[FF] Lovely Bride (Chapter 4)

Tittle                               : Lovely Bride (My Silly Engagement’s Sequel)

Author                           : misskangen

Genre                             : Romance, Family, Fluff

Rating                             : Mature

Type                               : Chapters

Length                            : 7000+ words

Casts                              : Choi Siwon, Im Yoona

Minor Casts                    : Kwon Yuri, Kim Jong Woon, Seo Joohyun, Jung Hyeri (OC), Han Young Ran (OC), Park Gyuri, Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Disclaimer                      : All the story and plot is mine. Do not copy or doing plagiarism. Please apologize for unidentified typo(s).

 

 

 

Story Part 4

 

Byun Baekhyun memasang kuda-kuda waspada dengan kemungkinan berbagai serangan yang akan diterimanya dari seorang pria yang merasa tidak senang dengan perbuatannya karena dianggap sudah melarikan calon istrinya. Sejak awal Baekhyun sudah memprediksi bahwa akibat dari kesediaannya mengantarkan sepupu cantik bernama Yoona ke kantor calon suaminya bukanlah ide bagus. Walaupun kesediaan Baekhyun lebih karena tuntutan Yoona yang ingin mendapat klarifikasi langsung dari bos besar Hyundai Group itu.

 

Tatapan kaku yang didapatnya dari Choi Siwon serta merta meningkatkan rasa gugup. Pria tampan berlesung pipi itu adalah calon suami sepupunya, yang sangat suka melakukan provokasi dengan menebar ancaman-ancaman padanya terkait Yoona. Baekhyun tidak akan merasa takut seandainya pria itu bukan sosok yang memiliki kuasa, yang suatu saat bisa saja membuktikan semua ancamannya.

 

“Kau benar yang membawa kabur Yoona kesini, Byun Baekhyun?” tanya Siwon, kali ini pria itu tak lagi mengintimidasi tunangannya melainkan Baekhyun. Tekanan suara Siwon pada nama Baekhyun semakin menambah hasrat Baekhyun untuk segera lari dari tempat itu. “Kau pasti tahu kan kalau ibu Yoona melarangnya pergi kemana-mana tanpa kawalan?”

 

Ne..hyung, aku memang yang membawanya kesini. TAPI…” Baekhyun berusaha dengan gagah berani membela diri di depan Siwon. “…tapi, aku tidak akan berani kalau saja calon istrimu yang sangat kau cintai dengan segenap jiwa ragamu itu tidak memaksaku dan mengancam yang tidak-tidak padaku.”

Siwon terbatuk karena menahan tawanya sebab ekspresi wajah Baekhyun saat itu benar-benar sebuah lelucon baginya. Selama ini Siwon selalu berhasil menyudutkan Baekhyun dengan berbagai teguran dan ancaman yang sebenarnya tak benar-benar ia niatkan. Sementara pemuda itu sepertinya sudah terpengaruh dengan fake impression yang disudah dibangun Siwon untuknya.

 

“Lalu kenapa kau mau saja menuruti paksaannya?”

Baekhyun mendesah, ia sudah mengira kalau Siwon akan menanyainya panjang lebar. “Kalau bukan karena wanita bernama Park Gyuri, Yoona tidak akan punya alasan kuat untuk memaksaku.”

“Park Gyuri?” Siwon mengangkat sebelah alisnya. Di belakangnya Yoona sedang mengepalkan tinju dan matanya membesar. Gadis itu sedang memberi peringatan kepada Baekhyun dengan bahasa isyarat untuk menutup mulutnya.

“Ada apa dengan Park Gyuri? Apa yang kalian sembunyikan?”

 

Baekhyun sudah menangkap isyarat peringatan Yoona, tetapi ia sama sekali tak berniat untuk menuruti gadis itu. Ini adalah saat yang tepat baginya untuk membalas Yoona.

“Kemarin aku melihat Park Gyuri itu mencarimu ke kantor ini dan Yoona yang merasa tidak nyaman mendengar kabar itu langsung memaksa membawaku kesini untuk meminta penjelasan padamu.” Terang Baekhyun sedikit grogi.

 

Yoona menepuk dahinya pelan, menyesalkan kelancangan Baekhyun berbicara dengan mulut embernya kepada Siwon. Sambil menyipitkan mata, ia mengumpati Baekhyun dengan kata ‘Ba-bo’ tanpa suara.

“Jadi kalian memata-mataiku?” tuduh Siwon pada kedua saudara sepupu itu. Siwon berbalik dan menatap Yoona yang ada di belakang tubuhnya. Gadis itu menggeleng-geleng, mencoba menyangkal tuduhan.

“Tadi kau sama sekali tak membahas hal itu di dalam, Yoong?”

 

“eung? Aniyo… Oppa, sudahlah. Tidak perlu diperpanjang lagi,” Yoona memasang wajah manisnya dengan senyuman palsu yang dipaksakan, merayu Siwon sambil memegang lengannya dan mengguncang-guncang dengan manja.

“Tapi—“

“Kau bilang akan mengantarku pulang, kan? Sebaiknya kita berangkat sekarang atau nanti Eomma akan mencariku. Kkaja…” Yoona menarik lengan Siwon agar berjalan menjauhi Baekhyun.

 

Siwon masih bergeming. Bergantian ia menatap Yoona dan Baekhyun, lalu menghela napas kasar. Ia pun mendekati Baekhyun yang sudah siap-siap menerima semburan kata-kata darinya. Namun tanpa diduga, Siwon malah mengulurkan tangannya lalu mengacak pelan rambut Baekhyun.

“Kali ini kau selamat, Baekhyunnie… Kau bisa pulang sendiri kan?” kata Siwon dengan senyuman separuh untuk menggoda Baekhyun. “Oh, dan satu lagi… terima kasih sudah mengantarkan gadisku selamat sampai kesini. Lain kali kalau membawanya jangan naik motor lagi ya…”

 

Siwon dan Yoona pun berlalu dari hadapan Baekhyun, meninggalkan pemuda itu dalam kondisi melongo dan terperangan karena sikap yang ditunjukkan Siwon barusan.

 

“Apa mereka selalu bertindak semena-mena seperti itu padamu, Nak?” suara Sekretaris Kim menyadarkan Baekhyun dari keterkejutannya. Ia bahkan tak menyadari bahwa pria paruh baya itu sedari tadi ada disana dan menjadi saksi hidup percakapan mereka.

 

“Begitulah…” jawab Baekhyun polos.

 

 

Sampai di rumah keluarga Im yang tampak sepi, Siwon menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak terlihat anggota keluarga Im lainnya, hanya beberapa asisten rumah tangga yang menyapanya. Rumah ini tampak kosong, seperti halnya semua penghuninya sedang berkegiatan di luar.

“Apa tidak ada orang di rumah? Kemana Eomonim?”

Eomma dan Eonni tadi ke Bandara Incheon, menjemput imo ku yang datang dari Belanda. Mungkin mereka belum kembali.”

 

Siwon mengangguk mengerti. Menjelang pesta pernikahan pasti semua anggota keluarga besar akan berkumpul, termasuk mereka yang berdomisili di luar negeri. Dengan demikian suasana keluarga semakin ramai dan meriah. Hal ini pasti menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi Siwon walaupun mendapatkannya dari keluarga Yoona karena selama ini ia tidak pernah menemukan seluruh keluarga besarnya berkumpul seperti yang dilihatnya dari Keluarga Im.

 

“Oh begitu…” Siwon pun menarik tangan Yoona dan memaksa untuk mengikutinya.

“Kita mau kemana?”

“Ke kamarmu.”

“Kamarku? Untuk apa?” Langkah Yoona terhenti mendengar penuturan Siwon. “Oppa, di rumah sedang tidak ada orang. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang—“

Siwon mendorong kepala Yoona, berlaku seperti itu agar gadisnya menutup mulut dan berhenti berbicara yang aneh.

“Yak, apa yang kau pikirkan eoh? Belum saatnya kau negatif thinking padaku soal yang satu itu. Tunggu saja beberapa hari lagi, itu pasti terjadi.”

 

Jawaban Siwon membuat Yoona terkesiap dan sedikit shock. Topik pembicaraan yang menurutnya sedikit memalukan, dan Yoona sama sekali tidak mau membahas lebih jauh soal itu untuk saat ini. Yoona menghembus napas dari mulutnya sambil menunduk, untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

 

Begitu sampai di dalam kamar Yoona, Siwon membukakan selimut yang tertata rapi di atas ranjang. Sebelah alis Yoona terangkat karena ia paham maksud Siwon.

“Kau menyuruhku tidur, Oppa? Ini kan masih siang…”

 

“Kau tak lihat wajahmu yang pucat itu atau mata pandamu yang mengerikan itu?” sindir Siwon sedikit berlebihan. “Sekarang, sebaiknya kau ganti baju. Aku akan menunggumu disini.”

Siwon membuka jasnya, lalu sepatunya. Kemudian ia naik ke atas ranjang dan duduk dengan bersandar pada headboard. Caranya yang duduk santai sambil melipat lengan di depan dada tampak cukup mengintimidasi bagi Yoona. Sekali lagi, pria itu muncul di dalam kamarnya bahkan pada minus beberapa hari sebelum pemberkatan pernikahan mereka.

 

 

“Aku pikir Oppa akan memarahi Baekhyun, tadi.” Ujar Yoona setelah membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan menarik selimut hingga ke dada.  Siwon berada di sebelahnya masih duduk dengan posisi yang sama, bersandar pada headboard dan setia menungguinya sampai ia tidur nanti.

 

“Sudah cukup selama ini Baekhyun menjadi objek penderita. Aku hanya mengolok-oloknya saja.” Suara gelak tawa singkat mengikuti jawaban Siwon. Memang benar Siwon dan Yoona menyadari hal itu bahwa mereka sudah menyebabkan sepupu tersayang Yoona menjadi korban penindasan tidak hanya sekali tapi berkali-kali. Yoona juga berpikir mungkin Baekhyun adalah pemuda naif sekaligus cukup bodoh yang tak pernah menyerah meskipun diperlakukan tidak adil seperti yang dilakukannya.

 

“Lalu, ada urusan apa kemarin Park Gyuri menemuimu?”

Siwon menoleh pada Yoona sementara gadis itu menghindari tatapannya. Masalah tidak akan pernah selesai jika Siwon tak menjelaskan duduk perkaranya. Yoona mungkin akan cemburu atau marah dengan kenyataan tapi itu tidak lebih buruk jika mereka akan bertengkar hebat karena sebuah rahasia sepele.

 

Helaan napas terdengar sebelum Siwon mengungkapkan pikirannya. “Dia datang untuk minta maaf atas kejadian di agency kemarin. Dia merasa tidak nyaman dengan keributan kecil itu. Aku rasa kau sudah membuatnya tersudut dengan kata-kata tajammu.”

“Aku?” pekik Yoona protes. “Menurutku dia bersikap seperti itu untuk memperbaiki kredibilitasnya sebagai manager untuk perusahaan travelnya. Aku yakin dia justru senang sudah berhasil membuat kita berdebat atau bertengkar.”

 

“Kau sinis sekali. Justru ia menawarkan paket perjalanan bulan madu terbaik untuk kita sebagai permintaan maafnya. Dia sendiri yang akan mengurus semua itu.”

 

What??!!” Yoona melonjak dari posisi berbaring dan duduk menghadap Siwon sambil menatap curiga padanya. “Dia bilang seperti itu? Tidak mau! Aku tidak mau! Oppa tolak saja penawarannya. Bisa saja itu hanya kamuflasenya untuk mengganggu kita.”

 

“Yak, jangan mudah berpikiran negatif pada orang lain! Aku sudah menerima tawaran itu, jadi tak mungkin membatalkannya lagi. Itu akan memalukan.” Yoona mendengus sebal karena Siwon tak sependapat dengannya.

“Kau tidak perlu mencemburuinya. Mungkin dulu ia memang menyukaiku, tapi sekarang ia tahu sampai kapanpun ia takkan pernah punya kesempatan apapun karena aku sudah memilikimu. Sekarang lebih baik kau tidur!”

Siwon mendorong Yoona, memaksanya kembali masuk ke dalam selimut. Ia pun menempatkan dirinya sama seperti gadis itu, berbaring di sebelahnya tanpa turut menarik selimut ke atas tubuhnya.

 

“Aku tidak akan bisa tidur sekarang,” keluh Yoona menutupi kenyataan bahwa matanya sudah terasa berat.

Siwon berbalik, memiringkan tubuhnya agar dapat menghadap Yoona. Ia menarik gadis itu dalam pelukannya. Kepala Yoona tersuruk hingga keningnya menyentuh dada Siwon. Aroma maskulin dari parfum Siwon menguar, menusuk lembut hidung Yoona melalui kemeja putih pria itu.

“Kalau begini aku yakin kau akan segera tertidur.” Ujar Siwon di atas kepala Yoona dengan dagu yang menempel di puncaknya. Posisi ini sebelumnya sudah berhasil membuat Yoona sangat nyaman dan tertidur nyenyak ketika berada sekamar dalam Hotel di Pulau Nami. Yang juga menjadi salah satu senjata Siwon untuk memaksa Yoona menyetujui lamaran pernikahan darinya.

 

“kau bertindak seperti sedang meninanbobokkanku,” Yoona berbicara lambat karena kantuk memang sudah menjalarinya. Lengannya dilingkarkan ke pinggang Siwon, memeluk dan mencari kehangatan dari tubuh pria itu.

“Apa aku perlu menyanyikan sebuah lagu untukmu?”

 

“Ah tidak… tidak usah,” tolak Yoona lembut. “Kau tahu, Oppa. Aku berharap bisa tertidur lama dan juga berharap semua kegelisahanku selama ini hanya mimpi. Rasanya melelahkan sekali, aku ingin seseorang membangunkanku jika hari pernikahan telah tiba.”

 

 

Selepas Yoona tertidur, Siwon pelan-pelan melepaskan pelukan lengan gadis itu dari pinggangnya. Perlahan ia bergerak bangun, lalu memandangi wajah polos tunangannya yang sudah terlelap. Saat ini memang masih siang menjelang sore, tetapi ia tidak ingin membuang waktu sedikitpun untuk memberi kenyamanan pada gadisnya itu untuk menikmati waktu beristirahat.

 

Siwon menarik jasnya yang disampirkan di kursi dekat meja rias. Sebelum keluar dari kamar Yoona, ia menyempatkan diri mencium kening indah tunangannya yang cantik. Dengan senyuman lembut ia membisikkan kata ‘selamat tidur’ walau ia yakin Yoona takkan mendengar suaranya.

 

Sampai di kaki tangga, ia bertemu dengan Nyonya Im yang cukup kaget melihat Siwon muncul di rumahnya dan baru saja turun dari lantai dua tempat kamar Yoona berada.

“kau datang, Siwon-ah?” sapanya datar.

Siwon membungkuk singkat, memberi hormat kepada calon mertuanya. “Ne, Eomonim. Aku mengantarkan Yoona, tadi dia menemuiku di kantor.”

 

Kedua alis Nyonya Im terangkat. Ia tahu pasti Yoona melakukan sesuatu yang tidak diduganya selama ditinggal pergi sendirian di rumah. Ia hanya bisa menggeleng lemah dan memaklumi tingkah putrinya. Walaupun sebelum ini menjelang hari pernikahan, Nyonya Im sudah melarang Yoona untuk jalan-jalan keluar jika itu tidak perlu.

“Dia pasti merindukanmu,” ujar Nyonya Im tersenyum. “Lalu mengapa dia tidak mengantarmu ke depan?”

 

“Dia sedang tidur. Aku menyuruhnya beristirahat karena kulihat Yoona tampak lelah dan banyak pikiran sampai matanya sudah seperti panda.”

 

“Jadi dia benar-benar tidur?” tanya Nyonya Im antusias. Siwon mengangguk dan sedikit bingung dengan ekspresi terkejut wanita paruh baya itu. Nyonya Im mendesah lega, “Syukurlah jika Yoona bisa beristirahat. Anak itu belakangan terlihat gelisah dan sulit tidur. Mungkin ia gugup dengan tanggal pernikahan yang sudah sangat dekat.”

 

“Ne, aku mengerti hal itu Eomonim.”

“Aku tidak menyangka putri bungsuku akan menikah secepat ini padahal aku merasa ia masih bayi kecilku yang kutimang setiap saat,” lirih Nyonya Im seperti mengeluhkan sesuatu kepada Siwon. Pria itu menganggap perkataan Nyonya Im sebagai ‘ungkapan kegelisahan hati’ seorang ibu yang anaknya akan segera diambil oleh seseorang untuk dibawa pergi dan dijadikan isteri. Dan Siwon adalah tersangka utama dari kegalauan Nyonya Im ini.

“Menantu Choi, aku sangat berharap sebagai suami Yoona kau bisa menjaga dan membimbingnya dengan baik, memberinya kasih sayang dan perhatianmu. Dan jangan pernah menyakitinya.”

 

“Tentu, Eomonim. Aku sangat mencintai Yoona, dan dirinya adalah sumber kebahagiaanku. Aku tak akan pernah menyia-nyiakannya. Aku akan selalu mengusahakan yang terbaik untuknya.” Siwon meyakinkan Nyonya Im dengan semangat berapi-api.

 

Pembicaraan ini sangat berarti bagi keduanya. Mereka jadi tahu apa sebenarnya yang diinginkan masing-masing pihak, dan itu adalah kebahagiaan Yoona. Siwon pun memeluk Nyonya Im. Rasanya begitu hangat, seperti ia sedang mendapat pelukan ibu kandungnya sendiri.

 

 

Yoona duduk di ruang tunggu pengantin yang sudah mendapatkan dekorasi yang simple namun terlihat sangat klasik dan indah. Pernikahan mereka diadakan di salah satu hotel terbaik milik Hyundai Group, dimana pemberkatan dan resepsi akan dilakukan di tempat yang sama.

 

Hari ini akan menjadi hari yang bersejarah untuk kedua keluarga, Choi dan Im. Impian mereka untuk mempererat tali persahabatan melalui jalan pernikahan akan segera terwujud. Walaupun dibayangi oleh suara-suara sumbang mengenai motif bisnis dibalik pernikahan ini, tetapi mereka tidak ingin ambil pusing. Bagi kedua keluarga, perjodohan ini cukup konyol dan sempat dihentikan, jika sekarang terjadi pernikahan maka hal tersebut murni keinginginan dari anak-anak mereka yang mengaku saling jatuh cinta.

 

Kaki Yoona tampak bergerak-gerak tak tenang menyentuh lantai, sementara tangannya tak berhenti memainkan bunga dalam buket di atas pangkuannya. Ia yakin jika suasana di luar ruangan itu sangat riuh dan ramai. Apalagi ia juga mendengar bahwa ada banyak wartawan yang meliput acara pernikahan ini, maklum saja Hyundai Group dan Choi Siwon sudah selayaknya selebritis di ranah bisnis Korea Selatan.

 

“Yoona-yah…” panggil Seohyun dan Hyeri berbarengan begitu mereka muncul dari balik pintu. Keduanya tampak sangat cantik dengan gaun pilihan yang pasti sudah mereka persiapkan khusus untuk acara pernikahan Yoona sejak jauh-jauh hari. Senyum mereka juga tampak merekah, seakan mereka juga merasakan kebahagiaan yang besar seperti yang harusnya dirasakan Yoona saat ini. “Wah… kau cantik sekali. Persis seperti princess!

 

“Oh, ternyata kalian datang…”

“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja kami datang, walaupun badai menghadang kami akan berjuang melawan hanya untuk menghadiri pernikahanmu. Kau kan sahabat terbaik yang mendahului kami dalam mendayung bahtera kehidupan baru.” cerocos Seohyun begitu mereka sampai di sofa duduk Yoona.

 

“Dia kenapa… tiba-tiba saja menjadi puitis bak pujangga cinta begitu?” tanya Yoona pada Hyeri tetapi matanya memandang ngeri pada Seohyun.

Hyeri menahan senyumnya, padahal ia sudah sangat geli dan gatal ingin sekali tertawa keras untuk mengomentari keanehan Seohyun. “Uri Seohyunnie..mungkin saja masih merasakan euphoria kebahagiaannya, sebab dua hari yang lalu Yonghwa memperkenalkannya pada keluarga besar Jung.”

 

Jinjayo?” Yoona tampak terkesima dengan informasi dari Hyeri. Ia melihat binar mata Seohyun saat Hyeri mengangguk mengiyakan pertanyaan Yoona. “Omo… Chukkae, Seohyunnie… itu artinya sebentar lagi kau akan menyusulku.”

 

Cengiran Seohyun sudah menjelaskan segalanya kalau ia sangat bahagia sekaligus tidak berani berspekulasi soal ‘susul-menyusul’ pernikahan itu. “Hmm… kalau itu aku juga belum tahu, karena aku masih ingin melanjutkan cita-citaku menjadi wanita karier. Dan aku akan sangat hati-hati agar Yonghwa tidak merencanakan sesuatu yang membuatku harus cepat-cepat menikah dengannya.”

 

“Yak! Jangan menyindirku!!” Yoona mengangkat buket bunganya dan mengarahkan pada Seohyun, berniat ingin memukulkannya karena candaan Seohyun yang tidak lucu.

 

“Hei Yoong, kau akan merusak bunganya!” pekik Hyeri memperingatkan Yoona saat buket itu sudah hampir mencium kepala Seohyun. Yoona pun menyadari tingkah brutalnya, lalu kembali memaksa diri untuk duduk tenang. “Bunga itu akan dilemparkan untuk seseorang yang akan menikah selanjutnya. Kau jangan buat orang itu merasa kena kutukan karena belum apa-apa bunganya sudah rusak.”

 

“ah..mianhae, aku hanya sedang gugup jadi tingkahku terlihat menyedihkan,” keluh Yoona seperti orang putus asa.

Hyeri menyerobot tempat kosong di sofa yang diduduki Yoona, menghimpitnya dari sebelah kiri dan tersenyum penuh makna. “Kau gugup? Aku rasa itu wajar. Tapi mana yang lebih membuatmu gugup, pemberkatan pernikahan atau acara pribadi kalian malam ini?”

 

“berhentilah menggodaku, dasar kau Jung Hyeri mesum!” rutuk Yoona membuat Hyeri tertawa terbahak-bahak. Seohyun pun ikut tertawa dan menyebabkan ruang tunggu pengantin wanita yang hanya diisi tiga wanita itu seperti dipenuhi sepuluh ahjumma penggosip.

 

Suara derit pintu yang terbuka menghentikan suara tawa ketiga sahabat tersebut, mereka menoleh pada asal suara dan melihat seorang wanita berwajah mirip dengan Yoona datang bersama seorang pria.

“Kalian membuat ruangan ini ramai sekali, teriakan kalian bahkan terdengar sampai keluar,” ujar Yuri yang baru masuk ke dalam ruangan. Jong Woon suaminya pun ikut tersenyum, sekaligus menyapa tiga gadis konyol dalam ruang tunggu itu.

 

“Eonni, kami hanya sedang menghibur Yoona yang sedang gugup. Kami berusaha menenangkannya dengan mengalihkan pikiran pada cerita-cerita lucu.”

 

“Eung? Cerita apa itu? Aku tidak yakin dia bisa menghilangkan kegugupannya semudah itu bila ceritanya tidak menarik… setidaknya berhubungan dengan calon suaminya yang tampan di luar sana.” Jong Woon tidak segan mengeluarkan godaan dan ejekannya pada Yoona. Sudah menjadi kebiasaan Jong Woon sejak lama – bahkan sebelum ia menikah dengan Yuri – untuk melakukan hal-hal yang membuat Yoona mengeluarkan mimik imut dan menggemaskan. Hal ini menurut Jong Won sangat menyenangkan, menjahili Yoona tak ubahnya hiburan kecil jika ia datang apel ke rumah Yuri.

 

Yeobo… jangan menggodanya saat ini. Apa kau ingin melihat wajah pengantin yang cemberut, eoh?” Yuri mengusap-usap bahu suaminya. Mereka terlihat sangat mesra membuat tiga orang gadis di depannya mencibir iri. “Kita juga merasa gugup ketika upacara pernikahan, kan? Tetapi syukurlah semuanya berjalan lancar.”

 

Ne.. syukurlah semua berjalan lancar,” Jong Woon mengangguk, membenarkan ucapan istrinya. “Dan syukurlah kita ambil tindakan cepat sebelum adik kecilmu itu melangkahi kita untuk menikah. Aku juga semakin bersyukur karena jelas Yoona juga tidak akan melangkahi kita untuk urusan anak.” Secepat Jong Won berbicara secepat itu pula ia menutup kalimat dengan suara tawa anehnya.

 

“OPPA!!!” teriak Yoona yang ingin mengumpati kakak iparnya saat itu juga.

 

Yuri meringis sebal lalu memukul lengan suaminya, memintanya untuk berhenti tertawa karena ini semakin terlihat menyedihkan bagi Yoona yang sedang dilanda kegugupan pra nikah. Sementara Seohyun dan Hyeri tampak seperti duo autis yang saling lirik dan menoleh antara Yoona dan Jong Woon karena kebingungan dengan topik pembicaraan mereka.

 

Omo,, omo,, apa maksudnya itu, Yoong?” tanya kedua temannya serentak.

“Tidak usah dibahas!!” jawab Yoona ketus.

 

 

Semua mata tertuju pada Ayah dan putrinya yang sedang berjalan beriringan sepanjang lorong menuju altar buatan yang telah didesain sedemikian rupa indah di dalam sebuah ballroom khusus di Hotel berbintang lima itu.

 

Tentunya semua mata tamu undangan terpaku pada kecantikan pengantin wanita yang mengenakan gaun hasil rancangannya sendiri dan diberi final touch dari seorang desainer terkenal Korea. Gaun berwarna putih gading berbahan tulle dengan bentuk ball yang mengembang di bagian bawahnya, menggunakan shoulderless dengan ruffle yang berbentuk vertikal dan aksesoris kombinasi lace bunga-bunga kecil maupun Swarovsky yang membuat Yoona benar-benar bergaya ‘Victorian Look’.

 

Tidak ada yang tahu kalau Yoona menggenggam erat buket bunganya lebih tepatnya meremas tangkai bunga dan berulang kali menghembus napas dari mulutnya untuk menghilangkan kegugupan yang semakin menjadi-jadi. Menjadi pusat perhatian bukanlah sesuatu yang sangat menyenangkan bagi Yoona saat ini, justru ia ingin jika orang-orang memandang biasa saja padanya. Tetapi hal itu tak mungkin bila ia menjadi satu-satunya pengantin dan begitu bersinar terang di tempat itu bukan?

 

Siwon juga tak kalah gugup, hanya saja pria itu mampu mengendalikan dirinya agar tak terlihat konyol di depan para tamu yang sebagian besar adalah rekan bisnis dan orang-orang penting lainnya. Bagaimanapun ia tak bisa berhenti tersenyum, memandang takjub pada pengantinnya yang berjalan anggun menuju altar tempatnya menunggu. Yoona, baginya saat itu lebih cocok digambarkan seperti seorang putri dengan segala keanggunannya yang berjalan dengan gaya klasik ala wanita ningrat Kerajaan Inggris.

 

Denting suara piano yang mengiringi prosesi itu semakin melengkapi suasana sakral yang melingkupi ruangan tersebut. Siwon mengulurkan tangannya mengharap sambutan dari Yoona saat gadis itu sudah tiba di altar. Tuan Im memberikan tangan Yoona dalam gandengannya kepada Siwon, menyerahkan putrinya untuk dipersunting secara resmi oleh pria yang ada di depannya. Tuan Im tersenyum penuh harap bahwa putrinya akan dijaga dan diayomi dengan baik oleh Siwon.

 

You look so great in this gown, I love it,” Siwon sempat berbisik di telinga Yoona saat mereka menghadap pendeta.

Semburat merah tergambar jelas di wajah Yoona. Pujian Siwon itu entah kenapa membuatnya melayang. Gadis itu menunduk menyembunyikan senyum malu dari balik cadar putih transparannya.

 

Semua orang yang hadir tampak khusyuk mendengarkan rangkaian kata-kata pengantar pernikahan maupun doa sebelum melakukan pengambilan sumpah pernikahan dari kedua mempelai. Siwon dan Yoona merasakan perasaan yang campur aduk antara bahagia, takut, terharu, dan gugup selama mereka berdiri di atas altar. Mereka hanya sesekali bergantian melirik pasangannya.

 

Tiba saatnya pengucapan wedding vow dan pendeta meminta kedua mempelai saling berhadapan. Pelan-pelan Siwon mengambil tangan kanan Yoona, menggenggamnya penuh keyakinan dan menatap matanya penuh kehangatan.

 

“Saya Choi Siwon mengaku dan menyatakan disini, di hadapan Tuhan dan Pendeta serta jemaat yang hadir sebagai saksi, bahwa saya memilih Im Yoona sebagai istri yang sah. Dan saya sebagai suami yang setia akan tetap mengasihi dan melayani dia pada waktu suka maupun duka, pada waktu sehat maupun sakit serta akan memeliharanya dengan setia.”

 

Siwon tersenyum lega karena mampu melakukan tugasnya mengucapkan sumpah dengan mengikuti kata-kata sang pendeta dengan baik dan tanpa kesalahan. Ia merasakan bahwa tangan Yoona sedikit gemetar dalam genggamannya. Ia memandangi pengantin wanitanya itu dengan lembut agar Yoona mampu menghilangkan kegugupannya. Karena tinggal sedikit lagi semuanya akan selesai dan pernikahan mereka akan sah di mata Tuhan maupun para saksi yang hadir.

 

Ketika gilirannya tiba, Yoona menarik napasnya panjang dan menghela pelan-pelan. Ia menguatkan hatinya bahwa hal ini adalah saat yang dinanti olehnya dan yang diyakini akan membawanya pada kehidupan baru dengan harapan kebahagiaan.

“Saya Im Yoona mengaku dan menyatakan disini, di hadapan Tuhan dan Pendeta serta jemaat yang hadir sebagai saksi, bahwa saya memilih dan menerima Choi Siwon sebagai suami yang sah. Dan saya sebagai istri yang setia akan tetap mengasihi dan melayani dia pada waktu suka maupun duka, pada waktu sehat maupun sakit serta akan memeliharanya dengan setia.”

 

Tuan dan Nyonya Im menghela napas, mereka tak bisa menyembunyikan kelegaan begitu sang putri selesai mengucap sumpahnya. Sebelum ini mereka khawatir bila Yoona tiba-tiba akan menjadi kikuk, kaku, atau seketika menjadi idiot karena gugup hingga tak bisa mengikuti bimbingan pendeta. Nyonya Im pun meneteskan air mata haru menyaksikan putri bungsu kesayangannya telah mengesahkan diri menjadi milik orang lain.

 

Tahapan selanjutnya adalah pertukaran cincin. Siwon memang sudah mengungkapkan keinginan untuk menukar cincin pertunangannya dengan yang cincin pernikahan yang baru. Kali ini cincinnya merupakan desain khusus yang simple namun tak meninggalkan kesan mewah. Beberapa waktu lalu Yoona hanya bisa memutar bola mata saat Siwon menunjukkan desain unik cincin mereka, dan Yoona sama sekali tidak membantah atau menolak untuk hal yang satu ini.

 

“Dengan demikian kalian sudah sah menjadi suami istri. Pengantin pria silahkan mencium pengantin wanita…” ucap pendeta selesai mereka bertukar cincin.

Itu adalah saat dimana semua orang tersenyum menantikan momen bahagia pasangan yang baru sah menjadi suami istri berciuman di depan para tamu undangan. Jantung Yoona sudah berdegup kencang. Ini memang bukan kali pertama mereka berciuman atau bersentuhan secara intim. Tetapi suasana yang berbeda dengan keramaian puluhan pasang mata yang menyaksikan adegan ini membuat kegugupannya yang sempat hilang pun muncul kembali.

 

Siwon membuka cadar transparan yang menghalangi wajah Yoona dari pandangan maupun sentuhan kulitnya. Pandangan Siwon pun sedikit demi sedikit berubah dari hangat menjadi lebih intens dan dalam. Ia tersenyum separuh dan penuh arti dengan tatapan yang menggoda Yoona itu.

Yoona terkesiap pelan ketika menyadari bahwa ada sesuatu yang dipikirkan pria yang berdiri di hadapannya tersebut. Ciuman… ah, pasti Siwon sudah memikirkan hal yang lebih karena tidak ada sesuatu yang biasa jika mereka sudah bersentuhan apalagi berciuman. Mereka mungkin bukan sekali atau dua kali berciuman sebelum ini, namun setiap ciuman yang mereka lakukan akan memberi kesan yang lebih dan memiliki makna tersendiri. Kalau hanya berdua mungkin mereka bisa melakukan itu sesuka hati, tapi tidak jika ada banyak orang yang melihat.

Yah, Choi Siwon! Lakukanlah dengan normal layaknya pengantin yang berciuman! Teriak Yoona dalam hati memberikan peringatan kepada Siwon melalui isyarat mata yang sedikit menyipit.

Siwon tampaknya tak terpengaruh dengan peringatan halus dari Yoona. Ia malah mengedipkan sebelah matanya, lalu menarik tubuh Yoona dengan tangan kekarnya. Ia mendorong Yoona secara cepat ke bawah, menahan dengan lengan dan lututnya hingga posisi mereka seperti pasangan dansa yang baru saja menutup gerakan tariannya. Siwon pun akhirnya mencium Yoona, menyentuh bibirnya dengan memberi kecupan dan dilanjutkan dengan lumatan kecil yang berulang.

 

Tepuk tangan riuh dan kilatan blitz memeriahkan momen ciuman pengantin baru itu. Semua hadirin sangat terpukau dengan tingkah frontal sang pengantin pria yang menjadikan acara pernikahannya seperti scene dalam drama bergenre romance atau family.

 

Nyonya Im menggeleng-geleng dengan wajah bersemu merah. Entah kenapa ia merasa hal ini sedikit memalukan mesti bukan pada tahap ‘negatif’, hanya saja ia tak menyangka bahwa menantunya yang dikenal sebagai seorang pria gentle dan sangat santun ternyata memiliki sisi romantisme yang membuatnya sakit kepala.

 

“Wah… mereka sangat hot!” gerutu Jong Woon yang duduk sedikit gelisah di sebelah Yuri. “Tapi, apa mereka tak bisa menundanya sampai nanti malam? Pemandangan ini benar-benar membuatku iri!”

 

Yuri pun mencubit perut suaminya yang sudah berbicara hal pribadi di tengah situasi yang tidak tepat. “Aishh, Yeobo….

 

 

Selesai pemberkatan, pernikahan mereka dilanjutkan dengan resepsi yang diadakan di tempat yang sama. Banyak sekali tamu-tamu yang datang yang merupakan rekan bisnis dari kedua pihak keluarga. Tidak sedikit pula teman-teman mereka yang hadir. Semua anggota keluarga disibukkan untuk menemui para tamu atau sekedar memberi salam. Suasana ballroom saat itu sangat kondusif dan semakin menyenangkan dengan lantunan musik dari mini orchestra khusus.

 

Yoona bahkan sudah mengganti ball gown super mewahnya dengan sebuah gaun pengantin yang lebih sederhana dengan desain ala mermaid pada bagian bawah roknya. Ia bergerak lebih luwes dan nyaman meskipun ia berdansa dengan lantunan musik klasik waltz.

 

Yoona meneteskan air mata dikala ia berdansa dengan sang ayah, sebagai sebuah tradisi barat yang berarti mengantarkan sang putri kepada kehidupan baru bersama pria terpilih sebagai pendampingnya. Diiringi oleh instrumental dari lagu Dancing With My Father milik Luther Vandross, suasana jadi haru dan membuat siapapun terenyuh saat Yoona memeluk sang ayah dan meletakkan dagunya di bahu Tuan Im.

“Appa… Gomawo. Terima kasih untuk semua yang Appa lakukan selama ini untukku dalam membesarkanku. Aku tahu aku tidak akan pernah bisa membalasnya sampai kapanpun. Aku akan berusaha selalu menjadi putri yang baik. Aku sayang Appa…”

 

“Ne… Putri Appa yang cantik sekarang sudah dewasa dan sudah menikah. Jadilah istri yang baik dan selalu menyayangi suamimu. Kau akan selalu menjadi kebanggan Appa. I love you, dear..” Tuan Im mengelus-elus rambut Yoona penuh rasa sayang.

 

Tidak jauh dari ayah-anak itu, Siwon berdiri tersenyum memandangi keduanya. Dalam hati ia sangat bersyukur memiliki seorang istri yang sangat menyayangi keluarga, terutama orang tuanya. Tentu saja ia tahu itu sejak lama, jika tidak mana mungkin akan ada perjodohan ataupun pertemuan mereka. Mereka juga tidak akan berada pada situasi pernikahan yang sangat membahagiakan ini, jika saat itu mereka benar-benar memutuskan untuk kawin lari tanpa restu orang tua.

 

“Aku tidak terlalu bisa merasakan beratnya melepas seorang putri untuk dinikahi seorang pria, mungkin karena aku tidak punya anak perempuan.” Siwon menoleh pada suara yang tiba-tiba muncul di sebelahnya. Ternyata disana Tuan Choi –ayahnya- berdiri menghampirinya yang sedikit termenung. “Tapi sebagai ayah dari seorang putra, aku akan senantiasa mendoakan yang terbaik agar putraku selalu bahagia dengan pilihannya.” Tuan Choi menepuk bahu Siwon beberapa kali, memberikan dukungan dan semangat kepada putranya.

 

Abeoji…” lirih Siwon menatap ayahnya. Ia pun memeluk Tuan Choi erat, seperti apa yang layaknya dilakukan seorang anak kepada orang tua yang sangat disayanginya. “Abeoji Gomawoyo… Saranghae.

 

 

Segalanya terasa begitu indah, ketika dua hati menjadi satu dan mendapat dukungan dari semua pihak. Begitu pula dengan Siwon dan Yoona yang saling tersenyum. Mereka tidak mengerti dengan keadaan yang tiba-tiba membuat mereka malu saat saling berhadapan dan berdansa mengikuti irama Flightless Bird American Mouth.

“Kau lihat ini benar-benar sudah menjadi kenyataan. Bukankan semua seperti mimpi? Aku sangat bahagia dengan semua ini,” ujar Siwon ditengah-tengah kemesraan mereka ketika berdansa, menautkan jari dengan tubuh yang saling bersentuhan.

 

Ne… semuanya bukan mimpi. Aku tak lagi tertidur. Aku sudah melihat semuanya dengan mataku sendiri pada hari ini. Dan aku merasa sangat lega ketika semuanya berjalan dengan baik,” Yoona tersenyum dengan pipi merona, membuatnya semakin terlihat cantik di mata Siwon.. Dan setelah itu semua menjadi seperti kosong, hanya mereka berdua ada disana. Mereka seolah tak peduli pada keadaan sekitar karena mereka kembali berciuman – sebuah ciuman lembut yang mengungkapkan semua rasa hati.

 

“ehem…” seseorang berdehem menginterupsi scene romantis mereka. “kau terus saja memonopoli pengantin wanitanya, Siwon-ah. Aku kan juga ingin berdansa dengannya.”

“Yak, Lee Donghae kau mengganggu saja,” gerutu Siwon pada Donghae yang tanpa pikir panjang sudah mengulurkan tangannya untuk mengajak Yoona berdansa dengannya.

Donghae hanya memasang wajah masa bodohnya dengan keluhan Siwon dan membuat pria itu mendengus sebal. “Ya sudah, aku mengijinkanmu berdansa dengan istriku. Tapi awas kalau kau berani macam-macam!”

 

“Ck, anggap saja aku sedang mengobati patah hatiku,” ejek Donghae seraya menggamit lengan Yoona dan menyentuh punggungnya.

Dengan bibir yang mengerucut Siwon meninggalkan keduanya untuk berdansa. Sebenarnya Siwon sama sekali tidak ikhlas Donghae mengganggu saat-saat kebersamaannya dengan Yoona, tetapi mengingat hari ini adalah hari pernikahannya maka ia pun ingin berbagi kebahagiaan terutama dengan sahabat baik yang dulu pernah kecewa karenanya.

 

“Kau terlihat sangat bahagia,” Donghae melihat sumringah pada wajah Yoona dan menyimpulkan hal tersebut. “Kau pasti sangat mencintai suamimu, aku iri sekali padanya.” Wajah tampan Donghae terlihat lucu di mata Yoona karena pria itu menggerutu seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.

 

“Maafkan aku, Oppa. Aku tak pernah punya niat menyakiti perasaan siapapun. Sekali lagi maaf jika Oppa kecewa dan marah padaku. Tapi, semua orang pasti sulit mengendalikan perasaan mereka, terutama jika berkaitan dengan cinta kan?”

 

Donghae tersenyum kecut dan mengangguk. Yoona sama sekali tidak salah jika mengatakan hal itu. Begitu pula dirinya, ia juga tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa atau sakit hati ketika ia harus menerima kenyataan bahwa Yoona lebih memilih Siwon dibanding dirinya.

“Kau tahu, kalau saja pria yang kau pilih bukan Siwon maka aku sudah membawamu lari dan pergi jauh untuk kumiliki. Tapi sayangnya, kau membuatku tak punya pilihan selain membunuh perasaanku padamu dengan memilih sahabat yang sangat kusayangi,” kata Donghae tanpa nada sinis sedikitpun.

 

Rasa bersalah sekaligus tidak nyaman dirasakan oleh Yoona karena kata-kata Donghae. Ia paham jika Donghae tidak sedikitpun bersikap antagonis. Hanya semua yang sudah terjadi tidak akan begitu saja terlupakan apalagi dalam waktu singkat.

“Kalau begitu Oppa sudah bisa melupakanku, kan? Apa Oppa menjalin hubungan dengan cinta lama, Jessica mungkin?”

 

“Aish… wanita itu! Apa kau tidak lihat di seberang sana dia sedang bersama seseorang?” Yoona mengikuti arah pandangan Donghae pada sepasang pria dan wanita yang tampak mesra saling rangkul.

“Pria itu—“

“Dia tunangan Jessica,” potong Donghae singkat.

“Aku pikir Oppa kembali pada Jessica, ternyata dia sudah punya tunangan. Mianhae…” sesal Yoona.

“Sudahlah, aku sudah tidak punya perasaan apa-apa pada Jessica. Lagi pula, sudah seharusnya aku mencari cinta yang lain. Mungkin dengan penulis cerita ini… “ (Kyaaa… Donghae Oppa, Love U Love U so much!! Come here Baby, come to Mama *misskangen muncul sambil lambai2 tangan ala miss universe dan kasih kecup jauh buat Donghae* kkk~)

 

Ne… sudah seharusnya begitu, Oppa. Aku juga ingin kau bahagia.” Ujar Yoona tersenyum tulus pada Donghae

 

Satu per satu tamu datang menghampiri kedua mempelai, memberikan ucapan selamat dan doa untuk kelanggengan dan kebahagiaan pernikahan mereka. Yoona lebih banyak mengangguk dan tersenyum dari pada berbicara panjang lebar, karena ia tak banyak mengenal sebagian besar undangan terutama rekan bisnis ayahnya ataupun kolega Siwon. Mulai dari sini Yoona sadar kalau dirinya harus membiasakan diri untuk mengingat orang-orang penting dari perusahaan baik perusahaan ayahnya ataupun Hyundai group.

 

Ekspresi wajah Yoona berubah-ubah, terutama jika orang-orang yang dikenalnya yang datang menghampiri termasuk beberapa orang yang mungkin tidak disukainya atau sangat ingin dihindarinya. Seperti seorang wanita dengan dandanan cukup tebal datang menghampiri mereka.

“Aku ucapkan selamat untuk pernikahan kalian. Kau benar-benar sudah membuatku patah hati, Siwon Oppa.” Ucapnya penuh percaya diri.

Yoona mendengus dengan pernyataan wanita itu, siapa lagi kalau bukan Han Young Ran. Wanita yang sangat ambisi dan sangat yakin bahwa ia adalah pasangan paling tepat bagi seorang Choi Siwon. Bahkan Yoona pernah berkelahi dengannya hanya karena kesal dengan sikap berlebihan yang ditunjukkan wanita itu pada suaminya.

 

“Dan kau, Yoona-ssi. Selamat karena kau bisa mendapatkan pria sempurna seperti Siwon Oppa. Padahal aku merasa kau tidak lebih baik dariku, kau hanya lebih beruntung saja.”

 

What? You are better than me? Oh, it’s just in your mind, bitch! Umpat Yoona dalam hati. Meskipun merasa dongkol ia jelas tak mau meledak dengan mencakar-cakar wajah Young Ran disini –di acara pernikahannya sendiri.

“Ouch… terima kasih, Young Ran-ssi. Aku anggap itu pujian tulus darimu.” Yoona balik menyerang secara halus dan berhasil membuat Young Ran berlalu dengan wajah masam. Siwon hanya menahan tawanya dan tidak berkomentar apapun pada kejadian tadi.

 

Tidak berhenti disitu, muncul lagi satu wanita lain yang beberapa hari lalu sempat hampir mengobarkan perang dingin antara Yoona dan Siwon, yaitu Park Gyuri. Wanita itu terlihat begitu anggun, berjalan melewati beberpa tamu menuju tempat Siwon dan Yoona berada. Tentu saja ia tak lepas dari pandangan para pria yang terkagum-kagum pada kecantikannya.

 

Ya ampun, yang satu sudah berhasil dibasmi kini muncul lagi yang lain. Yoona mengomel tak jelas tanpa suara ketika Gyuri telah sampai di hadapan mereka.

Gyuri bersikap sangat manis dengan memberi salam, senyuman, dan ucapan selamat. Siwon menyambutnya cukup baik, bersikap biasa dan pura-pura antusias dengan kedatangan Gyuri karena ia tahu persis bahwa istrinya tidak menyukai wanita yang berprofesi sebagai manager pada sebuah travel agency itu.

 

“Semoga kalian berbahagia.” Ucap Gyuri datar. “Aku merasa tidak enak dengan kejadian beberapa hari yang terutama padamu, Yoona-ssi. Karena itu aku minta maaf dan aku harap kau tidak lagi tersinggung.”

 

Siwon menyenggol lengan Yoona karena sedari tadi istrinya itu mematung dan tak merespon apapun perkataan Gyuri. Yoona melirik Siwon sekilas sebelum mengeluarkan suaranya untuk menjawab Gyuri.

Ne, anggap saja semuanya salah paham. Tidak perlu diperpanjang lagi. Terima kasih kau sudah datang ke acara pernikahan kami, Gyuri-ssi.”

 

Selepas kepergian Gyuri, Yoona menghela napas panjang. Menghadapi dua wanita yang merupakan ‘fans berat’ suaminya itu terasa sangat melelahkan walau ia hanya diam dan mengomel dalam hati, bukannya mencak-mencak penuh emosi dengan menarik rambut kedua wanita itu.

 

“Haruskah aku menjadi seorang ahjumma yang cerewet dan menakutkan untuk mengusir para hama dan kuman yang ingin menempel padamu, Oppa?”

 

Siwon tergelak mendengar pernyataan Yoona yang berbicara dengan begitu polos namun tegas. Siwon membelai rambut pengantinnya itu dan mendaratkan sebuah kecupan ringan di dahi.

“Kau tidak perlu bersikap se-ekstrim itu untuk menunjukkan kecemburuanmu, Nyonya Choi. Bisa jadi aku takut jika memiliki istri seorang Ahjumma yang galak.”

 

Yoona mencibir, lagi-lagi Siwon berhasil menggodanya lebih tepatnya mengejek dan menyindirnya. “Aku hanya sedikit kesal kenapa sedari tadi fangirls mu terus yang muncul. Dimana para fanboys ku?” Yoona melongok ke kanan dan kiri mencari seseorang yang mungkin bisa digunakannya untuk membuat Siwon cemburu.

 

“Apa berdansa dengan Donghae belum cukup? Memangnya kau punya kenalan lain yang kau sebut fanboys itu? Aku tidak yakin…”

 

“Ish… kau belum lihat saja mantan kekasihku!” tantang Yoona tanpa pikir panjang, berusaha mempermainkan Siwon untuk melihat reaksi kecemburuannya.

 

“kalau yang kau maksud Baekhyun sebagai ‘mantan kekasih’, itu benar-benar lelucon Sayang!” sekali lagi Siwon terkikik karena ia membayangkan wajah cemas Baekhyun tiap kali harus berhadapan dengannya karena Yoona yang terus memaksa untuk berlakon sebagai kekasih bohongan.

 

Yoona mendengus lagi. Siwon sudah merusak mood yang sedang on untuk berbuat jahil kepada pria itu dengan menjatuhkan egonya ke lantai dengan menyebut-nyebut nama Baekhyun.

 

Hanya berselang beberapa tamu yang menyapa mereka, lalu nama terakhir yang disebut itu pun muncul dengan senyuman lebarnya bersama dengan seorang pria yang lebih tinggi darinya. Pria yang terlihat tampan dan cute dalam setelan jas berwarna cokelat tua itu tersenyum kikuk dan pandangannya terus terarah pada Yoona.

 

Noona, Chukkae… aku tak mengira kau akan menikah secepat ini,” ucap pria muda itu dengan lancar walau ada nada sedikit sedih, walau tak membuat wajah imutnya berkurang nilai.

 

“Eung?” Yoona speechless, tidak mengira akan muncul seseorang yang membuatnya terkenang akan sesuatu dari masa lalunya. Pria yang datang bersama Baekhyun itu membuat Yoona kaget dan tak percaya bisa bertemu lagi dengannya.

 

“Yoona, katakan sesuatu pada Chanyeol. Aku sudah repot-repot mengajaknya kesini untuk bertemu denganmu. Apa kau tak merindukannya? Kalian sudah lama sekali tidak bertemu…” Baekhyun ikut nimbrung untuk memecah keheningan yang tercipta di antara mereka.

 

“Sayang, siapa pemuda ini?”

“eumm… dia… dia…”

“Ah, Hyung… dia ini Park Chanyeol, mantan kekasih Yoona sewaktu SMA dulu. Chanyeol baru saja kembali dari Australia. Katanya dia ingin mengucapkan selamat untuk pernikahan kalian secara langsung.” Baekhyun mengambil alih tindakan sebagai seorang juru bicara bagi Yoona maupun Chanyeol.

 

“Mantan kekasih? Oh, kebetulan sekali kami baru saja membahas soal mantan kekasih istriku dan tak kusangka kalian muncul disini. Benar-benar takdir tak terduga!” ujar Siwon tenang. Ia bersikap sangat biasa, seperti tak mencurigai sesuatu apapun rahasia yang mungkin ada di antara mereka.

 

Mianhae hyung… aku tidak ada maksud apapun. Aku sungguh turut bahagia dengan pernikahan kalian, terutama untuk Noona. Semoga kalian selalu rukun dan cepat dikaruniai momongan.” Chanyeol mengulurkan satu tangannya bermaksud memberikan salam resminya kepada Yoona.

 

Yoona akhirnya menyambut uluran tangan Chanyeol dengan gerakan seperti robot. Situasi yang canggung itu sangat sulit baginya untuk berekspresi maupun berbicara panjang lebar untuk menghangatkan suasana.

Gomawo.. Chanyeol-ah. Kelihatannya kau lebih tampan dan tubuhmu lebih berisi,” setelah berbicara Yoona menjepit lidahnya dengan gigi dan mulut yang terkatup.

Kamsahamida, Noona…” senyum Chanyeol tampak sangat ceria dengan satu kalimat pujian dari Yoona. Benar-benar pemuda yang sulit diprediksi. “kalau begitu aku permisi…”

 

Chanyeol berjalan mendahului Baekhyun dan meninggalkan pasangan pengantin itu dalam diam. Baekhyun dengan cengiran khasnya tidak sedikitpun memperlihatkan kecemasannya bertemu dengan Siwon. Yoona menyipitkan matanya, menatap curiga pada Baekhyun dan berpikir kalau sepupunya itu sudah berkonspirasi memunculkan Chanyeol ke depan suaminya. Ini pasti akal-akalan Baekhyun untuk balas dendam padanya karena selama ini selalu menindasnya.

“Yak, Bacon! Beraninya kau melakukan itu!”

 

Baekhyun menjulurkan lidahnya dan menyeringai penuh makna untuk mengejek Yoona. Ia tahu pasti Yoona merasa kaget dengan kemunculan tiba-tiba mantan kekasihnya yang merupakan teman Baekhyun itu. Kemudian Baekhyun kabur menghindari amukan Yoona jika ia tetap bertahan disana.

 

“Jadi Park Chanyeol tadi itu mantan kekasihmu? Dia memanggilmu ‘Noona’?” tanya Siwon mengakhiri tatapan tajam Yoona pada Baekhyun. “Itu… mantan kekasih yang kau banggakan?” Suara Siwon kemudian berubah menjadi gelak tawa.

“Jadi selama ini pengalamanmu hanya memacari lelaki yang lebih muda darimu? Tak kusangka kau doyan dengan berondong…” Siwon melanjutkan tawanya yang cekikikan seolah lupa kalau mereka sedang berada di tengah-tengah kerumunan tamu undangan.

 

Yoona meringis sebal karena Siwon sudah keterlaluan membiarkannya menanggung malu sendirian untuk menghadapi tatapan tamu yang mengarah pada pengantin pria yang entah ada angin atau hujan badai apa tertawa terpingkal-pingkal.

 

 

Pesta telah usai dan kedua mempelai akan menghabiskan malam pertama mereka sebagai suami isteri di kamar Hotel yang telah disiapkan khusus bagi Direktur Hyundai itu. Seluruh keluarga merasa sangat bersyukur karena hajatan besar ini berlangsung lancar dan tak ada masalah sedikitpun. Terakhir kali sebelum mereka membiarkan pasangan pengantin pergi ke kamarnya, sudah pasti godaan maupun semangat dilontarkan keluarga bagi Siwon dan Yoona.

 

Di kamar, Yoona duduk di depan meja riasnya memandangi suaminya yang tengah membaringkan tubuh di atas ranjang king size masih mengenakan tuksedo hitamnya melalui cermin rias. Pria itu, maksudnya suaminya itu… tadi nyaris saja membuat kekacauan sendiri dengan tertawa terbahak-bahak di depan para tamu. Yoona kesal sampai-sampai ingin sekali menggulung pria itu ke dalam selimut tebal hingga ia akan aman dari rayuan gombal suaminya untuk satu malam ini.

 

“Oppa tahu… tadi Oppa hampir membuatku gila karena berlaku seperti orang sinting yang tertawa sendiri,” Yoona tak bisa menahan omelannya. Wajah cemberutnya terpantul di cermin dan Siwon dengan jelas dapat melihatnya.

 

“Aku tertawa karena ekspresimu tadi sangat lucu, Sayang. Kau seperti menahan sesuatu antara senang, gugup, malu, dan yah.. terkejut saat melihat mantan kekasihmu yang berondong tadi… siapa namanya??” Siwon mencoba mengingat-ingat nama pemuda itu. “Ah… iya, Park Chanyeol, hahahaha…”

 

“Oppa menertawaiku sampai seperti itu? Apa Oppa tidak merasa cemburu karena aku bertemu lagi dengan mantan kekasihku?”

“Cemburu? Tidak, untuk apa aku cemburu pada anak ingusan itu. Aku bukan type pria yang suka mengumbar kecemburuan, Sayang…” jawab Siwon dengan riangnya.

 

Yoona mencibir karena Siwon sepertinya melupakan sesuatu yang pernah terjadi, “Cih, bukannya kau pernah cemburu pada Baekhyun sampai mengancamnya tidak boleh menemuiku?”

 

Skak! Siwon tertegun dan terkecoh dengan kata-katanya sendiri. Ia diam dan mencoba berpikir cepat untuk menjawab sindiran istrinya. “Itu… itu aku hanya bercanda. Kau tahu sendiri kan Baekhyun itu sangat mudah diancam dan ditakut-takuti. Dia anak yang menyenangkan untuk dipermainkan.”

 

“Alasan… kalau sudah kalah mengaku saja!” gerutu Yoona pelan namun Siwon mendengarnya dan jadi ikut bersungut-sungut dalam hati.

“Tapi… Chanyeol tadi… sekarang ia terlihat lebih cute dan tampan, benar-benar pemuda manis!” Yoona membayangkan wajah Chanyeol tadi dengan maksud untuk memanas-manasi suaminya yang sok cuek dengan kemunculan Chanyeol tadi. Yoona tersenyum-senyum sendiri dengan riang, sementara tangannya berusaha meraih resleting gaunnya yang terletak di belakang punggung.

 

Siwon merasa tidak senang karena wanita yang baru dinikahinya beberapa jam yang lalu itu malah membayangkan pria lain di dalam kamar pengantinnya. “Hei Choi Yoona, ingatlah kau itu sudah memiliki suami yaitu aku yang jelas-jelas masih jauuuuhhh lebih bagus dari pada Park Chanyeol bocah ingusan itu. Apa yang kau banggakan darinya, telinganya saja lebar begitu!”

 

“Aish.. Oppa berhentilah mengomel dan membangga-banggakan dirimu sendiri. Lebih baik bantu aku membuka resleting ini, sepertinya menyangkut susah sekali membukanya,” Yoona yang tampak kesulitan dengan gaunnya itu menginterupsi bahasan Siwon soal Chanyeol.

 

Siwon mengalihkan pandangannya pada punggung Yoona dan berjalan mendekatinya. “Kalau begitu sini biar aku bereskan, sekalian saja aku lepaskan semua,” ucap Siwon penuh semangat.

 

Serta merta tubuh Yoona menegang, ia sudah menangkap sinyal-sinyal godaan dari Siwon. Suaminya sudah selangkah lebih maju untuk merayunya. Ia menoleh dan mengubah posisi tubuhnya, yang tadinya membelakangi Siwon kini menjadi berhadapan dengan Siwon. “tidak usah, aku pasti bisa membukanya sendiri!”

 

“Bukannya tadi kau tampak kesulitan? Kemarilah…” Siwon menyentuh bahu Yoona dan berusaha memutar tubuh Yoona agar ia dapat menggapai resleting di punggung istrinya itu.

 

Shireo!!! Aku bisa sendiri. Sekarang aku mau mandi dulu..” Dengan cepat Yoona memanfaatkan kelengahan Siwon untuk kabur dan masuk ke kamar mandi sendiri. Ia mengunci pintunya dan bersembunyi dengan cukup aman dari kemungkinan serangan suaminya.

 

“Yak!! Jangan bersembunyi, istriku sayang!”

 

 

^To Be Continued^

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

94 Komentar

  1. amalia an

     /  Desember 25, 2014

    Hahaha. …pasangan pengantin baru ini bener2 lucu plus kocak.
    Lanjutanx ditunggu.
    Semangat bwt penulisx……..

    Balas
  2. tiffany

     /  Februari 7, 2015

    Hahahaha…lucuuu..next please…

    Balas
  3. anggre debora

     /  Juli 6, 2015

    Akhirnya mereka menikah juga …

    Balas
  4. Finally..siwon dan yoona sah jadi suami istri. What ‘s the next author?

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: