[2S] I NEED YOU (Chapter 2-A)

cover i need you

[2S] I NEED YOU Chapter-2a

By

Tintin305

Main Cast : Im yoona  and  Choi siwon  | Leght :  2shoot

Genre : Romance, family, friendship,sad. | Ratting :  13+

Disclaimer :The cast’s  belong to god. The plot of this  story  is mine

Sorry  if  you’re find typo

 

Happy reading^^

 

 

Siwon terlihat  merenung dalam diam,  masih teringat jelas apa yang terjadi beberapa waktu  lalu pada yoona orang  yang amat di cintainya itu. Pikiranya kini benar-benar hanya tertuju padanya.  rasanya ingin sekali ia bertanya langsung apa sebenarnya yang terjadi sampai-sampai  membuat yoona seperti itu.

Ia sungguh merasa tidak tenang.  jikalau  hyung-hyungnya tidak memaksa untuk segera pulang ke dorm mungkin ia masih bisa menemani yoona saat ini.

 

“sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Kau ada masalah?  Kau membuatku tak tenang yoong, sungguh…  aku tak pernah melihat  mu bersedih seperti itu sejak kita berpisah”.

 

Siwon menatap nanar   foto yoona yang tengah tersenyum manis dalam ponselnya. Kembali rasa bersalah itu muncul , bersalah atas apa yang di lakukanya setahun yang lalu, ketidak percayaanya pada yoona, rasa cemburunya yang sangat sulit di kontrolnya membuat mereka harus terpisah.

 

Kata  menyesal terasa memenuhi seluruh pikiranya jika  ia bisa sedikit saja mempercayai yoona, jika sedikit saja ia bisa mengontrol rasa cemburu serta emosinya, jika  saja ia mau melakukan itu semua mungkin kini ialah orang pertama yang berada di sisi yoona karna  siwon  tahu pasti kini yoona dalam kedaan yang sulit yang entah karna apa.

 

Siwon  yang  terlalu  masuk  dalam  khyalanya  tidak  menyadari  jika  kyuhyun  sedari  tadi  memperhatikanya.

 

“hyung belum tidur?”   kyuhnyun memberanikan diri masuk, dan mendekati siwon yang tengah bersandar pada sandaran ranjang king size cream miliknya

 

 

Siwon menoleh, keningnya terlihat berkerut samar, kebingungan atau lebih tepatnya terheran dengan  sapaan kyuhyun yang begitu ramah. Setahunya setahun yang lalu semenjak ia putus dari yoona dan setelah di ketahui penyebabnya hanya karna dirinya yang cemburu buta dan mengingat kata-kata kurang menyenangkan saat memutuskan hubunganya itu kyuhyun-lah orang pertama yang paling tidak suka dengan tindakannya.

 

kyuhyun yang dulu begitu dekat denganya semenjak saat itu pula  menjauh dan bersikap dingin padanya.

 

 

Memang bukanlah suatu keheranan jika kyuhyun sampai bersikap seperti itu karna  hingga sampai saat ini  hanya  kyuhyun  yang  paling dekat dan masih menjaga komunikasi yang baik dengan yoona ketimbang member suju lain yang  memang sedikit menjaga jarak karna putusnya hubungan mereka dulu.

 

“hyung? Waeo?”

 

Siwon tersadar, masih menatap heran kyuhyun yang juga tengah menatapnya dengan ekspresi yang sama

 

“apa ada yang salah denganku? Hyung melihatku seperti melihat hantu saja” kyuhyun  sedikit bergurau berusaha menghalau situasi yang mulai canggung. Namun hanya cengiran datar yang keluar dari bibirnya hingga sedetik kemudian ia kembali diam

 

“yak!! Berhenti menatap ku seperti itu.. kau membuatku takut”

 

Suara kyuhyun yang sebenarnya tak terlalu nyaring  tapi cukup membuat siwon terhenyak karna suaranya yang naik beberapa oktaf.

 

“ahh.. mianhe aku… hanya sedikit heran kenapa kau ada di sini?”

 

“tadinya aku bermaksud menutup pintu karna pintu kamar yang masih terbuka tapi ternyata hyung belum tidur”

 

 

“aku senang kau sudah tidak bersifat dingin lagi padaku” setengah tersenyum siwon mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk beralih  menatap kyuhyun

 

“sudahlah.. jangan mengingatkanku tentang itu. Hyung tidurlah aku juga mau tidur”

 

“kyu…”

 

“ne?”

 

“kau… tahu apa yang  terjadi dengan yoona?”

 

Kyuhyun melarikan pandangannya dari manik mata siwon yang terlihat sayu tapi cukup dalam seakan benar-benar berharap  mendapat  jawaban darinya. Sungguh ini begitu rumit untuk di jelaskan ia pun tak tahu apa pantas ia berterus terang dengan apa yang dianggapnya sebagai titik utama masalah yang mungkin saja tengah menimpa yoona, teman baiknya.

 

 

“aku juga  tak tahu, mungkin dia ada sedikit masalah keluarga” meskipun begitu kyuhyun  tetap menjawab,  walaupun  hanya melontarkan alasan yang sebenarnya hanya sebuah pemikiranya saja.

 

“masalah keluarga?” kerutan di keningnya kembali terlihat begitu mendengar alasan di balik kondisi yoona beberapa jam lalu adalah masalah keluarga. Sangat tidak mungkin jika itu semua karna masalah keluarga ia tahu jelas ayah dan kakak yoona bukan tipikal orang yang bisa membuat yoona seperti itu. Lantas apa sebenarnya penyebabnya?.

 

“kurasa bukan karna aboenim im dan yoonhee nuuna” seakan bisa membaca pikiran siwon kyuhyun lantas membantah persepsi  yang muncul dari pikiranya

 

“lalu?”

 

“aku juga tak terlalu yakin tapi sepertinya ini karna ajhuma lee”

 

“ajhuma lee?”

 

“ne… eomma yoona.   hyung tak tahu?”

 

“ yoona.. tak pernah menceritakan apapun mengenai eommanya” siwon tertunduk lesu. sekarang ia  merasa beberapa tahun yang  di habiskanya dengan yoona semasa berpacaran dulu bukanlah waktu yang lama hingga ia bahkan tak mengetahui apapun mengenai ibu yang telah melahirkan  yoona, yeoja yang begitu berarti di hidupnya.

 

“sudahlah tak usah memikirkan itu terus akan ku ceritakan besok detailnya aku mengantuk sekali ”

 

Tepukkan ringan yang di lakukan kyuhyun di bahunya entah mengapa bisa membuatnya sedikit merasa lebih tenang dari sebelumnya.

 

Dan setelah berlalunya kyuhyun dari hadapanya yang dapat di lakukanya hanya kembali termangu. sungguh sulit untuknya walau hanya sekedar memejamkan mata karna di saat ia  melakukanya bayangan yoona justru tertangkap di sana.

 

 

***

 

 

 

7:15 KST in dormnity SNSD…

 

 

 

 

“aisshh.. sebenarnya kapan bubur ini matang? Kenapa lama sekali?”

Sooyoung berdecak  memandang kesal adonan putih yang sedari tadi di aduknya di atas pemanas

 

“kau sendiri yang memaksa  ingin memasak, kenapa sekarang malah kesal seperti itu”

Taeyon balik  memandangnya kesal sambil kembali melanjutkan aktifitasnya membereskan dapur yang nampak kacau pagi itu.

 

“aku pikir memasak  bubur tak serumit  ini. Harusnya kau memberi tahu lebih awal kalau memasak bubur itu berbeda caranya dengan menanak nasi”

 

sooyoung kembali melayangkan ke engganannya melanjutkan aktifitas mengaduk bubur yang di lakukanya sejak tadi.

 

Sedang hyoyoen yang sedari tadi ikut mengawasinya hanya mengendikkan bahu acuh dan melanjutkan menata beberapa hidangan di atas nampan yang nantinya akan menjadi sarapan pagi untuk yoona dan beberapa membernya.

 

“oh! Yuri-ah”

 

Yuri yang  baru saja melintas di perantara pembatas ruang dapur itu berhenti dan menatap penuh tanya ke arah sooyoung

 

“wae?”

 

“bisakah kau gantikan aku mengaduk bubur ini sebentar?.. tanganku sudah sangat pegal”

 

“Mwho? Enak saja aduk sendiri aku ingin ke kamar mandi”

 

“issh.. kalau bukan karna yoona aku tak mau susah-susah membuat bubur ini”

 

Hyoyeon dan taeyon saling berpandangan sambil terkikik pelan mendengar Gerutuan kesal si sinskin sooyoung.

 

“ahh.. apa makanannya sudah siap perutku sudah sangat lapar”

 

Sunny mendudukkan diri sambil bertopang dagu menatap puluhan lauk yang sudah siap di atas meja dengan tatapan laparnya (?)

 

“tunggu sebentar lagi sampai bubur itu masak”

 

 

“ommona.. soo-ah kau yakin ini bubur?”

Jessica yang entah darimana datangnya (?)  menatap bubur yang tengah sooyoung aduk itu dengan pandangan aneh.

 

“isshh.. diamlah setidaknya aku sudah berusaha”

 

“ya! Berhentilah mengaduk,  rasa buburnya akan berubah jika di aduk terus”  Taeyeon langsung merebut sendok dalam genggaman sooyoung dan mengambil alih pekerjaan sooyoung-membuat bubur.

 

“taeyon-ah.. ”

 

Taeyon menoleh menatap tiffany yang kala itu sudah berdiri tepat di sampingnya sambil menyodorkan telephone rumah padanya dan itu cukup membuatnya merenyit heran

 

“yoonhee eonni ingin bicara padamu..”

 

 

 

“yeobseo..”

 

“….”

 

“ne. Ahh.. annio yoona sedang tidur”

 

“….”

 

“Mwho?!. E-eonni serius?”

 

“….”

 

“arrasso.. akan ku beritahukan padanya”

 

 

 

“wae? Apa ada masalah?”  fanny menatap penuh tanya ke arahnya begitupun member yang lain menatapnya seakan menanyakan hal yang sama

 

 

***

 

 

 

 

 

 

Yoonhee menolehkan pandangannya ke arah yoona yang masih tetap diam. sedari tadi hanya keheningan yang memenuhi koridor sepi itu  sekitar  hampir  sejam duduk berdua dikursi tunggu  depan ruangan di mana ayahnya kini tengah dalam penanganan dokter.

 

“maaf soal yang semalam”

 

“ne?” yoonhee mengerutkan kening binggung

 

“appa begini karna aku..”

 

Yoonhee memilih diam menatap lekat yoona yang entah bagaimana awalnya kini tengah berderaian air mata di samping kananya. Tak ada isakan memang, tapi entah kenapa yoona yang menangis dalam diam itu membuat yoonhee  seperti merasakan sakit yang sama yang yoona coba  luapkan dari jatuhya beningan air mata yang terurai jatuh.

 

 

“keluarga Im..”

 

Seruan seseorang  yang berdiri tepat di daun pintu ruangan ayahnya itu seketika membuat yoonhee dan yoona berdiri berjalan lebih dekat dengan dokter yang baru saja memeriksa kondisi ayahnya.

 

“bagaimana keadaan appa saya uissa-nim?”

 

“Jantung Tn im sudah kembali pada kondisi normal. Dia juga sudah sadar dan boleh di temui sekarang.  Hanya saja…  masih perlu perawatan intensif  dan  saya sarankan untuk tidak dulu memberikan beban pikiran dan  jangan sampai Tn im melakukan aktifitas yang memacu kerja jantungnya karna itu akan sangat berbahaya”.

 

 

Keduanya menggaguk paham

 

 

“kalau  begitu saya permisi”

 

“ne khamsamida uissa-nim” yoonhee membungkuk sejenak kemudian melangkah masuk ke dalam ruang inap di ikuti yoona di belakang.

 

 

“appa.. sudah merasa baikkan?”Yoonhee berucap,  berjalan mendekat dan duduk di sisian ranjang samping nakas dimana ayahnya masih terbaring dengan selang infus di lengan

 

“hm. Jangan khawatir appa sudah merasa lebih baik sekarang” menolehkan  pandangnya dari yoonhee Tn im langsung menangkap sosok yoona yang  berdiri  diam tak jauh darinya

 

“kemarilah..”

 

Yoona yang beradu pandang dengan ayahnya itu jelas tahu kepada siapa ayahnya berbicara dan ia berjalan ikut mendekat ke sisian ranjang

 

“kau habis menangis?”

 

“mianhe.. karna aku appa jadi begini”

 

Tn im tersenyum tipis tangan kananya mencoba menjangkau tubuh anaknya untuk kemudian mengelus lembut surai halus-coklat  putrinya itu

 

“annio,  Kau sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihanmu sendiri. Appa yang seharusnya minta maaf  karna memaksakan kehendakmu”

 

‘appa…”

 

Yoona tak bisa memendung rasa harunya ia sungguh merasa lega karna setidaknya ayahnya takkan memaksanya untuk menikahi orang yang tak di cintainya sekalipun itu orang terdekatnya.

 

“tapi kau harus tahu yoona… ini tradisi keluarga Lim sedari dulu bahkan sebelum appa terlahir perjodohan adalah sesuatu yang lumrah di keluarga kita”

 

Perasaan yoona mulai tak enak sekarang harusnya ia bisa mengerti maksud dari ucapan appanya barusan tapi entah apa yang terjadi justru pikranya melayang jauh hanya untuk bisa mengerti apa yang akan selanjutnya terjadi

 

“jadi appa mohon dengan sangat padamu yoona, setujuilah perjodohan ini demi appa..”

 

Tidak,.. yoona kini benar-benar terjebak dalam lubang yang dalam  apa yang harus dilakukanya untuk dapat keluar sekarang jika pada nyatanya ayahnya sendiri memohon dengan sebegitu tulusnya lantas apa yang akan terjadi susedahnya…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

yoona memajukan langkah beratnya meniti tangga menuju lantai lima di mana dormnya berada.  ia lebih memilih menggunakan tangga di banding harus manaiki lift.  ada beban yang perlu ia keluarkan sekarang dan mungkin mengundur waktu dengan menaiki tangga ada baiknya  setidaknya ia akan terbebas dari berbagai pertanyaan  membernya terkait dengan wajahnya yang sekarang ia tahu pasti nampak murung  dan menyedihkan  meskipun harusnya ia tak perlu khawatir karna pada dasarnya yoona lah yang begitu pandai menyembunyikan masalah di banding member yang lain.

 

Langkah kaki ringkihnya terhenti.  duduk di tepian salah satu  tangga dengan bersandaran tembok beton dingin di sampingnya yoona dengan rasa lelah yang mendera seluruh tubuhnya kembali termenung dengan tatapan yang terfokus ke arah kakinya.

 

Kakinya memerah dan sedikit memar di sana, ada sekitar empat-puluh anak tangga yang ia lewati   pantaslah jika kakinya mulai merasa kesakitan. Dan sialnya masih Ada sekitar sepuluh anak tangga lagi untuk bisa sampai ke lantai lima.

 

Dan Dalam termangunya yoona tertawa,  Menertawai diri sendiri lebih tepatnya.  dulu sejak kecil ia terkenal sebagai gadis yang paling kuat di antara seluruh keluarganya dan lihatlah sekarang bahkan hanya menapaki tangga kecil itu kaki ringkihnya mulai memberikan protes.

 

 

Dan saat mengingat itu

 

 

 

 

Ia merindukan masa lalu,

 

Masa di mana ia terbebas dari segala pekerjaan ke-artisan yang begitu melelahkan

Masa dimana hanya ada im yoona seorang wanita biasa

Masa dimana tak ada kisah sepelik ini dan dengan begitu takkan  seberat ini ia menetukan pilihan untuk pergi

 

Masa yang takkan membuatnya terbebani

 

 

Dan yah,  melamun dengan segala kenangan yang berkelebat di pikiranya nyatanya membuat yoona merasakan beban itu makin menghimpitnya dan dengan mencoba menguatkan diri terlebih hatinya ia kemudian mendongak dengan helaan napas pelan bersingkut dari duduknya dan kembali berjalan meniti tangga dengan gerak mantap.

 

Tangga yang tengah ia tapaki kini layaknya sebuah filosofi untuknya  ketika ia sudah berjalan begitu jauh  dan memilih untuk  menepi di tengah apa yang kemudian ia dapati hanyalah sebuah kesakitan semata untuk itu,  yang harus ia  lakukan adalah meyelesaikanya, berjalan terus hingga akan terjawab di akhir cerita.

 

Dan  Ia sudah berjalan sejauh ini dan sudah pula  mengambil keputusan untuk mengikuti takdirnya maka biarlah begini,  biarlah untuk sementara ia kesampingkan dahulu hasrat dan perasaanya yang mungkin kini tengah merintih menolak atas logika yang mengunci akal sehatnya.

 

 

Drtt.. drtt.. drtt..

 

Jemarinya yang semula bersiap menekan digit pasword pada pintu dorm itu terhenti begitu ponsel dalam saku blazernya bergetar

 

 

-Yonjae-

 

Tertulis id pengirim

 

 

 

 

selamat tidur..na-ya^^

 

 

Ini sungguh menggelikan pesan yang seperti biasa yonjae kirimkan setiap hari itu nyatanya selalu  membuatnya kembali merasa kurang nyaman

 

 

“yoong?”

 

Seruan seseorang membuatnya segera beralih menatap jauh kedepan dan yang bisa yoona pastikan di sana adalah yuri yang melangkah mendekat

 

“ahh.. jadi benar itu kau”

 

“eonni dari mana?”

 

 

“aku..”

 

Ada jeda sesaat karna yuri yang terlebih dahulu melirik ke arah sekitar takut –takut ada yang akan mendengar dan kemudian melangkah untuk kemudian membisikinya

 

“aku baru saja selesai berkencan”

 

Dan yoona tak perlu bertanya lebih tentang siapa gerangan yang sudah membawa eonni tercintanya itu pergi berkencan karna itu bukan rahasia lagi  untuknya

 

“Ahh.. ya, maaf tak sempat menjenguk Im aboenim. Apa keadaanya sudah membaik”

 

“hm..”

 

Yoona menjawab sekenanya ini adalah topik yang ingin ia jauhi dari pikiranya setidaknya…  untuk  sekarang,  karna lagi-lagi otaknya mulai berpikiran buruk pada pria yang sudah berjasa selama hidupnya itu.

 

 

 

“eoh? wajahmu masih pucat..”

 

Yuri yang tak terlalu menyadari ekspresi aneh dari yoona hanya bisa menagkap bahwa kini apa yang ia lihat adalah wajah yoona yang terlihat pucat

 

Dan ketika ia hendak memastikan suhu tubuhnya sesegera mungkin yoona menarik lengan yuri karna jika boleh jujur terkadang ia begitu risih jika mendapat perhatian yang berlebihan seperti sekarang

 

“ tanganmu dingin sekali.. Yak! Bisa-bisanya kau keluar tanpa sarung tangan!!”

 

Dan tanggapan yuri begitu bersentuhan denganya membuat yoona langsung memasang wajah masam. Yuri memekik keras dan yoona yakin jikalau dinding dormnya tak terlindungi dengan lapisan anti suara maka bisa di pastikan seluruh membernya akan langsung berlari keluar untuk memastikan kekacauan apa yang tengah  terjadi sekarang

 

 

“aku lelah eonni tak bisakah kita masuk dulu..”

 

Yoona merenggut dalam ucapanya dan yuri menyadarinya

 

 

“issh.. tentu saja aku tak bisa berlama-lama berdiri di sini.. kajja”

 

Dan setelahnya yuri di ikuti yoona melalui tuntunan lenganya yang tersampir tepat di bahunya berjalan masuk ke dalam.

 

 

 

 

 

 

 

 

Pagi mulai menjelang. sinarnya menyeruak melewati celah  pada sudut fentilasi kecil di balik gorden kuning keemasan itu.   jam dinding kini  menunjuk tepat pukul 7 : 30 KST dan yoona yang sampai detik ini belum juga dapat memejamkan matanya masih setia menatap  langit- langit kamar dalam diam

 

Entah mengapa hingga kini rasanya kedua kelopak mata itu  sulit terpejam otaknya mulai malalang jauh dengan segala pemikiran- pemikiran yang berkelebat saling beradu untuk segera di tuntaskan.

 

 

“ughh.. jam berapa ini..”

 

 

Yoona menolehkan wajahnya singkat melihat yuri yang bergumam dalam mata yang terpejam untuk kemudian meilirik kearah jam dinding tepat di depan.

 

“ hampir jam 8”

 

Untuk sesaat yuri masih nampak tak mempedulikan kalimatnya barusan dan yoona nampak sama acuhnya  kembali fokus pada objek penglihatanya  hingga detik berikutnya…

“Mhwo?!! Jam delapan?! ASTAGA!! Aku lupa membuat sarapan..”

Yuri yang berteriak tepat di telinga kirinya membuatnya memandang roommate-nya itu dengan tatapan sangar sekalipun itu percuma karna yuri nampaknya langsung terlonjat bangun  bersingkut  dari tidurnya

 

 

“YURI-AH!!..   KENAPA SARAPAN BELUM SIAP?!”

 

Dan begitu suara nyaring taeyon terdengar dengan langkah terbirit-birit yuri keluar dari kamar.

 

Pagi yang sungguh mengelikan..

Pikirnya dan  pastinya yoona akan sangat kehilangan moment seperti ini nantinya

 

 

 

 

***

 

 

“kau mau kemana sepagi ini?” dengan tatapan heran donghae menilik penampilan siwon yang sungguh jauh dari kebiasaanya,  kini terlihat rapih   setidaknya semenjak ia sudah tak memiliki kekasih lagi donghae tahu persis bagaimana jauhnya perubahan siwon dan untuk apa yang ia lihat kali ini sungguh membuatnya tak tahan untuk sekedar bertanya.

 

“kantor SM”

 

balasan singkat dari siwon nyatanya belum cukup membuat rasa  heran donghae

menghilang

 

“ke kantor SM.. ada urusan apa?”

 

“prince menejer menyuruhku ke sana”

 

Donghae mengangguk paham,  tak lagi banyak bertanya merasa jika memang ada urusan pekerjaan yang mengharuskan siwon nampak berbeda pagi ini

 

“aku pergi”

 

“hm” dan ia hanya kembali  mengangguk seadanya seiring langkah kaki siwon yang menjauh dari ruang tengah

 

“dia mau kemana?” yesung menududukkan dirinya masih dengan mata yang sedikit ia picingkan menatap kearah punggung siwon yang menghilang di balik pintu

 

“SM..”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Siwon baru saja menyelesaikan rapat penting yang mengharuskanya Hampir satu jam berada dalam satu ruangan bersama beberapa staf SM dan perwakilan production house untuk menandatangani kontrak kerja.

 

Dan yah.. bebanya bertambah untungnya boy-grupnya sampai saat ini belum memutuskan untung  comeback jikalau itu terjadi entah akan selelah apa nanti dirinya

 

“kemungkinan besar pemotretan di lakukan besok jadi bersiaplah”

 

Siwon mengagguk mengerti dengan apa yang baru di tuturkan prince meneger.

Bersamaan keduanya berjalan melewati koridor panjang kantor SM

 

Hingga…

 

Terlihat dari arah berlawanan denganya,  yoona tengah berjalan dengan posisi menunduk sibuk dengan ponsel yang tengah di genggamnya

 

Langkah siwon terhenti perlahan  tak bisa melewatkan sedikitpun kesempatan itu, kesempatan dimana ia bisa memandang yoona meski dari jarak yang terbilang agak jauh karna pada kenyataanya  selain kesibukan keduanya masalah mereka mengharuskan dia dan yoona untuk tak sekalipun bertemu.

 

prince manager yang terlihat heran dengan kelakuan siwon tak berani berucap kala meniti kemana tatapan-dalam siwon kini terarah.

 

“aku tunggu di parkiran”

Tepukan pelan dari menejernya yang  syarat akan penyaluran semangat itu bahkan tak sekalipun di gubrisnya

 

Dan menejernya itu cukup mengerti alasanya hingga detik bejalan ia pun  melangkah pergi membiarkan siwon larut dengan objek penglihatanya.

 

 

Yoona tak menyadarinya jika kini ia tengah menjadi satu-satunya pusat perhatian pria yang  kini tanpa tersadar semakin dekat denganya

 

Dan ketika matanya mulai di torehkan kedepan keterkejutan itu nyata terlihat  keduanya beradu pandang hanya berkisar beberapa detik saja  karna yoona langsung melngalihkan pandangan

 

Sekarang apa yang tengah terpikir dalam otaknya adalah cara untuk segera pergi secepat yang ia bisa

 

Tak memperdulikan siwon yang kini masih lekat menatapnya yoona terus berjalan dan sebisa mungkin mengontrol langkah kakinya yang terasa kaku untuk sesegera mungkin berjalan menjauh

 

Namun saat tiba pada titik dimana posisi keduanya bersisian

 

 

 

 

Siwon menahanya.

 

 

Tangan  kekarnya mencengkram erat pergelangan tangan yoona. Dan mengharuskan gadis itu untuk berhenti melangkah

 

Ini adalah kontak fisik pertama semenjak putusnya hubungan mereka setahun lalu

 

Dan yoona merasa hatinya berdesir hebat kala itu logikanya menolak tapi hatinya berkata agar tetap mempertahankan jemari kekar itu  karna saat ini ia bahkan serasa lemas tanpa tumpuan.

 

“aku ingin bicara.. bisakah?”

 

 

 

“….”

 

 

“hanya sebentar..”

 

“….”

 

 

“yoona..” siwon berseru kembali,  sudut matanya mengerlig ke arah yoona yang masih nampak bungkam

 

 

Dan setelahnya, dengan yoona yang masih terdiam  siwon  dapat menyimpulkan jikalau ini bukan waktu yang tepat. Dengan persaan tak rela  Perlahan jemarinya yang sempat menggengam lengan yoona ia lepaskan

 

“maaf.. aku pasti membuang waktumu. Pergilah..”

 

 

 

Siwon berusaha untuk tegar ketika beberapa hitungan kakinya melangkah yoona masih  tak besuara bahkan untuk sekedar  mencegahnya meski harusnya ia tahu jika yoona pasti takkan melakukanya.

 

 

 

 

 

“kau ingin pergi begitu saja..”

 

 

 

Kepalanya yang sempat siwon tundukkan perlahan terangkat  bagai sesorang yang tersesat di tengah malam yang gelap dan ketika dalam sekejap cahaya datang persaan senanglah yang terpancar kuat sama halnya dengan yang tengah siwon rasakan.

 

 

Ada sekitar sebelas langkah yang membatasi posisi keduanya namun tak membatasi panca indranya untuk bisa mendengar terlontarnya kalimat yoona barusan

Dan dengan gerakanya yang di percepat siwon berjalan mendekat

 

 

“yoona kau…”

Apa yang dilihatnya membuatnya sedikit terperangah. yoona menangis dan entah kenapa hatinya serasa teriris

 

 

“jangan pergi..”

 

Seketika begitu terucapnya kalimat kedua darinya itu, siwon merengkuhnya. Memeluk erat tubuh ringkih yoona membenamkan separuh wajah wanita itu tepat di dada bidangnya membiarkan kehangatan itu menjalari tubuhnya karna pada saat yang sama siwon tak bisa mendelik jika hatinya membuncah bahagia kala jemari yoona balas menggengam erat punggungnya

 

“ tetaplah di sini, aku butuh seseorang…”

 

 

 

Yah,  Meski pada kenyatanya siwon  tak sepenuhnya tahu maksud dari  apa yang tengah wanita itu gumamkan ia tetap mengeratkan pelukanya.

 

Jika bisa, ingin rasanya detik ini ia hentikan  dan  berteriak,  meneriaki satu kalimat jika sungguh seorang choi siwon  merindukan  pelukan hangat ini, pelukan yang membuatnya terbenam dalam rasa kebahagiaan meski tak menampik rasa sedih juga menyelubung dalam hatinya karna pada  kenyataanya yoona kini menangis dalam rengkuhanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“aku pulang”

 

Siwon berteriak masuk dengan kedua tanganya yang sibuk  Meneteng beberapa kantung plastik besar

 

 

“eoh? Apa yang kau bawa?”

 

Dan suara serak yesung-lah yang pertama menyambutnya

 

“wahh makanan?” shidong menyusul keruang tengah mengapit sungmin  dan ryewook yang  menahan sesak begitu   mendudukkan dirinya hingga menghimpit keduanya di sisian sofa yang harusnya hanya muat seorang saja

 

“tumben kau mau belanja keluar”

 

“kebetulan aku sedang makan di luar jadi sekalian aku membelinya” siwon menjawab pertanyaan leeteuk itu dengan senyumanya yang merekah

 

“kau aneh sekali… sedari tadi tak pernah berhenti tersenyum”

 

Ucapan keheranan dari dongahe barusan seketika membuat para member yang kebetulan tengah duduk bersantai ria di ruang tengah itu mengalihkan pandangan dari beberapa kotak makanan yang tersampir di atas meja  untuk kemudian menatap lurus kearah siwon.

 

dan benar saja  wajah siwon terlihat lebih cerah dengan senyuman manis yang merekah di sana dan saat itu juga mereka merasakan keheranan yang sama

 

“kau tidak sedang sakit kan?”

 

Sungmin memajukan langkah dan menyentuh pelan kening siwon

 

“aku tak sedang sakit..”

 

 

“yah kau memang tidak sakit tapi kau terlihat aneh sekarang”

 

Kangin menimpali perkataanya masih dengan meniti raut wajah siwon

karna bagimanapun mereka semua tahu bahwa sehari yang lalu siwon bahkan nampak seperti manusia yang telah kehilangan rohnya, yah.. walaupun pada dasarnya hal itu terjadi bahkan sebelum pertemuan mereka kemarin lebih tepatnya setelah kandasnya hubungan cinta visual dalam grupnya itu.

 

“oh ayolah.. ada apa dengan kalian aku hanya sedang bahagia hari ini kalian menaggapinya terlalu berlebihan”

ketika siwon menjelaskan hal apa yang menjadi dalang di balik perubahan raut wajahnya hari ini para membernya saling bersitatap sesaat masih merasa kurang puas dengan jawabanya barusan

 

 

“dasar aneh..”

 

celetukan kesal itu terdengar dari bibir ryewook tak ingin terlalu banyak mengkonfirmasi  lebih jauh mengenai perubahan sikap yang..yah mungkin saat ini terlihat dari raut wajah saja tanpa ada yang tahu jika memag hati siwon kini sedang berbunga.

 

Sungmin yang juga tak ingin ambil pusing segera bersingkut kembali duduk di sisian meja tepat di tengah shidong dan ryewook yang telah terlebih dulu menyantap makanan yang menjadi bawaan siwon sesaat lalu dengan lahapnya

 

Sama halnya dengan ketiga member-nya yang nampak sibuk dengan santapan masing-masing leeteuk  juga memilih untuk acuh dan kembali menyaksikan tayangan dalam tv  ketika kangin menekan  tombol next kecil pada remot itu dan langsunglah teralih matanya untuk kemudian terfokus kesana

 

 

“wahh.. siwon-ah makananya enak sekali kau membelinya dimana?” shidong berucap masih dengan mulut yang terisi penuh dengan beberapa kimbab

 

“benarkah? Yoona yang merekomendasikan tempatnya kalau tak salah sekitar dua blok dari kantor SM”

 

 

“APA?!! YOONA?!!”…

 

 

 

***

 

 

 

Pagi ini menjadi  pagi yang begitu sibuk untuknya bagaimana tidak.. kali ini yoona harus di sibukkan dengan piket harian untuk membersihkan kamarnya dan juga yuri yang nampak terlihat kacau

 

Dan tahap pertama yang ia lakukan adalah merapikan kasur dari beberapa tumpukan pakaian yang berserakan diatasnya

 

 

Hanya berkisar duapuluhan menit  nampaklah hasil  pekerjaanya beberapa titik telah rapih dan bersih tinggal menyisakan nakas yang lebih berantakan dengan beberapa buku dan majalah yang berserakan.

 

Dan mulailah ia membereskanya, meyusun beberapa jenis buku yang sama untuk kemudian ia simpun ke dalam rak panjang pembatas ruang baca yang berada tepat di pojok ruangan. Hal yang sama kemudian ia lakukan untuk merapikan beberapa majalah fashion yang sempat ia baca semalam

 

 

Tukkk..

 

 

Namun ketika ia hendak berdiri sesuatu terlebih dahulu jatuh dari tumpukan majalah yang tengah ia genggam

 

 

Dan ketika tahu benda apa yang terjatuh, yoona mengambilnya dengan perlahan untuk kemudian menatapnya dalam

 

 

 

 

“eoh? Undangan siapa yoon?”

Jessica muncul dari balik pintu dengan apron yaang masih melekat di badanya  kemudian membrondongnya dengan pertanyaan  begitu tatapanya menilik penuh heran pada selembar kertas dengan hiasan bunga matahari bercorak terang yang terlihat  indah dari kejauhan

 

“ahh..i-ini…… hanya undangan  pernikahan teman”.

 

Yoona  menjawab dengan wajah yang terlihat kelabakan

 

“Ada  apa kemari?” mengalihkan pembicaraan adalah hal paling baik sekarang karna ia tahu jessica adalah member dengan rasa penasaran tingkat tinggi. Buktinya  kini wanita itu telah memasang wajah menyelidik ke arahnya seakan masih kurang yakin dengan jawabanya atau lebih tepatnya kurang percaya denganya.

 

 

“isshh.. kau seperti berbicara dengan orang asing saja” jessica mendengus dalam tatapan kesalnya

 

Dan yoona bernafas lega karna jessica telah terkecoh dengan ucapanya dan tak lagi bertanya lebih jauh tentang selembaran undangan yang masih setia di genggamnya

 

 

“aku ingin memanggilmu sarapan bersama,  yang lain  sudah di bawah tinggal kau saja. Kajja!”

 

 

“tapi…”  yoona menoleh kearah nakas dimana di sana  pekerjaanya  belum sepenuhnya  terselesaikan

 

 

 

“sudahlah.. perut yang utama”

 

Yoona terkik dalam langkahnya bersejajar dengan  jessica yang menuntunya untuk kemudian  bergabung sarapan bersama hal yang mungkin akan jarang di lakukanya..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mobil vw scorico itu melambat seiring dengan sampainya sang pengemudi di tempat tujuan. Yoona keluar dari dalam mobil  kemudian meniti langkah ringanya untuk maju lebih dekat kearah bangunan besar dengan salip berlambang tepat di tengah pintu masuk bercorak coklat keemasan itu.

 

 

Terduduk dirinya di salah satu bangku  jemaat dengan tangan saling bertautan memanjat doa ke haribaan dengan mata terpejam rapat.

 

Ini hari senin dan hal itu cukup memudahkannya untuk bisa datang ke rumah sang-tuhan tanpa penyamaran yang berlebihan karna biasanya gereja akan ramai saat akhir pekan dan untuk hari ini adalah pengacualian karna tak nampak seorangpun jemaat  terlihat.

 

 

“tuhan.. tolonglah buat semua ini menjadi mudah.. ku mohon”

 

Yoona mengakhiri doanya dengan untaian permohonanya yang mendalam di sadari atau tidak, beberapa tetes air lolos dari matanya yang masih terpejam. setelah ia membuka mata, yang di rasakan adalah sebagian wajahnya yang basah. dengan perlahan ia  menyapu bekas tetesan itu perlahan.

 

 

“apa ada masalah?”

 

 

“pendeta kim? Ahhh.. ini memalukan. apa pendeta kim melihatanya?”

 

Yoona tak tahu sejak kapan pria paruh baya berbaju putih dengan kalung salip besar khasnya itu duduk tepat di sampingnya yang jujur membuatnya merasa sedikit malu  jika memang sang kepala pendeta dari gereja yang sering di datanginya itu melihatnya menitikan air mata beberapa saat lalu .

 

 

“kau harusnya tahu yoona, datang ke gereja hanya saat terjadi masalah… itu salah”

 

Pendeta kim tampak tak tertarik untuk menggubris pertanyaan yoona yang di lakukanya justru mengingatkanya tentang kesalahanya yang kemudian membuat yoona merunduk dalam.

 

Dan yoona tak sekalipun membantah karna itulah kenyataanya apa yang barus saja terlontar dari kepala pendeta kim jelas sebuah kebenaran. Terakhir kali ia datang ke gereja ini setahun yang lalu tepat pada malam setelah hubungannya kandas dan ini adalah kali kedua ia kembali menginjakkan kaki di dalamnya (gereja) dan dengan alasan yang sama, karna sedang tertimpa masalah.

 

“aku sungguh menyayangkan tindakanmu ini yoona.. sejak kecil kau adalah salah satu jemaat yang paling ku favoritkan, melihat bagaimana kerja keras dan kegigihanmu untuk bisa mencapai tujuanmu aku sungguh merasakan kebanggan tersendiri karnanya”

 

Pendeta kim menggambil jeda sesaat lalu mengalihkan pandangan pada patung tepat di tengah altar dan kemudian  berucap

 

“dan setelah tujuanmu tercapai kau melupakan-nya”

 

Yoona megikuti arah pandang sang pendeta  terpaku menatap pada sosok maha besar di sana percaya atau tidak sejak tadi  dalam hati ia terus berucap kata maaf.

 

 

“tapi…. sudahlah lupakan. maaf aku jadi memojokkanmu” seulas senyum kemudian terpancar dari wajah keriputnya

 

“jadi maukah kau bercerita pada ayah angkatmu ini?” lanjutnya masih menatap penuh senyuman

 

 

Yoona ikut menatapnya dengan persaan haru.  pendeta kim adalah orang yang juga berperan penting dalam kehidupanya selain keluarga tentunya.  sedang gereja ini  adalah tempat dimana ia  besar dalam didikan beberapa biarawan karna sebelumnya rumah lamanya berada tepat dua rumah dari gereja Jeondong Chatedral Crhurch-jeonju.

 

Dan setelahnya pembicaraan mengalir antara keduanya.

 

 

 

 

“jadi begitu” pendeta kim mengangguk paham kemudian beralih menatap yoona dalam pandanganya yang menerawang

“datangilah dia…” lanjutnya kemudian

 

“tapi…”

 

Dengan kembali tersenyum mengerti dengan kegusaran yang tengah yoona rasakan pendeta kim kembali berucap

“kau hanya salah paham datangi dan tanyai kebenaranya hm?”

 

Yoona mengagguk pelan lantas  Pendeta kim bangun dari duduknya dan mengusap lembut punggungnya seiringan dengan langkanya yang menjauh dari sana.

 

 

 

 

 

 

 

 

“yeobseo?”

 

“…”

 

“oppa.. bisakah besok aku di liburkan?”

 

“…”

 

“annio aku hanya ada urusan”

 

“…”

 

“hmm.. arra gomawo oppa”

 

 

 

 

 

***

 

 

“masih  tak aktif” seohyun menatap satu persatu member soshi dengan lesuh

Lalu kembali menolehkan matanya kearah ponsel yang masih setia di genggamnya

 

“ishh.. dia itu benar-benar… seharian tak pulang sekarang meminta libur tanpa memberi tahu kita”

 

Sooyoung mencibir kesal di tengah kebisuan membernya

 

“apa kalian tak menyadari akhir-akhir ini ada yang aneh dengannya ..”

 

Seketika pandangan mereka (member soshi) terpusat ke arah taeyon yang tengah duduk sembari bertopang dagu dengan tatapan fokus menerawang jauh

 

“aku juga merasa begitu” yuri bersuara lantas beradu pandang dengan tiffany dan hyoyeon yang terlihat masih kebingungan

 

“yoona memang terlihat lebih banyak diam dari biasanya. Tapi.. bukankah itu sudah biasa”

 

 

 

“tidak.. ku rasa memang ada yang yoona eonni  sembunyikan dari kita”

 

 

“ya.. kau benar hyun. Bahkan yoona tak sekalipun memberi tahu kita tentang hubunganya yang sudah membaik dengan siwon oppa”

 

Jessica berucap, balik menimpali perkataan seohyun

 

“dan kalian ingat saat ia pulang dalam keadaan mabuk?”

 

mereka lantas mengaguk meng-iakan. masih teringat jelas dalam benak ketika tergambar wajah kesedihan serta rasa tertekan yang terlihat nyata saat malam dimana mereka temukan yoona yang begitu jauh berbeda, yoona yang seogyahnya tak pernah bisa minum minuman beralkohol lebih dari seteguk  nyatanya mereka yakin saat malam itu yoona bahkan menghabiskan lebih dari sebotol mengingat betapa menyengatnya bau soju yang melekat padanya.

 

dan sampai saat ini mereka tak habis pikir bagaimana bisa yoona yang megendarai mobil sendiri tanpa supir itu bisa sampai dengan selamat dalam keadaannya yang mabuk berat.

 

“kita tak hanya bisa menduga-duga. Kita harus bertanya langsung padanya setelah ia pulang nanti”

 

Sunny  langsung menengahi beberapa pemikiran yang ia yakin para membernya kini mulai jauh mencurigai  dongsaengnya itu.

 

 

“apa sudah tanya pada jaewon oppa kemana dia pergi?”  tiffany menatap satu persatu member dengan pandangan penuh tanya

 

 

“jeowon oppa bilang yoona tak menyebutkan kemana perginya ia hanya meminta izin saja”

 

 

 

“lalu sebenarnya yoona ada dimana?..”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Suasana pedasaan melekat kental saat ia memijakkan kakinya, matanya menilik keseluruhan arah dimana padang hijau membentang luas dan ada beberapa perumahan yang masih nampak tradisonal.

 

Yoona melangkah mendekat ke sebuah rumah yang terlihat paling mencolok dengan beberapa tanaman hias yang indah di sekitar.

 

 

 

“eoh? Yoona?”

 

 

 

“anyeonghasseo..”

 

Lelaki berkisar limapuluh tahunan itu tercengang sesaat dan sesudahnya justru senyuman cerah terpancar pada wajah keriputnya

 

“kau datang.. masuklah”

 

yoona berjalan mengikuti lelaki itu dari belakang dan apa yang ia dapati  saat pertama kali menginjakkan kaki dalam lantai berbahan kayu jati itu adalah ruang tamu yang penuh dengan  beberapa foto-nya  dalam berbagai ukuran bingkai yang begitu cantik terlihat

 

“ibumu yang memasangnya”

 

Lelaki tua itu ikut mengamati pandanganya

 

 

“kau duduklah biar ku panggilkan ibumu”

 

 

“Tn jung”

 

Yoona mencegatnya hingga membuat Langkah lelaki itu terhenti untuk kemudian saling bersitatap denganya

 

“aku minta maaf….  kemarin tak sempat datang saat pemberkatan”

 

“itu tak masalah kau pasti tangat sibuk. Aku dan ibumu memaklumi itu. Tunggulah di sini aku akan segera kembali”

 

Lelaki itu tersenyum maklum dan   kembali berjalan untuk memanggil seseorang  menuju arah perkebunan tepat di halaman  belakang.

 

 

“hyun eon-ah ..”

 

 

“ya?..”

 

 

“yoona datang”

 

 

 

 

[Yoona pov]

 

 

Aku tak tahu datang ke tempat ini hal yang baik atau tidak yang ada di pikiranku sekarang hanya  nasihat dari pendeta jung yang mengharuskan langkah ku sampai ke daerah terpencil di kota yeongnam

 

 

Mata ku mengerling sesaat begitu sosok yang amat ku kenal berjalan mendekat duduk tepat berhadapan denganku yang mengharuskan kami seling berpandangan. Sejenak ku perhatikan ia lamat-lamat.

 

“ibu tak menyangka kau mau menemuiku”

“bagaimana kabar yoonhee? Aku sudah lama tak mendengar kabarnya ”

 

Haruskah ku jawab pertanyaan barusan.. sedang rasa menyesal atas keputusanku datang kemari  kini menyusup erat. ya tuhan.. apa yang harus kulakukan

 

 

“yoona?”

 

 

“ahh.. ya. dia baik-baik saja. untuk sementara ia dan suaminya tinggal di seoul sampai kondisi appa membaik”

 

 

Oh.. tidak.  nyatanya aku menjawabnya bahkan lebih lengkap.

 

 

“appa-mu sakit?”

 

 

“sekarang sudah lebih baik”

 

Dan  yah…  aku menjawab lagi.  Bukankah   tak ada gunanya  berdiam diri..

 

“rumahmu bagus”

Susana aneh ini benar-benar membuatku terbelit bahkan hanya untuk sekedar menayakan kabarnya aku malah berkelit dengan mengucapkan hal lain

 

“benarkah? minhyuk yang membangunya”

 

 

Tn jung? Benar juga bukankah ia seorang arsitek

 

 

“ehm..”

 

Sebuah suara seketika mengalihakan pandanganku dan yang ku dapati Tn jung berdiri di sisian pintu

 

“aku tak bermaksud menggangu tapi ada baiknya kita makan siang dulu semua sudah siap”

 

 

 

“kajja yoona..”

 

Aku sedang tak fokus sekarang, terlebih saat tangan lembut yang sungguh aku rindukan itu mengengam ku untuk kemudian menuntun menuju ruang makan dan mempersilahkan ku untuk duduk bersisian denganya

 

 

“makanlah..”

 

Bukankah dia berlebihan menyendokanaku lauk dan sekarang berniat menyuapiku apa-apaan ini..

 

 

“ahh.. ya tuhan aku lupa kau sudah besar. sekarang makanlah”

 

Bahkan ia masih sempat tersenyum  di tengah wajahku yang sekarang nampak masam

Ahh.. tidak ada gunanya mengerutu.  Perutku terasa lapar  jadi tak akan ada salahnya jika sedikit asupan penambah tenaga terlebih jika  makanan faforit mu telah terduduk manis di atas meja, siapa yang bisa menolak..

 

 

Tunggu.. rasa ini..

 

 

“kenapa? apa bulgoginya tak enak?”

 

 

 

“apa.. kau yang selalu mengirimkan bulgogi ke agensiku?” Pandangaku seketika  berubah menatap  tajam  kearah-nya.

 

 

Dia diam?.. berarti  ia.

 

“kenapa mengirmnya? Kau pikir  dengan mengirim makanan itu padaku bisa menebus kesalahanmu?”

 

Aku terbawa emosi.. jadi jangan salahkan bila nada suaraku terdengar tajam dan mengintimidasi

 

“bukan begitu nak ibu hanya..”

 

 

“ku harap kau jangan marah, aku yang memintanya, kau harus  tahu setiap hari ibumu memasak makanan itu dan melarang siapapun memakanya dengan harapan suatu saat nanti kau datang dan memakan bulgogi buatanya. jadi ku sarankan untuk mengirimnya ke kantor agensi-mu”

 

Benarkah begitu..

 

Mataku sejenak melirik kerahnya,  kearah wanita yang nampak menunduk mersa bersalah mungkin ataukah dia…

Tidak.. ini tak  benar. Bukankah susana di sini mulai  memuakkan .  tidak…  aku tak bisa berlama-lama di sini.

 

datang kesini memang keputusan yang salah

 

 

 

“waktu-ku sudah hampinr  habis aku harus kembali ke seoul”

 

 

“yoona…”

 

Langkah kupercepat sebisa mungkin, menghindari suara lirihan bernada pedih yang terdengar dari belakang. Dan berbahagialah ego-ku karna kali ini ia menang

 

Ya tuhan.. maafkan aku, aku  tahu  ini  salahku  tapi  nyatanya sekarang hubunganku dengan ibuku sendiri malah  bertambah  buruk

 

 

 

 

 

[yoona pov end]

 

 

 

 

 

 

***

 

 

 

“kau darimana?”

 

Langkahnya tercegat,   detik berikutnya di tolehkan wajanya  ke samping  tepat di ruang  tengah dimana  seluruh  membernya  tengah  menatap fokus kearahnya

 

 

“aku pulang kerumah”

Yoona berucap pelan merasakan sedikit keganjalan dari nada suara  yuri  yang beberapa saat  lalu berucap.

 

“bohong!”

 

Dan dugaanya tepat.  ada yang lain dari membernya ketika taeyon berucap penuh penekanan

 

 

“kau mulai tak jujur pada kami yoong”

 

 

Yoona nenunduk dengan tangan meremas tas gengamnya erat. mencoba menghalau kekalutan karna  nyatanya  tatapan marah serta kenyataan  jika dirinya berbohong  kini menjadi belati yang siap di tancapkan tepat padanya.

 

“kenapa hanya diam?”

Dan lagi suara yang ia yakin adalah dolpin voice milik jessica terdengar mengerikan di telinganya.  Suara itu bahkan lebih menakutkan di banding raungan singa.

 

“aku…”

 

Liur yang coba ia telan agar  kegugupanya  berkurang  nyatanya tak membuahkan hasil.  yoona bahkan jauh lebih gugup dari sebelumnya terlebih tatapan tajam kini terus terarah padanya.

 

Dan kini  otaknya sibuk berfikir untuk dapat menemukan alasan yang tepat agar para memberduel nya itu percaya dan tak menanyakan  lebih. Karna ia tak mungkin bilang bahwa beberapa jam yang lalu ia pulang ke rumah ibu kandungnya. Bukankah akan terdengar konyol? Sementara setahu mereka yoona sangat.. *ralat*  teramat sangat membenci ibu kandunganya itu.

 

“aku..”

 

Ucapanya kembali tersendat bahkan satu alasan logispun tak muncul di benaknya. sekarang bagaimana cara untuk menjelaskanya

 

 

“hmmpfftt…”

 

Suara seseorang menahan tawa terdengar cukup jelas di telinganya dan begitu  yoona mendongak untuk bisa melihat sumber suara, yang ia temukan justru sunny yang duduk di sudut kursi tengah menyumbal mulutnya dengan kedua tangan

 

Dan detik berikutnya…. tertawa lepas

 

 

“ya! Kenapa kau tertawa? Kau merusaknya” sooyoung menatap kesal kearah sunny yang masih terlihat mengendalikan diri karna tawa yang tak henti terdengar darinya

 

“maaf aku tak bisa menahanya” Di sela sela tawanya sunny menjawab

 

“isshh.. aku sudah berakting sangat baik tadi”

Jessica menimpali dengan tatapan sama seperti yang sooyoung  layangkan, kesal.

 

“sudahlah jangan di teruskan,  apa  eonni tak lihat  wajah yoona eonni”

 

Seohyun bersuara menatap khawatir yoona yang masih melihat  mereka dengan ekspresi yang sulit di jelaskan

 

Dan yoona makin terliha bingung sekarang

 

“hahh.. padahal aku belum kebagian mengerjainya” tiffany berucap di iringi gerutuan kecil setelahnya.  bahkan bibir mungilnya mempout kesal

 

 

Butuh waktu beberapa detik baginya berfikir hingga….

 

 

 

 

 

 

“EONNI.. kalian mengerjaiku!!!”

 

 

***

 

 

 

Siwon merebahkan diri dengan posisi terlentang menatap langit-langit kamar dengan  fikiran melayang

 

“haruskah aku menelponya?” siwon berucap pada diri sendiri dengan mata menatap pada ponsel yang tergeletak  manis tepat di sampingnya

 

 

“hahhh.. aku bisa gila”

Masih dengan kondisi yang berbicara sendiri siwon bangkit dari rebahan-nya.  duduk dengan kedua tangan mengacak rambut  frustasi  dengan persaan rindu yang menekan erat pikiranya

 

Di raihnya ponsel putih itu dan langsung menekan angka satu pada panggilan cepatnya

 

…….

 

“eoh? Aktif?”

 

Nomor yang hendak ia hubungi  aktif dan itu cukup membuat seulas senyum tergambar jelas menghias paras tampan-nya  karna nyatanya selama dua hari ini setiap kali ia menghubungi yoona yang akan menjawab hanyalah suara operator saja.

 

“yeobseo?..”

 

Siwon bingung sekarang,  panggilan sudah terhubung, sedang hal apa yang pantas ia gunakan sebagai alasan  atau setidaknya bahan pembicaraan

 

“kau.. belum tidur?”

 

nada suaranya bahkan terdengar aneh

 

“belum”

 

Jawaban singkat  yoona cukup membuatnya yang semula menahan napas karna sedari tadi  mersakan kegugupan kini bernapas lega setidaknya yoona tak akan tahu betapa inginya pria ini melompat dari kasurnya untuk  berteriak kegirangan karna penantian serta kesabaranya menunggu pulihnya hati sang pujaan kini terbayar sudah.

 

Karna Yoona nampaknya mulai memberi sinyal bahwa ia kini akan  membuka hati  untuknya.

 

 

“akhir-akhir ini nomormu selalu tak aktif apa kau sibuk?”

 

“ya”

 

 

Di tengah obrolanya dengan yoona matanya sempat mengerling ke arah jam dinding yang menunjuk tepat pukul satu malam

 

“apa aku menganggu? Hmm.. maksudku kau ingin tidur sekarang.. mungkin.”

 

“anni, aku tak bisa tidur”

 

Sesaat keduanya terdiam sibuk dengan hal apa yang layaknya di perbincangkan

 

 

 

“oppa..”

Panggilan itu, siwon sangat merindukan panggilan itu.

 

 

“ya?”

 

 

 

 

 

“bisakah kau keluar?  aku ingin bertemu…”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

To be contuined…

 

 

 

 

Hello reders.. tintin kembali dengan ff lama yang baru rampung editanya seminggu lalu.  Dan nih maap bgt baru nongol lanjutanya,  komputer sy yang nyimpen tuh chap ending malah rusak  dah sekitar oktober lalu-lah  jadi terpaksa ngetik ulang  dan siapa sangka malah lebih banyak dari yang sy bayangkan  jadi bersabarlah menunggu chap ending kelar  karna  sy  lagi sibuk-sibuknya belajar buat ujian masuk universitas.

okey.. kritik dan saran di tunggu #see you next time^^

 

Buat kak echa dan kak gee makasih banyak  bantuanya ngepost-in ff absurd sy ini sekali lagi makasih kak^^  *hug..

Tinggalkan komentar

157 Komentar

  1. Dahlia GaemGyu

     /  Juli 30, 2014

    semoga yoonwon harus bersatu ,,,,

    Balas
  2. diladiladila

     /  Agustus 13, 2014

    Makin seru critanya..
    Lnjut author, next chap nya jngan lma* ya..

    Balas
  3. amalia an

     /  Desember 27, 2014

    Kenapa baxk sekali masalahnya si yoona? Semoga dgn baiknya hub. Yoonwon bsa mengurangi masalah yoona.
    Bgus crtax. ….ditunggu lanjutanx.

    Balas
  4. aduhhh knapa ad TBC sgala mengganggu :p .
    Gimana niehh ya’ammpun memanx appa im ini pengen bgt yeah jodohin yoongeoni .
    Tp yoongeoni mau ketemu sma wonpa mau ngapain ??
    Smoga ajh tuh perjodohan di batalkan #amiin ..
    Dan kapan autor publish chapter 2-B end.q ak dach ga sabar #benerdech ..
    Ayoolah di lanjutin nanggung autor #SEMANGATT YEAH :LIKE:😀

    Balas
  5. Cha'chaicha

     /  Mei 23, 2015

    Nunggu moment yw’y,

    Balas
  6. mia

     /  Oktober 18, 2015

    semoga mereka busa bersatu

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: