[FF] True Love (Chapter 3)

truelove

True Love [3]

©msdandelion,2014.

There is a pain in every love.

.

.

Siwon/Yoona |Romance/Hurt|Chaptered
for Parental Guidance viewing.

1 | 2

Thanks for chocolatesoda for amazing poster.

.
.
.
Senandungan kecil keluar dari bibir Sooyeon, sesaat kemudian ia mematikan lagu dari ipod miliknya begitu pesanannya datang. Lantas setelah itu, ia memutuskan untuk melihat sebentar teleponnya—siapa tahu jika nanti Donghae akan meneleponnya?

Mustahil, itu hanya harapan kecil Sooyeon agar Donghae meneleponnya terlebih dahulu. Sooyeon hanya menghela napasnya yang tertahan, lalu menekan beberapa nomor. Baiklah, kali ini ia akan lebih memilih untuk menelepon Donghae terlebih dahulu.

“Donghae?” tanya Sooyeon begitu ia mendengar suara gumaman pria itu.

“Oh, Sooyeon. Ada apa?

Mereka melanjutkan obrolan tersebut dengan saling menanyakan keadaan satu sama lain. Hanya percakapan biasa. Hanya Sooyeon yang terus menuntut Donghae dengan berbagai pertanyaan.

“Baiklah, aku akan menunggumu,” sahut Sooyeon kemudian menutup sambungannya dengan Donghae. Ia merunduk, menjembabkan kepalanya dalam lipatan kedua lengannya.

“Kau terlalu gampang untuk dibodohi.”

Dan Sooyeon hanya dapat terlarut dalam keheningan sembari menunggu Donghae datang menemuinya.

.

.

.

Yoona sedikit melenguh tatkala ia merasa persendian tangan serta tubuhnya terasa sakit. Ia memandang sebentar tampilan dirinya pada cermin, sungguh dia terlihat mengerikan sekarang. Yoona seperti ingin menghilang segera, lingkaran matanya lebih besar serta wajahnya yang terlihat kusam, begitu pula dengan rambutnya yang terlihat acak-acakan.

“Eh, apa ini?”

Yoona menatap bungkusan plastik yang ada dimeja kerjanya, setahunya selama ia tertidur tadi semua karyawan telah pulang, sebab tak mungkin masih ada yang bekerja saat jam menunjukan pukul sepuluh malam.

“Ini dari Andrew?” Yoona terkejut selama sepersekian detik begitu ia membaca kartu yang tertulis di dalam bungkusan plastik tersebut.

Yoona mencoba membuka bungkusan tersebut, dan di dalamnya terdapat ddeokbokki—makanan kesukaanya. Lantas ia memakannya, sedikit berterima kasih padanya—sebab yoona yang sangat kelaparan saat ini.

Setelah selesai, Yoona segera membereskan semua barang yang berserakan di atas meja kerjanya, lantas keluar mencari tumpangan.

“Apa jam segini masih ada taksi yang lewat?” desah Yoona tatkala menilik jam tangannya.

Bagaimana jika tidak ada taksi yang lewat? Apa ia harus pulang dengan jalan kaki? Yang benar saja, Yoona benar-benar akan merutuki kesialan yang terjadi hari ini jika ia harus pulang dengan jalan.

Tin…Tin…

Suara klakson mobil sedikit memekakkan pendegaran Yoona, ia menggerutu begitu melihat siapa pemilik mobil tersebut.

“Hei, kau tidak bisa ya jika tidak mengejutkanku seperti itu?” Yoona mendengus tatkala memandang Siwon yang hanya terkekeh menatapnya balik hingga kedua pasang iris mereka saling bersirobok.

“Memangnya kenapa, nona? Padahal baru saja aku akan menawarkan tumpangan padamu,” balas Siwon diselingi kekehannya yang terdengar kentara sekali.

Yoona menatap sebal Siwon, lelaki ini benar-benar membuat mood-nya seketika mendadak kembali buruk. Jika saja ia sudah mendapat taksi sejak tadi, dia tidak akan memilih merendahkan dirinya seperti ini; menerima tumpangan dari Andrew.

“Terima kasih!” sungut Yoona tetap dengan wajah kesal, Siwon hanya mengigit bibirnya menahan tawanya.

“Omong-omong, bagaimana dengan makanan yang tadi?” Siwon mencoba mengajak Yoona berbicara, setelah sebelumnya mereka larut dalam kegiatan masing-masing; Yoona sibuk dengan handphone miliknya; dan Siwon dengan kemudi mobil.

“Enak,” jawab Yoona sembarang, ia begitu malas menanggapi pembicaran pria itu. Tubuhnya saja sudah lemas, rasanya ia ingin segera bertemu dengan bantal dan kasur empuk miliknya.

“Kau gadis pemarah juga ya ternyata.”

Pernyataan Siwon barusan membuat Yoona terhenyak. Gadis pemarah? Tidak, sebenarnya Yoona bukan orang yang mudah menyimpan dendam pada orang lain. Hanya saja, hari ini Yoona memang tak mempunyi mood yang apik—apalagi setelah pertemuannya dengan Donghae tadi sore ditambah kebingungannya dengan hubungan Tiffany yang kesal padanya.

Seketika pula pikirannya dilingkupi oleh kejadian tempo hari lalu. Ketika ia makan siang bersama dengan Siwon. Apa ia harus menanyakan sekarang pada Siwon?

“Aku boleh tanya sesuatu?” tanya Yoona ketika mobil Siwon terus melaju di tengah heningnya malam kota Seoul.

“Apa, apa ada sesuatu yang ingin kau tahu dariku?

“Tentu, apa kau kenal dengan Miyoung?” tanya Yoona kembali sembari menjinjitkan alisnya penasaran.

Dan ketika ia memandang kerutan pada dahi Siwon, lantas ia memelankan suaranya. Ia kecewa karena ternyata apa yang ada dipikirannya selama ini salah.

“Jadi, kau tidak mengenal seseorang yang bernama Miyoung’ya?

“Eum, tidak juga. Banyak sekali kenalanku yang bernama Miyong. Kita lanjutkan saja nanti saja’ya,” Sahut Siwon begitu mobilnya telah sampai di depan gedung apartemen milik Yoona.

“Oh, baiklah,” tukas Yoona, kemudian melangkahkan kedua tungkainya keluar dari mobil Siwon.

“Jangan lupa, kau masih memilik beberapa hari denganku,” timpal Siwon begitu Yoona hampir menuju pintu masuk.

“Issh, tenang saja!” seru Yoona dengan kesal.

.

.

.

Sooyeon begitu larut dengan keindahan malam Seoul—yang begitu memukau dirinya. Seakan-akan berbagai kekesalannya pada Donghae tadi meluap. Setidaknya menunggu Donghae hingga sejam lamanya tidak membuat hatinya sakit begitu dalam.

“Tadi kau ingin berbicara apa padaku?” suara Donghae memecahkan kegiatan Sooyeon sejenak. Ia kembali teringat dengan obrolannya dengan Donghae tadi. Apa ia harus menanyakan kepada Donghae sekarang?

“Bagaimana dengan Yoona?” dengan keberanian yang sudah dikumpulkannya sejak tadi, Sooyeon beralih memandang Donghae.

“Kurasa ia masih terkejut,” balas Donghae pelan, seperti ada perasaan menyedihkan yang tersirat di dalamnya. Dan Sooyeon tahu—semua yang terjadi pada Donghae.

Sooyeon menghela napasnya; menyasatkan kesakitannya agar tak kentara sama sekali. Sesekali ia mengulas senyum—lantaran dirinya kini dilingkupi kesakitan mendalam.

“Aku sangat minta maaf, aku benar-benar tidak bermaksud merusak segalanya,” sahut Sooyeon sembari menundukan kepalanya. Tidak, ia tak sanggup menatap sedikit pun reaksi Donghae. Membiarkan kedua kelopak matanya turut terpejam seiring kekalutannya yang semakin besar.

“Ini bukan salahmu sepenuhnya, Sooyeon.” suara lembut Donghae menelisik pendengaran Sooyeon, entah mengapa setelah mendengarnya, ia sedikit menegadah lantas menaikan kedua sudut bibirnya.

Dia tahu Donghae sedang membohongi dirinya sendiri, mengatakan padanya bahwa semua yang terjadi hanyalah sebuah insiden saja. Nyatanya, Sooyeon tahu kalau semua ini memang berhubungan dengannya. Pria mana yang sedih ketika ia harus meninggalkan gadis yang dicintai hanya karena sebuah kejadian konyol?

Sooyeon mengerti, karena bukan hanya Donghae saja yang sakit. Menatap Donghae seperti ini pun, rasanya ada yang mencabik-cabik hatinya saat ini juga.

.

.

.

Tiffany lekas-lekas segera keluar dari studio begitu ia mendapat pesan dari teman lamanya di Amerika.

“Ok Taecyeon,” panggilnya sembari melambai pada Taecyeon yang sedang terduduk di salah satu meja di kafe ini.

“Lama tak bertemu denganmu, dan tidak ada yang berubah ya?” tanya Tiffany begitu memandang secangkir americano dan sepiring cheeseecake tergeletak dan belum tersentuh sama sekali.

“Kau tahu tentang seleraku’kan? Aku sudah pesankan juga untukmu.” balas Taecyeon kemudian beralih merangkul Tiffany duduk.

“Mengapa kau tiba-tiba saja datang kesini?” tanya Tiffany—lantas menyeruput capuccino-nya yang baru saja datang.

“Tentu saja untuk bertemu denganmu,” ujar Taecyeon yang kemudian dibalas dengan suara kekehen Tiffany.

“Kebohonganmu sudah terlampau parah, Ok Taecyeon,” timpal Tiffany sedangkan Taecyeon tertawa pelan.

“Apa kentara sekali? Aku benar-benar ke sini untuk bertemu denganmu.”

Sepersekian detik digunakan Tiffany untuk menatap iris kecoklatan milik Taecyeon, mencari tahu apakah Taecyeon berbohong apa tidak. Dan hasil yang didapatkan Tiffany, samasekali tidak ada—nihil.

“Kau benar, lalu untuk apa?”

“Kalau aku bilang aku merindukanmu bagaimana?” Kau masih memikirkan mantanmu yang bodoh itu?”

Tiffany hanya mengendikan bahunya, “Jawab aku, Tiffany!” desah Taecyeon begitu memandang Tiffany kesulitan menjawab pertanyaannya barusan.

“Aku tidak mengerti Taecyeon, dan bisakah kita membahas topik lain?”

Taecyeon melirik Tiffany sekilas, lantas meneguk americano-nya hingga tandas. “Kita lanjutkan saja besok, sudah terlalu larut untuk sekarang. Aku akan mengantarmu pulang.”

Tiffany hanya mengangguk, kemudian mengambil tas miliknya mengikuti langkahan kedua tungkai kaki Taecyeon menuju pintu keluar.

Sebenarnya kenapa Taecyeon? Kenapa kalau aku masih mencintai Siwon?

.

.

.

Jam telah menunjukan pukul duabelas malam.

Siwon masih belum menunjukan tanda-tanda bahwa ia akan menuju mimpi dengan cepat. Masih banyak persoalan yang melingkupi pikirannya, yang jelas-jelas membuat dirinya merasa kebingungan.

Pertama, tentang Yoona yang menanyakan apa ia mengenal dengan Miyoung? Apa yang disebut oleh Yoona adalah Hwang Miyoung?

Apa Yoona merasa penasaran dengan kejadian siang hari saat ia pergi meninggalkan gadis itu begitu saja?

Belum lagi, tatkala ia secara tak sengaja menilik Tiffany bersama dengan Taecyeon—saat ia tak sengaja melihat mereka disalah satu kafe, ketika ia sedang mengantar Yoona. Mengapa sekonyong-konyong ia merasa kalau Tiffany membuat hatinya terasa panas? Bukankah ia sendiri telah meninggalkan Tiffany?

Terakhir, dan persoalan satu ini sangat membuat Siwon ingin segera mengakhiri masa lajangnnya dengan cepat sebelum ia harus mengikuti saran ayahnya yang menjodohkannya dengan seseorang perempuan kenalan ayahnya. Apa ayahnya berikir bahwa ia lelaki yang tidak laku? Dengan wajah tampan dan kekayaan yang berlimpah dapat membuatnya untuk mendapatkan gadis manapun.

Mungkin, malam ini Siwon tidak akan bisa tidur dengan nyenyak.

.

.

.

Pagi ini cukup merepotkan bagi Yoona, entahlah—karena keteledoran dirinya kemarin, hampir semua gambar-gambar yang akan dibuat menjadi bahan fitting belum terselesaikan. Semua masalah itu cukup membuat kepalanya Yoona berdenyut-denyut seiring dengan dering telepon yang semakin mengeras.

“Aku belum menyelesaikan setengahnya, Jinri. Dan tolong, tolak semua pesanan baju nanti!” perintah Yoona pada Sulli—sang asisten.

Lekas Yoona segera mengambil tas kecilnya dan berlari kecil menuju lobi apartemennya. Menilik waktunya yang semakin terkikis. Belum lagi, kesabarannya harus diuji dengan tak adanya taksi ataupun kendaraan umum lainnya yang lewat.

“Kau lagi? Masih terus ingin menganggu hidupku?”

Wajah Donghae yang menyembul lewat mobilnya, seketika membuat perasaan Yoona benar-benar diaduk. Jantungnya seakan-akan kembali berdentam-dentam begitu menatap Donghae.

“Aku hanya ingin menawarkan tumpangan saja,” balas Donghae yang kemudian diiringi tatapan menusuk dari Yoona.

“Dan, aku tahu kau sedang diburu oleh waktu.”

Sialan, tidak ada jalan lain yang dapat diambil oleh Yoona selain harus menerima tumpangan dari Donghae. Namun tetap saja Yoona masih ingin mempertahankan harga dirinya. Ia tidak ingin kembali bodoh hanya karena Donghae.

Donghae tersenyum, ia senang bahwa Yoona belum melupakannya. Setidaknya ia masih memiliki harapan kecil.
Semoga saja.
.

.

.

Kala matahari semakin menyusup, merangkak naik. Yoona baru saja menyelesaikan sebagian pekerjaannya. Setelah hampir beberapa jam ia berkutat dengan berbagai kertas serta pensil—membuat berbagai coretan baju.

Dering telepon masuk, sontak membuat Yoona beralih dari kegiatan santainya sejenak. “Halo, ada apa eomma?”

“Tidak, hanya saja malam ini kau harus berdandan dengan sangat cantik.”

“Untuk apa?” tanya Yoona, apalagi yang direncanakan oleh orang tuanya setelah ini?

“Ini untuk pertemuan dengan keluarga dari calon suamimu, sudahlah kali ini dengarkan eomma!” titah eomma Yoona, lantas mematikan sambungan teleponnya.

Ugh, kini masalah lain yang harus ia pikirkan. Masalah mengenai acara perjodohannya. Jika bukan karena permintaan dari sang appa, ia akan segera menolaknya dengan keras. Namun, Yoona tak memiliki pilihan lain selain menerimanya. Bukan hanya itu saja, mereka malah memajukan tanggal pertemuannya sebelum satu minggu. Yoona benar-benar tak daat berkutik, selain hanya menggeram kesal.

.

.

.

“Ok Taecyeon, jelaskan tentang kemarin!” Tiffany kesal dengan Taecyeon yang hanya mengacuhkannya sedari tadi mereka makan. Tidak ada perbincangan apa-apa selama setengah jam mereka datang tadi. Taecyeon hanya diam tanpa mengucap berbagai kata.

“Kau masih berharap dengan kekasihmu dahulu itu?” akhirnya Taecyeon lebih memilih mengalah, gadis itu benar-benar meluluh lantakkan keinginannya untuk mengabaikan gadis itu. Namun tetap saja Taecyeon masih kalah dengan Tiffany.

“Siwon? Tentu saja!” kesal Tiffany begitu Taecyeon menyinggung soal Siwon padanya. Belum lagi mengenai kejadian tatkala ia melihat Yoona sedang bersamaan dengan Siwon. Hatinya semakin kesal—mengetahui sahabatnya sendiri bermain dibelakangnya.

Taecyeon terdiam, ia begitu kesal dan marah ketika Tiffany masih saja mencintai lelaki seperti itu. Memangnya tidak ada lelaki yang lebih cocok dengannya dibandingkan dengan Siwon.

“Jadi sampai sekarang, kau masih belum bisa melupakannya?”

Tiffany hanya mengangguk-angguk, menandakan bahwa dirinya masih mencintai Siwon.

“Memangnya, tidak ada lelaki lain selain dia?” tanya Taecyeon sembari mengaduk-aduk bibimbap miliknya.

“Aku masih belum bisa membuka hatiku, aku masih ingin memikirkan Siwon,” jelas Tiffany, lantas memandang Taecyeon. “Kau mau membantuku melupakannya?”

“Bagaimana caranya?”

“Temani aku seharian ini, dan aku perlu sesuatu yang menyegarkan,” setelah itu, ia segera menarik jemari Taecyeon menuju mobil Taecyeon.

Tiffany sangat menikmati setiap sekon waktu yang dihabiskannya bersama Taecyeon saat ini. Segalanya menjadi meluap hilang begitu Taecyeon mengajaknya menuju sebuah tempat di mana sangat berbeda jauh dengan kesehariannya. Di mana ia dapat mengeluarkan semua perasaannya secara bebas melalui pekikan. Taecyeon mengerti benar dengan keadaan Tiffany—yang memang saat ini membutuhkan sedikit hiburan.

“Tidak lelah, nona Hwang?” tanya Taecyeon setelah mereka menaiki salah satu wahana permainan.

“Aku sangat senang, jadi aku merasa semua kelelahanku sudah hilang sekarang,” jelas Tiffany sembari menerima lemparan botol air mineral dari Taecyeon.

“Baguslah, kurasa aku tidak membawamu ke tempat yang salah.”

“Ayo, kita belum selesai!” seru Tiffany lantas segera menarik jemari Taecyeon menuju permainan lainnya, menghabiskan waktunya hingga menjelang senja.

.

.

.

Yoona melenggang memasuki area perumahannya. Menata tampilannya sebelum dirinya beranjak keluar dari taksi yang dipesannya tadi. Setelah merasa semuanya cukup, ia melangkahkan kedua tungkai kakinya menuju pintu utama, lantas mengetuknya pelan.

“Oh, nona kau sudah datang. Ayo masuk tuan dan nyonya sudah menunggumu sejak tadi,” suara bibi Kim mengetuk pendengaran Yoona, ia hanya mengulas senyum tipis.

“Terima kasih, bibi.”

Yoona kembali melangkah menuju ruang keluarga, kemudian sedikit berdeham kecil memberitahukan kedatangannya.
Ia menyorot tajam eommanya yang hanya mengulas senyum tanpa rasa bersalah, “sudah puas, eomma? Sebenarnya apa yang akan kalian lakukan padaku?”

“Ini semua adalah perintah appamu, bukan salah eomma sepenuhnya,” tukas ny.Im sembari melirik ke arah tn. Im yang sedang membuka lembaran demi lembaran koran.

“Bersiaplah mungkin setidaknya sebentar lagi mereka akan datang,” timpal tn.Im

“Dan Yoona kau hanya harus mendengarkan semua perkataan appa saja,” lanjut tn.Im dengan tegas dan penuh sarat kebijakan. Ia tidak ingin, Yoona bertindak memalukan nama keluarga mereka.

“Tapi, mengapa appa mempercepat semuanya?” tanya Yoona kesal, Ia sangat kesal karena tidak tahu bagaimana cara untuk menolak semuanya. Mengapa ia harus menerima perjodohan ini? Apa alasan appanya sebenarnya?

“Aku tidak ingin jika ini hanya masalah bisnis, appa!” tentang Yoona sembari memandang ayahnya dengan tajam. Bagaimana bisa ia menjadi sebuah alat hanya untuk bisnis saja? Yoona tidak ingin menjadi gadis yang bodoh kali ini.

“Kau lupa jika semua ini berkaitan dengan karirmu? Appa melakukan ini demi kebaikanmu, sudahlah appa tidak ingin ribut denganmu saat ini,” tandas sang ayah kemudian melenggang pergi menuju ruang makan.

Yoona hanya meremas ujung bajunya, lantas menghentakan sepatu hak tingginya. Siapa lelaki yang akan menjadi suaminya nanti?

Oh, Yoona berharap bahwa lelaki tersebut tidak seburuk perkiraannya.

.

.

.

Siwon mengetukan kakinya kesal, ia hanya memandang ke arah luar jendela sembari mendesah. Bagaimana bisa sekarang ia akan dijodohkan? Dengan siapa pula?

Eomma berharap kau setuju dengan keputusan kita, sayang,” Siwon menatap ibunya dengan tak senang, alasan licik apalagi yang akan dilakukan kedua orang tuanya?

“Aku tidak bisa menerimanya begitu saja, lagipula aku masih ingin bekerja,” balas Siwon dengan tak terima.

“Setidaknya kau tidak lagi salah memilih,” timpal ayah Siwon datar. Ia sangat tidak menyukai ketika Siwon memilih berhubungan dengan Tiffany.

“Aku sudah memutuskan Tiffany, apa itu belum cukup?”

“Sudahlah, ini semua demi kebaikanmu!” putus ayahnya kemudian beranjak keluar dari mobil yang diikuti oleh istrinya.

Mau tak mau, Siwon terpkasa mengikuti langkahan tungkai kaki kedua orang tuanya. Memasuki rumah yang akan menjadi tempat pertemuan pertama dengan gadis yang akan dijodohkan nantinya.

“Oh, lama tak jumpa!” sambut seorang lelaki berumuran sekitar limapuluh tahun pada ayahnya. Siwon membungkukan diri, sekedar memberikan hormat.

Mereka melanjutkan perbincangan mereka ke ruang makan, Siwon hanya pasrah mengikuti kemauan orang tuanya saat ini. Ia terdiam begitu memandang gadis yang kini sama terkejutnya dengan dirinya.

Tidak, tidak mungkin bahwa gadis inilah yang akan menjadi pasangannya nanti.

To be continue.

A/n: haii, aku kembali sama true love chap 3, aduh aku stuck banget sama ini :3 chap ini kayaknya semakin bingung yah? Aku mau menjelaskan banyak hal:

1. disini yang belum tahu nama asli Siwon adalah Yoona, dan dia cuman tahu nama Siwon adalah Andrew. Jadi siwon dan andrew adalah orang yang sama! Hanya berbeda nama!

2. aku mengganti nama jessica sebelumnya menjadi sooyeon.

3.aku juga sudah pernah bilang sebelumnya kalau dulu nama pena aku Yurin, sekarang berganti jadi msdandelion, fyi aja buat gak bikin kesalahpahaman.

Buat chap selanjutnya enggak bisa aku pastiin cepet, semoga aja aku menyelesaikannya dengan cepat kurang dari 2 bulan. Thanks buat ka echa/resty buat yang udah nge-post ff ku ,jangan lupa komen plis! Sorry for typo!

 

Iklan
Tinggalkan komentar

121 Komentar

  1. Wow ternyata yoonwon d jodohin na org tua y… 😍😘
    . Knf tiffany gk ma taecyeon oppa n lupain wonppa bgtu jg ma haeppa

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: