[OS] Regret (Goodbye’s Sequel)

regret cover

Title : Regret (Goodbye’s Sequel)

Author : Shin Ah Gi

Genre : Sad, Romance

Type : Oneshoot

Length : 9000+ words

Rating : PG-13

Casting :

–          Choi Siwon [Super Junior]

–          Im Yoon Ah [Girls Generation]

Support Cast :

–          Nam Gyu Ri [Actress]

–          Shin Min Ah [Actress]

–          Kwon Yuri [Girls Generation]

–          Kim Jong Woon [Super Junior]

–          Jung Il Woo [Actor]

Disclameir : This story pure is mine. I just borrow the cast from they family and God.   Their characters here are my artificial. Don’t bashing me and cast. Don’t be silent readers , please. Don’t do plagiarism or copy-paste this story. This is very longshot, guys. And this is sequel for Goodbye. Sorry if it is not satisfy and not in accordance your hopes. Happy reading readers ~

.

.

.

.

.

.

.

.

Angin diluar berhembus kencang disertai rintik-rintik hujan yang sesaat lagi akan membasahi kota kecil yang terdapat dinegara gingseng ini. Kilatan seperti bidikan kamera mulai tampak dilangit berwarna abu-abu gelap. Bahkan suara gemuruh sudah terdengar secara perlahan. Membuat semua orang bersembunyi dibawah gulungan selimut milik mereka. Tapi hal itu tidak dilakukan oleh lelaki yang terlihat seperti pelajar disekolah menengah atas. Dia masih setia berdiri diluar tepat dibawah kilatan-kilatan yang terlihat sedang berperang. Tidak ada rasa takut akan sambaran yang kapan saja bisa menyambar tubuhnya.

Bersamaan dengan hujan yang terus bertambah besar, air matanya keluar begitu cepat dari kelopak matanya. Tidak terlalu terlihat, hanya samar-samar saja. Kemudian tangannya terangkat untuk menyentuh kepala miliknya sendiri lantas memukulnya dengan keras. Bukan hanya sekali tapi berkali-kali. Dalam hatinya, dia merutuki kebodohannya dengan menghianati cinta pertamanya. Jika memukul kepala akan membuat semuanya selesai, maka itu semua akan dilakukannya.

Rambutnya tampak kusut karena remasan atau jambakan tangannya yang begitu kasar. Wajahnya memerah dan bibirnya tampak memutih. Hujan tidak kunjung reda menyebabkan pelajar bername tag ‘Choi Siwon’ tidak kunjung pulang kerumahnya. Pasti orangtuanya sudah mengkhawatirkannya saat ini. Mengingat dirinya adalah anak satu-satunya. Tapi, bayangan tentang sepasang kekasih yang tengah berciuman dengan tiba-tiba terlintas dikepalanya. Siwon begitu menyesali karena tidak mendengar kata-kata  dari sahabat mantan pacarnya. Waktu itu dia tidak begitu meresapi kata demi kata yang dikeluarkan oleh Yuri.

“Yoona jauh lebih baik darinya,”

“Kupastikan kau akan menyesal telah memilih Gyuri, Choi Siwon”

Apa yang diucapkan Yuri memang membuahkan bukti. Tadi, dia melihat selingkuhannya tengah berciuman dengan sahabatnya sendiri. Sungguh naas nasib Siwon. Mungkin hukum yang mengatakan karma pasti berlaku itu ada. Dia bermain belakang dibelakang Yoona tapi malah dia yang sedang dipermainkan sekarang, bukan ? Tampaknya Tuhan sedang membuktikan kepadanya bahwa hukum tadi memang benar ada. Dan ada satu ungkapan yang mewakilinya kali ini yaitu penyesalan yang selalu datang terlambat.

Hujan sudah tampak mengecil membuatnya memutuskan untuk kembali kerumah. Lagipula untuk apa dia seperti ini ? Ini hanya membuang waktu saja, kan ? Apa semua dapat dikembalikan hanya dengan cara berdiri dibawah hujan seperti ini ? Tidak, kan ? Yang terjadi tetap yang terjadi dan yang sudah terjadi tetap yang sudah terjadi.

Tiba-tiba ditengah perjalanan, dia teringat sesuatu. Dia harus mendapatkan maaf dari mantannya, Yoona. Ya, itu benar. Arah kakinya yang awalnya akan keutara berubah kearah barat. Memang rumahnya bisa dikatakan tidak terlalu jauh dari rumah Yoona. Dengan berlari, dia akhirnya sampai dirumah orang yang telah dikecewakannya. Tidak terlalu lama, hanya membutuhkan waktu sekitar dua menit jika dengan berlari.

Menghembuskan nafasnya sebelum akhirnya mengetuk rumah orang yang menjadi kekasihnya dulu. Ingat, itu dulu bukan sekarang. Dengan rasa bersalah juga kegugupan yang melanda secara tiba-tiba, tangan itu mengepal lalu mengetuk pintu berkayu dengan ukiran yang terlihat sangat sederhana tapi enak dipandang.

Pintu terbuka menampilkan tubuh ramping gadis yang dikecewakannya. Setelah tahu bahwa tamunya adalah orang yang akhir-akhir ini dihindarinya, pintu kembali tertutup. Tertutup dengan sangat kasar juga sangat kencang. Seperti hatinya yang tertutup untuk pria yang bertamu sekarang.

“Tolong buka pintunya, ada yang ingin aku bicarakan,” pintanya dengan tangan yang terus mengetuk pintu rumah itu. Sementara orang yang ada dibalik pintu tengah menahan tangisnya. Dia terlihat begitu lemah dihadapan mantan prianya. Air mata rasanya mendesak ingin keluar dengan hanya melihat wajahnya dan mendengar suaranya. Entah dia belum bisa melupakannya atau karena kesalahan Siwon yang menurutnya terlampau besar.

“Mianhae-”

“Cepat pergi dari sini” Tidak ingin mendengar suara berat milik Siwon lebih lama, Yoona memotongnya dengan cepat juga keras. Seperti sebuah bentakan. Bahkan gadis sepertinya tidak pantas membentak-bentak seperti itu. Wajah dan suaranya tidak seimbang.  Mendengar keributan yang ada diluar, pemilik rumah ini akhirnya menampakan diri didepan anaknya. Sedikit terkejut melihat anak kesayangannya sedang menangis tanpa isakan.

“Siapa ? Kenapa tidak kau ajak masuk ? Lalu, kenapa kau menangis Yoong-ya?”

“Dia orang yang tidak waras. Cepat usir dia, eomma

Gadis berambut lurus tapi ikal dibagian bawahnya melewati ibunya setelah menjawab beberapa pertanyaan ibunya. Sedangkan sang ibu hanya menautkan alisnya membuat kerutan didahinya terlihat sangat jelas. Wanita berkepala tiga ini membuka pintunya dan lagi, dia terkejut melihat penampilan anak sekolahan yang sangat berantakan juga basah. Apa benar yang dibilang Yoona bahwa dia ini orang gila ?

“Ada apa ?”

“Aku ingin bertemu dengan Yoona, ahjumma” Melihat bibirnya bergetar hebat akibat kedinginan, wanita yang masih terlihat cantik ini mempersilahkannya masuk terlebih dahulu kemudian membuatkannya teh hangat. Dia tidak tega membiarkan anak sebaya Yoona kedinginan diluar seperti ini. Dan wanita yang bernama lengkap Shin Min Ah berpikir bahwa anaknya tengah berbohong dengannya. Pria ini tidak terlihat seperti orang yang tidak waras seperti yang dikatakan Yoona walaupun penampilannya terlihat sangat berantakan.

Sementara menyesap tehnya, Minah memanggil anak semata wayangnya didepan kamar Yoona. Sesaat pintu terbuka, wanita yang berumur sekitar tiga puluh sembilan ini segera menyampaikan keinginan pria yang ada diruang tamu itu. “Pria itu ingin bertemu denganmu Yoona-ya,” dan dengan cepat dia menjawab, “bilang bahwa aku tidak ingin bertemu dengannya, aku sedang tidak enak badan,” lalu menutup pintunya dengan cepat tapi tidak kasar.

Tidak ingin melihat anak perempuannya bertambah murung, dia akhirnya memutuskan untuk menuruti anaknya. Dia telah sampai diruang tamu dengan raut wajah sulit diartikan, kemudian mendudukan dirinya dibangku yang ada dihadapan pria yang diyakini teman anaknya karena seragam itu sama dengan anaknya. Siwon menaruh gelas the yang sekarang sudah kosong kemudian tersenyum manis.

“Yoona sedang tidak enak badan,” ucap Minah sesaat membenarkan duduknya. Dapat dilihat raut wajah teman anaknya berubah dengan drastis setelah mendengar kalimat penolakan secara halus darinya. Kemudian dia mengangguk mengerti akan keadaan Yoona yang belum bisa menerimanya. Kembali tersenyum lalu bangkit dari duduknya.

“Ah, tidak apa-apa. Terima kasih sebelumnya telah membuatkan teh untukku dan sampaikan salamku pada Yoona. Aku pulang dulu, ahjumma” pamit Siwon seraya membungkukkan badan dan keluar dari rumah wanita yang dicintainya. Sia-sia kedatangannya kesini. Tidak membuahkan apapun.

***

Sementara Yoona yang ada didalam kamar, tengah memeluk boneka kesayangannya dengan erat. Dia menangis dalam diam diboneka itu. Boneka yang ternyata pemberian dari orang yang baru saja keluar dari rumahnya, Choi Siwon. Tapi tiba-tiba dia menjauhkan boneka itu kemudian memukulnya kencang dan berkali-kali. Setelahnya, boneka itu telah tergeletak dilantai.

“Yoona-ya kenapa kau menangis ?” tanya Minah yang entah sejak kapan sudah ada diambang pintu dengan wajah bingungnya. Sedangkan Yoona yang terkejut langsung menghapus sisa air mata yang ada dipipinya dengan cepat. Sebelum menjawab, dia menarik nafas terlebih dahulu lantas membuangnya. Dengan senyum terpaksa yang dibuatnya, Yoona menjawab “Siapa yang menangis, eomma ? Aku sama sekali tidak menangis. Lihatlah,” sambil memperlihatkan wajahnya.

“Eomma melihat kau menangis dan membuang boneka kesayanganmu itu,” tunjuknya pada boneka rilakkuma yang masih berada dilantai. Yoona terdiam mencari akal untuk membohongi ibunya. Dia tidak akan menceritakan yang sebenarnya. Itu sama saja Siwon akan mati. Karena Minah pernah bilang padanya jika ada orang yang melukai Yoona maka dia tidak segan-segan untuk memukulnya sampai mati. Dan dia tidak ingin kehilangan Siwon selama-lamanya walaupun orang itu telah mengecewakannya.

“Ak-”

“Apa kau ingat mendiang appa ?”

Belum sempat Yoona membuat alasan, ibunya sudah memotongnya dan itu membuatnya bisa bernafas lega. Dia mengangguk menyetujui.

“Eo”

“Nado,” balas Minah langsung memeluk anaknya. “Aku merindukan appa-mu,” ucapnya seraya membelai sayang rambut anaknya. Dan sedetik kemudian air matanya sudah membasahi pundak kecil milik Yoona. Yoona yang merasa bersalah karena telah membuat sang ibu menangis pun menjauhkan tubuh Minah dan menghapus air mata yang masih saja berderas bagai air terjun yang kemarin dilihatnya.

“Berhenti menangis, eomma. Appa bisa menangis jika melihat kita menangis,” ujarnya dengan jari yang masih berada dipipi ibunya yang digunakan untuk menghapus air mata Minah. Dia tersenyum tipis kemudian memeluk anaknya kembali. “Aku berjanji tidak akan meninggalkan eomma. Jadi jangan menangis lagi, ya ?” pintanya yang dijawab anggukan darinya.

“Eomma yang akan meninggalkanmu, Yoona-ya” lirihnya dalam hati.

***

“Yuri-ya, apa kau lihat Yoona ?” tanya Siwon begitu panik karena tidak menemukan sosok yang dicarinya disekolah. Semuanya ruang yang ada disekolah sudah dicek satu-persatu olehnya tapi tetap saja tidak ada. Membuat nafasnya tersengal-sengal begitu hebat. Sementara yang ditanya hanya melemparkan senyuman tidak suka.

“Kau mencarinya ? Kenapa baru sekarang ? Kemarin-kemarin kemana saja kau ini ?” tanya balik Yuri dengan sebuah nada sindiran yang sangat terdengar ditelinga Siwon. Tapi menurut Siwon, ini wajar. Yuri itu sahabat Yoona dan otomatis dia merasakan suka dan duka yang dirasakan oleh sahabatnya. Anggap saja ini sebuah balasan untuknya tapi melalui perantara Yuri.

“Cepat katakan dimana Yoona ?” pertanyaan yang dilontarkan Siwon mampu membuatnya tersentak sedikit. Pasalnya, suaranya menyerupai sebuah bentakan yang begitu kencang. “Dia sudah pergi dari sekolah ini. Puas ?” balas Yuri tajam membuatnya membulatkan mata elangnya. “Benarkah ? Pergi ? Apa itu artinya dia telah keluar dari sekolah ini ?” gumamnya dalam hati.

Karena masih tidak percaya apa yang dikatakan gadis bermarga Kwon itu, Siwon berniat untuk mengecek kembali ruang-ruang yang tadi dilewatinya. Tunggu,  ruang ? Dia sepertinya melewati satu ruang yang terletak disudut kanan sekolah. Ruang laboratorium. Benar, ruang laboratorium belum dicek karena tadi sedang dipakai oleh murid XI-2. Apa ? murid XI-2 ? Bukankah itu kelas Yoona dan Yuri? Tapi kenapa Yuri ada diluar ? Ah, ini sungguh memusingkan.

Tidak ingin berpikir terlalu keras, Siwon akhirnya berjalan menghampiri ruang yang menyimpan barang-barang semacam tabung reaksi. Dia melirik situasi didalam lewat jendela hanya untuk memastikan bahwa guru pengajar tidak ada. Bisa gawat jika memang ada dan guru itu mengenali bahwa dirinya bukan murid XI-2 melainkan murid XI-5. Apalagi sebelum masuk harus memakai jas putih yang memiliki fungsi tersendiri. Dan setelah melihat bahwa didalam ada guru, Siwon memutuskan untuk menunggu diluar sampai semua murid yang ada didalam keluar.

Pintu laboratorium terbuka menampilkan beberapa murid juga guru pembimbing mereka. Matanya mencari-cari sosok yang dicintainya. Tapi tidak ada. Mungkin dia masih didalam. Ya, mungkin saja, pekiknya dalam hati. Siwon masuk dengan sedikit mengendap-ngendap takut-takut murid yang masih ada didalam menyadari bahwa dirinya bukan murid kelas XI-2. Dan sesuai dugaannya, Yoona masih ada didalam dengan tangan kanan memegang tabung reaksi dengan sedikit mengocoknya. Rupanya hanya tinggal Yoona dan Siwon disana.

“Yoona-ya,” panggilan itu berhasil membuatnya terlonjak kaget. Tabung reaksi yang ada digenggamannya ditaruh begitu saja dimeja yang ada dihadapannya. Kemudian jas putih yang dipakainya dibuka dan ditaruhnya ditempat yang disediakan. Dia hanya tidak ingin melihat dan dilihat Siwon.

“Yoong, tolong dengar penjelasanku. Maafkan aku,” cegah Siwon dengan memegang tangan kanan miliknya sesaat Yoona ingin keluar dari ruangan itu. Sedangkan dia hanya menunduk dalam-dalam karena tidak ingin melihat orang dihadapannya juga dilihatnya. Rasa kecewa, sakit dan rindu menyeruak begitu saja didalam diri Yoona. Kecewa akan sikap Siwon yang menghianatinya. Sakit karena Siwon terlihat lebih memilih Gyuri dibandingkan dirinya. Dan rindu akan tubuh yang sudah seminggu lebih tidak dipeluknya.

Kali ini, dia terlihat diam. Mungkin ingin memberi kesempatan kepada Siwon. Mungkin saja. “Maafkan aku karena telah menghianatimu. Aku minta maaf karena lebih memilih Gyuri. Aku telah dibodohi gadis itu. Percayalah, Yoong. Aku tidak sedang berbohong. Aku mengakui aku sudah melakukan kesalahan dimasa lampau. Maka, maafkan aku Yoong. Aku menyesal dan kembalilah padaku”.

Dan setelah menjelaskan begitu panjang, Yoona berjalan melewatinya setelah melepas tangan yang menjadi penahan tangannya. Sebenarnya dari tadi dia tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Siwon karena pikirannya tiba-tiba tertuju pada Minah, ibunya. Ada rasa tidak enak dihatinya. Seperti terjadi sesuatu atau akan terjadi sesuatu. Maka dari itu, dia meninggalkan mantannya. Bukan karena tidak ingin merespon ucapan Siwon tapi pikirannya benar-benar tidak fokus.

***

Kedua orang yang sedang berhadapan sekarang tengah berdiam diri. Masing-masing sibuk dengan pikiran mereka. Satu tengah meredam amarah dan yang satu lagi sedang menggigit bibir bawahnya karena takut-takut orang yang ada didepannya akan memukulnya atau melakukan semacamnya. Pertemuan mereka dicafe ini berawal dari permintaan sang wanita yang katanya ingin membicarakan sesuatu. Dan awalnya mendapat penolakan dari sang pria tapi pada akhirnya dia menyetujui dengan ancaman Yoona. Mereka tidak lain, Siwon dan Gyuri.

“Ada yang ingin kubicarakan,” ucap Gyuri mencoba memecah keheningan yang ada disekeliling mereka. Siwon sudah mengetahui maksud mantan selingkuhannya juga begitu muak dengan wajah polos yang ditampilkannya. Tidak ingin berlama-lama, dia segera menimpali. “Aku sudah tahu maksudmu. Pasti ini ada kaitannya dengan seminggu yang lalu, kan ? Aku sudah memaafkanmu tapi jujur aku menyesal telah memilihmu daripada Yoona. Sekarang dia tidak ingin bertemu denganku lagi.”

“Mianhae, aku tidak tahu semua jadi seperti ini. Ini semua salah kita,” ujarnya yang membuat Siwon segera menoleh dan menatap kearahnya. Menatapnya tidak suka. Dia bilang apa ? Salah kita ?

“Apa maksudmu salah kita ? Ini semua tentu salahmu. Kau menggodaku hingga aku menghianati gadis polos sepertinya dan membagi cintaku. Kau juga bermain dibelakangku. Ini semua salahmu bukan salahku,” kilah Siwon tidak terima. Tapi memang sebenarnya kesalahan tidak sepenuhnya ada Gyuri saja tapi ada dimereka, Siwon dan Gyuri.

Cih, kau egois Choi Siwon. Lalu jika saat itu aku menggodamu kenapa kau tergoda ? Itu artinya kau memang tipekal orang yang tidak setia. Lagipula saat itu aku hanya ingin membuat Ilwoo cemburu, tidak lebih. Kau saja yang sepertinya terlalu percaya diri hingga menyimpulkan hal semacam itu. Dan kedekatan kita selama ini tidak lebih dari sahabat,” penjelasan panjang Gyuri mampu membuat kedua matanya terbelalak. Baru sadar bahwa dirinya selama ini hanya dijadikan tempat cemburu baginya. Memang, Siwon memiliki sikap percaya diri yang  sangat tinggi seperti menara Eiffel, jadinya dia menyimpulkan seperti itu. Mungkin itu yang jadi penyebab masalah yang dihadapinya sekarang.

“Kurasa semuanya sudah selesai. Aku pulang,” ujarnya seraya bangkit dari duduk dan beranjak jalan tapi sesuatu yang tiba-tiba terlintas dipikirannya mampu membuat langkah kakinya berhenti. “Minta maaflah kepada Yoona. Bicaralah pelan-pelan tapi jika dia tetap tidak mau, beri dia waktu untuk sendiri. Jangan mengecewakannya lagi. Kepercayaan itu sulit didapatkan. Kau tidak akan mendapatkannya dua kali, Siwon-ssi” pesannya.

“Dan turunkan kadar kenarsisanmu itu,” lanjutnya cepat dengan nada sindiran yang begitu kentara. Lalu kakinya kembali melangkah menuju pintu keluar café. Dimana disana sudah ada Ilwoo yang sudah menunggu lama dirinya. Mereka pergi meninggalkan café untuk pergi jalan-jalan bersama. Meninggalkan Siwon yang masih tercengang begitu lama. Setelah menerjap-nerjapkan matanya berkali-kali, dia pergi dari café yang menjadi saksi bisu percakapan mereka. Tapi sebelumnya, dia telah meninggalkan beberapa lembar won untuk membayar minuman yang tadi diminum olehnya dan Gyuri.

Sepeninggal Siwon dan Gyuri serta Ilwoo, Yoona datang sendiri kecafe itu. Setelah memastikan bahwa ibunya dalam keadaan baik-baik saja, dia pergi kecafe ini. Entah kenapa, dia ingin meminum americano disini. Rasa ingin itu menyeruak secara tiba-tiba. Awalnya ingin mengajak Yuri tapi karena Yuri sedang pergi kencan bersama pacar barunya jadi dia hanya pergi sendiri. Yoona menduduki pantatnya dibangku yang tadi diduduki oleh Siwon. Itu adalah tempat favoritnya karena disampingnya ada kaca yang berarti bisa melihat keadaan diluar juga tempat itu berada disudut café. Berhubung dia lebih menyukai tempat sepi daripada tempat ramai.

“Permisi, nona ingin memesan apa ?”

“Satu americano,” jawabnya dengan satu jari telunjuk terangkat keatas.

“Oh, baiklah. Silahkan tunggu,” belum sempat pelayan itu kembali ketempatnya dia kembali berbicara. “Itu, milik Anda?” dan dijawab gelengan dari kepala dari Yoona. Tapi sepertinya benda itu tidak asing baginya. Pelayan pun ingin membawa benda yang ternyata kunci motor Siwon tapi dengan cepat Yoona mencegahnya, “Ah, itu milikku”. Setelah mendengarnya, pelayan itu sedikit ragu untuk memberinya karena ucapannya tadi plinplan.

“Aku baru membeli motor baru jadi aku sedikit lupa jika itu milikku,” kata Yoona menyakinkan membuat pelayan itu langsung memberi kuncinya pada dirinya. “Lain kali jangan melupakan sesuatu,” pesan pelayan itu kemudian pergi meninggalkannya. “Jika kunci motornya ada disini berarti tadi dia kesini,” gumamnya dan mendapati pintu café terbuka menampilkan tubuh tegap milik Siwon. “Ternyata benar,” Yoona kembali bergumam.

Siwon menghampiri Yoona dan tersenyum, “Kunciku tertinggal. Apa ada disini ?” Yoona mengangguk tanpa suara dan langsung menyerahkannya. “Cepat kembali. Pasti Gyuri sudah menunggumu diluar,” sindirnya kemudian menatap kaca yang ada disampingnya untuk melihat keadaan diluar seperti memastikan bahwa wanita yang disebutkan benar adanya.

“Aku dengannya tidak ada hubungan. Kami hanya teman-”

“Teman tapi mesra,” potongnya cepat kemudian meninggalkan café sebelum pesanannya datang.

“Kemana nona tadi?” tanya pelayan yang datang setelah Yoona meninggalkan café. “Dia sudah pergi. Minumannya saya yang akan bayar,” pelayan itu langsung mengangguk menyetujui dan menaruh pesanan Yoona dimeja yang ada dihadapannya. Tadinya Siwon ingin mengejar Yoona tapi gara-gara pelayan itu dia jadi kehilangan jejak Yoona.

***

Setibanya Yoona dirumahnya, dia tidak menemukan Minah didepan rumah. Biasanya jam-jam segini ibu tercintanya itu pasti akan ada didepan rumah tepatnya diteras untuk menunggu kedatangan sang anak bila Yoona sedang keluar sebentar atau kerja kelompok. Tapi sekarang tidak ada dan ini tentu membuatnya cemas. Kecemasannya bertambah saat melihat barang-barang milik ibunya tidak ada ditempat semestinya. Apa ibunya akan meninggalkannya seorang diri seperti saat itu? Saat dimana ayahnya masih ada dan saat dimana mereka bertengkar dan karena keegoisan masing-masing, mereka meninggalkan Yoona sendirian dirumah ini dalam beberapa hari. Untungnya, mereka segera berbaikan kemudian kembali kerumah membuat Yoona senang walaupun ada rasa kecewa juga. Tapi itu tidak bertahan lama didalam dirinya karena rasa yang lebih mendominasi dirinya saat itu adalah senang.

“Yoona-ya”

Panggilan itu seketika membuat badannya memutar dan bernafas lega. Itu adalah suara ibunya. Dia bersyukur karena ibunya masih ada dihadapannya dengan keadaan utuh dan baik-baik saja. Hanya saja tas-tas besar dan koper disamping badan Minah membuatnya kembali berpikir dan membuat dahinya kembali mengerut.

“Kita akan pindah dari sini. Untuk sekolah, eomma sudah mengurusnya tadi. Jadi kita bisa pindah sekarang juga,” jelas Minah sebelum Yoona bertanya, seperti sudah bisa membaca atau menebak isi pikirannya. “Kenapa harus pindah ? Bukankah, ini adalah satu-satunya peninggalan mendiang appa ? Apa karena appa memiliki banyak hutang jadinya eomma memutuskan untuk pindah ?” Pertanyaan beruntun dari Yoona membuat Minah menggelengkan kepalanya.

“Bukan seperti itu, Yoona-ya. Eomma tidak membenci appa hanya karena dia memiliki banyak hutang. Eomma memutuskan pindah rumah karena ingin melupakan appa. Eomma tidak ingin kita terus bersedih karena kita tinggal disini. Karena disini menyimpan banyak kenangan yang kita buat bersama appa. Maka dari itu, eomma ingin kita pindah. Maaf jika itu malah membuatmu sedih,” jelasnya panjang lebar membuat Yoona mau tidak mau menyetujuinya. Lagipula jika mereka pergi dari sini, Yoona akan lebih mudah untuk melupakan cinta pertamanya itu. Ini bisa disebut bonus juga bukan?

Setelah melihat anggukan persetujuan dari sang anak, Minah meminta Yoona untuk mengangkat beberapa tas yang berisi barang-barang Yoona sendiri kemobil terbuka yang sudah terparkir dihalaman depan rumahnya. Sementara dirinya mengangkat beberapa barang yang tidak terlalu berat karena sisanya tidak mereka bawa. Setelah semua barang sudah berada dimobil tersebut, Minah dan Yoona naik kebagian depan dimana disana juga ada supir yang akan mengantarkan mereka kerumah baru mereka. Dan sesaat mobil yang membawa mereka sudah berjalan, Siwon datang kerumah Yoona. Dia tadinya ingin menjelaskan yang sebenarnya tapi berhubung Yoona sudah pulang sebelum dia mengutarakan penjelasannya, jadinya dia berniat memberitahu dirumah Yoona saja. Dia tahu pasti Yoona tidak akan kemana-mana selain kerumahnya setelah dari café tadi.

Tapi melihat banyak orang-orang yang baru akan bubar dari rumah Yoona, Siwon menjadi bingung. Tidak biasanya banyak orang disana kecuali ada sesuatu yang terjadi seperti kematian ayah Yoona beberapa tahun yang lalu. Tapi bukan berarti terjadi sesuatu seperti saat itu kan?, tanyanya dalam hati.

Ahjussi, ada apa memangnya dengan rumah ini ? Apa terjadi sesuatu disana ?” tanyanya karena ingin mendapat jawaban dari pertanyaan hatinya sendiri. Daripada nantinya dia mati penasaran lebih baik dia bertanya. Siapa tahu dia bisa tahu sesuatu yang baru saja terjadi.

Ah, tidak. Pemilik rumah ini baru saja pindah rumah,” jawab pria berumur empat tahunan pada Siwon. Sedangkan penanya yang tadi, membulatkan matanya tidak percaya. Apa-apaan ini ? Apa ahjussi ini sedang bergurau ?, protesnya dalam hati.

“Apa ahjussi sedang bergurau ? Aku melihat sendiri pemilik rumah ini dicafe tadi dengan pakaian biasa. Tidak mungkin dia pindah secepat itu,” Siwon menyangkah kata-kata ahjussi tersebut karena tidak percaya akan ucapan yang berasal dari ahjussi yang dikenalnya sebagai tetangga Yoona. Sementara orang yang dihadapannya menggelengkan kepala miliknya menandakan ucapannya memang benar dan bukan sekedar gurauan yang tidak lucu, “aku berbicara sesungguhnya. Dan apa yang kau maksud itu adalah gadis yang seumur denganmu ? Aku juga melihatnya baru saja pulang tapi ibunya langsung memberitahunya dan mereka sudah berangkat satu menit yang lalu sebelum kau datang”.

Siwon semakin membulatkan matanya mendengar penjelasan dari orang itu. Karena masih tidak percaya, Siwon memasuki rumah yang sebentar lagi akan dikunci oleh pemilik baru rumah ini. Tapi dia mencegahnya untuk memastikan apa benar yang dikatakan oleh ahjussi tadi. Setelah berhasil masuk, dia tidak melihat barang-barang milik Yoona yang pernah dilihatnya saat bertamu pada saat hujan kemarin-kemarin. “Ternyata benar, dia telah pergi” gumamnya disertai lenguhan kecil dari mulutnya.

Setelah berada diluar, dia mencari-cari pria berumur tadi. Berniat mencari tahu kemana perginya sosok mantan kekasihnya. Padahal tadi dia berniat mengajak Yoona untuk kembali bersama setelah mengetahui yang sesungguhnya seperti alasan Gyuri mendekatinya. Dia ingin memberitahu semuanya tadi tapi berhubung saat dicafe dia dicegat oleh pelayan itu jadi dia ingin memberitahunya saat dirumah Yoona. Tapi apa daya, Yoona telah pergi dari kota ini dan ahjussi tadi juga telah menghilang entah kemana.

***

Yoona hanya menekuk wajahnya selama perjalanan ke Seoul. Sebenarnya ada rasa tidak ikhlas dihatinya karena dia akan meninggalkan teman-temannya terutama Yuri, sekolahnya, rumahnya, kota kelahirannya dan terakhir, meninggalkan Choi Siwon. Diantara semua itu, yang paling membuatnya murung seperti ini adalah Yuri dan Siwon. Dia sangat tidak bisa meninggalkan keduanya. Yuri, sahabat yang sangat amat baik padanya walaupun terkadang dia menyebalkan. Tapi sejatinya, dia baik dan manis serta hangat. Yuri yang dikenal  teman-temannya kecuali Yoona dan termasuk Siwon adalah Yuri yang jutek, ketus dan pendiam. Tidak seperti Yuri yang dikenal Yoona.

Sebenarnya ada beberapa hal yang membuat sahabatnya seperti itu. Jika Yoona sedang mengalami masalah cinta, maka Yuri sedang merasakan masalah keluarga. Lebih tepatnya broken home. Diawali dengan kesibukan kedua orangtuanya dan diakhiri dengan kedatangan orang ketiga dalam keluarga mereka, atau sebut saja benalu dalam keluarga mereka. Walaupun mereka memang sibuk, tapi tidak pernah terfikirkan sebelumnya ada niatan untuk mengkhianati atau mendua.

Sebab itulah, Yuri sangat membenci Siwon terlebih selingkuhannya itu, Nam Gyuri. Karena trauma masa lalu yang dialaminya masih melekat dalam dirinya. Dia tidak akan membiarkan sahabatnya itu mengalami hal semacam ibunya, diduakan. Dan terlebih untuk dirinya, dia tidak akan segan-segan membunuh kekasihnya jika ternyata dia ditikam dari belakang olehnya. Jadi tidak akan ada pria yang melakukan hal itu. Mungkin jika saja Yuri tidak bisa melakukannya, ibunya mungkin bisa menggantikannya.

Siwon, pria yang membuat dirinya seperti terbang melayang dilangit ketujuh. Semuanya berawal manis seperti permen kapas yang disukainya. Mereka selalu bersama dengan diiringi senyuman dan tawa. Bahkan saat mereka berpacaran, Yuri hampir saja dilupakan oleh Yoona. Tapi Yoona bukan orang yang lebih mengutamakan cinta daripada hal lainnya. Semuanya akan seimbang. Buktinya pada saat itu, dimana Yuri baru saja kehilangan ayahnya selama-lamanya dan dimana dia sedang seorang diri dirumah. Yoona mengajak Yuri untuk ikut dalam kencan mereka, Siwon dan Yoona. Dan tentunya, Yuri tidak akan dijadikan obat nyamuk diantara mereka.

Tetapi perlahan rasa manis itu memudar saat gadis bernama Gyuri tersebut datang diantara mereka tanpa diundang. Karena iman Siwon yang terlampau kecil, jadi dia tidak bisa membiarkan Gyuri yang pada saat itu menciumnya ditengah taman yang cukup ramai. Dimana disana ada Yuri, Yoona dan Ilwoo. Ketiga orang tersebut tentunya  pada saat itu berwajah merah karena menahan amarah yang sudah berada dipuncak kepala mereka masing-masing. Dan ciuman itu berakhir dengan kemarahan Ilwoo yang sudah meluap. Sedangkan Yoona yang ada disana hanya menahan tangisnya dan Yuri, dia sedang mengepalkan kedua tangannya yang sebentar lagi akan melayang dipermukaan wajah tampan Siwon sebelum Yoona mencegahnya.

Dia berencana akan melihat perkembangan kedekatan kekasihnya juga Gyuri. Apa mereka akan melakukan hal yang serupa lagi ? Atau bahkan lebih dari itu ? Atau malah mereka akan berhenti melakukan hal itu karena Ilwoo ? Dan itulah yang Yoona pikirkan pada saat itu. Berpura-pura menjadi orang bodoh dihadapan kekasihnya sendiri. Berpura-pura menjadi gadis yang polos seperti yang dikenal Siwon. Dan berpura-pura bersikap biasa saja seakan tidak ada yang pernah terjadi antara mereka.

Dan setelah melihat perkembangan yang terjadi, Yoona tidak bisa lagi menahan semuanya. Awalnya dia bersikap seperti itu karena ingin mempertahankan hubungan mereka. Tapi melihat Gyuri dan Siwon setiap hari bertambah dekat hingga Siwon terlihat lebih memilih Gyuri daripada Yoona. Seperti saat Yoona meminta untuk datang kerumahnya untuk menjemputnya karena pada saat itu tidak ada bus yang datang dan jawaban yang diberikan oleh Siwon adalah aku sedang mengantar adikku sekolah pagi ini jadi tidak bisa menjemputmu, maaf. Ternyata semua itu hanya omong-kosong saja, Yoona melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Siwon tengah memboncengi Gyuri dengan motor besarnya.

Dan Yoona merasa dihempaskan dengan kasar oleh Siwon. Rasa manis yang pernah dibilang Yoona seperti manisnya permen kapas ternyata hanya sesaat. Lalu setelahnya, hanya ada rasa pahit yang dirasakannya. Sangat sesak bernapas setiap harinya setelah kejadian tersebut. Yuri yang sudah menyiapkan tangannya jauh-jauh hari untuk memukul Siwon harus menghela nafasnya saat melihat sahabatnya sendiri mengemis didepannya untuk tidak memukul Siwon. Tindakan yang akan diambil Yuri sebenarnya benar, hanya saja Yoona yang terlalu baik terhadap Siwon.

Hari dimana Yoona akan memutuskan hubungan mereka akhirnya datang. Bujukan yang Yuri berikan membuahkan hasil karena Yoona akhirnya mengatakan hal yang sudah sangat ditunggu-tunggu Yuri. Dan akhirnya mereka telah tidak terikat lagi. Hari itu hari dimana jatuhnya seorang Im Yoon Ah. Hari kesedihan kedua yang mendalam bagi sosok Yoona setelah kematian sang ayah. Tapi hari itu adalah hari kebahagiaan Yuri. Bukan karena dia bahagia Yoona telah putus dengan Siwon, melainkan dia bahagia karena Yoona tidak lagi dalam lingkupan seorang Choi Siwon.

“Yoona-ya, maaf membuatmu sedih seperti ini. Sungguh eomma tidak ada niatan apapun selain ingin melupakan appa. Soal sekolah, eomma telah mengurus semuanya. Kau akan pindah sekolah,” suara Minah membuatnya tersadar dari lamunannya . Setelah sedetik kemudian, kepalanya mengangguk setuju sekaligus mengerti. “Aku tahu,” jawabnya kemudian kembali menatap pemandangan lewat jendela yang ada disamping kirinya.

Secara tiba-tiba, Yoona mengambil sebuah benda persegi empat dari tas kecil yang ada dibahunya. Awalnya ingin mengirim pesan kepada Yuri bahwa dia sudah pindah ke Seoul sekaligus minta maaf karena meninggalkannya secepat ini. Tapi sebuah tangan khas seorang ibu menghalanginya dan mengambil alih benda mlik Yoona. Dan selanjutnya, handphone itu sudah telanjang tanpa nomor kartu, sim card serta batu baterai. Yoona yang melihatnya hanya membulatkan matanya dan akan menyampaikan sebuah protes.

“Apa yang eomma lakukan ?”

Eomma ingin kita memulai hidup kita dari awal. Termasuk benda ini, karena handphone-mu memiliki kenangan bersama appa,” kata Minah dengan wajah sedih dan minta maafnya. Dia benar-benar bertekad untuk melupakan appa Yoona sungguh-sungguh.

“Tapi-”

Eomma akan membelikan yang baru. Lupakanlah semuanya, Yoong-ya. Mari kita memulai hidup baru,” ajak Minah pada anaknya yang dijawab anggukan samar dari Yoona. Sebenarnya dia tidak menyetujui ajakan ibunya tapi dia juga tidak ingin membuat sang ibu bertambah sedih. Hanya ini yang dapat dilakukannya untuk Minah.

***

Ya ! Apa kau lihat Yoona ?”

“Aku tidak melihatnya sejak tadi,” Yuri hanya bisa menghela nafasnya setelah sekian lama menanyakan keberadaan Yoona pada teman-teman yang berlalu lalang. Lima menit lagi bel akan berbunyi yang menandakan semua murid harus masuk kekelasnya masing-masing. Dan itu berarti Yoona bisa terlambat. Tidak biasanya dia seperti ini. Walaupun dia sering tertimpa masalah tapi hal tersebut tidak membuat Yoona malas sekolah. Baginya sekolah adalah nomor satu jadi pantang untuknya bolos atau terlambat sekolah.

Tetapi hari ini Yoona benar-benar belum datang. Dan itu membuat Yuri khawatir bukan main. Dia sudah menghubungi Yoona tapi hanya suara operator yang terus-menerus menjawab teleponnya. Sebenarnya apa yang telah terjadi ? Sampai-sampai Yoona mematikan teleponnya seperti sekarang, batin Yuri. Ditengah pemikirannya tentang keberadaan sahabatnya, Siwon datang dengan tas yang berada dipunggungnya. Sedikit aneh dengan ekspresi yang Yuri tampilkan.

“Yuri-ya” Sedikit tersentak dengan keberadaan Siwon yang menurutnya selalu datang tiba-tiba. Tapi dia harus tanyakan ini pada Siwon. Siapa tahu anak ini mengetahuinya. Dan itu berarti dia harus buang rasa kesal, marah dan gengsi yang sedang menghinggapinya. Oh baiklah, hanya untuk sekarang, pikirnya. “Apa kau melihat Yoona ? Dia belum terlihat pagi ini ?” Siwon tersenyum melihat Yuri yang berbicara kepadanya tapi senyuman itu tidak bertahan lama saat Yuri mengajukan pertanyaan seperti itu.

“Apa kau tidak tahu sesuatu ?” tanya Siwon yang membuat Yuri tambah penasaran. Disaat seperti ini dia masih bisa bertele-tele, batinnya. “Ya ! Tidak tahu apa ? Tolong jangan bicara dengan kalimat yang bertele-tele, Choi Siwon !” bentaknya kencang.

“Kemarin aku melihatnya-”

Saat akan menjelaskan mengenai orang yang mereka sayangi, bel sekolah berbunyi sangat kencang membuat Siwon dan Yuri harus mengakhiri sebentar percakapan mereka. Dan setelah Siwon bilang bahwa mereka akan melanjutkan percakapan ini nanti saat istirahat dikantin, Yuri hanya bisa menahan amarahnya. Ini memang bukan salah Siwon tapi salah penjaga bel sekolah, itu yang dipikirkan Yuri.

***

Siwon dan Yuri serta kekasih barunya datang kerumah Yoona yang sekarang sudah ditempati oleh orang lain. Setelah menceritakan kepada sahabat mantan kekasihnya, Yuri terkejut bukan main. Malah dia sempat menganggap itu lelucon yang sangat amat tidak lucu. Tapi sesudah Siwon menyakinkannya, Yuri menangis tidak percaya. Berkali-kali kepalanya digelengkan sebagai ungkapan tidak percaya kata-kata Siwon. Dan sekarang mereka telah berada didepan rumah lama Yoona. Berharap mendapatkan informasi yang berharga dari pemilik rumah yang baru atau dari tetangga Yoona.

Mereka mengetuk pintu kayu bekas rumah Yoona dengan bersamaan yang menimbulkan suara keras dari dalam. Tak jua dibuka, mereka kembali mengetuknya lebih keras dan berhasil. Seseorang yang diyakini pemilik rumah baru Yoona menampilkan tubuhnya didepan mereka. Sedikit heran dan bingung kedatangan tamu seumuran anaknya. Tapi anaknya bahkan belum sempat mendaftar disekolah dekat dari sini dan anaknya juga belum keluar untuk berkenalan dengan teman sebayanya.

“Ada apa ?”

“Kita mencari pemilik rumah yang lama. Kemana mereka pindah ?” tanya Yuri to the point kepada pemilik rumah yang baru. Wanita tersebut mengerutkan dahinya, “Aku tidak tahu. Aku hanya membeli rumah ini bukan menanyakan hal yang lain” terangnya. Sementara mereka hanya menghembuskan nafas kasar, jika orang itu tidak tahu lantas siapa yang mengetahui hal ini ? tanya mereka pada hati masing-masing.

“Lalu siapa yang mengetahui keberadaanYoona ?”

Ah, kemarin aku bertemu dengan salah satu tetangga Yoona yang sepertinya tahu mengenai hal ini,” Siwon tiba-tiba mengingat sosok yang ditemuinya kemarin. Sepertinya orang itu mengetahui sesuatu, begitu yang ada dipikiran Siwon dan Yuri. Sementara kekasih baru Yuri hanya mengangguk-anggukan kepalanya. “Dimana rumahnya ?” kekasih baru Yuri baru saja mengeluarkan suaranya. Karena sejak tadi hanya mereka yang berbicara sedangkan dia, terus-terusan mengangguk-anggukan kepalanya.

“Kalau aku tahu aku sudah akan memberitahu kalian, bodoh” Berkat kata bodoh yang dikeluarkan Siwon, dia mendapatkan jitakan dari gadis yang kekasihnya diberi nama bodoh oleh Siwon. “Jangan mengeluarkan kata-kata semacam itu atau akan kubunuh kau sekarang juga,” ancam Yuri membuat Siwon terdiam. “Lebih baik kita tanya kepada orang itu,” ujar kekasih Yuri sambil menunjuk-nunjuk sesuatu yang dijawab anggukan keduanya. Mereka menghampiri orang yang ditunjuk oleh kekasih Yuri.

“Permisi,” ujar Siwon yang membuat Yuri geram. Dalam keadaan seperti ini Siwon masih saja mengucapkan embel-embel yang baginya sangat tidak penting. Yuri yang tidak ingin mendengar kata basa-basi yang akan keluar dari mulut langsung mengambil alih pembicaraan. “Ahjussi, apa kau tahu kemana pindahnya Yoona ? Ah, maksudku pemilik rumah itu yang lama”, tanyanya dengan tangan yang melayang bebas diudara menunjuk rumah yang ada disebrang sana. Pria yang didatangi dan ditanya mereka mengangguk tanda mengetahui keberadaan Yoona. “Mereka pindah ke Seoul,” terang ahjussi tersebut kemudian akan meninggalkan mereka tapi Yuri dengan tepat waktu untuk menahannya.

“Tunggu, boleh kami meminta alamat rumah baru mereka ? Kami teman sekolahnya,” ucap Yuri mencoba meyakinkan pria tua itu yang langsung dijawab anggukan darinya. Senyuman terpeta dibibir mereka masing-masing. Yuri memang selalu berhasil meyakinkan semua orang termasuk kekasihnya walaupun aslinya tidak semua yang dikatakannya kenyataan, ada beberapa kebohongan disana.

Ige,” pria tua itu menyerahkan sebuah kertas robekan yang memiliki ukuran kecil pada Yuri. Mereka semua tersenyum dan membungkukan badan mereka tanda terima kasih kepada orang yang lebih tua dari mereka. Setelahnya, mereka meninggalkan rumah pria tua tersebut dan masuk kedalam mobil milik kekasih Yuri. “Aku tahu ini dimana, ini tidak jauh dengan rumah saudaraku. Apa kita akan kesana sekarang ?” tanya kekasih Yuri pada kedua orang yang berada disamping dan belakangnya.

Mereka mengangguk setuju. “Kau membawa surat-surat, kan ? Aku takut kita ditilang,” pertanyaan yang dilontarkan Siwon mampu membuat tangan Yuri kembali melayang dikepalanya. Mendapat sebuah jitakan keras membuatnya meringis kesakitan sedangkan sang kekasih hanya tertawa pelan melihat Yuri yang terlihat menjaga harga dirinya didepan Siwon. “Kekasihku bukan orang bodoh sepertimu, lebih baik kita jalan sekarang. Aku takut kita akan kembali ke Gyeongjusangat malam,” ujar Yuri yang langsung disetujui semuanya.

***

Hari semakin larut tak kunjung membuat Yoona memejamkan matanya. Dia merasa tidak nyaman dengan rumah barunya. Bahkan matanya yang terbiasa terpejam pada malam yang belum terlalu larut, saat ini tidak terpejam juga padahal jam sudah menunjukan pukul 10 malam KST. Jika orang yang terbiasa tertidur malam seperti halnya Yuri, mungkin jam sepuluh belum termasuk malam. Tapi bagi Yoona, ini sudah sangat malam.

Karena merasa bosan terus-menerus didalam kamar hanya diam saja, Yoona memutuskan untuk keluar sebentar untuk menghirup udara malam diluar. Tidak benar-benar keluar dari rumah, karena dia hanya duduk diteras saja. Yoona tidak akan berani keluar malam seperti saat ini. Dia bukan salah satu orang yang berani pada hal-hal mistik. Apalagi pada orang yang baru dikenal seperti disini.

Yoona terkejut dengan kehadiran sebuah mobil yang familiar baginya secara tiba-tiba. Dan keterkejutannya belum selesai saat orang yang berada didalam mobil keluar. Mereka, Yuri serta kekasihnya dan Siwon. Orang yang sangat dirindukannya dan disayanginya. Tidak ingin membuang waktu, Yoona berjalan mendekati Yuri begitupun sebaliknya dan sedetik kemudian mereka berpelukan. Menumpahkan rasa rindu dalam sebuah dekapan atau pelukan. Mengabaikan dua orang pria yang ada disekeliling mereka.

“Yoong-ya, akhirnya aku menemukanmu. Kenapa kau tidak memberi kabar padaku bahwa kau pindah rumah ? Kau membuatku bingung dan khawatir pada hari itu tapi setelah aku tahu bahwa kau pindah, aku sedih dan menangis. Aku merindukanmu walau kita baru berpisah satu hari. Kau adalah sebagian ragaku,” celoteh Yuri disela-sela pelukan erat mereka. Dan tanpa mereka sadari, keduanya menangis dalam diam.

“Maaf, handphone-ku dibuang oleh eomma jadi aku tidak memberi kabar padamu. Maaf karena membuatmu khawatir dan menangis, aku juga merindukanmu Yuri-ya” Yuri hanya mengangguk mendengar penjelasan yang dikeluar dari mulut Yoona. Dia merenggangkan pelukan mereka dan pada saat itu pula Yoona baru sadar bahwa ada dua orang yang menyaksikan aksi melepas rindu kedua sahabat ini. Yoona terperangah akan kehadiran Siwon yang berdiri disamping kekasih Yuri. Ingin rasanya langsung meninggalkan mereka dan berlari kekamarnya tapi mengingat Yuri hadir juga pada saat ini jadi dia mengurung niat untuk melakukan hal tersebut.

“Kau-”

“Ya, dia juga ikut kesini. Maaf jika pertemuan ini malah membuatmu sedih. Aku tidak ada niatan sama sekali. Dia yang mengetahui informasi soal kau, Yoong. Dia yang memberitahu kami bahwa kau pindah kemarin. Aku terpaksa membawanya karena dia sumber informasi yang kupunya. Maaf,” potongnya cepat sebelum Yoona menanyakan hal itu. Bahkan Yuri tahu apa yang ada dipikiran Yoona, dia seperti paranormal.

Yoona hanya menggelengkan kepalanya karena tebakan Yuri tepat sasaran. Dia merasa tidak enak pada sahabatnya dengan bersikap seperti itu. Kemudian sedetik kemudian, dia kembali berbicara “tidak, tidak seperti itu. Kau tidak salah sama sekali. Aku yang egois karena lebih mengutamakan perasaanku daripada perasaanmu. Aku minta maaf.”

“Sudah-sudah. Apa-apaan ini ? Kenapa jadi saling bermaaf-maafan ? Ini sudah malam lebih baik kita pulang. Besok tidak libur, kan ?” Suara kekasih Yuri tiba-tiba terdengar saat sepasang sahabat itu akan menangis kembali. Suara itu bagaikan sebuah peleraian permasalahan kecil ini diantara mereka. Permasalahan yang berujung pada Siwon, Choi Siwon. Orang yang hanya diam saja dengan jantung yang berdetak dua kali lipat saat melihat sosok yang dirindukannya.

Merasa terusik karena suara kebisingan yang ditimbulkan sang anak dan teman-temannya, Minah bangkit dari tempat tidurnya menuju pintu yang terletak disebelah kanan kamarnya. Dan semakin kakinya melangkah keluar, semakin besar juga suara yang ditimbulkan teman-teman Yoona. Sekarang, dia melihat sumber suara yang mengusik tidurnya. “Yoong-ya” Merasa dipanggil, sang anak menoleh kesumber suara dan keterjutannya dengan kehadiran Siwon tadi kembali muncul diwajahnya. Mulutnya bergerak-gerak mencari alasan karena sebelumnya dia telah berjanji bahwa akan meninggalkan masa lalunya termasuk teman-temannya.

“Kenapa tidak kau ajak masuk mereka ? Ini sudah larut malam dan udara sangat dingin, teman-temanmu pasti kedinginan. Ajak masuk mereka, eomma akan menyiapkan minuman untuk teman-temanmu” Yoona masih dalam masa terkejutnya dan kali ini bertambah empat kali lipat. Apa ini bukan mimpi ? Eomma-nya menyuruh Yuri, Siwon dan kekasih Yuri masuk ? Tolong siapapun, sadarkan dia dari mimpi indahnya. Tapi ini kenyataan, bukan mimpi seperti yang dipikirkan Yoona.

Ah, silahkan masuk. Aku bahkan lupa menyuruh kalian masuk. Pasti kalian sudah kedinginan apalagi kalian tidak memakai jaket sama sekali. Cepat,” ajak Yoona yang mendahului mereka untuk masuk kedalam rumahnya sendiri lalu diikuti yang lainnya. Mereka duduk disofa yang terlihat masih baru. Yah, hampir semua barang yang ada didalam adalah barang yang baru saja dibeli oleh Minah. Tapi tidak semuanya, hanya beberapa saja. Tetapi rumah ini terlihat lebih kecil daripada rumah dulunya. Dan ini semua berasal dari hasil penjualan rumah mereka yang dulu.

Sesaat mereka masuk kedalam, Minah datang dengan lima gelas daechu saenggangcha dan menaruhnya didepan mereka. “Silahkan diminum,” Yuri beserta kekasihnya juga Siwon mengangguk dan tersenyum menanggapi sikap ibu Yoona yang menurut mereka sedikit berlebihan dengan menyajikan minuman seperti ini. Harusnya Yoona yang membuatnya atau mereka sendiri yang membuatnya, tapi berhubung Minah tetap bersikeras jadinya mereka hanya duduk diam seperti ini.

“Ini sudah malam. Sebaiknya kalian menginap disini, berhubung ada satu kamar yang kosong untuk ditempati oleh-”

“Aku Siwon dan dia, Jongwoon.”  Minah mengangguk sebelum akhirnya kembali berbicara, “kalian akan tidur disana sedangkan Yuri dan Yoona akan tidur dikamar Yoona. Bagaimana ?” Yuri, Jongwoon serta Siwon saling menatap satu sama lain seakan mengatakan bagaimana ini ?. Tanpa berpikir panjang, Yuri mengangguk membuat kedua orang yang ada disamping mereka membulatkan matanya. Benar-benar gegabah, pekik Siwon dan Jongwoon dalam hati.

“Tapi-”

“Kita memutuskan untuk menginap semalam disini,” Minah tersenyum mendengar keputusan yang diambil Yuri, sedangkan kedua orang yang masih duduk disampingnya menghembuskan nafas kesal. “Ahjumma tinggal, ya ? Ahjumma ingin tidur kembali” Lagi, Yuri mengangguk menyetujui  membuat Minah benar-benar meninggalkan mereka semua. Yuri menoleh kearah kanannya mendapati sang kekasih dan mantan Yoona sedang memijit pelipis masing-masing. Membuat Yuri bingung sekaligus membuat Yoona tergelak dalam diam karena takut-takut membuat ibunya terganggu.

“Ada apa ?”

“Kau bertanya ada apa ? Besok kita harus masuk karena ada ulangan harian. Apa kau tidak berpikir sejauh itu, Yuri-ya” Yuri hanya terkekeh kecil menanggapinya. “Oppa, sekali-kali bolos sekolah tidak masalahkan ? Aku masih merindukan Yoona. Lagipula ibu Yoona sudah menyetujuinya, oh ayolah.”

“Aku juga ada ulangan harian Yuri-ya lagipula aku belum memberitahu orangtuaku” Siwon ikut menambahkan membuat Yuri menatapnya tajam. “Terserah kalian saja, aku ingin tidur dengan Yoona. Yoong-ya, ayo” Yoona hanya mengangguk dan mengikuti Yuri yang telah lebih dulu masuk kedalam kamarnya.

“Lebih baik kita tidur saja, Jong-ya”

“Baiklah.”

***

Pagi kembali datang menyapa semua makhluk yang ada didunia. Terutama untuk Minah, Yoona serta teman-temannya. Tapi pagi ini tidak secerah kemarin-kemarin, pagi ini awan tampak berwarna abu kelam dan udara sangat dingin seperti tanda-tanda salju akan datang. Sepertinya memang begitu mengingat sekarang sudah memasuki minggu ketiga bulan desember. Dan alasan dingin inilah membuat mereka, terlebih Yoona dan teman-temannya enggan bangun sekedar untuk melihat pagi yang dingin ini. Hanya Minah yang sudah bangun dari tidurnya.

“Yoong-ya” Tidak ingin anaknya kelak akan jadi pemalas, dia membangunkannya. Memanggilnya dari luar dan mengetuk pintu kamar anaknya. Tapi sepertinya itu hanya buang-buang waktu saja. Minah menghela nafasnya ketika tidak menemukan suara sang anak. Tidak ingin menganggu anaknya lebih jauh, dia mengambil mantel cokelatnya yang berada disofa yang didudukinya sekarang. Niatnya ingin pergi jalan-jalan melihat indahnya salju yang baru saja turun. Daripada terus-menerus dirumah, lebih baik dia pergi jalan-jalan dipagi ini.

Ternyata langkah kakinya berhenti disebuah makam yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Memang, ayah Yoona sengaja dikuburkan disini karena pihak keluarga yang memintanya lebih tepatnya, orang tua ayah Yoona. Dan kepindahan Minah yang katanya ingin melupakan suaminya ternyata malah menguatkan ingatannya dengan ayah Yoona. Dia berbohong. Tidak mungkin dia bisa melupakan suami tercintanya yang sampai sekarang masih ada didalam hatinya. Tidak, Minah bukan tipe orang yang dengan mudahnya melupakan orang lain.

“Hyun-ah, aku datang. Padahal baru kemarin aku datang kesini, tapi makammu sudah tertutup salju dengan cepat. Kau tahu, anak kita sekarang tumbuh menjadi gadis yang cantik, manis serta baik. Andai kau masih ada didunia ini, aku tidak akan merasa kesepian. Aku tidak akan membuang air mataku. Coba saja waktu bisa diulang, aku ingin menggantikan posisimu saat itu. Coba saja aku tidak mendengarkan kata-katamu yang melarangku. Semua tidak akan seperti ini jika aku datang pada saat itu. Maafkan aku, aku tahu kau pergi karena telah lelah menjadi pendamping wanita menyebalkan sepertiku. Wanita yang sama sekali tidak cantik, wanita egois, wanita bodoh dan wanita yang sensitive.  Tapi aku tidak bisa menjaga anak kita lebih lama. Tubuhku sudah rapuh terutama hatiku. Kehilanganmu sama saja kehilangan oksigen. Tiga tahun aku bertahan untuk tetap berdiri tegap tanpamu. Tapi nyatanya aku tidak bisa. Aku lebih baik kehilangan anak kita daripada dirimu. Ak-”

Dia tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. Air matanya jatuh bersamaan dengan salju yang terus berjatuhan ditempatnya berdiri. Salju turun begitu cepat memenuhi rambut hitamnya yang lurus. Badannya ikut bergetar dan bibirnya sudah mulai pucat. Tapi sedetik kemudian dia tersenyum, “aku ingin ikut denganmu. Aku rasa ini waktunya Tuhan mencabut nyawaku. Maaf karena tidak bisa menjaga Yoona lebih lama, maaf.”

Dan setelah melanjutkan kalimatnya, tubuhnya jatuh terkulai diatas makam suaminya, Im Hyun Joong. Tepatnya disamping makam Hyun-joong. Matanya tertutup amat rapat, tangannya masih memegang batu nisan suaminya dan senyumnya masih terpeta diwajah pucatnya. Tidak ada orang disana, hanya dia. Arwahnya sudah keluar dari raganya, sudah mengikuti suaminya. Keduanya tersenyum sebelum akhirnya benar-benar menghilang.

Sementara disana, Yoona baru saja terbangun dari tidurnya. Matanya membulat ketika melihat jam yang menunjukan ke angka 9. Pasti ibunya sudah membangunkannya berkali-kali. Ini pertama kalinya dia bangun dijam 9. Baginya pantang untuk bangun siang seperti saat ini. Tangannya terangkat kearah tubuh sahabatnya. Mengguncangnya kencang hingga menimbulkan suara decakan dari pemiliknya. “Ada apa ? Aku masih mengantuk. Jangan bangunkan aku sekarang, Yoona-ya” ucapnya dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali. Suaranya serak tanda bahwa dirinya baru saja bangun.

Yoona berdecak sebelum akhirnya mengambil ikatan rambutnya. Hari ini dia tidak berniat sama sekali untuk keramas karena cuaca sekarang benar-benar seperti ingin membunuhnya. Dia adalah salah satu orang yang tidak kuat dingin. Kakinya melangkah kearah pintu kamarnya kemudian membukanya. Sedikit tersentak dengan orang yang ada dihadapannya dengan keadaan yang sama seperti dirinya. Siwon, dia orangnya. Kamar tamu memang terletak dihadapan kamarnya.

“Yoona-ya”

Yoona tersenyum tipis menanggapi ucapan Siwon. Dia tidak ingin terus-menerus bersikap seperti kemarin-kemarin kepada Siwon. Karena dia tidak ingin memikirkan masalah yang satu itu. “Apa kau ingin mandi ? Ah, kalau begitu, lebih baik kau duluan saja. Aku akan menunggumu diruang tamu”. Dia menggeleng lantas menambahkan, “tidak usah. Aku lebih baik mandi dikamar mandi kamar eomma saja. Dan kau bisa mandi dikamar mandi sana.” Siwon tersenyum melihat sikap Yoona yang sepertinya sudah menerimanya walaupun belum sepenuhnya. Dia mengangguk membiarkan Yoona berjalan mendahuluinya kekamar ibunya sedangkan dirinya hanya menatap punggung Yoona sebelum akhirnya menyusul Yoona yaitu kekamar mandi.

Eomma

Eomma

Gadis cantik tersebut memanggil ibunya berkali-kali. Melihat kamar ibunya sudah kosong membuat hatinya sedikit risau. Ibunya tidak mungkin pergi berbelanja atau jalan-jalan ditengah jatuhnya salju saat ini. Dia dan Minah sama-sama orang yang penakut akan dingin. Jadi, itu mustahil bagi Yoona. Bukannya pergi membersihkan diri, Yoona malah mengobrak-abrik rumahnya. Mencoba menemukan orangtua satu-satunya yang dimiliknya dirumahnya sendiri. Tapi semua yang dilakukannya tidak menghasilkan apapun. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi membersihkan diri lalu setelahnya, akan mencari kembali sosok ibu yang dicintainya.

Sesuai yang diniatkan sebelumnya, setelah membersihkan tubuhnya dia pergi keluar dengan mantel tebalnya juga payung putihnya yang transparan. “Yoona-ya,” baru saja payungnya dibuka dia menolehkan kearah sumber suara yang diyakini adalah suara Siwon. Siwon tersenyum kemudian menghampirinya, “aku ikut ya ? bukankah kau ingin mencari ibumu.” Yoona mengangguk tapi sedetik kemudian dia berbicara, “bagaimana dengan Yuri dan Jongwoon ? apa mereka kita tinggal dirumah dengan berduaan ?” Siwon menggaruk kepalanya mencari alasan.

“Mereka sedang mandi. Yuri mandi dikamar ibumu sedangkan Jongwoon dikamar mandi yang aku pakai tadi. Mereka bilang akan menyusul setelah selesai mandi” Yoona mengangguk kemudian menyuruhnya untuk mendekat agar tidak terkena salju saat mereka sudah beranjak keluar dari lingkungan rumah Yoona. Siwon memegang gagang payung Yoona sedangkan Yoona sibuk mencari keberadaan sang ibu. Dia tidak akan menanyakan soal ibunya dengan tetangga barunya karena mereka baru saja tinggal disana. Berkenalan pun belum sempat dilakukan Yoona dan ibunya.

“Tolong, tolong” Siwon dan Yoona menolehkan kepalanya kearah suara. Suara seorang ibu yang seumuran dengan ibunya. Tidak ingin membuang waktu, mereka menghampiri orang itu. “Ada apa ahjumma ?” Yoona bertanya sangat ramah pada orang yang sama sekali belum dia dikenal. Ibu itu hanya menunjuk-nunjuk kearah makam, dimana disana ada Minah diatasnya. Yoona membulatkan matanya kemudian segera menghampiri seseorang yang tertidur disamping makam yang terlihat familiar baginya, meninggalkan Siwon dan payungnya. Melupakan suatu hal yang sama sekali dia tidak sukai, dingin.

Eomma, eomma” ditaruhnya kepala ibunya dipangkuannya dan dipeluk tubuh Minah yang benar-benar sudah dingin serta kaku. Air mata untuk kesekian kalinya turun dari pelupuk matanya. Siwon yang sudah berada disamping Yoona pun bingung harus berbuat apa. Yoona mengguncang-guncangkan tubuh ibunya yang sudah menggigil dalam diam. Memeluknya berkali-kali berusaha memberi kehangatan yang sama sekali tidak ada gunanya jika dimusim dingin seperti ini.

“Yoong, lebih baik kita bawa ibumu kerumah. Jika kau terus-menerus seperti ini, ibumu bisa mati kedinginan.” Dia mengangguk dan membiarkan Siwon menggendong ibunya. Bahkan dia membiarkan payung kesayangannya terbang entah kemana karena tiupan angin yang membesar. Dan dia juga melupakan Yuri dan Jongwoon yang katanya akan segera menyusul. Dirinya berdiri disamping Siwon yang sedang menggendong orang kesayangannya. Menyamai langkah besarnya. Dan akhirnya mereka sampai dirumah Yoona.

Dibukanya pintu begitu kasar oleh Yoona. Memberi jalan untuk Siwon masuk kedalam. Yoona mengusulkan bahwa ibunya lebih baik ditaruh dikamar. Dan dia, menurutinya. “Tubuhnya begitu dingin dan kaku,” kata Siwon yang menyentuh tangan Minah. Kemudian tangannya berada dipergelangan tangan Minah, mengeceknya bahwa masih ada denyut nadi atau tidak. Lalu tangannya kembali naik keleher ibunya.

“Bagaimana keadaan eomma ? Dia hanya pingsan, kan ?”Siwon menggeleng lemah.

“Ibumu meninggal. Sudah tidak ada denyut nadi disini,” jelasnya seperti seorang dokter yang sedang menceritakan keadaan pasiennya pada keluarga pasien. Yoona menggeleng tidak setuju, “tidak, tidak mungkin. Eomma pasti hanya pingsan. Pasti dia akan sadar beberapa menit lagi.” Tidak percaya, tentu itu yang dirasakan oleh Yoona. Tidak, tidak mungkin. Siwon pasti bohong, pikirnya. Dia baru saja kehilangan sang ayah dan sekarang, ibunya katanya meninggal. Yoona menggelengkan kepalanya sebelum akhirnya kesadarannya mulai menghilang bersamaan dengan air matanya yang turun dengan cepat.

***

Yuri mengelus rambut sahabatnya dengan sayang berharap orang itu segera bangun dari pingsannya. Pemakaman ibunya sudah diurus oleh Siwon dan Jongwoon serta tetangga yang berbaik hati membantu mereka. Ibunya sudah berada dipeti dengan baju yang sebelumnya sudah digantikan oleh salah satu tetangga baru Yoona. Hanya tinggal dimakamkan saja. Tapi mereka harus menunggu Yoona sadar. Menguburkannya tanpa sepengetahuan Yoona sama saja mencari mati. Mereka juga menghargai Yoona yang memiliki status penting dengan orang yang ada dipeti tersebut.

Yuri mendekatkan minyak angin kedaerah hidungnya. Dan itu membuat sang pemilik sedikit menggeliat. Dia tersenyum melihat hal tersebut, ini tanda-tanda Yoona akan segera bangun. Suara lenguhan membenarkan tanda-tanda kesadaran Yoona akan terkumpul kembali.        “Yuri-ya” suara itu, suara Yoona. Suaranya benar-benar serak akibat tangisan yang dikeluarkannya tadi. Yoona mendudukan dirinya ditempat tidur miliknya sendiri. Sedikit bersandar dengan kepala tempat tidurnya.

“Ibumu akan segera dimakamkan. Sebaiknya kau ganti baju terlebih dahulu dan mencuci wajahmu, Yoong-ya”

Dia hanya mengangguk dan menuruti perintah yang dikeluarkan dari mulut Yuri. Sambil menunggu,  dia merapihkan tempat tidur yang dia dan Yoona pakai. Setelahnya, dia mengambil baju hitam yang dimiliki sahabatnya. Lantas keluar dari kamar Yoona untuk melihat Minah yang sudah berada didalam peti. Dilihatnya para tetangga yang sangat baik dan banyak mendatangi rumah Yoona. Mereka terlihat peduli dengan tetangga barunya yang sama sekali belum mereka kenal.

Yoona terlihat beberapa saat setelah Yuri dengan setelan hitamnya. Tampak begitu cantik dengan mimik muramnya. Dia menghampiri peti yang membukus tubuh ibunya. Membuka tutupannya untuk melihat kembali wajah dan tubuh Minah. Air mata lagi dan lagi lolos dari kelopak matanya. Matanya sudah bengkak dan memerah. Dipeluknya tubuh yang sudah kaku dan dingin. Menangis diatas tubuh Minah. Siwon dan Yuri sedikit menjauhkan tubuh mereka. “Ibumu tidak boleh terlalu lama didiamkan seperti ini. Dia harus segera dimakamkan, ibumu harus dimakamkan” Yoona hanya menurut mendengar perintah dari Siwon.

Menangis, apa itu berguna lagi untuk Minah ? Apa hal tersebut mampu membuat dia kembali kedunia ini ? Mampu mengubah takdir yang sebelumnya sudah dibuat oleh Tuhan ? Sepertinya tidak. Air mata itu tidak ada gunanya. Lagipula hanya raganya yang menghilang dari sisi Yoona tapi tidak untuk arwahnya. Mereka, orangtua Yoona ada disana tepatnya disamping Yoona dalam sosok arwah. Menangis dalam senyumnya. Keduanya berpelukan melihat anak mereka yang terlihat tersiksa akan kematian Minah.

“Aku tahu bahwa Yoona akan bahagia kelak”

“Salah satu dari teman Yoona pasti akan melindunginya dan membuatnya tersenyum setiap hari”

“Kau benar, oppa

Itu adalah percakapan Minah dan Hyun-joong. Percakapan yang terakhir bagi mereka didunia ini sebelum akhirnya mereka benar-benar pergi dari dunia ini. Mereka sudah sepenuhnya percaya pada salah satu teman Yoona. Siapa yang dimaksud oleh mereka ? Yuri ? Siwon ? atau bahkan Jongwoon ? Entahlah.

Raga Minah sudah dimakamkan disamping makam ayah Yoona. Siwon sengaja memakamkan Minah disana agar saat Yoona datang dia bisa sekaligus bertemu dengan Hyun-joong. Kuburan yang baru saja diberi macam-macam bunga itu sudah dipenuhi salju. Membuat semua orang yang ikut mengantar Minah terakhir kalinya ketempat asal memakai payung serta mantel tebalnya.

Yoona masih saja diam ditempat dengan tangan memeluk kedua batu nisan orang tuanya. Dan mulut Yuri terus-menerus mengeluarkan kata-kata yang mengarah ke rayuan. Siwon juga ikut-ikutan merayu Yoona yang langsung dijawab anggukan darinya. Dia dan Jongwoon tersenyum sementara Yuri berdecak. Dia merayu berkali-kali tapi tidak respon apapun sedangkan Siwon, dia hanya dua kali merayu langsung dijawab anggukan darinya. Yoona terlihat seperti lebih berpihak atau memilih Siwon ketimbang dirinya.

***

Ya ! Kau menyebalkan, Choi Siwon”

Suara Yoona terdengar hingga keseluruh penjuru taman itu. Semenjak kematian ibunya, Yoona memutuskan untuk tetap tinggal disana, Seoul. Mereka, teman-temannya setiap harinya selalu pergi kerumahnya. Bahkan dihari Sabtu dan Minggu mereka menginap disana. Ditambah dengan komunikasi melalui telepon juga tidak pernah putus. Jadi, Yoona tidak akan merasa kesepian setiap harinya. Kesedihannya lama-kelamaan menghilang dari dirinya. Sekarang, hanya senyuman yang menghiasinya. Sudah empat tahun belakangan ini, Yoona merasa dunianya lebih bahagia dengan hidup bersama teman-temannya. Mereka selalu membuat Yoona merasa bahwa hidupnya berharga serta ramai.

Sekarang juga, hubungan Yoona dan Siwon sudah jauh dari lebih baik. Tapi keduanya belum juga terikat sebagai kekasih atau suami-istri seperti halnya Yuri dan Jongwoon. Siwon memang sudah lama ingin mengutarakan hal tersebut pada Yoona. Tetapi bersamaan dengan itu, dia takut kalau-kalau Yoona kembali bersikap dingin jika dia kembali membahas hal yang satu itu. Mereka sekarang tengah pergi jalan-jalan dibulan desember ini. Pergi jalan-jalan kesalah satu taman yang terletak dikota Seoul. Tapi kali ini tanpa kehadiran Yuri dan Jongwoon.

Hubungan mereka semakin lama semakin dekat. Dan rasa ingin memiliki diantara mereka semakin menguat. Yoona, gadis itu sudah sepenuhnya memaafkan Siwon. Tapi dia tidak mengatakannya pada Siwon. Membuat Siwon sendiri masih dihantui rasa bersalah. Dan cinta telah tumbuh diantara mereka. Cinta yang Yoona miliki pada Siwon dulunya pernah digantikan oleh rasa kecewa tapi sekarang, rasa itu telah tumbuh kembali dihatinya. Dan cinta yang Siwon miliki semakin lama berkembang menjadi besar, besar dan tidak bisa dikatakan besar lagi.

“Yoong, berhentilah memukulku. Tubuhku akan memar jika kau terus seperti ini” Yoona mencibir mendengar kalimat Siwon yang menurutnya terlalu berlebihan. Memar ? Yang benar saja tubuh gagah yang selalu dirawat dengan alat-alat gym itu memar hanya karena pukulan kecil gadis seperti Yoona. Benar-benar tidak masuk akal, batinnya.

“Yoong,”

“Hm,”

“Maaf soal masalah itu,”

Yoona mengangguk mengerti sekaligus mengangguk memaafkan Siwon. Dia tahu kemana arah pembicaraan ini. Dan masalah itu, dia tahu maksudnya apa. Siwon baru saja membawanya kesalah satu bangku taman yang ada ditaman ini. Mendudukannya disebelah tempat Siwon duduk.

“Aku sudah memaafkanmu. Sudahlah, jangan bahas soal itu”

Siwon menaikan kedua sudut yang terdapat disisi bibirnya menampilkan senyuman yang begitu menawan. Ditambah dengan cacat yang dimiliki oleh Siwon membuat dirinya seperti pangeran yang didambakan oleh siapapun. Lesung pipitnya membuat semua kaum hawa ingin memilikinya. Angin berhembus bertambah kencang membuat semua pengunjung segera pergi dari sana atau sekedar berteduh ditoko-toko yang ada disana. Sepertinya salju pertama akan segera turun.

Ya ! Siwon-ya salju sudah turun sebaiknya kita berteduh ditoko sana saja” Yoona menunjuk-nunjuk toko yang berada disebrang sana seraya menarik lengan Siwon yang sama sekali tidak bergerak. “Kau tahukan kalau aku tidak menyukai dingin ? Cepat kita berteduh” Siwon masih saja tidak bergeming membuatnya kesal. Dia hanya memakai kaos tipis jadi lumrah saja kalau dia bersikap seperti itu ditambah dengan ketidaksukaannya dengan dingin.

“Yoong, ada yang ingin kubicarakan”

“Cepat katakan. Ini benar-benar dingin, bodoh

“Apa kau mau menjadi kekasihku ? Ah, maksudku menjadi istriku kelak ?”

Yoona membulatkan matanya dan menghentikan pergerakan tarik-menarik dilengannya. Wajahnya mulai menunduk menyembunyikan rona merahnya yang menandakan dia malu. Ini adalah saat yang ditunggu-tunggu sejak lama. Rasanya dia ingin langsung menganggukan kepalanya pertanda bahwa dia menerimanya. Dan itu benar-benar dilakukannya dengan cepat. “Aku mau,” jawabnya malu-malu. Tanpa menunggu apapun lagi, Siwon menangkup wajahnya guna membuat mata mereka bertemu. Sedetik kemudian bibirnya sudah berada dibibir Yoona dalam diam. Dan sekarang, dia menggerakannya dengan pelan dan melumatnya dengan pelan.

Para pengunjung disana tersentak dengan pemandangan yang mereka lihat. Beberapa dari mereka berkata bahwa itu sangat romantis dan beberapa dari mereka juga mencibir Yoona dan Siwon karena dibilang tidak mengenal tempat. Bahkan anak-anak yang kebetulan berada disana membuka mulut mereka lebar-lebar melihat momentum tersebut. Dan orangtua mereka tentunya dengan sigap menutup mata anak-anaknya karena dirasa hal tersebut tidak layak dilihat anak sekecil mereka.

Mereka melepas ciuman mereka yang terbilang tidak cepat. Keduanya tersenyum lantas berpelukan dengan erat mendapat sorakan dari pengunjung yang menyaksikan momen tersebut. Mereka melepaskan pelukan mereka dengan malu-malu. “Lain kali kalian harus mendapatkan tempat yang tepat. Banyak anak kecil disini,” Siwon dan Yoona terkekeh kecil menanggapinya.

FINISH

a/n :

Annyeong….

Aku datang membawa ff sequel untuk Goodbye. Aku tau ini bener-bener bukan harapan kalian. Dan aku tau, kalian sama sekali ga dapet feel karena aku buat tanpa perasaan #huaah. Oh iya ada satu scene yang terinspirasi dari drama Mimi yaitu pas Yoona pindah ke Seoul

Maaf ya ini bener-bener ga layak dibaca. Tapi terima kasih buat readers yang masih mau ngebaca ff ga bermutu ini dan ninggalin jejak. Saya berharap ga ada siders karena itu membuat saya sedih 😥 #lebayyy. Dan aku tahu ini sangat panjang maka dari itu tolong komentarnya.

Dan terima kasih buat echa eon/resty eon yang masih mau ngepost ff gaje ini.

Bow #bungkukbarengpacar #lirikbaekhyun

Sebelumnya (udah ga ada abisnya dah -_-) aku mau kasih pin bb ku buat yang mau kenal lebih jauh (gaada -_-) ini pinku : 75dbe8d6

Yaudah bye bye and thank you :*

Tinggalkan komentar

81 Komentar

  1. Wow Happy Ending,,, paling suka dech klo story nya Happy….tp kasian jg ya yoong eonni harus kehilangan orangtuanya:( semoga Wonpoa bisa mmbuat yoona eonnu bahagia,,, awas aja lho Oppa sampai kau selingkuh lagi,, tak timbuk ma batu lho…kkkk~ di tunggu ff mu yang lain ching ..Hwating!!

    Balas
  2. im yoo ra

     /  Juni 4, 2014

    Eonni ffnya keren deh…
    Ditunggu ff selanjutnya

    Balas
    • YuriSNSD

       /  Juni 11, 2014

      Makasih
      Jangan panggil aku eonni ya, panggil aja ahgi ><
      Id aku ada dua, yang satu ahgi yang satu YuriSNSD #gananya

      Balas
  3. asrikim

     /  Juni 5, 2014

    Keren,,diawal2 sempet kesel jg sm wonpa,,kenapa wonpa bisa tega gtu menghiyanati yoona eonni,,yoona eonni kasihan skl sdh ditinggal appanya skrang eommanya jg bergi untuk selama2nya,,,tapi sukur lh yoong eonni bisa melewt cobaan dlm hdpnya dngn lpang dan slut sm pertemana yoong eonni dan yuri eonni merk sling menyayangi””dan akirnya yoonwon jg bersatu kembli dan semua berakir happy ending yeyeye,,author ff keren fighting ditunggu kryamu yg lain,,klau boleh dibikin sequelnya eon smpai yoonwon nikah dan punya baby hehehe,,

    Balas
  4. ana

     /  Juni 6, 2014

    keren koq ffnya thor.. keep writing ya.. 🙂

    Balas
  5. Any

     /  Juni 6, 2014

    Itu eommanya yoona mati karna apa ya??trus gimana dgn hidup yoona setelah ditinggal eommanya. Kok ada ibu yg ninggalin anaknya kayak gitu? Kecuali kalo menderita penyakit mungkin aja. Kurang dapet feelnya aku. Maaff.

    Balas
  6. deka

     /  Juni 6, 2014

    terjawab sudahkan, huft akhirnya happy ending daebak author

    Balas
  7. Bener” nyesek baca.x T.0.T
    untng.x brakhir dg happy end 🙂
    yo0nw0n.x sweet bgt~n q trharu dg prsahabatan y0onyul 🙂
    next ff dtnggu unN 🙂

    Balas
  8. DeAnanda

     /  Juni 8, 2014

    nyesek nyesek dah.. tapi gpp, akhirnya Happy Ending! Yeay!! YoonWon!!! ckckck -_- 😀

    Balas
  9. anisya putri karina

     /  Juni 9, 2014

    so sweeetttt 🙂

    Balas
  10. sedih banget Yoona harus kehilangan kedua ortunya tapi endingnya sweet! moga siwon bisa jaga yoona kayak yg dipesankan sama ortunya yoong :’) terharu thor! ada lanjutan sequelnya ga hehehe 😀

    Balas
  11. omgggggggg, daebakkkkkkkkk
    maaf yaaa baru bisa baca dan coment sekarang….
    daebakkkk des,
    agak kurang suka karakter siwon oppa di ff good bye, tapi suka banget sama karakter siwon oppa di sini, di sini siwon oppa udah nyadar kalo memang yoona eonni yang terbaik, dan di sini siwon oppa nunjukin banget kalo dia nyesel udah nyia2in yoona eonni, aku kira hubungan yoonwon bakal gantung, tapi ternyata, dia berdua balikan lagiii, haaaahhhhhh sungguh seneng, bingung pengen komen apa lagi pokoknya daebakkk lahhh, di tunggu ya des, karya2 yang lainnya dan tetap semangat 🙂

    Balas
  12. YuriSNSD

     /  Juni 11, 2014

    Makasih
    Jangan panggil aku eonni ya, panggil aja ahgi ><
    Id aku ada dua, yang satu ahgi yang satu YuriSNSD #gananya

    Balas
  13. diladiladila

     /  Juni 17, 2014

    Wah critanya kren, happy ending yoonwon (y)
    Daebak author, di tnggu crita lainnya 🙂

    Balas
  14. emang deuh siwon punya kadar kenarsisan tinggi..haha maaf simba…
    akhirnya happy ending, wlaupun sempet greget sama siwon

    Balas
  15. WINDY

     /  Juni 30, 2014

    sumpah. ini keren bingit. dari bahasanya. dari pengenalan situasinya. bener bener perfect. aku suka. eh tapi belum baca sebelumnya. tiba” aja lngsung baca sequel. 😦

    Balas
  16. andreyani

     /  Juni 30, 2014

    yeeee happy ending,bikin sequelnya lg donk

    Balas
  17. Akhirnya Wonppa dimaafin jga… and YoonWon always together…. Yippiii….
    ditunggu ff yg lainnya Chingu … Gomawo ^^

    Balas
  18. Dahlia GaemGyu

     /  Juli 24, 2014

    happy ending,,,
    daebak

    Balas
  19. cerita.nya bagus, tapi di awal sempet sebel juga karena yoona di hianati, kasihan yoona ditinggal kedua orang tua.nya untung ada siwon sama temen2nya yang masih nemenin ..

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: