[2S] I Need You (Chapter 2/END)

 

 

By

Tintin305

|| Main Cast : Im yoona | Choi siwon | SUGEN (other cast)|| Leght : 2shoot (?) ||

|| Genre : Romance | family | friendship | sad. || Ratting : PG 15+ ||

|| Disclaimer :The cast’s   belong to god. The plot of this story is mine ||

A/N : ini ff rencana ku share tahun depan *sumpeh* pas balik dari fase hiatus but, karna ada beberapa readers yang minta ampe ada yang mohon segala jadi saya paksakan untuk ngeshare sekarang mengingat chapternya nambah dan terakhir baru publish ampe tiga bulan lebih-lah *mungkin* so.. persiapkan diri untuk ngebaca cerita panjang ini^^

                 ———-TYPO?? MOHON DI MAAFKAN.

Happy reading….

 

.

.

.

Back song

“Yim jae bum-Love”

 

 

 

Panggilan itu telah berakhir, tapi tak juga mengakhiri senyuman yang jelas tersungging indah di wajah tampannya. dan dengan tak ingin membuang waktu, siwon dengan segera keluar dari kamar untuk memenuhi janji nya bersama yoona sesaat lalu.

………………………………………….

‘Love,
Because of that love,
Because of that person,
I have lived until now
’.

………………………………………….

 

 

Siwon membeku di tempatnya, tak menyangka yoona akan datang lebih cepat dari dugaanya. tapi bukan itu yang membuatnya sulit bergerak saat ini, ini lebih pada sambutan yoona yang terkesan jauh dari biasa. mungkin hubungan mereka memang mulai membaik pasca putus setahun lalu. ketika kala itu siwon mencegatnya di koridor SM bukan pandangan seperti ini yang siwon dapati, yoona saat itu terlihat jauh lebih pendiam dan terkesan kaku.

 

tapi kini, respon yang di berikan yoona untuk menyambutnya bahkan membuat siwon ternganga tak percaya. ia serasa ingin berlari dan segera merengkuhnya, Merengkuh dalam pelukan hangat wanita yang menunjukan senyum sangat manis di depanya.

 

“sudah ku duga kau pasti tak memakainya?”

 

“ Memakai apa?”

 

“ini”

 

Siwon menatap kebingungan scarf dan topi yang di sodorkan pandanya

 

“perlukah aku memakaikanya?”

 

Ini mengejutkan, sungguh…

terlebih ketika dengan santainya yoona melilitkan scarf hijau tosca berbahan lembut mengalungi lehernya. satu respon cepat yang di dapati oleh tubuhnya, ialah jantung yang bergemuruh cepat, bahkan sebisa mungkin nafasnya ia tahan.

 

“kau tak keberatankan jika kita keluar dengan buss?”

 

“apa?” siwon yang masih larut dalam keterkejutannya, tak sepenuhnya paham dengan ucapan wanita di depannya itu, dan ketika yoona telah menarik nya untuk berlari menjauh dari parkiran dormnya, saat itu siwon putuskan untuk tak banyak bertanya dan hanya mengikuti saja. karna nyatanya, ia masih terlihat berfikir di tengah langkahnya.

 

.

 

.

 

.

 

 

jam terus berdetak menyerukan setiap detik yang sungguh benar-benar menyenangkan, setidaknya siwon merasakanya. Karna demi apapun, ia tak pernah berpikir waktu yang berlalu hampir sejam sejak yoona menelpon-nya untuk kemudian mengajaknya bertemu, akan seberharga ini

 

yoona mengajaknya ketempat yang cukup menyenangkan. ada sebuah festifal besar dekat sungai han, meski terlihat mulai sepi karna malam yang semakin beranjak, tapi tetap tak menyusutkan kebahagiaan yang tergambar jelas di wajahnya. terlebih ketika matanya menyaksikan sendiri yoona yang sedari tadi tanpa henti menebar senyumannya yang menawan.

 

 

“eoh? Ada boneka woody disana” yoona berseru girang begitu menemukan stan games yang menghadiahkan beberapa boneka dengan berbagai ukuran, dan boneka woody walker di antaranya.

 

Mungkin ini akan terkesan bodoh, karna sejauh ini siwon sama sekali tak berkata apapun, selain menuruti kemana wanita yang masih mengaitkan jemarinya erat di lenganya itu membawanya. Sama seperti saat ini, yoona kembali menariknya untuk berlari kecil mendekat pada stan games yang menjadi intaian wanita cantik di sampingnya itu.

 

 

“isshh.. kenapa susah sekali” tanganya terlihat bergerak sibuk mengontrol arah jangkar pengait yang tengah ia genggam, untuk bisa meraih bola berwarna hitam yang tengelam dalam bola kecil yang sama, namun berbeda warna yang teracak dalam box besar di depanya

 

“sini biar aku yang lakukan”

 

Siwon baru saja akan mengambil alih tombol kontrol itu ketika dengan cepat yoona menghalanginya

 

“tak perlu, aku bisa melakukanya sendiri”

 

Dan, seulas senyum kembali terpancar indah di wajahnya. tanganya bersidekap di depan dada, sambil terus memperhatikan yoona yang kembali serius dengan usahanya mengambil bola hitam yang kini mulai naik kepermukaan.

 

“kya!! Aku mendapatkanya!!”

 

Yoona berjingkrak kegirangan. dengan segera ia ambil bola kecil berwarna kehitaman itu sebagai bukti telah terselesaikanya games yang baru saja ia mainkan.

 

“ajusshi.. aku ingin hadiahku”

 

Pria yang di panggilnya ‘ajusshi’ itu menoleh malas dengan mata yang setengah mengatup, ia beranjak dari kursi tempatnya duduk sesaat lalu, untuk kemudian berjalan mengambil salah satu boneka yang berjejer rapi di sampingnya.

 

“anni ajusshi.. aku ingin boneka yang di tengah”

 

Pria itu menghela nafas kasar. malam semakin larut, dan ia kini sudah sangat mengantuk untuk bisa kembali menggerakkan badan dan mengambil boneka sesuai keinginan yoona barusan.

 

“ambillah sendiri”

 

Yoona mendelik kesal. meskipun begitu, ia tetap bergerak dan mengambil boneka yang sedari tadi di inginkanya itu.

 

“untukmu”

 

Siwon melirik sekilas boneka woody yang di sodorkan padanya lalu beralih menatapyoona dalam

 

“aku sudah berusaha untuk mendapatkanya jadi kau harus menerimanya”

 

Mereka tersenyum bersama dan dengan gerakan cepat boneka woody berukuran sedang itu telah beralih tempat, tengah di gengam siwon erat.

 

“kurasa kita butuh minuman hangat disini begitu dingin” yoona mendesis mengeratkan jaket dan scarf yang melindunginya dari dinginya cuaca malam itu, dan tentunya sebagai pelengkap penyamaran, kemudian mengambil langkah di depan, menyisakkan siwon yang berjalan di belakang masih setia tersenyum senang.

.

 

.

 

.

 

 

 

Keduanya terduduk bersisian.

yoona terus saja meniup kecil coffee panas dalam mug

Yang digengamnya dengan kedua tangan, lalu menyeruputnya sesekali. Siwon yang duduk di sisi lainya hanya dapat terus memperhatikan setiap gerakan yang yoona lakukan.

tak ada pembicaraan sejauh ini keduanya sama-sama terdiam tidak ada kecanggungan ataupun rasa kurang nyaman saat terkadang mereka tanpa sengaja bersitatap. justru keduanya tersenyum, senyuman yang seketika menguarkan kesunyian.

 

Tanpa perlu berbicara keduanya tahu jikalau persaan itu masih ada, perasaan yang menyelusup seluruh rongga tubuh yang seketika menghantarkan kehangatan di tengah udara dingin taman sungai-han yang kini menjadi tempat keduanya menghabiskan malam santainya.

 

 

“kau masih di beri jadwal padat?”

 

yoona menoleh kearah siwon yang setia menatapnya lekat kemudian menggumam singkat

“hm”

 

“apa saja?”

 

“aku tak terlalu mengingatnya tapi kebanyakan syuting cf”

 

“kau pasti lelah..”

Matanya meredup lembut mengisyaratkan kekhawatiran tentang aktifitas yoona yang padat dan entah se-lelah apa wanita itu kini.

 

“tidak cukup lelah untuk hari ini..”

Yoona balas menatapnya dengan senyuman khas miliknya yang mau tak mau membuat sudut bibir siwon terangkat melakukan hal serupa.

 

Dan setelah pembicaraan singkat itu, mereka kembali terdiam. Siwon kini membiarkan tengorokanya teraliri coffee yang mulai mendingin, sembari melihat kilauan cahaya kota yang memancar terang. Kini pikiranya sibuk mengarahkan kata yang tepat untuk mengatakan suatu hal yang harusnya sejak dulu ia katakan.

 

Begitu hati dan pikiranya memantapkan,

Siwon menolehkan pandangan, kembalii menatap yoona lebih lama. hingga beberapa menit kemudian, iris itu balik melihatmya.

 

Gugup..

Entah dari mana persaan gugupnya bermula. Mungkin ketika dengan polosnya yoona balik menatapnya, ataukah ketika iris mata rusa itu mengerjab bingung, saat siwon semakin tak terkendali mengatur ekspresi gugupnya.

 

Ini bahkan lebih mendebarkan di banding pertama kali meminta yoona untuk menjadi kekasihnya. Bukankah hal itu jelas, siwon kini berusaha merangkai kata, meminta yoona kembali kepelukanya, menjadi yeoja terspesial dalam hidupnya.

 

“y-yoona..” siwon memalingkan pandangan sesaat, menyadari jika usahanya menetralir kegugupanya sia-sia. bahkan saat memanggilpun suaranya ikut terbata.

 

“aku..”

 

Yoona masih menatapnya. menunggu siwon menuntaskan kalimatnya.

 

bitch..

Siwon mengumpat geram, sedetik lalu ia bahkan merasa sangat nyaman dan kecangungan yang sempat terbangun beberapa jam lalu rasanya sudah menguar. Tapi

Kenapa justru begitu sulit baginya berucap.

 

“a-aku lapar. Bisakah kita singgah ke kedai sebentar?”

 

Tawa kecil darinya timbul sesaat mendengar ucapan siwon barusan

“tentu” dan yoona membalasnya singkat.

 

tungkai ringkihnya beranjak lebih dulu, meninggalkan siwon yang sibuk menghirup udara sebanyak mungkin, mengisi rongga paru-paru yang sekaan sesak terpenuhi dengan rasa gugup yang menderanya sesaat lalu.

 

kegugupanya belum juga hilang, jadi siwon putuskan untuk menunda terucapnya kata ‘balikan’ untuk hubungannya kedepan. Karna siwon meyakinkan diri akan ada waktu yang tepat dan itu bukan sekarang.

 

 

 

 

Langkah keduanya terasa berat dan melemas. hingga jarum jam menunjuk angka tiga malam, siwon dan yoona yang berjalan bersisian itu tak menemukan satu-pun stan penjual makanan. yang terlihat justru beberapa pedagang yang turut memeriahkan puncak festifal musim gugur, telah mengepak barang dan siap meninggalkan tempat.

 

“eoh? Oppa.. itu di sana”

 

Siwon menajamkan penglihatanya mengikuti arah jari telunjuk yoona.

Setelahnya mereka berpandangan sesaat dan melanjutkan langkah dengan lebih bersemangat

 

“ajjumma apa masih ada makanan yang tersisa?”

Siwon menyapa lebih dulu, menatap wanita paruh baya penjaga stan makanan yang sedikit tertutup pohon rimbun itu dengan mata penuh harap. Karna pada kenyataanya siwon mulai merasa kelaparan.

 

“ya. hanya saja, sisa empat porsi jjajangmyeon saja”

 

“ah.. benarkah? Tolong berikan semuanya”

Yoona mengintrupsi cepat. dengan wajah polosnya ia balik menatap siwon yang melihat padanya penuh keheranan

 

“semuanya?”

 

“hm.. satu untukmu dan tiga untukku”

 

Pupil mata siwon melebar mendengarnya. ia tahu jika yoona adalah 2nd shinskin dalam grupnya tapi selama ini, selama ia mengenal dan dekat denganya, yoona tak pernah benar-benar menunjukkan betapa julukan shinskin yang melekat padanya itu benar adanya.

 

“kalau begitu tunggulah, biar ku siapkan dulu”

 

Yoona mengangguk lalu melangkah duduk di sisian bangku, di ikuti siwon yang memilih duduk di sisian lainya yang langsung berhadapan denganya.

 

 

Tak butuh waktu lama, empat porsi jjajangmyeon hangat telah tersaji manis dihadapan.

 

Siwon menikmati jjajangmyeon itu, mengaduknya hingga bumbu kacangnya tercampur rata kemudian melahapnya dengan penuh nikmat. Lain dengan yoona yang makan penuh dengan semangat

 

Entah, itu bisa dibilang bersemangat atau malah penuh ke-nafsuan. Karna yang terlihat, justru yoona yang melahap mie panjang itu tanpa bernafas.

 

“makanlah perlahan, kau bisa tersedak”

 

Yoona menghentikan suapannya lalu beralih menatap siwon dengan tatapan sengitnya

 

“bilang saja oppa ingin meminta makananku. Tapi maaf, aku tak mau memberinya”

 

Siwon melongo sesaat, namun sedetik kemudian tersenyum, senyum kebahagiaan yang tergambar begitu jelas, begitu melihat tinggkah yoona yang mengesalkan sekaligus membuatnya gemas. Tapi, bukankah harusnya yoona tak membalas kekhawatiranya itu dengan candaan.

 

“ apa yang oppa lakukan!”

 

Pekikan yoona yang melengking tak siwon hiraukan, ia malah sibuk memakan jjajangmyeon yang tadinya seporsi, kini telah bertambah, menumpuk di piringan putih lebarnya mengaduknya dan kembali menikmatinya,

Membuat yoona menghela nafas melihatnya. baru saja ia akan memasukkan seiris sayuran kemulutnya, ketika dengan cepat siwon mengambil mangkuknya dan menaruh seluruh jjanjangmyeon itu ke dalam piringnya,

Dan bersikap biasa seolah apa yang dilakukanya bukan suatu hal yang salah, hingga membuat bibirnya mengerucut seketika. Bagimana tidak, Dua porsi jjajangmyeonnya yang entah bagaimana awalnya telah tandas tak tersisadan tinggal seporsi malah kini tengah siwon makan dengan lahap.

 

“wae?” siwon melirik sesaat kemudian menambahkan

“Aku lapar. sangat tidak adil jika kau makan tiga porsi sedangkan aku hanya seporsi saja”

 

“ya, baiklah.. terserah oppa saja”

Yoona memilih mengalah toh dua porsi jjajangmyeon tadi nyatanya sudah cukup mengisi kekosongan lambungnya.

 

 

 

“ahh.. kenyangnya”

 

Yoona tertawa kecil melihat tingkah siwon yang mengusap perutnya pelan, seolah telah lama tak makan dan kini merasa puas dengan dua porsi jjajangmyeon yang barus saja tandas.

 

“sudah selesai?”

Wanita penjaga stan makanan itu berucap sembari berjalan mendekat

 

“annio ajjumma biar aku yang melakukannya”

 

Yoona dengan cepat mengumpulkan piring kotor itu, begitu sang Ajhumma hendak mengambilnya dan membawanya ke baskom besar berisi tumpukan piring kotor yang terendam air sabun tak jauh dari sana.

 

“oppa kemarilah bantu aku mencucinya”

 

“annio.. kalian pergilah, ajjumma bisa melakukannya sendiri”

Wanita paruh baya itu berucap menatap keduanya meyakinkan jikalau tak butuh bantuan

 

“tak apa ajjumma, biar kami yang melakukanya. Sebaiknya ajjumma istirahtlah dulu, ajjumma pasti lelah” siwon membimbing tubuh ringkih wanita tua itu, untuk duduk dan setelahnya melangkah mendekati yoona yang sibuk memasang sarung tanganya

 

wanita paruh baya itu hanya dapat menggeleng pasrah dengan tingkah keduanya

 

“jadi.. apa yang bisa ku bantu hm?”

Siwon berjongkok menyamakan tinggi badanya dengan yoona, yang kini juga berjongkok, sembari mengemas tumpukan piring yang terlihat tercecer kemana-mana.

 

“oppa hanya perlu menyepulnya saja”

 

“baiklah” siwon menggulung asal kemeja putihnya sebatas siku, lalu menyambut piring yang baru di letakkan dalam baskom berisi air bersih di depannya. Sambil sesekali melirik yoona yang begitu serius dengan aktifitasnya.

 

Siwon selalu suka segala hal tentang yoona, terlebih sifat sosialnya. seperti apa yang tengah di lakukannya sekarang, membantu wanita tua untuk menyelesaikan pekerjaanya. Dan ia sebagai seorang lelaki, seorang yang juga sangat menganguminya, jelas perlu mendukung sifatnya itu, membantu yoona dengan sepenuh hatinya.

 

Dan demi apapun, siwon saat ini rasanya perlu banyak-banyak berucap syukur atas moment yang membahagiakan yang di laluinya dengan yoona.

 

 

 

 

 

“hhh.. sudah hampir jam empat” yoona melirik wanita paruh baya itu lembut “ku rasa kami harus pulang sekarang ajjhumma” ada mimik penuh sesal yang mengiringi kalimatnya barusan

 

“tak apa, kalian memang harusnya pulang dan istirahat” wanita paruh baya itu menatap siwon dan yoona bergantian

 

Yoona melangkah lebih dekat kemudian memeluk wanita itu perlahan

“ajjumma harus banyak istirahat” lanjutnya begitu pelukan mereka terlepas

 

“aiggo.. kau sudah seperti putriku saja”

wanita paruh baya itu tertawa kecil, Sedikit bercanda lalu mengalihkan tatapanya ke arah siwon yang hanya diam menatap mereka.

 

Siwon sebenarnya tak sepenuh terdiam, jika bisa pikiranya berucap maka yang terdengar pastilah ungkapan seberapa ia makin merasa beruntung pernah memiliki yoona dengan segala sifatnya, dan bodohnya ia karna cobaan dalam hubungan mereka, yang harusnya memperkuat kepercayaannya, justru membuatnya serasa asing dengan diri sendiri. hingga pada akhirnya merusak hubungan yang terbina cukup lama dengan sekali ucapan kasar.

 

“kau beruntung memiliki kekasih sepertinya”

 

Tersenyum samar dalam hati, siwon membenarkan perkataan wanita iu barusan. Hanya saja, penekanan di kalimat terakhir serasa menyadarkanya betapa tidak beruntungya dirinya karna tak menyandang status itu lagi.

 

“kalau begitu kami permisi ajjumma”

 

Keduanya membungkuk sopan, berjalan meninggalkan wanita paruh baya yang kembali menebar senyum, menatap punggung keduanya yang menjauh sembari mengucap doa kebaikan untuk mereka, hubungan siwon dan yoona.

 

.

 

.

 

.

 

 

 

Mereka kembali melangkah beriringan, jemari yoona setia mengait di lengan kiri siwonDengan nyaman.

Keduanya berjalan sambil sesekali bersenandung kecil dan setelahnya tertawa sendiri.

 

Tanpa siwon ketahui, sejak tadi yoona berusaha mencuri pandang ke arahnya yang masih menatap lurus kedepan. pandangan yoona sangat berbeda, tak ada senyuman yang merekah disana, tak ada binaran mata yang sesaat lalu memancar indah, hanya tarikan bibir datar dan tatapan sendu yang terlihat.

 

“kita singgah ke gereja sebentar”

 

Siwon menoleh cepat dan ketika itu wajah yoona yang berbeda tertangkap jelas. meski ada senyuman yang terlihat, namun itu nampak seperti senyum yang syarat keterpaksaan

 

“ada hal yang perlu ku selesaikan”

 

Tautan jemari indah itu terlepas, yoona berjalan di depan menyisakkan siwon yang tengah kebingungan. Bukan karna dirinya yang tak menyadari adanya gereja di depan, ini lebih pada tatapan yoona yang semakin sulit ia artikan.

 

 

………………………………………….

 

‘Today,
Once today has passed,
If I never see that person again,
If I never see that person again,
What am I supposed to do?

 

………………………………………….

 

 

‘terimakasih untuk kesempatan yang kau berikan tuhan.. terimakasih’

‘seperti janjiku.. ini yang terakhir dan aku begitu bersyukur atas waktu ini’ yoona yang memautkan jemarinya erat berucap dalam hati, seiringan dengan lelehan air yang merembas jatuh dari matanya yang terkatup, memanjatkan doa dengan begitu khusuk.

 

siwon melihatnya, ia yang sedari tadi berdiri memperhatikan yoona yang tengah khusuk dalam doanya, makin di buat tak mengerti dengan situasi ini. ada sekelebat pemikiran yang berusaha di tepisnya dan jalan untuk mengetahui semua kebingunganya tentang yoona, adalah bertanya langsung padanya.

 

 

“aku sudah selesai.. ayo pulang” yoona beranjak bangun dari posisinya, setelah terlebih dahulu memastikan air mata yang sempat menggenang sudah tak terlihat.

 

“sebenarnya ada apa denganmu?, apa maksudmu semua ini?”

 

“hm?”

 

“apa maksudmu mengajakku?”

Keduanya bersitatap dalam kebisuaan sesaat

 

“sepertinya kau tahu aku punya maksud lain?” yoona tersenyum tipis menanggapi dan setelahnya senyum itu berangsur lenyap begitu melihat betapa seriusnya siwon menatap.

 

“ku rasa ini memang waktu yang tepat”

 

Siwon masih memandanginya, begitupun ketika yoona merogoh tas yang bertenger manis di bahunya dan mengeluarkan sebuah kotak dengan pita usang di atasnya

 

“ini apa?”

 

“aku ingin mengembalikanya. harusya sedari dulu aku kembalikan tapi.. kau jelas tahu alasanya ”

 

“kau pasti mengerti maksudku” yoona menambahkan, begitu menatap siwon yang makin nampak kebingungan.

 

Dan setelahnya keheningan kembali mendominasi seluruh ruang..

 

Butuh beberapa detik baginya untuk berfikir. bukanya siwon tak mengerti, bahkan sejak awal ia tahu ada yang tak beres disini, terlebih ketika yoona menunjukkan hal-hal yang ganjil, ia tahu pasti akan ada yang terjadi dan… dugaanya benar.

 

Ia mendongak beralih menatap yoona yang berdiri terdiam. Mereka bersitatap, tapi siwon sama sekali tak menemukan apapun di sana, sorot matanya terlihat datar tak ada tanda jika yoona merasa kesakitan yang sama sepertinya, yang entah sejak kapan mulai terasa, bahkan kini makin menyiksa.

 

“kukira kita akan—” ucapannya mengambang, tak bisa lagi melanjutkan ini terlalu perih bahkan untuk sekedar berucap

 

“bukankah sakit di perlakukan seperti ini?”

 

Siwon menatapnya lebih lekat ada sorot keterkejutan yang nampak

“jadi, kau mempermainkanku? Untuk itu, kau membalasku… dengan ini?”

 

“anggaplah begitu”

Dan dengan begitu santainya yoona mengucapkan kalimat barusan, rahang nya otomatis mengatup keras

 

“kau bisa pulang sendirikan?. Terimakasih untuk hari ini”

Yoona mengakhiri kontak mata denganya, berbalik lalu beranjak keluar dengan langkah lebar menyisakkan siwon yang terdiam.

 

Sungguh sulit untuknya percaya. Bukankah ini terlalu kejam?,   harusnya jika yoona memang menginginkan pembalasan yang sama atas perlakuannya setahun lalu, tak perlu dengan cara seperti ini. siwon memang tak tahu se-sakit apa perasaan yoona saat itu, tapi ia berani menjamin jika rasa sakitnya ini bahkan berlipat-lipat, siwon merasa sakit, kesakitan yang teramat. tidakkah terlihat dari air matanya yang saat ini tanpa henti menggenang..

 

Tapi apa yang bisa siwon lakukan, dia hanya bisa terdiam, langkahnya terlalu berat pandanganya yang mengabur itu masih terkunci erat pada kotak yang setia ia genggam.

 

Bahkan ketika sinar mentari memasuki celah ruang gereja yang temaram, siwon sama sekali tak berniat untuk beranjak, ia masih setia dengan posisinya yang berdiri tegap dengan wajah yang menunduk, dalam luka dan kesakitan yang nyata terlihat.

 

 

.

 

.

 

.

 

 

Pagi ini dorm suju terlihat lebih sepi dari biasanya. Sebagian dari membernya yang telah lebih dulu memenuhi tuntutan pekerjaan individu masing-masing, kali ini terlihat tengah bersantai dan sesekali melempar candaan khas pertemanan dan sebagian dari mereka telah berangkat sejak pagi, untuk melakukan aktivitas syuting seperti biasa.

 

“eoh? Hyung?” kyuhyun menghentikan aktifitasnya bermain games, begitu melihat Prince manager yang baru saja melangkah masuk ke ruang tengah tempatnya kini berada.

 

“siwon dimana?”

 

Kyuhyun, kangin dan Eunhyuk saling berpandangan heran

 

“siwon? Sejak pagi dia tak kelihatan, ku pikir dia sudah ke lokasi pemotretan”

 

“pemotretan? Aku bahkan kesini untuk menjemputnya” prince manager balas menatap ketiga namja itu dengan desisan kesal

 

“kami tak tahu dimana dia. Hyung cari sendirilah” eunhyuk bergidik bahu acuh, dan melangkah duduk, kembali menyaksikan siaran tv yang sesaat lalu di tontonya.

 

 

“ Itu siwon”

 

Seketika pandangan mereka tertuju kearah pintu masuk, dimana siwon baru saja melepas kasar sepatu miliknya, dan meletakanya begitu saja

 

“kau dari mana? Kau ada pemotretan.. ya! Ya!! Siwon!!”

 

Prince manager melongo dengan pandangan kesalnya melihat bagaimana siwon berjalan melewatinya tanpa melihatnya, bahkan ketika ia belum sepenuhnya menyelesaikan ucapanya.

 

 

Brakkk!!!..

 

Namun, ketika bunyi dentuman pintu yang di tutup keras terdengar di telinga, mereka, kangin, kyuhyun, eunhyuk dan tentunya sang manager saling memandang heran

 

Tak sampai lima menit, pintu kamar siwon yang jelas masih bisa terlihat dari balik balkon penyangga tangga itu terbuka menampakkan wajah siwon yang berbeda.

 

“kyu.. apa kau punya obat tidur?”

 

“ne. Ada di rak atas kamarku”

Khyuyun menjawab seadanya, tanpa melepas tatapan bingungnya tentang sikap aneh hyungnya itu, dia bahkan tak bertanya lebih tentang mengapa siwon meminta obat tidur padanya

 

Ke-empatnya masih tetap memperhatikan gerakanya, ketika dengan langkah tergesa siwon berlalu masuk ke kamar kyuhyun yang tepat berada di sebelah kamar miliknya, kemudian keluar dengan botol putih yang mereka yakini obat tidur kyuhyun dalam tanganya.

 

Hingga terdengar kembali pintu yang tertutup keras dan terkuci dari dalam.

 

………………………………………….

 

Of all so many destined ones,
Why must the two of us have to meet?
We love

Then, we part ways after
The time we created
And spent together,
I can’t forget

………………………………………….

 

 

Usai mengunci pintu Siwon terduduk lesuh di pinggiran ranjang, menatap kotak yang sesaat lalu dibuang kasar. isi kotaknya berceceran dan siwon menemukan begitu banyak barang pemberianya, salah satunya polaroid yang bertebaran di lantai. di sana, bermacam gaya dirinya dan yoona yang berpose tertangkap jelas. di bawah gambar, ada banyak tulisan pengharapan dan beberapa kalimat penuian kasih sayang yang seketika membuat air matanya jatuh tak tertahankan.

 

Dengan tangan bergetar, di telannya cepat seluruh obat tidur itu hingga tandas. entah ada berapa banyak obat yang ia telan, karna saat ini siwon sungguh berharap dengan segara ia bisa terlelap damai meski hanya sebentar, ia perlu tidur. hatinya terlalu sakit untuk sekedar tersadar dan meratapi kesakitan itu. Tak peduli jika obat itu bisa saja berkibat fatal baginya. ini sulit, jadi biarlah untuk masalah itu ia kesampingkan sementara.

 

Dan detik berikutnya, kedua matanya mengatup perlahan. selaras dengan kristalan bening yang jatuh dari matanya yang mengatup erat.

 

 

***

 

 

“kami duluan yoong. Jangan pulang terlalu larut arra..”

Taeyeon berucap menatap yoona lekat

 

“arra.. eonni-ya. Berhati-hatilah”

Yoona membalas, dan mengangguk singkat matanya terus di-arahkan, kearah membernya yang berjalan beriringan hingga berbelok menuju lift barulah tatapanya itu benar-benar ia alihkan kearah ponsel yang sedari tadi ia genggam

 

“yeobseo? Appa edigayo?”

 

“…”

 

“arra.. aku akan kesana”

 

 

.

 

.

 

.

 

 

pria dengan kesan kharismatik miliknya, kini tengah menopang dagu, sesaat berfikir keras lalu kemudian kembali menolehkan pandangannya kearah yoona dan Tn im di sampingnya

 

“ini sulit aku tidak bisa memutuskan ini sendiri. Yoona juga salahsatu aktris berpengaruh di management ini jadi– ”

 

“jika ini masalah kontrak saya akan mengantikan semua kerugianya”

Tn im berucap cepat, memotong kalimat pria yang sedang balik menatap serius padanya.

 

“bukan masalah itu, ada begitu banyak prosedur yang perlu di lakukan jika salah satu aktris-ataupun-aktor mengajukan Resign”

Lee sooman, Pria yang kini tengah saling berbalas ucapan dengan tn im mendesah sesaat “ini tak semudah yang anda bayangkan. kami perlu mengadakan rapat besar untuk hal ini” lanjutnya kemudian.

 

“baiklah jika memang begitu, saya hanya ingin menekankan, jika yoona juga punya kehidupan sendiri dia bukan seorang yang bisa di pekerjakan terus menerus hanya untuk mencetak uang”

 

Suasana dalam ruang kedap suara itu seakan mencekiknya dan mematikanya begitu saja. ayahnya, Tn im bahkan berucap begitu gamblang menyerukan ketidak sukaannya tentang profesinya, atau mungkin karna keputusan resignnya ia dari agensi dalam tahap pertimbangan, atau apalah, yoona juga tak mengerti ia hanya bisa terduduk resah di samping sang-ayah.

 

“ne.. saya mengerti. Pihak kami akan menghubungi anda nanti terkait masalah ini”

 

Untungnya Lee Sooman adalah seorang yang penyabar, terbukti ketika ia berucap pria yang usianya lebih muda dari ayahnya itu melembutkan pandanganya seperti biasa dan bersikap tenang menangapi ayahnya yang bahkan berucap penuh penekanan. Tapi setidaknya, yoona merasa sedikit lega karna takkan ada pertengkaran serius akibat sikap tegas dan keras sang ayah.

 

“kurasa tak ada yang perlu di bicarakan lagi, jadi kami permisi”

 

Tn im berdiri dari duduknya, di susul yoona yang melangkah menuju pintu keluar ruangan Lee sooman yang benuansa minimalis dengan aksen putih kemerahan itu ketika suara berat khas pria, menghentikan langkanya

 

“saya perlu berbicara sebentar dengan yoona, bisakah?”

 

Tn Im memandang lee sooman sekilas lalu balik menatap yoona

 

“appa tunggu di parkiran” lanjutnya kemudian benar-benar pergi meninggalkan putrinya dan sang-kepala Agensi, untuk berbicara. karna dalam benaknya ini berhubungan dengan rencana Resign putri bungsunya itu.

 

 

 

 

“kau yakin dengan ini?”

 

Lee sooman berucap, begitu yoona kembali mendudukan diri di sofa panjang se-meter dari tempatnya duduk dalam kursi kebesaran-nya.

 

“ne”

 

“kenapa?”

 

Yoona memejamkan mata sesaat, kini rasanya ia tengah berada dalam persidangan dan dirinyalah terdakwah yang perlu di mintai keterangan

 

“bukankah urri appa sudah menjelaskanya tadi”

Dengan sedikit melirik kearah sang-Atasan, yoona berucap pelan

 

“begitukah?. Jadi, berapa usia calon tunangan-mu itu?”

 

“kurasa…. memasuki dua enam”

 

“kurasa, katamu?. Kau jelas tak mengenal calonmu yoona”

 

Yoona mendongak. Tercekat dengan ucapan sooman barusan

 

“apa ini perjodohan? Jika iya, hentikan. Jangan mau di kekang oleh suatu hal yang kemudian membuat jalanmu menuju kesuksesan terhambat”

 

terdiam, karna apa yang di katakan sooman ialah suatu kebenaran.

 

Yoona tahu, bahkan cukup tahu jikalau pria dengan mandat tertinggi di SM agensi itu merupakan seorang yang bijak, bahkan perkataannya yang bisa dipastikan hanya sebuah prediksi baginya nyatanya sesuai dengan kenyataan yang ada.

 

“kau sedang dalam puncak popularitas, bagaimana bisa ada pemikiran untuk resign?”

 

Yoona memilih untuk hanya duduk terdiam, mendengarkan setiap perkataan sooman dan membiarkan dirinya kini terlihat layaknya terdakwah dalam sebuah persidangan

 

“aku akan menunda rapat penentuan resign-mu dan memberikanmu waktu untuk berfikir..” sooman menghela nafas sesaat, kemudian menambahkan

“setidaknya pikirkan tujuh tahun masa trainer-mu yoona, aku tahu kau begitu berusaha keras untuk menjadi seperti sekarang. Jangan biarkan semua sia-sia hanya karna sebuah kekangan”

 

“ku harap kau pikirkan ini lebih dalam, aku harus pergi banyak hal yang perlu aku kerjakan”

 

 

Dan..

Yoona sudah cukup bernapas lega sekarang, begitu lee sooman keluar dari ruangan. meskipun ia malah terus saja terdiam, memikirkan setiap nasehat yang sooman ucapkan.

 

 

 

 

***

 

 

“ini sudah keterlaluan. Sebenarnya apa yang di lakukanya di dalam” lee-teuk membanting kasar koran harian yang sempat di bacanya itu, lalu beralih menatap membernya yang terheran dengan sikapnya

 

“eunyuk-ah.. ambil kunci cadangan kamar siwon sekarang!” eunhyuk mengerjap beberapa saat namun tetap berdiri mengikuti kemauanya berlalu dari ruang tengah dan masuk ke kamar penyimpanan barang tak jauh dari sana.

 

Kangin dan henry saling berpandangan seakan mengisyaratkan perkataan mengerti dengan kegeraman leadernya itu lewat tatapan mereka. Termaksud donghae dan sungmin yang kini terduduk manis dengan gatget canggih masing-masing, meski tak terlalu perduli, tapi mereka tahu pasti apa yang menjadi dalang utama kekesalan lee-teuk saat ini.

 

siapa lagi jikalau bukan siwon yang sampai detik jam terarah tepat pukul tiga sore, belum juga keluar dari kamar. masih setia mengunci diri di dalamnya yang entah sedang melakukan apa di sana.

 

“ini kuncinya”

Begitu kunci silver dengan mainan bola basket karet diterimanya, leeteuk dengan langkahnya yang di percepat menaiki tangga menuju pintu bercat keabuan, dengan aromanya yang khas, kamar siwon tentunya.

 

Dia di ikuti henry, kangin, sungmin, dan eunhyuk mendekat mencoba mencuri dengar dari balik pintu kamar, tapi tak ada satupun suara yang bisa di tangkap ke-empatnya.

 

“siwon buka pintunya!. aku beri kau waktu lima detik dari sekarang sebelum aku masuk dan menyeretmu keluar!”

 

Tak ada sahutan atas ucapan lee-teuk barusan hingga ia dengan gerak kesal membuka kamar dengan kunci cadangan yang ia pegang

 

“siwon kau–”

 

Terkejut itu satu respon spontan yang terngkap. cepat-cepat mereka berjongkok memapah tubuh siwon yang terkulai di lantai dan memposisikanya berbaring di ranjang

 

“ya!! Siwon.. siwon-ah” eunhyuk memukul pelan kedua pipinya berharap dengan begitu siwon tersadar dari keter-pejaman matanya, yang entah, sedang dalam kondisi tertidur atau tak sadarkan diri, ia sendiri kebingungan.

 

“aisshh.. ada apa dengan anak ini”

Kangin mendesis sesaat, sebelum tatapanya bertumpu pada botol obat yang tergeletak kosong di lantai.

 

“p-ponsel.. ponsel” kangin mengadahkan tangannya meminta kerelaan (?) sungmin untuk memberikan ponselnya sesaat untuk ia gunankan

 

Dan dengan cepat jemarinya menekan beberapa nomor untuk kemudian menghubungi seseorang.

 

“yeobseo kyu-ah berapa banyak obat tidurmu yang tersisa?”

 

“…”

 

“Mwho?!!” kangin memekik keras, membuat mereka yang berada di sana menatapnya heran.

 

“ada apa?”

Lee-teuk di buat semakin khawatir begitu menatap sorot cemas yang tersirat jelas di wajah kangin

 

“sepertinya, siwon meminum semua obat tidurnya”

 

“seberapa banyak?”

 

“sebelas” (hehe.. angka kesukaan nyempil lg :3 *boww!!)

 

“s-sebelas?” sungmin melengo seketika

 

Ini gila..

Sebegitu besarkah keinginan siwon untuk tertidur hingga menelan semua obat itu hingga tandas tak tersisa

 

“henry-ya jemput dokter han sekarang . Ini benar-benar serius”

 

Henry menganguk menyanggupi. Ia dengan bergegas keluar dari kamar untuk kemudian menjemput dokter kepercayaan SM itu, Dokter han.

 

“hey.. siwon kenapa?” donghae yang baru masuk untuk melihat situasi di dalam dibuat sama terkejutnya melihat siwon yang terkapar di ranjang dengan kangin, leeteuk dan sungmin yang menglilinginya.

 

“aku tak tahu, tapi kurasa ia terlalu banyak meminum obat tidur”

 

“obat tidur?” donghae maju selangkah mendekat, tapi dengan tanpa sengaja menginjak sebuah kotak yang isinya telah berceceran, pandangan yang luput dari penglihatan membernya yang kepalang khawatir dengan kondis siwon yang terkapar.

 

“ku rasa… ini ada hubungannya dengan yoona”

Dongahe berucap menatap lekat sebuah polaroid dengan gambar selca siwon dan yoona di dalamnya.

 

Hingga mereka, member yang masih mengelilingi siwon dengan rasa panik itu mendesah lemah. Mulai mengerti dengan situasi siwon yang sepertinya telah kembali dalam keadaan hati yang tak lagi baik. entah karna yoona atau mungkin karna sikap ceroboh visual itu sendiri.

 

 

***

 

 

 

Yoona baru saja melangkah ingin masuk ke kamarnya seusai bersantai menonton beberapa film di ruang tengah ketika hyeyeon terlebih dulu menahanya

 

“sebaikanya kau ke dapur dan makan bulgogi–mu sebelum sooyoung menghabiskanya”

 

“bulgogi…” ia harusnya tahu bulgogi yang hyoyeon maksud itu adalah kiriman yang sering di dapatkanya beberapa bulan terakhir ini, hanya saja karna pikiranya yang terlalu lelah untuk memikirkannya, yoona malah mengikuti perintah hyoyeon dan melangkah masuk dalam bilik dapur, hingga jelaslah terlihat sooyoung yang terus saja melahap irisan daging bulgogi dalam box besar dengan penuh nikmat.

 

“eoh? Yoongie-ya kemarilah kita makan bersama” sooyoung dengan tanpa dosa melahap bulgogi itu, yang nyatanya merupakan bulgogi kepunyaan yoona dan malah menawarinya.

 

Ada secarcik kertas putih berbalut pita biru yang luput dari penglihatan tertindis box besar. Yoona mengambilnya kemudian membacanya perlahan

 

‘makanlah bulgogi itu.. setidaknya buatlah dirimu sedikit gemuk, kau begitu menyedihkan dengan tubuhmu yang kurus’

 

Ibu yang selalu menyayangimu..

Lee Hyun-eon

 

 

Langkah yoona tersauk, matanya memanas dengan sedikit bergetar di gigitnya daging matang itu perlahan. Jika boleh jujur yoona lelah, teramat lelah malah. Semua permasalahan dan dampak dari masalah itu sendiri sudah cukup menyita pikiranya. Terlebih kini dengan berbaik hati ibunya membawakan kembali makanan rumahan yang begitu jarang di nikmatinya, setelah apa yang yoona lakukan di kediamanya beberapa hari lalu, nyatanya tak juga menyurutkan niat ibu kandungnya itu untuk memberikan perhatiannya meski melalui perantara makanan yang sangat di sukainya.

 

“ya! Kau kenapa yoong?.” Sooyoung berhenti mengunyah, meletakkan sumpitnya kemudian menatap yoona yang justru menangis di depannya dengan cemas

 

Hikss…

Yoona sesegukan dan itu semakin membuat kecemasan di wajahnya makin terlihat

 

“aku takkan makan lagi sungguh kau boleh makan semaumu”

Dan dengan konyolnya sooyoung memajukan piring yang terisi setengah bulgogi yang sudah di lahapnya di hadapan yoona

 

Hikss..

 

“ya.. yoona-ya. Jangan menangis begitu, harusnya jika kau tak ingin aku memakanya bilang lebih awal”

 

Hikss..

 

Sooyoung mendesah khawatir dengan tangisan yoona yang malah semakin menjadi.

Dengan sudut matanya di perhatikanya sekeliling, takut-takut jika member lain memergokinya membuat yoona menangis, karna dirinya yang dengan tega mengusai makanan yang pada dasarnya memang milik yoona. presepsi konyol yang dengan bodohnya muncul di benaknya.

 

 

***

 

 

 

Dua hari berlalu semenjak terserahkannya surat resign yoona pada petinggi SM, lee sooman namun hingga saat ini, Pria berumur empat puluh tahunan itu, belum juga mengajukan pertimbangan pada para Dewan pemegang saham terkait pengunduran diri salah satu aktris termahal di management-nya itu.

 

Ada beberapa hal yang menjadi alasan di tunda terserahkan-nya surat resign itu, selain dirinya yang memberi kesempatan pada yoona untuk berfikir lebih jauh mengenai hal itu, ia juga tengah mempertimbangkan betapa penolakan keras tentang putusnya kontrak Yoona dengan SNSD serta Agensinya, akan berdampak buruk bagi yoona sendiri dan pastilah menyebabkan kekecewaan di mana-mana entah itu pada dirinya maupun para fans yang sampai saat ini senantiasa mendukungnya.

 

Namun apa yang bisa sooman lakukan ketika dengan khasnya Tn im membentaknya, mengatakan jika pengesahan Resignnya yoona tak juga kunjung di proses, maka akan ada gugatan dari pihak keluarga yang turun langsung ketanganya.

 

Dan dengan sangat tak rela sooman hari ini, tepat lima menit lagi mengadakan rapat tertutup dengan pimpinan dewan kim young-min selaku CEO dan Lee jong-in selaku CFO serta staf SM yang juga tak kalah penting manager SNSD, Kim jaewon.

 

 

Detik berganti menit, hingga denting jam menunjuk tepat pukul dua siang sesuai waktu yang dijanjikan, telah hadir di hadapanya tiga-orang pria berperawakan tak jauh berbeda darinya, berkarisma. hanya saja seorang diantaranya nampak lebih cerah dengan usianya yang masih terbilang muda.

 

“jadi.. rapat kali ini membahas tentang apa?” Kim young-min berucap duluan menatap kearah sooman penuh tanya

 

Sooman terdiam sejenak menilik ketiga pria itu, untuk kemudian mengambil tiga buah amplop bercorak coklat dan menaruh nya tepat di depan ketiganya.

 

Mereka, Kim young-min, lee joong-in dan Kim jaewon saling berpandang heran

 

“bacalah dulu. Aku menunggu respon kalian”

 

Dan begitu sooman berucap tangan ketiganya telah siap membuka amplop coklat kemudian membacanya perlahan.

 

“ini..” tercekat joong-in berucap balik menatap sooman dengan kembali terheran

 

“hanya copy-an, yang asli kusimpan”

Ucapan sooman barusan jelaslah bukan jawaban yang tepat, dan sesuai dengan apa yang joong-in inginkan. Tapi, dari kalimat itu sooman seakan membenarkan selembaran copy-an yang ternyata adalah surat pengajuan Resign yoona itu ialah sah (?) dan jelas kebenaranya.

 

“tapi, bagaimana bisa? Yoona bahkan belum berunding apapun denganku tentang hal ini”

 

Kini iris keabuan sooman melirik sekilas jaewon yang seakan dibuat Shock dengan kebenaran yang ia dengar. Karna sesungguhnya ia sama sekali tak mengetahui keputusan yoona ini. dan hal itu jelaslah sangat mengejutkan.

 

“kau bisa tanyakan langsung padanya setelah rapat ini usai. Yang terpenting sekarang adalah apa yang perlu dilakukan..”

 

Dan..

Rapat tertutup itupun benar-benar di mulai. meski hanya Tn Kim dan Tn lee sajalah yang benar-benar aktif dalam beberapa perdebatan kecil bersama sooman. karna hingga detik-detik setelahnya Kim jaewon memilih diam dan hanya mendengarkan tanpa berani berucap, masih terlalu terkejut dengan semua kabar yang ia dengar.

 

yoona jelaslah seorang anak didik sekaligus dongsaeng yang juga ia sayangi, sama halnya dengan member soshi yang lain. meskipun tak begitu dekat ia tahu pasti yoona sungguh sangat mencintai pekerjaannya sebagai seorang publik figur. hanya saja yang menjadi pertanyaan, kenapa memilih untuk resign di saat dirinya bahkan sedang dalam puncak popularitas pikir jaewon demikian. meski nyatanya ia tanpa sadar mengesampingkan alasan utama sang-visual mengajukan resign, Bertunangan.

 

 

***

 

 

Baru beberapa hari aktif kembali dalam acara di beberapa stasiun TV, yoona sudah merasa begitu lelah tubuh dan fikiranya terasa lelah, sebegitu lelahnya hingga ingin rasanya terbunuh saat ini juga. Mungkin ini terlalu berlebihan, tapi nyatanya yoona berfikir demikian.

 

Tungkai ringkihnya berjalan masuk ke dalam lobby SM, bergerak maju menuju lift yang akan membawanya menuju ruang latihan di lantai tiga. tanganya bergerak menekan tombol lift dan jelaslah ia perlu menunggu karna lift sedang tidak dalam keadaan kosong.

 

Detik berikutnya, lift dengan cepat terbuka. Baru saja yoona akan memajukan langkah jika iris madu miliknya tak terlebih dulu menangkap sosok yang kemudian membuat gerakanya membatu seketika.

 

………………………………………….

 

‘I said that we would be together
that I`ll be right by you,
I made such promises that I held
onto as dear as my life

 

………………………………………….

 

Siwon di sana, menatapnya begitu dalam dan lekat. Namun anehnya tiga detik kemudian pria itu malah memberikan senyuman.

 

“tak ingin masuk?”

 

Ini sungguh respon yang tak yoona harapkan. Bukankah harsunya siwon marah padanya?, pada dirinya yang begitu tega menyakiti persaanya?. tapi kenapa? Kenapa malah pria itu menunjukkan sikap bersahabatnya?.

 

“kenapa?. Kau ingin keruang latihan kan? Aku akan mengantarmu sampai sana”

 

Tidak, bukan seperti ini harusnya. Tidak bisakah siwon mengacuhkannya? bahkan akan lebih baik jika pria itu membencinya dan tak perlu berbicara layaknya tak ada masalah diantara mereka.

 

“masuklah sebelum pintu liftnya tertutup”

 

Anggaplah ia bodoh, karna begitu saja mengikuti kemauan siwon dan melangkah masuk, mengunakan lift itu bersama. Hanya berdua.

 

 

 

“dua hari tak bertemu.. kenapa kau terlihat semakin cantik?”

 

Hati yoona mencelos, detik itu juga di pandanginya siwon yang malah menunjukkan sikap biasa ketika iris matanya yang memerah menatap tajam padanya.

 

“ada yang salah dengan perkataanku?”

 

Yoona dengan cepat mengalihkan matanya, tak sanggup dangan tatapan siwon yang mengisyaratkan ketulusan atas setiap ucapanya.

Tanpa sadar tanganya mengepal menahan gejolak untuk balas mengucapakan perkataan manis yang nantinya hanya akan membuat hubungan mereka kembali membaik, dan itu bukanlah hal yang benar, setidaknya untuk saat ini.

 

Lift yang tengah ia naiki serasa begitu lambat berjalan dan yoona benar-benar kesal karnanya. Karna jelaslah ia tak tahan jika hanya berada dalam sebuah tempat berdua dengan siwon yang terus saja berusaha mencuri perhatiannya, yang masih setia terdiam tanpa sedikitpun menoleh karna saat yoona melakukanya, hancurlah sudah pertahannya.

 

Harusnya siwon tahu sejak awal, bahkan sebelum kisah menyedihkan ini dimulai, ia-lah satu-satunya pria yang mampu mencuri perhatianya, memenuhi seluruh pikiranya dan tetap terus ada dalam hatinya, hanya saja ia tak bisa mengatakanya, yoona tak bisa melakukanya, takkan bisa.

 

Jika bisa ia mengesampingkan semuanya dan memilih mundur selangkah saja, maka semuanya akan berakhir. bukan hanya dirinya tapi juga hubungannya dengan sang-ayah.

 

 

Ting…

 

Satu tarikan nafaskelegaan berhembus perlahan dari bibirnya, lega karna lift itu akhirnya terbuka. Dan dengan langkah yang sengaja ia percepat yoona beranjak keluar

 

“yoona!”

 

“yoong..”

 

Siwon yang hendak mengejar langkah yoona, sejenak membungkuk singkat begitu melihat Kim jaewon yang juga sama-sama menyerukkan nama yeoja yang kini berdiri diam menunggu manager-nya itu melangkah mendekat.

 

“ku harap kalian tidak sedang berurusan, karna aku pelu berbicara serius dengan yoona”

 

“ahh.. aku–“

 

“annio.. oppa kami tak punya urusan apapun”

Yoona memotong ucapanya cepat dan langsung menggandeng jaewon berjalan menjauh darinya, dari siwon yang kini terdiam sesaat.

 

Tentu persaanya kembali merasakan keperihan. Yoona mengacuhkannya, mengangapnya seakan tak ada. bahkan hanya untuk sekedar menatapnya, yeoja itu sama sekali tak melakukanya. Tapi siwon takkan menyerah, setelah berfikir dua hari lamanya,

siwon mengambil kesimpulan jika dirinya takkan pernah menyerah untuk kembali merengkuh yoona dalam dekapnya, tak ingin lagi kehilangan yeoja sebaik yoona dalam hidupnya.

 

itulah mengapa setelah insiden pencampakkan di gereja dua hari lalu, meski merasa frustasi setelahnya, siwon yang harusnya menunjukkan seberapa tersakitinya dia malah tersenyum dan bersikap seperti tak terjadi apa-apa.

 

siwon bukanlah remaja yang terus saja berpetualang mencari cinta, ia telah dewasa dan mengerti arti cinta yang sesungguhnya dan dalam tekatnya, siwon memastikan jika yoona-lah satu-satunya wanita yang pantas untuknya, mendampinginya hingga seterusnya. Hanya dia, hanya yoona.

 

 

.

 

.

 

.

 

 

“kenapa tidak bicara saja di ruang latihan oppa? Eonniduel dan seohyun sudah menungguku sejak tadi..”

 

Jaewon menatap yoona datar ada sedikit letupan kemarah yang ia tahan

 

“oppa.. kenapa menatapku sperti itu?”

 

“baiklah jika kau mau, mungkin ada baiknya para member tahu tentang kabar Resignmu itu”

 

Bibir yoona mengatup, diam begitu mendengar ucapan jaewon barusan

 

“kau bahkan tak bilang padaku tentang keputusnmu itu, dan menjadikanku manager bodoh yang tak tahu apapun!. Sebenarnya kau menganggapku apa!”

Suara jaewon meninggi beberapa oktaf. Menekankan setiap kalimatnya tanpa jeda, dan sukses membuat yoona semakin diam karnanya.

 

“mianhe..” hanya kalimat itu yang bisa yoona ucapkan pandangan menilik lemah dangan kepala yang kini ia tundukkan dalam persaan bersalah

 

“jika begini aku bisa apa…”

Nada jaewon terdengar melemah, marah dengan ketidak tahuanya. Dalam benaknya ingin ia berperan ganda, sebagai seorang kakak dan manager yang bisa menjadi tempat bagi mereka, member soshi termaksud yoona menumpahkan keluh kesah. tapi nyatanya yeoja itu tak sekalipun melakukanya, entah karna sifatnya yang tertutup atau masalahnya justru ada padanya ia sendiri sulit menerkanya.

 

 

***

 

 

 

“ sudah dengar kabar tentang yoona belum?”

 

“snsd.. yoona?”

 

“ya, siapa lagi”

 

“memangnya kenapa denganya?”

 

“ku dengar ia akan resign dari SM”

 

 

 

“apa yang kalian katakan? Yoona akan resign?”

Donghae muncul dengan tiba-tiba dari salah satu bilik kamar mandi, menatap kedua pria-staf SM yang baru saja membuka percakapan yang tanpa sengaja di dengarnya

 

“ya, yang ku dengar begitu”

Salah satu diantaranya berucap gugup dangan tatapan menuntut yang donghae layangkan kepadanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“apa?!! itu tak mungkin..”

Yesung, shidong dan sungmin tanpa sadar berucap bersamaan, menyanggah cepat ucapan donghae yang menyatakan jika yoona telah mengajukan surat Resign.

 

“aku awalnya tak ingin percaya.. tapi saat keluar dari kamar mandi, hampir seluruh staf membicarakan hal yang sama”

 

“yoona tak mungkin melakukan hal nekat seperti itu..” eunhyuk berucap santai sambil memperbaiki tatanan rambutnya yang sedikit berantakan lewat cermin yang mengelilingi seluruh ruang latihan.

 

“astaga.. aku benar-benar mendengarnya! Mereka bilang jika yoona resign karna ingin bertunangan dan menikah”

 

“ck.. mana mungkin. yoona takkan mungkin bertunangan sedang ia dan siwon masih berhubungan” leeteuk yang tengah berbaring meregangkan sedikit ototnya usai belatih, ikut menimpali

 

“ya! Apa kau lupa kalau mereka sudah lama berpisah!” ryeowook memiringkan kepalanya untuk langsung bersitatap dengan leeteuk yang setia dengan posisinya.

 

“ishh.. maksudku berhubungan dalam artian saling mencintai, itu saja tak tahu”

 

“tapi ucapanmu itu sekan-akan menegaskan kalau mereka masih berkencan”

 

 

“tapi jika kabar itu benar.. bagaimana bengan siwon?” yesung menatap donghae dengan pandangan khawatir mengabaikan perdebatan kecil ryeowook dan lee-teuk yang sampai kini masih berlanjut.

 

“itulah yang kutakutkan. Bagaimana nanti jika siwon mendengarnya”

 

 

“aku? Ada apa denganku?”

Siwon dengan handuk kecil yang mengantung di lehernya masuk dengan tba-tiba membuat mereka tak pelak terkejut seketika, bahkan lee-teuk sampai terlonjat bangkit dari posisi berbaringnya.

 

Namun keterkejutan mereka teralihkan sementara, begitu henry berlari kecil mendekat ke pojok ruangan dimana mereka tengah berkumpul disana.

 

“kalian sudah mendengarnya belum? Yoona akan Resign dari agency kita!!” henry berucap cukup lantang, Entah sadar atau tidak jikalau kini, siwon berdiri tak jauh darinya. yang ia lakukan justru berucap cepat tak memperdulikan beberapa tatapan mengancam kangin dan donghae yang menyuruhnya untuk segera diam.

 

“Yoona? Resign?”

 

Beberapa dari mereka langsung mengatupkan mata pasrah,melihat siwon yang kembali mematung dengan sejuta keterkejutan yang nampak di wajahnya. Jika sudah begini, lee-teuklah yang perlu ikut andil dan menenangkan hati sang-visual yang entah seperti apa lagi nantinya bentuk kesakitanya.

 

………………………………………….

 

‘Today,
Once today has passed,
If I never see that person again,
If I never see that person again,
Then…..

………………………………………….

 

 

***

 

 

Suasana di ruang tengah dorm soshi kini mulai menegang, pandagan tajam dan menusuk, hingga kekecewaan terpantri sangat jelas dalam setiap mimik yang mereka layangkan.

 

Di sana dari arah kiri berderet sooyoung, taeyon, tiffany dan sunny yang duduk dengan tampang tajam yang menuntut

sedang di sebelahnya, sofa dengan kapasitas lebih kecil, ada yuri, jessica dan hyoyeon yang sama menampakkan kekecewaanya.

 

“kau benar-benar…hahh” ucapan yuri mengambang diikuti dengan desahan kemarahan

 

Yoona yang kini menjadi objek utama pengelihatan mereka, menunuduk dengan mata yang siap menumpahkan beninganya. Jika di pikir, kejadian ini layakanya deja-vu dimana di ruang yang sama, ia kembali menjadi sumber kemarahan serta tatapan tajam membernya. hanya saja, ini serius. sangat serius sampai-sampai yoona tak berani berucap apapun, satu katapun rasanya sulit keluar dari bibirnya. setiap kata yang coba dirangkai dalam benaknya sebagai pembelaan atas kemarahan membernya nyatanya seakan tercekat dalam tenggorokannya.

 

“kau tahu?, sesusah apa kita semua berjuang hingga sampai ke puncak?! Dan kau ingin menjatuhkannya begitu saja?!” jessica tak mampu lagi menahan geram di tatapnya yoona dengan mata yang kembali mengelurakan cairan (?).

 

“kenapa? Kenapa hanya diam?” sooyoung berucap setelahnya dengan wajah yang sama basahnya dengan tiffany yang meski terdiam sejak menit penghakiman (?), tetap tak melepas pandang dari yoona yang semakin menunduk dalam.

 

“bagaimana dengan soshi? Bagaimana dengan kami? Kenapa kau sama sekali tak memikirkan kami yoona-ya..” taeyon kembali mececarnya, ia yang pada dasarnya memiliki sifat pemaaf dan jarang berucap keras nyatanya terpancing dengan sebuah kabar yang membuat kemarahannya benar-benar dalam puncak.

 

“sebenarnya apa yang kau pikirkan? kenapa memilih resign tanpa pemberitahuan?”

Berbeda dengan membernya yang berucap sedikit tajam, sunny malah melembutkan ucapanya menatap penuh pengharapan jika yoona akan menjawab tentang surat resignnya itu tak benar, atau sekedar mencabut usulan resign, meski agaknya itu mustahil karna dari sang paman, Lee sooman jelas sudah membenarkan.

 

“pertunanganmu, kau bahkan tak menceritakan apapun tentang itu” kini balik hyoyeon yang berucap, ia tak terlihat seperti member yang lainya yang bahkan telah mengeluarkan air mata. Hyoyeon nampak lebih santai meski pandangan kecewa itu terlihat jelas dari iris coklatnya.

 

“ku pikir kita keluarga? Tapi kenapa kau malah menyembunyikan semuanya?”

 

Oh.. yoona tak tahan.

Waktu seakan benar-benar terhenti sekarang. ia merasa sesuatu telah menarik rohnya menjauh, sangat jauh dari raganya. Kepalanya terasa berat, sangat. dirinya tertekan, itu jelas. Hanya saja membernya nyatanya tak bisa melihat, betapa kini ia berkali-kali lebih kesakitan dengan respon kekecewan terlebih kemarahan yang meraka tampakkan.

 

“eonni-ya.. keumanhae. Keumanhae eonni.” Seohyun dengan sedikit isakanya berjalan mendekat

Ia yang sejak tadi lebih memilih berdiam diri di kamar, nyatanya tak kuat. Ini memang bukan pertengkaran pertama mereka. hanya saja, kali ini berbeda jika pertengkaran sebelumnya akan ada kata baikan, nyatanya dari apa yang ia dengar akan sulit untuk melakukannya. Karna saat ini, membernya sudah teramat kecewa dengan tindakkan yoona, eonni yang sangat dekat denganya.

 

“ya, kurasa memang sudah cukup. Setiap ucapan kita takkan merubah apapun, yoona takkan pernah mendengarnya” Taeyon bangkit dari duduknya merangkul tiffany dan berjalan naik ke lantai atas.

Yang lain juga melakukan hal yang sama, tanpa sedikitpun menoleh padanya, pada yoona yang kini berani mendongak menatap punggung membernya yang berjalan barlainan menuju kamar.

 

Tinggallah seohyun yang berdiri dengan sesekali menyeka air matanya

 

“hyun-ah..”

 

Panggilan lemah darinya takpelak menghentikan geraknya. Mereka saling menatap hanya sesaat karna seohyun juga ikut meninggalkannya tanpa sedikitpun berkata.

 

Dan ketika itu, air mata yang tertahan sesaat lalu menetes dengan sendirinya. Yoona pikir ini akan mudah, tapi nyatanya salah, harusnya ia bisa kuat menahan gejolak asa dan pengharapan jikalau semua akan baik-baik saja. ini bahkan lebih buruk dari apa yang ia duga. Tapi terkadang pemikiranya menyeruakkan hal yang sama, jikalau memang ia berkata lebih awal ataupun sekarang apa bedanya? Toh pada akhirnya ia kembali menjadi objek kekecewaan membernya.

 

 

 

 

***

 

 

 

[siwon Pov]

 

Perasaan siapa yang takkan hancur ketika mendengar kabar yang tak urung membuatkesesakkan justru mendominan. Yoona, wanita itu bagaimana bisa?, bagaimana bisa membuat hati ini merasakan sakit melebihi penyakit leaver pada umumnya, bagaimana bisa ia membuatku sesakit ini?.

 

Resign?, bertunagan?, Menikah?. Tiga kalimat itu cukup membuat tubuhku sekan kehilangan nyawanya. Ini baru kabar yang belum ada kebenaranya tapi sudah cukup membuatku kehilangan arah. Bagaimana jika itu nyata, yoona benar-benar akan bertunagan dan menikah? Rasanya aku akan mati seketika.

 

Aku bahkan baru saja meyakinkan diri untuk tetap memperjuangkanya, tapi, jika seperti ini, jika sudah begini,  bagaimana bisa aku melakukanya?.

 

“siwon-ah Buka pintunya dan makanlah jangan bersikap kekanakan seperti ini..”

 

Aku hanya bisa tetawa miris mendengarnya. Sejak pulang tadi aku memang mungurung diri di kamar, Mungkin ini terlihat kekanakan untuk mereka tapi tidak untukku, aku butuh ketenangan, setidaknya untuk menghilangkan pemikiran burukku terhadapnya, terhadap yoona.

 

Aku ingin mempercayainya, mempercayai tatapannya yang selalu sama, mata yang seakan berbicara jika ia masih memiliki persaan cinta yang sama dan takkan berubah. Tapi jika begini, bagaimana aku bisa bertahan dengan kepercayaan yang hingga setahun ini ku pegang erat.

 

“Hyung kau baik-baik saja kan? Keluarlah jangan membuat kami khawatir”

 

‘Tidak, bagaimana bisa aku merasa baik dengan kabar yang ku dengar?’

Ingin sekali ku berucap demikian, tapi nyatanya aku tak sekalipun bisa bersuara rasanya begitu aneh, teramat aneh malah jika aku malah balik menjawab mereka.

 

Anggaplah aku lemah, lemah dengan semua cinta yang aku punya.

 

Pernahkah terdengar jikalau cinta akan membuatmu lebih dewasa?. Ku tekankan itu salah. Cinta bukan membuatmu dewasa, Tapi karna cinta kau berlagak sok dewasa. Itu kenyataannya, Karna begitu kau kehilangan cinta, kau berubah menjadi lebih kekanakan dari yang terkira.

 

Sama halnya dengan apa yang aku rasakan.

 

Dan terkutuklah satu kata ‘cinta’ yang telah membuat hidupku benar-benar berantakan karnanya.

 

[Siwon pov end]

 

 

***

 

 

 

Kabar resign yoona begitu menghebohkan. Dan menjadi topik terhangat di setiap pembicaraan para staf, aktris maupun aktor yang bernaung dalam agency SM. Namun hingga saat ini berita itu tetap di jaga dan hanya berpendar dalam karyawan SM saja, karna sooman menegaskan jika kabar itu sampai bocor ke tangan media, orang yang telah membocorkan itu akan mendapat sangsi berat dan tuntutan langsung darinya.

 

Dan tentulah yoona yang kini melangkah keluar dari ruang lee sooman karna pengurusan beberapa berkas, menjadi tontonan serta lirikan bernada cibiran dari beberapa staf yang kebetulan lewat.

 

Yoona cukup kuat mental untuk sekadar mendengarkan cibiran, itu jelas tak ia permasalahkan.

 

Kini yang menjadi tujuan utamanya, ialah menyelesaikan segala urusan dengan pihak SM dan mengakhiri ketegangan hidup yang beberapa minggu ini ia rasakan.

 

Tak tahu arah melangkah yoona yang sedari tadi menunduk fokus pada lantai marmer yang dipijakinya tanpa sengaja menubruk tubuh seseorang.

 

Aroma ini..

 

Dengan perlahan yoona mendongak dan dugaannya tak meleset, siwonlah pria yang tanpa sengaja ditabraknya, sedang menatap balik padanya.

 

“alasan resign-mu itu… benarkah?”

Siwon berucap, Terlalu lantang dan begitu cepat pada inti pembicaraan. Karna tak ada waktu untuk berbasa basi. saat ini yang siwon butuhkan cukup jawaban, untuk itu ia sengaja menunggu yoona dan bertanya langsung padanya.

 

Dan nyatanya respon yoona sungguh sangat mengecewakan.

 

Yoona mengangguk pelan sangat pelan respon yang kemudian membuat siwon merasa tubuhnya limbung tanpa pegangan.

 

“kenapa?k-kenapa bisa?” siwon berucap terbata entah mengapa rasanya ada sebuah tekanan tak nyata namun sangat menyiksa menyapa dadanya berbaur dengan sesak yang dirasakanya

 

Yoona tak mampu berucap, cucuran air mata tanpa hentinya jatuh mengaliri wajahnya. kepalanya tertunduk tak berani menatap siwon yang juga tak berbeda jauh denganya.

Disana, di kedua mata obsidan miliknya entah sudah tetesan keberapa air mata itu mengalir. Siwon jelas tak perduli seberapa lemahnya dia kini. ia butuh jawaban meski nantinya jawaban itu akan sangat menyakitkan.

 

Namun hingga detik berikutnya yoona sama sekali tak berucap kepalanya masih setia ia tundukkan dengan bibir yang terkatup erat meredam isakan yang sedari tadi ia tahan

 

Siwon tak tahu apa yang terjadi denganya, persaan ini, rasa sakit ini adalah yang ketiga kali dan yoona yang telah membuatnya merasakan rasa yang sebegitu menyiksa batin.

 

“aku mengreti sekarang, tak perlu menjawabnya”

 

Dengan perlahan siwon memundurkan langkah berbalik dan berjalan pergi dengan sepengal rasa sakit yang nyatanya begitu membebani. bahkan langkahnya tersauk di tengah rintihan keperihan yang menekan erat, seperti sebuah obat yang siap menghentikan nafasnya seketika itu juga.

 

 

Sedang dia, yoona dengan segala beban yang ditanggungnya terperosot jatuh terduduk dengan tangisan pilu yang di rasakanya.

 

ia memang pelakunya, yoona yang melakoni hal yang kemudian membuat siwon merasakan sakit yang teramat sangat, tapi tak tahukah jika hatinya tak berbeda jauh, persaanya juga menjerit kesakitan. ini bahkan lebih menyakitkan saat ia melakoni sebuah drama dengan kesedihan di akhir cerita atau sekedar menontonya.

ia merasakanya sendiri perasaan sakit ini, yang nyatanya mampu membuatnya terisak kencang tak teredam seperti sekarang.

 

Pertemuan teramat singkat yang memilukan….

 

 

.

 

.

 

………………………………………….

 

‘You..
Because of that love,
Because of that person,
Because of that love,
I cry
’.

………………………………………….

 

 

 

 

“semuanya berakhir”

 

Yesung menghela nafas berat, entah ini sudah keberapa kalinya ia melakukan hal itu. pandanganya tak lepas memperhatikan siwon yang menatap nanar segelas vodka yang bertenger manis di tanganya.

 

“kami benar-benar sudah berakhir hyung…” siwon berucap lirih memperjelas ucapanya sesaat lalu. pikiranya melayang jauh, mengenang masa-masa indah dirinya dan yoona hingga tanpa sadar setetes air mata itu mengucur lagi, jatuh mengaliri mata nya yang sembap.

 

Ia kira air mata itu takkan lagi menguar jatuh, karna, sejak sejam lalu ia menangisi hal yang sama. tapi harusnya siwon tahu jika ini menyangkut persaanya, terlebih yoona seberapapun keringanya kedua mata itu, kelopaknya akan tetap mengalirkan setetes benigan mewakili kesakitan yang ia rasakan.

 

“kkumanhae siwon-ah…”

 

Yesung merebut paksa botol vodka yang kini tersisa seperempatnya saja, begitu siwon hendak menuangkan lagi ke gelasnya dan beralih meminta siwon untuk segera menghentikan aktifitas dengan tatapan memelasnya. aktifitas yang sedari tadi membuatnya semakin dirundung rasa prihatin terhadapnya.

 

Karna ketahuilah siwon bukan orang yang hebat dalam hal minum, dan itu cukup terbukti saat ini, ketika siwon bahkan berusaha sekuat tenaga agar kedua kelopak matanya tetap terjaga.

 

Dan dengan bantuan yesung yang memapahnya, mereka beranjak keluar dari mini bar yang berjarak beberapa meter saja dari dormnya, sebelum kehadiran mereka diketahui oleh beberapa orang di sana.

 

 

 

Siwon dalam perjalanan menuju dorm tanpa henti mengumam lemah, gumanan yang terdengar begitu lirih. meskipun tak merasakan, yesung yang memfokuskan laju kendaraan itu tahu pasti jikalau kesakitan hati siwon kini tak main-main. dengan sekuat hatinya yesung mencoba menahan diri untuk tak memarahinya, sekedar menyadarkan siwon atas efek dari kehancuran hatinya dan mengacaukan suasana hati seorang yang sudah di anggapnya keluarga.

 

Perlahan mobil silver yang di kendarainya melambat. Dengan sedikit tergesa yesung membuka pintu di sisian kanan dan mengeluarkan tubuh gontai siwon dari sana. Berlalu keluar dari parkiran dorm untuk kemudian masuk ke dalam lift yang membawanya ke lantai tujuh tempat dimana dorm suju berada.

 

 

 

“kenapa pulang begitu larut” suara kangin menggema, begitu bayangan tubuh yesung dan siwon yang di papahnya terlihat dari sudut lorong kecil penghubung ruang tengah.

 

Kangin turut membantu memapah siwon, kemudian membaringkanya di sofa peach panjang yang tadinya di duduki kyuhyun dan ryeowook.

 

Di sana, di ruang tengah ada leeteuk, donghae dan juga henry yang menatap penuh prihatin ke arah siwon yang tersungkur lemah di sofa

 

“sudah ku duga akan seperti ini” henry berucap pelan di iringi beberapa angukan singkat seakan berangapan hal yang sama denganya

 

Sedari tadi mereka menanti kedatangan siwon yang di ketahui sedang dalam keadaan kurang baik melalui pesan singkat dari yesung yang turut menemaninya di bar beberapa menit lalu. Cukup lama mereka menungu dengan persaan resah, hingga muncul yesung yang memapah siwon dengan kondisi sekacau sekarang. Matanya bahkan telah membengkak dan terlihat sebab, rambutnya teracak tak karuan, wajahnya mengisyaratkan kepiluan.

sama seperti yang henry katakan, jikalau kondisi ini telah mereka duga sebelumnya dan kedaannya kini terlihat lebih buruk dari yang terpikirkan.

 

Kyuhyun yang nyatanya tahu kebenaran sebenarnya tentang yoona dan segala kesakitanya, tak berani berucap apapun manakala kangin, donghae dan yesung sedikit membahas persoalan siwon dan yoona di sampingnya.

 

Ia hanya mendesah pasrah mengikuti jalan takdir yang tergaris di tangan tuhan, tanpa perlu mengambil andil dalam hal ini. karna ketahuilah, kyuhyun mati-matian membujuk yoona agar menentang kemauan sang-ayah dan tetap bersikap sebagaimana biasa. tapi memang dasarnya yoona adalah seorang yang ia kenal berpegang teguh pada pendirianya hingga kini terjadilah semua.

 

Member soshi yang di ketahuinya telah beranggapan buruk pada yoona…

 

Siwon yang terlihat kacau di depanya….

 

Dan yoona yang pastinya merasa semakin tersiksa dengan semua masalahnya.

 

 

Tunggu… yoona?.

 

Seperti seorang yang baru saja terkejutkan dengan suatu hal, Kyuhyun lantas tersadar, buru-buru masuk kedalam bilik kamarnya dan keluar dengan kunci mobil di tangan

 

“kau mau kemana?” ryeowook menahan lenganya, mencegatnya dengan tatapan seolah berkata ‘siwon sedang dalam kondisi sulit dan kau ingin pergi’

 

“aku ada urusan penting. hanya sebentar…”

 

Dan tanpa perlu menunggu respon berikutnya kyuhyun melesat pergi dengan langkahnya yang tergopoh-gopoh.

 

 

 

 

Tuuut..tuuut..

 

Kyuhyun terlihat gusar, jemarinya memukul kecil stir mobil dengan tak sabaran. tanganya meremas ponsel yang di senderkan erat di telinga kirinya. Ini sudah ke-empat kalinya ia menghubungi nomor yoona, namun tak sekalipun dongsaengnya itu mengangkat pangilanya.

 

Hingga panggilan kelima, detik dimana ia hampir memutuskan sambunganya karna tak kunjung mendapat respon, yoona mengangkatnya

 

 

“yoongie-ya kau dimana?” kyuhyun berucap terlebih dulu. kekhawatiran terpantri jelas dari nada suaranya yang menggebu menyatakan keingin tahuanya tentang dimana dan bagaiman kondisi yoona sekarang

 

“kyu…”

 

Helaan nafas yoona terasa seperti lirihan kecil yang menyakitkan di telinganya. kyuhyun tahu saat ini dongasengnya itu sendang berusaha menutupi isakanya dan itu sukses membuat kyuhyun kembali resah.

 

 

.

 

.

 

.

 

 

Butuh beberapa menit baginya sampai ketempat yoona. Kyuhyun dengan langkah lebarnya berjalan mendekat kearah yoona yang kini duduk di antara beberapa anak tangga, tangga darurat Apartementnya.

 

“kau sudah datang duduklah…”

 

Kyuhyun tak bergeming tetap dalam posisinya berdiri, rahangnya mengeras geram dengan yoona yang menapakan senyuman sok kuat didepanya.

 

“kau masih bisa tersenyum di situasi pelik seperti ini!”

 

Senyumanya berangsung pudar, menyadari kyuhyun yang tak suka dengan sikapnya barusan. Perlahan di lepaskan pandangannya dari kyuhyun dan menatap sendu titian tangga yang menjuntai di bawahnya.

 

“lalu kau ingin aku bagaimana? Terus menangis?”

 

Terdiam dengan helaan nafas berat kyuhyun memposisikan diri duduk di samping yoona yang kini tengah bersandar lemah pada penyangga tangga.

 

 

“lihatlah…. aku menangis sekarang” Yoona berbalik memperhatikan wajahnya yang kembali teraliri beningan air mata di hadapannya

 

“ya, seperti itu!. kau hanya perlu terus menangis seperti itu!, jangan tersenyum seolah kau kuat menghadapinya”

Kyuhyun bukanya tak berpersaan dengan mengatakan hal barusan, ia bahkan lebih bisa menyikapi dan memberi yoona beberapa saran dalam setiap masalah yang wanita itu hadapkan.

 

Seperti yang pernah terkutip dalam kelimat bijak‘terkadang tangisan lebih menenangkan di banding tersenyum dengan kepura-puraan’ maknanya banyak termaksud sekarang yoona harusnya menguarkan kepediahan itu dengan tangisan, dan tak perlu tersenyum di atas rasa pedih yang ia rasakan.

 

 

Untuk sesaat mereka terdiam seolah tengah berfikir keras tentang masalah yang semakin runyam.

 

Hingga yoona berucap pelan, memecah keheningan

 

“siwon oppa… bagaimana denganya?”

 

“sama sepertimu, bahkan lebih buruk. hyung mabuk dan.. kacau” Kyuhyun menoleh sebentar kemudian melepas kembali pandangan kearah tangga berlantai keramik di bawahnya dengan sekali lirikan

 

Yoona tak merespon ucapan itu karna kini pikiranya tersita, membayangkan betapa buruknya kini kondisi siwon karna dirinya yang begitu tak berperasaan menyebabkan kekecawaan di mana-mana. termaksud pada siwon seorang yang jelas sangat di butuhkanya.

 

“yoongie-ya … tidak bisakkah kau menghentikanya? Setidaknya pikirkan siwon hyung..”

 

Kyuhyun memandanganya memelas. manik mata sayunya bertumpu di kedua iris kecoklatan yoona yang nampak sendu

 

Tes..

 

Lagi, untuk kesekian kalinya air mata itu jatuh.

 

dalam hati, yoona berucap betapa ia juga tersiksa dengan semua hal yang telah dibuatnya. tapi ia layaknya boneka yang tak berdaya melakukan suatu hal sesuai dengan kehendak seorang yang sangat berjasa di hidupnya, ayahnya.

 

seketika itu juga, ketika ia mengingat semua kesakitan yang di buatnya, isakan-pun terdengar, meskipun tertahan dengan kepalan tangan, tangisan itu malah begitu jelas.

 

Dan sesuai nasehat kyuhyun barusan, yoona kini membiarkan tangisannya meluap, mendominasi seluruh ruang.

 

 

>>>>

 

.

 

.

 

.

 

 

Back song :

“BFF Instrument-stranger sun”

 

.

 

.

 

.

 

 

Siwon baru saja menyelesaikan beberapa scane pemotretan, yang sejak beberapa hari lalu ia acuhkan, mengingat kondisi psikisnya yang kurang memungkinkan.

 

Kini, ia tengah beristirahat di sebuah kursi panjang dengan ponsel di tangan. entah apa yang ia lihat tapi matanya benar-benar terfokus pada layar.

Hanya sesaat, karna iris obsidan itu teralih kearah prince manager yang ketika itu ikut duduk bersisian.

 

“bukankah aku punya job di china?” siwon membuka percakapan, menatap pria di sampingnya lekat.

 

“ne.. tapi akan ku cancel hingga bulan depan”

 

“jangan di cancel. Bulan ini saja kita lakukan”

 

Prince manager menoleh cepat dengan kening bertaut rapat

 

“kau gila? Syutingnya akan dilakukan besok jika aku tak mencancelnya”

 

“kalau begitu kita perlu berangkat sekarang” siwon berucap santai memakai tas bahunya kemudian beranjak dari sana.

 

Namun baru beberapa langkah, siwon berbalik menatap prince manager dengan sedikit memutar mata.

 

“hyung cepatlah! kita pulang sekarang, Aku perlu bersiap”

 

Ucapan siwon barusan tak pelak membuat kim Jonghun, si prince manager itu melongo sesaat, namun setelahnya terburu-buru mengejar langkah siwon yang telah lebih dulu keluar ruangan.

 

 

.

 

.

 

.

 

 

Pria yang bermandat sebagai manager super junior itu,   tak sedikitpun melepas pandang, mengikuti gerak cepat siwon yang tengah mengepak barang.

 

Dua koper besar telah siap di atas ranjang, dan siwon tetap dengan keterburuanya memasukkan beberapa baju kedalam tanpa di pilah ataupun di tata terlebih dulu, siwon hanya memasukannya asal, bahkan hanger yang bertenger pada kerah baju-pun tak siwon lepas.

 

Benar-benar perilaku yang memusingkan.

 

“ya! Setidaknya aturlah terlebih dulu barangmu” Kim jonghun mendesis, tatapanya memicing, pusing dengan gerak siwon yang seakan berburu dengan waktu.

 

Namun kejengkelannya tak mendepat respon sedikitpun. Siwon malah menutup kedua koper miliknya itu dan melangkah kembali meninggalkanya.

 

 

 

 

“eoh? Hyung akan kemana?” kyuhyun berucap, menatap dua koper besar yang tengah siwon genggam.

 

“china..” respon yang sangat singkat, kemudian tanpa perlu berpamitan, siwon melangkah meninggalkan kyuhyun yang terdiam keheranan.

 

“ishh.. ya!! Siwon.. aku juga perlu bersiap!!” suara bass keras, terdengar dari belakang. Suara yang kemudian membuat kyuhyun menoleh cepat dan menemukan si prince manager yang berjalan dengan muka masam.

 

“ahh.. kyu-ah. leeteuk mana?” Kim jonghun menghentikan langkah sejenak tepat di samping kyuhyun yang mengerjab masih dengan memandang heran.

 

“baru saja keluar dengan henry..”

 

“ahh.. gerae. Kalau begitu sampaikan padanya untuk menelponku begitu ia pulang. Aku perlu menemani siwon ke china, mungkin sampai beberapa bulan”

 

“kenapa lama sekali, memangnya ada apa di china?”

 

“ada empat kontrak yang perlu siwon selesaikan. Sampaikan saja apa yang kukatakan pada leeteuk arrasso!”.

 

Kyuhyun mengangguk, kemudian dengan ekor matanya memperhatikan managernya yang kembali melangkah keluar, namun terhenti begitu sampai di pojok ruangan, tepatnya lorong kecil penghubung pintu keluar.

 

“jangan berbuat ulah selama aku di china. Awas kalau aku sampai mendengarnya!!” pesanya dengan sedikit teriakan. Kemudian benar-benar menghilang dari pandangan.

 

 

.

 

.

 

.

 

 

Siwon mendudukkan diri di pojok bangku penumpang. Matanya melihat sekitar dari jendala kecil pesawat yang akan membawanya menuju Beijing-china. Sesaat lagi pesawat itu akan lepas landas, dan meninggalkan daratan korea selatan.

 

Meskipun siwon diam, sejak tadi pikiranya justru tak bisa diam. Seluruh pikiranya tersita full memikirkan yoona dengan segala rencananya. Mungkin setelah ia pergi dan berada hingga beberapa bulan di china, akan ada kabar yang terdengar tentang pernikahan yeoja itu, Dan siwon sungguh ingin menjauhi-nya. Bahkan jika perlu saat berita itu beredar nanti ia bersembunyi terlebih dulu, hingga kabar itu benar-benar menghilang dan lenyap dari pemberitaan.

 

Lari dari masalah? Ya, Anggaplah seperti itu.

 

kepergianya ke china kali ini bukan hanya semata-mata karna tuntutan pekerjaan, namun sebagai alasan untuknya menghindar dari segala hal yang mungkin akan membuatnya kesakitan. Bukan fisik tapi hatinya. Sudah cukup dengan semua skenario menyakitkan yang yoona buat, ia tak ingin lagi turut bermain di dalamnya.

 

siwon sudah cukup lelah, jadi biarlah ia menghindar dari maslah, mempercepat penuntasan jadwalnya dan berada jauh dari segala berita tentang yoona, Sekaligus berusaha untuk kembali menata hatinya.

 

 

 

***

 

 

 

Meskipun masih tergabung sebagai artis SM, karna surat pengunduran dirinya yang belum sepenuhnya di terima, mengingat begitu banyaknya prosedur yang perlu di lakukan,   yoona sudah tak lagi tinggal di dorm Soshi dan memakai segala fasilitas yang di berikan SM padanya. Terhitung beberapa hari terakir ini, ia tinggal dan menetap sementara di rumah ayahnya.

 

Seminggu lebih tak bertemu dan bersitatap langsung dengan membernya, membuat yoona sangat merindukan kehangatan mereka yang sudah ia angap keluarga.

 

Sooyoung dengan tingkah jenakanya,

tiffany dengan sikap bijaknya,

jessica dan yuri yang begitu perhatian padanya,

sunny yang selalu menjadi teman berburu makanan enak di luar dorm,

taeyon dan hyoyeon yang selalu sabar dalam mengajarinya memasak yang terkadang sangat sulit ia lakukan

dan juga seohyun yang membuatnya merasakan, perasaan menjadi seorang kakak yang berusaha bertingkah baik untuknya.

 

tapi Ia jelas tahu diri, saat ini member soshi tengah kecewa padanya. pada keputusanya dan segala hal yang di sembunyikanya, termaksud rencana pertunangan yang tak terduga sebelumnya.

 

Dan apa yang yoona lakukanya sehari-hari hanya terduduk manis di atas kasur, sembari menatap kosong beberapa pigura, gambar dirinya dan ayahnya yang bertenger manis di atas buvet cream di depanya.

 

Sungguh minggu yang buruk. Itu menurut yoona. ada baiknya baginya mendapat job full sebulan di banding harus berdiam di dalam kamar, tanpa melakukan apapun selain mendengarkan musik dan sesekali membaca novel yang bahkan telah ia paksakan menjadi hoby baru untuknya.

 

“nona.. waktunya makan siang”

 

Yoona menolehkan singkat, memandang seorang wanita dengan pakaian khas, sedang meletakkan beberapa lauk di atas meja samping tempat tidurnya

 

“gomawo ajjumma..” ucap yoona setelahnya

 

Wanita tu menunduk sesaat kemudian keluar dari sana meninggalkan yoona yang hanya bisa menatap menu makannya itu tanpa selera.

 

Selalu saja seperti ini, jika pagi menjelang ayahnya akan menyuruh wanita paruh baya yang merupakan pembantu di rumahnya untuk mengantarkan makanan padanya.

 

Hal yang sama-pun terus berlanjut di waktu makan siang dan juga makan malam, akan adapula ajjhuma tadi, yang kembali masuk kemudian meninggalkan makanan yang hingga saat ini tak sekalipun ia makan.

 

Terkadang yoona geram dengan sifat sang ayah yang semakin keterlaluan. Ia tak tahu kenapa bisa ayahnya bersifat seperti sekarang, ia seakan di kekang di tengah ketidak pastian. Ayahnya hanya akan mengizinkanya untuk keluar jika keluarga Kang datang dan setelahnya ia hanya akan terkurung dalam kamar.

 

“yoongie-ya..”

 

Yoona menoleh cepat kemudian tersenyum senang mendapati kyuhyun yang berdiri tegap dengan bungkusan makanan di tangan

 

“ku pikir kau takkan datang..”

 

Kyuhyun berjalan mendekat kemudian mendudukkan diri di sisian ranjang

 

“bagaimana aku tak datang, kalau kau selalu mengancam tak akan makan”

 

Yoona terkikik kecil mendengarnya, dibukanya bungkusan kotak itu dengan mata berbinar melihat makanan yang tersaji cantik di dalamnya.

 

Mungkin agak membingungkan karna kyuhyun justru datang dan membawa makanan luar untuk yoona makan. tapi kenyataanya, makanan yang kini tengah ia lahap perlahan adalah buatan tangan Lee eun-hee, ibunya.

 

Dengan perantara kyuhyun tentunya, hubungan mereka yang memburuk berangsur membaik. Yoona meminta kyuhyun yang tahu segala masalah yang di tanggungnya, untuk menemui ibunya di sudut kota, dan menyampaikan permohonnan maafnya mengingat ia sama sekali tak di perbolehkan keluar rumah oleh ayahnya.

 

Hingga seperti inilah, kyuhyun setiap harinya menyempatkan diri berkunjung ke rumah yoona untuk sekedar mengantarkan makanan buatan ibunya kemudian kembali melakukan aktifitas syutingnya.

 

Tidak, jangan beranggapan jika ini perhatian pria terhadap seorang wanita. Karna kyuhyun sama sekali tak pernah menaruh hati pada yoona. Sejak ia terekrut sebagai member baru di Suju tanpa perlu melakukan masa trainer yang panjang seperti member lainya, yoona-lah yeoja yang pertama kali dekat denganya. ia yang sering kali berkunjung ke dorm Suju selalu bisa membuatnya merasa nyaman di saat kecangungan bersama member Suju menyergapnya.

 

“siwon hyung kemarin berangkat ke china..”

 

Gerak tangan yoona yang saat itu tengah mengambil potongan sayur terhenti. Di tatapnya kyuhyun menuntut penjelasan lebih

 

“ada kontrak pekerjaan, mungkin sampai beberapa bulan”

 

Selera makanya lenyap seketika. Pandanganya melemah menatap seprei pink dengan corak biru kasurnya. Siwon tengah berada jauh darinya dan kenyataan itu membuat dirinya merasa hampa. Yoona sendiripun tak tahu apa yang terjadi denganya semenjak ia mengikuti keinginan ayahnya, dan semenjak permasalahan pelik ini dimulai, ia merasa menjadi sosok paling lemah.

 

Yoona lemah dalam permasalahan yang di hadapkan padanya. Teramat sangat lemah hingga ia benar-benar merasa hidupnya tak pernah ada. Yoona yang kuat selama ini seakan lenyap tak bersisa, sedikitpun kekuatan untuk tetap melanjutkan takdir yang menantinya pun tak ada.

 

Entah karna apa tapi yoona merasa akan ada baiknya jika siwon kini berada di sisinya, menemaninya dan terus menguatkanya. Yoona merasa rindu pada sosoknya, sosok pria yang teramat di sayanginya tapi dengan begitu tega ia melukainya.

 

“sudah kukatakan ada baiknya memberitahu kebenaranya pada siwon hyung..” kyuhyun berucap, menegur yoona dari lamunan singkatnya, menyadarkan jika ia harusnya mengatakan hal yang sebenarnya, dengan begitu tak ada air mata yang kini tengah tertuai dari mata beningnya.

 

“sudah tak ada gunanya” yoona melirikya sekilas lalu beralih mengepak kotak makanan itu seperti semula “pulanglah kau perlu istirahat. ” lanjutnya kemudian.

 

Kyuhyun hanya bisa menghela nafas berat menatap pungung yoona yang telah berbaring membelakanginya

“aku akan datang lagi besok” kyuhyun berujar setelahnya beranjak keluar dari kamar dan membiarkan yoona merenungi segala permasalahanya.

 

 

 

***

 

 

 

“apa yang kau lakukan disini?” Tn im memandang wanita di depanya dengan tajam dan penuh kebencian

 

“yoona mana?” bukannya menjawab wanita itu malah balik bertanya, membuat Tn im spontan membentuk senyuman masam

 

“yoona tak ada di sini, dia tinggal di dorm bukan disini”

 

“kau pikir aku percaya?. Aku sudah mendengar semuanya, aku tak habis pikir bagaimana bisa kau memaksa yoona melakukanya” ucapan wanita itu melemah di akhir kalimatnya.

matanya menatap lurus pada iris keabuan pria yang tak jauh berbeda umur darinya itu.

 

“apa pedulimu?!   jangan berlagak sebagai ibu yang baik.. karna itu sudah sangat terlambat” nada tn im terdengar tajam matanya menyulutkan kemarahan

 

Ucapanya barusan membuat wanita yang nyatanya Ny lee ibu yoona terdiam beberapa saat, sebelum kemudian mendesah pelan. Ia tahu dirinya bukanlah ibu yang baik, meninggalkan anaknya dan memilih hidup dengan pria lain. Tapi apakah salah jika saat ini ia ingin menebus semuanya, semua kesalahanya di masa lalu dengan memberikan perhatian yang lama tak di berikannya pada kedua putrinya terlebih yoona.

 

“aku mohon padamu hentikan sampai disini, aku tahu bagaimana persaan yoona ia pasti tersiksa saat ini” Ny lee berucap lemah, iris kelabunya menatap penuh harap pada pria di depanya

 

“aku ayahnya, aku yang merawatnya, aku tahu pasti mana yang baik dan buruk untuknya”

 

Begitu tn im membalas ucapanya, raut wajahnya nampak frustasi mendegar respon keras dari sang mantan suami

 

“tidakkah kau melihat kita? Tak selamanya hubungan perjodohan itu berjalan mulus seperti keluargamu yang lain. Kita bahkan—”

 

“keluar dari rumahku!”

Ucapn Ny lee terpotong cepat begitu dengan kerasnya Tn im membentak

 

“jaebum-ah..”

 

“sekarang!!”

 

Satu tarikan nafas berat berhembus dari mulutnya. Ny lee menatap sendu lantai atas dimana ia pastikan di salah satu kamar ada yoona yang berdiam di sana. Kemudain kembali menolehkan pandangan kearah Tn im yang makin menatapnya sangar

 

“Lihat hatinya jaebum-ah, yoona melakukan ini semua hanya karna tak bisa menolaknya. aku memang bukan ibu yang baik untuk yoona, tapi setidaknya jangan menjadi ayah yang buruk untuknya”.

 

Dan.. seusai mengatakan hal barusan Ny lee benar-benar beranjak keluar dengan langkah pelan.

 

Tinggallah Tn im yang terdiam memikirkan perkatana barusan. Benarkah ia bahkan telah menjadi ayah yang buruk?. Ya, ia bisa melihat jelas hati yoona yang bergerak berlainan dengan tindakanya.

tapi benarkah ia telah membuat yoona tersiksa karna kekanganya?.

 

Memikirkan itu membuat persaan aneh menyergap pikirannya, di usap pelan wajahnya berharap segera menetralir segala pikiran anehnya.

 

Berselang beberapa detik, matanya beralih menatap wanita paruh baya yang menuruni tangga dengan beberapa makanan di tangannya.

 

“ajjumma shin..”

 

Langkah wanita paruh baya itu terhenti sesaat

“ahh.. ne Tuan..”

 

“yoona tak memakannya lagi?”

Suara Tn im sedikit terdengar menggeram, menatap hidangan makan malam yang tengah di pegang wanita itu tak tersentuh sama sekali

 

“ne, nona bilang ia sedang tak berselera sekarang jadi—”

 

“berikan padaku biar aku yang menyuruhnya makan”

 

Dan dengan gerak cepat, kini talam berisi beberapa makanan itu telah berpindah tangan. Tn im membawa talam itu kembali ke lantai atas, kamar yoona tepatnya. Entah sudah keberapa kalinya ajjumma shim, pembantu di rumahnya itu selalu kembali menaruh makanan yang sedikit pun tak yoona makan. dan untuk kali ini sudah cukup membuat Tn im geram.

 

 

 

“makanlah..”

Tn im dengan perlahan menaruh talam di atas ranjang, mempersilahkan yoona untuk makan.

 

“appa… aku—”

 

“jangan membantah”

 

Yoona menyanggupi ucapan ayahnya barusan. Tak ada gunanya menolak, karna itu akan semakin membuat ayahnya geram.

 

Dan dengan gerakan yang di paksakan, yoona mulai mengunyah perlahan hidangan yang tersedia dalam talam, sambil sesekali iris coklat itu melirik sang ayah yang tak juga beranjak keluar.

 

Karna sepertinya kali ini, ayahnya ingin memastikan jikalau ia menghabiskan seluruh makan itu hingga tandas.

 

Saat ini dalam benak pria stengah baya itu, bersarang sejuta pertanyaan yang harusnya ia sendiri yang menjawab. Yoona memang terlihat tersiksa dengan semua kekangannya. berat badan anak bungsunya itu kini sepertinya telah berkurang, pipinya nampak semakin tirus dangan pinggiran mata menghitam. Sejahat itukah ia? Mengabaikan semua bentuk ketidakrelaan yoona dalam melakukan perintahnya?.

 

Ya, nampaknya Ny lee benar dengan perkataanya…

Ia telah menjadi ayah yang buruk bagi anaknya.

 

“appa keluar sebentar. lanjutkan makanmu..”

 

Begitu ayahnya keluar, yoona yang nyatanya tak benar-benar menelan makannya itu lantas membuang semua hidangan ke tong kecil yang berada di pinggiran ranjang.

 

Mungkin ia tengah kelaparan, tapi yoona tak punya selera untuk melahap semua hidangan yang barusan ayahnya berikan.

 

Dia tak bisa lagi berpura-pura menikmati makanan sedang hatinya merintih kesakitan di tengah kerinduan yang ia rasakan.

 

Ini, sungguh konyol, tapi yoona membutuhkan siwon, entah kenapa kabar pria yang di ketahuinya tengah berada jauh di china membuat hasrat untuk bertemu pria itu semakin besar.

 

Entah ini pantas atau tidak, tapi, yoona benar-benar mengharapkan siwon untuk datang..

 

 

 

***

 

Kening itu bertaut samar, diringi buliran keringat yang jatuh merembap. Sesekali terdengar leguhan kasar dan dengan sedikit tesentak, siwon bangun dari tidurnya yang teramat singkat.

 

Dengan gerak frustasi, di usapnya wajah itu dengan kedua tangan. Selalu seperti ini, saat ia bahkan baru memulai untuk beristirahat sejenak akan ada mimpi yang mengiringinya setiap malam, yang seketika itu juga membuat hatinya tak tenang.

 

Dalam mimpinya ada yoona yang menangis memangil namanya dan itu selalu berulang sampai sekarang.

 

tak tahu kenapa, siwon bahkan sudah hampir berhasil dalam usahanya melupakan sejenak kesakitanya bersama yoona. namun mimpi itu berhasil menghancur kan segalanya.

 

dan nampaknya malam ini akan ada ia yang kembali terserang insomnia sama seperti malam, malam sebelumnya.

 

 

 

***

 

 

 

kecurigaan mulai tercium oleh awak media. Hampir sebulan lebih, yoona benar-benar tak sekalipun memunculkan diri, entah itu saat di gedung SM ataupun bersama Member SNSD. saat mengisi acarapun foramsi girl gruop itu tak pernah sekalipun lengkap dan yoona-lah yang tak kunjung terlihat, bahkan beberapa panggilan job untuk sang-visual itu di tolak.

 

Hingga desas-desuspun mulai mencuat

 

 

‘Girsl Generation yoona, sedang bersitegang dengan Agency—SMEnt’

 

 

‘Yoona SNSD, tak lagi terlihat di TV’

 

 

“Aktris Yoona SNSD menghilang’

 

 

‘Im yoona member SNSD Telah keluar dari Agency’

 

Begitulah beberapa judul yang termuat dalam majalah dan koran yang seketika itu menjadi pembaritaan terpanas di seluruh penjuru korea, mengakibatkan kehebohan di mana-mana.

 

Berita ini menjadi perburuan beberapa wartawan untuk mendapatkan kejelasan lebih terkait menghilangnya Yoona dari panggung hiburan.

 

Mulai dari SM Building yang terpenuhi dengan wartawan yang tengah menunggu konfirmasi pihak Agency,

 

Ruang parkir Dormnity SNSD yang juga tengah bersiaga beberapa wartawan disana,

 

Parkiran Apartemen pribadi Yoona,

 

Dan Rumah pribadi miliknya, Rumah Sang-ayah yang juga tak luput dari pengintaian paparadzi maupun wartawan yang menunggu kebenaran berita yang tengah beredar luas.

 

 

Yoona yang kini tengah memberi sedikit celah untuk mengintip puluhan wartawan yang menanti di gerbang rumah di buat ketakutan.

 

Ia sudah menonton beberapa siaran TV pagi ini, dan hampir keseluruhan berita menampakkan kabar tentang dirinya.

 

Di raihnya cepat-cepat ponsel yang tergeletak di atas ranjang dan langsung menghubungi seseorang.

 

“kyu—“

 

“Keadaan benar-benar gawat. kau masih di rumahkan?”

 

Yoona terdiam beberapa saat. ia baru saja akan menyatakan ketakutan yang menyergapnya, ketika dengan cepat pria itu berucap memotong kalimatnya yang belum sepenuhnya selesai.

 

“yoona?”

 

“ne..”

 

“aku akan diskusikan ini dengan ayahmu kau tenang saja, dan tetap diam di kamar arra?”

 

Dan..

Panggilan itu terputus

 

Yoona terduduk menyumbal kedua telinganya dengan headset putih miliknya, kemudian memutar instrument klasik kesukaanya dengan sekeras-kerasnya.

Ia hanya ingin tuli sesaat dari beberapa teriakan wartawan yang meminta penjelasan di luar. Ketakutan itu semakin ia rasakan tatkala mengingat ucapan kyuhyun barusan jikalau kadaan saat ini benar-benar gawat dan hal itu cukup membuat tangisannya kembali menguar.

 

 

***

 

 

“taeyon-ssi apa kabar yang beredar tentang Yoona-ssi itu benar?”

 

“fanny-ssi bagaimana tanggapan anda tentang berdarnya kabar Resign ini?”

 

“taeyon-ssi, fanny-ssi…”

 

Taeyon dan fanny yang saat itu baru saja keluar dari van hitam soshi seketika menjadi bahan kerumunan para wartawan yang melayangkan beberapa pertanyaan.

 

Dan dengan bantuan beberapa bodyguart, kerumunan yang semakin memadat itu sedikit tersudut ke belakang, dan membuat jalan kedua member soshi ini lebih luas hingga memijak masuk kedalam loby kantor SM dengan kelegaan yang terlihat

 

“eonni-ya wasseo..”

Seohyun mendekat kearah tiffany dan taeyon yang baru saja masuk

 

“ne. Jaewon oppa mana?”

 

“di ruang latihan”

 

“kau mau kemana?”

Taeyon berucap menatap heran seohyun yang harusnya duduk menanti ia dan tiffany datang untuk melanjutkan latihan vokal terkhusus sub unit soshi-TTS, malah terlihat ada di lobby.

 

“ponselku tertinggal di mobil”

 

“kau tak lihat kerumunan wartawan itu? Suruh saja beberapa staf untuk mengambilnya”

Tiffany mencegat cepat melalu ucapan menghentikan niatan seohyun yang baru saja ingin beranjak.

 

“benar juga.. kalau begitu aku akan menyuruh orang mengambilnya. Eonni duluan saja nanti aku susul”

 

“arra.. jangan terlalu lama”

 

“hm”

 

Sepeninggal taeyon dan tiffany, seohyun mulai mencari staf yang bisa ia mintai pertolongan, ketika dari iris matanya justru menagkap sosok pria berkulit pucat yang tengah sibuk menelpon seseorang.

 

“arra.. setelah urusanku selesai aku akan kesana. kau tunggu saja yoongie-ya”

 

Kening seohyun bertaut masih berusaha menajamkan pendengarnya dengan mata tetap terfokus kearah kyuhyun yang berhenti sejenak

 

“tenanglah tak ada wartawan yang tahu kau disana..”

 

Lagi kalimat kyuhyun barusan membuat seohyun sedikit membuka pikiran terkait ucapan terakhir kyuhyun saat pembicaraan pertama yang ia dengar ‘yoongie?’ bukankah itu panggilan untuk yoona?. Kyuhyun menelpon yoona? Untuk apa?.

 

“wae?”

 

Seohyun mengerjap, tersadar dari keterpakuan sesaat, kemudian mengeleng singkat dengan ucapan cepat kyuhyun yang sepertinya menyadari jika ia tengah memperhatikan dirinya seorang.

 

“anni.. aku pergi dulu oppa, anyeong..”

Pamitnya, lantas menunduk cepat kemudian melangkah menuju lift dengan tak sabaran membuat kyuhyun merenyit menatapnya kebingungan

 

“kenapa denganya? aneh sekali..”

 

 

.

 

.

 

.

 

 

Seohyun menghentikan laju mobilnya di depan sebuah rumah yang lebih mirip villa karna halaman dan beberapa pavilliun yang berjejer rapi di sisiannya.

 

Matanya terfokus kearah kyuhyun yang turun dari mobil hitamnya, dengan bingkisan kotak yang bertenger di tangan kananya.

 

Hari sudah larut, namun keberanian seohyun yang turut mengikut setiap gerak kyuhyun tak juga surut. Entah karna apa, ia merasa ada yang perlu ia tahu dari senior satu managementnya itu, setelah beberapa jam yang lalu pembicaraan singkatnya di telepon tanpa sengaja terdengar olehnya. hingga keinginan untuk mengetahui hal apa yang mengaitkan nama yoona seketika mengelegar di pikiranya

 

Dan disinilah ia masih menunggu kyuhyun keluar dari rumah yang nampak lebih mencolok dengan aksen putih menyala di setiap sudutnya.

 

Hingga stengah jam menunggu di tengah kebosanan, seohyun cepat-cepat bergegas keluar begitu melihat kyuhyun yang barus saja hendak masuk ke mobil untuk pulang.

 

“oppa!!”

 

Mata kyuhyun melebar, terkejut dengan seruan seohyun yang entah bagaimana kini berdiri di samping kanannya

 

“seo? Kau… bagaimana bisa kesini?”

 

“itu tak penting. sebenarnya apa yang oppa lakukan di sini? Bukankah oppa ada janji dengan yoona eonni saat di telepon tadi?”

 

“kau, mendengarnya?”

Alis kyuhyun spontan bertaut, masih terlalu terkejut dengan keberadaan seohyun di tempat yang bahkan seorangpun tak tahu, terlebih dengan fakta jika gadis itu telah mendengar percakapan singkatnya dengan yoona di telepon siang itu.

 

“aisshh.. oppa, jangan balik bertanya cukup jawab saja..”

 

“aku memang sedang memenuhi janji bertemu denganya”

 

“di sini? Yoona eonni ada di rumah itu?”

 

“ne..”

 

Jika sesaat lalu kyuhyun terlihat terkejut, kini beralih seohyun yang balik melakukan hal serupa, hanya saja tatapan mata seohyun sedikit berbeda

 

“oppa.. jadi, kau, kau yang akan bertunangan dengan yoon—“

 

“anni!! Yang benar saja! bukan aku tunanganya..” kyuhyun menyangah cepat begitu tahu maksud dari ucapan seohyun barusan

 

“lalu?”

 

“lalu apanya? Aku hanya datang menjenguknya saja seperti biasanya..”

 

“oppa sering menjenguk yoona eonni?”

 

Ohh.. jikalau tatapan polos itu tak keluar dari mata beningnya, ingin rasanya kyuhyun menyumbal mulut seohyun yang terus saja bertanya.

 

“sebenarnya yoona melarangku memberi tahu siapapun, tapi kurasa kau perlu tahu kebenaranya, dengan syarat, kau harus janji hanya cukup kau saja yang tahu, tak perlu memberi tahu pada member-mu yang lain arra?”.

 

Seohyun mengerjeb beberapa saat dan dengan perlahan mengangguk singkat.

 

Hingga terjawablah semua pertanyaan-pertanyaan tentang segala keanehan serta sikap yoona selama ini, begitu dengan perlahan kyuhyun menjelaskan setahap-demi setahap hingga seohyun di buat mematung, terkejut begitu mengetahui kenyataan yang terjadi pada eonninya itu.

 

 

 

***

 

 

 

“seohyun tak pulang?”

 

Sunny menatap singkat kearah heyoyeon, kemudian mengumam pelan

“hm. Dia bilang ada urusan”

 

“dorm rasanya sepi sekali…”

Pandangan sunny teralih kearah sooyoung yang duduk dengan lemas di sofa

 

“yoona dan seohyun tak ada, aku bisa menjahili siapa?” sooyoung kembali memasang wajah muramnya lantas berbaring dengan malas di sofa

 

Sunny dan hyoyeon terdiam dengan tersebutnya nama yoona barsuan

 

Hampir sebulan lebih tanpa sosok manja yoona dalam dorm, membuat seisi ruang seakan senyap. setiap member yang berusaha mencari hiburan dengan tingkah kekonyolan nyatanya tak berhasil membuat suasan ceria seperti dulu kembali meredam.

 

Kini SNSD hanya akan terlihat kompak dalam sorot kamera saja, setelahnya, begitu pulang kembali ke dorm mereka bak sebuah daerah yang terpilah-pilah. taeyon selalu bersama tiffany dan jarang berbaur bersama member lain, jessica dan yuri sering menghabiskan waktu di luar mengurusi urusan masing-masing. hanya sunny, hyoyeon,dan sooyoung sajalah yang masih berusaha menjaga keakraban meski hanya sesekali terlibat dalam pembicaraan, karna kebanyakan waktu habis untuk melamun sesaat.

 

“aku merindukan yoona, dan.. kita” hyoyeon di iringi aliran kecil yang jatuh mengenai wajah puntihnya itu berucap sangat pelan namun terdengar jelas

 

Sunny mengusap bahunya perlahan, mencoba menguatkan meski agaknya itu percuma, hyoyeon sudah terlalu jengah dengan kondisi mereka (re-soshi) yang bukannya membaik malah terpecah belah.

 

Sooyoung yang terdiam itu juga tanpa sadar meneteskan beningannya, merasakan hal yang serupa.

 

Dan sekarang ia baru mengerti, mengapa yoona diangkat menjadi visual dalam group-nya, karna begitu ia tak ada, seluruh anggota dalam membernya seakan berpendar tak tahu arah, layaknya sebuah rumah dengan tiang kecil yang patah hingga mengakibatkan kehancuran karnanya.

 

 

 

***

 

 

Beberapa staf SM di buat uring-uringan,   ini telah genap empat hari semenjak kabar menghebohkan tentang salah satu aktris dalam Agency itu

Beredar dan hingga kini mereka di buat tak tenang.

 

Deringan telepon selalu terdengar. beberapa staf hanya akan mengangkatnya sesaat, karna begitu tahu siapa gerangan si penelpon, sesegara mungkin panggilan itu di putus sepihak. Ada beberapa wartawan baik stasiun tv swasta lokal maupun stasiun tv luar, yang ke-semuanya mengajukan hal yang sama, meminta konfirmasi lebih tentang desas desus yang kini tengah menyebar luas.

 

“apa kau akan membiarkan ini begitu saja?”

 

Sooman melirik singkat pria di sampingnya,   kemudian kembali fokus memandang beberapa wartawan dari balik jendela kaca besar pembatas dinding ruang kerjanya.

 

“apa ayah yoona kembali menelpon?” ucapnya balik bertanya.

 

“anni. Sudah dua hari ini Tn im belum menelpon sama sekali” lee jong-in mendesah setelah berucap barusan kemudian kembali menatap sooman

 

“apa kau tak akan mengambil tindakkan? Jika begini terus kabar yang beredar akan semakin menyudutkan”

 

“hubungi ketua dewan pemegang saham, dua jam lagi kita adakan rapat”

 

“n-ne? Kenapa mendadak sekali”

 

Sooman berbaik cepat menatap lekat joong-in yang setia di belakang

“Bukankah kau baru saja bertanya, apa aku tak akan mengambil tindakan? Maka ini jawabanku”.

 

“ahh.. ne Arasso. Aku akan segera menghubungi ketua dewan”

 

Begitu joong-in melangkahkan kaki keluar, sooman dengan langkah pelan menggengam ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang.

 

“maaf mengangu waktu anda. Tapi saya tak ingin berbasa basi saat ini, sebentar lagi rapat penenuan akan di laksanakan. Saya harap anda memikirkan masalah ini lagi. Saya tunggu dua jam dari sekarang, Sebelum penyetujuan benar-benar di laksanakan”

 

.

 

.

 

.

 

 

Tn im menaruh kembali gagang telpon itu kemudian membasuh wajahnya kasar. Kini ia tengah berfikir keras tentang apa yang hendaknya ia lakukan. Ia tahu ada begitu banyak berita negatif yang menyudutkan putri bungsunya itu dan hal itu jelas membuatnya marah namun itulah konsekwensi yang harus di terimanya.

 

Dengan sedikit tergesa di raihnya lagi gagang telepon itu dan kembali menelpon seseorang

 

“yeobseo..”

 

.

 

.

 

.

 

 

“nde?”

 

“nona tak tahu rupanya, mereka bahkan sudah bercerita sedari tadi”

 

Yoona terdiam sesaat.

ini sungguh mengherankan bukankah setiap keluarga kang berkunjung adalah saat dimana ia akan keluar dari kamar? tapi ini, ayahnya bahkan tak sekalipun memberitahunya bahwa Tn kang dan putranya, calon tunangnnya kini tengah berada di ruang tengah entah tengah membahas apa.

 

“ajjumma bisa tolong ambilkan dress untukku, ku rasa aku perlu menemui mereka”

 

 

 

 

 

 

Yoona berjalan perlahan, sedikit mengintip dari celah tangga dan apa yang dia lihat membuatnya tercengang. Di sana di ruang tengah Tn kang dan putranya terduduk dengan wajah memerah menahan amarah dan ayahnya, ayahnya justru tengah berada di bawah, berlutut sembari menunduk.

 

Tangan yoona mengepal melihatnya. baru saja hendak di langkahkan lagi kakinya kembali menuruni tangga, ketika suara serak ayahnya mengema di telinganya.

 

“maafkan aku Taejun-ah tapi, aku rasa perjodohan ini memang harus berakhir”

 

“Berakhir katamu?!, di saat hampir seluruh keluargaku telah setuju dan meninginkan untuk sesegera di langsungkan pernikahan! Kau malah ingin mengakhiri perjodohan!!”

 

Suara Tn kang mengeras di akhir kalimat, amarahnya kini benar-benar berada di puncak. matanya menatap garang Tn im yang setia dengan kepala yang semakin menunduk dalam.

 

“seminggu lagi pertunangan akan di lakukan, bahkan undangan sudah di sebar. bagaimana bisa kau mengatakan untuk berakhir sekarang!!   Kau sengaja membuatku malu!! Kau ingin menjatuhkanku! begitu!!”

 

“aboeji sudahlah..” Ilsung menampakkan wajah memelasnya lalu beralih menatap Tn im yang belum juga berani mengangkat kepala

 

“aboenim tenang saja pertunangan akan segera di batalkan. Mianhe, sepertinya kami harus pergi sekarang”

 

Tatapan tajam Tn kang kembali terlihat, namun kini tertuju pada anak sulungnya yang berdiri dari duduknya kemudian membungkuk sesaat

 

“apa yang kau lakukan!!! Kau pikir masalah ini akan selesai hanya dengan sekali berucap!!!”

 

“aboeji tak perlu mempermasalahkan ini, aku juga tak sepenuhnya menginginkan perjodohan ini…”

 

“apa kau sudah gila!! Apa yang ada di otakmu itu! Aku benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiranmu..”

Selepas berucap , Tn kang lantas berjalan keluar dengan cepat, dengan amarah yang masih jelas terlihat.

 

“mianhe.. aboenim saya permisi..”

 

 

Tn im menghela nafas berat. di sekanya air mata yang sempat menggenang, kemudian berdiri dari posisinya yang menyedihkan.

berlutut di depan sahabatnya sendiri hanya untuk kebahagiaan anaknya jelaslah bukan apa-apa baginya, yang terpenting sekarang satu masalah telah kelar meskipun nyatanya kini hubungan baik antara dirinya dan taejun sahabat karibnya itu kini telah memburuk.

 

“appa..”

Lirihan kecil terdengar, dilihatnya dari sisi yang berlaian yoona tengah berdiri menatapnya dengan wajah yang telah basah dengan air mata

 

“kau melihatnya?”

 

Yoona mengangguk cepat, kemudian berjalan dan langsung memeluk ayahnya erat

‘gomawo appa.. gomawo..”

 

“kau tak seharusnya berterima kasih. Appa salah, jadi ini adalah penebusan atas kesalahan appa yang sudah dengan tega memaksamu menikah. Appa sungguh minta maaf, yoona”

 

Pelukan itu semakin erat yoona merespon dengan anggukan, karna saat ini ia terlalu senang dengan apa yang baru saja ayahnya lakukan. meski agaknya sedikit terlambat.

 

“kau istirahatlah wajahmu terlihat pucat. Appa perlu mengurus satu masalah lagi”

 

Yoona hanya kembali mengangguk mengiyakan kemudian melangkah kembali meniti tangga, naik kelantai dua dimana kamarnya berada.

 

Tn im mendesah namun setelahnya senyuman tipis tergambar jelas di wajah keriputnya. di dekatinya meja kecil berisi telepon rumah di pojok ruangan depan pintu masuk villa miliknya.

 

“Ya tuhan! NONA!!”

 

Ketika sebuah teriakan dari lantai atas mengema keseluruh ruang, dengan cepat Tn im bergegas melihat.

 

“yoona!!” kepanikan seketeka melanda, tatkala melihat tubuh lemah yoona yang tersungkur di lantai bersama ajjumma Shin yang berusaha menyadarkanya

 

“ajjumma panggil supir kim sekarang!”

“n-ne tuan” ajjumma itu lantas berdiri cepat dengan sedikit tergopoh-gopoh meninggalkan kamar untuk kemudian memanggil supir kim yang tengah berjaga di depan.

 

Sedang Tn im yang masih kepalang cemas, berusaha terus menyadarkan yoona yang tetap terpejam dengan wajah yang semakin pucat.

 

 

 

***

 

 

 

“MWHO!! Oppa serius?”

 

“..”

 

“ya tuhan, ne. Aku akan kesana sekarang” seohyun dengan sedikit tergesa berjalan keluar dari kamar ganti ruang latihan, yang kemudian menjadi tontonan mengherankan para member yang sedang beristirahat di sudut ruangan

 

“hyun-ah ada apa?”

 

“eonni-ya, kita harus ke rumah sakit sekarang!”

 

Mereka, Taeyon, tiffany, yuri dan jessica saling memandang sesaat

Sedang sooyoung, sunny dan hyoyeon memilih berjalan mendekatinya yang terlihat tak sabaran.

 

“memangnya ada apa di rumah sakit? Siapa yang sakit?” sooyoung sedikit khawatir menatap seohyun yang seakan tak tenang sama sekali

 

“y-yoona eonni ada di rumah sakit”

 

“apa? bagaimana bisa?” jessica berdiri dari duduknya mendekat kerah seohyun dengan kecemasan di wajahnya

 

“aku juga tak tahu, tapi kyuhyun oppa bilang yoona eonni sedang ada di ruang ICU”

 

“ICU?!” serempak suara terkejut terdengar dari bibir tiffany sunny dan hyoyeon

 

“ini tak bisa, kita harus menjenguknya”

 

“berhenti di situ.. Jangan ada yang meningalkan ruang latihan”

 

Seketika tatapan heran serta marah atas ucapan barusan mengarah padanya, pada taeyon yang masih setia dengan duduknya

 

“apa maksudmu taeyon-ah?! Yoona sendang sakit, kami perlu menjenguknya” yuri bersuara lebih dulu ia yang tadinya duduk di samping taeyon entah bagaimana kini telah berdiri bersama member yang sesaat lalu telah mendekat pada seohyun lebih dulu.

 

“kita bukan siapa-siapa untuknya, dia bahkan tak mengangap kita keluarga, untuk apa menjenguknya”

 

Tangan sooyoung terkepal erat mendengar penuturan taeyon barusan, baru saja ia hendak mendekat kearah taeyon ketika lengan sunny lebih dulu mencegatnya

 

“meskipun begitu kami mengangapnya keluarga. Kajja kita pergi” jessica sudah akan beranjak dari tempatnya ketika suara taeyon kembali mengema

 

“jika kalian pergi SNSD benar-benar akan hancur”

 

Semuanya saling menantap tak percaya begitupun tiffany yang masih duduk di sampingnya kini bahkan sangat terkejut dengan ucapannya.

 

“kenapa eonni berbicara seperti itu..”

 

“kau tanya kenapa?.. aku mersa sangat tidak di hargai olehnya! bisa-bisanya ia mengambil keputusan resign sepihak dan—“

 

“yoona eonni terpaksa melakukanya..”

 

Seketika seluruh pandangan teralih pada seohyun yang kini tengah menyeka aliran air yang lolos dari matanya.

 

“apa maksudmu? Yoona terpaksa?” kini giliran sunny yang angkat suara

 

“aboenim im memaksanya menikah dengan teman semasa kecilnya, ia terpaksa dan tersiksa dengan semuanya. karna itu, jepallayo.. jangan menyalahkan yoona eonni, sudah cukup dengan siwon oppa yang menjauhinya, dia membutuhkan kita untuk tetap ada di sampingnya”

 

Tanpa sadar setetes air jatuh dari iris coklatnya , matanya masih fokus menatap seohyun dan juga membernya yang kepalang terkejut dengan penuturan meknae-grupnya barusan.

 

“sudah kuduga. Yoona takkan sekejam itu meninggalkan kita. Ayo kerumah sakit sekarang” sooyoung berseru cepat hingga serempak mereka berjalan beriringan dengan lengkah tergesa tentunya.

 

Tinggallah taeyon dan tiffany yang masih setia duduk dalam diamnya

 

“kajja..” fany berseru pelan menatap kindleader itu dengan lekat

 

“fanny-ah aku sudah—“

 

“gwencana, aku mengerti kenapa kau bersikap seperti itu. Sekarang kita sudah tahu apa yang terjadi dengan yoona jadi, kajja kita lihat kondisinya”

 

Taeyon menganguk pelan di iringi sedikit senyuman tipis yang mengembang. ia lantas bergerak bangun di ikuti tiffany, melangkah keluar menyusul membernya yang terlebih dulu berjalan di depan.

 

 

Tak sampai setengah jam, van yang membawa mereka terhenti di depan sebuah rumah sakit kecil di daerah Gwangju. mereka keluar dengan tergesa masuk ke dalam gedung rumah sakit dan menemukan kyuhyun yang sedari tadi menanti.

 

“eoh? kalian, kenapa—? Seo kau memberitahu mereka?” kyuhyun terkejut melihat seohyun justru kemari dengan beberapa member *ralat* seluruh member soshi yang menampakkan mimik kecemasan yang sama denganya.

 

“nanti saja ceritanya oppa. Sekarang dimana yoona eonni?”

 

“masih dalam penaganan. Kajja ikut aku”

 

Mereka secara serempak mengangguk, lantas berjalan dengan langkah lebar mengikuti kyuhyun dari belakang

 

Hingga terlihatlah jelas dari sudut ruangan, Tn im tengah menanti dengan cemas sambil sesekali mengusap wajah pelan.

 

“anyeonghaseo aboenim”

 

“ eoh? kalian datang. Duduklah dulu” Tn Im memberikan sedikit senyuman kemudian kembali melepas pandang kearah Ruang ICU yang masih menutup rapat.

 

Suasan hening tercipta, entah karna terlalu fokus dengan kekhawatiran tentang kondisi yoona, atau justru karna terlalu canggung bagi mereka untuk bersuara di tengah rasa cemas yang menimpa.

 

Hingga apa yang di nanti pun tiba. Pintu bercat putih itu terbuka, perlahan menunjukkan seorang wanita paruh baya dengan jas putih kedokteran khas yang melekat di tubuhnya.

 

Mereka tanpa di perintah berjalan mendekat, menanti keterangan tentang apa sekiranya yang terjadi dengan yoona, orang yang sekarang teramat mereka cemaskan.

 

“untuk saat ini pasien tak bisa di jenguk karna butuh istrahat full, mohon di mengerti” dokter ber-name tag jang minjun itu berucap mendahului kalimat pertanyaan yang baru saja akan terlontar

 

“tapi kondisinya bagaimana dokter?”

 

Dokter jang membenarkan latak kacamata mines yang di pakainya, kemudian menatap Tn im yang barusan berucap

 

“sudah lebih baik dari saat di bawa kemari. Hanya saja kami belum bisa memindahkanya di ruang inap biasa, pasien masih butuh penanganan serius”

 

“penanganan serius? Apa sakit yoona separah itu?” taeyon menatap lekat kearah dokter jang, menuntut penjelasan atas pertanyaan-nya barusan

 

“ahh.. saya mohon maaf sebelumnya, tapi untuk menjaga privasi pasien saya sebagai dokter disini, hanya boleh menuturkan kepada pihak keluarga saja”

 

Taeyon, yuri dan seohyun mendesah kecewa mendengarnya

 

“tenang saja, tak perlu kahwatir kondisi pasien akan membaik jika di rawat beberapa hari”

 

Sunny dan jessica bersitatap sesat kemudian melepas pandang kembali melirik ruangan yang menampakkan wajah pucat yoona yang berbalut selang oksigen dari balik kaca kecil Pintu ruangan.

 

“kalau begitu saya permisi. Tn im bisa ikut saya sebentar”

 

“ne..”
Begitu dokter dan Tn im melangkah meningalkan tempat, sooyoung lantas memperlihatkan wajah muram sambil sesekali melirik pungung Tn im yang menghilang di ujung koridor panjang

 

“dokter itu benar-benar. Kami juga keluarga yoona apa ia tak tahu” tiffany mendelik kesal, lalu menatap kembali kaca kecil yang menjadi fokus penglihatan membernya kini, di mana di dalam ruangan, yoona nampaknya masih setia terlelap dalam posisi berbaringnya.

 

 

 

 

“jadi apa sesuatu telah terjadi dengan yoona?” begitu sampai di ruangan dokter jang Tn im lantas dengan cepat berucap

 

“sebenarnya bukan sesuatu yang fatal, Pasien mungkin kurang istirahat karna dari apa yang saya tahu memang sebelumnya pasien sudah mengidap penyakit anemia hingga ia jatuh pingsan. Tekanan darahnya sangat rendah beruntung segera di bawa kesini jika beberapa persen saja tekanan darahnya turun, kemungkinan pecahnya pembuluh darah itu sangat besar”.

 

Mata Tn im terkatup sesaat. penjelasan dokter jang barusan sekan menjadi tamparan keras, menyadarkan dirinya betapa ia tak lagi menjadi sosok ayah yang baik untuk sang anak, karna justru dia lah yang telah mengakibatkan yoona jatuh sakit seperti sekarang.

 

Tn im cukup tahu jikalau hampir sebulanan ini, yoona tak pernah tidur dengan tenang, bahkan terlampau sering terjaga hinga fajar. namun ia sama sekali tak mempedulikan yang dia lakukan justru sibuk dengan rencana perjodohan yang semakin membuat yoona tertekan.

 

setelah jeda yang cukup panjang dokter jang kemudian melanjutkan

 

“dan juga Lambung pasien mengalami sedikit masalah. Mungkin karna pola makan yang kurang teratur. Jadi saya sarankan untuk beberapa hari kedepan, pasien tetap di rawat dalam ruang ICU. mencegah hal buruk terjadi mengingat kondisinya yang masih belum pasti”

 

“ne. terimaksih banyak dokter, saya permisi”

 

 

.

 

.

 

.

 

“aboenim apa yang dokter katakan?”Kyuhyun yang melihat Tn im berjalan mendekat langsung bertanya masih dengan wajah khawatirnya

 

Member soshi yang semula masih saling berkerumun di pintu ICU demi melihat kondisi yoona, teralihkan menatap Tn im penuh tanya sekan menanyakan hal yang sama seperti apa yang di ucapakan kyuhyun barusan.

 

“anemia yoona kambuh dan lambungnya menagalami sedikit masalah. Tapi sekarang sudah tak apa, tak perlu khawatir”

 

Mereka yang mendengar ucapan ayah yoona mendesah lemah, meskipun begitu, tetap saja kekhawatiran mereka masih jelas terasa. jika yoona belum juga membuka mata maka rasa tenang itu sungguh tak akan menghampiri mereka.

 

 

Beberapa menit kemudian, mereka masih saja berada di depan ruang ICU. menunggu kepastian yoona hingga sadar. Dan menit yang terlalui itupun hingga detik menunjuk tepat pukul dua siang, dari sekian banyak tubuh yang berjejer duduk di bangku koridor panjang pembatas setiap ruang itu, sama sekali tak bersuara masih terlalu cangung untuk sekedar berbicara.

 

“ahh.. kurasa siwon perlu tahu kabar ini” sooyoung mengambil ponsel dalam saku hoodienya, baru saja jemarinya beniat mengetik pesan singkat ketika suara Tn im terdengar

 

“siwon?”

 

“ne. Dia juga teman dekat yoona” sedikit canggung sooyoung membalas dengan ucapan pelan melihat ke arah membernya yang diam menatap padanya.

 

“apa siwon yang dimaksudnya, siwon visual di group mu?” kini pertanyaan Tn im terlontar ke arah kyuhnyun yang duduk bersisian tepat di sebelahnya

 

“ne aboenim dia salah satu memberku”

 

“sedekat apa mereka? Yoona dan siwon itu, apa begitu dekat?”

 

Kyuhyun kelabakan bingung harus menjawab, matanya menoleh kearah yuri yang tepat duduk disisian kanan Tn im meminta perestujuan akan hal apa yang pantas ia jawab.

 

“mereka pernah berhubungan lama abeonim” seluruh pandangan beralih pada jessica yang berucap lantang

 

“benarkah?” terkejut Tn im mendegarnya. ada jeda sesaat karna ia seakan kembali tersadar jika telah membuat begitu banyak kesalahan, sampai tak mengetahui jika putri bungsunya itu sudah pernah menjalin hubungan dengan pria yang di ketahuinya bernaung dalam agency yang sama

“kalau begitu tunggu apa lagi, cepat panggil dia kemari, aku perlu bertemu denganya”

 

Rasa cemas seketika kembali merajap seluruh pikiran. Mereka, seohyun, sunny, sooyoung, jessica terlebih kyuhyun yang jelas tak tahu jikalau perjodohan yoona telah di batalkan, mulai berfikiran jika Tn im mungkin saja akan melarang keras siwon berdekatan dengan yoona lagi.

 

“siwon hyun sedang di hongkong menyelesaikan beberapa kontraknya, jadi tak mungkin bisa kesini”

 

“ah.. begitukah? Sayang sekali. Padahal aku ingin melihat pria itu secara langsung. Kurasa dia dan yoona terlihat cocok bersama”

 

Terkejut? Tentu. Kyuhyun bahkan melototkan iris matanya yang kecil itu tak percaya. Dan beberapa presepsi negatif yang sempat tersemat dalam pikiran mereka perlahan menguar. yang terasa justru kelegaan atas ucapan sosok pria paruh baya barusan.

 

“abeonim tenag saja, aku akan memangil siwon hyung kesini”

 

Dan ucapan kyuhyun itu membuat keterkejutan yang tergambar jelas dari member soshi itu semakin bertambah.

 

“tak perlu melakukanya. Aboenim bisa bertemu setelah ia kembai lagi ke korea”

 

“annio aboenim, aku akan membawanya kesini,   Dia juga perlu melihat kondisi yoona”

 

Ucapan bersihkeras darinya membuat desahan pasrah berhembus darinya. tn im hanya mengangguk seadanya.

 

“baiklah, jika itu memang maumu”

 

“kalau begitu aku pergi sekarang aboenim, kyuhyun membungkuk singkat kemudian beralih menatap member soshi yang terkejut dengan kenekatannyan itu

“aku pergi sekarang. Kalian hubungilah jaewon hyung aku tahu kalian kesini tanpa izin sama sekali darinya”

Setelah berucap, kyuhyun benar-benar melangkah menyusuri koridor panjang dengan sedikit di percepat.

 

“benar juga, jaewon oppa akan marah jika tak menemukan kita di ruang latihan” tiffany berseru sedikit panik

 

“tak maslah jaewon oppa tak akan mencari kita, ia masih menghadiri rapat bersama beberapa staff” taeyon mencegat pergelangan tiffany ketika yeoja itu hendak mengambil ponsel dalam tas gengamnya.

 

“ya tuhan.. benar, rapat itu”

 

Suara pelan tapi masih jelas tertangkap karna keheningan ruang itu, seketika membuat membuat pandagan member soshi itu teralih, menatap Tn im dengan penuh heran

 

“aboenim kenapa?”

 

“ahh.. bukan apa-apa. kalian bisa menunggu di sini sebentarkan? Jaga yoona sebentar, abeonim perlu menelpon seseorang”

 

 

 

 

***

 

Suasana tengang dan panas menyelimuti ruang rapat. Hampir satu jam lebih rapat berjalan, tapi tak ada titik kejelasan dari setiap perdebatan yang terlontar antara sesama dewan.

 

“apa susahnya untuk menyetujui surat resign?” Tn kim berucap dengan nada sedikit lemas terlalu lelah berdebat sedari tadi

 

“masalahnya tidak semudah itu, Yoona-ssi sudah menjadi bagian terpenting dalam agency, ia artis yang berpengaruh besar untuk agency ini” seorang di depanya yang bermandat sebagai dewan Pimpinan Partners Vuture Capital itu menyangah cepat ucapan Tn kim barusan

 

“apanya yang sulit? Kenapa memaksa artis yang ingin segera keluar dari agency..” pria lainya ikut berucap

 

“yoona adalah artis yang menambah pemasukan tinggi di agency harusnya kita pikirkan itu”

 

“bukankah ayahnya akan menganti semua kerugian kita? Jadi tak masalahkan..”

 

“bagaimana dengan media? Mereka sedang menunggu konfirmasi kita. Jika kita mengatakan hal yang sebenarnya, maka jatuhlah nama baik management ini”

 

Sooman yang masih dengan jelas mendengar perdebatan tak berujung itu hanya dapat menghela nafas berat.   dia yang duduk di depan meja oval dimana sekelilingnya terdepat beberapa angota dewan pemegang saham yang masih bersitegang, memijit kecil pelipisnya. terlampau pusing dengan masalah resign yoona yang berdampak besar bagi perusahaan yang di binanya.

 

Hingga suara pintu yang terbuka mengalihkan fokusnya sementara. tak terkecuali para anggota dewan yang tadinya bermaksud melanjutkan ucapan, terhenti dan melirik pria yang tengah berjalan cepat mengahampiri sooman

 

“maaf mengangu lee-sangnim tapi Tn im ingin berbicara dengan anda, katanya penting”

 

Dengan segera telepon itu beralih ketangan sooman

 

“yeobseo…”

 

“…”

 

Seulas senyum tergambar jelas dari wajahnya, sepercik kelegaan jelas tengah terpancar dari raut mukanya. Dengan segera di kembalikan ponsel itu ke tangan staff yang sesaat lalu mengangu jalanya rapat penentuan.

 

“aku sudah menentukan telah menolak keras surat resign teratas nama IM YOON-AH. Dan telah mendapat konfirmasi jikalau surat pengunduran diri itu telah di batalkan, jadi.. rapat selesai”

 

Sooman keluar lebih dulu menyisakkan pertanyaan di benak beberapa anggota dewan, terlebih staff yang ikut serta dalam rapat, seakan di buat ternganga lebih pada perasaan bingung atas tindakan pimpinannya.   jika memang telah ada penolakan keras dari sooman untuk apa mengadakan rapat? Begitu pikir mereka.

 

Kim jaewon yang juga ada dalam ruang rapat mengembangkan senyum kelegaan, lantas ikut berdiri dari duduknya dengan terlebih dahulu membungkuk hormat pada beberapa dewan di sana, kemudian bergerak keluar menyusul langkah sooman di belakang.

 

 

***

 

 

Prince manager yang kala itu tengah berbincang dengan salah satu staff yang me-manage urusan kostum itu tak pelak di buat terkejut ketika iris mata hitamnya melihat sesosok pria yang tengah berjalan mendekatinya. Iris hitam itu memperhatikan lebih seksama, takut-takut dugaannya salah.

 

“kyuhyun?”

 

“siwon hyung mana?” kyuhyun berucap begitu tepat berhadapan langsung dengan manager groupnya itu dengan sedikit mengeratkan topi dan masker yang ia kenakan

 

“ya!! Bagaimana bisa kau ada disini?!” terpekik kim jonghun melebarkan kedua pupil miliknya, terlalu terkejut denga sosok kyuhyun yang berada di depannya

 

Anggaplah ini gila, karna kyuhyun justru memilih menyusul siwon untuk mempertemukan pria itu dengan Tn im, sesuai tekatnya saat di rumah sakit

 

Oh, ayolah…

Kyuhyun hanya tak bisa membiarkan kesalah pahaman terus bergelayat dalam pikiran siwon hingga membuat yoona teman baiknya itu tersiksa seperti sekarang.

 

Kyuhyun Terlalu lelah dengan semua problema yang menyempil dalam kehidupan wanita yang telah diangap adik baginya

Bukankah ini terdengar indah, kyuhyun dengan segala kepastianya turut membantu hubungan siwon dan yoona menjadi seperti semula meski kini baru setahap di kerjakanya.

 

“aku kesini hanya perlu berbicara dengan siwon hyung. Jadi dimana dia?”

 

 

 

 

“hyung..”

 

“eoh? kyu? Kau.. kenapa bisa di sini?”

Siwon menaruh skrip naskah dia atas meja dengan kaca besar di depanya, menanti kyuhyun yang mendekat padanya

 

“hyung ikutlah aku sekarang..”

 

“ikut denganmu? Kemana?” satu alisnya di naikkan, bingung dengan ucapan kyuhyun barusan

 

“korea, hyung harus ikut aku kembali ke korea, sudah tak ada waktu lagi hyung..”

Dengan sedikit tergesa kyuhyun menarik lengan kekar siwon hendak menyeretnya keluar ketika dengan refleks siwon menepisnya

 

“ya! Untuk apa ke korea? aku sedang syuting..”

 

“Yoona di rumah sakit. Hyung harus menjenguknya sekarang”

 

Untuk sesaat detak jantung siwon berpacu lebih cepat, mendengar nama yoona terucap. terlebih pernyataan jika wanita yang sangat sulit di lupakanya itu tengah berada di rumah sakit persis seperti apa yang kyuhyun tuturkan barusan

 

“sakit apa dia?” nada melemah terdengar saat siwon berucap

 

“aku juga tak tahu. tapi, sampai sekarang ia belum juga sadar. Untuk itu hyung ikutlah denganku kita jenguk yoona di rumah sakit”

 

“dia punya tunangan kenapa tak memangilnya saja”

 

Kyuhyun menghela nafas mendengarnya, harusnya ia tahu jika membawa siwon kembali untuk bertemu yoona akan begitu susah

 

“w-wakyu yoona takkan lama. Hyung harus segera melihatnya, aku takut hyung akan menyesal nantinya” kyuhyun berucap asal, saat sebuah ide terlintas dalam benaknya

Dan ucapanya barusan nampak berpengaruh.

 

Siwon menoleh padanya seakan kurang percaya akan ucapanya. Mendapat tatapan seperti itu, kyuhyun dengan cepat merubah ekspresi. berusaha untuk meyakinkan jika apa yang ia katakan adalah hal yang benar

 

Jika tadi debuman jantung siwon berpacu cepat ketika nama yoona terucap, kini setelah mendengar perkataan khuyun barusan, debuman jantung itu perlahan melambat bahkan serasa berhenti berdetak.

Benarkah yoona takkan punya waktu yang cukup di dunia?. Seketika mimpi buruk yang terus menghantuinya terbayang dalam benaknya. Apa.. mimpi itu pertanda?.

 

Siwon mengeleng cepat dengan presepsi yang mengeleyar di otak. Dengan cepat di raihnya tas bahu yang bertengar manis di pojok meja, kemudian melangkah dengan tergesa.

 

“ya! Hyung! Aisshh sebenarnya siapa yang mengajaknya..”

 

Kyuhyun melangkah di belakang tak kalah cepat, mengejar siwon yang berjalan dengan langkah lebar.

 

“hey… siwon kau mau kemana?! Syutingnya belum selesai!” teguran keras dari Jonghun-pun tak sekalipun membuat langkah tergesa itu melambat. siwon terlalu cemas untuk sekedar merespek ucapan prince manager barusan. ada rasa takut yang juga ikut menyergap bersamaan. yang di perlukan sekarang hanya mengetahui lebih detail kondisi yoona atau paling tidak, cukup melihat wajahnya saja karna jika begitu, persaan resah ini bisa sedikit menguar dari pikirannya.

 

 

***

 

 

 

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih ????, sampailah mereka di bandara, Incheon Air port tepatnya. Awalnya siwon sedikit bingung dengan kyuhyun yang memesan rute Beijing-Incheon, tapi saat kyuhyun menjelaskan jika tempat yoona di rawat ada di sebuah perkotaan kecil dan akan lebih dekat jika melaluinya lewat kota incheon, ia hanya bisa mengikuti saja.

 

Tak memakan waktu yang lama, mobil kyuhyun melambat berhenti tepat di pelataran rumah sakit Gwangju

 

Kyuhyun tak bisa mengintrupsi siwon ketika pria itu malah keluar terlebih dulu dari mobilnya dan berjalan dengan sedikit tergesa kepalang cemas sepertinya.

 

 

“eoh oppa? Kyuhyun oppa benar-benar membawamu kemari?” seruan tiffany lantas menghentikan gerak siwon, ia menoleh karna terlalu fokus dengan pikiran kalutnya tentang kondisi yoona ia bahkan sama sekali tak melihat rombongan member soshi yang berjalan di depanya.

 

“ruangan yoona dimana?”

Siwon berucap, balik bertanya karna ucapan tiffany barusan tak semestinya ia jawab seharusnya tiffany bisa menjawab sendiri pertanyaan itu dengan adanya siwon di depanya.

 

“oppa lurus saja, di koridor tengah ada ruang ICU, yoona ada di situ”

 

“arra.. gomawo”

 

seusai yuri menjawab siwon kembali melangkah lebar menyusuri koridor panjang di depan.

 

“kalian akan pulang?”

 

Berselang beberapa detik, kyuhyun muncul menatap satu persatu member soshi yang sepertinya akan beranjak, kembali dari rumah sakit yang tengah ia pijaki

 

“ne. Jaewon oppa memaksa kami untuk pulang sekarang”

Nada mencibir keluar dari bibir sooyoung

 

“jaewon hyung?”

 

“dia di depan menyiapkan mobil untuk kami pulang”

Kini suara khas jessica terdengar, seakan mengerti dengan kerutan tipis di kening pria itu barsuan

 

“ah gurae.. kalian memang harus pulang”

 

“ya sudah oppa kami pergi dulu” taeyon berucap pamit duluan di iringi beberapa angukan

 

“kalau ada sesuatu terjadi hubungi kami” beralih suara sunny yang terdengar

 

“arra.. pulanglah”

 

 

 

 

 

Siwon memperlambat langkahnya ketika di sudut ruangan terduduk sosok pria paruh baya yang sangat diketahuinya.

 

Tn im menoleh refleks, ketika mendengar sedikit gerak langkah kaki di tangah kesunyian koridor tempatnya kini menanti.

 

[siwon pov]

 

 

“duduklah, yoona sedang istirahat”

 

Aku membungkuk sesaat, kemudian melangkah duduk di sisian kanan.

 

“ku dengar kau dan yoona pernah berhubungan, berapa lama?”

 

Terhenyak aku ketika mendengar ucapan ayah yoona berusan. Bagaimana ia tahu aku dan yoona pernah berhubungan?

 

“dua tahun lebih, kurasa..” meskipun sedikit tak enak berbicara ini dengannya, tapi aku tetap menjawab karna kurasa ada baiknya berkata jujur padanya.

 

“benarkah?.. waktu yang cukup lama..”

 

Kami tardiam setelahnya hanya terdengar deruan nafas teratur darinya

 

mungkin suasana ini sedikit canggung untukku,   berada di samping ayah yoona membuat rasa kikuk terus saja menyapa perasaanku. tetapi karna rasa cemas yang belum kunjung hilang ini, aku tetapkan diri untuk menanti yoona hinga sadar dari istirahatnya

 

“aku benar-benar minta maaf..”

 

Ku tolehkan pandangan ke samping pada ayah yoona tepatnya, atas ucapanya yang seketika membuatku kebingungan. Untuk apa meminta maaf?, kurasa ia tak bersalah apapun terhadapku. Ini pertama kalinya kami bertemu bagaimana bisa ayah yoona meminta maaf padaku?.

 

“karna ambisiku hubungan kalian jadi terputus..”

 

Aku rasanya ingin cepat menyangah ucapnya barusan, karna setahuku kandasnya hubungan ku dengan yoona itu murni kesalahanku. tapi ketika melihat wajah bersalahnya aku hanya dapat terdiam menunggu ayah yoona menuntaskan setiap ucapannya.

 

“aku menjodohkan yoona tanpa bertanya lebih dulu padanya”

 

Dan kalimat kali ini sungguh membuatku terdiam, lebih pada persaan terkejut atas ucapanya barusan.

Jadi, yoona di jodohkan? Pertunangan dan rencana pernikahan itu, semua atas unsur perjodohan?

 

Ya tuhan.. aku sudah salah menilainya

Jadi Yoona sama sekali tak pernah bermaksud menyakitiku..

 

“yoona… Dia benar-benar anak yang terlalu penurut. Bahkan di saat ia tertekan dengan semua kekanganku, tak ada satupun keluhan yang yoona ucapkan. Yoona sungguh menyadarkanku betapa aku adalah appa yang buruk baginya”

 

Aku masih diam karna memang tak ada satupun ucapan yang pantas ku keluarkan.

 

Yeoja itu, kenapa ia begitu bodoh?. Menerima paksaan yang pada akhirnya membuantnya tertekan?.

 

“sudah hampir pagi. Kau bisa menjaga yoona sebentar kan? Aboenim perlu mengambilkannya beberapa pakaian untuknya”

 

“ne a-aboenim..”

 

Ku balas senyuman ayah yoona dengan sedikit tarikan bibir yang melengkung

Bukankah sudah ku katakan.. aku masih terlalu canggung.

 

Selepas kepergian ayah yoona aku hanya berdiam diri menatap pintu ruangan yang bertuliskan ‘Intensive care unit’ dengan sedikit hembusan napas pelan

 

Ada sebuah kelegaan yang entah sejak kapan telah menelusup dalam rongga hatiku.

 

Yoona hanya di jodohkan, itu berarti tempatku di hatinya sampai saat ini masih sama. kuharap ketika ku tanyakan itu padanya yoona, ia akan menjawab ‘ya’ karna sungguh aku tak bisa menolelir lagi jika yoona masih bersikap keras dan menolak fakta yang baru saja ku dengar .

 

[siwon pov end]

 

 

 

***

 

 

Yeoja itu sedikit mengeliat, matanya yang terasa berat efek terlalu lama terpejam itu terbuka perlahan.

 

Iris coklatnya menyelusup seluruh ruangan, namun tak satupun wajah yang ia tangkap.

Yoona sendirian dalam ruangan yang dapat di pastikan dirinya tengah terbaring di sebuah rumah sakit kentara dengan bau obat-obatan yang sedikit menyengat

 

Di kumpulkan sedikit tenaga untuk bangkit, namun baru saja hendak menuntun lengan untuk sejenak menahan beban tubuhnya, ia malah kembali jatuh, berbaring.

yoona merasa sangat lemas, tubuhnya seakan sulit di gerakkan

 

Sebelumnya ia tak pernah merasa selemah ini. jika-pun ia sudah sangat lelah akan ada sedikit tenaga yang hinggap di tubuhnya. namun kenapa sekarang secuilpun tenaga tak di dapatinya.

 

“appa..” suara yang keluar dari bibirnya pun terdengar lemah dan serak di akir katanya.

 

“appa di luar?..” lagi yoona berusaha berbicara masih dengan nadanya yang terdengar lemas meski tak begitu yakin jika seseorang bisa mendengarnya dari luar.

 

Namun sepertinya ia salah, karna suara derap langkah terdengar mendekat hingga pintu ruang itu terbuka pelahan

 

“butuh sesuatu?”

 

Suara bass yang begitu ia kenal menyapa pendengaranya, sosok yang sebulan ini ia rindukan kini berdiri tepat di hadapnya

 

Keharuan sekita menyelimutinya, yoona yang setia dengan posisinya berbaring tanpa sadar meneteskan air mata hingga jatuh di bantalan putih yang kini menopang kepalanya.

 

“hey.. kenapa menangis?” siwon melangkah lebih dekat, duduk di sisian ranjang. menyapu lembut buliran putih yang kini terus jatuh dari manik indah itu.

 

“oppa datang?”

 

Siwon mengangguk pelan, masih menghapus sisa air mata di pipi yoona

 

“aku sudah datang kesini, jadi kau tak boleh pergi” kecemasan terlihat jelas kala siwon berucap, matanya terus ia fokuskan kearah iris coklat yang juga makin menatapnya dalam.

 

“jangan tinggalkan oppa? Kau harus bisa bertahan untuk oppa hm?”

 

Kini ekspresi yoona berubah, bingung mendengar perkataannya

 

“oppa akan meminta untuk memindahkanmu kerumah sakit yang lebih besar, kau harus tetap hidup untuk oppa setidaknya, biarkan oppa menebus semua kesalahan yang pernah oppa lakukan padamu..”

 

Iris obsidan siwon terus menatap lekat yoona, dengan sedikit membelai sayang kedua pipinya.

 

“maksud oppa apa? aku tak mengerti. apa.. aku sakit parah?”

 

Kini balik raut kecemasan itu terlihat di wajah pucatnya. Yoona yang nyatanya tak tahu penyakit apa yang mengakibatkanya jatuh pingsan hingga terbagun dalam bilik rumah sakit itu di buat takut begitu mendengar ucapan siwon padanya.

 

“kau tak tahu penyakitmu apa?”

Siwon malah balik bertanya membuat wajah bingung keduanya terlihat mendominasi raut cemas yang sesaat lalu nampak.

 

“kyuhyun bilang—“

 

“ah itu… sebenarnya, yoona tak apa-apa” kyuhyun muncul tiba-tiba, mengintrupsi cepat. beruntung baginya saat hendak masuk ke ruangan itu siwon tengah membahas tentang kepura-puraan yang sesaat lalu ia katakan jadi ia bisa menjelaskan kebohongan yang sesaat lalu ia lontarkan

 

“aishh.. jadi kau membohongiku!”

 

“kalau aku tak bilang begitu, hyung mana mau aku bawa ke sini..”

Yoona tertawa menatap kyuhyun yang menampakkan muka polosnya

 

“dan kau yoona..” kyuyuhn memberi jeda dalam ucapanya beralih menatap yoona yang balik melihatnya “ berterimakasihlah padaku karna sudah perhasil menyeret pangeran jelekmu itu..”

 

“YA!!” siwon memekik tak terima

 

Sedang Yoona malah   kembali tertawa meski tanpa suara, tapi jelas dari raut wajah tersirat rasa bahagia

 

“ne.. gomawo karna sudah membawanya kesini”

 

“ya, sebenarnya kata terimakasih masih kurang setelah sekian banyak yang kulakukan kurasa aku perlu traktiran, ahh.. anni kencan lebih baik” kyuhyun menyeringai kecil melirik siwon sekilas

 

“bermimpilah yoona tak—“

 

“baiklah”

 

“Mwho?! Ya!” pekikan siwon kembali mengema, matanya menilik tajam kearah yoona namun yeoja itu seakan tak memperdulikanya.

 

“setelah aku sembuh lakukan yang kau mau”

 

“oke ku pegang janjimu”

 

“hey.. ada aku disini bagaimana bisa kalian janji berkencan di depanku!” iris obsidan itu mendelik kearah kyuhyun

 

“memang kenapa tak masalah bukan..” sedang yang di tatap seperti itu berucap santai dengan sedikit mengerak bahu acuh.

 

Melihat betapa kyuhyun sama sekali tak terkecok dengan kekesalanya, iris mata siwon kini menyipit, melayangkan tatapan teramat menakutkan dan sukses membuat kyuhyun kelabakan.

 

“ahh.. sebaiknya aku pergi, pengeranmu benar-benar akan mengamuk sekarang. Lekas sembuh yoongie-ya”

 

dan sosok yang sungguh membuat siwon kesal itu melesat pergi, menghilang dari ambang pintu tempat dimana dirinya sesaat lalu berdiri dan mengganggu suasana haru yang mendominan sesaat lalu.

 

“kau..” kini beralih yoona yang mendapat tatapan tajam darinya.

“kau benar-benar akan berkencan dengannya?”

 

“Aigoo.. oppa percaya itu?! Tidakkah oppa lihat kyuhyun hanya bercanda”

 

“meskipun hanya bercanda aku tetap tidak suka”

 

Senyuman kecil mengembang di wajahnya yang pucat. Siwon terlihat serius dengan ucapanya dan yoona cukup tahu itu.

 

Perlahan tangan kanan yang masih berbalut selang infus itu menyentuh lembut permukaan wajah siwon menilik melalui jemari putihnya

 

Alis, mata, hidung, hingga terhenti di perantara bibir, seulas senyum kembali hadir

 

“oppa berkumis sekarang..”

 

“kau tak suka?”

 

Yoona menggeleng lemah dalam posisinya

 

“anni… oppa tampan dengan kumis ini”

 

Kini balik siwon yang tersenyum

Ini terlalu membahagiakan, sungguh.

 

bertemu dengan yoona kembali sepertinya menjadi obat manjur penghilang penatnya. Hampir sebulan sibuk dengan beberapa skejul yang

padat di china meskipun di selangi dengan istirahat, namun baru saat ini siwon merasakan kepenatan diri dan batinya menguar. Ia merasa hatinya yang sempat terluka layaknya mendapat perban yang seketika itu juga memperbaiki kondisinya.

 

“kau butuh istirahat tidurlah..”

 

Yoona mengangguk. tubuh lemahnya mengeser sedikit memberi ruang kosong di samping.

 

“temani aku tidur” lanjutnya menjawab kebingungan siwon yang menatap lurus padanya

 

Senyuman lagi-lagi mencuat di wajahnya. segera di baringkan tubuh tegapnya persis di sisian yoona.

 

Di sana, di ranjang berukuran sedang dengan seprai putih membalut terang, keduanya, siwon dan yoon berbaring berhadapan. Hampir tak ada jarak yang membatas, sorot tajam namun meneduhkan tersirat jelas dari iris kelabunya.

 

Tuhan memang benar, saat mengatakan takkan memberi sesuatu yang di minta, namun ia akan memberi sesuatu yang di butuhkan.

 

Dan ketika yoona membutuhkan penopang, siwon datang. Meski sedikit terlambat tapi nyatanya tuhan mengabulkan apa yang sesungguhnya sangat ia butuhkan.

 

Tak ada ucapan di setiap iris itu menatap, tapi tatapan itu sudah cukup memberi pengertian yang bahkan bibir sekalipun rasanya sulit mengungkapkan.

 

Tangan kekar itu bergerak cepat merengkuh yoona kedalam pelukan

 

“tidurlah..” siwon membisiki tepat ke indra pendengran

 

Dan dengan patuhnya, Perlahan,

Mata yoona terpejam menikmati setiap saat yang menghangatkan.

 

Lagi, dan lagi senyuman itu terlihat. Tatkala jemari yoona membalas memeluk siwon tak kalah erat.

 

Ahh.. bukankah pertemuan kali ini begitu menggembirakan?

Senyum sedari tadi seakan tak lepas. Mereka larut dalam kebahagiaan yang mengeleyar seluruh pikiran tanpa perduli jika ICU ialah ruang steril yang agaknya hanya tim mediss yang di bolehkan memasuki ruangan.

 

 

 

 

***

 

 

Ribuan blist menyorot sosok pria kharismatik yang baru saja mendudukan diri di sebuah kursi yang terkhusus untuk agenda hari ini.

 

“untuk pertemuan kali ini terkhusus hanya untuk peng-klarifikasian, jadi tak ada sesi tanya jawab. Kami serahkan pada Petinggi SM entertaiment, Tn lee sooman untuk langsung pada inti pertemuan”

 

Kini puluhan kamera dan blist mengarah pada sosok yang sesaat lalu duduk dengan tenang

 

“atas nama agency, saya memohon maaf karna baru bisa meng-klarifikasi berita yang akhir-akhir ini sungguh meresahkan. Ada beberapa hal yang perlu di luruskan disini, terkait berita yoona-ssi, salah satu aktris naungan agency yang menghilang itu tak sepenuhnya salah—” seketika kebisingan mulai terdengar, blist-blist kamera itupun semakin banyak menyorot wajah sooman

 

“—yoona memang sejenak menghilang dengan alasan yang jelas. Kami dari pihak agency telah memberi cuti untuknya selama sebulan lebih karna kondisi tubuhnya yang sedikit menurun karna padatnya jadwal. Jika rekan-rekan media masih meragukan pernyataan ini Kami bisa memeberi sediki bukti—” sooman beralih mengambil sebuah map coklat lalu membukanya perlahan

 

Di perlihatkanya selembar kertas dengan lambang rumah sakit di sisian kanan

 

“—ini bukti rawat inap yoona di sebuah rumah sakit di gwangju   tertulis bahwa yoona mengalami sedikit ganguan pada pencernaan dan anemia yang sempat membuatnya terbaring lama di sana—”

 

 

Selembaran kertas itu kemudian kembali sooman letakkan ke posisi semula, dan beralih lagi pada beberapa wartawan yang duduk dengan peralatan rekaman di gengaman.

 

“untuk itu saya berharap dengan telah terklarifikasi-nya berita yang negatif yang saat ini tersebar bisa menghilang, karna semua artikel yang memberitakan Yoona itu tidak benar. Tak ada kesinambungan palsu antara pihak agency dengan Yoona-ssi. Ia memang benar-benar mengambil cuty untuk pemulihan kondisi fisiknya. Saya rasa klarifikasi kami cukup sampai di sini, terimaksih untuk rekan-rekan media yang telah hadir”

 

Sooman berdiri dari duduknya menunduk sesaat kemudian berlalu dari ruang yang di khususkan untuk acara wawancara pengkalirifikasian berita yang sempat mengunjingkan agency ternama itu.

 

 

Klik..

 

“eoh? kenapa dimatikan?” yoona beralih dari fokusnya pada layar tv menatap siwon dengan tatapan tak suka dengan apa yang pria itu lakukan

 

“pengklarifikasianya sudah selesai bukan? Lagi pula kau perlu banyak istirahat yoong..” siwon maju selangkah duduk di sisian yang berbeda menatap wajah yeoja yang kini masih menampakkan wajah murungnya

 

“kemarikan remotnya” lengan yoona baru saja hendak mengambil alir romot tv yang kini siwon genggam di tangan kiri ketika dengan cepat siwon mencegahnya dengan menggenggam kedua lengan yeoja itu erat

 

“oppa…” nada merajuk seketika keluar dari bibir mungilnya, wajahnya kini nampak lucu dengan bibir yang mengerucut imut

 

Siwon yang melihatnya tertawa tanpa suara, matanya menilik lembut iris madu yoona membuat yeoja itu terpaksa mengalihkan pandaganya tak berani balik menatap mata obsidannya.

 

“tidulah kau perlu banyak istirahat hum?”

 

“tidak mau”

 

“yoona-ya..”

 

“aku sudah tidur seharian ini aku tak mau tidur lag—”

 

Ucapan yoona terpotong dengan kecupan singkat yang siwon layangkan tepat dibibirnya

 

“jangan membantah, atau kau akan mendapatkanya lagi…”

 

Yoona memberenggut namun dengan patuh beranjak menuju kasur dan menyibak selimut menutup seluruh tubuh, bersiap kembali tidur meski sesekali terdengar gerutuan kecil hingga siwon terkikik di buatnya.

 

Setelah memastikan yoona telah benar-benar tertidur, siwon ikut beranjak dari sana mengeser pintu berbahan jati itu dan melangkah menuju halaman belakang rumah itu.

 

“ada yang bisa ku bantu eomma-nim?”

 

Ny lee mendongak sekali, tersenyum kecil kemudian lanjut menata beberapa buah yang baru saja ia petik dari lahan kebunnya

 

“tak perlu, kau temani yoona saja ia pasti bosan disini”

 

“yoona sedang tidur eomman-nim, jadi biarkan aku berperan sebagai menantu yang baik dan membantu menata buah cantik ini..”

 

Kini tawa khas keluar darinya, Ny lee tak lagi menolak karna tangan kekar siwon sudah lebih dulu merebut keranjang besar berisi buah-buahan itu, dan memilah satu persatu jenis buah yang sama, aktifiats yang sesaat lalu ia lakukan dan kini beralih siwon yang menatanya.

 

“pantas saja yoona menyukaimu..”

 

“ne?”

 

“annio.. lanjutkan saja pekarjaanmu, ku rasa aku perlu berbelanja sebentar”

 

Arah pandangan siwon tertuju kerah ny lee yang setelah mengucapkan kalimat barusan beranjak masuk kedalam.

 

Senyuman tipis untuk sekian kalinya menyembul di permukaan wajahnya. Untuk seminggu ini, wajah itu tiada hentinya mengukir rasa bahagia. Yoona telah pulih dari kondisinya, hubungannya dengan wanita itu juga kembali mengalir indah, ia juga telah dekat dengan keluarga yoona dan rasanya ia harus kembali bersyukur karna agnecinya memberi waktu untuknya dan yoona bersama sebelum kembali melakukan aktifitas seperti biasa.

 

Dan disinilah mereka, di perkampungan daegu rumah ibu kandung yoona tepatnya. Dan nyatanya pilihan untuk berada di sini sangatlah evektif, Selain jauh dari hiruk pikuk seoul, mereka juga terhindar dari kejaran wartawan yang selama beberapa minggu ini mengincar klarifikasi langsung dari yoona.

 

“oppa..”

 

“eoh? bukankah kau sudah tidur?”

 

Yoona melangkah duduk disisian siwon yang tengah memilah buah dengan serius sebelum kedatanganya yang seketika mengalihkan sejenak aktifitasnya itu

 

“aku terbangun”

Jawaban singkat yoona hanya terbalas anggukan perlahan darinya

 

“kapan oppa kembali ke china?”

 

“lusa. Wae? Kau tak mau aku pergi?”

 

Yoona mengganguk polos, yang seketika itu juga membuat siwon tak tahan untuk tidak tertawa dengan reaksi kekasihnya itu.

 

“hanya dua minggu, lagi pula oppa kembali ke sini dengan mendadak jonghun hyung tak lagi bisa manahan proses syuting itu lebih lama”

 

Yah, yoona cukup tahu kedatangan siwon ini sangat mendadak, tapi salahkah jika ia memang tak ingin pria yang kini kembali menyemat status sebagai kekashinya untuk tetap bersama, setidaknya hingga ia kembali melakukan aktifitas ke-artisanya.

 

“tapi aku masih merindukanmu oppa..”

 

Siwon hampir saja tergelak dengan tuturan kalimat yang yoona ucapkan. Bagaimana bisa wanitanya ini mengatakan hal barusan?, sedang yang ia ketahui tentang yoona ialah wanita yang sangat sulit berterus terang meskipun itu sesuatu yang sepele, yoona pastinya hanya akan memendamnya sendirian. tapi kini rasanya wanitanya itu telah banyak berubah, dan siwon kembali mensyukurinya.

 

“oppa tahu itu” tangan siwon yang tadinya mengenggam buah dalam keranjang itu kini beralih mengelus lembut surai hitam yoona dan sesekali merapikan rambut halus yang menutupi keningnya.

“karna oppa juga sangat merindukanmu, yoona-ya..”

 

Yoona tersenyum manis mendengarnya. sebelah tanganya mengangam tangan siwon yang bebas di atas meja terfokus pada cincin couple yang tersemat pada kelingking dan jari manisnya

 

“oppa menyimpanya karna tahu kita pasti bisa kembali seperti sekarang”

Siwon ikut memandang kedua cincin itu secara bersamaan

 

“kemarikan tanganmu”

 

Yoona menurut mengulur tangan kirinya dan menanti tersematnya cincin dengan inisial ‘S’ yang kini sedang siwon lepas dari jari kelingkingnya

Itu cincin couplenya dan siwon. pria itu juga punya cincin yang sama persis dengan inisial ‘Y’ yang kini memaut indah di jari manisnya.

 

Yoona ingat ketika itu, ia dan siwon hanya punya waktu istirahat kurang lebih tiga jam karna jadwal member mereka yang juga sama padatnya. Saat itu tak ada lagi kawasan yang terfikir untuk dijadikan tempat kencan, yang pada akhirnya mereka memutuskan untuk sejenak berjalan di kawasan Apgujeong-dong Tak jauh dari apartement pribadinya dan membeli beberapa pernak-pernik penghias ruang apartement yoona yang masih terbilang baru.

 

Dan siapa sangka, yang mereka dapati justru toko antik yang menjual berbagai macam pernak-pernik indah dan   menjual sepasang cincin satu-satunya, yang terganung indah di etalase toko. Awalnya itu hanya cincin perak biasa tanpa ukiran di pinggiranya. tapi siwon entah bagaimana caranya, mengoresnya dan mengukir inisial ‘Y’ dan ‘S’ di tengahnya. Cincin yang ikut serta bersama beberapa kenangan dirinya dan siwon yang ia kembalikan sebulan lalu dan kini telah kembali tersemat manis di jemari lentiknya.

 

“karna cincin itu telah kembali kepemiliknya, jadi jangan mencoba menghindar dari oppa arrasso!”

 

Ucapan siwon sejenak menyentaknya kembali dari sepenggal ingatan usam yang ia biarkan melayang saat memutuskan untuk berpisah sejenak dari sang pujaan.

 

Ada tawa kecil yang mengiring ketika tatapan mereka kembali bertaut dalam

Dan Dengan perlahan yoona mengangguk pelan

“arra oppa.. aku takkan melakukanya”

 

Kini senyum kembali menghias. siwon menyeret kecil tubuhnya dan mendekap hangat tubuh yoona. Mereka saling memeluk erat membiarkan kerinduan itu sedikit menguar meski pada nyatanya sudah sejak seminggu, kedua insan ini bersama tanpa melepas jarak yang ada.

 

Akhir bahagia dari cerita panjang yang penuh problema. kekerasan ayahnya yang menjadi penengah kehancuran hubungan keduanya luluh lantak, bersamaan dengan seberkah cahaya kasih kecil yang seketika menyadarkanya dari kesalahan lama tentang hubungnya dengan mantan istrinya. Belajar dari kesalahan adalah pegangan teguh sang ayah kini, begitupun dengan siwon dan yoona, kesalahan terbesar mereka terdahulu ialah menyiakan cinta yang jelas masih tersemat indah di hati keduanya karna kenyataanya, siwon membutuhkan yoona sebagai pelangkap kehidupanya yang terbilang sempurna. begitupun sebaliknya, yoona teramat membutuhkan siwon dalam setiap pijakan asanya, terus menemaninya hingga akhir takdir memisah cinta yang masih jelas ada hingga detik-detik berikutnya.

 

.

 

.

 

.

 

 

…The End…

 

 

 

 

 

Finally happy ending^^ meskipun scane endingnya rada aneh menurutku karna JUJUR saya TERAMAT SANGAT SUSAH ngebuat scane romantis *kurang pengalaman kayaknya* jadi mohon di maklumi yah.   Dan yahh.. ni cerita ngebosenin amat karna kepanjangan mohon maklumi dah awalnya kan pengen di pisah tapi nginget masih banyak utang ff yah.. ta’ langsungin ajah jadi satu chapter.

 

Ahh.. ya, jangan pada berfikir kalu saya dah balik dari hiatus yah.. belum loh tahun depan baliklah *suer* karna lagi beradaptasi jadi mahasiswi baru *ceritanya* dan selama itu saya mohon untuk tetep sabar nunggu dua ff series yang lagi pending.

 

Terima kasih banyak buat kakak echa yang selalu bersedia menerima tulisan absurd saya buat kakak gee juga^^ makasihdah ngebuat kerajaan maya yang menampung beberapa tulisan gaje saya *peluk dua-duanya^^

 

Pleace RCL guys…

 

Tinggalkan komentar

133 Komentar

  1. gusni dewi

     /  Juli 20, 2014

    Konfliknya banyak bnget dr awal rame sumpah ! Daebak thor

    Balas
  2. evie

     /  Juli 20, 2014

    maaf ya bru bisa bca ff ini…

    ya ampun yoona tega bangat sama oppa sampe harus bales dendam gitu…

    kasian yoona nanggung beban berat bangat tp ga ada orang yg mw mengerti diri nya…

    oh yoong kau baik” z…

    akhir nya mereka bersatu lagi seneng bangat…

    happy ending

    Balas
  3. Daebakkk thor , bikin kelanjutannya dong thor ditungguh nih

    Balas
  4. Anggun YoonAdidict SY

     /  Juli 23, 2014

    Maaf baru baca ff-Nya

    Balas
  5. ini ff terpanjang dan terseruu!!
    daebak lahh super daebak!! kangen berat sama yoonwon moments :’) dan terobati dengan ff super cute ini^^ ada sequelnya ga?? harus ada yaa kan sampe mereka nikah dan beranak cucu sekaliaan~~

    Balas
  6. Dahlia GaemGyu

     /  Juli 30, 2014

    daebak thor, klo bisa bikin sequel ya
    ni ff seru bgt

    Balas
  7. diladiladila

     /  Agustus 13, 2014

    Aku pkir bkal brakhir sad ending eh trnyata happy ending..
    Gomawo author, ceitanya kren t.o.p.b.g.t

    Balas
  8. silvie

     /  Agustus 20, 2014

    waaaaaahhh happy end yang kereeen, di tunggu ff lain’a thor

    Balas
  9. vickiedeer

     /  September 1, 2014

    Huaaaaa ff paliiing panjang yg pernah kubaca hehehe..lumayan mengaduk emosi..tapi mnurutku ending agak kurang nendang..aku sech berharap ada ceritain tentang yoona sama member soshi buat maap2an ato apa kek gitu..tapi okelah

    Balas
  10. Unhibitedly

     /  September 3, 2014

    awalnya sedih juga pas liat keadaan yoona yang begitu tertekan >< untungnya ayahnya yoona segera sadar dan mau memperbaiki keadaan yang ada,,, suka ma ending ceritanya yang manis..hoho ditunggu karya ff nya yang lain🙂

    Balas
  11. Nur

     /  Februari 21, 2015

    ceritanya panjang banget !!,tapi ceritanya seeeerrrrruuuuuu banget!!

    Balas
  12. Cha'chaicha

     /  Mei 23, 2015

    Yey happy ending,

    Balas
  13. mia

     /  Oktober 18, 2015

    syukurlah semua nya telah berlalu

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: