[FF] The Princess’ Love (Part 9)

schoolpic copy

[FF] The Princess’ Love (Part 9)

Author             : Indah (bianglalala27@gmail.com)

Type                : Chapter

Main Cast        : Choi Siwon, Im Yoona

Support Cast   : Seo Joo Hyun, Lee Donghae, Leeteuk, Kim Taeyeon, Kwon Yuri, Kim Jong Woon, etc

Genre              : School Life, Romance, Friendship

Rating             : 15+

 

Nited, anyeong!!!! *ngelapin ff yang udah berdebu ini

Pasti kalian udah bosen baca banyak alasan yang membuat ff ini baru saya post. Tapi yang penting saya udah berusaha semaksimal mungkin menyelesaikan part ini secepat yang saya bisa. Dan saya agak sedikit melakukan eksperimen di part ini. Jujur saya nggak terlalu suka sama yang berbau action, tapi entah kenapa malah di part ini ada sedikit adegan itu. Jadi sebelumnya saya mau minta maaf kalo feelnya ngga dapet. Maklumlah, kan amatiran. Hehe.. kalo ada typo mohon dimaafkan.

No Siders!

 

Part 9

Eomma, entah bagaimana aku telah jatuh cinta pada gadis yang membawa liontinmu. Apa Eomma sengaja membuatnya datang padaku agar aku bisa merasakan cinta? Kalau itu benar, aku sangat berterima kasih. Gadis itu membuatku mengerti banyak hal yang sebelumnya tak pernah kupikirkan. Dia luar biasa, dengan semua luka yang ia terima selama ini. Aku pernah berjanji pada diriku sendiri untuk melindunginya, tapi sepertinya tak bisa kulakukan. Aku tidak punya kepercayaan diri untuk melakukannya. Bahkan mungkin aku akan menjadi orang yang paling menyakitinya. Jadi, kurasa lebih baik kalau dia membenciku dari sekarang, sehingga dia tidak akan terlalu tersiksa saat mengetahui semua kebenaran ini. Apa aku melakukan hal yang benar, Eomma? -Choi Siwon-

 

Jangan menangis, kumohon, pinta Siwon dalam hati saat Yoona menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Saat ini mungkin kau akan bersedih, tapi suatu hari, aku yakin tawamu akan kembali. Di hari itu, aku berharap akan ada bersamamu.

“Aku pergi,” kata Siwon. Ia berbalik dan mulai melangkah meninggalkan Yoona.

“Hanya karena itu?” tanya Yoona. Melihat Siwon berhenti, ia berlari menyusul dan berdiri di depannya. “Semua ini hanya karena Donghae Sunbae?”

Siwon mengambil napas sejenak, berharap ada oksigen yang mampu mengurangi sesak di dadanya. “Eoh.”

“Maldo andwe,” desis Yoona tidak percaya.

“Bukankah aku pernah bilang padamu untuk percaya padaku? Kali ini percayalah. Kita sebaiknya saling menjauh.” Siwon berjalan melewati Yoona dengan langkah-langkah panjang. Meninggalkan gadis yang masih betah mematung di tempatnya tadi. Terlalu terkejut mungkin, atau sibuk menangis. Siwon tidak ingin tahu. Lebih baik ia tidak tahu daripada harus mengubah pendiriannya lagi saat melihat Yoona menangis.

Gotjimal, batin Yoona. Dengan kasar tangannya menghapus air mata yang mulai mengalir di pipinya. “Aku tahu Oppa berbohong. Tapi kenapa? Apa Oppa tidak percaya padaku?” gumam Yoona pahit.

***

 

Jemari Yoona membolak-balik sebuah karet penghapus berbentuk rillakkuma yang diberikan Siwon padanya beberapa waktu lalu. Ia duduk di lantai kamarnya, dengan kedua lutut tertekuk dan punggung yang bersandar pada tempat tidur. Tidak banyak yang bisa ia lakukan saat Siwon meninggalkannya di atap gedung sekolah siang tadi selain menangis. Kepalanya hampir pecah memikirkan alasan yang membuat Siwon berkata seperti itu padanya.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Yoona pada karet penghapus itu, seolah ia sedang bicara pada Siwon. Matanya kembali mengeluarkan setetes cairan bening yang jatuh melewati pipinya.

“Yoona, kau di dalam?” pintu kamar Yoona terbuka, menampakkan wajah Im Tae San yang terlihat lelah.

Tangan Yoona refleks menghapus sisa air mata di pipinya begitu melihat sang ayah yang berjalan mendekat. Ia sedikit beringsut memberikan tempat di sampingnya untuk Tae San. Bibirnya memaksakan senyum tipis menyambut ayahnya yang tiba-tiba datang. “Apa semuanya baik-baik saja?”

Tae San menyentuh pipi Yoona yang masih agak basah, menyeka sisa air mata putrinya itu dengan lembut. “Kau menangis? Patah hati?” tebaknya.

Kepala Yoona mengangguk kecil. “Kurang lebih seperti itu,” jawabnya lemah. Agak heran sebenarnya karena ayahnya bisa menebak apa yang terjadi padanya. “Appa, semuanya baik-baik saja? Benarkah kejaksaan akan segera menangkap Appa?” Yoona mengulangi pertanyaannya tadi.

“Mungkin iya, mungkin juga tidak,” balas Tae San santai.

Yoona mengangkat kedua alisnya heran, tidak mengerti dengan jawaban ayahnya. “Memangnya apa yang telah Appa lakukan sampai-sampai kejaksaan mencurigai Appa?”

Tae San mendesah singkat, tahu kalau sudah saatnya Yoona juga berhak mendapat jawaban atas semua pertanyaannya selama ini. Namun ia tak tega membiarkan Yoona sedih karena kenyataan yang ada. “Dengar, yang perlu kau ketahui, adalah Appa melakukan semua ini untukmu. Appa ingin kau hidup dengan baik dan tidak kekurangan apapun. Apapun akan Appa lakukan agar tak ada yang bisa melukaimu, atau membuatmu patah hati. Kau percaya pada Appa?”

“Tapi kalau benar kejaksaan akan menangkap Appa, siapa yang akan melindungiku?” gumam Yoona lirih. “Bagaimana kalau aku patah hati lagi? Lalu siapa yang akan mendampingiku dan Yuri Unnie saat kami menikah?”

Tatapan Yoona padanya membuat Tae San teringat pada Seo Yoon Joo di akhir hidupnya. Kalau ia pergi, Yoona akan semakin kesepian. Tak akan ada yang melindunginya. Dia akan benar-benar sendirian. Aku tidak bisa meninggalkannya, batin Tae San pahit. Aku telah berjanji pada Yoon Joo untuk selalu ada baginya. Tak akan kuingkari janji itu. “Kejaksaan tidak akan menangkap Appa. Percayalah,” ucapnya seraya mendekap Yoona yang mulai terisak. “Semuanya akan baik-baik saja.”

 

Tae San duduk di ruang kerjanya dengan kedua tangan menyatu menyangga dagunya. Tatapannya tertuju pada ponsel yang ia letakkan di atas meja. Beberapa menit kemudian, tangannya meraih ponsel itu, membuat sebuah panggilan. Dengan sabar ia menunggu orang di seberang mengangkat teleponnya.

“Cabut semua gugatanmu,” katanya tanpa basa-basi begitu teleponnya diangkat. “Kau tahu betul akibatnya jika tetap melakukan itu. Ini bukan gertakan. Aku benar-benar akan membunuhnya.”

Klik. Tae San tidak membiarkan orang di seberang membalas ancamannya. Dia memang tak butuh itu. Yang ia mau hanya agar orang itu tahu kalau perkataannya tidak main-main.

Di rumahnya, Choi Ki Ho masih menatap layar ponselnya yang baru saja berbunyi. Terkejut dengan kata-kata dari Tae San yang baru ia dengar. Kali ini ia yakin Tae San tidak hanya sekedar menggertak seperti sebelumnya. Ki Ho bisa merasakan kesungguhan dalam ucapan sahabat lamanya itu.

“Abeoji, siapa yang menelepon?” tanya Siwon heran melihat ayahnya hanya mematung sejak mendapat panggilan telepon.

Ki Ho hanya diam, masih tidak percaya pada ancaman Im Tae San. Merasa tidak sabar karena ayahnya tidak juga menjawab, Siwon merebut ponsel dari tangan Ki Ho dan memeriksa daftar panggilan masuk. “Apa yang diinginkan orang ini?” tanyanya lagi begitu mengetahui identitas penelepon.

“Dia akan membunuh ibumu jika kita tidak mencabut gugatan,” jawab Ki Ho lirih. “Ini bukan hanya gertakan seperti sebelumnya, dia benar-benar serius.”

“Jeongmallyo?” Jemari Siwon mengepal erat, memperlihatkan otot-otot di punggung tangannya yang menegang. Rasa marah langsung merasuki dadanya. “Ayo kita selamatkan Eomma, kita tidak bisa membiarkannya dalam bahaya seperti ini,” ucapnya kalut. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah keselamatan ibunya. “Kita harus menemui Jaksa Lee.”

“Tunggu!” cegah Ki Ho saat Siwon bangkit dan memakai jaketnya. “Pikirkan baik-baik. Im Tae San tidak main-main dengan kata-katanya tadi. Jika kita melakukan langkah gegabah, dia bisa saja melakukan ancamannya sekarang juga. Kita harus berhati-hati.”

Rahang Siwon mengeras. “Tapi Eomma dalam bahaya,” desisnya. “Kita lakukan saja keinginannya.”

Ki Ho meremas bahu Siwon, bermaksud menguatkan keyakinannya yang tengah goyah. “Tidak ada jaminan kalau dia akan menuruti keinginan kita. Dia bisa saja melakukan hal yang jauh lebih buruk dari ini.”

Siwon membuang napas kasar. Frustasi karena tak menemukan secuil pun jejak ibunya, bahkan setelah bertahun-tahun.

***

 

“Eomma sudah mengajukan surat permohonan cerai. Tapi Appa belum menyetujuinya,” Yuri yang sedang menyetir sedikit melirik ke arah Yoona yang ada di sampingnya. Yuri telah menawarkan diri untuk mengantar Yoona pergi ke sekolah, yang tentu saja diterimanya. Bagi Yoona, ini merupakan kesempatan langka yang mungkin entah kapan akan datang lagi. “Tampaknya Eomma benar-benar sudah tidak mencintai Appa,” lanjut Yuri getir.

Yoona menghela napas pelan. Ia ingin mempertahankan keutuhan keluarganya, tapi orang tuanya tidak lagi bisa hidup bersama. “Apa Unnie akan pindah bersama Eomma setelah mereka bercerai?”

Kedua alis Yuri menyatu, mencoba menerka darimana Yoona tahu rencana itu. Seingatnya ia tak pernah mengatakan apapun pada adiknya. “Bagaimana kau tahu kalau kami berniat untuk pindah?”

“Itu… aku tidak sengaja mendengar Unnie dan Eomma bicara beberapa waktu lalu,” jawab Yoona ragu, masih takut kalau-kalau Yuri akan kembali pada sikapnya yang dulu.

“Ya! Kau menguping? Joengmall!” seru Yuri.

“Aku tidak sengaja. Waktu itu pintu kamar Unnie sedikit terbuka dan suara kalian terdengar dari luar,” kata Yoona membela diri. “Aku benar-benar tidak sengaja.”

Yuri tersenyum sambil terus menatap jalanan di depannya. Geli melihat tingkah ketakutan Yoona. “Saat itu kau pasti sangat sedih,” gumamnya.

Yoona hanya tersenyum pahit mengiyakan, membiarkan sunyi menemani sisa perjalanan mereka. Pikirannya dipenuhi semua kejadian yang datang bertubi-tubi. Tentang masa depan yang sedang menantinya, juga orang-orang yang ia sayangi.

“Bukankah itu Siwon?” ucap Yuri ketika mereka telah berada di dekat sekolah yang membuat lamunan Yoona buyar. Gadis itu sedikit memperlambat mobilnya agar bisa melihat lebih jelas.

Tatapan Yoona mengikuti pandangan kakaknya, dan mendapati Siwon sedang berjalan di trotoar bersama Leeteuk. “Eoh, bersama Leeteuk Sunbae, ayahnya pemilik bar yang sering Unnie datangi. Dia adalah manajer tidak resmi di sana.”

“Ah, pantas sepertinya aku mengenal wajahnya. Kau mau turun di sini?”

“Mengapa aku harus turun di sini?”

Yuri berdecak. “Tidak ingin berangkat bersama pacarmu?”

“Dia bukan pacarku lagi,” balas Yoona lirih.

“Kalian ini,” cibir Yuri mengejek, namun tak ia selesikan karena melihat raut sedih Yoona. Dalam hati ia bertanya-tanya apa yang membuat hubungan keduanya menjadi seperti ini. Ia lalu menepikan mobilnya dan melepas sabuk pengaman yang Yoona kenakan. “Kau turun di sini. Temui Siwon sekarang.”

“Shireo.” Yoona tidak yakin mampu menahan tangisnya kalau-kalau Siwon memperlakukannya seperti kemarin. Dan ia tidak mau menjadi tontonan orang karena menangis di pinggir jalan.

Kedua tangan Yuri mendorong Yoona agar segera keluar dari mobilnya. “Bicaralah kalau kau masih menyukainya. Asal kau tahu, gadis-gadis di bar selalu menggoda Siwon setiap waktu. Dia bisa dengan mudah mencari pacar lagi.”

“Unnie!” seru Yoona kesal saat Yuri berhasil mengusirnya keluar. Ia memandang mobil Yuri yang melesat meninggalkannya di tepi jalan dengan pasrah. “Bahkan setelah berbaikan denganku dia tetap menyebalkan,” umpatnya. Yoona menghela napas panjang, menyiapkan diri bertemu dengan Siwon yang semakin dekat dengannya.

“Ya! Kalian mau bermesraan di pagi hari?” seru Leeteuk begitu menyadari Yoona ada di depan mereka.

Siwon tidak terkejut melihat Yoona. Cepat atau lambat gadis itu pasti akan datang menuntut penjelasan lebih lanjut padanya. Alasan yang ia ucapkan untuk putus memang tidak terlalu meyakinkan, setelah semua waktu yang mereka lewatkan bersama. Namun kenyataan yang ada justru sepertinya jauh lebih menyakitkan jika diungkap. Sikapnya kembali acuh, seakan ia tidak pernah mengenal gadis itu. Seakan ada lapisan es yang menyelimutinya, yang bertambah tebal bersamaan dengan datangnya musim dingin.

Jantung Yoona berdebar ketakutan karena Siwon lagi-lagi tak membalas tatapannya. Takut kalau Siwon benar-benar serius dan tak punya perasaan khusus padanya. Bahkan mungkin saat ini ia menganggap Yoona tidak kasatmata, hingga berjalan melewatinya begitu saja. Dada Yoona mendadak sesak menahan isakan. Lagi, orang yang sangat ia percaya tiba-tiba mengabaikannya. Pergi meninggalkannya dengan alasan yang tidak masuk akal. “Oppa,” panggilnya yang membuat langkah Siwon terhenti.

“Ada apa dengan kalian?” Leeteuk ikut berhenti, berdiri di antara Siwon yang memunggungi Yoona dengan kening ditekuk. Jelas ia heran melihat Siwon kembali dingin padahal kemarin masih baik-baik saja. “Kalian bertengkar?”

Yoona membalas pertanyaan Leeteuk dengan tatapannya, memohon agar ia pergi lebih dulu dan membiarkan mereka berdua.

Melihat raut wajah Siwon yang tegang membuat Leeteuk tahu kalau dugaannya benar. Ada yang sesuatu di antara mereka. “Arra, aku akan pergi,” gerutu Leeteuk. Meski penasaran dengan apa yang terjadi, ia tetap berjalan menjauh meninggalkan keduanya.

“Aku tidak keberatan kalau Oppa mendekatiku karena Donghae Sunbae,” kata Yoona. Entah darimana pikiran itu datang. Tanpa pertimbangan gadis itu langsung mengatakan apa yang terlintas di otaknya. “Oppa bisa memanfaatkanku agar Donghae Sunbae marah, asalkan kita bisa sering bertemu seperti biasa.”

Siwon mendesah tidak percaya mendengar Yoona yang dengan penuh keyakinan mengucapkan gagasan bodohnya. Menyadari kalau pengaruhnya pada Yoona sudah terlalu besar, hingga gadis itu rela merendahkan dirinya. “Mengapa kau mau melakukan itu?” tanyanya dengan masih memunggungi Yoona.

Kaki Yoona maju selangkah, lalu ia menautkan kedua lengannya di pinggang Siwon. Punggung Siwon yang kokoh ia gunakan sebagai sandaran kepalanya. “Karena aku merasakan ketulusan di semua hal yang Oppa lakukan untukku.”

Tangan Siwon meremas jemari Yoona yang ada di pinggangnya sebentar, kemudian melepas tautan itu. Ia berbalik, menatap tajam gadis di depannya itu. “Jangan naif.”

Yoona balas menatap Siwon, sedikit mendongak karena pemuda itu lebih tinggi darinya. Ada kilat amarah yang terpancar dari iris matanya, membuat Yoona merasakan kengerian menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. “Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi,” pintanya lemah. “Jangan biarkan aku menjadi orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Jeball, Oppa.”

Kemarahan masih menguasai Siwon sejak semalam. Saat ayah Yoona mengancam akan membunuh ibunya. Ia tidak bisa memaafkan manusia yang berbuat seperti itu untuk kekuasaan dan harta. “Orang yang menggugat ayahmu, adalah ayahku. Bertahun-tahun ia membuat hidup kami menderita. Kami ingin ayahmu membayar atas semua yang telah ia lakukan. Kau bisa bersamaku setelah tahu ini semua? Setelah tahu aku akan menghancurkan keluargamu?” ucap Siwon sinis.

“Mwo?” Yoona tertegun. Kini Yoona mulai paham keanehan antara Siwon dan Donghae saat mereka bertemu di restoran. Cepat ia mengambil napas dalam, berusaha meredakan rasa terkejut yang menyakitkan. “Apa yang telah Appa lakukan pada keluargamu?”

“Dia mengkhianati ayahku dan mengambil semua yang menjadi milik kami.” Termasuk ibuku, imbuh Siwon dalam hati. Untuk yang satu itu, ia tidak ingin Yoona tahu. Tak tega membiarkan gadis itu ikut merasa bersalah atas apa yang tak ia lakukan.  “Sudah puas? Masih ingin bersamaku?” cecar Siwon sinis.

Yoona menunduk, membuat setetes air matanya jatuh ke lantai beton di bawahnya. “Jinjayo?” gumamnya tidak percaya. Jadi selama hidupnya ia telah menggunakan uang orang lain. Sebuah tawa getir muncul di sela tetesan air matanya. Menyadari betapa memuakkan hidupnya selama ini. “Lalu apa yang akan Oppa lakukan?”

Siwon terdiam beberapa detik. “Aku akan membuat ayahmu membayar semuanya. Karena kau sudah tahu hal ini, kuharap kau tidak lagi muncul di hadapanku. Kembalilah ke Amerika.” Ia lalu berbalik, berjalan menjauhi Yoona. Ada rasa sesal yang menyelinap masuk ke hatinya, saat ia lagi-lagi membiarkan amarah menguasai dirinya. Membuatnya mengatakan sesuatu yang kejam pada gadis itu.

Mianhe, Yoona-ya. Pergilah sejauh mungkin dari sini, agar kau tak perlu merasakan kemarahanku, ucap Siwon dalam hati.

***

 

Seo Joo Hyun sudah mengelilingi hampir separuh sekolah namun ia belum juga menemukan Yoona. Seharian ini gadis itu membolos, meminta izin ke ruang kesehatan tapi ia tak ada di sana saat Joo Hyun menyusulnya. Napas Joo Hyun nyaris putus karena area Hyundai sangat luas. Akhirnya ia bertanya pada beberapa siswa apakah mereka melihat Im Yoona.

Mengikuti petunjuk dari salah seorang siswa, Joo Hyun pergi ke atap gedung sekolah dengan langkah tergesa. Sebuah pemandangan menyedihkan membuat langkahnya terhenti di pintu menuju atap gedung. Ia mendapati Yoona sedang duduk bersandar pada pagar tembok yang mengelilingi atap di sudut. Kepalanya menunduk dalam sementara bahunya sesekali bergetar.

“Apa dia sedang menangis?” gumam Joo Hyun yang mengintip dari pintu. “Apa lagi yang terjadi padanya?” Gadis itu masih mengamati Yoona dari kejauhan. Berpikir mungkin Yoona memang butuh waktu untuk sendiri. “Yoon Joo Imo pasti akan sedih jika melihatmu seperti ini. Andai saja ia masih ada di sini,” bisik Joo Hyun.

“Siapa Yoon Joo Imo?” seseorang berbisik di telinga Joo Hyun.

“Adik ayahku,” jawabnya, masih terus fokus melamun memandang Yoona. Dua detik kemudian kedua alisnya menyatu bingung. Cepat-cepat ia menolehkan kepalanya ke belakang. “Sunbae,” serunya terkejut. Ia mengelus-elus dada, berharap detak jantungnya bisa normal kembali. “Apa yang Sunbae lakukan?”

Donghae tersenyum singkat tanpa menjawab pertanyaan Joo Hyun. Ia tadi tak sengaja melihat Joo Hyun berjalan tergesa menuju atap, lalu mengikutinya. Pilihan yang tepat, begitu pikirnya karena menemukan Yoona juga. “Mengapa adik ayahmu akan sedih karena melihat Yoona menangis?”

“Mwo?” Mata Joo Hyun mengerjap beberapa kali, belum sadar sepenuhnya dari keterkejutan karena kemunculan Donghae yang tiba-tiba. Ia merutuki kebodohannya sendiri setelah begitu ceroboh meracau seperti tadi. “Aku hanya mengatakan kalau Yoona terlihat sangat menyedihkan.”

“Mengapa adik ayahmu akan sedih karena melihat Yoona menangis?” ulang Donghae sambil sedikit mencondongkan tubuhnya pada Joo Hyun, berusaha mengintimidasi gadis itu agar mau berterus terang.

Joo Hyun mundur menghindari Donghae. “Semua orang pasti sedih jika melihat Yoona seperti itu,” ucapnya gugup. Otaknya sering sulit diajak bekerja sama saat sedang terdesak. “Sunbae kemari karena ingin bertemu Yoona? Cepat temui dia sebelum pelajaran kembali dimulai,” Joo Hyun berniat mengambil langkah seribu sebelum Donghae semakin curiga.

Tangan Donghae meraih bahu Joo Hyun, mencegahnya melarikan diri dan mendorongnya pelan hingga tersudut di dinding. Pendengarannya masih cukup baik untuk tidak salah menangkap omongan Joo Hyun tadi. Sikap Joo Hyun yang terkesan menutupi justru membuatnya semakin penasaran. “Cepat jawab pertanyaanku,” desaknya.

“Sunbae, kumohon jangan tanya hal itu lagi padaku karena aku tidak bisa mengatakannya,” pinta Joo Hyun memelas. Jantungnya berdebar semakin kencang saat Donghae semakin mencondongkan tubuhnya. “Sunbae,” rengeknya takut.

Donghae menyerah. Entah mengapa ia tak tega melihat wajah ketakutan gadis itu. Tak menyangka Joo Hyun yang selalu terlihat dingin bisa dengan mudahnya ditakut-takuti seperti itu. Ia melepas pegangan tangannya di bahu Joo Hyun lalu mundur satu langkah. “Aku belum melakukan apa-apa tapi kau sudah ketakutan,” keluhnya. “Tapi aku akan tetap mencari tahu tentang ini,” lanjut Donghae menekankan.

“Terserah apa katamu, Sunbae,” sungut Joo Hyun. Ayahnya pasti akan marah jika mengetahui hal ini. Joo Hyun pabo, makinya dalam hati.

Donghae terkekeh. “Ah, gomawo sudah menjadi mata-mataku. Kau agen yang hebat,” katanya, merasa ia selalu dapat menemukan Yoona karena bantuan gadis itu, langsung atau tidak. Donghae mengacungkan ibu jarinya di depan Joo Hyun sambil tersenyum geli karena gadis itu masih cemberut. Tangannya terangkat untuk mengacak rambut Joo Hyun. “Lain kali kutraktir es krim sebagai ucapan terima kasih.”

Joo Hyun memperhatikan Donghae yang menghilang ke balik pintu untuk pergi menemui Yoona di atap. Tak mengerti mengapa siswa yang dikenal badung itu tahu cara berterima kasih. Ia lalu merapikan rambutnya yang agak kusut karena Donghae. “Seenaknya saja dia memegang kepalaku setelah menakutiku seperti itu,” gerutunya.

***

 

Yoona duduk memeluk kedua lutut, menenggelamkan kepalanya di antara mereka. Ucapan Siwon terus terngiang di telinganya. Semua ini karena ayahnya, dan ayahnya melakukan itu untuk dirinya. Jadi selama ini penyebabnya adalah ia sendiri. Lalu haruskah ia kembali ke Amerika, lari seperti pengecut? “Aku tidak akan melakukannya,” desisnya pelan.

Kepala gadis itu mendongak ketika terdengar langkah yang mendekat. Matanya menangkap senyum joker yang menjadi senjata andalan Donghae. Dihapusnya sisa air mata yang masih menempel di pipi. “Ada apa, Sunbae?” tanyanya begitu Donghae mengambil tempat di sampingnya.

Donghae menatap Yoona sepintas, lalu mengalihkan pandangannya ke langit. Terlalu menyedihkan melihat keadaan Yoona seperti itu. “Siwon yang membuatmu begini?”

“Mwo?”

“Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku pergi menghajarnya atau tetap di sini menghiburmu?”

Yoona tersenyum simpul, menyadari kalau itu telah menjadi ciri khas Donghae. Berpura-pura jahat namun sebenarnya berniat baik. “Jangan menghajarnya.”

“Sebenarnya apa yang terjadi denganmu?” Donghae menatap Yoona sungguh-sungguh. “Membolos lalu menangis sendirian di atap. Membuat semua orang khawatir saja. Joo Hyun bahkan mencarimu ke seluruh sekolah.” Ia mendesah jengah menanti Yoona bereaksi.

Selama beberapa saat Yoona hanya diam, tidak berniat membalas atau berdebat dengan pemuda di sampingnya itu. “Mengapa Sunbae tidak mengatakan kalau ayah Siwon Oppa yang menggugat Appa? Dengan begitu kami bisa saling membenci lebih awal,” gumam Yoona pelan.

“Aku tak punya hak untuk berbuat seperti itu. Lagipula akan lebih seru jika Siwon yang mengatakannya langsung padamu,” balasnya setengah bercanda.

Tawa getir Yoona terdengar sesaat. “Jadi Sunbae menikmatinya?”

Donghae meringis, menyadari candaannya tidak berada pada waktu yang tepat. “Bukan begitu, aku hanya bercanda,” ucapnya menyesal. “Sejujurnya, aku lebih suka melihatmu ketus padaku daripada seperti ini.”

“Wae? Bukankah Sunbae mendekatiku karena Siwon Oppa?”

“Siapa bilang? Membuat Siwon jengkel karena aku dekat denganmu adalah bonus bagiku.” Donghae menggeliat, meregangkan kedua tangannya sambil menengadah ke langit. “Hari ini sangat cerah, jangan habiskan waktumu untuk menangis,” nasihatnya sok bijak. “Kelas akan dimulai sebentar lagi, jadi cepatlah kembali.” Ia bangkit berdiri, meregangkan tubuhnya sekali lagi.

Yoona tersenyum melihatnya. Kesan pertama yang ia dapat saat bertemu pemuda itu perlahan memudar. Donghae tidak seburuk yang orang-orang pikirkan, andai saja ia mau menunjukkan sikap manisnya di depan semua orang, tentu lebih baik.

“Kau bisa memanfaatkanku agar Siwon cemburu,” katanya sambil berbalik menatap Yoona. “Aku tidak keberatan.”

Alis Yoona menyatu heran. “Bukankah Sunbae berharap aku dan Siwon Oppa cepat putus? Mengapa ingin membantuku? Tidakkah kau memanfaatkan kesempatan ini untuk membuatku menyukaimu?”

Donghae terkekeh. “Aku sedang melakukannya. Tujuanku sebenarnya adalah membuatmu jatuh cinta padaku karena menyadari aku lebih baik dari Siwon. Kau sudah lebih menyukaiku sekarang?” ucapnya sambil berjalan mundur dan melambaikan tangan.

“Dasar gila,” umpat Yoona begitu Donghae menghilang dari pandangannya. Ide membuat Siwon cemburu sebenarnya cukup menyenangkan. Tapi haruskah ia melakukannya? Ayahnya telah melakukan hal buruk demi dirinya, namun Yoona justru sibuk memikirkan perasaannya sendiri. Rasa bersalah menelusup di hatinya, membuat kepalanya kembali terkulai lemah.

***

 

Siwon menyerahkan kartu pengenal dan menandatangani beberapa berkas di kantor Jaksa Lee ditemani ayahnya. Ia baru saja menyerahkan bukti kalau dialah pemilik sebagian aset A Grup, yang diberikan oleh ayahnya beberapa tahun lalu. Dengan itu mereka berniat merebut kembali aset-aset yang diklaim Im Tae San menjadi miliknya.

“Proses audit sedang dilaksanakan. Jika Tuan Im terbukti melakukan suap, kita bisa segera menangkapnya,” kata Jaksa Lee pada Siwon dan  ayahnya.

“Berapa lama hukuman yang mungkin diberikan pada Tuan Im?” tanya Siwon.

Jaksa Lee sedikit mengangkat alisnya, tidak menyangka Siwon akan menanyakan hal semacam itu. “Mungkin sekitar sepuluh tahun, bisa lebih atau kurang. Kami masih belum bisa menuntut untuk lama hukuman karena dia masih dalam penyelidikan. Dan untuk Nyonya Han, saya bisa melakukan penyelidikan secara diam-diam untuk mencari tahu keberadaannya. Hanya saja, mungkin butuh waktu cukup lama.”

Perhatian mereka kemudian teralih pada suara ketukan pintu yang berasal dari luar, meminta izin untuk masuk. Setelah Jaksa Lee memberikan izinnya, pintu itu terbuka. Donghae masuk dari sana, membawa amplop cokelat besar yang kemudian ia serahkan pada ayahnya.

“Akhirnya kau berguna juga,” ucap Jaksa Lee pada putranya saat menerima amplop itu. Dia telah menyuruh Donghae mengantar berkas yang tak sengaja ia tinggalkan di rumah.

Siwon memperhatikan Donghae yang menatapnya tajam sekilas. Sedikit terkejut melihat Donghae di tempat itu. Tatapannya baru teralih setelah Jaksa Lee meneruskan bicara.

“Kalian pasti saling mengenal,” katanya pada Donghae dan Siwon. “Kurasa kalian ada di tingkat yang sama.”

“Nde,” jawab Donghae ramah. Ia sama terkejutnya dengan Siwon saat mendapati pemuda itu sedang bersama ayahnya. Kebetulan sekali, aku tidak perlu repot-repot mencarinya, pikir Donghae. Kepalanya mengangguk kecil pada Ki Ho. “Saya dan putra Anda lumayan dekat.”

“Benarkah? Aku bersyukur mendengarnya. Kau pasti teman yang baik dan pintar seperti ayahmu,” balas Ki Ho sambil tersenyum.

Siwon hanya mendesah tak percaya melihat sikap Donghae yang begitu sopan. Berbanding terbalik dengan sikapnya pada semua orang di sekolah.

“Kamsahamnida, Ahjussi. Siwon lebih pintar dariku.” Donghae beralih pada Siwon yang sejak tadi menatapnya curiga. Ia mengendikkan dagu, memberi isyarat pada Siwon untuk pergi bersamanya. “Appa, Ahjussi, saya dan Siwon ada sedikit urusan. Bolehkah kami pergi sekarang?”

Kedua orang tua itu hanya mengangguk setuju, tak melihat ada hal yang aneh di antara mereka. Hanya beranggapan kalau mereka berteman karena satu sekolah. Sekali lagi Donghae melirik Siwon, memintanya untuk bangkit sebelum ia beranjak dari sana.

“Kami permisi,” kata Siwon sambil berdiri dari duduknya dan berjalan mengikuti Donghae keluar ruangan.

 

“Apa maumu?” kata Siwon tenang saat Donghae membawanya ke atap gedung kejaksaan yang sepi. Keduanya saling berhadapan, Siwon dengan ketenangannya dan Donghae yang terlihat santai.

Donghae tersenyum sinis sebelum maju dan meninju rahang Siwon. Senyumnya hilang, hanya tersisa seringaian marah di wajahnya. Ia maju selangkah lagi, mendekati Siwon yang terhuyung ke belakang karena mendapat pukulan tiba-tiba darinya. Sekali lagi kepalan tangannya mendarat di ujung bibir Siwon, hingga sepercik darah keluar dari sana.

Dengan napas memburu Siwon menyeka ujung bibirnya yang berlumur darah. Rahangnya berdenyut sakit sementara rasa perih mulai menjalari bibirnya. Emosinya meluap. Sebelumnya Donghae tidak pernah melakukan kontak fisik seperti ini. Ditambah dengan pikirannya yang sedang kacau, membuat Siwon tak bisa lagi menahan amarahnya. Diraihnya kerah baju Donghae dengan tangan kiri, sementara tangannya yang lain memukul perut lawannya itu. Tak lagi terlalu memikirkan alasan Donghae memukulnya. Melihat Donghae yang masih membungkuk menahan hantaman di perutnya, Siwon memanfaatkan kesempatan itu untuk memukul balik wajahnya.

Donghae jatuh terduduk, namun ia segera bangkit meski masih merasakan nyeri karena pukulan Siwon. Dengan kasar ia mendorong Siwon sebelum mendaratkan tinjunya di pelipis pemuda itu. Ia kembali menerjang Siwon, membuatnya jatuh terlentang. Dengan cepat ia menindih dada Siwon dengan kepalan tangannya, mencegahnya bangkit. “Sebenarnya Yoona tidak memperbolehkanku menghajarmu, tapi sayangnya kau pantas mendapat itu,” geramnya. Satu lagi pukulan ia hadiahkan pada Siwon.

Pandangan Siwon sedikit kabur karena pukulan Donghae di dekat matanya. Tapi tak ia pedulikan. Tangannya berusaha mengusir tangan Donghae di dadanya, namun belum berhasil. “Apa kau bilang?”

Selama beberapa saat Donghae sibuk mengatur napasnya, memfokuskan semua tenaga agar Siwon tak lepas dari himpitannya. Pukulan Siwon di perutnya cukup keras dan masih sangat terasa. “Sudah kubilang aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya. Dan kau membuatnya menangis sepanjang hari. Kau mengingkari janjimu sendiri. Haruskah aku menggantikanmu untuk memeluknya?” Ucapan Donghae terhenti, karena tiba-tiba saja Siwon balik menerkamnya, membuatnya ganti terlentang dengan Siwon mencengkeram kerah bajunya.

“Kau berani menyentuhnya?” desisnya.

“Aku memang ingin kau mengatakan semua pada Yoona, tapi bukan berarti harus menyakitinya seperti itu,” balas Donghae tenang.

Siwon menghempaskan cengkeramannya di kerah Donghae, menatapnya putus asa. Langkah manapun yang ia ambil sama-sama akan menyakiti Yoona. “Bukankah itu yang kau inginkan? Kau senang semua berjalan sesuai harapanmu?”

Donghae bangkit berdiri setelah lepas dari cengkeraman Siwon, membersihkan bajunya yang terkena debu. Wajahnya yang selalu terlihat santai menjadi serius. “Bukan itu yang kuinginkan,” bantahnya pelan. “Aku menyukai Yoona, dan ingin mendapatkannya. Tapi aku ingin dia bersamaku karena dia yang mau, bukan karena keadaan.”

“Terserah apa katamu.” Berkali-kali Siwon menghembuskan nafas panjang, karena dadanya masih juga sesak. Ia tahu ada kalanya seseorang harus melepas apa yang ia inginkan. Kakinya mulai melangkah menjauhi Donghae. Mungkin memang seharusnya ia tak pernah mengenal Yoona.

“Hanya segitu saja?” teriak Donghae setengah mengejek, membuat langkah Siwon terhenti. “Geurae, jangan salahkan aku kalau Yoona akan benar-benar pergi darimu.”

Kaki Siwon kembali melangkah, berusaha mengabaikan ancaman Donghae. Meski sulit untuk percaya, ia tahu Donghae memiliki banyak sisi baik yang mungkin dapat membuat Yoona bahagia. Dan ia bisa merasakan keseriusan di segala tindakan Donghae yang menyangkut gadis itu.

“Pabo,” gumam Donghae sambil meringis menahan sakit di bibirnya. “Kau melepasnya begitu saja padahal kau sangat menyukainya? Tak bisa dipercaya.”

***

 

Kim Jong Woon menginjak rem mobilnya begitu sampai di depan kediaman keluarga Im. Pandangannya beralih pada gadis yang tertidur di sampingnya. “Im Yuri, sampai kapan kau mau tidur?” katanya sambil mengguncang pelan tubuh gadis itu.

Yuri melenguh sebelum membuka matanya. “Sudah sampai?” ucapnya parau. “Cepat sekali.”

“Kau saja yang terlalu nyenyak tidur,” komentar Jong Woon geli.

“Aku sangat lelah akhir-akhir ini,” keluh Yuri mencari alasan.

Dengan lembut Jong Woon membelai kepala kekasihnya itu. Media sudah banyak memberitakan tentang ayahnya, juga keluarga mereka. Wajar jika Yuri tak bisa tidur dengan nyenyak. “Kkokjongma. Mereka tidak cukup penting untuk kau khawatirkan.” Ia mencongdongkan tubuhnya pada Yuri lalu mencium pipinya.

“Mengapa kalian selalu bermesraan di depanku?” suara teriakan seorang gadis samar-samar terdengar dari dalam. Yuri dan Jong Woon menoleh, mendapati Yoona yang meringis jahil berdiri di depan mobil. Keduanya keluar dan menghampiri Yoona.

“Kau mau pergi, adik ipar?” tanya Jong Woon sambil memperhatikan penampilan Yoona dari atas ke bawah. Sedikit terlihat tak biasa bagi Yoona yang memakai gaun berpotongan rendah dan sepatu hak tinggi di malam yang cukup dingin. “Mau kencan?”

“Kau akan mati kedinginan dengan pakaian seperti itu,” timpal Yuri.

Yoona tersenyum manis. “Gwenchana. Aku tak peduli harus kedinginan selama rencanaku berhasil malam ini,” katanya yang membuat Yuri dan Jong Woon menggeleng-geleng heran.

Sebuah mobil sport silver tiba-tiba berhenti di dekat mereka. Kaca depan mobil itu perlahan turun, menampakkan seorang pemuda dengan senyumnya.

“Unnie, Oppa, aku pergi dulu. Anyeong!” seru Yoona sambil berlari kecil menuju mobil dan masuk ke dalamnya.

“Siapa anak itu? Bukankah Yoona sedang pacaran dengan Siwon?” gumam Jong Woon bingung saat mobil melesat pergi.

“Dia putra Jaksa Lee, namanya Lee Donghae. Sepertinya mereka sedang ada masalah,” jawab Yuri yang sama bingungnya dengan Jong Woon karena melihat Yoona pergi dengan orang lain.

 

Sudah tiga kali Donghae melirik Yoona yang duduk di sampingnya dengan rasa penasaran. Gadis itu bahkan memakai make up tipis dan gaun, layaknya akan pergi ke pesta. Sore tadi Donghae dikejutkan dengan telepon dari Yoona yang mengajaknya pergi tanpa memberitahu tujuannya.

“Sebenarnya kita akan pergi ke mana?” tanya Donghae setelah setengah mati berusaha menahan rasa penasarannya. “Kau berdandan begitu cantik padahal seharian ini kau terus menangis.”

Yoona mengangkat satu alisnya dan tersenyum licik. “Sunbae, mianhe. Aku menerima tawaran untuk memanfaatkanmu.”

“Mwo?”

“Siwon Oppa bilang dia tak punya perasaan apapun padaku. Ia juga menyuruhku menjauhinya. Tapi aku meragukan semua kata-katanya,” kata Yoona pelan.

Donghae mengangguk-angguk kecil, kemudian berdecak. “Jadi kau ingin membuatnya cemburu dengan muncul bersamaku?” tebaknya.

“Ani. Kalau hanya itu, kurasa ia tidak akan dengan mudah terpengaruh.”

“Lalu apa?”

“Aku ingin menunjukkan padanya kalau aku menyedihkan, menderita tanpanya, dan sakit karenanya. Dengan begitu dia akan memikirkanku. Kalau Siwon Oppa menyukaiku, dia tidak akan bersikap seperti itu lagi padaku. Dia juga akan sakit melihatku seperti ini,” jelas Yoona.

“Jadi kau mau bilang kalau bersamaku terlihat menyedihkan?” protes Donghae.

Yoona tertawa kecil. “Bukan begitu. Dengan bersama Sunbae, berarti aku sangat putus asa hingga lari pada orang yang Siwon Oppa benci.”

“Aku benar-benar tidak bisa menebak jalan pikiranmu,” desah Donghae sambil mengelus pelipisnya yang terasa nyeri.

Kedua mata Yoona menyipit heran saat memperhatikan Donghae lebih seksama. Ada beberapa lebam di pelipis dan ujung bibirnya, seperti bekas pukulan. “Sunbae, kau habis berkelahi?” tanyanya yang hanya dibalas Donghae dengan seringaian jahil.

***

 

“Dengan siapa kau berkelahi?” Taeyeon memulai interogasinya pada Siwon begitu melihat wajah sahabatnya yang lebam di beberapa tempat. Kedua tangannya terlipat di depan dada, mirip seorang ibu yang sedang memarahi putranya karena pulang terlambat.

Siwon mengedarkan pandangan ke sekelilingnya lalu kembali menatap Taeyeon. “Sudah banyak pelanggan yang datang, kita harus bekerja,” ucapnya sambil berlalu menuju meja bartender.

Taeyeon harus berlari kecil untuk dapat berjalan beriringan karena kakinya jauh lebih pendek dari Siwon. “Siapa yang melakukannya? Lee Donghae itu?” desaknya penasaran sekaligus kesal, tidak terima jika Siwon harus dipukuli.

“Anak laki-laki setidaknya harus pernah berkelahi.” Siwon mengangguk ramah pada beberapa pelanggan yang ada, diikuti Taeyeon. Selama beberapa saat mereka disibukkan dengan melayani seorang pelanggan yang memesan.

“Kurasa aku tahu jawabannya,” ucapan Taeyeon sukses membuat Siwon memandangnya heran. Jemarinya menunjuk dua orang yang baru datang ke bar dan berjalan mendekati mereka.

Pandangan Siwon mengikuti arah yang ditunjukkan Taeyeon, mendapati Yoona berjalan bersama Donghae dengan menggamit lengannya. Ia mendesah singkat setelah melihat apa yang Yoona kenakan.

“Sudah kuduga pasti ini ada hubungannya dengan Lee Donghae,” sungut Taeyeon.

“Ya! Jangan memasang muka menyeramkan seperti itu di depan pelanggan.” Siwon pura-pura bersikap biasa dan tak peduli. “Selamat datang,” sapanya begitu Yoona dan Donghae mengambil tempat di hadapannya.

Yoona menyembunyikan kekecewaannya saat Siwon tak menunjukkan reaksi apapun atas kedatangannya dan Donghae. Justru ia yang harus terheran-heran karena wajah Siwon juga lebam. Dengan tatapan tajam, ia melirik Donghae di sampingnya.

“Mwo?” kata Donghae tanpa suara.

“Sudah kubilang kalau Sunbae tidak boleh memukulnya,” desis Yoona ketus.

“Dia membalasku juga,” Donghae membela diri, lalu menunjukkan ujung bibirnya yang membiru. “Lihat ini!”

“Ingin memesan apa, Pelanggan?” sela Siwon yang menghentikan perdebatan Yoona dan Donghae.

Untuk sejenak Yoona memperhatikan wajah biru Siwon. Lebamnya sedikit lebih banyak dibanding milik Donghae.

“Pelanggan?” ulang Siwon saat Yoona tak juga menjawab.

Donghae menjentikkan jarinya di depan wajah Yoona, membuatnya sedikit tersentak. “Mau pesan apa?”

Mata Yoona mengerjap beberapa kali, mengambil waktu untuk memulihkan diri dan memasang raut angkuh. “Vesper martini,” celetuknya, menyebut satu-satunya nama minuman keras yang ia ingat karena menonton James Bond.

Tawa Donghae hampir pecah melihat tingkah angkuh Yoona yang dibuat-buat dan sok pengalaman itu, sementara Siwon hanya mengangguk kecil.

“Kau datang?” sapa Taeyeon sinis begitu Siwon mundur mengambil gelas. Dia melirik Donghae dengan pandangan jijik, masih kesal karena telah membuat lebam wajah Siwon. “Bersamanya? Tak bisa dipercaya.”

Yoona bisa merasakan kebencian Taeyeon karena ia mengajak Donghae bersamanya. Pasti Taeyeon berpikir kalau Yoona telah mengkhianati Siwon. Jelas sekali gadis itu tahu mereka memang tak punya hubungan baik. Ia hanya tersenyum tipis membalas cibiran Taeyeon.

“Pergilah! Kami tidak ingin melihatmu,” katanya lagi.

“Jangan bicara seperti itu pada pelanggan,” nasihat Donghae. Sedikit heran mengapa Yoona tiba-tiba menjadi tersangka padahal ia yang justru paling tersakiti. “Bosmu akan kecewa kalau kau menolak pelanggan.”

“Tak usah ikut campur. Kau…”

“Taeng,” potong Siwon sambil meletakkan pesanan Yoona di meja bar. “Geumanhaera.”

Suasana menjadi canggung selama beberapa saat. Tak ada yang bicara, hanya saling diam-diam memperhatikan satu sama lain. Taeyeon yang masih kesal memilih menutup mulutnya dengan wajah ditekuk sementara Yoona curi-curi pandang melihat lebam Siwon. Mereka terus bertahan seperti itu hingga Leeteuk datang dengan melempar jaket pada Siwon dan Taeyeon.

“Taeng, Won, ayo pergi! Salah seorang informanku bilang polisi akan melakukan razia malam ini,” katanya.

Donghae mengangkat kedua alisnya, heran dengan kemunculan Leeteuk. “Apa yang kau lakukan di sini?” Ia telah banyak mendengar desas-desus kalau Leeteuk menjalankan bisnis ayahnya secara tidak resmi, tapi tak pernah berpikir itu adalah sebuah bar.

Leeteuk menatap Yoona dan Donghae bergantian, agak kaget mendapati paduan yang kurang cocok itu di barnya. “Kalau mau selamat sebaiknya kau pergi juga. Polisi akan melakukan razia obat-obatan dan anak di bawah umur. Aku yakin kau masih belum diizinkan untuk berada di tempat seperti ini.”

“Apa hakmu melarang apa yang kulakukan?” balas Donghae sengit.

Beberapa penjaga bar yang memberikan kode pada pegawai lain menyadarkan Siwon kalau mereka harus cepat-cepat pergi dari sana sebelum tertangkap. “Jangan banyak bicara. Kita sebaiknya pergi sebelum mereka masuk kemari,” katanya sambil memakai jaket menutupi seragam pegawainya.

Terpaksa Donghae mengalah. Otaknya masih cukup waras untuk tidak membuat ayahnya kehilangan muka karena ulahnya. Ia berlari mengikuti Leeteuk yang memimpin di depan menuju pintu darurat agar bisa segera keluar dari sana.

Dengan langkah terseok Yoona berusaha setengah mati untuk mengimbangi laju Leeteuk, Donghae, dan Taeyeon yang ada di depannya. Susah payah ia menerobos kerumunan orang yang ada di lantai dansa. Kini ia menyesali pilihan untuk memakai sepatu berhak tinggi yang sangat menyulitkan larinya. Mereka berpencar begitu keluar dari bar lewat pintu belakang yang sepi. Leeteuk menarik Taeyeon dan Donghae agar mengikutinya berbelok ke kanan, meninggalkan Yoona yang tertinggal cukup jauh di belakang mereka.

Yoona berhenti sebentar, memeriksa kakinya yang terasa perih karena gesekan sepatu.

“Gwenchana?” Siwon yang sejak tadi berada di paling belakang ikut berhenti.

“Eoh, hanya sedikit lecet,” jawab Yoona pelan, cukup terkejut karena ia pikir Siwon telah berada jauh di depan.

“Cari di sekitar sini, sepertinya ada yang diam-diam kabur,” samar-samar mereka mendengar suara polisi yang mulai melakukan perburuan pada anak-anak di bawah umur.

Siwon meraih tangan Yoona dan menggenggamnya erat, menarik gadis itu untuk sesegera mungkin pergi dari sana sebelum ketahuan. Meski terpaksa Siwon harus memperlambat larinya, menyesuaikan dengan Yoona yang tampak kesulitan melangkah.

“Oppa, berhenti sebentar,” pinta Yoona dengan napas terengah setelah berlari beberapa blok. “Kakiku sakit.”

Merasa sudah cukup aman, Siwon menuruti permintaan Yoona saat sampai di taman kecil. Dilepaskannya tangan Yoona yang sejak tadi ada dalam genggamannya. “Kau mau mati? Pergi ke tempat seperti itu dengan pakaian seperti ini? Polisi akan mengira kau adalah gadis di bawah umur yang menjual diri,” katanya sambil berusaha menahan emosi.

“Lukamu baik-baik saja? Apa Donghae Sunbae yang membuat wajah Oppa menjadi lebam?” tanya Yoona mengacuhkan omelan Siwon.

“Apa yang sebenarnya kaupikirkan?”

“Pasti lukamu sakit. Oppa sudah memberinya obat?”

“Im Yoona!” desah Siwon putus asa. “Pulanglah.”

Yoona sudah hampir menangis, tapi sekuat tenaga ia menahannya. Usahanya mengalihkan perhatian Siwon jelas gagal. “Shireo.”

“Apa tujuanmu sebenarnya?” Siwon menyerah. Sulit untuk memaksa Yoona menuruti perintahnya. Gadis itu terlalu keras kepala.

“Membuat Oppa selalu memikirkanku,” jawab Yoona lantang. “Mungkin Oppa memang tak punya perasaan apapun padaku. Tapi dengan begini paling tidak Oppa akan teringat pada gadis yang menderita karenamu, merasa bersalah, dan sedikit banyak akan memikirkanku. Aku akan terus muncul di depan Oppa, jadi bersiaplah!”

Siwon berbalik memunggungi Yoona, membuang napas frustasi karena gadis keras kepala itu. Usaha Yoona jelas sukses besar. Tanpa kemunculannya pun Siwon sudah merasa sangat bersalah. Gadis itu bahkan hanya cukup memakai piama kekanakan agar Siwon selalu memikirkannya. Tapi nyawa ibunya kini tengah menjadi taruhan. Ia juga takut Im Tae San tahu hubungannya dengan Yoona, yang mungkin akan membuat semuanya bertambah kacau.

“Pulanglah,” ucapnya berat, mulai berjalan meninggalkan Yoona di taman itu. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku jaket, menguncinya agar tak lagi menggenggam jemari Yoona. Dengan tergesa ia pergi dari sana, berusaha tak peduli lagi pada gadis itu.

Baru satu blok berjalan Siwon merasakan sesuatu yang dingin jatuh di kepalanya. Ternyata salju sudah mulai turun. Tidak lebat memang, tapi cukup membuatnya sedikit menggiggil. Hal itu membuat kakinya berhenti melangkah. Ia teringat Yoona yang hanya memakai gaun pendek tanpa pelindung lain menempel di tubuhnya.

Dengan seluruh tenaganya yang tersisa, Siwon berlari kembali ke taman tempat ia meninggalkan Yoona. Berbagai gagasan buruk muncul di otaknya. Bagaimana jika ada orang jahat menemukannya, atau tubuhnya tak bisa menahan hawa dingin ini? Butuh waktu kurang dari dua menit bagi Siwon untuk sampai di sana. Matanya menjelajahi taman itu, menangkap seorang gadis yang duduk di ayunan, tengah melamun dengan kedua kakinya yang kini telanjang.

Siwon menghela napas lega. Bersyukur karena pikiran buruknya tak terjadi. “Mau membeku kedinginan?” tegurnya sambil mendekati gadis itu.

Kepala Yoona yang sejak tadi menunduk langsung terangkat mendengar suara yang ia harapkan. Ada kelegaan yang muncul di hatinya saat melihat Siwon kembali. Ia berdiri menyambut Siwon. “Aku bertahan karena tahu Oppa pasti akan datang.”

“Aku datang. Kau berhasil.” Mereka berdiri berhadapan. Siwon melepas jaketnya dan memakaikannya pada Yoona. “Kau sudah berhasil, pulanglah.”

“Lukamu baik-baik saja?”

“Behenti mengkhawatirkanku. Pikirkan keadaanmu sendiri,” kata Siwon.

Yoona terdiam sejenak, meremas pergelangan jaket Siwon yang kebesaran di tubuhnya. Ia yakin Siwon tak benar-benar ingin mengabaikannya. “Tidak bisakah kita tetap seperti dulu?”

“Tidak.”

“Wae?”

“Karena aku tak bisa memaafkan ayahmu.”

Yoona tertegun. Begitu besarkah kesalahan ayahnya hingga Siwon bersikap seperti itu?

“Aku takut akan semakin menyakitimu kalau kita terus bersama,” lanjut Siwon sendu. Salju turun semakin lebat, hingga ia merasakan dingin sampai ke tulangnya. “Yoona-ya, maafkan aku. Karena tak menepati janji dan meninggalkanmu.”

Tak sepatah katapun keluar dari bibir Yoona. Melihat Siwon menyerah dengan hubungan mereka jauh lebih menyakitkan dibanding saat ia diabaikan.

“Aku akan selalu ada di tempat yang sama kalau kau mencariku, tapi aku tak bisa melangkah bersamamu,” Siwon berbisik di telinga Yoona. Kepalanya lalu bergeser untuk mencium kening gadis itu. “Saranghae.”

 

-TBC-

 

Ini nggak galau kan? Kalopun iya, di part selanjutnya saya ngga berencana buat yang begini lagi kok (RENCANA). Ngga galau2 lagi. Dan mungkin ff ini tinggal 3 atau 4 part lagi. Tapi pada bosen ngga sih? Kalo pada bosen biar saya stop di part ini aja. Hehehe… di cerita ini saya berusaha membangkitkan kesan anak mudanya semaksimal mungkin. Misal dengan SiHae yang berantem karena cewek, yang buat saya adalah wajar karena mereka masih muda dan emosinya labil, dan gengsinya gede. Atau Yoona yang kuat pun sering nangis karena emang anak cewek kan kebanyakan gitu. Iya ngga sih? Ato cuma saya aja? Hehehe

Yaudahlah, saya kebanyakan ngomong nih. Silakan berbagi pesan kesan kritik atau apapun di kolom komentar yaa. Email juga boleh.. saya suka banget tuh kalo ada komen yang panjang dan membangun.

Oiya, saya lagi bikin sequel TMYW nih, kira2 pada mau baca ngga? Tapi kemungkinan bakal saya protect karena banyak siders. Hehe

Jangan lupa RCL yaaa…

Buat Echa/Gee makasih udah posting… *bighug

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

263 Komentar

  1. yoonwon

     /  Juli 18, 2014

    ah knp siwon kya gtu..
    part slanjtnya ^^

    Balas
  2. andrawiena

     /  Juli 19, 2014

    moga2 masalahnya cepet slesai biar yoonwon cepet bersatu….

    Balas
  3. arayawiparinee

     /  Juli 21, 2014

    Baru baca langsung suka.. Bagus !!

    Balas
  4. Maria Ulfa

     /  Juli 24, 2014

    haaaaaaaaa :3
    walaupun sok dingin tapi ttp sayang kaaan :’)
    so sweet, walaupun yoona eonni nya msh kaya anak kecil bgttt

    Balas
  5. Ra_YoonAddict

     /  Juli 25, 2014

    Bagus ceritanya. Sempet ngakak di tengah ke galauan saat baca Yoona yang berusaha bikin Siwon cemburu. Kenapa Siwon kek gitu sama Yoona?? Ah makin seru aja nih cerita.

    Balas
  6. bagus dan seru ceritanya,,, next chapt 🙂

    Balas
  7. Mia

     /  Agustus 1, 2014

    Kasian sekali mereka tdk bisa bersatu

    Balas
  8. Atikah YoonWonited

     /  Agustus 9, 2014

    haeppa baik juga stidaknya mau mmbantu hbungan yoonwon hehe kasian yoonwon mreka sling mncintai tpi gk bisa brsama krna prmusuhan appa mreka tpi stidaknya wonppa msih peduli ma yoong eon

    Balas
  9. ekaindahfitriani

     /  Oktober 14, 2014

    siwon nya cuwek banget
    kasian yoonwon nya saling cinta tapi karena masalah keluarga,jadi ribet gtu 😦

    Balas
  10. Aku skA sma krakter yoona d sni dia kras kpala tpi ke kras kpala an nya bkin siwon tdak bsa mlupakn nya,,haha komentar aneh abaikan ka ini tdak mmbosankan mlah bkin aku tmbah pnasaran,,

    Balas
  11. Daebakk bener2 dah bikin hati aku jungkir balik ngalor ngidul 😀 .
    Uri Yoonwon, Fighting!! :*

    Balas
  12. Aku suka bgt karakter Dong Hae meskipun kelihatan bandal tapi diakan punya sisi baik, tapi sayang ya cintanya di tolak sama Yoona. Hehehe……… Dan wonppa benar2 di buat cemburu sama Dong Hae
    aku rasa Haeppa cocoknya sama SeoHyun karena cuma Seohyun yg blm punya pasangan

    Balas
  13. Novi

     /  Februari 9, 2015

    Yoona bikin gemessss….
    Mkin penasaraaannnn….

    Balas
  14. Cha'chaicha

     /  Februari 10, 2015

    Hadeh edisi galau, kya’y ni crita masih pnjang ya…

    Balas
  15. raratya19

     /  Oktober 18, 2015

    huhuhuh knapa jadi galau gini T_T

    Balas
  16. Jangan, jangan , jangan di stop , pliis, jangan 😑😕😠😬😡😢😣😤😥😦😧😨😩😰😟😞😒
    Terlanjur suka!

    Balas
  17. YoongNna

     /  Februari 24, 2016

    Part nii dibikin nangis gra2 siwon ma yoona putus..
    Aduuuhh gmn yaaa kalau yoona smpe tau kalau appanya jg yg nyekap ommanya siwon…

    Balas
  18. vitrieeyoong

     /  Maret 10, 2016

    Bingung, msalah mereka trllu rumit untuk ukuran anak sma, tpi klau g gini ga seru, hhehe
    Wonppa galau tingkat badai, wahh tenant aja oppa setiap masalah pasti ada solusinya.. Hwaiting!!
    Klau dpkir-pikir ayah Yoong jga g slah-salah amat. Smuanya brawal dari cinta kan? Ayahnya cman pngen Yoong g kkurangan apapun, bkan cintanya tpi cara ayahnya Yoong yang salah. Hmmm, OK aku dpt pljaran lagi DRI ff INI.
    Next!!!

    Balas
  19. Adeknya yoona

     /  Oktober 25, 2016

    Fix baper !! -_-

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: