[2S] BLACK RUSE (Chapter 1)

black-ruse1

BLACK RUSE

Scriptwriter : choichoding007 || Main Cast : Choi Siwon . Im Yoona. Cha Seungwon || Genre : AU. Tragedy. Romance. Crime || Rating : PG 17 || Length : Two-shoot [1/2]

|| Recommended Song : Lee Ki Chan—Going To Meet You Now ||

.

 

Even your smile, even our love..

They all became tears and have fallen down.

 

 

 

“Kau punya payung?”

“Apa?”

“Iya. Payung.”

Dedaunan dibawah pohon itu berdesir saling bersentuhan tertiup angin. Kala itu, langit tak mendatangkan mendung atau pun mengundang hujan. Angin tak bertiup sekencang musim gugur. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan atau pun badai salju. Namun gadis berambut cokelat itu memberi gambaran yang berbeda.

“Aku tidak punya. Wae?

Gadis itu menyedot susu strawberry-nya. Lalu berkedip. “Sebentar lagi akan turun hujan,” katanya dengan tenang.

Mendengarnya sontak saja aku tertawa terbahak-bahak. Apa-apaan gadis ini. Bagaimana mungkin langit biru itu menurunkan hujan? Apa dia pikir aku ini bodoh? Cih! Yang benar saja!

Ya! Gadis bermata empat. Sebaiknya kau gunakan kacamatamu dengan benar. Matahari sedang terik-teriknya saat ini. Tidak mungkin akan turun hujan,” dalihku menatapnya geli.

Tanpa peduli ucapanku dia menyodorkon susu kotak yang telah diminumnya tadi. Aku menatap tak percaya antara wajah tanpa ekspresinya dan susu kotak itu, bercampur ngeri. Jelas saja kutolak mentah-mentah. Memberiku susu bekas bibirnya? Jangan harap ingin menciumku secara tidak langsung!

“Ini akan memberimu kehangatan meskipun tidak sekuat payung yang bisa melindungimu dari hujan. Setidaknya tubuhmu tidak akan menggigil.” Sekali lagi gadis itu menyodorkan susu kotak-nya.

Shirro!” tolakku tegas serta mendorong susu kotak itu padanya. “Kau itu kan gadis kenapa jorok sekali..”

“Yoongie-ya.. palliwa. Kita bisa ketinggalan kereta.”

Gadis berambut cokelat itu menoleh kebelakang, seorang wanita bersenyum lembut memanggilnya. Dan yang kudengar dari bibir gadis itu ia menyahut panggilan Ibunya.

Dia kembali menoleh padaku, masih dengan wajah tenangnya ia meraih kedua tanganku untuk menerima susu kotaknya secara paksa.

“Semoga beruntung.” Dua suku kata yang ia ucapkan sebelum ia membalikkan badan dan berlari menghampiri ibunya. Terlalu cepat bahkan sebelum aku sempat protes atas susu kotak itu. Bahkan tidak memberiku kesempatan sama sekali untuk menggerutuinya. Karena setelah aku berbalik dengan perasaan kesal, nyatanya langit sama sekali tak berpihak padaku. Hujan turun dengan tiba-tiba dan datang begitu lebatnya tanpa memberiku kesempatan untuk berlindung.

***

[Tujuh belas tahun kemudian]

 

Metropolitan Police Station, Gangnam-gu, Seoul. 2014.

 

-Author’s POV-

Keributan masih terdenggar jelas di kantor pagi itu. Tidak mengheran jika markas para polisi ini diwarnai dengan sejuta suara. Karena tempat ini juga merupakan tempat yang mengerikan bagi mereka pembuat onar.

Hyung-nim.. Hyung-nim.. Hyung… Ya! Choi Siwon!”

Sekonyong-konyong Siwon terlonjak dari kursinya. Mata kantuknya kini terbelalak dengan warna kemerahan. Otaknya yang belum siap terasa berdengung. Ia mengedarkan pandangan dan setelah menemukan wajah Lee Hyukjae di sebelahnya, ia menggeram kesal. “Wae? Wae? Kenapa harus berteriak di telingaku?!”

Hyukjae mencibir. “Kau saja yang tuli.” Sebelum Siwon membuka mulut untuk protes, ia lebih dulu menyodorkan map biru tua kehadapan Siwon. “Park Jin. Usia 12 tahun. Neneknya baru melapor ketika merasa cucunya tidak pulang selama seminggu.” Hyukjae menjelaskan sekilas sambil duduk di meja Siwon, memainkan rubik.

Sementara itu Siwon tengah mengamati foto data orang hilang yang disodorkan Hyukjae tadi. Setelah puas mengamati data dan keterangan di laporan itu, ia berdiri. Meluruskan otot-ototnya terlebih dahulu. Mengambil sekotak susu diatas mejanya dan mengapit leher sahabatnya itu. “Kajja. Saatnya jadi superhero.”

Hyukjae terbatuk-batuk sebelum ia bisa melepaskan lehernya dari lengan kekar sahabatnya itu. “Baboya! Ya! Michosseo?” katanya melototi Siwon. “Superhero apanya yang minum susu strawberry sepertimu.”

Choi Siwon hanya mengangkat kedua bahunya sebelum kembali mengapit leher Hyukjae seraya membawanya keluar.

Ya! Kau benar-benar mau mati, huh? Ya! Choi Siwon singkirkan lenganmu! Yaaaaakk!

***

“Jadi kau masih saja mencarinya?”

Dia mengangguk tanpa mengangkat kepalanya dari mangkok berisi ramen yang masih mengepul.

“Kau bilang dia sudah menghilang lebih dari sepuluh tahun. Apa kau yakin dia masih hidup?”

Suara ‘brak’ yang berasal dari benturan pantat mangkok dengan meja membuat gadis itu terlonjak.

Ahjumma, buatkan satu lagi untukku.”

Tidak sampai satu menit Siwon menutup mulutnya, satu pukulan keras mendarat di kepalanya. “Berapa uangmu? Yang kemarin saja kau belum bayar. Kalau kau tidak bayar lagi kali ini akan kupenggal kepalamu.”

Siwon meringis mengusap kepala belakangnya. Ketika mengangkat wajah, bukan wajah kesal yang ia tunjukkan melainkan wajah cerah penuh senyum yang berusaha dibuat senatural mungkin. “Ahjumma, berikan aku satu mangkok lagi. Hanya untuk hari ini saja. Besok kalau aku sudah gajian pasti akan kulunasi hutang-hutangku. Ahjumma tau sendiri kan gaji detektif itu mahal dan lagi—“

Heisssh.. arrasseo arrasseo,” potong sang ahjumma menyudahi celotehan Siwon. “Heissshh.. untung saja dia tampan..” Samar-samar gadis itu mendengarnya ketika sang ahjumma kembali kebalik meja.

Victoria geleng-geleng kepala melihat Siwon yang kini bersendawa. “Sebenarnya ada apa denganmu?”

“Aku? Memangnya kenapa?” Siwon menaikkan kedua alisnya kemudian mengangkat bahu acuh. Ia meraih susu kotak di atas meja.

Bibir cantik Victoria melengkung indah. Ia menyelipkan beberapa helai rambut kebelakang telinga. Mengamati gerak-gerik dari seorang Choi Siwon yang tidak ada bedanya dengan anak berusia lima tahun, begitu khusuk meminum susu kotaknya. “Astaga.. tidak bisakah kau bersikap sedikit dewasa, Detektif Choi?”

Gerak Siwon berhenti. Ia menatap Victoria sambil melipat kedua lengan diatas meja. Matanya menyipit. “Shirro. Jika aku bersikap dewasa maka kau tidak akan memanjakanku lagi,” katanya sambil mengerlingkan mata pada Victoria.

***

“Han Taejoon. Usia 37 tahun. Pada saat kejadia dia menjadi satu-satunya saksi atas pembunuhan di persimpangan jalan. Aku telah memeriksa semua CCTV tapi beberapa ada yang rusak, sengaja dirusak kemungkinan besar. Jadi aku hanya mendapatkan ini.” Sambil mengarahkan mouse, Lee Hyukjae menjelaskan pada Choi Siwon.

“CCTV hanya berhasil menangkap sampai lelaki itu berjalan mengikuti sang korban. Dan kau lihat ini..” Hyukjae menunjuk sosok pria bermantel yang bersimpangan dengan si pembunuh. “Dia adalah Han Taejoon. Sayangnya setelah itu CCTV tiba-tiba rusak. Jadi kita tidak punya petunjuk selain Han Taejoon.”

Mata Siwon menyipit. “Apa yang terjadi pada Han Taejoon?” tanya Siwon seperti telah mengetahui jalannya kasus pembunuhan pada seorang saksi.

“Kami berhasil menemuinya tiga hari yang lalu. Dua hari yang lalu saat kami akan menemuinya lagi, ia mengalami kecelakaan dan sekarang dalam keadaan koma.”

Siwon mengamati gerak si pembunuh pada monitor di depannya. Ia mem-pause serta memperbesar gambar meski hanya terlihat punggungnnya saja. “Di Rumah Sakit mana ia dirawat?”

Hyukjae baru akan menjawab ketika dering ponsel dari dalam sakunya berbunyi. “Yeobosseo?Nde? Arrasimnika… Awasi dia, kami segera kesana.” Setelah Hyukjae mengakhiri panggilan ia telah menerima tatapan bertanya dari Siwon. “Han Taejoon baru saja sadar.”

Perjalanan dari kantor kepolisisan sampai ke Rumah Sakit tidak memakan waktu lama. Siwon dan Hyukjae bergerak secepat mungkin. Mereka tidak boleh kehilangan kasus ini. Mereka harus berhasil memecahkan kasus ini. Tapi sayangnya ketika mereka sampai di kamar rawat Han Taejoon, sang suster tidak membolehkan mereka masuk. Siwon berusaha menjelaskan bahwa mereka dari kepolisisan tapi sang suster masih kekeuh dan mengatakan bahwa mereka tidak bisa menemui pasien tanpa persetujuan dokter.

Siwon dengan tidak sabarnya menemui dokter yang mengaku menangani Han Taejoon. Dia harus menemuinya sekarang juga dan harus segera bertemu dengan Han Taejoon agar kasus ini juga cepat diselesaikan. Keluarga korban telah puluhan kali datang ke kantor sambil menangis memohon padanya agar si pembunuh segera ditemukan dan dihukum seberat mungkin. Jadi, mana mungkin ia akan menunda-nunda lagi untuk menyelesaikan kasus ini setelah sang saksi akhirnya siuman.

“Permisi, Dokter Jung. Seorang Detektif dari kepolisian Gangnam ingin menemui anda,” ucap sang suster yang menuntun Siwon pada seorang dokter wanita yang berdiri membelakangi mereka. Sang dokter yang tadinya tengah berbicara pada pasien berhenti sejenak. Kemudian menepuk pelan pundak sang pasien, sepertinya tengah meyakinkan sebelum pasien berkursi roda itu pergi.

Karena sudah tidak tahan menunggu, Siwon lantas mengutarakan maksudnya.“Maaf mengganggu waktu anda, Dokter Jung,” tukas Siwon memulai, kemudian mengeluarkan kartu identitasnya. “Kami dari kepolisian Gangnam ingin meminta persetujuan anda terkait—“ kalimat Siwon menggantung. Matanya terbelalak ketika dokter wanita itu berbalik badan menghadapnya.

“Im Yoona..?” lirihnya setengah tak percaya.

Jeosseonghaeyo, Detektif Choi. Biar bagaimana pun juga dia adalah pasien Rumah Sakit ini. Anda harus mengikuti prosedur yang ada. Saat ini pasien baru saja sadar dari koma. Saya sebagai dokter yang menanganinya tidak mengijinkan siapapun untuk menemuinya. Ini demi kesehatan pasien. Jadi dengan hormat saya mohon kerjasamanya. Silahkan mengunjunginya besok atau lusa.” Wanita berjas putih itu membungkuk memberi hormat sebelum melangkah pergi.

Sementara itu Siwon masih mematung di tempat. Ia terlalu kaget. Terlalu shock tak percaya. Benarkah dia adalah Im Yoona? Gadis yang ia cari selama ini? Im Yoona…

Saat Siwon tersadar dan hampir kehilangan Yoona di balik lorong, ia segera berlari mengejar wanita itu dan menahan lengannya. “Yoonaya..” panggilnya cukup keras. Sekaligus meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita di depannya ini memang Im Yoona.

Wanita itu nampak terkejut atas tindakan Siwon yang mencengkram lengannya begitu kuat, ia sedikit meringis. “Chogio..!” Ia memperingatkan Siwon sambil beusaha melepaskan lengannya dari tangan Siwon. Tapi pandangan lelaki itu menyiratkan luka, kesedihan, keharuan bercampur bahagia.

“Yoona.. Im Yoona.. kau ada disini. Akhirnya aku menemukanmu.” Siwon menarik tubuh wanita itu dan mendekapnya, memeluknya erat. Apa yang bisa menggambarkan kebahagiaannya saat ini? Ia telah mencari gadis ini kemana-mana. Sepanjang hidupnya ia habiskan hanya untuk mencari gadis bernama Im Yoona meski ia tahu ada begitu banyak orang bernama Im Yoona. Tapi tanpa ia duga, saat ini Tuhan memberi kebahagiaan luar biasa padanya. Ia tidak akan melepaskan wanita ini lagi. Tidak akan!

“Aku menemukanmu, Yoongie-ya.“ Tatapan Siwon penuh keharuan. “Bagaimana keadaanmu Yoongie-ya. Apa kau baik-baik saja selama ini? Apa kau terluka parah?” Siwon memeriksa setiap inch tubuh wanita di hadapannya itu dengan rasa cemas yang membuncah. “Aku sangat mengkhawat—“

‘Plakk!’

Tamparan itu begitu mengejutkan bagi Siwon. Seolah ingin membuatnya sadar, wanita itu memberi tatapan dinginnya. “Pantaskah seorang detektif bersikap demikian? Mengapa anda begitu tidak tahu malu memeluk seorang wanita dengan seenaknya..”

Siwon berusaha menahan agar wanita itu tidak pergi. “Tapi aku Siwon, Yoong. Aku Choi Siwon..” ia berucap lembut, berharap wanita didepannya ini mengingatnya. Mungkin tadi sikapnya membuat Yoona terkejut. Mungkin karena ia terlalu bahagia sampai lupa memberitahu Yoona bahwa ia adalah Siwon. Dan setelah Yoona tahu, wanita itu pasti akan mengerti.

“Maafkan saya, detektif Choi. Saya sedang sibuk,” katanya membungkuk sekali lagi. Tanpa peduli sebutir air mata mengaliri pipi Siwon.

Tapi Siwon tidak menyerah, ia kembali menarik wanita itu agar menatapnya. Ia mencengkram kedua bahu Yoona. “Apa yang terjadi padamu, Yoongieya? Kenapa kau melakukan ini padaku? Kau marah karena aku tidak bisa menyelamatkanmu? Ya, aku yang salah. Aku berdosa padamu. Mianhae. Jeongmal mianhaeyo. Tapi aku sunnguh sudah mencoba segalanya untuk mencarimu. Kumohon jangan buat aku menjadi lebih bodoh lagi. Ak—“

Untuk kedua kalinya wanita itu kembali menampar wajah Siwon. “Apakah seorang detektif diajarkan untuk menyakiti seorang wanita yang baru ditemuinya? Maaf, bahkan anda telah mengajukan tuduhan yang tidak saya mengerti. Kurasa sikap anda saat ini tidak sesuai dengan ID yang anda tunjukkan. Permisi.”

Mata Siwon menatap nanar pada punggung Yoona yang telah pergi meninggalkannya. Apa yang terjadi? Kenapa Yoona tidak mengenalinya? Apa Yoona telah menghukum atas tindakannya dulu? Ya Tuhan..!.

***

“Namanya Jung Yoonhee. Dia bekerja sebagai dokter ahli bedah sudah tiga tahun ini. Lulusan Seoul Medical University. Lulus kuliah ia diterima kerja di California sebagai asisten dokter selama dua tahun. Dia yatimpiatu. Kedua orangtuanya meninggal ketika ia berusia tujuh belas tahun. Kemudian ia diasuh oleh sepasang suami isteri berkebangsaan eropa yang tinggal di Korea.”

“Kau yakin dia tidak punya catatan pernah tinggal di Tiongkok?”

Hyukjae menggelengkan kepala tanpa ada keraguan. “Aku sudah memeriksanya. Data ini aku dapatkan dari Rumah Sakit tempatnya bekerja. Aku juga sudah menanyai tetangga sekitar rumahnya. Dia tidak pernah pergi atau pun tinggal di Tiongkok.”

Mata Siwon menyipit. Ia mengamati data yang diserahkan Hyukjae padanya. Foto yang ada disana ia yakin bahwa wanita itu adalah Im Yoona, gadis yang begitu ia kenal. Wajahnya tidak banyak berubah. Hanya potongan rambutnya yang sekarang lebih pendek. Warnanya juga telah dicat hitam pekat. Tidak lagi mengenakan kacamata. Dan mata itu… Garis wajahnya sama sekali tidak berubah.

“Dia bukan Im Yoona-mu. Kau tau kan di dunia ini tidak menutup kemungkinan ada orang yang memiliki kemiripan wajah.”

“Dia Im Yoona..” Siwon berbisik. Entah memberitahu Hyukjae atau menegaskan pada dirinya sendiri.

“Bisa saja mereka hanya memiliki kemiripan wajah. Jung Yoonhee dengan Im Yoona jelas berbeda. Im Yoona dua tahun lebih muda darimu tapi Jung Yoonhee seangkatan denganmu.”

“Dia Im Yoona.”

Kali ini Hyukjae mendecakkan lidah. “Terserahlah.”

Lelaki itu kembali duduk ke mejanya. Ia sudah sangat lelah melihat sahabatnya yang terlalu dibutakan oleh cinta pertamanya. Siwon sudah tidak bisa berfikir jernih jika itu telah menyangkut Im Yoona. Bahkan diawal ia menjadi detektif saja sudah menimbulkan ulah, akibat ia mendapat kabar mengenai keberadaan Im Yoona ia sampai harus mengabaikan kasus pertama yang diterimanya sehingga hal itu menjadi catatan buruk sepanjang karirnya sebagai seorang detektif. Meskipun sekarang Choi Siwon telah banyak memecahkan kasus dan menjadi deretan detektif andal tetap saja kegagalan kasus pertama yang ditanganinya menjadi hantu yang terus membayanginya.

***

-Siwon’s POV-

Aku melihatnya. Meski hanya dari balik kaca. Dia adalah Im Yoona. Masih dengan senyum yang sama. Dengan suara yang sama. Sorot mata yang sama. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan sorot mata itu. Kepedihan dari sorot mata itu hanya milik Im Yoona.

Aku tersenyum dalam kenestapaan. Menatap sosoknya dari jarak sedekat ini. Apa dia tidak tau bagaimana gilanya aku selama ini mencari keberadaanya? Sebagaimana aku sangat ingin memeluknya, mendekapnya dan tidak ingin dia pergi lagi dariku. Sekarang ia ada di dekatku. Tapi aku tidak bisa memeluknya. Ia ada di depan mataku tapi aku tidak bisa mengusap wajah lelahnya.

Aku menatapnya dalam kesedihan. Dia berjalan dari satu tempat tidur ke tempat tidur yang lain hanya untuk memeriksa keadaan pasiennya. Wajah tenang yang dulu perlahan berubah. Kini ia lebih banyak senyum, walaupun aku tahu senyum itu ditunjukkan sebagai seorang dokter yang memberi kekuatan kepada pasien. Yang berarti Im Yoona tetaplah Im Yoona. Ia tidak pernah tersenyum untuk dirinya sendiri. Jika dulu Im Yoona sangat tidak menyukai bayi maka kali ini ia telah banyak belajar untuk menyukai bayi sebagai seorang dokter.

Sekali lagi aku tersenyum kala melihatnya tengah menidurkan pasiennya yang masih balita. Tepukan lembut serta nyanyian halus dari bibirnya untuk menidurkan sang banyi membuatku sedikit banyak teringat kejadian sepuluh tahun silam. Ketika kami dipertemukan dengan tidak wajar dan juga harus dipisahkan dengan tidak adil.

 

Flashback : [Sepuluh tahun yang lalu]

 

Donghoo Senior High School, Masan. 2007.

Annyeonghasseo.. Im Yoona Imnida. Salam kenal.”

Kala itu musim semi. Aku dipertemukan lagi dengannya. Dengan gadis bermata empat itu. Aku bisa dengan mudah mengenalinya berkat susu kotak rasa strawberry yang senantiasa dibawanya.

Dia adalah murid pindahan dan sekarang menjadi adik kelasku. Kudengar dia bukan gadis yang mudah bergaul. Dia pandai dalam olahraga terutama renang. Entah bagaimana aku mulai mengikuti segala hal mengenai dia. Aku sering bertanya pada sepupuku yang satu kelas dengannya. Meskipun pintar tapi Im Yoona adalah gadis yang dingin dan mahal untuk bicara.

Pernah suatu kali aku bertanya padanya saat jam olahraga. Kebetulah jam kami bertepatan. Dia yang dua tahun lebih muda dariku bahkan sampai tega mempermalukanku dengan mengacuhkan pertanyaanku begitu saja. Sayangnya aku bukan tipekal orang yang memikirkan rasa malu itu menjadi beban. Aku ingin dekat dengannya. Mungkin saja jika kukatakan bahwa aku adalah bocah tujuh tahun lalu yang ia beri susu kotak, dia akan mengingatku. Ya, ide bagus.

Hingga suatu waktu ketika sepulang sekolah, aku menemukannya tengah berjongkok di pinggir jalan, memandangi sepedanya.

“Ada apa?” tanyaku saat menaruh sepedaku di sekitar sana. Ia memandangku sejenak sebelum kembali fokus pada sepedanya. Aku pun mengikuti arah pandangnya. Kemudian tersenyum penuh arti. “Jadi kau tidak bisa membetulkan rantai sepedamu?” Aku turut berjongkok di sampingnya. Tanpa basa-basi lagi segera kugulung lengan seragamku sebatas siku. Sambil membenarkan rantai sepedanya, aku menggunakan waktu yang ada untuk memulai percakapan ringan dengannya.

“Rumahmu jauh dari sini?”

Dia menggeleng.

“Namamu Im Yoona, ‘kan?”

Kali ini ia mengangguk. Tanpa menoleh padaku. Dahiku berkerut samar. Apa gadis ini tidak punya banyak suku kata? Atau dia dibesarkan dari planet lain?

“Hey, kau tidak ingin tahu namaku?”

Dia hanya menggeleng. Kuhembuskan napas dengan kesal. “Apa kau benar-benar tidak mau bicara padaku? Hey ayolah. Kau tidak akan keracunan kalau hanya mengeluarkan kata ‘iya’ saja. Dan lagi—“

“Putus.”

“Apa?”

Bingo! Tepat saat itu rantai sepedanya yang berusaha kubenarkan putus. Apa ini? Dia punya tenaga supranatural?

Gadis itu mendengus. Kemudian ia berdiri, pergi begitu saja. “Camkaman!” teriakku berusaha menahannya. Tapi ia lagi-lagi mengacuhkanku. Kuhembuskan napas dan segera menyusulnya.

“Baiklah baiklah. Mungkin aku bukan pria baik—well, menurutmu.”

Dia berhenti. Lalu memandangku.

Kedua alisku terangkat. “Apa?”

Lagi-lagi dia mengacuhkanku. Sebenarnya ada apa dengan kepribadiannya? Kenapa untuk mengucapkan satu kata saja pelit sekali.

“Kau suka matahari?”

“Tidak.”

“Hey, ayolah tidak bisakah kau menjaw—Oh!“ Mataku membulat. Apa dia baru saja bersuara? Atau itu tadi suara cicitan burung yang terjepit batang pohon? Oh yeah, bagus!

“Kau tidak suka matahari, jadi apa yang kau sukai?” Kali ini aku mencobanya lagi. Aku sudah maju satu langkah.

Ketika tak kunjung-kunjung mendengar jawabannya, aku mendengus. Sepertinya dia suka sekali mempermainkanku.

“Oke, lupakan yang satu itu, Yoongieya.”

Aku tersenyum penuh arti. Yang satu ini berhasil menarik perhatiannya. Ia menoleh padaku dengan dahi berkerut. Aku berusaha menyembunyikan senyumku dan menampilkan wajah sok polos. “Kenapa? Apanya yang salah?”

“Kau tidak boleh memanggilku seperti itu.”

“Kenapa?”

“Tidak boleh!”

“Iya. Tapi apa alasannya?”

“Karena kita tidak saling mengenal.”

Kuhentikan langkahnya dengan menahan lengan kananya. Kemudian kuulurkan tanganku. “Kalau begitu mari kita saling mengenal. Namaku Siwon, Choi Siwon. Kau sudah bisa memanggilku ‘Oppa’.” Aku mengerling dan tersenyum padanya. “Kau tidak mengenalku?”

Dia masih terdiam. Dan menganggurkan tanganku yang masih terulur. “Kau punya payung?” tanyaku padanya. Mengulangi pertanyaannya tujuh tahun yang lalu. Raut wajahnya mulai berubah. Ia menatapku dengan kedua alis yang terangkat. “Chaa! Kalau ini apa kau sudah bisa mengenaliku?” Aku menarik kedua tangannya dan menyerahkan susu kotak rasa strawberry. Sama persis seperti dulu ketika ia memberiku susu kotaknya.

Senyumku masih mengembang sementara ia tengah mengamati antara susu kotak itu dengan wajahku.

“Kau… si ingus itu?”

Ha?

Nyatanya semenjak hari itu aku tahu dia bukanlah sosok yang membosankan seperti yang banyak orang katakan. Aku tidak tahu pastinya kapan. Tapi kami menjadi lebih dekat. Aku telah terbiasa dengan ucapannya yang sering kali bisa menjadi kenyataan. Dia tidak pernah cerita banyak. Ia hanya mengatakan bahwa ia tinggal bersama neneknya. Ibunya meninggal dalam kecelakaan kereta sepuluh tahun yang lalu saat ia berusia delapan tahun. Itu berarti saat pertemuan pertama kami. Ia tidak menceritakan mengenai ayahnya.

“Yoongieya. Ayo kubonceng. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.”

Dia mengernyit. Entah bagaimana ekspresi yang hanya seperti itu bisa membuatku tersenyum geli.

“Mau kemana?” tanyanya sambil mencobloskan sedotan pada susu kotaknya.

Tanganku dengan tidak sabar menarik lengannya agar segera duduk di boncengan sepeda. “Kau hanya harus duduk dan menurut, arrachi?

Ia menatapku untuk beberapa saat. Kemudian sebuah senyum muncul di wajah cantiknya. Senyum termanis yang pernah kulihat.

“Baiklah.”

Sementara aku mengayuh sepeda, jemari-jemari mungilnya saling bertautan melingkari pinggangku. Sesekali kulirik wajahnya. Ia tersenyum kearahku.

“Disini indah,” kata Yoona memandang pada senja di antara awan jingga.

“Kakekku bilang langit terindah adalah ketika matahari terbenam. Sebab saat itu kita akan menjadi saksi pergantian warna langit.”

Jinja? Kalau begitu aku ingin mengajak nenek kemari.”

Aku mendengus. “Seharusnya kau bilang akan mengajakku.”

“Tapi kau sudah mengajakku.”

“Iya. Tapi lain kali kau yang harus memboncengku.”

Shirro!

“Kenapa tidak?”

“Kenapa harus?”

Aku mendecakkan lidah, kesal. Kalau sudah seperti ini aku yang selalu harus mengalah. “Baiklah baiklah. Fokus saja pada pemandangannya.”

Dia tidak lagi bicara. Hanya menurut ucapanku. Menempelkan pipinya pada punggungku. Aku bahkan bisa merasakan hembusan nafas halusnya. Ini membuatku merasa bahagia hanya dengan berada disampingnya. Entah bagaimana ia bisa melakukan hal itu padaku.

“Jika aku menghilang dari muka bumi ini kau harus mencariku hingga ujung dunia. Arrachi?”

Aku tertawa atas ucapannya. Dia sudah banyak bicara dan lebih cerewet sekarang. “Shirro!” candaku. Dan mendapat cubitan keras di perutku hingga membuatku mengaduh tapi juga tertawa lepas. Dan kami tertawa bersama.

Biasanya kami menghabiskan waktu dengan bersepeda bersama sepulang sekolah. Hal sekecil itu sudah cukup membuat kami dekat. Dan kenyamanan tiap kali berada di dekatnya tidak dapat kupungkiri, aku mengakuinya.

Kupikir ide untuk mengajaknya berjalan-jalan agak jauh adalah hal yang terbaik. Namun kenyataannya hal itu adalah awal dari malapetaka. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya meninggalkannya sebentar untuk membeli makanan di ujung jalan. Tapi setelah aku kembali yang kulihat ia telah diseret oleh dua orang berpakaian hitam. Untuk pertama kalinya Im Yoona berteriak. Ia berteriak minta tolong dan memanggil-manggil namaku.

Aku terkejut! Teramat terkejut hingga tidak dapat berfikir apapun selain mengejar mobil itu walau hanya dengan menggunakan sepeda. Berbekal tenaga seadanya kukejar mobil hitam itu. Beberapa kali aku kehilangan jejaknya. Tapi aku tidak menyerah. Tidak akan! Aku tidak tahu sejak kapan tapi air mataku terus membanjiri wajahku. Yoona berteriak memohon pertolonganku. Dia menangis. Dia ketakutan.

Seluruh tenagaku terkuras habis untuk mengejar mobil yang tidak sepadan kekuatannya dengan hanya sepeda bututku. Aku menemukan mobil itu di depan sebuah gedung tua. Jantungku berdegup kencang. Tidak ada yang bisa kupikirkan lagi selain Yoona. Sambil berlari kedalam gedung tua itu aku berdoa semoga aku belum terlambat. Semoga Yoona masih dalam keadaan baik-baik saja. Tuhan tolong…

Tapi Tuhan sungguh tidak adil padaku. Pemandangan mengerikan didepanku adalah Im Yoona yang sudah tidak sadarkan diri. Hal yang membuat jantungku seakan diremas keji adalah fakta bahwa seragam Yoona yang disobek. Memar-memar bekas pukulan di sekujur tubuhnya.

“Yoongieya.. Yoona.. Yoona..” Aku berjalan dengan sempoyongan kearah tubuh lemah itu. Tapi belum sampai aku menyentuhnya, tanganku telah ditarik dan tubuhku dihempaskan berbentur dinding. Dua orang berbadan tegap serta berpakaian hitam mencengkram lenganku.

“Bajingan! Apa yang sudah kau lakukan pada Yoona! Brengsek!” Aku bergerak membabibuta. Menghujat seorang lelaki tinggi yang berdiri dengan angkuhnya di depanku.

Ia tertawa keras. Tawa yang begitu kubenci. Suara mengerikan yang membuat seluruh aliran darahku memanas. Aku bersumpah akan membunuhnya.

“Brengsek kau! Bajingan menjijikkan!” Aku harus meringis menerima tendangan pada perutku atas ucapanku tadi. Tidak berhenti disitu. Ia juga menghajarku habis-habisan. Aku hampir tidak bisa merasakan keseluruhan persendianku. Darah segar memuncrat dari sekujur tubuhku. Mataku mulai kabur menatap tubuh Yoona yang tergeletak tak jauh dariku. Kesadarannya mulai pulih. Tapi ia menangis. Ia menangis dalam diam. Aku pun menangis karena tidak bisa berbuat apa-apa.

Saat itu aku ingin membunuh diriku sendiri karena begitu lemah dan tidak bisa menolong atau pun melindungi Yoona. “Mianhae Yoona.. mianhae Yoona… mianhae Yoona.” Berkali-kali kubisikkan kata-kata itu sebelum semuanya berubah menjadi gelap.

Semua itu hanyalah mimipi buruk dalam tidur malam. Segalanya baik-baik saja.

Suara eomma yang lembut menyambutku kala terang lampu yang langsuk masuk kedalam retina mataku.

“Kau koma selama tiga minggu. Dokter bilang kau mengalami benturan hebat pada kepalamu hingga mengakibatkan gagar otak ringan. Kau tahu betapa eomma khawatir padamu, Siwon-ah..

Aku menelan ludah, pahit. “Yoona..” Kata pertama yang keluar dari mulutku. “Dimana Yoona, eomma? Dia ada dimana sekarang?” Dengan panik, aku berusaha turun dari ranjang. Aku harus menemui Yoona sekarang. Harus!

Tapi rasa nyeri yang begitu dahsyat menyayat kepalaku. Aku terhempas lagi dengan rasa sakit disekujur tubuhku.

“Dia sudah pulang sejak seminggu yang lalu.”

Eomma memberitahuku agar aku bersabar dan berjanji akan mempertemukanku dengan Yoona saat aku telah pulih. Tapi aku tahu kebenarannya. Eomma tidak akan pernah mempertemukanku dengan Yoona lagi. Dia membawaku pulang ke Seoul bukan ke rumah kakek di Masan.

Aku tidak pernah menyangka hari keji itu akan menghampiriku. Semenjak kejadian itu Yoona tidak terdengar lagi kabarnya. Apakah dia masih hidup atau sudah mati. Tidak ada yang tahu bagaimana keadaan dan kabar Yoona.

Flashback End

***

Victoria’s Apartment, Gangnam-gu, Seoul. 2014.

 

-Author’s POV-

Victoria harus menahan kekesalannya saat Choi Siwon menyelonong masuk kedalam Apartemennya bahkan ke kamar tidurnya. Hal ini memang bukan hal yang baru. Siwon sudah sering kali keluar masuk Apartemennya. Ia memberikan password pada lelaki itu—sebenarnya ia dipaksa—karena Siwon bilang saat ia bosan pulang ke Apartemennya yang kecil ia akan menginap ke Apartemen Victoria.

“Harusnya kau telpon dulu aku,” kata Victoria kesal sambil menggulung rambut dengan asal setelah keluar dari kamarnya. Ia baru saja dibuat jantungan oleh kehadiran Siwon yang tiba-tiba ada di kamarnya, tidur di sampingnya. Sepertinya lelaki itu sedang mabuk. Victoria benci pria mabuk. Biasanya ia akan segera mengusir mereka jauh-jauh. Tapi tidak untuk Siwon. lelaki itu mendapat pengecualian.

“Apa pencuri itu mengambil barang berhargamu sampai kau harus mabuk seperti ini?” Victoria bertanya sambil membuatkan cokelat panas untuk mereka. Sementara Siwon duduk dengan kepala tergeletak di meja dapur. Ia bergumam yang tidak dapat di dengar oleh Victoria.

Selesai dengan coketal panasnya, ia meletakkan satu cangkir di hadapan Siwon dan secangkir lagi untuknya. Terbangun dengan bau cokelat yang sedap membuat Siwon ingin segera meneguknya. Malang, karena ia harus berteriak lantaran cokelat panas yang seketika membuat lidahnya mati rasa. Wajah kesal Siwon dibalas oleh tawa renyah Victoria yang mengisi ruang dapur.

“Jadi apa masalahmu, Detektif Choi?”

Bibir Siwon mengerucut dengan gumaman yang lagi-lagi tidak sampai terdengar oleh Victoria.  “Aku menemukannya.” Akhirnya Siwon bersuara.

“Apa?” Victoria nampak terkejut. “Maksudmu gadis itu?”

Kepala Siwon mengangguk. Lelaki itu bersandar pada kursi. Pandangannya menerawang jauh. Teringat akan pertemuannya dengan Yoona setelah sepuluh tahun lamanya mereka terpisah.

Victoria tahu ada yang tidak beres, terlihat dari gelagat Siwon. Walaupun ia baru mengenal Siwon dua tahun terakhir ini, ia sudah hafal sikap Siwon. “Apa yang terjadi?” tanyanya kemudian.

Gelengan kepala Siwon membuat Victoria berantisipasi lebih dan menyimak cerita lelaki itu. “Dia tidak mengenaliku. Dia menganggapku orang lain.” Victoria diam, menunggu lanjutan dari cerita Siwon.

“Dia mengganti identitasnya. Aku tidak tahu apa alasannya tapi aku yakin betul bahwa dia adalah Im Yoona-ku. Semua orang mengatakan bahwa Yoona sudah mati tapi aku bukan orang yang mengikuti apa kata orang sebelum melihat mayat Yoona dengan mata kepalaku sendiri. Dia masih hidup, Qiannie. Hatiku mengatakan dia masih hidup.”

Apa yang bisa Victoria lakukan untuk menghibur lelaki ini? Melihat tatapan mata Siwon yang menyimpan luka telah membuatnya ikut sakit. Lelaki ini telah menanggung beban bertahun-tahun atas menghilangnya gadis bernama Im Yoona itu. Cinta pertamanya. Kalau bisa, Victoria ingin sekali menggantikan posisi gadis itu di hati Siwon. Betapa beruntungnya gadis bernama Im Yoona itu telah begitu dicintai oleh pria ini. Sedang dirinya? Cih. Jangankan dicintai, baru mencintai satu orang saja ia sudah harus merasakan patah hati sebelum berperang.

“Dia masih hidup, Qiannie. Dia Im Yoona-ku.”

Qiannie? Siwon memang lebih suka memanggilnya Qian daripada Victoria. Ia pun tidak merasa keberatan dengan panggilan itu.

Wanita itu mengamati wajah Siwon yang telah tertidur. Ia berkali-kali mengigau memanggil nama Yoona. Ada kerutan di dahinya yang menandakan ia tidak pernah tidur pulas. Victoria menarik napas untuk mengisi rongga paru-parunya. Ia berdiri dari duduknya hanya untuk berpindah ke kursi di samping Siwon. Kepalanya bersandarkan lengan ikut berbaring di atas meja, mengamati wajah lelap Siwon lebih dekat.

Tangan Victoria bergerak untuk menyentuh wajah Siwon. Ia mengusapnya lembut. Entah atas keberanian apa ia mulai mendekatkan wajahnya pada Siwon. Jantungnya berdenyut. Seperti bom yang siap meledak. Bibirnya lebih dekat dengan bibir Siwon. Hanya beberapa senti lagi maka…

“Yoona.. Im Yoona..”

Victoria memejamkan kedua matanya. Dengan sebutir air mata yang mengalir disana. Ia tidak akan pernah bisa memiliki Siwon. Lelaki ini terlalu baik jika disandingkan dengannya. Apalah artinya ia untuk Siwon. Ia yang hanya seorang wanita hiburan tidak ada artinya jika dibandingkan dengan Im Yoona yang ia tahu adalah wanita baik-baik.

***

“Darimana saja kau?”

Ruang yang tadinya gelap kini mulai diterangi oleh satu per satu lampu yang menyala. Seorang pria berbadan tegap telah bersandar di depan pintu kamar sambil menyilangkan kedua lengan di depan dada.  Ia mengamati seorang wanita yang baru saja datang, sedang mengganti sepatunya dengan sendal rumah. Tanpa menjawab pertanyaan darinya, wanita itu berjalan begitu saja kearah dapur. Senyum kecil menguar di sudut bibir si lelaki.

Ia ikut masuk ke dalam dapur. Menghampiri wanita itu yang tengah meneguk air. Lelaki itu memeluknya dari belakang. Menimbulkan suara ‘pyar’ dari gelas yang lolos dari tangan si wanita hingga membuatnya terlonjak dan refleks mendorong tubuh si lelaki.

“Menjauhlah dariku,” kata si wanita lirih, namun dengan nada tegas.

Si lelaki mengamati gerak gerik si wanita yang membersihkan pecahan kaca di lantai. Tidak menatap kearahnya sama sekali. Sikapnya itu membuat kesabaran si lelaki habis. Dengan kasarnya ia menarik lengan si wanita agar berdiri. Namun si wanita kembali berontak. Tapi lelaki itu benar-benar sudah kesal hingga mencengkram lengan wanita itu kuat-kuat. Membuat si wanita meringis kesakitan.

“Ssssttt..” desisisan lelaki itu membuat sekujur tubuhnya meremang. “Kau tahu kan aku paling tidak suka diacuhkan?” Wanita itu dapat merasakan senyum mengerikan dari si lelaki yang menempel di telinganya.

“Jangan lupa setiap gerak gerikmu selalu kuperhatikan. Aku punya banyak mata yang bisa dengan mudah menemukanmu. Termasuk saat kau mengikutinya tadi.”

Mata si wanita membulat. Tapi ia bisa dengan cepat menyembunyikan keterkejutannya. Perubahan raut wajahnya membuat si lelaki menyunggingkan senyum kecilnya. “Menurutmu apa yang akan terjadi jika kau tidak menurut?” tepat kata terakhir terucap, si lelaki menodong pinggul wanita itu dengan jari telunjuknya. Ia cukup tahu bahwa wanita itu sangat pandai dalam menyembunyikan ketakutan.

“Ya, kau tahu persis apa yang akan terjadi. Maka jangan pernah lupa bahwa aku adalah Tuan-mu!” Dengan sekali dorongan yang cukup keras, wanita itu tersungkur diatas lantai. Ia menggigit bibir kecilnya ketika si lelaki mensejajarkan tubuhnya. Lelaki itu menarik dagu si wanita, mengamati dengan mata disipitkan.

“Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Kau tahu betul itu. Jadi kalau kau berulah tidak dengan perintahku…” Si lelaki berhenti berucap saat menemukan pupil mata wanita itu yang bergerak liar. Dia tersenyum miring. “Ini peringatan terakhir untukmu, Nona.”

Kemudian ia berdiri, meninggalkan wanita itu begitu saja. Tapi baru tiga langkah, ia kembali berbalik. “Ahh, kuharap kau benar-benar mendengarku, Yoonheeyaanni,  haruskah aku memanggilmu ‘Im Yoona’?”

“IM YOONA SUDAH MATI! DIA SUDAH MATI!”

Tawa keras lelaki itu mengisi seluruh ruang, menguar diantara denting jam yang berdetak. Suara tawa mengerikan itu membuat si wanita menutup kedua telinganya sambil menangis sesegukan.

Im Yoona sudah mati! Hilang sepuluh tahun yang lalu..

.

To Be Continued…

a/n : Halo! Author tukang PHP ini kembali :p aku harap masih ada dari kalian yang sudi baca cerita yang baru kubawa ini. Sekedar info aja kalo cerita 2shoot ini udah selesai^^ buat yang ini gak akan nunggu lama, mungkin minggu depan udah nongol disini chap end-nya. Jadi buruan tinggalkan jejak sebelum nyesel gak dapet PW di chap end 😀 HAHA!

Iklan
Tinggalkan komentar

239 Komentar

  1. Waaw… FF ini mengingatkan aku ama dramanya I Miss You.

    FF-nya ditunggu ya. Kalau udah jadi, update cepet dong. Hehehehe. Ditunggu kelanjutannya.

    Balas
  2. mimo

     /  September 30, 2014

    Kenapa ya sama yoona? Ko jd gitu kan kasihan siwon, onnie cpt ya ga sabar neh hehehehe ditunggu yah

    Balas
  3. imaniarimoi

     /  September 30, 2014

    Kaya drama I Miss You.. Hehehe~~
    Masih rada ga paham sama ceritanya. Lelaki yg ngancem yongnie itu siapaaaa??
    Jadi yoonhee itu yoona?? Oemjiiiii~~
    Lanjuuuuttttt!!!!
    Yoonwon jjang!!!^^

    Balas
  4. fitriawandi

     /  Oktober 1, 2014

    jadi yoona masih hidup ? tapi kenapa dia nyembuiin identitasnya yaaa
    kasihan wonppa

    next part ditunggu

    Balas
  5. Wati88

     /  Oktober 2, 2014

    Lho kok..itu beneran yoona?tapi kok berubah.aduh makin penasaran nih

    Balas
  6. hanna lee

     /  Oktober 3, 2014

    huaaaaaa keren bahasanya enak dibaca, penasaran bgt ada apa sm yoona? Terus itu cowo siapa yg jadi tuanya yoona? Yaampun oenn bikin penasaran ternyata kisah cinta yoonwon bnyk ujian bgt T_T tp smg happy end ya ditunggu next chaptnya oenn 🙂

    Balas
  7. dindafebby

     /  Oktober 5, 2014

    ceritanya udah takdir banget yaaa.. dipertemukan lagi hahahaha
    wow apa yang terjadi ini???
    itu yoona?
    terus cwo itu siapa?? :O
    fix penasaran, lanjut ya say 🙂

    Balas
  8. itu yoona kenapa ya?
    kok kayak orang setres
    jadi penasaran

    ditunggu kelanjutannya
    keren bgt

    Balas
  9. Ko’ Yoona nyamar sich??
    Trust laki” thu siapa??

    Balas
  10. keren…ada apa dengan yoona eonni,siapa kah lelaki itu…msh terlalu banyak teka-teki…di tunggu chapter brktnya…

    Balas
  11. Fany Yoonadict Yoonwonited

     /  Oktober 15, 2014

    Siapa lelaki itu?? Im yoona msih hidup?? 😮
    Next ditunggu 😉

    Balas
  12. next next penasaran knapa yoona menghilang

    Balas
  13. ParkHyeRi

     /  Oktober 18, 2014

    Seruu thor ceritanyaaa!! Lanjut secepatnya yaa
    keep writing 🙂

    Balas
  14. huahh cerita nya kaya drama i miss you keren thor siap siap hujan air mata

    Balas
  15. Masa kecil yang romantis berujung tragis. Hikss
    Im Yoona sudah mati? Kenapa dia berbicara spt itu? Lalu endingnya kenapa begitu?
    Apakah yoona di bawa oleh lelaki itu lalu di samarkan identitasnya? Ah! Jangan2 lelaki itu memanfaatkan Yoona? Dan juga anak kecil yg hilang itu apakah di bunuh oleh lelaki yg sama?
    Arhh aku benar2 penasaran ><

    Balas
  16. bee

     /  November 20, 2014

    Wahhhhh .. kerennn bangettttt !! Next ff nya cinn .. bikin penasaran banget ama klanjutannya ..

    Balas
  17. Lia yoonwonited

     /  November 23, 2014

    Perasaan Gak enak

    Yoona kenapa???
    Apa yg terjadi sebenernnya?
    Kasian yw mereka sama2 mencintai Tapi kayaknya kisah cinta mereka sulit

    Aku gak mau sampe ada apa2 yg terjadi sama yoona,dan jgn smpe tuan nya yoona itu sudah sering apa2in Yoona,gakk setuju paling benci kalo gitu ! Pokoknya jangan jangannn
    Hanya siwon seorang yg boleh “apa2in” yoona :v

    Ditunggu nextnyaa yaa ^^

    Balas
  18. nur khayati

     /  November 24, 2014

    Yoona bakat ngeramal jg,, he he
    Lucu deh waktu baca Yoona mau ngajak Nenek.a k tmpat itu,,
    Victoria, cinta mu brtepuk sebelah tangan,, hu hu
    Jahat bgt tuh Seungwon

    Balas
  19. Rifie_Elf

     /  November 25, 2014

    Aku masih bingung sma cerita ini…
    Next chapternx di tunggu…

    Balas
  20. Daebakkkk! Tapi aku masih bingung ama ceritanya!! Sebenernya siapa sih lelaki yang kasar sama young?

    Buat happy end ya author! Ditunggu next chapter! 🙂

    Balas
  21. Kasian yoona 😞 smoga happy ending ya dan ditunggu part 2 nya 😊

    Balas
  22. Wahh yoona eonni knpa
    lupa ma woonpa kan ksian
    dia nggu yoona eonni
    trus mksud nya namja tadi apa tuan apa yoona eonni kerja sma tuan itu

    Balas
  23. Wahh yoona eonni knpa
    lupa ma woonpa kan ksian
    dia nggu yoona eonni
    trus mksud nya namja tadi apa tuan apa yoona eonni kerja sma tuan itu ternyta vic eonni suka ma woonpa

    Balas
  24. Nur

     /  Februari 21, 2015

    siapa yang ngancam yoonhee author?

    Balas
  25. tiffany

     /  Februari 21, 2015

    Bagussss

    Balas
  26. wah…..ffnya keren.yoona kenapa gak mau ngaku kalau dia beneran im yoona?terus kenapa yoona ditangkap?ff ini bikin penasaran.ditunggu ya chapter selanjutnya

    Balas
  27. Knpa sma yoona eonni?knpa dia pra² ga knal sma siwon oppa.dan siapa yg udah ngancem yoona eonni?penasarann thorr kerennn

    Balas
  28. Masih bingung ma ceritanya..
    Siapa laki” yg sama yoona n kenapa yoona ma laki” itu, trus kenapa dia ngubah identitasnya..
    Masih banyak yg belum terungkap jd di tunggu kelanjutannya..

    Balas
  29. Riskaa

     /  Desember 8, 2015

    Wuah cerita ini banyak teka-teki, jadi bikin penasaran sama kelanjutan ceritanya, dan siapakah laki2 yang bersama yoona, apakah itu orang yg udah nyelematin yoona dahulu..?

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: