[FF] Wife For My Husband (Chapter 7)

wfmh-cover

Wife for My Husband

kkezzgw art&storyline

 Cast:  SNSD’s Yoona, SJ’s Siwon

Other Cast: SNSD’s Tiffany, SJ’s Kim Kibum (Choi Kibum) , SNSD’s Kim Taeyeon (Choi Taeyeon), f(x)’s Sulli, SNSD’s Yuri, SJ’s Leeteuk (Park Jung Soo)

Genre:  Marriage Life, Family, Sad, Romance, Drama

 Rated: +15

Length: Chapter

WIFE FOR MY HUSBAND: CHAPTER 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6

Facebook Twitter: ELFSONEYOONWONITED Blog:  keziagwkageweyoonwonAsk.fm

‘Disclaimer of ‘Wife For My Husband’

————————————————————————

WIFE FOR MY HUSBAND: CHAPTER 7– ©kkezzgw

————————————————————————

 

“Ja—jadi…kau dan Yoona….kalian—KALIAN MANTAN KEKASIH???”

Kibum berusaha menutupi kegugupannya dengan sikap sakratis, “Kalau itu memang benar, apa yang bisa kau lakukan?” kata Kibum membela diri.

Tiffany tertawa tak percaya dengan semua ini, “Micheosso! Jadi ini tujuanmu menyarankan berbagai hal yang bertujuan untuk menjauhkan Yoona dari Seoul? Bagaimanapun status Yoona masih istri Siwon, Kibum-ah! Mereka memang akan bercerai tapi apa kau tidak malu memperistri Yoona yang notabanenya adalah mantan istri saudara sepupumu?”

Kibum menyeringai licik mendengar jawaban Tiffany, “Mengapa kau tersenyum? Aku sedang tidak bercanda!”

“Tidakkah kau harusnya mengucapkan terima kasih padaku?” Tanya Kibum masih dengan seringai penuh maknanya.

Tiffany menatap Kibum dengan ekspresi yang penuh pertanyaan, “Aku tidak mengerti apa maksudmu.”

“Bukankah harusnya kau senang aku akan merebut Yoona dari tangan Siwon? Bukankah selama ini kau selalu takut……Siwon menyukai Yoona?”

Tiffany membulatkan matanya dengan sempurna saat mendengar Kibum mengatakan hal yang selalu dia takutkan sendiri, lirikan matanya menandakan dia bingung mengapa Kibum bisa membaca masalah yang selalu menjanggal di pikirannya, “Mwo—“

“Kenapa bisa membaca pikiranmu?” kata Kibum langsung memotong pertanyaan Tiffany.

Kibum tertawa lepas sebelum melanjutkan perkataannya, “Tiffany-ssi, bahkan orang buta-pun bisa tahu bahwa kau sangat mencemburui sosok Im Yoona yang sangat dicintai keluarga suamimu itu.”

Tiffany meremas jari – jari tangannya kesal dengan perkataan Kibum yang sangat menyinggung dirinya itu, “Lalu apa masalahmu!?”

Kibum berjalan maju mendekati wanita yang sekarang siap menamparnya jika dia tidak penasaran dengan maksudnya, “Aku seorang pria, Tiffany Hwang. Sebagai pria, tentunya aku bisa membaca tatapan seorang laki – laki terhadap seorang wanita. Aku bisa melihat Siwon mulai menyukai Yoona lewat tatapan teduh yang kerap kali dia berikan terhadap Yoona. Semenjak itu, aku mulai ragu setelah Yoona melahirkan Siwon akan menceraikan Yoona—ah…atau, kalaupun Siwon menceraikan Yoona, aku jamin 100% dia akan sering menengok Yoona tanpa sepengetahuanmu.”

N-neo!?” Tiffany sudah mengangkat tangannya siap menampar pipi Kibum saat itu juga, tapi tangan gesit Kibum langsung meraih tangan putih Tiffany dan menatapnya tanpa ekspresi, “Kau tahu? Dibanding kau membuang energimu untuk menamparku, lebih baik kita bekerja sama!”

Tiffany menghempaskan tangannya yang digenggam erat oleh Kibum, “Bekerja sama dalam hal apa?”

“Tentu saja memisahkan Siwon dan Yoona, aku mencintai Yoona dan kau mencintai suamimu itu. Aku tahu Yoona sudah mulai memiliki perasaan yang seharusnya tidak ia miliki pada suamimu, tapi bukankah kita tidak bisa memaksakan persaan? Selain itu, seperti yang kubilang tadi, aku mulai melihat gelagat Siwon yang mulai menujukkan ketertarikannya pada Yoona. Dengan begitu, posisi kita sebagai pasangan mereka akan terancam, karena itu aku menawarkanmu bisnis ini, eotte? Kau yakin tidak mau?” kata Kibum dengan senyum penuh muslihat.

Tiffany terdiam sejenak. Benar apa yang dikatakan Kibum, ia pernah menangkap gelagat Siwon yang mulai aneh akhir – akhir ini. Perasaan takut dan cemas seketika memenuhi pikirannya yang memang sudah sangat sensitive setiap mendengar hubungan Siwon dan Yoona, kali ini ia menatap Kibum yang memasang poker face.

Kibum yakin wanita ini sudah termakan perkataannya, tentu saja. Kibum mengenal sifat Tiffany yang memang sensitive sejak dulu, apalagi jika berhubungan dengan suaminya. Dalam hati ia menghitung waktu untuk mendengar jawaban Tiffany. Ia yakin Tiffany akan menerima tawaran ini, cepat atau lambat.

3….2……1……” batin Kibum mulai menghitung.

“Tapi apa kau sudah punya cara untuk menyingkirkan mereka? Sedangkan kita akan pergi selama beberapa lama dan meninggalkan mereka berdua disini.”

BINGO!

Tebakan Kibum benar, ia pun tersenyum miring sambil memandang Tiffany dengan tatapan puas, “Kau tenang saja, Nyonya Choi. Kau hanya tinggal menyetujui semua ini dan aku yang akan mengurusnya, semuanya…kau hanya tinggal duduk dan berpangku tangan, biar aku yang bekerja dalam hal ini dank au tinggal mengikuti semua rencanaku.”

Sejujurnya masih ada setitik keraguan dalam diri Tiffany untuk menyetujui kesepakatan itu, , “Bagaimana? Deal?” Tanya Kibum sambil mengulurkan tangannya.

Tiffany melirik tangan Kibum lalu menghela nafas dengan berat sebelum menjabat tangan itu, “Baiklah, aku setuju.” Katanya padat.

Kibum menyeringai licik dalam senyum manisnya, “Terima kasih Tiffany kau mau bekerja sama denganku, sejujurnya bukan aku yang akan mengurus ini semua, tapi kau sendiri. Sejujurnya kaulah yang akan menjadi tumbal bagiku untuk mendapatkan Yoona. Kau tidak akan menyadarinya karena aku mengerjakannya dengan sangat halus. Jika tak ada kau, mungkin rencanaku ini tak akan pernah berhasil! Bersiaplah, Tiffany-ssi.” Batin Kibum menyuarakan semuanya.

Yeobo, apa kau tidak mendengar suara—“

Siwon yang tiba – tiba masuk ke dalam kamar Kibum langsung mengernyitkan dahinya melihat tautan tangan istri dan sepupunya itu dengan ekspresi Tiffany yang terdiam sedangkan Kibum yang tersenyum, “Apa kau juga berniat menganggu istriku yang ini, Choi Kibum?” sindir Siwon dengan dingin sambil menghampiri mereka, Kibum hanya tersenyum menanggapinya.

Yak, Siwonie. Kenapa kau jadi buas begini? Aku hanya ingin mengucapkan selamat padanya yang akan pergi ke Afrika untuk pelayanan, apa tidak boleh?”

Siwon memutar bola matanya mendengar perkataan Kibum sedangkan Tiffany menatap tajam kearah Kibum, “Lebih baik kau urus urusanmu sendiri, Choi Kibum. Bukankah kau harus pergi ke Seattle bersama Hyung? Yeobo, kaja!”

Siwon menarik tangan Tiffany paksa untuk menjauhi Kibum, pria yang dihindari itu selalu hanya bisa tersenyum namun terdapat makna dalam setiap tarikan bibirnya, “Choi Siwon, cepat atau lambat kau akan segera kehilangan mereka, percayalah padaku.”

.

.

Siwon dengan tuxedo berwarna hitamnya kini bersama Tiffany yang memakai dress berwarna merah dengan motif leopard yang semakin membuatnya terlihat elegan, sesekali wanita itu melirik kearah pria yang sekarang sedang mengantarnya dengan ekspresi datar.

Wanita itu mendengus aneh melihat gelagat prianya yang tidak biasa, tidak biasanya prianya bersikap seakan ‘cuek’ atau seakan ‘tidak perduli’ dengan kepergiannya, seketika perkataan Kibum kembali bergema di telinganya, namun ia segera menepis semua pikiran negatifnya yang tiba – tiba datang entah darimana.

Tiffany berdiri di hadapan prianya saat pintu keberangkatan sudah menyambut mereka, “Yeobo, aku pergi dulu ya! Jaga dirimu baik – baik, makan yang teratur dan tidur yang nyenyak!” kata Tiffany, wanita tadi berusaha se-ceria mungkin. Dia harus bersikap tenang dan ceria agar perasaan negatifnya bisa mengilang dengan sendirinya.

Siwon berusaha membentuk emosi kesedihan di hadapan istrinya. Entahlah, dia merasa sedikit cuek dengan kepergian istrinya kali ini, tidak biasanya dia seperti ini. Atau itu hanya perasaannya saja yang harus ‘mencuekkan’ diri atas kepergian sang istri selama 2 minggu?

“Hah, selalu seperti ini. Kau sering sekali pergi tanpa mengajakku” kata Siwon pura – pura lemas membuat Tiffany tertawa, “Mwoya, ini kan acara gereja khusus untuk para wanita, apa kau seorang wanita?” Tanya Tiffany usil. Tiffany dan 100 anggota gereja akan menjadi sukarelawan di Afrika, karena permintaan menunda 1 hari keberangkatan, Tiffany harus berangkat sendiri.

Tiffany memeluk Siwon dengan erat, dia yakin dia juga akan sangat merindukkan pria ini, “Aku akan merindukanmu, yeobo.”

Siwon membalas pelukkan Tiffany sambil mengecup puncak kepalanya singkat, “Hati – hatilah disana!”

Wanita campuran Amerika – Korea ini mengangguk pasti lalu melambaikan tangannya mengucapkan selamat tinggal, Siwon memandangi punggung yang sudah menjauh dari pandangannya, dia membalikkan tubuhnya hendak pergi.

Tiffany terdiam sesaat, perkataan Kibum lagi – lagi menggema di pikirannya membuat pikirannya semakin kacau dan tak terkendali, ia pun memutar tubuhnya dan mendapati punggung Siwon yang sudah berjalan menuju arah sebaliknya.

Yeobo!”

Siwon kembali menoleh saat mendengar panggilan istrinya dan dibuat terkaget dengan bibir Tiffany yang tiba – tiba mencium dan melumat kecil godly lipsnya, “Kumohon jangan tinggalkan aku. Aku benar – benar mencintaimu, Siwon oppa. Aku tidak tahu harus hidup seperti apa jika kau meninggalkanku…”

Siwon menatap Tiffany bingung, ia jelas tidak mengerti dengan perkataan Tiffany yang seakan menuduhnya akan meninggalkannya. Sebelum ia membuka mulutnya untuk menanyakan maksud perkataan Tiffany, istrinya sudah berlari meninggalkan Siwon yang masih bingung mendapatkan perlakuan tadi.

**

Siswa – siswi di salah satu sekolah elite di Seoul sedang sibuk berlarian kearah madding sekiolah yang terlihat di bagian timur Sekolah. Sesekali beberapa murid yang ada disana akan berteriak kesenangan, ada juga yang kesal tanpa sebab yang tidak diketahuin alasannya oleh Sulli yang masih menatap mereka dengan tatapan aneh, dia berusaha tidak perduli dan tetap melanjutkan langkahnya menuju kelasnya yang berada di lantai atas, “Apalagi gossip yang terpampang disana, huh?”

Sulli berjalan kearah lift yang tersedia di sekolah ini dan dia yang tadinya sendirian kini ditemani oleh 2 siswi dan 2 siswa yang memasang ekspresi yang sama, gembira.

“Aku tidak menyangka aku bisa lulus jurusan business, appaku pasti akan sangat bahagia mendengar kabar ini” kata salah satu siswa yang bertubuh tinggi, 2 gadis yang lain tak kalah antusiasnya menjawab kalimat siswa tadi, “Nado! Bayangkan saja, dari sekian ribu murid yang mendaftar di Oxford, aku bisa mendapatkannya. Benar – benar suatu kebanggaan”

Siswi yang lain ikut menimpali, “Aku sebenarnya belum sempat mengecheck mading, tapi kudengar aku berhasil lulus di jurusan seni, ah jinja!” kata siswi tadi dengan ekspresi berseri – seri.

Sulli yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka langsung terperanjat begitu tahu apa yang sedang mereka bicarakan.

“Apa benar hasil test sudah keluar?” Tanya Sulli tiba – tiba membuat keempat murid tadi dengan tatapan aneh.

Ne Sulli-ah, neo jeongmal molla? 1 sekolah bahkan sedang memperebutkan posisi paling depan di mading dan kau malah tidak tahu?”

Mendengar itu, Sulli yang pada dasarnya kepo langsung kelimpungan, “Cepat bawa aku turun kembali”

MWO?” Keempat murid itu berteriak serempak mendengar perkataan Sulli, apalagi sekarang Sulli sedang menekan – nekan semua tombol agar bisa turun secepatnya, “Aku harus turun! Aku harus turun!”

Sulli pun berhasil turun dan langsung berlari kearah mading, “Permisi, permisi!”

“Hei nona, bisakah kau mengantri”

Yak!”

Sulli tidak perduli dengan semua teriakkan yang menyuruhnya berhenti melakukan tindakan menerobosnya, yang hanya dia pikirkan adalah hasil testnya, Sulli memeriksa daftar nama murid yang lulus di Universitas Harvard dengan teliti.

“YEAH!! I GOT IT!!” Sulli langsung melompat kesenangan begitu namanya tercantum di daftar, bahkan sebagai 10 terbesar. Dia tidak sabar menyampaikan kabar gembira ini pada keluarganya nanti.

**

Kibum dan Leeteuk sudah berada di Incheon Airport, menunggu pesawat pribadi mereka untuk datang sambil bersantai di sebuah café. Mereka bercengkrama riang dengan koper – koper yang sudah diberikan pada asisten mereka, “Aku ke toilet sebentar..” pamit Leeteuk yang hanya dijawab anggukan oleh Kibum.

Kibum yang melihat Leeteuk sudah menjauh langsung mengambil ponselnya dan menekan sederet angka dengan gesit lalu menempelkan ponselnya ke daun telinganya, “Heechul-ssi, jangan lupa lakukan apa yang kusurh, awasi mereka. Kemanapun mereka pergi jika mereka memang berniat pergi, ikutilah. Aku tidak peduli dengan uang yang kukeluarkan, yang terpenting awasi mereka.”

Terdengar nada patuh dari sebrang sana lalu Kibum memutus sambungan telepon mereka, Kibum lalu menghembuskan nafasnya kasar, meninggalkan Siwon dan Yoona berduaan di rumah membuatnya sulit berfikir jernih dan lega, karena itulah ia melakukan ini semua.

**

Tepuk tangan meriah menjadi penutup yang hangat untuk Choi Siwon saat ia selesai menyampaikan project perusahaannya pada pengusaha keturunan Korea-Canada. Perusahaan yang sudah turun-temurun ini semakin menunjukan kejayaanya dalam melebarkan sayap perusahaan. Walaupun cabang perusahaan mereka yang mendapat sedikit gangguan, namun masalah itu tidak membawa dampak buruk bagi akar perusahaan.

Tak lama, pertemuan itu pun selesai. Siwon dan pengusaha Canada itu masih berbincang – bincang di ruang meeting dengan hangatnya, tentu saja ini masih berurusan dengan kerja sama mereka, mereka tidak akan mau membuang waktu mereka untuk hal – hal yang tidak penting.

“Saya sangat mengapresiasi keikutsertaan perusahaan anda dalam project kami, Mr. Henry.” kata Siwon yang hanya dijawab senyuman tipis.

“Tentu saja, bisa bekerja sama dengan perusahaan sebesar ini, siapa yang tidak tertarik?” keduanya pun tertawa renyah.

Pria itu melirik jam tangannya dan membuang nafasnya dengan malas, “Saya harus pergi sekarang, Tuan Choi. Maaf tak bisa berlama – lama disini lagi.”

“Tidak masalah, Tuan.” Mereka pun bangkit dari duduknya lalu berjabat tangan dengan hangat. Siwon yang sudah bersiap untuk pergi dari ruangan itu bersama sang sekretaris langsung menghentikan langkahnya saat mendengar panggilan dari rekan bisnisnya yang baru, “Mr Choi! Jamkamanyo!”

“Nde, Mr Henry?”

Pria itu mengambil undangan yang dipegang oleh asistennya lalu memberikannya pada Siwon, “Aku hampir lupa memberikanmu undangan pernikahan adikku padamu!”

Siwon menerima undangan itu lalu seakan mengenali sosok itu, “Ah, Nona Eunyoung? Yang pernah tuan ikut sertakan dalam project ini beberapa yang lalu?”

Pria itu hanya mengangguk mantap, “Nde, karena itu kami sangat berharap anda dan istri anda dapat meluangkan waktu untuk datang ke pernikahan ini.” Siwon tertawa riang mendengarnya, “Tentu saja, tuan.” Katanya santai.

Setelah itu, Siwon kembali berjalan menuju ruangannya sambil memperhatikan undangan yang terlihat mewah dengan warna perpaduan gold dan silver itu. Memang ia terlihat santai saat mengatakan ia akan datang, namun sebenarnya perasaan berkecamuk langsung menghantuinya saat menerima undangan ini.

Aish jeongmal, aku tidak mungkin datang kesana sendirian..” gumam Siwon terdengar kembali frustasi.

Seakan dewi fortuna sedang menolongnya, ia terpikirkan sosok wanita yang jelas bisa membantunya, segera ia raih ponsel yang ada di depannya lalu mengetik sederet angka sebelum mendekatkan ponsel itu ke telinga kanannya. Nada tunggu mengalun beberapa detik sebelum suara wanita itu terdengar, “Yeoboseyo?”

“Noona! Jigeum eodiya?”

Na? Aku sedang bersiap untuk ke rumah sakit, wae?

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu, bagaimana kalau aku pergi menyusulmu kesana? Rumah Sakit yang biasa ‘kan?”

Geureum, untuk apa ke rumah sakit lain jika keluarga kita sudah kenal baik dengan dokter – dokter disana? Baiklah kalau begitu, kita bertemu dimana?”

Siwon terdiam sejenak untuk memikirkan tempat terbaik untuk bertemu Taeyeon, “Bagaimana kalau aku menunggumu di lorong ruangan VIP, lalu kau menelponku saat kau sudah sampai, eotte?”

“Joha, aku akan segera kesana!”

Siwon memutuskan panggilannya secara sepihak lalu segera menyematkan jasnya kembali lalu berjalan keluar dari ruangan pribadinya. Ia terus memikirkan tentang undangan ini, entahlah, seakan ada sesuatu yang mengganjal pikirannya saat membayangkan harus pergi sendiri tanpa seseorang yang mendampinginya. Tentu saja Yoona sudah terpikirkan olehnya, konyol memang, namun apa salahnya memikirkan istri yang lain saat istri pertamamu memang tidak bisa dimintai bantuan?

Tapi permasalahannya adalah ia tidak mungkin membawa sosok Yoona bersamanya dan ia memperkenalkannya sebagai Nyonya Choi kedua, itu benar – benar konyol menurutnya. Selain itu, ia terpikirkan gossip yang sempat menerpa tentang pernikahannya dengan Yoona yang memang sudah mereda. Walaupun begitu, ia tidak mungkin hadir tanpa seseorang wanita bersamanya, ia terlalu gengsi untuk melakukan itu.

“Aish! Kenapa masalah bertambah rumit?”

**

Yoona—dengan keadaan perut yang semakin membesar—datang ke rumah sakit dimana appanya dirawat. Dengan long dress berwarna kuning serta flat shoes ia terlihat semakin anggun, ditambah surai hitamnya yang menambah nilai tambah untuk kecantikan wanita ini. Ia sudah tidak sabar untuk menjenguk sang ayah yang sudah koma selama lebih dari 6 bulan, tapi hal itu tidak membuat Yoona menyerah sama sekali, dengan bantuan uang dari Tiffany, segala yang berhubungan dengan ayahnya jelas tak perlu terlalu Yoona pikirkan lagi.

“Shi Young Ganhonsa!”

Suster itu menoleh dan kaget melihat Yoona yang sudah berjalan kearahnya, “Omo, Yoona-ssi. Urimaniyo! Bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali aku tidak melihatmu datang mengunjungi Tuan Im.”

Yoona tersenyum simpul mendengarnya, “Aigoo, sudah kubilang panggil aku Yoona saja. Ah…aku sedikit sibuk akhir – akhir ini, makanya tak sempat berkunjung. Oh ya, apa ada perkembangan dari appa?”

Suster itu terdiam lalu menggeleng pelan, seakan mengerti Yoona tersenyum tegar lalu menepuk bahu suster itu, “Na gwaenchana, geurende….gomawoyo eonnie, kau sudah menjaga appa selama ini!”

“Itu sudah menjadi tugasku, Yoona-ssi. Geurende, apa yang kau lakukan di depan bagian kandungan—Omo!”

Seakan baru menyadari kehamilan Yoona, suster itu menatap Yoona dengan tatapan tak percaya, “Agassi sudah menikah? Chukkae untuk pernikahan dan kehamilanmu, Yoona-ssi! Pantas saja kau ada disini.” sekali lagi Yoona hanya dapat menjawabnya dengan senyuman tipis, tak berniat sama sekali untuk ikut ‘berbahagia’ dengan ucapan itu.

“Ne, eonnie. Sebelum menemui appa, aku ingin memeriksakan kandunganku eonnie. Dokter mengatakan aku hanya perlu banyak istirahat dan jangan terlalu stress.”

“Aigoo, ibu hamil memang tidak boleh terlalu stress, Yoona-ssi. Lebih baik kau segera ke ruangannya. Ia pasti merindukanmu!”

.

.

Siwon berjalan santai menuju lorong rumah sakit itu, sebelum menunggu kakaknya yang sudah bisa ia pastikan akan berjalan lambat kesini, ia pun memutuskan untuk ke kamar mandi sejenak. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuknya berada di dalam toilet.

Setelah itu ia berjalan keluar untuk melanjutkan langkahnya menuju tempat tujuannya, yaitu lorong bagian Dokter Ibu dan Anak. Ia bersenandung santai sampai langkahnya terhenti melihat seorang wanita yang ia kenali sedang berbincang dengan seorang suster, ia hanya bisa melihat siluetnya dari belakang, “Apa dia Yoona? Untuk apa ia kesini?”

“…..Lebih baik kau segera ke ruangannya. Ia pasti merindukanmu!”

Samar – samar Siwon mendengar percakapan keduanya sebelum wanita itu membungkukkan badannya sopan lalu mereka memisahkan diri, wanita itu berjalan lurus membuat Siwon semakin penasaran, ia mengambil ponsel yang ada di kantungnya dan melihat tak ada telepon dari Taeyeon. Dengan hati – hati ia mengikuti langkah wanita itu menuju lorong ruang rawat VIP, “Untuk apa wanita itu masuk ke dalam ruangan VIP?” Siwon semakin dibuat penasaran.

Wanita itu sudah menghilang dari hadapan Siwon, tentu saja wanita itu sudah masuk ke dalam ruangan tempat tujuan utamanya kesini, Siwon berdiam di depan ruangan itu, “VIP 407 Room.” Siwon bergumam saat membaca nomor ruangan itu.

“Aish jinjja aku benar – benar penasaran, dia mirip sekali dengan Yoona.” Kata Siwon sambil terus melirik kearah pintu itu..

Yak, Wonnie! Mwohae?”

Siwon terlonjak kaget lalu menoleh ke belakang saat mendengar suara sang kakak menegurnya, “Noona, kamjakiya!”

Taeyeon mengernyitkan dahinya bingung, “Memang kau sedang apa sampai terlihat kelabakan, huh?”

“A—ani! Aku baru sampai, dan aku hanya penasaran bagaimana ruangan VIP di rumah sakit ini.” Dusta Siwon.

Taeyeon mencibir adiknya, “Babocheoreom, ah sudahlah cepat temani aku untuk check up! Aku tidak mau membuang – buang waktu di rumah sakit” kata Taeyeon sambil berjalan mendahului Siwon yang masih diam di tempatnya.

“Apa itu benar – benar Yoona? Tapi untuk apa dia menjenguk seseorang di ruang VIP?”

FLASHBACK

“Aku tadi melihat mereka masuk ke sebuah ruang rawat VIP di rumah sakit ini”

Siwon menaikkan alisnya bingung, “Maksudnya?”

“Mereka sepertinya sedang menjenguk seseorang, tapi aku tidak tahu nomor ruangannya” kata Sulli terdengar benar – benar bingung dan penasaran, “Dan anehnya oppa, mereka seperti terburu – buru dan mengendap – ngendap, aku penasaran, sepertinya ada yang mereka sembunyikan dari kita oppa”

Chapter 5

END of FLASHBACK

Siwon membulatkan matanya saat teringat kejadian itu, dimana saat itu Sulli memberitahu tentang keanehan kedua istrinya yang menjenguk seseorang di ruang VVIP, di rumah sakit ini juga, “Sebenarnya apa yang mereka sembunyikan dariku?” /chapter 5\

“CHOI SIWON! Nae maleul deuleo!?” pekik Taeyeon kesal.

“Ah.. Ne noona!”

.

.

MWORAGU?” pekik Taeyeon saat mereka berada di kantin rumah sakit.

Taeyeon langsung memukul lengan Siwon dengan dompetnya membuat Siwon mengaduh, “Aw! Yak Noona, wae irae?”

“Apa kurang banyak kau memiliki istri lebih dari 1? Jika kau beralasan Tiffany sedang di Afrika, kenapa kau tidak bersama Yoona saja? Kenapa harus aku, huh?”

Siwon menghembuskan nafasnya kasar sebelum menatap Taeyeon, “Bukan begitu Noona, apa kau lupa tentang gossip yang mengatakan aku menikah lagi? Ya walaupun itu bukan gossip, untuk apa kita harus memancing api yang berakhir dengan munculnya asap?”

Taeyeon baru mendapat inti dari permasalahaan Siwon sekarang, ia tahu memang tidak mungkin jika Siwon datang bersama Yoona dengan status suami istri, itu akan menjatuhkan segala usaha yang selama ini dilakukan keluarga Choi untuk menutupi sosok Im Yoona, “Kau benar juga, Siwon-ah!”

“Karena itu aku memintamu menemaniku, bukankah benar – benar tidak menyenangkan datang ke resepsi pernikahan orang lain tanpa sosok wanita disampingku? Lebih baik mereka mengira kau istriku dibanding aku di gossipkan tidak laku!”

Taeyeon tertawa lebar mendengar gerutuan Siwon yang sejujurnya memang terdengar lucu, “Kau ini seperti pangeran yang sedang mencari putri untuk pergi ke pesta dansa. Ah bagaimana kalau kau tetap mengajak Yoona tapi tidak membawanya pergi ke resepsi?”

Siwon menatap Taeyeon yang sekarang sedang menatapnya penuh harapan, “Lalu untuk apa aku mengajaknya jika ia tidak ikut bersamaku ke pesta?”

Taeyeon menyipitkan matanya menyindir, “Kau ini! Apa kau tidak kasian pada Yoona yang sudah terkurung di rumah berbulan – bulan? Ajaklah dia untuk refreshing, apa susahnya? Macau salah satu daerah terbaik di dataran China, sudahlah ajak saja!”

Mendengar saran dari Taeyeon, seakan ia terpikirkan rencana untuk mencoba lebih mengenal Yoona, ia tersenyum membuat Taeyeon ikut tersenyum, “Benar dugaanku, Siwon mulai membuka hatinya untuk Yoona” Batin Taeyeon menyuarakan kegembiaraannya begitu menyadari hal itu.

**

Yoona sampai ke rumah Siwon saat sore langsung berjalan menuju dapur setelah meletakkan barang – barangnya dan tentunya mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai, “Ahjumma, mwohae?”

Hong ahjumma yang sedang sibuk memotong bawang menoleh kearah Yoona sambil tersenyum lembut,”Oh Agassi, wasseoyo? Aku sedang membuat makan malam untuk tuan dan nyonya.”

Yoona terdiam sejenak lalu tersenyum riang, “Kalau begitu aku akan membantumu, ahjumma!” kata Yoona riang sambil meraih apronnya.

Omo, jangan Agassi. Lebih baik Agassi istirahat saja, biar saya yang melakukannya!”

Yoona tertawa mendengar nada panik dari pembantu rumah tangga yang sudah ia anggap sebagai bibinya, “Aigoo, ahjumma. Geogjeonghaji maseyo, aku sudah terbiasa melakukan ini, lagipula aku bosan berdiam diri!”

Hong ahjumma hanya bisa pasrah sambil memperhatikan Yoona yang sekarang sedang bersenandung kecil sambil memotong lobak yang belum sempat ia sentuh, “Yoona Agassi memang benar – benar berbeda dengan Tiffany Agassi.”

.

.

Siwon yang baru sampai sibuk memijat pelan lehernya yang terasa sangat pegal, sesekali ia merenggangkan otot – otot lengan dan jemarinya yang terasa kaku setelah bekerja seharian. Rumahnya yang luas membuat rumah yang saat ini hanya ditinggali oleh 3 orang membuat suasana sangat sepi dan hening, terlebih hubungan yang tidak akrab diantara 2 dari 3 orang yang menghuni rumah ini.

Siwon kembali teringat perkataan Taeyeon untuk mengajak Yoona bersenang – senang di Hongkong sambil menghadiri resepsi pernikahan kolega perusahaannya. Ia pun memutuskan untuk mandi sebelum memberi tahu Yoona tentang ini, namun indra penciumannya seakan menangkap sesuatu yang aneh dari arah ruang makan, ia pun memutuskan untuk melihat makanan apa yang sudah disajikan oleh Hong ahjumma hari ini.

Ia tertegun. Rasanya dunia berhenti bergerak saat itu juga lalu memudar. Hingga yang ada dimatanya kini hanya bayangan wanita yang sekarang sedang sibuk menata makanan diatas meja dengan apron hijau yang masih menempel di tubuhnya, bulan sabit terbentuk pada bibir Siwon. Untuk kesekian kalinya ia melihat sisi wanita dari Yoona, yang tak pernah bisa ia dapatkan dari Tiffany. Tiffany tidak mahir dalam hal memasak dan urusan dapur, ia hanya memasak ramen untuk Siwon, tidak seperti Yoona yang sepertinya sangat ahli dalam urusan ini.

Siwon pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya dengan pikiran yang sedikit tak karuan karena Yoona.

.

.

“Oh oppa! Makanlah, Hong ahjumma sudah membuatnya dengan susah payah!” kata Yoona saat Siwon masuk ke ruang makan.

Siwon tersenyum tipis lalu duduk di hadapan Yoona. Tanpa banyak bicara, Yoona—entah secara sadar atau tidak—dengan telaten mengambil piring yang di simpan di hadapan Siwon lalu menaruh nasi ke piring itu membuat Siwon kembali tertegun.

Sekali lagi, perbedaan diantara Yoona dan Tiffany begitu kentara. Tiffany yang besar di Amerika terkesan tidak terlalu mempertunjukan perhatiannya dalam hal – hal kecil seperti ini, ia terbiasa dengan budaya Amerika. Tapi berbeda dengan Yoona yang terlihat sangat terbiasa dengan hal – hal sejenis ini.

Menyadari tatapan Siwon, Yoona langsung terdiam, “Ah mianhae oppa, aku terbiasa melakukan ini, jika kau tidak suka—“

“Ah ani, bukan begitu maksudku. Justru aku mau berterimakasih padamu karena sudah melakukan ini, Yoona.”

Walaupun terjadi keheningan, keduanya saling mengulum senyum masing – masing. Yoona yang malu hanya menunduk lalu kembali mengambil makanannya, sedangkan Siwon yang juga merasakan perasaan yang sama ikut mengambil lauk pauknya.

Siapa sangka keduanya justru kembali mencipatakan suasana canggung yang lebih kental saat kedua tangan mereka bertemu, mereka saling bertatapan dengan pipi yang memerah sebelum Siwon melepaskan tangannya, “Kau ambil duluan saja…”

Yoona hanya mengangguk lalu meneruskan kegiatannya yang sempat terhenti. Keduanya melanjutkan makan mereka dengan keheningan, hanya terdengar pertemuan sendok dan piring yang terdengar. Siwon yang sebenarnya ingin mengatakan tentang resepsi itu kini harus mengurungkan niatnya mengingat suasana hatinya pun sedang tak karuan karena Im Yoona.

 

.

.

Begitu pun saat mereka berada di kamar mereka, atmosfer yang penuh dengan kecanggungan terus memenuhi mereka, tapi kini suasana itu semakin bertambah dikarenakan Siwon yang mulai merasakan perasaan yang aneh pada Yoona. Walaupun begitu, mereka belum banyak bicara sampai keesokan paginya.

“Oppa sudah bangun? Baru saja aku ingin membangunkanmu, makanlah. Tadi aku bangun terlalu siang karena itu aku hanya bisa menyiapkan yang sederhana.”

Dengan mata yang masih setengah mengantuk, ia pun berjalan menuju meja makan dan melihat kimbap yang sudah tersusun dengan cantiknya di meja, “Kau bilang ini sederhana, Im Yoona?” batin Siwon menyuarakan ketidaksetujuannya terhadap pendapat Yoona.

Mereka masih menutup mulut sampai akhirnya Siwon memutuskan untuk mengatakannya sekarang, “Yoona-ya!”

Yoona mengangkat wajahnya lalu menatap Siwon, “Ne, oppa?”

Siwon berdeham singkat untuk membersihkan tenggorokannya yang terasa kaku tiba – tiba, “Besok kita akan pergi ke Macau untuk menghadiri pernikahan partner perusahaanku”

Yoona membelalakan matanya mendengar ajakan Siwon, ada setitik bahagia yang tak bisa ia elak maupun ia tutupi, ia senang Siwon mengajaknya berpergian, ia yakin senyuman kecil tersinggung di bibirnya, “Kita akan ke Macau?” gadis yang tak pernah berpergian keluar negeri jelas saja merasa

Ne, Macau. Tapi aku tidak dapat berjanji kau bisa datang ke resepsi itu, kau tahu kan tentang gossip yang menyerang kita beberapa bulan yang lalu? Aku tak mau ada orang yang mencurigai ini semua..”

Yoona tidak peduli akan hal itu, yang ia tahu ia akan pergi dengan Siwon, namun kerutan di dahinya menandakan ada sesuatu yang janggal disini, “Geunde oppa, kalau aku tidak datang ke resepsi itu, lalu untuk apa aku ikut bersama oppa?” Tanya Yoona dengan kebingungan yang kentara sekali?”

Siwon terlihat kaget mendengar pertanyaan Yoona, ia tidak siap jika ditanya tentang ini, ia menggaruk tengkuknya kebingungan lalu menatap Yoona yang masih menanti jawabannya, “Ah keugo…. Aku hanya tidak enak meninggalkanmu sendirian di rumah, kau mau kan ikut?”

Kali ini Yoona tesenyum dengan manisnya, secercah kebahagiaan langsung memenuhi hatinya, “Oppa benar – benar mengajakku?” Siwon mengangguk sambil balas tersenyum, “Tapi apa kau punya dress?”

Yoona langsung terdiam sesaat, “Bukankah aku tidak ikut ke resepsi? Untuk apa dress?”

“Hanya berjaga – jaga jika situasi aman dan kau bisa tetap ikut, kau ada tidak?”

Yoona menggeleng sebagai jawabannya, jangankan untuk membeli dress, untuk makan saja rasanya susah sekali untuk mencari uang. Siwon tertawa renyah melihatnya, “Arasseo, tunggu sebentar.”

Siwon mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja lalu mendekatkan ponsel itu pada telinganya, “Yeoboseyo?”

“Yuri-ssi?”

Yoona mengernyitkan dahinya mendengar nama Yuri disebut, ‘Yuri-ssi? Untuk apa Siwon menelpon Yuri?’

“Oh, Siwon-ssi. Ada apa menelpon pagi – pagi?”

Joesonghabnida Yuri-ssi, apa hari ini kau ada waktu luang?”

“Nde?”

“Oh, jangan salah paham. Aku hanya ingin memintamu menemani Yoona untuk membeli dress, sebagai seorang designer terkemuka di Korea tentunya anda lebih mengerti tentang hal itu dibanding saya dan Yoona.”

Yuri tertawa di sebrang sana, “Ah hari ini aku memang sedang tidak sibuk karena hari ini hari Jumat, kalau begitu aku akan menjemput Yoona nanti siang.”

“Apa tidak apa-apa jika kau yang menjemputnya?”

“Tentu saja tidak masalah, kami bersahabat sejak dulu, Siwon-ssi”

Siwon mengangguk sekilas, “Arasseoyo, gomawoyo Yuri-ssi”

Setelah itu Siwon kembali menatap Yoona, “Yuri akan menjemputmu nanti siang.” Yoona mengangguk mengerti lalu tersenyum, “Gomawoyo, oppa!”

Sekali lagi Siwon merasakan sesuatu yang aneh saat melihat senyum Yoona yang merekah untuknya, ia berdeham singkat untuk mengatasi kegugupannya, “Ne

**

“Jadi hubungan kalian sudah semakin membaik sepertinya” kata Yuri dengan senyum menggoda kearah Yoona yang hanya bisa tersenyum malu.

Molla, Yul. Akhir – akhir ini ia memang sikapnya semakin membaik padaku…”

Yuri hanya tersenyum lalu merangkul bahu Yoona gemas, “Aigoo, pasti sahabatku yang satu ini sedang berbahagia~” Yuri yang sudah menyadari perasaan Yoona hanya bisa menggodanya hari ini.

Geumanhae, Yul!” protes Yoona dengan wajah yang memerah.

Mereka sekarang berada di mall yang bisa dibilang hanya pernah Yoona kunjungi beberapa kali dalam hidupnya, itupun saat ia sibuk mengantarkan delivery untuk sebuah event dan saat pergi menemani kakak iparnya, Yuri yang memang sangat mengerti akan fashion sibuk melihat tubuh dan wajah Yoona lalu menyibak dress – dress yang terpampang disana.

“Oh iya, kalian akan kemana dengan dress yang akan kau beli nanti?” Tanya Yuri masih memperhatikan dress – dress itu, “Pesta pernikahan rekan kerja Siwon” Yuri pun mengangguk mengerti.

“Kukira untuk berkencan!” ledek Yuri, “KWON YURI!” pekik Yoona membuat Yuri terkekeh geli.

Setelah itu Yuri kembali memusatkan pikirannya pada tujuannya disini, “Ah, sepertinya yang pink ini cocok dengan tubuhmu yang sedang mengandung, sebenarnya menurutku kau cocok dengan yang hitam ini, tapi karena ini untuk wedding party so yeah lebih baik yang pink, cepat coba!”

Yoona pun mengangguk lalu berjalan perlahan menuju kamar ganti. Tak lama, Yoona keluar dengan suasana yang benar – benar berbeda dari sebelumnya. Kini seorang dewi seakan berdiri di hadapan Yuri yang sudah tercengang melihat sahabatnya yang begitu natural namun elegant, “Yoona-ya, daebak! Neo jinjja yeppoda, jeongmalya!” kata Yuri sambil menatap Yoona tak percaya.

“Siwon pasti akan bertekuk lutut padamu!” seru Yuri dengan tegas.

**

Kini Yoona sedang sibuk menyiapkan barang – barang yang akan ia bawa, tadi siang Siwon menelpon dan mengatakan mereka mungkin akan menginap sekitar 3 hari lamanya, entah apa yang akan mereka lakukan Yoona benar – benar tak tahu menahu, sebelum ia menyiapkan pakaiannya ia sudah memasakkan sesuatu untuk Siwon. Pintu kamarnya terbuka membuat Yoona menoleh, “Oh, oppa sudah selesai makan?”

Siwon tersenyum tipis lalu menghampiri Yoona yang terlihat sibuk dengan koper – kopernya, “Apa kau bisa menyiapkannya sendiri? Perlu kubantu?”

Geureum, apa oppa ingin kusiapkan juga? Kau terlihat lelah”

Perhatian sekali, “Aniya, aku akan menyiapkannya sendiri nanti, kau istirahat saja”

.

.

Setelah membereskan pakaian mereka untuk pergi besok, mereka pun terlelap masih dengan posisi yang sama—punggung saling berhadapan—sekalipun mereka ingin sekali bersikap biasa, namun perasaan gugup yang menyerang keduanya memaksa mereka untuk tetap seperti biasanya.

Tiba – tiba, Yoona merasakan anak dalam kandungannya kembali menendang – nendang saat malam membuat ia terbangun, ia pun melenguh kesakitan dan terlihat gelisah, sekali lagi ia merasa kesakitan setiap malam karena bayinya. Sesekali Yoona melirik Siwon, memastikan pria itu tidak terjaga karena kebisingan yang dibuat olehnya. Ia mengambil sapu tangan dari meja kecil disampingnya lalu menggigitnya erat.

Aegi, wae? Apa kau tidak bisa tidur lagi hmm?” gumam Yoona pelan sambil mengelus perutnya yang tak kunjung diam.

Siwon terbangun begitu mendengar lirihan Yoona yang sudah tak dapat ia bending lagi, pria itu panik dan langsung mendekati Yoona, “Yoona-ya, neo gwaenchana? Waegurae?”

Yoona kaget melihat Siwon yang sudah berada di sampingnya dengan wajah panik, “Ah, ini biasa dialami wanita hamil, oppa” Kata Yoona dengan pelan seakan menahan sakit. Siwon melirik tangan Yoona yang sibuk mengelus pelan perutnya, ia tahu anaknya menendang perut Yoona, ia kembali melirik muka yang sudah penuh dengan peluh.

Yoona tertegun begitu merasakan tangan kanan Siwon menyelip di sekeliling lehernya, Siwon juga mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Yoona membuat Yoona semakin kacau, tangan kirinya ia gunakan untuk mengelus perut buncit Yoona. Kali ini Yoona benar – benar lupa dengan rasa sakitnya, ia merasakan jantungnya berhenti berdetak serta darahnya yang berdesir mendapat perlakuan tak terduga dari Siwon, “Oppa…”

“Apa setiap malam kau kesakitan begini?” Tanya Siwon masih dengan nada panik yang kental, Yoona mengangguk.

Sejujurnya Siwon juga gugup merangkul Yoona seperti ini, tapi rasa paniknya lebih menguasai pikirannya sehingga ia meneruskan perlakuannya. Jemari panjangnya mengusap lembut perut Yoona lembut, ia terus menerus mengelusnya lembut tanpa banyak bicara saat merasakan memang ada pergerakan di dalam sana.

Hati Yoona mencelos saat merasakan perutnya tak sakit lagi, jauh lebih cepat dari biasanya, apa karena bayi ini tahu ayahnya yang mengelusnya? Perlahan raut wajah Yoona yang menegang kian melembut, Siwon menyadarinya lalu tersenyum, “Sudah membaik?” Yoona yang terlalu gugup untuk bicara hanya mengangguk sambil tersenyum.

Siwon melepaskan rangkulannya lalu mendekatkan wajahnya kearah perut Yoona, tangannya kembali mengelus perut itu lembut, “Aegi, mianhae appa tidak pernah menyapamu. Jangan marah lagi dan tidur!” kata Siwon lalu mencium perut Yoona pelan membuat Yoona lemas, ia benar – benar tak menyangka sikap Siwon berubah sejauh ini.

Yoona pun kembali mengubah posisinya menjadi tiduran kembali saat rasa nyeri itu hilang, “Gomawo oppa..” gumam Yoona.

Siwon tersenyum. Entah dapat inisiatif darimana, pikirannya mengatakan harus melakukan ini. Tanpa diduga—bahkan oleh keduanya—Siwon menarik Yoona kedalam pelukkannya. Menyelipkan tangan kokohnya di bawah kepala Yoona, hingga wajah Yoona berada di dada bidangnya. Jantung keduanya seakan bergemuruh cepat dan darah mereka berdesir, kupu – kupu seakan bergejolak dari perut keduanya. Yoona semakin gugup saat mencium wangi maskulin Siwon yang sekarang memenuhi hidungnya. Siwon memeluknya dengan hangat, melingkarkan tangannya yang lain di pinggang Yoona lalu menempelkan kepalanya pada puncak kepala Yoona. Keduanya saling mengulum senyum sekalipun tak ada yang melihat satu sama lain, Yoona merasa nyaman dan terlindungi sekarang, perutnya juga tidak lagi sakit.

Dengan ragu Yoona melingkarkan lengannya ke perut Siwon yang berotot. Yoona membenahi letak kepalannya, untuk menemukan posisi yang nyaman. Perlahan – lahan ia mulai memejamkan matannya dipelukkan hangat Siwon, diiringi detak jantung keduanya yang juga kembali normal.

.

.

Keeseokan paginya, seperti biasa Yoona selalu bangun lebih awal. Pipinya bersemu saat menyadari ia masih tidur dalam pelukan Siwon, ia pun segera mandi dan bersiap – siap, beberapa saat kemudian barulah Siwon yang terbangun, menyadari Yoona yang sedang membersihkan diri, ia pun memutuskan melakuka hal lain sembari menunggu gilirannya. Tak membutuhkan waktu lama untuk keduanya bersiap – siap, mengingat Yoona bukanlah gadis yang harus pergi dengan make up seperti Tiffany. Tepat jam 9 pagi, mereka sudah sampai di Gimpo Airport, dan 1 jam kemudian mereka sudah berada di pesawat, karena kondisi Yoona yang sedang mengandung, tak tanggung – tanggung Siwon mengambil Suite Class yang tersedia tempat tidur, toilet, dan bahkan TV pribadi. Yoona hanya bisa melongo melihatnya sambil berdecak kagum dengan interior pesawat itu, dia baru 2 kali menaiki kendaraan bersayap ini dan selalu bersama Siwon.

Selama perjalanan ke Macau, Siwon dan Yoona tidak banyak bicara walaupun mereka tidur berdampingan, Siwon hanya menonton tayangan yang ada di depan mereka sedangkan Yoona memilih untuk tidur, entah kenapa akhir – akhir ini ia lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur. Mata Siwon sejak tadi terus melirik Yoona yang sedang tertidur dengan damainya membuat Siwon mengulum senyum pada wajah tampannya. 2 jam kemudian mereka sampai disana, karena kedatangan Siwon cukup special bagi Mr. Henry, Siwon pun dijemput oleh salah satu supir pribadi Mr. Henry menuju hotel yang sudah ia pesan 2 hari sebelumnya.

Sekali lagi Yoona dibuat tercengang begitu melihat hotel yang akan di tempatinya selama 3 hari kedepan, warna emas mendominasi membuat lobby hotel ini terlihat semakin mewah, belum lagi sebuah air mancur menghiasi ruangan itu serta lukisan dan ukiran yang menghiasi seluruh dinding bahkan atap yang menjulang tinggi keatas menambah nilai tinggi untuk hotel yang Yoona yakini adalah hotel bintang 5 di Macau, terbukti dengan banyaknya wajah – wajah asing yang berjalan di sekitar mereka. Pilar – pilar berwarna emas berdiri dengan gagahnya di sepanjang hotel itu.

Siwon yang menyadarinya hanya bisa tersenyum geli, ia sadar istrinya bukanlah orang kaya sekalipun gadis ini tak pernah berbicara tentang hal ini secara langsung, karena itu ia mencari hotel terbaik dan kelas pesawat terbaik untuk Yoona.

“Huanying nin lai dao The Venetian jiu dian, xian sheng he qingfu!” kata receptionist itu dengan ramah. Yoona yang tidak mengerti hanya tersenyum seadanya. (selamat datang di The Venetian Hotel, tuan dan nyonya.)

“Choi Siwon de yuyue.” Kata Siwon dengan tenang. (reservasi atas nama Choi Siwon)

Receptionist itu mengecheck komputernya lalu tersenyum kearah Siwon, “Zhe ge shi ni de yaoshi, xian sheng. Huanying bing xiangshou nin men de jiaqi.” (ini kuncinya, tuan. Selamat datang dan nikmati liburan anda).

NB: kalo mandarinnya ada yg salah, kasih tau ya. Soalny itu pake kosakata author sendiri, dari buku2 mandarin dirumah, dan karena mandarinny author masih standard so yeah please klo ada yg lebih ngerti boleh kasih tau^^

Siwon hanya tersenyum tipis lalu meraih tangan Yoona menuju kamar mereka, Yoona yang menyadarinya langsung menegang karena gugup, “Kapan resepsinya akan diadakan, oppa?” Tanya Yoona untuk mengisi kecanggungan diantara mereka.

“Nanti malam, karena itu istirahatlah. Aku akan menyuruh anak buahku untuk memeriksa apakah aman untukmu datang kesana” sekali lagi Yoona hanya bisa mengangguk paham.

Siwon membuka pintu kamar yang bernomor 0520 itu. Seperti dugaan Yoona, Siwon memesan President Room dengan warna cokelat dan cream mendominasi. Jika seperti ini terus, Yoona bisa dikatakan terlalu down to earth karena terus – terusan tercengang melihat hal – hal yang berbau mewah, yang seharusnya mulai ia biasakan seperti sekarang. Ia hanya pernah 3 kali menginap di hotel, dan selalu mendapat kejutan saat melihat kamar hotelnya. Sejujurnya kamar ini terlalu besar jika hanya ditempati oleh mereka berdua.

Mereka menaruh barang – barangnya saat keduanya memasuki kamar tidur, terdapat sebuah tempat tidur King Size disana dengan balutan sprai dan selimut putih yang terlihat mewah, kain berwarna cokelat menghiasi bagian bantal untuk mempercantik suasana kamar itu, lampu – lampu yang menghiasi ruangan kian memperhangat ruangan. Entahlah mungkin ini semacam godaan dari atas, dalam waktu bersamaan keduanya teringat kejadian yang terjadi tadi malam, mungkin wajar jika Yoona merasa malu mengingat ini pertama kalinya ia dipeluk oleh seorang pria di atas ranjang, namun untuk apa Siwon juga ikut malu mengingat ia mungkin saja sering melakukannya pada Tiffany? Entahlah, yang pasti pipi Yoona sekarang memerah sedangkan Siwon sibuk mengatur nafasnya yang langsung memburu. Siwon berdeham singkat untuk memecah keheningan dalam kecanggungan itu, “Aku mandi dulu.” Katanya sambil masuk ke dalam kamar mandi setelah membereskan barang – barangnya.

Yoona mengibas – ngibaskan tangannya saat mendengar bunyi pintu kamar mandi sudah tertutup, “Aigoo Im Yoona, kau ini kenapa? Babocheorom jinjja!”

Di sisi lain, Siwon menyenderkan tubuhnya pada pintu sambil memegangi dadanya yang terasa bergemuruh cepat, “Choi Siwon, neo wae irae? Aish jinjja!”

**
“Menurut pengamatan kami, Nyonya Choi bisa datang ke resepsi dengan aman, tidak terlalu banyak kolega yang berasal dari Korea Selatan, rata – rata mereka adalah pengusaha yang berasal dari China dan Kanada, selain itu pernikahan ini private, wartawan tidak diperkenankan masuk, Tuan Choi”

“Geuraeyo? Arasseo, gomawoyo, Shindong-ssi”

Siwon menoleh kearah Yoona yang sekarang sedang sibuk mengeringkan rambutnya dengan hair dryer di depan meja rias, “Kau bisa ikut ke resepsi itu, bersiaplah…” Yoona menatap Siwon dengan tatapan oh-tidak-matilah-aku miliknya lalu mengangguk kaku.

“Kalau begitu aku akan keluar” kata Siwon yang sebenarnya sudah siap berangkat, namun mendengar Yoona bisa menemaninya, apa salahnya menunggu?

“Ah oppa!” Siwon menoleh dan mendapati wajah Yoona yang penuh dengan keraguan, “Aku tidak begitu ahli dalam hal berdandan, tidak apa – apa kan jika aku hanya memakai make up seadanya?”

“Tanpa make up pun kau sudah terlihat cantik”

Gwaenchana, yang penting kau tetap harus memakai make up” hanya kalimat itulah yang justru keluar dari mulut Siwon sebelum ia menutup pintu kamarnya.

.

.

Siwon melirik jam tangan yang melingkar di tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 6 waktu setempat dan Yoona masih belum selesai. Baru saja ia sudah malas untuk menunggu, pintu kamar itu terbuka dan terpampanglah sosok Im Yoona yang sebenarnya.

Kali ini Siwon benar – benar tercengang, Yoona yang hanya memakai foundation, bedak, aye shadow, dan lipstic tipis terlihat bukanlah Im Yoona yang biasa berdiam diri dirumah ataupun memasak, kini yang tampak di mata Choi Siwon adalah Yoona jelmaan malaikat yang tiba – tiba datang menemuinya. Seakan dunia memudar dan hanya Yoona-lah yang ada di hadapannya.

Mata Siwon yang berbinar menelusuri Yoona dari atas sampai ke bawah, bibirnya membentuk bulan sabit begitu menyadari betapa cantiknya wanita itu, Yoona yang menyadari tatapan Siwon menunduk malu untuk menyembunyikan pipinya yang bersemu, “Siwon oppa…”

Siwon segera tersadar begitu mendengar Yoona memanggilnya, “Ah ayo kita berangkat sekarang” katanya sambil mengenggam tangan Yoona erat lalu keluar bersama.

**

Ballroom hotel mewah itu kini sudah disulap sedemikian rupa menjadi tempat resepsi yang bergengsi bagi para konglongmerat yang menjadi tamu undangan. Silver serta gold menjadi konsep utama dari pernikahan antara 2 konglongmerat China – Canada itu, tak tanggung – tanggung mereka mengundang hampir 1000 tamu undangan dengan kapasitas ruangan mencapai 1500 orang.

Yoona memeluk lengan Siwon dengan erat begitu ia dan suaminya itu masuk ke dalam ballroom itu, sejujurnya ia juga hanya beberapa kali pergi ke sebuah pesta sebagai tamu, dan itu semua tidak semewah saat pesta pernikahannya sendiri dan yang sekarang ia datangi. Ia merasa kikuk berada dalam ruangan yang berisi para pejabat serta pengusaha kelas atas, sesekali ia melirik para wanita yang datang ke pernikahan ini. Mereka berdandan sedikit menor dengan rambut yang entah diapakan hingga cenderung naik, mungkin untuk menunjukkan siapa yang paling kuat dalam membayar salon. Siwon yang menyadari tatapan Yoona hanya tersenyum lalu mengusap lembut rambut wanitanya, “Gwaenchana, kau sudah terlihat cantik bahkan hanya berdandan seperti ini.”

BLUSH~

Semburat merah di pipi Yoona langsung merekah sempurna, dalm hati Yoona merutuki Siwon yang hari ini sukses membuatnya seakan terbang dengan segala kata – katanya. Siwon tersenyum, ia senang sekali melihatnya. Mereka pun kembali berjalan dengan santai dan berdiri untuk menunggu sang pengantin memasuki ruangan.

Banyak lelaki yang melirik Yoona, Siwon merasa tidak heran karena Yoona benar – benar mempesona dan cantik hari ini, terlebih perut buncitnya tertutup gaun Yoona yang memang sedikit longgar, pasti para lelaki itu tidak menyadari hal ini. Perasaan tidak suka langsung menyelimuti hatinya. Tangannya yang bebas langsung merangkul pinggang Yoona posesif membuat Yoona menoleh kearah Siwon dengan ekspresi heran, terlebih saat melihat rahang Siwon yang mengeras karena kesal.

Waeyo, oppa?”

Siwon melirik Yoona sekilas, “Aniya, kau tidak boleh menjauh sedikitpun dariku, okay?” kata Siwon masih dengan nada yang sedikit berapi – api, Yoona yang sedikit bingung hanya mengangguk seperti biasanya.

.

.

Setelah bersalaman pada kedua pengantin dan berbincang sekilas dengan Mr. Henry, Siwon pun memutuskan untuk segera kembali ke hotel. Moodnya sudah membaik tadi, setelah kejadian itu ia selalu bersama dengan Yoona, tak berniat sama sekali untuk melepaskannya. Yoona yang tidak menyadari hal itu hanya menikmati kebersamaannya dengan Siwon yang menurutnya cukup langka.

Mereka langsung mengganti pakaian mereka, kini mereka sama – sama berada di ranjang yang sama dan keduanya tak sedikitpun bisa memejamkan mata, pikiran mereka seakan tidak bisa menghentikan mesinnya dan terus membiarkan mata mereka terjaga.

Tapi kali ini posisi tidur mereka sedikit berubah, entah mereka sadari atau tidak, mereka tidak lagi saling memunggungi melainkan terlentang dengan posisi biasa, dengan wajah menghadap langit – langit bukan tembok seperti biasanya. Yoona kini sedang memikirkan Siwon, begitupun sebaliknya.

Yoona memikirkan perubahan sikap Siwon yang secara tiba – tiba, walaupun itu jelas membuatnya bahagia, namun ia tak dapat mengelak bahwa ia sadar Siwon melakukan ini bukan karena ia menyukai dirinya, ia hanya mengasihaninya, dan sejak dulu ia tidak suka diberikan perhatian dalam taraf kasihan.

“Siwon oppa..” panggil Yoona memecah keheningan.

“Hmm?”

“Aku ingin bertanya sesuatu, tapi kumohon jawab pertanyaan ini sejujur – jujurnya..” Siwon mengalihkan pandangannya pada Yoona lalu kembali berdeham sebagai jawaban, “Apa yang oppa pikirkan saat pertama melihatku?”

Tak ada yang bisa Siwon lakukan selain membungkam mulutnya, tentu saja ia tidak suka dan bahkan sangat membenci Yoona di awal pertemuan mereka, saat itu Siwon sadar Yoona memang sangat cantik dan terlihat anggun, tapi tetap saja ia membenci pernikahan konyol itu, pernikahan diatas pernikahan.

Yoona masih menatap Siwon yang masih terdiam, “Jika oppa tak sanggup menjawabnya—“

“Aku membencimu saat itu…” potong Siwon. Ia sedikit menyesali perkataannya yang kini membuat Yoona terdiam, “Aku jelas tidak menyetujui pernikahan kita saat itu, aku mencintai Tiffany dan aku tidak mungkin mengkhianati dia dengan cara seperti itu, walaupun ini satu – satunya cara untuk tetap mempertahankan pernikahan kami. Jika aku seorang pria dengan sejuta kata – kata manis, mungkin aku akan mengatakan semua ini dengan kebohongan, tapi aku ingin mengatakan semuanya sesuai dengan fakta saat itu..” kata Siwon dengan suara pelan, sejujurnya dari yang ia dengar dari Tiffany, Yoona hanya menginginkan uang mereka yang membuat Siwon semakin tak menyukai Yoona, tapi tak mungkin ia mengungkapkan hal itu, tentu saja.

Yoona tersenyum miring mendengarnya, kembali Siwon menorehkan luka dengan belati di dadanya. Ia menghembuskan nafasnya dengan berat, “Jika oppa membenciku, Kenapa—kenapa sikapmu tiba – tiba berubah padaku sekarang?”

Siwon sedikit tertegun mendapat pertanyaan seperti itu oleh Yoona, sekelebat bayangan – bayangan dimana Siwon mulai menyadari Yoona sudah memasuki ruang hatinya kini seakan berputar seperti roll film di kepalanya, membuatnya semakin kikuk untuk menjawab pertanyaan Yoona—yang sejujurnya memang ia hindari.

Nan molla

Nde?”

“Aku benar – benar tidak tahu Yoona kenapa aku bisa memperlakukanmu seperti sekarang ini, yang aku tahu pikiranku seakan memerintahkanku untuk melakukan itu…” gumam Siwon pelan.

Senyuman tipis tercipta di bibir Yoona, senyuman lirih. Sejujurnya dia senang mendengar Siwon mengatakan ini semua, namun ia tahu ini semua dilakukan oleh suaminya karena terpaksa, perasaannya seakan tercampur aduk setelah mendengar Siwon mengatakan itu, “Apa motivasi oppa mengubah sikapmu padaku? Apa karena janin yang ada dalam kandunganku? Atau karena oppa kasihan padaku?” Tanya Yoona parau. Hatinya terasa sakit saat mengatakan itu, ia tahu alasan Siwon yang sebenarnya namun mengapa ia seakan tidak terima dan justru ingin fakta yang ada di depan matanya berubah bahkan jika hanya berlangsung 1 hari?

Siwon kaget mendengar jawaban Yoona, seharian ini—lebih tepatnya selama Tiffany dan Kibum pergi—Siwon tidak pernah memperlakukan Yoona dengan buruk, justru ia memanfaatkan keadaan ini sebaik mungkin sebelum istri pertamanya kembali dari Afrika. Ia pun mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap Yoona dengan tatapan heran, “Kenapa kau bertanya seperti ini, Yoona-ya? Hentikan apapun yang sekarang sedang kau pikirkan!”

Kali ini Yoona balas menatap Siwon dengan mata yang sedikit berair, “Aku hanya tidak ingin kau tersiksa dengan semua ini oppa. Aku tahu kau tidak mencintaiku, malas saat berdekatan denganku, dan kau sangat membenciku. Karena itu, kumohon jangan siksa dirimu dengan bertindak seperti ini, aku tidak butuh perhatianmu, dan aku tidak butuh belas kasihanmu. Aku tidak mau hanya diberi harapan palsu olehmu, sudah cukup aku tersiksa dengan segala—hmpph”

Perkataan Yoona langsung dibungkam oleh bibir Siwon yang sekarang sibuk melumat bibir Yoona kasar, tangan kirinya meraih tengkuk Yoona sedang tangan kanannya memeluk tubuh Yoona erat. Yoona meronta dalam ciuman itu, ia terus mendorong Siwon untuk menjauh dari tubuhnya namun tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan Siwon, akhirnya ia pun menyerah dan menikmati ciuman Siwon yang begitu mendominasi di bibirnya.Siwon melumat bibir bawah Yoona intens sambil terus memperdalam ciuman mereka, kini keduanya sudah terlarut dalam permainan yang mereka ciptakan sendiri. Siwon mencium Yoona seakan tiada hari lagi selain saat ini.

Perlahan, bibir mereka pun terpisah diiringi dengan tarikan nafas oleh keduanya, seakan kembali mengisi paru – paru mereka yang sudah bekerja berlebihan, hidung dan kening mereka masih menempel, mata mereka masih terpejam sempurna, “Apa maksud dari ciuman ini?” gumam Yoona sangat pelan.

Siwon menatap Yoona intens sambil tersenyum tipis, “Kau seharusnya tahu apa maksudnya..”

Kini Yoona menatap Siwon masih dengan mata berairnya, “Bukankah sudah kubilang jangan memberi harapan palsu padaku? Kenapa justru oppa malah melakukan ini?”

“Yoon—“

“Oppa pasti sudah menyadari perasaanku padamu, kan? Karena itu, bantulah aku untuk menghilangkannya, bukan menambahkannya! Aku tidak perlu kau kasihani, perasaanku adalah milikku sendiri, aku tidak pernah memaksakannya padamu oppa, lagipula aku sadar aku tidak sebanding dengan Fany eonnie, karena itu—”

“Aniya Yoona-ya, kau salah jika menganggap aku melakukan ini semua karena terpaksa apalagi mengasihanimu. Entah kenapa sekarang setiap aku melihatmu pikiranku menjadi kacau, seakan segala yang berhubungan denganmu menjadi tanggung jawabku. Aku tidak tahu sejak kapan ini terjadi, namun secara perlahan kau mulai memasuki ruang hatiku yang dulu sempat sepenuhnya dimiliki Tiffany. Aku sadar semenjak kehadiranmu, perasaan ingin diperhatikan oleh seorang wanita lebih mendominasi dibanding saat aku bersama Tiffany karena faktor kepribadian kalian yang memang berbeda, kau membuat sebagian diriku yang selama ini terpendam menyeruak begitu saja. Aku kerap kali memperhatikanmu yang tidak menyadari kehadiranku di Gangwon, setiap melihat Tiffany aku selalu teringat dirimu, bahkan setiap sudut dan kegiatan yang biasa kau datangi selalu terbayang olehku. Aku sadar aku mencintaimu, Yoona-ya. Aku hanya terlalu gengsi dan malu untuk mengungkapkannya dengan kata – kata. Aku tahu aku salah karena mencintai 2 wanita secara bersamaan, dan aku tahu aku tak mungkin bisa bersamamu karena Tiffany. Tapi, biarkan aku—dalam waktu yang tersisa menikmati waktuku untuk mencintaimu, Im Yoona…”

Ibu jari Siwon menghapus air mata Yoona yang langsung keluar saat mendengar perkataan Siwon tadi, kali ini air mata penuh haru dan kebahagiaanlah yang keluar, ia tak tahu harus berkata apa, mereka berdua memiliki pemikiran yang sama, sampai kapanpun mereka tidak akan bisa saling memiliki karena Tiffany, tapi mereka juga saling mencintai walau waktu kian mengejar untuk menyudahi pernikahan ini, “Apa oppa berkata jujur kali ini?”

Siwon tersenyum manis, “Bukankah kau menyuruhku mengatakan semuanya dengan jujur tadi?”

Kali ini Yoona tersenyum lebar sambil menatap Siwon yang kali ini balas tersenyum, tanpa aba-aba Siwon langsung meraih pinggang Yoona dan memeluknya erat, membiarkan kepala Yoona bersandar pada dada bidangnya sambil mengelus rambut wanita itu lembut, “Kumohon jangan menangis lagi karena aku…” kata Siwon lembut.

Yoona hanya bisa mengangguk walaupun ia sedikit ragu, tangannya tergerak untuk membalas pelukan Siwon pada tubuhnya. Siwon mendekatkan wajah mereka lalu kembali tersenyum, “Besok kita akan melanjutkan kencan kita…”

Yoona mengernyitkan dahinya bingung, “Apa maksudmu oppa? Bukankah kita tidak pernah berkencan?”

Kali ini Siwon tertawa lalu menoyorkan dahi Yoona gemas, “Aigoo, bagaimanapun saat di Paris kita harus menganggapnya sebagai kencan karena kita tidak mesra sama sekali, kecuali malam terakhir…” kata Siwon sambil tersenyum menggoda membuat Yoona benar – benar malu lalu memukul dada Siwon pelan.

“Jangan bahas itu!”

Siwon tergelak lalu menangkup kedua pipi tirus Yoona gemas, “Saranghae, Im Yoona”

Yoona menatap Siwon dalam sebelum ia tersenyum, “Nado saranghae oppa..”

“Walaupun kita tidak bisa bersatu, aku tetap mencintaimu” suara batin mereka mulai menyelesaikan kalimat yang tidak ingin mereka ucapkan.

Siwon mengusap perut Yoona dengan lembut, “dan appa juga mencintaimu…” katanya sambil mengulum senyum membuat Yoona ikut merasakan euphoria kebahagiaan yang memang ia nantikan, walaupun hanya bersifat sementara.

Siwon membereskan rambut Yoona yang menutupi kening gadis itu, lalu mengecup kening itu dengan sangat pelan membuat bulu kuduk Yoona sedikit berdiri karena gugup, Siwon menempelkan kening dan hidung mereka, “Lupakanlah segala yang pernah terjadi diantara kita, nikmatilah hari depan…” kata Siwon sambil tersenyum sebelum mengulum bibir Yoona dengan bibirnya.

Siwon memeluk Yoona erat dalam ciumannya, begitupun Yoona yang kini memegang dada Siwon sambil membalas kuluman Siwon yang begitu nikmat dan intens. Kedua insan yang sedang dimabuk cinta ini terus berbagi rasa lewat bibir mereka tanpa mengenal kata lelah, dan melupakan 2 sosok yang sekarang sedang gelisah.

NEXT CHAPTER

Kibum menatap layar laptopnya dengan senyum penuh kebencian, ia jelas tak suka dengan apa yang terpampang disana. Telepon yang sedang ia genggam kembali menyuarakan suara dari sebrang sana, “Bagaimana tuan?”

Kibum memejamkan matanya emosi lalu menatap layar itu kembali, “Kirimkan foto – foto ini pada Tiffany, segera!” bentaknya pada lawan bicaranya yang hanya bisa tergagap.

Kibum hampir saja membanting ponselnya jika ia tidak sadar betapa pentingnya data – data di ponsel layar sentuh itu, ia memukul meja kayu itu dengan keras, tak peduli dengan rasa sakit yang langsung menyerang telapak tangannya yang sudah memerah, “Choi Siwon, apa kau ingin lihat apa yang bisa kulakukan untukmu? Kau tidak akan kubiarkan merebut Yoona untuk yang kedua kalinya. Baiklah, jika ini yang kau inginkan, jangan salahkan aku jika rencana ini berjalan jauh lebih cepat dari yang seharusnya kau terima. Aku mungkin tidak akan membunuhmu secara fisik, kau akan kubunuh secara psikis, jangan kaupikir aku tak bisa berbuat hal seperti itu untuk seseorang yang mencoba merebut wanitaku. Choi Siwon, Tiffany Hwang, bersiaplah.”

 

To Be Continue

Astaga-_- ini FF udah lumutan dan ubanan juga lagi, mianhae readers, tapi sumpah author sibuk banget sama sekolah, terutama dalam urusan pelajaran mandarin yg emang mendominasi di sekolahku-_- Tapi tenang, FF ini akan author selesaikan, author sendiri emang pengen banget bikin FF kayak gini dari dulu so yeah mau ada badai rintangan pun akan tetep author kelarin/?

Chapter kali ini sengaja author gak kasih banyak konflik, cape kali ya kalo konflik mulu wkwk sekalian untuk membuat Siwon dan Yoona-nya mulai mengungkapkan semuanya HOHO udah banyak belom nih YoonWon momentnya? Readers suka protes minta banyakin YW momentnya, di part ini author kasih, gimana? Udah cukup belom wkwk dan chapter selanjutnya juga banyak walaupun udah ada konflik sama Tiffany Kibum HEHE

Bagi yang suka tanya tentang pemilihan karakter Kibum, boleh baca disini. Ya kalo boleh jujur juga author lebih suka sama Donghae, tapi serius deh Donghae gak cocok jadi karakter Kibum disini yg penuh ambisi dan licik, dia itu lebih cocok jadi cowo kalem dan pasrah klo udah soal rebutan cewe, ini udah author pertimbangin bener2 loh wkkw

See you on next chapter! Mumpum lagi liburan mau author kejar nih sama Lovely Haters part 3B! Gomawo untuk resty dan echa eonnie yang udah bantu post FF ini><

Jangan lupa RCL ya readers, inget kapanpun author bisa memutuskan untuk mem-protect😉 berikan komentar dan like kalian, kalo bisa share FF ini ke social media yg lain untuk menyebarkan virus YoonWon wkwk

THANKS FOR READING^^

SAMPAI JUMPA LAGI DENGAN PEMAIN ‘DRAMA’ INI~^^

WFMH-cast

Tinggalkan komentar

594 Komentar

  1. Nurlianana

     /  Juni 10, 2015

    Sumpah senyum senyum sendiri baca chapter ini😀

    Balas
  2. tichacha

     /  Juni 10, 2015

    tu kan, Kibum bnr2 nyebelin..
    pake ajak2 Tiffany buat misahin YoonWon pula >.<
    kzll, kzll, kzll

    Balas
  3. ewaa21

     /  Juni 11, 2015

    makin seruu…

    Balas
  4. kwon_hyemi

     /  Juni 16, 2015

    Knpa kibum obsesi bngett sma yoona yahh..??jdinya keliatannya jhatt..udahh ambisius,licikk lagi nyebelinnn…
    Tapi akuu seneng akhirnya mereka brsatuu..

    Balas
  5. senyum2 sndri bca nihh ff.. hehehhehe.. ih kibum udah klwatan tuch skanya sma yoona onnia.. terobsesi bnget sih.. mnrutku jja sma kya author.. hae oppa gk ćcok meranin yg kyavkibum oppa.. hae oppa lebih kepasrah org nya.. nexttt part

    Balas
  6. senyum2 sndri bca nihh ff.. hehehhehe.. ih kibum udah klwatan tuch skanya sma yoona onnia.. terobsesi bnget sih.. mnrutku jja sma kya author.. hae oppa gk ćcok meranin yg kyavkibum oppa.. hae oppa lebih kepasrah org nya.. nexttt partt

    Balas
  7. kana

     /  Juni 30, 2015

    Bru sempat bca skr..
    Lnjt next partx

    Balas
  8. riri

     /  Juli 6, 2015

    yaah sikibum ngajak2 fany misahin yoonwon.. akhirnya gada fany ma kibum si yoonwon bisa berduaan juga.. siwon ngakuin perasaannya juga akhirnya sampe terharu bacanya saeng kekeke

    Balas
  9. likha

     /  Juli 9, 2015

    Suka suka suka,
    banyak yoonwon moment,
    senyum-senyum sendiri dech bacanya chingu,
    bakal tambah seru nich cerita selanjutnya,🙂🙂

    Balas
  10. Anstlfrdaa

     /  Juli 11, 2015

    Mkin dibuat penasaran sm kelanjutannya, next !!

    Balas
  11. susi

     /  Juli 13, 2015

    Heeeehh kibum ngelibatin tiffany pula,, Aish kibum mah licik plus picik banget,
    Terobsesi banget ama yoona ampe ga memperdulikan apapun untuk mendapatkan yoona,,

    Udah ada momen sweet yoonwon nya walaupun sedikit,, tapi gpapa yang penting ada, dari pada momen sifany dan yoonbum mulu,,,🙂

    Balas
  12. Author daebak !
    Selain bakat dalam bikin cerita, author jg ternyata bisa 3 bahasa. 2 jempol buat author..

    Balas
  13. jessica natasya

     /  Agustus 3, 2015

    Aigooooo… Ffnya terlalu KEREN!! Love it very very much. So weet bgt akhir2nya😚. Jd mkn pnsaran sm klnjtnya… Fighting authorrr

    Balas
  14. Sari96

     /  Agustus 20, 2015

    Kibum sudah merencanakan hal jahat.tolong thor berikan ibu peri buat yoona.tuk ngalahkan mereka.

    Balas
  15. YoonaChoi

     /  September 19, 2015

    Yaah kibum jgn jahat doong, jangan pisahin yoonwonnya, mereka kan bru deket jdi jgn dipisahin…

    Balas
  16. Juwinarti

     /  September 20, 2015

    Apa yg akan dilakukan geu namja untuk memisahkan y0onw0n? M0ga rencana nya selalu gagal

    Balas
  17. YoongNna

     /  Oktober 26, 2015

    Pokoknya seneng bgt dipart niii alpgi yoona ma siwon udh ngungkpin persaan msing2…
    Dtunggu moment yoonwon lg..
    Tp msh tkut niii kibum ma fanny kn brusha memisahkan yoonwon

    Balas
  18. Aku setuju sama author yg milih kimbum dari pada Donghae, soalnya sukses bikin aku sebel sama dia.. Daebak!

    Balas
  19. aigo sweet banget mereka berdua,tpi nangis bacanya bayangin yoonwon hrus bercerai karena fani, sedih bangt hti yoona tpi dy mencoba iklas, keren thor , tolong satukan mereka

    Balas
  20. Kusuma Subandrio

     /  November 27, 2015

    Aku ngikutin ff ini dari awal. Tp chapter 4 & 8 di pw ya. Hiks😦

    Gimana cara minta pw nya ? Soalnya aku baru ini baca ff. Mohon bantuannya

    Balas
  21. diah fibri

     /  Januari 19, 2016

    ga suka sama karakter kibum lama2 nyebelin … makin dibuat penasaran sm ff ini …. boleh minta PW part 8 nya donk thor …. makasih sebelumnya ….

    Balas
  22. Sarah aulia

     /  Maret 31, 2016

    Omooo apa maksud kibum oppa..
    Gk suka aku sma karakternya..semoga yoonwon bersatu

    Balas
  23. daebakkk
    Aeginya tau cara buat nyauin orang tuanya ^^
    semoga ntar bersatu yoonwon nya ^^

    Balas
  24. sahwa purem

     /  Agustus 6, 2016

    daebaakkkk,,,,,,,,,

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: