[SongFic] Moonlight

moonlight poster

Title : Moonlight

Author : Shin Ah Gi

Genre : Sad, Hurt

Type : SongFic

Length : 4000+ words

Rating : PG-13

Casting :

–          Choi Siwon

–          Im Yoon Ah

Support Cast :

–          Kim So Hyun

Special cover by historyofnana.wordpress.com

Disclameir : This story pure is mine. I just borrow the cast from they family and God.   Their characters here are my artificial. Don’t bashing me and cast. Don’t be silent readers , please. Don’t do plagiarism or copy-paste this story.. Happy reading readers ~

.

.

.

.

Exo – Moonlight

 

Yeah, stop, stop                                                                                                                              Geu nalgaega jeojeuni
Oh oh, stop, stop.

 

Aku terus-menerus menenangkan gadisku yang sekarang berada didekapanku. Aku memang orang yang paling sakit disini tapi aku akan bertambah sakit jika melihatnya kembali menangis. Menangis untuk orang yang sama sekali tidak pernah menangisi dirinya sendiri. Orang yang hanya memanfaatkan kekayaannya. Tapi dia, tidak percaya itu semua. Dia telah dibutakan oleh cinta. Hingga tidak bisa melihat hal-hal yang seharusnya dia lihat. Tidak bisa mendengar hal-hal yang wajib dia dengar. Bahkan hampir membuat persahabatan kami runtuh hanya karena dia. Dia, kekasih gadisku.

Dia masih saja menangis. Badannya terlihat sangat bergetar sedangkan matanya benar-benar sembab. Suaranya juga mulai serak akibat isakan yang terus dikeluarkannya. Oh ayolah, jangan seperti ini. Aku akan kembali sakit jika melihatmu seperti ini. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan olehmu. Kita ini satu, jadi aku bisa merasakan apapun yang kau rasakan. Maka dari itu, berhentilah menangis. Aku sudah lelah memperingatimu setiap saat. Mulut ini sudah benar-benar haus memberitahumu terus-menerus.

“Tolong berhenti menangis, Yoona-ya”

Dia telah berhenti, dia mendengarkan kata-kataku. Aku tersenyum dan lagi, mengelus rambutnya. Setelahnya, menjauhkan wajahnya dari dada bidangku agar bisa melihat wajahnya saat ini. Dia tersenyum diiringi isakan yang masih tersisa. “Seperti ini jauh lebih cantik, kenapa baru sekarang berhenti, eo? Lihatlah, bajuku basah.”

Suara kekehan kecil terdengar ditelingaku begitu jelas. Itu suara dia. “Maaf,” ucapnya dengan nada menyesal. Aku menggapai wajahnya, mengelus pipinya lantas berbicara “tidak masalah.” Dia lagi-lagi tersenyum kemudian memelukku lagi. Aku yang melihatnya hanya tersenyum. Membiarkannya melakukan apapun pada tubuhku.

 

Gipeojin haru teum sai neoneun joyonghi dagawa
Eodumeul geodeonaego naui jameul kkaewo
Geurigon meoreojyeo yeollin
changmun jeo neomeoro

 

“Oppa,”

Aku seperti mendengar sesuatu. Suara, suara seseorang. Dia memanggilku tidak hanya sekali tapi berkali-kali. Tubuhku juga terasa sedikit terguncang. Itu, itu dia. Itu suara gadisku dan guncangan ditubuhku berasal dari tangannya. Aku membuka mataku yang sangat lengket ini. Sedikit merenggangkan ototku sebelum akhirnya aku duduk ditepi tempat tidurku. Benar, sesuai dugaanku bahwa orang itu gadisku. Im Yoon Ah, namanya.

“Ada apa ?”

Selalu saja begitu, aku hanya sekedar basa-basi padanya untuk membuka percakapan kami. Matanya sudah basah lagi dan sekarang, ditambah oleh lingkaran hitam yang mirip sekali dengan mata panda. Aku tahu maksud kedatangannya dan siapa penyebabnya. Dia sedikit menghapus air mata yang masih menyisa dipipinya. “Malam ini, aku tidur disini ya?” Yoona tersenyum samar saat melihat jawaban dariku. Jika dia sudah tahu apa jawabannya, kenapa masih bertanya ? Aku tidak mungkin menolaknya. Itu sama saja menjatuhkan diriku sendiri dijurang.

Dia mulai merebahkan tubuhnya yang disusul olehku. Dia sudah mulai memejamkan matanya dihadapanku. Air mata sudah berada dihidungnya. Air mata yang berasal dari mataku. Aku yang menangis kali ini. Aku sungguh tidak sanggup melihatnya seperti ini. Senyuman yang dia miliki jarang sekali ditampilkan. Padahal senyuman itu bisa membuat siapapun yang melihatnya akan merasa aman dan tentram. Hanya sesekali senyuman yang sesungguhnya ditunjukan. Senyuman yang diberikan tadi tidak bisa membuatku aman ataupun tentram. Senyuman itu, senyuman yang membuat hatiku teriris.

Tanganku melayang diwajahnya, sedikit menghapus air mata yang tersisa disana. Wajahnya terlihat sangat damai saat tidur. Dahinya, dahi yang sering aku ejek seperti ikan lohan. Padahal kenyataannya, dahinya rata hanya saja ejekan itu ditujukan untuk hiburan. Tidak benar-benar ejekan yang berujung menjelek-jelekan. Hidungnya, hidung yang selalu memerah jika dia sedang menangis atau sakit.  Pipinya, pipi yang selalu bersemu merah jika digoda. Salah satu tempat yang sering aku sentuh melalui bibirku. Dan bibirnya, bibir yang selalu bergetar jika sedang menangis. Bibir yang menjadi canduan tersendiri bagiku. Bibir yang berwarna pink dan ranum. Bibir yang sudah pernah disentuh orang lain selain diriku.

Aku mendekatkan wajahku dengan wajahnya. Berniat memberi kecupan dibibirnya. Mataku terpejam mencoba menikmati bibirnya. Tidak, saat ini aku tidak menikmatinya. Bibir itu malah membuatku meneteskan air mata untuk kesekian kalinya. Bibir itu juga yang selalu membuat telingaku menangkap suara isakan yang selalu aku benci. Aku melepasnya, lebih mengeratkan pelukan kami. Dan akhirnya, mata ini sudah tidak melihat apapun. Hanya melihat warna hitam yang tidak berujung.

Malam berlalu begitu cepat. Aku bahkan merasa bahwa baru satu detik yang lalu  Yoona datang. Waktu berjalan sangat cepat diluar pikiranku. Mata ini kembali membuka sekedar untuk melihat isi dunia kembali. Mataku tidak terlalu jelas menangkap benda-benda yang ada disekitarku. Angan-anganku belum sepenuhnya kembali ke ragaku, maka dari itu aku membiarkan diriku sebentar. Setelah penglihatanku sudah benar-benar jelas, kutolehkan kepala ini kesamping kanan dimana Yoona berada. Mataku sedikit membulat melihat hanya guling yang ada dikananku. Sedikit terkejut tapi didetik kemudian, keterjutan itu sudah tidak ada.

 

Tto gireul irheonna, neon, neon, neon.
Bamgonggiga ajik chagawo ireona
So, baby, hold on neol honja dugiga
Nan geokjeongi dwae georil dugo
Neoui dwireul ttaraga

 

Malam ini dia kembali. Kembali datang membangunkanku lagi lalu tidur disampingku. Aku memandangnya bingung. Dia kenapa lagi ? Apa dia kehilangan arah lagi ? Kehilangan arah karena pria itu ? Pria brengsek itu ? Tanganku mengepal mengingat-ngingat pria itu. Pria itu benar-benar membuat gadisku seperti ini lagi. Ini tidak bisa dibiarkan lagi. Aku tidak bisa menahan amarah yang sudah berada diubun-ubun. Ya ! Kenapa kau masih saja berusaha mempertahankan hubungan kalian ? Sudah sangat jelas dia mempermainkanmu.

Aku membangunkannya ditengah udara malam yang sangat dingin. Dia memandangku aneh karena tidak biasanya aku seperti ini. Menganggu tidurnya dan membangunkannya ditengah malam. Tapi aku harus tanyakan hal ini padanya. Aku tidak ingin Yoona melangkah semakin jauh kearahnya. “Yoona-ya, kau kenapa ? Apa pria itu membuatmu seperti ini lagi ? Membuatmu kehilangan lagi ?” Dia terdiam dan terlihat sedikit kesal. “Jangan menanyakan hal itu lagi,” ucapnya terdengar sangat dingin.

Wajahnya sangat datar, tanpa ekspresi apapun. Suaranya juga sudah sangat serak dan tubuhnya, terlihat lebih kurus dari kemarin-kemarin. Tulang ditubuhnya terlihat sangat menonjol dibanding dagingnya. Ternyata pria itu mulai macam-macam dengan gadisku. Awas saja kau. “Jika kau memang sudah bosan denganku, kau bisa memintaku untuk meninggalkanmu. Katakan saja jika itu yang kau inginkan,” mataku terbelalak dan kepala ini tanpa diperintah sudah menggeleng hebat. Tidak, aku tidak mungkin mengatakan hal yang membuat hatiku sendiri sakit.

“Aku bisa menghadapinya sendirian jika kau mau,” aku menggelengkan kepala ini. Suaranya masih saja dingin. Sepertinya pria itu memang sudah membawa pengaruh besar atas Yoona. “Tidak. Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian. Jangan katakan hal itu lagi,” dia tersenyum kemudian memelukku. “Berjanjilah bahwa kau tidak akan meninggalkanku,” aku mengangguk dan membalas pelukannya. “Ya, aku berjanji.”

Dia masih saja mempertahankan senyuman yang sesungguhnya. Senyuman yang mampu membuatku tidak berkutik sama sekali. Mampu membuat mata ini tidak memandang yang lain. Ini senyuman yang aku inginkan. Senyumannya yang sudah seperti barang sangat langka, yang hampir punah. Tapi, aku tetap ingin mengawasinya. Aku ingin melihat apa yang pria itu perbuat. Aku akan memantaunya dari jarak jauh. Ya, itu benar.

 

Neon ssodajineun dalbiche syawo
Geu hwangholhan pyojeongeun bon jeogi eobseo
Geurimcheoreom meomchun nega boyeo
Geu siseon kkeuten

 

Setelah percakapan singkat tadi, dia kembali terlelap dalam tidurnya. Sedangkan aku, aku masih belum terlarut dalam mimpiku. Aku tidak bisa tidur, mata ini sangat sulit untuk ditutup. Aku menatapnya, menatap semua yang ada ditubuhnya dengan mata telanjangku. Dia, lebih dari cantik. Bahkan dalam keadaan tidur seperti ini saja, dia masih bisa membuatku semakin jatuh kedalam lubang cintanya. Semakin terperangkat didalam dan tidak bisa keluar. Dia, seperti malaikat.

Tubuhnya seperti ada yang menyinari. Seperti sebuah sinar bulan. Dan dia sangat amat sempurna. Yoona bagaikan sebuah lukisan yang dibuat oleh orang yang sangat profesional. Sama sekali tidak memiliki cacat sama sekali. Ini sangat menarik melebihi apapun. Dia, lukisan yang sangat menarik perhatian. Lukisan yang banyak merebuti orang dengan nominal uang yang tidak bisa dikatakan sedikit. Tapi, dia tidak bisa dibeli layaknya sebuah lukisan. Dia hanya bisa dimiliki dengan hati, tidak untuk uang. Dan dengan menatapnya seperti ini terus-menerus, mataku mulai berat. Sebelum akhirnya, lukisan itu benar-benar hilang digantikan warna hitam yang amat pekat.

 

Daheul suga eomneun angil sudo eomneun got
Sumyeon wie bichin geon geu sarami aniya
Irwojil su eomneun seulpeun neoui story
Gakkawojilsurok deo apajil teni

 

Kau, Yoona-ku telah kembali pada kekasihmu. Sohyun, dia orang yang teramat beruntung karena dicintai olehmu. Dia juga orang bodoh yang selalu melukaimu. Kau dan dia pergi berjalan-jalan bersama dan aku melihatnya sendiri. Aku, aku tidak bisa menghampirimu untuk sekedar berbasa-basi. Tidak, tidak bisa. Aku tidak bisa melihatmu bersama orang lain lebih lama. Kakiku sudah tidak bisa lagi menopang badanku karena melihat pemandangan itu. Kalian, kalian berciuman.

Bibirmu kembali ternodai oleh bibir pria biadab itu. Kaki ini tidak kuat menopang tubuhku lebih lama. Aku segera berlari ke arah pintu keluar. Aku, aku tidak sanggup melihat itu. Semakin lama aku melihat kalian bersama, semakin kuat juga rasa sakit ini. Penyakit yang sudah lama hinggap dihatiku semakin parah.

Aku tidak bisa menuruti keinginanmu yang menyuruhku untuk bertemu dengan kekasihmu. Kau bilang bahwa kau ingin memperkenalkannya padaku. Dan kau juga bilang jika aku bertemu dengan kalian, jangan sungkan untuk bergabung. Maaf, aku tidak menuruti keinginanmu yang satu itu. Hatiku akan semakin rapuh jika berada didekatmu yang juga sedang menggandeng seorang pria selain diriku sendiri. Aku tidak bisa. Dan cinta sepihak ini semakin menyiksa. Inilah cerita sedihku tentang cinta yang tak terbalas. Benar-benar menyedihkan.

 

Geu sarangmaneun… Stop, stop, stop, stop, yeah
Geu sarangmaneun… Stop, stop, stop, stop, yeah
Ireoke naega neol aetage bulleo
Dagagaji ma, babe, geu nalgaega jeojeuni

 

Berkas-berkas kerjaku yang seharusnya aku kerjakan terbanting begitu saja. Semuanya tidak ada yang bisa aku kerjakan. Pikiranku melayang jauh. Aku tidak bisa berpikir dengan baik. Semuanya hanya ada kau, kau dan kau. Yoona, tolong menghilang dari pikiranku. Siwon, kau harus menghentikan semua ini. Berhenti memikirkan Yoona, berhenti. Masih banyak pekerjaanmu yang belum selesai kau kerjakan. Ayolah, buang jauh-jauh Yoona untuk saat ini. Berhenti, berhenti memikirkannya untuk saat ini.

Argh. Kepalaku sakit, sangat sakit.. Kepalaku, ah sangat sakit. Benar-benar sangat sakit. Semakin lama aku mencoba menghapus Yoona dari pikiranku, semakin sakit pula kepala ini. Yoona, jangan kembali padanya. Dia, dia terlalu buruk untuk orang yang sempurna sepertimu. Tolong dengarkanku, dia bukan orang baik. Percayalah bahwa semua yang kukatakan benar adanya. Dia picik, licik dan hanya memanfaatkan kelebihanmu. Percayalah sebelum kau kembali kacau seperti kemarin-kemarin. Sebelum akhirnya kau kembali membasahi bajuku. Tolong, tolong dengarkan semua ini. Arg, Im Yoon Ah, dengarlah dan percayalah akan ucapanku.

 

Amuri malhaedo neon deulliji anha
Dasi geuege on momeul deonjyeo
wae neon wiheomhan kkumeul kkulkka                                               Ije geuman jichin

 

Aku tidak peduli pada sakit ini. Aku tidak peduli dengan mulut ini yang terus-menerus mengeluarkan kata-kata yang berarah pada larangan. Yoona, tolong untuk kali ini, dengarkanlah aku. Dia tidak sungguh-sungguh berhubungan denganmu. Kemarin aku melihatnya berjalan bersama Suzy dan mereka berciuman seperti halnya sebuah pasangan. Bibir yang tadi menempel dibibirmu adalah bibir biadab. Bibir itu tidak lagi suci, sudah ternodai. Kau jangan memberikan bibir itu lagi padanya.

Yoona, dengarlah dan buka telingamu yang selalu tertutup mendengar kabar ini. Dia hanya memanfaatkan kekayaanmu. Dia ingin mengambil alih perusahaan milik ayahmu. Dan kau bukan korban yang pertama kejahatannya. Sudah banyak korban yang datang padanya untuk meminta ganti rugi. Itu juga aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Dia, dia buronan yang sedang dikejar-kejar oleh polisi. Percayalah, ini bukan omong kosong belaka.

Yoona, aku tahu kata-kata yang kukeluarkan tidak ada gunanya. Karena kau tidak ada disini. Walaupun kau ada disini pula, kau juga tidak akan mendengarnya. Kau akan menutup telingamu dengan kedua tangan putih milikmu atau memakai earphone sebagai gantinya. Dan setelah melihatmu tadi, aku kembali sedih. Kembali masuk kedalam jurang cinta sepihakku yang sangat dalam. Pemandangan tadi menandakan bahwa kau telah kembali ke dekapannya. Kembali masuk ke dalam lubang kehobongannya yang tiada tara dalamnya.

Kau pernah memberitahu padaku bahwa kau memiliki mimpi yang sangat indah. Mimpi itu bersangkutan langsung dengan kekasihmu. Mimpi terindah yang pernah kau bilang tersebut adalah hidup bahagia dengannya sampai maut menjemput kalian. Aku pada saat itu sangat shock, aku sangat sedih mendengarnya. Pertama karena kau masih saja menganggapku sebagai kakakmu serta sahabatmu. Dan yang kedua, karena mimpimu itu hanya angan-angan yang sampai kapanpun tidak akan pernah menjadi kenyataan. Yang akan melukai hatimu sendiri.

Mengapa aku bilang begitu ? Karena orang tersebut akan meninggalkanmu satu hari setelah hari pernikahanmu nanti. Mimpimu itu benar-benar sangat berbahaya. Aku bahkan yang sama sekali tidak terlibat dengan mimpimu saja bisa merasakan bagaimana rasanya. Aku, aku takut sesuatu terjadi padamu jika mimpimu benar-benar menjadi kenyataan. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi jika kau masih saja tidak mau mendengar nasihatku. Kumohon, hentikanlah hubungan kalian.

 

Neoui mameul swige hae
Neol baraboneun nae mamdo jjijeojil geot gateunde

 

Sekarang, kau kembali kepadaku dengan keadaan berantakan. Sudah kukatakan sebelumnya bahwa dia hanya mempermainkanmu. Kau tetap saja tidak percaya jadi kau harus terima semuanya, sayang. Tapi bukan hatimu saja yang sakit, aku juga. Aku jauh lebih sakit melihatmu menangis daripada melihatmu bersamanya. Aku, aku bahkan lebih rela melihatmu bahagia sementara dengannya dibandingkan sedih tapi denganku. Air matamu itu adalah salah satu dari sekian banyak hal yang aku benci.

Kau membutuhkan pengistirahatan disaat-saat seperti ini. Dan tempat itu atau orang itu adalah aku. Ya, aku hanya dijadikan tempat pengistirahatanmu. Tapi walaupun begitu, aku jauh lebih rela dianggap seperti itu daripada melihat air mata sialan itu. Tenanglah, lupakanlah dia. Mulailah mencintaiku atau mencintai orang lain tapi jangan cintai pria bajingan itu. Jangan terus-menerus mempertahankan hubungan kalian. Aku tidak akan bisa terus-terusan bertahan disisimu. Hatiku terlalu rapuh. Hatiku sudah pecah berkeping-keping.

 

Neon ssodajineun dalbiche syawo
Geu hwangholhan pyojeongeun bon jeogi eobseo
Geurimcheoreom meomchun nega boyeo
Geu siseon kkeuten

 

Sudah sepuluh hari ini kau tidur denganku. Enggan pulang ke rumahmu sendiri, dimana disana ibumu dan ayahmu sudah menunggu. Tapi kau beralasan bahwa Yuri memintamu untuk menginap disana. Karena memang Jongwoon sering sekali pergi keluar negeri untuk pekerjaan. Tapi yang sebenarnya tidak seperti itu, karena nyatanya mereka sudah memiliki satu anak yang mampu membuat Yuri tidak kesepian. Kau selalu pintar membuat alasan yang bisa membodohi orang tuamu sendiri. Tapi kau, tidak bisa membohongiku.

Kita sudah berteman lama jauh sebelum kau berteman dengan Yuri. Aku tahu lagat-lagat yang mengatakan bahwa kau sedang bohong. Karena aku selalu bisa mengetahui ekspresimu, entah itu sedih, marah, senang atau bahkan datar walaupun kau selalu berusaha menutupinya. Aku tahu semua, jadi kau tidak bisa menutupi semuanya lagi dariku. Kau tidak bisa menutupi semuanya. Kau tidak pandai berbohong dan berakting didepanku.

Sekarang, aku kembali melihatmu lagi. Melihatmu yang lagi dan lagi dalam keadaan sama. Melihat wajahmu yang benar-benar berantakan. Matamu yang merah serta bengkak ditambah lingkaran hitam dibawah kelopakmu, bibirmu yang bengkak karena terus-terusan mengeluarkan isakan yang membuat hatiku sendiri sakit dan pipimu yang bertambah tirus setiap harinya. Bahumu masih saja bergetar dan isakan-isakan masih saja keluar dari mulutmu.

Berhentilah mencintainya, bukankah dihadapanmu ini sudah ada orang yang selama ini memperhatikanmu, mengkhawatirkanmu dan perhatian denganmu. Bahkan orang tersebut merelakan kebahagiannya bahkan nyawanya hanya untuk dirimu. Sudah jelas bukan bahwa orang itu yang selama ini ada disisimu. Tapi kenapa kau masih saja memilih orang yang bahkan sama sekali tidak memperhatikanmu, tidak memberi perhatian padamu dan orang yang apatis. Bahkan jika orang itu diberi dua pilihan, memilih mencari wanita lain atau mengorbankan nyawanya untukmu. Dia dengan jelas memilih pilihan pertama, mencari penggantimu.

Tetapi walaupun begitu aku tidak akan berhenti sampai saat ini saja. Aku tidak akan meninggalkanmu walaupun kau bisa saja meninggalkanku. Tenanglah, aku akan selalu disisimu dalam keadaan apapun terutama dalam keadaan duka. Isakanmu dan bahumu sudah berhenti beraktivitas seperti tadi, kau sudah sepenuhnya masuk kedalam alam mimpimu. Wajahmu sudah tenang sepenuhnya dengan damai.

Wajahmu yang sekarang sedang acak-acakan masih saja memancarkan kecantikanmu yang tiada habisnya. Seperti ada sebuah cahaya yang memancar dari wajahmu. Cahaya yang sering terlihat dimalam hari dan cahaya yang menerangi bumi ini dikala malam. Wajahmu sangat cantik dan mempesona. Wajahmu adalah hal pertama yang membuatku jatuh cinta padamu. Sejak kita pertama bertemu, sejak kita sama sekali belum saling mengenal. Aku sudah mencintaimu selama delapan tahun. Selama itu juga aku merasakan cinta sepihakku.

 

Daheul suga eomneun angil sudo eomneun got
Sumyeon wie bichin geon geu sarami aniya
Irwojil su eomneun seulpeun neoui story
Gakkawojilsurok deo apajil teni

 

Wajahmu terlihat muram pagi ini. Lebih muram sebelum kau mengangkat telepon yang entah siapa yang menelepon. Air matamu mengalir dipagi ini. Sebenarnya kau kenapa ? Kenapa dipagi hari sudah seperti ini ? Jangan membuatku bingung. Kau menatapku seakan mengantarkan kesedihanmu dari sorot matamu. Aku yang memang tidak mengerti hanya mengerutkan dahi tanda kebingungan sedang melandaku.

“Sohyun oppa”

Kau menyebut nama itu lagi, nama orang yang teramat aku benci. Kau kembali diam untuk seperkian detiknya. Menggantung kata-katamu yang masih membuatku bingung. “Sohyun oppa, dia mengalami kecelakaan,” Yoona pasti sudah melihat reaksiku sekarang yang sangat terkejut. Dia, pria biadab itu, kecelakaan ? Benarkah seperti itu ? Tapi bukankah aku harus senang mendengarkan berita ini ? Tapi, itu tidak boleh. Jika aku seperti itu, sama saja aku bersenang-senang diatas penderitaanmu.

“Temani aku kerumah sakit,” tanpa sadar kepala ini mengangguk cepat sedetik setelah kau mengajukan permintaan itu. Badanku terangkat menuju pintu keluar apartemen dan menuju lift. Kau mengikutiku dibelakangku. Kita telah sampai diluar gedung apartemenku, kau dengan gerak cepat masuk kedalam mobilku dibangku yang terletak disamping bangku pengemudi. Aku melakukan hal sama dan menyalahkan mobil. Meninggalkan tempat tinggalku dengan cepat.

Setelah kami telah sampai disana, kau tanpa aba-aba membuka pintu mobil dengan cepat dan meninggalkanku yang masih didalam mobil. Aku mengikutimu dari jarak jauh, aku tidak akan sanggup berdiri diantara kalian. Aku melihatmu menangis diatas tubuhnya yang dalam keadaan tidak sadar. Seringaian terbentuk dibibirku, mungkin ini balasan dari Tuhan karena telah melukai Yoona. Aku tahu bahwa Tuhan tidak tidur.

Kau memeluknya dengan erat, masih menangis diatasnya. Aku tidak bisa menghampirimu sekarang sekedar untuk menghibur, aku tidak kuat berdiri diantara dirimu dan kekasihmu. Lututku terasa sangat lemas padahal aku melihatmu dengan jarak jauh. Kau melihatku, melihatku yang sedang memandangi kalian. Kau beranjak menghampiriku yang berada diluar ruang rawat Sohyun.

“Kenapa tidak masuk, oppa ?” kepalaku menggeleng cepat mendapat hembusan nafas kesal dari Yoona. Aku tahu dia pasti kecewa. “Kenapa ?” aku tersenyum penuh arti yang sebenarnya menyimpan banyak kesedihan. Senyuman yang seharusnya diberi nama senyum miris. “Aku hanya tidak ingin menganggu kalian,” kulihat senyumnya mengembang tapi tidak terlalu nyata.

“Oh, baiklah.”

Dia kembali masuk kedalam ruang yang merawat pria itu. Kembali duduk disamping ranjangnya dengan tangan yang menggenggam erat tangan Sohyun. Aku kembali menampilkan senyuman miris ini. Hatiku, disini sangat sakit. Melihatmu begitu peduli dengan orang yang sama sekali tidak mencintaimu dan peduli denganmu. Mengabaikanku yang sebenarnya selalu ada untukmu. Aku kembali merasakan sakitnya cinta sebelah tangan ini.

 

Geu sarangmaneun… Stop, stop, stop, stop, yeah
Geu sarangmaneun… Stop, stop, stop, stop, yeah
Ireoke naega neol aetage bulleo
Dagagaji ma, babe, geu nalgaega jeojeuni

 

“Kau kenapa, oppa ?”

Pertanyaan yang dikeluarkan dari gadisku mampu membuatku kembali kedunia nyata. Dia pasti sudah mencium gelagat aneh yang sedang terpeta diwajahku. Jujur saja, aku masih tidak bisa menerima Yoona kembali kepadanya. Apalagi sekarang orang itu sudah sadar dari komanya. Sial, kenapa harus secepat ini ? Harusnya Tuhan menghukumnya lebih lama lagi. Kenapa Tuhan begitu baik pada orang yang sama sekali tidak baik ? Membangunkannya dengan cepat dan memberi kesempatan untuk melihat dunia ini lagi.

Sekarang kami sedang berada dikantin rumah sakit sekedar untuk sarapan pagi. Sohyun sedang tidur makanya kami bisa meninggalkannya. “Aku tidak apa-apa,” anggukan diberikan olehnya sebagai balasan. Dia memang tidak pandai berbohong padaku tapi aku, aku bisa membohonginya dengan senyuman damaiku. Kulihat, dia kembali memasukan makanannya kedalam mulutnya melalui sendok. Dia sama sekali tidak mencurigaiku, dia percaya padaku. Selalu percaya akan ucapanku kecuali ucapan mengenai kekasihnya. Setiap aku berbicara bahwa Sohyun itu tidak pantas untuknya, dia pasti marah dan tidak percaya. Setelah itu, dia akan mengabaikanku dalam waktu yang lama.

Dia telah menyelesaikan sarapannya sedangkan aku, makananku masih utuh. Dia hampir saja pergi meninggalkanku sebelum aku mencegahnya. “Temani aku makan sampai selesai Yoong,” aku tersenyum saat kepalanya mengangguk setuju. Aku mengambil sendok yang ada dimangkuk makananku dan mengambil makanan yang ada didalamnya. Yoona ternyata menatapku sedari tadi. Dia juga tersenyum.

Oppa, apa kau tahu hari ini aku sangat senang ?”

Ya, aku tau bahwa kau hari ini senang. Terbukti dengan senyumannya yang selalu terpeta dihari ini. Dia senang karena kekasihnya telah bangun dari komanya. Yang bagiku malah sebuah berita buruk. Aku tersenyum padanya, “memangnya apa yang membuatmu senang ?” aku berpura-pura menjadi orang bodoh sedunia dengan bertanya hal seperti itu. Dengan seperti itu dia pasti akan semakin bahagia dan aku akan semakin menderita.

“Karena hari ini Sohyun Oppa sudah bangun dari komanya. Aku benar-benar berterimakasih pada Tuhan,” benar sesuai dugaanku. Kebahagiannya terletak dipria itu. Mulutku membulat membentuk huruf yang artinya aku mengerti. “Yoong,” dia menoleh kearahku saat namanya disebut-sebut. “Berhentilah mencintainya, tinggalkan dia. Dia orang jahat, Yoong” senyumnya mulai luntur saat kalimat itu sudah sepenuhnya sampai digendang telinganya.

Wajahnya juga mulai serius menatapku, “kau ini kenapa oppa ? kau benar-benar aneh.” Dia bertanya dengan nada amarah yang begitu kentara. Aku terdiam, memberi waktu untuknya mencerna kembali kata-kataku tadi. Dia ikut terdiam dengan amarah yang sudah memuncak. “Percayalah padaku. Jika kau kembali kepadanya, kau akan kembali bersedih seperti kemarin-kemarin. Dia hanya memanfaatkan kekayaan yang kau miliki, dia seorang buronan. Aku tidak berbohong, Yoong.”

Dia pergi meninggalkanku begitu saja sesudah kalimat itu keluar dari mulutku dengan begitu lancar. Aku terus meneriakinya dengan kata-kata bahwa aku tidak berbohong. Kata-kataku tidak didengar olehnya, dia pasti marah besar kepadaku. Tapi demi apapun, aku tidak berbohong. Jadi percayalah, aku memiliki buktinya. Yoong, percayalah dan dengarlah.

 

Neon amu il eopdeon geotcheoreom aesseo nareul hyanghae useo boyeodo
Ganyeorin saehayan neoui eokkaega jogeumake tteollyeowa, i’m telling you                   Jamsiman naui gyeoteseo naeryeonoko swieogado dwae
Meondongi teumyeon jeo dari jeomuneun geu goseul ttara geuttaen naraga, yeah

 

Tiba-tiba pintu apartemenku terbuka. Dan kau pelaku yang membuka pintu apartemenku. Kau tersenyum padaku tapi kali ini berbeda dengan lima hari yang lalu. Senyuman yang sering aku tampilkan, senyuman menyakitkan. Kau duduk disebelahku dengan wajah memohon. Aku hanya mengangguk menyetujuimu untuk tidur diapartemenku. Sepertinya kau mengalami hal yang sama dengan seminggu yang lalu.

Kau berjalan gontai kearah kamarku dengan bahu yang bergetar. Apa kau menangis lagi ? Menangis untuk orang idiot sedunia ? Oh, tolong hentikan semuanya. Apa kau tidak tahu bahwa tidak hanya kau yang sakit disini ? Aku, aku adalah orang yang sakit selain dirimu. Kau tidur membelakangiku dengan bahu yang masih saja bergetar. Setelah sadar bahwa aku telah ada disampingmu, kau membalikan badanmu. Memandangku dengan sorot mata kesedihan.

“Jika kau sedang sedih, kau bisa datang padaku untuk beristirahat,” kau tersenyum mendengarnya. “Dan saat pagi mulai datang, kau bisa kembali padanya. Kau boleh meninggalkanku saat pagi sudah datang untuk menyapamu,” kau mendekatkan tubuhmu kearahku dan memeluk tubuhku dengan menaruh kepalamu disamping dadaku. Kau menangis didalam dekapanku, samar-samar dapat kudengar kau berkata “gomawo.”

 

Daheul suga eomneun hamkke hal su eomneun got
Bami doemyeon nara on geugeon nega aniya
Irwojil su eomneun (nunmul heulleo)                                                                                    seulpeun naui story (naui story)
Gakkawojilsurok deo apajil teni (I swear I cannot stop loving)

 

Sesuai apa yang aku ucapkan semalam, kau sudah kembali kepadanya pagi-pagi sekali. Tadi pagi aku mendengar percakapan kalian ditelepon yang menyatakan bahwa hari ini kalian menikah. Semalam kau seperti itu karena kau kembali dipertemukan dengan selingkuhannya. Kau melihat kekasihmu sedang berduaan dengan wanita yang sama sekali tidak kau kenal. Dan tadi juga aku mendengar bahwa Sohyun bilang itu adalah adik sepupunya yang selama ini tinggal diluar negeri dengan orang tuanya. Pria itu juga bilang bahwa dia datang untuk perwakilan keluarganya.

Dan kau dengan bodohnya percaya semuanya. Percaya dengan omong kosong yang dibuatnya. Percaya dengan orang yang bahkan tidak pantas dipercayai. Kau tidak mendengarkanku bahkan sampai saat ini. Tidak mendengar fakta yang aku ucapkan. Dia benar-benar penipu. Tapi kau bahkan tidak percaya sampai saat ini. Kau lebih percaya dengan seorang penipu kelas kakap semacam Sohyun.

Tadi kau juga menyuruhku untuk datang keacara pernikahanmu lebih awal. Agar kau bisa mengucapkan hal-hal yang akan membuatku semakin sakit. Aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu lagi. Aku tidak bisa melihatmu berdampingan dengannya didepan Tuhan. Aku tidak kuat melihat semua kenyataan yang sedang ditampilkan Sang Maha Kuasa. Dan aku tidak bisa menerima semuanya, semua fakta bahwa kau akan menjadi istri seorang penipu seperti Sohyun.

Mulai saat ini, kita tidak akan bersama lagi. Tidak akan pernah bersatu lagi didepan Tuhan. Kau akan selalu menganggapku sebagai tempat curahan isi hatimu dan aku, aku akan selalu menganggapmu sebagai gadis yang kucintai. Dan saat ini juga, rasa sakit ini semakin berkembang bertambah besar. Jauh lebih sakit daripada melihatmu menangis untuk orang itu. Semakin lama, aku sadar bahwa aku sedang mengalami cinta sebelah tangan ini. Cinta sepihak yang kurasakan selama delapan tahun lebih.

 

Geu sarangmaneun… Stop, stop, stop, stop, yeah (tonight)
Geu sarangmaneun… Stop, stop, stop, stop, yeah (tonight)
Ireoke naega neol aetage bulleo
Meoreojiji ma, babe, geu nalgaega jeojeuni

 

Argh, kenapa hari ini dia menikah dengannya ? Kenapa tidak dipikirkan dua kali, Yoong ? Kau bodoh, sangat bodoh.   Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku mencoba mengusir kemarahan yang sudah memuncak. Kemudian setelahnya, suara hembusan nafas terdengar begitu kasar. Mataku kembali menutup, merasakan sensasi pantai dimalam hari. Hembasan ombak yang menerjang batu karang menjadi backsound tersendiri untukku. Angin malam sangat menusuk kulitku begitu tajam. Dan cahaya bulan menjadi penerang penglihatanku saat ini.

Aku membalikan badan untuk kembali kedalam mobil. Baru selangkah aku menapaki pasir putih ini, sepatu tanpa hak berada didepan sepatuku. Merasa penasaran siapa orangnya, kepalaku yang sebelumnya menunduk berubah posisi menjadi menatap kedepan. Rasa keterkejutanku tidak dapat terbendung lagi saat melihat orang yang memakai sepatu itu. Yoona, dia memasang wajah khawatirnya dengan begitu jelas. Dia memakai gaun yang aku yakini sebagai gaun resepsi pernikahannya, dia rupanya belum sempat menggantinya hanya untuk mencariku. Dia rupanya khawatir denganku yang pergi kepantai malam-malam. Aku tidak akan seperti ini jika ada masalah berat yang menimpaku, itu yang dia ketahui.

Oppa, kau kenapa disini ?”

“Kau sendiri, kau kenapa disini ?”

“Aku mencarimu digereja tadi, aku juga mencarimu diapartemen dan dikantor. Tapi kau tidak ada disana, tadi kenapa kau tidak ada disaat pemberkatan pernikahanku ?”

Diam, aku hanya diam tidak menjawab pertanyaannya. Tiba-tiba saja tubuh ini menghampiri tubuhnya dengan cepat dan dengan sigap memeluknya. Membelai rambutmu yang sedikit ikal karena dibuat untuk acara pernikahanmu. Aku yakin sekarang dia sudah mengerutkan dahinya bingung karena saat ini aku sedang menangis. Dia pasti menyadari itu karena aku menangis dibahunya dan membasahi punggungnya yang terbuka. Aku merasa bahwa tubuhku sedikit menjauh darinya. Dia yang melakukannya.

“Kau kenapa ?”

“Aku mohon, jangan kembali kepada Sohyun lagi. Dia orang jahat Yoong,” aku merasa pipiku sedikit panas akibat tamparan yang diberikannya sebagai balasan permintaanku. Yoona menatapku seperti tidak percaya akan ucapanku. “Oppa, kau jahat.”

Aku menggeleng tidak terima, “suamimu, Sohyun, dia yang jahat. Percayalah sebelum kau benar-benar menyesal.” Dia menggelengkan kepalanya tidak terima dan beranjak pergi meninggalkanku. Badannya kembali berputar saat tanganku menghalangi jalannya. “Saranghae, aku mencintaimu lebih dari seorang sahabat. Maaf, maaf jika aku mengatakan kata-kata yang seharusnya tidak boleh kuucapkan. Tapi aku bersikap seperti ini karena aku tidak ingin kau terpukul kembali. Perhatian yang kuberikan juga lebih dari seorang sahabat. Maaf, maafkan aku.”

“Tapi aku tidak bisa membalas cintamu. Aku mencintai Sohyun Oppa. Kau kan tahu kalau aku hanya menganggapmu sebagai sahabat sekaligus kakakku, tidak lebih. Maaf karena tidak bisa membalas cintamu dan maaf juga karena tidak bisa mempercayaimu oppa. Pergilah mencari wanita yang bisa membalas cintamu, kau tidak pantas untuk aku. Kau terlalu sempurna untuk gadis semacam aku,” Yoona pergi begitu saja meninggalkan kata-kata yang dapat membuatku semakin sakit. Dapatku lihat dia menaiki mobil yang didalamnya ada suaminya. Mobil yang membawanya telah menghilang dari pandanganku begitu cepat. Aku menekan dada sebelah kiriku, letak dimana hatiku yang sakit. Memukulnya berharap rasa sakit itu hilang dengan cepat.

Mobilku telah pergi meninggalkan tempat yang menjadi saksi bisu penolakan Yoona. Dimana bulan juga menjadi saksi selain pantai itu. Aku sendiri juga tidak sadar bahwa aku bisa mengatakan kalimat pernyataan cinta itu dengan cepat dan lancar.  Jalanan malam ini benar-benar sangat sepi, jam juga sudah menunjukan angka didua belas. Mobil ini terparkir rapi ditempat parkiran apartemenku. Setelah mengambil barang-barangku dan mengurus kepergianku dari sana, aku kembali masuk kedalam mobil yang akan membawaku kebandara menuju negara lain. Negara yang pastinya membuatku tidak bisa melihat Yoona kembali. Selamat tinggal, Yoona. Mulai saat ini aku akan berhenti memikirkanmu dan mencari wanita lain seperti apa yang kau inginkan. Semoga saja hidupmu tidak seburuk yang aku pikirkan, semoga saja Sohyun bisa menjagamu dengan baik.. Selamat tinggal.

.

.

.

.

.

.

a/n : Annyeong readers…

aku kembali dengan ff yang membuat kalian kecewa, maaf banget ya ini sad-ending karena lirik lagu moonlight memang seperti itu. tapi walaupun begitu aku menunggu komentar kalian. Aku harap kalian menyukai ff ini walaupun memang sangat mengecewakan. Aku bakal buat sequel kok kalo kalian mau, tapi komennya dulu ya ? Big thanks untuk resty eon/echa eon yang mau ngepost ff ini dan mau direpotin sama aku. #bow #bungkukbarengbaek

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

110 Komentar

  1. kim soo hyun thor aka do min joon,, wkkwkkw
    boleh thor klo sma oppa itu

    Balas
  2. Rachel

     /  Juni 22, 2014

    Huwaa.. jdi sedih bacax😦 yoonwon x gak bersatu😦
    songfic ini keren thor, yah wlau sad ending -_- tapi daebakk buat author deh, soalx feelx dpt banget (y) di tunggu karya” selanjutx thor, fighting!!🙂

    Balas
  3. rinabere

     /  Juni 22, 2014

    ingin nangis

    Balas
  4. Yah… sad ending, kenapa yoona lebih milih soohyun dari pada siwon yg jelas2 udah ngasih segala nya buat dia… ckckckc… kalo gitu siwon hrs dpt yg lebih dari yoona….

    Balas
  5. Maya YoonWonited

     /  Juni 24, 2014

    kasian bgt siwon,,kenapa yoona dibutakan oleh sohyun sampe ga pernah percaya sama siwon..
    thor tolong buat sequelnya buat yoona sadar klo sohyun itu ga baik buat dia cuma siwon yg bisa buat dia bahagia buat yoona menyesal dg keputusannya mengabaikan ucapan siwon selama ini thor…jebal
    ditunggu^^

    Balas
  6. KieWonkyu

     /  Juni 25, 2014

    kasian my baby siwonie ;^( knpa yoona gx prnh mau prcya ucpan siwon klo soohyun itu gx baik ,, klo dia cma mau mnfaatin kkayaannya aja
    n knp siwonnya gx prnh bsa marah bnr” pdhal dia udh trllau dskitin sma yoona ,,
    sequel ya thor ,,bkin yoona nya mnyesl krna gx prcya sma siwon n bkin dia mnyesl krna trlmbat siwonnya udh pergi ,, dtnggu😉

    Balas
  7. kasian siwon, mau coba ngasih tau yoona tpi gk di dengerin *poor siwon
    thor sequel ne😀

    Balas
  8. deka

     /  Juni 26, 2014

    tinggalin jejak dlu eonni please

    Balas
  9. WINDY

     /  Juni 27, 2014

    ok fix, aku suka ff ini. fellnya dapet bangettttttt… endingnya bikin sedih. so buat authornya DAEBAKKK.😀

    Balas
  10. Keren ceritanya tpi sad end gitu huhu😥

    Balas
  11. Dhiah MeyLiana

     /  Juni 30, 2014

    Oh my siwon…
    Buat aku aja sini😀
    ahh, need sequel dong😦 ga tega liat siwon u,u

    Balas
  12. kasihan uri simba…bener2 butuh sequel nih…

    Balas
  13. anisya putri karina

     /  Juli 2, 2014

    kasihan banget siwon oppa nya…
    yoona eonnie sih, g prcaya ma wonppa…

    sequel nya yah thor🙂 please…

    Balas
  14. mongochi*hae

     /  Juli 11, 2014

    nyesekkkk bgt bcany…
    masa yoona gk sadar2 sih klo d.boongin soohyun.

    bru thu t stlh siwon pergi yoonany…
    pasti kehilangan..

    sequel…

    Balas
  15. kadek ayu septiani

     /  Juli 14, 2014

    please squelnya dong,pngin thu gmna nasibnya wonpa th di tinggal ma yoona eooni

    Balas
  16. Huaaaahhhh sad ending ,, kasian banget wonnpa ,😥 kenapa dsini yoona ngeselin banget ? :’p mauu ajj dbohongin sama sohyun dan gaa prcaya sama kata2 siwon , smoga ad sekuelnya ,, dan bkin yoonwon bersatu :’)

    Balas
  17. Evi

     /  Agustus 11, 2014

    Sedih banget ampe nangis kasian siwon oppa

    Balas
  18. kok yoona TT_TT sequel dong thor biar ga sad-ending gini, hiks siwon kasian banget sih :v

    Balas
  19. arin

     /  April 29, 2015

    sad ending😦 harusnya yoona percaya sama siwon, yoona kan udah sering dibuat nangis sama si sohyun itu😦

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: