[FF] COMPROMISE : UNPREDICTABLE MAN ( CHAPTER 4 )

Comp - remake 2

Misskangen Presents: COMPROMISE

 

Casts: GG’s Yoona as Im Yoona

           SJ’s Siwon as Choi Siwon

Cha Seung Won as Choi Seung Won

SJ’ Kyuhyun as Choi Kyuhyun

 

Minor Casts: GG’s Jessica as Im Soo Yeon / Jessica Jung

 F(x)’s Sulli as Park Sulli

SJ’s Choiteuk as Park Jung Soo

GG’s Taeyeon as Im Taeyeon

 

Genre: Romance, Family

 

Rating: Mature

 

Length : Chapters

 

Disclaimer : This is a remake fanfiction in YoonWon Version. All of the story and plot is mine. Do not copy or doing plagiarism. Please apologize for unidentified typo(s).

 

 

COMPROMISE : UNPREDICTABLE MAN ( CHAPTER 4 )

 

Bagian manakah dari diriku yang terasa paling sakit sekarang?

Entahlah. Aku tidak tahu jawabannya. Mungkin karena aku tak merasa sakit hati atau memang rasa sakit itu seharusnya tak pernah ada dan tak seharusnya aku rasakan. Semestinya aku merasa hancur ketika dengan penuh percaya diri aku menanyakan kepada Kyuhyun perihal kemungkinan masih adanya celah bagi kami untuk bersama. Mungkin saja setitik rasa cinta dan saling memiliki bisa mengubah keadaan maupun masa depan bagi kami.

Tidak. Jawabannya tidak sama sekali.

 

Meskipun Kyuhyun mengatakan bahwa ia telah menghapus dan membunuh perasaannya terhadapku, atau katakanlah Kyuhyun berbohong dengan semua perkataannya yang tajam itu, aku tak merasa harus sakit hati.

 

Aku hanya kecewa. Semua yang ada antara aku dan Kyuhyun dulu sudah berakhir, entah itu cinta maupun perhatian dan kasih sayang berbeda jenis. Lantas, jika takdir memutuskan kami untuk tak bisa bersama harusnya tak usah lagi ada pertemuan di kemudian hari. Sekarang semua menjadi rumit. Ketika pertemuan itu terjadi, namun tali yang menjadi penghubung seolah begitu erat karena lilitan api panas.

 

Kyuhyun, seorang pria yang merupakan mantan kekasihku kini beralih menjadi Kyuhyun seorang pria yang merupakan calon adik iparku. Dan Kyuhyun adalah seorang pria yang entah mengapa menjadi salah satu objek kebencian calon suamiku.

 

Lalu bagaimana aku harus menempatkan diriku? Menjadi seorang Im Yoona saat ini sepertinya adalah sebuah pilihan yang menjadi urutan terakhir bagi gadis-gadis di luar sana. Im Yoona yang sekarang ini memiliki masalah di berbagai sudut, mulai dari segi finansial perusahaan, perjanjian gelap dengan calon mertua, dan konfrontasi dengan calon suami. Super sekali masalahku!!!

 

Sekarang apa yang harus aku lakukan setelah tertangkap oleh Siwon sedang berbicara empat mata dengan sangat serius bersama Kyuhyun di rumah keluarga Choi? Apakah Siwon tadi mendengar semua percakapanku dengan Kyuhyun?

 

Jika kau seseorang yang baru mengenalku, apakah kau langsung bisa menarik kesimpulan bahwa ada sesuatu yang terlihat berlebihan antara aku dan Kyuhyun?

Okay, ini hanya sekedar tebakanku saja, Siwon tidak mendengar percakapan kami jika menilik dari jarak tubuhnya yang berdiri cukup jauh dariku dan Kyuhyun. Aku bahkan harus mencapai tempatnya dalam lebih dari sepuluh langkah.

 

“Siwon-ssi, kau ada disini?” aku menyapanya dengan kaku karena sedang membaca situasi. Siapa tahu ia akan meledak melihatku dekat-dekat dengan Kyuhyun.

Siwon tersenyum singkat. Sangat singkat. Mungkin hanya satu detik. Tapi raut wajahnya sangat tenang, tidak ada kecurigaan maupun amarah.

“Tentu saja, ini kan rumahku,” jawabnya datar, seperti biasa.

“Apakah ini kali pertama kau datang ke rumah keluarga Choi?” tanyanya kemudian. Aku mengangguk pelan tanpa suara. “Kelihatannya kau sudah diberi pelayanan yang baik oleh tuan rumah untuk berjalan-jalan melihat sekeliling rumah ini.”

 

Apa yang dipikirkan orang ini? Reaksinya hanya seperti itu saja. Aku berpikir jika ia akan marah atau setidaknya menegurku yang mungkin saja dinilainya sudah lancang memasuki area milik keluarganya bersama dengan seseorang yang tidak disukainya. Tapi Siwon hanya berkomentar sedikit sinis dengan keberadaanku disini.

 

“Hyung, kau datang. Sepertinya sudah lama sekali kau tak pulang ke rumah ini. Semua orang merindukanmu—“

“Sudah kukatakan kalau ini adalah rumahku. Tidak ada seorangpun yang bisa mengatur kapan aku harus pulang.” Siwon seenaknya memotong perkataan Kyuhyun dengan nada pedas. Aku yakin Kyuhyun sudah mengumpulkan keberanian dan menguatkan hatinya hanya sekedar untuk menyapa kakaknya yang arogan itu. Aku merasa Siwon benar-benar sosok saudara yang kejam.

“…dan satu lagi, kau bilang semua orang merindukanku? Tidak ada hal seperti itu di tempat ini, Choi Kyuhyun. Tidak ada orang yang sungguh merindukanku, semua hanya sandiwara munafik yang sedikitpun tak membuatku tertarik untuk memberikan applause.

 

Tanpa kusadari secara spontan aku menghembuskan napas kasar dari mulutku. Bagaimanapun aku merasa sangat sial harus berada di tengah-tengah dua saudara yang sedang menghunuskan pedang dan siap untuk saling tebas. Oh tidak, hanya Siwon yang selalu siap dengan pedang tajamnya, sementara Kyuhyun lebih terlihat pasrah menjadi perisai atau tameng tebal untuk menerima segala serangan.

Kalau saja ini adalah sebuah pertandingan tinju atau gulat bebas, maka dengan senang hati aku akan menjadi supporter terdepan bagi Kyuhyun. Aku sangat prihatin padanya yang harus makan hati setiap kali berhadapan dengan kakaknya itu. Bahkan aku sendiri juga terancam akan mengalami hal yang sama dengannya karena aku akan terus bertemu dan hidup bersama Choi Siwon.

 

“Kau kenapa?” tanya Siwon mengalihkan perhatiannya dari Kyuhyun kepadaku yang sejak beberapa saat lalu berdiri di depannya tanpa mendapat tatapan darinya selama ia berdebat dengan sang adik.

 

“Aku baik-baik saja, hanya merasa tidak nyaman dengan percakapan penuh makna yang kalian lakukan.” Tanpa merasa perlu mendinginkan suasana, secara frontal aku menyuarakan rasa tidak sukaku atas situasi ini. “Aku jadi merasa bahwa hawa disekitar sini menjadi gerah.”

 

Sambil mengibaskan tangan aku beranjak pergi meninggalkan kedua orang yang membuatku pusing sendiri memikirkan masalah dan rahasia yang tersembunyi di antara mereka. Baru dua langkah aku berjalan, namun sudah terhenti dengan tanganku yang tercekal oleh seseorang.

 

“Kau mau kemana? Aku belum mengizinkanmu pergi dari sini,” ucap orang yang sudah melakukan tindakan menyebalkan seperti menggenggam pergelangan tanganku hingga aku tak bisa berjalan lebih jauh.

 

Aku memutar bola mata, sangat tidak senang dengan perkataan Siwon yang merasa seolah ia adalah pusat perhatianku. “Aku datang kesini untuk bertemu dengan ibumu, jadi kau tidak perlu repot bertingkah seperti pengasuhku.”

 

Kuakui kata-kataku memang sangat cukup untuk membuatnya semakin mengeratkan pegangannya di lenganku dan rahangnya yang berubah mengeras. Apalagi saat aku menyebut kata ‘ibumu’ yang kutahu persis sangat tidak disukainya. Tapi apa daya, aku sudah terlanjur kesal karena perilakunya maupun kata-katanya.

 

Kudengar Siwon menghela napas, seolah melepaskan amarah agar ia tak meledak lalu melakukan hal yang lebih parah hingga aku harus berjibaku dengannya dalam hal pertengkaran. Ia tidak akan melakukan hal itu di depan Kyuhyun karena itu sama saja menunjukkan bahwa hubungan kami sangat tidak baik di mata Kyuhyun, dan Siwon sama sekali tidak mendapat keuntungan dari kondisi tersebut.

 

“Dengarkan aku, Sayang… aku sudah sangat memaksakan diriku untuk kerepotan datang kesini karena aku mendengar sopir menjemputmu dan mengantarmu sampai ke rumah. Semua ini kulakukan karenamu. Jadi sebaiknya kau ikut denganku karena ada hal yang lebih penting yang harus kita lakukan.”

 

Siwon berbicara dengan suara yang pelan, tidak berbisik tetapi penuh dengan penekanan kata hingga aku merasa bahwa mungkin saja tenggorokannya gatal hingga ia tak berbicara lembut atau setidaknya bernada datar seperti biasa.

 

“Kau tidak bisa seenaknya, Siwon-ssi. Aku lebih dulu berjanji dengan ibumu dan sekarang kau ingin aku ikut denganmu. Ini jelas tidak fair,” tolakku tanpa memandang wajahnya.

 

Fair atau tidak, yang jelas aku tidak suka ada kata penolakan!” segera ia menarikku ikut berjalan mengikuti langkah-langkah cepatnya. Ia juga tidak mempedulikan panggilan Kyuhyun di belakang kami.

Aku tahu bahwa Kyuhyun ingin protes dengan tindakan semena-mena Siwon terhadapku. Apalagi hal ini terjadi di depan matanya. Kyuhyun adalah tipe pria yang tidak menyukai kekerasan, dia adalah pria penyayang yang sangat lembut terhadap wanita. Itu adalah nilai positif yang sangat aku sukai darinya. Sedangkan pria yang sedang menarik tanganku ini, entahlah… yang aku pahami adalah Siwon merupakan seorang pria yang sangat tidak suka basa-basi dan sikapnya tidak mudah ditebak.

 

“Yak!!!” teriakku sambil berusaha melepaskan tanganku dari cengkeramannya.

“Yoona-ssi…” suara lembut seorang wanita menghentikan langkah kami. Aku menoleh pada asal suara yang sedang berjalan mendekat ke arahku.

 

“Oh, Eomonim… Annyeonghaseyo,” sapaku kikuk pada Nyonya Choi yang baru saja muncul di antara kami. Aku mendapati dahinya berkerut melihat situasi yang ada padaku sekarang. Nyonya Choi pasti bisa menebak apa yang terjadi jika ada aku, Kyuhyun, dan Siwon dalam waktu dan tempat yang bersamaan.

 

“Siwon-ah, kau benar-benar ada disini. Tadi pelayan memberitahuku bahwa kau datang. Kebetulan sekali, bagaimana kalau kita semua makan siang bersama?” tanya Nyonya Choi pada Siwon. Senyumnya terlihat sangat tulus walau ada keraguan dalam sorot matanya. Jelas saja, sudah pasti Nyonya Choi berharap bahwa Choi Siwon akan menyambut ajakannya dengan baik.

 

“Aku datang kesini karena gadis ini,” jawab Siwon malas sambil menunjukku dengan dagunya. “Aku punya urusan pribadi yang sangat penting dengannya dan tidak bisa ditunda lagi. Jadi aku akan membawanya pergi sekarang.”

 

“Mwo?” mataku melebar mendengar jawaban Siwon. Pria ini memang sepertinya sudah kehilangan orientasi atau sudah lupa sama sekali bagaimana caranya bersikap sopan pada orang tua. Aku mengerti jika dia tidak menyukai ibu tirinya itu, tapi bukan berarti sikapnya harus terang-terangan ditunjukkan. Bahkan sekedar untuk berbicara saja Siwon tak mau menatap Nyonya Choi.

“Siwon-ssi, aku lebih dulu memiliki janji dengan Eomonim. Kau tidak bisa—“

 

“Sudah kukatakan ini sangat penting! Jangan menolak dan ikut saja denganku.” Aku mendengus karena Siwon seenaknya memotong kata-kataku dengan nada bicaranya yang tinggi itu. Aku hanya menatap penuh sesal pada Nyonya Choi dan menunggu jawaban darinya.

 

“Tidak apa-apa, Yoona-ssi. Masih ada hari esok. Kau tidak perlu khawatir soal itu,” akhirnya Nyonya Choi hanya bisa pasrah dengan sikap semena-mena Siwon. Sudah kuduga akan jadi seperti ini. Tunanganku yang berhati keras itu tidak akan pernah mau mengalah untuk apapun, meski itu dengan keluarganya sendiri.

 

Merasa sudah mendapat kejelasan mengenai nasib pertemuanku dengan Nyonya Choi, tanpa ancang-ancang Choi Siwon kembali menarik tanganku yang sedari tadi tak dilepasnya. Pergelangan tanganku mulai terasa perih karena perbuatannya. Lihat saja sebentar lagi akan ada noda kemerahan disana. Aish! Aku benar-benar sial harus bertemu dan bertunangan dengan pria yang kasar seperti dirinya.

 

***

 

 

Aku tidak mau melihatnya untuk sementara. Pria di sebelahku ini sungguh sangat menyebalkan. Biar saja kalau dia menilai tingkahku ini sangat kekanakan. Tetapi siapapun tidak akan ada yang merasa senang jika diperlakukan semena-mena oleh orang lain, begitu pula denganku.

 

Aku tidak sedikitpun melihat ke arahnya, bahkan untuk melirik wajahnya saja aku enggan. Jadi selama beberapa menit aku berada dalam mobilnya, aku hanya diam membisu. Pandanganku hanya tertuju pada view di luar jendela mobil sementara tanganku masih setia mengelus pergelangan tanganku yang terasa sedikit perih karena cekalannya.

 

“Aku tahu kau kesal dan aku yakin sekarang kau sedang memaki-maki aku dalam hatimu,” Siwon membuka suara dan melenyapkan aura sepi di antara kami. Namun aku menahan diriku susah payah untuk tak menoleh padanya.

“Setidaknya katakanlah sesuatu. Jangan terlalu memendam kekecewaan sendirian, bisa jadi kau akan stress nantinya. Kalau sudah begitu kau akan terlihat lebih tua dari usiamu.”

 

Aku mendengus dan menyeringai sebal, sebenarnya pria ini sedang membujukku untuk bicara padanya atau malah ingin mengejekku dengan candaan yang tidak lucu? Jujur saja, saat ini aku ingin sekali memukul kepalanya dengan sangat keras seperti halnya yang sering kulakukan pada Minho –sepupuku- jika ia mulai keterlaluan dalam menggodaku.

 

“Baiklah, sepertinya aku sudah mengacaukan moodmu hari ini, Nona Im. Aku bahkan tidak mendapat tanggapan berupa komentar pedas darimu seperti biasanya. Dan soal pergelangan tanganmu itu, aku minta maaf. Aku tidak menyangka kulitmu mudah sekali iritasi karena genggaman seorang pria.”

 

Ya ampun! Sebenarnya hal apa yang mendominasi otak Choi Siwon ini? Jikalau ingin meminta maaf, cukuplah dengan menyatakan penyesalannya dan berbicara sekedarnya. Tidak perlu ia menghubungkan dengan lelucon garing yang membuatku sedikit emosi. Aku jadi tidak tahu apakah dia tulus meminta maaf atau memang hanya ingin mempermainkanku saja.

 

“Tumben sekali kau banyak bicara, Tuan Choi! Biasanya kau adalah orang paling pelit basa-basi. Sebaiknya cepat kau bawa aku ke tempat yang kau anggap sangat penting itu dan selesaikan urusan kita hari ini!” suaraku akhirnya lolos juga, aku sudah tak bisa lagi menahan diri untuk tak mendebat kata-katanya. Jadi aku hanya mengalihkan topik pada tujuan awal Siwon membawaku secara paksa dari rumahnya.

 

Arasso…” jawabnya menahannya tawa.

 

Tak begitu lama berselang, mobil mewah milik Siwon ini memasuki area parkir di kompleks pelataran gedung-gedung artistik di pusat kota. Mataku langsung tertuju pada sebuah gedung yang didominasi oleh kaca-kaca yang berfungsi untuk memajang beragam jenis perhiasan mahal mulai dari kalung hingga anting yang bertabur berlian mewah.

 

Dahiku sempat berkerut mendapati bahwa kami bertujuan ke tempat itu. Masalahnya, yang membawaku kesini adalah seorang Choi Siwon – sosok pria berstatus tunanganku yang disebut-sebut tidak akan mau ambil pusing dengan tetek-bengek pernikahan kami.

 

“Kau akan berdiam saja di dalam mobil?” tanyanya meleburkan lamunanku. Ternyata pintu mobil sudah terbuka dan Siwon berdiri dengan raut santai menungguku membuka seatbelt dan menyusulnya keluar.

 

“Apa ini tempat yang kau sebut penting itu?” tanyaku sesaat setelah kami benar-benar telah memasuki toko perhiasan yang tampak sangat mahal dan mewah itu. Aku mengabaikan salam dari beberapa pramuniaga ramah dan tampak cantik dengan dandanan mereka yang cukup anggun.

Siwon tidak menjawabku, tidak juga memberi kesan bahwa ia mendengar pertanyaanku. Langkahnya terhenti di depan sebuah counter yang memajang cincin-cincin pasangan. Sepintas memang sangat indah dan bisa membuat siapapun terpukau. Tetapi sepertinya aku lebih tertarik terhadap motif pria ini, tentangnya yang tiba-tiba saja membawaku melihat perhiasan. Bukankah ia tidak peduli sebelumnya?

 

“Yoona-ssi, kau pilihlah cincin yang desainnya sesuai dengan seleramu. Aku tidak akan keberatan dengan berapa banyak berlian atau seberat apa yang kau pilih. Itu akan menjadi cincin pernikahan kita nantinya.”

Tatapan Siwon serius, aku tak yakin pria ini sedang bercanda atau lagi-lagi menggodaku dengan kalimat-kalimat berkonotasi yang selalu digunakannya.

 

Aku masih terdiam, masih memikirkan tindakan apa yang akan kutunjukkan selanjutnya. Haruskah aku mengkuti keinginannya dan bertingkah seperti wanita materialistis yang sangat antusias memilah cincin-cincin mahal itu? Jujur saja aku tidak tertarik!

 

Oh my god! Apa yang sedang kau pikirkan saat ini? Apakah sangat sulit untuk menentukan bentuk perhiasan impian yang kau inginkan? Bahkan cincin itu akan kau gunakan setiap hari sebagai tanda bahwa kau adalah wanita yang sudah menikah.”

Seringaian jelas terpatri di wajahku, ingin sekali menertawakan gerutuannya tadi. Pria ini, yang biasanya bersikap dingin dan selalu tenang dengan wibawa berlebihan yang menjijikkan tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat menjadi pria yang tidak sungkan mengomel dan cerewet seperti Ahjumma.

 

“Aku justru sedang berpikir tentang apa yang kau pikirkan saat ini, Siwon-ssi. Menurutku kau aneh, tiba-tiba saja mengajakku ke tempat seperti ini lalu memaksa untuk menentukan cincin pernikahan.”

 

“Tidak ada yang aneh, Yoona-ssi. Bulan depan adalah pernikahan kita, sudah sepantasnya kita memiliki cincin pernikahan itu. Seharusnya kau senang diberi kebebasan untuk memilih yang sesuai keinginanmu. Bukannya mendebatku untuk alasan mengajakmu kesini.”

 

Lihatlah, sekarang kami sudah terlihat seperti pasangan sesungguhnya yang bertengkar hanya karena masalah sepele untuk hal-hal kecil menjelang pernikahannya. Setelahnya, Siwon mendorong kedua bahuku pelan, mendekatkanku pada counter berkaca bening hingga akhirnya terpaksa menatap semua cincin-cincin yang seakan melambai-lambai untuk dipilih.

 

Arasso… berhentilah melakukan tindakan pemaksaan terhadapku. Aku akan memilih sesuai keinginanku, jadi kau tak perlu mengomel tidak jelas lagi!” rajukku pasrah.

“Yak, kau—“ ucapannya yang hendak memakiku terhenti karena pandangannya tertuju pada beberapa pramuniaga yang menahan senyuman melihat pertengkaran kami. Harusnya mereka sudah terbiasa melihat pasangan yang datang dan berdebat tentang cincin pilihan untuk pernikahan, tetapi kami malah bertengkar bahkan sebelum melihat penawaran cincin-cincin tersebut.

 

Hal ini memang mainstream, apalagi aku dan Siwon juga bukan dua orang yang akrab atau akur seperti pasangan dengan kadar romantis mengkhawatirkan di luar sana. Tetapi entah mengapa aku justru merasa senang seperti ini. Karena walaupun kebersamaan kami tetap saja diwarnai ketidakakuran, tapi kami sudah mulai tak lagi kaku seperti awal-awal pertemuan.

 

Mau tidak mau aku memandangi satu persatu cincin yang direkomendasikan oleh sang pramuniaga. Beberapa bentuk dengan hiasan berbeda dan taburan berlian yang berpendar tertimpa cahaya lampu toko membuatnya justru tampak mengerikan. Aku ingin cincin dengan hiasan simple – ini bahkan hanya sebuah cincin pernikahan – aku tak ingin terlihat seperti toko mas berjalan jika setiap hari harus memakai puluhan berlian mahal di tanganku.

Bagiku itu mengerikan! Sangat mengerikan!

Meskipun nantinya aku menjadi istri seorang pria kaya yang sudah diketahui setiap orang mengenai status dan reputasinya, tetap saja aku tak mau dianggap sebagai seorang Ahjumma tukang pamer yang gemar menunjukkan kekayaan suaminya.

 

Selama ini aku pergi kesana-kemari dengan mobil pribadi milikku berupa sedan manis yang terlihat biasa dan tentunya tak mencolok mata. Hanya paman Park yang setiap harinya menggunakan supir pribadi. Lalu jika tiba-tiba aku pergi kemanapun dengan kendaraan super mewah disertai sopir yang setia mendampingi selama dua puluh empat jam atau mungkin akan ada beberapa bodyguard yang mendampingi, maka semua akan terasa tidak pas dengan gaya hidupku. Aku akan membutuhkan adaptasi lagi untuk hal seperti itu. Seperti itulah bayangan yang kumiliki setelah aku resmi menjadi Nyonya Choi muda nantinya.

 

Setelah memandang beberapa desain cincin yang terpampang, akhirnya perhatianku tertuju pada satu pasang yang berada di sudut counter. Cincin yang terlihat simpel dan manis yang bertahta satu berlian kecil. Menurutku, ketika aku memakainya nanti cincin itu tidak akan terlihat mencolok dari segi ukuran untuk jariku yang kurus dan panjang. Selain itu, cincin itu tidak akan meneriakkan kata-kata ‘ayo-lihatlah-aku-yang-mewah-ini’ bagi siapapun yang mungkin nantinya menyadari keberadaan cincin itu dijariku.

 

“Aku memberi kebebasan padamu untuk memilih yang paling mahal sekalipun, tetapi kau malah memilih yang sangat biasa.” Kerutan tampak di dahi Siwon menanggapi keputusanku untuk memilih cincin tersebut. Dia menatapku penuh tanya, dan aku hanya mengedikkan bahu tak peduli pada protesnya.

 

“Kau bilang aku bebas memilih sesukaku dan inilah pilihanku.”

“Kenapa kau justru memilih itu, padahal ada begitu banyak yang lebih berkilau di sebelahnya?”

Aku tersenyum singkat, sudah mengira ia akan menanyakan lebih jauh perihal pilihanku tersebut. “Mungkin bagimu ini sangat biasa, atau bagi wanita lain ini adalah pilihan yang bodoh disaat aku bisa membeli yang paling menyilaukan sekalipun. Tapi bagiku cincin ini melambangkan kesederhanaan – sesederhana kisah yang kuinginkan. Untuk apa aku memakai yang paling mewah jika hatiku justru merasa yang sebaliknya.”

Akupun tak ingin memakai lebih banyak topeng lagi, Siwon-ssi.

“Kau berbicara soal kisah hidup dan situasi hatimu, kau ingin menyindirku dengan kalimat melankolis itu?” Mata Siwon kini menyipit saat melontarkan pertanyaannya dengan pilihan kata denotasinya.

“Jadi menurutmu aku sedang menyindirmu? Well, itu terserah jika kau beranggapan seperti itu. Biasanya kau tidak pernah mau peduli dengan hal-hal melankolis itu kan…” serangku balik padanya tanpa menatap mata teduh yang sedang mengeras itu. Hah, sepertinya moodku untuk kembali mengobarkan api peperangan sudah kembali.

Siwon mendengus untuk kesekian kalinya. Tidak ada balasan kata-kata setajam silet yang kudengar darinya. Kali ini Siwon berhasil mengabaikan tantangan dariku.

“Kalau begitu kami mengambil cincin yang telah dipilih oleh tunanganku tadi. Tolong diberi ukiran nama di dalamnya dan aku ingin semuanya tampak sempurna.” Ucap Siwon tanpa basa-basi lagi kepada pramuniaga yang selalu setia mendampingi sejak awal kedatangan kami ke tempat ini.

 

***

 

“Jadi Siwon mengajakmu membeli cincin pernikahan?” suara lembut milik Nyonya Choi memecah konsentrasiku yang masih bingung menentukan pilihan gaun pengantin yang gambarnya tercetak dalam katalog berbahasa Inggris di tanganku.

 

Ne, Eomonim..” jawabku singkat sambil menganggukkan kepala.

Hari ini hari minggu dan kembali aku harus datang ke rumah keluarga Choi untuk bertemu dengan Nyonya rumahnya, sebab kemarin semuanya jadi kacau karena kemunculan Siwon yang tiba-tiba lalu membawaku pergi tanpa meminta persetujuan lebih dulu kepada ibu tirinya itu.

Satu fakta yang memang sebelumnya sudah kuduga. Hal itu adalah jawaban mengapa aku tak lagi melihat keberadaan Siwon di rumah ini. Menurut Nyonya Choi, Siwon tidak bersedia untuk tinggal seatap dengannya dan Kyuhyun. Sehingga sejak kembalinya ke Korea, Siwon memutuskan untuk tinggal di apartemen pribadinya sendiri.

 

“Wah, bukankah itu hal yang bagus. Selama ini kita selalu berpikir bahwa Siwon tidak peduli dengan rencana pernikahan kalian. Meskipun menurutku hal ini sangat tidak biasa, setidaknya kita patut mensyukurinya.”

Aku mengernyit mendengarkan suara Nyonya Choi yang berbicara seakan ia sangat antusias dalam rencana pernikahanku dengan Siwon. Menurutku ia bukan tipe wanita yang pintar ber-acting. Meskipun begitu, aku tahu ia juga bukan tipe wanita yang suka berpura-pura baik di hadapan orang lain.

 

“Yoona-ssi, dari apa yang kulihat kemarin sepertinya hubunganmu dengan Siwon cukup baik, walau tak sebaik yang harusnya terlihat pada pasangan yang akan menikah. Namun kalian cukup pantas untuk bersanding. Siwon juga tampak bisa menerima kehadiranmu dalam hidupnya. Aku harap kalian bisa berkembang lebih akrab dan memiliki hubungan yang harmonis sebagai suami istri.”

 

Katalog yang sedari tadi kubolak-balik halamannya terpaksa kututup dulu. Aku ingin melanjutkan percakapan kami yang terdengar lebih serius dari sekedar gosip antara menantu dan mertua itu.

Eomonim, apakah kau benar-benar bisa menerima pernikahan ini? Maksudku… kau tahu sendiri bagaimana sikap Siwon selama ini padamu dan Kyuhyun. Sekarang, eomonim harus ikut repot mengurusi semua kepentingannya.”

 

Nyonya Choi tampak terdiam sejenak. Pandangannya terarah ke lantai. Sebelum berbicara, ia tampak menghela napas lalu menoleh padaku.

“Kenapa kau menanyakan hal itu? Walaupun Siwon bersikap sangat apatis, tapi aku sudah menganggapnya sebagai putraku sendiri. Aku sudah bertemu dengan Siwon sejak usianya 6 tahun. Saat itu, dia adalah anak yang sangat manis dan aku bahkan langsung jatuh cinta padanya. Siwon punya alasan sendiri untuk tak menyukaiku dan Kyuhyun.”

 

“Lalu, apakah Eomonim tahu apa alasan itu? Siwon tak pernah mau mengatakan apapun padaku perihal sikap buruknya terhadap keluarganya sendiri. Dan aku sangat tak menyukai hal itu. Aku sangat tidak suka tiap kali harus melihat kebencian di matanya yang ditunjukkan kepadamu ataupun Kyuhyun.”

 

“Jadi sekarang kau sudah mulai memberinya perhatian lebih, Yoona-ssi?”

 

Nde?” sepertinya aku akan tersedak jika saat itu aku sedang meminum segelas air atau apapun. Nyonya Choi menanyakan hal paling rancu yang pernah diajukan padaku. “Ah, bukan seperti itu maksudku, eomonim. Tapi—“

 

“Aku tak bisa memberikanmu jawaban untuk alasan itu, Yoona-ssi. Sudut pandangku dan Siwon sudah jelas berbeda. Kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya dianggap musuh oleh seorang anak yang kau sayangi atau dibenci oleh saudara yang kau hormati. Kau harus temukan sendiri jawaban itu pada diri Siwon.”

 

Aigoo… aku pikir berbicara dengan Nyonya Choi akan memberikan titik terang bagiku. Ternyata sama saja. Beberapa fakta memang baru aku dapatkan bahwa Nyonya Choi tak pernah membenci Siwon. Menurutku Nyonya Choi sendiri seakan sedang menyimpan rasa bersalahnya pada sang anak tiri.

 

“Aku selalu makan hati setiap kali berbicara dengan Siwon. Aku sungguh prihatin dengan Kyuhyun yang mempunyai saudara seperti dirinya. Seandainya saja Siwon bisa bersikap seperti Kyuhyun, pasti semuanya tidak akan serumit ini.” Gerutuku tanpa sadar sudah membuat Nyonya Choi tersenyum.

 

“Apa kau berharap bahwa Kyuhyun lah yang menjadi tunanganmu?”

Mwo?? Lagi-lagi ada pertanyaan wanita paruh baya ini yang membuatku terperanjat. Mataku membulat dan dengan cepat aku menggeleng. Entah itu gelengan bahwa aku tidak berharap demikian atau sebuah gelengan bahwa aku tak tahu mau menjawab apa.

 

“Tadinya aku juga berpikir bahwa pasti akan sangat menyenangkan jika aku menyibukkan diri mengurusi kepentingan acara pernikahan putraku sendiri, Kyuhyun. Tapi aku sadar bahwa keputusan suamiku ini sudah mutlak. Kau memang bukan jodoh bagi Kyuhyun, meski aku sudah sangat senang dengan hubungan dekat kalian. Kyuhyun sadar benar hal itu, dia tahu bahwa tak seharusnya dirinya merusak takdir hyung nya sendiri.”

 

Ya, itu benar! Kyuhyun sangat paham dengan hal itu. Atas kesadarannya itu pula Kyuhyun menjauhiku dan kamipun mengakhiri hubungan kami yang sudah lebih dari dua tahun. Aku malah berpikir bahwa Kyuhyun punya andil dalam hal mencampakkanku ke mulut hiu. Kalau saja ia berkeras mempertahankanku, maka aku tak akan sarapan dengan obat penenang setiap hari sebelum bertemu dengan Choi Siwon.

 

“Kelihatannya Kyuhyun menyayangi hyung nya itu, padahal Siwon sendiri tak pernah memperlakukannya dengan baik,” ucapku pelan hanya kepada diriku sendiri dan tak menutup kemungkinan bahwa Nyonya Choi mendengarnya.

 

“Biar bagaimanapun mereka itu saudara. Mereka satu ayah meski terlahir dari ibu yang berbeda. Jauh dalam hatiku memiliki keyakinan bahwa Siwon tidak akan menjadi seorang yang sangat kejam hanya untuk menghancurkan hidup adiknya sendiri. Siwon itu orang yang baik, Yoona-ssi.”

 

Adakah seseorang yang bersedia memberiku segelas anggur Chianti yang ingin sekali kunikmati saat ini, di siang hari yang panas? Aku ingin sekali mabuk. Bagaimana caranya mengontrol diriku sendiri untuk menghadapi seseorang yang selalu berpikiran positif seperti calon ibu mertuaku ini? Aku sendiri adalah seseorang yang suka meledak jika kepalaku sudah terasa panas dan logikaku tak lagi mampu menahan gembok emosi dalam diriku.

Nyonya Choi dengan sangat optimis mengatakan bahwa Siwon adalah orang yang baik. Daebak!! Di saat aku mencapnya sebagai pria paling arogan yang menempati daftar nomor 1 yang harus dihindari, masih ada orang yang menilainya memiliki kesucian hati.

 

Aku hanya bisa mengelus dada sambil menghela napas pelan. “Entahlah. Sepertinya aku akan belajar menilai Siwon seperti itu, eomonim.

 

“Oh… kalau begitu apakah kau sudah menentukan pilihan gaun pengantin yang akan kau kenakan di hari pernikahanmu, Yoona-ssi? Gaun-gaun dalam katalog itu sungguh indah! Aku yakin kau merasa bingung untuk memilihnya.”

Suara Nyonya Choi sudah berubah menjadi lebih bersemangat sekarang setelah melewati percakapan yang cukup serius mengenai kedua putranya. Segera aku membuka kembali buku katalog itu dan menunjuk satu gambar yang sejak awal sudah menarik perhatianku.

Sebuah gaun hasil rancangan Vera Wang yang diberi judul ‘Helena’. Menurutku gaun ini desainnya apik dan cocok dengan seleraku. Tubuh kurusku tidak akan tampak mengerikan jika aku mengenakan gaun itu.

“Kau memiliki selera yang sangat bagus! Aku akan langsung memesannya dari New York. Tunggu sekitar dua minggu lagi dan gaun itu akan siap untukmu, Sayang!!”

 

Gomawo, Eomonim…

 

***

 

Today is Monday, monster day!! And I have to go back to the office. Seperti biasa pagi hari aku akan sibuk buru-buru pergi ke kantor milik Todou Group yang sudah sekitar dua bulan menjadi tempat kerja baruku. Tidak banyak orang yang tahu bahwa aku berasal dari Seorim Group, atau mengetahui bahwa akulah pewaris Seorim sekaligus salah satu penyebab keretakan Seorim.

 

Kenapa aku menyebutnya seperti itu? Seperti yang kalian tahu, jika saja aku bukanlah pewaris Seorim maka Choi Seung Won –Presdir Todou – tidak akan merencanakan hal buruk untuk Seorim hanya untuk memaksaku menikahi putra sulungnya. Seorim tidak akan rugi besar dan kolaps karena permainan salah satu anak perusahaan Todou yang menjadi partner bisnis Seorim. Selanjutnya, Choi Seung Won dengan lagak sok pahlawannya itu tidak akan pernah menawarkan bantuan dan janji surga pada Seorim jika saja bukan aku –yang notabene seorang gadis yang belum menikah – yang menjadi ujung tombak Seorim di masa depan.

 

Aku tidak mengerti apa yang sudah terjadi hari ini, Aku tahu persis tidak ada badai yang terjadi malam tadi, atau aku juga tidak mengalami kecelakaan fatal yang membuatku seperti hantu gentayangan yang tak seharusnya muncul di kantor saat ini. Lihat saja, semua mata tertuju padaku, memandangku seolah aku adalah orang yang baru berubah wujud di depan mereka hingga menarik perhatian di depan semua orang.

 

Bukan pertama kalinya orang-orang di kantor Todou Group ini memandangku dengan sinis, terutama bagi para pegawai wanitanya. Tetapi hari ini semua terasa berbeda, auranya tak lagi berupa sekedar pandangan sinis ataupun curiga. Kini mereka memandangku seperti seorang tersangka yang ketahuan sudah berbuat tindak kriminal.

 

Ketika aku sedang menunggu di depan lift karyawan, aku mendengar beberapa wanita berbisik-bisik. Walaupun aku tak mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka diskusikan dalam suara super pelan itu, tapi feelingku mengatakan dengan jelas bahwa akulah yang menjadi topik pembahasan mereka. Apakah ada yang salah? Bukankah seperti biasanya aku menggunakan lift ini menuju ruang kerjaku di lantai 5?

 

“Yoona-ssi…”

Aku menoleh pada suara yang memanggilku barusan. Choi Siwon seperti hantu yang tiba-tiba muncul di belakangku dan menyapaku di depan para karyawan yang menunggu di depan lift.

ne, sajangnim?” jawabku dengan penuh kesopanan dan mempertahankan sikap formal di depan banyak orang.

“Apa yang kau lakukan disini? Kau bisa menggunakan lift eksekutif tanpa harus berdesakan dengan karyawan lainnya.”

 

Aku mengerutkan dahi, heran sekali dengan sikapnya yang mendadak menawarkanku menggunakan fasilitas milik para petinggi perusahaan sementara posisiku disini hampir sama dengan karyawan biasa.

Musuniriya?” tanyaku malas. “Aku sudah biasa menggunakan lift ini setiap hari, Sajangnim. Bukan masalah besar bagiku.”

Siwon mendecakkan lidahnya, tampak tidak senang dengan sikap acuh tak acuh yang kutunjukkan padanya. Maksudku bersikap seperti itu untuk membuat orang lain yang melihat kami tidak semakin berpikiran buruk soal kehadiranku disini.

“Kau terlalu banyak protokol, Yoona-ssi. Sebaiknya sekarang kau ikut aku dan menghemat waktumu!”

Tanpa bisa kuhindari lagi terpaksa aku mengikuti Siwon sebab ia sudah lebih dulu menarik tanganku dan berjalan menuju lift eksekutif yang tak jauh dari sana. Hanya bisa pasrah, akupun tak berani melihat ke belakang yang sangat besar kemungkinannya akan kutemukan pandangan penuh curiga dari para karyawan tersebut.

 

“Apa sebenarnya yang kau inginkan dengan sikapmu yang tiba-tiba sok perhatian itu, Siwon-ssi?” aku membuka suara untuk menghilangkan keheningan di dalam lift yang hanya berisi kami berdua sekaligus untuk menutupi kegugupanku yang tiba-tiba muncul begitu kami berada di dalam ruang sempit itu hanya berdua.

“Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya melakukan sesuatu yang sudah pada tempatnya.”

“Aku tidak mengerti itu.”

Tanpa ba-bi-bu Siwon menyudutkanku ke salah satu dinding lift, seakan tak memberiku ruang untuk kabur karena tertutup tubuhnya. Ia menatapku dengan mata beningnya –yang sebenarnya sangat kusukai. Kalau sudah begini aku menjadi gugup lagi, apalagi jarak wajah kami sangat dekat. Detak jantungku juga mulai menaikkan tempo denyutannya.

 

“Hey, Nona Im. Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau selalu saja mampu membuatku harus berpikir keras untuk mengahadapimu walau hanya sekedar untuk membahas topik sederhana.”

Hembusan napasnya terasa di pipiku. Aku mengalihkan pandanganku, tak berani menatapnya. Kalau dipikir-pikir, Siwon suka sekali melakukan tindak intimidasi kepadaku dengan cara ini. Membuatku tersudut kemudian sesak bernapas. Apa ini cara Siwon untuk membuatku terpesona hingga jatuh cinta padanya?

 

“Aku Im Yoona, dan aku hanya seorang gadis biasa yang bekerja di Todou sebagai bawahanmu,” jawabku diplomatis.

 

Siwon tergelak sebentar sambil menggelengkan kepalanya pelan. “Harusnya kau tahu mengapa aku melakukan hal ini padamu. Kau sadar kan kalau kau itu tunanganku, calon istriku sekaligus calon permaisuri kerajaan bisnis Todou. Kau bahkan juga berasal dari keluarga kaya yang memiliki perusahaan besar. Sudah seharusnya kau mendapat keistimewaan di tempat ini, Nona Im.”

 

“Ya, dengan begitu kau akan leluasa menyebutku sebagai ‘calon-menantu-yang-baik’ bagi ayahmu seperti biasa yang kau lontarkan padaku.” Satu tanganku menyentuh dadanya, bermaksud menahan agar tubuhnya tak semakin merapat. Bersamaan dengan itu pintu lift terbuka tepat di lantai 5 dimana letak ruang kerjaku berada.

“kalau begitu terima kasih atas kebaikanmu, calon-suamiku,” aku mendorong dadanya sekuat tenaga hingga tubuhnya mundur ke belakang dan menyisakan tempat bagiku untuk keluar dari lift tersebut. Aku hanya meliriknya sekilas yang sedang tersenyum di dalam lift tanpa berniat menyusulku keluar.

 

Begitu pintu lift itu kembali tertutup, aku menghela napas kasar sambil memegang dadaku tepat dimana jantungku berada. Detaknya masih cepat mengingat apa yang terjadi di dalam lift tadi. “kalau sikapnya terus seperti itu, bisa jadi aku akan terkena serangan jantung mendadak.”

 

***

 

Aku sampai di kubikelku dan mendapati bahwa empat orang tetanggaku telah lebih dulu hadir disana. Aku melihat jam tangan dan sadar bahwa aku belum terlambat. Mungkin saja mereka terkena syndrom rajin di hari senin, jadi mereka sangat bersemangat untuk datang ke kantor lebih cepat dari biasanya. Memangnya ada syndrom seperti itu? Molla, Don’t know don’t care…

 

Dari keempat orang itu hanya Victoria yang tersenyum dan seperti biasa menyambutku dengan baik dan ramah. Sedangkan tiga orang lainnya hanya melirikku kaku dan kembali dengan kesibukan mereka masing-masing.

 

“Masih pagi seperti ini tetapi wajahmu sudah terlihat kesal, Yoona-ssi? Apa terjadi sesuatu padamu?” sapa Victoria begitu aku duduk, meletakkan tas, dan menghidupkan PC di depanku.

 

Jinja?? Aku rasa aku baik-baik saja. Hanya sedikit gangguan di bawah tadi, tapi aku tidak sekesal itu untuk membuat wajahku tampak menyedihkan,” jawabku asal sambil menunduk mengambil penaku yang terjatuh ke bawah.

 

Aku mendengar Victoria tertawa renyah mendengar kata-kataku untuk menjawab komentar pagi harinya yang tidak penting.

“Ternyata kau tidak cukup berbakat untuk membuat lelucon, Yoona-ssi. Apa gangguan itu berasal dari semua karyawan yang memberikan tatapan aneh mereka padamu?”

Aku sama sekali tak menyebutkan apapun soal tindakan tak biasa karyawan pagi ini kepada Victoria, tetapi mengapa wanita ini bia menebak seperti itu? Oh, aku lupa. Victoria punya link khusus dengan para wanita penggosip di kantor ini dan dia pasti mendapat satu informasi penting yang menjadi penyebab situasi yang menimpaku.

“Tatapan aneh? Bukankah mereka melakukan hal itu padaku setiap hari?” tanyaku dengan nada polos.

“eoh? Aku yakin kali ini tatapan mereka lebih parah dari biasanya. Kau tahu sendiri kalau kau itu ladang gosip di kantor ini dan baru saja berita cukup mengejutkan muncul meski sudah banyak yang memprediksi sebelumnya.”

“Oh ya? Kali ini gosip apa lagi yang menyebar tentangku? Apa mereka berpikir bahwa aku akan menjadi presdir Todou berikutnya?”

 

Victoria kembali tertawa walau tak sekeras sebelumnya. Pipinya yang chubby tampak memiliki semburat merah yang tipis membuatnya terlihat sangat manis. “Hampir seperti itu. Kau bukan menjadi Presdir Todou, tetapi kau menjadi menantu Presdir Todou,” ujarnya berapi-api.

“Bukankah gosip itu sudah lama beredar? Berarti itu harusnya tak lagi menjadi kejutan.”

Aniyo, menurut mereka ini bukan sekedar gosip lagi, Yoona-ssi. Mereka berani bertaruh bahwa kau benar-benar akan menikahi putra Presdir setelah muncul bukti otentik berupa undangan pernikahan super mewah yang mulai beredar di kalangan partner bisnis Presdir. Dan sudah bisa dipastikan bahwa tertulis namamu dengan tinta emas di dalamnya.”

 

“Mwo? Undangan??”

Aku tidak pernah tahu bahwa undangan untuk pernikahanku sudah tersebar di kalangan para pebisnis yang menjadi partner kerja Presdir Choi. Aku belum diberi tahu mengenai hal ini, atau Choi Seung Won berniat memberikan kejutan untukku. Lalu bagaimana dengan keluargaku dan rekan bisnis Seorim? Mungkin saja sekarang terjadi kegemparan di kantor Seorim.

Aku harus mencari tahu kebenarannya. Aku takut sesuatu yang buruk menimpa Paman Park karena berita yang tiba-tiba muncul di Seorim. Aku harus menemui Choi Seung Won.

 

“Yoona-ssi..”

Aku tersentak dari lamunan dan kembali menoleh pada Victoria yang sedang menyelidiki ekspresi wajahku.

“Apa kau tahu pendapat publik Todou mengenai hal ini?”

“Apa pendapat mereka, Victoria-ssi?”

“Mereka menganggap kehadiranmu di Todou hanya sebagai kamuflase untuk mendekatkanmu dengan putra Presdir dan menguatkan posisimu sebagai calon menantu Presdir. Apa benar begitu, Yoona-ssi? Aku masih ingin mendengar langsung darimu mengenai kebenaran berita ini!”

Victoria menatapku penuh harap bahwa aku akan menjawabnya dengan gamblang mengenai kebenaran berita yang didengarnya. Aku seolah menjadi pusat semesta alam, ketika satu gosip beredar mengenai diriku dan semua orangpun langsung mengarahkan busurnya padaku lalu menusukku dengan anak panah kecurigaan.

 

“O..oh itu.. berita itu emm…” mulutku seperti dilem, terkunci dan susah sekali dibuka untuk memberi jawaban yang sesuai pemikiranku. Tetapi justru pikiranku malah melayang kepada Paman park dan Presdir Choi. Apa yang harus kulakukan sekarang terhadap mereka.

 

“Satu hal lagi, Yoona-ssi. Mungkin kau juga harus memberikan klarifikasi mengenai beberapa foto-foto yang beredar yang menangkap momen kemesraanmu dengan putra Presdir ketika berkencan dan ketika kalian berada di toko perhiasan.”

 

“Apa? Ada juga hal seperti itu? Oh God…” aku menepuk dahiku dan sekarang pelipisku berdenyut nyeri.

Aku buru-buru berdiri dan bergegas meninggalkan kubikelku beserta Victoria yang masih menunggu jawaban pasti dariku. Aku harus menemui Choi Seung Won dan mendapat penjelasan lebih lanjut. Apakah ada mata-mata disekitarku?

 

“Yoona-ssi, kau mau pergi kemana?” pekik Victoria melihatku yang tampak panik sendiri.

“Menemui Presdir Choi…”

 

To Be Continued…

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

208 Komentar

  1. Atikaestelf

     /  Oktober 7, 2014

    WawWwwwwwW gak sabar nunggu kelanjutannya

    Balas
  2. Merisa Hermina putri

     /  Oktober 8, 2014

    NEXT CHAPTER nya pleaseeeeeeeee !! Jangan lama lama donkk , Penasaraann bgt pleasee

    Balas
  3. Dedewjasmin

     /  Oktober 16, 2014

    Wah makin seru,menarik semoga yoonwon cepat saling suka dan cepat menikah.jd penasaran kenapah siwon benci bngt sm keluarganya sndiri.

    Balas
  4. Ditunggu kelanjutannya dengan cast YoonWon.___.
    Beneran udah gak sabar bangeeettt, ceritanya seru.___. (Kelewat seru) maksudnya.-.

    Balas
  5. Choi Han Ki

     /  November 19, 2014

    Ada gitu ya org kaya presdir choi yg melakukan apa aja sesuai kemauannya sendiri.. Bahkan undangan pun telah di sebar tampa pemberitahuan terlebih dulu…

    Balas
  6. bee

     /  November 20, 2014

    Ga sabr nunggub klanjutanyya .. ktawa” sndiri ama ni ff .. bodor banget
    Siwonnya jail bgt suka ama karaktrnya yg dingin tp sbeenrnya suka .. kenapa yoona nya ga pekaa ..
    Next jgn lama” oenn .. semangat

    Balas
  7. deka

     /  November 23, 2014

    Udah mulai deg deg an nih.. penasaaaaaraaaan author mau tau lanjutannya dooong jebal …

    Balas
  8. ff ttg siwon selalu mencuri perhatian dan di sini di kemas dg sangat keren, menunggu kelanjutannya^^^^^

    Balas
  9. ny choi baik banget tapi siwon dingin banget kasian kyuhyun ,cie yoong mau kawin sama siwon

    nexttt thor fighting^^

    Balas
  10. Fikinurasiha

     /  Desember 22, 2014

    Siwon oppa y kayanya mulai ada rasa sama yoona eonni:D
    next chapter 5 di tunggu

    Balas
  11. roviyatul

     /  Desember 23, 2014

    keren min 🙂 ditunggu chapter selanjutnya

    Balas
  12. Anita harahap

     /  Januari 3, 2015

    oho semuany udah pd tau… gmn tanggapan keluarga yoona yh…? smoga yoona dan siwon bs slg mencintai.. pengen cepat baca bagian romantisny hahahhahahaha

    Balas
  13. Hah menjadi rumit sebenernya apa yg di ingin kan siwon dari yoong sih! Penasaran tingkat dewa!

    Ditunggu next chapter nya 🙂

    Balas
  14. tiffany

     /  Februari 14, 2015

    Next chapter please.. Daebak.

    Balas
  15. Audhina Putri R

     /  Februari 14, 2015

    Next chapternyaaa… jangan terlalu lama:D

    Balas
  16. yuli

     /  Maret 21, 2015

    hahaha lucu banget ya….. lanjut ya kak

    Balas
  17. Zhahra

     /  April 5, 2015

    Tambah seru aja ni FF…
    Gag bosen” bacanya…
    Aneh deh..masak yg mau nikah gag tau undangannya kyak apa….??he..he..he.

    Balas
  18. Susi

     /  April 22, 2015

    Yoona udah mulay nih tertarik sama siwon klo siwon ga usah ditanya lagi,, walaupun memang mereka punya niat tersendiri di balik ini semua, ,,,

    Owh presdir Choi ngikutin mereka terus ya,,, ga ketinggalan satu momenpun.

    Balas
  19. Dwi Sivi Fatmawati

     /  Juni 20, 2015

    ya ampun miris amat pandangan terhadap yona dari karyawan lain…
    apa gk ada sisi positif kah pandangan itu…
    aku jdi semakin penasaran sma kelanjutannya…
    gmana reaksi kelanjutan perasaan mereka berdua…
    dan jgn sampek ada kta PERCERAIAN di pernikahan yg akan dilakukan nanti….

    tpi eon aku lagi bertanya2 nih,,, koki next chapter blum dilanjut2tin….
    padahal udh lama dari jadwal publish ff ini loh… waktu pas aku bca ff ini….

    kpan eonni mau ngelanjutinnya…
    jgn sampek gk dilanjut ya eon…
    ini liburan panjang loh,,, sempatkan waktu ya eon untuk ngelanjutin ff ini….

    aku tunggu kbar baiknya…
    see you next chapter eon 🙂 🙂

    Balas
  20. Dwi Sivi Fatmawati

     /  Agustus 2, 2015

    kan ff ini bakalan dilanjut eon,,, udh lma banget loh vakumnya???
    aku kangen sma ff ini pengen baca

    Balas
  21. flipo

     /  Agustus 28, 2015

    Bakalan seru nih…. gak sabar kelanjutannya :3

    Balas
  22. Dwi Sivi Fatmawati

     /  Oktober 11, 2015

    Kpan nih eon lanjutnya

    Balas
  23. nytha91

     /  Desember 2, 2015

    penasaran kenapa siwon benci banget sama kyu and ibu tirinya…semoga hubunngan yoona sama siwon bisa lebih baik..thor please dilajutin dong ceritanya…

    Balas
  24. Riskaa

     /  Desember 4, 2015

    Bener2 gak bisa ditebak tuh kelakuan choi siwon, kenapa dia bisa tiba ngajak yoona ke toko perhiasan dan bersikap manis padanya, apa dia bermaksud untuk membuat yoona cinta padanya dan lalu membuat yoona patah hati.

    Balas
  25. YoongNna

     /  Februari 18, 2016

    Makin seru aja niii aplgi skrg smua orng di kantor todou udh tau kalau yoona bkalan nikah ma siwon..
    Pnsaran gmn nnti hubungn yoona ma siwon stlah mnikah mdh2n mereka bsa saling mencintai..

    Balas
  26. Lie

     /  Februari 28, 2016

    Mana lanjutannya???…jgn buat ff yg nggak ada endingnya ya😢

    Balas
  27. susi

     /  Maret 12, 2016

    Ternyata ibu tiri siwon baik dia ga keliatan jahat sama sekali tapi kenapa siwon benci banget sama dia..
    APA mungkin karna masa lalu yang sulit..
    HUhu akhirnya mereka akan nikah juga🙌 ..
    siwon dan yoona udah mulai deket banget seneng deh karna udah mulai banyak momen mereka nya.. 😊
    APAlagi saat siwon bawa yoona buat milih cincin ternyata dia peduli juga sama rencana pernikahan nya..

    Balas
  28. Yey akhirnya hubungan siwon dan yoona semakin baik dan syukurnya dia g denger yoona sma kyuhyun ngomong apa. Kynya siwon bener2 udah jatuh cinta sma angel yoona

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: