner. Any resemblance to actual events is purely coincidental. Don’t try to copy-paste and re-post it without credit!

Rate, Comment, and Like, please…

 

Part 11

“Kau yakin mereka di sini?” Donghae berusaha menyusul Siwon yang sudah lebih dulu berjalan memasuki pelataran kuil. Otaknya masih terus berpikir tentang alasan yang membuat Joo Hyun dan Yoona kemari. Tanpa ia sadari, keduanya tiba-tiba menjadi sesuatu yang penting dalam hidup penuh hura-huranya. Pikirannya yang biasa dipenuhi dengan main-main mulai penasaran dengan hidup mereka.

Siwon mendesah frustasi setelah berkali-kali gagal menghubungi ponsel Yoona. Perasaannya tak karuan. Gadis itu rasa-rasanya tak pernah berhenti membuatnya khawatir. “Kau bisa menghubungi Joo Hyun? Yoona tak mengangkat ponselnya.”

Donghae hanya mengendikkan bahu sebagai jawaban. “Lalu bagaimana?”

“Kita cari di sekitar sini,” jawab Siwon memutuskan. Ia memimpin langkah mereka berjalan memasuki kawasan kuil. Matanya menyapu tiap sudut tempat itu. Semuanya tampak biasa dan normal, tak terlihat tanda-tanda keberadaan Yoona dan Joo Hyun.

“Bagaimana kalau kita tanyakan pada biksu di sana?” usul Donghae saat melihat beberapa biksu yang sedang berdoa di dalam kuil.

Siwon tak menjawab. Ia hanya melangkahkan kakinya ke arah kuil tempat biksu itu berdoa mengikuti Donghae, walau ragu akan mendapat jawaban dari mereka. Hanya saja ia juga tak memiliki gagasan apapun tentang apa yang harus dilakukan. Namun begitu sampai di depan pintu kuil yang terbuka, mereka justru sibuk berbisik dan saling mendorong satu sama lain.

“Kau saja yang tanya,” bisik Donghae.

“Kenapa harus aku? Kau yang mengusulkan untuk bertanya pada mereka,” tolak Siwon.

“Aish, jinja! Bagaimana mungkin aku mengganggu orang-orang suci yang sedang berdoa itu?” gerutu Donghae. “Kau saja yang bertanya.”

“Jadi kau bermaksud melimpahkan semua dosa padaku?”

“Dosaku pasti lebih banyak dari punyamu, jadi tidak akan…” Telinga Donghae tiba-tiba menangkap suara yang tak asing, membuatnya terdiam untuk menajamkan pendengarannya.

“Wae?” tanya Siwon heran karena tiba-tba Donghae menghentikan kalimatnya.

Tangan Donghae menggosok-gosok telinganya, memastikan kalau yang ia dengar tadi bukan hanya imajinasinya. “Kau dengar tadi? Aku seperti mendengar Joo Hyun berteriak memanggil Yoona.”

Kedua alis Siwon terangkat mendengar penuturan Donghae. Ia sendiri tak mendengar apapun tadi. “Telingamu baik-baik saja?”

“Ya! Aku benar-benar mendengarnya,” protes Donghae tak terima.

“Geurae. Tapi dari mana asalnya?”

“Mana aku tahu. Mungkin saja dari sekitar sini.”

Siwon menyerah menghadapi Donghae. Tak seharusnya mereka terus berdebat dan membuang waktu seperti itu sementara bahaya mungkin saja sedang mengintai Yoona dan Joo Hyun. “Kita berkeliling dulu saja,” putusnya.

Dengan bergegas mereka menyusuri setapak-setapak kecil yang menghubungkan tempat-tempat di kuil itu. Dalam waktu singkat, mereka sudah berada di jalan kecil di samping dapur dan mendapati dua orang pria yang mengepung Yoona dan Joo Hyun. Hanya dengan sekali lihat mereka sudah bisa menebak kedua pria itulah yang membuat Joo Hyun berteriak-teriak di telepon. Mereka berpandangan selama beberapa saat, meminta pendapat satu sama lain atas tindakan yang akan dilakukan.

“Mereka hanya berdua. Kurasa kita bisa menghadapinya. Tak perlu memanggil bantuan,” kata Donghae pelan. Agak tak sabar juga sepertinya untuk segera mempraktekkan jurus-jurus yang ia pelajari dari video game ke dua pria itu.

Siwon mengepalkan tinjunya. Sama seperti Donghae, ia juga merasa sanggup menghadapi dua orang itu tanpa bantuan. Tentu saja, dia pemilik sabuk hitam taekwondo. Apa lagi yang perlu ditakuti?

“Ya! Kalian tidak malu berhadapan dua gadis lemah seperti mereka?” teriak Donghae penuh percaya diri, yang mampu dengan segera mengalihkan perhatian dua pria itu.

“Kami-lah lawan yang sepadan untuk kalian,” imbuh Siwon. Keduanya berdiri dengan tangan tersimpan di saku, mirip jagoan-jagoan yang sering muncul dalam film yang mereka tonton.

“Oppa!”

“Sunbae!”

Sebuah desah penuh kelegaan keluar dari mulut Yoona begitu melihat Siwon dan Donghae berdiri tak jauh dari mereka. Satu tangannya masih mencengkeram erat name tag di dadanya, menyembunyikan identitas yang dapat membongkar rencananya.

Siwon dan Donghae berjalan mendekat, membuat para penjaga itu kini sedikit mengabaikan Yoona dan Joo Hyun untuk menghadapi mereka. Keduanya lalu berhenti, menyisakan jarak sekitar tiga meter dari pria-pria itu. Wajah mereka kini terlihat jelas, satu orang berjambang‒yang menarik Joo Hyun ke hutan‒dan yang lain memiliki bekas luka sayatan di pipinya.

“Cih! Ternyata gadis ini memanggil teman-temannya. Apa yang sedang kalian cari di tempat ini, hah?” kata si jambang. Ia sama sekali tak berpikir kedatangan mereka ke kuil berhubungan dengan Han Hye Won.

Pria yang satu lagi tampak lebih tenang, selama beberapa waktu diam memperhatikan Siwon dan Donghae. Tampaknya ia jauh lebih cerdas dibanding kawannya itu. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis. “Sedang apa empat siswa Hyundai berada di gunung di waktu seperti ini?”

Yoona terkesiap saat mendengar nama Hyundai. Pria itu mengenali seragamnya dan pasti akan melapor ke ayahnya. Kepalanya menoleh ke Joo Hyun, memberi kode untuk menyingkir dari sana diam-diam selagi perhatian mereka teralihkan.

“Hyundai yang terkenal itu?” sergah si jambang, agak terkejut karena ia pikir mereka adalah anak sekolah biasa.

“Bodoh!” maki si bekas luka pada temannya. “Kau tidak lihat seragam mereka?”

Mata Siwon terus mengikuti gerakan Yoona, menatapnya meminta penjelasan atas semua kejadian aneh ini. Namun berkali-kali Yoona menggeleng, memohon untuk tidak menanyakannya sekarang. Siwon mendesah menyerah, lalu berbisik pada Donghae. “Kita alihkan perhatian mereka agar Yoona dan Joo Hyun pergi dari sana.”

“Serahkan padaku,” balas Donghae. “Ahjussi,” lanjutnya, tertuju pada dua pria di depan mereka, “bukankah seharusnya kami yang bertanya pada kalian apa yang kalian lakukan di tempat suci seperti ini?”

“Tak seaneh kalian yang tiba-tiba datang kemari,” balas pria dengan bekas luka.

Donghae tertawa hambar. “Kami hanya ingin jalan-jalan. Apa anehnya dengan itu?”

Kedua pria itu maju mendekati Siwon dan Donghae. “Jangan membuat kami marah dengan ocehan tak berguna dari kalian, anak muda.” Tiba-tiba si bekas luka merasakan kejanggalan. Han Hye Won tadi terlihat ketakutan saat ia masuk ke dalam ruangan, hal yang sebelumnya tak pernah terjadi. Ada banyak kemungkinan-kemungkinan yang berputar di otaknya. “Sebaiknya katakan apa tujuan kalian kemari! Aku yakin itu bukan untuk jalan-jalan.” Si bekas luka berbalik perlahan, menatap tajam pada Yoona dan Joo Hyun yang langsung membeku di tempatnya.

“Kami tak melakukan apa-apa,” kata Yoona tergagap.

“Jinja? Kurasa ayahmu tak akan senang jika tahu kau berkeliaran kemari di waktu sekolah, Nona Im.”

Yoona mendesah kaget. Pria itu pasti pernah melihatnya sebelum ini.

“Sekarang,” bisik Donghae. Dengan cepat, ia dan Siwon maju selagi kedua pria di depan mereka terfokus pada Yoona. Donghae menendang punggung si bekas luka sekuat tenaga, sementara Siwon meraih kerah si jambang dan meninju perutnya. Kedua pria itu terhuyung jatuh karena serangan tiba-tiba yang mereka dapat.

“Kka!” perintah Siwon tanpa suara pada Yoona dan Joo Hyun. “Tangkap ini!” lanjutnya sambil melempar sebuah kunci mobil ke arah Yoona.

Yoona menurut. Dengan mudah ia dapat menangkap kunci yang dilemparkan itu. Ia lalu menarik Joo Hyun yang masih terkejut untuk lari menjauhi mereka sebelum kedua pria itu bangun.

Siwon dan Donghae langsung memasang kuda-kuda saat dua pria itu mulai berusaha untuk berdiri kembali. Mereka berdiri berdampingan, saling merapat untuk menghalangi orang itu mengejar Yoona dan Joo Hyun.

“Kalian mau main-main dengan kami?” geram si jambang marah sambil memegangi perutnya yang terkena tinju Siwon. Jas hitam yang ia pakai sedikit tersingkap di bagian bawahnya, membuat sebuah revolver yang terselip di pinggang dapat terlihat oleh dua anak muda di depannya.

Nyali Siwon dan Donghae kontan ciut. Sabuk hitam taekwondo-nya tiba-tiba menjadi tak berarti apa-apa. Wajah keduanya mulai terlihat panik. Tentu saja, sebesar apapun keberanian mereka tak membuat keduanya berubah menjadi manusia super yang anti peluru.

“Kenapa kau tak bilang kalau mereka punya pistol?” bisik Siwon pada Donghae.

“Kau pikir aku akan berani menendangnya kalau tahu ia punya senjata api?” balas Donghae dengan berbisik juga.

“Lalu bagaimana sekarang?”

Si jambang yang tampaknya menyadari keraguan mereka tersenyum mengejek. “Jadi sekarang kalian merasa takut?” ucapnya sambil menyentuh revolver di pinggangnya. Tentu saja hanya untuk menakuti kedua anak itu. Ia telah diperintahkan untuk tak membuat keributan dengan benda berbahaya itu, kecuali ketika suasana benar-enar mendesak.

“Ahjussi, biarkanlah kami pergi. Kami sama sekali tak melakukan apa-apa,” kata Donghae yang berusaha terdengar santai.

“Enak saja kau berkata seperti itu setelah memukul kami,” desis si bekas luka yang bersiap membalas pukulan yang tadi ia dapatkan.

“Lari!” teriak Donghae sesaat sebelum kedua pria itu menyergap mereka.

Siwon dan Donghae berlari beriringan melewati dapur sekuat tenaga, menerobos taman bunga kecil di depan bangunan itu menghindari kejaran dua pria di belakang mereka. Jarak mereka tak terlalu jauh, hanya sekitar dua meter. Tangan Siwon meraih sapu lidi yang ada di sana, melemparkannya ke belakang untuk menghambat lari si bekas luka dan si jambang. Mereka lalu berbelok ke kanan. Menyusuri setapak hingga sampai di gang sempit yang memisahkan dapur dan bangunan di sampingnya yang dipenuhi gentong air. Sekuat tenaga mereka berusaha menggulingkan gentong-gentong itu, membuat isinya tumpah tercecer di tanah berpasir.

“Tuhan, maafkan kami karena membuat kekacauan di sini,” gumam Donghae ketika berusaha menggulingkan sebuah gentong sesaat sebelum si jambang berhasil meraihnya. Si jambang mundur beberapa langkah menghindari gentong itu.

“Lee Donghae, akan kubunuh kau karena telah membuatku melakukan hal ini,” erang Siwon di sela-sela napasnya yang memburu.

“Simpan itu untuk nanti,” balas Donghae. “Kita akan punya banyak waktu untuk melanjutkan persaingan kita.”

Mereka kemudian berlari ke belakang dapur. Siwon menarik Donghae untuk bersembunyi di balik tembok, menunggu kedatangan dua penjaga itu. Ia membungkuk dan meraup pasir dengan tangannya dan menyuruh Donghae melakukan hal yang sama. Beberapa detik kemudian dua pria itu muncul dari balik tembok.

“Terima ini!” Siwon dan Donghae kompak melempar pasir dalam genggamannya ke arah mata dua pria itu. Keduanya langsung mengaduh kesakitan, karena butiran-butiran pasir itu masuk ke dalam mata mereka. Kesempatan itu sekali lagi digunakan Siwon dan Donghae untuk memukul dan menendang perut serta alat vital keduanya, yang membuat mereka jatuh ke tanah, sebelum cepat-cepat pergi dari sana.

Sementara itu, Yoona dan Joo Hyun sudah berada dalam mobil Donghae. Yoona berusaha menyalakan mobil, namun beberapa kali gagal karena tangannya bergetar hebat. Joo Hyun yang duduk di sampingnya jadi semakin khawatir.

“Kau benar-benar bisa menyetir?” tanyanya ragu.

“Aku sedang berusaha,” jawab Yoona singkat tanpa mengalihkan tatapannya pada Joo Hyun. Akhirnya mobil berhasil menyala. Yoona kemudian membawanya ke depan pintu masuk kuil, menunggu Siwon dan Donghae bergabung dengan mereka.

Joo Hyun menurunkan kaca jendela mobil, menunggu kedatangan para sunbae-nya dengan tak tenang. “Apa Sunbae baik-baik saja?”

“Semoga saja begitu,” harap Yoona sambil terus menghadap ke jendela di samping Joo Hyun.

Tak lama, Joo Hyun melihat Siwon dan Donghae sedang berlari dari jalan di samping dapur ke pintu masuk kuil. “Sunbae! Cepat kemari!” teriaknya.

Sebenarnya, tanpa diperintah pun mereka sudah bermaksud mendatangi kedua gadis itu. Siwon sengaja memberikan kunci mobil pada Yoona agar mereka bisa langsung kabur dari sana. Ia menoleh ke belakang, memeriksa jaraknya dan kedua pria penjaga itu. Ternyata mereka mengejarnya, walau dengan langkah tertatih. Siwon dan Donghae mempercepat larinya begitu melihat Yoona sudah siap dengan mobil menunggu mereka.

“Kecepatan penuh!” perintah Donghae begitu membuka pintu belakang mobil. Ia dan Siwon menghempaskan diri ke jok belakang sebelum menutup pintunya kembali.

“M…mwo?” Yoona tergagap mendengar perintah Donghae. Kemampuan menyetirnya masih belum mengalami kemajuan yang berarti. Tapi saat pandangannya menangkap sosok dua pria penjaga itu semakin dekat, Yoona memberanikan diri menginjak pedal gas kuat-kuat.

Mobil meloncat brutal begitu Yoona mempraktekkan kemampuan menyetirnya yang payah. Keempatnya terlonjak ke belakang, terhempas ke sandaran kursi. Yoona menjerit panik sambil terus berusaha mengendalikan laju mobil.

“Otteokhe?” jeritnya tertahan.

“Yoong, jangan panik! Anggap saja kau sedang bermain game, eoh?” Siwon yang duduk di belakangnya berusaha menenangkan Yoona.

Donghae mengangkat kedua alisnya mendengar ucapan Siwon. Seenaknya saja dia mengatakan mobilku hanya sebuah mainan, batinnya kesal. Tapi tak ada waktu untuk protes. Di belakang mereka, dua pria penjaga itu tengah berlari mengikuti. Kalau Yoona tak juga menambah kecepatan, mereka akan tersusul dalam hitungan detik. “Ya! Tambah kecepatannya. Mereka mengejar kita.”

“Sunbae, diamlah. Aku sedang berusaha,” protes Yoona. Teriakan Donghae dan Joo Hyun hanya membuatnya semakin panik.

Siwon menyentuh lengan Yoona, memberi aba-aba tentang apa yang harus ia lakukan. Tak ada waktu untuk berganti posisi dengan Yoona, jadi ia hanya membimbingnya. Butuh sedikit waktu sampai akhirnya Yoona berhasil mengendalikan kemudi dan mobil berjalan dengan cukup stabil, meninggalkan kedua penjaga yang mengejar mereka.

“Sial!” umpat si jambang terengah. Terpaksa mereka berhenti karena mobil yang ditumpangi Yoona dan yang lain tak lagi bisa dikejar. Ia menoleh pada rekannya, yang juga masih sibuk mengatur napas setelah berlarian. “Kita akan melaporkan ini pada Presdir Im? Kurasa mereka hanya ingin bermain-main dan tak ada hubungannya dengan wanita tua itu.”

Si bekas luka menatap nanar ke arah menghilangnya mobil Donghae. “Kita harus melaporkan hal sekecil apapun yang terjadi di sini. Dan lagi, salah satu dari mereka adalah putrinya.”

“Mwo? Putri Presdir Im?”

“Gadis yang menyetir tadi adalah putri Presdir Im. Aku pernah melihatnya saat masih bertugas menjadi pengawal pribadi Presdir dulu.”

***

Yoona bertukar posisi dengan Donghae, setelah memastikan kedua pria itu tak lagi mengejar mereka. Ia membiarkan anak itu mengemudi sementara ia sendiri duduk di belakang bersama Joo Hyun

“Sial!” maki Donghae. “Sebenarnya siapa mereka? Bagaimana bisa kalian berurusan dengan orang-orang itu? Mereka bahkan punya senjata.” Matanya melirik spion, menatap Yoona dan Joo Hyun lewat bayangannya di cermin.

“Nado mollayo. Yoona yang mengajakku ke tempat itu,” kata Joo Hyun sambil melirik Yoona, meminta penjelasan yang sejak tadi telah ia nantikan.

Mereka diam, menunggu penjelasan masuk akal dari Yoona atas apa yang baru terjadi. Selain Siwon, tak ada yang tahu tentang semua ini. Yoona bimbang, karena seharusnya ia hanya mengatakan pertemuannya dengan Han Hye Won pada Siwon saja.

“Itu… di sana adalah makam ibu kandungku. Dan kedua pria tadi, aku tak tahu kalau mereka ada di sana,” jelas Yoona ragu. Pandangannya terarah pada Siwon, yang ternyata justru menatap ke luar melalui jendela mobil. Tingkah Siwon itu membuat Yoona semakin takut. Rasa bersalahnya tumbuh berkali lipat.

“Ibu kandung?” ulang Donghae dengan raut tak mengerti. Sekali lagi ia menatap Yoona lewat spion, meminta penjelasan yang lebih panjang dibanding tadi.

“Berhenti!” kata Siwon tiba-tiba, tetap dengan posisinya yang menatap jalanan di luar. “Aku harus bicara dengan Yoona. Berdua.”

Donghae tertawa mengejek. “Seenaknya saja kau menyuruhku.”

Siwon beralih menatap Donghae tajam. “Lee Donghae, aku benar-benar harus bicara dengan Yoona,” ucapnya penuh penekanan.

Sebelumnya Donghae tak pernah melihat Siwon seserius ini. Agak takut juga melihat ekspresinya, hanya saja ia tak mau mengakui. “Ini jalan tol, kita tak bisa berhenti sembarangan. Kita akan berhenti di area peristirahatan tol selanjutnya,” putus Donghae, tak bermaksud menerima segala bentuk protes.

Tiga puluh menit selanjutnya mereka lalui dalam hening. Setelah Siwon sukses membuat suasana menjadi tegang, tak ada yang berniat bicara. Tidak juga Joo Hyun dan Donghae yang setengah mati memendam rasa penasaran. Joo Hyun akhirnya tertidur, bersandar di bahu Yoona yang melamun menatap kosong ke jendela.

Donghae membawa mobilnya memasuki area peristirahatan tol dan menempatkannya di bagian ujung tempat parkir. Tangan Yoona menyentuh lengan Joo Hyun, membangunkan gadis itu dan memberitahunya kalau mereka sampai di peristirahatan.

“Kalian mau makan? Ini sudah waktunya makan siang,” tawar Donghae canggung. Tak ada yang menjawab. Keempatnya hanya keluar dari mobil dalam diam.

“Kau dan Joo Hyun makan duluan saja,” kata Siwon pada Donghae setelah mereka keluar.

“Kau mau apa?”

“Ada yang harus kubicarakan dengan Yoona.”

Donghae menolak menuruti permintaan Siwon, khawatir akan terjadi sesuatu jika meninggalkan mereka dalam suasana seperti itu. Raut wajah Siwon masih tegang, dan jelas ia sedang menahan emosinya sejak tadi.

Tak ada bantahan atau penolakan apapun dari Yoona. Hanya diam menunggu tindakan dari Siwon yang berdiri di sampingnya.

“Apa yang akan kau lakukan pada Yoona?” selidik Donghae, masih kukuh menolak membiarkan Siwon dan Yoona sendiri.

Joo Hyun memperhatikan Siwon dan Yoona bergantian, merasa ada sesuatu yang benar-benar serius di antara mereka hingga Yoona terus muram selama beberapa hari terakhir. Ia lalu meraih lengan Donghae, memohon padanya agar menuruti kemauan Siwon. “Sunbae, biarkan saja Siwon Sunbae dan Yoona bicara,” pintanya dengan sorot memohon.

“Ish, jinja!” kata Donghae tak nyaman setelah Joo Hyun menatapnya langsung ke mata, dengan sorot meminta dan penuh harap. Rasa-rasanya baru kali ini Joo Hyun bersikap sedikit manja padanya, yang entah mengapa membuat Donghae merasa aneh. “Arraso. Aku akan membiarkan mereka berdua. Tapi jangan pernah memohon padaku dengan tatapan seperti itu lagi!” ucapnya memperingatkan yang langsung disambut anggukan setuju dari Joo Hyun.

Siwon tak mau membuang waktu. Begitu Joo Hyun dan Donghae menghilang di balik pintu sebuah kedai ramen tak jauh dari mereka, ia langsung mencecar Yoona. “Ibuku ada di sana? Kau bertemu dengannya?”

Jantung Yoona berdegup makin kencang. Kepalanya menunduk, sama sekali tak berani membalas tatapan Siwon padanya. Sekali lagi, ia harus menghadapi kemarahan dan keputusasaan Siwon.

“Im Yoona, jawab aku,” desah Siwon memohon.

Yoona tiba-tiba terisak. Tak punya nyali dan terlalu merasa bersalah. Kepalanya mengangguk lemah, mengiyakan pertanyaan Siwon karena tenggorokannya hanya mampu mengeluarkan isakan kecil.

“Jadi itu benar?” gumam Siwon tak percaya. Kakinya melemah, seakan tak lagi punya kekuatan untuk tetap berdiri karena terlalu gembira. Sebuah senyum penuh kelegaan terbentuk samar di bibirnya. Kini ia tahu keberadaan sang ibu. Dan seharusnya ia menyadari kalau dirinya pernah berada sangat dekat dengannya.

Seperti ada kekuatan baru yang merasuki tubuhnya, Siwon mulai berjalan menjauhi Yoona. Ia harus segera kembali ke kuil, menemui ibunya dan membawanya pergi dari sana. Harus, tak boleh membuang waktu lagi seperti tadi.

Yoona terkejut saat mendapati Siwon tak lagi berdiri di depannya. Samar, karena pandangannya masih terhalang air mata, ia melihat Siwon menuju ke jalan raya, bukan ke kedai tempat Donghae dan Joo Hyun makan.

“Oppa,” panggilnya panik. Ia tahu, Siwon pasti sedang berusaha untuk kembali ke kuil, ke tempat ibunya berada. Namun semua pembicaraan yang masih terekam jelas di otaknya memaksa Yoona untuk mencegah Siwon pergi. Ayahnya bisa saja menghabisi nyawa Siwon jika tahu apa yang akan dilakukan pemuda itu.

“Oppa!” panggil Yoona lagi, dengan suara yang jauh lebih keras. Sayangnya Siwon tak mendengar, atau mungkin memilih untuk mengabaikan panggilannya. Dengan seluruh tenaganya yang tersisa Yoona berlari mengejar Siwon. “Oppa! Kkajima!”

Siwon yang sudah sampai di tepi jalan raya berhenti saat mendengar Yoona memanggilnya. Ia berbalik, menunggu gadis itu sampai di tempatnya dengan tidak sabar. “Ada apa?”

“Oppa, kkajima,” pinta Yoona terengah begitu berdiri di hadapan Siwon. Tangannya meraih jemari kiri Siwon, menggenggamnya erat agar paling tidak bisa menahannya pergi.

“Bagaimana mungkin aku tetap di sini? Ibuku ada di sana, dan aku harus pergi apapun yang terjadi,” kata Siwon penuh penekanan. Bahkan jika ia harus merangkak untuk kembali ke kuil, Siwon akan melakukannya demi sang ibu.

“Ibumu baik-baik saja. Biar ayahmu yang menyelesaikan semua ini.”

Perkataan Yoona sontak membuat dada Siwon bergemuruh marah. “Mwo? Kau pikir ini main-main? Tak ada yang tahu apa yang akan ayahmu lakukan pada ibuku. Bagaimana kalau ayahmu mencelakai ibuku? Kau akan bertanggung jawab?”

Kata-kata Siwon berhasil membuat Yoona bungkam. Genggamannya di tangan Siwon mengendur, lalu lepas sama sekali. Pelupuknya mulai tergenangi air mata lagi. Pertanyaan Siwon terlalu sulit untuk ia jawab.

Siwon mendesah, menyesali sebagian dirinya karena telah tega mengucapkan kata-kata tadi pada Yoona. Tak ada maksud untuk lebih membebani gadis itu karena kelakuan buruk ayahnya. Ia hanya terlalu panik dan merasa sangat marah. “Aku pergi,” pamit Siwon lirih.

“Ibumu tak ingin pergi dari sana.”

Sekali lagi Siwon berhenti. Sulit rasanya mengabaikan semua kata-kata yang keluar dari mulut Yoona. Ia diam menunggu Yoona melanjutkan ucapannya.

“Aku berniat mengajaknya pergi dari sana, tapi Han Ahjumma menolak.”

“Mwo? Wae?”

“Karena Han Ahjumma menjadikan dirinya sebagai jaminan agar Oppa selamat dari ayahku. Ayahku mengancam ayahmu dengan keselamatan ibumu, dan dia menggunakan kau dan ayahmu untuk membuat Ahjumma tunduk padanya.” Yoona berhasil menahan isakannya walau air matanya mulai menetes lagi. Dihapusnya air mata itu dengan punggung tangan, tapi entah mengapa tak bisa berhenti.

Mwo? Siwon memandang Yoona tak percaya. Kepalanya menggeleng, menolak percaya pada Yoona walau ia tahu itu benar. Ibunya telah banyak berkorban untuk hidupnya, sementara ia tak pernah melakukan apapun yang berarti.

“Aku tak tahu ini bisa disebut bertanggung jawab atau bukan,” lanjut Yoona sambil terus berusaha menahan isakan dari tenggorokannya, “tapi yang jelas, aku akan membantu Oppa. Akan kulakukan apapun agar Han Ahjumma bisa kembali. Apa atau siapapun yang menghalangi, aku akan melawannya.”

Siwon membeku di tempatnya. Semuanya terasa berjalan begitu cepat dan tiba-tiba. Terlebih sikap Yoona yang berubah memusuhi ayahnya dalam waktu singkat. Ada rasa sesal yang mendalam yang Siwon rasakan. Mungkinkah ia telah mendorong Yoona terlalu keras hingga gadis itu tertekan?

“Yoong…”

“Untuk saat ini kurasa ayahku tak akan menyentuh ibumu. Ayahku masih membutuhkannya, jadi kuharap Oppa tak pergi ke sana sekarang dan membahayakan nyawamu,” lanjut Yoona datar, terkesan hanya bergumam pada dirinya sendiri.

“Bagaimana kau tahu kalau ayahmu tak akan melakukan apapun?”

“Mungkin karena aku putrinya,” gumam Yoona lirih. Yoona yakin akan hal itu. Selama ini nyatanya sang ayah ‘hanya’ mengurung Han Hye Won di kuil, bukan di tempat kumuh yang jorok dan bau serta mengikatnya dengan rantai besi. Juga membiayai semua pengobatan wanita itu. “Kurasa cara berpikir Appa menurun padaku,” imbuhnya miris.

Siwon bisa melihat ekspresi ketakutan di tiap kata yang keluar dari mulut Yoona. Gadis itu takut pada kenyataan bahwa dia adalah putri seorang penjahat, dan berpikir kalau dia juga memiliki andil dalam setiap tindakan buruk ayahnya. Hatinya tergerak untuk mempercayai ucapan Yoona tentang ibunya. Bahwa beliau akan baik-baik saja. Dan tak seharusnya ia bertindak ceroboh hingga menyia-nyiakan pengorbanan ibunya selama ini.

“Apa dan siapapun yang menghalangi, aku akan melawannya.” Termasuk ayahku sendiri, batin Yoona menambahi. Gadis itu telah mengambil keputusan. Sepanjang jalan tadi hatinya berada di persimpangan. Memutuskan jalan mana yang akan ia ambil jelas bukan hal yang mudah. “Oppa bisa memegang ucapanku,” janjinya.

“Geumanhe,” potong Siwon. Ia tak tahan melihat Yoona justru menyalahkan dirinya sendiri, berusaha mengambil semua tanggung jawab yang seharusnya dipikul sang ayah. Kepalanya berdenyut nyeri memikirkan tindakannya secara tak sadar memaksa Yoona untuk melawan ayahnya. Sedikit banyak ia ikut ambil bagian dalam menumbuhkan rasa bersalah Yoona. “Kau tak seperti ayahmu.”

Yoona menggeleng tak setuju. “Darahnya mengalir dalam tubuhku…”

“Kubilang berhenti bicara seperti itu.”

“Tapi itu benar, aku dan ayahku…”

Siwon membungkam Yoona dengan bibirnya. Gadis keras kepala itu hanya akan berhenti dengan cara ini. Dikecupnya bibir atas Yoona dengan lembut sebelum menjauhkan wajahnya perlahan.

Tubuh Yoona membeku. Serangan Siwon selalu mampu melumpuhkan semua saraf motoriknya. Jemarinya naik, menyentuh bibirnya yang baru bersentuhan dengan milik Siwon. “Ini…”

“Sudah kubilang berhenti bicara seperti itu,” tukas Siwon. “Kau bukan ayahmu. Kau bukan pria tua yang melakukan banyak hal buruk. Kau adalah Im Yoona, gadis manja dan penuh semangat yang sangat kusayangi.”

Yoona memberanikan diri menatap langsung ke mata Siwon. Pernyataan Siwon tadi memberikan kekuatan tersendiri bagi Yoona. Mengalirkan udara baru untuknya bernapas. Memberinya harapan untuk sebuah perasaan sempat yang ingin dibunuhnya.

“Seharusnya aku mengatakan ini semua sejak awal. Aku telah bersikap seperti pengecut hingga membuatmu merasa bersalah atas sesuatu yang tak kau lakukan.” Siwon meraih Yoona, mendekapnya erat dan meluapkan kerinduannya. Keputusan Yoona untuk membantunya membuat satu penghalang di antara mereka lenyap, walau jalan yang harus dilalui masih panjang. Dan Siwon sangat bersyukur untuk tindakan berani itu.

Tangan Yoona melingkari pinggang Siwon, balas memeluknya dan bersandar di tubuh pemuda itu. Sebagian beban seperti terangkat dari pundaknya saat Siwon membelai lembut punggungnya. Ternyata berhadapan dengan ayahnya sendiri jauh lebih sulit dibanding dengan Yoon Hae Ra. Yoona hanya berharap kalau keputusan yang ia ambil dalam waktu singkat itu adalah yang terbaik.

“Gomawo karena kau memilih untuk berada di sisiku. Takkan kubiarkan siapapun menyentuh dan menyakitimu lagi,” janji Siwon lirih.

***

Shim Changmin mendesah singkat setelah menutup panggilan telepon. Dua penjaga yang ditugaskan menjaga Han Hye Won baru saja menelepon untuk melaporkan kekacauan yang timbul karena kedatangan Yoona dan teman-temannya. Gadis itu selalu membuat kepalanya sakit karena harus mencari cara untuk menutupi ulahnya, sejak kecil. Ia mengurungkan niat untuk masuk ke ruangan Im Tae San, berdiri mematung di ruang keluarga sambil memikirkan apa yang harus ia katakan agar Yoona tak mendapat masalah.

“Oppa, sedang apa di situ?” tanya Yuri yang berjalan melewati ruangan itu, hendak pergi ke kamarnya.

“Mwo?” Changmin berbalik menghadap Yuri dan tersenyum kaku.

“Kenapa berdiri seperti patung di situ?” ulang Yuri.

“Tak ada apa-apa.”

Yuri mendekati Changmin dengan tatapan penuh selidik. “Pasti ada sesuatu. Oppa selalu gugup saat menyembunyikan kenakalanku dan Yoona dari Appa sejak dulu.”

“Kau benar. Yoona membuat masalah lagi,” kata Changmin menyerah. Sebenarnya ia sudah cukup tertekan menyembunyikan semua fakta tentang keluarga itu selama ini tanpa ada orang lain yang tahu. Changmin masih muda, dan menghabiskan hampir seluruh hidupnya menjadi abdi bagi keluarga Im. Ada kalanya ia merasa muak dan ingin menghentikan semua tindakan Im Tae San. Tapi ia tak cukup punya keberanian mengkhianati kepercayaan Tae San selama bertahun-tahun padanya.

Yuri terkekeh. “Aku tak terkejut. Dia kan memang pembuat masalah,” cibirnya setengah bercanda. “Apa yang ia lakukan kali ini?”

“Dia pergi ke kuil di Gunung Seorak. Aku takut ayahmu akan marah kalau tahu soal ini.”

“Wae? Yoona pasti hanya ingin mengunjungi ibu kandungnya. Mengapa Appa harus marah?”

“Itu karena…,” Changmin hanya bergumam tak jelas, tak tahu harus menjawab apa. Mengatakan keberadaan Han Hye Won di sana sama saja dengan membeberkan rahasia Im Tae San.

“Oppa mau cerita padaku?” tawar Yuri. Ia mulai curiga dengan sikap aneh Changmin. “Cerita saja padaku. Aku janji tak akan bilang pada siapapun.”

Lagi-lagi Changmin menyerah setelah Yuri membujuknya terus-menerus. Ditariknya gadis itu ke halaman belakang yang sepi, menghindari ada yang mencuri dengar pembicaraan mereka. Akhirnya, ia melepas sebagian rasa frustasinya pada orang lain, menceritakan semuanya pada Yuri. Tentang kasus suap yang dilakukan ayahnya bertahun-tahun lalu, penyekapan Han Hye Won, hubungan Im Tae San dengan keluarga Choi, hingga kedatangan Yoona ke kuil.

Reaksi Yuri hampir sama seperti Yoona saat tahu semua itu. Ayahnya yang selalu tenang, jika dibandingkan dengan ibunya yang pemarah, ternyata menyimpan belati tajam yang siap menusuk siapapun yang melawannya.

“Apa Yoona tahu semua ini?” tanya Yuri setelah memulihkan diri dari keterkejutan karena mengetahui betapa licik ayahnya itu.

Changmin mengangkat bahunya. “Mana aku tahu. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Yoona mirip dengan Presdir Im. Sulit untuk membaca pikiran mereka.”

Yuri menghela napas panjang. Rasanya masih sulit untuk percaya pada apa yang Changmin ceritakan. Karena ternyata takdir terkadang juga mempermainkan mereka. “Ini menggelikan.”

Kedua alis Changmin menyatu bingung. Komentar Yuri sama sekali tak cocok untuk menanggapi keadaan mereka sekarang. “Menggelikan?”

“Nde,” Yuri mengangguk. “Kau ingat saat aku bilang Yoona punya pacar?”

“Eoh. Wae?”

“Pacar Yoona adalah Choi Siwon, putra keluarga Choi yang Oppa ceritakan.”

Kali ini giliran Changmin yang terkejut. Tak seharusnya ini terjadi, menurutnya. Bagaimana mungkin ada kebetulan yang sangat kebetulan seperti itu di dunia ini? pikirnya. “Bagaimana bisa mereka saling mengenal?” gumam Changmin tak percaya. Ia diam, berpikir sebentar dan menganalisa kelakuan Yoona saat pergi ke kuil. “Kurasa Yoona sudah tahu tentang ini. Dia tak perlu membuat kekacauan di kuil jika memang hanya ingin menjenguk ibunya.”

“Kurasa juga begitu,” Yuri mengiyakan pendapat Changmin. Hatinya benar-benar ikut sakit mengetahui fakta ini. Seakan tak cukup dengan keluarganya yang berantakan, kini ia menjadi putri seorang penjahat. Sama seperti Yoona, ia juga merasa ayahnya berubah menjadi sosok yang sangat mengerikan dan tak punya hati. “Oppa, kau menyayangi Appa seperti ayah kandungmu sendiri, kan?”

Changmin mengernyit, heran mengapa Yuri mengubah arah pembicaraan mereka. “Tentu saja. Kenapa?”

Sebuah gagasan telah muncul di benak Yuri. Awalnya ia tak ingin melakukan apapun selain segera menikah dan pergi dari keluarga ini. Namun saat menyadari ibunya begitu menderita, ia berjanji akan melawan. Ia menarik Changmin mendekat, kemudian berbisik di telinganya. Menceritakan gagasan yang baru saja melintas di otaknya dengan berbisik karena takut akan ada yang mendengar.

“Kau ingin aku mengkhianati ayahmu?” sergah Changmin begitu mendengar rencana Yuri.

“Siapa yang bilang ini termasuk pengkhianatan? Ini adalah bukti kalau kita benar-benar menyayangi dan peduli pada Appa,” sangkal Yuri. “Atau anggap saja ini demi aku dan Yoona. Bukankah kau menyayangi kami?”

Changmin ingin menolak rencana Yuri, tapi sebagian dirinya justru sangat mendukung ide itu. Di sisi lain, sebagai seorang pengacara, ia akan menodai karier profesionalnya dengan melakukan rencana Yuri. Ia mendesah frustasi, menatap Yuri yang tengah memandangnya penuh harap. Merasa mungkin memang inilah saat dan satu-satunya kesempatan untuk membuat Im Tae San menyadari kesalahannya. “Baiklah, aku setuju,” ucapnya menyerah.

“Jinja?”

“Eoh.”

“Oppa, jjang!” seru Yuri girang. Ia tak tahu rencananya akan berhasil atau tidak. Namun rasanya ini jauh lebih baik dibanding harus melarikan diri seperti pengecut.

***

“Mwo?”

Changmin terbatuk singkat untuk menghilangkan rasa gugupnya di depan Im Tae San. Dalam hatinya ia berdoa agar bosnya itu tak menyadari keanehan di cerita yang ia katakan. “Yoona pergi bersama teman-temannya ke kuil hari ini dan membuat sedikit keributan. Tapi saya rasa ini tak ada hubungannya dengan wanita itu. Dia hanya pergi untuk mengunjungi ibunya.”

Dengan kedua alis menyatu Im Tae San memperhatikan Changmin bicara, menimbang apa ia harus percaya atau meragukannya. “Wanita itu baik-baik saja?”

“Nde.”

Tae San menghela napas. Sebagian dirinya menolak untuk berpikir baik-baik saja, namun sebagian lain mengatakan kalau Yoona takkan pernah melakukan sesuatu yang bisa membahayakan keluarganya. Lagipula mana mungkin Changmin berbohong padanya? Benar, menurutnya Yoona masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi. Gadis itu sama sekali tak ada hubungannya dengan Han Hye Won, Tae San berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Sekali lagi ia menatap Changmin. “Tambah penjagaan di tempat itu,” perintahnya.

“Nde, Sajangnim.” Changmin mengangguk kecil lalu pergi dari ruangan Tae San. Sebuah desah kelegaan keluar dari mulutnya begitu menutup kembali pintu ruang kerja Im Tae San. Tangannya mengambil ponsel yang ada di saku celananya, kemudian menulis sebuah pesan singkat.

‘Kita akan melakukannya malam ini juga. Kau siapkan segalanya. Akan kuhubungi lagi nanti.’

Changmin kembali menyimpan ponselnya di saku celana. Dengan bergegas ia segera pergi meninggalkan tempat itu melaksanakan perintah atasannya.

Yuri yang baru saja masuk ke dalam apartemen Jong Woon segera melihat ponselnya begitu merasakan getaran dari benda itu. “Mwo? Secepat ini?” serunya kaget setelah membaca pesan yang masuk.

“Kau kenapa, Chagi?” tanya Jong Woon yang heran melihat Yuri hanya berdiri membeku di tempatnya. Pria itu berjalan mendekati kekasihnya dan melongok ponsel yang masih di pegang Yuri. “Apa maksudnya itu?”

“Oppa,” Yuri beralih menatap Jong Woon intens. Matanya mengerjap lucu beberapa kali sebelum memeluk lengan Jong Woon.

“Mwo?” tanya Jong Woon curiga. Ia menangkap gelagat aneh dari tingkah Yuri. “Apa yang kau mau dariku?”

Yuri tersenyum malu karena Jong Woon langsung tahu maksudnya. “Aku butuh bantuanmu, Oppa. Tapi Oppa harus berjanji dulu akan membantuku.”

Kening Jong Woon kontan berkerut. “Sebenarnya apa yang terjadi sampai membuatmu begini?”

Untuk sesaat Yuri terdiam. Raut wajahnya perlahan berubah menjadi serius. Ditariknya lengan Jong Woon untuk duduk di sofa bersamanya. Ia mengambil napas dalam sebelum mulai menceritakan rencananya. Tak ada yang terlewat, karena ia tahu Jong Woon bisa dipercaya. Segala yang Yuri ketahui, tentang ayahnya dan semua orang yang terlibat ia ceritakan pada Jong Woon.

“Mwo?”

Yuri hanya tersenyum kaku membalas sorot keterkejutan Jong Woon padanya. “Oppa terkejut?”

“Masih perlu tanya?” tukas Jong Woon, masih belum pulih dari shock-nya mendengar cerita Yuri. Ia diam selama beberapa waktu. Hening. Hanya suara napasnya yang panjang-panjang sesekali terdengar di ruangan itu. Kepalanya berdenyut nyeri memikirkan resiko kegagalan rencana Yuri. “Mengapa kau mau melakukan itu? Kau tahu apa resikonya?” gumamnya lirih.

“Arrayo. Tapi aku merasa lebih baik daripada tak melakukan apapun,” kata Yuri membela diri. Kepalanya menunduk lemas, takut kalau Jong Woon akan menolak untuk membantunya.

Mata Jong Woon mengikuti setiap gerakan kecil yang Yuri buat. Ia juga akan terseret ke dalam permasalahan keluarga gadis itu jika menyetujui ide Yuri. Tapi tiba-tiba bayangan Yuri saat menangis di depannya muncul seperti potongan film dalam kepalanya. Jong Woon mengerang lemah, tak mau terus-menerus melihat Yuri yang begitu menyedihkan seperti dulu. “Apa yang harus kulakukan?”

Yuri terkeisap tak percaya pada pendengarannya. Kepalanya menoleh pada Jong Woon, memastikan kalau pria itu benar-benar setuju dengan rencananya. “Jinja? Oppa mau melakukannya?”

Joong mengangguk samar. “Apa saja yang harus kulakukan?”

“Oppa, gomawo,” Yuri menghambur ke dalam pelukan Jong Woon. Ia tahu ayahnya mungkin bisa mencelakai Jong Woon kalau tahu pria itu terlibat. Dan Yuri sangat berterima kasih karenanya. Karena Jong Woon mau membantunya walau tahu ayahnya adalah orang yang sangat berbahaya.

“Pastikan semuanya berjalan dengan baik, eoh?” Jong Woon balas memeluk Yuri dan membelai punggungnya. “Saranghae, Chagiya.”

Yuri mengangguk, berjanji kalau ia akan berhati-hati dan memastikan segalanya berjalan lancar. Hidupnya mungkin memang tak sempurna, dengan semua masalah yang terjadi di keluarganya. Namun ia tahu, Tuhan memberi apa yang ia butuhkan. Tuhan memberikan Jong Woon padanya, untuk selalu ada di saat apapun.

***

“Masuklah.”

Siwon membuka pintu rumahnya dan mempersilakan Yoona masuk lebih dulu. Ia kemudian ikut masuk dan menutup pintu kembali. Berjalan mendahului Yoona, Siwon meletakkan tas sekolahnya di atas meja dan menyiapkan bantal duduk untuk gadis itu.

“Gomawo, Oppa,” ucap Yoona setelah Siwon menyuruhnya duduk. Pandangannya menyapu ruang keluarga itu. Luasnya mungkin hanya separuh dari kamar tidurnya di rumah. Dadanya tiba-tiba jadi sesak karena mengingat seharusnya Siwon bisa tinggal di tempat yang jauh lebih luas dan nyaman dibanding di sini. “Seharusnya Oppa tidak tinggal di rumah ini.”

“Apa yang kau bilang?” tanya Siwon sambil membuka jaketnya. Setelahnya ia ikut duduk di depan Yoona. “Rumah ini cukup nyaman walau tak seluas rumahmu. Berhenti merasa bersalah karena hidupku yang seperti ini, eoh?”

“Tapi tetap saja memang begitu kenyataannya,” Yoona bersikeras.

“Diam di sini. Aku akan membuat makan malam untuk kita. Setelah makan aku akan mengantarmu pulang,” kata Siwon seraya bangkit berdiri. Memilih untuk segera menyudahi topik itu sebelum Yoona terus-terusan merasa semakin bersalah. Bagi Siwon sendiri memang rasanya tak seburuk itu. Ia masih bisa makan sampai kenyang, atau tetap merasa hangat saat salju turun.

Yoona ikut bangkit dan menghadang langkah Siwon. “Aku tak ingin pulang.”

Tenggorokan Siwon tercekat mendengarnya. Bagaimanapun juga dia masih sangat muda. Memikirkan akan bersama semalaman dengan Yoona membuat jantungnya berdebar tak tenang. Terlebih ayahnya kini semakin sibuk dan kembali ke rumah menjelang pagi. Bayangan-bayangan aneh tiba-tiba muncul di kepalanya, terlebih saat tatapannya tertuju pada bibir Yoona yang sedikit terbuka. Ingatan saat mereka berciuman melintas di benaknya, membuatnya mengingat lembut dan basahnya bibir Yoona saat itu.

“Oppa, bolehkah aku tetap tinggal?” tanya Yoona, yang seketika membuat lamunan Siwon buyar.

“Wa…wae? Kenapa kau tak mau pulang?” Siwon sedikit tergagap saat balas bertanya. Digelengkannya kepalanya beberapa kali, mencoba mengusir bayangan aneh yang baru saja muncul di otaknya.

“Aku takut akan berubah pikiran saat melihat Appa. Aku takut bertemu dengannya.” Keputusan Yoona untuk berada di pihak Siwon memang berat. Tapi ia juga sangat sayang pada ayahnya. Bertemu dan menerima perhatian yang ayahnya berikan bisa membuat Yoona goyah. Atau yang lebih parah, ia akan melindungi ayahnya dari hukum.

Siwon menghela napas berat. Rasanya tak adil bagi Yoona kalau ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Dengan berat hati akhirnya Siwon mengangguk mengabulkan keinginan gadis itu. “Geurae, tidurlah di sini untuk malam ini. Hanya malam ini, sampai kita bertemu Jaksa Lee dan mengatakan semuanya besok.”

Setelah persetujuan itu, Siwon menyuruh Yoona membersihkan diri dan mengganti baju dengan miliknya. Siwon sendiri memasak nasi dan memanaskan beberapa lauk pemberian ibu Taeyeon kemarin. Berkali-kali ia mencoba untuk mengusir bayangan aneh tentangnya dan Yoona yang akan terus bersama sepanjang malam. Apa yang terjadi denganku? batin Siwon frustasi saat merasa dadanya panas karena melihat Yoona keluar dari kamar mandi mengenakan pullover-nya yang kebesaran hingga menutupi celana pendek yang ia pakai.

Yoona sendiri sama sekali tak punya pikiran apa-apa. Ia benar-benar sedang ingin menghindari ayahnya. Kepalanya kini hanya berisi tentang kekecewaan pada sang ayah. Gadis itu bersikap biasa dan sama sekali tak merasa canggung karena hanya berdua di dalam rumah.

“Oppa bisa memasak?” serunya kagum saat Siwon membawa beberapa lauk ke meja.

“Aku hanya menggoreng telur. Sisanya adalah pemberian dari ibu Taeyeon.”

Mereka makan dengan tenang. Siwon bahkan sama sekali tak mengeluarkan suara jika tidak ditanya. Hatinya sibuk menenangkan gejolak mudanya karena bersama Yoona. Cepat-cepat Siwon menghabiskan makanannya dan menyiapkan tempat untuk Yoona tidur. Berniat untuk segera mengurung Yoona tidur di kamarnya dan lepas dari perasaan aneh yang terus-menerus muncul saat melihat gadis itu.

Awalnya Yoona tak peduli pada sikap diam Siwon. Memang biasanya dia juga bersikap dingin pada semua orang. Namun lama-kelamaan, Yoona pun merasa ada yang aneh. Siwon bahkan sama sekali tak mau melihatnya saat mengatur kasur lantai untuk gadis itu.

“Apa aku melakukan kesalahan?” celetuk Yoona kesal karena Siwon terus mendiamkannya.

Aktivitas Siwon terhenti sesaat, sebelum berbalik menatap Yoona yang berdiri di depan pintu. Diraihnya bahu Yoona dan dibimbingnya gadis itu untuk duduk di kasur lantai yang telah ia siapkan. “Sebaiknya kau cepat tidur. Ini sudah malam,” kata Siwon tanpa menjawab pertanyaan Yoona.

“Kenapa Oppa tak mau bicara padaku? Apa aku berbuat salah padamu?” ulang Yoona dengan suara yang lebih keras.

Siwon masih tak mau menjawab, karena memang ia tak tahu harus mengatakan apa. Rasanya tak mungkin juga baginya untuk mengatakan secara terang-terangan penyebab kediamannya malam ini. Didorongnya kedua bahu Yoona hingga gadis itu terpaksa berbaring lalu menyelimuti tubuhnya.

Kedua tangan Yoona menepis pegangan Siwon di bahunya dan bangun dari tidur. Gadis itu duduk dengan tangan terlipat di dada, menatap Siwon jengkel karena sikapnya yang menyebalkan. “Aku tak akan tidur sebelum Oppa menjawab pertanyaanku,” katanya penuh penekanan.

“Tidak ada apa-apa,” jawab Siwon malas.

Yoona melepas kaitan tangannya di dada dan menangkup wajah Siwon agar menatapnya. “Oppa juga tak mau melihatku. Mana mungkin tidak ada apa-apa.”

Darah Siwon seperti mengalir lebih deras daripada biasanya karena perlakuan Yoona. Jantungnya memompa dua kali lebih cepat saat matanya bertemu dengan iris gelap gadis itu yang mengerjap lucu. “Gwenchana,” kata Siwon sambil berusaha melepas pegangan Yoona di pipinya.

“Mengapa Oppa selalu tertutup padaku? Selalu saja aku yang harus memulai. Aku yang harus bertanya dan mengejarmu, mengungkapkan cinta, juga memohon padamu. Bahkan sekarang Oppa tak mau menjawab pertanyaanku. Kupikir ini tidak adil,” gerutu Yoona lirih.

Kepala Siwon nyaris pecah memikirkan jawaban atas pertanyaan Yoona. Ia mendesah lemah, menyesali dirinya sendiri karena membuat situasi menjadi seperti ini. “Ini benar-benar tidak seperti yang kau pikirkan, Yoona-ya.”

“Lalu apa?”

“Aku hanya merasa aneh karena hanya berdua di dalam rumah denganmu,” kata Siwon menyerah.

Kening Yoona kontan berkerut heran. “Apanya yang aneh?”

Ingin rasanya Siwon menjitak kening Yoona yang lebar. Entah gadis itu terlalu polos atau bodoh, Siwon tak tahu pasti. Tentu saja aneh karena kita adalah laki-laki dan perempuan, batinnya berteriak.

Yoona sendiri memang sama sekali tak merasa ada yang salah dengan keadaan mereka. Ia meminta perlindungan dari orang yang ia sayangi. Bukankah itu lebih baik dibanding jika ia harus menginap di luar untuk menghindari ayahnya? Begitu kurang lebih yang ada di pikiran Yoona.

“Kalau Oppa memang tak mau aku menginap di sini, aku bisa pergi ke rumah Donghae Sunbae,” pancing Yoona, sengaja agar Siwon cemburu dan kembali bersikap normal. Segera ia singkap selimut yang menutupi tubuhnya dan bangkit berdiri, berniat pergi dari sana agar Siwon yakin kalau ia tak main-main.

“Ya!” Siwon menarik tangan Yoona terlalu keras hingga gadis itu jatuh terduduk kembali. Tampaknya ide Yoona berhasil. Siwon memang sangat sensitif jika sudah berhubungan dengan Donghae. Didorongnya bahu Yoona hingga berbaring lagi. Tangan Siwon masih berada di bahu Yoona, menahan agar gadis itu tak punya celah untuk lari. Tubuhnya bergerak maju hingga berada di atas gadis itu.

“Bukankah aku pernah memperingatkanmu untuk menjauhi Donghae? Tapi sekarang tiba-tiba saja kau mau pergi ke rumahnya. Apa kau tidak mendengarkan kata-kataku?” sergah Siwon kesal. Ia tahu Yoona sedang memancingnya. Tapi tetap saja, emosinya sangat mudah terpancing dengan segala hal yang berhubungan dengan gadis itu.

Yoona bergidik ngeri melihat reaksi Siwon yang tak disangkanya. Namun ada rasa senang yang menggelitik hatinya melihat Siwon berubah begitu protektif dan cemburu. “Aku yang seharusnya bertanya. Apa Oppa benar-benar mau aku di sini? Bahkan melihat wajahku saja Oppa tak mau. Oppa tak ingin bersamaku?”

“Tentu saja aku ingin bersamamu, Yoong,” jawab Siwon tanpa sadar, seperti terhipnotis oleh kedua bola mata gadis itu.

Melihat Siwon dalam jarak yang cukup dekat seperti itu mulai membuat jantung Yoona tak tenang. Pikiran-pikiran tentang ayahnya perlahan memudar, digantikan dengan bayangan Siwon yang terus berusaha masuk ke otaknya. Apalagi dengan pengakuan Siwon yang ingin bersamanya.

Setengah mati Siwon berusaha mengusir bayang-bayang aneh yang masih tinggal di kepalanya. Terlebih saat Yoona menggigit bibir bawahnya. Keinginan untuk menciumnya tiba-tiba menyeruak ke permukaan. Cepat-cepat ia singkirkan keinginan itu. Menyadari posisinya dan Yoona yang terlalu dekat, Siwon segera melepas pegangannya di bahu gadis itu dan mundur menjauh. Berharap dengan begitu perasaan aneh di dadanya juga akan segera menghilang.

“Tidurlah.”

Yoona tersenyum kaku. Ia baru menyadari penyebab kecanggungan dan kediaman Siwon malam ini. “Apa Oppa merasa tak nyaman hanya berdua denganku di sini?”

“Tentu saja tidak,” tukas Siwon segera, takut Yoona akan salah paham padanya lagi. Dibuangnya jauh-jauh semua bayangan aneh yang mengganggunya. Sekali lagi Siwon membetulkan letak selimut yang menutupi tubuh Yoona, mencium keningnya singkat dan ikut berbaring di samping gadis itu. “Cepat tidur! Aku akan menungguimu di sini.”

Mata Yoona membulat melihat Siwon yang sudah berbaring di sisinya. Antara gugup dan gembira, Yoona tak bisa menentukan mana yang lebih besar. Tapi ia percaya kalau Siwon takkan melakukan hal buruk padanya. Yoona ikut berbaring miring, membuatnya jadi berhadapan dengan Siwon. “Jaljayo. Berhati-hatilah, Oppa. Aku sangat cantik saat tidur.”

Kelakar Yoona sontak membuat Siwon terkekeh geli. Sikap polos dan percaya diri gadis itu membuatnya kembali merasa nyaman. Ia bersyukur tak merusak kepercayaan Yoona padanya. Dibelainya rambut Yoona dengan lembut, mengantarkan gadis itu memasuki alam mimpinya. Bibir Siwon menyunggingkan senyum saat menyadari kalau Yoona memang tak bohong, mengatakan dirinya cantik ketika tidur. “Mimpi yang indah, Yoong.”

***

“Tanganku pegal sekali,” keluh Donghae sambil memijit-mijit lengan kananya.

“Tak usah mengeluh, Sunbae. Hukumanku dua kali lebih banyak dari Sunbae,” kata Joo Hyun setengah menggerutu.

“Ayahmu menghukummu juga di rumah?”

“Tentu saja. Berkat seseorang,” desis Joo Hyun sambil melirik tajam pada Yoona yang ada di hadapannya.

Yoona tersenyum minta maaf, merasa kalau ucapan Joo Hyun memang tertuju padanya. “Kau tak bilang pada ayahmu kalau aku yang mengajakmu pergi?”

“Tetap saja aku dihukum.”

“Sudahlah,” potong Siwon melerai. “Kerjakan saja apa yang harus kita lakukan.”

Mereka diam, meneruskan hukuman memindahkan seember air ke wadah lain menggunakan sendok makan yang diberikan oleh kepala sekolah. Terpaksa mereka menuruti perintah itu daripada harus mengantar surat peringatan untuk orang tua mereka.

“Yoona,” kata Donghae memecah keheningan. Rasa penasarannya pada kejadian kemarin masih belum hilang, malah justru semakin besar. “Kemarin itu benar-benar aneh.”

Yoona tahu maksud perkataan Donghae. Kemarin ia hanya mengatakan kalau ingin pergi ke makam ibunya. Dengan terpaksa akhirnya Donghae menerima penjelasan itu, karena suasana benar-benar tak mengenakkan.

“Tak ada yang aneh dengan pergi ke makam ibuku,” gumam Yoona, berusaha mengelak dari topik itu.

“Bukan itu. Maksudku adalah dua pria yang ada di sana,” jelas Donghae. Ia berhenti dari kesibukannya menyendok air dan fokus pada Yoona. “Lagipula seseorang sangat panik kemarin saat tahu kau pergi ke Sokcho,” imbuhnya, tetap menatap Yoona meski yang ia bicarakan adalah Siwon.

Dari ekor matanya, Yoona melirik pada Siwon yang ada di sampingnya. Tak ada tanda-tanda kalau pemuda itu berniat bicara untuk membuat Donghae diam. Yoona mendesah singkat karenanya. “Sunbae, aku juga sangat terkejut dengan kejadian kemarin. Jadi kumohon jangan berpikir macam-macam tentang itu.”

Donghae mendengus kesal. Dibantingnya sendok yang ia pegang. Benda kecil itu jatuh ke lantai dan membuat bunyi berdentang.

“Sunbae!” tegur Joo Hyun.

“Wae? Kau mau marah padaku?” sergah Donghae yang masih kesal. Siwon dan Yoona jelas sudah berbaikan. Walau ia ingin Yoona bahagia, tetap saja ada rasa cemburu ketika Siwon menggandeng jemari gadis itu. Kekesalannya semakin menumpuk karena ia yakin mereka berdua menyembunyikan sesuatu.

Joo Hyun bergidik ngeri. Keberaniannya mengkerut menghadapi Donghae yang seperti ini. “Bukan begitu, Sunbae,” sangkalnya. “Kita baru bisa pulang saat semuanya menyelesaikan hukuman ini. Kalau Sunbae tak menyelesaikannya kita takkan bisa pulang.”

Setengah hati Donghae mengambil kembali sendoknya yang jatuh. Tak tega rasanya kalau ia selalu membuat Joo Hyun kesulitan. “Aku akan melakukannya. Lihat ini!”

Butuh waktu hampir dua jam bagi mereka untuk menyelesaikan hukuman itu. Setelah melapor pada seorang guru yang mengawasi mereka, keempat siswa itu bergegas keluar dari bangunan sekolah.

“Sunbae, bisakah kau mengantar Joo Hyun? Tadinya ia berencana menumpang mobilku, tapi aku harus pergi dengan Siwon Oppa. Kalau begitu kumohon jaga dia baik-baik,” cerocos Yoona sebelum pergi mendahului Donghae dan Joo Hyun.

“Ya! Mau ke mana kalian?” teriak Donghae. Selalu saja mereka memiliki kesempatan untuk berdua, membuatnya merasa kalah bahkan sebelum maju perang.

“Mereka akan menemui Jaksa Lee,” jawab Joo Hyun.

“Untuk apa mereka menemui ayahku?”

“Entahlah. Sepertinya Yoona memilih berada di pihak musuh ayahnya. Lihat saja dia dan Siwon Sunbae yang terus bersama sepanjang hari.”

Kedua alis Donghae terangkat. “Jinja? Yoona bilang begitu?” Donghae sama sekali tak percaya Yoona akan melakukan hal yang berseberangan dengan ayahnya. Jangan bilang ini demi Siwon! Yang benar saja!

“Yoona tak pernah menceritakan apapun jika tak ditanya,” sungut Joo Hyun karena teringat kebiasaan Yoona yang selalu membuatnya kesal itu.

“Lalu bagaimana kau tahu kalau dia tak cerita? Orang akan berpikir kalian adalah satu keluarga karena kau seakan tahu segalanya tentang dia,” cibir Donghae yang masih belum terima dengan anggapan kalau Yoona mengorbankan keluarganya demi Siwon.

Joo Hyun mendesah terkejut mendengar kalimat bernada sinis yang Donghaae lontarkan. Ia merasa kalau anak itu telah menangkap basah dirinya. Bagaimana bisa Donghae dengan mudahnya mengatakan hal seperti itu? Joo Hyun mungkin memang jarang membuat ekspresi di wajahnya hingga terkesan dingin. Namun ia juga tak pandai menyembunyikan apa yang ia rasakan. Dan raut terkejut jelas terpatri di wajahnya karena cibiran Donghae tadi.

“Kau kenapa?” tanya Donghae heran. “Apa ada yang salah dengan kata-kata…” Otak Donghae kembali mengingat-ingat semua perkataan dan tingkahnya tadi. Sepertinya tidak ada yang salah, pikirnya. Mengapa ia sangat terkejut saat…

“Kau dan Yoona benar-benar keluarga?” sentak Donghae yang kini sama-sama terkejut karena kelakarnya membuka sebuah fakta mencengangkan.

Kepala Joo Hyun menggeleng kuat-kuat menyangkal pertanyaan Donghae. “Bukan.”

Otak Donghae yang mewarisi kejelian sang ayah menolak untuk mengakhiri pembicaraan itu. “Jangan bohong! Sebaiknya kita bicarakan ini di tempat lain. Kita bisa membicarakannya sambil makan es krim.”

Joo Hyun tak kuasa menolak saat Donghae menggenggam jemarinya erat-erat dan membimbingnya pergi dengan paksa. Lagi-lagi ia telah membuka rahasia karena kebodohannya sendiri.

***

Jaksa Lee dan Choi Ki Ho menatap dua anak muda yang duduk di depannya dengan seksama. Sementara dua anak itu, Siwon dan Yoona, duduk dengan kepala menunduk. Sebuah pengakuan yang baru saja terlontar dari bibir Yoona sukses mengalihkan seluruh perhatian dua pria itu.

“Bisakah kau mengulangi pernyataanmu tadi, Nona Im?” tanya Jaksa Lee yang masih terlihat kaget.

Kepala Yoona mendongak, menatap Jaksa Lee yang sejak tadi tak sekalipun melepas pandangan darinya. “Saya akan bersaksi untuk Tuan Choi,” Yoona mengulangi pernyataannya yang telah sukses membuat semua orang terpana.

“Kesaksian macam apa?”

Siwon meremas jemari Yoona yang sejak tadi ia genggam, mencoba memberi kekuatan pada gadis itu agar tak goyah.

“Ayahku, Im Tae San, telah menyandera seorang wanita bernama Han Hye Won selama bertahun-tahun. Dan untuk ini, saya tak tahu bagaimana menyebutnya. Tapi Appa menggunakan nama saya untuk memindahkan aset-aset berharga milik A Grup agar terhindar dari penyitaan karena kasus penyuapan yang ia lakukan di Pulau Jeju,” kata Yoona lirih.

“Mwo? Bagaimana kau tahu?” tukas Choi Ki Ho. Merupakan sebuah kejutan baginya melihat Siwon datang bersama Yoona. Ditambah sekarang gadis itu justru membeberkan semua rahasia ayahnya pada seorang jaksa. Benar-benar di luar dugaannya.

“Saya telah dua kali bertemu dengan Han Ahjumma. Sembilan tahun lalu saya bertemu dengannya di Asan Medical Center. Dan kemarin, saya menemuinya di kuil kecil di Gunung Seorak,” jelas Yoona. Nada suaranya terkesan datar dan tanpa semangat.

Dua pria dewasa itu menghela napas panjang, saling berpandangan tak percaya dengan apa yang mereka dengar. “Kau punya bukti?”

Siwon mengambil sesuatu dari sakunya, kemudian meletakkan benda itu di meja yang memisahkan mereka. “Ini buktinya,” katanya seraya membuka liontin yang ia letakkan di meja hingga foto yang ada di dalamnya terlihat. “Itu adalah hdiah yang saya berikan pada ibu saya sembilan tahun lalu. Ibu saya menyerahkannya pada Yoona ketika mereka bertemu di Asan Medical Center. Kemudian Yoona menyerahkannya pada saya beberapa waktu lalu.”

Jaksa Lee mengambil liontin itu dan mengamatinya dari dekat.

Tanpa diminta, Yoona kembali menjelaskan semua yang ia tahu pada jaksa itu. Mulai dari orang-orang yang membawa Han Hye Won, pemindahan aset-aset berharga atas namanya, hingga pertemuannya kembali dengan ibu Siwon di kuil. Tak ada yang terlewat, termasuk ancaman yang diberikan ayahnya pada Han Hye Won jika ia tak mau tunduk.

“Bajingan!” desis Choi Ki Ho penuh amarah. Jemarinya yang tengah menggenggam liontin istrinya menegang memperlihatkan urat-urat di punggung tangannya. “Bagaimana bisa dia melakukan semua ini? Kita harus segera membawanya ke penjara.”

Yoona bergidik ngeri melihat ketenangan Choi Ki Ho berubah menjadi gelombang emosi yang memercikkan amarah ke sekitarnya. Jemarinya seperti membeku walau ruangan itu cukup hangat. “Ahjussi, apa sekarang Anda akan menangkap ayah saya?” katanya dengan suara bergetar.

“Tuan Choi, Anda harus tenang. Kita harus mempersiapkan segalanya sebelum menangkap Presdir Im,” Jaksa Lee berusaha patuh pada prosedur. Hasil penyelidikan A Grup baru akan keluar dua jam lagi, yang akan memutuskan terbukti atau tidaknya Im Tae San dalam kasus suap di Jeju. Untuk kasus penculikan Han Hye Won sendiri Jaksa Lee masih merasa kekurangan bukti, karena hanya berdasar pada keterangan Yoona. “Kami masih menunggu keputusan dari tim yang menyelidiki berkas dan pembukuan A Grup, Nona Im. Jadi saya belum bisa memberikan jawaban yang pasti,” kata Jaksa Lee pada Yoona.

Siwon sadar Jaksa Lee hanya tak ingin Yoona cemas dan ketakutan. Jelas-jelas mereka telah mendapatkan bukti tentang kasus suap itu. Hanya tinggal menunggu waktu kapan penangkapan akan dilakukan. Terlebih melihat reaksi ayahnya yang biasanya tenang. Siwon sendiri sedikit terkejut karenanya. “Jaksa Lee, bagaimana dengan ibu saya? Saya takut terjadi sesuatu dengannya.”

“Dengan informasi yang kalian berikan, kami akan mengirim orang untuk memeriksa kuil itu. Kesaksian ibumu juga berperan penting dalam kasus ini,” jawab Jaksa Lee tenang. “Kami akan segera bertindak.”

Merasa tak ada lagi yang bisa dilakukan, Siwon mohon diri dan menarik Yoona pergi dari sana. Menyerahkan segalanya pada para orang dewasa dan berusaha untuk tetap tenang.

Jaksa Lee menatap Yoona yang ditarik pergi oleh Siwon. Ada satu hal yang lupa ia tanyakan pada gadis itu. “Tuan Choi, tahukah Anda apa yang membuat Yoona melakukan ini? Bukankah ini akan sangat merugikan keluarganya?”

Mau tak mau Choi Ki Ho memikirkan pertanyaan Jaksa Lee. Bisa saja ini jebakan untuk mereka. Tapi setelah melihat genggaman Siwon di jemari Yoona, kecurigaan itu tiba-tiba hilang. “Saya rasa Yoona memang berbeda dengan ayahnya,” gumam Ki Ho.

***

Sejak kepergian mereka dari kantor Jaksa Lee, Siwon sama sekali tak pernah melepas genggamannya di tangan Yoona. Dengan langkah-langkahnya yang panjang, Siwon memimpin mereka berjalan melewati jalanan yang mulai dihiasi ornamen Natal.

“Kita mau ke mana? Ini bukan arah menuju rumahku,” kata Yoona sambil memperhatikan lampu-lampu hias yang terpasang di sepanjang jalan.

Siwon menoleh, menatap Yoona dengan senyum di wajahnya. “Kau mau kita langsung pulang?”

Kepala Yoona langsung menggeleng menolak tawaran itu. “Tapi mengapa?”

“Mengapa apanya?”

“Ini,” Yoona mengangkat tangannya yang digenggam Siwon sejak tadi. “Dan itu,” imbuhnya sambil menunjuk wajah Siwon. “Mengapa Oppa tersenyum begitu lebar?”

“Tak suka? Geurae, kalau begitu aku akan bersikap dingin padamu,” jawab Siwon datar, melenyapkan senyum di bibirnya.

“Aniya.” Yoona menyentak tangan Siwon sedikit keras, membuat mereka berhenti berjalan. “Oppa sangat tampan saat tersenyum, dan aku sangat menyukainya. Tapi Oppa tak boleh menunjukkannya pada orang-orang karena mereka pasti akan langsung menyukaimu.”

Sial, rutuk Siwon dalam hati. Selalu saja sikap Yoona yang blak-blakan membuat jantungnya berdebar. Dengan sangat jujur dan tulus gadis itu memujanya. Bukan sekedar basa-basi atau menjilat seperti orang lain. “Bicara apa kau ini? Ayo pergi,” kata Siwon sambil menjepit cuping hidung Yoona dengan telunjuk dan jari tengahnya hingga merah.

“Oppa,” gerutu Yoona kesal.

Siwon hanya tersenyum menanggapinya. Diraihnya lagi jemari Yoona sebelum melanjutkan langkah mereka. Ia merasa memiliki janji yang harus ditepati pada gadis itu,, walau sebenarnya Yoona tak pernah memintanya. Siwon merasa bertanggung jawab atas sebagian beban di pundak Yoona. Hingga untuk saat ini, mungkin hal terbaik yang bisa dilakukannya adalah mengembalikan keceriaan dan semangat gadis itu.

“Aaa,” perintah Siwon pada Yoona agar membuka mulutnya lebar-lebar.

Yoona menurut. Sedetik kemudian sepotong kecil ddokboki hangat masuk ke rongga mulutnya. Siwon mengajaknya makan di kedai kecil yang tak sengaja mereka lewati. Sekali lagi, Yoona merasa sikap Siwon berubah menjadi aneh. Entah inilah sifatnya yang sebenarnya, atau Siwon memang berubah, Yoona tak tahu pasti. Namun walau bagaimanapun, hal itu jelas membuat Yoona senang.

“Kau mau eomuk?” tawar Siwon, mengambil dua tusuk eomuk dan memberikannya satu pada Yoona.

“Emm,” seru Yoona girang begitu mengunyah gigitan eomuk-nya. “Aku tak pernah merasakannya lagi sejak pindah ke New York.”

Sebuah senyum kembali tersungging di bibir Siwon melihat Yoona makan dengan rakusnya, mengambil dua tusuk eomuk sekaligus padahal yang pertama belum ia habiskan. “Makannya pelan-pelan saja,” komentarnya.

“Nde,” balas Yoona sekenanya, karena pada kenyataannya ia sama sekali tak merubah caranya makan.

Indikator suasana hati Yoona, menurut hemat Siwon, adalah selera makannya. Menyaksikan gadis itu makan dengan lahap membuat Siwon menarik kesimpulan kalau perasaannya sudah membaik. Meski begitu, tetap saja ia khawatir kalau Yoona hanya berpura-pura seperti biasanya. “Gwenchana?”

Yoona menghentikan makannya karena Siwon bertanya dengan nada sedih. Ia tahu Siwon tak ingin melihatnya berakting bahagia. Diletakkannya eomuk yang masih tersisa separuh ke mangkuk plastik di depan mereka. Kepalanya mengangguk pelan. “Eoh. Gwenchanayo.”

“Jeongmall?”

“Aku sedih dan takut. Tapi entah kenapa perasaan itu hilang saat Oppa menggenggam tanganku dan tersenyum padaku. Aneh, kan?”

Siwon hanya tersenyum tipis. Tangannya meraih gelas kertas dan meminum isinya hingga habis. “Kau tahu? Sebelum ini, tak ada yang mendekatiku begitu gigih sepertimu. Tak ada yang tahan dengan sikap dinginku. Aku sangat berterima kasih pada ibuku karena memintamu menyerahkan liontin itu. Karena itulah yang membuatmu mengejar dan memaksaku melakukan hal-hal yang sama sekali tak pernah terpikirkan.”

Hening. Yoona tak menyangka Siwon akan dengan begitu terbuka mengutarakan perasaannya. Ia diam, tak bermaksud menginterupsi pengakuan yang selama ini sangat ingin ia dengar.

“Tapi, entah sejak kapan, aku mulai menikmatinya. Kepalaku mulai terusik karena kehadiranmu yang tak terduga. Lalu aku mulai penasaran seperti apa hidupmu sebenarnya. Apa yang membuat gadis cantik dari keluarga kaya dengan tidak tahu malunya mengejar siswa biasa sepertiku,” jelas Siwon disertai tawa kecil.

Yoona memukul lengan Siwon yang ada di sampingnya, tidak terima dikatai tak tahu malu. “Bukan seperti itu,” protesnya. “Aku hanya tak memedulikan apa yang orang lain katakan.”

“Sama saja,” cibir Siwon sambil mengacak rambut gadis itu. “Jangan marah, karena itulah aku sangat menyukaimu.”

Cemberut di wajah Yoona dengan cepat berubah menjadi senyuman cantik. “Lalu?”

“Mwo?”

“Lalu apa yang Oppa rasakan setelah itu?”

“Lalu tanpa kusadari, aku mengkhawatirkanmu. Apa kau makan dengan baik, bagimana perasaanmu saat orang tuamu bertengkar, mengapa kau selalu menangis sendiri, pertanyaan itu selalu menggangguku. Mungkin saat itu aku sudah jatuh cinta padamu. Hanya saja aku tak mau mengakuinya.”

“Jinja?” Yoona terpana mendengar Siwon ternyata begitu memperhatikannya. Ia memang bisa merasakan ketulusan di setiap tindakan Siwon. Namun kebiasaannya yang pelit bicara itu selalu membuat Yoona ragu.

Kepala Siwon mengangguk mengiyakan. Ia telah memutuskan untuk meleburkan batas-batas yang ada di antara mereka. Mengungkapkan dan berbagi apa yang ia rasa pada Yoona. Tak adil rasanya kalau Yoona yang selalu berusaha sendirian.

“Geundae, mengapa Oppa tak membenciku walau tahu ayahku telah menyakiti keluargamu?”

Siwon mengendikkan bahunya. “Entahlah. Aku sangat marah pada ayahmu dan membencinya setengah mati. Tapi aku merasa sangat sakit saat melihatmu menangis. Dadaku terasa sesak ketika kita putus. Itu sangat menyiksa. Jadi, kuputuskan untuk tak menahan semuanya dan melakukan apa yang membuatku bahagia.”

Tubuh Yoona mendekat pada Siwon dan mencium pipinya sekilas. Musim semi seperti datang lebih awal baginya. Kalau ia ada di dalam kamarnya, mungkin Yoona sudah menari dan melompat seperti orang gila saking senangnya.

“Ya!” seru Siwon yang terkejut karena mendapat hadiah kecil di pipinya. Pandangannya menyapu sekeliling mereka, dan mendapati wanita pemilik kedai tersenyum kecil melihatnya. Ia meringis malu. “Jangan menciumku di tempat seperti ini!”

“Wae?” Yoona yang tinggal di New York cukup lama tak merasa ada yang salah dengan tindakannya. “Waktu itu Oppa juga menciumku di Myeongdong. Dan aku tak marah karenanya.”

Sebuah desahan pasrah keluar dari mulut Siwon. Berdebat dengan Yoona hanya akan menguras energi dan emosinya. Ditambah lagi balasan-balasan pedas dari gadis itu selalu membuatnya kehabisan kata-kata. Hanya saja untuk saat ini ia masih belum mau menyerah. “Lalu mengapa waktu itu kau tak menolaknya? Kalau kau protes aku pasti tak akan melakukannya.”

“Hah?” Ganti Yoona yang bingung menjawab pertanyaan Siwon. Berpikir keras agar Siwon tak bisa menyalahkannya. Tapi tiba-tiba wajahnya menunduk menyembunyikan gurat merah yang merona di pipinya, terlalu malu untuk mengaku. Mana mungkin waktu itu aku menolak. Jelas-jelas aku mengatakan ingin melakukan ciuman pertamaku dengan Siwon Oppa, keluhnya dalam hati.

Siwon menyeringai puas menyadari Yoona mulai menunjukkan tanda-tanda kekalahan. “Kenapa diam?” pancingnya. Kepalanya turun hingga sejajar dengan milik Yoona yang menunduk, kemudian berusaha menatap matanya.

“Jangan melihatku seperti itu,” sungut Yoona jengah.

“Kau malu? Ternyata kau bisa bersikap seperti itu juga,” ledek Siwon penuh kemenangan.

“Oppa, hentikan! Mengapa kita jadi membahas ini?” Yoona mengalihkan pandangannya ke arah berlwanan.

Kali ini Siwon benar-benar mengacak rambut Yoona hingga kusut, mengabaikan protes keras dari pemiliknya. Menurutnya sikap malu-malu gadis itu terlihat sangat manis. Tetap ada sisi seorang gadis yang pemalu walau Yoona identik dengan keterusterangannya. “Sepertinya hidupku akan sangat membosankan tanpamu.”

***

Yuri keluar dari lift apartemen Jong Woon dengan membawa sebuah kantong plastik berisi makanan. Dengan bergegas ia melangkah ke depan pintu apartemen kekasihnya dan memasukkan nomor password yang telah ia hafal di luar kepala.

“Oppa,” panggilnya begitu melihat sepatu kerja Jong Woon tergeletak rapi di depan pintu. “Aku bawa makan malam untuk kita.”

Dengan haduk yang masih tersampir di bahunya, Jong Woon menyambut kedatangan Yuri. Mereka sama-sama saling mendekat sebelum akhirnya Jong Woon memberi kecupan kecil di kening gadis itu. “Mengapa lama sekali?”

“Mianhe. Tadi aku sedikit bingung saat membeli makanan.” Yuri berjalan ke dapur untuk menyiapkan makanan yang dibawanya.

Jong Woon berjalan mengekor di belakang Yuri, memperhatikan gerak-gerik gadisnya yang semakin terampil berada di dapur. “Apa yang kau bingungkan?”

“Kupikir orang sakit tidak bisa makan sembarangan, jadi aku menimbang-nimbang sebentar apa yang harus kubeli,” jelas Yuri. “Apa Changmin Oppa sudah menemuimu lagi?”

Raut wajah Jong Woon berubah masam ketika mendengar nama Changmin. “Sudah.”

Yuri menghentikan kesibukannya sejenak. Ia berbalik dan menatap Jong Woon yang tiba-tiba bernada ketus. “Chagiya, waegeurae? Changmin Oppa melakukan hal yang membuatmu kesal?”

“Aniya, hanya ada sesuatu yang menggangguku.”

Tangan Yuri menangkup kedua pipi Jong Woon. Cukup jarang sebenarnya pria itu merajuk seperti ini hingga terlihat aneh di mata Yuri. Dengan menahan senyum Yuri bertanya lagi. “Apa yang mengganggumu, Oppa?”

“Shim Changmin sepertinya menyukaimu.”

Yuri tertawa keras mendengarnya. Tangannya memegangi perutnya yang sakit karena tertawa. Bagi Yuri, ucapan Jong Woon sama sekali tak masuk akal dan logika berpikirnya. “Oppa cemburu pada kakakku?” serunya tak percaya.

“Dia bukan kakakmu,” sangkal Jong Woon seketika. Kedua tangannya terlipat di dada, kesal karena Yuri menganggap remeh opininya. “Menurutmu mengapa dia melakukan semua ini? Membahayakan hidupnya demi menuruti keinginanmu. Kau pikir orang seperti itu tidak mencintaimu?”

“Yoona juga pasti akan melakukan hal yang sama dengan Changmin Oppa,” balas Yuri bersikeras. Ia berbalik, kembali melanjutkan kesibukannya menata makanan yang sempat terhenti. “Changmin Oppa melakukannya karena ia menyayangi Appa, sama seperti aku dan Yoona.”

Jong Woon maju dan merengkuh Yuri dari belakang, menempatkan lengannya di sekeliling bahu gadis itu. “Aku akan memegang kata-katamu. Jangan jatuh cinta padanya, eoh?”

“Nde, Kim Jong Woon-ssi,” jawab Yuri penuh penekanan. Kepalanya menoleh dan tersenyum geli pada kekasihnya itu. “Sudah siap,” katanya memberitahu.

Bibir Jong Woon menyambar dan mengecup milik Yuri sekilas sebelum melepas pelukannya. Diambilnya sebuah nampan yang berisi makanan dan segelas air yang ada di depan Yuri. “Biar aku yang membawanya.”

Yuri mengikuti Jong Woon yang berjalan meninggalkan dapur melewati koridor pendek ke sebuah kamar. Ia mendahului pria itu untuk membukakan pintu kamar yang tertutup karena kedua tangan Jong Woon sibuk memegang nampan, membiarkannya masuk lebih dulu sebelum menutupnya kembali.

***

“Surat penangkapan sudah keluar, Tuan Jaksa.”

Jaksa Lee bergumam singkat dan memutus teleponnya terlebih dahulu sebelum melakukan panggilan lain. “Bersiaplah. Surat penangkapan sudah keluar. Kita akan segera menuju lokasi.”

Dengan satu perintah itu, beberapa orang di kantor kejaksaan bergegas berlarian keluar menuju basement. Jaksa Lee memimpin mereka masuk ke dalam mobil yang segera keluar dari ruang gelap itu. Iring-iringan mobil itu dipimpin oleh Jaksa Lee sendiri, yang menyalakan sirine di atasnya.

Mobil-mobil lain di jalanan menyingkir mempersilakan rombongan itu lewat. Dalam waktu singkat mereka sampai di kawasan elite yang menjadi tempat tinggal Yoona dan keluarganya. Rombongan itu lalu berhenti tepat di depan kediaman keluarga Im.

Di dalam ruang kerjanya, Tae San tengah sibuk memberi instruksi kepada beberapa bawahannya lewat telepon. Semua hal berjalan sesuai rencananya. Bahkan jika kejaksaan menangkapnya dengan tuduhan penyuapan, ia telah memiliki rencana agar bisa lolos dari tuduhan itu.

“Tuan, ada pegawai kejaksaan yang ingin menemui Anda,” suara pelayan rumahnya terdengar dari balik pintu.

“Geurae, bawa mereka padaku,” jawab Tae San tenang.

Im Tae San bangkit dari duduknya dan merapikan pakaian yang ia kenakan. Siapapun yang akan muncul begitu pintu di depannya terbuka, ia takkan gentar. Semua telah ia persiapkan dengan baik.

Sekali lagi pintu ruang kerjanya diketuk, dan dengan satu perintahnya pintu itu terbuka. Beberapa orang masuk membuka jalan untuk Jaksa Lee yang memegang sebuah kertas di tangannya.

“Anda bahkan datang sendiri kemari, Jaksa Lee,” sapa Tae San meremehkan. “Ada yang bisa saya bantu?”

Jaksa Lee menyunggingkan senyum sinis. Tak habis pikir dengan orang di depannya yang terlihat begitu santai walau tahu akan segera diringkus. “Saya harap Anda bisa bekerja sama dengan kami, Presdir Im,” balasnya. Disodorkannya kertas yang ia bawa pada Tae San.

“Tuduhan melakukan penyuapan?” tanya Im Tae San setelah membaca surat yang ia terima. “Saya memiliki alibi kuat kalau saya tidak melakukannya.”

“Anda bisa menjelaskannya di pengadilan nanti, Presdir,” potong Tae San. “Sekarang ikutlah bersama kami.” Tangan Jaksa Lee melambai memberi perintah pada anak buahnya untuk membawa Tae San pergi. Mereka memegangi kedua lengan pria itu kuat-kuat, melenyapkan kesempatannya untuk lari.

Yoon Hae Ra yang baru memasuki ruang tamu terkejut melihat rombongan dari kejaksaan hendak pergi dengan membawa suaminya. “Ada apa ini?”

Jaksa Lee maju mendekati Hae Ran dan bicara dengan suara pelan. “Kami akan membawa Presdir ke kejaksaan untuk diinterogasi lebih lanjut. Saya mohon Anda bisa bekerja sama.”

“Bisakah saya bicara dengannya sebentar?”

“Silakan. Tapi hanya sebentar.”

Setelah mendapat izin Hae Ra berjalan mendekati Tae San. Pandangannya beralih pada dua orang yang memegang lengan suaminya, meminta agar mereka sedikit menjauh. Dua orang itu mundur beberapa langkah, membuat jarak agar tak mendengar pembicaraan mereka.

“Ini hanya sementara. Katakan pada Yuri dan Yoona kalau ayah mereka akan segera kembali,” kata Tae San lirih.

“Benarkah?” Hae Ra memperlihatkan raut sedihnya yang dibuat-buat. “Bagian terbaiknya bukan ini, Yeobo. Tunggulah sebentar lagi. Dan semoga kau tidak terkejut karenanya.”

“Apa maksudmu?”

“Tidak ada. Kuharap kau segera kembali. Aku tak mau merawat anak itu selama sisa hidupku.”

Tae San hanya tersenyum tipis walau ia bertanya-tanya apa maksud Hae Ra sebenarnya. Sayangnya mereka tak punya banyak waktu. Jaksa Lee sudah memberi tanda kalau waktu mereka habis. Tak memberinya kesempatan lebih lama untuk mencecar Hae Ra dengan pertanyaan lain.

Tatapan Hae Ra mengikuti setiap langkah suaminya saat mereka berjalan ke pintu. Sorot matanya berubah penuh kesedihan. Bagaimanapun juga, Tae San tetaplah orang yang ia cintai. Seburuk apapun keadaannya, hatinya tak pernah berubah.

***

Usai makan, Siwon mengantar Yoona pulang berjalan kaki. Tangannya masih setia menggenggam jemari kurus gadis itu. Mereka lebih banyak diam dan menikmati angin dingin Desember.

“Kau merasa kedinginan?” tanya Siwon setelah beberapa saat.

Yoona menggeleng sambil tersenyum. “Ani.”

Bohong, batin Siwon yang jelas merasakan jemari Yoona yang ada di genggamannya terasa seperti es. Namun ia hanya mengangguk mengerti dan memasukkan tangan mereka ke saku mantelnya. “Ini lebih baik.”

“Oppa sangat manis,” Yoona tak bisa menahan senyum bahagianya.

“Aku melihatnya di film-film.”

Yoona tergelak karena kejujuran Siwon. Ia banyak tertawa hari ini. “Oppa, gomawo telah menghiburku. Oppa tak perlu melakukannya. Nan gwenchana,” gumamnya.

“Kita tidak baik-baik saja,” sangkal Siwon. Pandangannya menerawang ke langit yang mulai gelap. “Tapi aku merasa lebih baik saat kita bersama.”

Mereka diam lagi. Sama-sama larut dalam pikiran dan perasaan masing-masing. Interaksi mereka hanya lewat genggaman tangan yang semakin erat. Tepat ketika mereka sampai di depan rumah Yoona, pintu pagar rumah itu terbuka dari dalam. Jaksa Lee yang pertama keluar, diikuti Im Tae San dan beberapa anak buahnya.

“Appa.”

Orang-orang itu berhenti ketika melihat Yoona dan Siwon berdiri menatap mereka di depan pagar. Yoona pun hanya mematung melihat ayahnya diapit oleh dua orang kejaksaan. Tangannya

“Yoona-ya,” gumam Tae San lirih.

“Apa yang terjadi?” Meski telah mempersiapka diri pada kemungkinan-kemungkinan ini setelah memutuskan berada di pihak Siwon, Yoona tetap merasa terkejut melihat ayahnya diseret keluar dari rumah oleh kejaksaan.

Tae San maju selangkah mendekati Yoona, tapi segera ditahan oleh kedua orang yang memegang lengannya. “Masuklah dan temui ibumu. Appa akan segera kembali,” katanya.

“Shireo,” tolak Yoona.

“Kami harus membawa ayahmu,” Jaksa Lee ikut bicara.

Kepala Yoona menggeleng samar, tak percaya akan secepat ini mengingat ia baru saja memberi kesaksian. Ia merasakan sebuah tangan meremas bahunya berusaha memberinya kekuatan.

Im Tae San yang sejak tadi hanya terfokus pada Yoona mulai menyadari ada orang lain yang bersama putrinya. Tatapannya dan Siwon bertemu, membuat sebuah tembok tak terlihat yang memisahkan keduanya. Tae San jelas mengenali Siwon, karena ia selalu mengawasi gerak-gerik keluarga Choi. Yang membuanya terkejut‒dan ia tak menyukainya‒adalah keberadaannya di samping Yoona. Mengira kalau Siwon sengaja mendekati Yoona atas perintah ayahnya untuk membalas dendam padanya.

“Apa yang kulakukan bersama putriku, Choi Siwon?” desisnya tajam.

Yoona jelas terkejut karena ayahnya mengenali Siwon dengan begitu mudah. Bukti yang ingin ia lihat kini terpampang dengan jelas di hadapannya. Bahwa ayahnya memang benar-benar mengitimidasi keluarga Choi dan mengancam keselamatan mereka.

Siwon maju ke depan, membuatnya menjadi pemisah antara ayah dan anak itu. Nalurinya seakan membimbing dirinya untuk menjadi tameng bagi Yoona. Kepalanya lalu mengangguk kecil pada Tae San untuk sekedar basa-basi.

“Kami hanya makan bersama. Anda tak perlu mengkhawatirkan putri cantik Anda ini, Tuan Im. Sebaiknya Anda mengkhawatirkan diri Anda sendiri.”

-To Be Continue-

Tinggalkan komentar

208 Komentar

  1. ayu rahayu

     /  November 3, 2014

    aduh konfliknya makin pelik ini,kasihan yoong,, ah tuan im !
    next ya ,,

    Balas
  2. silvie

     /  November 4, 2014

    akhirnya publish juga ni epep 😃 rahasia” yang slama ini mulai terbongkar, jadi kasian ama yoona😢

    Balas
  3. waaaawww…..
    akhirnya yoonwon baikan dan sama2 lagi…
    uda nunggu lama chap ini…
    seneng banget akhirnya muncul….

    Balas
  4. sangat patut di nanti….alur lambat tapi ga bikin bosannn….

    Balas
  5. lee rae ra

     /  November 8, 2014

    Wahh siwon oppa sekarang udah mulai terbukaa, gak dingin lagi hihi
    Kasian masalah yg dihadepi yoona eonii :((
    Semoga bakalan happy ending deh

    Balas
  6. huhuhuhu makin compicated bgt yaaahhh ceritanya 😦
    next-next next ditunggu kelanjutannya author JJang

    Balas
  7. FF nya benar2 seru bgt saeng
    apalagi saya suka bgt cerita yg punya konflik beginian
    tapi kapan semua masalahnya selesai ya, sepertinya ini ceritanya udh di bagian akhir ya saeng.
    Apalagi appa Yoona sudah di tangkap, ku harap Yoona mau jadi saksi atas ke licikan ayahnya karena hanya Yoona yg bisa menyelesaikan semua masalah org tua Yoonwon
    apalagi Yoona adlh Princess Love appanya pastinya sang appa akan mendengarkan permintaan putrinya. Moga aja eomma Wonppa kembali ke keluarga Choi dan seluruh harta mereka kembali lgi. Ide2 ceritanya pas bgt apalagi Judul Cerita yg saeng buat benar2 pas dan sangat tepat ^_^

    Balas
  8. O ia saeng klo bisa bikin jg ya
    cerita mereka sudah dewasa
    dan seluruh couplenya semuanya pada menikah semua, hehehe………

    Balas
  9. Kasihan Yoona eonni, aku yakin dia pasti merasa serba salah :((
    Buat dia gak menyesali keputusannya ya eonni.. Dan untuk Yoonwon semoga mereka tambah sweettt :*
    Next. Fighting! ^^

    Balas
  10. Ayo saeng cepat di publish ya
    Fighting 45……… ^_^

    Balas
  11. tiaragg1

     /  November 25, 2014

    waww:o yoonaya kasiann jugaa :g , seneng eh yuri mau ngebantuinn yoona mau gimanapun appa yoona haruss di hukum supaya keluarga choi normal lagii 🙂

    Balas
  12. Yeey akhir x di publish jga ni chapter,next yaa min jgn lma lma heheheheheD

    Balas
  13. Aduh makin penasaran sama kelanjutannya deh

    Balas
  14. Bagusss bgt thor…
    oh ya…kalau nexs nya di protecsi gimn q minta pw.nya???
    q gak tau no.hp km

    Balas
  15. Novi

     /  Februari 9, 2015

    Next thor..
    Penasaran abis…

    Balas
  16. Cha'chaicha

     /  Februari 10, 2015

    wow makin seru aja konflik’y, apkh han hye won yg dimaksud yuri?

    Balas
  17. jessica sonelf

     /  Februari 12, 2015

    Ga bisa tidur.. dan alhasil jd baca2 ff yw lagi trmasuk ini hihi..
    gatau knpa ga bosen2 baca ff ini.. suka bgt sama karakter yoonwon remaja yg malu2 kucing tp ttp so sweet nya ga ketulungan wkwkwk..
    ditunggu bgt ka part 12 nya 🙂
    semangaatt 😀 wehehehe

    Balas
  18. minie

     /  April 7, 2015

    keren bgt eon ceritanya..campur aduk..kadang pengen nangis,trs tiba2 jd ketawa sendiri,trs tegang,romantis…aduuuhhhh…g sabar next chap nya…

    Balas
  19. Riinchan

     /  Mei 17, 2015

    br pas smstr 3 kmren q nmu crt ini,,jad ktghn skrg …ini slh st crt yg bgus thor,,lnjut donk thor,,,

    Balas
  20. Riinchan

     /  Juli 3, 2015

    lanjut,thor…kren abiss!! :-p

    Balas
  21. Nonaranun

     /  Juli 6, 2015

    Thor gtw kenapa dicerita ini aku malah suka jo hyun-Donge couple looo ahahaha,,, seru aja mreka

    Balas
  22. woo woo woo konflik bertambah lagi . tuan im menegenal wonpa .

    Ak kasian melihat yoongeob terasa berat skali dia menjalani semua ini untung ajh wonpa mau bersama kembali . ak sangatt penasaran tuan in di bawah itu mau di penjara ap gimana dan apakaha tuan im setuju klw anak.a bersama anak dr tuan choi aduhh paling suka klw konflik.a membawa kedua org tua terasa menarik dan menantang ..

    Nexxt chap 12.a donx autor menunggu menunggu bgt #Smangattyeahh AUTOR 🙂

    Balas
  23. atun rayz

     /  September 24, 2015

    Aaaaaaaa….
    Perasaan cepet banget endnya,,,
    mudah2an masalah yoona ama siwon cepet selesai biar akhirnya mereka happy end…

    Balas
  24. raratya19

     /  Oktober 18, 2015

    semoga ibunya yuri ga bertindak yyyg aneh2 ke yoona, dan semoga segera ditemukan jalan keluarnyya

    Balas
  25. Almira Putri

     /  Januari 28, 2016

    Konflik,konflik,and konflik. Semoga mereka bisa bersabar mengahadapi semuannya.
    Aduh ayah yoona udah tahu , gimana nih ?
    Penasaran banget ama lanjutannya 😀
    Fight terus buat author
    Next chap ya thor . 😀

    Balas
  26. jessica sonelf

     /  Februari 8, 2016

    Test ..

    Kaa dilanjut dongg pleasee.. T.T

    Balas
  27. YoongNna

     /  Februari 25, 2016

    Seneng sh siwon ma yoona gk cmpurin urusan kluarga mreka sma kehidupn pribadi skrg..
    Aduuhh gmn nasib Tn.Im yaaaa apa lg skrg curiga trhdp hubngn yoona ma siwon..
    Kira2 apa rncna yuri ma changmin yaaa curiga kalau Ny. Choi mw dipndhn ma yuri dri kuil..

    Balas
  28. vitrieeyoong

     /  Maret 10, 2016

    Huaaa, puncaknya yaa? Ayah Yoong udah dtangkap.
    YoonWon moment-nya aku suka. Jeongmal.
    Tinggal nunggu ayah Yoong sdar, kluarga Choi berkumpul lgi, Yoong tau klau ibunya adik ayah JooHyun, trus YW brsatu.
    Hanya berharap happy ending!!
    Dtunggu klnjutannya!!
    FIGHTING!!!

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: