[OS] Look at Me! Yoona

Look At Me! Yoona

 Zarra Ar-Rahma storyline

 Main Cast:  Im Yoona, Choi Siwon || Minor Cast: Ok Taecyeon, Kwon Yuri, Im Seulong || Genre: Romance, friendship, little Sad || Rated: +15|| Length:  One Shoot

Facebook: Bhientank Kechiel Dhie Bhoumie || Email: heavenarrahma@gmail.com / heavenazzarra@yahoo.com

Poster By: keziagw.wordpress.com

Disclaimer:

This story is mine. Just a fictional story, if you found typo and similarity plot or character, is a coincidence. Don’t copy-paste this story!!

Summary:

. “Yoona yang diam-diam menaruh perasaan pada Taecyeon bertekad untuk mengungkapkan perasaannya. Tapi tanpa di sangkanya, Choi Siwon yang selama ini secara terang-terangan menunjukkan cintanya telah meninggalkan rekam jejak cinta namja itu di bibirnya. Membuat perasaan Yoona semakin dilema. Mempertahankan cinta untuk Taecyeon yang telah memiliki kekasih ataukah melabuhkan hatinya pada seorang Choi Siwon yang telah menunggu hatinya selama tiga tahun?”

~HAPPY READING~

oOo

-Look at Me! Yoona-

oOo

“ Taecyeon Oppa”

Yoona berlari-lari menjajari langkah panjang Taecyeon.

“Ada apa Yoona? Tidak biasanya kau datang sepagi ini? Bukannya jadwal kuliahmu masih siang nanti?” Tanya Taecyeon heran. Yoona tersenyum. Taecyeon adalah sunbae Yoona di kampus. Merangkap sebagai asisten dosen, dia juga mengajar di kelas Yoona.

“Ne. Aku datang sepagi ini karena ingin menghindari Siwon Oppa. Aku tak mengerti maksudnya, setiap hari dia akan datang menjemputku dan memaksa untuk menjadi sopirku. Benar-benar gila.” Ujar Yoona lirih. Gadis itu melihat kesana kemari untuk memastikan bahwa Siwon belum datang ke kampus untuk menyusulnya.

Taecyeon mengulum senyum separuhnya. Geli melihat Yoona yang menggumam kesal karena ulah sahabat karibnya, Choi Siwon.

“Itu artinya Siwon menyukaimu Yoong.” Taecyeon mengacak-ngacak rambut Yoona. Taecyeon menyayangi Yoona seperti adik kandungnya sendiri mengingat Taecyeon adalah anak tunggal. Rumahnya tepat di samping keluarga Im. Dia juga sahabat karib dari Im Seulong, kakak Yoona. Karena itu ia begitu dekat dengan gadis itu.

Yoona mengernyitkan kening indahnya. “Mwo? Menyukaiku? Maldo andwe Oppa.” Yoona menggeleng mantap. Lebih tepatnya ia meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak mempercayai Taecyeon -nya.

Ya, namja yang di cintainya selama ini, tapi Yoona tak berani untuk menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Ia lebih menjadi penunggu setia sampai Taecyeon menyadari perasaannya. Dan parahnya Choi Siwon, namja menyebalkan yang selalu mengganggu hidup Yoona mengetahui rahasia itu hanya dengan sekali lihat saja ketika Yoona hanya memandangi Taecyeon yang sedang membaca di perpustakaan. Semenjak itulah hidup Yoona tak tenang dengan ancaman-ancaman Siwon yang akan memberitahukan rahasianya pada Taecyeon jika Yoona tak mau menuruti kemauan namja itu.

Taecyeon berhenti berjalan. Lalu duduk di bawah pohon di taman di samping tempat parkir kampus Inha University.

“Yaa, apalagi namanya kalau bukan suka? Aku namja Yoong. Jadi aku lebih tahu bagaimana jika seorang namja sedang menyukai seorang gadis. Lagipula Siwon sahabatku. Tentunya aku lebih mengetahui isi hatinya daripada dirimu.” Taecyeon tersenyum pada Yoona. Di bukanya buku catatan yang akan di pergunakannya mengajar di kelas Yoona nanti siang.

Benar juga kata Taecyeon Oppa. Bukankah selama ini Siwon Oppa selalu menunjukkan perasaannya padaku melalui semua tindakannya? Jadi pasti Siwon Oppa juga sudah bercerita pada Taecyeon Oppa, Batin Yoona.

Di kepalanya seperti sedang memutar rangkaian peristiwa yang di alaminya dengan Siwon. Siwon yang membawakan bunga matahari kesukaanya setiap hari. Siwon yang selalu menelponnya sebelum tidur. Siwon yang selalu menghujaninya dengan berjuta kata-kata romantis disaat namja itu merindukannya. Siwon yang…Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat. Di tepisnya kenangan-kenangan itu di otaknya.

“Andwe. Maldo andwe. Siwon Oppa tak mungkin mencintaiku. Ia hanya menganggapku adiknya.” Kata Yoona lirih. Lebih kepada dirinya sendiri. Yoona tetap kukuh pada argumennya bahwa Siwon hanya ingin berteman baik dengannya dan menganggapnya adik sehingga Siwon  lebih senang mengusilinya. Dan seperti biasa Yoona akan selalu marah-marah padanya jika namja itu mulai mengganggu Yoona tanpa henti. Sebuah pola yang selalu berulang setiap harinya selama tiga tahun ini.

Taecyeon mendesah pasrah saat mengetahui Yoona masih saja menyangkal perasaan Siwon padanya. Ada apa dengan hati gadis ini? Kenapa dia sulit sekali ku yakinkan, batin Taecyeon pasrah.

“Yoona” Taecyeon menutup bukunya kemudian berbalik menghadap pada Yoona. “Kau sudah dewasa. Aku yakin sebenarnya kau mengiyakan kata-kataku atau paling tidak kau memikirkannya. Hanya saja kau tidak mau mengakuinya.”

Hati Yoona tertohok dengan kata-kata Taecyeon yang terang-terangan ingin membuatnya mengakui Siwon.

“Aku sendiri heran kenapa kalian tak bisa akur. Kalian sudah seperti Tom and Jerry, Yoona” Taecyeon menatap tajam pada Yoona yang sedang berfikir.

Yoona mendesah panjang. “Mungkin kau benar Oppa. Tapi aku hanya mengganggapnya teman kakakku. Aku tidak menyukainya sebagai namja hanya sebagai teman saja Oppa” wajah Yoona memelas.

Taecyeon tersenyum lega mendengar kejujuran Yoona. “Belum Yoona. Kau hanya perlu melihat hatinya untuk menyukainya” di belainya rambut Yoona sayang. “Harusnya kalau kau menganggapnya teman, kau tak perlu setiap hari menguras tenagamu dengan berdebat untuk hal-hal kecil dengannya. Oppa yakin kau akan mencintainya segera.”

“Tapi aku..aku sudah menyukai…” di tatapnya mata Taecyeon yang tengah menanti kalimatnya. “…seseorang” lanjut Yoona pelan. Di pandangnya wajah putih bersih Taecyeon sebelum di tundukkannya wajah cantiknya.

Taecyeon seketika menoleh pada Yoona yang tampak tersipu malu. Mianhae Yoong, batinnya perih.

“Siapa namja beruntung yang telah merebut hatimu Yoona?” Taecyeon bertanya seolah-olah ia buta dan tuli. Bahwa sesungguhnya ia tahu pasti siapa yang di cintai gadis cantik di depannya ini.

Yoona menatap Taecyeon lekat-lekat. Perasaan cinta itu terpancar dari mata Yoona. Terbaca jelas layaknya buku yang terbuka.

“Yak..siapa orangnya?” suara Taecyeon yang besar mengejutkan Yoona. Berdebar jantung Taecyeon di pandangi sedemikian lekatnya oleh yoona.

Kalau saja Taecyeon tidak mengenal Yoona, ia akan kesulitan mengartikan arti tatapan Yoona padanya. Di samping Taecyeon sudah tahu sedari dulu siapa namja yang di cintai Yoona ia juga jauh lebih mengenal Yoona dari pada Im Seulong, sahabatnya dan Siwon sekaligus kakak Yoona. Sekali lihat saja dari sorot mata Yoona setiap kali memandangnya, terbuka segala rahasia gadis itu.

Yoona mengerjap-ngerjapkan matanya lucu. “Ach itu…suatu saat kau akan mengetahuinya Oppa. Oppa sangat mengenalnya lebih dari siapapun” Yoona menampilkan senyum kikuknya. Ia sedikit gugup. Apakah Taecyeon Oppa tahu kalau pria yang aku cintai adalah dirinya sendiri? Batinnya cemas.

“Aku mengenalnya? Yak bukankah jelas itu Choi Siwon ,Yoong” Taecyeon tertawa lebar.

“Oppa, sudah ku bilang bukan dia. Geumanhae! Berhenti mengolokku!” teriak Yoona sembari memukul-mukul  lengan Taecyeon yang masih menertawakannya.

Sementara Yoona dan Taecyeon sedang asyik bercanda, sepasang mata tajam tengah menatap mereka dengan geram. Ia cemburu dengan kedekatan sahabat serta gadis yang di cintainya. Yoona…panggilnya dalam hati sembari memejamkan matanya.

-Look at Me! Yoona-

Tiin tiiiin!!!

Klakson mobil berbunyi nyaring di depan rumah yoona yang megah. Yoona yang akan memasuki mobil terpaksa mengurungkan niatnya demi melihat pengganggu di depan gerbang rumahnya. Tampak namja tampan sedang bersandar di pintu mobil audi berwarna putih.

“Yoona, annyeong” Siwon melambaikan tangannya ke arah gadis itu. Yoona tertegun melihat kedatangan Siwon. Kenapa hanya memakai t-shirt berwarna biru di padu celana jeans dan juga topi berwarna hitam saja sudah membuatmu tampak keren Oppa? Yoona membatin, lebih heran dengan apa yang di pikirkannya baru saja.

“Kau selalu tampan Oppa” gumam Yoona tanpa sadar. Namun masih terdengar oleh Siwon di depannya.

Siwon tersenyum geli. “Benarkah aku selalu tampak tampan di matamu Deer?” Siwon maju selangkah sedangkan yoona mundur dua langkah.

Yoona mengutuk dirinya yang kelepasan bicara. Segera di pasangnya kembali wajah sinisnya. “Ya, Oppa minggir! Aku mau lewat.” Yoona mengusir siwon.

Siwon masih memasang senyumnya. Merasa geli karena sikap Yoona yang selalu mencoba membenci dirinya walaupun itu malah terlihat konyol di matanya. “Kkaja, aku akan mengantarmu! Aku juga ada jam kuliah pagi ini.” Siwon membuka pintu di belakang punggungnya. Mengisyaratkan dengan kepalanya agar Yoona segera masuk.

“Tak perlu. Aku bisa berangkat sendiri.” Baru Yoona akan membalikkan badan, Siwon memanggilnya lagi.

Yoona tak memperdulikan bunyi klakson siwon yang panjang. Tinggal beberapa langkah ia akan meraih gagang pintu mobil putih kesayangannya ketika suara Siwon membuatnya berhenti di tempat.

“Kalau kau tak masuk, aku akan mengatakan kalau kau mencintai Taecyeon. Dan bisa di pastikan Taecyeon akan menjauhimu demi aku.” Senyum siwon penuh ancaman.

Yoona segera membalikkan badannya, menatap Siwon benci.

“Oppa selalu saja mengancamku dengan hal yang sama ratusan kali.” Timpal Yoona marah. Walaupun begitu, tanpa pikir panjang Yoona tetap menuruti perintah Siwon memasuki mobil namja itu sembari menghentak-hentakkan kakinya dengan wajah bersungut-sungut.

Siwon tersenyum lembut saat menutup pintu mobil setelah Yoona masuk. Ancamannya selalu berhasil walaupun ia harus bekerja ekstra keras mengajak Yoona bicara nantinya jika gadis itu kembali marah pada sikapnya yang menyebalkan. Siwon berjalan mengitari depan mobil dan duduk di depan kemudi. “ Kau sangat manis jika menjadi penurut begini Yoona.” Siwon mengedipkan mata kirinya untuk menggoda Yoona yang cemberut.

“Ach ini sunflower untukmu Deer” siwon mengambil setangkai bunga matahari di jok belakang mobil dan memberikannya pada Yoona.

“Kau sempat-sempatnya mampir ke toko bunga untuk membeli ini demi menyogokku Oppa?” yoona memandang siwon heran. Walaupun dia kesal pada Siwon dia tetap menerima bunga dari namja itu. Siwon tersenyum lebar. Di nyalakannya mesin mobilnya kemudian melaju pelan ke jalan raya meninggalkan rumah Yoona di belakang.

Yoona menciumi bunga kesayangannya. Jika sudah begini, mana mungkin aku marah padanya, batin Yoona sembari menghitung dalam hati berapa puluh bunga yang sudah ia terima dari Siwon selama tiga tahun ini.

-Look at Me! Yoona-

Siang itu yoona tampak bersemangat sekali berangkat kuliah. Pagi tadi Taecyeon menelponnya, meminta ia untuk berangkat ke kampus sedikit lebih awal sebelum jam perkuliahan di mulai. Ada hal penting yang ingin di sampaikan oleh Taecyeon padanya. Apakah ia akan menyatakan cintanya padaku? Pikir Yoona geli. Hatinya berbunga-bunga memikirkan hal itu.

“Yoona, disini” Taecyeon berteriak dari kejauhan sembari melambaikan tangannya memanggil Yoona.

Senyum Yoona merekah seketika. Semula Yoona berlari tergesa-gesa demi di lihatnya Taecyeon yang tersenyum manis menantinya, namun lari Yoona melambat perlahan-lahan ketika di lihatnya Taecyeon menggandeng seorang wanita cantik.

“Eoh Taecyeon Oppa…sudah menunggu lama?” mata Yoona memandang wanita di samping Taecyeon. Yoona seketika menjadi kikuk. Kakinya terasa lemas. Di pandangnya wanita itu sekali lagi, kemudian beralih pada genggaman tangan mereka. Taecyeon semakin mempererat genggaman tangannya ketika tahu arah pandangan Yoona. Seolah-olah dengan sengaja membuat yoona tidak nyaman bersama mereka.

Siapa wanita itu? Batin Yoona.

“Ach itu tak penting Yoong. Yang penting kenalkan ini Kwon Yuri. Kekasih sejatiku” ujar Taecyeon bangga.

Terkesiap Yoona mendengar pernyataan Taecyeon.  Ya Tuhan…semoga ini hanya mimpi burukku. Jangan biarkan ini terjadi padaku Tuhan, jeritnya dalam hati.

Dengan kaku Yoona mengulurkan tangannya. “Yoona imnida”

Gadis yang bernama Yuri menjabat tangan Yoona erat. “Yuri imnida. Bangapseumnida Yoona-ssi” Yuri tersenyum bersahabat pada Yoona.

Bahkan senyumnya pun cantik, batin Yoona merana. Merasa ia tak dapat menahan tangisnya buru-buru Yoona berpamitan.

“Mianhae Eonnie…Oppa aku mohon diri dulu. Sebentar lagi aku harus masuk kelas. Annyeong.” Tanpa menoleh lagi Yoona segera pergi meninggalkan dua manusia yang tengah memandangnya heran. Terutama Taecyeon yang diam-diam memandangnya sedih. Taecyeon sempat melihat setitik air mata di ujung mata indah milik Yoona.

Mianhae Yoong. Aku hanya menyayangimu sebagai dongsaeng. Aku hanya mencintai Kwon Yuri sepanjang hidupku. Siwon, hanya Choi Siwon yang bisa melimpahkan cinta yang begitu besar padamu.

-Look at Me! Yoona-

Malam yang belum terlalu larut membuat ketiga sahabat itu masih saja tak bersuara. Setelah kedatangan Im Seulong dari Jepang, Siwon dan Taecyeon memutuskan untuk berkumpul seperti biasa di bar yang sering mereka kunjungi.

Namun nampaknya kali ini wajah Im Seulong tak seperti biasanya. Seperti menahan kemarahan. Tiga puluh menit mereka habiskan dengan berdiam diri. Sesekali Siwon dan Taecyeon saling bertukar pandang. Seakan tatapan mata mereka menyiratkan pertanyaan kenapa-dengannya? sambil memandang Seulong kembali yang masih berkutat dengan alkohol-nya.

Siwon tahu bahwa sahabatnya semenjak Sekolah Menengah Pertama itu tengah di landa masalah. Tak tahan lagi dengan suasana yang menjemukan, akhirnya Siwon memberanikan diri menegur Seulong.

“Yaa geumanhae Seulong-ah! Waeirae? Marhaebwa! Jika ada masalah jangan di pendam sendiri?”

Seulong yang masih saja menenggak wine di tangannya, menggebrak meja menggunakan botol di tangannya.

“Kenapa Yoona menangis? Apa itu karena perbuatan kalian berdua?” Tanya Seulong yang tentu saja membuat Siwon dan Taecyeon terkejut.

“Yaa bagaimana bisa kau menuduh kami?” Siwon angkat bicara. Taecyeon yang merasa ini semua pasti karenanya hanya menghela nafas. Ia merasa bersalah. Dan ia harus bersiap-siap menghadapi kemarahan Seulong karena telah menyakiti adik satu-satunya.

“Tanpa sengaja aku membuatnya patah hati Seulong-ah” ujar Taecyeon yang mengejutkan sahabatnya. Seulong menatap Taecyeon nanar. Sedangkan Siwon menatap Taecyeon dengan wajah terkejutnya.

“Bagaimana bisa kau membuatnya menangis seharian ini? Bukankah sudah ku bilang jangan dekati dia! Jangan beri dia harapan semu Taecyeon.” Seulong sedikit terbawa emosi. Di pegangnya tepian meja agar tangannya tak bisa bebas memukul wajah Taecyeon.

Siwon yang tak tahu menahu tentang kejadian yang sebenarnya ikut menatap Taecyeon tajam. Mendengar Yoona menangisi pria di depannya ini membuat hatinya terbakar api cemburu.

“Ada apa sebenarnya sampai Yoona menangis karenamu Taecyeon-ah?” Siwon mentapnya dingin.

Taecyeon sedikit ragu menceritakan pasal Yoona menangis. Melihat tatapan mematikan dari kedua sahabatnya nyalinya sedikit menciut.

“Marhaebwa! Palli” desak Siwon memajukan tubuhnya. Namun tangan Seulong menahannya. Ia tahu Siwon mencintai adiknya dan Siwon jelas marah pada Taecyeon karena membuat Yoona menangis. Tapi berkelahi disini tak akan menyelesaikan masalah.

“Rilex Wonnie. Kita dengarkan penjelasan Taecyeon dulu arrachi.” Ujar Seulong menenangkan.

Taecyeon menghela nafas kemudian menghembuskannya pelan. “Siang tadi aku sengaja mengenalkan Yuri pada Yoona.” Ucapnya lirih

“…”

Di telitinya ekspresi kedua sahabatnya sebelum melanjutkan. “Tak sampai kami duduk mengobrol, Yoona sudah pamit untuk masuk kelas. Tapi saat aku mengabsen mahasiswa, aku tidak menemukannya mengikuti pelajaran. Jadi ku simpulkan ia absen hari ini.”

Hening.

Siwon dan Seulong menghembuskan nafas kasar secara bersamaan.

“Bukankah kau tahu adikku menyukaimu semenjak dulu Taecyeon-ah, bagaimana bisa kau mengenalkan Yuri di saat ia masih menaruh harapan padamu?” Tanya Seulong kalem. Merasa tak perlu marah karena ini menyangkut perasaan seseorang yang tak bisa ia paksakan untuk mencintai adiknya.

“Dan kau Siwon” Seulong beralih menatap Siwon yang masih bungkam. “Segera cari cara untuk mendapatkan perhatian adikku! Aku benar-benar tidak tahan Taecyeon selalu membuatnya menangis. Ini sudah tiga tahun bukan? Apa sangat sulit menaklukkan Im Yoona, Wonnie? Kau mau berapa tahun lagi menunggunya seperti orang bodoh?” cecar Seulong pedas.

“Yaa bagaimana bisa sebagai seorang kakak kau menyarankan hal seperti itu? ckk dasar. Lagipula aku tidak berniat pindah ke lain hati. Aku akan setia menunggunya melihatku. Lihat saja aku akan merebutnya dari Taecyeon.” Siwon menunjuk Taecyeon dengan dagunya.

Taecyeon membalas Siwon dengan tatapan penuh penyesalan.

“Mianhae. Jeongmal mianhae. Bukan maksudku ingin menyakiti hati Yoona. Aku bingung di lain sisi aku menganggapnya adikku dan dengan mengenalkan Yuri padanya aku ingin mendapatkan restu dari Yoona. Tapi di satu sisi, Yoona jelas akan membenciku tapi dengan begitu Wonnie bisa maju mendekati Yoona tanpa halangan dariku.” Jelas Taecyeon tenang.

Wajah Siwon seketika melembut mendengar penjelasan Taecyeon. Ia senang mendapati sahabat karibnya mau membantunya mendapatkan gadis impiannya, walaupun itu mengorbankan perasaannya sendiri. Entahlah bagaimana awalnya mereka bertiga berdebat tentang cinta segitiga yang melibatkan adik sahabat mereka dan saling mendukung satu sama lain untuk mendapatkan pasangan yang di cintainya. Namun di sisi lain mereka bisa mencemooh terang-terangan dan menjadi musuh yang saling menyudutkan dalam sekejab. Namun yang membuat Siwon sendiri heran, persahabatan mereka masih tetap erat terjaga walaupun terkadang perselisihan terjadi karena akar permasalahannya berkutat pada satu hal, Im Yoona.

“Aishh, kenapa kisah cinta kalian berdua begitu membingungkanku. Terlebih dalam hal ini harus melibatkan adikku sendiri. Aku benar-benar tak tega melihat adikku mengurung diri di kamarnya ketika aku datang tadi siang dari Jepang. Ia benar-benar terpukul kurasa.” Seulong menyandarkan punggungnya pelan. Mengusap wajahnya frustasi. Bagaimanapun rumitnya kisah cinta kedua sahabatnya yang terbelenggu dengan adiknya seperti benang kusut, tapi Im Yoona adalah adiknya. Sebagai seorang kakak ia hanya ingin adiknya bahagia.

Siwon mengusap bahu Seulong. Mencoba menenangkan sahabatnya. “Gwenchana, aku berjanji padamu akan membuat adikmu bahagia Seulong-ah. Sekarang mari kita bersenang-senang. Lupakan masalah itu sekarang. Bukankah kita sudah lama tidak berkumpul seperti ini setelah kau memutuskan kuliah di Jepang?”

“Wonnie benar Seulong-ah. Maafkan aku karena membuat adikmu selalu menangis. Tapi ini semua ku lakukan agar ia tak berlarut-larut mengharapkanku dan bisa melihat bahwa Siwon sangat mencintainya. Aku harap kau dapat mengerti tindakanku. Kau sangat mengenalku bukan? Aku hanya menyayangi Yoona sebagai dongsaeng. Bahkan kau mengakui bahwa akulah kakak kandungnya, bukan kau karena kedekatan kami selama ini. Dan..bagaimana bisa aku mencintai adikku sendiri?” Ujar Taecyeon.

Seulong menuangkan air dalam botol berisi red wine di gelas mereka bertiga. Kemudian mengangkat tinggi-tinggi gelasnya di udara.

“Joah. Mari kita lupakan sejenak masalah-masalah kita. Bersulang.”

“Bersulang” Siwon dan Taecyeon menirukan Seulong. Kemudian terdengar tawa mereka bertiga setelah menenggak minuman beralkohol itu.

-Look at Me! Yoona-

“Yoona” Siwon menatap Yoona yang asyik memandang ke luar jendela mobil. Hari ini Yoona menerima tawaran kencan Siwon. Siwon terheran-heran sendiri ada angin apa Yoona yang biasanya susah di bujuk tapi kini tanpa perlu susah-susah mengajaknya, Yoona langsung mengangguk setuju tanpa perlu mendebatnya seperti biasa.

Yoona menggumam pelan sebagai jawaban. Siwon masih berkonsentrasi dengan kemudinya.

“Waegurae? Tidak biasanya sikapmu pendiam begini? Biasanya kau akan memberontak jika ku paksa menurutiku.”

Yoona masih memandang jalanan di sampingnya. “Anniya”

Siwon menatap Yoona dengan kening berkerut. Tampak cairan bening menetes di pipi Yoona. Siwon terkesiap, begitu terkejut melihat Yoona yang biasanya aktif sekarang meneteskan air mata. Selama Siwon mengenal Yoona, tak pernah sekalipun ia melihat gadis itu menangis langsung di depannya. Terang saja hatinya kalang kabut di balik sikap tenangnya.

Hening. Suasana sepi di dalam mobil begitu memuakkan bagi Siwon. Tapi ia tak mau menanyakan keadaan Yoona. Tunggu dia tenang dulu Siwon!

Namun sampai setengah jam perjalanan mereka, Yoona masih saja diam membisu. Siwon yang awalnya ingin membawa Yoona bersenang-senang ke Everland sekarang malah memutar kemudinya memasuki taman kota di dekat jalan raya.

“Oppa kenapa kita kesini? Bukannya Oppa akan mengajakku ke Everland?” kata Yoona tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari jalanan di sampingnya. Yoona masih sama diamnya. Tak perduli Siwon akan membawanya kemana.

Siwon tak bisa menahan diri lagi. Setelah mematikan mesin mobilnya, ia menghadapkan paksa tubuh Yoona supaya Siwon dapat menatap mata cemerlang gadis itu yang kini berubah sembab.

“Kau tahu aku mencintaimu. Aku tergila-gila padamu. Aku melakukan semua yang ku bisa untuk mencari perhatianmu. Aku rela menunggumu selama ini lebih dari yang kau tahu hanya untuk mendapatkan pengakuanmu Yoona. Tapi kenapa kau masih saja menangis untuk Taecyeon? Bahkan ia sudah memilih Kwon Yuri bukan kau. Jangan katakan kau tidak mencintaiku Yoona? Aku menunggu hatimu selama ini. Aku akan mati jika mendengar penolakanmu.” Siwon berteriak frustasi. Ia memegang bahu Yoona kelewat erat. Membuat Yoona meringis kesakitan. Sebulir air mata jatuh lagi menetesi pipi tirusnya.

Yoona makin terisak dengan pengakuan Siwon. Ia sungguh merasa bersalah telah menyakiti perasaan Siwon. Hanya saja ia lebih memilih Taecyeon yang selalu menghabiskan hari-hari bersamanya entah itu sebagai tetangga atau tutornya saat belajar. Yang pasti Yoona sudah begitu terbiasa dengan kehadiran Taecyeon. Jauh sebelum Siwon datang dalam kehidupannya. Dan apakah cintanya pad Taecyeon karena kebiasaan? Entahlah. Yang pasti ia kini telah kalah oleh Kwon Yuri. Kenyataan itu semakin membuat hatinya tersayat pedih.

“Oppa mianhae telah menyakiti hatimu. Selalu. Keundae, aku bukan menangisi Taecyeon Oppa. Aku…”

“Geuman Yoona! Gotjimal! Kau berbohong padaku” Siwon makin mengeratkan tangan lainnya di lengan Yoona. Matanya menatap dingin wajah Yoona.

Yoona ketakutan dengan sisi Siwon yang ini. Selama ini Yoona mengenal Siwon adalah pria yang lembut, romantis dan penuh cinta walapun Yoona selalu mengacuhkan pria di depannya ini tapi Siwon tak pernah kehilangan kesabarannya pada Yoona.

Tapi sekarang ia begitu terkejut Siwon bisa semarah ini padanya di saat ia butuh bahu seseorang karena rapuh. Ia ingat, Siwon sangat membenci ketika Yoona menangis untuk semua hal, apalagi jika itu berkaitan dengan Taecyeon. Bahkan Yoona dapat memastikan Siwon akan menghajar Taecyeon karena berani membuat Yoona menangis seperti ini. Jika Yoona memang menginginkannya Siwon akan dengan senang hati melakukannya. Tapi tidak. Jika mereka berkelahi karenanya, hati yang paling tersakiti adalah hati Yoona karena merasa memanfaatkan cinta Siwon untuk membalaskan sakit hatinya karena Taecyeon tak menerima cintanya.

Siwon mengguncang bahunya pelan. Menyadarkan Yoona dari lamunannya.

“Marhaebwa! Katakan yang sebenarnya, Yoona!” ujar Siwon penuh penekanan.

Yoona menelan salivanya. Di helanya nafasnya perlahan. Di tatapnya Siwon dengan tatapan sendu.

“Ya Oppa, Aku cemburu pada gadis itu.” Yoona berkata dengan suara yang hampir menggumam. Namun Siwon dapat menangkap dengan jelas setiap perkataan Yoona.

Siwon melepaskan pegangan tangannya di bahu Yoona perlahan.

“Sudah ku duga.” Siwon mengusap wajahnya pelan. Menikmati sakit yang kesekian kalinya di timbulkan oleh Yoona karena mencintai sahabatnya.

Setelah itu hening tercipta di antara keduannya. Cukup lama hingga membuat Yoona jengah. Tangisnya telah mereda. Di pandangnya Siwon yang melamun memandang lalu lalang pejalan kaki di taman di depan mereka.

“Oppa?” Yoona memberanikan memegang lengan Siwon. Siwon tersentak kaget.

“Wae?”

Tatapannya masih dingin padaku. Aku tidak suka Siwon yang seperti ini. Aku ingin Siwon yang hangat padaku, Batin Yoona.

“Apa Oppa marah padaku?” Yoona masih takut untuk bersuara keras.

“Anni. Aku tak bisa marah pada seseorang yang tidak mencintaiku Yoona.”

“Oppa aku…”

“Selama ini aku cukup bersabar menunggumu mencintaiku. Tapi kau tak pernah melihatku. Yang ada di hatimu hanya Taecyeon-Taecyeon-Taecyeon saja.” Siwon mencoba tersenyum untuk menghilangkan genangan air mata di pelupuk matanya.

“Keundae…aku amat mencintaimu. Aku cemburu pada Taecyeon. Dan aku hanya bisa memendam segala perasaan marah, cinta, cemburu atau apapun itu sendirian tanpa aku tahu bagaimana caranya melampiaskannya. Aku rasa aku tak sanggup bertahan dalam ketidak-pastian ini Yoona” pandangan mata Siwon mengabur ketika menatap Yoona. Tertutupi oleh genangan air mata.

Yoona melihat air mata itu siap jatuh. Mendadak Yoona takut kalimat Siwon menjadi kalimat perpisahan karena cinta Siwon padanya tak kunjung ia balas. Ia takut Siwon akan meninggalkannya. Ia tak mau Siwon menyerah untuk membuatnya mencintai namja itu.

Yoona menggeleng kuat-kuat. “Anni Oppa, aku bukannya tidak mencintaimu. Aku…hanya belum…mencintaimu Oppa.” Ujar Yoona lirih. Takut Siwon akan kembali sedih.

Siwon menoleh cepat ketika ia menyadari sesuatu dalam ucapan Yoona. “Belum?”

Yoona mengangguk mantap. Meyakinkan hatinya akan keputusannya untuk memberi Siwon setitik asa.

“Apa itu artinya  aku masih ada kesempatan?” tampaklah sorot mata Siwon yang berbinar-binar di mata Yoona. Yoona perlahan ikut tersenyum. “Bukankah tanpa ijinku, kau selalu saja punya kesempatan menggangguku dengan segala bujuk rayumu, Oppa?”

Senyum Siwon mengembang. Sedetik kemudian senyum itu lenyap berganti dengan mata tajam yang menatap yoona intens. “Kau belum mencintaiku Yoona. Kalau begitu akan ku buat kau mencintaiku setelah ini.” Siwon tersenyum separuh. Senyum yang sangat di sukai Yoona diam-diam.

Yoona terkesima melihat senyum Siwon. Tanpa di sadarinya wajah Siwon semakin mendekat padanya. Yoona membelalakkan matanya panik saat wajah Siwon hanya berjarak lima senti dari wajahnya. Bahkan nafas hangat Siwon menyapu wajahnya. “Op-pa apa yang akan kau lakukan?” Yoona semakin panik saat punggungnya membentur pintu mobil.

Yoona sudah membuka pintu mobil untuk keluar, namun dengan cepat Siwon menutupnya kembali. Posisi seperti itu -Siwon yang mememeluk Yoona- membuat jantung Yoona berdebar dua kali lipat. Bahkan rasanya ia bisa mendengar debaran jantungnya sendiri. Ini pertama kalinya ia begitu dekat dengan Siwon.

“O-oppa jangan membuatku ketakutan!” suara Yoona timbul tenggelam karena Siwon menatapnya begitu dekat.

“Aku akan membuatmu memikirkanku setelah ini.”

Siwon memiringkan kepalanya. Di kecupnya bibir Yoona yang lembut. Merasa tak ada penolakan dari Yoona, Siwon memagut lebih dalam lagi. Di kulumnya bibir ranum Yoona. Yoona terbelalak dengan perbuatan Siwon yang tiba-tiba. This is my first kiss…

Di dorongnya tubuh Siwon walaupun butuh usaha keras.

“Oppa…kau…” yoona hendak marah saat siwon malah menggenggam pergelangan tangannya erat. Terlebih melihat Siwon meneteskan air mata. “Kau menangis Oppa?”

“Aku…aku hanya merasa terlalu bahagia Yoona. Gwenchana. Impianku adalah menjadi kekasihmu. Dan ciuman ini hanyalah bonus bagiku.” Siwon mengusap air matanya pelan.

Secara tak sadar Yoona membelai pipi Siwon. “Uljjima! Sebegitu besarkah rasa cintamu padaku, hmm?”

Yoona menatapnya sendu.

Siwon kembali melumat bibir Yoona. Mencoba menjawab pertanyaan Yoona dengan sebuah ciuman. Berharap Yoona mengerti akan cintanya yang begitu besar. Kali ini Siwon memaksa Yoona untuk membuka mulutnya. Dengan kaku Yoona mengikuti permainan bibir Siwon. mencoba tidak menolak tindakan Siwon. Yoona telah memutuskan bahwa ia akan mencoba mengenal Siwon. Cukup lama mereka menautkan bibir satu sama lain. Menyalurkan sebuah perasaan yang belum pasti terjalin dan berharap perasaan mereka akan di kukuhkan suatu saat nanti. Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Siwon melepaskan ciumannya. Sama-sama terengah-engah kehabisan nafas karena ciuman mereka yang panas. Di belainya rambut panjang Yoona. Di raihnya dagu Yoona yang sedari tadi tertunduk malu. Siwon menyukai warna merah merona di wajah Yoona.

“Pandang aku! Yoona”

-Look at Me! Yoona-

Semenjak Siwon menciumnya dua hari lalu Yoona di landa dilema besar di hatinya. Hatinya benar-benar goyah karena ciuman Siwon yang bagai racun telah memenuhi otak dan hatinya. Apapun aktifitas Yoona, melamun, memasak, belajar, bertemu teman-temannya bahkan dalam keadaan tidurpun, bayangan Siwon dan ciuman mereka terus tinggal di di pikirannya, seperti tak bisa luput dari memikirkan Siwon. bahkan kini hatinya sudah mulai teracuni. Siwon-Siwon-Siwon saja yang selalu memenuhi kepalanya. Bibirnya seperti masih merasakan bibir lembut Siwon saat mengulumnya. Jika sudah begitu Yoona akan memukul kepalanya karena telah berani membuatnya membayangkan ciuman Siwon yang memabukkan.

Yoona malu bukan kepalang setiap ia bertemu atau berpapasan dengan Siwon. Hampir semua tempat yang Yoona datangi selalu ada Siwon di sana. Membuat Yoona frustasi karena tak tahu lagi harus menghindari Siwon dengan cara seperti apa. Dua tahun kebersamaan mereka membuat Siwon mengenal Yoona dengan baik. Bahkan tempat rahasia Yoona-pun, Siwon tahu dengan pasti.

Sedangkan Siwon yang merasa Yoona makin menghindarinya memutuskan untuk tetap tenang dan menunggu reaksi gadis itu. Pastinya saat ini Yoona tengah di landa dilema besar. Di saat ia mulai memikirkan Siwon tapi hatinya masih mencintai Ok Taecyeon, sahabatnya. Ia mencoba mengerti keadaan Yoona. Masih terlalu dini untuk mendekati Yoona lagi. Siwon akan mencari cara untuk membuat Yoona mencintainya dan melupakan Taecyeon. Bagaimanapun sulitnya cara itu.

.

.

.

Hari ini Yoona duduk lesu di kantin kampusnya. Sedari tadi, ia hanya mengaduk-ngaduk minumannya tanpa berniat meminumnya. Sungguh hebat taktik Siwon, berhasil membuatnya memikirkan namja itu. Terbukti efek dari ciuman namja itu dapat membuat ia tiba-tiba saja merindukan Siwon.

Yoona mendesah pelan. Di topangnya dagunya dengan tangan kiri ketika kelebatan tubuh Siwon memenuhi matanya. Cepat-cepat ia berdiri hendak menghindari Siwon yang berjalan ke arahnya saat suara gadis lain yang memanggil nama Siwon hinggap di telinganya.

“Siwon Oppa” tampak seorang gadis berlari menghampiri Siwon kemudian memeluknya erat. Yoona tentu saja membelalakkan matanya. Tanpa sadar tangannya yang bebas mengepal geram.

“Sulli-ah” Siwon tampak terkejut. “Kapan kau datang?”

Suara Siwon masih terdengar jelas oleh Yoona. Jadi mereka saling mengenal? Batinnya. Di amatinya ekspresi Siwon sedetail-detailnya.

“Baru saja aku mendarat dari jepang dan langsung kesini untuk bertemu Oppa. Aku sangat merindukanmu Oppa” tanpa di duga gadis bernama Sulli itu mencium pipi Siwon kanan-kiri.

Yoona yang menangkap ekspresi kebahagiaan di mata Siwon tak ayal membelalakkan sepasang mata indahnya. Di gebraknya meja di depannya. Membuat pengunjung kantin yang duduk di sekitar Yoona  memandang heran ke arahnya.

Sialan kau Choi Siwon. Kau selalu mengumbar kata cinta kepadaku tapi kau mengkhianati kepercayaanku dalam sekejab. Otak Yoona panas. Hatinya serasa sakit menahan amarah. Nafas Yoona naik turun.

Dengan sengaja Yoona melewati Siwon dan gadis itu. Di senggolnya kasar bahu gadis yang bernama Sulli itu. Kemudian Yoona setengah berlari memasuki mobilnya. Tak di pedulikannya teriakan Siwon yang memanggil-manggil namanya.

-Look at Me! Yoona-

Ada apa ini? Taecyeon Oppa, Siwon Oppa semuanya menyebalkan. Kenapa aku serasa di permainkan campakkan? kenapa di saat aku mulai melihat Siwon Oppa, dia telah memiliki kekasih lainnya. Bukannya dia mencintaiku? Bukannya dia selalu mengumbar kata cinta untukku? Keundae wae?

Yoona memukul-mukul bantalnya dengan gemas. Teriakannya ia redam dengan bantal sekuat-kuatnya. Matanya sembab akibat terlalu lama menangis. Sampah tisu berserakan di lantai dan tempat tidurnya. Beberapa hari ini Yoona bahkan absen masuk kuliah demi menghindari Siwon. Ia masih tidak sanggup untuk berhadapan langsung dengan Siwon. Amarah Yoona belum sepenuhnya reda. Kekecewaannya pada Siwon belum sepenuhnya hilang.

Tiga malam sudah tepatnya Yoona mengalami insomnia. Di setiap kesempatan, tanpa sadar Yoona melamunkan Siwon, mereka-reka apa sebenarnya hubungan Siwon dengan gadis itu yang ujung-ujungnya selalu menyimpulkan bahwa gadis itu tak lain adalah kekasih Choi Siwon. Memikirkan Siwon tanpa Yoona sadari telah menjadi kebiasaannya sekarang. Bahkan Taecyeon yang kini di jauhinya, rela menghubunginya lewat pesan demi membantu Siwon. Menasehatinya untuk tidak menghakimi Siwon dan menyarankannya untuk mendengarkan penjelasan Siwon sebelum memutuskan apa perlu Yoona marah pada namja itu. Tapi Yoona tak menggubris pesan dari Taecyeon. Hanya ia memikirkan isi pesannya tanpa perlu repot-repot membalasnya. Sakit hatinya pada Taecyeon pun masih belum hilang sepenuhnya.

Di pandangnya jam dinding di kamarnya. Pukul 03.00 KST dini hari. Yoona masih belum memejamkan matanya. Sedari tadi telepon genggamnya berdering tak berhenti menandakan puluhan pesan masuk di inbox-nya. untuk kesekian kalinya handphone Yoona berdering nyaring. Kali ini sebuah panggilan masuk. Di raihnya telepon genggamnya dengan malas-malasan.

“Aiish siapa yang menelpon pagi-pagi buta begini?”

Dilihatnya layar telepon genggamnya. Siwon oppa? Ada apa dia menelpon jam tiga pagi begini? tanyanya dalam hati. Yoona menimang-nimang smartphonenya. Ragu apakah ini waktu yang tepat untuk mendengarkan penjelasan namja itu. Lagipula ia bukan kekasih Siwon, seharusnya ia tak perlu semarah itu. Dengan menguatkan hati, di gesernya tombol answer. Dalam sekejab terdengar suara baritone Siwon yang khas di seberang sana.

“Yoona, joheun achim” sapa Siwon riang. Dari nada suaranya Siwon bersikap seakan-akan tak ada masalah di antara mereka. Hati Yoona mendadak saja membuncah bahagia hanya dengan mendengar suara Siwon. Namun sedetik kemudian kembali merutuki kebodohannya karena ia masih saja mengharapkan Siwon di saat namja itu telah memiliki kekasih.

“Wae?” jawab Yoona se-angkuh mungkin dengan suara seraknya. “Aku sedang tidur. Jangan ganggu aku”

“Sejak kapan kau mengubah kebiasaanmu tidur dalam keadaan lampu menyala, Deer?” Siwon tersenyum geli dengan usaha Yoona yang berusaha membohonginya, tapi gagal. Harusnya Yoona ingat Siwon sangat hafal kebiasaan Yoona dengan baik.

“Aku sedang tak ingin bicara padamu” Yoona menutup matanya. Ingin marah tapi ia merindu. Membuatnya bingung.

“I’m sorry Deer. Aku tak bisa tidur karena merindukanmu. Sudahi kemarahanmu padaku. hmm”

Yoona mencibir. Bisa-bisanya dia menggombaliku pagi-pagi buta begini…

“Kalau tak ada yang penting aku akan menutupnya.” Yoona menjawab masih dengan mata tertutup. Rasa kantuk mulai menghinggapinya. Walaupun Yoona tak bisa menahan kemarahan di dadanya tapi tak bisa di pungkiri, Yoona merindukan Siwon yang selalu mengganggunya setiap hari. Dan ia kehilangan itu di saat ia memutuskan menjauhi Siwon.

“Yoona, aku tidak berbohong padamu. Aku memang mencintaimu. Kau salah paham Deer. Kau harus dengarkan penjelasanku, hmm?”

“Sudahlah Oppa aku tidak mau kau terlalu memaksakan dirimu” Yoona menitikkan air mata. Ucapan dan hatinya saling bertolak belakang. Sungguh, bagaimana bisa ia begitu cemburu pada Siwon ketika ia telah yakin untuk mencintai Taecyeon saja. Itu salahnya karena terjebak di antara cinta Siwon dan Taecyeon.

“Aku tak mau tahu. Aku sudah ada di depan rumahmu. Cepat buka jendela kamarmu. Palli! palli!” Siwon terdengar bersemangat. Tak memperdulikan penolakan Yoona. Siwon telah terbiasa dengan penolakan Yoona selama ini. Itu tidak akan membuat Siwon sedikitpun beranjak pergi meninggalkan gadis pujaannya itu.

“Mwo?” mata Yoona yang mengantuk langsung terbuka lebar bahkan melotot. Ia segera turun dari tempat tidurnya dan membuka pintu kaca di samping kamarnya, kemudian berlari ke balkon. Mencari-cari sosok tinggi Siwon dalam keremangan pagi yang masih gelap gulita.

“Kau benar-benar sudah gila Oppa? Aku akan segera…”

“Tampakkan dirimu sebentar saja. Tak perlu turun! Cukup bicara jarak jauh saja, eo?” suara Siwon terdengar terengah-engah. Apa dia kesini dengan berlari? Kening Yoona mengernyit memikirkan jarak apartemen Siwon dan rumahnya yang jauh.

Yoona menghela nafas dan menghembuskannya perlahan. Selalu saja begini. Pola yang berulang. Sebenci-bencinya Yoona pada sikap Siwon yang selalu memaksakan kehendaknya tapi Yoona selalu tak mampu menolak keinginan Siwon. Yoona sendiri heran dengan sikapnya yang lunak pada Siwon. Kalau begitu apa benar aku belum bisa merasakan cinta Siwon Oppa? Batin Yoona bertanya-tanya.

“Yoona kau sudah keluar?”

“Apa kau tak melihatku Oppa? Aku sudah berdiri di balkon.” Yoona pura-pura merajuk.

Dari balik pohon pinus di seberang rumah Yoona, Siwon tersenyum mendengar jawaban Yoona.

“Kau tahu? kau tampak manis dengan piama itu. Dan aku selalu menyukai kemarahanmu padaku.” Siwon tersenyum lebar.

Yoona berdecak mendengar jawaban Siwon. Hanya pria gila yang punya pikiran seperti itu. Matanya makin menajam di tempat-tempat yang lebih gelap. Dan benar saja, Yoona  melihat bayangan hitam tengah bersandar di pohon pinus seberang rumahnya yang di yakininya adalah siluet Siwon.

“Oppa, benarkah itu kau yang di seberang sana? Sedang apa Oppa di sana? Ini masih jam 3 pagi Oppa, kemarilah! Kau akan di kira pencuri oleh satpam rumahku.” Tanpa sadar Yoona berteriak melambai pada Siwon.

Lagi-lagi Siwon tersenyum mendengar Yoona mengkhawatirkannya. Sepertinya racun dari ciumannya sudah meracuni hati Yoona. Seharusnya ia tak perlu berteriak mengingat mereka masih tersambung telepon.

“Bukankah dengan memanjat gerbang rumahmu justru aku terlihat seperti pencuri, Yoona?” Siwon terkekeh. Yoona mempoutkan bibirnya. Benar juga, batinnya.

“Saengil Chukae Yoona-ya.”

Yoona membeku di tempatnya. Saengil? Naega? Di lihatnya layar handphonenya. Benar ini tanggal 30 Mei. Di check inbox-nya. 30 Pesan dari Siwon tanpa pesan Taecyeon. Selebihnya pesan dari keluarganya dan sahabat-sahabatnya. Dia mengingatnya? Batin Yoona.

“O-oppa…” Yoona menyeka air mata yang menggenangi mata bulatnya. “Oppa bisa mengirimiku ucapan lewat pesan tanpa harus menggangguku pagi-pagi.” Yoona tak mau terlihat cengeng di hadapan Siwon.

Siwon mengulum senyumnya di seberang sana. Mendengar suara Yoona yang bergetar menahan tangis.

“Bukankah aku sudah mengirimimu 30 pesan sejak dini hari tadi? Kau saja yang tidak membacanya Yoona. Maka dari itu aku putuskan untuk langsung menemuimu. Bukankah kau pernah mengatakan padaku bahwa kau lahir jam tiga dini hari. Dan sekarang tepat jam 3. Saengil Chukae Yoona-ya.” Suara Siwon terdengar  tulus.

“Oppa, bahkan walaupun aku tak membalas pesanmu, kau tak perlu berlari kesini dari apartemenmu” hanya kata itu yang mampu di ucapkannya. Bibirnya kelu. Tanpa bisa di cegah air matanya jatuh mengaliri pipi tirusnya.

Siwon tersenyum lembut mengetahui Yoona begitu mengkhawatirkannya.

“Gwenchana. Kubawakan 30 tangkai sunflower kesukaanmu.” Tampak siluet Siwon di kejauhan tengah melambai-lambaikan sesuatu yang di yakini Yoona adalah bunga kesukaannya.

“Op-pa…aku..” Yoona makin tidak dapat mengontrol suaranya yang bergetar.

“Tapi aku tidak membawa hadiah yang lain untukmu. Aku hanya membawa hatiku sebagai hadiahmu Yoona” suara Siwon berubah lembut. Yoona dapat membayangkan bagaimana ekspresi siwon saat mengatakannya. “Maukah kau menerimanya?”

“…” tenggorokannya serasa tercekat terhalangi oleh isakan tangisnya.

Air mata yang di tahannya kini mengalir tanpa ampun. Bagaimana bisa seseorang yang tiga  tahun terakhir ini bagaikan pengganggu baginya, seseorang yang selalu membuatnya marah setiap saat, seseorang yang tak henti-hentinya menyatakan perasaanya dengan segala caranya, orang pertama yang selalu mengistimewakannya. Bagaimana kau bisa membencinya semudah itu tanpa mendengar alasannya, tanpa melihat ketulusannya? Bahkan ini hanya ucapan ulang tahun Yoona,  Kenapa kau sebahagia itu? Bukankah kau membenci Siwon? Atau..kau sudah mulai mencintainya???

.

.

.

Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia sudah memutuskan untuk mengikuti kata hatinya. Yoona berlari keluar kamarnya kemudian menuruni tangga menuju lantai satu. Tak peduli apakah tindakannya membuat kedua orang tua dan kakaknya terbangun. Yang ada di pikirannya hanya Siwon yang tengah menunggunya untuk mengambil hadiah ulang tahunnya.

Yoona terus berlari dengan tergesa-gesa memasuki pos satpam. Mencari-cari remote control untuk membuka gerbang rumahnya. Tak di pedulikannya pertanyaan dan tatapan penuh keheranan dari satpam yang terpaksa bangun dari tidurnya demi melihat Yoona yang seperti orang kesetanan membuka-buka laci meja di pos satpam.

Segera setelah gerbang terbuka, Yoona mengamati sosok tinggi tegap Siwon yang tengah bersandar di pohon pinus tepat di depannya. Tanpa berpikir panjang, Yoona segera berlari menghambur ke dalam pelukan Siwon. Memeluk namja itu seerat-eratnya. Melampiaskan kerinduannya pada Siwon. Hal itu membuat Yoona semakin yakin bahwa hatinya mulai terbuka untuk menerima Siwon.

Siwon tersenyum dalam diam. Membelai pelan punggung Yoona. Sesekali di kecupnya lembut puncak kepala Yoona. Gerakannya terhenti saat merasakan kain tipis piama Yoona

“Neo jinjja paboya Yoona. Kenapa kau tidak memakai jaketmu?  dan lihatlah…” tatapan Siwon jatuh di kaki Yoona yang telanjang. “Bagaimana kau sampai berlari bertelanjang kaki seperti itu?” Siwon menoyor pelan kepala Yoona yang terkikik geli dalam pelukan Siwon.

Yoona kembali memeluk Siwon erat. “Aku sungguh merindukanmu Oppa.”

“Hmm, bukankah kau marah padaku? Bahkan kau mengacuhkan semua panggilan dan pesan dariku? Kau juga beberapa hari tidak muncul di kampus?”

“Oppa, satu-satu kalau bertanya. Kau masih berhutang penjelasan padaku” Yoona melepaskan pelukannya kemudian menyilangkan kedua tangannya di dada. Memasang wajah seseram mungkin berharap Siwon takut padanya.

Tapi Siwon justru tersenyum tenang. Di acaknya rambut Yoona. “Wanita yang kau cemburui itu, dia adalah Choi Sulli”

“Seorang Choi?” Yoona mengernyit.

Siwon mengangguk. “Emm, nae dongsaeng.”

Yoona membeku di tempatnya. Malu karena telah salah paham pada Siwon.

“Dia kuliah di China. Karena itu kau tak pernah tahu tentang dia, dan aku belum sempat mengenalkannya padamu. Kau juga tak pernah mau mengenalku lebih dalam, jadi…”

Chuup-

Siwon terbelalak merasakan bibir lembut Yoona menempel erat di bibirnya. Hanya sekejab. Kemudian Yoona kembali menunduk malu ketika Siwon masih dengan wajah terkejut menatapnya dengan sorot mata bahagia.

“Kalau begitu jawaban untuk hadiah ulang tahunmu kurasa aku sudah tahu Im Yoona.” Siwon mendesah bahagia. Yoona mengangguk samar. Masih terlalu malu mengakui perasaannya pada Siwon. Matanya berbinar-binar memandang wajah cantik Yoona yang tengah tertunduk malu.

“Saranghae Yoona.” Di raihnya dagu Yoona agar dapat menatap mata gadis cantik itu.

“Nado Saranghaeyo Oppa” jawabnya pelan.

Kembali Siwon melumat bibir Yoona lembut. Tak memperdulikan dinginnya pagi, mereka semakin berpelukan erat seakan tak ada hari yang cukup untuk menyalurkan segala perasaan cinta masing-masing yang tengah membuncah. Penantian Siwon menunggu Yoona untuk membuka hatinya telah berbuah manis. Kini tiba waktunya bagi mereka merenda kisah cinta kemudian mempertahankannya hingga ke jenjang suci pernikahan.

 

 

Dimanapun langkahmu meninggalkan jejak, di situlah aku akan menemukanmu.

Karena aku adalah rumah tempat hatimu singgah, Im Yoona.

-Choi Siwon-

.

.

.

–Look at Me! Yoona The End–

 

Nited Annyeoooong #lambailambaitangan

It’s Me Zarra J author baru di YWK. Aku good readers yang mencoba peruntungan di dunia per-ff-an dengan berpindah haluan menjadi author. Ini salah satu karyaku semasa High School yang berhasil kuselesaikan dan ku remake ulang hampir keseluruhannya, kemudian aku memutuskan untuk mempubhliskannya di sini. Barangkali saja ada yang suka karyaku #tepokdada# dan mau mengkritiknya habis-habisan. Terima kasih atas waktunya telah sudi membaca dan mengapresiasi karyaku melalui RCL kalian. Jadilah good readers and don’t copy paste this story because is mine and please give me your RCL J

Buat admin YWK yang cantiikkk, Echa dan Resty, makasih udah posting.. selalu merepotkan. *bighug

Iklan
Tinggalkan komentar

153 Komentar

  1. bee

     /  Maret 22, 2015

    Lucu banget sihh ceritanya .. suka banget ama siwon disini .. bayangin nya aja udh cemburu ama yoona ..
    Bikin ff yg lain thor .. cemangat

    Balas
  2. WindAngin

     /  Mei 20, 2015

    Kereeenn!!!
    Makin suka baca fanfiction nih klo author nya keren gini karya nya

    Balas
  3. Huwaaa so sweet bangeeett perjuangannya Siwon Oppa. Ngiri deeehhh!! The perfect couple.

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: