[FF] Difficult Love (Chapter 4)

poster

Title

[FF]- Difficult Love : [Episode 4 : Comeback]

||Author: Windi fitri (Id: Windy)||

||Twiteer : @WindiFitrii | Fb :Windi Fitri||

||Poster by Bila maya aleumdaun||

Main cast:

||Im Yoona Choi Siwon Choi Seunghyun (TOP)||

Other Cast:

Byun Baekhyun, Kwon Yuri, Nam Gyuri

Choi Minho, Jung Yonghwa, Lee Ji Eun.

Genre:

||Romance |Melow Drama | Sad | Hurt | School life||

||Rating: 13+||

Backsound:

       (There’s Nothing – Brown Eyed Soul’s Jung Yeop)

(Silent Regrets (Instrument)

                                                 (IU – The story only I didn’t Know)

(49days_Shin jae : Tears Falling Tears)

                                                                            

||disclaimer: jalan cerita murni dan asli pemikiran saya Jika ada kesamaan dalam cerita itu benar-benar tidak sengaja. Disini saya hanya meminjam beberapa nama artis untuk melengkapi cerita. Hope you’ll enjoy this fanfic||

Note : Mungkin untuk episode 4 akan pokus ke Choi Seunghyun.jadi mohon maaf untuk Yoonwon moment nya sedikit kurang. Tapi akan author usahakan episode 5 Yoonwon momentnya di banyakin.

 

***

Seunghyun menoleh ketika ponselnya berdering, lelaki itu lantas segera memutar kursi rodanya, dan mendekat kearah kasurnya. Dengan cepat ia segera mengambil ponselnya, dan ternyata sebuah panggilan masuk dari adiknya –Choi Minho-

Lantas seunghyun menyeret tombol hijau di layar ponselnya. “Yeobosheo?” Ucap Seunghyun memulainya.

“Hyung! Yoona Nuna —“ kata minho menggantung.

Seketika alis seunghyun bertaut bingung. “Wae? Ada apa dengannya?” Tanya seunghyun pada Minho.

Sementara minho, ia seperti tidak sanggup untuk mengatakannya, seunghyun pasti akan sangat hawatir jika ia tahu kekasihnya masuk rumah sakit.

“Ya! Bagaimana dengan Yoona?” Tanya seunghyun, sementara Minho, ia menggigit bibir bawahnya, terlihat ragu untuk mengatakannya.

“Hyung, Yoona Nuna dia—“

Wae? Ada apa dengannya?” Tanya Seunghyun yang kini mulai merasa tak enak.

Nuna dia— dia kecelakaan dan masuk rumah sakit.“

Seunghyun terdiam, tenggorokannya tercekat, dan mendadak tubuhnya melemas. Ponsel yang menempel di telinganya seketika merosot perlahan, laki-laki itu diam sesaat. Tanpa sadar tangannya terangkat, memegang dadanya yang kini merasa sesak.

“Yoong-ya” Gumamnya.

Setetes air mata meluncur begitu saja di pelupuk matanya, Choi Seunghyun, air matanya menitik.

Episode 4 : Comeback.

juli , 19, 2014 ; 15.15 KST

“Hyung! Hyung! apa kau masih disana? Hyung! Kau mendengarku!” sahut minho cemas.

Hyung! Gwenchana!”

Tut…Tut…

Tiba-tiba saja sambungan telpon terputus begitu saja, Minho mengeram “Arggh!!” lantas ia kembali menghubungi Seunghyun. Lama ia menunggu dengan cemas. Tapi pada akhirnya ia hanya mendengar suara operator . sekali lagi ia mencoba untuk menghubungi seunghyun. “Hyung. Kumohon angkat!” Geramnya karena seunghyun tak kunjung mengangkat ponselnya.

“Arrgghh…!!”

Brak…

Lantas begitu saja laki-laki itu memukul stir kemudinya. Soojung yang duduk disampingnya menatap takut kearah Minho. “Oppa, waegeurae?” desis soojung.

Minho menoleh dengan nafas tersengal, “Aku harus kembali ke Busan,” Lirihnya, Soojung mengangguk pelan, “Kalau begitu, aku ikut.” Kata Soojung.

Minho kembali pokus kedepan, lantas laki-laki itu segera menancap gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Backsound (49days_ Jung Yeop : There was nothing)

Sementara itu, Choi Seunghyun, laki-laki itu masih terdiam dalam pikiranya, dan berkali-kali air mata mengalir di pelupuk matanya. Bibirnya bergetar. dadanya bergemuruh. Tangan kekarnya seketika terkepal dengan kencang. Ia lantas mulai bangkit dari kursi rodanya. Perlahan-lahan laki-laki itu mulai berdiri, sedikit sulit. Tapi akhirnya ia mampu untuk berdiri. Seunghyun berjalan pelan setapak demi setapak, hingga kini ia tepat berada di depan sebuah meja rias.

Nafasnya tersengal, ia menatap nanar dirinya sendiri di depan sebuah cermin. Air matanya tak kunjung berhenti. Laki-laki itu merutuki dirinya sendiri. Pikiranya kacau seketika, hatinya begitu sakit.

Wae? kenapa harus terjadi?” lirihnya pelan.

Tubuh seunghyun bergetar begitu hebat, laki-laki itu memejamkan kedua matanya perlahan. Tangannya yang menapak pada ujung meja kini kembali terkepal dengan kencang.

“ARGGGGHHH!!!”

Prangk..!!

Seunghyun memukul cermin itu dengan tangannya yang terkepal. Darah segar kini mulai mengalir di punggung tangannya. Ia lantas kembali membuka matanya. Nafasnya memburu. Laki-laki itu sedikit merintih sakit.

Seunghyun menatap nanar tangannya yang kini berlumuran darah. Perlahan tangannya kembali terangkat, memegang dadanya yang kini benar-benar terasa sakit. Tubuhnya melemas dan pada detik itu juga ia tidak sanggup menompang tubuhnya.

Blugg…

Lantas begitu saja ia tertunduk di lantai dengan air mata yang kini mengalir deras di pipinya.

Juli, 19, 2014 ; 17.45 KST

Sebuah mobil masuk dan melaju di sebuah pekarangan rumah yang terbilang cukup mewah. Mobil itu seketika berhenti, seorang wanita cantik dengan kacamata hitam yang terpakai indah di matanya, membuatnya semakin terlihat mempesona. Gadis itu –Nam Gyuri- Keluar dari mobil tersebut. Gyuri tersenyum tipis menatap sebuah rumah yang kini ada dihadapannya.

“Aku sangat merindukanmu Oppa.” Desisnya lalu diakhiri dengan senyum tipis di kedua sudut bibirnya.

Gyuri lantas berjalan masuk menuju pintu. Tangannya terangkat dan menekan bel. Tak perlu untuk menunggu lama baginya, hingga seorang palayan wanita membukakan pintu untuknya.

“Apa pemilik rumah sedang ada di dalam?” Tanya Gyuri.

“Tuan sedang tidak ada dirumah, satu jam yang lalu dia baru saja keluar. Tapi jika anda ingin bertemu dengan tuan muda, dia sedang ada di kamarnya. Oia, Tuan muda sejak pagi sama sekali belum mengisi perutnya.” Kata pelayan wanita itu yang membuat Gyuri tercengang.

Mwoya?” Pekik Gyuri. “Aissh…! Pria itu, baiklah tolong siapkan makanannya Ne?” Pinta Gyuri, pelayan itu mengangguk.

Gyuri berjalan menaiki anak tangga, di tangannya terdapat sebuah nampan yang sudah tersedia sepiring makanan dan segelas air putih. Gyuri berjalan hati-hati menuju sebuah kamar, kamar itu tak terkunci malah sedikit terbuka.

Gyuri sedikit melirik kondisi di dalamnya, kondisi ruangan itu terlihat sepi. Gyuri kembali mendekat. Dan mulai membuka lebar pintu kamar Seunghyun. Matanya menangkap seunghyun yang kini tertunduk lemas di lantas. Gyuri merenyitkan dahinya bingung.

Oppa, apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Gyuri. Seunghyun tak menjawab, laki-laki itu hanya diam, seolah berpura-pura tuli menaggapi pertanyaan Gyuri. Gyuri kembali mendekat kearah seunghyun.

Dan pada saat itu juga, gadis itu melebarkan mata sipitnya karena melihat darah di punggung tangan Seunghyun. dengan cepat, ia meletakan nampan itu di atas meja dengan asal.

Gyuri mendekat. Ia lantas berjongkok di depan seunghyun dan dengan cepat ia meraih tangan kekar seunghyun. Gadis itu menatap hawatir pada Seunghyun, ia menelan salivanya.

“Oppa, apa yang terjadi?” Tanya Gyuri cemas. Seunghyun tak menjawab, ia malah memalingkan pandangannya seolah-olah ia tidak ingin memandang gadis yang kini ada di hadapannya.

Seunghyun menghempaskan tangan Gyuri, Gyuri terkesiap dengan sikap seunghyun, lantas, laki-laki itu menoleh dan menatap tajam kearah Gyuri. Gyuri sedikit takut.

“Untuk apa kau datang!” Gyuri terdiam, ia menghela nafas. Dan kembali gadis itu meraih tangan Seunghyun, “Oppa, tangan—“ Seunghyun kembali menghempaskan tangan Gyuri dengan kasar.

“Lebih baik kau keluar dari kamarku.” Desis Seunghyun dan masih menatap tajam kearah Gyuri. Mata Gyuri kini terlihat basah. Genangan air mata kini dapat terlihat jelas menggenang di pelupuk matanya. Gyuri sedikit membuka mulutnya dan menadahkan kepalanya. Ia menutup matanya. Dan beberapa detik kemudian ia kembali membuka matanya. Menatap seunghyun dan tersenyum kearahnya.

“Oppa, akan kuambilkan obat luka terlebih dahulu Ne.” Gyuri pun bangkit, ia berbalik dan mulai berjalan keluar pintu.

“Aku tidak butuh bantuanmu, Gyuri-ya.“ Ungkap Seunghyun dan berhasil membuat Gyuri menghentikan langkahnya. Gyuri terdiam sejenak. Tanpa sepengetahuan Seunghyun, gadis itu menitikan air matanya. Ia menangis. Menangis dalam diam.

Gyuri kembali melanjutkan langkahnya, dan kembali melangkah.

Choi Seunghyun, laki-laki itu tak perduli atas sikap dan perlakuannya terhadap Gyuri, baginya Gyuri adalah penyebab dari semua masalahnya. Karena gadis itu ia dipaksa untuk menikah. Karena gadis itu ia terpaksa harus meninggalkan gadis yang dicintainya, karena gadis itu kakinya cacat. Semua karena gadis itu. Gadis yang tidak tahu diri. Yang dengan mudahnya mengobrak ngabrik alur kehidupannya. Seunghyun membenci gadis itu. Ia sangat membenci Gyuri, gadis yang dengan sekejap menghancurkan kehidupannya. Sial!

Gyuri kembali menghampiri Seunghyun, dengan membawa beberapa Obat luka. kembali berjongkok di hadapan Seunghyun, Seunghyun memalingkan pandangannya.

Sejenak Gyuri menghela nafas, dan perlahan tangannya hendak meraih tangan Seunghyun, tapi laki-laki itu malah menjauhkan tangannya. Gyuri terdiam.

Oppa, Kumohon izinkan aku untuk membersikan lukamu. Kumohon.” Lirih Gyuri. Air mata yang sadari tadi ia tahan, kini tumpah sudah, -Nam Gyuri- air matanya mengalir.

“Percuma saja kau menangis di hadapanku. Jangan membuang energimu, pergilah.”

“Oppa!” desisnya pelan.

“Keluar!!!” Gertak Seunghyun. Gyuri menyerah, gadis itu kini mulai terisak. Ia mulai bangkit, hatinya sangat sakit atas segala perlakuan seunghyun terhadapnya. Kali ini ia benar-benar tidak sanggup menghadapi sikap kasar seunghyun terhadapnya.

Sementara itu, seorarang pria yang berumur diatas kepala lima, kini tengah berdiri tegap di depan pintu kamar Seunghyun, laki-laki itu mengepal kedua tangannya dengan keras, kelakuan putranya kembali membuatnya naik pitam.

“Sampai kapan? Eoh! Sampai kapan kau akan memperlakukanku seperti itu. Kau jahat! Oppa! kau benar-benar jahat!”

Gyuri berbalik dan menutup mulutnya yang kini terisak begitu hebat. Tapi seketika ia menghentikan langkahnya, karena melihat Choi Wooshik [Ayah dari Choi Seunghyun] Kini tengah menatap geram kearah Seunghyun. Wooshik menoleh pada Gyuri.

Gyuri sedikit menundukan kepalanya, dan mencoba untuk mengontrol tangisannya. Tapi ternyata usahanya sia-sia. Hatinya terlanjur sakit, lantas dengan cepat gadis itu segera berlari keluar dari kamar Seunghyun. Dan tak memperdulikan Wooshik yang kini menatap naas kearahnya.

Perlahan ia mendekat kearah Seunghyun. Ia menunduk di hadapan Seunghyun. Seunghyun menoleh sinis pada sang ayah.

“Kenapa kau bersikap seperti itu padanya?”

Seunghyun tak menjawab, ia masih menatap sinis kearah sang ayah. Tangan Wooshik terkepal.

Wae? JAWAB AKU!!!”

Bukk…! Satu pukulan berhasil mengenai pipi senghyun, Seunghyun memegang pipinya. Sedikit merasa sakit. Ia menoleh kearah sang ayah yang kini menatap tajam kearahnya.

“Pukul aku! Pukul lagi! Ayo!” Ucap Seunghyun menantang. Wooshik menggeram, dan di dia—.

Buk!!!

Kembali satu pukulan mengenai pipi seunghyun, sudut bibirnya kini mengeluarkan darah, Seunghyun menyekanya. Dan kembali menatap Wooshik dengan sinis.

“Di dunia ini, kurasa kau adalah ayah yang sangat kejam. Menjual anaknya demi uang, membuat anaknya menjadi cacat. Dan membuat kehidupan anak kandungnya menjadi hancur! Kau! Bagiku kau sangat egois. Kau kejam!! Appa! Kau sangat kejam!!”

“Kau —“

“Appa! Hentikan!”

Minho dan Soojung tiba-tiba saja muncul di depan pintu kamar seunghyun. Wooshik yang ketika itu hendak melayangkan pukulan tiba-tiba saja menghentikan aksinya. Lantas keduanya menoleh.

“Minho-ya,” Desis Seunghyun. Minho menoleh sejenak pada seunghyun yang kini wajahnya sudah terlihat memar dan terluka. Ia menatap geram pada sang ayah. Wooshik pun bangkit dan mendekat kearah minho. Soojung yang kini ada di belakang minho, segera berlari menghampiri Seunghyun.

“Oppa! apa kau baik-baik saja? Astaga tanganmu, Ayo Oppa, biar kubantu?”

Soojung pun membantu seunghyun untuk berdiri. Soojung mendudukan seunghyun di tepi ranjang. Wanita itu dengan cepat mengambil kotak obat yang kini ada di lantai. ia pun kembali menghampiri Seunghyun.

“Biar ku obati Oppa.” Pinta Soojung, seunghyun tak menjawab. Ia hanya diam dan tersenyum pada soojung.

Appa! Cukup! Hentikan semua ini! kau sudah sangat keterlaluan. Appa! Kumohon izinkan Seunghyun Hyung untuk memilih kehidupannya sendiri. Kau jangan lagi memaksakan kehendakmu hanya karena uang! Cukup Appa! Cukup. Kumohon hentikan!”

“Yak! dasar kau—“ Wooshik hendak melayangkan tangannya. Tapi dengan cepat Minho menahannya. Laki-laki itu mengepal pergelangan tangan Wooshik dan menatap tajam kearah sang ayah.

“Appa! Apa kau tidak cukup puas membuat Seunghyun hyung seperti itu? Karenamu dia cacat! Apa kau tidak pernah merasa bersalah mengenai itu! Appa! Berhentilah menyakiti Seunghyun Hyung! Dan—“

“Minho-ya,” Panggil seunghyun seketika. Minho menoleh, nafasnya tersengal, “Jangan ikut campur,” lanjut Seunghyun, dan menatap kearah Minho. Soojung yang kini tengah mengobati luka seunghyun seketika terdiam, dan menatap seunghyun nanar.

Wooshik menghela nafas, laki-laki berumur itu lantas menghempaskan tangan minho dengan kasar dan setelah itu ia segera pergi dan keluar dari kamar Seunghyun. Minho terdiam. Dan ia pun mengacak rambutnya frustasi.

“Aww…” Ringis Seunghyun ketika Soojung kembali mengobati lukanya.

Minho menoleh pada Soojung, “Chagiya, setelah ini aku akan kembali mengantarmu ke seoul,”Kata Minho, Soojung menoleh, mengangguk dan tersenyum kearah Minho.

***

Juli 20, 2014 ; 07.15 KST

 

Siwon Pov

Ketika aku terbangun, gadis itu masih belum membuka matanya.Yoong-ya, sampai kapan kau akan menutup matamu seperti itu? Membuatku takut terus-menerus, aku merindukanmu. Merindukanmu sosok gadis yang kini telah menjadi miliku. Tidakkah kau rasakan itu?

“Mianhaeyo, aku bukanlah sosok pria yang bisa melindungimu. Aku lengah dan menyebabkan mu terbaring lemah seperti ini. “

kembali kurasakan air mataku mengalir kembali, merasakan sakit dan pedih dalam hati. Aku tertampar, Melihatmu seperti ini membuatku merasa sakit dan teramat sakit.

Ku usap linangan air mataku dengan lengan tanganku. Sebuah air mata yang mengampu banyak makna. Ku raih tangannya dan ku cium lembut punggung tangan itu dengan segenap cinta.

“Yoong-ya, Nanjongmal bogoshipoyo,”

 

“Yoong-ya!” Siwon menoleh, seorang gadis tiba-tiba saja menyeru nama Yoona dan masuk begitu saja kedalam ruangan itu, Siwon berdiri dan menatapnya heran, gadis itu menatap siwon sekilas, lalu kembali menatap Yoona yang kini terbaring di samping Siwon.

gadis itu –Kwon Yuri- menutup mulutnya yang sedikit terbuka, dan dapat terlihat matanya mulai terlihat basah, dan—air mata mulai menetes di pelupuk matanya.

Siwon memiringkan sedikit kepalanya, “Chogiyo— anda siapa?” Tanya Siwon pada wanita itu.

Yuri menoleh kearah Siwon “Kau siapa? Wae yeogi geojyo?” Gadis itu mengabaikan pertanyaan siwon dan malah berbalik bertanya pada Siwon. (Mengapa kau bisa ada disini?)

Mwo! Naega?,” Siwon menunjuk dirinya sendiri, Yuri sedikit mengangguk,

Naneun geunyeoui nampyeon- ibnida, Ya! Kau belum menjawab sama sekali pertanyaanku, kau siapa? Jelas Siwon dan kembali bertanya pada Yuri, Yuri terlihat sedikit kaget, dengan pernyataan siwon. (Aku adalah suaminya,)

Mwo! Nampyeon?” (Apa! Suami?”)

“Ye, waeyo?”

“Anianiyo, Ah! ye, aku Kwon Yuri, teman yang sangat dekat dengan Yoona, “ Jawab Yuri dan sedikit tersenyum tipis kearah Siwon.

“Ah! senang bertemu dengan anda, Yuri-ssi,” Sambut siwon, dan tersenyum tipis kearah Yuri.

Yuri kembali menoleh kearah Yoona yang kini masih terbaring gadis menatap nanar pada Yoona. Ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang tuhan rencanakan pada Yoona, sehingga tuhan memberikan cobaan yang begitu berat terhadap Yoona.

Yuri kembali menoleh kepada Siwon. “Siwon-ssi, bisakah kita bicara sebentar?” Ajak Yuri.

Siwon sedikit melebarkan mata sipitnya, “Nde?” Sahut siwon.

“Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan mengenai Yoona, Bisakah?”

Siwon mengangguk mengiyakan, “Baiklah, ayo kita bicara. Tapi aku tidak bisa meninggalkan ruangan ini. “

Arasheo, kita bicara di ruangan ini.” Kata Yuri.

Yuri dan siwon mendudukan dirinya di atas sofa yang terletak di ruang rawat Yoona. Keduanya duduk saling bersebrangan. Sejenak Yuri menghela nafas, dan sedikit tersenyum kearah Siwon.

“Aku tidak tahu bagaimana bisa Yoona menikah denganmu, tapi aku sangat berterima kasih untuk itu. Siwon-ssi, kau menyelamatkan Yoona. Dan Kuharap kau bisa benar-benar menerima keadaan Yoona yang tengah mengandung darah daging laki-laki lain.”

Siwon menatap Yuri. “Aku tidak pernah merasa bahwa aku telah menjadi penyelamat untuknya. Aku mencintainya. Dan aku juga bersedia menjadi ayah dari anak yang di kandungnya. tapi—“ Siwon menggantungkan kata-katanya. Yuri mendelik. “Tapi apa?”

“Tapi kurasa aku tidak akan menjadi Ayah— itu karena Bayi yang ada di dalam kandungan Yoona keguguran, gadis itu mengalami keguguran paska kecelakaan kemarin. bakhan— “ Siwon menghela nafas, “Bahkan mungkin aku tidak akan pernah menjadi ayah.” Lirih Siwon.

Alis Yuri bertaut bingung. “Apa maksudmu Siwon-ssi?”

“kecelakaan itu bukan saja merenggut nyawa bayi yang ada di dalam kandungannya, tapi Juga rahimnya, Dokter terpaksa mengangkat rahim Yoona karena benturan yang cukup keras mengenai tepat pada rahimnya. Jika rahimnya tidak di angkat mereka takut bahwa akan terjadi infeksi pada rahim Yoona. “ Jelas Siwon, mulut Yuri sedikit terbuka, ia lantas menutup mulutnya dengan tangannya.

“Ja— jadi?”

Siwon mengangguk. “Ne, itu benar. “

Mendadak Tubuh Yuri melemas. Dan kini matanya pun mulai basah. Hingga satu tetes air mata mengalir begitu saja di pelupuk matanya. “Hahh.. Wae? Kenapa harus terjadi?” Gumam Yuri. Sementara Siwon, laki-laki itu menunduk.

Sregg…

Pintu ruangan kamar rawat Yoona seketika terbuka, Siwon dan Yuri menoleh, Im Haneul [Ibu dari Im Yoona] seketika wanita itu mematung dan diam menatap Yuri. Siwon dan Yuri lantas berdiri dan membungkukan kepalanya.

Annyeong, lama tidak bertemu.” Ucap Yuri dan sedikit tersenyum kearah Haneul. Haneul mendesah, wanita itu lantas tersenyum dan berjalan kearah Yuri. Tapi sebelum itu ia menyimpan bawaannya di atas meja.

“Astaga ternyata kau.Yuri-ya,” Ujar haneul dan tiba-tiba saja menghambur memeluk Yuri. Yuri tersenyum tipis, ia membalas memeluk haneul. Siwon yang melihatnya hanya bisa diam dan sedikit tersenyum menatap keduanya.

Haneul melepaskan pelukannya dan mengusap rambut Yuri. “Silahkan duduk,” Ujar haneul. Yuripun kembali duduk, begitupun dengan haneul.

Aigo, aku hampir lupa. Siwon-ah, kau belum tahu siapa dia kan, dia itu adalah Kwon Yuri, teman yang sangat dekat dengan Yoona. Dia bukan hanya dekat dengan putriku saja, tapi aku juga sudah menganggap dia sebagai putriku juga.” Cerita Haneul, dan membuat laki-laki tampan berlesung pipit itu kembali menyunggingkan senyum.

Ne, sepertinya memang hubungan kalian benar-benar terlihat sangat dekat.” Aku siwon. Yuri kembali tersenyum Tipis.

“Ne, aku sengaja kembali ke korea, karena aku ingin bertemu dengan Yoona, dan yeah! Aku sangat merindukannya, tapi— Baru saja aku melihatnya, kondisinya sudah seperti ini. “ Yuri menatp Yoona yang kini masih terbaring lemas di atas ranjang dengan berbagai selang yang menempel di tubuhnya.

Haneul mendesah dan lagi-lagi wanita itu menunduk. Raut wajahnya kini kembali sedih, Siwon yang melihat ekspresi sedih kedua wanita itu.tidak bisa berbuat apapun. Lantas begitu saja ketiganya bungkam.

Haneul menoleh pada siwon. “ Siwon-ah, sebaiknya kau pulang terlebih dahulu keapatermenmu, lihatlah keadaanmu. Kau sangat kacau. Sebaiknya kau bersihkan tubuhmu.”

Siwon menoleh, “Nde?”

“Pulanglah terlebih dahulu. Kau tenang saja. Ada aku dan Yuri yang menjaga Yoona. “ Kata Haneul, Yuri tersenyum kearah Siwon.

“tapi—“

“Sudahlah kau tidak perlu hawatir. Sekarang lebih baik kau urus penampilanmu itu. Dan jangan lupa untuk mengisi perutmu. “

Siwon mengangguk. “Arasheo…”

Siwon bangkit dan mulai berjalan keluar ruangan, laki-laki itu menarik bandle pintu. Kembali berbalik menatap Haneul dan Yuri. Sesaat sebelum ia pergi, siwon menundukan kepalanya terlebih dahulu. Dan setelah itu ia kembali menutup pintu dan melangkah pergi.

Saat laki-laki itu berjalan, tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya. Menghela nafas berat dan kembali ia menunduk. Siwon kembali menatap Lurus, laki-laki itu lantas memasukan kedua tangannya pada saku jasnya. Dan setelah itu ia kembali berjalan, menyusuri lorong rumah sakit.

Siwon mulai melangkah memasuki basement, laki-laki itu berjalan lurus, dan langkahnya berhenti tepat di depan sebuah mobil Mercedes-Benz berwarna silver. Siwon pun berjalan mengitari mobil itu. Dan mulai masuk kedalam mobil. Ia menarik Satebelt nya. Dan setelah itu ia mulai melajukan mobilnya keluar dari basement.

[Backsound : ost 49dasy “Shinjae – Falling Tears”]

 

Cold tears keep shedding, falling non stop,

My hear hurts because of you and it keeps

Hurting

One days that I miss you, days like these,

Because I missing you

My tears are falling again.

 

Seunghyun pov

 

[Aku terlalu mencintainya. Ternyata, berlebih-lebih…]

Aku mengingatmu lagi. getaranya menggemuruh dalam dadaku, masihkah kau disana? Menantiku dan hanya mencintaiku? Andai kau tahu, disini aku tenggelam dalam kerinduanku padamu, berlebih-lebih tak menyisakan ruang kosong dihatiku untuk menorehkan yang lain. sekian detik, sekian menit. Bahkan setiap waktu, pikiranku selalu melayang akan imajinasi tentangmu. Yoong-ya, Disini aku gila karenamu. Karena kau tak disisiku. Ingin rasanya aku berlari dan datang menghampirimu, memelukmu untuk menghilangkan segala kerinduan dan kepenatan hari-hari yang sepi tanpamu. Menatap senyumu, itu cukup bagiku. Aku ingin dan sangat ingin memelukmu. Yoong, dengarkan aku? Aku kering lelah dan terputus.

Kapankah aku bisa kembali memelukmu. Im Yoona, apakah kau ini real? Atau imajiner. Aku tak bisa menyentuhmu. Sekarang, kau seperti bayangan yang kini hadir di hadapanku.

Genggam tanganku. Kasih, aku tidak ingin terputus. jangan lepaskan, genggamlah terus dan rasakanlah energi kerinduanku padamu.

Yoong, apa kau masih disana? Masihkah kau di tempat yang sama, dengan rasa yang sama. Mencintaiku dan hanya tetap mencintaiku?

Aku lelah, lelah jika harus terus menerus berlari. Ingin rasanya aku datang kepadamu untuk mengisi semangat lagi. sekarang, aku kering tersesat di timba raya.

Tentang makna pedih yang sebenar-benarnya…

Tentang makna tangis yang sebenar-benarnya..

Dan tentang makna perih yang sebenar-benarnya…

 

Minho membuka pintu kamar seunghyun dengan pelan, terlihat laki-laki itu kini tengah berbaring dan masih menutup matanya. Minho tersenyum, dan ia hendak menutup kembali pintu tersebut.

“Bisakah kau membatuku sekali lagi,”

Minho menghentikan aksinya, “Hyung, kau sudah bangun?” Tanya Minho pada Seunghyun.

Seunghyun tiba-tiba saja membuka kedua matanya, membenarkan posisinya hingga kini ia terduduk di atas ranjang. “Masuklah,” pinta seunghyun.

Minho masuk, dan menutup pintu kamar tersebut. ia berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang.

“Kau ingin aku melakukan apa Hyung?” Tanya Minho. Sejenak Seunghyun terdiam, “ Tiga hari lagi, hidupku akan benar-benar hancur. Minho-ya besok malam, bantu aku untuk bisa keluar dari rumah ini. aku tidak ingin gagal seperti pelarianku sebelumnya. Minho-ya, kali ini aku mohon.” Pinta Seunghyun pada Minho.

Minho terdiam sesaat, “Arasheo, tapi—“

“Kali ini, kumohon Minho-ya,

Wooshik mematung. Laki-laki itu masih bertahan dalam diam , berdiri menatap kosong ke arah luar jendela. Pikirannya kembali melayang akan peristwa dua bulan yang lalu, dimana dengan bodohnya ia malah menembakan peluru tepat di kaki sang putra [Choi Seunghyun].

Sejenak Wooshik menutup kedua matanya. Ia diam.

Flashback : Mey, 10, 2014 ; 09.15 KST

“Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menikah dengannya!”

Wooshik menoleh sinis, “Apapun alasanya kau harus tetap menerima perjodohan ini, ini demi perusahaan. Kau mengerti!”

Seunghyun menghela nafas kasar, ia balas menatap sang ayah dengan sinis. Tangannya terkepal, “Aku tidak peduli! Dan jangan pernah memaksaku!!”

Brakk!!!

Seunghyun membanting pintu dengan kencang. Wooshik mengeram, lantas ia membuka laci meja kerjanya dan mengambil sebuah pistol.

“CHOI SEUNGHYUN!!” wooshik berteriak dan kemudian ia mengejar Seunghyun. Choi Seunghyun, laki-laki itu dengan cepat menuruni anak tangga dan berlari keluar. Saat tiba di depan pintu, ia dihalang oleh dua orang pria.

“KALIAN BERDUA! TAHAN DIA!” Titah Wooshik yang berteriak di atas tangga. Kedua pria itu menurut dan menjegat seunghyun. Seunghyun menoleh kepada sang ayah yang kini masih berdiri di atas tangga dengan nafas tersengal.

“Appa! Kau pikir kedua orang ini bisa menghalangiku? Kau salah!”

Buk…

Dengan gerakan cepat seunghyun melayangkan satu pukulan tepat di wajah salah satunya. Pria ber jas hitam itu meringis dan tersungkur di lantai. lalu pria berjas hitam yang kedua hendak melayangkan pukulan, tapi dengan cepat laki-laki itu menangkisnya, dan seunghyun malah memukul balik dengan satu tangannya. Wooshik mengeram, dengan cepat ia segera menuruni anak tangga.

Setelah urusannya selesai, seunghyun kembali berjalan cepat keluar dari rumah itu. Wooshik tak tinggal diam, ia mengejar Seunghyun.

“Choi Seunghyun berhenti!!” Teriak Wooshik ketika dirinya sampai di bibir pintu. Seunghyun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap sang ayah. Seunghyun berkacak pinggang dan menghela nafas kasar. Ketika ia melihat bahwa sang ayah kini tengah mengarahkan sebuah pistol tepat kearahnya.

“Kau mau menembakku?” Tanya seunghyun dengan sinis.

“Selangkah saja, akan ku pastikan peluru ini akan mengenaimu. Kau tidak ingin mati bukan, Anakku!” Ucap Wooshik menekankan kata anakku.

Seunghyun memiringkan kepalanya, “Aku tidak peduli,”

Seunghyun pun berbalik, dan kembali melangkah cepat, ancaman wooshik ternyata tidak mempan baginya, Wooshik naik pintam.

“Choi Seunghyun!!!”

Duarrr….

Satu tembakan tepat mengenai kaki kirinya, Seunghyun melemas, laki-laki itu ambruk seketika. Darah segar mulai mengalir di kakinya, Seunghyun merintih.

Wooshik terdiam, lantas begitu saja pistol yang di genggamnya terjatuh. Tubuhnya melemas, tangan nya bergetar.

Blug.

Wooshik pun ambruk dalam keangkuhannya. Ia tertunduk di lantai, “Apa yang telah kulakukan?” Gumamnya dan merutuki kebodohannya.

 

Tok…Tok…Tok..

Seketika lamunanya buyar karena seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya, Wooshik mendesah. “Masuk…” Kata Wooshik sedikit berteriak.

“Ini aku, Appa.” Wooshik menoleh, terlihat minho kini tengah berdiri di depan pintu.

“Kau, masuklah Minho-ya,“ Suruh Wooshik, dan minho pun berjalan masuk.

Minho berjalan mendekat kearah wooshik yang kini masih berdiri menatap keluar jendela.

Appa? “ panggil Minho.

“Ada apa?” Tanya Wooshik, tanpa menatap minho. Minho mendesah. “ Kumohon, hentikan semua ini.” Ujar Minho, Wooshik menoleh dan menatap tajam kearah Minho.

“Appa, aku mohon. Jangan buat Seunghyun Hyung menderita, dia sangat mencintai kekasihnya, dan aku sangat tahu akan hal itu. Appa, jangan paksa Seunghyun Hyung untuk menikah dengan Gyuri Nuna, dan—“

“keputusanku tidak akan pernah berubah, Minho-ya.” Potong Wooshik ,Minho mengatup kan bibirnya “Ta, tapi—“

“Aku tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan permintaan konyol mu itu, lebih baik sekarang kau keluar. “Cetus Wooshik, Minho mendesah dan kembali menatap tajam kearah sang ayah . “Appa— Kau sangat egois. “ Timpal Minho, dan kemudian laki-laki bermarga Choi itu keluar dari ruang kerja Wooshik.

Brakk…!!!

OoO

Siwon membuka pintu kamarnya, perlahan laki-laki itu mulai masuk, ia mendudukan dirinya di tepi ranjang, tangannya terangkat, mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Dan kembali menatap kosong. Pandangannya teralihkan, menatap sebuah foto figura yang tertata indah di atas nakas. Siwon meraihnya, menatapnya dan tersenyum getir. Ia mengusap foto tersebut.

“Kenapa? Kenapa harus terjadi?” desisnya parau.

Siwon meletakan kembali figura tersebut di atas nakas. Perlahan laki-laki itu mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Hingga pada akhirnya, ia mulai menutup kedua matanya. Pelahan, hingga laki-laki itu mulai tertidur.

I’m running out of words, dazed in the morning.

‘About a fact yeah!”

 

Siwon terbangun dari tidurnya, siwon bangkit, dan duduk di tepi ranjang. Laki-laki tampan itu tampak terlihat sedang memijit pelipisnya. Kepalanya terangkat, menoleh pada jam dinding yang tergantung di sebelah pintu kamarnya. Seketika mata sipitnya terbuka lebar karena jam kini sudah menunjukan pukul setengah satu siang, astaga rupanya laki-laki itu –Choi Siwon– Tertidur selama beberapa jam.

Aigo, kenapa aku bisa tertidur.” Gumamnya merutuki dirinya sendiri.

–Choi Siwon– laki-laki itu bangkit dan berjalan kearah lemari. Membuka jas dan pakainya, lalu mengambil sebuah kaos oblong berwarna putih, ia memakainya. Tangan kekarnya kembali meraih sebuah jas berwarna hitam. Dan kembali ia memakai jas tersebut.

Siwon menutup pintu lemarinya. Lantas begitu saja ia berjalan keluar.

Saat kakinya berhenti di depan pintu. Siwon mendesah, sepertinya ia melupakan sesuatu. Yeah! Laki-laki itu memang benar-benar telah melupakan sesuatu. Ia lupa membawa beberapa pakaian Istrinya sendiri. Siwon menepuk keningnya. Lalu ia berbalik dan kembali berjalan menuju ke kamarnya.

Siwon membuka pintu lemari. Dan mengambil beberapa helai pakaian yang ia masukan kedalam sebuah tas. Setelah merasa cukup. Laki-laki itu kembali menutupnya. Dan bergegas pergi dengan sebuah tas di tangan kirinya.

 

 

Siwon terlihat berlari di lorong rumah sakit, saat ia hendak berbelok, laki-laki itu hampir saja menabrak seorang pasien laki-laki tua yang tengah duduk di kursi roda, merasa bersalah siwon pun membungkukan badannya dan meminta maaf atas ulahnya yang ceroboh.

Mianhae.. Mianhaeyo…” sesal siwon, dan setelah itu ia kembali berlari menuju ruang rawat dimana istrinya berada.

Siwon kini sudah sampai di depan kamar rawat Yoona, lantas laki-laki berlesung pipit itu bergegas masuk. Dan mendapati Istrinya masih terbaring dan belum sadarkan diri. Ruangan itu kosong. Siwon merenyitkan dahinya, “Kemana Mereka?” desisnya.

Siwon berjalan masuk, ia menarik kursi dan mendudukinya. Siwon menggengam tangan Yoona, mengusapnya secara perlahan.

Clekk…

Siwon menoleh ketika mendapati Baekhyun baru saja keluar dari kamar mandi.

“Hyung, kau rupanya,” Seru baekhyun dan berjalan kearah sofa.

“Aku pikir tidak ada siapa-siapa, rupanya kau disini. Oya, dimana Eommonim?” Tanya siwon pada baekhyun. “ Eomma, pergi. di bilang dia harus kembali kerumah, besok pagi dia akan kembali.” Jelas baekhyun. Siwon yang mendengar penjelasan baekhyun hanya menganggukan kepalanya.

Siwon kembali menatap Yoona, tangan kanannya terangkat, sementara tangan kirinnya masih menggenggam tangan Yoona. Siwon merapikan rambut Yoona, mengusapnya secara perlahan. Setelah itu, ia sedikit tersenyum.

Sementara baekhyun, laki-laki imut itu mendudukan dirinya di atas sofa, baekhyun terlihat sedang memijit pelipisnya. “Aigo, kenapa rasanya sakit sekali,” Gumam baekhyun.

Siwon menoleh, “Gwenchanayo?”

Baekhyun mendongkak “Ne?”

Ani, gwenchana. “ Lanjutnya. Siwon mengangguk paham, dan kembali ia menatap Yoona. Sadari tadi, tangannya tak lepas menggenggam dan mengusap punggung tangan Yoona.

Siwon meletakan punggung tangan Yoona di pipinya, “Yoong-ya, sadarlah…” Desis siwon.

siwon mencium hangat, mengusap dan kembali menempelkan punggung tangan Yoona di pipinya.

Jari jari Yoona bergerak, Siwon terkesiap, ia menelan salivanya. “Yoong-ya,” Desisnya, perlahan gadis itu mulai membuka matanya, perlahan-lahan hingga kini gadis itu –Im Yoona– membuka matanya, terlihat sayu. Yoona menoleh pada Siwon, gadis itu tersenyum getir.

Yeobo-ya, kau sudah sadar…”desis Siwon, nafas siwon tersengal, laki-laki itu memandang Yoona tak percaya, ia tersenyum senang. Lantas ia segera bangkit dan berjalan keluar.

“Hyung, kau mau kemana?” Tanya Baekhyun dan menghentikan langkah siwon.

Siwon tersenyum senang, “ Aku ingin memanggil dokter,” Kata siwon bersemangat dan segera memanggil dokter. Baekhyun masih bingung dengan apa yang siwon katakan, memanggil dokter? Memang ada apa? Pikirnya.

“Ba…Baekhyun-ya, “ Desis Yoona pelan, samar-samar baekhyun mendengarnya, ia lantas menoleh pada Yoona, Bakhyunpun bangkit dan berjalan kearah Yoona. Matanya terbelalak, ia lantas menarik kursi dan mendudukinya. “Yoona Nuna?” Gumam baekhyun, Yoona tersenyum tipis di balik alat pernafasan yang terpasang di hidungnya [?].

Baekhyun tersenyum lega, dan tepat pada saat itu juga. Pintu ruangan itu terbuka. Siwon masuk kedalam ruangan itu. Dengan diikuti seorang dokter pria. Dokter itu tepat berdiri di samping Yoona. Lantas sang dokter langsung memeriksa keadaan Yoona. Untuk beberapa saat Suasana hening.

“Bagaimana keadaannya dokter?” Tanya Siwon memastikan.

“Keadaannya sudah mulai membaik, tapi saya sarankan untuk beberapa hari harus tetap menjalani rawat inap.” Terang dokter tersebut. Siwon mengangguk paham, “Ne, arasheo.”

dokter kim membungkukan kepalanya, “Kalau begitu, saya permisi.” Siwon menunduk. Dan dokter kim pun melangkah pergi dari ruangan itu. Siwon menarik kursi dan mendudukinya, ia kembali meraih tangan Yoona dan menggenggamnya. Dengan hangat ia mencium punggung tangan Yoona, mengusapnya dan tersenyum kearah Yoona. “Gomawo, Yeobo-ya,” Desis Siwon dan kembali mencium hangat punggung tangan Yoona. Yoona, gadis itu kembali tersenyum tipis.

“bagaimana dengan kandunganku? Bayiku? Apa dia baik-baik saja?” Tanya Yoona dengan suara parau. Air muka siwon mendadak berubah, laki-laki itu menoleh pada baekhyun. Baekhyun tidak tahu harus menjawab apa, laki-laki itu bingung, sama halnya dengan siwon. keduanya terdiam.

Wae? waeyo?” desis Yoona. Siwon dan baekhyun masih diam.

Perlahan tangan gadis itu terangkat, mengusap perutnya yang kini benar-benar rata. Yoona merasakan hal ganjal, ia menatap siwon. “Apa yang terjadi? Bayiku! Ada apa dengan bayiku!” Tanya Yoona cemas.

Ye-yeobo-ya, aku bi—“

“Katakan padaku? Kandunganku? Apa yang terjadi? Katakan!” desis Yoona terdengar sinis. Mata Yoona mulai terasa panas. Dan genangan air mata mulai mengumpul di iris matanya.

Siwon kembali diam, ia tidak tahu harus berkata apa, haruskah laki-laki itu mengatakan yang sebenarnya? Mengingat ia baru sadarkan diri? Harus kah ia membuat sebuah kebohongan? Ani, itu hanya akan berakhir sia-sia.

Yoona beralih menatap baekhyun, “Baekhyun-ya, katakan padaku eoh!” baekhyun tak menjawab.

Yoona mulai bangkit dari tidurnya , gadis itu nekat mencabut alat pernafasan yang terpasang di hidungnya. Siwon melebarkan mata sipitnya. Ia lantas menghentikan aksi Yoona, menggenggam kedua bahu Yoona. “Hentikan. Yak! apa yang kau lakukan eoh!”

Yoona menatap tajam kearah Siwon, matanya sudah mulai basah, hingga pada akhirnya setetes air mata jatuh di pelupuk matanya. “Lepaskan aku, “ Desis Yoona sinis, dan kembali air mata mengalir.

Andwe, Yoong-ya, hentikan!”

Nuna-ya,” desis baekhyun.

“Lepaskan aku!” Yoona kembali meronta, siwon terus saja mencengkram kedua pundak Yoona. gadis itu dengan nekat mencabut alat inpus di tanganya.

“Yoong, apa yang kau lakukan!” Yoona mulai turun dari ranjangnya. Ia seolah tidak peduli dengan apa yang dikatakan siwon. Yang ia butuhkan kini adalah penjelasan, ia harus menemui dokter untuk mendengar penjelasan secara langsung.

Blug…

Saat Yoona menapakan kakinya kelantai, tiba-tiba saja gadis itu terjatuh dan terduduk di lantai. Siwon langsung berlari kearah Yoona, siwon langsung mendekap Yoona, gadis itu Im Yoona, ia menangis, histeris dalam dekapan siwon.

“Akan ku panggilkan dokter!”

Baekhyun berlari keluar, meninggalkan siwon dan Yoona di dalam ruangan.

[Backsound “Bagian Reff “ : IU – The story only I didn’t Know]

 

Siwon POV

Aku mendekapnya, mencoba menenangkannya yang kini menangis histeris dalam dekapanku. Berkali-kali dia meronta, tapi sekuat mungkin aku terus menahannya. Tuhan, Aku tidak sanggup melihatnya, kenapa? Kenapa semua harus terjadi padanya? Begitu banyak luka dan air mata. Tuhan, kenapa semua ini harus terjadi. Aku menangis, air mataku mulai mengalir deras. Lantas aku mempererat dekapanku, mengusap puncak kepalanya, dan menciumnya dengan lembut. Sekalipun ia masih meronta dalam dekapanku.

“Tenanglah…” Bisiku di telinganya. Dan kembali ku cium puncak kepalanya.

Yoona POV

Aku larut dalam tangis yang menyesakan dada. Kenapa? Kenapa semua harus terjadi padaku? Apa aku satu-satunya manusia menyedihkan? hingga berkali-kali aku merasakan luka. Baimanapun aku wanita biasa!

Tuhan! Apa salahku! Begitu banyak kau ciptakan air mata di kehidupanku. Aku tidak sanggup! semua terlalu menyakitkan. Kini aku benar-benar telah kehilangan. Kehilangan bayiku? Kenapa!

“Hiks…Hiks…” Aku kembali menangis. Kali ini aku tidak bisa mengontrolnya, hatiku terlalu sakit merasakannya. Dan aku menangis dalam kesakitan yang megah. Histeris.

“WAE! WAE!! [Hiks…Hiks] “ kembali aku berteriak dalam tangisku.

Siwon mencoba untuk menangkanku, tapi aku terus menghindarinya, dan sama sekali mencoba tidak mendengar apa yang di ucapkannya.

“Yeobo-ya, Tenanglah…”

Aku terus meronta dalam dekapanya, air mata kian mengalir deras. Tuhan! Apa ini yang kau inginkan! Menyiksaku terus menerus! Aku lelah. Lebih baik aku mati, mati sekarang juga!

“Yoong-ya, tenanglah jangan menangis.”

Pintu kamar rawat Yoona terbuka, Baekhyun melangkah masuk diiringi oleh seorang dokter dan seorang suster yang mengikuti dari belakang.

“HIKS… KENAPA? KENAPA SEMUA HARUS TERJADI!! HIKS…HIKS..!!”

Suster itu memberikan sebuah suntikan yang sudah di masuki obat penenang. Dokter kang mengangkat suntikan tersebut dan menjentikan jarinya pada ujung jarum suntik.

“Dokter! Tolonglah!” Pinta siwon.

Lantas dokter kang segera menyuntikan jarum suntik itu tepat lengan Yoona. Perlahan gadis itu mulai melemas, nafasnya tersengal. “Wae? Waeyeo? “ Desis Yoona dalam tangisnya.

Siwon merenggangkan dekapannya, laki-laki itu mengangkat tubuh Yoona, dan membaringkannya di atas ranjang. Siwon membelai lembut puncak kepala Yoona. Air mata siwon masih mengalir, lalu ia pun menegakkan kepalanya.

Ia kembali menatap Yoona, gadis itu terlihat mulai terlelap. Walau di pipinya masih terlihat sisa air mata. Siwon mengusap air mata itu dengan tangannya.

“Kalau begitu, saya permisi. “ Kata dokter kang, Siwon menoleh dan menundukan kepalanya kearah dokter dokter kang.

Khamsamida!” Ucap baekhyun. Dokter itu membungkuk dan setelah itu ia melangkah pergi diiringi seorang suster dari belakang.

Siwon menarik kursi dan mendudukinya, ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Setelah itu ia kembali menggenggam tangan Yoona, menciumnya dan meletakan punggung tangan Yoona di pipinya.

Baekhyun melangkah mendekat kearah siwon, tangan laki-laki itu terangkat, menepuk-nepuk bahu Siwon dengan pelan, berharap apa yang dilakukanya itu akan sedikit menenangkan Siwon.

“Baekhyun-ya?” desis Siwon tanpa menatap Baekhyun.

“Nde?”

“Mengenai hal tadi, jangan beritahu Aboeji dan eommonim,” Pinta Siwon, Baekhyun mengangguk, “Oh! Ne, Arrayo.”

Juli 21, 2014 ; 00.15 KST

Malam sudah semakin larut, di saat semua orang sudah seharusnya terlelap damai dalam tidurnya. Nampak seorang pria yang masih terjaga, tengah terduduk di tepi ranjang. Jam dinding yang tergantung di sebelah pintu kamarnya sudah menunjukan hampir pukul setengah satu pagi. Itu artinya hari sudah berganti. Dia Choi SeungHyun- masih setia terjaga sampai selarut ini.

Seunghyun mengambil tongkatnya di yang bersandar pada ujung nakas. Ia mulai mencoba bangkit dan berdiri dengan bantuan tongkat di tangannya. Dan berhasil. Akhirnya ia bisa berdiri tanpa kursi sialan yang membuat dirinya terlihat lemah.

Seunghyun melirik kearah jam dinding. Laki-laki itu mendesah. “Aku harus bisa.” Ucapnya meyakinkan.

Malam Ini adalah malah pelariannya untuk ketiga kalinya yang sebelumnya selalu gagal. Kali ini ia harus bisa lolos. Harus!

Clek.!

Pintu kamarnya terbuka sebagian. Minho laki-laki itu menatap Seunghyun dan mengaggukan kepalanya. “Hyung! Bersiiaplah.” Desisnya pelan. Seunghyun mengangguk mengerti.

Minho kembali menutup pintu tersebut.

Seunghyun mulai berjalan dengan tongkat menuju beranda kamarnya. Saat tiba di beranda, kedua tangan kekarnya mencengkram kuat pagar beranda kamarnya. Seunghyun menengadahkan kepalanya lalu ia menutup kedua matanya. Angin malam berdesir dimalam hari seketika menembus kulit putihnya. Namun Seunghyun sama sekali tidak merasa kedinginan. Karena sudah lama sekali ia merasa tubuhnya telah mati rasa dan tidak bisa lagi merasakan apa-apa.

Peristiwa yang terjadi beberapa bulan lalu. Benar-benar menorehkan luka dalam di hatinya. Dan seketika itu juga mengubah kehidupannya. Tidak ada lagi pancaran sinar berapi-api di kedua matanya. Tidak ada lagi seulas senyum yang terpatri di kedua sudut bibirnya. Dan tidak ada lagi rasa bahagia dalam hatinya. Semua seakan hancur lebur ketika dengan bodohnya ia lengah. Dan membuatnya harus berpisah dari sosok gadis yang dicintainya.

Choi Seunghyun, ia kalah dan menyebabkan ia harus kehilangan jiwanya. Bodoh! ia begitu bodoh, membiarkan semua itu terjadi padanya.

Seunghyun membuka matanya, ketika sayup-sayup ia mendengar suara tepukan tangan dua kali. Ia menundukan kepalanya, dan mendapati adiknya kini berdiri di bawah sana. Dengan sebuah mobil yang sudah siap membawa mereka pergi.

Seunghyun mengangguk, laki-laki itu kembali berjalan masuk kedalam kamarnya. Mengambil Sesuatu yang ia simpan di dalam sebuah lemari. Sebuah tali tambang yang sudah benar-benar ia persiapkan dengan rapih. Perlahan walau lamban ia kembali berjalan ke beranda kamarnya. Sesampainya disana, ia mengikatkan sebuah tali tambang dipagar berandanya dengan kuat.

Setelah merasa cukup kuat, ia tersenyum puas. Lantas begitu saja ia melemparkan tongkatnya, kebawah dan di tangkap dengan mulus oleh Minho. Seunghyun masih mencengkram erat pagar berandanya. Lalu dengan nekat laki-laki itu menaikan kaki kirinya, untuk melewati pagar beranda tersebut. Seunghyun merintih ketika laki-laki itu merasakan sakit pada kaki kirinya.

“Arghh…!!” Ringisnya pelan.

Seunghyun kini menggantung di atas dengan kedua tangan yang mencengkram kuat pagar berandanya, Tangan kanannya mulai mencoba untuk meraih tali tambang yang tergantung sedikit jauh dari samping kirinya. Laki-laki itu kembali merintih .

Hingga akhirnya, tangannya berhasil meraih tali tambang. Seunghyun melepaskan tangan kirinya pada pagar dan kini kedua tangan laki-laki itu menggenggam kuat tali tambang. Minho yang kini berdiri di bawah menatap cemas kearah seunghyun.

“Hati-hati Hyung!” Desis Minho lalu mengedarkan kembali pandangannya untuk melihat situasi. Masih aman.

Seunghyun hampir sampai menapak pada aspal. Minho sudah siap siaga untuk membantu seunghyun, karena mengingat kondisi kakinya yang masih belum pulih.

Seunghyun berhasil turun, sesampainya di bawah ia langsung merangkul minho. Ia merintih.

“Arghh… aigo kakiku. “ Rintihnya pelan.

Gwenchanayo?”

“Aniyeyo, aku baik-baik saja.” Jawab Seunghyun menyangkal.

Minho memapah seunghyun, laki-laki itu membuka pintu mobilnya dan membantu seunghyun untuk duduk di kursi penumpang. Setelah itu ia berlari mengitari mobilnya, membuka pintu dan duduk di kursi kemudi.

Tak lama kemudian, mobil Minho pun mulai melaju mengitari pekarangan rumah, sesampainya di depan gerbang. Seseorang rupanya sudah berjaga di gerbang tersebut. tanpa menunggu perintah dari Minho, Seorang pria yang berjaga di gerbang itu segera membuka gerbangnya. Dan pada saat itu mobil minho melaju keluar dari pekarangan rumahnya.

Choi Woshik, ternyata laki-laki yang sering di panggil Appa oleh minho kini tengah menyaksikan sendiri anaknya telah melarikan diri, di balik tirai jendela kamarnya. Laki-laki tua yang kini masih terjaga itu mengepal kedua tanganya kuat-kuat.

“Anak itu!” desis Wooshik menatap tajam mobil minho yang kini mulai menjauh dari penglihatannya.

 

 

 

Backsound (There’s Nothing – Brown Eyed Soul’s Jung Yeop)

 

 

 

Malam sudah larut. Jam dinding kini sudah menunjukan pukul dua malam. tetapi seorang pria bernama Choi Siwon masih terjaga sampai sekarang. Di depannya seorang gadis tertidur dengan damai. Siwon tersenyum miris. Ia teringat akan kejadian tadi siang, saat Yoona menangis Histeris. Karena janin yang ada di dalam kandungannya mengalami keguguran. Lalu laki-laki itu berpikir, bagaimana jika Yoona tahu bahwa ia tidak bisa lagi memiliki keturunan. Apa yang akan terjadi? Beberapa pertanyaan mulai muncul dalam pikirannya.

Lalu, apa yang harus ia lakukan sekarang? Berbohong? Tidak, itu hanya akan menyakiti gadis itu lebih dalam. Sudah cukup dengan semua yang menimpanya. Choi Siwon, ia mendesah. Pria itu mengusap punggung tangan Yoona dengan lembut.

Mianhae…Minhaeyo Yoona-ya. “Desisnya pelan.   Pikirannya kembali menerawang akan perkataan sang dokter beberapa hari yang lalu. Ia terdiam

“Dan maaf, sejujurnya saya sangat berat mengatakannya, tapi— kami terpaksa mengangkat rahim istri anda.”

“Mwo! Kenapa harus seperti itu! Dokter kenapa anda melakukannya!” seketika Siwon mengamuk.

 

Perasaan sesak kini sudah menyelimuti rongga dada siwon. Mengingat sebuah fakta, sebuah kenyataan pahit yang benar-benar membuat matanya mulai memanas.

“Mianhae, tapi kami benar-benar harus melakukannya, menurut hasil. Benturan yang di alami istri anda menimbulkan benjolan yang cukup parah pada rahim, kami harus segera mengangkat rahim tersebut agar tidak terjadi infeksi. Dan istri anda tidak bisa mengandung lagi.”

 

Sebuah kenyataan pahit yang mengatakan bahwa Yoona tidak bisa mengandung lagi, itu artinnya, laki-laki itu tidak akan pernah memiliki keturunan. Pupuslah sudah harapannya untuk mendapatkan sebuah keturunan. Tapi tidak apa, ia cukup terima semua itu. Sekalipun berat, ia mencoba untuk mengikhlaskan atas apa yang telah terjadi. Yang harus benar-benar ia pikirkan adalah Yoona, bagaimana dengan wanita itu? Jika ia tahu mengenai semuanya. Siwon benar-benar tidak bisa membayangkannya.

Siwon masih mengusap tangan Yoona dengan lembut. menatap gadis itu dengan nanar, hingga tak dirasa sebuah Kristal bening pun mengalir dengan mulus di kedua pelupuk matanya, Choi Siwon laki-laki itu sama sekali tidak menghampus air mata yang mengalir di pipinya.

Perlahan ia menenggelamkan kepalanya, menjadikan punggung tangan gadis itu sebagai alas untuk pria itu bersandar. Air mata kian mengalir di pelupuk matanya, Lagi dan lagi. lalu perlahan Siwon pun mulai memejamkan kedua matanya.

I still wonder why?

Then what should I do? I really can’t not Think.

Satu tetes air mata mengalir begitu saja di pelupuk mata Yoona yang kini masih memejamkan kedua matanya. Perlahan Yoona mulai membuka kedua matanya. Tangannya terangkat, mengusap lembut puncak kepala Siwon.

Im Yoona, gadis itu kembali menangis dalam diam. Sejujurnya gadis itu belum bisa menerima keadaan yang menyatakan dirinya telah mengalami keguguran. Bukankah itu adalah suatu fakta menyakitkan baginya. Bahkan bagi siapa saja yang mengalaminya. Ia mungkin bisa terima jika laki-laki itu tidak bertanggung jawab. Tapi ia tidak akan bisa terima jika Tuhan harus mengambil Bayi dalam kadungannya. Darah dagingnya. Ia tidak bisa, menerima begitu saja dengan lampang.

Air mata kian mengalir semakin deras. Im Yoona, gadis itu kembali menangis. Lagi dan lagi ia kembali merasakan sakit.

Yoona mengubah posisinya menjadi duduk, ia sedikit mengangkat kepala Siwon yang menindih tangan kirinya, lantas dengan begitu pelan ia kembali menidurkan kepala Siwon di tepi ranjang. Dengan cepat gadis itu menarik jarum infuse di tangannya. Ia sedikit meringis atas tindakannya. Sedikit terasa sakit.

Gadis itu mulai turun, perlahan ia berjalan terseok-seok kearah pintu. Sesaat langkahnya terhenti. Menatap Sang Ayah dan adiknya yang kini tertidur di sofa di kamar rawatnya. Kedua sudut bibirnya sedikit tertarik membentuk sebuah senyuman miris.

Im Yoona, ia memegang perutnya yang kini terasa sakit, ia kembali merintih. Perlahan tapi pasti, Yoona mulai kembali berjalan keluar dari kamar Rawatnya.

Siwon terbangun, laki-laki itu mendongkakan kepalanya, dan pada detik itu juga, kedua mata nya terbelalak, dimana istrinya? Astaga!

Lantas dengan cepat ia bangkit dari duduknya, Tangan kekarnya menarik gagang pintu kamar mandi dan membukaknya, dan seketika laki-laki berlesung pipit itu kembali panic. Dimana dia? Pikirnya.

Baekhyun yang saat itu tengah tertidur di sofa, seketika ia terbangun, pria itu sedikit menggeliat pelan sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya yang belum terkumpul.

Matanya menyipit, “Hyung, kau sedang apa?” Tanya Baekhyun pada Siwon,

Siwon menoleh “Yoona, dia tidak ada!” Desisnya. Dan membuat baekhyun terkejut. “Mwo!”

“Ssstt… jangan sampai Aboeji mengetahuinya. Baekhyun-ya, kita harus mencarinya.” Ajak Siwon. Baekhnyun dengan cepat lak-laki itu mengangguk. ia segera bangkit dari duduknya dan keduanya pun bergegas pergi mencari Yoona. Siwon dan Baekhyun, mereka berdua berpencar mencari Yoona.

Baekhyun belari, di lorong rumah sakit, ia berbelok ke kanan, dan pada saat itu juga ia membuka sebuah ruangan tanpa membaca terlebih dahulu ruang apakah itu. Dan pada saat itu juga pria imut bernama Byun Baekhyun itu tercengang, rupanya ia masuk kedalam kamar mayat. Baekhyun lantas segera menutup kembali pintu tersebut. sejenak, ia menghela nafas dan mengelus dadanya. Lalu beberapa detik kemudian ia beranjak pergi dari ruangan itu.

Sementara itu seorang pria berumur 28 tahun sedang berlari menerobos derasnya hujan. Malam yang dingin, hujan deras diiringi dengan suara amukan langit bahkan tak membuat laki-laki bernama Choi Siwon itu menyerah. Ia masih bertahan. Berlari di malam hari dengan derasnya hujan yang kini membuat seluruh tubuhnya telah basah. Pria bernama Choi Siwon itu mengedarkan pandangannya, mencari seseorang kini ia hawatirkan.

“YOONA-YA!!”

Siwon berteriak dan sesekali ia memutar badanya, dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Tapi sayangnya tidak ada siapapun, kecuali hanya dirinya sendiri.

“IM YOON-AH!!” Teriaknya sekencang mungkin.

 

Air dingin dan hangat itu bercampur menjadi satu. Seorang gadis berumur sekitar 24 tahun itu kini tengah berjalan gontai di tengah derasnya hujan. Sendiri, di malam hari dan di jalan yang sepi. Dan hanya tetesan air langit yang kini membasahi tubuh ringkihnya.

Gadis itu –Im Yoona– ia kembali menangis, menangis tersendu-sendu, menumpahkan seluruh kemarahannya pada cairan bening itu. Tuhan sebenarnya dosa apa yang telah ia lakukan? Hingga berkali-kali gadis itu merasakan sakit.

Tidak cukupkah atas apa yang selama ini menimpanya? Semua terlalu berat dan menyakitkan baginya. Hatinya begitu sakit, bahkan teramat sakit jika mengingat bayi dalam kandungannya telah mati! Kenapa? Kenapa nasibnya begitu sial?

Langit kembali memperdengarkan kemarahannya, suara petir berkali-kali menggema begitu jelas. Im Yoona, gadis itu tak memperdulikannya, di tengah hujan ia terus berjalan entah kemana kaki itu melangkah, hatinya suram, pikirannya kacau. Gadis itu sama sekali tidak bisa berpikir jernih. Yang saat ini ada di pikirannya adalah hanyalah ada satu pertanyaan. Kenapa hidupnya begitu sial! Tuhan sebenarnya apa yang kau inginkan!

Blug..

Tiba-tiba saja tubuh ringkih itu ambruk begitu saja. Im Yoona, ia terduduk di atas aspal yang dingin. Air matanya kian mengalir begitu deras, semakin ia merasa sesak, semakin deras juga air mata yang keluar di iris madunya. Gadis itu benar-benar tidak sanggup lagi. ia menangis tersedu-sedu. Histeris.

“MENGAPA? MENGAPA SEMUA SEAKAN TIDAK ADIL!! HIKS… HIKSS.. KENAPA!! ” Jeritnya di sela tangisannya.

Tetes pertama melantakan hatiku

Tetes kedua menghancurkan ragawiku

Tetes ketiga melesatkanku dan tetes berikutnya…

 

 

“Hujannya deras sekali. “ desis Minho yang kini sedang menyetir. Ia mengedarkan pandangannya dari balik kaca mobil. Seunghyun yang duduk di kursi penumpang memilih untuk diam, dan menatap kosong keluar jendela. Seketika kening Minho berkerut bingung.

“Sedang apa gadis itu? Malam-malam seperti ini, apa yang sedang ia lakukan?” Desis Minho ketika matanya menangkap sosok gadis yang kini tengah terduduk di tengah jalan. Lalu pria itu lantas menepikan mobilnya di tepi jalan. Ia melepas seltbatenya dan hendak membuka pintu.

“Ada apa? Kenapa berhenti?” Tanya Seunghyun, Minho menghentikan aksinya dan menoleh pada seunghyun. “Aku ingin memberi tumpangan kepada gadis itu, sepertinya ia butuh pertolongan.” Kata Minho. Seunghyun dan Minho kembali menoleh ke depan. Di balik kaca. Mereka dapat melihat seorang gadis kini tengah terduduk di aspal. Minho hendak membuka pintu. Tapi, “Changkaman–“ Cegah Seunghyun tanpa menatap Minho.

Choi Seunghyun, tiba-tiba saja detak jantungnya berdetak abnormal, laki-laki itu masih menatap dan memperhatikan gadis yang kini terduduk di aspal. Lalu perasaan sesakpun mulai menyeruak masuk dalam hatinya. Sejenak ia terdiam. pikirannya kembali melayang akan sosok gadis yang dicintainya, entah kenapa. Hatinya berkata bahwa dia, gadis itu Im Yoona.

Minho menatap bingung kearah sang kaka. Kedua alisnya bertaut.

“Hyung Gwenchanayo?” Tanya Minho.

Tapi Seunghyun tak menanggapinya. Ia lantas membuka pintu mobilnya. Perlahan dengan bantuan tongkat, ia mulai keluar dari mobilnya. Selangkah demi selangkah ia mulai mendekat. Tak peduli dengan derasnya hujan yang kini mengguyur tubuhnya, tak peduli dinginnya air hujan yang kini membasahi tubuhnya. karena hanya satu hal yang laki-laki itu inginkan. Ia hanya ingin memastikan bahwa gadis itu benar-benar Im Yoona. Im Yoona, sosok gadis yang dicintainya, berlebih-lebih. Dan kini laki-laki itu tepat berada di hadapan gadis yang ia yakini adalah kekasihnya. Im Yoona. Yeah! Im Yoona.

Yoona mendongkak, ketika ia melihat sepasang kaki berdiri di hadapannya. Dan pada detik itu juga, mata gadis itu membelalak. Dia… Laki-laki itu…

“Yoong-ya,”

gambaq 1 dl 4

 

 

To Be Continued

Backsound: (There’s Nothing – Brown Eyed Soul’s Jung Yeop)

Preview Difficult Love Episode 5 : Start Back

“IM YOONA!!”

“Lepaskan! Lepaskan aku!”

“Mianhae…Mianhaeyo…”

BUK…

“Oppa,”

“Yak! beraninya kau –“

“Ayo kita pergi.”

“Tapi dia–“

 

Buk..

“Bodoh! kenapa kau membiarkan kedua anakku pergi!”

“A…Aku—“

“Jadi—“

“Gyuri-ya,”

 

“Yak! berhenti!” Pekik Jieun menghentikan langkah Baekhyun

Baekhyun mendesah, “Ada apalagi sih?”

“Hay, kalian sedang membicarakan apa?”

“Dia lagi dia lagi…Aihh,” Cibir Baekhyun

“Aku bisa jelaskan, Yoong-ya,”

“Pergi!”

“aku –“

“PERGI!!!”

 

“Eonni-ya,?”

“Wae? kau kenapa? terjadi Sesutu? Katakan?”

“Dia– Laki-laki itu–“

“Pria jahat!!”

“Eonni?”

“Aku harus bertemu dengannya.”

 

 

Hohoho adakah yang menanti FF ini? waduh udah lama kali kayanya ya? Wkwkw oke oke kalau begitu Bidadari minta maaf ya atas keterlambatan ff DL ini #Whatbidadari?#Plak 😄

Oia author juga mau minta maaf karena ff kemarin penuh typo dimana-mana wkwkws, maaf ya saya kurang teliti. Dan maaf juga untuk penggunaan kata-kata puitis yang gak ngena. Maklumlah masih belajar. Jadi maaf ya 😄

Dan untuk alur kecepatan. Oke deh sekali lagi saya pribadi minta maaf. Dan gak akan saya buat sampai 6 chapter. Alur akan saya perlambat. Dan gak tau deh sampe berapa chapter. J trus juga maaf ya untuk preview yang tidak sesuai, karena saya merubahnya sedikit. hahahaha

Dan terima kasih juga atas saran kalian di chapter sebelumnya. Dan itu membuat saya bersemangat. Sekalipun selama beberapa minggu otak saya mentok untuk lanjutin ff ini. wkwkws

Sekian. Untuk episode 4 kebanyakan minta maaf ya akunya. Wkwks

Next FF vampire akan segera publis. ^^

Untuk admin gee and ka echa terimakasih ya J

Dan satuhal.

Don’t forget to leave your comment

please don’t be silent reader!

No plagiat please!!

 

Iklan
Tinggalkan komentar

96 Komentar

  1. lhoooooo kasian siwon kalo sampe yoona kembali ke seunghyun…
    jangan dooonk..
    plissssss

    Balas
  2. andreyani

     /  November 5, 2014

    waduh,,bahaya nih.bisa2 yoona balik sama seunghyun

    Balas
  3. Keren ceritanya dan makin seru,semoga yoona eonnie ga pisah sama siwon oppa.next chapter di tunggu

    Balas
  4. tri3_permadi407

     /  November 20, 2014

    knp hrs rahim diangkat cih ck yoonwon kn jd g bs punya aegy sendiri -__-
    g mau n g rela kl tar yoona balikan ma seunghyun pokokx!
    next part kch yoonwon moment donk pleaseee 😦

    Balas
  5. Kpn ff nie d’lanjut kangen bangrt ma kelanjutan ceritanya,walaupun udh berkali”baca ttp aja ga bosen”…ayo dong thor d’lanjut…

    Balas
  6. Riinchan

     /  Mei 17, 2015

    Q baru baca nih ff, certx bgs,,,tp q gk rela thor, klo deer eon jdian ma namja selain simba…huaa…:'(

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: