[2S] Tell Me Your Wish (Chapter 1)

[2S] Tell Me Your Wish 1/2

Author           : Indah (bianglalala27@gmail.com)

Type                : Twoshoot

Cast                  : Choi Siwon, Im Yoona, Choi Sooyoung, Lee Jonghyun

Genre              : Romance

Rating             : 15+

 

Anyeong anyeong…

Saya coba bikin 2S nih, biarpun ceritanya gaje gitu. Hehe. Ini juga sebagai permintaan maaf karena TPL 8 belum bisa saya posting soalnya laptop rusak, dan saya ngga punya back up-nya, jadi sedikit terhambat deh. Okelah, selamat membaca aja (sebelumnya saya peringatin ini cerita garing dan gaje banget). Sory for typo.

 

 

Choi Sooyoung melipat kedua tangannya di dada sambil menatap tidak percaya pada gadis di depannya. “Kau benar-benar pergi dari rumah?” tanyanya sembari memperhatikan sebuah koper dan tas besar yang baru diletakkan di dekatnya.

Gadis di depannya itu mengangguk tanpa dosa. “Biarkan aku tinggal di sini untuk sementara, eoh?” pintanya.

“Keluargamu kan kaya. Tinggal saja di hotel,” tolak Sooyoung. “Aku tidak mau dimarahi oleh Im Ahjussi karena menampungmu, Im Yoona.”

“Ya! Aku kabur dari rumahku di Jepang, bukannya mau tamasya. Uangku akan habis dalam satu minggu kalau aku tidur di hotel. Paling tidak izinkan aku menumpang sampai aku dapat pekerjaan,” pinta Yoona dengan wajah memelas.

Sooyoung berdecak kesal. Yoona pasti sudah tahu kalau ia tak akan menolak permintaannya. Sebenarnya Sooyoung juga tidak akan membiarkan Yoona terlunta-lunta sendiri di jalanan. Ia hanya ingin memberi pelajaran pada sahabatnya itu karena sering bertindak tanpa berpikir dahulu.

“Karena kau diam saja kuanggap kau setuju. Di mana kamarku?” putus Yoona sepihak.

“Mwo?”

Yoona tersenyum lebar sambil menggandeng Sooyoung masuk lebih dalam ke apartemennya. “Kalau kau menolakku, aku akan menginap di rumah Yunho Oppa,” ancam Yoona menyebut pacar Sooyoung.

“Akan kubunuh kau jika melakukannya,” balas Sooyoung yang disambut tawa Yoona. Mereka memang selalu berdebat. Tapi justru itulah yang membuat keduanya dekat. Sejak berkenalan beberapa tahun lalu di Jepang, Yoona dan Sooyoung sudah seperti kembar siam yang tidak bisa dipisahkan.

Setelah menempatkan barang-barangnya di kamar Sooyoung, Yoona pergi ke dapur untuk membantu Sooyoung menyiapkan makan malam. Karena Sooyoung sudah hampir menyelesaikan masakannya, Yoona mengurungkan niatnya membantu dan menata meja makan.

“Mengapa hanya dua? Ambil satu set lagi!” perintah Sooyoung saat melihat Yoona hanya menyiapkan dua set peralatan makan.

Yoona menuruti perintah tuan rumahnya, mengambil perlatan makan lain dari dalam rak yang tergantung di dinding. “Apa Yunho Oppa akan kemari?”

Kening Sooyoung mengernyit heran karena Yoona menanyakan Yunho. “Ah,” katanya setelah ia ingat sesuatu. “Aku lupa memberitahu kalau aku tinggal bersama Siwon Oppa.”

“Nde?” Mata Yoona membulat kaget. Ia tidak tahu kalau Sooyoung tinggal bersama kakaknya. Selama ini ia hanya mendengar cerita tentang abang Sooyoung itu dan belum pernah bertemu secara langsung. Menurut kabar yang ia dengar, sebagian besar dari Sooyoung, Siwon bukan orang yang ramah dan terkesan menutup diri. Informasi lain yang ia dengar adalah bahwa Siwon dikenal sebagai penakluk wanita.

“Kokjonghajima. Oppa-ku sangat cuek. Dia tidak akan peduli pada orang bahkan jika orang itu sedang sekarat,” jelas Sooyoung seakan bisa membaca pikiran Yoona. Tepat saat Sooyoung mematikan kompor terdengar suara orang membuka pintu. “Itu pasti Siwon Oppa,” kata Sooyoung memberitahu.

Yoona hanya mengangguk mengiyakan. Ada rasa kurang nyaman karena ia akan tinggal satu atap dengan laki-laki yang bukan keluarganya. Terlebih ia sama sekali tidak mengenalnya. Tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak punya uang dan pekerjaan. Hanya Sooyoung yang bisa ia harapkan saat ini.

Seorang laki-laki tampan berusia dua puluh tujuh tahun menampakkan diri di ruang makan. Tanpa basa-basi ia langsung duduk di salah satu kursi dan meneguk segelas air di depannya.

“Oppa, tidak bisakah kau membersihkan diri dulu sebelum makan?” kata Sooyoung kesal. Sifatnya dan Siwon berbanding terbalik meski mereka kakak adik. Sooyoung sangat mencintai keteraturan sementara Siwon jauh lebih fleksibel. “Istrimu pasti akan mengomel setiap hari kalau kau tidak mengubah kebiasaan jorokmu, Oppa,” imbuhnya.

“Kalau begitu aku tidak akan menikah,” jawab Siwon enteng. “Apa yang kau masak?”

Sooyoung mendengus kesal. Matanya menatap Yoona seakan berkata, “Kau harus sabar jika berhadapan dengannya”. Tidak mau berlama-lama memarahi kelakuan Siwon yang justru akan membuatnya semakin kesal, Sooyoung kembali menyiapkan beberapa lauk di meja.

Siwon sendiri yang sedang asyik dengan ponselnya belum menyadari keberadaan orang asing di apartemennya. Ya, sebenarnya ini adalah apartemen miliknya. Sooyoung yang penakut tidak mau tinggal sendiri di rumah sementara kedua orang tua mereka berada di China. Saat Yoona menuangkan air ke gelasnya yang sudah kosong, barulah Siwon menyadari adanya makhluk lain di sana.

“Nuguya?” tanyanya sambil menatap Yoona heran. Ia sudah pernah bertemu dengan beberapa teman Sooyoung, tapi jelas bukan Yoona.

Dengan senyumnya yang sedikit dibuat-buat Sooyoung mendekati Siwon dan berbicara dengan nada manis padanya. “Oppa, kenalkan, dia Im Yoona. Temanku saat di Jepang. Bolehkah dia tinggal di sini untuk sementara?”

Sudah bisa ditebak kalau Sooyoung punya maksud tertentu jika ia berbicara dengan nada manisnya. Siwon sudah sangat hafal dengan kelakuan adiknya itu. Sayangnya Siwon bukan orang yang dengan mudah membiarkan orang lain masuk ke dalam ruang pribadinya, terlebih orang yang belum ia kenal. Siwon menatap Yoona dari atas ke bawah, meneliti seperti apa orang asing yang ingin tinggal di rumahnya.

Yoona berdiri tidak nyaman saat mata Siwon menatapnya tajam. Kepalanya mengangguk kecil dan bibirnya tersenyum manis. “Anyeonghseyo, Siwon-ssi. Maafkan aku karena datang tiba-tiba seperti ini. Tapi aku benar-benar butuh tempat tinggal dan tidak ada yang kukenal di Seoul selain Sooyoung.”

Setelah diam sejenak, kepala Siwon mengangguk samar. “Pastikan kau tidak akan membuat tidurku terganggu,” katanya arogan. Ia mengambil ponselnya di meja lalu bangkit dari duduknya. “Aku mandi dulu, jadi jangan habiskan makanannya,” pesannya sambil berlalu keluar dari ruang makan.

Mulut Yoona menganga tidak percaya melihat perlakuan Siwon padanya. Baru kali ini ia bertemu dengan orang super cuek dengan kesombongan level akut. Kepalanya menoleh meminta penjelasan dari Sooyoung.

“Jangan berharap dia akan memperlakukanmu lebih baik dari ini,” kata Sooyoung seakan membaca pikiran Yoona. “Kau beruntung. Aku butuh dua hari untuk membujuknya agar diperbolehkan tinggal di sini.”

Yoona mendesah pasrah. Tidak ada pilihan selain bersabar untuk sementara waktu. Terbiasa dimanja oleh keluarganya membuat Yoona tidak tahan kalau ada orang yang bersikap tidak sopan padanya. Anggap saja ini adalah bagian dari ujian hidup, batinnya.

“Ayo cepat makan,” ajak Sooyoung. Ia sudah duduk manis menghadapai santapan malamnya. “Sebelum Siwon Oppa selesai mandi dan bergabung di sini. Aku yakin kau tidak mau satu meja dengannya.”

***

 

Setelah sedikit beberes, Yoona memutuskan untuk mandi. Untung saja kamar Sooyoung memiliki kamar mandi sendiri, jadi ia tidak perlu takut akan berpapasan dengan Siwon saat baru keluar dari kamar mandi. Dan ngomong-ngomong soal Siwon, pria itu benar-benar membuat Yoona kesal dengan sikap cuek dan sombongnya. Berbanding terbalik dengan Sooyoung yang ramah dan cerewet.

“Yoong, cepatlah,” teriak Sooyoung dari balik pintu kamar mandi. Tangannya menggedor-gedor pintu kamar mandi, membuat Yoona yang masih berada di dalam menjadi ikut panik. “Perutku sakit sekali, cepat keluar!”

Yoona yang belum sempat mengeringkan tubuhnya menyambar handuk putih dan melilitkannya sebatas dada. Sooyoung tidak akan mau berhenti menggedor sampai ia keluar, jadi lebih baik ia berganti baju di luar saja. “Itu akibatnya kalau terlalu banyak makan,” cibir Yoona saat keluar.

Sooyoung tidak menggubris ucapan Yoona dan langsung menghambur masuk ke dalam kamar mandi. Akan dibalasnya Yoona saat ia menyelesaikan urusannya. Yang terpenting sekarang adalah mengeluarkan penyebab sakit perutnya yang menyiksa.

“Ck, anak itu tidak pernah berubah,” decak Yoona. Tungkainya yang masih agak basah melangkah menuju sebuah lemari pakaian di ujung ruangan. Sooyoung telah berbaik hati meminjamkan satu ruas ruang di lemarinya untuk meletakkan baju-baju Yoona. Setelah mengambil pakaian dalam, Yoona menurunkan handuknya sampai di pinggang dan memakai bra berwarna putih kesukaannya.

Tanpa Yoona ketahui, Siwon yang sudah menyelesaikan makan malamnya sedang berjalan mendekati kamar Sooyoung. Sebuah map ada di tangannya untuk ia berikan pada Sooyoung. Tanpa mengetuk, seperti kebiasaannya, Siwon langsung memutar kenop pintu kamar Sooyoung hingga pintu kayu itu terbuka lebar. “Sooyoung-ah, bisakah kau beritahu Yunho Hyung untuk…”

“AAAAAHHHHH!!!”

Yoona berteriak kaget saat seorang pria dewasa tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Refleks ia berteriak dan menutupi dadanya yang hanya terbungkus bra dengan kedua tangannya. “Apa yang kau lakukan?” pekiknya marah.

Siwon yang masuk dan mendapati Yoona setengah telanjang langsung menutup pintu kembali. Sedikit kaget, tapi ia tetap tenang dan bersikap seolah tidak ada yang terjadi. “Di mana Sooyoung? Ada yang harus kubicarakan dengannya,” katanya dari balik pintu.

Napas Yoona memburu menahan kemarahan yang siap meledak kapan saja. Wajahnya merah, campuran antara rasa marah dan malu. Tidak bisakah ia meminta maaf dulu? batinnya kesal. Ia menaikkan lilitan handuknya lalu berjalan mendekati pintu dan menguncinya. “Sooyoung ada di kamar mandi,” jawabnya ketus. Tanpa menunggu balasan Siwon, Yoona berjalan menjauhi pintu dengan menghenak-hentakan kakinya, ciri khasnya saat sedang marah.

“Bagaimana mungkin ini terjadi di malam pertamaku di sini? Bagaimana aku bisa melihat wajahnya besok?” gerutu Yoona sambil menepuk-nepuk kedua pipinya. “Memalukan sekali.”

“Ada apa? Aku mendengarmu berteriak tadi,” Sooyoung sudah keluar dari kamar mandi dan berjalan mendekati Yoona. Matanya memicing menatap sahabatnya itu, heran mengapa ia masih memakai handuk di tubuhnya. “Kau tidak dingin?”

Yoona mendelik kesal pada Sooyoung yang bertanya dengan wajah polosnya. “Jangan tanya apapun!” tukasnya kesal.

“Bersikap baiklah padaku, atau kalau tidak kau akan kuusir dari sini sekarang juga,” ancam Sooyoung. Hanya main-main memang, tapi ia suka melihat Yoona panik dan ketakutan karena ancamannya.

Bibir Yoona melengkung ke atas membuat senyum terpaksa yang ia pamerkan pada Sooyoung. “Memangnya kapan aku pernah bersikap jahat padamu?”

“Selalu.”

Keduanya tertawa mendengar jawaban Sooyoung. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu dan sama-sama merindukan saat-saat seperti ini. Berdebat dengan Sooyoung sedikit membuat Yoona melupakan hal memalukan yang baru saja menimpanya. Sisa malam pada akhirnya mereka habiskan untuk membicarakan hal-hal konyol yang pernah mereka lakukan bersama.

***

 

Sebagai tamu yang tahu diri, Yoona berinisiatif untuk membuat sarapan karena ia tahu kebiasaan Sooyoung yang tidak pernah dilewatkan itu. Dengan kemampuan memasaknya yang pas-pasan, Yoona membuat kentang panggang dan salad buah untuk bertiga. Sengaja ia memilih menu bergaya barat karena menurutnya itu jauh lebih mudah dibanding dengan masakan Korea. Dan ia tahu Sooyoung akan memakan apapun yang ada di meja asalkan belum basi.

Bertepatan dengan Yoona yang selesai menuangkan susu di gelasnya, Siwon masuk ke ruang makan dan langsung duduk di kursi paling ujung. Matanya menjelajah meja makan mencari asupan paginya. “Tidak ada kopi?”

Jantung Yoona melonjak kaget saat melihat Siwon datang. Ia masih belum terbiasa bertemu laki-laki asing di seluruh bagian rumah. Yoona berusaha mengabaikan tatapan Siwon padanya karena ia masih malu atas kejadian semalam. “Eobseo,” jawabnya singkat.

Siwon tampaknya cukup memahami penyebab sikap acuh Yoona padanya. Setelah menyendok lelehan keju mozarella di atas kentang panggangnya, dengan santai Siwon berujar, “Tubuhmu tidak menarik perhatianku sama sekali, jadi jangan khawatir. Aku sudah sering melihat yang lebih dari itu.”

Yoona kontan menyemburkan susunya saat mendengar ucapan Siwon. Otaknya kembali memutar rangkaian kejadian yang sudah berkali-kali ia usir keluar dari memorinya. Pipinya memerah sementara mulutnya terkatup menahan makian yang setiap saat siap meluncur keluar.

“Kalau kau membuat sarapan sebaiknya buat kopi juga,” lanjut Siwon yang secara tidak langsung memberitahu kebiasaannya di pagi hari.

“Aku tidak akan membuat kopi,” tolak Yoona seakan membalas perlakuan Siwon padanya. Benar kata Sooyoung kalau oppa-nya sangat cuek sampai-sampai ia tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. Termasuk perasaannya setelah bagian tubuh yang selalu ia tutupi dilihat oleh orang lain. Dalam hati Yoona hanya bisa berdoa supaya bisa segera mendapat pekerjaan dan pergi dari tempat ini.

“Lalu apa yang harus aku minum? Susu? Kau pikir aku bayi?”

Sebuah decakan kesal keluar dari mulut Yoona. Masa bodoh dengan statusnya yang menumpang di tempat ini. Ia hanya ingin menegaskan kalau tugasnya bukan melayani semua kebutuhan Siwon. “Kau bisa membuatnya sendiri kalau mau. Kalau tidak mau ya minum susu saja. Dan asal kau tahu, susu tidak hanya untuk bayi. Kakek-kakek juga banyak yang minum susu untuk kesehatan mereka.”

Di luar dugaan, Siwon mengambil gelas berisi susu dari tangan Yoona dan meneguk isinya. Ia terbiasa makan dari apa yang telah disediakan untuknya. Dapur bukanlah tempat yang akan ia jamah demi secangkir kopi. Tidak. Siwon terbiasa dilayani, bahkan oleh adiknya. Ia lebih memilih untuk menelepon sebuah kafe dan memesan kopi melalui layanan pesan-antar. Sebelum tinggal bersama Sooyoung, ada seorang pembantu yang menyiapkan segala kebutuhannya. Namun Sooyoung bersikeras menyuruh orang itu datang seminggu sekali untuk bersih-bersih saja. Ia yang kini seringkali menyiapkan makanan untuk Siwon.

Setelah menghabiskan isinya, Siwon mengembalikan gelas itu ke tangan Yoona. “Tidak buruk. Tapi aku tetap lebih suka kopi,” tandasnya. Sepintas pandangannya mengarah pada wajah Yoona yang menatapnya heran. “Mengapa wanita selalu melakukan hal seperti itu di depan pria?” gumamnya sambil merapikan kemejanya.

Kening Yoona mengernyit heran. Ia yakin perkataan Siwon ditujukan padanya. Tapi memang apa yang ia lakukan? Sejak tadi ia hanya makan dan tidak melakukan hal lain. Kecuali menatap Siwon dengan pandangan heran bercampur takjub bercampur kesal. “Melakukan apa?” tukasnya tanpa sadar.

“Igo,” kata Siwon sambil menyentuh ujung bibir Yoona dengan telunjuk dan ibu jarinya, membersihkan sisa susu yang menempel di sana. Siwon langsung melangkah pergi setelah sukses membuat Yoona terpana karena tindakannya. “Bilang pada Sooyoung kalau aku akan pulang malam.”

Yoona tidak menyahut. Perlahan tangannya menyentuh bagian kiri dadanya, tempat di mana jantungnya tiba-tiba berpacu dua kali lebih kencang. Lidahnya menjadi kelu dan tenaganya menguap entah ke mana. Siwon telah sukses mengaduk-aduk perasaannya padahal belum dua puluh empat jam mereka bertemu. Tentu saja, dia kan playboy, keluh Yoona dalam hati. “Andwe. Jangan pernah jatuh cinta padanya,” gumam Yoona memperingatkan dirinya sendiri.

***

 

Yoona merasakan pegal hampir di semua bagian tubuhnya. Setelah seharian berkeliling Seoul, ia tidak juga menemukan pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya. Bukannya dia tidak berbakat, tapi sangat jarang ada perusahaan besar yang mau menampung orang yang hanya berijazah SMA. Bodohnya Yoona karena tidak mempersiapkan pelariannya dengan baik. Ia justru meninggalkan surat-surat penting seperti ijazah masternya di Jepang. Sia-sia sudah kuliahku selama bertahun-tahun, batinnya sedih.

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika Yoona turun dari bus di halte dekat apartemen Siwon. Terpaksa ia naik bus sendiri karena Sooyoung pergi bersama Yunho. Tidak apalah. Sooyoung sudah sangat berbaik hati mengizinkannya tinggal dan makan gratis dengan mengabaikan kemarahan ayah Yoona jika mengetahui hal ini. Dengan langkah gontai Yoona keluar dari dalam lift yang membawanya ke lantai 4 apartemen Siwon.

Sesampainya di depan pintu ia baru menyadari sesuatu. Pintu apartemen Siwon disetel dengan password yang gawatnya tidak Yoona ketahui. Setelah beberapa kali memencet bel dan pintu tidak juga terbuka, Yoona mengambil kesimpulan kalau Sooyoung atau Siwon belum pulang. Tubuh Yoona merosot lemas saat menyadari baterai ponselnya habis dan ia tidak bisa menanyakan password pada Sooyoung. “Eottokhe?” isak Yoona pelan. Yang bisa ia lakukan kini hanya duduk memeluk lutut sambil menunggu salah satu di antara mereka pulang.

Dua jam kemudian terlihat seorang pria tampan keluar dari lift menuju apartemen nomor 407. Tatapannya terpaku pada sesosok tubuh yang tidur meringkuk di depan pintu apartemennya. “Ireona!” perintahnya sambil menyenggol kaki orang itu dengan ujung sepatunya. Sayangnya orang itu tetap terlelap dalam mimpinya, tidak terganggu dengan setuhan di kakinya yang cukup keras.

Choi Siwon mendesah malas. Pintu apartemennya terbuka begitu ia selesai memasukkan password. Ia membuka pintu lebih lebar lalu mengangkat tubuh orang yang tertidur, yang ia kenali sebagai sahabat adiknya, dan membawanya masuk.

***

 

Sinar matahari menerobos masuk ke dalam kamar bernuansa putih itu melalui celah gorden yang tidak tertutup sempurna. Tidak ada suara apapun di sana selain hembusan nafas teratur dari seorang wanita yang masih terlelap di balik selimut tebal. Sebuah lenguhan lembut terdengar menandakan pemiliknya mulai mendapat kesadarannya kembali.

“Di mana aku?” gumam wanita itu, Im Yoona, saat menyadari ia tidak berada di kamar Sooyoung. Desainnya hampir sama dengan kamar Sooyoung, namun ada beberapa benda di sana yang tidak akan mungkin dimiliki oleh sahabatnya itu.

“Akhirnya kau bangun juga,” kata Siwon yang baru keluar dari pintu di ujung ruangan.

Yoona terlonjak kaget. Tangannya refleks meraih selimut untuk menutupi tubuhnya. Matanya mengerjap-ngerjap melihat Siwon yang hanya ditutupi sebuah handuk dari pinggang sampai lutut. “Sedang apa kau di sini?” pekiknya.

Dengan gayanya yang santai dan cuek Siwon berjalan mendekati tempat tidur sementara Yoona semakin mengeratkan pegangannya pada selimut. “Kau pikir apa? Bukankah ini apartemenku?”

Perlahan tapi pasti, otak Yoona mulai berfungsi kembali dengan baik. Jadi ini adalah kamar Siwon, mengingat Sooyoung pernah mengatakan kalau hanya ada dua kamar tidur di apartemen ini. Lalu bagaimana bisa ia tidur di kamar Siwon? Bukankah semalam ia tertidur di depan pintu apartemen?

“Aku melihatmu tidur di luar dan tidak bisa dibangunkan hingga aku terpaksa menggendongmu. Sooyoung menginap di rumah orang tua Yunho Hyung dan dia meninggalkan kamar dalam kondisi berantakan, jadi aku tidak bisa membaringkanmu di sana,” jelas Siwon seakan membaca kebingungan Yoona.

Syukurlah karena orang ini mau berbaik hati dan membawaku masuk, batin Yoona lega. Tapi kalau kamar Sooyoung tidak bisa ditempati, di mana Siwon tidur? “Gomawoyo. Maaf telah merepotkanmu. Lalu di mana kau tidur?” tanya Yoona penasaran. Selalu ia ingat pesan Sooyoung baik-baik kalau Siwon selalu diperlakukan seperti raja dan tidak ada yang boleh mengusiknya.

Setelah mengambil sebuah kemeja berwarna putih dari lemari, Siwon kembali berjalan ke ujung ruangan. “Tentu saja di kamarku. Kau pikir aku mau tidur di ruang tamu?” balasnya sambil masuk kembali ke pintu di ujung rungan yang Yoona yakini sebagai kamar mandi.

“Mwo?” Yoona sedikit terlambat bereaksi karena otaknya sibuk mencerna semua perkataan Siwon. Pandangannya menyapu seluruh ruangan. Tidak ada tempat tidur atau sofa panjang yang dapat digunakan untuk tidur selain yang sedang ia tempati. Apakah itu artinya…. “Andweee!” Yoona menutup muka dengan telapak tangannya. Ia memeriksa pakaiannya, masih sama dengan yang ia kenakan kemarin. Hanya sepatunya yang sekarang tergeletak di samping tempat tidur.

***

 

“Bagaimana kau bisa meninggalkan kamar dalam keadaan seperti ini? Lalu mengapa kau tidak memberitahu password apartemen dan tidak pulang semalam?” bentak Yoona saat menelepon Sooyoung.

Sooyoung terkekeh mendengar kemarahan Yoona. “Mian. Kemarin aku kesal dengan Yunho Oppa dan membanting semua barang-barangku. Lalu kemudian dia datang meminta maaf dan membawaku ke Busan untuk bertemu orang tuanya,” jelas Sooyoung. Sebenarnya ia merasa sedikit bersalah setelah mendengar cerita Yoona yang harus menunggu Siwon pulang di depan pintu. Tapi dia sudah menghubungi Yoona semalam dan ternyata ponselnya tidak aktif.

“Kapan kau pulang?” tanya Yoona melunak. Lelah juga rasanya terus marah-marah seperti ini. Apalagi sejak kemarin siang ia belum makan.

Ada jeda selama beberapa detik sebelum Sooyoung menjawab pertanyaan Yoona. “Entahlah. Ibu Yunho Oppa sedang sakit dan tidak mau ditinggal. Jadi aku harus menemaninya sebagai calon menantu yang baik.”

“Memang kau akan menikah dengan Yunho Oppa? Percaya diri sekali,” cibir Yoona.

“Karena itulah kau harus berdoa untukku.”

“Shirreo. Aku akan berdoa untuk diriku sendiri.”

Terdengar decakan Sooyoung dari seberang sana. Yoona selalu tidak mau kalah dalam hal apapun. Tapi anehnya Sooyoung sama sekali tidak keberatan dengan sifatnya yang satu itu. “Yoong, calon mertuaku sepertinya mencariku. Ah, jaga Siwon Oppa baik-baik. Kau harus bersabar menghadapinya, eoh? Passwordnya akan kukirimkan padamu nanti. Bye bye,” Sooyoung memutus sambungan telepon secara sepihak.

“Mwo?” Yoona memandang tidak percaya pada ponselnya. Ingin rasanya ia meneriaki Sooyoung karena telah seenaknya pergi dan meninggalkannya dengan seseorang yang tidak ia kenal. Dan apa yang ia katakan tadi? Menjaganya? Apa Siwon itu seorang bayi? Yoona membanting ponselnya ke tempat tidur dan memandang ke sekeliling ruangan. Lantainya penuh dengan barang-barang mulai dari sepatu sampai selimut. “Bagaimana aku membereskan semua ini?” keluhnya lemah.

***

 

Yoona memperhatikan Siwon yang sedang menikmati mac and cheese-nya dengan lahap. Keningnya berkerut heran karena Siwon sempat protes saat lagi-lagi ia memasak masakan barat, bukan Korea, tapi sekarang pria itu justru lebih semangat menghabiskan makan malam mereka.

“Kau bilang tidak mau makan masakan barat lagi,” singgung Yoona saat Siwon meletakkan sendok di mangkuknya yang kosong.

“Aku lapar.”

Yoona mendesah pasrah. Dua hari ia hidup bersama Siwon dan pekerjaannya sudah seperti pelayan pribadinya saja. Tidak ada pembicaraan apapun selain soal makanan, itu juga karena Siwon yang ternyata cukup pemilih. Selain itu, tidak ada yang membuat mereka saling berbicara, kecuali kejadian saat Siwon memergoki Yoona berganti baju dan saat ia tidur di kamar pria itu.

“Mengapa Sooyoung betah sekali di Busan?” gumam Yoona sambil mengaduk mac and cheese-nya yang sudah mulai dingin. Percuma juga ia tinggal bersama Sooyoung kalau gadis itu tidak pernah ada di rumah.

“Lebih lama lebih baik. Tidak akan ada yang membuat keributan lagi di sini,” sahut Siwon.

“Bagaimana bisa seorang kakak bicara seperti itu?” cibir Yoona.

“Kau sendiri pasti tahu kalau dia memang sangat cerewet,” balas Siwon.

“Terserah kau saja,” kata Yoona malas. Matanya mengawasi Siwon yang tengah meneguk susu hingga hampir separuh gelas. Siwon tidak pernah lagi meminta dibuatkan kopi padanya. Dan ia akan selalu menghabiskan apa yang Yoona buat meski diawali dengan keluhan dan protes tidak setuju.

“Kau akan segera jatuh cinta padaku kalau terus-terusan menatapku seperti itu.”

Yoona terkesiap mendengar Siwon tiba-tiba bicara seperti itu. Ia tidak menyangka kalau sejak tadi Siwon mengetahui tingkahnya. “Itu tidak akan pernah terjadi,” kata Yoona cepat menutupi rasa malunya.

Sebuah senyum tipis muncul menghiasi wajah tampan Siwon. “Kau yakin?”

“Tentu saja.”

“Bagaimana dengan ciuman? Gadis-gadis rela mati untukku setelah kucium,” lanjut Siwon penuh keyakinan.

“Tak akan pernah terjadi padaku,” Yoona menunjukkan wajahnya yang paling ketus.

“Bagaimana kalau kita buktikan?” Siwon bangkit dan mencondongkan tubuhnya ke arah Yoona. Jemarinya meraih dagu Yoona agar mendongak menghadapnya dan tiba-tiba saja bibirnya sudah menempel di atas bibir Yoona.

Kejadian itu berlangsung sangat cepat hingga Yoona tidak menyadari sampai ketika ada sesuatu yang lembut dan hangat menyapu permukaan bibirnya. Tubuhnya tiba-tiba saja terasa begitu lemah dan tidak bisa digerakkan. Jantungnya berdesir saat bibir Siwon mulai mengulum lembut bibirnya, meminta agar ia sedikit membuka mulutnya. Untuk sesaat mata Yoona terpejam menikmati saat-saat itu.

“Kau menikmatinya?” bisik Siwon saat ia mengakhiri ciumannya di bibir Yoona.

Yoona langsung membuka matanya begitu mendengar bisikan Siwon. Betapa kagetnya ia karena mandapati wajah Siwon hanya berjarak lima senti dari wajahnya. Ingin rasanya ia bersembunyi, tapi Yoona tahu Siwon sudah menangkap basah dirinya.

“Kau akan jatuh cinta padaku dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.” Sebelum menjauhkan diri dari Yoona, Siwon masih sempat mengecup sekilas bibir gadis itu. “Tidurlah.”

Tubuh Yoona masih diam membeku. Bernafas pun ia sulit. Sebuah desahan putus asa keluar dari mulutnya. Ia ingin berteriak dan memaki Siwon, tapi entah mengapa hal itu tak bisa Yoona lakukan. Tulang-tulangnya seperti meleleh, membuatnya sulit bergerak. Yoona hanya memandang kepergian Siwon dengan tatapan kosong.

“Kenapa tadi aku menutup mata? Bahkan aku sempat membuka mulutku,” sesalnya. Tangannya terangkat untuk memukul-mukul kepalanya lalu megacak rambutnya frustasi. “Dia hanya ingin bermain-main denganmu, Im Yoona. Jangan pernah tergoda olehnya. Dia itu playboy,” Yoona terus meracau mengingatkan dirinya sendiri. Tapi ada sesuatu yang tidak bisa ia pungkiri. Jantungnya berdetak tidak normal saat Siwon mendekatinya. Atau seringkali, tanpa ia sadari, Yoona memperhatikan Siwon yang sibuk mengunyah makanannya. Mungkin ini hanya karena ia adalah orang yang terus-terusan bersamaku beberapa hari ini, sangkal Yoona dalam hati. Pasti karena itu.

***

 

Tidur lelap Yoona terganggu saat ia mendengar suara bel berbunyi. Selama tinggal beberapa hari di apartemen Siwon, belum ada orang yang bertamu atau sekedar mampir. Dengan malas Yoona beranjak bangun dan memeriksa waktu di jam meja yang terdapat di nakas. “Siapa yang datang pagi-pagi begini? Di hari Minggu pula,” keluh Yoona saat tahu waktu masih menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit.

Yoona mempercepat langkahnya karena bel terus-terusan berbunyi tanpa jeda. “Nuguseyo?” tanyanya sambil membuka pintu.

Seorang wanita, yang di mata Yoona seperti bidadari dengan dandanan modern, tengah berdiri tidak sabar menunggu pintu dibuka. Raut wajahnya berubah terkejut saat mendapati Yoona yang membuka pintu.

“Anda siapa?” ulang Yoona saat wanita itu hanya menatapnya tajam.

“Siapa kau?” wanita itu justru balik bertanya dengan nada merendahkan. Ia meneliti penampilan Yoona yang hanya mengenakan tank top longgar dan celana pendek dari kain. “Apa yang kau lakukan di rumah Siwon Oppa?”

Mata Yoona mengerjap tidak percaya. Baru kali ini ia bertemu dengan tamu yang begitu tidak sopan.

“Siapa yang datang?” tanya Siwon yang baru keluar dari kamarnya. Ia juga merasa terganggu dengan bunyi bel yang tadi terus berdering. Dengan rambut yang masih acak-acakan dan hanya mengenakan celana pendek Siwon berjalan menyusul Yoona di pintu. “Kau?” gumamnya saat melihat tamu yang telah menariknya dari alam mimpi.

Wanita itu melipat tangannya di dada, kesal dengan reaksi Siwon yang begitu datar melihat kedatangannya. Padahal ia sudah memakai gaun terbaiknya agar Siwon memujinya cantik. “Siapa dia? Apa yang dia lakukan di rumahmu?” tanyanya sambil menunjuk Yoona.

“Kenapa kau datang sepagi ini?” Siwon justru balas bertanya. Mood-nya rusak saat ada orang yang membangunkannya secara paksa.

“Jawab aku dulu,” kata wanita itu keras kepala. Sebenarnya ia tahu kalau Siwon tidak suka dibangunkan seperti ini. Tapi ia begitu marah melihat ada wanita di dalam rumah Siwon sementara ia tahu Siwon bukan orang yang dengan mudah membiarkan orang lain  memasuki wilayahnya.

Siwon mendesah jengah. Tangannya merangkul bahu Yoona dan meremasnya pelan. “Ini Yoona. Kami tinggal bersama.”

Kedua mata wanita itu membesar seketika mendengar jawaban Siwon. Begitu juga dengan Yoona. Bagi orang yang tidak tahu situasinya, perkataan Siwon tadi berarti kalau mereka adalah sepasang kekasih yang tinggal satu atap. “Apa yang kau katakan?” protes Yoona sambil melirik Siwon yang masih merangkul bahunya.

Siwon mengendikkan bahunya. “Aku mengatakan yang sebenarnya.”

“Apa-apaan ini?” ucap wanita itu kesal. “Jadi kau sekarang bersamanya? Untuk berapa lama?”

“Victoria, pergilah. Ada yang harus aku lakukan bersama Yoona,” gumam Siwon.

Wanita itu, yang dipanggil Victoria, mendengus kasar. “Beritahu aku kalau kau bosan dengannya,” katanya sebelum berbalik pergi.

Dengan kasar Yoona menyentak tangan Siwon yang melingkari bahunya agar pergi dari sana. Ia sangat kesal karena Siwon tidak memberikan informasi yang lengkap pada wanita bernama Victoria itu. Kalau Siwon berkata seperti tadi pada orang-orang yang bertanya, mereka pasti akan berpikir macam-macam tentangnya. “Mengapa kau tidak mengatakan kalau aku adalah sahabat adikmu yang menumpang untuk sementara waktu? Bagaimana kalau orang-orang salah paham tentang kita?”

“Bukankah kita memang tinggal bersama?” balas Siwon datar, seperti biasanya.

“Benar, tapi….”

“Victoria hanya bertanya apa yang kau lakukan di sini, jadi aku hanya menjawab apa yang kau lakukan.” Siwon lalu menutup pintu kembali dan menguncinya.

“Tapi wanita itu akan berpikir…”

“Dia akan berpikir kita tidur bersama,” potong Siwon. “Lihat saja penampilan kita.”

Yoona buru-buru membekap mulutnya sebelum ia sempat berteriak. Entah bagaimana ia baru menyadari kalau Siwon bertelanjang dada sejak tadi. Ia lalu memejamkan matanya kuat-kuat, agar tidak perlu melihat abs Siwon yang terbentuk sempurna.

Siwon tersenyum tipis dan medekati Yoona perlahan. “Mengapa kau menutup mata? Bukankah kita sama-sama sudah pernah melihat?”

“Ish!” Yoona membuka matanya dan menatap Siwon kesal. “Jangan mengingat-ingat hal itu lagi!” Tungkainya otomatis melangkah mundur saat Siwon semakin mendekatinya.

“Haruskah aku berpura-pura tidak pernah melihatnya?” goda Siwon.

Deg. Kini Yoona terhimpit di antara tembok dan Siwon. Kedua belah pipinya sudah semerah tomat. Jantungnya berdetak tidak karuan saat berada pada jarak yang sangat dekat dengan Siwon. Bagaimanapun juga, ia bukan gadis yang punya banyak pengalaman dengan lelaki. Jantungku akan segera rusak karena terlalu sering bekerja di atas normal seperti ini, keluh Yoona dalam hati.

“Ada sesuatu yang harus kaulakukan untukku,” kata Siwon sambil meraih dagu Yoona agar fokus menatapnya. “Aku sudah tidak tahan,” bisiknya tepat di telinga Yoona.

Bulu kuduk Yoona berdiri saat nafas Siwon menyapu bagian belakang telinganya. Jantungnya semakin berdetak kencang. Jemarinya mencengkeram erat ujung celana pendeknya, mencari kekuatan agar ia tetap bisa berdiri tegak. Apa yang akan dilakukan Siwon padanya? “M… mwo?” tanyanya tergagap.

Mata elang Siwon menelusuri tiap inchi wajah Yoona yang cantik sebelum menatap langsung ke manik cokelatnya. “Menurutmu apa?” balasnya seduktif.

Dada Yoona terasa begitu sesak karena tanpa sadar ia menahan nafasnya. Yoona menggeleng pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Siwon meski di kepalanya muncul banyak jawaban-jawaban aneh.

“Buatkan sarapan untukku. Aku sudah tidak kuat menahan rasa laparku,” bisiknya.

Yoona menghembuskan nafas lega saat akhirnya Siwon menjauhkan diri darinya. “Seharusnya kau mengatakannya sejak tadi. Kau membuatku berpikiran macam-macam,” omelnya.

“Mwoya? Kau kecewa karena aku tidak melakukan apapun padamu?”

“Yak!”

Tawa Siwon berderai melihat kemarahan Yoona padanya. Ia cepat-cepat masuk kembali ke kamar tidur sebelum Yoona memaki-maki dirinya.

Tubuh Yoona merosot lemah ke lantai begitu Siwon menutup pintu kamarnya. Bagaimana ini? Sepertinya aku jatuh cinta pada playboy itu, keluh Yoona.

***

Berkali-kali Yoona mengubah posisi tidurnya, namun matanya tak juga mau terpejam. Jantungnya terus berdebar kencang sementara hatinya seperti disinari matahari pagi. Hangat dan menyenangkan. Meski ia menyadari ada sesuatu yang ia rasakan pada Siwon, akal sehat Yoona terus menyangkalnya. Ia tidak ingin menjalani cinta sepihak pada orang yang hanya bermain-main dengannya. Putus asa, Yoona akhirnya bangun dan pergi ke dapur. Mencari segelas susu yang mungkin dapat membuatnya tidur.

Setelah menuang susu ke dalam gelas dan mengembalikan sisanya ke dalam lemari es, Yoona kembali lagi ke kamarnya dan Sooyoung.

“Kau tidak tidur?”

Yoona hampir menjatuhkan gelasnya karena kaget mendengar teguran Siwon yang sedang duduk di ruang tengah. “Jangan membuatku terkejut!” bentaknya kesal. Selalu saja emosinya meluap-luap saat berhadapan dengan Siwon. “Apa yang kau lakukan malam-malam begini? Kau bahkan tidak menyalakan lampu.”

“Tidak bisa tidur,” jawabnya singkat.

Kaki Yoona melangkah dengan sendirinya mendekati Siwon lalu menyodorkan gelas yang ia bawa. “Minum ini,” katanya. Yoona sendiri merasa takjub pada apa yang baru saja ia lakukan. Melayani Siwon sepertinya sudah mulai menjadi rutinitasnya dan ia tidak terlalu merasa keberatan seperti beberapa hari lalu.

Meski ragu, karena Yoona biasanya harus selalu diperintah sebelum melakukan apa yang ia inginkan, Siwon menerima gelas dari gadis itu. Dengan sedikit isyarat ia  menyuruh Yoona duduk di sampingnya. “Mengapa kau selalu memberiku susu?”

“Mengapa kau tidak bisa tidur?” gumam Yoona penasaran. Pasalnya ia tidak bisa tidur karena terlalu banyak memikirkan Siwon. Diam-diam ia berharap kalau Siwon juga mengalami hal yang sama. Kau benar-benar gila, Im Yoona, batinnya saat menyadari harapanannya tentang Siwon.

Siwon hanya mengendikkan bahunya, meski tidak terlalu terlihat karena cahaya redup dalam ruangan itu. “Kau benar-benar tidak punya kenalan di Seoul? Bukankah kau orang Korea?”

Hati Yoona mencelos. Pupus sudah harapannya. Ia berpikir Siwon terganggu karena keberadaannya dan ingin ia pergi dari rumahnya. “Wae? Kau keberatan aku tinggal di sini?”

“Aku tidak bilang begitu.”

Yoona mendengus kesal. “Tenang saja, aku akan pergi setelah mendapat pekerjaan,” katanya tajam. Mengapa aku harus jatuh cinta pada pria seperti ini? keluhnya dalam hati. Ia lalu teringat pada wanita yang pagi tadi datang berkunjung. Mungkinkah dia kekasih Siwon? “Wanita tadi pagi, siapa dia?” tanya Yoona ragu.

Siwon mengulum senyum, memperlihatkan sedikit lesung pipitnya. “Kau cemburu? Sudah kubilang kau akan jatuh cinta padaku,” ujar Siwon percaya diri sebelum meneguk susunya.

Inilah yang terjadi kalau kau terlalu menuruti keinginanmu, sesal Yoona dalam hati. “Lupakan. Aku hanya bertanya karena kesal pada sikapnya yang tidak sopan padaku,” sungut Yoona yang membuat sebuah senyum tipis muncul lagi di wajah Siwon. Mati-matian ia berusaha menjaga detak jantungnya agar tetap normal. Siwon telah membuat jantungnya meloncat-loncat gembira bahkan hanya dengan duduk berdekatan dan melihatnya tersenyum seperti ini.

“Bukankah semua gadis selalu bersikap menyebalkan saat cemburu?” Siwon menyandarkan kepalanya pada sofa dan memejamkan matanya.

Lagi-lagi Yoona hanya bisa mencuri pandang pada Siwon yang terlihat begitu damai di cahaya yang temaram. Ia kesal karena Siwon tidak mau menjawab pertanyaannya, tapi ia tidak bisa marah. Entah sudah ke berapa kalinya Yoona terjebak dalam keadaan seperti ini,diam-diam menatap Siwon saat pria itu lengah. Wajahnya adalah salah satu ciptaan Tuhan yang paling indah, paling tidak begitu menurut Yoona. Alis, mata, hidung, dan bibir yang begitu sempurna. Bibir itu, bibir yang telah menyentuh bibirnya untuk pertama kali sepanjang hidupnya. Mata Yoona mulai terpejam saat mengingat saat-saat Siwon mencuri ciuman pertamanya, mengenang rasa hangat yang tiba-tiba muncul tanpa pernah ia duga.

“Tidurlah kalau kau mengantuk.”

Mata Yoona seketika terbuka merasakan hembusan nafas Siwon di sekitar telinganya. Kepalanya menoleh ke samping dan mendapati Siwon tengah memandangnya dengan senyuman misterius. Yoona meringis kesal lalu pergi dengan mengehentak-hentakkan kakinya. Marah dan malu. Dalam hati ia hanya bisa berdoa agar Siwon tidak tahu apa yang tengah ia pikirkan.

***

 

Hari berikutnya Yoona masih sibuk berkeliling mencari pekerjaan. Meski merasa lelah, ia tidak mau menyerah begitu saja. Harga dirinya masih terlalu tinggi untuk kembali ke rumah keluarganya setelah ia bertengkar hebat dengan ayahnya. Klise memang, karena sumber pertengkaran mereka hanyalah pendirian Yoona yang masih belum mau menikah.

Yoona menghabiskan malamnya di pinggiran Sungai Han yang terkenal sambil menikmati sekaleng minuman yang ia beli tadi. Sedikit menyegarkan tubuh setelah seharian berkeliling. Namun pikirannya justru melayang pada saat-saat bersama Siwon, hal yang seharian ini berusaha ia hilangkan dari otaknya. Selalu saja pria itu berhasil menggoda dan membuat wajahnya merah. “Sudah kubilang jangan jatuh cinta padanya. Dia itu playboy. Wanita bernama Victoria itu juga pasti salah satu pacarnya. Lagipula dia juga tidak menyukaimu,” Yoona begumam sendiri seperti orang gila.

Beberapa langkah dari tempat Yoona duduk, seorang pria tersenyum geli memperhatikannya. Ia berjalan mendekat dan menyapa Yoona. “Im Yoona, kaukah itu?”

Celotehan Yoona langsung berhenti saat mendengar namanya disebut. Ia mendongak menatap pemanggilnya. “Lee Jonghyun!” sahutnya histeris. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Pria itu, yang dipanggil Lee Jonghyun, tersenyum membalas keterkejutan Yoona. “Aku tinggal di sekitar sini.” Jonghyun lalu duduk di samping Yoona. “Kau sendiri sedang apa di sini?”

“Sekarang aku tinggal di Seoul bersama Sooyoung,” jawab Yoona. Akhirnya ia bertemu dengan orang yang ia kenal setelah sampai di Seoul. Jonghyun adalah teman kuliahnya dan Sooyoung.

“Jinjayo?”

Yoona mengangguk mengiyakan. “Tapi sepertinya aku harus pulang sekarang,” kata Yoona sambil melihat waktu di jam tangannya. Tak terasa ia sudah cukup lama duduk melamun menatap sungai Han. “Berikan nomor teleponmu, biar nanti kutelepon.”

Jonghyun ikut bangkit saat Yoona berdiri. “Biar kuantar. Kita bisa sekalian ngobrol,” tawarnya.

Yoona mengangguk mengiyakan. Ia sendiri sudah malas kalau harus berjalan ke halte dan menunggu bus. Lagipula Jonghyun selalu bersikap baik pada siapapun. Saking baiknya, seringkali Yoona dan Sooyoung memanfaatkan itu saat mereka masih kuliah.

***

 

“Masuklah dulu, akan kubuatkan cokelat panas untukmu,” Yoona gantian menawari Jonghyun saat mereka sampai di depan apartemen Siwon.

“Geurae.”

Perlahan Yoona membuka pintu apartemen Siwon dan mempersilakan Jonghyun masuk. Ia berpikir kalau Siwon belum pulang karena lampu masih padam. Saat ia menekan saklar dan lampu menyala, barulah Yoona mendapat kejutan. Siwon berdiri menghadapnya dengan kedua tangan terlipat di dada di ruang tamu.

“Oh, kkamjagiya,” seru Yoona kaget. Ia pikir Siwon belum pulang. “Mengapa kau selalu membiarkan lampunya padam?” omelnya.

Siwon diam mematung memperhatikan Jonghyun yang ada di belakang Yoona. Raut wajahnya tak bisa ditebak. Hanya kilatan matanya terlihat lebih tajam dan siap mencabik apapun yang ada didepannya.

Seperti mengerti arti pandangan Siwon, Yoona memperkenalkan Jonghyun dengan sedikit ragu. “Dia Lee Jonghyun, temanku dan Sooyoung saat kuliah. Aku bertemu dengannya di jalan dan dia mengantarku pulang. Tidak apa-apa, kan, kalau dia mampir sebentar?”

Jonghyun yang masih heran mengapa ada pria di tempat tinggal Yoona mengangguk kecil dan menampakkan senyumnya.

Siwon tidak menanggapi sapaan ramah Jonghyun dan beralih menatap Yoona. “Kurasa kau tahu jawabanku tanpa perlu kukatakan,” desisnya dingin.

Yoona mencelos. Dengan berat hati ia menatap Jonghyun, memberi senyum kaku sebagai permintaan maaf. Tangannya menarik lengan Jonghyun, membimbingnya untuk segera keluar dari ruangan itu. “Jonghyun-ah, mianhe. Ada sedikit masalah. Sebaiknya kau pulang saja. Lain kali aku janji akan mentraktir apapun yang kau mau,” cerocosnya.

“Tapi siapa pria itu? Setahuku kau tidak punya kakak laki-laki,” kata Jonghyun heran.

“Akan kujelaskan nanti, eoh. Aku benar-benar minta maaf padamu,” sekali lagi Yoona mendorong Jonghyun keluar dari apartemen Siwon dan menutup pintu kembali. “Tamat riwayatku,” gumamnya sedih saat berjalan ke tempat Siwon berada.

Siwon telah menantinya, dengan tangan yang masih terlipat di dada, dan tatapan garang yang belum pernah Yoona lihat sebelumnya. “Aku tidak suka kau membawa orang lain masuk kemari,” kata Siwon tajam.

Yoona membuang napas kesal. “Aku minta maaf. Lagipula dia hanya akan mampir sebentar lalu pergi lagi,” balas Yoona tak kalah tajam. Ia heran mengapa Siwon menjadi sangat marah hanya karena ada orang lain yang masuk ke apartemennya.

Tangan Siwon meraih tangan Yoona, menarik gadis itu dan menjatuhkannya di atas sofa sebelum ia menindihnya. Yoona menatap Siwon yang berada di atas tubuhnya dengan bertopang pada lengannya yang kuat, takut-takut. “Apa yang kau lakukan?” cicit Yoona ketakutan.

“Kuperingatkan kau jangan pernah membawa orang lain masuk kemari,” kata Siwon dingin. “Kau kuizinkan tinggal di sini, tapi bukan berarti kau bisa bertindak sesukamu.”

Hati Yoona terasa sakit dengan perlakuan Siwon padanya. Hilang sudah semua kekaguman yang ia sematkan pada Siwon. Kemarahan Siwon begitu tidak wajar baginya. Yoona bukannya mencuri atau menipunya, bahkan ia selalu berusaha melakukan apa yang Siwon inginkan. Hanya karena seorang tamu saja bisa membuatnya berubah menjadi sekasar ini. Yoona benar-benar tidak habis pikir. Matanya mulai berkaca-kaca. “Kalau kau memang keberatan aku tinggal di sini, seharusnya kau mengatakannya sejak awal. Kau mau aku pergi? Baiklah, aku akan pergi. Aku membencimu, Choi Siwon,” desis Yoona penuh emosi. Ia mendorong dada Siwon lalu bangkit dan melangkah menuju kamar Sooyoung.

 

TBC

 

Gimana ceritanya? Jelek, gaje, garing, norak. Iya, saya udah tau kok. Haha, saya juga ngga tau kenapa kok tiba-tiba bikin ginian. Sengaja saya bikin ceritanya dari sisi Yoona biar ngga terlalu panjang. Soalnya kalo saya bikin Siwon juga nanti jadinya ngga 2S, hehe.

Tapi biarpun jelek, gaje, garing, tetep saya mengharap komentar2 kalian dong yaaa… hiihiii

Jadi jangan lupa RCL yaa..

Buat Echa/Gee makasih udah posting…

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

420 Komentar

  1. Khaira F Shing

     /  Mei 24, 2015

    Di baca lgi ff nya keren bgt saeng, kkkkkk😀

    Balas
  2. Racheoll Dm

     /  Juni 3, 2015

    Aneh sendiri sama sikapnya siwon ke yoona. Tapi, bagus kok ceritanya lucu. Apalagi yoona sikapnya lucu banget kalo udah sama siwon…. Bagus!!🙂

    Balas
  3. Yaya

     /  Juni 3, 2015

    kesel sama kelakuannya wonppa…knp sihh wonppa cuek n dingin bgt?? apalagi waktu yoong unni bawa jonghyun oppa mampir dia langsung marah?? apa jgn jgn wonppa cemburu sama jonghyun oppa??? heemmm bisa jadi …

    Balas
  4. Anne

     /  Juni 9, 2015

    ah wonpa cemburu nich
    Next

    Balas
  5. Dwi Swarnita

     /  Juni 18, 2015

    Wowowo… sikap siwon oppa terlalu misterius, susah di tebak. Gi mana ama nasib yoona eonnie ke depannya? 😮. Comedynya juga gak ngebosenin. Malah buat gue ngakak sendiri bacanya: v. Keren thor.

    Balas
  6. Zhahra

     /  Juni 19, 2015

    Kenapa aku gag pernah bosen buat baca FF yang satu ini…
    Astaga…aku sangat menyukai karakter yoonwon yang terlihat sangat menggemaskan
    izin baca lagi ya unn…
    Gomawo

    Balas
  7. Zhahra

     /  Juni 19, 2015

    Entah kenapa..aku gag pernah bosen baca FF karya indah unni yang satu ini..
    Ini FF daebak banget,
    izin baca lgi ya unn…
    Gomawo

    Balas
  8. Haha…lucu liat pertengkaran YW…

    Mreka nich kadang2 brantem, tapi besoknya tiba2 siwon jadi romantis mana main asal cium lagi

    Balas
  9. Waa,,wonppa cemburu yaa.. xD

    Balas
  10. h_ra307

     /  Juli 8, 2015

    biasa di ff yg dicouple-in yoonyul tapi disini soona🙂 enak kyak.a klo tmenan.a kayak soona gitu sering debat tapi lucu
    siwon? emmmmm……….karakter.a bagus cz. aq lebih suka karakter siwon yg kyak gini ” jutek tapi kadang” perhatian ma yoona”

    Balas
  11. biarpun selalu berantem tp tetap ada sisi romantis di YW…
    g sabar pengen baca kelanjutannya!

    Balas
  12. maulida fitri

     /  Juli 15, 2015

    ceritanya seru.. suka karakter siwon yg cuek dan suka ngeganggu yoona.. kynya siwon mulai suka sma yoona..

    Balas
  13. wah… yoona unnie udah mulai menyukai siwon oppa… ff nya bagus… feel nya dpet banget…

    Balas
  14. Hai author-nim, …
    sebelumnya aku udah baca ini, tp blm sempat komen. Maaf ya …
    talking about this story, aku suka karakternya Siwon yang sok mengintimidasi Yoona itu … cocok banget. And, Sooyoung kok paham banget ya ma sikon (ninggalin Yoonwon berdua) …
    oke deh, lansung cuss chap.2 …

    Balas
  15. Desiputu16

     /  Oktober 27, 2015

    Siwon cemburu ya?
    Yoona memang mau dinikahkan dg siapa? Pnasaran jadinya,,,
    hai author q ijin baca ff u ya???
    Ff u keren, suka baca ff di YWK

    Balas
  16. Siwon cool banget di sini 😄
    Apa dia jatuh cinta sama yoona?
    Sikapnya sulit di tebak, kadang dingin, tp kadang sweet juga sama yoona 😊
    Segitu banget marahnya siwon ke yoona cuma gara2 yoona bawa jonghyun..

    Balas
  17. Keren bgtt ffnya thor >_< jadi senyam senym sndiri bacanya wkwk hayoo!!kira2 siapa ya yg bertahan?ga memikirkan satu sama lain ciee2

    Balas
  18. Sbenarny Siwon sudah mulai jatuh cinta juga dan dia cemburu sama JongHyun….

    Balas
  19. jenjeje

     /  November 7, 2015

    aigoooo
    apakh dad cmbru k mom???
    smga sjha mom gga jdi prgi
    n smg sjha cinta mom gga brtpuk sblh tngn

    Balas
  20. sherin

     /  November 8, 2015

    hmm hx krn yoona blm menika dia bertengkar dgn ayahnya n kbr dri rumah,,yoona beruntung karena dia masih punya tmn yg mau menerimanya setelah kbr,,yoona sdh suka sma siwon tp apa siwon jg suka,? klu siwon ngk suka mana mungkin dia berani mencium yoona

    Balas
  21. cie, sepertinya yoona mulai ada rasa sama siwon. lanjut eonni

    Balas
  22. Angel Yoonwonited

     /  November 11, 2015

    ciye yang cemburu….
    udah ngomong aja kalu udah suka ma yoona

    Balas
  23. Aku suka ff nya thor
    Siwon oppa jangan terlalu dingin dong sama yoona eonnie

    Balas
  24. arum

     /  Desember 15, 2015

    ceritanya bagus banget, dan bikin penasaran sama part selanjutnya.

    Balas
  25. Kya….,,,kyanya siwon cemburu tuh sama jonghyun… Serem amat ya.,klw dia lgi mrah…

    Balas
  26. melani

     /  Maret 8, 2016

    Sikapnya siwon kenapa kayak gitu bgt je yoona kadang dia baik tapi trus cuek.. padahal yoona udah suka sama siwon..
    Apa sebenernya siwon suka.sama yoona cuman dia beda dr org lain ngungkapin perasaannya..

    Balas
  27. Ceritanya bagus kok unnie,suka sama alurnya
    Haha,keliatan banget kalo siwon oppa kayaknya cemburu deh sma jonghyun dan yoona haha

    Balas
  28. Just_esti

     /  Juni 25, 2016

    Kyaaaaa siwon oppa karakter nya di sini keren bgt eoh.. trus si yoongie ngpe coba minggat kok ad persiapan nya😀 ahaha crazy couple..ckck

    Balas
  29. lasmae

     /  Agustus 12, 2016

    Hahaha pasangan kocak banget…. siwon cemburu kah.????
    Wah siwon mesum bget ama yoona… tidur sekamar…..
    siwon suka tapi gengsi ya… yoona lom nyadar suka ma swon. Low pun swon rada keterlaluan marahin yoona tpi berharap happy end deh

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: