[FF] COMPROMISE : THE PAST LOVE (CHAPTER 3)

Comp - remake 2

Misskangen Presents: COMPROMISE

 

Casts: GG’s Yoona as Im Yoona

           SJ’s Siwon as Choi Siwon

Cha Seung Won as Choi Seung Won

SJ’s Kyuhyun as Choi Kyuhyun

 

Minor Casts: GG’s Jessica as Im Soo Yeon / Jessica Jung

 F(x)’s Sulli as Park Sulli

SJ’s Leeteuk as Park Jung Soo

GG’s Taeyeon as Im Taeyeon

F(x) Victoria as Victoria Song

Gong Hyo Jin as Kang Hyo Jin

 

Genre: Romance, Family

 

Rating: Mature

 

Length : Chapters

 

Disclaimer : This is a remake fanfiction in YoonWon Version. All of the story and plot is mine. Do not copy or doing plagiarism. Please apologize for unidentified typo(s).

~Happy Reading~

 

COMPROMISE : THE PAST LOVE (3)

 

Kalau ditanya hal apa yang paling aku benci di dunia ini, maka aku tidak akan menjawab dengan pernyataan klise seperti benci menunggu, benci pada sayuran, atau mungkin benci karena patah hati. Aku akan menjawab dengan sangat tegas bahwa aku membenci ketika aku berada dalam situasi yang sangat tidak beruntung karena dilema. Aku merasa seperti tidak punya pilihan padahal ada beberapa pilihan yang sudah melambai-lambaikan tangan untuk kupilih.

 

Apa yang harus kulakukan jika aku menjadi terjepit diantara dua pihak berlawanan yang sama-sama terkait denganku dan membutuhkanku untuk menjalankan keinginan mereka? Jika aku tidak membuat keputusan yang tepat, maka aku yang akan hancur. Tetapi untuk menentukan keputusan tepat itu tidak mudah jika aku sendiri tidak tahu siapa yang lebih baik atau siapa yang lebih menguntungkan bagiku.

 

Choi Seung Won, adalah orang pertama yang menjebloskan aku ke dalam jeratan perjanjian yang tak mengantarkanku pada satu pilihanpun kecuali menurutinya. Dan Choi Siwon, sebagai objek dalam perjanjian ternyata tak selemah itu untuk survive dalam pusaran permainan ayahnya.

 

Aku tidak tahu siapa yang harus kupilih, berpihak pada Choi Seung Won yang menjamin semua rahasiaku tetap aman, atau menerima pinangan Choi Siwon sebagai ‘partner’ untuk sebuah rencana yang tak diungkapkannya.

 

Melakukan pengamatan adalah satu-satunya jalan yang saat ini harus kulakukan sebelum membuat keputusan. Untuk sementara sebelum semua kedok kuketahui, akan lebih baik kalau aku tetap menjalankan apa yang sudah kusiapkan sebagai penangkal dari kemungkinan terburuk yang akan muncul. Yaitu, aku akan bersikap netral dan menjalankan apa yang sudah disepakati tanpa ada misi tambahan dari Choi Seung Won.

 

“Bagaimana acara kencan kalian kemarin malam?” sudah pasti itu adalah pertanyaan pertama yang ditanyakan Presdir Choi ketika memanggilku ke kantor pribadi miliknya. Sedikit mengejutkan karena ternyata Choi Siwon juga berada disana.

 

“Semuanya lancar. Sedikit banyak aku mulai mengenali Yoona-ssi,” jawab Siwon sementara aku mengangguk dan memberi kesan padanya bahwa aku akan menjawab hal yang sama.

Presdir Choi tersenyum. Ia tampak mempercayai apa yang kami tunjukkan melalui ekspresi wajah yang sangat ‘biasa’, tidak ada kesan tegang atau justru menyembunyikan kebohongan.

 

“Ya ampun, haruskah abeoji mencampuri urusan kencan kami? Tidak cukupkah dengan ide perjodohan konyol itu?” celetuk Siwon kemudian. Jika nada bicaranya seperti itu, aku ingin tertawa karena Siwon lebih mirip anak kecil yang menggerutu.

“Kalau tidak begini, aku yakin kalian tetap akan jadi orang asing yang baru saja bertatap muka.” Seung Won menggeleng-geleng remeh dengan alis yang terangkat sebelah. “Tapi sepertinya kalian memang bisa diharapkan untuk menjadi pasangan yang serasi.”

 

Aku memutar bola mata, ingin sekali menertawakan pernyataan Choi Seung Won tadi. Pasangan serasi katanya? Terserahlah. Mungkin akan tampak sempurna jika orang lain memandang aku dan Siwon nantinya sebagai pasangan spektakuler abad ini.

 

Helaan napas Seung Won terdengar lirih. Aku melihatnya sedang bertatapan dengan Siwon, tapi entah mengapa aku merasa tidak ada kehangatan di dalamnya. Seharusnya seorang ayah bisa menunjukkan rasa cintanya kepadan sang anak begitupun sebaliknya. Mungkin hubungan mereka yang buruk menjadi sebab utama dan hal ini membuatku menjadi semakin penasaran dengan penyebab utama keretakan ikatan ayah-anak ini.

 

“Aku memanggil kalian kesini untuk memberitahukan acara makan siang bersama dengan keluarga Choi keseluruhan, dengan istri dan anakku yang lainnya. Dan Yoona-ssi, aku berharap kau bisa memberikan kesan yang baik kepada calon ibu mertua dan adik iparmu.”

 

Siwon mendecakkan lidahnya sinis, bahkan seringaian terpatri di wajahnya. Aku melihatnya dengan jelas saat aku menoleh padanya sementara matanya nyalang ke tempat lain.

“ibu mertua dan adik ipar? Kedengarannya manis sekali. Tapi sayang kenyataan yang sebenarnya tak seindah itu…”

 

“Choi Siwon, tak bisakah kau berbicara lebih sopan mengenai ibu dan adikmu?” tegur Presdir Choi pada putranya dengan mata yang tajam. Aku berani bertaruh jika Choi Seung Won sangat ingin melempar Siwon dengan sesuatu untuk menghukum lidah tajam putranya itu. Dan apa yang dilakukan Siwon? Ya, dia hanya memutar bola mata dan kembali menyeringai.

 

“Apa yang terjadi? Kenapa ada perdebatan seperti ini?” tanyaku polos seolah aku adalah wanita idiot yang tak bisa mencoba memahami situasi.

 

“Tidak usah dengarkan dia, Yoona-ssi. Siwon hanya sedikit kesal dengan ibu dan adiknya. Mereka sudah lama sekali tidak bertegur sapa.” Jelas Seung Won dengan senyuman getir kepadaku.

 

Wow, Daebak! Ada seorang anak yang lama tak bertegur sapa dengan ibu dan saudaranya. Siwon ternyata memiliki cap sebagai bad boy, itupun jika yang dikatakan Choi Seung Won benar adanya.

 

“Sedikit kesal? Alasan yang terdengar sangat bijaksana!” kilah Siwon mengejek alasan yang diberikan ayahnya tadi. “Aku tidak akan datang. Yoona-ssi, jika kau ingin mengenal ibu dan adikku yang tersayang silahkan bergabung. Semoga kalian menikmati waktu yang menyenangkan.”

 

Aku tersentak dan menoleh kembali pada Siwon. Dia sudah tak lagi dengan posisi duduknya. Kini ia sudah beranjak dan berjalan meninggalkanku dan ayahnya.

“Tapi, Siwon-ssi…”

Belum sempat aku berbicara, ia sudah menutup pintu dan menghilang dari ruang kerja Presdir Choi. Aigoo… Choi Siwon, sebenarnya kau ini orang macam apa? Sulit sekali rasanya melumerkan es batu di hatimu itu.

 

“Sudahlah. Kau tak perlu memikirkan sikapnya yang menurutku kekanakkan itu..” timpal Choi Seung Won menatap kepergian putranya.

 

***

 

Ini sungguh menyebalkan! Jam makan siang sudah tiba dan sudah saatnya aku pergi mengikuti kemauan Presdir Choi bertemu dengan istri dan anaknya selain Choi Siwon. Dan kemana pria yang namanya terakhir kusebut itu?

Dia pergi! Menurut Victoria, Choi Siwon buru-buru meninggalkan kantor untuk bertemu dengan client. Itu satu-satunya informasi yang bisa kudapat, dan Victoria mendapatkannya dari biang gosip yang ada di kantor ini.

 

Dasar pria egois, dingin, dan tidak punya perasaan! Client nya itu sudah seperti raja yang membuatnya mengabaikan perintah Presdir yang notabene adalah pemilik perusahaan ini. Ternyata ia membuktikan kata-katanya untuk tak menghadiri pertemuan keluarga ini.

 

Lalu bagaimana dengan aku? Itu artinya aku harus bersikap kaku, kikuk, dan sok manis di depan calon ibu mertua tanpa kehadiran sang tunangan yang sudah kabur lebih dulu tanpa alasan yang jelas. Bukankah kemarin Choi Siwon memintaku menjadi partnernya? Bagaimana kami bisa jadi tandem yang bagus bila dia membiarkanku bertempur sendirian seperti ini?

 

Mau bagaimana lagi, aku tidak punya pilihan lain selain datang sendiri ke tempat pertemuan itu tanpa kehadiran Siwon. Aku benar-benar harus siap mental menghadapi hujan pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan oleh si calon ibu mertua. Orang bilang, calon ibu mertua akan mencoba menjatuhkan mentalmu dengan pertanyaan-pertanyaan sepele seputar putranya pada pertemuan pertama. Alasannya? Entahlah, mungkin saja para calon ibu mertua mempunyai metode pengujian sendiri terhadap para calon menantu sesuai passing grade yang sudah mereka tetapkan sebelumnya.

 

Aku menghela napas panjang saat tiba di restoran mewah yang sudah ditunjuk Presdir Choi sebagai lokasi pertemuan. Aku memang tak berangkat bersama dengannya. Tidak sekarang, aku masih mempunyai hubungan yang sangat kaku dengannya.

 

Seorang waiter mengantarku ke ruangan VIP yang pastinya jauh dari tatapan pengunjung lainnya. Bisa dikatakan sebagai persiapan jika nantinya ada tragedi keributan antara calon menantu dengan calon mertua. Oh tidak, singkirkan dulu pikiran negatif yang satu itu!

 

Saat aku memasuki ruangan itu aku melihat Choi Seung Won sudah duduk bersama dengan seorang wanita yang aku yakin adalah istrinya. Aku baru menatapnya sekilas dan wajah wanita itu mengingatkanku pada seseorang yang kukenal.

 

Aku membungkuk singkat sambil memperkenal diriku. “Annyeonghasimika, jeoneun Im Yoona imnida.” Setelah itu aku mengangkat kepalaku yang tertunduk dan mulai bisa melihat dengan jelas rupa calon ibu mertuaku. It’s really surprised me that I know the woman!

 

Aku terperangah saat aku menyadari bahwa aku mengenal istri Choi Seung Won. Wanita itu, aku tahu dan aku pernah terlibat obrolan yang cukup baik dengannya di masa lampau. Dan ini seperti jadi sebuah mimpi yang tak terduga. Entah mimpi buruk atau bukan aku mulai merasa gugup dan jantungku berdetak cepat.

 

Annyeong, Yoona-ssi… silahkan duduk.” Balasnya dengan senyuman ramah. Ya, wanita ini kukenali sebagi sosok yang ramah dan lembut. Angin dingin seperti merayapi tubuhku dan naik hingga ke tengkuk dan membuat tubuhku merinding sesaat. Pikiranku mulai fokus pada situasi keberadaan wanita itu. Jika aku memang tidak salah mengingat identitasnya, maka seharusnya anak yang merupakan saudara Choi Siwon adalah….

 

“Maaf aku terlambat!”

Belum sempat aku melangkahkan kaki menuju kursi yang disediakan untukku, suara seorang pria yang membuatku berhenti hingga menoleh pada sosok yang baru saja tiba di ruangan ini.

Mataku membulat karena aku dapat melihat dengan jelas siapa yang datang. Pria itu, lelaki yang punya banyak memori denganku di masa lalu kini berdiri di sampingku dengan senyuman manisnya yang dipaksakan.

 

“Kyuhyun-ah…” lirihku menyebut namanya.

Dia mengangguk, membenarkan bahwa aku tak salah memanggil namanya. Tiba-tiba saja dadaku berdesir. Ada rasa yang tak kumengerti antara sakit, senang, dan bingung. Aku tak pernah sedikitpun menyangka bahwa kenyataannya aku bertemu lagi dengannya dalam kondisi yang kini berubah. Ada sebuah garis panjang dan tebal yang kini menjadi pembatas antara aku dan dirinya.

 

Annyeong, Yoona-yah… lama tak bertemu.”

 

“kalian saling mengenal?” sura Presdir Choi mengakhiri mata kami yang saling bertatapan lama dan mencoba berbicara melalui isyarat mata walau tak ada satupun yang bisa membaca isi hati dan pikiran kami.

 

“Ya, kami dulu adalah teman kuliah, Abeoji.” Kyuhyun mengambil langkah cepat untuk menjawab pertanyaan ayahnya. Dia mengatakan kami teman kampus, hanya sekedar teman dan itu terjadi sudah lama – seperti itulah yang kutangkap dari nada bicaranya yang datar. Kyuhyun pasti memikirkan jalan aman untuk tak mengungkit apa yang pernah ada antara kami dahulu di depan ayahnya.

 

Choi Seung Won tertawa singkat. “Ini sungguh kebetulan yang menyenangkan. Ternyata kalian teman lama. Itu berarti tidak perlu ada adaptasi jangka panjang untuk menjadi saudara ipar yang baik, kan?”

 

Hatiku mencelos, seperti tidak rela mendengar Seung Won mengucapkan hubungan kami sebagai saudara ipar. Choi Kyuhyun, selama ini tak begitu terbuka mengenai keluarganya. Ia hanya mengatakan bahwa ayahnya seorang pengusaha dan sama sekali tak pernah membahas tentang saudaranya. Ia hanya pernah mengatakan bahwa ia mempunyai seorang hyung.

 

Langkah kakiku terasa begitu berat. Seperti motor yang mulai kehabisan bensin maka langkahku ikut mogok-mogok untuk digerakkan secara normal. Bertemu lagi dengan Kyuhyun dan ibunya membuat seluruh saraf di tubuhku menegang hingga aku bersikap seperti orang linglung.

 

Aku duduk sendiri berhadapan dengan tiga orang. Posisi ini mengingatkanku dengan suasana ruangan ketika aku menjalani ujian komprehensif untuk pengujian skripsiku di perguruan tinggi. Atmosfernya menurutku sangat kikuk dan membingungkan. Aku tidak tahu topik apa yang harus aku mulai untuk mencairkan suasana ini.

 

Seharusnya ada Siwon yang duduk di sampingku, menemaniku dan bersama berjuang mempertahankan pendapat di hadapan keluarganya. Nyatanya pria itu sama sekali tak pernah peduli dengan hal seperti ini. Pria itu seakan sudah menyugesti dirinya bahwa keluarga bukanlah hal yang penting yang harus diutamakan.

 

“Aku merasa posisi duduk seperti ini sangat aneh.” Celetuk Choi Seung Won yang membuat seluruh mata tertuju padanya. “Apakah kita akan membiarkan Yoona-ssi duduk sendirian diseberang sana? Ini seperti kita sedang mengadili Yoona-ssi sebagai tersangka di pengadilan.”

 

“Oh kau benar, Yeobo…” sahut Nyonya Choi menyadari maksud suaminya. “Kyuhyun-ah, pindahlah duduk di sebelah Yoona-ssi,” perintahnya kepada Kyuhyun.

 

“Tapi Eomma, aku…” Kyuhyun tampak sangat ragu mengabulkan permintaan ibunya untuk duduk di sebelahku. Siapapun pasti tidak nyaman dengan keadaan seperti ini, harus berdekatan lagi dengan mantan kekasih yang berubah status menjadi calon ipar. Ibu Kyuhyun tahu bagaimana hubungan kami dulu, dan betapa dekatnya hubunganku dengan Kyuhyun. Meminta sang putra untuk berdekatan lagi denganku saat ini sepertinya bukan ide yang brilian.

 

Tatapan mata dengan isyarat yang memaksa akhirnya membuat Kyuhyun mau tak mau mengikuti kemauan ibu dan ayahnya. Enggan ia bergerak dan berpindah duduk di sebelahku, tepatnya di kursi yang disediakan untuk Siwon.

 

Kami duduk bersebelahan, namun aku merasa sangat jauh dengannya. Aku hanya berani sesekali melirik, begitupun dengan Kyuhyun. Tidak ada pembicaraan khusus ataupun candaan seperti yang biasa ada bila kami sedang bercengkerama.

 

“Kalian sepertinya sudah berteman lama… bukankah kalian memiliki studi yang berbeda?” tanya Predir Choi yang mungkin masih penasaran dengan hubunganku dan Kyuhyun.

 

“Kami bertemu dalam kegiatan mahasiswa di kampus dan hanya terjadi interaksi antara rekan sejawat.” Jawab Kyuhyun datar mendahuluiku untuk membuka mulut. Dan apa ini… dia berbohong! Hanya ada interaksi sebagai rekan mahasiswa? Benar-benar lelucon! Kyuhyun sama sekali tak berniat untuk mengatakan kedekatan kami, bahkan ia berperilaku seperti orang yang sangat asing bagiku.

 

Aku perhatikan Nyonya Choi lebih banyak diam dan hanya menanyaiku sebatas hal sepele mengenai hobiku, keluargaku dan sebagainya. Semua cerita itu sudah diketahuinya sebelum pertemuan ini karena Kyuhyun pernah memperkenalkanku pada ibunya.

 

“Yoona-ssi, putraku Kyuhyun memang anak yang menyenangkan. Aku yakin kalian menjadi teman yang sangat baik dulu. Apalagi Kyuhyun punya karakter yang supel, sederhana, dan… menurutku dia juga pria yang penyayang,” puji Choi Seung Won kepada putranya.

 

Aku sudah tahu bagaimana karakter seorang Choi Kyuhyun. Dia memang pria yang manis, lembut, dan tentu sikapnya sangat hangat kepadaku. Itu sebelum kami berakhir seperti ini. Dan sekarang, lihat saja bahkan Choi Kyuhyun bersikap seperti baru mengenalku beberapa jam yang lalu.

 

Ne, Abeonim. Kyuhyun-ssi… adalah teman yang sangat baik, walau menurutku dia adalah tipe orang yang tertutup.” Aku merasakan tatapan Kyuhyun tertuju padaku walau aku tak beralih kepada wajahnya. Aku sengaja memancing Kyuhyun untuk berbicara lebih banyak, tapi sepertinya tak berhasil karena reaksinya yang hanya sekedar kaget lalu kembali stay cool seperti sedia kala.

 

“Benarkah begitu? Kyuhyun-ah, kau tidak boleh bersikap seperti itu lagi pada Yoona-ssi. Jadilah pria yang gentle kepada wanita. Kau jangan ikuti sikap Siwon yang menyebalkan itu!” ujar Predir Choi menasehati putranya.

 

“Kalau begitu kenapa bukan aku saja yang menikahi Yoona-ssi?” celetuk Kyuhyun dan membuat kami bertiga menatapnya penuh tanya.

 

Presdir Choi mengerutkan keningnya, mungkin tak mengerti dengan tingkah aneh Kyuhyun. “Hei, Choi Kyuhyun. Kenapa kau berbicara seperti itu? Yoona-ssi adalah milik hyung-mu, tak seharusnya kau juga menginginkan apa yang menjadi hak saudaramu,” ujar Presdir Choi tegas dan dingin.

 

Kalimat Kyuhyun sepertinya ampuh mengubah suasana kaku menjadi tegang. Lihat saja sekarang Tuan Choi tampak sangat ingin memarahinya atau memakinya.

Kyuhyun tersenyum getir. Sekilas ia melirikku lalu kembali menatap kedua orang tuanya. “Abeoji tidak perlu berlebihan. Aku hanya ingin mengatakan jika aku memang lebih baik dari hyung, lantas mengapa hyung bisa mendapat wanita sebaik Yoona-ssi sedangkan aku tidak?”

 

Choi Seung Won tertawa mendengar penjelasan putranya. Kepala menggeleng-geleng tak percaya dengan pengungkapan Kyuhyun. “Jadi kau juga ingin menikah, Kyuhyun-ah? Baiklah, Abeoji akan mencarikan wanita yang setipe dengan Yoona-ssi untuk menjadi jodohmu.”

 

Kyuhyun mendengus sebal dengan ide yang dilontarkan ayahnya. “Abeoji tidak perlu membuat perjodohan untukku. Aku akan mendapatkan sendiri wanita yang kuinginkan.”

 

Aku merasa kalau Kyuhyun sedang menyembunyikan sesuatu dalam kata-kata yang sarat makna. Aku juga merasa kalau Kyuhyun menyimpan kegetiran dalam setiap bahasa tubuhnya maupun tatapan matanya. Mungkinkah Kyuhyun tak bisa menerima perjodohanku dengan Siwon? Apakah Kyuhyun masih menyimpan rasa untukku? Oh, atau mungkin aku yang terlalu berlebihan untuk berharap bahwa Kyuhyun masih mencintaiku seperti dulu?

Wake up, Yoona! Sebelum ini kau tak pernah menangisi keputusanmu berpisah dengan Kyuhyun. Kenapa sekarang kau malah berubah menjadi melankolis seperti ini? Lupakan Kyuhyun dan beralihlah pada Choi Siwon!

 

“Baiklah, aku mengerti maksudmu, putraku. Terserah padamu bagaimana wanita yang kau inginkan untuk menjadi istrimu kelak, asal kau bahagia.”

 

Kyuhyun sempat menoleh padaku, memamerkan senyum separuh yang tak aku mengerti maksudnya. Sikapnya sangat aneh untuk menanggapi perkataan ayahnya barusan. Begitu juga dengan sikap Choi Seung Won, aku merasa dia begitu manis pada Kyuhyun namun berbanding terbalik ketika ia berhadapan dengan Siwon. Hubungan ayah dan anak di dalam keluarga Choi ini sedikit banyak membuatku pusing karena rasa penasaran.

 

“Yoona-ssi, besok pergilah bersama istriku untuk mengurusi segala keperluanmu untuk pernikahan. Aku memang sudah mengatur dan menunjukkan Wedding Organizer terbaik di negara ini. Tapi kupikir mungkin kau menginginkan beberapa detail sendiri yang sesuai seleramu, aku tidak masalah dengan itu.” Ujar Choi Youngwon lagi. Kata-katanya yang tegas menandakan bahwa ia tidak ingin mendengar penolakanku.

 

“Aku akan menemanimu untuk memilih dan fitting gaun pengantin, Yoona-ssi. Aku juga tidak masalah kemanapun kau ingin pergi,” timpal Nyonya Choi menatapku lembut dengan senyuman. “Aku berharap semoga kita bisa dekat dengan berpergian berdua sebagai ibu mertua dan menantu.”

 

Aku memang tak bisa menolak, jadi dari pada memperpanjang waktu perdebatan dengan acara protesku yang tidak penting bagi mereka maka aku pun mengangguk. Ada satu pikiran yang terlintas saat aku menyetujuinya. Jika semua keperluan dan masalah tetek-bengek pernikahan sudah diatur oleh Presdir Choi sepenuhnya, maka aku dan Siwon sama sekali tidak punya andil apapun. Kami seperti boneka yang siap menjadi bidak dalam acara pernikahan itu.

 

Abeonim… bagaimana dengan Siwon? Bukankah dia adalah pengantin pria nya, seharusnya Siwon juga turut serta dalam urusan pernikahan ini.”

 

Presdir Choi menatapku lama dalam diam, lalu ia mendesah dengan wajah yang sulit kutebak. “Kau tidak perlu terlalu memikirkan anak itu. Dia sendiri tidak akan mau ambil pusing. Siwon tidak akan protes dengan apapun yang kau lakukan sendiri.”

 

Sudah kuduga Choi Seung Won akan memberikan jawaban seperti itu. Kami sama-sama tahu seperti apa sikap apatis Siwon terhadap rencana pernikahan ini. Jadi, memikirkan apakah dia suka atau tidak dengan pilihan detail acara pernikahan ini hanya membuang-buang waktu saja.

 

***

 

Hari ini aku pulang terlambat. Jeda makan siangku jadi lebih lama karena pertemuan dengan keluarga Choi tadi. Setelahnya aku kembali ke kantor dan mengerjakan tugas-tugasku yang masih menumpuk. Setidaknya aku merasa senang karena aku masih bisa bersikap seperti karyawan biasa di kantor Todou meski sebenarnya aku tak benar-benar bekerja untuk perusahaan ini.

 

Victoria mengatakan bahwa Siwon juga belum kembali sejak terakhir kali ia melihat sebelum aku pergi makan siang ke luar. Aku tidak tahu sepenting apa client yang ditemuinya hingga menjelang sore ia juga belum muncul di kantor lagi.

 

Victoria sempat menanyaiku perihal diriku yang menghilang ketika jam makan siang bersamaan dengan Presdir Choi. Dengan leher yang sedikit tercekat aku sedikit berbohong padanya bahwa aku sudah meminta izin untuk menemui calon mertuaku dan tidak ada hubungannya dengan Presdir Choi.

 

Aku tidak peduli Victoria akan percaya atau tidak. Walau aku sempat melihat kerutan di dahinya yang menandakan otaknya sedang berpikir keras mencerna alibi ku dan setelahnya ia mengangguk mengerti.

 

Jam silver di pergelangan tangan kiriku sudah menunjukkan pukul 20.18 KST dan aku baru saja sampai di depan gerbang rumah. Hari ini cukup melelahkan, selain karena pekerjaan juga karena pikiranku yang masih tertuju pada pertemuanku dengan Kyuhyun dan ibunya. Menurutku masih ada banyak hal yang tak kumengerti dengan kondisi ini.

 

Sebuah mobil sedan hitam terparkir manis di halaman rumah. Sepertinya aku tidak asing dengan mobil ini. Seorang tamu mungkin datang untuk menemui Paman Park. Setahuku paman dan bibi sedang berkunjung ke Busan dan baru akan pulang besok siang. Lalu, siapa yang datang?

 

Perlahan langkahku sampai ke ruang tamu dan melihat sosok yang duduk disana. Seorang pria duduk di sofa dengan ponsel menyala di tangannya. Dia adalah pria menyebalkan yang sejak tadi ingin kuhujani dengan omelan.

 

“Kau disini, Siwon-ssi?” sapaku dingin ketika melewati ruang tamu tanpa memandang penuh padanya. Aku ingin menunjukkan betapa kesalnya aku karena dia sama sekali tak berniat bekerja sama menghadapi kedua orang tuanya.

 

“Ya, aku disini menunggumu pulang sejak 45 menit yang lalu. Kenapa kau lama sekali? Bukankah seharusnya kau sudah ada di rumah sejak dua jam yang lalu?”

 

Ck! Aku rasa bukan urusanmu aku akan pulang jam berapapun,” jawabku sinis.

 

Siwon menyeringai, kemudian ia berdiri dan berjalan mendekatiku yang kini menatapnya dengan pose angkuh. “Tentu saja itu menjadi urusanku. Kau adalah tunanganku, calon istriku. Jadi aku pikir aku punya hak untuk tahu,”

 

“Oh… jadi kau sudah mulai mengungkit masalah hak dan kewajiban. Kalau begitu aku juga berhak menanyakan kealpaanmu dalam pertemuan keluarga tadi. Kau pergi kemana Siwon-ssi?” nada bicaraku terdengar sangat tajam.

“kau pernah bilang kalau kau ingin aku menjadi partnermu. Tapi kau tega sekali membiarkanku sendirian menghadapi keluargamu! Apa itu yang kau sebut kita menjadi partner yang baik?”

 

Siwon menghela napas dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, menghindari kedua mataku yang masih setia memandangi wajah tampannya. “Aku sudah bilang kalau aku tak akan datang.”

 

“Dan kenapa kau tidak ingin datang? Kau ini sebenarnya orang macam apa yang bahkan tak mau menyapa ibu dan adikmu sendiri, eoh?” semburku kemudian setelah mendengus kesal karena Siwon tetap saja bersikap apatis.

 

“Kau tidak tahu apa-apa, Yoona-ssi. Berhentilah berkomentar sinis untuk hal yang tidak kau ketahui dengan pasti.” Siwon berbalik meninggalkanku dan kembali ke sofa, duduk dengan santai meskipun wajahnya terlihat kaku.

 

Aku tidak ingin kalah dalam perdebatan, apalagi kali ini membahas soal sikap bungkamnya mengenai pertemuan keluarga. Aku menyusulnya dan memberanikan diri duduk di sebelahnya, menatapnya tajam dan berusaha agar ia memperhatikan aku.

“Karena itu beritahu aku apa yang tidak kuketahui. Aku tidak ingin nantinya terus menerus menjadi satu-satunya orang dungu di tengah-tengah keluargamu.”

 

“Dia bukan ibuku.”

Keningku berkerut mendengar jawaban spontan darinya. “Apa maksudmu?”

“Kang Hyo Jin hanya seorang wanita yang didaulat oleh ayahku untuk menggantikan posisi ibuku.”

 

Aku terperangah mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya. Siwon hanya mengatakan nama seorang wanita yang menjadi ibunya saat ini. Tidak, lebih tepatnya ibu tirinya. Namun dari nada bicaranya yang dingin aku menangkap kesan Siwon sangat tidak menyukai ibu tirinya.

 

“Aku sama sekali tidak peduli apa yang mereka lakukan selama mereka tidak mengganggu privacy ku. Aku tidak akan pernah membiarkan mereka menyentuh wilayahku. Aku tidak akan mengizinkan hal lebih buruk terjadi.”

 

Siwon berbicara seperti sedang meracau. Aku sama sekali tak mengerti dengan ucapannya. Ia berbicara tanpa melihat ke arahku, namun aku bisa melihat rahangnya yang mengeras saat menyebut kata ‘mereka’. Siapa yang dimaksud? Ibu tirinya? Apakah Kyuhyun ada sangkut pautnya juga?

 

“Apa kau mabuk, eoh? Bicaramu aneh!” umpatku padanya. “Kalau kau tak mau mereka mengganggu privacymu, mengapa kau malah menyetujui perjodohan yang dibuat ayahmu?”

 

Siwon mendengus, terdengar seolah ia tak menyukai kalimatku yang menantangnya untuk berbicara lebih banyak. “Aku menyetujuinya karena keinginanku sendiri.”

 

“lebih tepatnya karena rahasia yang tak ingin kau katakan padaku!” kataku dengan mata yang menyipit. “Sebaiknya rencana pernikahan ini tidak usah diteruskan, karena sama sekali tidak ada gunanya bagiku!”

Aku mengancam dengan kebohongan. Sebenarnya aku kesal karena Siwon masih tetap bungkam dengan hal yang masih disembunyikannya dengan rapat.

 

Saat ini ia menatapku dalam. Mata kini berubah mengeras, seakan ia menganggapku sebagai sasaran empuk yang siap menerima makiannya. Dadanya naik lalu mengendur seiring udara yang ikut lolos dari mulutnya, kemudian kedua tangannya memegang bahuku.

“Pernikahan ini tidak boleh batal karena kita sudah sejauh ini. Kita akan menikah, Yoona. Kita tetap harus menikah. Aku tidak akan mengizinkanmu untuk mengatakan ‘tidak’ untuk pernikahan ini.”

 

Wajahnya yang sudah begitu dekat denganku membuat napasku tercekat. Aroma khas aftershave nya menusuk hidungku, membuatku kehilangan semua kata-kata yang sudah tersusun di kepalaku.

Reaksiku terhadap perilaku Siwon sungguh tak biasa. Jantungku selalu saja beraktivitas lebih sibuk ketika ia menyentuhku dan semakin parah saat aku merasakan hembusan napasnya di kulit wajahku.

“Katakan sesuatu… Yoona-yah.”

 

Yoona-yah? Sejak kapan ia menjadi sok akrab seperti itu, bahkan memanggilku dengan meninggalkan embel-embel kesopanan seperti biasanya.

“Biarkan aku berpikir. Beri aku waktu.”

 

Ekspresinya tidak berubah, masih tetap sangar bagiku. Mata kami yang saling bersitatap semakin memperburuk situasiku yang kini gugup tak tertolong. Ia semakin mendekat, aku sudah bisa merasakan pipi kami yang saling bersentuhan. Sementara ia berbicara di telingaku, bukan sebuah bisikan nakal.

“Jangan mengulur waktu dengan bantahan, Yoona-yah. Kita akan menikah. Me-Ni-Kah!”

 

Bibirnya yang lembut dan hangat menyentuh telingaku dan membuat bulu kudukku berdiri. Choi Siwon sukses membuatku tak karuan. Siwon layaknya seorang profesional yang sangat mengerti keadaan seseorang yang paling tepat untuk digoda. Atau mungkin Siwon sudah mengetahui titik lemahku.

 

“Eonni, kau…akan menikah?” suara pekikan seseorang membuat aku dan Siwon melepaskan kontak fisik. Kami terlalu hanyut dalam perdebatan hingga tak menyadari kehadiran orang lain disana.

 

“Su..Sulli-ah!” tegurku dengan tergagap. Sulli tampak berdiri tak jauh dari sofa tempat kami duduk dengan wajah yang juga tampak kaget.

Aku melirik Siwon yang tampaknya juga salah tingkah karena dipergoki oleh orang lain saat sedang bercengkerama denganku.

 

“Eonni, benarkah yang kudengar tadi?”

“Apa yang kau dengar, Sulli-ah? Aku tak tahu kau ada di rumah, kupikir kau ikut dengan Samchon dan Imo ke Busan.” Jawabku ingin mengalihkan pembicaraan.

 

“Ck, ayolah Eonni. Kau tahu aku tak pernah suka ikut dalam perjalanan bisnis Appa. Dan jangan coba membohongiku. Jelas sekali aku mendengar kalian berdebat tentang pernikahan. Apakah Tuan Choi ini kekasihmu yang baru itu? Ah… tidak, sekarang ia adalah calon suamimu.” Kalimat Sulli jelas sudah memberiku tuduhan yang tepat menusuk ke jantung.

 

“kau mengenal pria ini?”

“Kami sudah sempat berkenalan saat aku pertama kali datang kesini. Sulli yang menerima kunjunganku disini.” Ungkap Siwon menjawab tanyaku pada Sulli.

 

“Ya.. dan Tuan Choi ini hanya mengaku sebagai temanmu!” Sulli menunjuk Siwon dengan dagunya. “Jadi, kau benar akan menikah dengannya, Eonni? Katakan padaku kebenarannya jika kau tak ingin bosan dengan bombardir pertanyaan yang sama dariku setiap saat!”

 

Sulli selalu saja bisa mengancamku dengan hal yang sama. Dia tahu persis jika aku tak suka direcoki dengan pertanyaan demi pertanyaan yang pada akhirnya akan membuat telingaku panas.

 

“Kau belum memberi tahu keluargamu tentang rencana pernikahan kita?” berganti kini Siwon yang menusukku dengan pertanyaan serta dahinya yang berkerut.

 

“Tentu saja paman dan bibiku sudah mengetahuinya,” jawabku pelan.

 

“Eoh?? Appa dan Eomma sudah tahu? Dan Eonni tak memberitahuku? Kau keterlaluan!” Sulli malah merengek mengungkapkan rasa kesalnya karena informasi yang masih sedikit tersembunyi di rumah ini.

 

“Aku tidak bermaksud seperti itu, Sulli-ah. Hanya waktu saja yang belum tepat untuk memberitahumu.”

 

***

 

Langkah kakiku terasa amat berat saat aku baru saja tiba di depan sebuah rumah megah milik keluarga Choi dari Todou Group yang terkenal di Korea. Setengah jam yang lalu seorang sopir diutus untuk menjemputku dan membawa langsung ke tempat ini untuk bertemu dengan Nyonya besar Choi.

 

Sebenarnya aku takut jika pertemuan kali ini menjadi lebih tidak nyaman, karena hanya ada aku dan Nyonya Choi saja. Tidak akan ada orang lain yang akan menginterupsi seandainya akan ada percakapan yang intens mengenai masa lalu.

 

Suara seorang pelayan menyadarkanku yang sejak tadi berdiri dalam lamunan. Begitu enggannya aku melangkah, bahkan aku sama sekali tak memiliki kesempatan untuk mengagumi betapa bagusnya dan mewahnya rumah milik Choi Seung Won meskipun rumahku tak terlalu kalah besar dengan miliknya.

 

“Sebentar lagi Nyonya akan kembali, silahkan anda menunggu sebentar Nona..” ucap si pelayan rumah kepadaku, mempersilahkanku duduk menunggu di ruang tamu.

 

Aku hanya bisa menuruti pemberitahuannya dan duduk manis di ruangan itu sendirian. Aku pun teringat pada kejadian malam sebelumnya ketika Siwon datang ke rumahku, bagaimana aku memintanya menjelaskan perihal hubungannya dengan ibu dan adiknya, hingga rengekan Sulli yang memaksaku mengatakan kejujuran mengenai rencana pernikahanku dengan Siwon.

 

Tapi aku tak melihat Siwon disini. Jika ini adalah rumah Choi Seung Won, berarti ini adalah rumah Siwon juga. Dan tentu saja ini adalah rumah Kyuhyun. Sebelumnya aku tak pernah datang kesini karena Kyuhyun tak pernah bersedia membawaku ke rumahnya. Kami lebih sering berkencan di luar, atau sesekali ia mengajak ibunya untuk bertemu denganku di luar rumah. Kyuhyun sudah menyembunyikan identitasnya dengan baik. Aku jadi merasa sudah dibodohi karena tak pernah tau mengenai hal ini. Semua hal yang menjadi rahasia Kyuhyun baru aku ketahui saat aku tak lagi menjadi kekasihnya, saat aku akan menjadi kakak iparnya. Oh baiklah, Siwon pasti tidak bersedia tinggal disini karena hubungannya yang dingin dengan ibu tiri dan adiknya.

 

Tanpa kuduga aku melihat sosok Kyuhyun yang muncul dan hendak melewati ruang tamu. Kyuhyun berbalik dan berusaha menghindariku setelah ia mendapatiku berada dalam ruangan tersebut.

 

“Kyuhyun-ah! Tunggu sebentar..” tegurku padanya dan berhasil membuatnya berhenti melangkah. “Bisakah kita bicara sebentar?”

 

“Apa yang ingin kau tanyakan?” tanyanya dengan malas. “Aku sedang terburu-buru ke studio musik.”

 

“Tak perlu berbohong dengan alasan itu, Kyuhyun-ah. Aku mengenalmu bukan sehari atau dua hari. Aku mohon bicaralah padaku, karena ini sangat penting.” Aku memintanya untuk tak lagi berpura-pura bersikap kaku padaku karena hanya ada aku dan dirinya.

 

Terpaksa Kyuhyun mengangguk, menyanggupi permintaanku dan kemudian membawaku ke suatu tempat yang mungkin saja menurutnya lebih nyaman untuk berbicara secara pribadi. Well, ini rumahnya dan Kyuhyun yang lebih tahu seluk beluk tempat ini.

 

“Kyuhyun-ah, kenapa kau tak pernah mengatakan kalau kau adalah anak Presdir Todou? Kau menyembunyikan banyak hal dengan sangat rapi!” tuduhku padanya sesaat setelah kami berhenti pada sebuah gazebo indah di taman belakang rumah.

 

“Untuk apa aku mengatakannya? Apakah status keluargaku penting untukmu?”

 

Aku mendengus kesal, Kyuhyun masih saja menunjukkan sikap yang tak bersahabat dalam situasi ini. “Maksudku bukan seperti itu. Kau tahu semua tentangku, tapi aku hanya tahu segelintir saja tentangmu. Bukankah itu tidak adil?”

 

“Sekarang kau sudah tahu kan? Ku rasa itu tak penting lagi.” Jawabnya dengan nada datar. “Kau pasti sudah mendengar langsung dari hyung tentangnya yang tak pernah bisa menerima kehadiranku ataupun ibuku. Itu adalah fakta terpenting dalam kasus ini.”

 

“Siwon tak mengatakan apapun tentang itu! Kau tahu sendiri seperti apa kakakmu. Dingin, arogan, dan penuh misteri.” Wajah angkuh Siwon saat itu benar-benar melayang dalam pikiranku, mengganggu konsentrasiku pada ekspresi Kyuhyun yang tidak biasa.

 

“Harusnya kau bisa lebih dekat dengannya mengingat kau akan segera menjadi istrinya. Tapi kurasa setelah pernikahanmu nanti, aku dan ibuku tetap tak akan menjadi bagian penting dalam hidupmu. Hyung tak akan pernah membiarkan itu terjadi.”

 

Hentakkan satu kakiku benar-benar menunjukkan kalau aku tak suka dengan perkataan Kyuhyun tadi. “Apakah semua anggota keluarga Choi bersikap tak menyenangkan dan sangat suka bermain teka-teki?” sungutku menyinggung sikapnya yang mengambang.

 

“Berhentilah mengumpati hal yang tak perlu, Yoona-yah. Kau hanya akan lelah sendiri tanpa ada seorangpun yang ingin menjadi sandaran bagimu. Hiduplah dengan baik, dan berbahagialah bersama Siwon hyung. Aku mendoakan yang terbaik bagimu.” Ujar Kyuhyun menatap dalam mataku.

Keseriusan dalam kata-katanya membuatku muak. Kyuhyun yang kukenal sudah berubah dalam waktu yang cepat. Aku tak menyangka setengah tahun cukup baginya untuk mengubah sebuah kebiasaan apalagi perasaan.

 

“Katakan padaku dengan segala kejujuranmu, Kyuhyun-ah…” lirihku yang ragu untuk menyatakan isi hatiku padanya. “Apakah kau masih memiliki perasaan itu untukku? Apakah kau masih mencintaiku?”

 

Kyuhyun menahan napasnya. Rahangnya mengeras dan matanya tak fokus lagi padaku. Helaan napas keras mengiringi langkahnya hingga tepat berdiri di depanku. “Dengan berat hati kukatakan bahwa aku telah membunuhnya…”

Mataku tiba-tiba memanas mendengarnya berbicara seperti itu. Sementara hatiku sungguh tak siap dengan jawaban yang keluar dari mulutnya.

“…aku membunuh rasa itu ketika kau telah ditakdirkan bukan sebagai pilihan tepat untukku. Kenyataan yang tepat adalah kau yang akan menjadi kakak iparku. Kau dan aku harus bisa menerima kenyataan itu. Kita sudah berakhir, Yoona-yah. Tidak ada lagi yang perlu diungkit dari masa lalu.”

 

Entah mengapa aku mendengar nada kepedihan dalam suaranya, sama halnya dengan hatiku yang terasa sakit saat ia menyelesaikan kata-katanya. Kyuhyun telah membuang jauh semua harapan yang dulu pernah kami ukir bersama.

 

“Jadi… kau melakukannya karena dia?” tanyaku kemudian dan mendapat balasan kerutan keningnya.

“Kau mengakhiri hubungan kita ketika kau tahu bahwa ayahmu akan menjodohkanku dengan kakakmu?’

 

Kyuhyun diam. Aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Mungkin ia sedang mengatur kalimat untuk membuat kebohongan yang baru untuk menutupi kenyataan.

“Maafkan aku, Yoona-yah…”

 

Suara pelan seperti sebuah bisikan baru saja kudengar darinya. Aku menatapnya lama, sedangkan Kyuhyun hanya menunduk tanpa berniat melirikku.

“Meskipun hyung tak pernah menerimaku, tapi tetap saja dia adalah kakakku. Kami memiliki darah yang sama. Dan aku berharap ini yang terbaik untuk semuanya. Bukalah hatimu untuknya, aku mohon padamu.”

 

Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara aku, kakak dan ayahmu, Kyuhyun. Kau memohon padaku untuk hal yang sebenarnya tanpa kuduga telah kulakukan tanpa mampu aku mengendalikan. Hanya saja sebuah kesepakatan akan mengakhiri semuanya. Entah bagaimana akhirnya, aku hanya bisa pasrah.

Dan Choi Kyuhyun, aku tahu kau bukanlah seorang pria egois. Kau hanya terlalu mengandalkan logikamu hingga kau mengabaikan hatimu. Kau bahkan masih mengharapkan kebahagiaan orang yang jelas membencimu untuk hal yang tak bisa dipahami.

 

“Ne, arasso… aku akan berusaha melakukannya.” Uajrku dengan lidah kaku dan saliva yang terasa pahit.

 

Pembicaraanku dengan Kyuhyun sudah jelas akan berujung pada luka yang disiram cuka. Tidak akan melegakan, malah semakin menyesakkan dan terasa perih. Aku berbalik meninggalkannya yang sudah tak lagi berhasrat memandangku. Baru beberapa langkah aku berjalan menjauhinya, aku membeku ketika melihat sosok itu berdiri tak jauh dariku. Sosok yang menatap lekat dengan air muka datar.

“Siwon-ssi….”

 

To Be Continued…

 

Iklan
Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

188 Komentar

  1. Zhahra

     /  April 5, 2015

    Waah…waah…waah…
    Gawat ini…apa wonpa denger semuanya ya…
    Moga aja wonpa gag slah paham..

    Balas
  2. Susi

     /  April 21, 2015

    Kejutannn… ternyata kyuhyun adenya siwon,, 😱

    Dan kayanya siwon benci banget sama kyuhyun dan ibunya,, emang knpa ya,, sampe siwon sagat membenci kyu dan ibunya..??

    Dan kayanya siwon sudah nendengar pembicaraan kyu dan yoona,,!!
    Apa yang akan siwon lakukan setelah ini,.

    Balas
  3. Dwi Sivi Fatmawati

     /  Desember 1, 2015

    skarang aku tau kenapa siwon bisa ngirim pesan ke yoona tentang berbicara seperlunya kepada ayahnya,, krna siwon jga ada di dalam kantor ayahnya ahahahahaha
    dan wwwhhhaaaaattt siwon berdiri di belakan yoona tidak jauh… kira2 denger gk ya?
    dan aku gk nyangka bahwa ternyata kyuhyun selaku mantan pacar yoona adalah adik siwon berbeda ibu…
    sungguh penuh misteri disini

    Balas
  4. Riskaa

     /  Desember 4, 2015

    Jadi sebenernya kyuhyun adik siwon,, sedangkan yoona dan kyuhyun masih saling sayang, wah kasian banget mereka,,
    Wah endingnya mencekam bnget, apa siwon udah denger semuanyaa?

    Balas
  5. YoongNna

     /  Februari 18, 2016

    Yaaa ampun tryta kyuhyun adlh adik tirinya siwon pntas aja siwon berprilki sinis ma ade dan ibu tirinya…

    Balas
  6. susi

     /  Maret 12, 2016

    Oh ternyata kyihyun itu sodara siwon.. 😱
    Dan yang membuat kyuhyun memutuskan yoona karna dia tau kalo yoona akan menjadi kaka iparnya. 😱
    Tapi kaya nya kyuhyun nya juga masih punya keinginan untuk memiliki yoona dan yoona nya masih keliatan mencintai kyu. .
    O’ow apa siwon mendengar pembicaraan yoona dan kyu dan kira-kira apa yang akan terjadi ya..

    Semoga aja siwon dan yoona nya cepet nikah biar ga ada lagi halangan dalam hibungan mereka..

    Balas
  7. Kyaaaaaa…….knpa siwon harus ada d saat2 genting seperti ini? Pasti dy mikir yg aneh2 dan ngebatalin pernikahan itu meskipun dy udah setuju. Jangan sampe itu terjadi author, please…..

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: