[FF] Journey of Love (Chapter 9)

journey-of-love-poster

Nitahyunmichoi Present

||

Journey of Love

….

Main Cast: Choi Si Won, Im YoonA, Choi Sooyoung, Lee Jong Hyun

Support Cast: Kim Myungsoo, Jung Soo Jung, Choi Minho,etc

Genre: Drama, Family, Romance, Sad || Length: Chapter || Rating: General

Blog: http://nitayoonwonfanfiction.wordpress.com|| Twitter: @nitnitaan – @NitaRahayu22

Disclaimer: Cerita dalam FF ini terinspirasi dari drama-drama Korea yang pernah saya tonton, namun selebihnya, alur serta karakter tokoh adalah murni hasil imajinasi saya sendiri.

Special Art by:KKEZZGW

 

oOo

Journey of Love – Chapter 9

oOo

“Bagi ku masa lalu adalah masa lalu, dan bagi ku masa lalu adalah sebuah mimpi buruk yang akan bisa membunuh ku secara perlahan. Aku sudah tenang hidup seperti ini, meskipun pada awalnya aku tersiksa karena selalu memikirkan mu setiap saat. Namun setelah melihat mu tumbuh dengan baik aku bersyukur ternyata ayah mu menjaga dan membesarkan mu dengan sangat baik. Maka dari itu, kini biarkan aku hidup tenang tanpa harus mendengar cacian dan hinaan orang lain”

“Kau pikir dengan kau mengatakan itu pada ku, aku akan berubah pikiran dan menyerah begitu saja? Tidak akan, aku sudah berjalan terlalu jauh dan aku tidak akan melempaskan Siwon begitu saja”

Ujar Yoona lantang dan penuh penegasan di setiap kata-kata yang terluncur dari bibirnya, membuat Nyonya Choi menatapnya geram.

“Eomma!!!!”

Dunia seakan berhenti berputar saat itu juga bagi Nyonya Choi, dirinya terjebak oleh sebuah skenario yang telah ia rancang sebelumnya. Niat awal ingin menjauhkan Yoona dari kehidupannya tapi kini justru keadaan berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Bukan Yoona yang berada dibibir jurang kehancuran melainkan dirinya sendiri.

Tubuh Ny Choi semakin menegang tak kala derap langkah kaki Sooyoung semakin mendekatinya, kepalanya tertunduk menyembunyikan gurat ketakutan yang sengat kentara diwajah pucatnya. Melihat Ny Choi terhimpit dan ketakutan seperti itu, Yoona hanya tersenyum sinis lalu membuang muka.

 

“Apa yang kau lakukan pada Ibu ku?” sergah Sooyoung lantang bernada introgasi pada Yoona.

“Aku? Kenapa kau bertanya pada ku? Tanyakan saja pada Ibu mu” jawab Yoona sinis.

Dengan sekuat tenaga Sooyoung menahan emosinya, melihat Yoona yang semakin berani dan memperlihatkan sikap congkak padanya membuat Sooyoung semakin muak dan benci melihat sosok Im Yoona.

“Eomma gwaenchana? Kenapa Eomma bersimpuh didepan wanita murahan ini?” tanya Sooyoung merangkul pundak Nyonya Choi. Jelas Nyonya Choi tertegun, ternyata Sooyoung sama sekali tidak marah atau memperlihatkan sikap tidak suka padanya.

“Apa Sooyoung tidak mendengarnya?” ucap Ny Choi dalam hati.

“Eomma, gwaenchana?” sekali lagi Sooyoung bertanya. Kali ini dia mengguncang bahu Nyonya Choi cukup kuat.

Nyonya Choi mengangkat kepalanya, tersenyum palsu pada putri tirinya itu “Eomma tidak apa-apa. Sedang apa kau disini Sooyoung-ah?” tanya Nyonya Choi mengalihkan pembicaraan. Berpura-pura bak seorang lakon di dalam sebuah drama televisi yang penuh dengan sandiwara.

“Aku dengar dari supir Goo, Eomma datang kerumah wanita itu” ucap Sooyoung menatap sinis kearah Yoona.

“Apa yang Eomma lakukan? Kenapa Eomma harus bersimpuh seperti ini padanya?”lanjut Sooyoung menatap sang Ibunda meminta penjelasan. Nyonya Choi tertegun, otaknya merangkai sebuah kata-kata yang setidaknya dapat dipercayai dan masuk akal bagi Sooyoung.

“Eomma, datang kemarin meminta mohon pada Yoona agar menjauhi Siwon. Karena Siwon sudah dijodohkan dengan mu, Eomma memohon padanya agar meninggalkan Siwon dan tidak mengganggu kehidupan mu” jawab Nyonya Choi menjelaskan. Sooyoung terperangah tak percaya mendengarnya, emosinya kembali lagi memuncak lalu berdiri dan menatap Yoona dengan tajam.

“Im Yoona, kau ini wanita macam apa eoh? Kau sudah merebut Siwon dari ku dan sekarang kau membuat Ibu ku bersimpuh didepan mu. Apa kau puas? Apa ini yang kau inginkan?” cerca Sooyoung tak bisa mengendalikan lagi luapan emosi dalam dirinya.

“Seharusnya kau berterima kasih pada ku, Sooyoung-ssi. Jarang sekali ada Ibu tiri yang mau melakukan semua ini demi putri tirinya” ujar Yoona tajam.

Sooyoung kaget mendengar penuturan Yoona membawa-bawa status dirinya dan Nyonya Choi.

“Dari mana kau tahu itu?”

“Dari Ibu tiri mu” jawab Yoona sinis menatap Sooyoung.

“Eomma, Eomma mengatakan padanya kalau aku anak tiri mu? Begitu?” kini Sooyoung beralih mencerca Nyonya Choi. Nyonya Choi bangkit lalu memegang lengan Sooyoung.

“Eomma memang mengatakan itu padanya, tapi Eomma melakukan ini semua demi diri mu Sooyoung-ah. Eomma ingin melihat kau bahagia dengan Siwon, hanya itu. Makannya Eomma sampai mau bersimpuh didepannya”

Yoona tersenyum pahit melihat drama kehidupan yang diciptakan oleh Nyonya Choi – Ibu kandungnya. Kata-kata yang Nyonya Choi tuturkan dari bibirnya membuat hati Yoona semakin terasa sakit dan tak sanggup menerima kenyataan yang tersuguh dihadapannya.

Sooyoung menghela nafas kasar kemudian menatap Yoona.

“Im Yoona, masalah kita belum selesai” ujar Sooyoung memperingati lalu pergi dengan memapah Nyonya Choi meninggalkan Yoona.

Yoona menatap pedih punggung Nyonya Choi, matanya memerah menahan sekuat tenaga gumpalan air mata yang siap terjun bebas. Namun Yoona menyadari, ini semua adalah proses dalam misi balas dendamnya. Sejak awal Yoona sudah tahu, jika semua ini tidak semudah membalikkan telapak tangan meskipun dirinya berada satu pihak dengan Siwon.

“Aku sudah memilih jalan ku, dan aku bersumpah demi Tuhan tidak akan menyerah sebelum kau merasakan apa yang saat ini ku rasakan”

oOo

Brak~~~~~~~~~~~

Suara kaca pecah memekakan telinga Siwon, suara yang entah kenapa Siwon rasakan seperti sebuah panggilan untuk dirinya agar berbalik pada sebuah jendela ruang perawatan yang tak tertutupi gordeng. Siwon menuruti kata hatinya, menajamkan instingnya dan perlahan membalikan tubuhnya untuk memastikan suara apakah itu. Namun sayang ketika Siwon berbalik badan seorang suster menghalangi pandangannya pada ranjang pasien. Suster tersebut tersenyum ramah pada Siwon lalu menutup jendela dengan gordeng.

Siwon membeku, perasaannya tak menentu. Dia ingin memastikan suara apakah tadi, namun ternyata keinginannya harus terhalangi oleh sebuah kaca tipis yang ditutupi ogordeng berwarna hijau. Tak berapa lama Siwon kembali dikejutkan dengan suara pintu terbuka, ternyata suster yang tadi menutup gordeng keluar dari ruang perawatan VVIP tersebut. Siwon segera melangkah menghampiri suster tersebut.

“Suster, boleh saya bertanya?” tanya Siwon. Suster itu tersenyum ramah “Silahkan. Anda ingin bertanya apa Tuan?”

“Tadi aku mendengar suara seperti kaca pecah didalam ruangan itu, apa yang terjadi?” tanya Siwon. Mimik wajahnya memperlihatkan jika dirinya benar-benar penasaran.

“Oh suara itu, tadi pasien tidak sengaja memecahkah gelas” ujar Suster itu tersenyum ramah.

“Pasien? Bolehkan saya melihatnya?” tanya Siwon. Entah kenapa permintaan itu ia ucapkan begitu mudahnya, seperti ingin melihat anggota keluarga atau kerabatnya saja.

Suster itu terlihat kikuk lalu menampakan senyum kakunya “Maaf Tuan. Selain anggota keluarga tidak ada yang bisa masuk ke ruangan ini. Sekali lagi saya minta maaf” ujar Suster itu sedikit menundukkan kepalanya merasa tidak enak hati.

“Oh baiklah, kalau begitu terima kasih” ujar Siwon tersenyum kecewa. Suster itu mengangguk lalu permisi pada Siwon dan kembali melanjutkan langkah kakinya.

Siwon mendudukkan dirinya dikursi tunggu, memikirkan lagi ucapan-ucapan Suster tadi dan rasa penasarannya setelah mendengar suara pecahan gelas. Siwon menatap pintu ruang perawatan itu lalu bergumam pelan “107” ujar Siwon saat matanya menatap nomor ruang perawatan bercat putih.

oOo

Yoona duduk termenung seorang diri didalam kamarnya, melamun memikirkan kejadian tadi yang sungguh tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Yoona menyeka setetes air mata yang tiba-tiba turun tanpa dapat ia tahan, meski sekuat tenaga dirinya menahan tetap saja rasa sakit dihatinya tak dapat ia tutupi.

Gejolak itu selalu saja ada, rasa ingin berteriak dan melampiaskan semuanya selalu ingin Yoona lakukan karena merasa tak sanggup menanggung beban hidup dipundaknya. 11 tahun bukan waktu yang singkat. Bagi Yoona, 11 tahun itu seperti hidup di neraka yang penuh dengan penderitaan, gunjingan orang-orang sekitar yang acap kali membuat hatinya tergores oleh kata-kata yang tajam.

Yoona menghela nafas, mencoba meredam setidaknya sedikit rasa sesak yang kembali menyeruak dari dalam dadanya. Tak ingin lagi Yoona menangisi hal ini, karena itu akan semakin membuat dirinya menjadi lemah.

Lamunan Yoona buyar ketika terdengar suara ketukan pintu, tanpa lama Yoona bangkit dan berjalan untuk membuka pintu.

Yoona mengangkat tangannya untuk membuka knop pintu, ketika pintu terbuka diluar sana seorang pria dengan senyum tipis menyambutnya.

“Annyeong, lama tak bertemu” sapanya halus seperti tak terjadi apa-apa diantara mereka sebelumnya.

Sepersekian detik Yoona terkesiap menatap Jong Hyun kaget, namun tak berapa lama dia kembali sadar.

“Jong Hyun? Ada apa datang kemari?” tanya Yoona kikuk membuat senyum manis yang terpatri diwajah Jong Hyun perlahan memudar dan berganti dengan senyum penuh kegetiran.

“Ku rasa kita harus bicara” jawab Jong Hyun langsung pada tujuannya mendatangi Yoona.

“Bukankah semuanya sudah berakhir, aku pikir sudah tidak ada lagi yang harus kita bicarakan” jawab Yoona nadanya dingin meskipun hatinya terasa sakit tak kala mengatakan kalimat sepedas itu untuk Jong Hyun, pria yang pernah berstatus sebagai kekasihnya.

“Itu menurut mu. Tapi bagi ku semua ini belum berakhir” jawab Jong Hyun seakan tak mau kalah dengan argument yang diucapkan Yoona untuk dirinya.

“Jong Hyun—-“

“Ada tamu rupanya”

Ucapan Yoona terpotong ketika sebuah suara yang tak diundang muncul begitu saja, Yoona menoleh begitu pula dengan Jong Hyun.

“Hyung” bisik Jong Hyun seperti tak percaya jika pemilik suara itu adalah kakak tirinya – Choi Siwon.

Siwon tersenyum miring, dengan santai dia berjalan mengampiri Yoona dan Jong Hyun yang masih tampak terkejut akan kedatangannya.

“Ku kira kau sedang ada dikantor, rupanya kau disini” ucap Siwon ketika sudah sampai diantara mereka berdua.

“Hyung, mau apa kau kemari?” tanya Jong Hyun dingin, bahkan sorot matanya pun tak bersahabat sama sekali.

“Aku? Aku sudah membuat janji dengan kekasihku. Kenapa? Apa kau juga ada urusan dengannya?” tanya Siwon balik bertanya dengan santainya, emosi Jong Hyun tersulut terlihat dari air mukanya yang mengeras serta tatapan matanya yang menajam.

Jong Hyun berbalik menatap Yoona, sementara Yoona sendiri seakan tak mau atau lebih tepatnya tak kuasa jika harus menatap Jong Hyun yang ia sangat yakini terluka karena perbuatan dirinya.

“Inikah alasan yang sebenarnya kau memutuskan ku?” tanya Jong Hyun pada Yoona.

Siwon tersenyum miring, menyaksikan sebuah adegan yang selama ini ia sangat nanti-nantikan.

“Benar, kenapa? Kau tak terima?” jawab Yoona dingin kemudian memberanikan dirinya menatap mata Jong Hyun.

Jong Hyun tersenyum tak percaya, merasa jika semua yang kini terjadi adalah sebuah lelucon. Bagaimana mungkin dirinya dapat percaya jika itu adalah alasan Yoona memutuskan hubungan mereka yang sudah terjalin cukup lama, kemudian dengan mudahnya berbalik pada kakak tirinya yang sebelumnya tak pernah ia kira.

“Hyung, siang nanti temui aku dikantor” ucap Jong Hyun kemudian pamit pergi tanpa sedikitpun menatap Yoona maupun Siwon.

“Ada urusan apa? Jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja sekarang”

Langkah Jong Hyun tertahan oleh kalimat Siwon yang semakin membuat emosinya menyeruak dan rasanya siap untuk meledak.

“Hyung—“ ucapan Jong Hyun terhenti beberapa saat membuat Siwon berbalik menatap punggungnya karena menantikan ucapan Jong Hyun selanjutnya.

“Aku tak akan melepaskan Yoona, sekalipun kau merebutnya dari ku” lanjut Jong Hyun lalu pergi dengan kepalan tangan sempurna yang tak sempat ia layangkan pada wajah Siwon.

Yoona menghela nafas lalu masuk kedalam rumah dengan uraian air mata dipipinya. Hari ini dirinya sangat lelah, lelah menghadapi beragam macam masalah yang menimpanya. Ketika akan memasuki kamar, Siwon menarik tangannya membalikan tubuhnya dengan sedikit kasar. Yoona mencoba menepis, namun tenaganya terlalu lemah untuk melawan hebatnya tenaga Siwon.

“Wae?WAEYO? KENAPA KAU HARUS MENANGIS?” teriak Siwon ketika melihat air mata dipipi Yoona yang kian deras mengucur.

“Lalu aku harus bagaimana?” jawab Yoona setengah berteriak.

“Kau masih mencintanya? Kau masih mencintainya bukan?” tanya Siwon tangannya kuat mencengkram tangan Yoona, seakan itulah pertahannya agar tak benar-benar meluapkan emosinya.

“Apa karena barusan dia mengatakan tak akan melepaskan mu meskipun aku merebut mu, dan kau merasa goyah? Begitu?”

“Minggir dan lepaskan aku”

Yoona berusaha melepaskan kuatnya cengkraman Siwon, namun yang ada ia malah diseret ke sudut dinding membuatnya tak bisa berkutik.

“Im Yoona! Jawab aku!” pinta Siwon sedikit berteriak keras dan kini kedua tangannya beralih pada bahu Yoona.

Yoona berusaha menghindari kontak mata dengan Siwon, ia palingkan wajahnya kearah lain sambil memangis tersedu.

“Bukankah kau pernah mengatakan pada ku, kau tak peduli apakah aku mencintai mu atau tidak. Lalu kenapa sekarang kau tanyakan ini” jawab Yoona membuat cengkraman Siwon seketika itu juga melemah. Memang tak perlu dijelaskan lagi, jawaban Yoona sudah mewakili jika ia masih memiliki perasaan pada Jong Hyun.

“Kau hanya menjadikan ku sebagai alat balas dendam mu, begitu pun aku. Lalu apa perlu dalam hubungan seperti ini harus ada cinta?” lanjut Yoona membuat Siwon benar-benar terpukul.

“Benar, aku memang sudah menyerahkan kehormatan ku pada mu, aku sudah seperti seorang pelacur karena demi membalas dendam aku rela menyerahkan semuanya. Tapi, apa kau kira dengan cara mu sepert itu akan bisa mengambil hati ku?”

Hati Siwon mencelos, rasa sesak didadanya membuat dirinya lemas tak berdaya. Perkataan tajam yang Yoona lontarkan untuk seperti sebuah pisau yang menikam dirinya, sakit dan rasanya Siwon sudah tak punya lagi tenaga bahkan untuk menggenggam Yoona lagi. Perlahan Siwon melepaskan tangannya yang sebelumnya mencengkram kuat bahu Yoona.

“Seharusnya ……kau tak mengatakan itu, kau membuat aku merasa kalah sebelum perang sesungguhnya dimulai” ucap Siwon penuh kegetiran kemudian membalikan tubuhnya dan pergi meninggalkan Yoona dengan gontai.

Yoona runtuh, tubuh lemasnya terduduk dilantai dibarengi dengan isak tangis. Tangannya menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak, dia sendiri juga tidak tahu kenapa semuanya jadi seperti ini. Menjadi sangat rumit, dan sama-sama saling menyakiti.

oOo

Nyonya Choi duduk di tepi ranjang, disusul Sooyoung yang masih menatapnya dengan penuh rasa penasaran. Pertanyaan yang sama terus saja berputar dibenak Sooyoung, namun sekuat tenaga ia menahan agar tak bertanya mengingat kondisi Ibunya yang memang terlihat sangat syok. Sooyoung juga bingung, entah apa yang membuat Ibunya menjadi seperti ini. Namun ia yakin jika Ibunya baru saja mendengar sesuatu yang sangat penting dari Yoona.

 

“Eomma, gwanchana?” tanya Sooyoung sekali lagi untuk meyakinkan, yang dibalas senyum tipis Nyonya Choi.

“Eomma ingin istirahat, bisakah kau tinggalkan Eomma sendiri?” pinta Nyonya Choi. Dengan ragu Sooyoung mengangguk kemudian beranjak dari duduknya.

“Istirahatlah, jika ada apa-apa segera panggil aku” ujar Sooyoung kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu.

Setelah Sooyoung lenyap dibalik pintu, Nyonya Choi menghela nafas berat lalu memejit pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut. Sehingga membuat kepalanya terasa berat.

“Im Yoona, cara apalagi yang harus kulakukan agar kau menyingkir dari kehidupan ku” desis Nyonya Choi prustasi.

Sooyoung masih mematung didepan pintu kamar Nyonya Choi, rupanya rasa penasaran gadis itu teramat besar meskipun tadi Ibunya sudah memberikan alasan kenapa ia bertemu dengan Yoona. Namun entahlah, Sooyoung masih merasa ada sesuatu yang ganjal dari pertemuan antara Ibunya dengan Yoona. Apalagi Sooyoung kembali mengingat awal pertemuan mereka, yang terasa sangat aneh dimana Yoona memanggil Nyonya Choi dengan panggilan “Ibu”

“Im Yoona? Siapa kau sebenarnya?”

oOo

Tuan Lee tersenyum separuh namun kesan arogan tetap saja sangat kentara diwajahnya. Melihat Tuan Choi yang menatapnya tajam penuh kemarahan seperti sebuah lelucon yang terlihat sangat konyol dimatanya. Setelah tadi dirinya dibuat gematar karena hampir saja Siwon mengetahui semua kebusukannya akhirnya sekarang Tuan Lee bisa kembali bernafas lega, karena topengnya tidak berhasil terungkap.

“Rupanya kau mengenali putra mu, ku pikir kau tidak akan mengenalinya karena waktu sudah memisahkan kalian selama 22 tahun lamanya” ujar Tuan Lee tersenyum licik sambil berjalan santai mendekati Tuan Choi yang terbaring kaku di ranjang perawatan.

“Oh mungkin bukan waktu yang memasihkan kalian, tapi aku yang memisahkan kalian. Bukankah begitu?” lanjut Tuan Lee terus mempermainkan Tuan Choi dengan kata-katanya yang sangat memuakan.

“Tapi, ku rasa pertemuan mu hari ini dengan putra semata wayang mu akan menjadi pertemuan terakhir. Kenapa? Karena aku, akan segera menyingkirkan putra mu” ujar Tuan Lee tersenyum licik seketika itu juga mata Tuan Choi membulat sempurna, mungkin jika ia bisa berteriak ia ingin mengetakan “Jangan coba sentuh putra ku” atau mungkin saja Tuan Choi akan berteriak “Bunuh saja aku, jangan putra ku”

Kurang lebih seperti itu yang akan dikatakan oleh seorang Ayah jika mengetahui putranya menjadi sasaran kejahatan seseorang.

“Jangan khawatir, aku akan mempertemukan kalian lagi, tapi saat putra mu sudah terbujur kaku”

“Sahabatku, nikmatilah hari-hari tenang mu” lanjut Tuan Lee lalu mendekatkan wajahnya tepat ditelinga Tuan Choi.

“Jangan coba untuk bergerak lagi, jika tidak aku akan benar-benar membunuh putra mu dihadapan mata mu kepala mu sendiri” lanjut Tuan Lee penuh penekanan serta bernada peringatan.

“Pindahkan dia ke Villa yang sudah ku sediakan, jangan sampai ada yang tahu. Dan segera hubungi Dokter Kim” ujar Tuan Lee kepada dua orang pengawalnya kemudian pergi telah sebelumnya tersenyum licik pada Tuan Choi.

oOo

Di kamar yang gelap Siwon duduk menyandarkan tubuhnya pada sebuah lemari, tangan kanannya memegang sebuah photo usang yang memperlihatkan sebuah keluarga kecil tengah tersenyum bahagia menatap ke arah kamera. Siwon menatap photo tersebut dengan hati berdesir dan mata berkaca-kaca. Seketika itu juga masa lalu yang indah kembali terngiang dibenaknya.

Flashback..

“Siwonie”

“Abojie”

Siwon kecil berusia 4 tahun segera berhambur menghampiri Ayahnya yang baru saja pulang dari kantor. Tanpa ragu lagi, ia segera memeluk Tuan Choi dan mencium kedua pipinya.

“Abojie, apa hari ini tidak ada rapat?” tanya Siwon kecil tersenyum sumriangah.

“Aniya, hari ini Abojie pulang cepat karena ingin bermain bersama mu” jawab Tuan Choi sambil mengacak-ngacak rambut Siwon.

“O…Abojie nuguya?” tanya Siwon ketika menyadari dibelakang ayahnya ada seorang pria yang kira-kira seumuran dengan ayahnya.

“Abojie chingu” jawab Tuan Choi tersenyum.

“Jinjja?”

“Nde, ayo perkenalkan dirimu” ujar Tuan Choi. Siwon kecil menurut, dia membungkuk memberi hormat kemudian memperkenalkan diri.

“Annyeonghaseyo, Choi Siwon Imnida. Bhangeupmnida Ahjussi”

“Oh, annyeonghaseyo. Inikah Choi Siwon? Rupanya kau tampan sekali” ujar pria itu sambil mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Siwon.

“Siwonie, paman ini bernama Lee Jang Hun (red: sekarang jadi ayah tiri Siwon). Dia teman Ayah sewaktu SMA, dan mulai hari ini dia bekerja diperusahaan” ucap Tuan Choi memperkenalkan secara lebih rinci. Siwon mengengguk mengerti “Nde Abojie”

“Kajja, kita masuk kedalam”

End flashback

“Benar, jika waktu itu aku tak menyambut mu dan jika waktu itu aku tak membiarkan ku berkeliaran dalam keluarga ku. Mungkin saat ini, keluarga ku masih utuh dan aku tidak akan pernah hidup dalam dendam seperti ini” ujar Siwon menatap tajam photo ayah tirinya.

oOo

Yoona terkejut ketika baru saja keluar dari rumahnya. Sooyoung ternyata kembali dan sudah berdiri dengan tatapan sinis kearahnya. Yoona menghela nafas lalu berjalan menghampiri gadis itu.

“Waegeure?” tanya Yoona dingin sama seperti tatapannya pada Sooyoung.

“Kita harus bicara” jawab Sooyoung langsung pada tujuannya datang menghampiri Yoona.

“Soal apa? Aku tidak merasa punya masalah dengan mu”

“Sebaiknya kita bicara di kafe terdekat, suasana rumah ini membuat ku tak nyaman” ujar Sooyoung lalu membalikan tubuhnya dan memimpin jalan. Yoona menghela nafas, dan tak ada pilihan lain selain harus mengikuti Sooyoung.

 

Suasana kafe yang sepi, mungkin karena jam makan siang sudah lewat beberapa menit lalu. Yoona duduk berhadapan dengan Sooyoung disebuah meja dekat jendela, mereka berdua hanya memesan secangkir coffee panas sebagai teman ngobrol.

“Kedatangan mu membuat ku terkejut” ujar Yoona membuka pembicaraan setelah sebelumnya mereka berdua hanya diam dan saling menatap.

“Apa hubungan mu dengan Ibu ku?” Sooyoung langsung ke pokok pembicaraan, tanpa basa-basi lagi.

Yoona menarik sudut bibirnya “Bukankah Ibu mu sudah bilang, dia menemuiku hanya ingin memperingati ku agar tak merebut Siwon. Apa semua jawaban itu belum puas?”

“Aku yakin kalian membicarakan sesuatu penting, yang tak kutahui” ujar Sooyoung mulai kesal.

Dengan tenang Yoona tersenyum, menyeruput coffenya kemudian menghela nafas “Melihat ekspresi wajah mu seperti itu. Ku rasa kau tak mendengarnya? Tebakan ku tepat bukan?”

“Im Yoona”

“Sudah ku bilang aku tidak punya masalah apa pun dengan mu, jadi berhenti mencurigai ku” ujar Yoona cukup tegas memberi peringatan. Yoona lalu bangkit dari duduknya, namun sebelum pergi ia kembali berkata yang membuat Sooyoung benar-benar marah padanya “Aku tidak bawa uang, bisakah kau bayar coffee ku? Seharusnya kau membayarnya, karena kau yang membawa ku kemari”

Yoona pergi dengan senyum puas diwajahnya, namun baru beberapa langkah ia terhenti karena ucapan Sooyoung “Tunggu, saat ini kita memang tidak punya masalah. Tapi, jika kau memang berani merebut Siwon dari ku, bukan Ibu ku yang harus kau hadapi. Tapi aku”

Yoona kembali tersenyum sinis, lalu pergi meninggalkan Sooyoung yang sungguh marah padanya.

oOo

Soo Jung duduk seorang diri di sudut cofee shop dengan ditemani secangkir cofee panas, hari ini kebetulan sekali pelanggan yang datang ke cofee shop tempat dirinya bekerja tidak terlalu banyak, jadi Soo Jung bisa sedikit bersantai sambil menikmati secangkir cofee.

“Soo Jung – ah, kau disini rupanya?” Soo Jung yang tengah melihat keluar melalui kaca jendela terperanjat kaget mendengar suara seorang wanita yang tiba-tiba membuyarkan lamunannya.

“Eonni-yaa kau mengagetkan ku saja” gerutu Soo Jung mengerucutkan bibirnya sebal terhadap sikap Gyuri yang selalu saja datang mendadak bak hantu.

“Heheh” cengir Gyuri polosnya.

“O ya, ku kira kau ikut ke lapangan basket” lanjut Gyuri lalu menyeruput hot coffe miliknya.

“Lapangan basket? Memangnya ada bertandingan?” tanya Soo Jung bingung. Gyuri menghela nafas menyadari jika ternyata Soo Jung belum mengetahui sesuatu.

“Minho—“

“Minho? Kenapa dengannya?” potong Soo Jung tak sabar.

“Ais…lihatlah…lihatlah…reaksi mu seperti ini sudah menunjukan kalau kalian itu memang memiliki sebuah hubungan khusus. Kenapa kalian berdua terus mengelak eoh?” protes Gyuri menggeleng-gelengkan kepalanya.

Soo Jung menghela nafas “Eonni, cepat katakan apa yang terjadi dengan Minho. Kenapa dia kabur begitu saja saat jam istirahat” cerocos Soo Jung mengembungkan pipinya kesal. Gyuri tersenyum menggoda.

“Arraseo..arraseo..aku sepertinya tidak bisa membiarkan dirimu dalam kegalauan seperti ini. Minho, dia…. ditantang Myungsoo main basket”

“MWO??? MYUNGSOO?” teriak Soo Jung kaget, bola matanya hampir saja terjatuh jika saja ia tak mempunyai kelopak mata yang besar.

“Yak…yak..waeyeo? Bukankah dikampus Minho adalah tim basket? Kenapa ekpresi mu begitu berlebihan Soo Jung-ah?” ujar Gyuri bingung melihat reaksi gadis yang duduk didepannya itu terlalu berlebihan.

“Uh…kalau saja jam istirahat ku panjang, aku ingin melihat pertandingan itu” lanjut Gyuri bergumam lemas.

“Eonni!! Minho masih cedera, bagaimana dia bisa bermain basket apalagi dengan Myungsoo. Ah jinjja, aku harus segera kesana” tanpa pikir panjang Soo Jung segera pergi. Gyuri masih duduk menatapnya dengan memasang raut wajah bingung.

“Yak Soo Jung-aa, cepat kembali sebelum bos datang” teriak Gyuri memperingati yang dbalas acungan tangan kanan Soo Jung yang sudah mulai menjauh.

“Mwoya? kenapa dia bersikap seperti itu? Apa aku salah bicara?”

oOo

Dua pria kini sudah siap dilapangan, beradu strategi dan juga keahlian masing-masing. Tak seperti pertandingan basket pada umumnya, yang mempertandingkan 5 orang tiap tim atau ramainya sorak sorai teriakan penonton. Pertandingan kali ini lebih ke pertandingan untuk membuktikan siapakah yang paling hebat, sekaligus sebagai ajang pembuktian jika salah satu dari dua pria itu adalah yang terbaik dan yang lebih penting bisa merebut hati dari wanita bernama Jung Soo Jung.

“Tak ku sangka ternyata kau mempunyai keberanian yang hebat, Minho-ssi” ucap Myungsoo tersenyum sinis.

“Kenapa aku sampai tak berani? Hanya melawan mu, apa yang harus ku takutkan?” balas Minho tak kalah sinis.

“Arraseo, Minho memang sangat-sangat hebat. Dia adalah kapten basket Kampus yang sangat pekerja keras, namun jangan salahkan aku jika sampai kau tidak bisa berjalan untuk selamanya bukan ha-nya se-ke-dar lum-puh” ujar Myungsoo penuh penekanan disertai senyum sinisnya.

Minho tersenyum separuh “Ku rasa aku akan mematahkan harapan mu itu” ucap Minho tak kalah sinis.

Pertandingan pun dimulai, bola basket dilempar oleh Myungsoo ke udara dan akhirnya duel pun terjadi, keduanya sama-sama berambisi ingin menang dan membuktikan bahwa mereka adalah yang terbaik. Myungsoo berhasil meraih point pertaman, dengan senyum liciknya ia menatap Minho yang sudah terpancing oleh permainan kasarnya.

Tak mau kalah, Minho berhasil merebut bola, menggiring bola dengan skil individunya yang bagus dan dengan tak mau kalah juga Myungsoo mengejar Minho. Sampai akhirnya Minho berhasil meraih point yang semakin menambah panas atmosfer pertandingan.

Pertandingan satu lawan satu itu semakin memanas, kejar-kejaran point tak terelakan. Selian itu, cara bermain yang kasar membuat keduanya semakin berambisi untuk memenangkan pertandingan. Namun sejauh ini Minho ungguh dengan selisih 5 point, dan itu membuat Myungsoo semakin tak terkendali untuk bermain lebih kasar lagi.

Dengan nafas tersenggal Myungsoo menatap Minho marah, berniat menghampirinya namun mendadak Myungsoo menghentikan langkah kakinya ketika melihat Soo Jung baru saja masuk dengan berlari. Sebuah ide licik melintas bagai kilat di otaknya, tak mau membuang kesempatan emas ini Myungsoo berjalan cepat menghampiri Minho seperti berniat merebut bola, dengan gerak cepat Minho bertindak dan tak sengaja dirinya mendorong Myungsoo hingga pria itu jatuh tersungkur.

Soo Jung pun menghentikan langkah kakinya, gadis itu tampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.

“Yak!! Choi Minho, kenapa kau bermain tak seportif eoh? Kenapa kau mendorong ku?” ujar Myungsoo cukup keras seperti sengaja menaikan volume suaranya agar terdengar oleh Soo Jung.

“Mwo? Kau bilang apa? Aku tak melakukan apapun pada mu” ujar Minho membela diri, karena memang dirinya merasa tak bersalah sama sekali.

“Choi Minho!!!”

Minho membeku ketika mendengar suara gadis itu, dengan ragu Minho membalikan kepalanya dan rupanya benar dugaan dirinya jika saat ini Soo Jung tengah berada tak jauh dari tempatnya.

“Soo Jung”

Ekspresi yang ditunjukan Soo Jung jelas berbeda kali ini, bukan ekpresi kasian pada Minho ataupun kesal pada Myungsoo melainkan sebuah ekpresi kekecewaan yang ia perlihatkan, dan itu membuat Minho khawatir dan merasa jika Soo Jung sudah salah paham.

Namun sang pelaku, dalang dibalik sandiwara ini hanya tersenyum sinis karena merasa sudah menang tanpa harus mengeluarkan energi yang banyak.

Soo Jung menghampiri kedua pria itu dan langsung membantu Myungsoo berdiri “Gwanchana?” tanya Soo Jung khawatir. Myungsoo merintih memegangi lututnya, entah benar-benar sakit atau memang hanya sandiwara semata.

“Kalau kau memang marah pada Myungsoo, setidaknya jangan bermain kasar saat bertanding” ujar Soo Jung pada Minho yang masih terlihat bingung.

“Soo Jung-aa, aku..aku tidak melakukan apa pun padanya. Dia jatuh sendiri” ucap Minho membela diri, karena meresa dirinya memang tak bersalah.

“Aku melihat dengan mata kepala ku sendiri, kau sengaja mendorong Myungsoo. Apa seperti ini Choi Minho yang selama ini ku kenal?” lagi Soo Jung menyudutkan Minho. Myungsoo kembali berakas memakai topeng manisnya dhadapan Soo Jung yang sudah termakan tipuannya.

“Sudahlah, sepertinya Minho memang marah pada ku. Tapi ini semua tidak harus diperjang, Soo Jung-aa kajja” Myungsoo menarik tangan Soo Jung untuk pergi meninggalkan Minho. Sementara itu, Minho masih tak percaya jika Soo Jung kali ini berpihak pada Myungsoo yang sudah jelas-jelas sengaja membuatnya tersudut seperti ini.

oOo

Siwon berjalan pelan menuju Jong Hyun yang tengah menunggunya, namun kakinya berhenti ketika Jong Hyun membalikan tubuhnya kemudian berjalan menuju ke arahnya. Sorot mata kedua pria itu jelas sangat tidak bersahabat, aura kebencian sangat kentara dari sorot mata saudara tiri itu.

Jelas terasa atmosfer yang diciptakan keduanya seakan menandakan inlah perang yang sesungguhnya, setelah sekian lama memendam amarah dalam diri, setelah sekian lama emosi itu terkurung dalam jiwa dan hanya melampiaskan pada sesuatu yang tak membuat diri mereka puas. Namun, pertarungan ini bisa jadi adalah awal dari permasalah pelik yang nantinya akan menghiasi kehidupan keduanya.

Jong Hyun menghentikan langkah kakinya tepat dihadapan Siwon, menatap dalam sorot mata Siwon yang selama sebelas tahun ini ia hormati sebagai kakak tirinya. Namun, rasanya predikat “kakak tiri” itu sudah pupus atau mungkin tak akan pernah lagi terucap dari bibir Jong Hyun untuk selamanya, mengingat apa yang sudah Siwon lakukan padanya membuat diri Jong Hyun sadar, betapa bodohnya dia selama ini. Menghormati orang seperti Siwon, yang bahkan tak pernah melihat kearahnya meski dengan sebelah mata.

“Waegeure?” tanya Siwon santai, justru menyulut kemarahan Jong Hyun.

“Kau bilang ingin mengatakan sesuatu pada ku, apa itu?” tanya Siwon lagi santai.

Jong Hyun menghela nafas, tangan kanannya mengepal sempurna memperlihatkan urat-urat yang seperti akan terputus.

“Aku tahu sejak awal kau sangat membenci ku, aku tahu sejak awal kau sangat tak menginginkan kehadiran ku. Selama ini, aku sudah berusaha menghormati mu dan menganggap mu sebagai kakak kandung ku. Meskipun perlakuan mu selalu kasar pada ku, aku tetap bersikap baik pada mu” ujar Jong Hyun yang direspon senyum sinis Siwon.

“Lalu, kau ingin aku bersikap seperti itu juga? Begitu?” tanya Siwon enteng.

“Benar, dulu aku mengharapkan itu dari mu. Tapi sekarang tidak. Karena aku sadar kebencian mu terhadap ku, sampai kapan pun tidak akan pernah pudar”

“Bukankah sudah jelas, lalu sekarang apa yang kau inginkan?”

“Lepaskan Yoona” jawab Jong Hyun penuh penekanan membuat Siwon senyum separuh meledak padanya.

“Mwo? Kau ingin aku melepaskan dia setelah aku berusaha keras merebut perhatiannya? Apa kau pikir aku bodoh, sekali pun kau mengancam membunuh ku tak akan ku lepaskan dia untuk mu”

“Siwon-ssi!”

“Waeyo?” Siwon menjawab dengan nada yang cukup menantang membuat Jong Hyun terpaksa melepaskan sebuah pukulan manis diwajahnya. Siwon tersungkur karena pukulan yang dilayangkan Jong Hyun terlalu kuat dan tak dapat ia lawan.

“Kenapa? Kenapa kau harus lakukan ini pada ku? Kenapa kau tak ambil saja milik ku yang lain? Kenapa harus Im Yoona? KENAPA?” Jong Hyun marah, tangannya mencengkram kuat kerah kemeja Siwon serta menatap Siwon yang tak melawan sama sekali dengan wajah garang.

“Ayah mu, ayah mu yang membuat aku seperti ini. SUDAH KU KATAKAN BERAPA KALI AYAH MU MEMBUNUH AYAH KU!!!”

“HENTIKAN!!!”

Bug““

Sekali lagi Jong Hyun mendaratkan pukulannya diwajah Siwon, yang kali ini mampu membuat Siwon terkulai lemas tak perdaya.

Nafas Jong Hyun terengah-engah. Bagaimana tidak, dirinya bagaikan disambar petir disiang hari setelah mendengar perkataan Siwon menusuk gendang telinganya sehingga membuat otaknya kembali berpikir keras benarkah apa yang dikatakan sang kakak tiri mengenai ayahnya. Jelas, Jong Hyun tak mudah percaya begitu saja. Tuduhan yang dilayangkan Siwon tak ada bukti sama sekali, dan bisa saja itu hanya asumsinya belaka yang disertai kebencian yang amat mendalam.

“Anak mana pun tak akan terima Ayahnya dituduh sebagai pembunuh, jika kau mengatakan hal seperti itu. Aku tidak akan membiarkan mu hidup, sekali pun kau adalah Kakak tiri ku”

Sekali lagi Jong Hyun melayangkan sebuah pukulan diwajah Siwon, seakan tak terima dengan tuduhan yang dilayangkan Siwon pada ayahnya. Jong Hyun lalu berdiri, kemudian meninggalkan Siwon yang tergeletak tak berdaya.

Siwon sama sekali tak melawan, dirinya terlalu lelah dengan apa yang terjadi hari ini sehingga rasanya sudah tak ada lagi kekuatan dalam dirinya untuk melawan atau berontak ketika Jong Hyun memukulnya.

“Abojie, sebelum aku mati aku akan mengungkapkan semuanya. Aku berjanji” lihir Siwon parau dibarengi dengan setetes air mata yang keluar dari ujung matanya.

oOo

Sooyoung masih gelisah, mundar-mandir tidak jelas diruang keluarga. Bahkan sesekali gadis itu menengok kearah pintu kamar Ibunya, untuk memastikan apakah sang Ibu keluar atau tidak dari kamarnya. Ketika mendapati pintu masih tertutup rapat, Sooyoung kembali mendesah kecewa.

“Aku yakin, mendengar perkataan Eomma dan gadis itu. Tapi apa? Oh shit! Ini membuat ku gila” runtuk Sooyoung mengacak-acak rambutnya merasa prustasi akan kejadian yang menimpanya hari ini.

Tiba-tiba, suara pintu terbuka menyadarkan lamunannya. Sooyoung sadar kemudian bangkit.

“Eomma, gwanchana?” tanya Sooyoung ketika Nyonya Choi keluar dengan wajah yang masih tampak pucat.

“Oh, gwanchana. Tadi Eomma sedikit terguncang, tapi sekarang sudah membaik” jawab Nyonya Choi tersenyum tipis.

Sooyoung mengerutkan keningnya “Terguncang? Memangnya apa yang dikatakan gadis itu pada Eomma” tanya Sooyoung penuh selidik membuat Nyony Choi kembali gelagapan karena terjebak alasannya sendiri.

“Bukan sesuatu yang buruk”

“Lalu kenapa Eomma seperti ketakutan? Kalau boleh aku jujur, Eomma seperti takut Im Yoona akan membongkar sebuah rahasia” ujar Sooyoung tak mampu mengendalikan rasa penasaran dan kecurigaannya.

“Sooyoung-ah–”

“Apa Eomma merahasiakan sesuatu dari ku?” selidik Sooyoung lagi semakin menyudutkan Nyonya Choi.

Nyonya Choi mengela nafas, rasanya percuma berbicara pada Sooyoung dalam situasi seperti ini. Di tambah sifat putri tirinya itu yang keras kepalanya, rasanya ia tak akan memenangkan perdebatan ini. Yang ada dirinya akan semakin tersudut dengan pertanyaan-pertanyaan pedas yang Sooyoung lontarkan.

“Sudahlah, Eomma tidak mau berdebat dengan mu. Yang jelas apa yang Eomma katakan semuanya benar, mengerti? Dan berhenti mencurigai Eomma, Eomma sama sekali tidak ada hubungan apa-apa dengan gadis itu. Jadi, Eomma mohon pada mu. Sudah cukup hari ini Eomma dibuat sakit hati oleh gadis itu, Eomma tidak mau kau juga menyudutkan Eomma, nde?”

Sooyoung menyerah “Arraseo, mianhae” ujar Sooyoung mengalah.

Nyonya Choi tersenyum “Baikalah, sekarang kau siap-siap. Keluarga Lee mengundang makan malam. Kau harus tampil cantik, dan tunjukan kesan anggun dihadapan kedua orang tua Siwon”

Sooyoung kembali tersenyum “Ini kesempatan baik, maka aku juga akan pergunakan dengan sebaik pula”

oOo

Rona merah mudah dipoles pada kedua pipi tirusnya, memberikan kesan manis namun tetap saja aura kecantikannya terpancar sempurna. Rambut hitam panjangnya sengaja terurai dengan diberi sedikit sentuhan dibagian bawahnya sehingga terlihat sedikit ikal. Gaun yang ia kenakan juga sederhana, namun menonjolkan sosok wanita kelas atas yang tahu fashion yang sedang menjadi trand masa kini.

Penampilannya didukung oleh beberapa perhiasan, seperti cincin putih yang melingar dijari tangah tangan kanannya. Tak lupa dilehernya juga terdapat sebuah kalung berbandul berlian, serta sepasang anting yang menggantung dikedua telinganya.

Yoona tersenyum tipis melihat pantulan dirinya dalam cermin, senyum tipis yang cukup menggambarkan betapa ia sangat puas dengan segala yang menempel pada tubuhnya. Hanya dengan memakai baju bermerk, tas, sepatu dan perhiasan yang berharga selangit serta sedikit polesan make-up sudah menjadikannya tampak seperti wanita yang lahir di keluarga konglomerat. Dan dengan penampilannya seperti ini, semakin membuat kukuh keinginannya untuk membalas dendam pada sang Ibunda.

Serakah memang, namun jalan yang sudah ia ambil adalah sebuah keputusan besar dalam hidupnya yang tak bisa lagi untuk diubah ataupun ditawar. Yoona kini berubah, tak ada lagi Yoona yang selalu menundukan kepala ketika mendapat cacian, tak ada lagi Yoona yang selalu pasrah ketika harus menanggung beban hidup yang berat.

Yoona seperti lahir kembali, dengan sosok yang penuh ambisi serta selalu menegakan kepala meskipun cacian sana sini ia dengar. Juga tak ada lagi Yoona yang pasrah hanya menangisi nasib hidupnya yang malang, kini ia menghadapinya dengan rasa percaya diri.

Siwon yang sejak tadi memperhatikannya tersenyum tipis, senyum yang amat sangat tulus terpancar dari wajahnya sebagai pujian atas kecantikan Yoona. Meski pun jauh didalam lubuk hatinya, Siwon masih meresa sesak jika menyadari perempua itu belum bisa menerima kehadirannya dan belum bisa menerima ketulusan cintanya. Namun apa boleh buat, Siwon juga menyadari jika cara yang ia gunakan untuk mendapatkan Yoona memang sungguh tidak baik. Maka dengan berat hati Siwon juga harus menerima jika sampai sekarang ia hanya digunakan Yoona sebagai jalan untuk menuju balas dendam gadis itu.

Yoona menoleh kearahnya dan tersenyum memberi tanda jika ia sudah siap.

“Keure, kajja” ucap Siwon diakhiri senyum tipis diwajahnya.

oOo

Ditempat pertemuan, keluarga besar Nyonya Lee sudah berkumpul termasuk tamu yang mereka undang, Sooyoung dengan Ibunya. Acara makan malam sendiri seharusnya sudah dimulai sekitar sepuluh menit yang lalu, namun karena Siwon belum kunjung datang maka Tuan Lee, ayah tiri Siwon memutuskan untuk menunggu beberapa saat.

“Sepertinya Siwon terjebak macet” ujar Nyonya Lee mencairkan suasana yang kaku karena terlalu lama menunggu kedatangan Siwon.

“Apa Eomma sudah menghubungi Siwon Hyung?” tanya Myungsoo nampak kesal karena memang sebelumnya ia tak mau ikut acara makan malam.

“Ponselnya mati” jawab Nyonya Lee gusar.

Sooyoung menghela nafas kesal, “Eommonim, bagaimana jika Siwon tidak datang?” tanya Sooyoung ragu-ragu.

“Tidak mungkin, dia pasti datang. Bukankah acara makam malam ini untuk membicarakan rencana pernikahan kalian” sambar Jong Hyun yang sejak tadi jadi pendengar saja.

“Benar, sebelum menunggu kedatangan Siwon bagaimana kalau kita bahas dulu rencana pernikahan mu Sooyoung-ah?” ujar Tuan Lee membuat Sooyoung tersenyum senang.

“Abonim, aku jadi merasa tidak enak. Seharusnya aku tidak bertanya seperti itu” sesal Sooyoung entah benar, atau hanya pura-pura semata.

“Gwanchana, aku mengerti perasaan mu. Akhir-akhir ini Siwon memang agak sedikit sibuk. Baiklah, aku dan istri ku sudah putuskan jika pernikahan kalian akan di lakukan secepat mungkin. Bagaimana menurut anda Nyonya Choi?”

“Nde? Oh itu bukan ide yang buruk, aku setuju bagaimana dengan mu Sooyoung?” tanya Nyonya Choi pada sang putri yang sudah jelas jawabannya pasti iya. Sooyoung tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas seperti ini, karena inilah satu-satunya bagi Sooyoung untuk mendapatkan Siwon secepat mungkin.

“Saya juga merasa memang seharusnya dilakukan secepat mungkin” ujar Nyonya Choi tersenyum lega.

“Im Yoona, hentikan ambisi mu untuk bersama Siwon. Tak kan ku biarkan kau merebutnya dari Sooyoung” ujar Nyonya Choi dalam hati.

“Hyung!” suara Myungsoo mengalihkan perhatian semua orang pada pintu yang terbuka. Siwon muncul dengan senyum tipis.

“Kau datang, duduklah kita sudah menunggu mu terlalu lama” ujar Nyonya Lee tersenyum lega.

“Josonghamnida, saya datang terlambat” ujar Siwon membungkuk.

“Sudahlah, ayo cepat duduk. Mereka semua sudah lama menunggu mu” ujar Tuan Lee. Siwon hanya tersenyum sinis, merasa aneh mendengar kata-kata manis yang diucapkan sang ayah tiri.

“Sebentar, aku membawa seorang tamu lagi” ucap Siwon yang membat semua orang nampak terkejut. Tak terkecuali dengan Jong Hyun yang sudah menatap tajam mata Siwon.

“Tunggu sebentar” lanjut Siwon kembali keluar untuk memperkenalkan tamu yang ia maksud kepada keluarganya.

“Eomma, nuguya?” tanya si bungsu Myungsoo tampak bingung. Nyonya Lee hanya menghela nafas kasar, merasa jika putra kandungnya itu akan kembali berulah lagi.

Tak berapa lama, suara derap langkah kaki membuat semuanya semakin penasaran sekaligus was-was siapakah gerangan tamu yang Siwon maksud itu. Sampai akhirnya, sepatu high heels berwarna merah muda memasuki ruangan VVIP tersebut.

Terkejut, semua orang sangat terkejut. Ketika sang tamu yang Siwon maksud menampakan dirinya dengan sebuah senyum diwajahnya. Seakan baru pertama kali bertemu, wanita itu nampak tenang bahkan memperkenalkan dirinya secara sopan.

“Annyeong haseyo, Im Yoona Imnida. Senang bertemu kembali”

Ujarnya membungkuk sopan kemudian tersenyum, membuat gelas yang digenggang Nyonya Choi terjatuh seketika.

“Im Yoona, kau”

 

To Be Countinued

HELLO!!!!!!

Apa kabar readers? Apa kabar YWK? Apa kabar admin kak echa dan resty?🙂 (kabar baik nitskyy^^)

Whaaa akhirnya setelah hiatus cukup lama aku kembali lagi dengan lanjutan FF JOURNEY OF LOVE CHAPTER 9. Karena hiatusnya cukup lama. Pasti pada lupa dengan FF ini T_T sebelumnya m aku minta maaf karena lelet banget beresin chapter ini, mungkin dalam sejarah(?) selama aku buat ff chapter ini paling lelet diberesin *6 bulan bayangin coy* u,u

Tapi sekarang udah beres berkat dukungan dan semangat dari Lee Jun Ki dan korean drama LoL berkat dukungan dan semangat dari readers terutama yang senantiasa mengingatkan hutang ku ini u,u

Untuk chapter 9 ini, aku sadar masih banyak kekurangan. Karena lama gak nyentuh ff jadi agak kaku dan rasanya kehilangan feel, jadi harap dimaklumi ^.~

Ucapan terimakasih buat kak echa ataupun resty yang udah publish J annyeong readers sampai ketemu dichapter 10…..

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

323 Komentar

  1. hmmm gk bisa baca chpter 8 …

    nyesek bgt ma wonnpaa udh cnta gtu ma yoongg tp yoong mlh gtu.. aduh okeeeeyyy ijin baca next chapter ya thoorr.. gomawwwooo

    Balas
  2. yuliayoonwonited

     /  November 8, 2014

    tn lee,tn lee jahat bgt si kamu…
    kapan yaa siwon bisa ktemu sma ayah nya..
    Emg sih aku agak bingung bcanya karna blm bca chap 8 ..

    yoona, yoona knapa blm membuka hati mu utk siwon, tidak kasian sma siwon yg udh rela demi kamu, mrubah hidup mu , dia jga mencintaimu yoona..
    bagus thor mkin seru, wlwpn di chap ini moment yoonwon dkit bgt..
    tapi bagud tetap smangat yaah …

    Balas
  3. avicenna

     /  November 8, 2014

    ibu yoona keterlaluan smp tidak ada belas kasihan pd yoona. yang paling menyakitkan saat ny.choi lebih mencintai membela soo dan bersikap buruk pd yoona di dpn soo dan tn.lee saat bertemu ayah siwon.sy paling kasian sm kehidupan siwon. feelnya kerasa banget.good job kaka

    Balas
  4. silvie

     /  November 9, 2014

    makin seru, kajja eon lanjut trs dan bongkar rahasia” di epep ini

    Balas
  5. nha

     /  November 9, 2014

    aku harap sikap sooyoung berubah ke yoona setelah tau kelakuan ibu tirinya.
    agak sedih juga jong hyun di sini.

    onnie jong hyun juga harus bahagia yah…

    Balas
  6. kerenn makin seru aja nih ffnya aku suka bnget..

    Balas
  7. shin ana

     /  November 18, 2014

    wooooooooooow
    ambisius bgt ea, yoona noona

    Balas
  8. yeaaaahhhhhh finally akhirnya ff yg di tunggu2 publish juga🙂
    huaaaa makin seru ,makin greget ceritanya thor..konfliknya makin seru thor ,klw bisa bnykin moment yoowon ya thor hehehe…..tp kasihan juga lihat siwon oppa cintanya di tolak ama yoona hiks …di tungu chapter kelanjutan nya thor jng lama2 ya thor.ttp semangat!!!!!!!! :*

    Balas
  9. eka_fitriani

     /  November 18, 2014

    berhubung part sebelumnya di proteck,alhasil di loncat deh 😦

    yoona nya kasian tersiksa sekali
    eomma nya tega bget sih,sama anak sendiri🙂

    smoga rahasia nya terbongkar smua

    Balas
  10. bee

     /  November 20, 2014

    Suka banget ama ff ini .. nunggu lama akhrnya dteng jugaa . Cobaaa ini dramaaa beneraannn ngambil cuti atau bolos kerja nih buat baca ff ini .. semanagaat oen lanjut lg yaa

    Balas
  11. iyin WiChuRi

     /  November 23, 2014

    Wah..wah.. Akhirnya nemu jg. Setelah skian lama mghlang n stlh dcri2 akhrnya dpat. Ceritanya udh keren tp kalau bs dprbnyak ya adgn yoona n siwon. Oke deh. Dtggu chapt slnjtnya. Smgat..🙂

    Balas
  12. Ditya

     /  Desember 1, 2014

    Tn lee jahat banget. Siwon kapan bisa bertemu ayah ny ??
    Ibu yoona juga jahat banget. Lebih milih anak tiri ny .
    Semakin seru ff ny.
    Happy anding dung .
    Hehehe
    Makasih🙂

    Balas
  13. hanna lee

     /  Desember 17, 2014

    Yeaaa walaupun chapter 8nya aku lewat karna blm dpt pwnya tp aku penasaran bgtsm ceritanya makanya aku lgsg baca chp 9nya, kerenn eonn kasian yoona sm siwon mereka cuma tegar luarnya doang dalemnya rapuh bgt gasabar baca chp 10. Tp please eonn aku mnta pw chap 8nya aku udh smss. Ke nmr eonni aku jg udh mention ke twiter eonni uu

    Balas
  14. Choi Han Ki

     /  Desember 21, 2014

    Siwon mau ketemu ayahnya gk jadi… Ternyaataa jang hyun temen ayahnya siwon toh tapi dia tega ngelakuin hal seperti itu… Siwon dah cinta bgt ya ma yoona tapi kenapa yoona gk membalasanya cintanya dia masih setia cinta ke jong hyun

    Balas
  15. Tn Lee, kau ini bener2 licik.
    Ya ampun sampai kapan kau harus menyembunyikan Tn Choi dari Siwon.

    Waktu itu Jong Hyun yg bawa Yoona kerumah orang tuanya, tpi skarang gantian malah Siwon yg bawa Yoona.

    Itu Myungsoo, licik nya keturunan dari ayah nya mungkin ya.

    Balas
  16. vanesa

     /  Januari 3, 2015

    Wahh situasinya kelamaan tambah menegangkan…
    Author bkin readers penasaran😀

    Balas
  17. Nhiina

     /  Januari 21, 2015

    Chap inii penuh dengan ambisi !!
    makinn seruu sjas
    next

    Balas
  18. rada bingung juga sih cz chap 8 nya blum baca.
    ayu dong thor pwnya.
    aq udah sms kok blum dblezzzzz
    jadi penasaran..

    Balas
  19. benerkan pirasat siwon oppa kalau ayah jonghyun beneran kurung ayah siwon oppa

    Balas
  20. Susi

     /  April 19, 2015

    Yoona sudah terlalu jauh melangkah dia sudah mulai,, untuk menghancurkan ibu nya sendiri,, tapi menurut ku dia terkesan licik banget,, siwon udah terang-terangan mengatakan klo dia mencintai yoona tapi yoona masih belum bisa membuka hati nya untuk siwon…

    Balas
  21. mywon_407

     /  Mei 19, 2015

    Yoona buka dong hatimu untuk siwon lupain jonghyun aja…
    Tn.lee jahat bget, semoga siwon bsa cepat tau kebenarannya…

    Balas
  22. Belum ngliat chpter 8nya >_< jd aku gtau klnjutan dari chpter 7 itu apa??smoga sms ku dibakas sama author nita ^^ yoona udh jd kaya ya??wahh makin seru aja jln ceritany^^

    Balas
  23. Wah ceritanya makin keren on

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: