[OS] FIRST L♥VE

First Love2

This isn’t just a FICTION

But..

This is about something REAL

Real PEOPLE

Real STORY

And Real LOVE

r e s t a m m y p r e s e n t s

First Love ‖ Length: Oneshot ‖ Rating: General

Genre

Romance ‖ Friendship ‖ Reality

Starring

Choi Siwon ‖ Im Yoona

Support Cast

All SM Entertainment Star

Disclaimer

Totally, this is pure my story line. I don’t allow anyone to copy-paste my writing. Please don’t do plagiarism. I will protect all that belongs to me, for sure.

● FIRST L♥VE ●

Mungkin banyak orang yang menyadari―ada sesuatu yang sedikit berbeda dalam diriku waktu itu. Sesuatu yang hanya aku yang tahu. Sejak itu aku menjadi sering mengkhayal, sebenarnya ini terlalu memalukan untuk ku ceritakan. Tetapi aku ingin berbagi pengalaman pada kalian tentang… aku yakin setiap orang pernah mengalami ini. Jikapun belum, pasti akan ada satu waktu dimana kau juga merasakannya. Merasakan sesuatu yang hanya satu kali dan pertama kalinya dialami oleh semua orang dalam hidupnya.

Ini tentang cinta pertamaku…

Setiap malam, ketika aku merebahkan diri di atas tempat tidur dan memejamkan mata, bayangan dirinya selalu datang ke dalam pikiranku. Sering aku membayangkan bahwa dia―berada tepat disampingku tengah berbaring sambil terus menatap kearahku dan tersenyum. Indah, akankah itu semua menjadi kenyataan?

Masih ada harapankah? Ia bahkan tak pernah tahu. Aku hanyalah itik buruk rupa untuk seseorang yang sempurna sepertinya. Tapi mungkinkah ia akan peduli dan menghiraukanku? Setidaknya akankah ia juga akan melihatku dan menyadari apa yang aku rasakan? Bisakah ia juga… merasakan hal yang sama?

Teddy bear, katakanlah…

Mengapa cinta begitu tak adil dan seakan tak berpihak padaku? Akankah aku mendapatkan jawaban atas doaku selama ini?

(inspired by Nikki Costa―First Love)

===============

========

===============

2002

Pagi itu salju turun lagi. Dan aku tahu aku sedang dalam masalah karena bangun terlambat. Aku mengutuk diri sendiri, ini adalah hari yang sangat berharga dalam hidupku. Tanpa memikirkan yang lain, aku memasangkan sepatu boots ku dengan gusar. Ayah sudah mengomel daritadi, menyuruhku untuk sarapan dulu sebelum pergi.

“Aku sudah membawa bekal roti di dalam tas ku, Appa!”, aku beranjak berdiri setelah selesai memakai sepatu. “Appa, aku berangkat”, teriakku langsung melangkah pergi meninggalkan rumah.

Salju masih turun dan angin bertiup lumayan kencang. Aku mengerutkan seluruh tubuhku dalam lindungan mantel berwarna merah sambil berlari kecil. Yang aku pikirkan hanya bagaimana bisa sampai disana tepat waktu, tanpa menyadari bahwa jalanan sedikit licin dan pada akhirnya aku terpeleset dan terjatuh.

Ini memalukan. Sangat memalukan! Aku terjatuh dalam posisi telentang. Kepalaku membentur tanah berlapis es―membuatku sedikit pusing dan tidak bergerak sedikitpun.

Gwaenchana?”.

Penglihatanku masih terasa berputar-putar dan buram. Sampai setelah aku mendengar sebuah suara, aku dapat melihat seseorang yang seperti malaikat atau… pangeran tampan tengah menatapku dengan cemas.

Beberapa butiran salju mendarat tepat di atas rambut hitamnya. Ketika ia berbicara atau menghembuskan nafas, asap akan keluar dari mulutnya. Hidung mancungnya agak sedikit memerah, dan ada setitik tahi lalat disana. Kulit wajahnya putih dan kelihatannya sangat halus seperti bayi. Alisnya tebal sementara bibirnya tipis. Dia… sangat tampan.

“Kau tidak apa-apa? Bisa mendengar saya?”.

Setelah sudah cukup sadar, aku membulatkan mataku dan segera mengubah posisiku untuk berdiri. “Saya tidak apa-apa”, jawabku gelagapan sambil membenarkan posisi bando tanduk rusa di atas kepalaku. Sesekali menarik nafas panjang karena tiba-tiba jantungku berdekub dengan kencang, sukses membuatku salah tingkah.

Ia berdiri dan menatapku sebentar. Memperhatikan dari atas sampai bawah kemudian bertanya, “Tidak ada yang terluka, kan?”.

Aku yang ketika itu mencoba memalingkan wajah dan menghindar dari sorot matanya akhirnya memberanikan diri untuk menatap kearahnya―sangat sebentar. “Tidak, saya… baik-baik saja”, jawabku singkat.

“Syukurlah. Kalau begitu berjalanlah dengan lebih hati-hati”.

Suaranya sangat menenangkan hati. Aku mengangguk-anggukkan kepala seperti orang tolol dan terus menatap punggungnya yang sedang berjalan di depanku. Diam-diam aku mengikuti jejak langkah kakinya di atas hamparan salju dari belakang. Tanpa sadar, lengkungan di bibirku tak dapat memudar. Suasana hatiku langsung berubah ketika melihatnya. Sampai membuatku lupa bahwa saat itu aku sedang di kejar oleh waktu. Seseorang yang hanya dalam beberapa detik telah berhasil mengalihkan perhatianku. Inikah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?

Entah ini hanya kebetulan atau takdir memang sengaja ingin mempersatukan kami, ternyata pria tadi juga pergi menuju tempat yang sama sepertiku. Dia adalah sunbae ku. Ia sama-sama tengah menjalani pelatihan di sebuah agensi artis, SM Entertainment. Tahun ini aku baru saja bergabung dengan agensi itu.

Annyeonghaseyo. Nama saya Choi Siwon. Senang bertemu dengan kalian semua. Kita keluarga sekarang..umm.. Semoga kita tetap semangat dan mari sama-sama bekerja keras. Fighting!”.

Disana aku bertemu dengan seseorang yang berhasil merebut hatiku. Dia… yang ku sebut sebagai cinta pertamaku.

unon

2003

Setiap hari setelah pulang sekolah, aku pergi kesana untuk latihan. Memang pada awalnya sangat melelahkan, tetapi disana aku bertemu dengan teman-teman yang sangat menyenangkan, membuatku tetap bertahan dalam pelatihan yang lumayan ketat―apalagi untuk gadis yang baru berumur 13 tahun sepertiku. Cukup banyak peserta trainee yang mengundurkan diri karena latihan kami cukup menyita waktu dan sangat menguras tenaga. Tetapi tekad ku untuk menjadi orang yang sukses demi membahagiakan Ayah dan Kakakku sangat kuat. Walau tak dapat dipungkiri bahwa ada kalanya aku merasakan kejenuhan.

Setiap hari berlatih, tak menjamin aku dapat bertemu dengannya. Jujur saja, dia juga salah satu faktor penyemangatku. Kadang tempat latihan kami tak sama, atau waktu latihannya yang berbeda. Setiap hari aku sering berharap untuk dapat melihatnya, walau hanya sebentar.

Ketika berada disekitarnya, aku selalu tak dapat mengontrol pandanganku. Setiap gerak kecilnya saja selalu kuperhatikan. Jika ku alihkan pandangan darinya sebentar saja, dan ketika ku kembalikan lagi ia malah tak ada di tempat yang sama, aku akan langsung gusar dan memutarkan pandanganku untuk menemukannya.

Hal yang paling kusesalkan adalah hubungan kami tak seakrab dan tidak sedekat antar peserta trainee lain. Aku juga tidak mengerti dengan diriku sendiri, kenapa selalu kaku ketika berada di dekatnya. Padahal jika dengan sunbae ku yang lain, aku cepat akrab dan tidak pernah canggung ketika bercengkrama dengan mereka.

Mungkin memang inilah yang membedakannya dengan pria-pria lain. Dia istimewa dihatiku.

yw

Saat itu hujan begitu deras mengguyur kota Seoul. Latihan hari ini baru selesai pukul setengah lima sore sehingga aku terpaksa harus berlari menuju halte bus di bawah hujan dengan hanya memakai pakaian sekolahku―sambil berharap bahwa Ayah tidak akan marah karena aku pulang terlambat.

Tetapi apa mau dikata, hujan nampaknya semakin deras saja, memaksaku untuk berlindung di depan sebuah minimarket untuk sementara waktu. Angin bertiup kencang, dengan keadaanku yang basah kuyup membuat seluruh tubuhku menggigil. Aku dapat merasakan bibirku bergetar tanpa kendali. Saat itu juga aku langsung mendekap tubuhku dengan erat.

Tak lama dari itu, seorang pria dengan sepedanya juga tampak sedang mencari-cari tempat yang tepat untuk berlindung. Ia mengayuh sepedanya dengan cepat lalu memarkirkan sepedanya itu di pelataran parkir, sementara ia berlari ke arah minimarket dan berdiri tak jauh dimana aku berada. Sama seperti halnya denganku, seluruh tubuhnya sudah basah kuyup. Ia melepas topi hitamnya dan bibirnya tampak mematuk kesal. Kepalanya ia gerak-gerakkan dengan cepat―seperti halnya seekor anjing yang sedang mengeringkan tubuhnya. Aku dapat merasakan beberapa tetes air dari rambutnya mengenai kulitku.

 

Beberapa saat kemudian ia menoleh padaku dan―bagus, aku tertangkap basah sedang menatapnya. Segera kupalingkan wajah, dari sudut mataku―aku dapat melihatnya terus menatap kearahku. Beberapa detik kemudian aku memberanikan diri untuk kembali menatap kearahnya dan ia langsung menyapaku saat itu.

Annyeong”.

Kami sama-sama menundukkan kepala dengan canggung dan aku membalas sapaannya, “Annyeonghaseyo.. sunbae..”.

“Baru selesai latihan juga?”.

Aku hanya menundukkan kepala sebagai jawaban.

“Hujannya sangat lebat, ya? Bagaimana bisa pulang jika begini?”, ia mengulum bibir atasnya sambil mengangkat tangannya untuk menyentuh air hujan. Dia.. tampan. Kedua sudut bibirku tertarik dan aku ikut melakukan hal yang sama. Gemercik hujan mulai mengenai telapak tanganku.

“Ya?”, gertaknya dan tiba-tiba melemparkan air kearah wajahku.

Aku kaget pada awalnya. Dia.. dia mengajakku bermain? Mulanya aku hanya memasang wajah bodoh dan bingung, tetapi pada akhirnya aku mencoba mengikuti alur permainannya. Dengan sedikit canggung aku membalasnya. Sampai akhirnya kami terus berperang air sambil menunggu hujan reda.

 

Semakin gelapnya langit, akhirnya hujan berhenti. Satu hal yang tidak pernah kuduga sebelumnya, dia menawariku untuk diantarkan pulang memakai sepedanya. Awalnya aku menolak, hari sudah malam dan aku tidak ingin merepotkannya karena jelas―rumah kami tidak searah. Tetapi ia mengatakan sebuah kalimat yang berhasil membuatku tak bisa menolak.

“Aku tak mungkin tega meninggalkan seorang wanita pulang sendirian ketika hari sudah malam seperti ini. Dan aku juga yakin orangtuamu pasti khawatir, dengan memakai sepedaku kau akan lebih cepat sampai kerumah”.

Aku memang tidak salah pilih mencintai seseorang. Dia pria yang baik dan sangat perhatian.

Sepanjang perjalanan kami hanya saling diam. Ketika itu untuk pertama kalinya aku dibonceng oleh seorang laki-laki memakai sepeda dan jujur―ketika harus memeluk pinggangnya untuk menjaga keseimbangan tubuh, aku sangat gugup.

Kami sudah sangat sering bertemu di tempat latihan, tetapi baru hari itu kami saling bertegur sapa. Biasanya kami hanya saling melempar senyum ataupun menundukkan kepala saja. Tidak seperti kepada anggota trainee yang lain, hubungan kami tidak dekat dan sangat canggung. Tetapi hari itu aku bahkan dapat bersandar dibelakang punggungnya. Tuhan, terimakasih telah menurunkan hujan.

Malam itu ia hanya mengantarkanku sampai depan rumah saja. Padahal aku ingin mengajaknya masuk kedalam rumahku dulu. Setidaknya ia bisa meminjam baju hangat milik Ayah karena udara begitu dingin dan pakaian seragamnya juga masih basah, sama sepertiku. Dan aku bisa merasakan betapa dinginnya itu.

Sunbae, gomawo”, ucapku masih dengan perasaan tak enak. Aku sangat mengkhawatirkannya dan berharap ia tidak jatuh sakit gara-gara ini.

“Kau istirahatlah. Aku pergi dulu. Selamat malam, deer”.

Jantungku seperti berhenti berdetak saat itu juga. Telingaku menangkap bahwa tadi dia baru saja mengatakan, ‘Selamat malam, dear’. Dear disini ku artikan sebagai panggilan sayang. Jika di terjemahkan mungkin menjadi, ‘Selamat malam, sayang’. Betapa bahagianya aku ketika mendengar kalimat itu. Sepanjang malam aku terus memikirkannya. Begitu yakin bahwa ketika itu dia mengatakan ‘sayang’ padaku. Sampai berpikiran bahwa ada kemungkinan dia juga menyukaiku.

Tetapi sangkaan ku salah total. Sebenarnya yang ia katakan adalah ‘deer’, bukan ‘dear’. Yang ia maksudkan itu ‘rusa’, bukan ‘sayang’. Alasan mengapa ia memanggilku ‘deer’ adalah karena saat pertama kali kami bertemu, insiden disaat aku terpeleset, aku sedang memakai bando tanduk rusa. Dan yang paling menyakitkan adalah… ia memanggilku deer karena ia tidak tahu namaku.

Bagaikan seperti sudah di angkat ke atas awan, tetapi tiba-tiba di jatuhkan kembali ke dasar bumi. Rasanya sakit sekali, dan yang ku rasakan saat itu pun begitu. Untuk pertama kalinya, aku menangis karena dia. Dari sana aku mulai ragu, mungkinkah ia juga akan membalas perasaanku? Rasanya tidak mungkin.

2004

Aku memang sudah putus asa untuk mendapatkan balasan dari perasaanku, tetapi aku tidak dapat berhenti untuk tetap mengaguminya. Aku juga tak mengerti, padahal aku sudah sering tersakiti olehnya. Inikah cinta yang orang-orang dewasa maksudkan?

Aku selalu melebih-lebihkan ketika ia tersenyum padaku, padahal ia juga melakukan hal yang sama pada yang lain. Aku senang ketika ia menyapaku lebih dulu, walau pada kenyataannya ia sangat ramah pada semua orang. Hatiku rasanya seperti terbang ke angkasa ketika ia perhatian padaku, walau yang sebenarnya ia memang selalu perhatian kepada orang-orang di sekitarnya. Aku akui ia tidak pernah mengistimewakanku, tetapi itu saja rasanya sudah cukup bagiku.

 

Hari itu salah seorang anggota trainee, baru saja bergabung dengan agensi kami. Dia sangat cantik dan memiliki banyak bakat. Gadis itu bernama Stella Kim. Dia sebaya denganku. Seorang gadis yang bahkan terlihat begitu sempurna jika dilihat dari sisi manapun. Dia menjadi sangat populer, seperti gula yang langsung di kerumuni oleh puluhan semut. Beberapa pria langsung tertarik dan mencoba mendekatinya. Tetapi ia termasuk wanita yang cukup sulit untuk di dekati, tampaknya kriterianya sangat tinggi. Tak heran, untuk seseorang sepertinya―yang terlahir dari keluarga berada, cerdas, dan berparas cantik layaknya seorang putri mahkota, tidak akan sembarangan untuk memilih tambatan hati.

Melihat posisi kami yang sama-sama seorang wanita, aku juga mengaguminya. Tetapi sungguh, tak pernah terpikirkan sedikitpun bahwa ternyata dia juga akan dekat dengan orang yang sangat ku kagumi selama ini.

Semua di awali ketika Stella ikut bergabung dalam sebuah kelompok yang berisikan orang-orang kelas atas di agensi kami. Ku sebut mereka sebuah kolompok karena mereka sering menghabiskan waktu bersama, entah itu hanya sekedar pergi makan keluar, menonton ke bioskop, dan masih banyak kegiatan yang selalu mereka lakukan bersama di luar. Yang ku maksud mereka adalah Yunho sunbae, BoA sunbae, Sooyoung dan dia… Siwon sunbae. Aku tidak tahu jelas bagaimana semua itu sampai terjadi, yang ku tahu setelah kepulangan Siwon sunbae dari China untuk belajar bahasa mandarin bersama Hyoyeon Eonnie, tidak berselang terlalu lama dari itu, sebuah berita yang tak ku harapkan akhirnya sampai ke telingaku. Siwon sunbae berkencan dengan Stella.

Aku…

Perasaanku…

Harapanku…

Semua seakan hilang dalam sekejap…

Tak ada yang bisa ku salahkan selain diriku sendiri. Inginnya melupakan, tetapi hatiku tak mampu melakukannya. Perasaan ini sudah seperti tato permanen yang sulit dihilangkan.

Dialah yang pertama.

2005

Buanhan1

Menjadi sahabat dari kekasih yang dulu dan sampai saat ini masih kau kagumi adalah sebuah pilihan yang tidak mudah. Di depan mereka aku harus berakting seolah aku sangat mendukung akan hubungan mereka. Berpura-pura tertawa ketika melihat Siwon sunbae tengah menjahili Stella, ikut menggoda mereka ketika mereka sedang berduaan, atau mencoba menenangkan Stella ketika ia sedang menangis karena bertengkar dengan Siwon sunbae.

Jika saja di beri pilihan, aku rela Siwon sunbae berpacaran dengan wanita pilihannya selagi itu membuatnya bahagia, tetapi bisakah jangan pilih wanita yang aku kenali baik? Sunbae, aku sakit ketika melihatmu bermesraan dengan wanita lain, tepat di depan mataku.

Sejak saat itu aku melangkah semakin dan semakin menjauh darinya. Aku mencoba untuk mencari suasana baru agar dapat menghapus pikiranku tentangnya. Yah, masih sangat beruntung ada teman-temanku yang selalu memberikanku kehangatan lain dan membuatku tersenyum.

Tetapi aku tak mengerti dengan skenario yang telah Tuhan buat. Disaat aku sedang berusaha menaiki 10 tangga untuk benar-benar dapat melupakan semua ingatanku tentangnya, baru sampai di tangga ke 3, keadaan tiba-tiba menarikku kembali ke titik nol lagi.

 

Ketika itu aku sedang menghabiskan makan siangku di kantin sekolah sambil bercengkrama dengan teman-temanku. Sampai sebuah pesan singkat masuk kedalam ponselku. Dari agensi. Awalnya ku kira itu hanya pesan biasa yang memang selalu rutin mereka kirim untuk mengingatkan kami latihan. Tetapi ternyata bukan. Mereka menyuruhku untuk datang ke kantor setelah pulang sekolah.

Dalam perjalanan pulang menuju kantor SM, di bawah beberapa bunga sakura yang berjatuhan di sekitarku, dan memandang bunga-bunga yang mulai bermekaran, aku berfirasat bahwa di pertengahan musim semi ini akan ada sesuatu yang indah. Aku hanya menebak-nebak saja, karena entah kenapa suasana hatiku sangat baik ketika itu.

Semuanya masih baik-baik saja ketika aku sedang berjalan di sekitar lorong menuju ruangan Song bujangnim, tetapi setelah itu seseorang meneriaki namaku dari belakang.

Aku tak langsung menoleh karena aku tahu jelas siapa pemilik suara itu. Sebuah refleksi bodoh selalu terjadi padaku ketika berada di sekitarnya, jantungku lagi-lagi berdetak cepat tak terkendali. Aku tak tahu berapa lama ia berada disana, yang jelas ketika aku menengadahkan kepala ia sudah berdiri di hadapanku sekarang, sambil menggerak-gerakkan telapak tangannya di depan mataku. Dan aku sedikit terkesiap.

“Kau kenapa?”.

“Eoh?”. Lagi-lagi aku memasang wajah bodoh di depannya.

Siwon sunbae hanya tersenyum tipis seraya mengerutkan keningnya dengan bingung. “Sedang apa kau disini?”.

“Aku, aku disuruh menemui Song bujangnim”.

Ah, jinjja? Keurom, kita pergi bersama saja, aku juga akan menemuinya”.

Aku mengikuti langkahnya dengan tanda tanya besar dikepalaku. Mempertanyakan untuk apa kami sama-sama di panggil untuk menemui Song bujangnim?

Ketika Siwon sunbae membuka pintu ruangan Song bujangnim, samar-samar aku dapat mendengar perbincangan di dalam.

“Bukankah Stella yang mendapat kontrak ini?”.

“Tidak. Aku yakin ia terlalu sibuk dengan studinya, dan orangtuanya pasti akan menuntut yang macam-macam”, Song bujangnim sepertinya baru menyadari kedatangan kami. “Eo, kalian sudah tiba? Ayo duduklah”.

Di dalam ruangan itu ternyata sudah ada Donghae dan Kibum sunbae. Untuk pertama kalinya aku di ikut sertakan dalam pembicaraan yang tampaknya sangat penting. Tahun ini sunbae ku yang tergabung dalam grup yang dinamakan Super Junior akan debut. Demi memperlancar promosi, mereka baru saja menerima penawaran kontrak pemotretan untuk sebuah majalah dan iklan. Yang dilibatkan disana adalah Donghae, Kibum, Siwon sunbae, dan… aku sendiri. Tak terpikirkan sebelumnya mereka akan memilihku. Dalam sebuah grup ―yang merupakan Super Junior versi girl grup nantinya, orang yang selalu di tonjolkan adalah Stella. Bukan tanpa alasan. Ia memang berbakat, suaranya bagus dan wajahnya sangat menawan, tak heran Sooman seonsaengnim sangat mengaguminya. Tetapi mengapa sekarang aku yang terpilih?

 

Aku duduk tegang ketika penata rias tengah memoles wajahku dengan beberapa krim wajah. Perasaan gusar ku ini tak ku rasakan ketika aku melakukan pemotretan bersama Donghae dan Kibum sunbae beberapa hari yang lalu. Pemotretan kami lakukan dengan menyenangkan dan aku sangat menikmatinya. Tetapi aura hari ini tampaknya akan sangat berbeda. Aku sudah dapat merasakannya dari awal. Pikiranku berharap agar pemotretan dibatalkan, tetapi ternyata hati kecilku berkata lain, aku ingin segera bertemu dengannya.

Aliran darahku langsung berdesir ketika beberapa orang menyambut kedatangannya. Aku sudah ingin pingsan di tempat. Adegan seperti apa yang akan kami berdua lakukan? Berdiri sejajar dalam jarak yang sangat berdekatan seperti yang kulakukan dengan Donghae sunbae? Atau saling merangkul seperti yang ku lakukan dengan Kibum sunbae? Aku berharap semoga tidak lebih intens dari itu. Tetapi lagi-lagi hati kecilku menginginkan yang sebaliknya.

Beberapa staf langsung memuji keserasian kami ketika kami berdua sudah berdiri sejajar dengan busana tradisional Cina. Aku sangat malu karena mereka tak hentinya menggoda kami. Untuk sejenak, aku melupakan sebuah kenyataan bahwa sekarang pria di sampingku ini telah menjadi milik oranglain. Yang ku tahu hanya―dia adalah orang yang memenuhi ruang di hatiku selama ini.

“Bisakah kau bersandar diatas dadanya? Sepertinya akan bagus jika kalian lakukan sebuah pelukan dari belakang”.

Aku langsung terkejut, perasaanku bercampur aduk. Aku tak yakin bisa melakukannya dengan sealami mungkin. Dan bisa di tebak, foto yang dihasilkan selalu gagal, tidak seperti yang diinginkan. Wajahku selalu kaku dan aku sangat sulit untuk menghilangkan ekspresi tegangku. Hanya membayangkan ia berdiri dibelakangku sambil memelukku saja sudah memacu detak jantungku, apalagi ketika ia benar-benar memelukku dari belakang. Lututku rasanya lemas sekali.

Ketika fotografer sudah hampir putus asa, pengarah gaya akhirnya menyuruh kami untuk mengubah posisi kami. Aku cukup tersenyum sambil bersandar di atas pundaknya. Bagiku itu tak ada bedanya, tetapi setidaknya itu lebih baik dibanding tadi.

67012_158651477489498_100000339404129_352453_172035_n.jpg

Tinggi badan Siwon sunbae yang lebih tinggi dariku, membuat posisi yang sangat nyaman ketika aku bersandar di pundaknya. Senyumanku keluar begitu saja, dan aku agak terkesiap ketika merasakan kepalanya juga disandarkan diatas kepalaku. Tetapi setelah beberapa detik bertahan dalam posisi itu, aku mulai terbiasa. Rasanya nyaman sekali, andai saja pemilik pundak ini menjadi milikku. Ketika hujan saat itu, diatas sepedanya―aku dapat bersandar di punggungnya, tetapi hari ini aku dapat bersandar di atas pundaknya. Tuhan terimakasih.

 

Tampaknya tahun ini bukan hanya tahun bagi Super Junior saja, tetapi merupakan tahun bagiku juga. Aku menjadi model di video musik Super Junior sunbae untuk single terbaru mereka, “U”. Rasanya bahagia sekali ketika ikut di libatkan untuk mendukung promosi album mereka. Bukan hanya karena itu saja. Entah apa yang terjadi di antara mereka, yang kutahu, sebelum hari debut Super Junior tiba, Siwon sunbae telah putus dengan Stella. Aku tahu aku sedikit jahat karena aku malah bahagia ketika hubungan mereka telah berakhir, tetapi aku tak dapat menyangkal bahwa aku senang karena itu artinya aku masih memiliki kesempatan.

 

2006

Setelah Super Junior sunbae debut, aku semakin sulit untuk bertemu dengan mereka karena kesibukan mereka dengan berbagai kegiatan. Sementara girl grup ku yang juga akan segera debut tahun depan mulai melakukan latihan yang lebih padat. Saat liburan tiba aku lebih sering menghabiskan waktu di tempat pelatihan bersama yang lain. Hal itu semakin mengeratkan lagi hubungan antar member, termasuk hubunganku dengan Stella. Dia memang tipe wanita yang sangat supel, aku nyaman berada di dekatnya. Ia sudah seperti kakakku sendiri. Semakin mengenal Stella lebih dekat lagi, membuatku sadar bagaimana Siwon sunbae pernah mencintai wanita ini. Ia memang tidak salah pilih, tak seharusnya aku mengharapkan mereka untuk putus, toh kenyataannya mereka memang cocok dan saling melengkapi satu sama lain.

03copy1kvpb2

Hari itu aku sangat excited menyambut kedatangan Super Junior sunbae ke kantor agensi. Kami sudah sangat lama tidak bertemu, dan aku juga belum sempat memberi ucapan selamat pada mereka karena tahun ini mereka baru saja merilis album baru, dengan anggota baru pula. Kyuhyun sunbae menjadi member terakhir yang bergabung di Super Junior. Melihat wajah bahagia mereka dari kejauhan membuatku ikut bangga sebagai hoobae mereka.

Aku tidak ingin membanggakan diriku sendiri, tetapi jujur saja, dikalangan member Super Junior, aku cukup dekat dengan mereka. Semua itu karena aku sering di libatkan dalam project mereka, mulai dari pemotretan waktu itu, syuting cf, dan juga pembuatan video musik. Ketika mereka melihatku, mereka langsung berteriak memanggil-manggil namaku. Aku sangat malu karena disana banyak sekali sunbae yang lain dan ikut melihat kearahku. Yang paling norak dari yang norak, mungkin Leeteuk oppa. Ia selalu berkata padaku bahwa ia sangat menyukaiku dan mengatakan pada semua orang bahwa aku juga menyukainya. Tetapi aku tahu itu semua hanya candaan saja.

Bersama sunbae dan anggota trainee yang lain, aku menyalami dan memeluk member Super Junior satu persatu. Dibanding dengan sunbae lainnya, aku merasa paling nyaman dan sudah tidak merasakan kecanggungan lagi ketika sedang bersama mereka. Bukan hanya aku, anggota trainee yang lain juga pasti merasakan hal yang sama. Itu karena sikap mereka yang sangat ramah, selalu menghibur dengan candaan mereka, dan sering mengajari para hoobae nya berlatih.

Satu persatu sudah aku datangi setiap membernya, kecuali dia. Aku masih merasa gugup jika harus menghampirinya. Beberapa kali harus kuurungkan niatku karena seseorang sudah lebih dulu menghampiri dan memeluknya. Tetapi pada akhirnya mata kami saling bertemu. Ia langsung tersenyum, dengan canggung ku balas pula senyumannya. Perlahan aku melangkah mendekatinya, dan aku yakin saat itu juga ia sedang melangkah kearahku. Momen yang sangat indah, seperti sebuah adegan romantis yang ada di dalam drama. Aku merasakan dunia hanya milik kami berdua, tak ada siapa-siapa di tempat ini selain kita, background tempatnya pun berubah, hamparan bunga-bunga bermekaran di sekitar kami dengan indahnya. Sampai sesuatu yang mengejutkan terjadi.

Aku tak tahu apa yang salah dengan cara berjalanku saat itu, yang pasti tiba-tiba aku terpeleset dan jatuh tepat didepannya. Tak perlu di pertanyakan, ia juga ikut menjadi korban. Aku terjatuh tepat diatas tubuhnya. Tetapi masih ada yang lebih mengejutkan lagi. Bibir kami… saling menempel tanpa sengaja. Saat itu aku merasa dunia berhenti berputar untuk beberapa saat. Baginya mungkin itu hanya sebuah kecelakaan saja, tetapi bagiku itu adalah sebuah ciuman pertama. Tanpa sadar aku mencengkram kaos hitam tepat dibagian dadanya. Semua orang yang tadinya gaduh, otomatis menjadi diam.

Tak lebih dari hitungan lima detik, aku segera bangkit. Ku ulurkan tanganku untuk membantunya bangun dan setelah itu aku langsung menundukkan kepala berkali-kali dengan perasaan menyesal. Kami masih jadi tontonan semua orang dan aku tak tahu harus melakukan apa.

Sunbae, mianhae. Jeongmal mianhae…”, sudah tak terhitung berapa kali aku mengucapkan kata maaf padanya.

Ia tampaknya juga masih kaget dan hanya menjawab, “Gwaen.. gwaenchana”, dengan sedikit kikuk. Sampai akhirnya aku dapat melihat sorot matanya berubah, aku berbalik untuk ikut melihat arah pandangnya. Dan yang dapat kutangkap adalah ‘wanita itu’ sedang berdiri di ujung sana, dengan ekspresi marah. Perlahan ia berjalan mendekat kearah kami dan membuatku menerka-nerka, setelah ini apa yang akan ia lakukan. Aku sudah berfirasat buruk, ia mungkin akan menjambak-jambak rambutku, atau menampar pipiku.

Ketika ia sudah semakin mendekat kearahku, aku langsung menunduk sambil menutup mata―sudah pasrah. Tetapi ternyata tidak. Ia hanya menyodoriku sesuatu.

“Im Yoona-ssi, dompetmu tertinggal di mobilku dan.. kulihat foto didalamnya terjatuh tadi”, ucap Stella dengan sangat dingin. Ia menatap Siwon sunbae sebentar, sampai setelah itu ia langsung berbalik dan meninggalkan ruangan ini.

Foto? Ia melihat foto yang ku simpan di dalam dompetku? Ya Tuhan, ia benar-benar melihatnya? Foto Siwon sunbae disana bukan hanya ada satu. Tanpa berpikir panjang aku segera berlari menyusul Stella.

 

Aku benar-benar menyesal dan terus mengatakan kata maaf pada Stella ketika kami hanya berdua di dalam toilet. Walaupun sudah putus, hubungan Stella dengan Siwon sunbae memang masih dekat, dan itu yang membuatku menyesal, aku sendiripun benci dengan perasaan yang aku rasakan ini. Aku tidak berniat untuk merusak hubungan mereka, tidak.. tidak sama sekali.

Meskipun tak ku katakan secara gamblang bahwa aku menyukai Siwon sunbae, tetapi dengan fakta bahwa ia sudah terlanjur melihat isi foto dompetku, dan mendengar kata maaf terus terucap dari bibirku, ditambah dengan insiden kecelakaan tadi, semakin meyakinkannya bahwa aku memang menyukai Siwon sunbae. Ia tiba-tiba menampar pipiku.

Aku hanya diam, seolah pasrah bahwa aku memang pantas mendapatkan ini. Aku tahu Stella tidak sengaja melakukannya karena setelah itu ekspresi menyesal mulai terlihat dari sorot matanya. Ia langsung meninggalkan toilet. Kakiku awalnya tergerak sedikit untuk melangkah, tetapi langsung kuurungkan niatku, rasanya jika aku menyusulnya pun ia tak akan memaafkanku.

 

Malam itu, aku melihat Siwon sunbae tengah duduk di bawah tiang lampu sendirian. Tampaknya ia baru saja selesai berolahraga malam. Perlu berpikir panjang untukku sebelum akhirnya datang menghampirinya. Ya, kurasa ini saatnya untuk menyelesaikan permasalahan tadi.

Dengan ragu aku memanggilnya. Ia nampak kaget melihat kedatanganku yang tiba-tiba. Namun akhirnya ia mempersilahkanku untuk duduk di sampingnya. Aku sedikit menjaga jarak.

Sunbae, sekali lagi aku ingin meminta maaf atas kecerobohanku tadi siang. Jeongmal josonghaeyo”.

Ia hanya tersenyum, senyuman yang meninggalkan pertanyaan besar bagiku. “Sudah berapa kali kau mengatakan kata maaf padaku, hari ini? Sudahlah, lagipula jika kecelakaan siapa yang bisa menduganya. Aku juga tidak apa-apa”.

“Aku juga tahu Sunbae baik-baik saja, tetapi maksud permintaan maafku bukan mengarah kesana”. Ia berbalik memandang kearahku dengan bingung. “Tadi Stella melihatnya. Aku hanya tidak ingin ada kesalah pahaman. Apa Stella marah padamu, Sunbae? Kalian tidak sampai bertengkar, kan?”.

Ia terdiam sebentar, memandang wajahku dengan raut wajah yang sulit kuartikan. Namun lagi-lagi ia hanya tersenyum tipis. “Ada apa dengan Stella? Aku sudah putus dengannya, lalu apa lagi yang harus di permasalahkan?”.

“Tapi kalian masih…”, ucapanku terputus. Bibirku tiba-tiba kelu dan mendadak bingung harus melanjutkan kata-kata ku dengan kalimat apa.

Seolah ingin mengalihkan pembicaraan, Siwon sunbae pun berkata, “Im Yoona-ssi, kau sudah membuat kepalaku membentur lantai, tubuhku juga tertindih olehmu, dan…”, aku begitu berharap ia tidak akan melanjutkan perkataannya. Aku dapat merasakan darahku naik―membuat wajahku memanas dan aku tahu pasti terlihat memerah. “..kau juga mencium bibirku, apa kau tidak akan meminta maaf atas itu?”.

Suasana begitu mencekam rasanya, aku mendadak tak dapat berkata-apa-apa. Hanya mampu menatap matanya dengan ketakutan, jantungku pun berdetak hebat. Karena kecelakaan tadi, kami berciuman. Dan sekarang kami hanya berdua disini. Ia tampaknya biasa-biasa saja dengan itu, tetapi tidak bagiku. Itu adalah sebuah ciuman pertama yang akan selalu aku ingat.

Tetapi beberapa detik kemudian ia malah tertawa. Tawaan yang bahkan renyah sekali, sementara aku mengerutkan kening karena bingung. Apa yang lucu?

Sunbae, wae-waegeurae?”. Sungguh, saat itu aku menjadi risih sendiri. Apa ada yang salah denganku? Pria ini benar-benar membuatku gila.

Dia mendelikkan mata kearahku dengan gemas, “Aish..”, beberapa kali ia melakukan itu. “Aigooo… jangan memasang wajah seperti itu”. Ia mengulum senyumnya lalu mengacak-acak rambutku. “Kau polos sekali”.

Aku…

Aku tak dapat berbuat apa-apa. Hanya bisa mematung dan bertanya-tanya pada diri sendiri, sadarkah aku? Atau ini hanya sebuah mimpi saja? Baru saja tangan hangatnya memegang kepalaku.

Masih terasa sampai sekarang.

Tuhan… bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?

Aku benar-benar menyukainya.

 

2007

Tahun ini girl band ku akan debut, maka dari itu persiapan semakin dimatangkan. Formasi kami yang awalnya akan sama seperti Super Junior sunbae, tetapi karena beberapa hal ada sebagian anggota yang mengundurkan diri sebelum debut, maka managemen kami memutuskan untuk menjadikan kami girl band bernamakan Girls’ Generation yang beranggotakan 9 orang saja. Tanpa Stella, dengan alasan orangtuanya yang tidak mengijinkan Stella untuk terjun ke dunia entertainment, mereka lebih mengedepankan pendidikan sang putri dibanding dengan hal apapun.

Sejak kejadian itu, hubunganku dan Stella memang sedikit renggang, sampai kejadian ia keluar dari agensi, kami jarang sekali saling bertegur sapa. Kami selalu saling menghindar. Mungkin ia masih marah padaku, sementara alasanku menghindar darinya karena aku terlalu malu untuk memasang wajah di depannya.

 

Hari debut kami akhirnya tiba. Dalam perjalanan menuju perform stage kami untuk yang pertama kalinya, aku dan member lain menjadi sangat sensitif dan mudah mengeluarkan air mata jika mengingat perjuangan sulit kami dulu, sekarang terobati dengan datangnya hari yang sangat kami tunggu-tunggu. Percaya tidak percaya, bahkan beberapa kali aku harus menyadarkan dan meyakinkan diriku sendiri bahwa ini bukanlah sebuah mimpi.

Setelah penampilan perdana kami selesai, aku dan member lain kembali ke belakang panggung. Disana kami langsung di sambut oleh orangtua dan saudara-saudara kami. Ketika melihat Ayah dan Kakak ku tepat di depan mataku, air mataku langsung bercucuran kembali. Aku berhambur memeluk Ayah dan menangis segukgukkan di pundaknya. Aku begitu bahagia karena pada akhirnya aku dapat membuat Ayah bangga padaku. Gadis kecilmu telah melangkah lebih jauh sekarang, Appa.

Dibalik kebahagianku itu, ada sesuatu yang kusembunyikan. Dari kecil aku ditinggal oleh ibu kandungku, selama itu juga aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Semua seakan membuatku menjadi gadis yang kuat. Tak pernah aku menangis karena merindukan wanita yang telah melahirkanku ke dunia itu, maksudku―aku tak pernah merindukannya, tak pernah sekalipun.

Mungkin hanya sekali, itupun tak dapat kukatakan bahwa aku merindukan ibuku. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. Di hari debut kami, setelah selesai melakukan perform untuk pertama kalinya, para orangtua dari semua member tampak datang untuk memberikan selamat pada kami semua. Aku menangis. Tangisan dari luar mungkin terlihat bahwa aku bahagia karena akhirnya kerja kerasku selama melalui pelatihan bertahun-tahun telah terbayarkan. Tetapi aku juga menangis karena aku iri dengan yang lain, disaat kami turun panggung, mereka langsung berhambur kedalam pelukan orangtua masing-masing. Aku tahu, aku masih memiliki seorang ayah yang begitu hebat dan sangat menyayangiku. Tetapi, apa salah jika aku juga mengharapkan pelukan hangat dari seorang ibu?

Aku dan Tiffany Eonnie mungkin berada di posisi yang sama. Di hari debut kami, ibu kami berdua malah tidak ada, dengan alasan yang berbeda tentu saja. Ibu Fany Eonnie mungkin saja sekarang sedang berada di samping anaknya dan tersenyum bahagia melihat kesuksesan putrinya dari surga sana. Tetapi ibuku, pernahkah sekali saja ia peduli padaku? Fany Eonnie juga masih sempat menikmati masa-masa bersama ibunya ketika kecil dulu, sementara aku tidak pernah sama sekali.

Saat itu aku ingin sekali bertemu dengan ibuku dan mengatakan bahwa aku sudah tumbuh dewasa. Aku tahu bahwa keputusannya dulu untuk meninggalkan kami semua adalah sebuah keputusan bodoh yang akan mendatangkannya pada penyesalan besar.

Hari itu kami mengadakan pesta kecil di kantor managemen bersama para senior kami, kerabat dan juga beberapa petinggi SM. Im Yoona yang sebenarnya mulai muncul kembali malam itu, aku benar-benar tidak dapat menikmati acara tersebut. Semua terasa hambar ketika Ayah dan Kakak pulang lebih awal karena ada urusan masing-masing sehingga mereka tidak dapat ikut makan malam bersama kami semua.

Mataku semakin memanas ketika melihat member lain bergelayut manja dengan orangtua masing-masing, meminta untuk membawa mereka pulang kerumah. Setelah debut, managemen kami sudah menyediakan kami sebuah dorm. Di awal-awal debut, para member masih membutuhkan pelatihan yang rutin sehingga kami di wajibkan tinggal di dorm, kecuali hari-hari tertentu.

Eomma, bawa aku pulang”, Jessica Eonnie menangis dalam pelukan ibunya. Super Junior sunbae ikut menghadiri selamatan debut kami―pengecualian, Siwon sunbae tampaknya tak datang―beberapa dari mereka menghampiri Sica Eonnie―mengejek wanita yang mengaku tak cengeng itu tetapi kenyataannya ia lah yang paling banyak menangis sepanjang hari itu.

“Katanya kau tidak akan menangis?”, ia menyeka air mata putri sulungnya itu. “Sudahlah, matamu jadi membengkak, kan? Eomma dan Appa akan disini lebih lama lagi”.

Sepertinya ibu Yuri yang paling ramah dan mudah berbaur. Ia dan Yuri sudah terlihat seperti sahabat. Sementara magnae kami, Seo Joo Hyun, tampaknya tak ingin jauh-jauh dari ibunya, walau hanya sedetik saja. Bahkan ketika makan ia disuapi oleh ibunya. Kapan aku seperti itu?

Air mataku benar-benar tak mampu dibendung lagi. Dengan sigap aku memutuskan untuk keluar. Disini banyak sekali orang, aku tak mungkin menangis didepan mereka.

Ketika menuju pintu keluar aku agak berlari, dan setelah berada diluar tubuhku membentur dada seseorang. Aku sedikit panik, tetapi tetap saja tidak dapat menghentikan air mataku. Maka dari itu aku terus menundukkan kepala dan memutuskan untuk melarikan diri. Tetapi ia terlanjur menahan tanganku.

Waegeurae? Kau menangis?”.

Ketika mendengar suara itu tangisanku malah semakin pecah. Kutahan nafasku dengan susah payah agar tangisanku tidak terdengar terlalu kencang―hasilnya dadaku menjadi naik turun tak terkendali dan terasa sesak.

Ia tampak bingung dan serba salah melihatku dalam keadaan menyedihkan seperti itu. Sampai akhirnya ia membawaku ke halaman belakang dan kami duduk di kursi taman.

Setelah sekian lama saling diam dan hanya terdengar sisa-sisa isakkan tangisku, ia pun bertanya, “Apa ada masalah?”.

Aku hanya bungkam karena malu. Mana mungkin aku menceritakan yang sebenarnya. Ia tampaknya mengerti dan mengalihkan pembicaraan. “Aku melihat perform kalian tadi. Semuanya terlihat bekerja keras sehingga hasilnya sangat hebat. Kalian sudah melakukan yang terbaik. Chukkaeyo?”.

Dengan malu-malu, aku menatap kearahnya. Ia tersenyum sangat manis dan lesung pipi nya dapat kulihat dengan jelas, ingin sekali kusentuh dimple itu.

“Aku suka sekali bagian tarian ini”, tiba-tiba ia berdiri dan membuat gaya tendangan dengan sebelah kakinya―mengimitasi gerakan keografi kami di lagu Into The New World. Dengan mata masih membengkak, aku tersenyum tipis. Ia lanjut menari seperti orang bodoh. Yang ku tahu ia tipe pria yang kalem dan sangat mempesona dengan karismanya, tetapi malam itu aku dapat melihat sisi lain darinya. “Deer! Cepat tunjukkan tarian ini padaku”, lagi-lagi ia mengangkat sebelah kakinya dan hal itu berhasil membuatku tertawa.

cryyy

Ketika melihatku tertawa ia terdiam dan tersenyum puas, sepertinya lega karena ia telah berhasil menghiburku.

Siwon sunbae, gomawo.

Hari ini aku bersikap cengeng di depannya.

 

2008

Hari valentine? Untuk seseorang yang lajang dan tak memiliki kekasih sepertiku, rasanya tidak ada yang istimewa. Tetapi tidak dengan tahun ini, aku yakin akan ada perbedaan dari tahun-tahun sebelumnya. Entah ada badai macam apa sampai membuat pihak Mn*t menawariku dan Siwon sunbae untuk bermain dalam video pendek yang akan diputar dalam sebuah program musik spesial hari valentine nanti.

Kalian mungkin sudah bisa menebak akan seperti apa alurnya. Disana aku berperan sebagai seorang gadis belia yang mengagumi seorang pria tampan. Saat hari valentine tiba, gadis itu ingin memberikan hadiah berupa coklat pada pria itu. Dengan malu-malu dan berkat bantuan teman-temannya, akhirnya gadis itu berhasil memberikan coklat pada pria yang ia sukai tersebut. Diakhir cerita, pria itu ternyata telah mempersiapkan bunga untuknya dan pada akhirnya mereka saling bertukar hadiah. Budaya kami, jika seorang perempuan memberikan coklat kepada seorang pria di hari valentine, dan pria itu membalasnya dengan memberikan bunga, itu artinya ia membalas cintanya.

Ceritanya benar-benar hampir sama dengan apa yang aku rasakan selama ini. Ketika syuting dilakukan, aku seakan berperan menjadi diriku sendiri. Tetapi tentu saja berbeda jauh jika membahas soal akhir ceritanya.

Memang ada beberapa adegan yang dilakukan live di panggung. Aku benar-benar gugup setengah mati. Apalagi ketika ia mulai menampakkan diri saat pintu terbuka. Ia keluar dengan senyuman manis yang selalu menghiasi wajahnya. Saat itu juga jantungku berdegub dengan sangat kencang. Beberapa kali ku tundukkan kepala, aku tak sanggup jika harus menatap manik matanya.

yoowonn

Saat itu aku jadi berhalusinasi, bahwa itu semua memang nyata terjadi. Dia menerima hadiah dariku kemudian ia memberikanku bunga dan kami resmi berpacaran. Jika saja ia menjadi kekasihku, sedetikpun aku tidak akan berpaling darinya.

Tetapi sekali bodoh tetap saja si Yoona bodoh. Sedikitpun aku tak pernah memperlihatkan ataupun mengakui pada semua orang bahwa aku memang menyukainya ‘sampai mati’. Karena kami sering di libatkan dalam satu pekerjaan seperti hari ini, kadang anggota SM lainnya menggoda kami.

“Kau tahu tidak, bahkan Siwon hyung mempunyai panggilan sayang untuk Yoona”, ucap Kyuhyun Oppa. Semua orang tampak bertanya-tanya panggilan sayang mana yang ia maksud.

Siwon sunbae menarik sudut bibirnya, berlagak tak tahu apa-apa. “Panggilan sayang apa maksudmu?”.

Dengan nyolot, Kyuhyun Oppa menimpal, “Wae? Kau kira aku tidak tahu apa-apa, lalu dear itu apa m….”, kata-katanya terputus karena Siwon sunbae telah berhasil membekap mulutnya. Semua orang tertawa melihat adegan itu, sementara aku hanya duduk di sudut ruangan dengan pipi semu merah.

“Dear? Dear Yoonary? Hahaha”, gertak Heechul Oppa mengundang tawa semua orang.

“Bukan dear, tapi deer”, ucap Siwon sunbae memperjelas, sekaligus membela diri.

“Apa bedanya?”, ketus Eunhyuk Oppa.

“Dear itu sayang, sementara deer adalah bahasa Inggris dari rusa”.

“Wah, kau memanggil uri Yoongie seeokor rusa?”, sahut Kangin Oppa sambil merangkulku.

“Ani, hyung tidak tahu ceritanya”, ucapnya seraya tertawa.

“Yoong-ah, panggil dia Kuda. Sudah tampang jelek, sok-sok-an jago bahasa Inggris, mengejek anak orang lagi. Akan kubalas kau”, sekarang giliran Heechul Oppa yang memelukku. Kami semua tenggelam dalam kehangatan gelak tawa.

 

Tahun ini aku mulai disibukkan dengan syuting drama series pertamaku. Hal ini membuat jadwalku semakin padat. Sering aku absen dari grup, entah itu ketika manggung di TV, iklan CF, dan yang lainnya. SNSD dengan Super Junior sunbae akan melakukan syuting CF bersama untuk sebuah produk softdrink. Dan bisa ditebak, aku tidak dapat ikut. Ini pertama kalinya kami disatupadukan dalam sebuah CF dan sudah aku nanti sejak kita debut. Tetapi jika pada akhirnya aku tidak ikut rasanya sia-sia saja. Aku ingin bertemu dengannya.

Semakin dibuat kecewa ketika pihak agensi kami sudah memutuskan untuk membuat sebuah drama yang akan diperankan olehku, Yoochun sunbae dan juga.. dia, tetapi ternyata di batalkan karena beberapa hal. Padahal aku sudah memimpikan hal itu untuk menjadi kenyataan. Selalu berada disekitarnya saja rasanya sudah cukup.

Siwon sunbae, aku merindukanmu.

 

2009

SPAO_YoonA_Siwon_by_kaskusone

Di tahun ini terlalu banyak kenangan indah yang kulalui. Keinginanku untuk disatukan kembali dalam sebuah project bersamanya akhirnya dapat terwujud. SPA*, sebuah perusahaan pakaian mengontrak Super Generation sebagai brand ambasador untuk pakaian produksi mereka. Dan ternyata kami berdua dijadikan sebagai mascot couple. Aku sering dipasangkan dengannya. Momen yang paling berkesan adalah ketika aku, Siwon sunbae, … ralat, Siwon Oppa, Jessica Eonnie, Seohyun, Leeteuk Oppa, dan Kyuhyun Oppa terpilih untuk menjadi model pakaian spesial valentine. Lagi-lagi karena hari kasih sayang itu hubungan kami semakin intens. Bahkan karena itu pula aku sudah tidak memanggilnya sunbae lagi. Saat itu kami sedang berada di ruang kostum…

siwon-yoona-kyuhyun-seohyun-leetuk-jessica

“Yoona-ya, kenapa masih memanggilku sunbae sementara kepada Leeteuk hyung, Kyuhyun, dan yang lainnya kau memanggil mereka Oppa. Aku hanya tidak ingin hubungan kita menjadi canggung hanya karena panggilan yang formal seperti itu”.

Seiring berjalannya waktu aku merasa bahwa hubungan kami menjadi lebih dekat lagi. Mungkin tak ada yang tahu bahwa aku sering diantar pulang olehnya setelah pemotretan bersama. Atau pergi makan kesebuah restoran langganannya dengan keamanan yang super ketat. Tetapi, tetap saja tak ada yang tahu. Aku juga baru sadar bahwa Siwon Oppa termasuk orang yang sangat tertutup jika merujuk ke hal seperti itu. Yang mereka tahu mungkin hanya sekarang aku mulai ikut tergabung dalam sebuah pertemuan kristen bersamanya. Karenanya, aku menjadi semakin rajin pergi ke gereja untuk beribadah.

 

Sebuah penghargaan musik yaitu Golden Disk Award kembali digelar dan kami sama-sama menghadiri acara tersebut bersama member lain. Malam yang sangat menyenangkan. Kami dan Super Junior sunbae saling memberikan dukungan satu sama lain.

Ada banyak hal lucu yang kurasakan. Bukan karena aku yang merasa terlalu percaya diri, hanya saja sudut mataku selalu menangkapnya tengah memperhatikan ku. Tidak satu atau dua kali saja, tetapi sangat sering. Ketika di belakang panggung, saat aku tengah dirias, dia tiba-tiba duduk disebelahku. Untuk pertama kalinya aku merasa ia mulai usil, tetapi aku menyukai sikapnya yang seperti itu.

199121_208094669216829_100000488915399_830558_66355_n

Tanpa kami sadari, setiap waktu kami berdua selalu berdekatan. Tak pernah terpaut oleh jarak yang berjauhan. Mungkin itu sangat terlihat jelas ketika kami berada diatas panggung. Saat lagu Sorry Sorry diputar sebagai lagu penutup acara, kami bernyanyi bersama. Jadi teringat kata-kata Ryeowook Oppa, Siwon Oppa itu tipe orang yang selalu cari-cari perhatian. Dan saat itu aku jadi percaya akan kata-katanya. Siwon Oppa mulai cari-cari perhatian padaku. Aku hanya dibuat tertawa saja, cara orang yang ingin diperhatikan memang sangat terlihat berbeda, tak terhitung berapa kali ia menjabat tanganku malam itu.

35215_1165087104438_1745700241_316459_6851839_n.jpg

Saat sesi foto bersama, Siwon Oppa seharusnya bersama dengan member Super Junior lain, tetapi yang kulihat ia malah melangkah mundur kearahku berdiri. Sempat tertahan oleh Yuri, tetapi entah ia mengerti atau apa, Yuri langsung melangkah menjauh dari kami. Ketika Siwon Oppa terus melangkah mundur kearahku, aku melangkah maju. Kami berdua berdiri sebelahan sekarang, tetapi tak saling menghiraukan satu sama lain. Masing-masing berlagak sibuk mencari posisi untuk di foto. Tetapi akhirnya kami terpisah saat seorang staf mengkondisikan kami semua.

Setelah acara selesai, kami semua lanjut pergi makan malam bersama, sekalian merayakan kemenangan kami di banyak penghargaan malam itu. Menghabiskan waktu bersama Super Junior sunbae, rasanya bibirku pegal karena terus tertawa sepanjang waktu. Tingkah mereka semua benar-benar konyol.

Tetapi ada yang berbeda denganku malam itu. Im Yoona yang biasanya selalu makan dengan lahap tanpa memikirkan keadaan, tetapi saat itu aku benar-benar menjaga image ku ketika makan di sebelahnya. Sikshin-ku hilang dalam sekejap ketika ia duduk tepat di sebelahku. Dia duduk tepat di sebelahku! Ya Tuhan.

 

Pada tanggal 10 September aku pergi berlibur ke pulai Saipan di Thailand bersama keluargaku. Hanya sesuatu yang tak pernah kuduga sebelumnya adalah… Siwon Oppa dan keluarganya juga sedang berada disana. Ia sudah berlibur di Saipan sejak dua hari sebelumnya. Yang tak ku mengerti adalah pulai Saipan itu sangat luas, tetapi kenapa kami harus menginap di tempat penginapan yang sama.

Setibanya disana kami langsung makan di restoran hotel. Dan disana lah aku bertemu dengan Siwon Oppa. Sedikit malu karena ada keluarganya juga disana. Ayah Siwon Oppa benar-benar ramah.

“Jadi ini yang namanya Yoona, ternyata lebih cantik melihat aslinya”.

Ya, dia sangat ramah. Berbeda jauh dengan ibu dan adik perempuannya. Sangat kaku mengobrol dengan mereka.

Sore harinya, setelah mendapat pesan dari Siwon Oppa yang mengajakku untuk pergi ke pantai, kami bertemu. Siwon Oppa mengajakku ke sebuah pantai yang tertutup dari umum. Tak ada siapa-siapa disini selain kita berdua. Rasanya sangat berbeda jauh dengan keadaan di pantai dekat hotel yang sangat ramai pengunjung. Mungkin alasan ia membawaku kesini agar tidak ketahuan oleh siapapun. Media pasti akan memberitakan yang bukan-bukan jika berhasil mengabadikan kebersamaan kami disini.

Ia terlihat tampan dengan hanya memakai celana selutut berwarna merah dan bercorak bunga-bunga. Sementara aku tampak cupu dengan pakaian renang berwarna orange. Disaat seperti ini aku ingin sekali menunjukkan sisi menarik dari diriku, tetapi rasanya semua jadi berantakan karena rambutku yang pendek ini. Aku tidak merasa percaya diri dengan rambutku yang sekarang. Leherku panjang dan tubuhku sangat kurus, tidak cocok dengan tatanan rambut seperti itu. Jika bukan karna tuntutan dari managemen, aku tidak pernah ingin melakukannya. Tetapi apa boleh buat, konsep untuk album “Genie” memang seperti itu.

cats (2)

Kurang cepat aku pergi berlibur. Keesokkan harinya Siwon Oppa sudah kembali ke Seoul. Tetapi ternyata setelah itu Thailand mulai gencar dengan berita kencanku dengan Siwon Oppa. Saat aku pergi diam-diam ke pantai bersamanya, ternyata seseorang berhasil mengambil gambar kami berdua. Namun agensi kami sangat cepat dalam menindak hal tersebut karena beruntung foto ku di ambil dari belakang sehingga tidak sulit untuk menyangkalnya, dalam sekejap berita itu langsung tak terdengar lagi. Walau karena itu kami sedikit mendapat teguran dari manager kami untuk lebih menjaga sikap ketika berada di tempat-tempat umum.

2010

34zwxvp - Copy

Karena SPA* aku jadi memiliki banyak koleksi foto bersamanya. Dalam laptop ku sudah tak terhitung lagi berapa folder foto kami yang ku simpan. Diam-diam aku selalu mencuri file foto yang gagal dari laptop editor fotonya. Belum lagi sampai saat ini kami masih aktif melakukan pemotretan untuk model pakaian yang baru lagi.

68743022jw6dd7bzi20iqj-1

Melakukan pemotretan dengannya menjadi sebuah hiburan bagiku. Walau setelah akrab dengannya, aku jadi sering dikerjai olehnya. Siwon Oppa ternyata sangat usil, ia sepertinya akan sangat puas jika berhasil membuatku mematuk bibir karena kesal. Hubungan kami semakin dekat, walau kadang suasana canggung masih tidak dapat terhindarkan. Apalagi saat kamera mengintai kegiatan pemotretan kami untuk kebutuhan promosi.

 

SM TOWN kembali melanjutkan world tour nya. Dan kali ini LA merupakan kota yang akan kami jajaki. Sebuah stasiun TV swasta meliput kegiatan kami dimulai dari keberangkatan hingga konser selesai dilakukan.

Bersama-sama kami berkumpul di bandara Incheon. Sebelum berangkat kami berfoto bersama. Rasa kekeluargaan semakin erat saja. Tour kali ini berbeda dengan tour yang biasa kami lakukan. Pertama, ini merupakan tour pertama kami ke daratan Amerika. Dan kali ini pula semua keluarga SM TOWN terasa lebih lengkap.

Aku bersama member SoShi yang lain duduk di kursi pesawat bagian bawah. Saat Leeteuk Oppa sedang melakukan interview, karena aku menampakkan wajah di depannya―akhirnya aku diajak berbincang-bincang juga dengannya.

Setelah itu aku diajak untuk naik ke bagian atas dimana Super Junior sunbae dan SHINee berada. Suasana diatas lebih tenang dibanding dengan dibawah. Semua orang sibuk dengan pembagian makanan dan lain sebagainya. Sementara diatas, orang-orang tampaknya sudah banyak yang tumbang, terkalahkan oleh rasa kantuk. Kecuali Donghae dan Ryeowook Oppa yang asyik sendiri dengan gadget masing-masing.

Aku melangkahkan kaki semakin ke depan, melihat-lihat keadaan orang-orang yang hampir semuanya sudah tertidur. Walau ternyata masih ada satu orang yang tampak asyik sendiri dengan majalah seraya mendengarkan musik lewat iPad nya. Dan saat itu mata kami bertemu.

“Kau ada disini?”.

“Eo”. Jawabku singkat.

Tiba-tiba ia bangkit dari duduknya, kemudian pindah ke kursi disampingnya. Sementara ia mempersilahkanku untuk duduk di kursi yang ia tempati tadi. “Mau duduk?”.

Dengan canggung, aku duduk disebelahnya dan berbasa-basi. “Sedang apa? Aku kira Oppa sudah tidur seperti yang lain”.

Ia menggelengkan kepala. “Tidak, aku belum mengantuk”.

Suasana kaku kembali menyelimuti kami. Sampai akhirnya Minho datang menghampiri, rasanya ia seperti pahlawan yang telah membebaskan kami dari suasana dingin yang mencekam.

Noona, Hyung, lihatlah”, ia memamerkan sebuah foto. Disana terlihat Eunhyuk Oppa yang sedang tertidur, sementara Donghae Oppa dan Minho membuat ekspresi lucu. Tampaknya ingin mengerjai Oppa usil yang satu itu.

SMTown-LA-Donghae-Minho-Eunhyuk

Aku dan Siwon Oppa tertawa bersamaan, kelihatannya Minho sangat puas. Ia langsung merebut kamera dari tangan Siwon Oppa. “Sekarang giliran kalian”.

Kami berdua sama-sama termanga sendiri, membuat Minho berkomentar, “Ekspresi macam apa ini? Ayo berfoto bersama”, ucapnya, sudah merasa seperti seorang fotografer yang sedang mengarahkan gaya.

“Hei bocah. Mengambil gambar kami tidak sembarangan, SPA* saja membayar kami dengan sangat mahal”.

Seketika aku langsung tertawa. Siwon Oppa pun mulai terbahak ketika melihat ekspresi cemberut Minho yang menurutnya sangat menggemaskan. Minho adalah hoobae kesayangannya karena mereka ia merasa memiliki banyak kesamaan dengan visual SHINee itu.

“Sudah terlanjur, aku sudah selesai mengambil gambar kalian”, timpalnya tak ingin dipandang telah kalah.

QZsoe

Minho-ya, gomawo. Aku menyukai fotonya.

 63

Sesampainya di LA, kami melakukan konferensi pers dengan berbagai media. Dan selama konferensi pers itu aku berdiri tepat didepannya. Semuanya berlanjut ke acara puncaknya, yaitu acara konser kami. Ketika di belakang panggung, awalnya aku merasa bahwa ia mengacuhkanku. Selama makan saat menunggu giliran perform, dia juga berada disana. Kami istirahat di waktu yang bersamaan, kami juga duduk di meja yang tidak berjauhan, tetapi tak sekalipun ia menyapa atau menegurku. Namun tiba-tiba saja ia berbuat usil lagi padaku. Wajahku memang menampakkan wajah marah kearahnya, kupukul saja tubuh kekarnya dengan keras. Walau ternyata saat itu hatiku tengah tersenyum lega, setidaknya ia tak benar-benar acuh padaku.

tumblr_l997h9VIaa1qa901ko1_400

Selama lagu Hope dimainkan sebagai perform terakhir kami, aku benar-benar tak sadar bahwa selama itu aku terus mengikutinya. Aku hanya berharap ia juga tidak menyadari hal itu.

yoonwon-smtownla2010b_o_GIFSoupcom

Golden Disk Award lagi-lagi meninggalkan cerita indah bersamanya. Aku tahu, bukan hal aneh lagi ketika seorang Choi Siwon yang terkenal sebagai gesture man itu memeluk orang-orang disekitarnya. Tetapi bagiku itu hal yang tak biasa. Malam itu, akhirnya aku pun mendapat pelukan pertama darinya―selain pelukan ketika pemotretan tentu saja. Pelukan yang bahkan sangat singkat tetapi begitu berbekas.

165306_174594579228521_100000339404129_443192_3402465_n

Padahal tak ada yang spesial sama sekali, bukan hanya aku yang mendapat pelukan darinya malam itu. Sooyoung juga. Bahkan ia mendapat pelukan darinya lebih lama. Apa yang harus aku banggakan. Choi Siwon tak pernah memandang seorang Im Yoona spesial. Ada perasaan kecewa, rasanya sakit jika diperlakukan sama seperti yang lain. Aku hanya menginginkan ada seseorang yang dapat memperlakukanku lebih istimewa, perlakuan yang hanya ia berikan untukku saja, tidak kepada wanita lain. Dan sesungguhnya aku selalu berharap bahwa orang itu adalah… Choi Siwon.

Harapan. Ini masih menjadi sebuah harapan, dan entah rencana Tuhan juga sama dengan harapanku.

 

2011

Hari itu aku benar-benar telah dibangunkan dari angan-anganku selama ini. Semuanya berawal ketika tak biasanya aku bangun sangat pagi. Keadaan dorm masih begitu sepi, tetapi aku yakin bahwa seseorang sedang berada di dapur, sehingga kakiku melangkah menuju kesana.

“Sooyoung-ah, apa yang sedang kau lakukan?”, tanyaku dengan mata menyipit. Maklum aku baru saja terjaga saat itu.

Ia nampak terkesiap karena terkejut. “Ya Tuhan! Yoongie! Ku kira siapa”, ia mengelus dada dengan ekspresi kaget yang berlebihan.

“Membuat ramen di pagi buta seperti ini? Kau ‘sakit’?”, ucapku sambil memegang bungkusan ramen di atas meja makan. Sooyoung malah mendengus tak peduli dan dengan acuh tetap melanjutkan aktivitasnya. “Tadi malam kau tidak pulang, mm?”.

“Ne, aku merayakan acara ulangtahun ku lagi”, jawabnya dengan wajah sumringah. “Setelah merayakannya dengan kalian kemarin, malam tadi aku mendapatkan banyak kado lagi. Senangnyaaa…”, tambahnya tanpa memalingkan wajah dari panci.

Aku menarik salah satu kursi di meja makan kemudian duduk disana, “Beruntung sekali”. Tanganku terangkat meraih kamera digital Sooyoung di atas meja makan dan mengotak-atiknya. “Wangi sekali Soo, sisakan untukku juga ya”, gumamku. Aku dapat mendengar ia menggerutu, tetapi pikiranku terlalu terfokus pada kamera Sooyoung.

Ku lihat foto-foto di dalamnya satu persatu. Kebanyakan saudara dan kerabatnya saja. tetapi tiba-tiba jemariku berhenti menekan tombol selanjutnya ketika kulihat Sooyoung berfoto bersama seorang wanita yang tak asing bagiku.

 

“Soo, ini Stella?”, tanyaku sambil memperlihatkan foto tersebut pada Sooyoung.

Sooyoung berbalik dan diam untuk beberapa saat. “Oh, itu, iya… itu Stella”, jawabnya dengan senyuman canggung. Ketika aku lanjut melihat-lihat foto di kamera nya lagi, tiba-tiba Sooyoung menghampiriku―berniat untuk merebut kameranya.

4649-m36xad7qhu

Tetapi aku terlanjur melihat gambar seseorang disana. Diantara banyak orang, yang dapat ku tangkap dengan cepat adalah wajah’nya’. Dia berdiri tepat di sebelah Stella, bahkan tangannya merangkul wanita itu.

“Siwon Oppa juga berada disana?”, dengan otomatis, bibirku tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu―yang seharusnya memang tidak ku lakukan. Seharusnya aku tahu bahwa jawaban dari pertanyaan itu malah akan membuat hatiku sakit.

“Y-ye”.

Tenggorokkanku rasanya tercekat dan dadaku menjadi sesak. Ketika ku rasakan mataku mulai memanas, aku pun segera mengalihkan pembicaraan. “Soo, ramennya sudah matang”, ucapku sambil beranjak ke arah panci yang malah Sooyoung tinggalkan. Ku matikan kompor dan ketika akan ku angkat panci tersebut untuk di bawa ke atas meja makan, tanganku malah mengenai badan pancinya. Aku berteriak dan kulihat lenganku memerah. Sooyoung tampak terkejut, ia segera mendudukkanku di kursi.

“Kau ini kenapa? Ya ampun”, dengan cemas, ia segera mengambil sehelai kain dan membuka lemari pendingin untuk mengambil es balok dan membungkusnya dengan kain tadi.

Sambil meringis kecil, aku menggunakan itu untuk sedikit menghilangkan rasa sakit dari panasnya. Padahal tanganku yang terluka, tetapi aku malah merasakan rasa sakit di bagian lain. Entah kenapa.

“Yoong, kau masih tidak ingin cerita padaku?”.

Aku yang awalnya tertunduk langsung mendongakkan kepala untuk menatap kearahnya. Sambil mengerutkan kening, apa maksud dari pertanyaannya tadi?

“Jangan berpikir bahwa aku tidak tahu apa-apa, Im Yoona. Aku sudah tahu semuanya”. Entah kenapa kata-kata Sooyoung tadi membuat ku menjadi tak enak hati. “Kau menyukai Siwon Oppa, kan?”.

Sungguh, makin lama aku semakin tak dapat berkata apa-apa, karena jujur, aku juga tidak tahu harus menjawabnya bagaimana.

“Aku tahu dari Stella, dan sudah dari dulu ia memberitahuku. Kukira kau sudah berpaling dari Siwon Oppa, tetapi kelihatannya tidak begitu”.

“Yoong, disini aku benar-benar tidak berpihak pada siapapun. Kalian berdua sahabatku dan aku hanya menginginkan yang terbaik untuk kalian, khususnya untukmu. Demi Tuhan, aku tidak bermaksud untuk mengucilkanmu, aku hanya tidak ingin kau tersakiti. Tetapi kurasa Siwon Oppa dan Stella masih saling mencintai. Sebagai orang terdekatnya Stella, aku dapat melihat bahwa mereka masih selalu berhubungan walau terpaut oleh jarak. Tak seharusnya kau mengagumi pria yang tak…”, Sooyoung menghentikan perkataannya.

Tetapi ku lanjutkan, “Tak peduli padaku. Pria yang bahkan tak pernah melihat kearahku… begitu Soo maksudmu?”. Air mataku akhirnya jatuh.

Raut kegusaran mulai terlihat dari wajahnya, “Kumohon Yoong, kau jangan salah mengartikan ucapanku. Aku begini karena aku peduli padamu”, ia memelukku dengan erat. “Kau gadis yang cantik, Yoong. Banyak pria di luar sana yang jauh lebih baik dan sudah jelas mengagumimu”.

Perkataan Sooyoung memang ada benarnya. Seharusnya aku tidak menaruh hati pada pria yang singgasana hatinya telah di tempati oleh oranglain. Tetapi aku juga sudah berusaha, walau sampai saat ini usahaku seakan sia-sia saja hanya karena perlakuan baik nya terhadapku selama ini. Jujur saja, aku merasa sangat dikhianati. Jika memang ia belum bisa melupakan mantan kekasih atau memang masih berstatus kekasih―entahlah, seharusnya selama ini ia tidak usah berlaku seolah perhatian padaku. Jika memang begini pada akhirnya, lalu arti kebersamaan kami selama ini apa?

Sejak saat itu mataku seolah di bukakan. Perlahan rasa cintaku berubah menjadi rasa benci. Untuk saat ini aku tidak ingin memikirkan laki-laki, apalagi untuk berkencan. Aku hanya cukup fokus pada karirku, dan semakin menjauh darinya.

 

Aku memang sedikit mengubah sikap padanya dan ia juga tampaknya menyadari itu. Awalnya kami saling mengacuhkan satu sama lain, tetapi perlahan ia mulai mendekatiku lagi. Mendekati disini maksudnya sering menyapa lagi, saling berbicara lagi, dan dia sering menjahiliku lagi seperti dulu. Seperti ketika kami menghadiri malam penghargaan Gaon Chart. Super Junior sunbae hadir lengkap, sementara member SoShi hanya aku dan Taeyeon Eonnie yang dapat hadir. Tetapi Taeyeon Eonnie menjadi salah satu pembaca nominasi malam itu, sehingga aku banyak di tinggal olehnya. Ketika itu aku duduk diantara Super Junior sunbae, dan aku berada tepat di belakang’nya’.

Sepanjang acara tersebut berlangsung ia sangat berisik, beberapa kali menghadap kebelakang untuk mengatakan sesuatu yang tidak penting padaku.

tumblr_lzssojjdux1qdhgiko1_500

“Kau ada teman pulang, tidak? Jika mau, Oppa bisa mengantarkanmu pulang nanti”.

Aku melotot kearahnya, “Mwol? Shir…”.

Ketika aku sedang memasang wajah ngambek kearahnya, tiba-tiba kamera terpusat pada kami. Saat itu juga aku segera mengubah mimik wajah dengan memamerkan senyuman simpul. Walau bagaimanapun aku harus menjaga image baikku di depan umum.

Itu seperti sebuah teguran untuknya, karena setelahnya ia tidak mengangguku lagi.

 

Berbicara tentang perubahan sikapku padanya, aku tahu ini salah. Aku seharusnya sadar bahwa aku tidak memiliki hak untuk benci, marah, atau menjauhinya hanya karena ia mencintai wanita lain. Pertanyaan paling dasar yang mesti di tanyakan pada diriku sendiri adalah, Siapa aku di matanya?

Hubungan sebagai hoobae dan sunbae, atau dongsaeng dan Oppa, seperti nya itu lebih tepat. Ya, aku sudah sadar posisi ku sekarang.

 

2012

Tak menyangka bahwa kini hubungan kami malah semakin akrab. Aku tidak melihatnya sebagai seorang pria lagi, tetapi seorang Kakak yang begitu perhatian dan kadang-kadang sangat menganggu dan menyebalkan. Iya, dia sangat menyebalkan. Bisa kau bayangkan, mana ada seorang pria gentle sekelas Choi Siwon mengerjaiku habis-habisan sampai membuatku menangis.

indexh

Malam itu kami semua masih berada di kantor SM. Setelah mengawali SM Town World Tour III di tanah kami sendiri berjalan dengan sangat lancar, kami merayakannya dengan makan malam bersama disana. Saat sedang asyik bercengkrama dengan yang lain, aku tidak dapat menahan tawa ketika Kyuhyun Oppa dengan sejurus aksi jahilnya melorotin celana Eunhyuk Oppa di depan kami semua. Beruntung masih ada kolor di balik celana jeans nya itu. Tingkah mereka sangat mengocok perut dan bibirku menjadi pegal sendiri karena terus tertawa bersama yang lain.

Hal itu membuatku ingin pergi ke toilet untuk buang air kecil. Seorang diri aku melewati lorong gedung. Makin lama suasana menjadi semakin sepi dan lampu penerang lorong juga semakin minim. Langkah kakiku bergerak semakin cepat karena pada dasarnya aku memang sangat penakut. Salah, seharusnya tadi aku meminta Yuri untuk mengantarkanku.

Tanpa menghiraukan keadaan, aku langsung masuk kedalam salah satu kamar kecil disana. Dalam sunyi, tiba-tiba aku mendengar sebuah gebrakan pintu yang cukup keras. Aku sedikit terlonjak dan cepat-cepat segera menyelesaikan urusanku (?).

Setelah keluar, aku mencuci tanganku sebentar di westafel. Entah kenapa aku merasa bulu kudukku berdiri. Baru saja menarik tishu untuk mengeringkan tangan, tiba-tiba lampu toilet padam. Aku hanya mampu berteriak sementara kakiku mendadak sulit di gerakkan. Tak lama dari itu lampu kembali menyala. Aku sudah ingin menangis saja di tempat, dengan sigap aku berlari keluar toilet. Tetapi sesuatu kembali mengejutkanku.

Demi Tuhan, aku ketakutan setengah mati ketika seseorang mengagetkanku dari balik pintu. Aku berteriak sekeras-kerasnya dan setelah sadar bahwa aku sedang di kerjai, aku langsung menangis sangat kencang. Aku berani bersumpah jika saat itu aku menangis seperti anak kecil yang baru saja terluka karena jatuh.

Neo micheosseo?”. Ku pukul orang itu beberapa kali walau dengan tenaga yang melemah karena sungguh, aku terlalu ketakutan sampai mati.

Awalnya ia tertawa, tetapi lengkungan di bibirnya semakin pudar perlahan. Nampaknya ia mulai cemas karena aku menangis tidak main-main. “Ya Tuhan. Im Yoona, wae ureo? Geuryang nong-damiyeyo, mianhae. Jeongmal mianhae”. Ia menepuk-nepuk punggungku dengan wajah menyesal. (Kenapa menangis? Ini hanya bercanda, maafkan aku. Benar-benar maaf)

Wae naege neul haesseoyo? Nan hwana, jinjja hwanasseo!”, kataku makin keras memukuli dadanya. (Kenapa kau lakukan ini padaku? Aku marah, sangat marah!)

Ia menggaruk-garuk tengkuknya serba salah. Mungkin merasa memang dia yang bersalah. Lagi pula siapa suruh, sudah tahu aku sangat takut hantu, ia malah menakut-nakutiku dengan hal seperti itu. Benar-benar lelucon yang tidak lucu.

Semalaman penuh ia mencoba untuk menghiburku dan meminta maaf. Ia tampaknya sangat serius, buktinya ia rela melakukan apa saja yang aku suruh. Termasuk untuk menghabiskan jjambbong yang super pedas. Walau aku tahu ia tidak suka makanan pedas, tetapi ia rela menghabiskannya sampai-sampai air matanya keluar dan wajahnya memerah. Bahkan ia sampai melompat-lompat kesana kemari sambil meronta-ronta karena tidak kuat menahan pedasnya. Lucu sekali. Malah sekarang giliranku yang ingin meminta maaf padanya.

Entahlah, banyak yang berubah dari sikapnya akhir-akhir ini. Tak ada lagi Choi Siwon yang kalem dengan karismanya yang mempesona. Sekarang ia benar-benar usil dan banyak tingkah, sepertinya 11-12 dengan tingkat kejahilan Kyuhyun Oppa.

Bahkan sekarang ia memiliki kebiasaan aneh ketika bertemu atau berada di sekitarku. Setiap kali tangan nakalnya selalu mencolekku dengan tiba-tiba, tanpa memperdulikan kapan dan dimana. Saking seringnya, sering kubalas dengan mendaratkan pukulan kearahnya. Tetapi lama kelamaan aku mulai terbiasa dan sering ku acuhkan saja.

Banyak kejadian lucu yang ku alami bersamanya. Aku pernah beradu panco dengannya dan untuk pertama kalinya aku kalah dari lawanku. Sudah ku bilang, dia tidak se-gentle seperti yang kalian pikir, buktinya dia mau saja beradu panco dengan wanita. Huh, aku masih belum terima dia mengalahkanku.

SM Town World Tour kami terus berlanjut, berbagai negara kami singgahi satu persatu. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, kini kami lebih terang-terangan memperlihatkan keakraban diantara kami. Entahlah, yang ku tahu―dulu kami sama-sama canggung jika sudah berada di atas panggung ataupun berbagai tempat yang terpantau kamera. Namun berbeda dengan sekarang, mungkinkah kita sudah merasa nyaman satu sama lain?

557243_366370563440674_360105290_n

Walaupun ada sesuatu yang mengganjalku akhir-akhir ini. Aku hanya merasa ia lebih perhatian padaku. Tetapi perhatian disini berbeda dengan yang ku artikan dulu.

Tak pernah ia mengirimiku pesan dan menanyakan, ‘Sedang apa?’. Atau bertanya, “Sudah tidur?’ pada tengah malam sebelum akhirnya meneleponku. Tapi sekarang, semua itu hampir setiap hari selalu ia lakukan. Ia semakin rajin mengajakku pergi ke gereja, hanya berdua. Dalam kesibukannya, ia sampai rela menjemput dan mengantarkanku kembali kerumah. Aku hanya tak mengerti, apa arti dari semua ini?

2013

Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa ia adalah orang pertama yang memberikan ucapan selamat ulang tahun padaku. Walau tak bertemu langsung, tetapi tak ada yang rela meneleponku malam-malam tepat pukul dua belas malam hanya untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun. Mungkin ada beberapa, tetapi hanya melalui pesan singkat saja.

Saat itu aku baru saja membersihkan wajahku dan segera meninggalkan kamar mandi ketika mendengar ponselku berdering. Ketika membaca nama yang tertera di layar ponsel aku langsung menyinggungkan senyuman, sudah pasti akan memberikan ucapan selamat ulang tahun.

Tetapi sungguh, aku tak pernah mengira jika orang yang berada di jalur sana akan memberikan nyanyian selamat ulang tahun padaku.

“Saengil chukhahamnida, saengil chukhahamnida, saranghaneun uri Yoongie, saengil chukhahamnida”.

Mataku langsung terbelalak dan jantungku berpacu kencang. Perasaan ini kembali datang seperti yang aku rasakan dulu ketika mendengar suaranya. Entah mengapa, suaranya terdengar berbeda. Sangat lembut dan mampu membuat bibirku mendadak kelu untuk beberapa saat, tak mampu mengatakan apa-apa.

“Yoong, kau ada disana? Yeobeoseyo?”.

Aku terhenyak dan sadar, dengan kaku ku jawab panggilannya. “N-ne! Oppa, aku dengar”.

“Lalu kenapa tadi kau diam saja?”.

Aniyo, gomawo. Terimakasih banyak telah mengingat hari ulang tahunku”.

Dapat ku dengar ia tertawa ringan.

“Kau sedang apa?”.

“Aku baru berniat akan tidur. Oppa sendiri?”.

“Aku sudah berniat tidur dari satu jam yang lalu, tetapi masih sulit tidur sampai sekarang”.

Waeyo?”.

“Nado molla, aku hanya tak mengerti kenapa terus saja memikirkanmu”.

Ne?”.

Lagi-lagi aku mendengarnya tertawa.

“Hsk, bercanda”.

Ah, ya. Tentu saja. Mana mungkin serius.

“Chakkaman, di malam ulang tahun kenapa kau malah tidur. Tidak merayakannya dengan yang lain?”.

Mollasso, mungkin mereka terlalu lelah untuk merayakan ulang tahun ku malam ini”. Jawabanku terdengar begitu melankolis. Sangat menyedihkan.

“Aigo, kasihan sekali. Jika saja bisa―akan Oppa bawakan kue ulang tahun untukmu kesana”.

Aku menghela nafas, hanya ada di mimpiku saja. Ya ampun, bisakah ia berhenti mengatakan harapan-harapan yang baginya hanya sebuah bualan dan dusta besar itu.

Tak lama dari itu terdengar suara keras yang mampu membuatku terlonjak. Kerumunan orang memasuki kamarku, satu diantaranya membawa kue lengkap dengan lilinnya. Fokusku langsung teralihkan dan melupakan seseorang yang tengah mengobrol denganku lewat telepon. Aku tak bisa berkata apa-apa, hanya termanga dan menutupi mulut dengan kedua tanganku.

“Ige mwoya?”, kataku ketika mereka semua tengah menyanyikan lagu selamat ulang tahun.

Kejutan yang sangat… mengejutkan. Ke delapan gadis yang seharian tadi sangat acuh padaku, bahkan mendadak sensitif saat aku tanya atau aku ajak bicara karena alasan sedang lelah, sekarang sedang menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan tingkah yang konyol. Kurang ajar.

Semalaman aku merayakan ulang tahunku di sebuah kafe bersama member SoShi yang lain. Kami sangat menikmatinya. Kapan lagi menghabiskan waktu bersama dengan bersantai tanpa berbagai kekangan dari sana sini.

 

Kami sangat gila-gilaan malam itu, tak heran ketika berada di van saat perjalanan pulang, kami semua mulai terkulai lemas. Bahkan Yuri dan Sooyoung sudah tertidur sejak tadi. Suasana di van andalan kami menjadi sangat sepi.

Aku yang hampir terlelap, langsung terhenyak ketika ponselku bergetar menandakan sebuah pesan masuk.

From: Siwon Oppa

Oppa sudah berada di depan dorm kalian, bisa kau keluar?

Keningku berkerut, kulirik jam di tanganku yang telah menunjukkan pukul tiga. Ia datang menemuiku malam-malam begini? Sudah gila?

Ketika member lain sudah berada di dalam dorm, diam-diam aku keluar lagi untuk menemui seseorang yang sengaja ku suruh untuk menunggu di tempat makan sekitar sini. Aku tak tahu apa yang ada dipikirannya, yang ku tahu, malam itu ia berpakaian sangat rapi. Percis seperti seorang eksekutif muda yang berpakaian lengkap dengan kemeja putih yang di balut tuksedo abu-abu dan di lengkapi dasi abu-abu gelap dan garis-garis putih.

“Oppa”.

Ketika melihatku, ia langsung berdiri dan tersenyum. “Akhirnya datang juga”.

Masih dengan pikiran yang berputar-putar memikirkan ada apa ini, aku duduk di sofa, berhadapan dengannya.

“Kenapa lama sekali?”.

“Tadi aku dan member lain pergi makan-makan dan ketika Oppa mengirimiku pesan, kami masih berada di perjalanan untuk pulang”.

Ia mengangkat alisnya, “Pergi makan-makan? Merayakan apa?”.

“Hh?”, aku menghembuskan nafas dengan berlebihan. “Baru saja beberapa jam yang lalu Oppa memberikan ucapan selamat ulang tahun padaku. Sudah lupa? Tentu saja kami pergi untuk merayakan ulang tahun ku”.

“Mana bisa?”, ia rasanya tak terima dengan apa yang telah terjadi. “Katanya malam ini kau tidak kemana-mana dan akan tidur saja ketika aku telepon…”.

“Memang ada yang salah jika para Eonnie memberikan kejutan ulang tahun padaku? Oppa, kenapa kau jadi marah-marah padaku?”. Aku berubah kesal melihatnya begitu.

Ia terdiam sebentar sebelum akhirnya meminta maaf. “Ani, bukan begitu maksudku”, tengkuknya yang tak gatal ia garuk-garuk kasar dan lebih merendahkan nada bicaranya. “Katanya tidak ada yang merayakan ulang tahun mu malam ini, aku sudah bela-bela datang kesini untuk membawakanmu…”.

Kalimatnya tertahan. Aku sedikit mencondongkan tubuh sambil mengerutkan kening, menunggu ia untuk melanjutkan kata-katanya.

Aku dapat melihat raut wajahnya menjadi berantakan, beberapa saat kemudian ia menggerak-gerakkan jari telunjuknya―masih dengan ekspresi kesal, mengisyaratkan seseorang untuk segera menghampirinya cepat-cepat.

Aku mengikuti arah pandangnya kebelakang dengan bingung, dan dapat kulihat seorang pelayan restoran membawa sebuah nampan berisikan kue ulang tahun yang sudah di hias dengan sedemikian rupa, krim putih, beberapa potongan buah stroberi yang segar, dan empat lilin terpasang disana dengan rapi.

Ia beranjak berdiri dan mengambil alih kue itu. “Ini untukmu”, ucapnya dengan wajah muram dan duduk di sampingku.

Aku memandangnya sambil mengulum senyum, ekpresi yang ia tunjukkan benar-benar membuatku ingin mencubit kedua pipinya. Aku tahu ia merasa tidak puas dengan kejutan yang telah ia berikan padaku, tetapi aku tidak ingin membuatnya berpikiran seperti itu.

Gomawo”, kataku dengan sangat tulus. Ia yang tadinya tertunduk, mengangkat kepalanya dan balas menatapku. “Gomawo, Siwon Oppa. Nan choayo. Neomu neomu choa”, ulangku untuk meyakinkannya.

Mata kami masih saling berpandangan, dan setelah beberapa saat kemudian kami tertawa bersama.

cats

Betapa kagetnya setelah memutar knop pintu dengan sangat hati-hati, kemudian kutemukan seseorang dalam kegelapan dengan rambut panjang tengah berdiri di balik pintu. Aku hampir berteriak. Tetapi segera tertahan ketika menyadari orang tersebut adalah Kwon Yuri, teman sekamarku yang telah berhasil membuat jantungku hampir melompat dari tempatnya.

“Ya Tuhan. Neo micheosso? Sedang apa disana?”, kataku setengah berbisik. Aku tidak ingin yang lain juga terbangun dan ikut mengintrogasiku karena aku tertangkap basah baru kembali ke dorm.

Dengan tenang tanpa wajah bersalah, ia menyilangkan kedua tangan di muka dada. Harus ku akui, jika dia sudah bersikap begitu aku menjadi ngeri sendiri. “W-waeyo? Kenapa berdiri disana? Kau menghalangi jalanku”. Segera ku palingkan wajah darinya dan berjalan melewati Yuri untuk masuk kedalam. “Oh, dinginnya”, keluhku sambil mendudukan diri di sofa ruang tengah.

Masih dengan kedua tangan menyilang didadanya, ia berjalan menghampiri dan menatapku dengan ekspresi datar. Demi Tuhan, Kwon Yuri. Kau membuatku takut!

“Dari mana?”, tanyanya singkat. Tetapi membutuhkan waktu yang panjang bagiku untuk memikirkan jawaban yang tepat.

“Aku barusaja menemui Ayah dan Kakakku di tempat makan sebrang jalan sana”, jawabku asal. Mata Yuri menatapku lebih dalam lagi, memaksaku untuk kembali melanjutkan kebohonganku. “Waeeee? Apa ada yang salah jika mereka menemuiku untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun? Kau ini kenapa, eoh?”. Aku berpura-pura sibuk dengan tas tanganku dan merogoh-rogoh isi didalam tasnya.

“Lantas, Siwon Oppa juga ikut makan-makan bersama kalian, begitu?”.

Seketika aktifitas tanganku terhenti, aku membelalakkan mata dan berbalik kearahnya. Kenapa dia bisa tahu aku pergi dengannya? Apa jangan-jangan dia mengikutiku?

“Siwon Oppa? Kenapa Siwon Oppa? Tidak ada dia disana, hanya aku, Appa, dan Eonnie saja”, jelasku berusaha meyakinkan. Tetapi Yuri bukanlah tipe orang yang mudah dikelabui.

“Tadi aku melihatmu di antar pulang olehnya, Im Yoona. Kau kira dorm kita ini tidak memiliki jendela?”, katanya dengan menekankan setiap kalimatnya. Okay, aku benar-benar sudah tertangkap basah. “Masih mau berbohong?”. Iya Kwon Yuri, kau menang!

Aku menarik tangan Yuri, menyuruhnya yang sejak tadi berdiri untuk segera duduk disampingku. “Jangan mengatakannya pada siapapun”, ucapku dengan berbisik.

“Sebenarnya apa hubungan kalian?”, sepertinya introgasi sudah di mulai. Ia menatapku dengan galak.

Mollasso, tak ada hubungan yang spesial diantara kami. Aku juga tidak mengerti kenapa tengah malam tadi dia meneleponku untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun, lalu setelah kita pergi tadi, dia mengirimiku pesan untuk mengajakku bertemu…”, aku menghentikan ucapanku dan tertunduk. Dia semakin melekatkan tatapannya terhadapku untuk menunggu lanjutan ceritanya. “Dia memberikanku kue ulang tahun dan juga sebuah kado. Pikirkan saja Yul, seorang pria memberikan kejutan spesial di hari ulang tahunku sampai-sampai rela menemuiku malam-malam seperti ini. Aku tahu dia orang yang sangat sibuk, tak mudah meluangkan waktunya untuk melakukan hal tak penting seperti ini. Makanya aku tak habis pikir kenapa bisa?”.

Jinjja? Dia melakukan semua itu?”, tampaknya Yuri juga setengah percaya dan tidak. Jangankan dia, aku pun masih sulit untuk mempercayainya.

Kujawab pertanyaannya dengan anggukan kepala.

“Kado apa yang ia beri?”.

“Sebuah kalung”.

“Neee?”, katanya dengan suara melengking. Otomatis tanganku membekap mulutnya.

“Bisakah pelankan suaramu?”, bisikku dengan kesal. Ketika dia mulai tenang, aku melanjutkan kembali ceritaku. “Menurutmu ia melakukan ini atas dasar apa, Yul? Bahkan ia berpakaian sangat rapi tadi, sebelumnya tak pernah seperti ini”.

“Mungkin ia tertarik padamu”, cetus Yuri.

“Tidak mungkin”, tampikku. Walau hati kecilku berkata, semoga saja begitu.

 

Aku tak pernah menyangka bahwa setelah aku bercerita sepanjang malam hari itu pada Yuri, ia akan mencari tahu mengenai Siwon Oppa lebih dalam. Yuri sepertinya juga tidak ingin melihat sahabatnya terombang ambing oleh ketidak pastian ini. Aku sudah terus terang padanya bahwa sejak dulu aku sudah mengagumi sosok pria itu. Awalnya Yuri mendukungku untuk lebih dekat lagi dengan Siwon Oppa, tetapi ketika itu ia tiba-tiba menjadi berubah pikiran setelah mendapatkan beberapa fakta mulai ia ketahui.

“Yoongi, sebaiknya kau cari lelaki lain saja untuk kau sukai. Jangan Siwon Oppa”.

“Ada apa, Yul?”. Baru mendengar kalimat itu saja aku menjadi berfirasat buruk dan rasa kecewa sudah datang lebih dulu.

“Kau tidak tahu kan bahwa selama ini Siwon Oppa dan Stella masih berhubungan? Kau juga pasti tidak tahu bahwa selama Stella melanjutkan studinya di luar negeri, mereka sempat berbalikan lagi dan berpacaran jarak jauh. Sebenarnya aku tidak akan masalah jika hanya ini alasannya, tapi tahukah, tahun lalu mereka baru saja putus? Aku tidak paham apa yang telah terjadi sehingga mereka memutuskan untuk kembali mengakhiri hubungan mereka untuk yang kedua kalinya, namun yang kutahu, setelah putus dari Siwon Oppa, Stella telah memiliki kekasih baru. Jika tidak salah namanya Song Min Ho”.

“Yoong, baru akhir-akhir ini kan Siwon Oppa menjadi berbeda dan lebih perhatian padamu?”. Aku menelan salivaku dan mengangguk kaku.

“Mari kita pikirkan ini lagi, Yoong. Tahun lalu mereka baru putus dan di tahun yang sama mantan kekasihnya itu telah memiliki kekasih baru. Lelaki juga memiliki hati, aku yakin Siwon Oppa merasa di khianati karena secepat itu Stella menemukan penggantinya. Aku hanya takut Yoong, ia berubah menjadi perhatian padamu karena menganggapmu hanya sebagai pelarian saja”.

tumblr_lr5jvgv5pE1qjacn0o1_500

4649-m36xad7qhu

Cukup, semua ini sudah terlalu cukup bagiku. Aku ingin segera mengakhiri ini. Ucapan Yuri memang tidak ada yang salah, sudah seharusnya aku mulai membuka hati untuk pria lain. Khususnya untuk seseorang yang dengan setia tetap meneguhkan hatinya untukku. Seseorang yang dulu pernah ku tolak karena aku masih belum bisa melupakan cinta pertamaku. Seseorang yang sampai saat ini mencintaku dengan tulus tanpa mengharapkan balasan apa-apa.

Mulai saat ini aku bukan lagi seorang gadis yang single tanpa kekasih lagi. Oppa, aku juga bisa memiliki kekasih sepertimu. Dia adalah seorang pria yang baik dan bahkan lebih perhatian di bandingkanmu. Puas sekali rasanya memamerkan kekasihku itu di depanmu. Kekasihku mampu setia, tidak seperti apa yang pernah kau miliki dulu. Bukankah aku jauh lebih beruntung.

Oppa, mulai saat ini aku telah berhenti menyukaimu.

 

2014

Dunia heboh dengan berita kencan para member Soshi yang mulai di konfirmasi secara terang-terangan oleh agensi kami. Walau ada sebagian kecil yang sebetulnya hanya sebuah rekayasa―aku tidak akan menyebutkan yang mana, tetapi aku akui berita kencanku dengan seseorang yang diberitakan itu memang benar, walau pada kenyataannya media memberitakannya dengan melebih-lebihkan fakta yang ada.

Tetapi keadaan yang kukira akan berjalan jauh lebih baik, ternyata malah menjadi seperti ini. Seharusnya aku memikirkan kekasihku dan meluapkan semua cinta yang ku punya untuknya, namun pada kenyataannya aku malah merasa kalut ketika Siwon Oppa mengubah sikapnya terhadapku dan aku tahu ia mulai menjaga jarak dariku. Memang tak seharusnya aku begini, tetapi aku tidak dapat membohongi diriku sendiri untuk tidak peduli lagi padanya.

yoonwon-defaye

“Aku sudah menerima kado darimu. Gomawo”.

Cheonmaneyo”, kataku seadanya. Diam-diam ujung bibirku tertarik saat melihatnya langsung memakai tas pemberian dariku.

Lagi-lagi kecanggungan menyelimuti kami. Demi Tuhan, aku benar-benar membenci suasana seperti ini. Aku merindukan Choi Siwon yang banyak bicara, yang jahil, dan selalu mengkhawatirkanku.

Oppa, kapan kau kembali?”.

“Kemarin sore”.

“Kau semakin sibuk saja dengan job di China”.

“Yah, untuk mencari pengalaman baru, Yoong. Selagi masih bisa di lakukan”. Jawabannya sangat serius, tak ada lagi candaan yang selalu ia lakukan dulu.

Tahun ini ia memang lebih sering pergi ke China untuk menyelesaikan drama series nya. Bahkan setelah itu ia juga menerima berbagai tawaran untuk bermain dalam beberapa film Internasional. Aku bangga ia semakin populer di luar, mimpi nya untuk menjadi aktor Internasional sepertinya sudah mulai terealisasikan. Tetapi…

Sebenarnya aku tak ingin mengatakan ini, namun semua itu membuatku selalu memikirkannya. Aku sangat merindukannya. Apalagi kesibukannya di tahun ini yang semakin menggila. Selain schedule syuting, tahun ini Super Junior sunbae juga akan merilis album ketujuh mereka.

Ya Tuhan, bisakah aku berhenti membicarakannya.

 

Jujur, selama ini aku sudah mencoba untuk membuka hatiku untuk kekasihku. Bukankah cinta bisa datang karena terbiasa? Namun mengapa sepanjang waktu orang yang selalu berputar-putar didalam pikiranku bukanlah kekasihku, tetapi malah orang lain. Bahkan ketika bersamanya, hatiku selalu membanding-bandingkannya dengan orang yang pernah kucintai itu. Setiap malam, Siwon Oppa sering hadir di dalam mimpiku. Apalagi setelah ia mengungkapkan sebuah pernyataan mengenai isi hatinya yang berhasil membuatku semakin terombang-ambing.

“Sepertinya aku sudah terlambat”.

Mwo?”.

“Aku berjalan terlalu lamban sehingga seseorang telah mendahuluiku”.

Oppa, apa maksud perkataanmu? Terlambat untuk apa?”.

“Untuk memilikimu”.

Pria itu benar-benar brengsek, disaat aku telah mencoba melupakannya dan membuka lembaran baru bersama oranglain, ia baru mengungkapkannya, mengungkapkan sesuatu yang sejak dulu sudah ingin aku dengar―keluar dari bibirnya sendiri. Jika sudah seperti ini apa yang dapat dilakukan, membalas untuk mengutarakan isi hatiku pun rasanya tak bisa.

 

Benar. Aku jauh lebih jahat dari seseorang yang mencintai kekasih sahabatnya sendiri. Aku begitu jahat karena telah membohongi orang yang sangat menyayangiku. Aku mengkhianatinya, aku telah mengkhianati semua pengorbanan yang telah ia berikan padaku. Haruskah hubungan seperti ini terus di lanjutkan? Aku takut jika terlalu lama di pertahankan malah akan semakin membuatnya sakit.

Sepertinya aku termakan omonganku sendiri. Aku baru sadar bahwa aku menerima cintanya hanya karena dilandasi rasa sakitku terhadap Siwon Oppa. Tak pantas aku melakukan ini padanya. Ia pria yang sangat baik, pria yang bahkan paling baik yang pernah aku temui, wanita pendusta sepertiku tak layak untuknya.

 

Hari itu aku pergi ke gereja, gereja yang sering aku datangi dulu bersama seseorang. Kali ini aku hanya bisa pergi beribadah seorang diri. Selain keluarga ataupun teman, tak ada lagi yang dapat menemaniku. Kekasihku seorang atheis, Ayah sedikit menentang dan kurang setuju akan hubungan kami karena itu. Aku ingin meminta petunjuk dari-Nya, baiknya mana yang harus ku pertahankan dan ku tinggalkan? Mana yang harus kulakukan dan tidak dilakukan? Dan sebenarnya siapa yang paling terbaik diantara mereka?

Tuhan, jika memang dia yang terbaik untukku, aku akan membuka hatiku lebih besar lagi untuknya dan belajar lebih keras lagi untuk mencintainya. Tetapi jika dia yang engkau pilihkan untukku, akan aku katakan yang sejujurnya tentang perasaan yang ku pendam darinya selama ini

BLUK~

Aku terhenyak seketika saat tengah terlarut dalam doa ketika terdengar pintu gereja terbuka. Sambil berdiri aku segera berbalik kebelakang. Aku terpaku di tempat. Jantungku berdegub tak karuan. Seorang pria di ambang pintu sana sedang berdiri dengan tegapnya. Kami berdua saling menatap satu sama lain untuk waktu yang cukup lama. Langkah kakinya yang panjang mulai bergerak maju mendekatiku menyusuri beberapa bangku yang ia lewati, sampai akhirnya terhenti di bangku barisan ketiga, dimana aku berdiri sekarang.

Semua itu terasa begitu cepat, bahkan aku belum sempat untuk menyapanya karena ia terlanjur mendekap tubuhku.

catsl

Tuhan, inikah jawabanmu?

THE END

Cerita ini aku buat berdasarkan khayalan yang selalu muncul di otak aku yang di sesuaikan dengan fakta YoonWon yang ada. Aku tahu jelas ceita ini ga 100% asli seperti aslinya, ini hanya fiction, maka segeralah bangun dari mimpi kalian :p

Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika banyak kesalahan atau ketidaksesuaian dengan apa yang terjadi sebenarnya. Fiction ini hanya untuk hiburan sesaat. Maaf juga jika endingnya rancu dan gantung, jika masih bisa sebenarnya ingin buat kelanjutannya. Mungkin nanti buat sudut pandang Siwon sebagai orang pertama. Mengingatkan, segala yang ada di OS ini adalah merupakan sudut pandang Yoona, jadi belum tentu sama jika dalam sudut pandang Siwon atau yang lain 🙂

Maaf juga kalo piku2 nya sedikit mengganggu :3 sengaja biar lebih dapet feel nya saat dibaca..

Setelah membaca jangan lupa untuk memberikan like dan komentarnya. Mohon untuk tidak menjadi silent reader, ya. Terimakasih^^

Tinggalkan komentar

81 Komentar

  1. aqila

     /  Juli 12, 2014

    Sempet nangis waktu stella nampar yoona sma ygbagian ortu😥.
    Keren bgt sumpah thor keren >.<
    Nggak ada kurangnya nih ff udah kyk kehidupan nyata yg terjadi sama yoonwon (amin……) terserah autor deh dibuat lanjut atau enggak yg penting Ditunggu karya2 author lainnya . Keep Writing nd FIGHTING !!!

    Balas
  2. ciemOet

     /  Juli 12, 2014

    Andai saja itU bener2 real,, wah pasti seneng banget thor,,,🙂 apa lagi tUh endingnya siwon meluk yoOna,, mereka bakal jadian kah?truz yoOna bakal mutusin si Atheis kah?wah bener2 masih penasaran thor,,, lanjUt bikin sequelnya donk,,,

    Balas
  3. fanny

     /  Juli 13, 2014

    Miriiiissss bgt😦
    Sedikit kecewa…
    hati ini sakitt author… sakiiit… wkwkw..
    tpii di ending aq berharap thu akan jd kenyataan.. siwon and yoona bersatu..

    daebak thor… :*
    Ditunggu ff mu..

    Balas
  4. Kim Eun Kyo

     /  Juli 14, 2014

    Ahhh daebakkk suka banget saking bgusnya ampe ga bisa ngomong

    Balas
  5. ahhh jinjja daebak eonni..
    aku sunggu sungguh sangat berharap bahwa ini adalah cerita real didukung dengan momen momen mereka yang eonni kaitkan hadeeeeeehhh gak tau deh mau bilang apalagi..
    keren banget deh eonni bisa jadiin momen mereka menjadi ff kyak gini,, semua jempol ku buat eonni🙂

    resty eonni apakah ff eonni yang lain gak mau dilanjutin lagi?? aku masih nunggu sampai saat ini..
    yah pokoknya fighting deh buat eonni moga aja bisa nulis lebiah banyak ff lagi..😉😀

    Balas
  6. Candra Deviparamitha

     /  Juli 19, 2014

    Huuaaa.. nyesekkk><
    Oh ya, dan untuk ff author yg lain pls dlanjutin ya.. smpek saat ini aku masih nungguin looh-_-
    Semangat author:*

    Balas
  7. Anggun YoonAdidict SY

     /  Juli 24, 2014

    Daebak thor…….
    Ditunggu ff mu thor,,,,,,,
    Ditunggu lohhhhh????

    Balas
  8. raaa

     /  September 1, 2014

    Daebakk … suka banget sama ff ini 😍😂 dan andaikan itu bener2 real 😌😝

    Balas
  9. Omona.. huaaaa… ff nya bkin sedih T.T critanya kliatan real… sumpah aku jg ngrasa sakit hati wkt siwon oppa ma stella T.T moga2 itu bneran… moga2 yoonwon jadian… aminn

    Balas
  10. berharap kenyataan . stella nya gitu banget >.<

    Balas
  11. raratya19

     /  Oktober 29, 2014

    Berasa kayak bnr2 fakta😦 nyesek banget, ntah lah, aku ngerasa yoona emang kayak jaga jarak sama siwon di kehidupan aslinya, ga tau kenapa😦

    Balas
  12. brasa kyk real gtuu >_<

    Balas
  13. Mau dong jd kenyataan…. Semoga saja do tahun ini. Amiiin….

    Balas
  14. wahh res, ini ff kok aku nyesek bgt yaa…
    nyesek jadi yoona, selama bertahun2 nyimpen rasa suka bahkan cinta..tapi yg didapet selalu aja rasa sakit. Disaat dia mulai bahagia, selalu aja ada penghalang…
    oh god, ga tega sama yoona..

    dan kenapa siwon kesannya disini jahat bgt. Disatu sisi dia bisa jadi seorg pria tapi disisi lain bisa menjadi seorang saudara..
    aku kalau jadi yoona juga bakal bingung sama sikap nih orang…
    apalagi dia malah jadian sama cewe lain, nyeaek banget sumpah..kenapa dia nenberi perhatian seperti itu jika akhirnya dia malah sama orang lain.

    Untuk sooyoung and yuri, aku tau maksud mereka baik. Tapi arti kalimat itu benar2 menyakitkan. Apalagi dengaj tanda kutip pria itu hanya memberikan harapan palsu, terlebih hanya sebagai pelampiasan semata..
    ga tega sumpah, sejahat itu kah seorang choi siwon…

    Disaat yoona move on, yg sangatku setujui  tapi dengan breng**k nya dia bilang terlalu lambat, dia terlambat…
    terlambat memiliki….
    sumpah kesel banget…. 
    kayak gini mah mending siwon dibiarinin patah hati, siapa suruh mempermainkan hati orang…
    huhh aku pengen siwon ngrasain apa yg yoona rasain, nungguin org yg dicintainya bertahun2…
    biar dia tahu gimana rasanya menunggu itu sulit…

    Res, ini daebak…
    sekaligus bikin aku gondok sama siwon huft >.<
    bisa sequel-nya dipercepat eoh…
    greget sama nih ff kkk~

    Balas
  15. Novi

     /  Februari 17, 2015

    Daebak thor ceritanya…
    Lanjut thor…

    Balas
  16. Hulda Maknae

     /  Maret 3, 2015

    Akhh berharap real…..yoonwon bersatukan????need sequel..

    Balas
  17. nurlianana

     /  Juni 14, 2015

    berasa banget kalo ini real🙂

    Balas
  18. h_ra307

     /  Juli 5, 2015

    wah… hampir mirip asli.a dari sudut pandang nited cz. ada moment YW. yach meskipun gk tau real.a kyak gimana ,,,,,,,, smoga aja ini real tapi moga aja cerita YW yg real lebih bahagia dari cerita ff eonni🙂 ending.a agak gantung eon

    Balas
  19. Dwi swarnita

     /  Juli 11, 2015

    Yaallah, andai itu real. Betapa bahagianya nited di dunia ini. …

    Balas
  20. nytha91

     /  September 27, 2015

    Moga ini jd kenyataan tp dgn akhr happy ending…please sequelnya dong thor

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: