[FF] Belle in the 21st Century

belle

Belle in the 21st Century

kkezzgw art&storyline

 Cast:  SNSD’s Yoona, SJ’s Siwon

Other Cast: SJ’s Donghae, Kyuhyun, Eunhyuk, Leeteuk, SNSD’s Sooyoung, SHINee’s Minho, SNSD’s Yuri, Hyoyeon

Genre: Romance, Marriage Life, Family

            Rated: General

Length: Chapter

FacebookTwitter: ELF SONE YOONWONITED Blog:  keziagw kageweyoonwonAsk.fm

Disclaimer: FF ini terinspirasi dan di adaptasi dari series Disney Princess‘Beauty and the Beast’ (1991) yang akan diterjemahkan menjadi versi abad 21 dengan berbagai perombakan yang tetap berhubungan dengan cerita aslinya. Series pertama dari Disney Princess di abad 21 versi kkezzgw ini dimulai dari YoonWon dan nanti akan dilanjutkan ke HaeSica, SeoKyu, dan seterusnya. Mohon maaf untuk kesamaan cerita, alur, karakter, adegan, maupun nama.

————————————————————————

Seorang pria berumur diatas kepala 5 itu sedang terduduk diatas meja kerjanya sambil memijat pelipisnya untuk menghalau stress yang menghampirinya begitu saja. Sebuah TV 80 inch terpampang di depannya seakan semaking memanas – manasi suasana pikirannya yang siap meledak kapan saja seperti bom waktu. Sang asisten terus berdecak khawatir akan nasib boss-nya, “Tuan, kau benar – benar tidak apa – apa?”

Choi Kiho—pria yang sekarang sedang menatap geram kearah TV—langsung menoleh kearah asistennya dengan tatapan geram, “Menurutmu saja! Bagaimana aku bisa baik – baik saja jika para pendemo kurang ajar itu sukses menganggu saham perusahaanku dalam kurun waktu 24 jam?” geram pria itu lalu membanting gelas kaca di depannya ke lantai membuat sang asisten mengatupkan bibirnya takut.

Jaekyo Group adalah sebuah perusahaan industri terbesar di Korea Selatan, perusahaan ini sudah berdiri 30 tahun atau sekitar 3 generasi lamanya dengan CEO yang berganti selama 2 kali—atau akan menjadi 3 sebentar lagi. Perusahaan yang membantu devisa negara hingga 10% ini jelas bukan perusahaan sembarangan, uang yang dihasilkan setiap tahunnya sangat melimpah dan siapapun tidak akan sanggup untuk tidak berdecak kagum jika tahu berapa nominal yang sanggup dihasilkan perusahaan tersebut dalam kurun waktu satu tahun.

Namun seminggu yang lalu, CEO dari perusahaan ini—Choi Kiho—memutuskan untuk memecat sekiranya 2000 karyawan di karenakan mereka akan menggunakan teknologi modern seperti mesin – mesin ataupun robot yang tentunya tidak sulit untuk didapatkan mengingat penghasilan perusahaan itu setiap tahunnya. Keputusan yang sangat membuat rugi 2000 jiwa itu jelas menimbulkan pro dan kontra yang begitu kentara, siapa sangka 2000 karyawan itu kini sedang berdiri di depan kantor mereka dengan banner – banner penolakkan yang begitu eye-catching untuk diliput para pencari berita, terbukti sejak kemarin kantor itu dipenuhi para wartawan yang hilir mudik di sekitar lobby sambil membidik kameranya untuk mengabadikan moment langka tersebut . Kini hampir setiap stasiun TV di negeri ginseng itu sibuk memberitakan tentang kejadian heboh yang sudah berlangsung 2 hari berturut – turut.

“Dan, tuan….ada berita lain yang membuat situasi ini semakin panas dan menjatuhkan Jaekyo Group”

Mendengarnya, Choi Kiho langsung melirik kearah asistennya dengan mata setajam elang, wajahnya memerah menahan amarah dan buku – buku jarinya ia remas dengan kencang, “Katakan ada apa lagi?”

“Tuan tentu tahu rumor kutukan yang menimpa Choi doryeonim beberapa tahun yang lalu, bukan?”

Rahang tuan Choi mengeras mendengar tentang hal bodoh itu lagi lalu mengenggam tongkat kayunya dengan geram, “Ya, lalu?”

Sang asisten berdeham gugup lalu menghembuskan nafasnya takut, “Rumor itu membuat Jaekyo Group semakin di ragukan masa kejayaannya karena tidak kunjung memiliki penerus, mengingat Choi doryeonim sudah menginjak kepala tiga namun belum kunjung memiliki keturunan, sehingga para investor—terutama para investor dari China dan Jepang—ragu untuk menanamkan modal atau bahkan membeli saham dari perusahaan ini. Sejujurnya saya kurang tahu hubungan antara kutukan itu dengan menjadi investor perusahaan, namun tetap saja kutukan itu menghalangi jalannya perusahaan”

Choi Kiho menghela nafasnya kasar, urat – urat di tangannya kini bermunculan seiring berjalannya demo – demo itu, “Lalu siapa dalang dari aksi demo ini? Siapa juru bicaranya?” gertaknya pada sang asisten yang kini berdiam diri bak patung ketakutan.

Dengan ragu, sang asisten berjalan mendekati atasannya sambil membawa map berwarna hitam transparan, dengan gesit karena termakan emosi, Choi Kiho meraih map itu dan segera membukanya kasar, “Setelah kami selidiki lebih lanjut, dalang utama dari aksi ini adalah pria bernama Im Sangwoo, saat bekerja di perusahaan ini ia hanya seorang karyawan biasa, lebih tepatnya dia seorang Finance.”

Pria itu tertawa sinis mendengarnya, “Orang biasa seperti dia berani melawanku? Cari tahu tentang dia setelah itu bawa kemari! Tak akan kubiarkan bedebah itu merusak kinerja perusahaan ini!” desis Choi Kiho kejam membuat sang asisten bergidik ngeri lalu membungkukkan badannya hormat dan berjalan keluar ruangan.

Setelah itu, tuan Choi menghembuskan nafasnya dengan berat sambil memijat pelipisnya, kepalanya terasa sakit karena masalah ini, namun yang menjadi pokok permasalahannya adalah putranya yang tak kunjung menikah. Ia tahu putranya bisa di kategorikan sebagai pria sempurna yang sangat dikagumi oleh para kaum hawa, namun sifat buruknya membuat tak ada satupun wanita yang benar – benar ingin berdekatan dengannya. Jika dilihat dari segi ini saja, sudah tergambar dengan jelas bagaimana sosok putra tuan Choi tersebut. Dengan wajah tampan, tubuh proposional, tinggi, dan tentunya berlimpahan uang namun dijauhi oleh para wanita – wanita, sudah jelas sifat dari putranya benar – benar membuat siapapun akan naik pitam.

“Aku harus segera membereskan masalah konyol ini..” desisnya dengan ambisi yang terdengar di setiap untaian kata yang ia ucapkan.

**

Gadis yang masih memakai seragam kerjanya yang berwarna pink rose dan putih susu itu kini berusaha sebisa mungkin untuk berlari dengan kecepatan maksimal yang ia bisa, nafasnya tersenggal – senggal dan ia merasa letih namun ketakutan yang ia alami jauh lebih penting dari segalanya.

“Berhenti di sana! Yak gadis sialan!” teriak beberapa orang pria berjas hitam dan bertampang sangar yang mengejar gadis itu dengan kekuatan maksimal. Seluruh kekuatan mereka dalam hal berlari seakan dikeluarkan sempurna, terbukti dari peluh yang membajiri kedua belah pihak serta nafas yang memburu.

“Oh shit, aku harus lari kemana ini?” pekik gadis itu panic. Ia mengusap pergelangan kakinya yang memerah karena sejak tadi ia berlari dengan high heels setinggi 9 cm tanpa sadar, dengan terpaksa ia harus melepas heelsnya dan berlari bertelanjang kaki. Sesekali kepalanya ia tolehkan ke kanan, kiri, dan tentunya belakang dengan wajah pucat pasi, ia benar – benar takut jika ia harus mati di tangan preman – preman sialan itu.

Gadis itu seakan mendapat pencerahan saat melihat sebuah gang kecil di ujung jalan, terlebih ia melihat sebuah telepon umum bertengger dengan manisnya disana. Ia tersenyum singkat lalu langsung berlari kencang kearah gang dan masuk ke dalam telephone box.

Ketiga pria itu semakin bingung melihat gadis yang mereka kejar berlari seperti angin. Mereka yakin gadis itu bukanlah gadis pada umumnya. Lihatlah, mereka mungkin sudah berlari minimal 2 km sejak mereka menangkap basah si gadis yang bekerja di sebuah toko kue, namun rasa lelah tampaknya tak dirasakan oleh gadis itu, tidak seperti mereka yang rasanya lebih baik mati dibanding harus mengejar gadis sialan itu lebih lama lagi.

Geumanmanhae…aku sudah tidak kuat…” ujar salah satu dari mereka yang memutuskan untuk berhenti.

2 pria yang lainnya pun ikut menyerah, bahkan mereka langsung jatuh terduduk diatas aspal sambil membanting map yang sejak tadi mereka gunakan untuk menunjuk gadis itu, “Benar – benar gadis itu, dia itu yeoja atau namja? Bahkan kekuatan larinya lebih hebat dibanding pria sekalipun..” gerutunya sambil menatap gadis yang masih berlari terbirit – birit.

Pria yang lainnya mengacak – acak rambutnya frustasi, “Bagaimana caranya kita menjelaskan ini pada Tuan Kim?”

Sedangkan gadis yang sejak tadi di kejar – kejar oleh mereka mulai menghentikan aksi mengumpatnya begitu sadar pria – pria bajingan itu berhenti mengejarnya. Ia menghembuskan nafasnya lega lalu menyenderkan punggungnya ke tembok kaca di belakangnya, ia benar – benar ketakutan. Sekalipun ia pemegang sabuk hitam taekwondo dan ia lumayan ahli dalam judo, namun akal manusiawi dan kewanitaannya tetap saja mengeluarkan emosi panic dan takut yang membuatnya hampir gila.

Setelah mengatur nafasnya yang memburu, dengan gontai ia keluar dari telephone box lalu berjalan menyusuri jalan setapak yang ternyata menghubungkannya ke jalan utama di Seoul. Beruntunglah tidak ada yang memperhatikan penampilannya yang mirip dengan para korban bencana angin topan.

Dengan gontai ia mendudukkan dirinya di halte bus yang saat itu terlihat sepi, ia menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya sambil sesekali mengatur nafasnya. Buliran air mata secara alamiah mulai membasahi pelupuk matanya, “Ya Tuhan, kapan ini berakhir?”

YOONA POV

Aku bersyukur nyawaku kembali terselamatkan detik ini, setelah para debt collector itu dengan semangat menggebu – gebu mengejarku selama 1 minggu terus – menerus tanpa mengenal lelah. Segera kutata kembali rambutku yang terlihat berantakan, lalu membenarkan pakaianku yang terlihat kusut, dan terakhir memberikan sentuhan kecil di kakiku yang terasa pegal dan sakit. Kulirik jam tanganku yang menunjukkan waktu makan siang akan segera berakhir 5 menit lagi!

OMO! Aku harus cepat – cepat kembali sebelum Shin ahjumma mengomel!”

Dengan langkah seribu, aku berlari menembus orang – orang yang berlalu lalang di sekitarku, tidak peduli lagi dengan heels yang mungkin akan menyiksaku kembali.

Aku—Im Yoona, hanyalah gadis biasa yang terlihat ‘biasa’ di usia 24 tahun, aku hanyalah anggota dari keluarga kecil dan bisa di kategorikan sebagai keluarga golongan rendah yang bermarga Im. Keseharianku hanya bekerja sebagai part timer sambil kuliah dengan biaya yang kuhasilkan sendiri. Ayahku bekerja di sebuah perusahaan industri raksaksa Korea Selatan, namun itupun tetap tak sanggup untuk membiayai ketiga anaknya, terlebih untuk biaya kuliah. Sejak itu aku berusaha mencari cara sendiri dengan bekerja keras, namun hasilnya tidak dapat menutupi hutang – hutang keluargaku maupun biaya kuliahku yang sudah menunggak hampir 1 tahun.

Aku memiliki 2 orang kakak perempuan yang tidak bekerja, keseharian mereka hanyalah mempercantik diri. Itulah yang membuatku kadang kesal dengan ulah mereka yang tak pernah membantu keluarganya sendiri. Terutama kakak sulungku, setiap hari ia hanya di kamar lalu malamnya ia akan pergi ke club malam untuk memuaskan dirinya dengan sampanye. Alhasil, hanya akulah yang menjadi tulang punggung keluarga bersama appaku. Sebagai orang tua tunggal, beban yang dipikul ayahku cukup berat, terkadang aku dan beliau pulang diatas jam dini hari sedangkan kedua kakakku dengan santainya sudah tertidur dengan lelap—tentunya menyisakan piring – piring kotor, TV yang menyala, serta air yang lupa mereka tutup kerannya—membuatku kesal, namun aku tetap menyayangi mereka sebagai seorang adik yang baik.

Aku bertekad untuk membahagiakan appaku dengan segala cara, aku tidak sanggup melihatnya bekerja tanpa henti untuk menghidupiku.

Omo Yoona-ya! Kau darimana saja? Aku mencarimu dan kau kembali dengan penampilan yang…hmmm—“

Yuri menggigit bibirnya menahan tawa melihat penampilan sahabatnya yang jauh dari kata ‘normal’ itu,ia pasti melihat rambutku sudah kacau balau dan bajuku terlihat mengenaskan setekah diajak berlari maraton, ditambah lagi ekspresi mukaku yang pasti terlihat dongkol sambil menatapnya sinis, “Aku kenapa, hah? Kenapa?” tanyaku sebal.

Yuri terkikik geli lalu berjalan ke belakangku, “Aigoo, lihatlah sahabatku ini. Kau kena badai dari mana, huh?”

Aku hanya bisa mendengus jengkel mendengar ledekkannya, “Badai debt collector! Oh, aku bisa gila jika mereka terus mendatangiku!”

Yuri menghentikan aksi mengikat rambutku lalu menatapku prihatin, “Jadi para debt collector itu masih mengejar – ngejarmu?” aku mengangguk kaku sambilk menghembuskan nafasku sedih.

Mianhae aku malah mengejekkmu tadi…” sesalnya dalam.

Aku tertawa lalu merangkul bahunya hangat, “Yak, kenapa kau jadi melankolis begini? Kau lupa aku pemegang sabuk hitam taekwondo? Aku melarikan diri karena tidak mau berkelahi dengan mereka di jam kerja. Kau tidak perlu cemas!”

Yuri tersenyum lalu berjalan kearah counter untuk mengambil sesuatu, ia mengeluarkan sebuah Chocolate Cheese lalu berjalan kearah kasir dan mengeluarkan sejumlah uang, aku mengernyitkan dahi tak mengerti. Sahabatku itu berjalan mendekatiku dan memberikan cake tadi, “Makanlah, aku sudah membayarnya”

Mwo? Yak Kwon Yuri, aku..aku tidak bisa. Kue ini mahal”

Yuri berdecak kesal lalu menarik tanganku lalu meletakkan kue itu di telapak tanganku, “Aku sudah membelinya, lagipula apa kau lupa prinsip toko kue ini? ‘Kue yang sudah di keluarkan dari Cake Freezer tidak boleh di kembalikan apapun alasannya’! Mogobwa! Kalau tidak, aku tidak mau berteman denganmu lagi”

Aku tersenyum tipis lalu segera memakan kue itu. Yuri tersenyum senang lalu ia merangkul bahuku, “Kau tahu kan chocolate dapat mengembalikan mood seseorang yang sedang dirundung masalah? Aku harap kue itu dapat mengembalikan moodmu” kata Yuri tulus.

Aku benar – benar beruntung bisa memiliki sahabat seperti Yuri, aku segera memeluknya sayang, “Ah Yuri, aku menyayangimu!”

Nado!”

Yuri terkesiap begitu menyadari sesuatu dan ia langsung melepaskan pelukan kami, “Yoong, aku lupa memberitahu bahwa perpustakaan kota sudah diisi dengan buku fiksi terbaru kemarin!”

Mataku langsung berbinar begitu mendengar kabar bahagia itu, “MWO? JINJJA? JEONGMALYA?? OMO! Aku harus kesana di akhir pekan nanti!”

“Aku tidak heran sama sekali, kutu buku!” aku hanya merengut manja lalu kembali melahap chocolate cake itu.

Author POV

KRING KRING KRING~

Bel yang dipasang di pintu masuk toko kue itu berdering membuat 2 gadis itu langsung berdiri tegap dan membungkuk sopan, “Eosseoseyo, ada yang bisa kami bantu?”

Saat keduanya mendongakkan kepalanya, mereka yakin mereka sudah berada di alam lain, seakan bumi tempat mereka berpijak menghilang begitu saja. Mustahil, tak mungkin di dunia ini ada pria yang setampan dan segagah dewa Zeus bisa berada di hadapan mereka. Fisiknya sempurna, dengan perawakan tampan serta badan tinggi tegap, kemeja birunya memperlihatkan ketangguhan karena dada bidangnya terpampang halus di balik kemeja itu, mata hitamnya menatap dingin menusuk kearah bola mata Yoona maupun Yuri membuat mereka kesulitan bernafas. Keduanya sibuk menelan ludah sambil mengerjap tak percaya.

Pria itu memutar bola matanya malas menghadapi reaksi yang sudah biasa ia hadapi saat para kaum hawa melihatnya, ia pun berdeham singkat sambil menatap dingin kearah 2 gadis itu, “Chogi, apa di toko ini ada Red Velvet?”

Yoona dan Yuri saling berpandangan lalu mengangguk kaku seperti orang bodoh, mereka bergegas berjalan ke tempatnya masing – masing dengan linglung—Yuri mengambil kue sedangkan Yoona berjaga di bagian kasir—untuk memenuhi pesanan pria yang mengacaukan pikiran mereka selama beberapa menit tadi.

Dalam diam Yuri memasukkan kue itu ke dalam kotak sementara Yoona sibuk menunduk karena gugup mendapat tatapan dari pelanggan setampan ini, ekor matanya sesekali melirik kearah wajah tegas pria itu dan memang benar pria jelmaan dewa Zeus itu masih menatapnya dengan tatapan aneh membuat pipi Yoona merah merona.

Karena terlalu sibuk menahan malu, Yoona tidak menyadari kotak yang berisi kue pesanan pelanggan itu sudah berada di depannya.

Chogiyo agassi, apa kue yang kupesan bisa segera di kalkulasikan? Aku tak suka mengulur – ngulur waktu untuk hal tak penting”

Seketika itu juga Yoona tersadar dan matanya langsung bertatapan dengan tatapan sinis pria itu, gadis itu segera berkutat di cashier machine lalu memberikan kue tadi pada pria itu, “Totalnya adalah 2 won, kembaliannya—“

“Simpan saja, aku tidak memerlukannya!” katanya ketus lalu segera meninggalkan toko kue tersebut.

Yuri membuang nafas tak percaya melihat pemandangan tadi, “Omo sesange, untuk apa fisik sempurna jika perilakunya begitu angkuh dan menyebalkan? Aigoo, dasar laki – laki zaman sekarang!” gerutu Yuri sambil berlalu menuju dapur. Tapi tidak dengan Yoona, segala hal yang ia lihat tentang pria tadi justru membuatnya terheran – heran dan penasaran.

**

Suasana makan malam yang seharusnya menjadi ajang sebuah keluarga untuk saling bertukar pikiran, bercanda, atau mungkin hanya berbincang hangat jelas tidak tampak di kediaman keluarga Choi. Kelima insan yang sekarang sedang sibuk berkutat dengan sendok dan garpu mereka memilih diam dan berkonsentrasi memakan apa yang dihidangkan koki Italia di rumah mereka, hanya denting peraduan sendok garpu dan piringlah yang terdengar, lampu yang sukses menghangatkan meja makan tampaknya tak dapat menghangatkan suasana penghuni ruangan itu.

Oh, ayolah. Ini makan malam bersama keluarga tapi mengapa terasa seperti mereka semua berada dalam penjara yang diawasi oleh para polisi dengan mata tajam menusuk lambung?

Na molla! Lebih baik aku pergi dari sini!” ujar seorang gadis dengan tubuh proposional dan paras cantik yang sepertinya sudah tak tahan dengan suasana itu, ia meletakkan sendok dan garpu di sisi piringnya lalu melenggang pergi menuju pintu.

“Berhenti disana atau eomma akan mengurungmu selama 2 minggu, Choi Sooyoung! Apa kau lupa aturan tentang makan malam di rumah ini?” gertak Nyonya Choi pada putri kesayangannya. Sedangkan sang ayah, adik maupun kakaknya tampak tak peduli dan meneruskan acara makan mereka.

Sooyoung menghembuskan nafasnya kasar, ia pun terpaksa memutar haluan dan duduk kembali di samping sang kakak dengan malas, gadis cantik itu mendengus se-sebal – sebalnya lalu kembali meneruskan acara makan konyol ini, “This is sucks..” cicitnya ketus.

Noona, kau tidak boleh begitu. Ini makan malam pertama kita bersama keluarga selama 5 tahun terakhir” ujar Choi Minho dengan nada menyindir.

“Oh shut your mouth, Choi Minho!” ujar gadis itu ketus.

“Tidak usah menunjukkan bahasa inggrismu yang canggih itu, aku tahu kau tinggal di Amerika 5 tahun, tak perlu kau tunjukkan keahlianmu itu dasar sombong!”

Gadis itu membelalak tak terima lalu menatap adiknya garang, “Yak, neo juggeo shippo, eo?”

“Masih bisa berbahasa Korea ternyata!”

Yak Choi Minho!”

Geumanhae! Aku meluangkan waktu untuk makan malam ini bukan untuk berdebat ataupun mendengarkan kalian berdebat!” kata tuan Choi dengan nada yang jelas sekali membentak kedua anaknya yang membuat keributan kecil tadi, Sooyoung dan Minho memutuskan untuk diam dibanding harus berdebat dengan ayah mereka.

Pandangan tuan Choi beralih tepat kepada pria tampan yang sekarang sedang sibuk memakan hidangannya tanpa mempedulikan sekitarnya, tuan Choi geram melihat tingkah anak sulungnya itu, “Apa kerjamu selama ini jika perusahaan semakin terpuruk dengan adanya demo serta gossip tak penting itu?” hardik tuan Choi dengan nada mencekam.

Seketika ruangan hening. Nyonya Choi dan kedua anaknya yang lain sudah menduga acara makan malam yang sangat langka terjadi ini digunakan tuan Choi untuk membahas KS Group yang sedang bermasalaj, mereka hanya diam sambil melirik takut kearah keduanya, terlihat perang dingin memang benar – benar terjadi diantara ayah dan anak sulungnya itu. Mereka berempat tercengang melihat pria itu bahkan tidak bergeming akan hardikkan dengan nada mencekam tadi.

“CHOI SIWON, AKU BICARA PADAMU!”

Sooyoung sudah menggit bibirnya takut, Nyonya Choi hanya bisa menundukkan wajah, dan Minho justru tersenyum kagum pada kakak lelakinya itu. Sosok pria yang bernama Choi Siwon itu baru menoleh saat ayahnya sudah menghardiknya dengan tegas, dengan wajah malas dan angkuh ia pun membalas tatapan tajam sang ayah, “Ada apa?”

Sekali lagi keempatnya tercengang mendengar jawaban santai nan angkuh dari Siwon. Tuan Choi memijat kepalanya yang terasa sakit mendengar jawaban anaknya, ia tidak menyangka anaknya benar – benar menyebalkan, “KAU TIDAK MENDENGAR APA YANG KU KATAKAN?”

“Hah, sudah kuduga akan seperti ini jadinya” gumam Sooyoung pelan.

Siwon menghela nafasnya dengan malas lalu meletakkan sendok dengan tenang, “Aku mendengarnya, tapi aku tidak merasa itu adalah masalahku. Keputusanmu untuk memecat sekian ribu karyawan tentu saja bukan urusanku, lalu kenapa kau menanyakan kinerjaku dalam bekerja jika hal itu bukanlah keputusanku?”

Minho yang tadi tersenyum langsung mengatpupkan bibirnya rapat begitu melihat reaksi tuan Choi yang siap melemparkan tongkat kayunya kearah sang kakak, “Choi..Choi Siwon! Neo!”

ABEOJI, ABEOJI! Tenanglah, kumohon tenang!” pekik Minho panik begitu melihat tongkat kesayangan ayahnya hampir melayang ke kepala sang kakak yang tampak tenang itu.

Tuan Choi menghembuskan nafasnya yang terasa berat lalu duduk kembali di kursinya, Minho mendesah lega mengetahui dirinya berhasil mencegah tindakan ayahnya itu, “Kau…kau pasti tidak dengar berita tentangmu yang membuat saham perusahaan ikut menurun, bukan?”

Saat mendengar itu, barulah kemanusiawiannya keluar. Siwon membulatkan matanya heran, “Apa maksudmu?”

Tuan Choi tersenyum samar melihat gurat panik di wajah Siwon, “Kau pasti ingat kutukan bodoh yang dijatuhkan padamu karena kau memarahi seorang nenek beberapa tahun yang lali, bukan? Mereka mulai membahas itu lagi!”

Mendengarnya Siwon justru semakin malas mendengar kalimat – kalimat tak penting ayahnya itu dan akhirnya tertawa hambar sambil menatap keempatnya dengan tatapan menghina, “Astaga, jadi selama ini kalian percaya dengan kutukan bodoh itu? Lucu, sangat lucu!”

“Ini bukan masalah kami percaya atau tidak, tapi kenyataannya kutukan itu memang berjalan sesuai perkataan nenek itu! Terbukti sampai sekarang kau belum sanggup mengenalkan satupun wanita yang bersedia menikah denganmu ke keluarga ini!”

Siwon sudah muak mendengarnya, ia pun bangkit berdiri sambil membawa dengan kasar, “Persetan dengan kutukan itu, aku tidak akan peduli apalagi menanggapinya!”

Tuan Choi yang sudah geram langsung melempar piringnya kearah Siwon membuat Nyonya Choi dan Sooyoung memekik takut sedangkan Minho langsung bangkit berdiri untuk menenangkan kedua belah pihak yang sedang berseteru ini, “Kau tidak peduli? Tidak, kau harus peduli! Mau tidak mau kau harus peduli, Choi Siwon! Kaulah penerus dari Jaekyo Group dan aku tidak mau tahu, kau harus segera membawa seorang gadis kehadapanku atau aku yang akan membawanya untukmu dan kalian harus menikah!”

Siwon menyeringai sinis lalu menoleh kearah ayahnya yang wajahnya sudah merah padam menahan emosi, “Jadi kau menantangku? Baiklah, bawa siapapun gadis itu! Tapi jangan harap ia akan sanggup menyandang status sebagi istriku dalam kurun waktu 1 bulan. Ah, ani, bahkan dalam 1 minggu kupastikan ia akan segera menghilang dari hidupku!”

Siwon terdiam lalu menatap sang ayah yang shock mendengar semua jawabannya, matanya focus menatpa sang ayah lalu menghela nafasnya dengan malas, “Jika tak ada lagi yang ingin kalian bicarakan, aku pamit pergi.” Katanya ketus lalu membungkukkan badan sebelum berjalan pergi meninggalkan ruang makan.

Tuan Choi membelalakan matanya saat mendengar jawaban sakratis anaknya sambil menatap nanar kearah punggung Siwon yang mulai menjauhi ruang makan. Tuan Choi langsung terduduk lemas di atas kursi membuat Nyonya Choi dan anak – anaknya panik, “Yeobo, gwaenchana?”

Sebelum menjawab, Tuan Choi menghembuskan nafasnya lalu tersenyum menenangkan, “Na gwaenchana, bukankah aku selalu seperti ini setelah berdebat dengan anak kurang ajar itu?”

Appa, lebih baik lupakan saja urusan tentang itu, kalau perlu aku akan menggantikan posisi Hyung untuk menjadi CEO untuk Jaekyo Group, aku rela belajar bisnis dibanding melihatmu seperti ini terus saat menghadapinya..” ujar Minho tulus.

Appa bukannya tidak mau menjadikanmu CEO, nak. Appa hanya ingin mengikat kakakmu untuk terus berada dalam pengawasanku, hanya menjadi CEOlah satu-satunya cara agar tindakan anak itu bisa kukontrol dengan baik, termasuk dalam hal ini..” ujar tuan Choi parau.

Mereka bertiga saling berpandangan, sorot mata mereka menampakan kesedihan yang mendalam, terlebih Nyonya Choi yang paling merasa bersalah akan hal ini, “Mianhae yeobo, aku tidak bisa menjadi istri maupun ibu tiri yang baik untuk Siwon..”

Eomma! Oppa tidak pernah mempedulikan hal itu, ia selalu memperlakukanmu secara normal, jangan bicara seperti itu!”

Minho menyetujui ucapan sang kakak, “Majayo, Hyung memang menyebalkan, namun ia tetap menghormatimu eomma, bahkan ia juga menyayangiku dan Noona

Mereka berempat terdiam begitu menyadari satu hal yang sangat menyakitkan, Siwon hanya membenci ayahnya, ayah kandungnya sendiri. Tuan Choi terdiam dengan wajah murung, sedangkan ketiganya memandangi wajah tuan Choi sedih.

“CHOI SIWON BABOYA!” teriak Sooyoung kesal.

**

Gadis bersurai hitam dengan tubuh tinggi putih itu kini sedang berkutat di dapur untuk memasak makan malam, tak ada wajah kesal ataupun keterpaksaan dari sorot matanya. Lobak yang ada di depannya seakan ia potong dengan tulus hati, mengingat hal ini selalu terjadi padanya.

“Yoona-ya, apa masakannya sudah jadi? Aku sudah lapar!” pekik seorang yeoja dari kamar, terlihat ia sedang bersolek dengan riangnya di depan cermin.

Ne, chamkkaman eonnie!” ujarnya setengah berteriak.

“Oh Yoona-ya, antarkan saja makananku ke kamar, aku sedang sibuk..” ujar seorang yang lain dari kamar yang berbeda. Yoona mendesah pasrah lalu mengangguk, “Arayo!”

Setelah itu rumah kecil yang ditinggali 4 orang itu kembali hening mengikuti keheningan malam, hanya terdengar suara kompor, peraduan sayur dengan pisau yang dihiasi dengan senandung riang gadis itu, suara nyanyian seorang yeoja, maupun suara hair dryer dari kamar yang lainnya.

CKLEK~

Pintu kayu rumah mereka terbuka dan datanglah seorang pria yang terlihat letih masuk ke dalam rumah, Yoona menoleh dan tersenyum hangat melihat siapa yang dating, “Appa! Wasseoyo?”

Tuan Im tersenyum senang mendapat sambutan hangat dari sang anak, ia pun mendudukan dirinya di ruang makan tanpa berfikir ulang mengingat cacing di perutnya mulai meronta – ronta ingin diberi asupan, terlebih wangi masakan yang menggelitik hidung maupun perut terus berterbangan dengan riangnya di sepanjang dapur maupun meja makan.

“Kau masak apa, Yoona-ya?”

“Tteobokki! Jinah eonnie yang memintanya, mungkin dia mengidam”

“Apa kau bilang?” pekik seorang yeoja dari arah kamar sambil dengan rambut yang full dengan pengeriting rambut.

Yoona dan tuan Im tertawa riang lalu Yoona meletakkan sepiring tteobokki dengan wangi yang sudah mengunggah selera makan siapapun yang menciumnya, “Mana Jooeun?”

Yoona menghela nafasnya dengan kasar, “Tidak mungkin Jooeun eonnie keluar kamar jika menurutnya itu tidak penting, lagipula aku sudah mengantarkan makanan ini ke kamarnya..”

Tuan Im terdiam singkat, terlihat sekali raut wajahnya menjadi mendung begitu saja, Yoona dan Jinah yang mendengarnya langsung berusaha menenangkan, “Appa, aku akan panggilkan eonnie, eotte?”

Seketika wajah tuan Im menjadi cerah kembali, ia pun mengangguk semangat, “Ne, panggilkan dia…ada yang ingin appa bicarakan”

Jinah dan Yoona dapat menangkap sinyal ‘darurat’ dari kata – kata tuan Im, dengan cepat Jinah memanggilkan kakak sulung dari keluarga Im itu. Yoona semakin khawatir melihat gurat wajah ayahnya yang terliha cemas dan panik, ia takut terjadi suatu hal yang sangat penting.

Appa, apa ada sesuatu yang…darurat?” tanyanya hati – hati.

Tuan Im hanya diam sambil menunduk mendengar pertanyaan Yoona, “Waeguraeappa? Tumm en sekali kau memanggilku, aku akan pergi sebentar lagi”

**

Bahu Yoona lemas dan kepalanya terus menunduk dalam di mejanya. Ia tak berniat sama sekali untuk menyongsong hari ini dengan semangat, pikirannya terus teringat akan permasalahan baru yang menimpa keluarganya itu. Terlebih tadi pagi seorang dosen memanggilnya ke kantornya dan memberi tahu nilainya mengalami penurunan drastis, tentu saja hal itu terjadi bukan karena dirinya malas belajar atau sejenisnya. Ia terlalu sibuk bekerja, jadwal kuliah dia ada di hari Senin, Rabu, dan Kamis. Itu pun hanya sekitar 5 – 8 jam saja dan tidak lebih, mengingat jurusan yang ia ambil hanyalah jurusan ilmu komunikasi. Setelah pulang kuliah, ia akan langsung memutar haluannya menuju toko kue yang sudah menjadi penyambung hidupnya selama lebih dari 2 tahun, saat toko itu tutup, Yoona akan bertransformasi menjadi supir pengganti yang cukup dikenal oleh banyak orang berkat ketepatan waktu maupun iklan – iklannya di koran. Perjuangan Yoona dalam hal bekerja part time tidak berakhir sampai disitu, di pagi hari ia akan bekerja sebagai pengantar susu, koran, bahkan surat ke rumah – rumah sebelum ia berangkat kerja. Dia juga bekerja di sebuah pom bensin ternama di pusat kota dan menjadi tukang kebun di rumah – rumah para ningratnya Korea Selatan. Sabtu sore ia akan menjadi guru taekwondo untuk anak – anak berusia dibawah 12 tahun. Dan di hari minggu ia bekerja sebagai cleaning service di sebuah rumah sakit.

Semua pekerjaan part time Yoona jelas menyita waktu belajarnya, tak heran nilainya menurun drastis dan di hari yang sama, ia mendapatkan surat peringatan untuk ketiga kalinya dalam hal pemabyaran uang kuliah yang sudah tertunggak hampir 1 tahun. Yoona ingin menangis, ia lelah akan semua masalah yang menimpanya, namun apa daya? Ia hanya bisa menjalaninya dengan pasrah dan terus berdoa pada Tuhan meminta keajaiban.

Kuliah, uang, pekerjaan, debt collector, semua sukses membuatnya berada dalam fase frustasi yang berkepanjangan di usianya yang belum genap 24 tahun, “Kau menangis lagi?”

Yoona menoleh kearah sumber suara dan ia mendapati seorang gadis cantik dengan wajah imut tersenyum manis kearahnya, “Hyoyeon-ya

Hyoyeon terseneyum lagi lalu merangkul Yoona, “Waegurae? Ceritakanlah padaku, jika kau sedih kau harus membagikannya pada orang lain agar tidak terpendam terus – menerus”

Keunyang—masalah biasa, kau tahulah” ujar Yoona malas.

Hyoyeon mengangguk mengerti, “Apa tentang keuangan dan biaya kuliah?” Yoona mengangguk seadanya.

“Bukankah kau sudah bekerja tanpa henti untuk biaya kuliah, Yoongie-ya? Apa itu masih kurang?” Tanya Hyoyeon sedikit terkejut, Yoona mengangguk pasrah lalu menghembuskan nafasnya gusar, “Uang yang kuhasilkan selama ini kugunakan untuk biaya kehidupan ayah dan kakak – kakakku, karena itu sepertinya aku harus mencari pekerjaan lagi yang dapat menghasilkan uang banyak..”

Hyoyeon tertegun mendengarnya, dia memang bukan orang kaya namun keluarganya tak pernah kesulitan dalam keuangan, dengan kata lain keuangan keluarga Hyoyeon selalu stabil dan biasa saja. Hyoyeon juga mengambil kerja part time hanya untuk uang jajannya. Setiap gadis itu berinisiatif untuk membantu Yoona, gadis itu selalu menolak dengan sejuta alasan yang akhirnya membuat Hyoyeon menyerah untuk menawarkannya, ia pun ikut larut dalam keheningan dan kesedihan yang sedang menyelimuti kabut kebahagiaan Yoona.

“AH~!”

Yoona menoleh kearah Hyoyeon dengan tatapan heran, “Wae?”

Hyoyeon tersenyum cerah lalu membuka ponsel touchscreennya dengan wajah berseri – seri, “Aku teringat tentang satu pekerjaan yang temanku bicarakan kemarin, kau harusnya membacanya…ya semoga kau tertarik” ujar Hyoyeon dengan sedikit keraguan di akhir kata.

Wajah Yoona langsung berseri – seri dan ia memperhatikan Hyoyeon yang sekarang sedang sibuk menscroll layar ponselnya, “Ah yeogida!”

Hyoyeon segera memberikan ponselnya agar Yoona lebih mudah membacanya, dengan mata penuh ketertarikan Yoona membaca setiap kata yang ada disana, perlahan – lahan senyum itu memudar dan digantikan dengan gurat wajah tak percaya, “Hyo, kau menawariku pekerjaan seperti ini?”

“Pekerjaan itu bukanlah pekerjaan seperti bayanganmu, percayalah padaku. Aku hanya malas untuk mengambilnya karena aku mendapat shift malam, aku tidak bisa. Lebih baik kau saja, apalagi kau bisa bela diri, tak aka nada yang berani melawanmu..”

Mendengarnya penjelasan singkat Hyoyeon, sejujurnya masih ada setitik keraguan di benaknya, namun ia benar – benar membutuhkan uang, terlebih setelah mendengar cerita sang ayah semalam. Dengan berat ia pun mengangguk lemah, “Baiklah, aku akan kesana malam ini..apa kau punya alamatnya?”

**

Langit malam mulai menyelimuti bumi Seoul, pendar – pendar cahaya lampu semakin mempercantik ibukota negeri ginseng itu. Malam ini mungkin tidak ada bedanya dengan malam – malam sebelumnya, namun berbeda untuk keluarga Choi, terlebih Sooyoung yang langsung tercengang melihat sang kakak pulang dibawah jam 11 malam, “Apa matahari terbit dari barat hari ini? Oppa, kau benar – benar sudah pulang?” Tanya Sooyoung sambil melongo begitu melihat Siwon melewati tempatnya duduk sekarang. Sooyoung melirik jam dinding yang ada di dekat tangga dan matanya makin membelalak lebar, “Oppa, sekarang masih 10:34 dan kau sudah pulang? Astaga ini pertama kalinya sejak 3 tahun terakhir!”

Siwon melirik Sooyoung dengan tatapan membunuh, “Ck, kau ini semakin lama semakin bawel, shikshin.” Ujar Siwon sinis lalu langsung masuk ke dalam kamar.

“Cih, dasar manusia aneh dan anti senyum!”

Siwon langsung berjalan menuju balkon kamarnya yang menghadap taman belakang rumahnya, tak berniat sama sekali untuk mengganti pakaiannya terlebih dulu. Angin malam menerpa wajah tampannya yang terlihat dingin dan angkuh itu, ia terdiam selama beberapa menit sambil sesekali menghembuskan nafasnya kasar. Saat ia memutar pandangannya ke kiri, ia dapat melihat bunga tulip yang bermekaran dengan indahnya di dekat ayunan kayu yang menjadi tempatnya berdiam diri sewaktu ia kecil. Mata elangnya tak sengaja menatap sebuah tanaman bunga yang sangat dicintai mendiang ibunya, bunga mawar. Ia tersenyum getir begitu melihat mawar – mawar itu bermekaran dengan cantiknya di tempat favorit ibunya semasa ia masih hidup dulu.

Siwon memejamkan matanya agar memori indah yang terjadi di masa lampau tetap dapat ia rasakan hingga saat ini, meskipun kedua orang yang mengukir moment – moment indah itu sudah tiada.Inilah yang biasa ia lakukan setiap hari jika mempunyai waktu, selama ini ia seperti robot yang gila bekerja, berangkat subuh dan pulang dini hari, itulah kebiasaan yang mulai ia terapkan sejak 2 orang yang ia cintai meninggalkannya begitu saja.

Siwon mengingat kata – kata ibunya beberapa tahun lalu, waktu dimana ia masih mengerti bagaimana caranya melanjutkan hidupnya layaknya manusia normal, waktu dimana ia masih dapat tersenyum dengan bebasnya, waktu dimana ia bisa mencintai apapun yang ia suka dan cintai, waktu dimana tidak ada rasa benci yang merusak hati.

Flashback

Dalam keadaan benar – benar kalut, seorang anak laki – laki berusia 10 tahun berlari menuju ruang ICU di dampingi oleh seorang gadis kecil dengan wajah yang tidak kalah panik, derap kaki mereka menggema sempurna di lorong rumah sakit yang sepi. Di tangan kanannya, anak laki – laki itu mengenggam sebuah mawar merah yang diminta seseorang dari ruang ICU itu, ia takut saat ia sampai di ruangan yang ia tuju sekarang, seseorang yang di rawat di dalam sana sudah menghembuskan nafas terakhirnya.

Tanpa peduli dengan segala urusan tentang masker maupun jas dan sejenisnya, kedua bocah itu menerobos masuk dengan cepat.

“EOMMA!” pekik anak itu lalu segera berlari menghambur ke pelukan ibunya.

Wanita yang ia panggil eomma itu tersenyum tipis lalu membelai rambut anak itu sayang, “Siwon-ah, apa kau membawa bunga yang eomma maksud?”

Anak laki – laki yang bernama Siwon itu mengangguk tegas lalu memberikan mawar itu. Wanita yang sudah terbaring lemah tadi tersenyum lalu mengembalikan mawar itu ke tangan anaknya, Siwon mengernyitkan dahinya tak mengerti dengan tingkah ibunya, “Siwon-ah, kelak..berikanlah mawar ini pada seorang wanita yang kau cintai, karena seberapa kerasnya usahamu untukmenghindari mawar ini dari kelayuan, mawar ini tetap akan layu. Karena itu, eomma berharap mawar ini layu disaat kau menemukan wanita yang tepat..”

Siwon terdiam tak mengeri, “Apa maksud eomma?”

Sang ibu tersenyum tulus, ia mengerti sang anak memang belum mengerti tentang hal ini namun ia harus menjelaskannya sebelum terlambat, “Biasanya mawar merah melambangkan cinta abadi. Tapi untuk eomma, mawar merah ini melambangkan dirimu yang berani dan congkak namun haus akan cinta dari lawan jenis, eomma ingin bunga mawar itu dengan setia menunggu dan mencari sosok yang dapat membuatnya layu karena cintanya yang tulus. Saat mawar itu layu, itu menandakan sang mawar sudah harus membuang segala kecongkakkan maupun rasa haus akan cinta dan pergi mengejar cintanya..”

Walaupun Siwon terdiam karena tak mengerti, ibunya tetap melanjutkan apa yang harus ia sampaikan, “Jangan biarkan gadis itu terkena duri mawar yang tajam, namun biarkan ia menhirup aroma mawar yang menyejukkan hati. Kau tidak bisa seperti ini terus, nak. Setiap orang pasti memiliki belahan jiwa, dan eomma yakin apapun kekuranganmu, belahan jiwamu tetap akan mencintaimu dan membuatmu layu sampai bertekuk lutut di hadapannya”

“Eomma, sungguh aku tidak mengerti apa maksudmu..”

Nyonya Choi menggeleng tak peduli, ia membelai rambut anak semata wayangnya dengan perasaan bersalah, “Kau akan mengerti saat kau dewasa. Eomma mengerti sifatmu, karena itu ingat baik – baik apa yang eomma katakan saat ini. Mianhae eomma harus pergi meninggalkanmu sekarang….saranghae”

Siwon menggelengkan kepalanya tidak terima, “Andwae, eomma! Eomma! Eomma, kajima! EOMMA! EOMMA! KAJIMA!! EOMMA!!!”

Siwon terus mengguncang tubuh eommanya yang sudah tak bernyawa diiringi dengan suara tangisannya dan gadis kecil disampingnya, “Ahjumma, ahjumma! Kajima!” gumamnya sambil menangis.Akhirnya, kedua anak itu sibuk memeluk tubuh tak bernyawa wanita yang sudah bertahan di dunia selama 40 tahun lamanya.

End of Flashback

Siwon memejamkan matanya mengingat potongan gambar yang kembali melintas di benaknya tadi, ia sudah mengerti semua perkataan terakhir eommanya—yang ternyata memang sesuai fakta pikirannya berkelebat jika teringat akan sosok ibunya maupun tentang gadis kecil yang berada di sampingnya saat itu. Keduanya sudah tiada, dan ia tidak tahu siapa gadis lain yang sanggup mematuhi petuah ibundanya selain gadis kecil itu. Namun detik berikutnya, telinganya menangkap suara – suara dari pikirannya yang sejujurnya selalu menghantuinya selama ini.

Kutukan itu. Kutukan bodoh yang terus menganggu hari tenangnya. Kutukan yang membawa dampak buruk bagi siapapun yang Siwon ingin lindungi. Kutukan yang membuat Siwon takut untuk berdekatan dengan siapapun. Kutukan yang membuatnya secara tak sadar membenci seluruh dunia beserta isinya.

Siwon mengenngam pagar besi yang ada di balkon kamarnya dengan kencang, kepalanya mendadak panas dan pikirannya sudah benar – benar kacau, terkontaminasi oleh berbagai situasi yang saling bertolak belakang. Tanpa pikir panjang, ia segera menyambar kunci mobil yang ia letakkan di meja kecil di samping tempat tidurnya lalu melesat pergi meninggalkan kamarnya untuk menuju tempat pelampiasan emosi jutaan umat manusia di muka bumi, yaitu club malam dan alkohol.

**

Yoona mematung di sebuah ruang ganti sambil memandangi gaun biru sepaha yang menjadi kostumnya untuk bekerja mulai hari ini.Ya, akhirnya Yoona memutuskan untuk menerima tawaran Hyoyeon untuk bekerja di club malam mewah ini demi menyambung hidup sekaligus menambah penghasilannya. Yoona hanya berharap keputusannya untuk bekerja part time di sebuah club malam ternama di Seoul bukanlah akhir dari hidupnya. Tiba – tiba ia kembali teringat perkataan sang ayah beberapa jam yang lalu, sungguh ia merasa tak tahu harus berbuat apalagi untuk meningkatkan perekonomian keluarganya dan membuat ayahnya bahagia.

Flashback

“Waegurae appa? Tumben sekali kau memanggilku, aku akan pergi sebentar lagi” kata Jooeun saat keluar dari kamarnya bersama Jinah.

Tuan Im tersenyum getir mendengarnya, “Duduklah, ada yang ingin appa bicarakan pada kalian bertiga”

Ketiga perempuan itu saling berpandangan penuh tanya lalu memutuskan untuk duduk di meja makan mereka. Jooeun seakan menanyakan ‘ada apa’ lewat matanya pada Yoona, namun gadis itu hanya mengangkat bahunya tak tahu.

“Ini mengenai….pekerjaan appa”

Ketiganya menahan nafas saat mendengar kata ‘pekerjaan’, jelas ini bukanlah kabar baik mengingat tuan Im mengatakannya dengan nada lemas dan tak bersemangat seperti itu. Yoona berusaha berfikir positif akan segala kemungkinan yang ada, ia menatap mata sayu sang ayah yang tampak sangat terpuruk.

“Appa dipecat”

Seketika mata ketiga anaknya membelalak kaget dan tak percaya dengan apa yang di dengar oleh telinga mereka. Semua berharap telinga mereka sedang bermasalah atau hari ini adalah hari kebalikan, “MWORAGU?”

“Apa maksudmu appa?” tanya Jooeun dengan suara yang meninggi.

“Eonnie!” tegur Yoona dengan tegas, ia tak suka siapapun berani membentak ayahnya.

Tuan Im terdiam karena ia sudah yakin reaksi putri sulungnya akan seperti ini, ia pun menghembuskan nafasnya yang terasa berat dengan kasar, “KS Group memutuskan untuk memecat lebih dari 2000 karyawan karena mereka akan menggunakan teknologi untuk menggantikan posisi itu, phk besar-besaran itu menimbulkan kontroversi dimana – mana namun sampai sekarang tak kunjung digubris oleh CEO perusahaan”

Yoona menahan tangisnya saat mendengar suara parau sang ayah yang tampak sangat menderita. Inisiatif ia merangkul bahu ayahnya yang menegang menahan tangis, “Appa juga sudah berusaha keras dengan melakukan aksi demo dari seluruh karyawan yang dipecat itu, namun hasilnya nihil”

“Tunggu, demo itu…ayah yang memimpin?” tanya Jinah dengan nada tak percaya. Sedangkan Tuan Im hanya mengangguk pelan lalu mendongakkan kepalanya, “Semua appa lakukan demi kalian”

Jooeun yang paling shock dari yang lainnya langsung terduduk lemas sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit, Jinah sibuk mengerjap – ngerjapkan matanya masih tak percaya, sedangkan Yoona justru memeluk sang ayah yang tak dapat menahan tangisnya lagi. Yoona pun ikut menangis begitu mendengar sosok yang paling ia cintai menangis.

Tanpa piker panjang, Jooeun segera bangkit berdiri dari duduknya dan berlari keluar dari ruang makan tanpa pamit ataupun sekedar berbasa – basi. Tuan Im langsung menangis melihat perilaku putri sulungnya membuat Jinah maupun Yoona panik.

“Mianhae, appa memang bukan seorang ayah yang baik…”

Jinah menggeleng tegas, “Kau adalah ayah terhebat yang ada di dunia ini, lupakan Jooeun eonnie, dia memang sudah tak tahu aturan!”

Yoona terdiam selama Jinah menenangkan sang ayah, sejujurnya sejak tadi ia menahan tangisnya yang siap keluar, namun itu akan semakin memberatkan sang ayah. Gadis itu menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu mengelus bahu ayahnya lembut, “Aku akan lebih giat bekerja appa, kau tak perlu khawatir!”

Tuan Im langsung menatap Yoona sambil menggelengkan kepalanya tak setuju, “Andwae! Kau sudah berkorban banyak untuk keluarga ini, lebih baik kau focus pada kuliahmu, Yoona-ya!”

Kali ini Yoona menggelengkan kepalanya lalu memegang kedua bahu ayahnya sambil menatap tuan Im penuh keyakinan, “Aku bisa mengatur waktu dan menjaga diri, aku sudah terbiasa akan hal itu..”

“Yoona-ya!”

“Appa setuju atau tidak, aku akan tetap mencari pekerjaan baru!”

End of Flashback

Tanpa Yoona sadari, air matanya sudah membanjiri sebagian besar pipinya. Ia merasa sedih dan tidak tahu harus berbuat apalagi, ia tak mau keluarganya menderita. Ia segera menghapus air matanya begitu ia menyadari hal itu. Dengan cepat ia segera berjalan ke meja rias dan mulai merapikan make up-nya yang sempat luntur terbasuh oleh air bening nan asin yang keluar dari matanya.

Suara pintu yang di ketuk pelan memecahkan keheningan ruangan itu, Yoona hanya mendiamkannya saja sampai munculah seorang yeoja cantik dengan tubuh tinggi semampai dan molek itu sambil tersenyum ramah kearah Yoona.

“Perlu bantuanku?” tanyanya ramah.

Yoona menoleh lalu tersenyum mengiyakan. Seakan mendapat persetujuan, gadis cantik itu melenggang masuk ke dalam ruangan itu dengan pakaian yang sama dengan yang dikenakan Yoona, “Aigoo, pasti kau habis menangis. Tak perlu terlalu dipikirkan, bekerja disini bukanlah sebuah aib yang berarti..” ujarnya santai.

Yoona memperhatikan gesture tubuh maupun wajah gadis cantik yang sekarang sedang mendandaninya, wajahnya terlalu polos untuk bekerja di sebuah club malam seperti ini, belum lagi matanya yang besar seakan semakin menunjukkan betapa lugu dan manisnya gadis ini, “Oh iya Yoona-ssi, boss menyuruhmu untuk ke ruangan VIP no 8, apa kau tahu letak ruangannya dimana?”

Yoona tersenyum terpaksa menanggapinya, “Aku belum benar – benar hafal, Seohyun-ssi. Bisa kau tunjukkan padaku?”

Seohyun mengangguk senang, “Baiklah, aku akan mengantarkanmu. Kebetulan aku juga harus melayani tamu di ruangan 14”

Ruangan sempat hening beberapa saat, mungkin karena mereka baru saling mengenal beberapa jam yang lalu, “Nah, selesai! Lihatlah Yoona-ssi, kau sangat cantik walaupun hanya diberi polesan tipis” puji Seohyun tulus.

Yoona memperhatikan dirinya yang tampak jauh berbeda dari biasanya, ia terlihat begitu cantik dan elegan dalam waktu bersamaan. Namun tak menutup kemungkinan Yoona tidak dapat tersenyum melihaat dirinya yang seperti ini, “Apa ini benar – benar sosok Im Yoona yang kau kenal, Yoona?” tanyanya dalam hati.

Mereka pun berjalan beriringan menuju ruangan tempat mereka bekerja. Selama perjalanan dari ruang ganti menuju ruangan VIP yang dimaksud, mereka mengobrol bebas tanpa rasa canggung sedikitpun. Tak dapat mengelak jika banyak pria yang melihat Yoona dan Seohyun dengan baju minim serta aura kecantikan yang begitu terpancar jelas memancing birahi mereka. Namun mereka kembali di sibukkan pada pasangan yang mereka bawa ‘dari rumah’ untuk bersenang – senang di tempat ini.

“Jadi kita hanya melayani tamu dengan menuangkan minuman ataupun mengajaknya berbincang jika ia butuh teman?” tanya Yoona sedikit tak percaya. Ia kira definisi melayani di club malam ini berarti kita harus memuaskan pelanggan dengan makna yang lain.

Ne, disini status kita hanya…hmm pelayan biasa. Untuk hal – hal berbau ‘melayani’ yang lain, sudah disiapkan di lantai 2. Tenang saja, Yoona-ssi, club malam ini terhitung cukup sopan. Terlebih kalangan tamu VIP, mereka cukup tahu aturan mengingat mereka rata – rata adalah para pengusaha atau tamu penting. Mereka akan langsung menuju lantai 2 jika hasratnya sudah tak terbendung”

“Lalu apalagi yang harus kuperhatikan?”

“Kau harus terlihat ramah dan selalu tersenyum, jangan dengarkan apapun perkataan mereka yang menyinggung. Anggap saja meraka sudah mabuk—well mereka memang biasanya mabuk, dan jangan sampai membuat tamu marah karena kita pasti akan mendapat hukuman dari boss”

Yoona mengangguk mengerti lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka, “Oh Yoona-ssi, bela diri apa yang kau kuasai?”

Yoona menoleh kearah Seohyun dengan ekspresi bingung, “Bela diri? Bagaimana kau tahu tentang itu?” tanyanya dengan kebingungan yang begitu terlihat.

“Setiap pelayan seperti kita diharuskan menguasai bela diri, karena itulah kau diterima disini..” jelas Seohyun.

Yoona membulatkan matanya sambil menutup mulutnya begitu menyadari apa maksud Seohyun, “Omo Seohyun-ssi, kau bisa bela diri?”

Seohyun tertawa ringan mendengarnya, “Bisa dibilang begitu, kebetulan aku menguasai judo dan beberapa teknik kung fu. Wae? Apa wajahku terlihat lemah lembut?”

“Sangat, kau terlihat sangat polos dan lembut” kata Yoona singkat, pada, dan jelas. Mengapa gadis se-polos Seohyun menguasai teknik judo dan bekerja di club malam? Don’t judge the book by it’s cover, mungkin itu pepatah yang baik bagi manusia abad 21.

Tak terasa mereka pun sampai di depan sebuah pintu berwarna cokelat yang terlihat sangat mewah, dengan no 8 menghiasi bagian atas serta beberapa gambar yang mengundang untuk masuk, “Inilah ruangannya, jika mereka macam – macam, keluarkan kemampuan bela dirimu, fighting!” kata Seohyun mengepalkan tangannya kearah Yoona untuk menyemangati teman barunya itu.

Yoona tersenyum tipis lalu kembali focus pada pintu yang ada di depannya, ia menarik nafasnya dalam karena gugup, “Siapapun yang ada di dalam pasti ia adalah orang yang bermartabat” kata Yoona menyemangati dirinya sendiri.

Perlahan, ia memutar kenop pintu aluminium di depannya dengan pelan lalu menengok ke dalam. Matanya langsung membulat sempurna melihat ruangan kelas atas itu, ruangan di dalamnya diberi penerangan yang sedikit remang dengan jejeran sofa – sofa berwarna maroon yang terlihat elegan. Di depan sofa – sofa itu terpampang TV 60 inch, kaca yang berada tepat di belakang TV itu adalah sebuah kaca besar yang mengelilingi ruangan dengan pemandangan air yang dihias dengan berbagai teknik agar memantulkan lampu yang berwarna neon secara bergantian. Setelah mengamati ruangan itu dengan puas, barulah ia menyadari bahwa di meja panjang yang diletakkan di tengah ruangan, botol – botol alcohol bertebaran bebas dan bau – bau aneh tercium di ruangan itu.

Omo!”

Yoona membulatkan matanya kaget begitu melihat seorang pria terkapar tak berdaya di atas sofa. Cepat – cepat ia menghampiri pria itu dan mengguncang tubuhnya pelan, tangan kanan pria itu masih mengenggam sebuah botol dengan erat.

“Tuan, jeongsin chaliseyo!“

Sepertinya pria ini adalah pelanggannya, namun sebelum ia melayaninya, mengapa pria ini menuangkan alkoholnya sendiri? Tak lama, pria itu seakan tersadar dari ‘pingsannya’ dan ia langsung menepis tangan Yoona geram, “AKU BISA GILA!” pekiknya kencang membuat Yoona kaget. Namun detik berikutnya, pria itu kembali jatuh dan kali ini jatuh menimpa tubuh langsing Yoona.

“YAK!” kali ini Yoona yang memekik kaget karena pria itu terjatuh tepat diatasnya, seketika itu ia langsung menutup mulutnya karena ia sadar sejak tadi ia memakai bahasa informal pada tamu. Saat ia menatap ke depan, matanya langsung membulat sempurna diiringi dengan debaran jantungnya yang terus bergerumuh cepat.

Bagaimana tidak? Sekarang Yoona bisa merasakan deru nafas hangat pria itu. Darahnya berdesir begitu memperhatikan jelmaan sosok dewa Yunani yang terpampang di hadapannya, perawakan pria ini jelas bisa dikategorikan sempurna—alis tebal, hidung mancung, bibir tipis nan sexy, serta rahangnya yang tegas, bahu tegap, tubuh tinggi putih, dan Yoona bisa merasakan otot – otot perut pria ini dari balik kemeja putihnya yang ternyata dapat membuat Yoona menerawang apa yang ada di baliknya—membuatnya bersemu malu.

“Pria ini sangat tampan!” pekik batin Yoona sekeras – kerasnya sambil memainkan rambut pria itu yang jatuh menutupi sebagian keningnya. Yoona masih termangu di tempatnya sambil membayangkan jika ia memiliki pacar atau bahkan suami seperti pria ini, pasti hidupnya akan sangat bahagia lahir batin. Bibirnya membentuk bulan sabit begitu membayangkan hal itu.

Namun detik berikutnya ia tersentak kaget begitu menyadari tindakan bodohnya ini, ia segera mendorong tubuh kekar pria itu dan menarik nafas sebanyak – banyaknya. Pria itu sangat berat, Yoona sampai kesulitan bernafas—atau karena pesonanya yang memabukkan membuatnya juga sulit bernafas.

Yoona sedikit panik begitu melihat pria itu tampak gelisah dan sedikit berkeringat dalam tidurnya, sepertinya pria itu bermimpi buruk. Tangan Yoona tergerak untuk menyentuh dan membuka beberapa kancing atas pria itu yang membuatnya terlihat tercekik dalam keadaan mabuk berat, terlihat keringat sudah membanjiri leher maupun wajah pria itu.

“Maaf tuan kalau saya lancang” kata Yoona ragu – ragu sambil terus melakukan aktifitasnya. Dengan gesit Yoona langsung mengelap titik – titik keringat di wajah, leher, maupun pelipis pria itu dengan tissue yang disediakan di ruangan.

Eotteokhae? Apa yang harus kulakukan?” gumam Yoona sedikit panic.

Pergerakan tangan Yoona terhenti saat ia memperhatikan wajah tampan itu sekali lagi, keningnya mengernyit bingung sebelum akhirnya ia membuka matanya lebar begitu menyadari siapa sosok lelaki itu. Ia tak mungkin salah, ini pria yang ia temui kemarin, pria jelmaan dewa Zeus itu! Matanya mengerjap tak percaya dengan pemandangan di depannya, pria yang tingkat kedinginan serta keangkuhannya melebihi Gunung Everest itu terlihat jauh lebih tampan saat ia sedang tertidur. Tak sadar Yoona termangu takjub melihat bukti lain keindahan ciptaan Tuhan di muka bumi ini.

Sekali lagi Yoona tersadar dari alam bawah sadarnya dan ia langsung menepuk keningnya, “Babo, harusnya kau menelpon anggota keluarganya!”

Kini Yoona mencoba mencari – cari ponsel namja itu dari kantung celana namja itu, “Mianhae tuan jika aku lancang, tapi ini dalam keadaan darurat..” gumamnya pelan sebelum tangan mungilnya meraih ponsel pria ini.

“Oh shit kenapa harus di password!” pekiknya kesal.

Yoona mencoba beberapa angka secara acak dan ia nyaris frustasi karena tak dapat menebak password ponsel namja ini. Seketika ia terpikirkan jalan pintas yang lain, “Apa namja ini menyimpan speed dial?”

Dengan ragu ia menekan angka 1 dan munculah nama seorang yeoja disana, Yoona melengos tak peduli dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya. Perasaan kecewa langsung ia rasakan begitu nomor yang tersambung tadi sudah tidak aktif, kali ini ia mencoba peruntungan dengan angka 2 dan munculah nama seorang namja. Tanpa berfikir 2 kali, ia mendekatkan ponsel itu ke telinga kanannya sambil menggigit bibirnya ragu.

“Yeo—“

Yak Choi Siwon! Mwohae? Ini sudah dini hari dan kau masih mengangguku? Apa kau ingin kutukan dalam hidupmu lebih dari 1?”

Yoona menggigit bibirnya ragu – ragu lalu berdeham singkat, “Chogi..”

Seketika suasana hening tercipta diantara mereka, sepertinya pria di sebrang sana masih harus menangkap apa maksud dari telepon tengah malam ini, “Nuguseyo? Kenapa kau menelponku dengan nomor Siwon? Sekarang kemana pria itu?”

“Hmm..maaf menganggu tidurmu, tuan. Saya hanya ingin memberi tahu kalau pria pemilik ponsel ini sedang mabuk berat hingga jatuh pingsan”

MWORAGU?” Yoona terbelalak kaget begitu mendengar namja tadi memekik kaget, gadis itu sampai harus menjauhkan telepon itu dari telinganya mengingat volume suara pria itu sangatlah dahsyat.

Aigoo anak ini, sudah ratusan kali aku nasihati untuk tidak meminum alcohol lagi. Arasseo, sekarang kalian ada dimana?”

“Tible Club and Bar, tuan”

Arasseo, aku akan kesana segera!” ujar pria itu sebelum memutuskan sambungan telepon mereka.

Yoona memasukkan kembali ponsel itu ke tempatnya, matanya kembali memperhatikan wajah yang penuh dengan gurat kesedihan itu, ia merasa iba. Mengapa namja yang dulu ia temui dengan segala sifat menyebalkan yang melekat erat seakan luntur malam ini?

Eomma….Fany-ahkajima” gumamnya dalam tidurnya.

Yoona tersentak kaget begitu melihat air mata perlahan menetes dari balik matanya yang tertutup rapat, begitu pun buku – buku jarinya langsung mengepal keras membuat Yoona -semakin bingung walaupun detik berikutnya jari – jari itu kembali melemas. Saat itu juga Yoona sadar bahwa pria ini pasti sedang merindukan orang – orang yang tadi ia gumamkan dalam mimpinya, tangan Yoona tergerak untuk mengelus pelan rambut Siwon dengan lembut.Darahnya mendesir begitu tangannya berhasil mengelus rambut Siwon lalu memegang kening pria itu, Yoona tak dapat menahan senyumnya.

Suara pintu terbuka menggema di ruangan itu dan munculah seorang pria yang lainnya dengan wajah sedikit panik, “Siwon?”

Yoona tersentak kaget dan langsung menjauhkan tangannya dari rambut Siwon lalu menunduk malu, ia takut pria ini melihatnya melakukan hal – hal yang kurang sopan seperti tadi. Saat ia mendongakkan kepalanya, oh demi apapun apakah sekarang ia melihat jelmaan dewa Poseidom? Sosok pria yang menghampiri Siwon tak kalah tampan dengan pria itu, hanya ia sedikit lebih rapi dan terlihat tenang, astaga apa Yoona sedang dilindungi dewi fortuna karena bisa bertemu dengan pria – pria tampan seperti mereka?

“Astaga, kenapa dia bisa sampai seperti ini, Agassi?”Tanya pria itu membuat Yoona tertegun, “Ne? Ah keugo—saat aku baru masuk untuk melayaninya, ia sudah mabuk seperti ini tuan”

Namja itu mengangguk mengerti lalu menepuk bahu Yoona, “Gomawo kau sudah menolongnya. Aku Lee Donghae, temannya pria bodoh ini”

Pipi Yoona bersemu merah saat melihat senyuman manis dari pria tampan itu, ia segera membalas jabatan tangan Donghae, “Aku Yoona, Im Yoona”

Donghae mengangguk lalu kembali tersenyum, tak sengaja matanya menangkap hal aneh pada tubuh Siwon.4 kancing kemeja Siwon bagian atas terbuka membuatnya mengernyit heran, “Eo, kenapa kancing atasnya bisa terbuka begini? Tidak biasanya ia membuka kancingnya sembarangan… atau—“

Donghae menoleh ragu kearah Yoona. Gadis itu membelalakan matanya lalu mengangkat telapak tangannya untuk menjelaskan hal penting dan sangat perlu dijelaskan ini, “Sungguh aku tak punya maksud lain, tuan. Tuan itu terlihat gelisah dan berkeringat, karena itu saya berinisiatif untuk membuka beberapa kancingnya agar ia tidak terlihat pengap.”

Donghae justru tertawa lebar mendengar penjelasan Yoona yang terdengar kikuk dan malu, ia pun mengangguk – anggukan kepalanya mengerti, “Arayo, Yoona-ssi. Kau tidak perlu menjelaskan se-detail itu, hal seperti ini bukan sesuatu yang tabu diantara wanita dan pria, kan?”

Yoona mendengus kesal menyadari Donghae menggodanya, “Tuan, sungguh aku tak bermaksud—“

Donghae mengibaskan tangannya tak peduli, “Sudah kubilang ini hal yang biasa, nona manis. Kalau begitu kami pergi dulu, sekali lagi gomawo Yoona-ssi!”

Dengan cekatan, Donghae berhasil menggendong tubuh kekar Siwon dan berjalan keluar ruangan tanpa menoleh ke belakang lagi. Yoona memandangi kepergian 2 sosok pria tampan itu dengan tatapan tak percaya.Tidak mungkin, tidak mungkin ada 2 pria se-tampan itu dalam waktu bersamaan. Yoona menggelengkan kepalanya untuk menepis bayangan wajah kedua pria tampan itu dan bergegas membereskan ruangan yang tadi dipakai Siwon.

“Oh Im Yoona, neo baboya! Apa yang kau pikirkan tadi, huh?” gerutunya sambil membereskan ruangan itu.

“Aku harus memberi tahu Yuri tentang 2 pria tampan itu!” gumamnya semangat.

To Be Continue

Annyeong! Balik lagi sama author yang satu ini kkk~ gimana FF terbaru author kali ini? Sejujurnya author sedikit ragu sama FF ini, karena inspirasi datang tak tentu arah/? gara2 nonton Beauty and the Beast wkwk di part ini mungkin belum banyak konflik dan jalan cerita belum terlihat, bahkan kykny gak seru sama sekali-_- tapi di part2 selanjutnya aku bakal ngenalin karakter – karakter yg terpendam/? di chapter ini.

Ceritanya ngebosenin? Sorry banget, tapi gimana ya, ini hanya ide2 liar yang tiba2 nongol dan gatel pengen nulisin buat dijadiin sebuah fanfiction. Dan author tahu cerita ini cukup mainstream, nah biar gak mainstream author sengaja bikin sangkut pautnya sama Disney Princess lol pada tahu gak author yg satu ini itu bisa dibilang seorang Disney freak?><

Kurang ngerti sama jalan ceritanya? Okay maafin author, karena ini bener – bener awal dan kalian pasti tahu kalo awal itu konflik aja belom muncul, jadi semoga kalian tertarik sama FF ini dan terus menunggu update-annya^^

Oh iya, kalo Disney punya Disney Princess, nah Kezia bikin jadi Disney Princess versi kezia>< setelah ini bakal dilanjutin ke 4 couple yang lainnya…mau tahu siapa aja? Ikutin aja seriesnya FF ini hehe bosen sama Tiffany? WKWKWK Tenang, disini dia bukan penghalang yg berarti kok, karena penghalang sebenernya belom ada di chapter ini wkwk

FF ini sebenernya pengganti Lovely Haters yg 1 chapter lagi tamat :* dan untuk WFMH dan LH sendiri, masih dalam proses pembuatan^^

Makasih buat resty&echa eonnie yg mau bantu aku post FF ini><

See you on the next chapter!<3

 

Tinggalkan komentar

196 Komentar

  1. bee

     /  November 20, 2014

    Kerenn banget ko critnyhaa
    Ditunggu bgt lo .. ga sabar ama konflikya . Cerita yoona ama siwon nya pasti seruuuu bgt ..semangaatttt thoorr

    Balas
  2. Menunggu bgt autor kezz ak pling ska sma ff buatan mue dr LH , WFMH , dan lainnya dan trutama ff ini ak nantiin bangt chap nexxt.a . Ceritanya ga pasaran malah ak pengen cepet2 baca part 2.a heheh .. #SEMANGATTyeahautor ..

    #Gomawoo:):)

    Balas
  3. yuliayoonwonited

     /  Desember 25, 2014

    annyeong.. aku baru baca chap ini pas chap 2 di post aku bru tau ff ini jdi bru komen
    ini ff ini dan chap prtma ini aku suka bgt sma ff yoonwon genre nya kya gini karakter siwon yg angkuh bgt..
    dan ksian jga sma yoona dia sngat pekerja keras hrs krja srabutan,
    Ff ini lumayan bgus mungkin krn bru chap prtma yaa..
    pokonya smangt deh bwt authornya.

    Balas
  4. faizunjal

     /  Desember 25, 2014

    Kyaa suka..
    Jalan critanya bagus, tapi diawal crita aku sedikit bingung sih hehe tapi tetep aja critanya bagus.
    di tunggu next chapt😀

    Balas
  5. thita shedalihi

     /  Desember 29, 2014

    ff nya bagus kok,, cman aq masih binggung sama cast nya.
    aq pikir wonppa jdi buruk rupa ternyata gg…

    Balas
  6. Sepertinya aku telat membaca ini, tp tak apalah.

    Wauw! Mereka bertemu langsung di sbuah club tp apakah siwon akan mengenali yoona sedangkan dia dalam keadaan pingsan.
    Tp kenapa menyebut fany? Apakah dia temen kecil siwon? Apakah dia itu masih hidup?
    Aku tak sabar ingin membaca kelanjutannya ><

    Balas
  7. choi viant

     /  Desember 29, 2014

    kerent crita.y terkesan q wktu baca

    Balas
  8. siska primadani

     /  Desember 29, 2014

    Hai thor salam kenal, aku reader baru boleh ya mampir baca.
    Pas baru baca judul udah kepikiran kalo ff ini bakal mirip ama princes ours, tapi dugaan aku salah cerita beda banget, aku jadi tertarik dan penasaran ttg karakter siwon oppa , biasanya sifat siwon oppa baik, bijaksana, ramah, sopan. Tapi di ff ini 180 derajat terbalik angkuh, sombong, tidak tau sopan santun. Ah pokoknya penasaran. Buat author semangat ya buat kelanjutan nya.

    Balas
  9. Annyeong thor aku reader baru, salam kenal ya🙂
    Wow ff nya bikin penasaran …..
    Semangat terus O:-)

    Balas
  10. Wahhh,, ada ver. Yoonwon juga…
    Ceritanya bener” menarik,, aku suka aku suka
    …..

    Balas
  11. amalia an

     /  Januari 12, 2015

    Wooww ceritanya bagus bener. …
    Walaupun uda liat vrs disney tp klo vrs modernx lbh keren deh….jd penasaran sma cerita selanjutnya.
    Gmna nnti siwon bsa suka sm yoona????

    Balas
  12. Waaaah seru nih, siwon kena kutukan??
    Cerita baru lg nih,baru chapter 1 nih jd blom WOW tp sukses bikin penasaran
    Chapter 2 udah ada kan? Klo gitu lanjuuut

    Balas
  13. kezia

     /  Februari 5, 2015

    yoona eonni? DAEBAK!!!!

    Balas
  14. ciemOet

     /  Februari 16, 2015

    WaAh telat bAcA nih kayaknya,,,😀 ceritanya pasti bAkalan seru nih,,, yoOna si gadis biasa jatUh cinta ama seorang choi siwon,, gimana jadinya ntar,, apalagi Choi Kiho kayaknya dEndam bnget ama Tn Im gara2 dEmO itU,,,
    Lanjut part 3 aja dEh kez,,, oz part 2nya kn dah dipublis,, hehe😀 tp belum smpet bAca,,,😀

    Balas
  15. Hulda Maknae

     /  Februari 26, 2015

    Astaga siwon dingin bingit…moga bukan donghae yg menjadi orang ke 3

    Balas
  16. aigoo udh lama ga mampir di blog ini u,u
    ceritanya makin bagus aja kak^^
    ktemu diclub ciee :v
    ceritanya masih bikin penasaran :3
    next^^

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: