[FF] The Princess’ Love (Part 8)

schoolpic copy

Author             : Indah (bianglalala27@gmail.com)

Type                : Chapter

Main Cast        : Choi Siwon, Im Yoona

Support Cast   : Seo Joo Hyun, Lee Donghae, Leeteuk, Kim Taeyeon, Kwon Yuri, Kim Jong Woon, etc

Genre              : School Life, Romance, Friendship

Rating             : 15+

 

Jrengjreeengg… haihaihaiii… saya kembali dengan ff saya yang makin ngaco.. akhirnya saya menyelesaikan part ini setelah berbagai rintangan menghadang, hahaha. Pada kangen yaa?? *enggak, siape elo? *huahuahua T_T. Rencananya dua minggu setelah part 7 dipost yang part 8 mau dipost juga, tapi malah laptop rusak dan saya ngga punya back up-nya, jadi ya terpaksa nunggu bener dulu. Oiya, sebelum baca, saya ingetin ceria ini makin ngawur, ngga jelas, lebay, garing, dan entah apalagi, so kalo kalian tetep baca dan bosen, jangan salahin saya ya, kan saya udah bilang. Hehehe…

 

Part 8

 

Donghae kembali memeriksa ruang kerja ayahnya setelah kemarin kunci mobilnya disita. Tidak ada kata jera dalam kamus hidup Donghae, bahkan setelah sebelumnya kartu kreditnya juga diambil secara paksa oleh ayahnya. Senyum sumringah Donghae muncul ketika ia membuka laci meja kerja ayahnya dan menemukan kunci mobilnya di sana. Suara langkah kaki, yang disertai percakapan antara dua lelaki dewasa yang terdengar membuat Donghae cepat-cepat menutup laci dan menyelinap di antara rak buku yang cukup tinggi di ruangan itu. Kali ini ia yakin ayahnya tidak akan membiarkannya begitu saja seperti kemarin.

Dua detik setelah Donghae sukses menyembunyikan diri, Jaksa Lee dan Choi Ki Ho masuk ke dalam ruangan. Mereka tengah mendiskusikan bukti-bukti yang menyangkut kejahatan Im Tae San. Donghae menajamkan telinganya, menyerap informasi sebanyak mungkin dari pembicaraan serius itu.

“Kita bisa membuka kasus suap pembangunan resort Jeju dua puluh tahun lalu. Tapi bukti-bukti yang ada tidak cukup kuat karena kejadiannya sudah cukup lama,” kata Jaksa Lee.

Choi Ki Ho mendesah panjang. Sudah ia pikirkan berkali-kali niatnya untuk melaporkan kejahatan sahabatnya, namun tetap saja seringkali ada keraguan yang menyelimuti hatinya. “Sebenarnya saya tidak ingin mengungkit masalah ini, tapi sepertinya memang tidak ada jalan lain. Kalau kita tidak bisa menjeratnya dengan kasus suap resort Jeju karena kekurangan bukti, mungkin saya bisa membantu dengan cara lain.”

“Apa itu?”

“Im Tae San memindahkan semua aset saya secara ilegal tidak lama setelah kasus suap itu. Pada awalnya aset itu akan dipindah namakan atas nama putra saya, tapi Tae San mengelabui saya. Dan saya memiliki bukti-bukti yang sah kalau putra sayalah pemilik asli sebagian asetnya sekarang,” jelas Ki Ho.

Awalnya Jaksa Lee yang hanya mengetahui kalau Im Tae San menyuap pemerintah Jeju untuk perizinan pembangunan resort menjadi kaget dengan pernyataan Ki Ho. Itu berati, Tae San bisa dijerat dengan pasal berlapis. Penyuapan dan penipuan. “Benarkah? Mengapa Anda baru mengatakannya sekarang?”

“Ada alasan tertentu mengapa saya tidak melaporkannya sejak dulu,” kata Ki Ho lirih. Ia ingat saat istrinya, Han Hye Won, pergi dan beberapa waktu kemudian Tae San mengatakan kalau istrinya itu berada di tangannya. Tae San mengancam akan menghabisi istinya jika Ki Ho melapor pada polisi. Ki Ho tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti permintaan Tae San agar ia tidak melaporkan kasus suap Jeju.

Jaksa Lee mengangguk paham karena ia tahu tentang persahabatan yang pernah terjalin di antara kedua orang itu. “Baiklah, saya tidak akan mengungkit masalah itu lagi. Kita akan fokus pada kasus suap dan pengambilan aset secara ilegal. Dengan begitu kemungkinan Anda bisa memiliki aset-aset Anda kembali. Proses audit Grup A paling cepat baru bisa dilakukan minggu depan.”

Ki Ho hanya mengangguk mengiyakan. “Itu putra Anda?” tanyanya saat melihat sebuah pigura di meja kerja yang berisi potret Jaksa Lee dan Donghae yang sedang memancing bersama.

“Benar, tapi saya justru kesulitan menanganinya jika dibandingkan dengan penjahat di luar sana,” canda Jaksa Lee sedikit mencairkan suasana. “Saya harus bersusah payah membujuknya agar mau sekolah di Hyundai.”

Ki Ho tertawa kecil. “Putra saya juga awalnya tidak mau bersekolah di sana,” sahut Ki Ho sambil menerawang memikirkan putranya.

“Putra Anda di Hyundai juga?” Jaksa Lee sedikit terkejut mendengarnya mengingat biaya yang dikeluarkan untuk bersekolah di Hyundai tidak sedikit.

“Nde, namanya Choi Siwon. Dia juga sangat keras kepala. Harus dibujuk berhari-hari agar ia mau menerimanya.”

Donghae hampir saja berteriak kaget dan membongkar persembunyiannya saat mendengar kata-kata Choi Ki Ho. Fakta bahwa kedua orang tua Yoona dan Siwon saling mengenal cukup membuatnya membulatkan mata. Bayangan Yoona sedang tertawa bersama Siwon yang melintas di kepalanya membuat dadanya sesak. Tanpa ada orang yang tahu, belakangan Donghae sering mengamati tingkah Yoona di sekolah. Ia sadar Yoona terlihat sangat bahagia saat bersama Siwon. Tentu Donghae senang melihatnya tertawa. Tapi yang membuatnya takut adalah jika Siwon hanya berpura-pura peduli pada Yoona dan akan menyakiti gadis itu.

Getaran pada ponsel di sakunya membuyarkan lamunan Donghae. Joo Hyun mengiriminya sebuah pesan singkat yang memberitahu keberadaan Yoona. Segera setelah ayahnya dan Choi Ki Ho keluar, ia pun bergegas pergi mencari keberadaan gadis yang telah membuat hatinya gelisah.

***

 

“Kau ingin mengatakan sesuatu, Siwon-ah?” desis Donghae saat Siwon hanya terdiam mendengarkan ceritanya tentang Grup A.

Siwon membalas tatapan tajam Donghae padanya, berharap dapat membaca pikiran musuhnya itu. Ada begitu banyak hal yang berputar di kepalanya saat ini. Termasuk kutukan pada dirinya sendiri karena terlalu asyik bersama Yoona hingga ia melupakan siapa gadis itu sebenarnya. Alam bawah sadarnya telah mengaburkan semua fakta di sekitar Yoona dan yang terlihat hanya gadis itu. Tidak dengan nama keluarganya atau seberapa banyak uang yang ia punya. “Apa maksudmu sebenarnya?”

“Orang-orang bilang kau jenius. Seharusnya kau sudah tahu apa maksudku,” cibir Donghae.

Tatapan penuh tanya Yoona padanya turut membuat Siwon semakin resah. Lidahnya begitu kelu hingga ia tidak bisa mengucap sepatah kata pun untuk menjawab rasa heran Yoona. Siwon sudah memahami semuanya. Tapi sayangnya ia tak mau mengakuinya. Terlalu berat untuk mengaku pada Donghae kalau ayahnya dan A Grup bermusuhan, terlebih di depan Yoona.

“Sunbae, aku bukan orang jenius, jadi tolong katakan dengan jelas apa yang terjadi,” desak Yoona. Ia merasakan keanehan di antara mereka. Pasti ada sesuatu yang belum ia ketahui.

“Kau bisa menanyakannya pada Siwon,” jawab Donghae.

“Mengapa bukan kau saja? Tampaknya kau sudah tahu segalanya,” balas Siwon tak kalah tajam.

Yoona mendengus. “Terserah kalian saja,” Yoona bangkit berdiri dengan kesal.

“Kau mau ke mana?” tukas Siwon cepat.

“Pulang. Kurasa Oppa dan Sunbae harus membicarakan hubungan kalian. Aku malas melihat pertengkaran kalian.” Kaki Yoona melangkah keluar dari restoran dengan cepat, menuju ke tempat Siwon memarkir mobilnya.

Siwon ikut beranjak dari duduknya dan melangkah pergi. Namun ia berhenti sejenak saat melewati Donghae. “Maksudmu sebenarnya, aku memang tidak tahu. Tapi yang jelas aku tidak akan membiarkan Yoona pergi dariku. Kalau itu tujuanmu yang sebenarnya.”

“Kau tahu maksudku,” bantah Donghae cepat. “Aku yang tidak akan membiarkanmu menyakitinya.”

 

Yoona terhenyak saat sebuah tangan yang begitu hangat menggenggam jemari kurusnya yang dingin beberapa meter sebelum ia sampai di mobilnya. Kepalanya menoleh mencari tahu pemilik tangan hangat itu. Siwon ada di sana, menatapnya penuh kasih walau tanpa senyuman.

“Aku akan mengantarmu,” ucapnya lirih.

Lagi-lagi perjalanan mereka hanya diiringi deru mesin mobil yang membelah jalanan Seoul. Setelah pembicaraan mereka bersama Donghae suasana berubah menjadi begitu kelam. Siwon masih terlalu kaget dengan semua yang ia ketahui. Batinnya berkecamuk marah. Entah pada siapa kemarahan itu tertuju. Pada ayahnya, Im Tae San, atau justru dirinya sendiri. Tangannya menggenggam setir begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras, membuat urat-urat di pelipisnya terlihat jelas.

Melihat raut wajah Siwon membuat Yoona mengurungkan niatnya untuk bertanya. Mulutnya terus bungkam sementara perasaannya menjadi begitu kacau, setelah untuk sesaat ia merasa benar-benar bahagia. Begitu banyak yang terjadi beberapa hari terakhir, hingga ia tidak tahu mana yang seharusnya ia selesaikan terlebih dahulu.

“Oppa tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?” tanya Yoona akhirnya saat mereka berdiri berhadapan di depan rumah gadis itu.

“Ada, tapi aku masih belum yakin,” jawab Siwon pelan. “Akan kuberitahu nanti,” lanjutnya, penuh dengan keraguan dan kekhawatiran. Tiba-tiba rasa takut yang begitu besar muncul dalam dirinya. Ia takut Yoona akan tersakiti karena semua ini. Pikiran-pikiran bahwa Yoona akan membenci dan pergi darinya melintas di otaknya.

Sebuah desahan keluar dari mulut Yoona. Ia tahu sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan ia yakin Siwon juga terlibat di dalamnya, mengingat sikap Donghae di restoran tadi. Tangannya meraih kerah seragam Siwon dan menariknya, membuat Siwon sedikit menunduk menatapnya. Dengan sedikit berjinjit, Yoona mengecup bibir Siwon selama lima detik sebelum melepaskannya kembali.

Siwon sedikit terkejut, tapi menikmatinya. Sejenak ia menelusuri wajah Yoona dengan tatapan elangnya. “Apapun yang terjadi, percayalah padaku,” kata Siwon sambil membawa Yoona ke dalam dekapannya. Gadis itu mengangguk pelan. Tentu saja tidak ada yang bisa ia percaya setelah semua orang dekatnya mengecewakannya, selain Siwon. Sayangnya, ia tidak bisa memprediksi masa depan dan mengetahui apa yang akan Siwon lakukan padanya.

***

 

Beberapa kertas berserak di lantai kamar itu sementara yang lain masih berada di peti kayu kecil yang terbuka. Siwon duduk di antaranya, sambil membaca setumpuk kertas yang berusaha ia pahami. Kertas-kertas itu adalah dokumen-dokumen penting milik ayahnya yang selama ini tersembunyi aman di salah satu ruang lemari mereka. Satu per satu Siwon mulai memahami isinya. Sebagian berupa dokumen tentang laporan proyek resort Jeju, dan yang lain, yang membuat Siwon semakin terkejut, adalah bukti kepemilikan sebagian aset A Grup oleh ayahnya.

Lama Siwon menghabiskan waktu mempelajari dokumen-dokumen itu. Sampai ketika Ki Ho pulang, dan terkejut melihat Siwon beserta dokumen-dokumennya, anak itu masih terhanyut dalam lembar-lembar kertas itu.

“Apa yang kau lakukan?” bentak Ki Ho keras. Tak pernah Siwon berbuat melewati batas seperti ini. Menurutnya, Siwon telah melangkah terlalu jauh ke ruang pribadinya.

Siwon tetap tenang walau ia tahu ayahnya marah. Tapi ia jauh lebih marah. Dengan dramatis Siwon membanting dokumen yang ia pegang dan menghadapi ayahnya. “Benarkah semua ini? Mengapa hanya aku yang tidak tahu?” tuntutnya.

“Aboeji tidak pernah megajarkanmu bersikap seperti ini,” desis Ki Ho.

“Jadi kuanggap Aboeji membenarkannya,” lanjut Siwon tanpa menghiraukan ayahnya. “Aboeji adalah bagian dari A Grup sebelum mereka mengkhianatimu. Nyonya Yoon Hae Ra meminta Aboeji untuk kembali, tapi Aboeji menolaknya. Dan sekarang Aboeji berniat melaporkan semua kejahatan mereka pada Jaksa Lee. Benarkah?” Siwon membeberkan pemikirannya, meminta pengakuan dari ayahnya,

Tatapan Ki Ho melunak. Sebuah desahan keluar sebagai tanda menyerah. Entah bagaimana Siwon mengetahui rencananya. Hanya saja, mendengarnya langsung dari mulut Ki Ho akan jauh lebih baik dibanding jika Siwon mengetahui dari orang lain, yang mungkin memanfaatkannya. “Tidak ada yang bisa Aboeji sangkal. Semuanya benar.”

“Waeyo?” nada Siwon masih datar, tidak ada tanda-tanda melemah seperti ayahnya.

Ki Ho tahu Siwon marah, meski tidak ada tanda apapun dari raut wajahnya. Siwon mewarisinya dari sang ibu. “Kau marah? Ingin balas dendam? Merebut semua yang dulu menjadi milik kita?”

Siwon hanya menatap ayahnya meminta penjelasan. Tanpa perlu ia katakan seharusnya Ki Ho tahu kalau ia sedang marah. Hingga membiarkan dirinya memasuki wilayah yang tidak seharusnya ia masuki.

“Ini yang Aboeji khawatirkan. Kau masih muda dan labil. Aboeji takut kau akan marah, mendendam, dan melakukan hal gegabah. Itu alasan Aboeji tidak memberitahukan semua ini padamu,” jelas Ki Ho lembut, jauh lebih tenang dibanding saat ia pulang tadi.

Tatapan Siwon beralih, pada apapun selain mata ayahnya. Ia tidak cukup kuat menatap tatapan tulus itu. Ayahnya benar. Belum apa-apa kemarahannya sudah tersulut. “Lalu mengapa Aboeji tidak melaporkannya sejak dulu? Mengapa baru sekarang?” Saat Yoona datang ke hidupku, imbuh Siwon dalam hati.

Ki Ho tidak cukup berani untuk mengungkapkan alasan sebenarnya. Bahwa Tae San mengancam akan membunuh Hye Won kalau ia melaporkannya. Ia takut kemarahan Siwon semakin menjadi, dan melakukan apapun untuk menghancurkan Tae San. Termasuk bersekutu dengan Hae Ra, yang ia yakini telah memberikan sebagian informasi yang diketahui putranya. “Mianhe.”

***

 

Yuri duduk tidak tenang di tepi tempat tidurnya. Setelah kembali ke rumah, ia terus mengurung diri di kamarnya. Terlalu banyak yang ia pikirkan. Termasuk penyesalannya pada Yoona.

“Yuri-ah, boleh aku masuk?” Yuri mengenali suara Shim Changmin yang mengetuk pintu kamarnya.

“Masuklah, Oppa,” balas Yuri tanpa beranjak dari duduknya. Sama seperti Yoona, ia juga menganggap Changmin sebagai kakak.

Wajah Changmin berseri saat melihat Yuri yang lama tidak ia jumpai. “Kau ke mana saja beberapa hari ini?” tanyanya sembari duduk di dekat Yuri.

Bibir Yuri hanya melengkung membentuk senyum tipis menanggapi pertanyaan Changmin. “Bagaimana kabar Yoona?”

“Kau menyuruhku kemari, di tengah semua kesibukanku, hanya untuk menanyakan kabar Yoona?” gerutu Changmin.

Yuri tergelak. Menurutnya Changmin tidak cocok bersikap kekanakan seperti itu. “Jawab dulu, Oppa,” pinta Yuri.

Changmin berdecak. “Kalian kakak adik selalu saja merepotkanku.” Changmin mengambil jeda sejenak sebelum meneruskan. “Akhir-akhir ini Yoona tidak banyak bicara padaku. Aku tidak terlalu tahu keadaannya sekarang.”

“Dia sudah tahu tentang ibu kandungnya,” Yuri memberitahu Changmin. “Aku yang mengatakan hal itu padanya.”

Changmin diam memperhatikan Yuri yang terlihat kacau. Ingin rasanya mendekap Yuri kalau ia tidak ingat ucapan Yoona bahwa gadis di depannya itu telah memiliki kekasih. “Bagaimana tanggapannya?”

“Dia hanya diam dan menangis.” Kedua mata Yuri terpejam menahan air matanya. “Aku merasa sangat bersalah padanya.”

Jemari Changmin menggenggam tangan dingin Yuri. “Yoona jauh lebih kuat dari dugaan kita. Dia akan baik-baik saja. Kalau kau merasa bersalah padanya, sebaiknya kau katakan langsung.”

Yuri mengangguk pelan. “Akan kucoba.” Mata Yuri kembali terbuka. Ia percaya pada Changmin melebihi ayahnya sendiri. Dan Yuri tahu Changmin bisa diandalkan. “Eomma berniat mengambil aset-aset keluarga dan membawanya pergi saat bercerai.”

“Mwo?” Changmin terlihat terkejut mendengar penuturan Yuri.

“Aku mengatakan ini pada Oppa agar Oppa bisa menggagalkan rencananya,” kata Yuri.

“Wae?”

“Aku tidak ingin melihat Eomma yang tamak seperti sekarang. Aku rindu pada Eomma yang dulu. Kalaupun nantinya kami tidak lagi kaya, aku akan bahagia hidup bersama Eomma yang dulu.” Air mata Yuri perlahan turun ke pipinya, lalu jatuh di atas pangkuannya.

Changmin tersenyum lega. Adik kecilnya itu kini telah dewasa. “Kau bisa mengandalkanku. Tenang saja. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.” Ia mengulurkan secarik kertas yang tadi ia simpan di sakunya dan menyerahkannya pada Yuri.

“Apa ini?” gumam Yuri sambil melihat isi kertas itu.

“Akan ada audisi yang diselenggarakan agensi terbesar di Korea dalam waktu dekat. Kupikir kau masih ingin menjadi penyanyi,” Changmin masih memasang senyumnya.

Yuri balas tersenyum. “Oppa, gomawo. Hanya itu yang bisa kukatakan padamu.”

***

 

Jemari Yoona mengetuk ragu pintu kayu di depannya. Sudah sepuluh menit ia habiskan untuk menimbang-nimbang apakah ia akan mengetuk atau pergi dari sana. Dengan resah ia menanti pintu itu terbuka.

“Eomma,” sapanya begitu Hae Ra muncul dari balik pintu. Berjam-jam ia merenung memikirkan apa yang harus ia lakukan pada ibu tirinya itu. Apa ia akan berteriak marah dan memakinya? Atau sebaiknya bersikap seperti tidak ada yang terjadi? Namun hati kecilnya jauh lebih bijak dibanding egonya. Yoona harus menerima statusnya di keluarga ini.

“Ada apa?” tanya Hae Ra dingin. Selalu seperti itu.

Yoona memberanikan diri menatap mata ibu tirinya itu. Tak pernah sekalipun doanya terkabul, di mana ibu tirinya akan balas menatapnya dengan penuh kasih seperti tatapannya pada Yuri. “Mianhamnida,” katanya lirih.

Hae Ra mendengus. “Untuk apa? Kau minta maaf atas nama ibumu?” nada suara Hae Ra sedikit meninggi. Ia langsung tahu ke mana arah pembicaraan Yoona. Sama seperti Yuri, hatinya selalu sakit saat melihat Yoona. Gadis itu adalah tiruan sempurna dari Seo Yoon Joo. Yang akan mengingatkannya pada masa lalu yang menyakitkan.

“Aniyo, Eomma. Aku ingin minta maaf karena selalu memohon pada Eomma untuk menyayangiku seperti Yuri Unnie. Seandainya aku tahu sejak dulu kalau kehadiranku yang membuat Eomma dan Yuri Unnie menderita, aku tidak akan pernah melakukannya,” kata Yoona.

Tatapan Hae Ra sedikit menghangat mendengar ketulusan dalam setiap kata yang Yoona ucapkan. Tak pernah ia menduga Yoona akan bicara seperti itu padanya. Ada kesedihan mendalam di tiap pancaran matanya. Benar kata Yuri, kalau sebenarnya Yoona juga sangat menderita.

“Mencari perhatian Eomma, merengek pada Eomma, bersikap manja, aku tidak akan melakukannya lagi,” lanjut Yoona. Tenggorokannya terasa berat, tapi ia terus memaksakan bicara. “Aku juga akan menerima kalau Eomma dan Yuri Unnie membenciku. Tapi kumohon izinkan aku tetap berada di antara kalian sebagai anggota keluarga ini. Dan juga kumohon batalkan perceraian Appa dan Eomma.”

“Kau pikir ini mudah untuk kami? Bagaimana bisa dengan lantang mengucapkan permohonan seperti itu?” balas Hae Ra tidak terima.

Yoona menunduk. Ia sudah tahu ini tidak akan mudah. Hanya saja ia merasa ini layak untuk dicoba. Kalau keluarganya tidak ada yang memulai memperbaiki hubungan, ia harus mulai dengan dirinya sendiri. Berdamai dengan ego dan rasa kecewanya. “Karena itulah aku meminta maaf pada Eomma. Aku minta maat atas semua kesulitan yang timbul karenaku.”

Bibir Hae Ra membentuk sebuah senyum sinis. “Sayangnya aku bukan tipe orang pemaaf seperti ibumu. Kita lihat sejauh mana kau mampu bertahan hidup dalam penderitaan seperti aku dan Yuri.” Hae Ra lalu masuk kembali ke kamarnya dan membanting pintu dengan cukup keras. Ia bersandar pada daun pintu sejenak sebelum akhirnya merosot duduk. Pertahanannya hampir saja goyah saat melihat mata Yoona yang begitu tersiksa. Kala naluri keibuannya muncul dan rasanya ingin mendekap gadis itu ke dalam pelukannya, mengatakan semua baik-baik saja. Hanya saja, amarahnya selalu menang dan mencegah semua itu terjadi.

***

 

“Kau ke mana saja?” hardik Joo Hyun begitu menjawab telepon dari Yoona.

Di seberang Yoona terkekeh saat Joo Hyun memarahinya. “Kau sangat khawatir padaku? Apa kau begitu mencintaiku?” candanya.

Joo Hyun membanting tubuhnya ke tempat tidur. Yoona selalu sulit untuk berbicara serius. Tentu saja ia mengkhawatirkannya, Yoona adalah satu-satunya sepupu yang ia punya. “Apa yang kau lakukan sampai bolos sekolah?”

“Aku pergi ke Gunung Seorak,” kata Yoona ragu.

“Jinja?” Dalam hatinya Joo Hyun bertanya-tanya apakah Yoona sudah tahu siapa ibu kandungnya. Ia merasa bersalah telah menyembunyikan status mereka yang sebenarnya. “Apa yang kau lakukan di sana?”

Yoona terdiam untuk sejenak. “Hanya berdoa untuk seseorang.”

Kali ini giliran Joo Hyun yang terdiam cukup lama hingga ayahnya masuk ke dalam kamar dan duduk di ranjangnya. “Kita lanjutkan besok, eoh. Bye bye,” katanya memutus sambungan telepon. Ia bangkit untuk duduk dan beralih pada ayahnya.

“Dengan siapa kau bicara?” tanya Seo Yoon Jae.

“Im Yoona.”

Yoon Jae tersenyum lega mengetahui putrinya kini cukup dekat dengan Yoona. Pertemuan mereka di New York bertahun-tahun lalu adalah berkah tersendiri baginya. Karenanya, ia bisa bertemu dengan keponakannya dan berjanji pada dirinya sendiri akan merawatnya dengan baik. Sesuai janjinya pada almarhum adiknya.

“Appa, bolehkah aku bertanya sesuatu?” sela Joo Hyun yang menghentikan lamunan ayahnya.

“Mwoya?”

“Mengapa kita tidak memberitahu Yoona kalau kita juga keluarganya?”

Seo Yoon Jae mengusap kepala Joo Hyun lembut. “Tidak ada yang bisa kita perbuat. Kau tahu sendiri keluarga Im juga merahasiakannya pada Yoona. Kalau orang-orang luar tahu yang sebenarnya, Yoona akan mendapat suara-suara miring yang menjelek-jelekkan dirinya dan almarhum bibimu,” kata Seo Yoon Jae berat. Sama seperti Joo Hyun, ia juga menyayangi Yoona dan ingin mengatakan yang sebenarnya.

Joo Hyun mengangguk samar, menerima penjelasan ayahnya yang memang masuk akal. Apapun alasannya, perselingkuhan memang tidak bisa dibenarkan. Dan Yoona akan menjadi pihak yang paling tersakiti saat kebenaran itu mencuat ke permukaan.

***

 

Siwon memasukkan buku-bukunya ke dalam loker dengan kasar. Sepanjang jam pelajaran ia tak bisa berkonsentrasi. Tubuhnya berada di dalam kelas namun pikirannya berkeliaran memikirkan Yoona. Apa dia makan dengan baik? Tidur nyenyak? Menangiskah dia? Dan bagaimana reaksinya saat tahu ayahnya akan membuat Im Tae San dipenjara?

“Kenapa kau sering sekali melamun akhir-akhir ini?” tegur Leeteuk yang tiba-tiba muncul saat Siwon menutup lokernya.

“Ya! Kau mengagetkanku, Hyung,” sentak Siwon. Setelah mengunci lokernya ia menyandarkan punggungnya di sana. “Ada apa?”

Leeteuk berdecak. “Aku yang harus bertanya ada apa. Yoona tadi mencarimu,” kata Leeteuk memberitahu.

Siwon mengangguk samar. Ingin ia segera berlari menghampiri Yoona tapi sebisa mungkin ia tahan. Siwon merasa seperti penkhianat yang telah menyalahgunakan kepercayaan Yoona padanya.

“Kau tidak menemuinya?” tanya Leeteuk heran saat Siwon masih betah mematung di sampingnya.

“Hyung, kalau kebenaran akan menyakitimu, masihkah kau menginginkannya?” gumam Siwon.

Kedua alis Leeteuk terangkat mendengar pertanyaan Siwon. Ia yakin Siwon memang sedang memikirkan sesuatu, hanya saja sahabatnya itu masih belum mau mengatakannya. “Kurasa akan lebih baik kalau aku mengetahuinya. Kalaupun tidak sekarang, nantinya kebenaran pasti akan terbongkar. Hanya masalah waktu saja,” jawabnya.

Napas Siwon tercekat. Benar, hanya masalah waktu. Sekarang atau nanti, Yoona pasti akan mengetahui semuanya. Mungkin lebih cepat lebih baik.

***

 

“Mengapa Sunbae selalu mengikutiku?” tuduh Yoona saat tiba-tiba Donghae muncul di hadapannya. Padahal ia sengaja menyendiri di taman belakang sekolah yang telah diklaim Joo Hyun sebagai miliknya. “Kau sangat menyukaiku, ya?”

Donghae tertawa. “Aku sangat menyukai kepercayaan dirimu,” katanya, tidak jelas hendak memuji atau merayu.

Bibir Yoona mengerucut mencibir perkataan Donghae, menandakan kalau ia tidak terpengaruh dengan pujiannya itu. “Bagaimana Sunbae selalu tahu di mana keberadaanku?” selidiknya karena teringat saat Donghae menemuinya di restoran bersama Siwon.

“Ah, ada banyak hal yang tidak kau ketahui tentangku,” kata Donghae menyombong. Dia lalu duduk di samping Yoona. “Semuanya baik-baik saja?”

“Tentu saja tidak. Sunbae sendiri yang mengatakan kalau ayahku sedang dalam masalah,” tukas Yoona.

Tangan Donghae sudah gatal ingin menjitak kepala gadis itu, tapi ditahannya. Yoona selalu terlihat menggemaskan sekaligus menyedihkan di saat bersamaan. Membuat Donghae ingin memukul kepalanya lalu mengurung gadis itu dalam pelukannya.

“Sunbae, apa kau dan Siwon Oppa bertengkar lagi?” tanya Yoona pelan. Ia merasa ada yang aneh dengan hubungan mereka. Donghae terlihat selalu mencari gara-gara meski Siwon tidak pernah memancingnya. “Mengapa kalian tidak pernah akur? Padahal kalau kalian membentuk sebuah grup ditambah dengan Leeteuk Sunbae, kujamin kalian akan terkenal.”

Donghae tergelak. Ia baru pernah mendengar pemikiran konyol semacam itu. “Kalau itu terjadi kau akan menjadi fans kami?”

Yoona tertawa meremehkan. “Jangan mimpi.”

Siwon melihat kejadian itu dari jarak yang tidak begitu jauh. Telinganya cukup tajam untuk dapat mendengar isi pembicaraan sepasang remaja di depannya. Hanya sesuatu yng tidak penting memang, tapi justru itulah yang mungkin akan mengawali semuanya. Jemarinya sudah mengepal siap meninju rahang Donghae, namun tak ia lakukan. Ia tahu Yoona tidak suka pertengkarannya dengan Donghae. Dan lagi, ia ingin melihat Yoona terus tertawa.

“Yoong,” panggilnya dengan menahan semua kecemburuannya pada Donghae.

Keduanya menoleh ke arah Siwon, yang dengan sangat terpaksa, menampakkan senyum tipis pada Yoona. Hanya pada Yoona.

“Kau tadi mencariku?” lanjut Siwon sambil berjalan mendekat.

Donghae mendesah malas saat Siwon semakin dekat. “Aku akan pergi. Kau pasti tidak ingin melihat aku bertengkar dengan calon anggota boybandku,” bisiknya pada Yoona yang membuat gadis itu tertawa.

Jemari Siwon kembali mengepal menyaksikan adegan itu. Susah payah ia membiarkan Donghae melenggang pergi meninggalkan mereka berdua tanpa memberikan memar di wajahnya.

Yoona bangkit menyambut kedatangan Siwon dan menyuruhnya duduk di sampingnya. “Oppa tidak makan siang?” katanya balik bertanya.

Siwon menggeleng. “Apa Donghae begitu lucu sampai kau tertawa seperti itu?” cibirnya cemburu.

Mata Yoona membesar dan mengerjap lucu. Ia selalu suka saat Siwon cemburu padanya. Gadis itu tersenyum lebar menanggapi kecemburuan Siwon.

“Kau bahagia bersamanya?”

Senyum Yoona perlahan memudar. Ia merasa seperti tersangka di pengadilan saat Siwon bertanya seperti itu. Siwon terkesan menuduhnya telah berkhianat. “Bukan karena Donghae Sunbae aku tertawa. Aku hanya berusaha untuk bahagia. Kalau tidak ada orang yang melakukannya, maka aku sendiri yang akan membuat diriku bahagia. Menyedihkan kalau harus terus menderita,” gumamnya.

Belum apa-apa Siwon sudah merasa kalah. Bukan salah Yoona kalau ia merasa nyaman bersama Donghae. Terlebih sejauh ini Donghae tidak pernah berbuat jahat pada gadisnya itu. Justru ia-lah yang menjadi ancaman terbesar yang akan merusak tawa Yoona. Tapi rasanya ia tak mungkin sanggup menambah daftar panjang kesedihan Yoona. Tangannya menggenggam jemari Yoona, meremasnya perlahan dan menariknya ke pangkuannya.

“Oppa kenapa?” kata Yoona sambil menyandarkan kepalanya kebahu Siwon. “Ah, tadi Oppa memanggilku ‘Yoong’? Aku suka sekali. Belum pernah ada yang memanggilku begitu sebelumnya.”

Siwon tersenyum. “Yoong, bagaimana kalau keluargamu tidak kaya? Tidak ada rumah mewah dan juga mobil yang akan mengantarmu ke mana pun kau pergi. Kau bisa hidup tanpa itu semua?”

Kening Yoona berkerut heran. Siwon tidak pernah mempermasalahkan hal seperti ini sebelumnya. Pertanyaan Siwon sedikit banyak membuatnya berpikir tentang kasus yang akan menimpa ayahnya. “Kalau begitu aku tidak akan pergi ke manapun,” jawab Yoona setengah bercanda. Sudah menjadi kebiasaannya untuk menyembunyikan kegelisahannya.

Siwon mengangkat satu bahunya yang menjadi sandaran Yoona, membuat kepala gadis itu sedikit bergoyang. “Jawab yang benar, aku serius,” tegurnya.

Yoona menegakkan kepalanya kembali. “Jawab aku dulu. Mengapa Oppa bertanya seperti itu?”

“Hanya penasaran, kau kan anak manja,” ejek Siwon.

“Issh,” desis Yoon kesal. Ia tidak percaya begitu saja, tapi Yoona memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Matanya mengerling jahil. “Aku akan baik-baik saja kalau tidak punya mobil. Karena aku akan meminta Oppa untuk menggendongku ke manapun aku ingin pergi.” Yoona memeluk lengan Siwon dan menyandarkan kepalanya lagi di bahu pemuda itu.

Siwon medesah. Seharusnya ia tahu Yoona tidak akan memberi jawaban yang serius. Hal ini justru semakin membuatnya bingung.

“Oppa,” kata Yoona lirih, “kalau ayahku dipenjara, apa Oppa akan tetap bersamaku?”

Hati Siwon teriris mendengarnya. Apa kau akan tetap bersamaku jika tahu ayahku yang membuat ayahmu masuk penjara? batinnya miris.

“Aku takut,” bisik Yoona.

Siwon menarik Yoona ke dalam dekapannya. Bagaimana ini? Yoona sudah terlalu jauh menggantungkan dirinya pada Siwon. Baginya, Siwon sudah seperti rumah tempat ia pulang saat lelah. Bisakah ia melepaskan gadis itu? Tidak sekarang. Batin Siwon bergelut ragu. Beri aku sedikit waktu lagi, Siwon memohon entah pada siapa.

“Oppa, aku tidak bisa bernapas,” keluh Yoona karena tanpa sadar Siwon terlalu erat memeluknya.

“Mian,” kata Siwon sambil melonggarkan pelukannya.

Yoona mengangguk dan mendongak menatap mata Siwon. “Aku tidak ingin masuk kelas kalau begini,” rajuknya manja.

Siwon tergelak. Yoona selalu mampu membuatnya tertawa. Dan mata cokelatnya, yang memancarkan semangat dan cinta, tak pernah bisa ia lupakan. “Kau akan semakin tidak ingin masuk kelas,” godanya.

“Mwo?”

Mata Yoona sibuk mengerjap selama beberapa detik sebelum terpejam. Siwon menciumnya. Di sekolah. Hatinya selalu bergetar hangat saat bibirnya dan bibir Siwon bertemu. Ia sedikit membuka mulutnya saat Siwon mulai mengulum bibirnya. Perlahan dan lembut. Membuatnya merasa melayang di atas tumpukan awan.

Siwon sendiri berusaha menahan air matanya yang hampir jatuh. Mencoba mengingat semua rasa saat bersama Yoona dan menyimpannya dalam hati. Tangannya terangkat, menyentuh pipi Yoona dan mengusapnya pelan. Siwon tak ingin ini menjadi ciuman perpisahannya dengan Yoona. Tangannya yang lain menarik tubuh Yoona agar lebih merapat padanya, terus memperdalam ciumannya. Siwon tak ingin ini cepat berakhir. Atau kalau bisa, ia akan menghentikan waktu dan terus seperti ini.

***

 

Mobil mewah itu berhenti di pelataran kuil kecil di kaki Gunung Seorak. Seorang pria keluar setelah supirnya membukakan pintu mobil. Dengan dipandu seorang biksu tua, pria itu, Im Tae San, masuk ke dalam salah satu bangunan kecil di bagian belakang kuil. Biksu tadi lalu pergi meninggalkannya.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Im Tae San pada seseorang yang sedang berbaring di ranjang di ujung ruangan. “Bawahanku mengatakan kondisimu semakin membaik.”

Orang yang ditanyai Im Tae San bangun dan duduk bersandar pada kepala tempat tidur. “Aku sudah jauh lebih baik sekarang,” katanya dingin. “Kapan aku bisa kembali ke keluargaku?”

Tae San mendesah. “Hye Won-ah, bersabarlah sebentar. Sedikit lagi, kumohon.”

Wanita itu, Han Hye Won, bangkit dan berdiri menghadap Tae San. “Aku sudah melakukan semua keinginanmu. Bersembunyi di sini, mengabaikan keluargaku, dan membiarkanmu memanfaatkan keadaanku untuk menyakiti keluargaku,” desisnya penuh amarah.

“Kau yang membuat semuanya menjadi seperti ini,” sangkal Tae San santai. Dia tidak terpancing dengan kemarahan Hye Won sedikitpun. “Kau datang dengan penyakitmu dan meminta bantuanku. Kubantu kau dengan segala upaya yang kupunya dan aku hanya meminta sebuah permohonan padamu.”

Hye Won mendengus. Ia merasa terjebak karena tindakan cerobohnya dulu. Setelah Tae San merebut aset-aset keluargnya, Hye Won didiagnosis menderita limfoma hodgkin. Hye Won tahu suaminya dan Siwon akan khawatir saat mendengar berita ini, jadi ia memutuskan datang pada Im Tae San untuk meminta bantuannya. Saat itu Hye Won masih berpikir Tae San adalah sahabat suaminya. Tae San bersedia membantu membiayai semua perawatan Hye Won, dengan syarat Hye Won harus berhasil membujuk Ki Ho agar tidak melaporkan penyuapan di Jeju. Sayangnya Hye Won menolak, tapi Tae San tetap memaksa. Dia mengatakan pada Ki Ho kalau istrinya berada di tangannya dan akan dibunuh padahal Hye Won sedang menjalani perawatan. Tae San tidak pernah menyentuhnya.

“Seharusnya aku tidak pernah datang padamu. Kau adalah pengkhianat,” pekik Hye Won tertahan. Bagaimanapun juga ia tidak bisa lepas begitu saja dari Tae San. Pria itu mengancam akan memburu Siwon jika Hye Won pergi darinya.

“Tenanglah. Tunggu di sini sebentar lagi.” Tae San beranjak pergi dari sana. Setelah memindahkan aset-asetnya pada Yoona, ia merasa sedikit tenang. Kejaksaan boleh saja memeriksa A Grup, tapi aset-asetnya tidak akan hilang begitu saja. Ia tidak perlu merasa takut akan jatuh miskin.

***

 

“Aboeji benar-benar akan melaporkan Im Tae San?” tanya Siwon begitu ayahnya pulang. Sengaja ia menunggu ayahnya agar bisa membicarakan hal ini. “Tidak bisakah Aboeji membatalkannya?”

Choi Ki Ho meletakkan tas di lantai, duduk di depan Siwon dan menggeleng pelan. “Sayangnya tidak bisa.”

“Waeyo? Apa Aboeji menginginkan uangnya?”

“Ini bukan tentang uang, ini tentang kebenaran, Siwon-ah.”

Siwon mendesah. Hidup sederhana seperti ini bukan masalah baginya. Yang Siwon inginkan hanya kebahagiaan yang telah lama tak ia rasakan di keluarganya. Bahagia itu kini datang, dalam wujud seorang gadis manja yang menjerat hatinya. Dia tak ingin semua itu hancur hanya karena dendam semata. Nyatanya mereka tetap hidup meski tanpa uang berlimpah. “Walaupun kebenaran itu akan menyakiti banyak orang?”

“Ada  apa denganmu?” Choi Ki Ho merasa heran dengan sikap Siwon. “Siapa yang akan tersakiti?”

Ragu menghampiri hati Siwon. Egoiskah ia jika meminta hal seperti itu? “Im Yoona,” bisik Siwon yang segera bangkit dari duduknya dan mengurung diri di dalam kamarnya.

Mendengar bisikan kecil Siwon membuat ingatan Ki Ho melayang ketika ia bertemu dengan gadis cantik putri Im Tae San di depan rumahnya dulu. Gadis itu, Im Yoona, mungkinkah adalah orang yang Siwon sukai? pikirnya. Hampir bisa dipastikan kalau jawabannya adalah iya. Ki Ho memijit keningnya pelan. Tak pernah ia sangka kalau Siwon akan memiliki hubungan dengan Yoona. Ini menjadi semakin berat baginya. Ia juga mengenal Yoona, meski tidak sedekat dan seintim Siwon. Di matanya, Yoona adalah gadis yang ceria dan penuh semangat. Mengetahui status Yoona yang sebenarnya juga membuat Ki Ho meragukan keputusannya. Ia tak tega membiarkan Tae San dipenjara sementara Yoona tinggal bersama ibu tiri yang membencinya.

Tidak, suara hati Ki Ho berusaha membuang pikiran itu jauh-jauh. Kau sudah sejauh ini. Sebagai sahabat sudah menjadi kewajibanmu untuk mengembalikan Tae San ke jalan yang benar. Ini adalah satu-satunya jalan.

***

 

Pihak kejaksaan, yang terdiri dari belasan orang, memasuki gedung pusat A Grup dengan langkah tergesa. Dipimpin oleh Jaksa Lee, rombongan itu langsung naik menuju ruangan presiden direktur di mana Im Tae San bekerja. Tanpa mengetuk, ia dan rombongannya membuka pintu dan masuk ke ruangan Tae San.

Dengan didampingi Shim Changmin sebagai pengacaranya, Tae San duduk tenang di singgasananya dan tersenyum menyambut rombongan kejaksaan itu. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan Jaksa?” sambutnya.

Jaksa Lee mengambil sebuah amplop dari saku dalam jasnya dan membukanya. Menunjukkan isinya pada Tae San dan Changmin. “Kami secara resmi mendapat izin untuk melakukan audit pada A Grup.” Dengan menggerakkan tangannya, ia menyuruh anak buahnya mengambil arsip-arsip data yang ada di ruangan itu. Seluruh anak buahnya berkeliaran di segala penjuru ruangan, sementara Tae San masih duduk santai di kursi besarnya. Memperhatikan pihak kejaksaan mengambil dan membawa pergi arsip-arsip perusahaan dalam boks-boks besar. Ternyata kau tidak lagi peduli pada ancamanku, Ki Ho-ya, batin Tae San. Istrimu mungkin akan sedih jika mendengarnya.

 

Berita tentang kejaksaan yang memasuki gedung A Grup segera tersebar mengingat perusahaan itu memiliki pengaruh kuat dalam ekonomi Korea. Media massa, dari televisi hingga majalah bisnis, ramai membicarakan hal ini. Meski belum terbukti bersalah dan ditetapkan sebagai tersangka, hal ini tetap membuat Yoona resah. Kejaksaan tidak akan melakukan audit tanpa ada bukti yang kuat. Seperti hanya tinggal menunggu waktu ketika ayahnya akan diseret ke penjara.

Kebanyakan siswa Hyundai juga mengetahui berita itu. Sebagai calon-calon pelaku ekonomi Korea, tentu saja mereka juga ikut-ikutan membahas hal itu. Sok tahu, cibir Yoona dalam hati. Rasanya ia ingin membungkam mulut anak-anak sok itu dengan kaus kaki bau saat mereka mulai menjelek-jelekkan ayahnya.

“Anak-anak membicarakanmu,” tukas Joo Hyun begitu menghampiri Yoona yang duduk di sudut kafetaria sekolah. Ia menyerahkan sebuah waffle cokelat dan sekaleng sari lemon pada Yoona lalu mulai menggigit waffle-nya sendiri.

Tangan Yoona meraih kaleng lemon dan membukanya. “Aku sudah sering dibicarakan oleh orang-orang, jadi aku tidak akan terpancing,” kata Yoona berusaha terdengar riang. Sejak berita tentang A Grup keluar, sudah belasan kali Joo Hyun menelepon hanya untuk menanyakan keadaannya. Yoona sangat menghargai itu, dan bersyukur karena Joo Hyun begitu perhatian padanya. Tapi karena itu juga ia tidak mau menampakkan wajah sedihnya di depan Joo Hyun.

“Eii, Gadis Manja, kau makin terkenal sekarang,” timpal Leeteuk. Pemuda itu kini sudah cukup terbiasa dengan kehadiran Yoona dan Joo Hyun di meja sudutnya. “Kau bisa mengambil kesempatan dalam situasi seperti ini,” kata Leeteuk dengan mulut penuh tempura.

“Sunbae, apa maksudmu?” tanya Joo Hyun heran sementara Yoona hanya menatap Leeteuk meminta penjelasan.

Leeteuk menelan semua makanan di mulutnya sebelum menjawab. “Kau tahu, dengan publikasi besar seperti ini, kau bisa menjadi artis atau penyanyi tanpa harus mengeluarkan banyak biaya untuk promosi. Orang-orang sudah tahu siapa dirimu tanpa harus bersusah-susah mempromosikan diri,” jelas Leeteuk disertai dengan senyum ‘bangga atas pemikirannya sendiri’.

Kedua gadis itu menatap Leeteuk tanpa ekspresi. Membiarkan kekosongan berada di antara mereka selama beberapa saat.

“Tidak lucu, ya?” Senyum Leeteuk memudar menyaksikan reaksi Yoona dan Joo Hyun.

Yoona mendengus tidak percaya. “Picik sekali,” cibirnya.

“Oho! Beraninya kau berkata seperti itu pada sunbae-mu?” protes Leeteuk tidak terima. “Sepertinya kau butuh belajar tentang stategi pemasaran.”

Memperhatikan Yoona dari kejauhan seperti telah menjadi hobi baru Siwon. Ia ikut tersenyum saat mereka bertiga saling bertukar ejekan. Siwon bersyukur karena hyung-nya itu, walau sering mengeluh tentang Yoona, tidak bersikap seperti anak-anak lain. Juga karena Joo Hyun benar-benar menjadi teman yang baik bagi Yoona. Paling tidak gadis itu tidak akan sendiri. Ada orang-orang yang akan berdiri di sisinya dan menyemangatinya.

“Ayahmu dan ayahku sedang menghancurkan ayahnya. Tapi kita di sini justru berlomba untuk melindunginya. Funny, huh?”

Siwon menoleh dan mendapati Donghae sudah berdiri di sampingnya dengan kedua tangan berada di dalam saku celana. Matanya menatap Yoona yang sibuk mengunyah potongan waffle-nya. “Kau? Melindunginya? Atas dasar apa?” desis Siwon dingin.

“Tentu saja sama dengan alasanmu melindunginya,” jawab Donghae santai. Pengalamannya mengatakan untuk menghancurkan kepercayaan diri Siwon agar ia bisa menang kali ini. “Kita sama-sama ingin melihat Yoona terus tertawa seperti itu.”

Dalam hati Siwon menyetujui ucapan Donghae. Tapi tidak dengan mulutnya. Ia tidak berniat memasukkan Donghae dalam ceritanya bersama Yoona. “Benarkah? Kupikir kau tidak tahu artinya melindungi. Bukankah kau justru selalu berlindung di balik nama besar ayahmu?”

Senyum tipis yang menyertai bibir Donghae seketika menghilang dan digantikan dengan seringaian licik. Ketajaman lidah Siwon hampir menyamai dirinya. “Tidakkah kau berpikir bagaimana reaksi Yoona saat ia tahu siapa orang yang mendalangi penangkapan ayahnya? Mungkinkah ini akan menjadi kisah Romeo Juliet abad 21?”

“Kau mengancamku?” tanya Siwon sinis.

Donghae mengendikkan bahu. “Kau tidak akan mengatakan hal ini pada Yoona? Kau ingin aku yang mengatakan semua ini padanya? Aku tidak keberatan.”

Rahang Siwon menegang. Matanya sedikit menyipit menatap Donghae yang masih menyeringai licik. Anak itu selalu sukses memancing emosinya. “Gomawo untuk tawaranmu, tapi aku masih bisa melakukannya sendiri.”

“Kalau begitu cepat katakan. Aku tidak sabar menunggu kelanjutan cerita kalian,” seringai Donghae.

Siwon tersenyum tipis. “Siapkan saja hatimu. Yoona tidak akan bisa menghapusku dengan mudah.”

Donghae tahu pasti Siwon bukan lawan yang lemah. Bahkan ia terlalu kuat. Dan ia menyadari akan sulit mengalahkannya. Di luar dugaan, Donghae justru tersenyum tulus pada Siwon. Ia mengangguk-angguk seakan menyetujui ucapan Siwon padanya. “Lakukan yang terbaik. Aku bisa muncul di mana saja tanpa kau duga, Won-ah,” pesannya sebelum pergi.

***

 

“Kau menyukai Yoona?” selidik Choi Ki Ho saat Siwon kembali mempertanyakan keputusannya melaporkan A Grup. “Seberapa besar?”

Siwon yang sejak tadi menunduk mendongak menatap ayahnya. Saat ada hal serius yang harus mereka bicarakan, Ki Ho akan mengajak Siwon duduk berhadapan di ruang keluarga seperti ini. “Apa itu penting bagi Aboeji untuk mengetahuinya?”

“Sejauh apa kau berani berkorban untuknya?” lanjut Ki Ho tanpa menjawab pertanyaan Siwon.

“Apa yang ingin Aboeji bicarakan sebenarnya?” Jantung Siwon mulai berdetak lebih cepat menanti maksud pembicaraan ayahnya.

Ki Ho mendesah. “Jawablah, baru setelah itu Aboeji akan meneruskan pembicaraan ini.”

Kedua bibir Siwon melekat erat. Ia sendiri tidak tahu sejauh mana bisa berkorban untuk Yoona. Mereka baru saja bertemu, tapi Siwon merasa seperti telah bertahun-tahun mengenalnya. Berada di dekat Yoona membuatnya merasa menghirup udara pegunungan yang disinari mentari pagi. Lalu seberapa besar yang harus ia korbankan untuk tetap menikmati kedamaian semacam itu?

“Bersediakah kau menukar kehidupan keluargamu demi Yoona?”

Pupil hitam Siwon membesar, menatap langsung ke mata ayahnya. Seperti sebuah ucapan tidak cukup meyakinkannya, Siwon mencari kebenaran lain di sana. Ayahnya tidak menunjukkan tanda-tanda kalau pembicaraan itu adalah sebuah permainan. “Apa artinya itu?”

“Ibumu masih hidup,” kata Choi Ki Ho pelan. “Dia ada di tangan Im Tae San.”

Satu kejutan sepertinya terlalu biasa hingga Siwon mendapatkan dua. Yang pertama tentang ibunya yang masih hidup, dan ayahnya tahu hal itu. Kejutan kedua, yang benar-benar membuat kepala Siwon seperti dihantam bongkahan batu besar, adalah keterlibatan ayah Yoona dalam penculikan ibunya.

“Im Tae San mengancam akan membunuh ibumu jika Aboeji melaporkan kasus suap resort Jeju. Namun pada akhirnya, Aboeji memilih untuk mengungkap semuanya. Sekarang sudah terlambat untuk menghentikan ini…”

“Jadi Aboeji sudah tahu semua ini dan menyembunyikannya dariku? Aboeji mempertaruhkan nyawa Eomma untuk balas dendam?” potong Siwon marah. Napasnya mulai memburu menahan emosi.

Choi Ki Ho hanya tersenyum pahit. “Sudah kubilang ini bukan tentang balas dendam, Siwon-ah. Ini tentang kebenaran. Kalau kau benar-benar ingin menghentikan semua ini, berarti kau ingin kebenaran tetap tersembunyi dan membiarkan ibumu menanggung semuanya sendiri. Lagipula, Aboeji tidak pernah mendengar kabar tentangnya. Aboeji percaya ini yang seharusnya kita lakukan sejak dulu. Kita tidak akan mendapat apapun dengan hanya berdiam diri seperti sebelumnya.”

Siwon bangkit dan menyambar jaketnya sebelum pergi meninggalkan rumah. Pikirannya kacau. Dengan langkah-langkah yang panjang ia menelusuri jalanan malam yang semakin sepi. Ia ingin berada di manapun asalkan sendiri. Telinganya tidak lagi sanggup mendengar apapun dari mulut ayahnya. Sebuah kaleng bekas minuman menjadi alat pelampiasan emosinya. Kaleng itu melayang beberapa meter saat kaki Siwon menendangnya dengan cukup keras.

Kenyataan apa lagi ini? Mengapa begitu banyak hal yang baru ia ketahui? Mungkin keberadaan liontinnya pada Yoona juga bukan suatu kebetulan. Ibunya mungkin saja tahu siapa Yoona, dan berharap dengan mengenalnya Siwon bisa tahu apa yang terjadi pada keluarga mereka. Bukankah tidak ada yang kebetulan di dunia ini?

***

 

Tidak ada suara selain dentingan alat makan yang berbenturan yang sesekali terdengar di ruangan itu. Mereka makan dalam diam. Yuri yang duduk di depan Yoona sesekali mencuri pandang pada adiknya, mencari tahu keadaannya tanpa harus bertanya. “Sekarang kau pacaran dengan Siwon?” tanya Yuri ragu, berusaha memecah keheningan yang ternyata menjengahkan.

Yoona yang sejak tadi menunduk menghadapi makanannya balas menatap Yuri. “Mengapa Unnie tertarik pada hidupku?”

“Aku hanya bertanya,” kata Yuri setengah tidak percaya pada balasan Yoona yang begitu sarkastik.

“Ah, apa Unnie bersikap baik padaku karena sekarang akulah pemilik sebagian aset Appa?”

Yuri tersenyum kecut. Menyadari betapa buruknya hubungan mereka selama ini, hingga saling mencurigai ketika ada perhatian yang ditunjukkan. “Kau benar-benar berpikir seperti itu?”

“Ani,” jawab Yoona datar. Selera makannya sudah hilang. “Aku hanya mencoba bersikap buruk pada Unnie.”

“Mwo? Kau bertingkah kekanakan seperti itu bahkan setelah kejaksaan mengaudit perusahaan dan kita semua terancam?” nada suara Yuri mulai meninggi.

Yoona membanting sumpitnya ke meja, yang lalu jatuh ke lantai dan menimbulkan bunyi berdentang. “Bukankah Unnie yang memintaku? Aku hanya menuruti keinginanmu. Lalu mengapa Unnie marah saat aku mengabulkan permintaanmu? Sebenarnya apa yang Unnie inginkan?” pekik Yoona dengan napas memburu.

Yuri tertegun. Yoona menatapnya putus asa dengan kedua mata yang mulai memerah. “Mian,” gumamnya setelah menyadari ia tak semestinya berteriak pada Yoona. Adiknya itu pasti sama tertekannya seperti dirinya. Setelah mengambil napas panjang sejenak, Yuri melanjutkan dengan suara yang lebih lembut, “Mianhe, untuk semua hal buruk yang pernah kulakukan padamu.”

“Aku berangkat,” kata Yoona dingin. Ia lebih memilih pergi daripada harus mengawali hari dengan bertengkar. Diraihnya tas yang ia letakkan di kursi di sampingnya lalu beranjak pergi.

“Chakkaman,” tahan Yuri. Ia ikut bangkit mendekati Yoona yang berdiri menantinya. “Aku benar-benar minta maaf.”

Tanpa pernah Yoona duga, Yuri memeluknya untuk pertama kali. Yoona terlalu kaget hingga ia hanya berdiri kaku tanpa membalas pelukan Yuri.

“Sebagai seorang kakak, seharusnya aku juga memikirkan bagaimana perasaanmu. Seharusnya aku tidak menutup mata atas semua derita yang kau alami karena sikap burukku dan Eomma,” bisikan Yuri terdengar sangat jelas di telinga Yoona.

Mata Yoona menatap kosong melewati bahu Yuri. Terlalu terkejut menghadapi sikap Yuri yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. “Mengapa baru sekarang?” gumamnya lemah.

Yuri melepas pelukannya di tubuh Yoona. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyum meski matanya mulai berkaca-kaca. “Saat kau membawa macaroons ke apartemen Jong Woon Oppa, aku bertanya-tanya dalam hati. Mengapa kau membawakan macaroons, mengapa kau tetap menjengukku, atau mengapa kau tetap khawatir pada orang yang selalu jahat padamu. Saat itu aku merasa telah menjadi orang yang sangat jahat.”

“Unnie…”

“Dengan bersikap buruk padamu, kupikir perasaanku akan menjadi lebih baik. Tapi ternyata aku salah. Aku justru semakin tertekan dengan semuanya.” Yuri mengambil jeda, membiarkan Yoona merasakan kalau ucapannya benar-benar tulus. “Lalu aku sadar. Keluarga tidak semestinya memperlakukan yang lain dengan buruk. Kita tidak seharusnya saling menjatuhkan. Seharusnya aku melindungi adikku, bukan mengabaikannya. Aku benar-benar minta maaf, Yoona-ya.” Setetes air mata Yuri jatuh ke pipinya, meski bibirnya masih tersenyum.

“Jinjayo?” desah Yoona tak percaya. Bahunya sedikit gemetar karena menahan isakan yang siap keluar.

Yuri kembali memeluk Yoona. Mengusap punggung gadis itu  perlahan, mencoba meyakinkan kalau ia tidak sedang berbohong. Yuri tahu sebuah niat tidak akan pernah terlaksana jika dia tidak mengawalinya. Dan ia ingin memulai hubungan yang baru dengan Yoona dengan sebuah pelukan.

Tangan Yoona masih tetap berada di sisi tubuhnya. Ia mulai terisak saat merasakan belaian lembut Yuri di punggungnya. Terlalu banyak yang ingin ia katakan, namun hanya isak kecil yang keluar dari mulutnya. Yoona behutang pada macaroons kecil itu. Karenanya Yuri sekarang memeluk, membelai punggungnya, dan menguatkannya layaknya seorang kakak.

***

 

Berada di persimpangan terkadang terasa lebih sulit dibandingkan melewati jalanan yang berkelok. Tidak tahu mana jalan yang benar namun tetap harus memilih tanpa tahu apa yang ada di depannya. Siwon sedang berada di persimpangan itu. Di antara dua pilihan yang benar-benar menyulitkan hatinya.

Jelas Siwon ingin kembali bersama keluarganya. Keinginan itu kini bukan hanya milik bocah berumur sepuluh tahun, tapi juga Siwon yang sekarang. Ia ingin ibunya kembali, dengan segala cara. Namun sayangnya, jalan yang diambil sang ayah terlalu beresiko.

“Kau tidak sudah tidak makan selama satu minggu, ya?” ledek Leeteuk saat Yoona memasukkan sesendok penuh bulgogi ke dalam mulutnya. Ia melirik ke piring Yoona yang isinya sudah hampir lenyap ke dalam perut kecil gadis itu. “Mengagumkan,” gumamnya sambil memandang piringnya yang masih penuh.

Joo Hyun ikut memperhatikan Yoona yang duduk di depannya. Kecepatan makan Yoona meningkat dua ratus persen dibanding kemarin. “Apa sesuatu yang baik telah terjadi?”

Kepala Yoona hanya mengangguk-angguk karena mulutnya masih sibuk mengunyah. Senyum yang sudah beberapa waktu ini jarang muncul kini terus menghiasi bibir tipis Yoona.

“Apa itu?” tanya Joo Hyun penasaran.

“Kami berbaikan, aku dan Yuri Unnie.”

“Jinjayo? Aku senang mendengarnya,” seru Joo Hyun tulus.

Yoona menoleh pada Siwon yang sejak tadi diam, mengharap reaksi dan ucapan selamat darinya.

Siwon hanya tersenyum tipis. “Itu bagus,” kata Siwon. Tangannya membelai rambut Yoona dua kali. “Kau harus menjaga hubungan itu sampai akhir,” nasihatnya.

Ada yang aneh dengan Siwon, Yoona menyadari itu. Berkali-kali ia menghindari kontak mata dengan Yoona. Bicara pun hanya satu dua kata. Kalau biasanya Siwon memang pendiam, kali ini ia lebih diam lagi. Yoona mengangguk menyanggupi ucapan Siwon sambil terus menatap matanya. Lagi-lagi Siwon menghindar. Ia mengambil beberapa potong bulgogi dengan sumpitnya dan memindahkannya ke piring Yoona.

“Makan yang banyak,” ucapnya untuk mengalihkan perhatian Yoona pada dirinya.

 

“Oppa menyembunyikan sesuatu,” kata Yoona setelah menarik Siwon ke atap gedung sekolah, tempat yang sering dijadikan pelarian siswa yang stres karena pelajaran. “Itu pernyataan, bukan pertanyaan,” imbuhnya saat Siwon hampir menyangkalnya.

“Lalu?”

Yoona mendesah. “Bukannya, aku mau ikut campur dengan urusan Oppa. Tapi setidaknya Oppa bisa bercerita daripada memendamnya sendiri.”

“Mengapa aku harus cerita padamu?” Siwon masih bertahan untuk menatap apapun di sekitarnya selain mata Yoona.

“Karena Oppa bisa mempercayaiku seperti aku percaya pada Oppa.” Yoona menyentuh lengan Siwon, memimbing agar pemuda itu menghadapnya.

Mata mereka bertemu. Lagi-lagi Siwon dibuat tak berdaya karena sorot mata Yoona. Diraihnya gadisnya itu masuk ke dalam dekapannya.

“Oppa, waegurae?” tanya Yoona heran.

Siwon sedikit melonggarkan pelukannya, menatap mata Yoona sekali lagi sebelum menutup matanya. Wajahnya mendekati bibir Yoona dan menciumnya dalam.

Bibir Siwon masih terasa lembut dan hangat, namun ada yang berbeda dibanding sebelumnya. Siwon seperti menahan sesuatu dan Yoona merasakannya. Yoona tidak membalas meski sedikit membuka mulutnya. Lidah Yoona tiba-tiba mengecap sesuatu yang asin. Air mata Siwon. Hanya sedikit dan langsung hilang memang, tapi Yoona tahu kalau Siwon menangis.

“Aku tidak merasakan apa-apa lagi,” bisik Siwon ketika pautan bibir mereka terlepas. Tangannya melepas tubuh Yoona, sementara kakinya bergerak satu langkah ke belakang. Menyisakan sedikit jarak antara ia dan Yoona.

Kening Yoona mengernyit tidak mengerti. Otaknya masih sibuk menerka mengapa Siwon menangis saat menciumnya. Ia benar-benar tak pernah bisa menebak apa yang Siwon pikirkan. “Oppa bicara apa?”

Sebuah senyum tipis muncul di bibir Siwon. Senyum yang belum pernah ia perlihatkan pada Yoona sebelumnya. Hanya satu ujung bibirnya yang terangkat. Tatapannya berubah dingin. “Sebaiknya kita tidak usah saling bertemu lagi.”

“Mwo?”

“Aku hanya akan menyakitimu, jadi sebaiknya kau menjauh dariku.”

Yoona tertawa singkat. “Candaanmu tidak lucu, Oppa.”

“Siapa yang bilang aku sedang bercanda?”

Saat pertama kali bertemu Siwon, Yoona selalu melihat wajah dingin Siwon. Kali ini pun begitu. Tawa Yoona lenyap. “Tapi bukankah Oppa baru saja….”

“Sudah kubilang tadi aku tidak merasakan apa-apa. Ciuman itu tidak berarti. Aku menghabiskan waktu denganmu hanya karena Donghae akan kesal melihatnya,” kata Siwon disertai senyum sinis. “Kau lihat? Aku berhasil.”

Yoona tidak pernah ingin percaya pada kata-kata Siwon tapi ia tidak punya bukti yang bisa menyangkalnya. Otak Yoona merekam dengan jelas kalau Siwon memang tidak pernah mengatakan kalau pemuda itu menyukai atau mencintainya. Tapi bukankah terkadang sebuah tindakan justru lebih mewakili perasaan seseorang? Selama ini Yoona benar-benar merasakan ketulusan dalam setiap perlakuan Siwon padanya. Sayangnya, Siwon baru saja membantah semua itu.

“Ah, gomawo sudah mengembalikan liontinku.”

“Jinjayo?” gumam Yoona tidak percaya. Pandangannya yang mulai kabur karena terhalang air mata naik ke manik hitam Siwon. Tidak ada apapun di sana. Datar dan dingin.

Siwon mengangguk samar. “Aku pergi.”

 

 

TBC

 

Ngga pada marah kan saya cut di sini? Hehehehe… saya sempet stuck di beberapa bagian di part ini sebelum akhirnya jadi begini. Ngga tau deh ini ceritanya jadi begini. Mohon maaf yang sebesar-besarnya kalo jelek dan ngga sesuai harapan. Saya udah berusaha semaksimal mungkin. Oiya, sedikit cerita tentang pemilihan nama sekolah Hyundai, dulu saya browsing daftar sekolah di korea sebelum ngasih nama, dan ternyata yang paling cocok menurut saya ya Hyundai itu. Dan saya baru ngeh setelah ada reader yang komen klo Hyundai itu kan perusahaan punya Appa saya sama Wonppa *dijitak Om Ki Ho. Sebelumnya saya bener2 lupa sama fakta itu, deh. Jadi kalo ada yang mau protes kenapa hyundai jadi bukan milik keluarga choi dibatalin ya protesny. Itu bener2 ngga disengaja. Suer deh! v

Udah ah, banyak omong jadi saya. Hehe.. makasih buat reader yang sudah baca sampai sejauh ini. Di part ini pun saya masih mengharap komentar2 kalian sebagai masukan. Jadi jangan lupa RCL yaaa…. ^_^

Terakhir, buar Echa/Gee yang posting ff ini, makasihhh buuaaannnyyyaaakkkk… *bighug

Tinggalkan komentar

251 Komentar

  1. Wonppa di landa galau tingkat tingkat tinggi, bingung yg mana yg mau di pilihnya. Tapi syukur bgt Yuri sudah mulai mendekatkan diri pada adiknya
    saeng inspirasimu benar2 daebak

    Balas
  2. Novi

     /  Februari 9, 2015

    Siwon kok gitu…
    Ceritanya jadi sedihhhhh…..

    Kasian yoona. ..

    Balas
  3. Cha'chaicha

     /  Februari 10, 2015

    Makin penasaran, yoonwon jdi putus nyambung, pilihan sulit buat wonppa, klau pda akhir’y ada yg tersakiti..

    Balas
  4. selvarospiyanti

     /  Mei 15, 2015

    Makin seru cerita nya, dan mkin tmbah pnsaran

    Balas
  5. raratya19

     /  Oktober 18, 2015

    OMG T__T yoona kasihan banget, knapa siwon harus pergi disaat yoona butuh seseorang😦

    Balas
  6. Almira Putri

     /  Januari 30, 2016

    Andwe,andwe , jangan gitu dong wonppa ,kasian yonongie😦
    Nyesek,sumpah baca yang adegan terakhir😥
    Kok wonppa gak jujur aja sih sama yoona😦

    Pokoknnya fight thor buat next chap😀

    Balas
  7. Almira Putri

     /  Januari 30, 2016

    Andwe,andwe , jangan gitu dong wonppa ,kasian yoongie😦
    Nyesek,sumpah baca yang adegan terakhir😥
    Kok wonppa gak jujur aja sih sama yoona😦

    Pokoknnya fight thor buat next chap😀

    Balas
  8. YoongNna

     /  Februari 24, 2016

    Sediiihh siwon ma yoona hrus putus pdhal mreka saling mencintai…
    Seneng jg yuri ma yoona udh baikan dan saling syang…

    Balas
  9. vitrieeyoong

     /  Maret 10, 2016

    Dsatu sisi aku bhagia karena YoonYul baikan. But, apaan tuh diangkat diawal sma moment YoonWon yang WoW, ehh diakhir dbnting k jurang. Ige mwoya? Setega itukah drimu thor? Aku ga ridho loh, apalagi klau ntar YW mlah sailing mmbenci.
    Ibu Yuri sbnarnya syang sma Yoong tpi dsar setan yang hobinya mngganggu sneng bnget deh liat manusia sling mmbenci dan dendam.

    Next!!!

    Balas
  10. Nadila sari pramahesti

     /  Juli 10, 2016

    ini pilihan yg sulit buat siwon knpa siwon ninggalin yoona?

    tapi siwon juga ingin kembali kekeluarganya tapi disisi lain siwon mau tidak mau harus mutusin yoona karna siwon enggak mau nyakitin yoona . part ini bikin terharu:-(

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: