[FF] The Princess Love (Part 10)

schoolpic copy

©bianglalala

(bianglalala27@gmail.com)

The Princess Love

Choi Siwon | Im Yoona

Lee Donghae | Seo Joo Hyun | Kwon Yuri

Leeteuk | Kim Taeyeon | Kim Jong Woon, etc

Length : 15000+ words | PG 15

Genre : School Life, Romance, Family

 

You’ll find typo, weirdness, and maybe feel boring when read this story. So pelase forgive me. And please give your comment after read this. Don’t be silent readers.

 

Part 10

 

“Aku akan selalu ada di tempat yang sama kalau kau mencariku, tapi aku tak bisa melangkah bersamamu,” Siwon berbisik di telinga Yoona. Kepalanya lalu bergeser untuk mencium kening gadis itu. “Saranghae.”

Inikah akhirnya? Mata Yoona mengatup kuat saat bibir Siwon menempel di keningnya. Bahunya mulai bergetar karena menahan isakan dan hawa dingin yang menusuk. Dadanya seakan meledak karena kegembiraan mendengar Siwon mengatakannya, namun udara di sekitarnya justru semakin mencekik, membuatnya tak bisa bernapas. Itu kira-kira yang Yoona rasakan sekarang.

Siwon menangkup wajah Yoona dengan telapak tangannya, membersihkan setetes air mata yang jatuh. Ia juga sama sesaknya dengan Yoona. Tapi ia tak mau membuat gadis itu semakin berat melepasnya karena melihat air mata yang sama. Ini langkah terbaik yang terlintas di benak Siwon. Belajar dari pengalaman, ia tak ingin Im Tae San memanfaatkan hubungannya dengan Yoona sebagai ancaman, seperti yang terjadi pada ibunya. Pikirannya harus tetap jernih walau tiap langkahnya akan terasa menyakitkan. “Berjanjilah untuk tetap bertahan apapun yang terjadi. Jangan menangis sendirian atau coba-coba minum alkohol! Juga jangan pernah berpakaian seperti ini lagi, apalagi di depan Donghae!” katanya memperingatkan.

“Oppa…,” isak Yoona.

“Biar kuantar pulang,” potong Siwon, lagi-lagi takut kalau ia mungkin akan berubah pikiran. Tangannya meraih sepatu berhak milik Yoona yang tergeletak tidak jauh darinya lalu berjongkok memunggungi gadis itu. “Naiklah ke punggungku. Kakimu pasti sakit.”

Yoona menurut, tak mencoba melawan atau membantah perintah itu. Tenaganya sudah habis karena berlari tadi. Juga dengan banyaknya masalah yang timbul selama beberapa waktu terakhir. Pada akhirnya, mereka menyerah. Yoona tak lagi punya daya untuk menahan Siwon agar tetap bersamanya. Karena Siwon telah berkata jujur tentang perasaannya. Juga tentang alasan perpisahan mereka.

Tangan Yoona memeluk erat leher Siwon, berharap dengan begitu mereka bisa terus bersama. Ia ingin marah karena Siwon menyerah begitu saja, tapi tak ada alasan yang membenarkan itu. Ada hal yang lebih serius dibanding kisah cinta sepasang remaja yang baru dimulai. Tentang keluarga, juga kebenaran. Yoona sadar akan hal itu. Walaupun berat, ia harus membuang egonya jauh-jauh.

“Apa aku berat?” tanya Yoona dengan suara serak setelah mereka keluar dari taman. Sebisa mungkin ia menahan air matanya yang siap terjatuh. Mereka sama-sama tak menginginkan perpisahan yang sedih dan berusaha mengabaikan rasa sakit itu.

“Aniya.” Siwon merasakan pelukan di lehernya semakin erat. Punggungnya yang dingin mulai menghangat karena panas tubuhnya dan milik Yoona menyatu. Pelan tapi pasti, kakinya terus melangkah menyusuri jalanan yang gelap. Hening. Yoona pun tak lagi mengeluarkan suara selain hembusan napasnya yang sesekali menyapu tengkuk Siwon. Kepalanya kini sudah bersandar di tengkuknya, mungkin terlalu lelah hingga gadis itu jatuh tertidur.

“Jeongmal mianhe. Jeongmal mianhe…Oppa,” bisik Yoona pelan dalam tidurnya. Rasa bersalah tampaknya telah merasuk jauh ke hatinya, karena ia-lah akar dari semua tindakan jahat ayahnya. Karena tanpa ia sadari, kemunculannya di dunia membuat banyak orang tersakiti. Karena rasa bersalah itu pula, Yoona berusaha menerima keputusan Siwon. Walau ia tahu akan sangat berat untuk menjalaninya.

Setetes air mata Siwon jatuh saat mendengar isakan Yoona yang tertidur. Betapa Yoona sangat tersakiti atas semua ini. Dan Siwon merasa lebih sakit karena tak bisa berbuat banyak untuknya. Untuk gadis yang sangat ia sayangi, juga ibunya yang entah ada di mana. Ia merasa sama sekali tak berguna, bahkan bagi orang yang seharusnya ia lindungi. Siwon baru saja menyadari. Betapa sebuah tawa, hal yang begitu sederhana, justru terasa sangat mahal bagi mereka.

***

 

Yoona masuk ke dalam rumah dengan sedikit terpincang setelah Siwon mengantarnya. Bagian belakang pergelangan dan ujung kakinya lecet karena memaksa lari memakai sepatu hak tinggi. Rumah sudah gelap saat ia masuk. Hanya ada seberkas cahaya yang keluar dari ruang kerja ayahnya yang menuntunnya melangkah dalam kegelapan. Yoona melepas sepatu dan berjinjit agar langkahnya tidak menimbulkan suara. Rasanya ia sudah tak sanggup lagi menghadapi apapun setelah pertemuannya dengan Siwon yang menguras air mata.

Tiba-tiba pintu ruang kerja ayahnya terbuka, membuat tubuh Yoona membeku seketika. Ia mematung di tempatnya, berharap ayahnya tak menyadari kedatangannya.

“Kau baru pulang?” tegur Im Tae San yang berdiri di ambang pintu. Baru kali ini ia melihat Yoona pulang begitu larut.

Pasrah, Yoona berbalik menghadapi ayahnya. “Nde. Temanku berulang tahun dan mengundangku datang ke pestanya,” katanya bohong. Tak apa, Tuhan pasti akan memaafkanmu karena satu kali bohong, batin Yoona meyakinkan diri.

Tae San geleng-geleng kepala tak percaya. Biasanya ia akan langsung marah melihat putrinya pulang terlambat. Tapi ia mengurungkan niatnya saat samar-samar melihat wajah lesu Yoona. “Pestanya baru selesai pukul satu? Anak sekolah macam apa yang berpesta sampai selarut ini?”

“Di Amerika mereka berpesta sampai pagi,” balas Yoona membela diri, yang langsung ia sesali. Seharusnya ia tidak membalas kalau tak mau ayahnya berkhotbah menasihatinya. Yoona cepat-cepat berbalik dan berniat pergi ke kamarnya sebelum apa yang ia hindari terjadi.

“Kakimu terluka?” sergah Tae San saat Yoona mulai menaiki tangga. Matanya memang tak setajam dulu, tapi ia masih bisa melihat cara berjalan Yoona yang agak pincang. “Kemari kau, anak nakal!”

Yoona mendesah pasrah menuruti perintah ayahnya. Gadis itu hanya bisa patuh mengikuti Tae San masuk kembali ke ruang kerjanya dan menyuruhnya duduk di salah satu sofa di sana. Tae San tak langsung duduk. Ia mengambil kotak obat di salah satu rak yang tergantung di dinding dan membawanya duduk di samping Yoona.

Ada rasa haru yang merasuki hati Yoona saat melihat ayahnya yang selalu sibuk begitu perhatian pada luka kecil yang ia dapat. Bagaimana mungkin orang seperti itu bisa mengkhianati sahabatnya sendiri? Sejahat apapun seorang Im Tae San, ia tetaplah seorang ayah baginya. Haruskah Yoona marah? Atau membencinya juga seperti orang lain? Atau ikut menyalahkan ayahnya karena membuatnya kehilangan Siwon? hati Yoona berada dalam kebimbangan.

“Gadis macam apa kau ini? Memakai sepatu berhak saja sampai lecet,” ujar Tae San saat hendak menarik kaki Yoona ke pangkuannya untuk diobati.

“Sepatunya kekecilan,” gerutu Yoona.

Im Tae San membersihkan luka Yoona dan mengolesinya dengan gel bening sebelum menempelkan plester untuk menutupnya dalam diam. Tak tega untuk memarahi putrinya itu. “Sudah selesai,” lanjutnya sambil memasukkan gel obat kembali ke dalam kotak. “Tidurlah, Appa juga akan tidur.”

Yoona mengangguk dan menurunkan kakinya dari pangkuan Im Tae San. Pandangannya jatuh bada sebuah benda di atas meja yang cukup menarik perhatiannya, membuatnya urung segera pergi. Sebuah album foto lama yang tampaknya jarang dibuka tergeletak di sana. Yoona meraihnya dan membuka halaman pertama. “Ini album foto Appa?”

“Nde. Appa sedang merindukan ibumu, jadi Appa melihatnya sebentar,” jawab Tae San. Kini ia menjadi jauh lebih terbuka pada Yoona sejak ia menceritakan perihal ibu kandung putrinya itu.

“Ada Eomma di sini?” seru Yoona girang, sedikit melupakan masalahnya dengan Siwon. Ia memang belum pernah melihat wajah ibu kandungnya. Dengan senyumnya yang lebar Yoona mulai melihat-lihat isi album itu. Halaman pertama hanya berisi foto masa muda ayahnya bersama beberapa orang teman. Baru di halaman ketiga ia menemukan potret seseorang yang mirip dirinya. “Ini Eomma?” tanya Yoona memastikan.

Tae San mengangguk. “Itu satu-satunya foto ibumu yang Appa punya. Sangat mirip denganmu, eoh?”

Kini Yoona sadar, betapa sakitnya Yoon Hae Ra karena terus-menerus melihat wajahnya. Mata, hidung, bibir, semua begitu mirip. Bahkan senyum mereka pun sama. Yoona tersenyum getir membayangkannya. Ia lalu meraih ponselnya dan memotret foto itu untuk ia simpan.

Tak mau mengungkit sesuatu yang menyedihkan, Yoona segera melanjutkan ke lembar berikutnya. Toh ia bisa berpuas-puas menatap foto ibunya yang telah ia simpan nanti. Di lembar keempat, ada foto berukuran besar yang berisi tiga orang, yang membuat Yoona semakin tertarik. Potret ayahnya, seorang laki-laki, dan seorang perempuan. Kedua orang itu tak terlihat asing di mata Yoona. Otaknya berusaha mengingat-ingat kedua orang itu.

Bukankah ini Ahjussi yang kutemui di depan rumah waktu itu? pikirnya mengingat-ingat. Dan wanita ini… Han Ahjumma! Mereka adalah orang tua Siwon Oppa?

“Ada apa?” tanya Tae San membuyarkan keterkejutan Yoona.

Beruntung gadis itu pandai berakting dan segera menyembunyikan raut kagetnya. Ia tersenyum hambar sambil menggeleng pelan. “Aniyo. Hanya penasaran. Siapa mereka?” balasnya sambil menunjuk foto Han Hye Won dan Choi Ki Ho. “Apakah Appa terjebak cinta segitiga dengan kedua orang ini?”

Tae San tertawa mendengar pertanyaan konyol putrinya. “Aniya. Mereka adalah pasangan suami istri yang menjadi teman Appa.”

Yoona mendesah kaget. Untung saja Tae San tidak terlalu memperhatikannya. Simpan rasa terkejutmu untuk nanti, bodoh, batinnya. “Lalu di mana mereka? Masihkah Appa bertemu dengan mereka?”

Tae San sama sekali tak menaruh curiga pada pertanyaan yang Yoona ajukan. Di matanya, Yoona hanya gadis yang kelewat polos dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Sama sekali tak berbahaya dan mengancam. “Kami sudah lama tak bertemu. Ahjumma ini sedang sakit,” jelasnya sambil menunjuk foto Han Hye Won. “Tapi saat ini keadaannya sudah membaik. Tampaknya udara pegunungan memang cocok untuknya.”

“Mwo?” Jelas Yoona tak bisa menyembunyikan lagi raut terkejutnya. Kemungkinan Han Hye Won sakit sudah ia ketahui karena pertemuan mereka di rumah sakit. Namun bagaimana mungkin ayahnya tahu keadaan Han Hye Won sekarang? Bahkan Siwon, anak kandungnya, pun sama sekali tak mencium jejak ibunya. Yoona teringat kejadian beberapa tahun lalu saat beberapa pria berbaju hitam membawa pergi Han Hye Won. Juga tentang kemarahan Siwon pada ayahnya yang sepertinya sangat besar. Mungkinkah ini semua saling berkaitan?

“Yoona, kau baik-baik saja?” tanya Tae San curiga. “Kau seperti mengenal mereka.”

“Nde? Aniyo, ini pertama kalinya aku melihat mereka,” elak Yoona dengan segera. Ia harus lebih berhati-hati, karena bahkan ayahnya sendiri adalah orang yang patut ia curigai.

Tae San agak tak percaya karena Yoona terlihat aneh. “Tapi mengapa sepertinya kau sangat terkejut?”

Kepala Yoona menggeleng kuat-kuat, menyangkal dugaan ayahnya itu. “Aku tidak terkejut karena itu. Tadi tiba-tiba aku teringat kalau Guru Park akan memberikan ujian besok, dan aku belum belajar. Aku mungkin masih bisa belajar sebentar sebelum tidur.” Yoona bangkit, mengangguk hormat pada Tae San lalu melesat pergi, mengabaikan rasa sakit di kakinya. Sepertinya masih ada banyak hal yang belum ia ketahui tentang ayahnya. Yoona takut. Ia takut akan membenci ayahnya seperti semua orang.

***

 

Donghae membaca sebuah yang pesan masuk ke ponselnya. Dari ayahnya, yang tengah menunggunya pulang di rumah. “Ah, tidak bisakah kau tidur saja, Jaksa Lee?” gerutunya. Ayahnya pasti akan memarahinya habis-habisan kalau tahu seharian ini kerjanya hanya bermain-main. Alasan apalagi yang akan kugunakan? pikir Donghae. Ia kemudian memeriksa wajahnya di kaca spion mobil. “Lebamku masih sangat terlihat. Aku tak bisa pulang dengan wajah seperti ini. Jaksa Lee pasti akan bertanya macam-macam,” keluhnya. Donghae mendesah. Ia lalu memasang earphone di telinga dan membuat sebuah panggilan telepon sambil terus berusaha fokus menyetir.

“Sebentar lagi aku sampai di depan rumahmu. Keluarlah dan bawa peralatan make up,” katanya begitu panggilan teleponnya diangkat. “Turuti saja permintaanku,” lanjutnya. Seseorang di seberang tampaknya menolak untuk mengabulkan permintaannya. “Aku akan tiba dalam waktu lima menit.”

Kaki Donghae menginjak pedal gas lebih dalam. Mobilnya meluncur tanpa hambatan melewati jalanan Seoul yang mulai sepi. Terang saja, waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Ini yang paling ia suka, seakan-akan jalanan adalah miliknya sendiri.

Ternyata Donghae sampai di tempat tujuan lebih cepat dari perkiraannya. Ia menepikan mobilnya di depan sebuah rumah yang cukup besar lalu mematikan mesin mobil, menunggu orang yang tadi ia telepon.

Tak lama, seorang gadis yang memakai jaket tebal dengan hoodie menutupi kepalanya membuka pagar rumah itu. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri sebelum menemukan Donghae di dalam mobilnya. Kedua tangannya memeluk sebuah kotak kecil yang dihiasi stiker kodok hijau. Gadis itu lalu berjalan mengendap-endap mendekati mobil Donghae, takut kalau-kalau ada orang yang melihatnya.

“Appa pasti marah kalau tahu aku keluar malam-malam seperti ini,” desahnya terengah begitu duduk di kursi mobil di samping Donghae. “Sunbae harus membayar semua ini,” lanjutnya sambil membuka hoodie di kepalanya.

“Aku berjanji akan membayar semuanya, Seo Joo Hyun,” balas Donghae penuh penekanan. “Kau bawa peralatan make up-mu?”

Joo Hyun yang masih heran menyodorkan kotak kecil yang ia bawa. “Untuk apa Sunbae memintanya?”

“Kau tidak lihat ini?” Donghae menunjuk beberapa lebam di wajahnya.

“Sunbae habis berkelahi? Dengan siapa?” seru Joo Hyun kaget setelah mengamati wajah Donghae dengan lebih seksama.

Donghae mengangguk bangga. Entah apa yang membuatnya bangga memamerkan wajah lebamnya di depan seorang gadis. Hanya saja menurutnya itu terlihat keren. “Seseorang. Kau bisa menutupi ini semua? Ayahku akan marah kalau tahu aku berkelahi.”

Bagi Joo Hyun, kelakuan Donghae sama sekali tak bisa ditebak. Kali ini pun sama. Di antara semua orang yang Donghae kenal, mengapa harus ia yang dimintai tolong? Padahal menurutnya mereka tidak dalam hubungan yang bisa saling mengandalkan, lebih seperti anak ayam yang takut pada ayam jantan dewasa. “Apa Sunbae sering berkelahi?” tanyanya hati-hati.

“Ini yang pertama. Biasanya orang-orang sudah ketakutan saat aku menggertak mereka tanpa perlu berkelahi,” katanya, masih dengan rasa bangga di dada sambil membuka-buka kotak Joo Hyun.

Gadis itu merebut kotak make up-nya dari tangan Donghae lalu siap-siap beraksi dengan persenjataannya. Lama-lama ia menjadi cukup terbiasa dengan kehadiran pemuda itu, meski hampir seluruh hubungan mereka dilatarbelakangi ketertarikan Donghae pada Yoona. Joo Hyun mulai mengoleskan pelembap di lebam Donghae sebelum menutupinya dengan bedak.

“Lalu kenapa kali ini Sunbae berkelahi?” kata Joo Hyun sambil menepuk-nepuk pelipis Donghae dengan spons bedak. Ada sesuatu yang aneh dalam dirinya yang Joo Hyun rasakan. Entah mengapa akhir-akhir ini ia begitu mudah menyerah saat Donghae mengintimidasinya dan mau saja melakukan perintah pemuda itu.

“Aku membantu seorang teman yang sedang kebingungan karena cinta.”

“Nuguya?”

“Seseorang yang tak akan pernah terpikirkan oleh orang-orang,” Donghae masih betah berteka-teki.

Karena kedekatan mereka beberapa waktu terakhir, Joo Hyun menjadi sangat penasaran dengan sifat asli Donghae. Ia terlihat begitu tulus pada Yoona, bahkan tahu cara berterima kasih, walau hanya lewat ucapan. Ada misteri dalam diri pemuda bandel itu yang ingin ia kuak. Sisi lain seorang Lee Donghae yang tak pernah ia tunjukkan pada orang-orang. “Kalau Sunbae tak mau memberitahu, aku tak akan pernah membantumu lagi,” ancam Joo Hyun.

“Ya!” Donghae meringis sakit karena Joo Hyun terlalu keras menekan lebamnya. Ternyata Siwon telah memukulnya dengan cukup kuat. “Aku akan memberitahumu, jadi jangan menekan lebamnya terlalu keras!”

Joo Hyun mengangguk-angguk menyetujui syarat Donghae. Ia mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya di samping kepalanya untuk berjanji sebelum melanjutkan merias.

“Orang yang kumaksud adalah Siwon.”

“Mwo?” Sekali lagi Joo Hyun menekan lebam Donghae dengan keras, membuat pemuda itu kembali meringis. “Wae?”

Kali ini Donghae bisa mentolerir rasa sakitnya dan tersenyum menikmati ekspresi terkejut Joo Hyun. Entah apa yang ada di otaknya saat memutuskan meminta bantuan gadis itu untuk make over wajah penuh lebamnya. Ia hanya merasa akan selalu bisa mengandalkan Joo Hyun. Dan gadis itu tak pernah meminta macam-macam padanya, membuatnya semakin merasa nyaman berada di dekat seorang Joo Hyun yang kuper. “Tak akan kuberitahu.”

“Sunbae!”

Sekali lagi Donghae tersenyum, puas karena candaannya membuat Joo Hyun kesal. “Iya, iya, aku mengerti. Aku melakukan ini karena aku berterima kasih padanya,” jelasnya yang langsung disambut tatapan penuh tanya Joo Hyun. “Karena Siwon adalah satu-satunya orang yang mengatakan aku jelek saat semua memujiku. Kata-katanya selalu jujur, walau kadang-kadang menyakitkan. Tidak seperti orang lain yang berkata manis tapi ternyata semuanya bohong. Dia membuatku tetap berpijak di bumi sementara yang lain berusaha mendorongku untuk terbang. Karenanya aku tetap termotivasi untuk selalu berprestasi dan melakukan yang terbaik. Dia adalah rival, musuh, dan saingan yang sangat berharga, melebihi orang-orang yang mengaku sebagai temanku. Jadi kupikir ini saatnya membantu orang yang telah banyak bersabar menghadapiku.”

“Tapi bukankah Sunbae selalu bertengkar dengan Siwon Sunbae? Kenapa membantunya? Katamu kau suka pada Yoona. Ini kesempatanmu untuk mendapatkannya,” cecar Joo Hyun yang kesulitan menyembunyikan ketertarikannya pada hal ini.

“Satu-satu kalau tanya,” protes Donghae. Ia mengambil napas panjang, seakan menimbang apakah perlu mengatakan yang sebenarnya. Mungkin Joo Hyun memang bisa dipercaya, pikirnya. “Aku yang sengaja membuatnya terlihat seperti itu. Semua teman-temanku hanya mengatakan apa yang ingin kudengar, bukan apa yang mereka lihat pada diriku. Aku tak ingin Siwon menjadi seperti mereka. Tetap berkata jujur dan apa adanya, juga tak mengharapkan apapun dariku karena ayahku jaksa terkenal dan kaya seperti yang lain.”

Joo Hyun hanya melongo mendengar pengakuan Donghae yang sama sekali tak pernah terlintas di otaknya. Pemuda itu seperti koin mata uang, mempunyai dua sisi berbeda yang menyatu. Memberikan nilai tersendiri baginya.

“Sudah selesai?” tanya Donghae karena Joo Hyun tak melanjutkan ‘merias’ wajahnya. Ia memeriksa bayangannya di kaca spion. Warna lebamnya sudah hampir menyamai kulitnya. “Sudah lumayan. Ah, menggelikan sekali. Ini pertama kalinya aku memakai make up.”

Joo Hyun tertawa mendengar perkataan Donghae. “Sunbae, mau kubantu pakai maskara juga?”

“Yak!”

***

 

“Mwo?”

Leeteuk meringis sambil mengusap telinganya karena mendengar teriakan Taeyeon. “Sudah kubilang jangan teriak,” sungutnya gemas. Matanya melirik pagar rumah Siwon yang masih tertutup. Mereka tengah menunggu Siwon keluar rumah untuk ke sekolah dengan duduk bersandar di kap mobil Leeteuk. Untung saja Siwon belum keluar dan tak mendengar apa yang mereka bicarakan. Ia baru saja menceritakan keretakan hubungan seumur jagung antara Siwon dan Yoona, lengkap dengan kedua ayah yang tengah bertarung. “Yang aku tahu hanya Ki Ho Ahjussi melaporkan Presdir Im dengan alasan penyuapan dan penipuan. Kalau yang lain aku tak terlalu tahu.”

“Mengapa Oppa baru bilang padaku? Kupikir mereka putus karena Yoona lebih memilih Lee Donghae. Semalam aku bersikap sangat buruk pada Yoona,” sesal Taeyeon.

“Tenang saja, Yoona tak akan menganggap serius kata-katamu padanya. Dia tak pernah peduli apa kata orang lain,” kata Leeteuk yang membuat kesimpulan dari pengalamannya bersama Yoona.

“Tapi tetap saja aku merasa tak enak padanya,” gumam Taeyeon keras kepala.

Sementara itu, Siwon yang bangun terlambat berlari keluar rumah setelah menyambar tas sekolahnya. Semalam ia sama sekali tak bisa tidur karena memikirkan Yoona. Hasilnya, ia harus melakukan semua aktivitas paginya dengan serba kilat. Siwon baru bisa mendesah lega setelah melihat Leeteuk dan Teayeon menunggunya di depan rumah, hingga ia tak perlu lari maraton ke halte bus.

“Baru kali ini aku begitu senang melihat kalian di pagi hari,” ucapnya terengah.

Taeyeon dan Leeteuk jelas heran dengan keterlambatan Siwon yang tak biasa. Keduanya saling melirik meminta pendapat tentang keanehan Siwon. Dengan wajah yang masih agak lebam, mata mengantuk, dan senyum lebar. Paduan yang sama sekali tak menggambarkan seorang Choi Siwon yang biasa.

“Kau begitu senang melihat kami hingga tersenyum selebar itu?” tanya Leeteuk curiga.

Siwon, masih dengan senyumnya, mengangguk-angguk mengiyakan. “Kupikir aku akan terlambat kalau harus naik bus.”

“Gotjimal,” bantah Taeyeon. Ia tahu persis Siwon bukan orang yang suka mengumbar senyum seperti ini. “Orang biasanya bersembunyi di balik tawa dan senyuman. Mereka menutupi rasa sedihnya dengan tawa dan senyum berlebihan seperti kau sekarang,” lanjutnya sarkas, merujuk pada suasana hati Siwon yang sebenarnya sedih karena masalahnya dengan Yoona.

Senyum di wajah Siwon perlahan berganti dengan seringaian getir. Ia dan Yoona ternyata memiliki banyak kesamaan. Sering berpura-pura dan menyembunyikan perasaan mereka. “Lalu kalian ingin aku menangis?”

“Bukan begitu maksud kami. Kalau kau memang menyukai gadis itu, abaikan saja semua masalah orang tua kalian dan kembali bersama. Apa susahnya melakukan itu? Ini bukan zaman Joseon lagi,” Leeteuk tiba-tiba menjadi begitu bersemangat mendukung mereka, padahal ia adalah orang yang paling sering merecoki pasangan itu. “Tak perlu menahan-nahan perasaanmu sampai menyakiti diri kalian sendiri.”

Siwon hanya tertawa mendengar Leeteuk yang sok menasihati. Memang siapa yang sebenarnya diam-diam saling menyukai dan terus menahan perasaan? Siwon berpikir mungkin ia harus membelikan sebuah cermin besar untuk hyung-nya itu.

“Apa yang Teukkie Oppa bilang benar, Won-ah,” dukung Taeyeon. “Kau sendiri juga bilang kalau aku harus mengatakan perasaanku pada Teukkie Oppa, jadi kau juga harus….” Kedua tangan Taeyeon langsung membekap mulutnya. Baru saja ia membuka rahasia besar yang telah mati-matian ia simpan. Matanya melirik pada Siwon dan Leeteuk bergantian. Keduanya hanya diam menatap Taeyeon dengan kaget dan penuh tanya.

“Omo, aku terlambat,” seru Taeyeon panik. “Aku pergi dulu.” Ia segera berlari menjauh menuju halte. Berusaha menghindar dari pandangan kedua sahabatnya itu. Pabo! Pabo! Pabo! Taeyeon tak berhenti memaki dirinya. Bagaimana kalau Leeteuk tidak memiliki perasaan yang sama dengannya? Atau salah paham, lalu menjauhinya? Pikiran Taeyeon dipenuhi kemungkinan-kemungkinan buruk karena sikapnya tadi. Ya Tuhan, tolong buat aku hilang ingatan, batinnya.

Sementara itu, Siwon yang sudah tahu sejak lama tentang perasaan Taeyeon hanya tersenyum geli melihat tingkah konyol sahabatnya. Ingin rasanya ia mengabadikan peristiwa tadi, agar paling tidak ada yang bisa membuatnya tertawa saat sedih. “Hyung, ayo berangkat,” ajaknya saat menyadari kalau mereka sudah terlambat.

“Siwon-ah, apa dia baru saja mengatakan kalau ia menyukaiku?” gumam Leeteuk setengah sadar. Tubuhnya membeku, tak bergerak sama sekali sejak Taeyeon kelepasan bicara. Pandangannya menerawang kosong ke arah Taeyeon pergi.

“Mwo?”

Tatapan Leeteuk beralih pada Siwon, masih dalam kondisi setengah sadar. “Tadi Taeyeon bilang harus mengatakan perasaannya padaku. Itu berarti ia menyukaiku, kan? Kau mendengarnya juga?” Leeteuk tampaknya bertanya untuk meyakinkan dirinya sendiri. Adalah hal yang sangat membahagiakan baginya jika Taeyeon benar-benar menyukainya juga, seperti angan-angannya selama ini.

Siwon terkekeh. Ia merebut kunci mobil Leeteuk dan masuk ke dalam mobil. “Biar aku yang menyetir, Hyung,” katanya, memberikan kesempatan pada Leeteuk untuk terus melayang-layang bahagia bersama imajinasinya tentang Taeyeon.

***

 

Yoona berdiri dengan kepala tertunduk di ruang kepala sekolah. Bagaimanapun juga, Hyundai bukan sekolah sembarangan yang akan begitu saja membebaskan siswa-siswanya berlaku tak disiplin dan melanggar peraturan. Kemarin adalah kali ketiga ia membolos, yang membuatnya berhadapan langsung dengan kepala sekolah.

“Tiga kali membolos dan meninggalkan pelajaran dalam kurun waktu kurang dari dua bulan? Kau memecahkan rekor, Nona Im,” Seo Yoon Jae mengawali pembicaraan mereka. Ia duduk di balik meja kerjanya, menghadapi setumpuk kertas yang berisi data siswa. Yoona memang telah tiga kali tidak mengikuti pelajaran, saat hari pertamanya dulu, sewaktu pergi mengunjungi makam ibunya bersama Siwon, dan kemarin. Juga ketika ia pergi ke apartemen Jong Woon untuk menjaga Yuri. “Normalnya, kami akan langsung memanggil walimu untuk datang. Tapi aku pribadi menolaknya.”

“Lalu mengapa Anda justru memanggil saya kemari?” kata Yoona pelan. Masih tak berani mengangkat kepalanya. Seo Yoon Jae terlihat jauh lebih menyeramkan saat berada di balik meja kerjanya dibanding saat di rumah.

Seo Yoon Jae mendesah, mengabaikan berkas-berkasnya dan fokus menatap Yoona. “Karena aku ingin bicara denganmu. Juga karena aku tahu kau lebih baik dari ini.”

“Apa maksud Anda?”

“Aku yakin kau punya masalah yang membuatmu menjadi seperti ini. Tapi itu tidak bisa membenarkan semua pelanggaranmu,” kata Seo Yoon Jae, pelan tapi penuh keyakinan. Suaranya dalam dan tenang, seperti seorang ayah yang sedang menasihati putrinya. “Apa kau pikir dengan membolos permasalahanmu akan selesai? Tidak. Itu justru akan menambah masalahmu.”

Yoona memberanikan diri menatap lawan bicaranya itu. Sedikit takut karena reputasinya yang terkenal disiplin. Ternyata Yoona salah. Tak ada raut kemarahan sama sekali di wajahnya. Tenang dan terkesan datar.

“Ayah dan ibumu pasti tak ingin putri mereka mengabaikan aturan-aturan hanya karena hal kecil. Saat ini mungkin kau hanya membolos, tapi suatu saat nanti, kau bisa saja melakukan hal yang lebih jauh dari ini. Semua kejahatan besar berawal dari pelanggaran kecil yang terus disepelekan,” terang Seo Yoon Jae. Andai Yoona lebih fokus, ia akan merasakan kejanggalan pada sikap kepala sekolahnya. Komisi disiplin sekolah bisa saja langsung menghukum atau memanggil orang tuanya, bukannya mengajak Yoona bicara seperti ini. Seo Yoon Jae memang punya maksud sendiri. Ia ingin bicara sebagai seorang paman yang menasihati keponakannya, bukan sebagai kepala sekolah.

“Algeseumnida,” Yoona merasa harus ada yang ia katakan untuk membalas Seo Yoon Jae, meski ia tidak sepenuhnya menangkap kata-kata tadi.

Seo Yoon Jae tersenyum tipis. “Aku senang kau memahaminya…”

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu membuat Seo Yoon Jae berhenti dan mengalihkan perhatiannya. “Siapa?”

Pintu terbuka sedikit. Dari celah itu, seseorang melongokkan kepalanya ke dalam.

“Saya Choi Siwon, Kepala Sekolah. Guru Kim mengatakan kalau saya harus menemui Anda.”

Yoona setengah mati menahan dirinya untuk tidak sekedar menoleh melihat kedatangan Siwon. Terkejut jelas, juga menyayangkan karena mereka harus bertemu saat ia tengah mendapat pencerahan akibat pelanggarannya. Ia masih ingin terlihat baik di depan Siwon walau status mereka kini berubah.

“Ah, Choi Siwon. Masuk dan tunggulah sebentar. Aku akan selesai dengan Yoona sebentar lagi,” ucap Seo Yoon Jae mempersilakan.

Kepala Siwon mengangguk patuh. Ia masuk lalu menutup pintu kembali, berdiri dua langkah di belakang Yoona menunggu gilirannya. Sama seperti gadis itu, Siwon juga bertanya-tanya apa yang membuat Yoona berada di sini. Walau mereka memutuskan untuk berpisah, Siwon tak bisa menyangkal kalau ia masih sangat peduli dengan gadis itu.

“Aku tidak akan memanggil orang tuamu, untuk saat ini. Tapi ini adalah peringatan. Kalau kau mengulanginya lagi, aku akan benar-benar memanggil orang tuamu,” kata Seo Yoon Jae pada Yoona. “Kau boleh keluar.”

“Nde. Kamsahamnida,” Yoona mengangguk kecil sebelum berbalik keluar. Kepalanya menunduk, berusaha untuk tak memandang Siwon yang ia yakini tengah memperhatikannya.

Tatapan Siwon mengikuti Yoona keluar, hingga gadis itu menutup pintu kembali. Ia baru mengalihkan perhatiannya saat Seo Yoon Jae terbatuk singkat. “Mengapa Anda memanggilnya kemari?” tanya Siwon tanpa bisa menahan rasa pensarannya.

Seo Yoon Jae tampak tersenyum sekilas sambil mengangkat satu alisnya. “Mengapa kau lebih penasaran pada alasannya kemari dibanding menanyakan alasan aku memanggilmu?” balasnya curiga.

“Mianhamnida, saya hanya sedikit penasaran,” Siwon tak bisa memikirkan jawaban yang cukup baik.

“Dia sudah tiga kali membolos, dan sekali meninggalkan pelajaran.”

Siwon berusaha menutupi rasa kagetnya dengan ber-oh panjang. Sepengetahuannya Yoona hanya sekali membolos, saat pergi ke kuil bersamanya. Beruntung saat itu Leeteuk mau berbohong untuknya, hingga ia bisa lolos dari hukuman. Tapi Yoona? Tiga kali? Apa yang sebenarnya gadis itu lakukan?

“Sebaiknya kita mulai pembicaraan tentang dirimu,” putus Seo Yoon Jae. Ia bangkit dan berdiri di depan Siwon. Raut wajahnya berubah serius, juga sedikit mengeras. “Berapa banyak beasiswa dari universitas yang sudah kau tolak? Universitas Dongguk, Universitas Seoul, Universitas Tokyo? Jangan bilang kau ingin menolak Columbia juga!” Seo Yoon Jae memulai pembicaraannya dengan sebuah omelan.

Sebagai seorang siswa, Siwon tahu posisinya saat ini hanya sebagai pendengar. Kenapa masalah seperti ini menjadi besar? Bahkan Siwon yang menjalani semuanya terkesan santai dan tak peduli. Ia justru sibuk memikirkan Yoona, mengabaikan kepala sekolahnya yang terus bicara menasihatinya hingga berbusa. Ada rasa geli saat membandingkan keadaannya dan gadis itu. Setelah tiga kali membolos Yoona hanya mendapat peringatan, sementara ia yang mendapat serbuan beasiswa justru dihadiahi omelan. Tuan Seo Yoon Jae ini lucu sekali, pikir Siwon. Apa karena Yoona seorang Im hingga ia mendapat keistimewaan? Tuan Seo Yoon Jae ini benar-benar… Tunggu. Mata Siwon melirik papan nama di meja kerja kepala sekolahnya. Seo Yoon Jae. Nisan di kuil itu, nama ibu kandung Yoona, adalah Seo Yoon Joo. Seo Yoon Jae. Seo Yoon Joo. Apakah mungkin….

“Nde, algeusimnida,” potong Siwon, yang membuat Seo Yoon Jae berhenti bicara seketika, tak menyangka ceramahnya akan diinterupsi seenaknya oleh Siwon yang dikenal tak banyak tingkah. “Saya akan segera memutuskan universitas mana yang akan saya ambil.” Ia cepat-cepat mohon diri dan keluar dari ruangan itu. Meninggalkan sang kepala sekolah yang menahan marah karena sikapnya yang kurang ajar.

Tapi masa bodoh dengan semua itu. Dengan tergesa Siwon berjalan melewati koridor-koridor panjang menuju ke perpustakaan, tempat di mana ia bisa menemukan komputer dengan jaringan internet berkecepatan tinggi. Pikiran Siwon saat ini hanya tertuju pada satu dugaan. Seo Yoon Jae, yang merupakan penegak kedisiplinan nomor satu di seluruh Hyundai, melepaskan Yoona dengan begitu mudah. Kenapa? Karena ia mungkin tahu keadaan Yoona yang menyedihkan, hingga ia merasa perlu memberi kelonggaran. Tapi bagaimana bisa ia tahu? Keluarga Im jelas menutupi semua rahasia mereka dengan sempurna. Hanya orang dalam yang benar-benar tahu persis kenyataan yang sebenarnya. Kemungkinan kedua, Seo Yoon Jae memang cukup dekat mengenal keluarga Im.

Kecurigaan Siwon bertambah besar saat teringat Seo Joo Hyun yang begitu mudah akrab dengan Yoona. Satu-satunya putri Seo Yoon Jae itu dikenal anti sosial, yang membuatnya selalu sendiri. Tapi mengapa dalam waktu singkat, Joo Hyun dan Yoona yang sifatnya bertolak belakang bisa begitu dekat? Mungkinkah karena ikatan darah?

Dengan cekatan, Siwon langsung masuk ke jaringan data penduduk Korea begitu menghadapi sebuah komputer di sudut perpustakaan. Bukan hal yang sulit baginya untuk membobol masuk ke database penduduk milik pemerintah. Dalam waktu singkat Siwon sudah menemukan apa yang ia cari.

Siwon sibuk memeriksa beberapa nama Seo Yoon Joo yang muncul di layar monitor, mencocokkan tanggal kematian mereka dengan ulang tahun Yoona. Karena menurut gadis itu, ibu kandungnya meninggal setelah ia dilahirkan. Ada beberapa nama. Dapat. Tangannya mengarahkan kursor ke baris ketiga di daftar nama itu, yang beralamatkan Seoul. Setelah satu bunyi klik, layar berganti menjadi informasi pribadi dan pas foto seorang wanita. Bingo! seru Siwon dalam hati.

***

 

Yoona menyandarkan kepalanya ke meja dengan berbantal lengan. Ia menghabiskan waktu makan siangnya dengan melamun di kafetaria tanpa berniat menikmati apapun. Nafsu makannya selalu lenyap saat banyak masalah merongrongnya. Ditambah lagi matanya terasa begitu berat karena hanya tidur selama dua jam semalam. Namun, seperti biasa, Joo Hyun selalu perhatian pada Yoona. Gadis itu mengambil dua porsi yakiniku untuk Yoona dan dirinya.

“Ya! Jangan tidur di sini,” hardik Joo Hyun yang membuat Yoona mengangkat kepalanya, meski rasanya malas sekali. “Aku mengambil yakiniku, tidak apa-apa, kan?” lanjutnya meminta persetujuan.

Di depannya kini Yoona melihat piring berisi nasi merah yang dilengkapi yakiniku. Sejujurnya ia akan dengan senang hati memilih tidur di ruang kesehatan daripada harus mengikuti Joo Hyun ke kafetaria. Tapi sayangnya Yoona tak sanggup menolak ajakan gadis itu, yang terlihat begitu tulus padanya.

“Mau kuambilkan yang lain? Masih ada mandu dan deokbokki di sana.” Joo Hyun jelas khawatir dengan kondisi Yoona yang mirip mayat hidup. Tak punya selera makan, kulit pucat, dan ada lingkaran hitam di bawah kedua matanya.

Yoona menggeleng pelan. “Tak usah. Gomawo.”

“Mungkinkah kau benar-benar putus dengan Siwon Sunbae hingga kau seperti ini?” tebak Joo Hyun. Yoona tak akan mau bercerita jika tidak dipancing dulu. Tugas berat bagi Joo Hyun. “Jinja? Kalian benar-benar berakhir?”

“Issh! Aku sedang berusaha melupakannya, tapi kau justru mengungkit-ungkitnya lagi,” desis Yoona kesal. Tangannya mengaduk-aduk nasi merah di piringnya hingga berantakan, meluapkan kekesalannya pada barang tak bersalah itu.

Joo Hyun tak peduli pada omelan Yoona. Ia justru semakin tertarik membicarakan itu. Bukan bermaksud buruk, Joo Hyun hanya ingin beban yang dipikul Yoona bisa berkurang setelah ia membaginya dengan orang lain. “Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Ah, molla. Jangan tanyakan hal seperti itu,” sungut Yoona, semakin bersemangat mengaduk-aduk makanan di piringnya. Ia juga kesal karena hanya bisa diam tanpa berbuat apapun sementara di depannya tengah berlangsung sebuah sandiwara yang dimainkan orang-orang terdekatnya. “Ayahmu memanggilku ke ruangannya tadi. Kepalaku rasanya mau pecah,” keluhnya lirih.

“Wae?”

“Karena aku membolos tiga kali.”

“Apa yang ayahku katakan? Kau dihukum?” cecar Joo Hyun panik. Ayahnya jarang memanggil siswa langsung dan biasanya melimpahkan masalah siswa pada wali kelas. Terlebih masalah pelanggaran kedisiplinan. Sanksi yang dikenakan biasanya cukup keras.

Yoona menggeleng menjawab pertanyaan itu. “Ayahmu hanya memperingatkanku untuk tidak membolos lagi.”

“Mwo?” Kedua alis Joo Hyun terangkat heran mendengar jawaban Yoona. Cukup lega mengetahui Yoona bebas dari hukuman, tapi heran dengan sikap ayahnya yang begitu lunak. Mungkinkah ayahnya memang sengaja bersikap lunak pada Yoona?

“Joo Hyun-ah, apa ayahmu sering memanggil siswa untuk diajak bicara?”

“Tidak juga, hanya siswa bermasalah sepertimu saja,” cibir Joo Hyun di antara kunyahannya. “Wae?”

Mata Yoona mendelik karena ejekan Joo Hyun. Tapi ia tak punya cukup tenaga untuk terus-terusan berdebat. “Aku bertemu dengan Siwon Oppa di sana.”

“Aah. Mungkin ayahku memarahi Siwon Sunbae karena melewatkan semua tawaran beasiswa dari Korea dan Jepang,” kata Joo Hyun. “Sejak kemarin ayahku dibuat geram karena tak satupun tawaran itu diterima oleh Siwon Sunbae. Tapi kudengar ada beberapa dari Amerika dan Eropa yang belum ia tolak. Mungkin Siwon Sunbae ingin belajar di sana.”

Begitukah? batin Yoona sedih. Jadi Siwon Oppa ingin belajar di luar negeri? Mengapa ia tak pernah mengatakan hal ini padaku? Yoona melanjutkan lamunannya dengan tangan menopang dagu. Kembali larut dengan dunianya dan mengacuhkan Joo Hyun.

Sebuah desahan prihatin keluar dari mulut Joo Hyun. Sepupunya itu benar-benar terlihat kacau. “Aku akan mengambil susu. Itu sudah tak layak disebut makanan,” ucap Joo Hyun sambil memandang jijik ke piring Yoona yang isinya telah tercecer. Bahkan selera makannya ikut hilang karena tingkah Yoona yang membuat makanan di depan mereka terlihat seperti sampah. Ia bangkit, pergi ke counter minuman untuk mengambil sekotak susu dengan bergegas, takut waktu makan siang akan segera habis.

Joo Hyun berdiri di depan lemari pendingin yang berisi macam-macam minuman. Matanya menjelajah mencari kotak susu yang ia janjikan untuk Yoona. Sayangnya ia hanya menemukan deretan kotak-kotak jus dan sari buah, juga minuman bersoda. Barisan yang biasanya diisi kotak-kotak susu kini terlihat kosong.

“Habis?” desahnya kecewa.

“Inikah yang kau cari?” Sebuah tangan yang menggenggam kotak susu teracung di depan Joo Hyun.

“Nde, kamsahamnida,” seru Joo Hyun sambil meraih kotak itu. Kepalanya menoleh ke samping, pada si pemilik tangan, dengan sebuah senyuman penuh rasa terima kasih. Namun senyumnya perlahan lenyap saat melihat wajah si pemilik tangan.

“Sama-sama, tak usah sungkan,” balas Choi Siwon, si pemilik tangan. Bibirnya menampakkan senyum tipis melihat Joo Hyun mendengus kesal padanya. “Kau kelihatannya sangat membenciku.”

Tentu saja Joo Hyun kesal setengah mati pada Siwon. Ia mendengar dan melihat masalah mereka hanya dari sudut pandang Yoona. Hanya penderitaan dan pengorbanan Yoona yang ia ketahui. Sama seperti Taeyeon yang salah paham pada Yoona karena ia hanya tahu keadaan Siwon. “Tentu saja aku membenci Sunbae. Sunbae memperlakukan Yoona dengan sangat buruk,” desisnya. “Tak tahukah Sunbae seberapa lama Yoona menangis? Dia sudah punya cukup banyak masalah, jadi seharusnya Sunbae tidak menambahnya lagi.”

Siwon tersenyum getir. Dari semua orang yang ada di dunia, Siwon-lah yang paling mengerti perasaan Yoona. Tapi membicarakan hubungannya dengan Yoona bukan tujuannya saat ini. “Mengapa kau begitu perhatian pada masalah Yoona? Kupikir kalian baru saling mengenal. Aku tak tahu kalian sedekat ini,” kata Siwon tenang, membuat Joo Hyun semakin kesal.

“Mwo? Apa maksud Sunbae?” Joo Hyun sama sekali belum menangkap tujuan Siwon sebenarnya.

“Aniya. Pergilah, Yoona pasti sudah menunggumu,” lanjut Siwon mengakhiri pembicaraan mereka. Ia berbalik pergi, dengan senyum tipis penuh kepuasan. Keraguannya kini telah terjawab. Ternyata ia hanya butuh usaha kecil untuk memastikan sesuatu yang besar. Kini Siwon yakin‒dengan semua bukti tentang Seo Yoon Joo yang telah ia dapat, ditambah dengan reaksi Seo Yoon Jae dan Seo Joo Hyun terhadap Yoona‒kalau mereka memang memiliki hubungan. Sebuah ikatan yang takkan putus karena jarak dan waktu, atau karena sifat yang berbeda. Keluarga.

***

 

Yoon Hae Ra berjalan tergesa-gesa melewati ruang tamu kediaman keluarga Im menuju ke ruang kerja suaminya. Tanpa permisi, seperti kebiasannya, ia langsung masuk ke dalam ruangan itu. Sekarang Im Tae San memang lebih sering di rumah dibanding sebelumnya, mengingat kejaksaan sedang melakukan proses audit di perusahaan. Pandangannya terpaku pada Tae San, orang yang ia cintai selama bertahun-tahun sekaligus yang memberikan luka paling dalam di hatinya.

Im Tae San yang sedang duduk menekuri sebuah dokumen mendongak menatap kedatangan istrinya. Untuk beberapa saat, mereka hanya terdiam menatap satu sama lain, hal yang kini sangat jarang terjadi. Tae San bangkit mendekati wanita yang bagaimanapun juga pernah mengisi hari-harinya. Dibimbingnya Hae Ra untuk duduk di sofa, berharap kemarahannya sedikit mereda. Atau paling tidak, agar mereka bisa bicara tanpa emosi berlebih.

Mereka duduk berhadapan, masih dengan mulut bungkam. Menanti yang lain membuka pembicaraan. Namun sayangnya Tae San lebih sabar menunggu. Ia harus mengetahui tujuan lawannya lebih dulu, baru menentukan langkah apa yang akan ia ambil.

“Mengapa kau tidak menandatangani surat cerai itu?” geram Hae Ra akhirnya.

Tae San tersenyum setelah tahu tujuan istrinya. Tentu saja dia tak akan bertindak sebodoh itu. Hae Ra ingin segera bercerai agar ia bisa mendapat separuh aset-asetnya, sebagai jaminan jika Tae San benar-benar dipenjara. Tapi Tae San tak ingin seperti itu. “Aku tidak akan menceraikanmu.”

“Mwo?” seru Hae Ra tak percaya. Hubungan mereka tak lagi dilandasi rasa cinta, hanya sebuah jalinan yang saling menguntungkan. Keuntungan apalagi yang ingin Tae San ambil darinya?

“Pikirkanlah perasaan Yuri dan Yoona jika kita bercerai. Mereka mungkin sudah cukup besar untuk memahami semua ini, tapi tetap saja mereka adalah anak-anak. Mereka butuh sosok seorang ibu yang ada di samping mereka saat aku tak ada,” lanjut Tae San lirih. Pria ini juga seperti Yoona, sulit ditebak. Tak ada yang tahu dalamnya hati seorang Im Tae San, atau seberapa tajam otaknya bekerja. Namun yang pasti, ia akan melakukan segalanya untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi.

“Jadi kau memikirkan perasaan Yuri dan Yoona?” tanya Hae Ra sinis. Tidak pernah menyangka akan mendengar hal semacam itu keluar dari mulut Im Tae San. “Aku tak pernah tahu kau berpikir seperti itu. Tapi sayangnya, kau tak memikirkan bagaimana perasaanku,” lanjutnya getir.

“Apa maksudmu?”

Hae Ra tertawa sinis. Menertawakan kekonyolannya sendiri, yang mengharap pengertian Im Tae San untuknya. “Kau ingin kita tetap bersama agar aku bisa merawat Yoona jika kau sampai dipenjara? Menggelikan sekali.” Sebuah tawa pahit kembali keluar dari mulutnya.

“Tidak ada yang cukup lucu untuk bisa kau tertawakan,” balas Tae San. “Mereka adalah putrimu. Kau wajib menjaga mereka.” Tae San tetap tenang seperti pembawaannya yang biasa, meski hatinya cukup khawatir mendengar penolakan Hae Ra.

“Tentu saja ini lucu. Kau mengkhianati istrimu, berselingkuh dengan mantan kekasihmu, lalu menyuruh istrimu merawat anak hasil hubungan gelapmu. Bagaimana mungkin kau tak pernah berpikir dari sudut pandangku?” Hae Ra berusaha tetap mempertahankan raut angkuhnya. Ia sama sekali tak ingin terlihat mengiba di depan Tae San. Harga dirinya harus tetap tinggi, betapapun banyak luka yang ia terima.

Tae San cukup terkejut mendengarnya. Selama ini ia mengira istrinya itu hanya peduli pada uang. Hingga ia merasa terancam dengan adanya Yoona, yang jelas akan mewarisi semua kekayaan Grup A.

“Andai kau pernah memikirkannya sekali saja,” gumam Hae Ra, tetap menampakkan senyum sinisnya. Ia menghela napas sejenak. “Setelah bertahun-tahun, tak sekalipun kau meminta maaf atas semua yang kau lakukan padaku. Seharusnya kau minta maaf, meski hanya sekali dan bilang kalau kau akan mencintaiku walau itu bohong. Dengan begitu, aku mungkin akan terus bertahan bersamamu dan menerima Yoona.”

“Cinta? Kita tidak berada di usia di mana cinta berperan penting…”

“Cinta selalu penting,” Hae Ra memotong kata-kata Tae San. “Cinta yang membuatku tetap berada di sini setelah semua luka yang kau berikan. Karena cinta aku tetap bertahan, meski tampaknya semua itu hanya sia-sia.”

“Mwo?” Tae San menatap lurus mata istrinya penuh tanya. Yang ia tahu, semua masalah Hae Ra berakar dari uang, bukan sesuatu yang sentimentil seperti cinta. Bahkan mereka menikah lebih karena bisnis, walau pada awalnya Tae San pernah berusaha mencintainya.

Kuku-kuku jemari Hae Ra mencakar permukaan sofa kulit hingga meninggalkan bekas kecil di sana. Bagaimanapun juga ia tetap seorang wanita, yang terkadang lebih mengandalkan perasaan ketimbang logika. “Aku mencintaimu, sejak awal hingga hari ini.”

Pupil Tae San membesar tak percaya pada apa yang didengarnya. Hae Ra telah mengucapkan kata-kata yang baginya adalah hal yang paling mustahil. Perasaan bersalah langsung menghantuinya, mengingat betapa ia telah banyak melakukan hal buruk ada istrinya itu. “Hae Ra-ya, mianhe…”

“Terlambat,” desis Hae Ra sambil berusaha menahan air mata yang mulai menggenangi pelupuknya. “Aku memang mencintaimu, tapi itu takkan menghentikanku. Kau membuatku marah hingga seperti ini. Lihat saja, aku akan membalasmu dengan cara yang paling menyakitkan.” Hae Ra bangkit, sebelum air matanya jatuh di depan Tae San. Tidak, ia tak mau terlihat lemah di depan siapapun. Kakinya mulai melangkah meninggalkan Im Tae San yang masih terlalu kaget dengan pernyataan cintanya. Memang benar, semua yang tadi ia katakan. Andai saja Tae San sedikit lebih peduli padanya, Hae Ra merasa tak perlu melakukan hal ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Tae San adalah orang yang paling ia benci sekaligus yang ia cintai.

Langkah kaki Hae Ra terhenti ketika ia mendapati Yuri saat membuka pintu ruang kerja Tae San. Sejak tadi, tanpa mereka ketahui, Yuri telah berdiri di balik pintu, mendengarkan semua pembicaraan kedua orang tuanya. Ia menghambur masuk ke pelukan ibunya dengan mata berkaca-kaca, menyadari betapa jahatnya sang ayah hingga membiarkan keluarganya menderita.

“Eomma,” isaknya. Yuri kini sadar, betapa besarnya pengorbanan sang ibu untuk tetap bertahan. Untuk cintanya pada suaminya.

Tangan Hae Ra membelai punggung Yuri. Air matanya yang sejak tadi ia tahan perlahan menetes melewati pipinya. “Kau dengar semuanya?”

Yuri mengangguk dalam pelukan ibunya.

“Kau sudah lihat apa yang terjadi pada Eomma? Ingatlah hal ini baik-baik. Jangan mau hidup dengan orang yang tak mencintaimu. Mereka hanya akan membuatmu menderita dan kesepian. Jangan biarkan mereka menyakitimu seperti apa yang terjadi pada Eomma.”

“Lalu apa yang akan Eomma lakukan?”

Hae Ra tak menjawab. Ia hanya tersenyum licik, yang tentu tak bisa dilihat oleh Yuri. Sebuah rencana sedang ia susun di kepalanya. Rencana pembalasan, yang seharusnya terasa seribu kali lebih menyakitkan dari apa yang ia rasakan selama ini.

***

 

“Hyung, kau duluan saja,” kata Siwon pada Leeteuk saat keluar dari bangunan sekolah. Halaman depan sekolah sudah ramai dengan mobil-mobil jemputan siswa Hyundai. Siwon menghentikan langkahnya di dekat sebuah tiang penyangga atap teras gedung itu.

“Kau mau ke mana? Biar kuantar,” tawar Leeteuk yang juga ikut berhenti. Tak biasanya Siwon melakukan sesuatu tanpa dirinya.

Siwon menggeleng menolak tawaran Leeteuk. “Gwenchana. Kau pergi saja, Hyung.”

Mungkin memang sebaiknya aku menemui Taeyeon tanpa Siwon, pikir Leeteuk. Ia mengendikkan bahu lalu beranjak pergi. “Ya sudah. Sampai jumpa.”

Kepala Siwon mengangguk kecil pada Leeteuk. Pandangannya lalu beralih pada sesuatu yang sejak tadi menarik perhatiannya. Tak jauh dari tempatnya kini berdiri, Yoona sedang berjalan lesu dengan kepala tertunduk di antara keriuhan siswa lain yang juga keluar dari gedung sekolah.

Yoona menyeret langkahnya tanpa semangat. Berkali-kali ia menghela napas panjang untuk menghalau sesak di dadanya. Dari arah belakang, Yoona dapat mendengar cekikikan beberapa siswi yang juga baru keluar dari gedung sekolah. Satu diantaranya berjalan mundur setelah merebut sebuah buku kecil milik temannya.

“Fany-ah, kembalikan bukuku,” teriak gadis yang bukunya baru saja direbut.

Gadis yang dipanggil Fany itu menggeleng. “Shireo, aku harus tahu apa yang kau tulis di diary-mu ini.” Fany berjalan mundur sambil melambai-lambaikan buku yang baru saja direbutnya dengan tawa kemenangan. “Ambil dariku kalau kau..aawww!”

Fany duduk terjatuh karena menabrak seseorang di belakangnya. Buku yang ia rebut terlempar begitu saja. Sakitnya memang tak seberapa, tapi rasa malu yang ia tanggung karena jatuh di depan seluruh sekolah lebih melukainya.

Yoona, yang baru saja jatuh karena seseorang menabraknya dari belakang, meringis menahan nyeri di tangan kirinya yang ia gunakan sebagai penopang. Susah payah ia berusaha bangun, meminta pertanggungjawaban pada orang yang sudah membuatnya semakin kesal.

“Ah, bajuku,” keluh Fany manja, yang lalu bangun dengan dibantu kedua temannya. Ia sibuk memeriksa bagian bajunya yang lain, juga tangannya yang agak berdebu. “Siapa yang berani melakukan ini padaku?” sungutnya nyaring, membuat beberapa anak tertarik untuk berhenti dan menyaksikan kehebohan itu.

“Ya!” hardik Yoona saat bangkit dan menghadapi penabraknya. “Tidakkah kau berhutang maaf padaku?” tuntutnya tak terima pada perkataan Fany.

Fany berbalik menatap Yoona sengit. Ia tersenyum sinis begitu mengetahui siapa yang ia tabrak. “Mengapa aku meminta maaf padamu? Aku juga jatuh.”

“Kau yang tak memperhatikan jalan dan menabrakku hingga kita berdua jatuh. Minta maaf!” perintah Yoona.

Pandangan Fany menyapu sekelilingnya. Siswa lain mulai berkerumun membentuk tembok yang melingkari mereka. Jelas ia tak mau dipermalukan di depan semua orang. “Mwo? Kau yang terlalu lemah hingga jatuh menimpaku. Bagaimana bisa kau menyuruh seniormu minta maaf?”

Bisik-bisik mulai terdengar dari para penonton. Mereka yang tak melihat keseluruhan kejadian terbagi menjadi dua kubu, pro Yoona dan pro Tiffany. Yoona sendiri mulai risih dengan semua perhatian yang ia dapat. “Aku tak peduli siapa dirimu. Aku hanya ingin mendengarmu minta maaf karena membuatku terjatuh,” balasnya tak kalah sinis.

“Bagaimana kalau aku tak mau melakukannya?” tantang Tiffany.

“Aku akan membuat perhitungan denganmu.”

Tiba-tiba Tiffany tertawa keras. “Perhitungan macam apa? Kau mau menyewa pengacara untuk menuntutku? Kau mampu membayarnya?”

“Apa maksudmu?”

“Jangan kau pikir aku takut padamu hanya karena kau seorang Im. Semua orang tahu kalau ayahmu sedang dalam pemeriksaan kejaksaan dan di ambang kebangkrutan. Tanpa uang ayahmu, kau bukan apa-apa. Jadi kuharap jangan memajang harga dirimu terlalu tinggi di depan kami,” desis Tiffany.

Yoona mulai goyah. Pandangannya yang sejak tadi lurus menatap mata Tiffany tak lagi fokus. Iris matanya bergerak-gerak tak tenang saat bisikan-bisikan di sekitarnya mulai terdengar sebagai cibiran. Semua celaan tentang dirinya mungkin masih bisa ia terima, tapi tidak dengan orang-orang yang ia sayangi. Yoona memberanikan diri, tak mau jadi bahan tertawaan penonton dadakan itu. “Ini tak ada hubungannya dengan ayahku. Satu-satunya hal yang harus kau lakukan adalah minta maaf padaku…,” Yoona berhenti sebentar, melirik name tag di dada kanan Tiffany dan membacanya, “Hwang Tiffany Sunbaenim.”

Tiffany menjadi kesal karena Yoona tak juga menyerah. Ia tak rela harus kalah dari juniornya. Terlebih pamor Yoona sejak kepindahannya telah menandingi kepopulerannya di sekolah. “Aku tak akan minta maaf pada putri seorang penjahat.”

Jantung Yoona berdebar dua kali lebih cepat karena amarah. Ayahnya mungkin memang melakukan kesalahan, tapi rasanya tak pantas bagi Tiffany untuk mencelanya di depan semua orang. “Tarik kembali ucapanmu,” geram Yoona.

“Tidak akan pernah. Ayahmu memang seorang penjahat.”

Bukk!

Sekuat tenaga Yoona mendorong pundak Tiffany hingga gadis itu hampir terjatuh jika tak ditahan kedua temannya. “Neo!” Tiffany menegakkan tubuhnya dan balas mendorong Yoona. Dan terjadilah aksi saling dorong antara kedua gadis itu, disoraki para penonton yang tak berminat menyudahi tontonan mereka.

Mereka masih terus mengerahkan tenaganya untuk saling mendorong. Keadaan cukup berimbang walau Tiffany sedikit lebih pendek dari Yoona. Tangan kiri Yoona naik dari bahu Tiffany dan menarik rambut panjangnya kuat-kuat. Tiffany tak mau kalah, ia balas menjambak rambut Yoona yang terurai. Beberapa anak perempuan menjerit ngeri, tapi tak ada yang berusaha melerai.

“Tarik kembali semua ucapanmu tentang ayahku,” geram Yoona marah, hingga tarikannya di rambut Tiffany makin kuat.

“Aaahh, shireo, aah,” Tiffany tetap bersikeras pada harga dirinya. Tak sudi untuk menarik semua perkataan buruknya pada Yoona.

Siwon yang menonton perkelahian dari tengah kerumunan itu berusaha menyelinap maju ke depan. Ia cepat-cepat maju dan menarik Yoona dari belakang, berusaha memisahkan kedua gadis itu. Tangan kanannya menahan perut Yoona yang sudah siap menerjang Tiffany sementara yang kiri melingkar di bahu gadis itu.

Dari arah lain, Donghae tiba-tiba muncul dan menahan kedua lengan Tiffany. Tiffany berontak, namun Donghae jelas lebih kuat darinya. Gadis itu hampir berteriak marah karena seseorang menahannya tapi tak jadi saat menyadari Donghae-lah yang menahannya. Ia langsung berakting kesakitan karena kebrutalan Yoona dan mengeluh manja.

“Lepaskan aku,” teriak Yoona marah. Ia berusaha memberontak melepaskan diri dari kungkungan lengan itu. Yoona bahkan tak sadar kalau Siwon-lah yang tengah memeluk menahannya. “Lepas!”

“Jangan lakukan ini lagi,” bisik Siwon di telinga Yoona. “Jeball.” Siwon mengeratkan pelukannya pada Yoona, berusaha meredam amarah gadis yang sangat ia sayangi itu.

Seperti terhipnotis, tubuh Yoona perlahan berhenti berontak saat mendengar suara Siwon. Napasnya tersengal kasar setelah mengeluarkan hampir seluruh tenaganya.

Pelukan Siwon mulai mengendur saat Yoona tak lagi melawan, namun tangannya masih melingkari bahu gadis itu. “Jangan lakukan ini lagi. Berjanjilah,” kata Siwon pelan.

Kepala Yoona mengangguk samar, tapi matanya menatap kosong ke bawah. Rasanya ia tak percaya bisa kembali merasakan hembusan napas Siwon dalam jarak sedekat ini. Amarahnya menguap saat suara itu berbisik di telinganya, walau tak sepenuhnya hilang.

“Jangan melakukan hal barbar semacam ini lagi.”

“Dia menghina ayahku,” ucap Yoona berbisik, tanpa sadar berusaha menjelaskan apa yang membuatnya begitu marah pada Siwon. Ada rasa tak terima yang begitu besar saat mendengar Tiffany menghina ayahnya di depan umum.

“Arra. Aku lihat semuanya.”

“Ya! Kalian lihat apa? Pergi dari sini,” perintah Donghae lantang pada penonton di sekeliling mereka setelah berhasil menjauhkan Tiffany dan Yoona. Pengaruhnya di Hyundai masih kuat. Satu per satu penonton itu pergi sambil berbisik-bisik mencibir.

“Untung kau cepat datang, Oppa. Kalau tidak gadis itu pasti sudah membuatku masuk ke rumah sakit,” Tiffany mengadu dengan nada manja pada Donghae.

“Rumah sakit? Kau tak terlihat seperti orang sekarat,” cibir Donghae. Pandangannya lalu beralih pada Yoona dan Siwon. Ada rasa cemburu yang muncul saat melihat Yoona berada begitu dekat dalam pelukan Siwon dan terlihat sangat nyaman bersamanya. Ia mendesah singkat sebelum menatap Tiffany kembali. “Pergi dari sini. Kau akan berhadapan denganku kalau berani mengganggu Yoona lagi,” ancamnya sebelum berjalan pergi. Rasanya ia tak sanggup harus menyaksikan kebersaman Yoona dan Siwon, hingga akhirnya memilih pergi dan membiarkan mereka sendiri.

Tiffany merengut. Matanya melirik Yoona sebal. Baginya Donghae jelas masih jauh lebih berarti dibanding membuang waktunya dengan Yoona. Dia berjalan mengekor Donghae yang melangkah menjauh, berusaha menarik perhatiannya kembali. “Oppa, tunggu aku! Aku benar-benar terluka. Lihatlah ini,” teriaknya nyaring.

Setelah yakin Yoona tak akan lepas kendali lagi seperti tadi, Siwon melepaskan pegangannya di tubuh gadis itu. Membimbingnya untuk berbalik menghadapnya dan merapikan kerah seragam Yoona. “Kalau ada guru yang melihat, kau akan dapat masalah besar,” kata Siwon pelan.

Yoona diam tak bergerak saat Siwon merapikan baju dan rambutnya yang kusut. Hanya kelopak matanya yang sesekali berkedip menunjukkan kalau ia masih sadar.

“Apa kau tak terlalu berlebihan hingga berkelahi seperti itu?” lanjut Siwon. Dengan telaten ia merapikan anak rambut Yoona yang jatuh di wajahnya, menyisirnya perlahan dengan jari-jarinya sebelum menyelipkannya di belakang telinga. Ia ingin mengatakan temuannya tentang keluarga Seo pada Yoona, tapi diurungkannya niat itu. Yoona terlihat masih begitu terpukul dengan kejadian tadi.

“Dia menghina ayahku. Aku tak bisa melepaskannya begitu saja,” gumam Yoona dengan pandangan kosong.

“Kalau kau berbuat seperti tadi pada orang yang menghina ayahmu, apa yang akan kau lakukan pada orang yang akan membuat ayahmu di penjara?”

Yoona tertegun. Tatapannya naik ke mata Siwon. Ada gurat sedih di sana. Mungkin ini yang Siwon takutkan sejak dulu. Sebelum Yoona menyadari emosinya, Siwon telah berpikir jauh ke depan. Memikirkan apa yang tak terlintas di benak Yoona. Menyadari jauh lebih awal akan seperti apa reaksi Yoona menghadapi semua ini.

“Sekarang kau tahu mengapa aku bersikeras untuk mengakhiri hubungan kita.” Matanya balas menatap milik Yoona sendu. Ketakutannya selama ini seperti menjadi kenyataan. Darah Im Tae San yang mengalir dalam tubuh Yoona telah mengikat mereka. Bahkan Yoona tak bisa menyangkal rasa sayangnya pada sang ayah, seburuk apapun tindakannya. Gadis itu tetap seorang putri yang menjunjung tinggi kehormatan ayahnya di depan orang-orang.

Sebuah senyum getir terlukis di bibir Yoona. Siwon benar. Keluarga adalah sesuatu yang sangat berarti baginya. Yang tak bisa begitu saja ia abaikan dan tinggalkan. Ia harus memilih. Mana yang akan ia bela habis-habisan, juga pada siapa pengorbanannya akan ia berikan. “Geurae. Kalau begitu lakukan apa yang harus Oppa lakukan. Aku mungkin akan membenci Oppa karenanya, tapi Choi Siwon akan tetap menjadi seseorang yang berarti untukku.” Yoona mencoba tersenyum, walau jadinya kaku dan aneh. Ia tak mau ada air mata lagi.

Siwon mengangguk setuju. Mungkin ini memang bukan waktu yang tepat untuk tetap bersikeras pada ego mereka. Walau sakit, Siwon lega karena Yoona pada akhirnya mau menerima keputusan itu. Yoona-nya memang kuat. “Sebenarnya ada hal lain yang ingin kukatakan padamu,” ucapnya ragu saat teringat informasi yang telah ia dapat.

“Apa itu?”

“Tadi aku mencari tahu tentang…”

Teett..teett…

Suara klakson mobil yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri menghentikan ucapan Siwon. Keduanya menoleh mencari tahu asal suara itu.

Sebuah mobil hitam terparkir tak jauh dari tempat Yoona dan Siwon berdiri. Hanya ada mobil itu, karena yang lain rata-rata sudah meninggalkan sekolah sejak Donghae mengusir mereka. Dari dalam mobil mewah itu, Yoon Hae Ra melepas kacamata hitamnya dan menurunkan kaca pintu depan. Sejak tadi ia sudah ada di sana, menyaksikan seluruh rangkaian kejadian yang melibatkan Yoona. Namun ia diam saja.

“Oh? Eomma?” gumam Yoona kaget saat mengenali orang di dalam mobil itu. “Mungkinkah Eomma kemari karena panggilan dari kepala sekolah? Bukankah ia bilang tak akan memanggil orang tuaku?” cerocosnya khawatir. Ibu tirinya pasti akan menyemprotnya habis-habisan kalau tahu ia membolos lagi.

“Sepertinya dia datang menjemputmu,” kata Siwon menyimpulkan. “Dia akan langsung turun kalau berniat bertemu kepala sekolah.”

Yoona menjadi sedikit tenang mendengar pendapat Siwon. Kalau memang ibunya berniat masuk, ia tak akan tetap berada di dalam mobil. Mungkin memang Hae Ra berniat menjemputnya karena sejak tadi ia tidak melihat sopir pribadi yang biasa mengantarnya ke manapun ia pergi. “Aku akan menemuinya,” kata Yoona pada Siwon. “Kita bertemu lagi nanti. Aku juga punya sesuatu untuk dibicarakan dengan Oppa.”

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Siwon penasaran.

“Sesuatu,” jawab Yoona ragu. Ia ingin memberitahu perihal Han Hye Won pada Siwon, tapi masih banyak yang belum pasti. Lebih baik menunggu sebentar lagi daripada harus bertindak ceroboh dan mengacaukan semua. “Tenang saja, ini bukan tentang kita.”

Siwon memaksakan senyum. Ia mengangguk walau rasa penasarannya justru makin besar. Mengapa ada hal lain yang ingin Yoona bicarakan dengannya? Tentang apa? Pandangannya mengikuti Yoona yang tengah berlari kecil menuju mobil ibu tirinya dengan senyum palsu. “Aku juga ingin bicara denganmu, Yoona-ya,” bisiknya lirih.

Kepala Yoona mengangguk memberi hormat saat berada di samping mobil ibunya. “Eomma ada urusan dengan kepala sekolah?” tanya Yoona hati-hati.

Hae Ra membuka pintu penumpang di samping kemudi dan mengendikkan dagunya, menyuruh Yoona untuk masuk ke dalam sebagai jawaban.

Sepertinya benar bukan karena aku membolos, batin Yoona lega sambil masuk ke dalam mobil. Ia duduk dengan canggung di samping Hae Ra, bertanya-tanya apa yang membuat ibunya itu datang menjemputnya. “Mengapa Eomma repat-repot menjemputku? Bukankah ada banyak supir yang bisa menjemputku?” gumam Yoona takut-takut.

“Wae? Kau tak suka?”

“Aniyo,” sergah Yoona segera. “Kupikir Eomma punya banyak kesibukan, jadi tidak perlu menjemputku seperti ini.”

“Bukankah itu Choi Siwon?” tanya Hae Ra tiba-tiba sambil melihat ke arah Siwon yang juga sedang memperhatikan mereka. “Kalian terlihat dekat tadi.”

“Tidak juga,” sangkal Yoona sambil memasang sabuk pengamannya. “Geundae, Eomma tahu dia?”

Kaca jendela mobil naik kembali dan Hae Ra mulai menginjak pedal gas. Perlahan mobil melintasi halaman sekolah yang luas menuju jalan raya. “Tentu saja. Orang tuanya adalah sahabat baik ayahmu.”

Semua orang sepertinya sudah tahu, batin Yoona. Namun ia pura-pura terkejut. Ibu tirinya itu tampak sedang dalam setelan super ramah yang memungkinkan Yoona mengorek informasi. “Jeongmallyo? Appa punya sahabat dari kalangan bawah?”

Sebuah senyum penuh ejekan tampak di wajah Hae Ra. Dipikirnya Yoona memang sudah teracuni oleh Im Tae San hingga pada usia itu telah mengkotak-kotakkan orang berdasar harta. “Dulunya mereka adalah chaebol seperti kita.”

Yoona pikir, Hae Ra sedang dalam suasana hati yang cukup baik hingga mau berbincang dengannya. Kesempatan yang langka ini ingin Yoona manfaatkan untuk mengorek informasi lebih banyak tentang pertunjukkan yang sedang terjadi. Lagi, ia pura-pura terkejut. “Lalu bagaimana bisa mereka jadi seperti sekarang?”

“Tentu saja ayahmu yang membuat mereka seperti itu. Dia berbakat dalam hal-hal semacam itu,” jawab Hae Ra tenang, tetap fokus pada kemudi mobil. “Ayahmu bahkan menahan ibu Choi Siwon agar tujuannya tercapai,” imbuhnya.

Kali ini Yoona benar-benar terkejut. Bertahun-tahun lalu, dengan mata kepalanya, Yoona melihat beberapa orang membawa Han Hye Won pergi. Setelah dipikir-pikir, ayahnya juga selalu dikelilingi orang-orang seperti itu, yang menurut Yoona adalah bodyguard. Pandangannya tak lepas dari Hae Ra yang menatap lurus ke depan, mencari keseriusan dan kesungguhan dalam ucapannya tadi. “Apa maksudnya dengan menahan?”

“Kurasa kau cukup pintar untuk bisa menangkap maksudku,” balasnya singkat. Ia terdiam, membiarkan Yoona mereka-reka dan membuat dugaan pada ayahnya. Bukan tanpa tujuan Hae Ra merepotkan dirinya untuk menjemput Yoona di sekolah. Semua ini adalah bagian dari rencana pembalasannya pada Im Tae San. Siwon yang menjadi target pertamanya telah gagal. Kini ia beralih pada Yoona. Sebenarnya sudah lama Hae Ra melihat kedekatan Siwon dan Yoona. Sejak saat ia bertemu Siwon setelah mengantar Yoona sampai ke rumah beberapa waktu lalu. Namun ia menutup mulut rapat-rapat. Ia tahu mereka saling menyayangi. Berharap dengan begitu, Yoona akan membenci ayahnya karena telah membuat orang yang ia sayangi menderita. Membiarkan Yoona mengambil alih kebenciannya pada sang ayah dan menjatuhkannya sendiri. Benar. Pembalasan seperti itu akan terasa lebih menyakitkan untuk Im Tae San. Putri yang ia sayangi yang akan menghancurkannya. Sempurna.

***

 

Appa menahan Han Ahjumma? Jadi orang-orang yang membawanya pergi saat di rumah sakit adalah anak buah Appa? Apa tujuannya? Hanya untuk uang? Tahukah Siwon Oppa tentang semua ini? Itukah yang membuat Siwon Oppa begitu marah? Lalu di mana sebenarnya Han Ahjumma? Kepala Yoona disesaki ribuan pertanyaan yang bahkan ia ragu bisa mendapatkan jawabannya.

“Im Yoona ayo berpikir! Kenapa kau sangat bodoh?” Yoona membentur-benturkan kepalanya ke meja makan, berharap ada keajaiban hingga ia mendapat jawaban atas semua pertanyaan di otaknya. Beberapa pelayan yang tengah menyiapkan makan malam untuknya hanya memandang Yoona heran, namun tak berani menegurnya.

Ponselnya yang ia letakkan di atas meja tiba-tiba berdering. Yoona terlonjak kaget, hingga berhenti membenturkan kepalanya dan beralih pada ponselnya. Dibacanya nomor penelepon di layar ponselnya, yang membuat matanya membelalak kaget bercampur heran. “Yeobseyo, Siwon…Oppa…,” sapanya menggantung dan ragu, menyembunyikan raut gembira yang tanpa ia sadari muncul di wajahnya. Tak menyangka Siwon akan meneleponnya malam-malam seperti ini.

“Eoh, ini aku,” balas Siwon singkat, diikuti jeda selama beberapa detik. Di kamarnya, duduk di depan sebuah laptop, Siwon tersenyum tipis saat mendengar suara Yoona. Hampir saja Siwon mengatakan ‘Kau sedang apa’ dan menunjukkan semua perhatian yang ia punya kalau otaknya tak cepat-cepat mencegah.

“Mengapa Oppa menelepon?” Yoona memecah keheningan. Aneh, walau ia seharusnya sakit hati pada Siwon, mengapa ia justru tersenyum seperti orang gila saat tahu Siwon meneleponnya?

“Ada yang ingin kutanyakan padamu.”

“Apa?”

“Di rumah sakit apa kau bertemu ibuku?”

Kedua alis Yoona bertautan heran, belum mengerti mengapa Siwon repot-repot menelepon untuk menanyakannya. “Asan Medical Center. Mengapa Oppa bertanya? Apa itu penting?”

“Asan Medical Center?” ulang Siwon, lebih seperti bergumam pada dirinya sendiri. Ia terdiam lagi, berpikir. Asan Medical Center dikenal sebagai pusat penanganan kanker, diabetes, dan transplantasi organ. Mungkinkah ibunya membutuhkan transplantasi organ atau terserang kanker?

“Oppa, ada apa?” tanya Yoona lagi. Siwon terdengar aneh, hanya sekali dua kali berbicara, dengan diselangi jeda panjang.

“Aniya, aku tutup teleponnya,” sahut Siwon cepat-cepat, menekan tombol end di layar ponselnya sebelum Yoona protes dan bertanya lagi.

“Yeobseyo? Oppa? Issh!” Yoona membanting ponselnya ke meja, kesal karena Siwon memutus sambungan secara sepihak. “Mengapa tiba-tiba ia menanyakan Han Ahjumma?” tanya Yoona pada dirinya sendiri. “Dia mau mencari ibunya sendiri?”

“Ibu siapa?” Yuri sudah duduk manis di depan Yoona dengan raut penuh tanya.

Yoona sedikit mengangkat kedua alisnya, kaget dengan kemunculan Yuri. “Bukan siapa-siapa.”

“Jinja?” tanya Yuri lagi. Di matanya Yoona terlihat sedang menutupi sesuatu.

“Eoh, tentu saja,” balas Yoona tersenyum.

“Mungkinkah kau sedang mencari ibu kandungmu?” tebak Yuri yang masih tak percaya pada ucapan ‘bukan siapa-siapa’ adik tirinya itu.

Kepala Yoona menggeleng pelan, menyangkal dugaan Yuri. “Aniyo.”

“Ibumu ada di Gunung Seorak,” kata Yuri memberitahu.

Jelas Yoona sudah tahu informasi itu, bahkan ia pernah mengunjunginya. Tapi ia berusaha tersenyum, berterima kasih pada Yuri yang mau repot memberitahunya. Yoona tahu, berat bagi Yuri untuk bicara tentang ibu kandungnya yang telah merusak keluarganya. “Bagaimana Eonni tahu ibuku dimakamkan di sana?”

“Appa pernah mengajakku ke sana sewaktu kecil. Waktu itu yang aku tahu hanya Appa mengajakku jalan-jalan ke pegunungan. Aku baru menyadarinya beberapa tahun kemudian. Appa bahkan membeli tanah dan membangun kuil di sana. Padahal Appa tak pernah tertarik membeli tanah di pegunungan. Tanah itu menjadi satu-satunya aset tak bergerak yang dimiliki keluarga Im di daerah pegunungan,” jelas Yuri. Ia mulai makan, memfokuskan perhatiannya pada beberapa lauk di depan mereka.

Yoona tertegun. Makanan di hadapannya menjadi tak menarik lagi. Ia masih ingat percakapannya dengan sang ayah saat membicarakan Han Hye Won. Wanita itu sakit, namun keadaannya sekarang sudah membaik, dan udara pegunungan cocok dengannya. Dan apa yang baru saja Yuri katakan, bahwa kuil di kaki gunung itu adalah milik keluarga Im. Tak mungkin rasanya jika ayahnya begitu ceroboh menyembunyikan sanderanya di tempat milik orang lain. Mungkin dugaan Yoona benar. Semuanya cocok. Kuil dan tanahnya adalah milik keluarga Im, yang akan jarang dikunjungi karena di sana ada makam Seo Yoon Joo. Dan suasana pegunungan yang begitu pas dengan perkataan Im Tae San. Tempat yang sempurna sebagai tempat persembunyian, tak menarik kecurigaan orang-orang. Benar, mungkin saja Han Ahjumma ada di sana, batin Yoona.

 

Sementara itu, Siwon yang sedang mengurung diri di kamarnya, kembali menyibukkan diri di depan sebuah laptop begitu memutus sambungan dengan Yoona. Asan Medical Center. Nama itu terus bergema di gendang telinganya. Ibunya masih hidup, dan sedang sakit. Pada akhirnya, Siwon sampai di kesimpulan itu dan berniat mencari tahu lagi. Menggunakan semua kemampuan hackernya, ia menerobos sistem rumah sakit di Korea. Pasti ada catatan khusus mengenai pasien dari data rumah sakit. Sayangnya, ada terlalu banyak orang yang ia temukan, hingga Siwon memutuskan bertanya pada Yoona tempat di mana gadis itu bertemu ibunya.

“Asan Medical Center, pusat pengobatan kanker dan transplantasi organ,” gumam Siwon lagi. Ibunya pasti menderita suatu penyakit, hingga harus dirawat sebelum Im Tae San menahannya. Dan Siwon yakin, itu cukup parah mengingat ibunya dirawat di salah satu rumah sakit terbaik di Korea. Siwon memfokuskan pencariannya di bagian transplantasi, tapi hingga tiga jam kemudian ia tak menemukan apapun.

Hari sudah menjelang pagi saat Siwon beralih pada bagian kanker. Dua jam lamanya ia berkutat dengan data-data pasien dari seluruh negeri. Matanya merah karena menahan kantuk dan terlalu lama menatap layar laptopnya. Sesekali ia memijit tengkuknya yang terasa kaku. Hampir menyerah, akhirnya ia menemukan nama Han Hye Won. Tak banyak keterangan yang ia dapat, hanya nama dan secuil alamat, serta sebuah catatan tanggal pengobatan terakhir, satu tahun lalu tepatnya.

“Han Hye Won, Sokcho, Provinsi Gangwon. Hanya itu?” erang Siwon tak percaya. Ia ragu. Ada begitu banyak nama Han Hye Won dari seluruh negeri, tak hanya ibunya. Segala kemungkinan masih bisa terjadi, tapi Siwon tak mau terlalu banyak berharap. Mungkin lebih baik aku mengatakan hal ini pada Jaksa Lee, batinnya.

***

 

Hari masih pagi, namun Yoona sudah berjalan mondar-mandir di depan sebuah rumah yang cukup besar dengan melipat tangannya di dada. Beberapa kali terdengar gerutuan tak sabar dari mulutnya, namun ia masih betah berada di sana. Ia mendesah lega saat akhirnya melihat Joo Hyun keluar dengan seragam sekolahnya.

“Ada apa?” tanya Joo Hyun begitu berhenti di samping Yoona. “Mengapa kau tak masuk? Orang tuaku ingin bertemu denganmu.”

Yoona meringis. “Tak usah, aku sudah bertemu dengan ayahmu di ruangannya kemarin. Kau siap?” ucap Yoona balas bertanya.

Joo Hyun mengangguk. Tadi Yoona mengiriminya pesan singkat, memberitahu kalau ia akan datang menjemput untuk berangkat ke sekolah. “Tapi di mana mobilmu?” tanyanya heran karena tak melihat mobil yang biasa Yoona gunakan ke sekolah.

“Sebentar lagi datang,” jawab Yoona sambil menampakkan senyumnya. “Itu dia.” Yoona menunjuk sebuah taksi berwarna kuning yang melaju mendekati mereka. Taksi itu berhenti di depan keduanya. Yoona telah mengusir sopir pribadinya dan menelepon taksi untuk menjemput mereka.

“Taksi?” tanya Joo Hyun heran.

“Kajja,” Yoona menarik lengan Joo Hyun masuk ke dalam taksi. “Bawa kami ke terminal bus, Ahjussi,” katanya pada supir taksi.

“Mwo? Apa yang akan kau lakukan di terminal bus? Kita harus ke sekolah,” protes Joo Hyun. Kesibukannya memakai sabuk pengaman terhenti karena kaget.

Taksi mulai berjalan memasuki jalan raya, berjalan dengan kecepatan sedang melintasi jalanan pagi. Yoona melakukan hal yang sama seperti Joo Hyun, namun ia terlihat santai. “Kita tidak akan ke sekolah.”

Sekali lagi Joo Hyun berseru kaget, “Apa maksudmu? Kau mau bolos lagi? Tak cukup sendiri hingga mengajakku membolos?”

Yoona berdecak mendengar ocehan Joo Hyun yang ketakutan. “Tenang saja, kau hanya satu kali membolos. Ayahmu tak akan memanggil dirinya sendiri lalu memarahinya karena putrinya membolos. Anggap saja kau sedang membalas kebaikanku dulu saat kau tersesat di New York.”

“Ya! Ahjussi, putar balik dan pergi ke Hyundai.”

“Ahjussi, terus saja ke terminal bus.”

Si sopir tampak bingung mendengar dua perintah yang bertolak belakang. “Jadi sebenarnya ke mana aku harus pergi?”

“Terminal bus,” Yoona menjawab mendahului Joo Hyun. “Aku yang memanggil dan membayar Ahjussi, jadi Ahjussi ikuti saja perintahku. Jangan dengarkan gadis jelek ini.”

Joo Hyun cemberut sambil melipat kedua tangannya di dada. Ia diam, sebagai bentuk protes dan kemarahannya pada Yoona. Pandangannya beralih pada jalanan yang mereka lewati, tak mau menatap Yoona meski beberapa kali gadis itu menyenggolnya mengajak bicara.

“Ya! Kau marah?” tanya Yoona hati-hati. Jemarinya mencolek-colek lengan Joo Hyun. “Kau hanya membolos satu kali untuk membantuku, tak akan ada masalah,” bujuk Yoona. Sepertinya nasihat Seo Yoon Jae tak pernah benar-benar sampai ke telinganya.

Joo Hyun mendengus. “Membantu apa? Appa akan tahu dan menghukumku. Kau mau tanggung jawab kalau itu terjadi?” katanya ketus, masih tak mau mendengar bujukan Yoona.

“Aku akan tanggung jawab, tenang saja,” sahut Yoona menyanggupi. “Selain kau aku tak punya teman lagi. Pada siapa lagi aku akan meminta bantuan kalau bukan kau?”

Mata Joo Hyun sedikit melirik pada Yoona yang kini bersandar lesu di jok taksi. Sedikit menyesali perkataannya pada Yoona tadi. Bukankah sejak awal dia memang berniat menjadi teman yang baik untuk Yoona? Tapi bukankah teman harus saling mengingatkan kalau ada satu yang berbuat salah? Joo Hyun sibuk dengan pikirannya sendiri. Namun akhirnya ia menyerah setelah melihat wajah Yoona yang tampak semakin tirus. “Memangnya kita mau ke mana?” katanya pelan.

Yoona menegakkan tubuhnya, menampilkan senyum manis saat menyadari Joo Hyun tak marah lagi. “Sokcho,” jawabnya.

“Sokcho? Provinsi Gangwon?”

“Eoh.” Yoona mengangguk mengiyakan.

Joo Hyun berpikir sejenak di tengah keterkejutannya. Gunung Seorak ada di dekat Sokcho. Mungkinkah Yoona berencana mengunjungi makam ibunya? “Lalu kenapa aku harus ikut?”

“Karena aku tak berani naik bus sendiri.”

Mata Joo Hyun menatap Yoona yang kembali bersandar lekat-lekat. Ia tak berani menebak isi kepala gadis itu. Ada banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Yoona. Walau ingin membantu, Joo Hyun benar-benar bingung harus melakukan apa. Ia mendesah pasrah. Semoga membolos seperti ini bisa dikatakan membantu, harapnya.

***

 

Dengan kakinya yang panjang Siwon memasuki gerbang Hyundai seorang diri. Leeteuk tak masuk, membuatnya kembali naik bus untuk sampai di sekolah. Tangan kanannya yang ia masukkan ke saku celana merasakan getaran yang berasal dari ponselnya. Sebuah pesan singkat masuk. Dari Yoona.

‘Oppa

Apa kau ingat saat kita mengunjungi ibu kandungku? Aku merasa sangat damai di sana, entah karena apa. Mungkinkah karena ada ibuku di sana? Mungkin saja. Lalu apa yang Oppa rasakan waktu itu? Mungkinkah Oppa juga merasakan hal yang sama denganku? Kuharap begitu.’

Kening Siwon berkerut, belum sepenuhnya mengerti maksud pesan Yoona untuknya. Kakinya berhenti melangkah. Pikirannya berusaha menggali ingatan saat ia dan Yoona berada di kuil itu. Yoona benar. Waktu itu ia merasa sangat tenang, nyaman, dan begitu damai. Tapi apa maksud Yoona mengirimi pesan itu? Siwon hanya tersenyum singkat dan memasukkan ponselnya ke dalam saku, berpikir kalau Yoona sedang merindukan ibu kandungnya. Kakinya kembali melangkah menuju gedung sekolah.

Di depan gedung, Siwon melihat Donghae sedang berdiri di dekat pilar beton putih yang menyangga atap. Donghae yang sedang menelepon seseorang sedikit melirik Siwon saat berjalan melewatinya. Siwon sendiri diam tak menghiraukan keberadaan Donghae di dekatnya.

“Kau pergi bersama Yoona? Naik bus?” seru Donghae.

Langkah Siwon terhenti saat mendengar Donghae menyebut nama Yoona. Walau berusaha untuk tak peduli, Siwon masih belum bisa mengeluarkan Yoona dari kepalanya. Kakinya masih tak mau melangkah, membeku di tempat dan berusaha mencuri dengar pembicaraan Donghae. Siwon tak tahu dengan siapa anak itu berbicara, bahkan cenderung tak peduli. Ia hanya ingin tahu ke mana Yoona pergi dengan bus.

Donghae yang sengaja menelepon Joo Hyun karena tak juga menemukannya di sekolah tersenyum simpul melihat Siwon melewatinya. Dua tahun lebih saling mengenal‒dan berada di kelas yang sama‒cukup membuatnya memahami sifat Siwon. Jelas Siwon tak tahu-menahu soal kepergian Yoona, hingga ia terkejut dan membeku di tempatnya. Dengan sengaja Donghae mengeraskan suaranya, memastikan Siwon bisa mendengar apa yang ia katakan.

“Sokcho? Apa yang akan kalian lakukan di sana?” serunya lagi. Donghae tahu ini akan membuat Siwon kesal. Dan ia akan dengan senang hati melakukannya. “Kau harusnya bilang padaku. Aku bisa mengantar kalian.” Dengan senyum puas ia berjalan melewati Siwon, pura-pura tak melihat dan terus bicara seakan-akan ia tahu segalanya.

Siwon mendesah geram melihat tingkah Donghae yang kekanakan. Tapi ia sedang tak ingin mempermasalahkan itu. Kepergian Yoona ke Sokcho jauh lebih menarik perhatiannya. Apa yang ada di pikiran gadis itu hingga lagi-lagi membolos? Dan untuk apa ia pergi ke Sokcho?

Lagi-lagi langkah Siwon terhenti saat ia teringat informasi yang ia dapat semalam. Sokcho, ibu, pesan dari Yoona, kuil, Gunung Seorak. Siwon tersentak. Ada yang baru ia sadari. Yoona mungkin tahu sesuatu hingga ia jauh-jauh pergi ke Sokcho. Siwon mengerang singkat sebelum bergegas mengejar Donghae yang berjalan di depannya.

“Lee Donghae,” panggilnya sambil meraih bahu kanan Donghae.

Donghae berbalik dan menangkis tangan Siwon agar menyingkir dari bahunya. “Jangan sentuh aku.”

Siwon tak peduli. “Yoona benar-benar pergi ke Sokcho?” tanyanya langsung.

“Apa urusanmu kalau dia pergi? Kau bukan siapa-siapanya,” desis Donghae disertai senyum sinis.

“Melihatmu seperti ini membuatku berpikir itu benar. Gomawo.” Siwon hanya butuh kepastian. Yoona telah mengetahui semuanya, dan ia pergi ke Sokcho, atau lebih tepatnya kuil kecil di kaki gunung itu.

Kaki Siwon mulai berlari keluar gedung sekolah. Bagaimanapun caranya, ia harus pergi ke tempat Yoona berada. Sokcho atau di manapun itu. Yoona tahu sesuatu tentang ibunya.

Kedua alis Donghae terangkat melihat kepergian Siwon yang terburu-buru. Ia sama sekali tak punya gagasan tentang Sokcho atau apapun itu. Dia mau menyusul Yoona? sebuah ide melintas di benak Donghae. “Yang benar saja,” keluhnya. Kakinya berbalik, mulai meneruskan langkahnya ke kelas. Namun baru dua langkah ia kembali berbalik dan cepat-cepat mengejar Siwon. “Kenapa dia selalu tahu segalanya?” gerutunya kesal. Tentu saja ia juga penasaran pada alasan kepergian Yoona dan Joo Hyun ke Sokcho. Dan ia tak terima harus berdiam diri membiarkan Siwon dan Yoona akan bertemu di suatu tempat yang jauh dari Seoul.

Donghae baru melihat keberadaan Siwon saat ia sampai di trotoar tepi jalan raya. Berjarak lima belas meter darinya, Siwon tengah berdiri menunggu taksi. Sebuah senyum puas muncul di wajahnya karena Siwon tak juga mendapat taksi. Setelah mengatur napasnya yang terengah akibat berlari, Donghae berjalan mendekati Siwon sambil tetap memasang senyuman.

“Sedang apa kau di sini? Kupikir kau akan ke Sokcho,” ejeknya puas.

Kenapa anak ini selalu muncul di depanku? keluh Siwon dalam hati. “Aku benar-benar sedang tak ingin berdebat denganmu. Pergilah,” usir Siwon tanpa menatap Donghae. Pandangannya masih terfokus pada jalanan, berharap taksi yang ia tunggu akan segera datang.

“Dengan mobil kurasa lebih cepat.” Donghae mengangkat kunci mobilnya, memamerkannya di depan wajah. “Beruntung sekali aku memiliki ini.”

Kepala Siwon menoleh, mendapati Donghae yang pamer kunci dan senyumnya. Baginya itu terdengar sebagai sebuah tawaran. Ia tahu, Donghae tak akan pernah dengan gamblang mengatakan ‘Ayo pergi bersamaku’ seperti Yoona dan memilih cara seperti ini. Tapi saat ini, Siwon tak terlalu ambil pusing. Yang terpenting adalah ia bisa segera menyusul Yoona.

Dengan gerakan cepat Siwon merebut kunci mobil Donghae dari tangannya. “Biar aku yang menyetir.”

***

 

Setelah hampir tiga jam perjalanan‒nyaris sepanjang perjalanan Yoona tertidur‒Yoona dan Joo Hyun turun dari taksi yang membawa mereka dari terminal Sokcho ke kuil kecil di Gunung Seorak. Tempat itu masih sepi, seperti saat terakhir kali Yoona ke sana. Tak ada pengunjung yang sekedar berdoa atau turis yang berwisata. Yoona baru menyadarinya. Hanya ada beberapa biksu yang ‘dipekerjakan’ ayahnya untuk merawat makam ibunya, dan mungkin merawat orang lain.

Mereka memasuki pelataran kuil yang dipenuhi tanaman bunga dan beberapa pohon besar di sudutnya. Kuil itu terdiri dari tiga bangunan. Satu di depan, yang merupakan tempat sembahyang, dan dua lagi di belakangnya, menghadap langsung pada tanah lapang yang berbatasan dengan hutan kaki Gunung Seorak.

“Sebenarnya mau apa kita kemari?” tanya Joo Hyun yang sejak tadi telah menahan rasa penasarannya. Yang ia tahu, Yoona dan keluarganya pergi ke gereja, bukan ke kuil. Sepanjang perjalanan Yoona terus-terusan tidur dan tak mau bicara padanya. Bahkan ia baru tahu tujuan mereka saat taksi berhenti di depan kuil, hingga hanya memberikan jawaban Sokcho saat Donghae bertanya ke mana mereka pergi.

Yoona menoleh pada Joo Hyun yang berjalan di sampingnya, menimbang sebaiknya apa yang harus ia katakan. “Makam ibu kandungku ada di sini,” jawabnya ragu.

“Jinja?” Pandangan Joo Hyun menyapu sekelilingnya. Ayahnya hanya bilang bibinya dimakamkan di Gunung Seorak, tempat favoritnya, dan tak pernah mengatakan tempat itu adalah sebuah kuil. “Kau ingin mengunjunginya?”

Mereka telah melewati bangunan pertama, yang di dalamnya ada beberapa biksu tengah sembahyang. Dua bangunan di belakangnya telah terlihat, berdiri berjejer dan dipisahkan oleh gang sempit yang penuh dengan gentong air. Bangunan yang paling dekat dengan mereka tampaknya berfungsi sebagai dapur. Tak ada siapapun di sana. Yoona hanya melihat dua orang pria berbaju hitam-hitam yang berdiri di bagian ujung bangunan satunya, yang paling mungkin dijadikan tempat menahan Han Hye Won.

Yoona cepat-cepat menarik Joo Hyun pergi dari sana dan bersembunyi di belakang dapur sebelum ada yang melihat kedatangan mereka. Ia tak ingin mengambil resiko ayahnya tahu ia datang ke kuil jika dua orang berbaju hitam itu menangkap mereka.

“Mengapa kita sembunyi?” protes Joo Hyun saat Yoona membawanya berjongkok di balik tumpukan kayu bakar di belakang dapur.

“Diamlah,” kata Yoona berbisik. Ia datang tanpa persiapan. Hanya mengajak Joo Hyun untuk menemaninya naik bus dan tak berpikir tentang apa yang akan ia lakukan setelah sampai. Yang ada di pikirannya hanya datang ke kuil dan memastikan keberadaan Hye Won. Tak pernah terlintas di benak Yoona akan menemui dua penjaga di kuil, karena ia tak pernah melihat sebelumnya. Tentu saja, ayahnya tidak akan ceroboh seperti dirinya, membiarkan Han Hye Won sendiri tanpa pengawalan. “Aku sedang berpikir,” imbuhnya, masih tetap berbisik takut perkataannya terdengar sampai ujung bangunan.

Joo Hyun menatap Yoona cemberut. Entah apa yang ada di kepala Yoona hingga melakukan hal-hal aneh seperti ini. “Tentang apa sebenarnya semua ini?”

Tak ada jawaban keluar dari mulut Yoona. Gadis itu masih sibuk berpikir. “Joo Hyun-ah, aku akan pergi sebentar. Kau tetap di sini dan mengawasi dua pria di depan bangunan itu. Kalau mereka masuk ke ruangan atau pergi memeriksa tempat ini, kau harus cepat-cepat memberitahuku. Dan jangan sampai mereka mengetahui keberadaanmu. Mengerti?”

“Aku tidak mengerti,” sergah Joo Hyun kesal. “Mengapa kau menyuruhku sesuka hatimu dan tak menjawab pertanyaanku?”

Yoona mendesah. “Tak ada waktu untuk menjelaskan sekarang. Nanti saja. Sekarang kau cepat ke samping dapur untuk mengawasi kedua pria itu.” Tangan Yoona mendorong Joo Hyun pergi dari sana sebelum ia juga beranjak.

Dengan kesal Joo Hyun menuruti perintah Yoona. Ia berjingkat, walau sebenarnya tak perlu, ke samping dapur. Memposisikan tubuhnya agar bisa mengawasi gerak-gerik kedua pria itu tanpa terlihat.

Sementara itu, Yoona berlari kecil menyusuri setapak di belakang dapur menuju bangunan satunya. Hampir semua jendela bangunan itu tertutup rapat. Saat sampai di depan jendela yang paling ujung, Yoona berhenti. Jendela itu juga terkunci rapat seperti yang lain. Yoona merapatkan diri ke dinding kayu bangunan itu, memberanikan diri mengetuk jendelanya beberapa kali.

Jantung Yoona mulai berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya. Telinganya ia tempelkan ke dinding, berharap bisa mendengar sesuatu dari dalam sana. Namun setelah beberapa saat menunggu, tak terdengar apapun dari dalam. Sekali lagi Yoona mengetuk jendela itu.

Di dalam ruangan, Han Hye Won yang sedang berbaring berusaha menegakkan badannya setelah mendengar ketukan kedua Yoona di jendelanya. Matanya menyapu ruangan kecil itu, memastikan tak ada yang mencurigakan di sana. Namun saat hendak berbaring kembali, ketukan itu terdengar lagi. Ia memutuskan untuk bangun dan memeriksa ke jendela. Lagi-lagi ketukan itu terdengar, kali ini agak keras. Dengan langkah perlahan ia pergi ke jendela yang menjadi sumber suara ketukan itu.

Sudah beberapa kali Yoona mengetuk, tapi tak ada balasan dari dalam ruangan. Ia hampir menyerah saat akhirnya terdengar suara orang membuka jendela dari dalam. Yoona menahan napas, bersiap untuk segala kemungkinan. Bahwa mungkin ia akan menemukan Han Hye Won, atau orang lain yang akan membuatnya dalam masalah. Yoona mundur dua langkah, menghindarkan diri dari benturan dengan daun jendela yang terbuka.

Seberkas cahaya menerobos masuk ke dalam ruangan saat Han Hye Won berhasil membuka jendela. Matanya menyipit, sedikit kaget karena perubahan penerangan yang tiba-tiba. Kamar yang ia tempati memang remang-remang, karena satu-satunya jendela hampir selalu tertutup. Saat matanya mulai terbiasa dengan cahaya terang dari luar, Hye Won dapat melihat sosok yang membuatnya terbangun, yang telah membuat suara ketukan misterius di dinding kamarnya.

“Kau?” bisiknya tak percaya.

***

 

Mobil Donghae melaju dengan kecepatan di atas rata-rata di jalanan, menyalip setiap mobil lain yang ada di depannya. Ini sudah kali keempat Donghae melirik ke speedometer, memeriksa seberapa cepat Siwon melajukan mobil kesayangannya. Ia mendesah khawatir. Bukan karena takut dengan kecepatan, toh ia sudah terbiasa balapan di jalanan, tapi karena ia tak percaya pada kemampuan menyetir Siwon. Cengkeramannya di sabuk pengaman yang melingkari tubuhnya mengerat seiring dengan semakin sering Siwon melakukan aksi salip-menyalip dengan mobil-mobil di depan mereka. “Sebenarnya apa yang terjadi sampai harus terburu-buru seperti ini?”

Siwon menatap lurus ke depan, berusaha memusatkan konsentrasinya pada jalanan yang mereka lewati walau pada kenyataannya ia justru sibuk membuat dugaan-dugaan. Ada seorang bernama Han Hye Won yang tinggal di Sokcho menurut data rumah sakit, Yoona pergi ke Sokcho, dan pesan aneh yang ia dapat dari gadis itu pagi ini. Kalau pesan itu diartikan‒menurut Siwon‒ Yoona merasa tenang dan damai di kuil itu, karena ada ibunya di sana. Dan mengapa ia berharap hal itu juga terjadi pada Siwon? Karena mungkin ibu Siwon juga ada di sana, dan Yoona tahu itu.

“Ya! Jangan membuat mobilku masuk bengkel begitu kita sampai nanti,” seru Donghae.

Mata Siwon melirik Donghae sekilas. Senyum samar tergambar di wajahnya. “Mengapa kau memberiku tumpangan?” katanya datar.

“Mengapa apa? Kau pikir di mana lagi aku bisa mendapat supir gratis? Dengan begini aku bisa bersantai sepanjang perjalanan.” Jawaban khas Donghae, antara lidah dan kata hati yang tak sama.

Senyum Siwon semakin terlihat jelas. “Kurasa kau justru sangat tegang sekarang, bukannya bersantai seperti apa yang kau bilang,” sindirnya.

Donghae, yang tanpa sadar sejak tadi berpegangan erat pada handle di atas pintu, segera membenarkan posisinya. “Aku hanya takut kau menabrakkan mobilku. Kurasa kau harus menunggu uang ayahmu kembali jika harus ganti rugi kalau itu terjadi.”

Siwon tertawa singkat. Sikap sarkas Donghae padanya tadi hanya untuk menutupi rasa malunya, Siwon menyadari itu sepenuhnya. Donghae terlalu gengsi untuk menawarkan bantuan padanya, hingga bersikap menyebalkan seperti biasa. “Apapun tujuanmu, aku berterima kasih untuk semua ini,” ucap Siwon tulus, mengabaikan pertikaian yang seringkali hadir di antara mereka.

“Mengapa kau berterima kasih?”

“Karena ini adalah hal yang penting untukku,” gumam Siwon.

“Kalau begitu kau bisa membayar untuk itu,” balas Donghae, walau sebenarnya di dalam hati ia tak merasa hal itu perlu. Tapi ia merasa cukup senang dengan ucapan Siwon padanya. Andai ia bisa melakukan hal itu juga, mungkin hubungan mereka akan jauh lebih baik. Sayangnya Donghae memilih bertindak seperti oposisi yang menentang, meski sebenarnya punya tujuan baik. “Aku akan menelepon Joo Hyun,” lanjutnya untuk menyudahi situasi saling berterima kasih dengan canggung dan penuh sentimen yang membuatnya kikuk..

***

 

“Ahjumma, ini benar-benar dirimu?” gumam Yoona tak percaya saat melihat wajah orang yang membuka jendela di depannya.

Han Hye Won sama terkejutnya dengan Yoona. Kedua telapak tangannya menangkup mulutnya, menahan teriakan terkejut yang hampir keluar dari sana. Napasnya memburu karena panik. Kepalanya sibuk menoleh ke kanan dan kiri, memeriksa adakah orang lain yang tahu keberadaan Yoona di sana. “Apa yang sedang kau lakukan?” bisiknya pada Yoona.

Gadis itu melangkah maju mendekati jendela. Ia harus mendongak untuk menatap Han Hye Won mengingat lantai bangunan dibuat setengah meter lebih tinggi dari tanah. Tangannya perlahan menyentuh jemari dingin Hye Won yang mencengkeram rangka jendela. “Ahjumma, gwenchanayo?” tanya Yoona lirih. Ada perasaan lega dalam dirinya setelah kulit mereka bersentuhan. Paling tidak, ia tahu ini nyata. Di depannya, ada orang yang telah lama menghilang dan ia telah menemukannya, bukan hanya sekedar halusinasi semata.

“Yoona? Kau kah itu?” balas Hye Won dengan seuara bergetar. Air mata haru mulai menggenangi matanya. Tangan kirinya balas menggenggam jemari Yoona. “Bagaimana bisa kau kemari? Ada yang melihatmu datang?”

Yoona menggeleng sambil berusaha tersenyum. Ia tahu kekhawatiran Hye Won jika mereka sampai ketahuan. “Ceritanya panjang. Tak ada yang melihatku datang, Ahjumma.” Dengan cekatan Yoona lalu memanjat jendela dan masuk ke ruangan itu. Ditutupnya kembali jendela yang tadi terbuka sebelum menarik Hye Won untuk duduk di tempat tidur.

“Kau bertemu putraku? Bagaimana keadaannya?” tanya Hye Won begitu mereka duduk. Kedua tangannya menggenggam milik Yoona erat, seakan takut Yoona hanya ilusinya dan bisa menghilang tiba-tiba. Setelah bertahun-tahun terkurung, dan hanya keluar untuk terapi dan pengobatan, Hye Won begitu gembira bisa melihat wajah orang dari masa lalunya.

Perasaan Yoona sendiri tak menentu. Ia senang bisa menemukan Han Ahjumma yang begitu Siwon sayangi. Namun di sisi lain, ini justru membuktikan semua dugaan buruk pada ayahnya memang benar. “Aku menemukan Siwon Oppa. Dia sangat merindukanmu, Ahjumma.”

Meski samar, Yoona dapat melihat Hye Won tersenyum bahagia mendengar nama Siwon. Jelas ia merasa lega karena putranya baik-baik saja, setelah semua ancaman yang selalu Tae San dengungkan. Itu saja sudah cukup baginya.

“Ahjumma, pergilah bersamaku. Siwon Oppa sangat mengkhawatirkanmu,” pinta Yoona. Hanya itu yang terlintas di pikirannya begitu melihat Hye Won.

Hye Won menggeleng menolak ajakan Yoona. “Tidak bisa. Ahjumma sedang dalam pengobatan, Yoona-ya.”

“Orang berobat di rumah sakit, bukan di ruangan gelap seperti ini,” sergah Yoona cepat. Ia menarik napas sebantar, menguatkan dirinya sebelum melontarkan pertanyaan yang benar-benar mengganggu pikirannya. “Apa karena Im Tae San? Apakah ayahku yang membuat Ahjumma terkurung seperti ini?”

Mata Hye Won membesar sesaat, tak menyangka Yoona telah mengetahui semuanya. “Kau sudah tahu?”

“Jadi itu benar?” desah Yoona tak percaya. Sebelum ini Yoona memaksa dirinya menyangkal semua tuduhan pada ayahnya. Sayangnya, satu-satunya orang yang ia kira bisa membuktikan ayahnya tak bersalah justru berkata sebaliknya. “Ayahku melakukan semua hal buruk ini?”

Hye Won hanya tersenyum getir menjawab pertanyaan Yoona. Tangannya naik, menghapus tetesan air mata gadis itu yang mengalir di pipinya.

“Kalau begitu Ahjumma harus ikut denganku. Aku akan membantu Ahjumma. Tidak akan ada yang terjadi kalau Ahjumma terus-terusan berada di sini,” kata Yoona terengah. Ia panik, juga takut. Tiba-tiba ayahnya berubah menjadi bayangan hitam yang sangat menakutkan, yang bisa melenyapkan apapun yang menghalangi tujuannya. Tubuhnya bergetar hebat, menahan isak dan amarah pada sang ayah yang begitu tega mengurung seorang ibu bertahun-tahun lamanya. “Ahjumma harus segera pergi dari sini sebelum ayahku melakukan hal yang jauh lebih buruk,” lanjutnya dengan suara bergetar.

Lagi-lagi Hye Won menolak. Dengan naluri keibuannya, ia mengelus punggung Yoona, menenangkan gadis yang tengah ketakutan itu. Pengalamannya selama bertahun-tahun dalam tahanan membuatnya bersahabat dengan rasa takut. “Kalau Ahjumma pergi dari sini, tak ada jaminan bagi Siwon untuk tetap hidup dan baik-baik saja seperti sekarang,” balas Hye Won sambil mengingat ancaman Tae San.

Yoona ingin berteriak menyangkal itu semua, tapi kenyataan memang tak sesuai harapannya. Bahkan ayahnya melakukan hal yang jauh lebih keji dari sekedar menipu. Ayahnya telah merampas kehidupan dan kebahagiaan orang lain, yang justru sangat Yoona sayangi.

“Yoona-ya, pergilah sekarang sebelum penjaga menemukan keberadaanmu,” saran Han Hye Won. Sekali lagi, jemarinya membelai pipi Yoona layaknya seorang ibu yang menyayanginya. Berusaha menguatkan gadis itu, yang jelas sangat terguncang setelah menyadari orang macam apa ayahnya itu. “Dan bisakah kau membantu Ahjumma sekali lagi?”

Pandangan Yoona yang sejak tadi terpaku pada lututnya perlahan naik menatap mata Hye Won. Ia mau saja mengorbankan dirinya untuk membayar semua perbuatan ayahnya pada keluarga Choi. Apapun itu. “Bahkan jika Ahjumma menyuruhku untuk terjun ke laut aku akan melakukannya.”

“Aniya, tentu saja bukan hal seperti itu,” kata Hye Won sambil tertawa. Di matanya Yoona tak banyak berubah. Tetap cantik dan penuh semangat, walau sekarang lebih banyak guratan sedih di tatapan matanya. “Katakan pada Siwon kalau Ahjumma baik-baik saja. Bilang padanya Ahjumma akan segera kembali. Dia hanya perlu menunggu sebentar lagi.”

Yoona ingin protes, karena lagi-lagi ia harus menjadi perantara bagi ibu dan anak itu. Jika saja bukan ayahnya yang menyebabkan semua ini, maka ia akan dengan senang hati melakukan permintaan Hye Won. Bahkan mungkin setelah ini, ia tak akan mampu menatap langsung ke mata Siwon. Terlalu malu dan tak bernyali karena ada darah Im Tae San yang mengalir di tubuhnya. Namun suara ketukan di pintu yang terdengar membuat Yoona meredam protesnya. Seketika ia membeku di tempat, tak berani membuat gerakan sekecil apapun.

“Nyonya, Anda harus minum obat. Saya akan masuk ke dalam,” kata seseorang dari luar.

“Ahjumma, ottoekeyo?” bisik Yoona panik. Ia berdiri, mencari tempat yang bisa ia gunakan untuk sembunyi. Keluar melalui jendela tak akan mungkin bisa, karena ia telah menguncinya tadi, yang jelas membutuhkan waktu cukup lama untuk membukanya kembali.

Hye Won ikut berdiri. Pandangannya jatuh pada sebuah lemari di sudut. “Masuk ke dalam sana!” perintahnya pada Yoona.

Jantung Yoona berdegup kencang saat memaksa tubuhnya masuk ke dalam lemari kayu di sudut ruangan. Lemari itu berisi pakaian Han Hye Won yang digantung. Yoona hanya bisa duduk meringkuk menekuk tubuhnya sekecil mungkin karena di sana ternyata cukup sempit.

Samar, Yoona mendengar pintu terbuka. Seseorang masuk, mengatakan kalau sudah saatnya bagi Hye Won untuk minum obat. Sisa pembicaraan tak terlalu Yoona perhatikan karena ia sibuk menetralkan detak jantungnya yang semakin bertalu kencang. Dalam hati Yoona memaki Joo Hyun yang tak memberinya peringatan kalau ada orang yang hendak masuk ke dalam ruangan ini.

Di samping bangunan dapur, Joo Hyun ternyata sedang sibuk menjawab pertanyaan Donghae lewat telepon. Ia baru saja hendak melapor pada Yoona kalau ada seorang wanita yang tampaknya mau masuk ke dalam ruangan. Tetapi tiba-tiba saja teleponnya bergetar, menampilkan nama Donghae di layarnya. “Sunbae, jangan menelepon lagi. Aku sedang sibuk,” katanya pelan, bahkan bisa dibilang hampir berbisik.

Donghae yang masih berada di jalan bersama Siwon mengangkat kedua alisnya mendengar Joo Hyun berbisik. “Kau sedang apa? Mengapa berbisik?”

“Teleponnya nanti saja,” bisiknya lagi tanpa menjawab pertanyaan Donghae. Joo Hyun yang tadi melihat seorang wanita berjalan mendekati ruangan berpenjaga itu berniat mengirimi Yoona pesan singkat. Sekali lagi ia mengintip dari balik dinding, memeriksa keadaan di depan ruangan di ujung itu. Kedua alis Joo Hyun terangkat heran. Kini wanita tadi telah menghilang dan hanya ada satu orang penjaga di sana.

“Apa yang kau lakukan di sini, gadis kecil?”

Tubuh Joo Hyun menegang. Dengan satu tangan yang masih berada di samping telinga untuk memegang ponsel, ia berbalik perlahan. Di depannya kini berdiri seorang pria berjambang dalam setelan hitam-hitam yang ia yakini sebagai pria yang tadi berjaga di depan kamar.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini kubilang?” ulang pria itu garang.

Hanya dengan melihat penampilannya, Joo Hyun sudah ketakutan. Ditambah saat ia melihat ke pinggang pria itu, di mana sebuah revolver terselip di sana. Ia hanya membeku di tempatnya, tak tahu harus berbuat apa. Yoona, kau di mana? jeritnya dalam hati.

“Joo Hyun, kau masih di sana?”

Suara Donghae menyadarkan Joo Hyun dari ketakutannya. Ia buru-buru menurunkan tangannya dari samping telinga tanpa memutus sambungan telepon. “Aku tak melakukan apa-apa,” jawabnya keras, sengaja agar Donghae bisa mendengar percakapan mereka.

Pria itu terkekeh. “Anak sekolah sepertimu selalu saja membuat ulah,” keluhnya. “Ayo ikut aku.” Dengan kasar pria itu menarik Joo Hyun pergi dari sana.

Sekuat tenaga Joo Hyun berusaha melepaskan tangannya dari genggaman pria itu, walau jelas sia-sia. “Lepaskan aku! Aku tak berbuat apa-apa,” teriaknya takut. Tangannya yang bebas memukul-mukul lengan pria itu, berharap dengan begitu pegangannya dapat melemah. “Lepaskan!” teriaknya lagi, namun sama sekali tak digubris pria itu.

“Ya! Apa yang terjadi denganmu?” Donghae mulai panik saat mendengar teriakan-teriakan Joo Hyun. Teriakan-teriakan itu semakin menjauh, karena ternyata Joo Hyun menjatuhkan ponselnya ke tanah. “Jawab aku! Di mana Yoona?”

Siwon melirik Donghae di sampingnya. Mobil sudah memasuki jalanan kecil yang menuju kuil. Salju tipis yang turun semalam membuat jalanan agak licin hingga Siwon tak berani menambah kecepatannya. “Apa yang terjadi?”

Sambungan ternyata sudah putus. Donghae berniat menghubungi Joo Hyun kembali, namun nomornya tak aktif. “Membuat orang panik saja,” umpatnya kesal. “Sebenarnya mereka ada di mana? Masih jauhkah tempat itu?”

“Ada sebuah kuil kecil di sekitar sini. Kurasa mungkin mereka ke sana.”

“Kau bilang mungkin? Jadi ini belum pasti?” sembur Donghae sebal. “Mereka mungkin sedang dalam bahaya dan kita masih belum tahu di mana pastinya keberadaan mereka?”

Kaki Siwon menginjak rem tiba-tiba, membuat suara decitan karena ban bergesek dengan jalanan. Pandangannya beralih pada Donghae yang menatapnya marah. “Kalau kau tahu keberadaan mereka lebih baik pergi saja sendiri,” balasnya tajam. “Paling tidak saat ini aku punya dugaan tentang keberadaan mereka.”

Donghae terkejut melihat Siwon tiba-tiba ikut marah. Sebenarnya tadi ia hanya sedang panik, hingga seenaknya melontarkan kata-kata yang bisa memancing emosi. Terlebih saat Siwon berusaha membuka sabuk pengamannya. Ia cepat-cepat menelan kekesalannya dan menahan anak itu. “Kau mau ke mana?”

Siwon mendengus. “Bukankah kau tak percaya padaku? Pergilah cari mereka sendiri.”

“Aku tadi hanya terlalu khawatir pada mereka. Aku bahkan tak tahu tempat ini. Kau mau meninggalkanku di sini?”

Sebuah senyum sinis muncul di bibir Siwon. “Kalau begitu berhentilah merengek seperti anak perempuan,” ucapnya sambil memasang sabuk pengaman kembali.

Donghae nyaris melayangkan tinjunya ke wajah Siwon. Untung saja ia masih bisa menahannya. Lagi-lagi mereka bertengkar, setelah selama dua jam mereka bisa bekerja sama dengan cukup baik. Ia mengalihkan pikirannya pada Joo Hyun dan Yoona, daripada harus terus mendebat semua kata-kata Siwon.

Mobil kembali melaju. Namun baru sekitar tiga puluh detik Siwon menginjak rem, membuat mobil berhenti lagi.

“Kenapa berhenti?” tanya Donghae heran.

“Sudah sampai,” jawab Siwon singkat sebelum keluar dari mobil.

Donghae mendesah tak percaya. “Pantas saja dia tak keberatan keluar dari mobil tadi karena tahu jaraknya hanya tinggal sedekat ini,” geramnya kesal sebelum cepat-cepat keluar mengikuti Siwon.

Ada kepuasan tersendiri yang Siwon rasakan setelah membodohi Donghae. Ia melangkah mendahului Donghae masuk ke pelataran kuil. Tak ada tanda-tanda keberadaan Yoona. Beberapa kali ia mencoba menghubungi ponsel gadis itu, tapi sama sekali tak dijawab.

“Sebenarnya apa yang sedang gadis ini lakukan?” gerutu Siwon kesal karena panggilannya justru dialihkan.

 

Yoona terus menajamkan pendengarannya sambil berharap pelayan itu cepat-cepat keluar. Ia tak berani bergerak, walau kakinya mulai terasa pegal dan kesemutan. Tiba-tiba terdengar suara hentakan sepatu di lantai kayu, diikuti suara berat seorang pria.

“Ahjumma, jangan terlalu lama di dalam. Kau juga harus membuat makanan untuk kami,” serunya. Pria itu ikut masuk, memastikan si pelayan tidak mengajak Han Hye Won bercerita seperti biasanya.

“Iya, Tuan. Aku hanya menanyakan apa Nyonya mau membersihkan diri,” sahut seorang wanita yang tadi membawa nampan berisi makanan. “Nyonya, biar saya ambilkan baju ganti untuk Nyonya,” tawarnya pada Hye Won. Ia lalu berjalan mendekati lemari tempat Yoona bersembunyi.

Han Hye Won yang sejak tadi sedang memikirkan cara untuk mengusir mereka memekik panik saat pelayan wanita itu hendak membuka pintu lemari. “Tidak! Tidak usah,” sergahnya, menyusul si pelayan dan menahan  tangannya untuk tak membuka pintu lemari.

Si penjaga dan pelayan wanita itu menatap Hye Won curiga. Sikapnya sangat terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

“Nyonya tak ingin mandi?”

“Apa yang kau sembunyikan?”

Kedua orang itu bergantian melontarkan pertanyaan pada Hye Won. Hye Won sendiri sebisa mungkin menghilangkan rasa gugupnya. Tak ada yang boleh tahu tentang keberadaan Yoona, terutama ayahnya sendiri. Gadis itu akan mendapat masalah besar jika Tae San tahu ia dan Yoona ternyata saling berhubungan.

“Aku hanya ingin beristirahat kembali. Tubuhku sedang tak enak, jadi sebaiknya kalian keluar sekarang,” ucapnya keras, setengah membentak untuk memberi tahu bahwa ia sedang tak ingin diganggu. “Kalian tak usah berpikiran macam-macam. Kau pikir apa yang bisa dilakukan oleh seorang wanita tua berpenyakit sepertiku di tempat seperti ini?”

Pelayan itu terkesiap. Han Hye Won, yang telah ia rawat selama beberapa tahun terakhir, selalu bersikap lembut. Agaknya ia mengerti lebih cepat dan berusaha menarik si penjaga agar mengikutinya keluar. “Maafkan kami, Nyonya. Kami hanya khawatir pada Anda. Bukankah Tuan memerintahkan kami untuk menjaga Anda sekuat tenaga? Kami hanya menjalankan tugas,” katanya takut.

Hye Won mengangguk. “Aku tahu. Tapi sekarang kumohon keluarlah. Aku ingin beristirahat,” balas Hye Won pelan.

Kedua orang itu keluar dan menutup pintu kembali. Setelah mendengar bunyi pintu yang dikunci dari luar, barulah Hye Won menarik napas lega. Ia cepat-cepat membuka lemari pakaiannya, memeriksa keadaan Yoona.

Kejadian itu hanya berlangsung beberapa menit, namun bagi Yoona terasa seperti berhari-hari. Jantungnya masih berpacu kencang saat Han Hye Won membukakan pintu untuknya.

“Hampir saja,” gumamnya lirih. Yoona keluar dibantu Han Hye Won. “Ahjumma, gwenchanayo?”

Hye Won mengangguk dan memeluk Yoona. Bibirnya terus berucap syukur pada Tuhan yang telah melindungi mereka dari bahaya. “Yoona, pergilah sekarang. Di sini terlalu berbahaya. Anak buah ayahmu terus berada di sini selama dua puluh empat jam. Ahjumma tak tahu apa yang akan ayahmu lakukan jika tahu kau ada di sini.”

“Aniyo,” Yoona melepas pelukannya. “Ahjumma harus ikut pergi denganku.”

“Tubuh Ahjumma masih lemah, Yoona-ya. Ahjumma hanya akan menjadi beban bagimu.”

“Tapi bagaimana jika Appa melakukan sesuatu pada Ahjumma?”

“Ayahmu tak akan melakukan hal yang lebih buruk dari ini. Percayalah.”

Yoona hampir menangis. Berat rasanya untuk pergi begitu saja meninggalkan Han Hye Won setelah bertemu dengannya. Meninggalkan satu-satunya orang yang memeperlakukannya seperti seorang ibu dalam bahaya.

“Ahjumma akan sangat berterima kasih padamu jika kau mau mendengarkan kata-kata Ahjumma,” lanjut Hye Won saat Yoona masih diam. Tangannya membelai rambut Yoona, meyakinkan gadis itu untuk segera pergi dari sana.

Dengan berat hati akhirnya Yoona mengangguk. Ia memeluk Hye Won. “Ahjumma, kumohon maafkan ayahku yang telah melakukan semua ini pada keluargamu,” isaknya pelan.

Hye Won tak menjawab. Yoona tahu, kediamannya itu berarti penolakan pada permohonannya tadi. Gadis itu hanya mencoba meminta pengampunan, walau tampaknya sia-sia.

Sebuah senyum pahit muncul di bibir Yoona. Ia bahkah tak berani menatap langsung ke mata Han Hye Won. “Maafkan aku karena meminta hal yang terlalu sulit, Ahjumma,” katanya sebelum pergi. Yoona berjalan ke jendela dan membukanya. Beberapa detik kemudian ia sudah berada di luar ruangan. Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, Yoona menoleh, melambaikan tangan pada Hye Won yang berdiri di belakang jendela.

Yoona berlari menyusuri setapak di belakang bangunan itu, berniat kembali ke tempat ia dan Joo Hyun tadi bersembunyi. Namun sayangnya saat ia sampai di samping dapur, Joo Hyun sama sekali tak kelihatan. Yoona mencoba menghubunginya lewat telepon, namun tak aktif.

 

Pergelangan tangan Joo Hyun mulai terasa sakit karena pria itu menariknya dengan cukup keras. Tenggorokannya sudah hampir putus karena berteriak protes pada penculiknya. Pria itu membawa paksa Joo Hyun melintasi tanah lapang di belakang kuil menuju ke hutan. Pikiran-pikiran buruk mulai menghantui Joo Hyun  Dengan menggunakan revolvernya, pria itu akan menembak Joo Hyun dan membuang mayatnya di hutan.

Andwe, pikir Joo Hyun. Ia tak mau hidupnya hanya berakhir seperti itu.

“Ahjussi, aku tak melakukan apa-apa. Tolong lepaskan aku,” pintanya putus asa.

Pria itu terkekeh. “Kau pikir aku tak tahu tingkah anak-anak sekolah seusiamu? Tukang mengacau dan pencuri makanan! Huh! Aku tak akan membiarkanmu mencuri di tempat suci seperti ini. Cih!”

“Mwo? Mencuri? Yang benar saja,” sangkal Joo Hyun segera. Keluarganya cukup kaya dan jelas mampu menghidupinya dengan layak hingga ia tak perlu mencuri apapun.

“Kalau kau tak berniat mencuri lalu apa tujuanmu mengendap-endap di kuil, hah?”

“Aku bukan pencuri,” pekik Joo Hyun kesal. Ia mengumpulkan seluruh tenaga dan keberaniannya. Digigitnya tangan pria itu, yang tengah memegangi tangannya.

“Aahh,” teriak pria itu, tanpa sadar melepaskan pegangannya di tangan Joo Hyun.

Memanfaatkan kelengahan pria itu, Jo Hyun menendang bagian vital si pria sebelum berlari kembali ke arah kuil. Sontak penjaga itu membungkuk dan mengaduh kesakitan, memberi waktu pada Joo Hyun untuk lari darinya. Joo Hyun sendiri tak berani menoleh ke belakang. Dengan sisa-sisa tenaganya ia berlari kembali ke kuil.

“Yoona!” teriaknya saat melihat Yoona berdiri di samping dapur.

Yoona yang sedang berusaha menghubungi Joo Hyun menoleh mendengar namanya dipanggil. Ia tersenyum lega melihat Joo Hyun. Namun detik berikutnya kedua alisnya terangkat saat melihat seorang pria berlari agak jauh di belakang gadis itu.

“Yoona, ayo pergi dari tempat ini,” kata Joo Hyun terengah. Ia sibuk mengatur napas, berpegangan pada Yoona untuk menjaga keseimbangannya. Matanya menangkap sebuah benda yang tak asing di tanah. Ponselnya yang terjatuh. Joo Hyun cepat-cepat mengambilnya.

“Geundae mengapa kau lari-lari seperti itu?”

“Penjaga itu… dia…”

Pandangan Yoona menerawang melewati bahu Joo Hyun. Di tengah tanah lapang itu, seorang pria berbaju hitam sedang berlari ke arah mereka.

“Kau ketahuan?” sergah Yoona.

Joo Hyun mengangguk pasrah.

“Ayo pergi,” tangan Yoona refleks menarik Joo Hyun yang masih kelelahan untuk segera pergi dari sana. Rasa panik mulai menghampirinya. Tak ada taksi yang lewat di sekitar kuil. Jika mereka harus berlari untuk menghindari kejaran penjaga itu, Yoona tak yakin bisa lolos. Tapi tak ada jalan lain. Lebih baik segera pergi dibanding harus menunggu seseorang menengkap mereka. Namun langkahnya terhenti karena seseorang telah menghadang mereka.

Ternyata pria yang membawa Joo Hyun tadi telah melaporkannya pada rekannya yang lain yang kini menghalangi jalan Yoona.

“Ini bukan tempat untuk pengacau kecil seperti kalian,” ucapnya ketus.

Yoona terhenyak. Tangannya berusaha naik ke dada untuk menutupi name tag yang terpasang di seragamnya. Jangan sampai penjaga ini tahu siapa dirinya. Ia boleh menyebut Yoona pengacau atau apapun, selama ia tak menyadari siapa sebenarnya gadis yang sedang dihadapinya sekarang.

“Sudah kubilang jangan main-main di sini,” sambung penjaga lain yang kini sudah sampai di belakang mereka. “Kau tahu apa akibatnya jika bermain-main bersama kami?”

Matilah aku, pikir Yoona. Genggaman tangannya dan Joo Hyun mengerat. Mereka sama-sama takut. Terlebih Joo Hyun yang sama sekali tak mengerti masalahnya. Yoona dan Joo Hyun mundur saat kedua penjaga itu berjalan mengikis jarak di antara mereka. Drap. Punggung keduanya menabrak dinding dapur. Tak ada jalan keluar lagi.

Yoona menahan napasnya, sambil terus berdoa semoga ada keajaiban datang menghampiri mereka. Dua pria itu semakin dekat, menatap mereka penuh ancaman dan intimidasi.

“Ya! Kalian tidak malu berhadapan dua gadis lemah seperti mereka?”

Suara teriakan dari jalan masuk kuil mengalihkan perhatian keempat orang itu. Kedua penjaga membalikkan badan mereka menghadapi pemilik suara lantang yang terdengar sangat sombong.

“Kami-lah lawan yang sepadan untuk kalian,” imbuh yang lain.

Yoona dan Joo Hyun juga sama terkejutnya dengan kedua penjaga itu. Mereka ikut memandang ke asal suara tadi, mendapati dua orang anak laki-laki yang juga berseragam Hyundai.

“Oppa!”

“Sunbae!”

 

-TBC-

 

Ini adalah part terpanjang dari semua part yang udah publish. Huaahhh… sebenernya ini bukan dua part yang digabung jadi 1. Memang ini 1 part, cuma ternyata jadinya memang panjang. Dan mungkin di sini jarang ada yoonwon momentnya, karena memang saya fokus di penyelesaian konflik.

Gimana? Gimana? Gimana? Mungkin readers bosen yah dengan part ini. mungkin ini part yang paling membosankan dari semuanya. Tapi mau gimana lagi, emang harus begini. Nah, sedikit bocoran untuk part depan, Yoonwon momentnya bakal mulai muncul lagi kkkk.

Udah ah, ngga usah banyak omong. Saya mengharap banget komentar kalian sebagai saran kritik pesan atau apapun itu untuk ff yang makin ngga jelas ini. walaopun ff ini jelek, paling ngga hargain usaha saya buat ngetik malem-malem dan menyelesaikan ff ini yaa…hehehehe

Oiya, untuk part terakhir positif bakal saya protek. Saya bukan orang pelit kok. Kalo kalian sms ato email saya minta pw dengan menyebutkan id komen kalian pasti saya kasih pwnya. Cuma saya emang ngga kasih sama yang ngga nyebutin id alias siders. Jadi maaf aja ya. So please don’t be silent readers!

Buat admin Ywk yang cantiikkk,, echa dan resty, makasih udah posting.. selalu merepotkan. *bighug

Tinggalkan komentar

269 Komentar

  1. JuHyunLova

     /  Juli 26, 2014

    Wah daebak sumpah

    Balas
  2. Yey. Akhirnya part 10 keluar juga, walau aku telat bacanya. Aku seneng kok kalau part-nya panjang kayak gini.

    Di part ini bener-bener membuat perasaan campur aduk. Kadang berkaca-kaca, tegang, kesal, pokoknya campur aduk. Dan ya romance-nya Yoonwon emang kurang. Tapi part depan dijanji banyak. Assik.

    Yoona ketemu ama Han Hyewon. Apa nanti Siwon juga bakal ketemu ama ibunya. Aku berharap iya. Semoga aja masalah keluarga mereka bisa cepet kelar.

    Ditunggu ya part selanjutnya. Semoga cepet dipost. Keep writing.

    Balas
  3. adu ni ff ni bner2 kren bgt pnsrn endng hub yoonwon sm hub kluarga msing2.

    Balas
  4. Evi

     /  Juli 29, 2014

    Seru dan bikin deg degan

    Balas
  5. prettiiqq

     /  Juli 30, 2014

    waw panjangnya…. tapi seru, kyknya donghae udah ada feeling nih ama joo hyun. dan semoga im tae san bisa segera sadar sama semua kesalahannya.

    Balas
  6. liz_yw

     /  Agustus 1, 2014

    Panjang bgt jadi puass bacanya.. Satu persatu konflik udah terbongkar, tinggal tunggu kelanjutan kisah cinta yoonwon aja kkk.. Next chapter ditunggu😉

    Balas
  7. Mia

     /  Agustus 1, 2014

    Ku mohon lanjutkan pliss klo’ bisa secepat xa ku mohon.ni sgt menegang kan aku sngt suka suasana seperti ni

    Balas
  8. hilda_achi csw

     /  Agustus 2, 2014

    sang pahlawan telah tiba

    Balas
  9. Jessica Epalina

     /  Agustus 3, 2014

    Semoga siwon oppa & donghae oppa bisa menyelamatkan yoona dan joo hyun deh 😊

    Balas
  10. dienda

     /  Agustus 5, 2014

    wuuaahh serruuu

    Balas
  11. aduhh daebak dahh^^

    Balas
  12. andreyani

     /  Agustus 6, 2014

    mereka ketahuan,,,siwon sama donghae udah agk akur nih.

    Balas
  13. Atikah YoonWonited

     /  Agustus 9, 2014

    kya tegang bnget bacanya untung yoonhyun gk knapa knapa syukur dech sihae dah datang tpi bgimana kalo tn.im tau kalo anaknya itu dah tau smuanya n mncoba mmbbaskn ibunya wonppa mkin seru next

    Balas
  14. sone

     /  Agustus 16, 2014

    Ceritanya seru bgt. Misteri mulai terkuak nih. Yoonwon cepet bersatu ya. Daebakk thor…

    Balas
  15. Di baca lgi enak bgt Author gk bosen2 saya bacanya,
    ceritanya kapan lg ni di lanjuti author. Sumpah ni FF daebak bgt
    kata2nya sangat rapi bgt, sampai tersentuh saya bacanya

    Balas
  16. Unhibitedly

     /  September 3, 2014

    jadi ibu tirinya yoona memanfaatkan yoona sebagai alat buat balas dendam yaa >< akhirnya yoona bisa kembali bertemu dengan ibunya siwon dan dia kembali menjadi perantara bagi hubungan siwon dengan ibunya,,, makin penasaran ma kelanjutannya,, ditunggu next partnya segera😀

    Balas
  17. lilylolylove

     /  September 16, 2014

    lucu yoona sama donghae😉 mudah mudahan aja masalahnya cepet selesai .. aminn .. mudah mudahan yoona sama siwon bisa bersatu kembali .. ditunggu kelanjutannya .. nextt thor

    Balas
  18. Meskipun aku baca lg tapi lama2 aku merasa sedang menghayati drama, sumpah ni FF benar2 daebak. Klo bisa di akhir ceritanya mereka semua bersatu,
    ayo author kpn lg di publish
    sumpah FF mu benar2 keren bgt
    cocoknya ni FF di bikin drama aja
    klo di jadikan novel cocok bgt ni

    Balas
  19. ekaindahfitriani

     /  Oktober 14, 2014

    keren,,,deg2an bacanya

    yoona udah ketemu ma ibu nya siwon,pa siwon ntar ktemu ma ibunya ??? penasaran
    yoonwon moment nya bnyakin ya thor

    Balas
  20. Ini part buat aku tgang tpi syukurlah akhirnya yoona bertmu dg eomma siwon smoga kluarga siwon cpat kmbali brkumpul dan YW jga cpat brsatu kshan sma mreka hrus trsiksa dg msalah ke 2 orang tuanya,,aku dh deg2 an untung sihae cpet dtang!!

    Balas
  21. Ini part buat aku tgang tpi syukurlah akhirnya yoona bertmu dg eomma siwon smoga kluarga siwon cpat kmbali brkumpul dan YW jga cpat brsatu kshan sma mreka hrus trsiksa dg msalah ke 2 orang tuanya,,aku dh deg2 an untung sihae cpet dtang!!makin seru ceritanya

    Balas
  22. Wahh benar-benar long long long(?) story :))
    Part ini dikiiittt bangett moment Yoonwon nya😦 .
    Daebak eon ceritanya, kapan Ny. Choi bertemu dengan Siwon? Dan kapan Im Tae San dan Ny. Im sadar? T.T
    Penasaran kelanjutannya eon, cepet di publish ya ^^
    Fighting!

    Balas
  23. Part di sini panjang juga ya tapi puas bacanya, ntah kenapa aku suka bgt cerita ttg anak sekolahan begini. Jadi ingat flim drama, ceritanya benar2 nyambung bgt saeng.

    Balas
  24. Novi

     /  Februari 9, 2015

    Daebak….
    Crtanya bener2 seruu…

    Balas
  25. Cha'chaicha

     /  Februari 10, 2015

    Wah menegangkan ni part, makin jelas konflik’y..

    Balas
  26. raratya19

     /  Oktober 18, 2015

    huaaaaa makin seru,, tapi apakah bisa siwon bertemu dengan ibunyyyyya? semoga aja

    Balas
  27. 😇😇😇😇😇😇😇😇😇😇😇😇😇😇😇😇😇suka banget deh..😍😍tapi bingung mau kemana tanya pw nya 😭😫

    Balas
  28. Almira Putri

     /  Januari 28, 2016

    Akhirnnya satu-persatu msalh mulai terkua
    Yoona cerdas juga ternyta
    Tambah baus jalan ceritannya😀
    Fight thor

    Balas
  29. vitrieeyoong

     /  Maret 10, 2016

    Huaaaa, mulai terkuakkk,, Yoong udah berhasil bmuin ibunya Wonppa, Dan sekarang SiHae jga ada dsana. Wahhh, making seruuuu!!
    Tegang cuyyyy
    Next!!!

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: