[2S] Tell Me Your Wish 2/2 (End)

tell me copy

[2S] Tell Me Your Wish 2/2 (End)

Author             : Indah (bianglalala27@gmail.com)

Type                : Twoshoot

Cast                             : Choi Siwon, Im Yoona, Choi Sooyoung, Lee Jonghyun, Jung Yunho, Victoria Song

Genre              : Romance, Comedy

Rating                         : 15+

 

Anyeong Nited!!!

Saya kembali bawa lanjutan TMYW chapt 2. Tadinya saya mau protect chapt ini, tapi ngga jadi. Baik kan saya?hehehe. untuk yang penasaran hubungan judul sama cerita, mending bacanya nyampe akhir deh, biar paham maksud saya mengapa mengambil judul itu. Di sini saya emang sengaja ambil tema yang ringan dan sangat biasa, biar ngga terlalu berat juga mikirnya. Hehe.

Warning: cerita ini cukup panjang dan membosankan, garing, biasa banget, dan banyak kekurangan. Jadi hati-hati kalo mau baca *apaini??

Sorry for typo. Happy reading!

 

 

“Kau ingin aku pergi dari sini? Baiklah. Aku akan pergi sekarang juga,” gerutu Yoona sambil menjejalkan sebuah jaket berwarna cokelat ke dalam kopernya dengan susah payah. Jaket itu masih belum mau masuk seluruhnya karena koper sudah terlampau penuh padahal barangnya banyak yang belum ia masukkan. Yoona hanya asal memasukkannya tanpa menatanya terlebih dahulu. “Mengapa tidak mau masuk juga?” keluhnya setengah terisak saat jaket itu tidak lagi memiliki ruang di dalam kopernya.

Kesal, Yoona menghentakkan kopernya ke lantai. Air matanya jatuh, lalu segera ia hapus dengan punggung tangannya. “Mengapa dia jahat sekali?” isaknya sambil melirik ke pintu kamar Sooyoung yang tertutup. Ia sedikit berharap Siwon akan datang dari sana dan paling tidak meminta maaf padanya. Yoona masih bisa menerima sifat arogan Siwon, tapi ia menentang semua bentuk kekerasan fisik. Kaki Yoona menendang kopernya yang kini tergeletak setengah terbuka di lantai, mencoba meluapkan emosi yang masih memenuhi dadanya.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka, lalu seorang gadis cantik masuk dengan wajah berbinar. “Yooonngg…. Tebak apa yang kudapat dari Busan!” serunya sambil mengangkat tangan kirinya di depan wajah Yoona.

Yoona menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang hampir menetes lagi. Entah mengapa keinginannya menangis bertambah berkali lipat saat melihat Sooyoung. Ia ingin mencurahkan apa yang ia rasa sekarang pada sahabatnya itu. Ditepisnya tangan kiri Sooyoung yang dihiasi sebuah cincin permata di jari manisnya. “Kenapa kau baru pulang sekarang?” sungutnya kesal.

Binar di wajah Sooyoung menghilang dan berganti dengan rasa prihatin melihat mata Yoona yang sembab. Niatnya pamer setelah Yunho melamarnya di depan seluruh anggota keluarga segera ia buang jauh-jauh. “Aku kan hanya lima hari di Busan. Kau kenapa?” Pandangannya tertuju pada koper Yoona yang setengah terbuka. “Apa ini? Kau berencana pergi? Apa Im Ahjussi tahu kau tinggal di sini dan menyuruhmu pulang? Beliau memarahimu?” tanya Sooyoung khawatir.

“Oppa-mu…”

“Apa yang dilakukan Siwon Oppa padamu?” potong Sooyoung. Yoona dan Siwon adalah orang-orang yang sangat ia sayangi. Dan Sooyoung tidak ingin melihat keduanya memiliki hubungan buruk.

“Aku membencinya,” isak Yoona manja.

Sooyoung mengangkat kedua alisnya heran. Bertanya-tanya apa yang membuat Yoona menjadi seperti ini. Baginya, Yoona adalah salah satu gadis paling supel yang pernah ia temui. Ia tidak berpikir Yoona akan mendapat masalah karena kepribadian Siwon yang cuek dan arogan. “Oppa mengusirmu?”

Yoona menceritakan pertemuannya dengan Jonghyun di tepi Sungai Han sampai saat Siwon memperingatkannya untuk tidak membawa siapapun ke apartemen. “Hanya karena itu dia marah padaku. Padahal dia bisa memperingatkanku dengan cara yang lebih halus. Dan sikapnya pada Jonghyun membuatku ingin menendang wajahnya,” cerita Yoona berapi-api.

“Pabo,” umpat Sooyoung sambil mendorong kening Yoona dengan telunjuknya.

“Yak!” protes Yoona tidak terima. Telapak tangannya menutup keningnya, berjaga-jaga kalau Sooyoung akan melancarkan aksi yang lebih ekstrim dibanding mendorong kepalanya. “Mengapa kau mendorong kepalaku?”

Sooyoung berdecak, melipat tangannya di dada dan memandang Yoona heran. “Hanya karena itu kau sampai menangis seperti tadi?”

“Wae? Dia membentak dan berlaku kasar padaku, padahal aku sudah minta maaf. Apa aku berlebihan kalau aku marah dan menangis?” balas Yoona sengit. Sedikit jengkel karena Sooyoung terkesan menganggap remeh masalah ini. “Seharusnya dia tidak mengizinkanku tinggal di sini kalau memang dia membenciku. Tidak perlu seperti ini.”

“Pabo kuadrat,” cibir Sooyoung. “Siwon Oppa tidak membencimu, jadi bongkar kembali barang-barangmu,” perintah Sooyoung. Ia membuka koper Yoona dan membantu mengeluarkan isinya. “Kapan kau akan berpikir dulu sebelum bertindak? Kan sudah kukatakan kalau Siwon Oppa memang tidak ramah pada orang-orang di sekelilingnya.”

Gantian Yoona yang mengangkat kedua alisnya heran. “Bagaimana kau tahu kalau oppa-mu tidak membenciku? Kau kan tidak tahu perlakuannya selama kau ada di Busan. Dia senang sekali menggangguku,” bantah Yoona.

Sooyong tertawa mengejek. “Kau tidak menyadarinya? Bahkan sejak pertama kali kau datang seharusnya kau sudah tahu itu.”

Tangan Yoona hampir memukul gemas kepala Sooyoung. Sahabatnya itu sering bertele-tele dan senang membuat Yoona penasaran. “Tahu apa?”

“Kau tidak ingat perkataanku? Aku butuh dua hari untuk membujuk Siwon Oppa agar diperbolehkan tinggal di sini, sementara kalian baru saling kenal selama lima menit saat Siwon Oppa mengizinkanmu tinggal,” kata Sooyoung penuh penekanan. “Kau pikir orang yang membencimu akan melakukan hal itu?”

Lagi-lagi Yoona menggigit bibir bawahnya. Kalau dipikir-pikir ucapan Sooyoung masuk akal juga. Siwon bahkan mau menggendongnya saat ia tertidur di depan pintu apartemen. Hanya saja selalu ada keraguan dalam hati Yoona menyangkut sikap Siwon padanya. Ia tidak tahu Siwon sekedar main-main atau punya maksud tertentu. Ini yang membuat batin Yoona tersiksa.

“Kau tidak perlu pergi dari sini. Besok pagi aku akan bicara pada Oppa,” ucap Sooyoung sambil berlalu ke kamar mandi, meninggalkan Yoona yang sibuk menebak-nebak perasaan Siwon yang sebenarnya.

***

 

Keesokan paginya sarapan tersaji lebih cepat karena ada dua orang yang menyiapkannya. Meski sempat berdebat tentang menu yang akan mereka masak (Yoona dan Sooyoung lebih sering berdebat tentang hal kecil seperti ini), akhirnya mereka membuat sandwich tuna dan sup tomat.

Siwon masuk ke ruang makan dengan setelan Armani-nya, yang selama ini telah sukses membuat ratusan wanita menatapnya dengan pandangan memuja. Tidak ada raut kemarahan seperti semalam di wajahnya. Terkesan datar dan tidak peduli, mirip saat Yoona pertama kali datang. Tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan Yoona, yang segera memandang ke arah lain, asal bukan Siwon. Sesekali ia mencuri pandang pada Yoona yang sedang mengambil gelas dari rak di atas kompor.

“Oppa tidak ingin minta maaf pada Yoona?” tanya Sooyoung dengan sedikit nada mengancam saat melihat Siwon memperhatikan Yoona.

Tatapan Siwon beralih pada adiknya. “Mwo?”

“Yoona bilang Oppa memperlakukannya dengan kasar semalam.”

Yoona melirik tajam ke arah Sooyoung, berharap ia segera menghentikan ocehannya. Setelah melalui perdebatan panjang, Yoona (dengan sedikit menebalkan muka) setuju untuk tetap tinggal dan mengabaikan kemarahan Siwon. Lebih karena Sooyoung memintanya membantu persiapan pesta pertunangannya dengan Yunho. Paling tidak sampai ia mendapat pekerjaan, Yoona setuju akan tetap tinggal di sana.

“Aku memintanya untuk tetap tinggal,” lanjut Sooyoung. “Kalau Oppa menolaknya, aku akan mengatakan pada Eomma kalau Oppa bersedia dijodohkan dengan putri keluarga Kim.”

Siwon mendengus mendengar ancaman Sooyoung. “Kau selalu mengancamku dengan hal-hal seperti itu. Terserah kalian saja,” balasnya datar.

Mulut Yoona mengerucut lucu melihat Siwon kembali bersikap arogan seperti saat pertama kali ia datang. Yoona benar-benar tidak bisa memberikan penilaiannya terhadap Siwon. Bahkan setelah beberapa hari bersama, baginya Siwon masih merupakan tanda tanya besar.

Sooyoung lebih banyak mendominasi pembicaraan selama acara makan pagi itu. Sebagian besar tentang persiapan pesta pertunangannya yang dibalas Yoona dengan beberapa patah kata saja. Tapi pembicaraan sepihak itu terhenti saat Sooyoung menghambur keluar karena Yunho menelepon dan mengatakan ada di depan gedung apartemen Siwon.

Suasana canggung langsung menghinggapi Yoona. Tangannya bergerak gelisah memainkan sendok saat Siwon tak juga memulai pembicaraan. Matanya bolak-balik melirik pria itu yang masih terpekur menatap ponsel pintarnya sambil mengunyah sandwich.

“Mianhe telah membentakmu semalam,” kata Siwon tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

Yoona yang sedang minum sedikit tersedak mendengar permintaan maaf dari Siwon. Sebelum ini ia sudah mengubur dalam-dalam keinginannya mendengar kata maaf pria itu. “Kau tidak marah?” balas Yoona terbata.

Siwon mengangkat kepalanya, membuat tatapannya dan Yoona kembali bertemu. “Apa aku terlihat begitu?”

Mulut Yoona bergerak-gerak mengatakan makian tanpa suara setelah kepala Siwon kembali  menunduk. Tidak marah kau bilang? Semalam siapa yang menarikku begitu kasar dan mengeluarkan kata-kata kejam? omel Yoona dalam hati.

“Tapi aku tetap tidak suka kau membawanya ke dalam rumah,” imbuh Siwon saat beranjak dari kursinya, membuat Yoona menghentikan makian tanpa suaranya seketika. “Ah, apa kau melakukan itu sepanjang waktu?”

Yoona mendongak, menatap Siwon penuh tanya. “Mwoya?” katanya galak.

Ibu jari Siwon membersihkan sedikit remah sandwich di ujung bibir Yoona. Hanya sedikit, tapi mata legam Siwon mampu menangkapnya. “Jangan lakukan ini lagi,” pesannya sebelum melenggang pergi.

“Apa yang baru saja dia lakukan?” gumam Yoona tidak percaya. Baru beberapa saat semua rasa sukanya pada Siwon terbang, tapi kini perasaan itu hinggap lagi di hatinya. Perlakuan lembut Siwon yang selalu tiba-tiba dan tak terduga seringkali membuat Yoona menyerah tak berdaya. Semua alasan yang susah payah telah Yoona kumpulkan untuk membenci Siwon luntur dengan sendirinya karena satu tindakan kecil pria itu.

***

 

“Aku hanya akan mengundang beberapa teman yang ada di Seoul karena keluarga Yunho Oppa jumlahnya cukup banyak. Aku tidak mau pestaku disesaki ratusan orang yang tidak begitu kukenal,” cerocos Sooyoung sambil mencorat-caret agendanya. Ia berhenti sejenak, menyesap cappuccino hangatnya dan memasukkan sepotong kecil red velvet ke mulutnya. “Lalu aku ingin gaun berpotongan sederhana dan tidak terlalu banyak detail.”

Yoona yang duduk dengan dagu bertopang pada tangan di depan Sooyoung hanya mengangguk lemah. Mengiyakan semua rencana Sooyoung tanpa berniat menginterupsinya. Pikirannya sibuk berkelana mengikuti semua bayang-bayang Siwon. Mengapa aku tidak bisa membencinya? batin Yoona mengeluh kesal. “Aku bisa gila kalau begini,” sentaknya sambil mengacak rambut.

“Ya! Im Yoona!” seru Sooyoung kaget sekaligus jengkel mendengar sahabatnya itu tiba-tiba memekik dan bertingkah seperti orang gila. Kepala Sooyoung menoleh ke sekeliling mereka, mengangguk meminta maaf pada pengunjung kafe lain yang merasa sedikit terganggu karena ulah Yoona. “Ada apa denganmu?”

“Eh?” Yoona melongo membalas tatapan curiga Sooyoung padanya. Buru-buru ia menyendok sepotong besar tiramisu dan memakannya, berusaha menghilangkan kecurigaan Sooyoung atas sikap bodohnya tadi. “Tidak ada apa-apa,” elaknya.

Mata Sooyoung menyipit. “Jangan bohong! Kau pasti sedang memikirkan seseorang.”

Harusnya Yoona tahu ia tidak boleh lengah di hadapan Sooyoung. Mereka sudah terlalu mengenal satu sama lain, hingga kadang hanya butuh satu tatapan untuk saling mengerti. “Aku memang sedang memikirkan seseorang,” kata Yoona menyerah.

“Siwon Oppa?” tebak Sooyoung setengah meledek.

“Eoh,” balas Yoona datar sambil menyendok tiramisu lagi, pura-pura acuh. Meski mereka dekat, Yoona agak malu mengakuinya karena Siwon adalah kakak Sooyoung.

Tawa Sooyoung pecah melihat Yoona salah tingkah. “Sudah kuduga ini akan terjadi.”

“Mwo?”

“Sebenarnya waktu itu aku agak takut meninggalkanmu hanya berdua dengan Siwon Oppa. Tapi aku benar-benar tidak berpikir kau akan jatuh cinta padanya secepat ini,” ujar Sooyoung.

Mata Yoona membulat kesal. “Siapa bilang aku jatuh cinta padanya?” bantah Yoona sengit. “Memikirkannya bukan berarti aku jatuh cinta. Aku hanya penasaran pada oppa-mu.”

“Terserah apa katamu,” cibir Sooyoung. Butuh waktu dan kesabaran besar untuk membuat Yoona mengakui perasaannya yang sebenarnya. “Asal kau tahu, cinta biasanya datang dari rasa penasaran,” pancingnya lagi.

“Aku tidak mau membantu persiapan pesta pertunanganmu lagi,” tukas Yoona kesal. Bukan kesal karena Sooyoung yang terus-terusan meledeknya, tapi karena semua perkataan gadis itu benar adanya. Entah bagaimana ia bisa jatuh cinta pada Siwon dalam waktu yang begitu singkat, mengabaikan semua citra buruk yang menempel dalam diri pria itu.

Dengan sigap Sooyoung menahan Yoona yang sudah setengah berdiri. “Arra, aku tidak akan meledekmu lagi,” katanya sambil menahan senyum. Ia menunggu Yoona duduk kembali sebelum melanjutkan. “Siwon Oppa benar-benar punya banyak teman wanita meski tidak ada yang resmi berstatus sebagai kekasih. Mereka selalu ada ke manapun Oppa pergi, merayunya, memintanya ini-itu, dan entah apalagi yang mereka lakukan. Itu yang membuat Oppa sering bersikap seenaknya pada wanita. Awalnya dia bersikap sangat manis, lalu dengan tiba-tiba ia akan mencampakkan mereka begitu saja. Kupikir kau harus mengetahui ini. Hanya jaga-jaga agar kau tidak terlalu sakit hati.”

Yoona meringis jengkel mendengar kalimat terakhir Sooyoung, yang langsung memasang senyum minta maaf. Mereka membahas persiapan pesta Sooyoung lagi. Tetap hanya Sooyoung yang sibuk berbicara sementara Yoona mencatat dengan setengah hati. Gadis itu masih sibuk memikirkan ucapan Sooyoung tentang kakaknya. Seperti belum cukup dengan sikap buruknya itu, Yoona juga harus bersaing untuk mendapat perhatian Siwon melawan teman-teman wanitanya.

***

 

Mata Yoona terpejam menikmati bau harum ramen yang baru selesai ia masak. Ia memindahkan panci ramen itu ke atas meja makan, berniat langsung memakannya tanpa menuangkan ke mangkuk lebih dulu. Malam ini ia tidak perlu repot menyiapkan makan malam karena Sooyoung pergi bersama Yunho. Menurut Sooyoung, Siwon selalu menghabiskan waktu di klub bersama teman-temannya setiap Selasa malam, jadi Yoona akan sendirian selama beberapa jam ke depan.

“Itadakimasu,” ucap Yoona sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.

“Kau hanya membuat satu?”

Yoona tersentak kaget mendengar suara yang beberapa hari terakhir memenuhi gendang telinganya itu. Ia meletakkan kembali sumpitnya di meja lalu mendongak menatap pemilik suara. “Mengapa kau selalu mengagetkanku?” sungutnya.

Siwon yang baru datang dan disambut dengan tidak ramah oleh tamunya itu hanya tersenyum tipis lalu duduk di kursi di depan Yoona. Mengabaikan semua kekesalan gadis itu yang sudah sampai di ubun-ubun. “Mengapa kau tidak membuat makan malam? Aku juga mau yang seperti itu,” katanya sambil menunjuk panci di depan Yoona.

“Mana aku tahu kau akan pulang sekarang. Sooyoung bilang kau biasanya menghabiskan waktu di klub bersama wanita-wanitamu setiap Selasa malam,” balas Yoona penuh penekanan.

Kedua alis Siwon terangkat. “Apa maksudmu? Kau sedang mencoba balas dendam atas sikapku malam itu?”

“Aku berniat melakukannya.”

“Jinja? Kalau begitu lakukan dengan baik,” ucap Siwon disertai senyuman yang membuat Yoona makin jengkel.

Kejengkelan Yoona bukan hanya karena sikap Siwon yang tetap menyebalkan. Namun juga karena senyuman Siwon yang membuat pria itu terlihat sangat manis. Ini sangat menyiksaku, batin Yoona. Ia membuang nafas kasar, berharap amarahnya juga ikut keluar bersamaan dengan nafasnya itu. “Aku heran mengapa ada banyak wanita yang mengejarmu dengan kepribadian seperti ini,” sindir Yoona pelan, tapi masih terdengar jelas di telinga Siwon.

“Apa katamu?”

Yoona menggeleng. “Aniyo.” Ia bangkit dan mengmbil ramen lain dari dalam rak di dapur. Selama beberapa saat ia sibuk membuat ramen permintaan Siwon. Yoona sedang melamun sambil mengaduk-aduk ramen dalam panci yang masih setengah matang saat sepasang lengan melingkari pinggangnya. Lengan itu mengeratkan pelukannya di pinggang Yoona, hingga tubuhnya dan pemilik lengan saling bersentuhan.

“Apa yang kau lakukan?” Yoona memberontak sekuat tenaga saat menyadari Siwon tengah memeluknya dari belakang. Tangannya yang bebas memukul-mukul lengan Siwon yang ada di pinggangnya. “Lepaskan!”

“Ssstt,” Siwon justru semakin mengeratkan pelukannya, berusaha meredam semua usaha Yoona untuk memberontak. Berhasil. Sebentar saja Yoona sudah kehabisan tenaga menghadapi Siwon yang rutin membentuk tubuhnya di gym. Kepalanya kini sejajar dengan milik Yoona, menatap pada ramen yang mulai mengepul. “Baunya harum,” katanya sambil menghirup asap yang keluar dari panci.

Sekuat tenaga Yoona menyuruh jantungnya berdetak kembali pada kecepatan normal. Kedua tangannya terkulai lemas di sisi tubuhnya, tak punya cukup tenaga lagi bahkan untuk mengaduk ramen. Siwon benar-benar sukses membuatnya semua kekuatannya menguap. “Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?” desisnya putus asa.

Perlahan Siwon membimbing Yoona agar berbalik menghadapinya. Lagi-lagi ia diam memperhatikan gadis itu selama beberapa detik, membuat jantung Yoona berdetak pada kecepatan maksimumnya.

Yoona merasa ada sebuah kacang almond besar di tenggorokannya yang membuatnya sulit bicara. Ia terdiam saat matanya dan mata Siwon bertemu. Jari-jarinya mengepal tegang menanti Siwon yang tak juga bicara, hanya terus menatapnya. “Awas kalau kau menciumku lagi,” kata Yoona gugup.

Yoona dapat melihat mata Siwon sedikit membesar kaget sebelum terkekeh geli mendengar ucapannya. “Kau ingin aku menciummu lagi?” goda Siwon.

“Mwo?” Dengan kasar Yoona mendorong dada Siwon agar menjauh darinya. Ia yakin kini wajahnya sudah semerah kepiting rebus. “Kau buat ramen sendiri saja,” tukas Yoona sengit. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan harga dirinya adalah menghilang dari hadapan pria itu sekarang juga. Namun langkah kakinya yang mulai menjauh dari Siwon terhenti saat pria itu menahan lengannya.

“Aku hanya ingin kau tahu kalau aku juga bisa bersikap hangat jika kau menginginkannya. Kau ingin aku begitu?”

Yoona melirik Siwon tajam. Bibirnya tersenyum sinis. Ia teringat kata-kata Sooyoung tentang bagaimana Siwon memperlakukan wanita sebelum membuangnya. “Jadi ini yang kau lakukan pada wanita-wanita seperti Victoria itu? Terima kasih sudah menunjukkannya padaku, tapi jangan pernah berpikir untuk memperlakukanku seperti wanita-wanitamu yang lain,” katanya ketus. Ia mendengus singkat lalu menyentak tangan Siwon, membuat pegangan di lengannya terlepas. Dengan langkah panjang yang dihentakkan Yoona berjalan meninggalkan ruang makan ke kamarnya.

“Sebenarnya apa yang ada di otaknya? Apa dia benar-benar ingin mempermainkanku?” Yoona marah-marah pada bayangannya di cermin wastafel. “Mengapa aku harus menyukai pria seperti itu? Dia bahkan menganggapku sama seperti teman-teman wanita pemujanya itu? Benar-benar keterlaluan.”

***

 

“Benar tidak apa-apa?” tanya Yoona ragu. Sikunya menyenggol lengan Sooyoung yang berdiri di sampingnya, tengah menuang sekotak jus jeruk ke dalam tiga gelas kecil. “Oppa-mu sangat marah saat dia datang kemari,” lanjutnya saat Sooyoung masih diam.

“Kau tidak penasaran?” Sooyoung balik bertanya.

“Tentang apa?”

“Apa Siwon Oppa juga menyukaimu atau tidak.”

Yoona meringis malu. “Sudah kubilang aku hanya penasaran, bukan menyukainya,” sangkalnya. Ia memindahkan tiga gelas jus jeruk itu ke nampan dan membawanya ke ruang tamu. “Kau yang menanggung akibatnya kalau oppa-mu marah.”

“Masih menyangkal juga,” gumam Sooyoung gemas. Ia mengambil sebuah piring berisi potongan buah apel dan kiwi lalu mengikuti Yoona ke ruang tamu. Ia mendapati Yoona dan Jonghyun yang duduk berdampingan di lantai menghadap meja, menekuri sebuah buku catatan milik Jonghyun. Sooyoung meletakkan piring buah di meja lalu mengambil tempat di samping Jonghyun, membuat pria itu duduk di tengah-tengah. “Kau sudah selesai mendesainnya?” tanyanya pada Jonghyun.

“Aku bahkan sudah menyiapkan lagu yang akan kunyanyikan di pestamu,” jawab Jonghyun ramah. Ia lalu menjelaskan desain pesta yang telah dibuatnya atas permintaan Sooyoung.

“Joha. Aku tahu kalau kau selalu bisa diandalkan,” puji Sooyoung yang dibalas dengan senyuman oleh Jonghyun.

“Kau memuji kalau ada maunya,” cibir Yoona.

Jonghyun tertawa menyaksikan pertengkaran kecil Yoona dan Sooyoung yang sudah lama tidak ia lihat. Mereka selalu bersikap kekanak-kanakan. Tapi itu yang membuatnya betah berlama-lama bersama mereka. “Kalian memang tidak pernah berubah,” komentarnya yang dibalas berbagai ejekan oleh kedua gadis itu.

Yoona masih terkikik geli setelah berhasil menggoda Jonghyun saat ekor matanya menangkap sesosok tubuh di seberang ruang tamu. Tawa di wajahnya perlahan memudar, digantikan ekspresi kaku dengan tatapan ketakutan. Kedua sahabatnya yang lain ikut terdiam heran melihat perubahan raut wajah Yoona, lalu mengikuti ke mana arah tatapan gadis itu.

“Sooyoung yang membawanya kemari, bukan aku,” celetuk Yoona tanpa sadar pada Siwon yang berdiri di ujung ruang tamu. Ada sedikit trauma setelah melihat sisi lain Siwon saat dipenuhi amarah. Yoona takut kemarahan Siwon akan jauh lebih besar daripada saat pertama Jonghyun datang. Terlebih ia tidak bisa mengartikan pandangan Siwon padanya saat ini. Terkesan datar dan dingin, tapi siap meledak kapanpun saperti bom waktu.

“Aku yang memintanya datang untuk membahas pesta pertunanganku,” timpal Sooyoung. “Kami akan segera pergi, jadi Oppa tidak akan merasa terganggu.”

Siwon mengacuhkan anggukan kecil Jonghyun yang bermaksud menyapanya, menganggapnya tidak ada di antara mereka. “Tidak makan malam?”

“Kami pergi untuk makan malam. Kami akan pergi bersama Yunho Oppa juga.”

“Bagaimana denganku? Kau tidak masak?”

Sooyoung terkekeh geli. “Aku tidak tahu kalau Oppa sekarang sering pulang lebih awal. Kalau begitu Oppa ikut kami saja,” tawarnya.

“Mengapa kau mengajaknya? Dia bisa makan dari layanan pesan antar,” protes Yoona seketika. Ingin rasanya ia memukul kepala Sooyoung yang seenaknya mengajak Siwon. Kalau Siwon ikut berarti mereka akan kembali bersama. Dan Yoona selalu merasa sial karena Siwon akan dengan mudah mengalahkannya dengan sedikit sentuhan. Hal yang paling ia hindari saat ini adalah menghabiskan waktu dengan Siwon.

Siwon tersenyum tipis mendengar perkataan Yoona. “Karena kau tidak ingin aku ikut, maka aku akan ikut kalian,” katanya dengan nada puas yang membuat Yoona merengut.

“Sepertinya lebih ramai akan lebih menyenangkan,” dukung Jonghyun. Yoona sudah menceritakan siapa Siwon padanya, jadi ia sama sekali tidak keberatan kalau pria itu bergabung bersama mereka.

“Geurae, sebaiknya kita berangkat sekarang,” ajak Sooyoung semangat.

Yoona mendengus kesal. “Mengapa kau mengajaknya?” bisiknya pada Sooyoung saat mengambil tas dari kamar.

“Kau akan tahu bagaimana perasaan Siwon Oppa saat melihatmu bersama dengan pria lain,” balas Sooyoung, juga sambil berbisik. “Ikuti saja saranku.”

***

 

Yoona membolak-balik daging babi yang sedang dipanggang di tengah meja sementara Sooyoung memotong yang mentah. Mereka, Yoona, Siwon, Yunho, Sooyoung, dan Jonghyun, duduk mengelilingi salah satu meja di restoran samgyeopsal yang cukup ramai di tengah kota.

“Percuma kita datang ke restoran kalau ujung-ujungnya harus repot memasak makanan sendiri seperti ini,” keluh Siwon saat Yoona memasukkan daging mentah ke panggangan. Ia duduk bersandar dengan tangan terlipat di dada, menolak melakukan apapun termasuk menuang saus.

Yunho dan Sooyoung yang sudah hafal tabiat Siwon hanya tertawa pelan melihatnya. Jelas kesabaran mereka berada di level teratas karena mampu bertahan selama bertahun-tahun menghadapi Siwon.

“Kalau begitu tidak usah makan. Tidak ada yang memaksamu ikut kemari,” balas Yoona pedas.

“Jangan bertengkar,” lerai Yunho segera, takut suasana menjadi tidak nyaman karena perselisihan tak penting mereka. “Kau benar-benar tidak makan? Ini lezat,” katanya pada Siwon sambil mengangkat sepotong daging yang matang dengan sumpit.

Jonghyun mengangguk mengiyakan perkataan Yunho. Dia yang memang dasarnya baik dan ramah menawarkan diri membuat sangchu-ssam‒nasi dengan beberapa lauk dan pelengkap yang digulung dengan daun selada‒untuk Siwon. “Hyung, kau mau kubuatkan sangchu-ssam?”

“Dia bisa membuatnya sendiri,” potong Yoona yang hanya dibalas Siwon dengan senyum sinis. Diambilnya selembar daun selada dan diisi dengan dua potong daging, beberapa iris bawang, serta ssamjang.

“Makanmu masih banyak saja,” komentar Jonghyun saat melihat Yoona memasukkan sangchu-ssam racikannya yang berukuran besar  ke mulut. “Kau mau lagi?” tawarnya sambil meletakkan beberapa potong daging ke piring Yoona.

Gadis itu tersenyum senang menerima perlakuan hangat yang beberapa hari ini jarang ia dapatkan. “Kau juga harus makan banyak, Jonghyun-ah. Sooyoung memintamu mendesain pestanya agar dia bisa leluasa menyuruhmu ini-itu,” katanya sambil melirik Sooyoung.

“Yoong, jangan membocorkan rahasiaku padanya. Nanti dia tidak mau mebantuku lagi,” candanya.

Mereka tertawa dan melanjutkan makan dengan penuh selera, hanya Siwon yang masih betah menekuk wajahnya. Pria itu mendesah jengah setelah beberapa lama hanya diam, lalu menyenggol Yoona yang ada di sampingnya hingga akhirnya gadis itu menoleh.

“Wae?” Yoona menjawab malas.

“Buatkan aku satu.”

Yoona tertawa tidak percaya. Jonghyun sudah berbaik hati menawarinya sangchu-ssam tadi, yang jelas-jelas ditolaknya. Dan sekarang Siwon memintanya untuk membuatkannya? Benar-benar sulit dipercaya. Sebuah ide jahil muncul di kepala Yoona. Ia mengangguk menyanggupi permintaan Siwon. Diraihnya selembar selada, kemudian diisi dengan sesendok nasi, sepotong daging, bawang, kimchi, ssamjang, dan sebuah cabai rawit besar yang diam-diam Yoona masukkan.

“Aaaa,” Yoona menyodorkan selada gulung itu di hadapan Siwon, bermaksud menyuapkannya langsung ke mulut pria itu. Dengan begitu ia bisa memastikan kalau rencana jahilnya akan berjalan lancar.

Siwon diam mengamati tingkah Yoona yang tiba-tiba jadi manis. “Apa yang kau masukkan di dalam sana?” tuduhnya curiga.

“Nasi, daging, bawang, kimchi, dan ssamjang. Aku berinisiatif menyuapimu sebelum kau menyuruhnya. Tidak mau? Biar kuberikan pada Jonghyun,” jawab Yoona santai.

“Ya! Bukankah kau membuatkan untukku? Mengapa diberikan pada orang lain?” protes Siwon yang membuat Sooyoung menahan tawanya. Sejak tadi ia dan Yunho diam-diam memperhatikan tingkah Siwon dan Yoona sementara Jonghyun justru asyik memanggang daging.

“Kalau begitu buka mulutmu!” perintah Yoona.

Masih dengan tatapan curiga, Siwon akhirnya membuka mulut, membiarkan Yoona menyuapinya.

“Matshisoyo?” tanya Yoona setelah Siwon mengunyah beberapa saat.

Siwon mengangguk samar, sebelum tiba-tiba ia berhenti mengunyah. Kedua mata dan cuping hidungnya melebar sementara wajahnya memerah. Ia terbatuk selama beberapa saat, membuat yang lain memandangnya bingung. Tangannya meraih gelas air yang disodorkan Yunho dan meneguknya sampai habis.

“Berapa banyak cabai yang kau masukkan?” geramnya terengah pada Yoona.

Senyum puas menghiasi wajah Yoona melihat ekspresi kesal Siwon. “Kupikir kau suka yang pedas-pedas, jadi aku memasukkan sebuah cabai tadi,” katanya pura-pura menyesal. “Aku benar-benar tidak tahu kalau kau tak suka pedas. Tenggorokanmu baik-baik saja?”

 

 

Perasaan Yoona menjadi jauh lebih baik setelah berhasil membalas Siwon. Paling tidak pria itu juga merasakan kejengkelan yang seringkali ia rasakan. Yoona bersenandung gembira sejak beranjak dari restoran hingga ke tempat parkir, membuat Jonghyun menatapnya geli.

“Apa yang membuatmu begitu senang?” tanyanya penasaran.

Yoona hanya mengangkat bahu, lalu melambaikan tangan pada Sooyoung dan Yunho yang pergi lebih dulu untuk melanjutkan kencan mereka. “Menyenangkan bisa makan seperti tadi. Bagaimana kalau kita ke karaoke?”

“Kalau kau tidak pulang sekarang aku akan mengubah password apartemen,” tukas Siwon sambil berjalan meninggalkan Yoona dan Jonghyun ke mobilnya.

Ada keheningan selama beberapa detik setelah Siwon berjalan menjauh. Yoona dan Jonghyun berpandangan heran, saling meminta penjelasan atas sikap menyebalkan Siwon.

“Sebaiknya kau pulang,” saran Jonghyun bijak. Kepalanya menunjuk ke jalanan, tempat di mana Siwon menunggu Yoona di dalam mobil sport keluaran Eropa-nya yang mahal. “Kurasa di sangat menyukaimu hingga tak ingin membiarkanmu terlalu lama bersamaku.”

Mulut Yoona merengut menolak pendapat Jonghyun. “Mengapa kalian bilang kalau dia menyukaiku? Orang itu sangat membenciku. Dia melakukannya untuk membalas selada cabai-ku tadi. Kau dan Sooyoung harusnya lihat bagaimana dia selalu membuatku kesal,” gerutunya.

Jonghyun tergelak. “Kupikir kalian sama-sama saling suka tapi tidak punya nyali untuk mengatakannya.”

“Siapa bilang aku menyukainya?” elak Yoona gemas sambil memukul-mukul lengan Jonghyun. Dia tidak akan memberikan ampun pada sahabatnya itu karena telah meledeknya.

“Ya! Ya! Berhenti memukulku!”

Yoona akhirnya berhenti memukul Jonghyun. Bukan karena dia mengampuni pria itu, tetapi suara klakson mobil Siwon yang berisik terus-terusan berbunyi, menyuruhnya cepat menyusul ke dalam mobil. “Sepertinya aku harus pulang,” pamitnya pada Jonghyun.

“Yoong,” panggil Jonghyun saat Yoona hendak membuka pintu mobil. “Kalau memang benar sebaiknya katakan saja,” katanya sambil melambai.

Kepala Yoona menggeleng-geleng menolak ide Jonghyun yang baginya tidak masuk akal. “Bagaimana dia bisa berpikir seperti itu?” gumam Yoona heran seraya masuk ke dalam mobil. “Apa sangat terlihat?”

“Kau sudah selesai bermesraan di depan umum? Bisa kita pulang sekarang?” tanya Siwon begitu Yoona memasang sabuk pengamannya.

“Mwo?” Yoona sedikit tidak percaya pada pendengarannya. Mengapa Siwon begitu sarkas bila sudah berhubungan dengan Jonghyun? Benarkah yang mereka bilang, kalau Siwon menyukainya? Ia memilih untuk mengacuhkan Siwon, daripada mood-nya hancur karena bertengkar dengan pria itu.

Mobil mulai berjalan membawa mereka pulang. Siwon menginjak pedal gas dalam-dalam, membuat mobilnya melesat meninggalkan yang lain di jalanan. Jelas kelas mobilnya dan mobil lain di sepanjang jalan berbeda jauh. Sekali lihat pun orang sudah tahu.

“Kau mau pamer kalau mobilmu bisa untuk balapan Formula 1?” cibir Yoona, sedikit ketakutan karena Siwon mengendarainya gila-gilaan. Matanya melirik speedometer yang menunjuk angka 130 km/jam. Apa dia ingin cepat-cepat pulang karena tidak suka lama-lama berada bersamaku? Atau agar aku mati karena serangan jantung? Mana mungkin orang yang ingin mebunuhku seperti ini menyukaiku, batin Yoona.

“Kalau kau tidak suka seharusnya tadi kau ikut bersama temanmu itu,” Siwon tetap fokus menyetir tanpa mengurangi kecepatannya.

Yoona menarik napas panjang agar emosinya tidak meledak saat itu juga. Sikap Siwon menjadi jauh lebih buruk jika menyangkut semua yang berhubungan dengan Jonghyun. Tapi seharusnya dia juga tidak melampiaskannya pada Yoona. “Kau sendiri yang bilang akan mengubah password kalau aku tidak pulang sekarang. Itulah mengapa aku ikut denganmu.”

Sebuah tawa sengit terdengar dari mulut Siwon. “Kau keberatan? Ingin kuantarkan kembali pada anak itu?”

“Mwo?” seru Yoona tidak percaya. “Sebenarnya apa masalahmu sampai kau bersikap begitu menjengkelkan seperti ini? Aku minta maaf karena telah memasukkan cabai ke dalam makananmu kalau kau marah karena itu.”

“Jangan pura-pura tidak tahu,” desis Siwon. “Kau tahu bukan itu yang membuatku seperti ini.”

“Lalu kenapa? Tidak bisakah kau mengatakannya langsung? Kenapa kau terus-terusan membuatku marah?” pekik Yoona penuh emosi. Air mata mulai menggenangi pelupuknya. Dia benci harus disalahkan tanpa tahu apa kesalahannya. “Turunkan aku,” pintanya lemah saat Siwon hanya diam dan tak bereaksi atas teriakannya.

Siwon terlihat menarik napas panjang dan meregangkan jemarinya yang sejak tadi mencengkeram setir mobil erat-erat. Ia sudah bisa mengatur kembali emosinya, wajahnya tidak terlalu tegang seperti tadi. “Shireo. Aku tak mau kau menuntutku karena terjadi sesuatu padamu setelah aku menurunkanmu di jalanan,” ucapnya datar.

Yoona mengalihkannya ke kaca jendela, muak menghadapi sikap Siwon yang menyebalkan. Pikirannya benar-benar telah dibuat kacau karena pria di sampingnya itu. Ia jatuh cinta, marah, bingung, penasaran, benci, dan entah apalagi rasa yang memenuhi dadanya.

***

 

Paginya Yoona melakukan aktivitasnya dengan cepat. Mandi, berpakaian, dan berdandan ia lakukan tak lebih selama dua puluh menit. Setelah dengan tergesa mengulaskan pemulas bibirnya, Yoona beranjak dari meja rias dan meraih tasnya. “Aku berangkat sekarang saja,” katanya pada Sooyoung yang baru selesai berganti pakaian.

“Tidak sarapan dulu?” tanya Sooyoung heran. Mereka berdua adalah orang-orang yang paling jarang melewatkan waktu makan begitu saja. “Masih ada banyak waktu.”

Yoona menggeleng malas. “Aku sedang tidak ingin bertemu oppa-mu.”

“Wae? Bukankah sudah kubilang kalau dia juga menyukaimu. Kalian bertengkar?” cecar Sooyoung penasaran.

Kepala Yoona ganti mengangguk. “Kurang lebih begitu.” Gadis itu terdiam sejenak dan terlihat berpikir. Menimbang-nimbang apakah ia harus mengutarakan pemikirannya pada Sooyoung atau tidak. “Tapi, apa menurutmu dia benar-benar menyukaiku? Kau sendiri yang bilang dia punya banyak kekasih.”

Sooyoung berdecak gemas. “Siwon Oppa tidak punya kekasih, dia hanya punya banyak teman wanita,” ralatnya. “Ingatanmu benar-benar payah.”

“Sama saja,” gerutu Yoona.

“Tentu saja beda,” sangkal Sooyoung cepat. “Kkokjonghajima, aku mengenal Siwon Oppa dengan baik. Dia benar-benar menyukaimu. Bahkan sekarang dia jarang menghabiskan malam di luar. Kurasa dia sedang meyakinkan dirinya sendiri. Bersabarlah sedikit lagi.”

 

 

Senyum Yoona terus muncul jika mengingat ucapan Sooyoung padanya pagi tadi. Mungkin benar kalau Siwon benar-benar menyukainya, jika ia mengesampingkan semua amarah dan sikap dingin pria itu. Yoona berniat akan lebih bersabar dalam menghadapi Siwon, mengikuti instruksi Sooyoung.

Lift yang sedang membawanya turun ke lantai satu terbuka dan beberapa orang masuk ke dalamnya. Cepat-cepat Yoona keluar sebelum lift itu kembali menutup dan naik ke lantai atas. Langkahnya begitu ringan. Ponsel yang digenggamnya tiba-tiba berbunyi, menampilkan foto Sooyoung di layarnya.

“Moshi-moshi, Yoona di sini,” sapanya riang.

“Eodiga?” tanya Sooyoung dari seberang. “Aku dan Yunho Oppa baru sampai di butik.”

“Aku di Seoul Royal Hotel, membuat reservasi untuk pestamu. Semuanya sudah kusesuaikan dengan perintahmu, calon Nyonya Jung,” lapor Yoona.

Sooyoung terkekeh. “Wah, kerjamu cepat juga. Kita bertemu lagi saat makan siang, eoh? Jangan terlambat!”

“Arraso,” jawab Yoona. Ia menutup teleponnya dan berjalan menuju pintu keluar hotel. Saat melewati lobi hotel mewah itu, mata Yoona menangkap pemandangan yang membuat hatinya panas. Ada Siwon di sana yang tampaknya sedang membuat reservasi, dengan wanita yang Yoona kenali sebagai Victoria, menggelayut manja di lengannya.

Kaki Yoona melangkah mendekati mereka tanpa diperintah. Batinnya dipenuhi pertanyaan apa yang mereka lakukan di sini. Pada jam kerja. Dan jelas terlihat kalau Victoria bukan rekan kerja Siwon. Rasa penasarannya telah mengalahkan logika dan gengsinya yang besar.

“Oppa, gadis itu benar-benar akan terus tinggal di apartemenmu? Bukankah tidak nyaman tinggal bersama orang asing?” kata-kata Victoria cukup jelas terdengar di telinga Yoona, yang membuatnya makin panas. Niatnya bersabar ketika berhadapan dengan Siwon segera ia buang jauh-jauh. Pria itu sepertinya memang benar-benar sedang mempermainkannya.

Siwon tidak menanggapi, masih sibuk menulis sesuatu di depan resepsionis. Tak lama ia beralih pada Victoria. “Tidak apa-apa kalau hanya executive room? Mereka kehabisan royal lounge,” ucapnya yang disambut anggukan setuju dari Victoria.

Yoona tertawa tanpa suara, tidak percaya pada apa yang baru saja ia lihat dan dengar. Siwon bersikap begitu lembut pada wanita, bahkan menanyakan pendapatnya. Hal yang sama sekali belum pernah ia lakukan pada Yoona. Ia menjadi ragu. Benarkah Siwon menyukainya seperti kata Sooyoung dan Jonghyun? Tidak, hati Yoona menjawab meski terasa sakit. Kalau Siwon menyukainya, tak mungkin saat ini ia bersama seorang wanita pergi ke hotel dan memesan kamar.

“Jadi kau selalu bermesraan di dalam kamar hotel? Pantas saja kau menyebut jalanan tempat umum jika bandingannya adalah kamar hotel yang tertutup,” celetuk Yoona sinis saat Siwon menyerahkan kartu kreditnya untuk membayar. Masih teringat jelas di otaknya saat pria itu dengan sinis menyebutnya dan Jonghyun sedang bermesraan di tempat umum.

Keduanya berbalik menatap Yoona yang ada di belakang mereka.

“Aku tidak menyangka kau melakukannya pada jam kerja juga,” lanjut Yoona sarkastik. Ia tak peduli terlihat menggelikan dan  konyol. Yoona hanya ingin melampiaskan apa yang ia rasakan saat ini, setelah beberapa lama terus menahannya.

Siwon tampak terkejut, namun masih bisa mengontrolnya, membuat wajahnya kembali datar seperti biasa. “Ini tidak seperti yang kau bayangkan.”

“Aku tidak membayangkannya, aku melihatnya,” balas Yoona keras kepala. “Ternyata dugaanku meleset. Kau bahkan lebih buruk dari yang kupikirkan.”

“Memang apa urusanmu kalau kami pergi ke hotel berdua?” sela Victoria. Sebuah senyum licik muncul menghiasi bibirnya. “Aku sudah tahu kalau kau adalah teman Sooyoung, jadi kurasa kau tidak berhak ikut campur pada apa yang Siwon Oppa lakukan.”

Yoona tertegun. Apa yang dikatakan Victoria benar. Ia bukan siapa-siapa dan tidak punya hak mencela perilaku Siwon di manapun ia berada.

“Geumanhe. Orang-orang memperhatikan kita,” ucap Siwon lirih, mencoba mendinginkan keadaan sebelum terjadi sesuatu yang besar. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya pada Yoona.

“Bukan urusanmu.” Yoona benar-benar merasa konyol, membiarkan emosi dan cemburu menguasai dirinya hingga berbuat bodoh seperti ini. Menyesali tindakannya yang gegabah dan tanpa pikir panjang. Selalu saja begitu. Kalau boleh meminta, ia ingin berada di belahan bumi paling terpencil agar tak perlu melihat Siwon. Terpaksa ia harus mengaku kalah. Ucapan Victoria seluruhnya benar. Dan sepertinya mundur adalah jalan terbaik baginya.

Cepat-cepat Yoona berbalik, berniat pergi dari sana tanpa membuat kekonyolan lain. Tapi kali ini Siwon lebih cepat bereaksi, menahan lengan Yoona lalu menggenggam jemarinya erat.

“Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku!” erang Yoona yang sekuat tenaga berusaha melepaskan diri meski ia pesimis berhasil.

Siwon mengambil kunci kamar yang disodorkan oleh petugas hotel lalu berbicara pada Victoria. “Aku akan pakai yang ini, kau pesan kamar lain saja,” katanya memberitahu. Dengan paksa Siwon menarik Yoona pergi dari sana, masuk ke dalam lift yang membawa mereka ke lantai sepuluh. Meninggalkan Victoria yang mengajukan berbagai protes tidak terima. “Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan pikiran seperti itu.”

“Lepas!” Yoona masih berusaha melepaskan diri dari genggaman Siwon.

Untung saja tidak ada orang lain di dalam lift itu, membuat Siwon leluasa menahan Yoona tanpa ada tatapan penuh curiga. “Jangan berharap bisa lepas dariku. Aku tahu kau akan melarikan diri begitu kulepaskan,” balasnya santai seakan tahu pikiran Yoona.

 

 

Mereka berdiri berhadapan, saling memandang tajam satu sama lain. Tidak ada yang bicara selama beberapa saat. Terlebih Yoona. Menurutnya Siwon-lah yang harus bicara karena ia yang telah menyeretnya ke kamar hotel dan menguncinya dari dalam.

Siwon akhirnya bergerak lebih dulu, melepas jas yang ia pakai dan melemparnya ke tempat tidur. “Kau cemburu pada Victoria? Kau merasa marah melihatku bersamanya?”

“Apa pedulimu pada perasaanku?”

“Tentu saja aku peduli,” jawab Siwon cepat, yang tak pernah Yoona sangka.

Yoona menutupi keterkejutannya dengan tawa canggung. “Kau peduli? Bagian mana pedulimu? Yang kau lakukan selama ini hanyalah membuatku marah dan jengkel. Tidakkah kau menyadarinya?”

“Marah? Jengkel?”

“Kau pikir aku tidak marah?” ucap Yoona keras. Ia menarik napas panjang putus asa, mengatur emosinya sejenak. “Kau memperlakukanku seperti pelayanmu, mencuri ciuman pertamaku, menggodaku di setiap kesempatan, juga membentakku hanya karena masalah kecil. Menurutmu itu tidak membuatku marah?”

Alis Siwon menyatu, kaget dan bingung mendengar perkataan Yoona. Kakinya maju selangkah, membuat jarak mereka hanya tersisa lima puluh senti. “Mengapa kau tak bilang sejak awal?”

“Kau yang mengapa tak bilang sejak awal,” balas Yoona terengah. “Mengapa tak bilang kalau kau membenciku? Mengapa membiarkan aku tinggal di apartemenmu, membiarkan aku tidur di tempat tidurmu, mengapa mencium dan menggodaku, lalu membuatku jatuh cinta,” lanjut Yoona pelan, yang langsung disesalinya. Ia telah menyatakan cinta pada pria itu tanpa disadari.

Siwon tiba-tiba tertawa, membuat Yoona yang menunduk mengangkat kepalanya heran. Baru kali ini ia melihat tawa Siwon yang begitu lepas. Tawa itu berhasil membuat es yang selalu menyelimutinya mencair begitu saja. Sayangnya yang membuat Siwon tertawa justru pernyataan cintanya.

“Kau menertawakanku?”

“Aku menertawakan kita berdua, Pabo,” kata Siwon geli.

“Mwo? Pabo?” Yoona memukul lengan Siwon tidak terima. “Seenaknya saja kau mengataiku bodoh.”

Seharusnya Yoona tahu segala bentuk kekerasan fisik yang ia lakukan dapat dengan mudah Siwon tangani. Kedua tangannya kini sudah terperangkap dalam genggaman Siwon. “Kau boleh memukulku sampai puas nanti, tapi sekarang dengarkan aku baik-baik!”

Yoona berhenti meronta. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang saat Siwon menatapnya dalam, menembus iris cokelatnya. Jemarinya menghangat karena genggaman pria itu. Juga hatinya, setelah melihat kedua lesung pipit Siwon yang begitu manis.

“Bagaimana bisa kau begitu bodoh? Aku mengizinkanmu tinggal, setiap malam aku selalu pulang sebelum jam makan, aku mengkhawatirkanmu saat kau tidak juga pulang padahal malam sudah larut. Aku bahkan ikut kalian ke restoran samgyeopsal agar kau tidak berduaan dengan Jonghyun. Apa kau tahu aku tidak pernah pergi ke klub dan selalu makan di rumah sejak kau tinggal? Bukankah aku juga bertanya padamu apa aku perlu bersikap hangat? Tapi kau malah langsung marah-marah.”

Kata-kata Siwon sukses membuat mulut Yoona melongo. Campuran terkejut, takjub, heran, dan tidak percaya.

Siwon tersenyum melihat reaksi Yoona. “Kau tidak pernah memikirkannya? Aku hampir frustasi karena kau tidak juga menunjukkan tanda-tanda menyukaiku.” Tangannya naik untuk menyelipkan beberapa helai rambut Yoona ke belakang telingnya. “Masih marah padaku?”

Yoona menarik tangannya dari genggaman Siwon dan menjauhkan dirinya. Sebisa mungkin menghindari kontak fisik yang akan membuat fungsi otaknya terganggu. “Jinjayo?” tanyanya ragu.

“Aku terlihat seperti sedang berbohong?”

Tangan Yoona terangkat lagi dan memukul dada bidang Siwon, meluapkan kekesalan yang ia rasa. “Pabo! Mengapa kau baru bilang sekarang? Aku sangat tersiksa karena semua ini,” semburnya marah. Siwon tidak melawan, menepati janji membiarkan Yoona kembali memukulinya. “Aku marah karena semua sikapmu padaku, aku bingung pada perasaanku, penasaran seperti apa dirimu sebenarnya, takut kalau kau membenciku, dan jatuh cinta padamu,” pekiknya keras.

Nafas Yoona sedikit terengah hingga pukulannya di dada Siwon semakin melemah, dan akhirnya berhenti. “Seharusnya kau mengatakan apa yang kauinginkan sejak awal, tidak seperti ini,” sungutnya manja.

“Kau sudah selesai memukuliku?” tanya Siwon memastikan, yang dibalas Yoona dengan lirikan tajam. “Mianhe, tapi aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membuatmu jatuh cinta padaku. Sejak awal kau terlihat tidak tertarik sama sekali. Jadi aku melakukan hal-hal konyol padamu,” kenang Siwon sambil tersenyum.

Yoona berusaha menahan luapan air matanya dengan menggigit bibir bawahnya. Perasaan lega langsung menyelimuti hatinya. Meski masih sulit untuk percaya, ia merasakan ketulusan dan kejujuran dalam setiap ucapan Siwon.

“Saat tidak sengaja melihat fotomu dan Sooyoung, aku langsung tahu ada yang berbeda dengan perasaanku padamu. Lalu malam itu, tiba-tiba kau ada di apartemenku. Hanya dalam beberapa menit aku tahu kalau aku menginginkanmu.”

“Pabo,” isak Yoona. Ia tak bisa lagi menahan air matanya. Ini terlalu membahagiakan. Dalam hati Yoona berdoa kalau ini bukan hanya mimpi. Kalaupun ini mimpi, ia berharap tidak akan pernah terbangun. “Kenapa kau tidak mengatakan kalau kau menginginkanku? Kalau kau tidak mengatakannya, aku mana tahu apa yang kau rasakan,” omelnya sambil tetap menangis.

Jemari Siwon menyentuh pipi Yoona yang basah, menghapus tetesan air mata yang ada di sana dengan lembut. “Aku sedang mengatakannya sekarang. Bukan hanya kau yang tersiksa, aku juga.” Siwon maju selangkah sebelum membawa Yoona asuk ke dalam pelukannya. Mengusap rambutnya sayang dan menepuk punggungnya, berusaha meredakan isak gadis itu.

“Mulai sekarang jangan berbuat seperti itu lagi. Jangan membuatku bingung dengan semua tingkahmu. Jangan membuatku marah karena kau tidak suka aku pergi dengan orang lain. Katakan apa yang kau inginkan. Beritahu aku apa yang kau rasakan,” ucap Yoona sebelum membenamkan wajahnya di dada Siwon.

Siwon tersenyum. “Arra. Mulai saat ini aku akan mengatakan semuanya padamu.”

Senyum Yoona muncul dalam tangisnya. Berurusan dengan Siwon yang dikenal playboy benar-benar membuatnya stres. Tunggu, playboy? Tangan Yoona yang sejak tadi berada di sisi tubuhnya tiba-tiba terangkat dan mendorong Siwon menjauh darinya saat ia teringat sesuatu.

“Ada apa?” tanya Siwon heran karena Yoona kembali menatapnya dengan galak.

“Apa yang sedang kau lakukan di hotel bersama wanita itu?” Yoona balik bertanya dengan nada menuduh.

Siwon butuh beberapa detik untuk memahami maksud pertanyaan Yoona. Tawa singkatnya muncul setelah ia tahu wanita yang dimaksud Yoona adalah Victoria. “Tidak ada. Ayahnya, Tuan Song, adalah rekan bisnisku. Beliau tinggal di China dan besok akan berkunjung kemari. Aku datang dengannya karena dia putrinya dan tahu betul bagaimana selera Tuan Song untuk urusan tempat tinggal.”

“Gotjimal.”

“Aku tidak berbohong. Beliau ingin tinggal di sini tapi mereka kehabisan royal lounge, jadi aku berusaha mencarikannya kamar lain. Saat aku menanyakan pada Victoria tentang masalah ini dia memaksa untuk ikut kemari,” jelas Siwon.

Yoona membuang muka begitu mendengar semua itu. Terlalu malu karena lagi-lagi ia melakukan hal konyol. Terlebih jika melihat Siwon yang dengan begitu santai menjelaskan alasan mereka bersama.

“Sepertinya salah paham di antara kita sudah selesai. Benar, kan?” Siwon kembali meraih jemari Yoona, mengabaikan wajah merona gadis itu yang terlalu malu setelah menuduhnya macam-macam. “Masih marah?” tanya Siwon lagi.

“Memangnya kenapa kalau aku masih marah?” Yoona masih betah melihat pemandangan kota lewat jendela di sampingnya, berusaha menyembunyikan rasa malunya pada Siwon.

“Karena aku ingin memeluk dan menciummu. Aku tidak bisa melakukannya kalau kau marah. Bisa-bisa kau memukulku lagi.”

Darah Yoona seperti mengalir deras ke wajahnya. Malu mendengar ucapan Siwon yang sangat blak-blakan. “Bagaimana… bagaimana bisa kau membicarakan hal seperti itu?”

Siwon memasang wajah datar tanpa ekspresinya lagi. “Bukankah tadi kau yang bilang kalau aku harus mengatakan semuanya. Apapun yang kuinginkan.”

“Isshh,” desis Yoona frustasi.

“Lihat aku,” Siwon menangkup wajah Yoona, membimbing agar balas menatapnya. Raut mukanya berubah serius. “Aku menginginkanmu, cintamu, dan semua yang ada pada dirimu.”

Bibir Yoona bergerak-gerak hendak membalas pernyataan Siwon, namun tak ada suara yang keluar dari sana. Semua perbendaharaan katanya menghilang dan tak ia temukan kata-kata yang bisa ia ucapkan saat ini. Yoona akhirnya hanya tersenyum sambil menatap Siwon dalam, berharap sinaran matanya mampu menjawab kata-kata pria itu.

Siwon balas tersenyum, mulai mendekatkan wajahnya pada Yoona. Dalam sekejap bibir mereka sudah menempel, saling berbagi kehangatan yang mereka punya. Tangan Siwon turun dari pipi Yoona, melewati bahu, lengan, dan akhirnya berhenti di pinggang gadis itu. Membawanya masuk lebih dalam ke kungkungan lengannya.

Mata Yoona terpejam merasakan bibir Siwon menari di bibirnya. Memberanikan diri untuk balas memeluk Siwon di pinggangnya, lalu tanpa ia sadari tangannya mulai naik mengelus dada Siwon yang tertutup kemeja. Sebentar kemudian tangannya naik lagi ke tengkuk Siwon, sesekali meremas rambut pria itu saat Siwon menggigit pelan bibirnya.

Siwon mengakhiri ciumannya dengan satu kecupan kecil, sebelum ia benar-benar menjauhkan wajahnya dari bibir Yoona. “Satu keinginanku terkabul,” candanya.

Yoona tertawa pelan. “Apa lagi yang kau inginkan?” tantangnya.

Satu alis Siwon terangkat mendengar pertanyaan Yoona yang baginya adalah sebuah pancingan. Pandangannya tertuju pada tempat tidur empuk di samping mereka lalu berganti pada Yoona.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Yoona takut-takut saat mengikuti pandangan Siwon. “Jangan macam-macam denganku!”

“Ini bukan yang pertama bagi kita. Kau ingat memelukku begitu erat saat tidur di kamarku?”

Yoona mendesah terkejut. Pipinya kini sudah benar-benar merah. Ia cepat-cepat melepas pelukannya di tengkuk Siwon dan berusaha menjauh. Sayangnya, tangan Siwon yang ada di pinggang Yoona menahannya cukup kuat, tidak membiarkan Yoona berada lebih jauh darinya. “Aku tidak pernah melakukannya,” elak Yoona gugup.

Dengan sekali gerakan, Siwon menjatuhkan Yoona ke tempat tidur, membuatnya menjerit kecil. Ia menindih Yoona yang berbaring terlentang, bertopang pada siku agar beratnya tidak membebani gadisnya itu. “Kau melakukannya. Percayalah,” goda Siwon.

Yoona meringis kecil. Pikirannya sudah melayang ke mana-mana dengan posisinya dan Siwon yang seperti itu. “Aku pasti tidak sadar saat melakukannya.” Perlahan Yoona berusaha menelan ludahnya, membasahi tenggorokannya yang terasa sangat kering karena terlalu tegang. Tatapannya dan Siwon masih saling mengunci, membuatnya semakin salah tingkah. “Emm.. Kau benar-benar akan melakukannya padaku? Di jam kerja?”

Siwon terkekeh. “Haruskah aku mencari waktu lain?”

Tangan kurus Yoona memukul-mukul pundak Siwon. “Berhentilah, aku malu sekali,” pintanya memelas.

Tawa Siwon semakin keras. “Arra,” desahnya di sela tawanya. “Aku akan berhenti menggodamu.” Mata Siwon menelusuri wajah Yoona yang masih merona. Mengagumi setiap detail yang selalu mengusik pikirannya beberapa waktu ini. “Im Yoona,” bisiknya untuk pertama kali memanggil Yoona dengan namanya, “saranghae.”

Yoona mengalungkan tangannya di leher Siwon, menariknya lebih dekat dengannya. “Nado saranghae,” balasnya lirih sebelum Siwon mengecup lagi bibirnya.

 

 

-END-

 

Akhirnya selesai juga. Kok saya kayaknya seneng banget menutup cerita dengan kissing ya? *abaikan. Gimana? Gimana? Puas ngga? Atau ada yang kurang? Nggak tau apa yang harus saya omongin lagi di sini. Yang jelas saya udah berusaha semaksimal mungkin menyelesaikan cerita ini. Dan hasilnya ya…ini. maaf kalo jauh dari ekspektasi kalian dan mengecewakan ya. Saran dan kritik tetep ditunggu banget lewat kolom komentar. So, bagi yang udah baca jangan lupa RCL dan jangan jadi siders yaaa…

Buat admin Gee/Echa makasih banyak udah posting. *bighug

Tinggalkan komentar

378 Komentar

  1. wah wah wah … Ending yang memuaskan.
    AKhirnya, ke-jaim-an Yoonwon berakhir juga …
    btw, katanya Siwon playboy, tapi mau menyatakan suka ke Yoona aj rempong banget … Sampe2 berlaku konyol bin ajaib gitu.
    Tapi, ya sudahlah … tak peduli mau gmna pun anehnya perjalanan cinta mereka, asal happy ending, saya bahagia …
    Your story is really great, author-nim …

    Balas
  2. Desiputu16

     /  Oktober 27, 2015

    Mereka psangan yg serasi, saling suka tapi slalu berantem..
    Hihi bagaimana ktika mreka sudah mnikah???
    Pnasaran,,,

    Balas
  3. Akhirnya mereka ungkapin perasaan mereka, kalau memang mereka itu saling mencintai bahkan siwon jatuh cinta sebelum mereka ketemu 😊😘
    So sweet banget mereka 😊😘❤️

    Balas
  4. Tuh kan sama2 suka hahah 😀 pake jaim segala lagi ckckck untung pas yoona mau prgi dari apartemenny siwon dicegat sama sooyoung kalo ga yaa mngkin lain cerita kaliyaa hihi happy ending ^^

    Balas
  5. jenjeje

     /  November 7, 2015

    yeaaaahhh 🙌
    akhrx mom n dad cma*
    mngkui prsaan mrk berdua jga
    kkkkkk 😁
    sequelx donk tor

    Balas
  6. Omaigoottt So Sweett….
    aku sampe senyum” sendiri bacany…

    Balas
  7. sherin

     /  November 8, 2015

    akhirnya siwon ngaku jga klu ska sma yoona,,siwon bahkan sdh ngk plng larut n lebih ska mkn di rumh krn yoona,

    Balas
  8. Ceritanya sangat bagus Thor …..
    Mereka berdua sama2 bodoh… Tidak bisa ngungkapin perasaan satu sama lain…
    Tapi seneng banget akhirnya mereka bisa bersatu…
    Adegan akhir… Mereka so sweet banget…

    Good Job Thor…

    Balas
  9. akhirnya, yoona & siwon mengakui perasaan mereka masing”, ternyaya uoona hanya salah paham tentang hubungan victoria & siwon

    Balas
  10. Angel Yoonwonited

     /  November 11, 2015

    so sweet akhir merea rsatu juga

    Balas
  11. Endang yang manis ss
    Ditunggu password nya thor untuk sequel nyaa

    Balas
  12. arum

     /  Desember 15, 2015

    wow ini keren banget, ternyata yoona juga suka masa siwon tak bisa disangka sangka.

    Balas
  13. Ah..,,akhirnya smua ksalahpahaman mrka terselesaikan dgn baik… Lega bgt… Mnurut aku endingnya manis bgt….

    Balas
  14. melani

     /  Maret 9, 2016

    Akhirnya mereka saling ngungkapin perasaan masing” n ternyata siwon juga suka sama yoona walaupun sikapnya kyk gitu ke yoona..

    Balas
  15. Ternyata siwon oppa juga suka sama yoona unnie,sempat deg deg an juga sama prilaku oppa ke unnie
    Good job unnie

    Balas
  16. AuliaYW/Aulia Araby

     /  Juni 19, 2016

    Siwon oppa cmbru massa hihihi..
    Yee trnyta Siwon oppa cinta sami yoona eonni bgtu pun sebaliknya..

    Balas
  17. Just_esti

     /  Juni 25, 2016

    Yeayyy finally yoonwon jadian juga..ckckck walaupun sempet cekcok dlu..xixixi gpp deh yg penting mereka jd dah 😀

    Balas
  18. lasmae

     /  Agustus 12, 2016

    Cieeee yang jadian mesra bget…
    haha kocak bget baca dari awal. Pa lgi pas yoona ngerjain swon… lucu bget

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: