[OS’s Project YoonWonited Anniv.] Red Tulip

red tulip1

[OS] Red Tulip

Author : Choi Ara

Main Cast : Im Yoona, Choi Siwon

Gendre : Romance, Sad

Rating : 17

-||-||-||-||-||-||-

Ini sudah jam empat sore, tapi lapangan yang termasuk dalam wilayah Kyunghee University itu masih saja ramai dengan kegiatan para mahasiswa-mahasiswi club tenis yang sedang berlatih. Dideretan bangku penonton baris paling depan, terdapat sesosok gadis bekuncir kuda sedang serius dengan kamera yang tergantung dilehernya.

Jepret jepret

Gadis itu masih terus saja menekan tombol shutter pada kamera DSLRnya yang menfokuskan pada sebuah objek, tepatnya pada seorang pria tinggi berparas tampan ditengah lapangan sana. Sesekali gadis itu tertawa kecil saat melihat ekspresi –yang menurutnya- lucu dari pria itu yang jarang sekali diperlihatkan padanya.

“Ya! Lee Taemin, bukan seperti itu! Buka kakimu selebar bahu saja. Tidak boleh lebih!” Yoona bisa mendengar pria itu mengoceh pada pemuda yang sedari tadi diajarinya dan melihat ekspresi pria itu yang menahan kesal.

Jepret

Dengan cepat gadis itu menekan tombol shutter lagi. Satu ekspresi lain sudah berhasil diabadikannya. Gadis itu tersenyum puas. Yoona geleng-geleng kepala saat melihat pemuda bernama Lee Taemin itu masih saja salah melakukan gerakan melempar bola tenis dan membuat pria yang mengajarinya kesal lagi. Padahal itu adalah pelajaran dasar bermain tenis. Uh.., dia jadi gemas sendiri dan tangannya ingin sekali melemparkan sneakersnya pada kepala bocah itu karena membuat Choi Siwon sedari tadi naik darah. Tapi mungkin dia juga harus berterima kasih pada pemuda itu karena berhasil memunculkan ekspresi lain diwajah Siwon yang biasanya selalu datar.

“Mana botol minumku?” Yoona menoleh kesebelah kanannya dengan terkejut saat mendengar suara berat itu. Huh~ tiba-tiba saja dia sudah berada disampingnya. Mengagetkan saja!

“Eh? Oppa sudah selesai?” Gadis itu bertanya heran dan tetap menyerahkan botol minum yang sedari tadi berada dipangkuannya pada Siwon. Pria itu mengangguk dan meminum air mineralnya hingga setengah.

“Aku sudah lelah mengajarinya terus” Siwon berucap pendek sambil mengibas-ngibaskan kaos olahraganya yang sudah basah oleh keringat. Yoona mengambil handuk kecil yang ada di tas selempangannya dan membantu mengusap wajah Siwon yang berminyak.

“Ya… itukan sudah jadi resiko menjadi senior yang hebat bermain tenis. Seharusnya Oppa bangga”

“Aku tau. Tapi dia susah sekali diajari. Kenapa dia ikut klub tenis kalau tidak bisa bermain tenis” Siwon mencibir dan mengambil kamera Yoona yang tergeletak ditengah-tengah mereka. Tangan besar lelaki itu terus memindah-mindah gambar dan matanya fokus memperhatikan gambar-gambar yang ditampilkan dilayar kamera itu. Pergerakan tangan Siwon tiba-tiba terhenti. Dahinya berkerut. Dilayar datar kamera itu terdapat objek sebuah bunga berwarna merah terang. Tapi bukan itu yang membuat dirinya heran. Saat tangannya kembali menggeser layar berkali-kali untuk menampilkan gambar selanjutnya, objeknya tetap sama. Bunga tulip merah. Hanya sudut pengambilan gambarnya saja yang berbeda. “Sejak kapan kau suka memotret bunga ini?” Tanya Siwon penasaran. Setahunya Yoona bukanlah gadis yang menyukai bunga. Tapi kenapa dikameranya banyak sekali gambar dengan objek bunga tulip merah.

“Ah… itu… Entah kenapa akhir-akhir ini aku tertarik sekali dan suka memotret bunga tulip merah. Itu adalah satu-satunya bunga yang aku suka. Kata Nayeon, bunga itu juga melambangkan kepercayaan dan deklarasi cinta.” Jelas Yoona panjang lebar. Gadis itu tersenyum manis kearah Siwon.

“Satu-satunya bunga yang kau suka? Ckckck…aku heran sekali padamu Yoona-yah. Setahuku semua gadis menyukai bunga. Sementara kau hanya menyukai satu jenis bunga sedangkan yang lainnya tidak. Dasar gadis aneh” Siwon mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut Yoona sambil menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya. Pria itu lalu melirik kearah jam tangannya. “Yaa… ini sudah sore. Aku akan berganti baju lalu aku akan mengantarmu pulang” ucapnya sambil mengangkat tas selampangan yang berisi baju gantinya dan berjalan menuju kamar mandi.

-||-||-||-||-||-||-

Mobil Quartoporte merah cabai keluaran terbaru dari Ferarri itu berhenti didepan gerbang sebuah rumah mewah saat sudah petang. Yoona keluar dari pintu samping kemudi, diikuti Siwon setelahnya.

“Yoona-ya, lusa aku dan teman-temanku akan kepantai untuk mengisi liburan musim panas bersama. Kau ikutlah dengan kami. Jika perlu ajak juga temanmu yang aneh itu-“

“Namanya Yoon Nayeon” Yoona memotong ucapan pria itu cepat. Cih, selalu saja seperti  itu. Dasar menyebalkan!

“Ya, maksudku Yoon Nayeon” Ulang Siwon sambil mendengus. “Kau ikut kan?” lanjutnya.

“Apakah itu tidak menggangu? Maksudku- itukan acara liburan kalian. Jika aku dan Nayeon ikut-“

“Tidak. Tentu saja tidak. Berhentilah merasa minder dan berpikiran negative. Mereka semua temanku, itu berarti temanmu juga. Begitu pula sebaliknya. Jadi kau harus ikut. Oke? Bawalah beberapa pakaian dan baju renangmu. Ah.. jangan lupa bawa jaket pula. Ini memang musim panas, tapi jika malam disana akan sangat dingin. Kita akan bersenang-senang disana selama beberapa hari. Tidak ada bantahan!” Ucap Siwon panjang lebar dan menekan setiap kata dalam kalimat terakhir saat melihat mulut Yoona yang hendak membuka untuk protes.

Yoona menghembuskan napas. “Baiklah” Putusnya kemudian.

“Bagus. Kalau begitu masuklah.”

“Hmm, hati-hati dijalan”

-||-||-||-||-||-||-

Yoona adalah gadis biasa. Yang sehari-harinya hanya berpenampilan dengan celana jeans panjang serta kemeja atau kaos longar sebagai atasannya. Jangan lupa dengan rambut yang selalu dikuncir  kuda juga kacamata minus yang selalu bertengger di hidung mancungnya.

Sebenarnya itu terlalu keterlaluan untuk menyebut Yoona sebagai gadis biasa. Gadis itu cantik, kalau boleh jujur. Dia memiliki mata lebar yang indah, hidung mungil yang mancung, bibir tipis yang menggoda, rambut panjang yang ikal, tubuh yang semampai, juga kaya.

Tapi semua keindahan dalam dirinya tertutupi dengan penampilannya yang sederhana dan sifatnya yang tertutup dan suka minder.

Yoona tidak pandai bergaul, sejauh ini dia hanya memiliki satu teman akrab. Namanya Yoon Nayeon. Dia juga selalu minder dan merasa dirinya paling buruk diantara semuanya. Perempuan yang tidak peka dan selalu berpikiran negative.

 

Dia bahkan bingung mengapa dia sampai bisa berpacaran dengan Choi Siwon yang notabennya adalah pangeran kampus. Pria itu digilai banyak gadis dikampus mereka, pastinya ada yang lebih cantik dan modis dari Yoona. Tapi kenapa pria itu justru memilih dirinya? Sampai saat ini, Yoona belum mendapat jawaban dari pertanyaan itu. Selain hubungan mereka yang baru jalan dua bulan, dia juga tidak mempunyai cukup keberanian untuk melayangkan pertanyaan seperti itu.

-||-||-||-||-||-||-

“Kyaa…!! Ke pantai Jungmun?! Woah.. itu hebat sekali. Kapan kita akan kesana?” Yoon Nayeon langsung menjerit histeris saat sahabatnya itu mengabari kalau mereka akan liburan ke pantai Jungmun, dipulau Jeju.

“Lusa” Jawab Yoona pendek. Gadis itu sedang serius dengan novel tebal dipangkuannya.

“Eyy… lusa? Kenapa mendadak sekali? Ah, aku harus cepat-cepat mencatat semua keperluan yang aku butuhkan agar besok bisa langsung siap.” Nayeon berucap dengan berapi-api dan bersiap-siap dengan notes ditangannya. Yoona hanya geleng-geleng kepala melihat perilaku sahabatnya itu, lalu kembali focus pada novelnya. Nayeon memang selalu berlebihan.

“Hmm, kira-kira apa yang kita butuhkan disana? Aha, baju renang! Yup, itu barang utama yang harus kubawa. Lalu apalagi? Ah ya, baju ganti, topi pantai, kacamata hitam, sweater, tenda, senter, kemudian-“

“Yaa… Nayeon-ah, kau pikir kita akan kemana? Kita hanya akan pergi ke pantai dan menginap di villa Siwon Oppa. Tidak usah bawa yang aneh-aneh!” Yoona memotong racauan Nayeon yang tak jelas. Dia merasa terganggu karena ocehan Nayeon sedari tadi membuat konsentrasinya buyar.

“Oh.. jadi kita akan menginap di villa Siwon?” Yoona mengangguk. “Kupikir kita akan berkemah di samping pantai. Itu pasti asyik sekali. Tapi setelah kupikir-pikir lagi.. itu agak menyeramkan juga.”

Yoona hanya diam. Kembali tenggelam dalam novelnya.

“Im Yoona!”

“Ne”

“Ayo temani aku ke kafetaria. Aku lapar” Mata Yoona membelalak. Baru saja Nayeon bercerita panjang lebar tentang mereka yang akan pergi ke Jeju. Tapi mendadak saja Nayeon malah mengajaknya pergi ke kafetaria. Yoona menatap miris pada novelnya yang baru tebaca lima halaman. Tapi dia diam saja saat tangan putih Nayeon menariknya berdiri.

Ouh… mungkin ucapan Siwon waktu itu memang benar. Yoon Nayeon adalah gadis yang aneh.

-||-||-||-||-||-||-

Kedua gadis itu turun dari sebuah mobil BMW mewah, lalu berjalan menuju sebuah rumah bertingkat yang sangat besar didepan mereka. Salah satu dari mereka yang berkuncir kuda terlihat ragu saat melihat beberapa mobil sport mewah terparkir didepan rumah itu, di antara mobil yang tadi mereka naiki. Nyalinya menciut.

“Nayeon-ah, kau.. yakin?” Bisik gadis berkuncir itu pada seseorang disampingnya.

“Apa maksudmu, Yoona-yah?” Nayeon mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan aneh dari Yoona –gadis berkuncir itu-.

“Eumm.., inikan sebenarnya liburan teman-temannya Siwon Oppa. Jika kita bergabung… apakah tidak mengangu?” Yoona menjawab dengan ragu-ragu.

Tuk. Nayeon menyentil pelan dahi Yoona yang tidak tertutup poni. “Kau ini bicara apa sih?! Dia itu namjachingumu. Jadi wajar-wajar saja jika dia mengajak pacarnya sendiri liburan bersama teman-temannya. Berhentilah merasa seolah kau orang yang paling aneh didunia. Tidak ada yang salah pada dirimu, Yoona-yah. Jadi, percaya dirilah mulai sekarang. Kau itu cantik, tinggi, kaya lagi. Kekuranganmu hanya pada sifatmu yang suka berpikiran negative.” Nayeon memulai perkuliahan singkatnya saat mereka sudah sampai didepan pintu kayu berukir rumit.

Terkadang dia muak juga dengan sikap Yoona yang satu ini. Gadis itu sempurna menurutnya. Itu bukan suatu kebohongan, tapi itu adalah benar adanya. Mungkin banyak gadis diluaran sana yang iri pada mata lebar Yoona yang selalu berbinar dan jernih. Atau pada tubuhnya yang terbentuk dan seksi. Atau juga pada semua yang ada pada diri seorang Im Yoona. Tapi kenapa dia tidak menyadari bahwa dirinya itu bagai angsa yang cantik?

Yoona hanya terdiam dan menunduk. Nayeon menghela napas, lalu menarik sebelah lengan Yoona untuk masuk kedalam rumah Siwon. “Kajja”

 

 

Saat mereka baru selangkah melewati pintu utama, keduanya langsung dikejutkan dengan apa yang mereka lihat setelahnya. Ternyata sudah banyak sekali orang didalam. Mungkin sekitar sembilan orang. Ternyata teman Siwon Oppa banyak juga. Batin Yoona dalam hati.

Suasana yang tadinya ramai mendadak hening. Dan semua orang yang tadi sibuk berbicara berganti memperhatikan kedua orang yang baru masuk. Yoona dengan kikuk berjalan mengikuti Nayeon yang memilih sofa yang paling sepi penduduk(?) dan menghempaskan pantatnya kesana.

Yoona mengedarkan pandangan kesekeliling ruangan. Ruang tamu itu memang sangat luas. Dan Yoona baru menemukan Siwon sedang menuruni tangga sambil mengusap rambutnya yang kelihatan basah dengan handuk kecil. Astaga… apakah pria itu baru saja habis mandi? Yoona kira dialah yang paling terlambat tadi, tapi ternyata… sang pemilik rumah bahkan baru selesai mandi. -_-

Siwon sudah melihat Yoona. Pria itu langsung mendatangi gadis itu dan menariknya bangkit. Yoona yang bingung hanya diam saja saat Siwon membawanya ketengah-tengah kerumunan teman Siwon dan mengenalkan dirinya pada mereka.

“Dia adalah pacarku, Im Yoona. Perkenalkan diri kalian padanya” Siwon berucap tanpa basa-basi dan satu persatu temannyapun bangkit untuk menyapa Yoona.

“Annyeong Yoona-sshi, aku Leeteuk” Pria itu menjulurkan tangannya dan dibalas Yoona dengan canggung. Lelaki itu kelihatan ramah dan manis karena lesung pipi kecilnya.

“Pacar Siwon, ya? Kau cantik sekali Yoona-yah. Oh ya, namaku Heechul, Kim Heechul” Dia adalah pria yang paling ramah, dan agak sok kenal.

“Ah ne, Heechul-sshi. Namaku Yoona” Yoona menyahut dengan kikuk. Tapi lelaki bernama Heechul itu mengeleng, membuat Yoona bingung.

“Tidak, jangan panggil aku seperti itu. Panggil aku ‘Oppa’ arasseo?!”

“Ah ye, Oppa” Yoona melirik Siwon yang kelihatan mendengus.

 

Teman Siwon sangat banyak. Ada Leeteuk dan pacarnya Lee Hanna, Heechul, Donghae dan Jung Yeonjo –pacarnya-, Kyuhyun, Eunhyuk, dan Tiffany juga Yuri. Mereka juga menyapa Nayeon. Mereka semua baik pada Yoona. Kecuali dengan kedua teman Yeonjo –Tiffany dan Yuri-, Yoona merasa mereka sempat memandangnya dengan tatapan tidak suka.

-||-||-||-||-||-||-

“Kau lelah?”  Siwon mencoba meraih kepala Yoona untuk disenderkan kebahunya. Mereka sudah sampai di Jeju Island setengah jam lalu. Dan sekarang masih berada didalam limousine milik Siwon untuk sampai ke villa. Yoona menggeleng, walau kepalanya yang sudah berkali-kali tertunduk tidak dapat dibohongi. “Tidur saja, kita masih punya beberapa waktu untuk sampai ke villa.”

Yoona akhirnya menyerah. Dia menumpukan kepalanya pada bahu kokoh Siwon, dan tertidur  pulas tak lama kemudian. Lagipula dimobil ini hanya ada dirinya, Siwon, dan juga supir didepan karena Nayeon –entah bagaimana ceritanya- malah menumpang di mobil Hanna dan Leeteuk.

Drrt Drrt…

Siwon merasakan handphonenya bergetar dan terpampang foto seorang gadis dilayar sentuhnya. Pria itu tersenyum dan menggeser tobol answer lalu meletakkan benda canggih itu ditelinga.

“Wae? Kau sudah memberitahunya?”

“…”

“Hmm. Baguslah.”

“…”

“Mwoya? Cih, apa aku harus mengucapkannya disini?”

“…”

“Ish.. arraseo arraseo. Aku mencintaimu, maukah kau menikah denganku? Puas?!”

Siwon langsung mengakhiri pembicaraan setelah mengucapkan kalimat yang menurutnya menggelikan itu. Tapi kemudian dia tertawa kecil. Lelaki berlesung pipi itu lalu menoleh pada sosok disampingnya, mengecup kecil dahi yang tertutup sebagian poni itu dan berbisik lembut. “Saranghae”.

 

Mobil limousine hitam mengkilap itu berhenti disebuah villa mewah bertingkat yang disekelilingnya di kerumuni pepohonan. Didepan villa itu langsung terhampar laut biru. Mungkin bisa ditempuh dengan berjalan beberapa meter.

Siwon keluar dari pintu mobil, lalu berlari kecil untuk mencapai sisi lain mobil. Setelah membuka pintu itu, dia membopong Yoona dan masuk kedalam villa. Dipintu utama villa sudah berjejer beberapa pelayan yang menyambutnya. Tapi Siwon hanya mengacuhkan dan berjalan lurus menuju kamar untuk membaringkan Yoona.

Saat Siwon keluar dari kamar, dia langsung mendapati wajah Nayeon yang penuh tanya.

“Dia sudah tidur. Mungkin kelelahan.” Nayeon mengangguk mendengar penjelasan Siwon. Dia lalu berbalik dan bergabung kembali dengan yang lainnya.

-||-||-||-||-||-||-

Yoona terbangun dari tidur nyenyaknya saat jam dinding sudah menunjukkan pukul empat sore. Wow, sudah berapa jam dia tertidur? Gadis itu lalu mengamati tempat disekitarnya. Kamar itu terlihat luas. Dengan nuansa biru laut. Di pojok kanan ruangan dari tempat Yoona berdiri terdapat pintu kaca buram yang sepertinya adalah kamar mandi. Sedangkan dinding sebelah kiri kamar ini semuanya dari kaca yang juga langsung bisa megakses balkon. Yoona juga bisa melihat ranjang yang tadi ditidurinya berseprai biru, meja rias besar disamping kamar mandi, dan lemari seukuran dinding disamping ranjang.

Setelah membersihkan diri, Yoona keluar dari kamar untuk melihat keadaan sekitar. Villa itu sangat besar dan mempunyai banyak ruangan. Saat menuruni tangga, dia melihat Nayeon, Leeteuk, Hanna dan Eunhyuk yang sedang menonton TV bersama.

“Nayeon-ah..”

“Eoh, Yoona-yah. Kau sudah bangun?” Nayeon melambaikan tangan isyarat agar Yoona mendatanginya. “Kemari, ayo nonton film bersama”

“Iya” Yoona duduk disamping Nayeon dan sudah merasa bosan bahkan sebelum sepuluh menit. Dia bingung dengan awal jalan cerita difilm itu karena saat dia datang, filmnya sudah setengah jalan.

“Mmm, dimana yang lainnya?” Tanya Yoona kemudian.

“Oh, Donghae dan Yeonjo sedang berjalan-jalan disekitar villa, Siwon kepantai, dan yang lainnya mungkin sedang istirahat” Hanna yang menjawab.

“Ah.., baiklah, aku mau lihat-lihat sekitar sini” Yoona berdiri dari duduknya. Dia ingin mencari Siwon. Tapi langkahnya terhenti dengan suara Nayeon.

“Yoona-yah, perlu kutemani? Kalau kau tersesat bagaimana?” Tawar Nayeon dengan nada cemas. Seperti biasa, gadis itu selalu berlebihan.

“Tidak perlu dan jangan khawatir. Aku bisa menjaga diri”

 

Yoona berjalan di jalanan setapak yang mengarah kelaut. Dan setelah berjalan selama kurang lebih lima belas menit, akhirnya tempat yang ditujunya terlihat juga. Yoona menatap takjub dengan pemandangan didepannya. Laut yang sangat luas dan berwarna biru jernih, serta pasir yang lembut menyentuh sedikit kakinya yang hanya memakai sandal tipis. Tempat ini indah sekali, sayang Yoona lupa membawa kamera kesayangannya yang masih ada di koper.

Yoona melihat Siwon disana, sedang duduk sendirian diatas pasir sambil menatap jauh kedepan. Gadis itu berjalan mendekat dengan pelan, lalu duduk disamping Siwon.

“Tempat ini indah sekali kan?” Itu suara Siwon. Yoona menoleh kearahnya. Siwon masih setia menatap kedepan dengan senyum tipis menghiasi wajah. Membuat lesung pipinya mengintip-ngintip.

“Hmm, yah. Tempat ini memang sangat indah. Tapi apa Oppa tidak terkejut melihat kedatanganku kesini?”

“Tidak. Aku tahu kau akan mengikutiku kemari karena kau tidak dekat dengan teman-temanku. Temanmu juga sepertinya sudah dekat dengan pacar Leeteuk Hyung dan yang lain”

Yoona diam. Itu memang benar. Dia tidak nyaman bila berada dekat dengan teman-teman Siwon yang baru dikenalnya. Berbeda dengan Nayeon yang sudah menghabiskan banyak waktu bersama Hanna dan mengacuhkan Yoona, walaupun mereka baru bertemu tadi pagi.

“Besok kita akan berenang bersama disini. Kau bawa baju renang kan?” Ucapan Siwon membawa kesadaran Yoona kembali. Gadis itu menunduk. Sebenarnya dia tidak membawa baju renang, bukan karena lupa atau ketinggalan. Tapi karena sebuah alasan yang menggelikan.

“Tidak. Sebenarnya aku tidak bisa berenang” Yoona menjawab dengan kepala menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Oh, malu sekali. Dia bahkan sudah berumur 20 tahun lebih, tapi masih tidak bisa berenang.

Sesaat wajah Siwon seperti ingin tertawa, tapi lalu pria itu terdiam saat melihat wajah menunduk Yoona yang merona. Pria itu seperti terhipnotis. Wajah Yoona yang bersemu menubruk sinar matahari sore yang kemerahan, membuatnya terlihat sangat mempesona.

“Aku bisa mengajarimu” Bisik Siwon dengan suara parau. Lelaki itu lalu mengangkat dagu Yoona membuat tatapan mereka bertemu. Dan sedetik setelahnya yang terjadi adalah bibir Siwon sudah bertemu dengan bibir Yoona.

Siwon sedikit memiringkan kepala, membuat pertemuan bibirnya dengan milik Yoona makin intens. Pria itu mulai melumat bibir bawah Yoona perlahan dan mengabaikan ekspresi Yoona yang terkejut. Terang saja, ini adalah pertama kali mereka berciuman. Perlahan, mata Yoona tertutup. Gadis itu mengalungkan tangannya pada leher Siwon dan mulai menikmati kecupan Siwon.

Diufuk barat sana, mentari mulai menenggelamkan diri.

-||-||-||-||-||-||-

Jam 06.00 AM. Pagi itu Yoona berjalan-jalan sendirian kearah pantai, dengan kamera tergantung dileher. Dia menyusuri jalan setapak yang kemarin dilaluinya. Huh, Nayeon benar-benar mengabaikannya dengan terus bermain bersama Hanna. Entah apa yang mereka lakukan dan bicarakan, tapi saat Yoona melihat mereka, mereka selalu terlihat sibuk.

Yoona melihat sesuatu didepan sana. Matanya membulat dan berbinar-binar. “Mwo? Tulip merah?” Gadis itu lalu berlari kecil kearah serumpun bunga tulip itu. “Tapi bukankan ini musim panas? Bagaimana bisa? Keajaibankah?”

Tangan mulusnya memetik setangkai dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Saat pantai sudah terlihat dekat dengan pandangannya, dia bisa melihat dua orang gadis sedang berdiri dipinggir pantai sana, bercakap-cakap. Setahunya dua orang gadis itu adalah Kwon Yuri dan Tiffany Hwang, teman Yeonjo.

Yoona berniat meninggalkan tempat itu dan mencari tempat lain yang sepi saat percakapan mereka yang samar-samar didengarnya menghentikannya.

“Fany-ah, berhentilah menangis. Siwon Oppa tidak benar-benar mencintai gadis itu. Dia hanya mengencaninya untuk taruhan. Sebentar lagi dia pasti memutuskannya dan Siwon akan jadi milikmu seutuhnya.” Yoona mengenal sosok tinggi dengan rambut tergerai lurus itu sebagai Yuri. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan hingga menyebut-nyebut nama kekasihnya?

“Hiks… benarkah? Apakah yang kau katakan itu benar Yuri-ah? Kau taukan kalau aku sangat mencintai Siwon Oppa? Aku sudah bersamanya sejak lama tapi kenapa gadis cupu itu merebutnya dariku?! ARGGH… AKU SANGAT MEMBENCI IM YOONA!!!” Yoona terperanjat ketika namanya diteriakkan dengan nada yang tidak enak didengar.

But wait, apa yang baru saja kedua gadis itu bicarakan? Taruhan, tidak mencintai, benci, putus, merebut. Perlahan gadis itu mulai menyadari apa yang barusaja terjadi.

“Jadi… aku adalah bahan taruhan?” Yoona terkejut mendengar suaranya sendiri yang tercekat. Dia merasa kepalanya sangat pusing dan tubuhnya limbung. Untung saja pohon pinus dibelakangnya mampu menumpu beban tubuhnya.

Gadis itu lalu berbalik dan berjalan terseok-seok menuju villa. Melupakan tujuan awalnya yang hendak memotret keindahan alam pantai Jungmun.

Seharusnya kau sadar Im Yoona! Kau hanyalah si itik buruk rupa sedangkan Choi Siwon adalah pangeran tampan. Mana mungkin pangeran tampan sudi dengan itik buruk rupa sepertimu padahal disampingnya sudah ada putri yang sangat cantik? Yah, itu sangat mungkin jika Siwon Oppa menjadikanmu sebagai bahan taruhan yang sangat menggelikan.

Batin Yoona terus mengejeknya, seakan menertawainya yang sedang menangisi pria bajingan seperti Choi Siwon.

Sebentar lagi aku akan meninggalkan tempat terkutuk ini. Yoona mengusap kasar airmata yang berhasil lolos dari kelopak matanya dan bertekad dalam hati.

-||-||-||-||-||-||-

From : Im Yoona

To : Yoon Nayeon

Maaf meninggalkanmu tanpa pamit. Ayahku menelponku dan katanya ada urusan mendadak. Dia juga sudah menyiapkan tiket pesawat untukku siang ini. Aku sudah berada di pesawat sekarang. Sekali lagi maaf, kita bertemu lagi setelah liburan musim panas berakhir.

Ps : Kau masih punya uang untuk kembali ke Seoul sendirian kan? kekeke 😀

 

 

Yoona menghempaskan kepalanya kesandaran kursi pesawat. Sedikit berbohong tentang isi pesan singkat itu. Ayahnya memang sempat menelponnya saat dalam perjalanan kebandara tadi. Entah apa yang beliau ingin bicarakan padanya sehingga mampu meninggalkan pekerjaan pentingnya itu hanya untuk menelponnya. Mungkin itu bukan urusan yang terlalu penting, pikirnya.

Yoona menatap wallpaper ponselnya dengan nanar. Itu adalah foto dirinya dan Siwon yang diambil dengan kamera pria itu saat sore hari mereka duduk-duduk dipantai. Senyum yang diperlihatkan Siwon pada potret itu membuat Yoona muak. Tapi dia juga tidak memungkiri kalau di masih mencintai pria itu, bahkan sangat. Ini adalah pelajaran yang dia dapat dari cinta pertamanya. Kebohongan.

 

Usai membayar ongkos taksi, Yoona turun dan meyeret kopernya malas-malasan menuju rumah. Saat melewati ruang keluarga untuk naik keatas, Yoona menemukan ayahnya tengah menyesap kopi sambil menonton TV. Wow, apakah perusahaan keluarganya sudah bangkrut? Biasanya ayahnya itu tidak pernah terlihat ada dirumah, karena sibuk dengan urusan kantor dan uang-uangnya. Jadi wajar saja jika dia sangat penasaran.

“Kupikir kau akan pulang lusa” Suara berat ayahnya menghentikan langkah kakinya yang masih berada di anak tangga ketiga.

“Hanya perubahan rencana” Yoona menjawab seadanya, melanjutkan langkah. Hubungannya dengan orangtua satu-satunya itu memang sedikit renggang. Bukan karena apa-apa, hanya yang sudah diketahui sebelumnya, ayah Yoona tidak pernah meluangkan waktu untuk anak gadisnya itu.

“Ada yang ingin ayah bicarakan padamu. Setelah menaruh barang-barangmu, kembalilah lagi.” Yoona hanya berdehem.

-||-||-||-||-||-||-

“Ayah sudah menjodohkanmu dengan rekan bisnis ayah. Minggu depan kita akan terbang ke Canada untuk menemui calon mertuamu.” Suara ayahnya yang tenang bagaikan jeritan orang-orang dalam film horror yang sering dilihatnya setiap minggu, membuatnya terkejut.

“Mwo? Dijodohkan?” Yoona berkata tertahan, tidak berani berteriak selagi melihat raut wajah tegas ayahnya. Oke, apalagi ini? Baru saja tadi pagi dirinya patah hati, dan sekarang malah ayahnya mengatakan kalau dia sudah dijodohkan dengan rekan bisnisnya. Ouh.., benar-benar hari yang sangat sial!

“Iya, dijodohkan. Sabtu depan kita akan berangkat jam sembilan pagi.” Dan setelah mengatakan itu, ayah Yoona meninggalkannya sendirian dengan televisi yang masih menyala.

 

Dan disinilah dia sekarang. Vancouver, Canada.

Ini adalah hari keduanya di Vancouver, setelah kemarin waktunya ia habiskan untuk tidur setelah perjalanan panjang Korea-Canada. Ingin rasanya Yoona menangis lagi. Air mata yang seminggu terakhir ini terus keluar belum cukup untuknya mengurangi beban di dalam dirinya. Banyak sekali masalah akhir-akhir ini. Tentang perjodohannya dengan pria tak dikenal, tentang penghianatan yang dilakukan kekasihnya, dan tentang perasaan rindunya yang muncul. Dia masih merasakan sesak yang sangat menyakitkan itu didadanya, tapi keberadan beberapa pegawai dari salon yang disewa ayahnya untuk mendandani dirinya itu menahannya.

Sebentar lagi dia akan bertemu calon suaminya. Dia bahkan tidak mengenalnya, atau mengetahui rupanya. Tapi kata ayah Yoona yang berhasil menohoknya adalah, sebulan lagi mereka akan menikah. Bukankah itu keterlaluan?! Tapi apa yang bisa Yoona perbuat untuk ini? Menentang? Atau mengancam bunuh diri? Tidak, tidak bisa dan tidak akan. Walau bagaimanapun, dia sangat menyayangi dan berbakti pada ayahnya itu setelah ibunya meninggal lima belas tahun lalu.

Jalan satu-satunya saat ini adalah, menyerah.

“Finally. Whoa.., You’re so beautiful Miss” Salah seorang pegawai wanita berambut pirang itu tersenyum ramah dan mengisyaratkan Yoona untuk menatap cermin.

Yoona melihat bayangannya pada cermin. Sangat cantik. Benarkah itu dirinya? Dia mengenakan dress biru laut selutut, rambutnya yang biasanya dikuncir dibiarkan tergerai, kacamatanya diganti dengan softlens, serta wajahnya yang biasanya polos dipoles bedak tipis dan lipstick merah muda.

 

Yoona berjalan pelan memasuki salah satu restoran mewah di kota Vancouver itu. High heels yang membalut kakinya sangat membuatnya sulit bergerak.

“Kami sudah memesan ruangan privat atas nama Choi Kiho” Yoona mendengar ayahnya berbicara pada seorang pegawai restoran dan mereka digiring kesebuah ruangan yang dimaksud.

Selanjutnya yang terjadi setelah pintu itu terbuka adalah jantungya yang serasa berhenti berdetak. Dia melihat empat orang manusia disana, tapi bukan itu yang membuatnya terperanjat. Salah seorang dari mereka adalah orang yang sangat dikenalnya.

“Choi… Siwon?”

-||-||-||-||-||-||-

Makan malam antara dua keluarga itu berlangsung dengan hangat. Setidaknya tidak bagi Yoona. Yoona berusaha focus dengan makanan yang ada dipiringnya dan sesekali menyahuti pertanyaan yang dilayangkan padanya. Walaupun pada kenyataan, pikirannya hanya tertuju pada pria yang terlihat tenang dihadapannya itu. Choi Siwon. Jadi diakah pria yang akan dijodohkan dengannya? Pria yang sudah mempermainkannya? Yoona memang senang bertemu Choi Siwon karena kadar kerinduannya pada pria itu sudah memasuki masa kritis. Tapi dia juga jadi kesal sendiri dengan ayahnya karena sudah menjodohkannya dengan pria playboy sepertinya.

“Yoona Unnie, apa kau yang akan jadi kakak iparku? Whoah.. kau sangat cantik Unnie. Kalau dengan dirimu, aku akan merestui seratus persen hubunganmu dengan Siwon Oppa. Daripada dengan seorang gadis centil yang selalu menempel pada Oppaku” Yoona tersenyum canggung dan melirik sebentar pada gadis imut yang duduk disamping Siwon itu. Setahunya dia adalah adik Siwon, Choi Sulli. Kecerewetan gadis itu mengingatkannya pada Nayeon.

“Sulli-ah, jangan membuat calon kakak iparmu tidak nyaman. Habiskan dulu makananmu” Ny. Choi menyela perkataan anak gadisnya itu dan melayangkan senyum minta maaf pada Yoona.

“Dia memang sedikit cerewet.” Ucapnya menyesal. Tapi Yoona buru-buru menggeleng.

“Aniyo, eomonim. Dia anak yang manis”

-||-||-||-||-||-||-

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi di salah satu taman di kota Vancouver itu masih saja terlihat ramai. Entah ingin melihat suasana malam kota Vancouver atau sekedar duduk-duduk di bangku yang tersedia ditaman itu.

Disalah satu bangku disudut taman itu Yoona dan Siwon masih terdiam. Yoona terlihat gusar, sesekali tangan gadis itu memainkan ujung dressnya. Siwon tadi berhasil membawanya kemari dan sudah mendapat ijin ayahnya dengan mudah. Dia sangat bingung dengan situasi seperti ini. Siwon tadi terlihat sangat akrab dengan ayahnya. Apakah pria itu sudah tahu sejak lama kalau dia adalah gadis yang dijodohkan dengannya? Jadi memang benar kalau Choi Siwon sengaja mempermainkannya kan?

“Kenapa kau meninggalkan Jeju tanpa pamit? Tidak tahukah kalau aku sangat cemas? Kau bahkan hanya mengirimi pesan singkat pada Nayeon sedangkan aku tidak kau kabari sama sekali” Suara datar Siwon memecah kesunyian diantara mereka yang terjadi beberapa menit lalu. Yoona hanya terdiam, baginya kesunyian lebih indah daripada mendengar suara dari orang yang tega mempermainkan perasaannya.

“Im Yoona”

“Kenapa kau sangat perduli dengan gadis bahan taruhanmu ini?” Akhirnya Yoona bersuara. Matanya masih menatap lurus kedepan, enggan menatap Siwon.

“Apa maksudmu?” Tanya Siwon tidak mengerti, pria itu mencoba menarik tangan Yoona untuk menatapnya, tapi hanya mendapat hasil yang sia-sia.

“Kau sudah tahu sejak lama kan kalau aku adalah gadis yang akan dijodohkan denganmu? Jadi karena kau membenciku dan sudah memiliki gadis lain yang kau suka, kau sengaja menghancurkanku dengan mempermainkan perasaanku. Iya kan?” Yoona mengabaikan ucapan Siwon dan terus bicara.

“Kenapa kau jahat sekali padaku? Jika kau memang tidak suka dengan perjodohan ini, kau hanya tinggal menolak. Tidak perlu dengan menjadikanku taruhan-“

“Cukup Yoona! Apa maksudmu dengan taruhan?!” Sentak Siwon membuat Yoona terkejut. Mengakibatkan air mata gadis itu yang sudah membayang-bayang jatuh membasahi pipi mulusnya.

“Maaf-“ Siwon hendak menghapus air mata gadis itu tapi Yoona langsung menepisnya.

“Tidak perlu!”

Siwon menghela napas. “Oke, begini Yoona” Mulai Siwon sambil menahan tangan gadis itu, lalu menghapus air matanya. “Perjodohan ini memang harusnya sudah terjadi sejak lama, setahun lalu saat kau baru lulus SMA. Tapi aku menolaknya dan mengatakan pada ayahmu kalau aku ingin mengenalmu lebih dekat dulu. Sampai akhirnya kita berpacaran seperti saat ini. Dan tentang taruhan atau semacamnya itu tidak pernah ada. Menurutmu apa aku sudah gila mempermainkan perasaanmu seperti itu setelah dengan susah payah aku meraihnya?”

Yoona hanya terdiam.

“Memangnya siapa yang mengatakan seperti itu?” Tanya Siwon kemudian.

“Yuri” Jawab Yoon pelan sambil tertunduk. Memang salahnya yang tidak bertanya langsung pada Siwon dulu.

“Jadi itu alasanmu pergi begitu saja bahkan tanpa memberitahu apapun padaku?” Yoona mengangguk.

“Saat aku ingin kepantai pagi itu, aku melihat Tiffany dan Yuri disana. Sebenarnya aku ingin segera pergi, tapi pembicaraan mereka membuatku penasaran.” Yoona melanjutkan “Tiffany bilang kalau kalian sudah lama bersama sampai aku merebutnya darinya. Dia sangat membenciku. Lalu Yuri menenangkannya dengan berkata pada Tiffany kalau aku hanya bahan taruhan dan mainan bagimu.”

“Itu tidak benar! Tiffany itu sudah kuanggap adik. Kita memang sudah kenal dan bermain bersama sejak kecil.”

“Yah, sekarang aku sudah tau” Yoona berucap dengan senyum manis dibibirnya. “Maaf karena tidak langsung bertanya dan sudah berpikiran negative padamu” Ucapnya dengan nada menyesal.

“Gwenchana. Itukan sudah jadi sifatmu.” Siwon maju dan merengkuh Yoona dalam dekapannya. “Kau tahu Im Yoona, aku sangat mencintaimu” Siwon berbisik pelan tepat ditelinga Yoona dan makin mempererat pelukan mereka.

“Eum, nado”

-||-||-||-||-||-||-

Tin~ Tin~

Yoona terlonjak begitu mendengar suara klakson mobil dari arah depan villanya itu. Gadis itu melirik jam yang terpajang didinding kamar lalu segera menyambar tas selempangan yang sudah dipersiapkannya sejak tadi, berlari kecil menuju depan villa sebelum pria tidak sabaran itu memarahinya.

Yoona menghampiri Siwon yang berdiri disamping mobil. “Kemana kita akan pergi hari ini?” Tanya Yoona sambil memasuki mobil.

“Stanley Park. Itu adalah taman yang sangat indah di Vancouver. Kau pasti suka” Siwon menjawab dan mulai melajukan mobil meninggalkan kawasan villa Yoona.

 

“Ini” Yoona menerima ice cream yang disodorkan Siwon padanya dan mulai menjilatinya. “Tunggu disini sebentar, aku ingin membeli sesuatu lagi” Ucap Siwon dan meninggalkan Yoona sendirian dibangku taman. Yah, Siwon memang tidak berbohong. Taman ini sangat indah dan besar. Disini kita bisa menikmati pemandangan air, gunung, langit, dan pohon-pohon yang megah. Yoona mengetahui semua itu dari brosur yang didapatnya tadi saat memasuki taman ini.

Gadis itu lalu menunduk lagi, mengamati dengan antusias bagian-bagian dari taman Stanley. Disekitar taman ini juga terdapat pantai yang indah, kebun binatang, dan restoran. Begitu yang tertulis diselembar brosur itu. Yoona sedang membaca artikel tentang pantai yang dekat dari sini ketika pandangannya tiba-tiba terhalang oleh setangkai bunga tulip. Gadis itu kemudian mendongak dan menemukan Siwon tengah tersenyum manis padanya.

“Tulip merah, untukmu” Ya, dia tau kalau itu memang tulip merah, tapi tangannya masih enggan terulur untuk meraih bunga itu karena mendengar nada bicara Siwon yang misterius. Yoona mesih memandang Siwon dengan heran.

“Kau pernah berkata padaku kalau bunga tulip merah melambangkan kepercayaan. Jadi aku memberikan ini untukmu. Im Yoona, kau harus percaya bahwa hanya kau yang kuncintai. Tidak perduli banyak orang diluar sana yang menganggap ini hanya sebuah lelucon atau bualan, kau harus selalu pegang kata-kataku ini. Aku sangat mencintaimu, setulus hatiku.”

Yoona memandang Siwon dengan mata berkaca-kaca. Dia merasa Siwon terlihat berkali lipat lebih mempesona saat pria itu mengucapkan kalimat barusan. Dia barusaja hendak menjawab perkataan pria itu ketika Siwon tiba-tiba berlutut dengan kaki kanan sebagai tumpuan. Lelaki itu kemudian meraba saku jeansnya dan mengeluarkan kotak beludru berwarna biru. Yoona terpana melihat isi dari kotak itu. Sebuah cincin berlian yang sangat elegan.

“Aku sangat mencintaimu, Im Yoona. Maukah kau menjadi milikku seutuhnya?” Perkataan Siwon selanjutnya sukses membuat airmatanya mengucur deras. Dia menganggukkan kepalanya cepat. Ya, mulai sekarang dia akan percaya kalau Siwon memang sangat mencintainya dan ya, dia bersedia menjadi milik Siwon. Seutuhnya.

Lelaki itu kemudian berdiri, memasang cincin berlian pada jari manis Yoona dan mengecup jemari yang terpasang cincin itu lembut. Matanya kemudian beralih pada manic mata Yoona, menatapnya lama sebelum wajahnya mendekat dan bibir mereka bertemu.

Ciuman itu terasa manis, hanya sekedar peluapan emosi yang memuncak tanpa ada unsur napsu. Siwon mengecup sekali lagi bibir tipis Yoona sebelum mereka melepaskan tautan.

“Sebenarnya aku ingin melamarmu saat berada di Jeju. Disana suasananya sangat romantis. Tapi kau keburu kabur tanpa kabar dan membuatku kalang-kabut. Kau tahu, Yoona-yah? Kenapa saat itu Nayeon sering bersama Hanna dan mengacuhkanmu? Itu karena aku meminta tolong pada mereka untuk membantuku mempersiapkan acara pelamaran yang romantis untukmu.”

“Benarkah?”

“Hmm” Siwon menggumam dan menenggelamkan kepala Yoona dalam dadanya, memperdengarkan detak jantungnya yang amburadul. “I Love You”

“I Love You Too”

FIN

Mungkin ini oneshoot ter-gak jelas sepanjang sejarah per FF-an(?). Karena ini pertama kalinya aku bisa menyelesaikan sebuah cerita dalam kurun waktu 10 hari, mungkin. Tapi semoga kalian tetap suka dan jangan lupa tinggalkan komentar^^. Ini adalah persembahan kecilku untuk aniversary YoonWonited ke5. YOONWON JJANG! YOONWONITED JJANG! Belive YoonWon is real :D. Makasih buat admin yang udah post oneshoot ini dan ngadain event ini. Semoga YoonWonited diberi ketabahan dan suatu saat akan diberikan balasannya dengan berita pernikahan Yoona-Siwon *Evil laugh. Oke, sampai disini dulu. Maafkan saya yang terlalu banyak berbicara.

Salam YoonWonited, Choi Ara

Tinggalkan komentar

132 Komentar

  1. fitria

     /  April 20, 2014

    keren
    yoonwon so sweet

    Balas
  2. Aulia Araby

     /  April 20, 2014

    daebaak deh untk nie ff ^^

    Balas
  3. any

     /  Mei 19, 2014

    Aku suka ceritanya. Banget. Kenapa g dibikin sequel author??biar makin seru. Disinikan blm ada konflik yg melibatkan tiffany. Gmn nantinya reaksi tiffany n apa yg akan dilakukannyq kalo tau yoonwoj udah nikah balik dari kanada??pasti lebih seru deh thor. Hehehehe.ngarep ini.

    Balas
  4. Wae?? Ini keren kok. Sumpeh.

    Balas
  5. keren banget..tak kira siwon bener2 bikin yoona taruhan..terus di mobil tu apaan lagi,, bener2 daebak dehh…

    Balas
  6. Daebak aku suka aku suka ^^

    Balas
  7. Mia

     /  Juli 10, 2014

    Keren sekali cinta sejati adalah cinta yg ta’ memiliki alasan

    Balas
  8. So sweet bgt, tadinya Yoona sempat salah paham ya. FF nya benar2 nyambung dan bgs bgt

    Balas
  9. tiffany

     /  September 27, 2014

    JD ikut deg deg an….

    Balas
  10. ternyata yoonwon udah dijodohin sejak lama,,hoho yoona salah paham tentang siwon,, tapi rada lega juga dengar penjelasan siwon tentang hubungannya dengan fany, jadinya yoonwon bisa baikan dan segera menikah 😀

    Balas
  11. melani

     /  Juli 9, 2016

    Romantis bgt.. yoonwon akhirnya bahagia.. di tunggu cerita yg lainnya..

    Balas
  12. siska

     /  November 6, 2016

    Bagus bgt ceritanya,beda dr yg lain..tp ak masih penasaran sma yeoja yg nelfon wonpa waktu di limo,apakah fanny oenni atau bukan??

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: