[OS’s Project YoonWonited Anniv.] Memories

[OS] Memories

Author             : Indah (bianglalala27@gmail.com)

Type                : Oneshoot

Cast                 : Choi Siwon, Im Yoona, Hwang Mi Young, Shindong, Nickhun

Genre              : Romance, Friendship

Rating             : General

 

FF ini jauh dari kata bagus, apalagi sempurna. Jadi harap maklum kalo ceritanya aneh ya. Tapi seaneh apapun saya berharap kalian suka. hehehe

Happy Reading!

 

 

Yoona berjalan menyusuri pantai sepanjang senja itu. Kakinya yang telanjang sesekali memainkan pasir putih di bawahnya. Pasir yang telah ia lihat selama lebih dari separuh hidupnya. Yang menyimpan banyak cerita tentang masa lalu yang pernah ia lewati di sini. Kenangan-kenangan yang telah ia kubur dalam-dalam muncul ke permukaan saat ia kembali bersentuhan dengan butiran pasir di sana. Tempat ini telah menjadi salah satu saksi bisu hidupnya.

Tak ada yang berbeda dengan tujuh tahun lalu. Laut yang biru, pasir pantai yang tetap putih, dan matahari senja yang bersinar kemerahan. Lelah berjalan, Yoona duduk di sebuah batang pohon yang tumbang, menikmati senja di depannya seorang diri.

“Aku bisa mati kalau terus-terusan disiksa oleh Guru Seo,” suara keluhan Shindong tiba-tiba kembali terdengar oleh Yoona. Memori tujuh tahun lalu seakan berubah menjadi potongan film lawas yang berputar di depannya. Tujuh tahun lalu, di tempat yang sama, Yoona dan tiga sahabatnya berkumpul menyaksikan matahari tenggelam.

“Baguslah kalau begitu. Tidak akan ada pengacau lagi di dunia ini,” timpal Mi Young. Tangannya yang jahil lalu menghujani tubuh Shindong dengan butiran pasir, membuat seragam sekolahnya sedikit kotor.

“Ayo hancurkan dia,” sahut Siwon penuh semangat. Ia meraup pasir pantai dan menumpahkannya di atas perut buncit Shindong. Mereka beramai-ramai mengubur Shindong di bawah pasir.

Saat itu, Yoona yang tengah membaca hanya tertawa mendengar pertengkaran kecil sahabat-sahabatnya. Ia memilih tetap duduk dan menonton pergumulan tiga orang remaja itu sambil sesekali mencuri pandang pada salah satu di antaranya. Pada dia yang paling dekat dan paling mengerti dirinya. Terkadang dia balas memandang tatapan Yoona dengan tawa riang yang membuat kedua lesung pipitnya terlihat jelas. Lalu dengan segera ia akan menarik Yoona masuk ke dalam pergumulan di atas pasir itu.

Tidak ada kebahagiaan yang Yoona inginkan selain berkumpul bersama sahabat-sahabatnya. Tinggal di kota kecil di tepi pantai membuat mereka tidak memiliki banyak alternatif hiburan seperti di kota besar. Namun mereka bahagia. Bermain pasir seperti anak kecil, sesekali berenang, atau berselancar bersama, walau untuk yang terakhir tak pernah bisa Yoona kuasai.

Yoona tersenyum pahit mengingat saat-saat itu. Sebagian besar waktu remajanya telah ia habiskan di sini. Sekali waktu ia dan sahabat-sahabatnya hanya makan es krim sambil berbicara tentang sekolah. Seringkali ia pergi berdua dengan Siwon setelah dengan paksa pemuda itu menariknya untuk menemani memancing.

Entah mengapa Siwon tidak pernah bosan meminta Yoona menemaninya memancing meski tahu Yoona membenci hal itu. Yoona akan setia menunggu Siwon memancing sambil bermain pasir karena memang ia tidak tertarik pada apa yang Siwon lakukan. Jika Siwon mendapat tangkapan besar, ia akan menyuruh Yoona memasak sup ikan pedas kesukaannya. Namun Siwon akan uring-uringan sepanjang hari ketika tidak satupun ikan memakan umpannya.

“Ke mana mereka semua?” kata Siwon kesal sambil membanting pancingnya di dekat Yoona. Kegiatan rutin selanjutnya adalah ceramah Siwon yang panjang lebar tentang kegagalannya memancing dan Yoona mendengarkan sambil sesekali menertawakannya. Cerita Siwon hampir selalu sama, tapi Yoona tidak pernah bosan.

Lamunan Yoona buyar saat seorang anak kecil berseru semangat sambil menarik tangan seorang pria paruh baya. “Appa, ayo kita berselancar. Besok kan kita sudah harus kembali ke Seoul,” katanya meledak-ledak.

Tanpa sadar Yoona tersenyum melihat sang ayah yang mulai mengajari putrinya berdiri di atas papan selancar. Entah mengapa semua sudut di pantai itu seakan memiliki kenangan tersendiri baginya. Bertahun-tahun lalu, memaksa Yoona berselancar juga menjadi hobi lain Siwon. Tak peduli bagaimana buruknya Yoona dalam olahraga, Siwon akan dengan sabar mengajari gadis itu berdiri di atas papan dan menjaga keseimbangan. Sayangnya usaha keras Siwon selalu gagal. Yoona tak pernah bisa berdiri di atas ombak lebih dari tiga detik.

Dengan baju basah kuyup Siwon dan Yoona akan berbaring di atas pasir menanti senja tiba. Saat-saat itu sangat Yoona gemari. Mereka, terkadang ditambah Shindong dan Mi Young, akan saling mencurahkan isi hati dan masalah mereka. Seperti sore terakhir di musim panas sembilan tahun lalu. Mereka berempat berbaring berdampingan di bawah matahari kemerahan, tanpa peduli kulit mereka akan gosong terbakar matahari.

“Sepertinya aku yang pertama punya pacar di antara kita,” kata Mi Young tiba-tiba, membuat ketiga sahabatnya terkesiap kaget. Cinta adalah hal yang paling jarang mereka bicarakan. Ditambah mereka masih terlalu muda untuk memikirkan hal itu.

“Memang ada yang mau dengan gadis berisik sepertimu,” ledek Shindong. Ia paling suka mengejek Mi Young karena gadis itu akan selalu memukulnya lalu minta maaf dengan membelikannya es krim.

“Tentu saja ada,” balas Mi Young tidak terima. Padahal ia begitu bangga karena di antara mereka berempat, ia-lah yang pertama kali berpacaran.

“Siapa? Apa kami mengenalnya?” tanya Yoona penasaran.

Senyum manis Mi Young merekah karena akhirnya ada juga yang penasaran. “Kalian tidak mengenalnya. Dia sahabat kecilku sebelum pindah kemari.”

Siwon yang sejak tadi diam mendesah keras hingga membuat yang lain memperhatikannya. “Kalau aku tidak akan pernah menyukai sahabatku sendiri,” tegas Siwon.

“Wae?” ketiganya serempak menanyakan hal yang sama pada Siwon.

Tiba-tiba saja perasaan Yoona menjadi tidak enak. Ada rasa takut yang menelusup dalam hatinya saat menanti jawaban Siwon.

“Sahabat tetaplah sahabat. Tidak akan pernah berubah. Aku tidak ingin mengorbankan persahabatanku demi rasa suka sesaat,” jelas Siwon.

“Jadi menurutmu perasaanku pada Nickhun Oppa hanya sesaat?” protes Mi Young menyebut nama pacarnya. Sejak kecil ia sudah menyukai Nickhun dan perasaan itu tidak pernah berubah meski mereka berjauhan. Ia tidak terima Siwon menyebut perasaan suka hanya akan bertahan sebentar.

Siwon mendesah malas. Mi Young selalu ingin menang saat berdebat. Dengan sabar ia menjelaskan kalau baginya, persahabatan jauh lebih kuat dibanding hubungan kekasih. Lebih permanen, tidak ada kata putus atau berpisah. Begitu pentingnya seorang sahabat dalam hidup Siwon, hingga ia seringkali lebih mementingkan sahabatnya dibanding dirinya sendiri. Dan Siwon tidak akan mengorbankan persahabatan hanya karena cinta.

Sore itu, dunia Yoona mendadak menjadi gelap. Pernyataan Siwon seakan menjadi sebuah penolakan baginya, bahkan sebelum ia menawarkan cintanya pada pemuda itu. Bertahun-tahun ia menjaga asa kalau suatu saat Siwon akan datang padanya. Namun penantiannya menjadi tidak berarti saat argumen Siwon meluncur dengan lancar dari mulutnya.

“Pokoknya aku tidak mau pacaran dengan sahabatku sendiri,” tegas Siwon.

Sejak saat itu, Yoona terus berusaha menghancurkan rasa sukanya pada Siwon. Terkadang Yoona sengaja menyibukkan diri saat mereka akan berkumpul, membuat alasan palsu agar ia tidak perlu bertemu Siwon. Sulit rasanya untuk menghilangkan perasaan pada orang yang tiba-tiba saja menggandeng tangannya saat menyeberang jalan, atau memeluknya ketika ia menjuarai pertandingan tenis antar sekolah. Dan Yoona belum berhasil, sampai saat ini.

Yoona beranjak pergi dari batang pohon itu saat matahari sudah menghilang di balik air laut. Untuk pertama kalinya, setelah tujuh tahun, ia kembali ke rumahnya dulu. Lebih karena paksaan Mi Young yang akan bertunangan dengan Nickhun. Karena sejujurnya, Yoona masih belum siap melihat Siwon yang tidak pernah pergi dari ingatannya.

***

Mi Young membuat pesta pertunangannya dengan sederhana, hanya mengundang teman-teman dan keluarga terdekatnya saja. Yoona salah satunya. Mi Young begitu berharap bisa membagi kebahagiaannya dengan salah satu orang paling berarti selama hidupnya. Ia bahkan rela datang ke Seoul untuk menemui Yoona secara langsung dan memintanya datang ke pestanya.

Berjalan dengan tangan yang menggamit lengan Nickhun, Mi Young menyapa satu per satu tamunya. Matanya menjelajah mencari sosok yang sangat ia harapkan. Senyumnya melebar saat menemukan seorang gadis dengan gaun softpink menutupi mata kakinya.

“Yoona!”

Gadis itu, yang tengah berdiri di sudut ruangan memperhatikan tamu-tamu yang datang, membalas senyuman Mi Young dan melambaikan tangan. Ia berjalan mendekati pasangan bahagia itu dan menyalami memberi selamat.

“Kau sudah bertemu dengan yang lain?” tanya Mi Young pada Yoona. Yang dimaksud Mi Young dengan ‘yang lain’ adalah Siwon dan Shindong.

Yoona menggeleng. Sebaiknya jangan, elak Yoona dalam hati. “Aku baru datang dan belum bertemu dengan mereka.”

“Kita harus berkumpul lagi nanti. Sekarang aku harus melaksanakan tugasku sebagai tuan rumah yang baik,” kata Mi Young sebelum meneruskan pesiarnya menyapa tamu yang datang.

Yoona memejamkan matanya sejenak, mencari kekuatan yang telah ia kumpulkan untuk kembali ke tempat ini. Dan betapa terkejutnya ia, ketika membuka mata, yang pertama tertangkap oleh matanya justru sesuatu yang selama ini telah mati-matian ia hindari. Di hadapannya, menatapnya, berdiri dengan gagah seseorang yang pernah menjadi bagian hidupnya.

Choi Siwon.

Tidak banyak yang berubah, sama seperti pantai tempat mereka bermain. Selalu tampan dan mempesona. Sayangnya, raut wajahnya juga sama seperti saat mereka terakhir bertemu, tujuh tahun lalu.

Shindong tiba-tiba menyela acara saling tatap antara Siwon dan Yoona, tersenyum senang pada Yoona dan menghambur memeluknya.

“Kau tega sekali tidak datang mengunjungi kami di sini,” sungut Shindong begitu melepas pelukannya. Ditatapnya Yoona dari ujung kaki hingga kepala, meneliti setiap perubahan kecil pada diri gadis itu semenjak mereka terakhir bertemu tujuh tahun lalu. “Kau tambah cantik,” pujinya.

“Tentu saja,” Yoona memaksakan senyum. Bukan karena ia tidak senang bertemu kembali dengan Shindong, hanya bibirnya terlalu sulit digerakkan saat berhadapan dengan Siwon. “Kau tambah kurus,” balas Yoona sambil memperhatikan Shindong. Rasanya jauh lebih mudah untuk bersikap normal setelah ia tidak melihat Siwon, yang berdiri di belakang Shindong.

“Nari yang membuatku diet mati-matian,” bisik Shindong membocorkan rahasianya.

Yoona tergelak melihat Shindong yang tampaknya takut pada pacarnya. Tapi tidak lama, karena tubuh Siwon yang jangkung kembali terlihat di belakang Shindong.

Salah satu orang yang menjadi saksi perang dingin antara Yoona dan Siwon adalah Shindong. Ia mendesah kecewa karena bahkan setelah tujuh tahun, es di antara mereka tidak juga mencair. Hal itu jelas terlihat dari wajah Siwon yang angkuh dan tanpa ekspresi padahal baru lima menit lalu ia tertawa bersama salah seorang tamu Mi Young.

Yoona sama kakunya dengan Siwon. Bibirnya mengatup sementara matanya berkeliaran memandang ke arah lain saat Siwon kembali menatapnya tajam. Ada keheningan yang begitu memuakkan selama beberapa saat, sebelum akhirnya Shindong mengambil tindakan.

“Ada apa dengan kalian? Malam ini Mi Young bertunangan dan seharusnya kita bersenang-senang,” kata Shindong berusaha, dengan sangat keras, agar terdengar santai. Ia tahu kemarahan Siwon pada Yoona belum reda, meski mereka tidak pernah membahasnya dalam tiga tahun terakhir.

“Aku bersenang-senang, tadinya. Sebelum ada seseorang yang mengkhianatiku datang kemari,” desis Siwon.

Tubuh Yoona seperti terhempas ke karang terjal dengan ombak yang siap menelan di bawahnya. Siwon masih marah padanya.  

Shindong yang merasakan aura hitam dalam diri Siwon segera menariknya pergi menjauh dari Yoona. Dengan senyum yang berarti ‘Kau tunggu sebentar, aku akan bicara padanya’, Shindong meninggalkan Yoona dan membawa Siwon ke halaman belakang rumah Mi Young yang sepi.

***

Yoona diam-diam meninggalkan pesta, membuatnya berhutang penjelasan pada Mi Young. Kakinya berhenti saat sampai di depan kedai es krim tempat ia biasa berkumpul, dulu. Perang dinginnya dengan Siwon, juga dimulai di sana.

Saat itu Yoona masih muda, duduk di tingkat akhir sekolah menengah atas dan jatuh cinta pada orang yang tidak akan melihatnya. Tidak tahan terus-terusan untuk terbang lalu dijatuhkan dengan begitu saja, Yoona memutuskan mengikuti ayahnya pindah ke Seoul saat orang tuanya bercerai. Hari terakhir sebelum keberangkatannya, Yoona duduk di kedai es krim, menunggu ketiga sahabatnya datang dan mengucapkan selamat jalan.

Terdengar suara ribut dari pintu masuk saat Yoona telah menunggu lebih dari lima belas menit. Jelas bukan Mi Young yang datang, karena gadis itu bilang akan terlambat selama kira-kira satu jam. Ternyata Shindong yang dengan sekuat tenaga, dan secara paksa, sedang menarik Siwon masuk ke kedai.

“Kau kan tidak ada urusan apapun, kenapa tidak mau datang? Besok Yoona akan ke Seoul,” omelan Shindong terdengar begitu jelas di telinga Yoona. Untung saja kedai sedang sepi, jadi mereka tidak terlalu menarik perhatian.

“Aku tidak ingin bertemu dengannya,” balas Siwon dingin.

“Ya!” Shindong berhasil membuat Siwon berdiri di depan Yoona. Ia menyuruh Siwon duduk dan ia sendiri pergi memesan beberapa porsi es krim. Memberi waktu agar Siwon dan Yoona bisa bicara berdua.

“Kau marah padaku?” tanya Yoona hati-hati. Ini pertama kali Siwon bicara dingin padanya. Tanpa senyuman yang akan memperlihatkan lesung pipit kesukaan Yoona.

Siwon masih berdiri dan menolak untuk duduk. Ia muak pada gadis di depannya, setelah semalam mereka bertemu. “Menurutmu?”

Yoona menunduk, tidak kuat menghadapi tatapan dingin Siwon yang menusuk dadanya. “Mianhe, aku tidak bisa membantumu. Tapi aku benar-benar harus pergi.”

“Kau tidak harus pergi,” sergah Siwon. “Kau memilih pergi. Setelah aku mati-matian memintamu untuk tetap di sini.”

“Aku tidak ingin ayahku tinggal sendiri. Dan aku hanya ke Seoul, bukannya kutub selatan,” nada Yoona mulai meninggi. Ingin rasanya memohon pada Siwon agar menghentikan perdebatan ini. Satu-satunya jalan, menurutnya, yang paling baik adalah pergi dari sana dan memulai hidup baru setelah bertahun-tahun memiliki cinta sepihak.

Siwon mendengus tidak percaya. “Justru karena itu Seoul, kau bisa pergi lain waktu. Tidak sekarang, saat aku benar-benar membutuhkanmu.”

Tidak. Jangan. Jangan membuat ekspresi seperti itu, pinta Yoona dalam hati. Di depannya, Siwon menatap manik cokelatnya putus asa, atau kecewa lebih tepatnya.

“Aku pergi.”

“Andwe,” Yoona menahan lengan Siwon yang hampir berbalik pergi. “Kita makan es krim dan menunggu Mi Young datang.”

Sebuah tawa pahit muncul di wajah Siwon. “Kalau kau tetap pergi besok, aku tidak mau duduk di sini dan makan es krim bersamamu.” Siwon menghempas tangan Yoona yang ada di lengannya. “Kau tahu bagaimana situasiku. Dan kau sama sekali tidak berniat membantu.” Setetes air mata keluar dari ekor mata Siwon lalu cepat-cepat dihapusnya. “Selamat tinggal.”

Butiran hangat itu mengalir deras di pipi Yoona. Bukankah ini yang ia harapkan? Pergi dari Siwon dan melupakannya? Hanya saja ternyata itu sangat menyakitkan, terlebih melihat sikap Siwon yang begitu dingin.

***

Bukk.

Shindong mendaratkan tinjunya di wajah Siwon. Ia pikir sudah cukup semua perselisihan ini. Sebagai orang yang dekat dengan Siwon dan Yoona, Shindong cukup gerah melihat sikap Siwon di pertemuan pertama mereka setelah tujuh tahun.

Siwon terhuyung ke belakang, menginjak perdu yang banyak ditanam di sana. Matanya berkilat marah karena pukulan Shindong yang baginya tidak beralasan. Tapi ia tidak membalas. Menunggu Shindong menjelaskan mengapa ia harus dipukul.

“Kau masih bersikap seperti itu pada Yoona? Bukankah kau sudah memaafkan kepergiannya dulu?” cecar Shindong.

Siwon membuka mulutnya dan menggerak-gerakkan rahang bawahnya, memeriksa seberapa besar efek pukulan Shindong tadi. “Bagaimana menurutmu? Aku tidak melihat alasan yang cukup bijak tentang kepergiannya. Hidupnya akan jauh lebih baik jika ia ada di sini. Ibunya akan memperlakukannya jauh lebih baik dibanding ayahnya yang pemabuk itu. Mengapa ia harus pergi?” geram Siwon.

Sekali lagi, Shindong meninju wajah Siwon. Kali ini sedikit lebih pelan dari yang pertama. Tapi justru membuat Siwon terjatuh di rumput. Sejujurnya ia juga tidak ingin sahabatnya itu babak belur. “Itu pilihannya. Sebagai sahabat, kita harus menghormati dan mendukung keputusannya,” kata Shindong bijak meski dalam hati ia membenarkan alasan Siwon.

Siwon tersenyum kecut. Malam sebelum Yoona meminta mereka makan es krim sebagai perpisahan, ia menemuinya. Dengan tergesa Siwon menarik tangan Yoona membawanya ke pantai yang sepi.

“Ada apa?” tanya Yoona heran.

Wajah Siwon begitu kalut dan rambutnya berantakan. Bukan Siwon yang biasanya. Sudah jelas ada yang mengganggu pikirannya. “Besok malam, orang tuaku mengadakan pertemuan dengan keluarga Lee.”

Yoona semakin heran. Pertemuan keluarga seperti itu sudah cukup wajar bagi keluarga Siwon, mengingat relasi bisnisnya ada di mana-mana. Biasanya, yang Yoona tahu dari Siwon, mereka akan makan malam sebagai simbol baiknya hubungan mereka. “Bukankah sudah sering? Lalu apa masalahnya?”

“Kau tidak ingat? Keluarga Lee memiliki seorang putri, yang akan dijodohkan denganku,” kata Siwon pahit. Bukan karena putri keluarga Lee jelek atau bodoh, malah sebaliknya. Tapi Siwon tidak menyukainya. Sedikit pun.

Desahan panjang Yoona memberi tanda kalau ia juga bingung menanggapi Siwon. Yoona sudah cukup sedih untuk melepas cintanya selama bertahun-tahun dan sekarang ditambah kabar kalau cintanya akan bertunangan dengan gadis lain. Sepertinya memang ia harus segera pergi daripada menjalani akhir drama cintanya yang menyedihkan. “Kau mau apa? Keluargamu itu sangat sulit ditentang,” komentar Yoona.

Siwon mengangguk menyetujui. Keluarganya jauh dari kata moderat. Perjodohan masih dianggap wajar pada masa sekarang. Setiap anggota keluarga yang belum menikah biasanya sudah memiliki ‘calon’ sejak kecil, yang tentu saja dipilih para tetua. “Bantu aku. Berpura-puralah menjadi kekasihku,” pinta Siwon putus asa.

Yoona terhenyak. Ia akan menjadi kekasih Siwon, meski hanya pura-pura seperti dalam film-film yang ia tonton. Namun ia tidak boleh tergoda. Akan semakin sulit untuk menghilangkan perasaannya jika ia menerima tawaran itu. “Mengapa aku? Ibumu sudah tahu betul bagaimana hubungan kita. Ayahmu juga. Tidak akan ada yang percaya. Cari orang lain saja,” tolak Yoona setengah hati. Meski berat, ia harus tetap menggunakan logikanya.

“Kau tahu tidak ada gadis lain yang kukenal selain kau dan Mi Young. Dan semua orang tahu Mi Young punya Nickhun,” tukas Siwon. Benar, sejak kecil Siwon tidak pernah berbaur dengan gadis-gadis, betapapun banyaknya yang ingin dekat dengannya. “Ayolah. Kuberi apapun yang kau minta.”

Benarkah? Apapun? Bagaimana kalau aku minta hatimu? batin Yoona berteriak girang.

“Tenang saja, aku tidak akan jatuh cinta padamu. Kalau itu yang kau khawatirkan. Saat ada seseorang yang kau sukai, kau bebas melakukan apapun. Kan aku sudah pernah bilang tidak akan jatuh cinta pada sahabatku.”

Cukup. Yoona sudah cukup mendengar pernyataan itu berulang-ulang dan justru membuatnya semakin bersalah. Yoona merasa seperti pengkhianat yang menembak rekannya saat perang. “Siwon-ah, aku tidak bisa melakukannya. Lusa aku pindah bersama ayahku ke Seoul.”

Siwon mematung selama beberapa saat sebelum bereaksi. “Tundalah keberangkatanmu. Aku akan mengganti biaya tiketnya atau apapun yang kau butuhkan,” bujuknya.

Yoona menggeleng. “Mianhe. Sebaiknya kau berkata jujur kalau kau menentang perjodohan itu.” Dengan kepala tertunduk menahan air mata, Yoona pergi meninggalkan Siwon yang tanpa menoleh lagi.

“Bangun, Choi Siwon!” Shindong menarik kerah kemeja hitam Siwon dan membimbingnya berdiri, membuat Siwon kembali dari kenangannya. “Kita sudah lama bersahabat. Maafkanlah dia. Kau sendiri yang bilang bersedia mati demi sahabatmu.”

“Sahabat? Sahabat macam apa yang pergi saat dimintai bantuan? Karena dia tidak mau membantuku, aku harus bertunangan dengan orang yang tidak kusukai,” cibir Siwon.

Shindong melepas cengkeramannya di kerah Siwon. “Kau tidak bisa menyalahkannya atas apa yang terjadi padamu sekarang,” kata Shindong jauh lebih tenang. “Yoona punya alasan atas pilihannya pergi. Pernahkah kau menanyakannya? Tahukah kau?”

“Mwo?” Siwon terperanjat melihat Shindong yang sangat serius. Ia tahu Shindong yang lucu tidak pernah main-main jika sudah menampilkan sikap seriusnya. Otak Siwon berusaha mengingat alasan kepergian Yoona selain karena ingin merawat ayahnya. Tidak ia temukan. Siwon hanya merasa begitu marah setelah Yoona, satu-satunya yang dia pikir bisa membantunya, menolak dan pergi meninggalkannya.

“Kau tidak tahu?” tebak Shindong sinis.

Siwon menggeleng pelan, berat untuk mengakui kesalahannya. “Wae?”

“Karena Yoona mencintaimu. Dia mencintaimu sejak dulu tapi tiba-tiba kau bilang tidak akan pernah jatuh cinta pada sahabatmu. Yoona merasa sudah mengkhianati persahabatan kita dan memilih pergi untuk melupakanmu.”

Jantung Siwon seperti ditusuk ribuan belati tajam. Ada rasa sakit yang tiba-tiba menderanya. Yoona? Mencintainya? “Sejak kapan?” bisik Siwon.

“Entahlah. Tapi aku sudah melihat matanya berbinar-binar setiap menatapmu sejak kita kelas enam.” Shindong tahu ini tidak benar, mengatakan perasaan Yoona setelah ia berjanji akan merahasiakannya. Sayangnya, ia lebih tidak bisa melihat gadis itu disalahkan hanya karena ia jatuh cinta.

Tubuh Siwon membeku selama beberapa detik sebelum berlari meninggalkan Shindong. Ia memeriksa ruang pesta Mi Young, mencari keberadaan Yoona. Seseorang memberitahunya kalau Yoona terlihat meninggalkan pesta beberapa waktu lalu.

Siwon mengendarai mobilnya mengelilingi kota kecil itu. Mencari keberadaan Yoona di tempat-tempat yang dulu sering mereka kunjungi. Membuat Siwon seperti kembali ke masa lalu. Hanya saja rasanya sungguh berbeda setelah Shindong mengatakan kalau Yoona mencintainya. Bayangan Yoona dengan berbagai ekspresi muncul di kepalanya. Yang paling sering saat gadis itu cemberut kesal, biasanya karena Siwon memaksanya melakukan hal yang Yoona benci. Memancing misalnya.

“Ikut aku, eoh,” kata Siwon memaksa Yoona. “Ini hari Minggu dan kau terus-terusan meringkuk di bawah selimutmu.”

Bibir Siwon melengkung membentuk senyuman saat ia mengingat kejadian itu. Ia datang ke rumah Yoona pagi-pagi dan membangunkan gadis itu. Yoona menolak menemaninya memancing, lalu dengan seenaknya Siwon menggendong gadis itu ke pantai dan menceburkannya.

“Apa yang kau lakukan?” pekik Yoona marah. Wajahnya yang cemberut sedikit pucat karena kedinginan.

Siwon cepat-cepat turun ke air dan membantu Yoona kembali ke tepian. “Mian. Kau kan belum mandi, jadi sebaiknya mandi dulu,” kata Siwon sok polos.

Yoona hanya mendengus jengkel, tapi lima menit kemudian sikapnya sudah kembali normal. Ya, Yoona tak pernah marah selama lebih dari sepuluh menit padanya. Apa karena ia mencintai Siwon?

Entah mengapa, meski ia tahu Shindong adalah orang yang bisa ia percaya, Siwon msih ragu. Selama ini sikap Yoona selalu normal, tidak menunjukkan adanya ketertarikan pada lawan jenis saat bersamanya. Atau mungkin Yoona berakting dengan sangat baik.

“Aku tidak bisa,” keluh Yoona saat Siwon mengajarinya berdiri di atas papan selancar. “Aku menonton kalian saja.”

Dulu, saat mulai mengajari Yoona bermain selancar, Siwon masih begitu muda dan meledak-ledak. Tetapi anehnya, sikapnya bisa berubah menjadi sangat sabar saat berhadapan dengan Yoona. “Cobalah dulu. Tekuk lututmu dan tahan seperti itu,” Siwon memberi instruksi.

Yoona terus-terusan mengeluh, dan Siwon tak pernah berhenti menyemangatinya. Meski akhirnya Yoona benar-benar menyerah, ia sudah menghabiskan waktu selama tiga bulan untuk terus menjadi murid yang baik bagi Siwon. Yoona terus berlatih keras karena Siwon memintanya begitu. Dan Siwon baru menyadarinya sekarang.

***

Berdiri beberapa menit di depan kedai es krim itu tidak membuat malam Yoona menjadi lebih baik. Tungkai jenjangnya melangkah lagi menuju pantai. Sayangnya langit sedang mendung dan laut pasang. Yoona memilih duduk di tempat yang agak jauh dari tepian pantai, menghindari tiba-tiba hujan atau badai datang.

Setengah jam berlalu dan Yoona masih betah melamun di tempat itu. Tidak banyak orang di sana, karena aktivitas kota kecil cenderung lumpuh saat malam hari. Lamunan Yoona buyar saat deru mesin mobil terdengar tidak jauh dari tempatnya duduk.

Seorang laki-laki jangkung keluar dari mobil itu. Yoona tak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena penerangan yang minim. Baru setelah laki-laki itu dekat, Yoona bisa mengenali wajahnya. Choi Siwon.

“Kau menungguku?” tegur Siwon dari jarak beberapa meter.

Yoona bangkit berdiri, menanti dengan cemas kedatangan Siwon dalam beberapa detik. Mereka kembali berhadapan.

“Kau menungguku?” ulang Siwon.

“Aniyo,” jawab Yoona kaku. Ada kecanggungan yang menghiasi pertemuan mereka. Tentu saja, setelah menghabiskan hari-hari selama hampir dua belas tahun dan tiba-tiba berpisah dengan cara yang menyedihkan, wajar jika mereka sama-sama merasa canggung. “Wajahmu kenapa?” tanya Yoona khawatir saat melihat ujung bibir Siwon membiru.

Siwon tersenyum. Yoona benar-benar mencintainya. Setelah sikap buruknya, Yoona masih mengkhawatirkan luka kecil di wajahnya. “Gwenchana. Ini balasan setimpal untuk kesalahanku,” jawabnya misterius, tapi disertai senyuman.

Melihat senyum di bibir Siwon membuat hati Yoona jauh lebih tenang. Siwon-nya yang hangat telah kembali, walau tetap tidak bisa dimilikinya. Tapi tak apa. Toh itu memang sudah keputusannya untuk terus memendam perasaan cintanya pada Siwon. Dan melihat Siwon dengan sebuah senyuman jauh lebih menyenangkan dari apapun yang ia punya sekarang. “Mengapa kau kemari?”

“Mengapa kau pergi? Mi Young akan marah padamu,” omel Siwon.

Tanpa sadar air mata Yoona menetes. Siwon benar-benar telah kembali. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk terus merasa bersalah. Ia begitu rindu percakapan seperti ini. Yoona tidak pernah menghubungi Siwon meski ia rajin menjalin komunikasi dengan Mi Young dan Shindong. Lewat mereka Yoona tahu bagaimana kondisi Siwon selama ia di Seoul. Tapi selama dua tahun terakhir Yoona memutuskan tidak akan bertanya apapun tentang Siwon agar misi melupakannya berhasil.

“Kenapa kau menangis?”

Yoona menghapus air matanya dengan telunjuknya dan menggeleng pelan. “Kudengar kau bertunangan dengan putri keluarga Lee. Maaf aku tidak bisa membantumu waktu itu,” Yoona memberanikan diri mengungkit sumber masalah mereka. Ia harus memastikan Siwon benar-benar memaafkannya.

Siwon mengangguk samar. “Lupakan saja, lagipula saat itu aku yang terlalu memaksamu. Dan aku yang seharusnya minta maaf.”

Yoona sudah mempersiapkan hatinya untuk menghadapi semua ini. Ia hanya ingin Siwon memaafkan penolakannya tujuh tahun lalu, bukan untuk memilikinya. “Di mana tunanganmu? Apa kalian tidak datang bersama ke pesta Mi Young?”

Selama beberapa detik Siwon hanya diam menatap Yoona, membuat gadis itu bedebar menanti jawabannya. “Aku memutuskannya setahun lalu. Ayahku bilang aku tidak akan mendapat warisan karenanya,” Siwon terkekeh menertawakan nasibnya sendiri.

Perut Yoona bergejolak karena terlalu gembira. Jahat kedengarannya saat kau justru senang ketika tahu sahabatmu putus dengan tunangannya. Tapi Yoona tidak peduli. Permintaan maafnya diterima dan ia mendapat bonus Siwon yang tidak memiliki kekasih.

“Mengapa kau tersenyum? Apa kau senang kalau aku putus? Apa kau menyukaiku?” Siwon pura-pura kesal.

Senyum Yoona berubah menjadi ekspresi kaku. Kepalanya menggeleng kuat-kuat mencoba menyangkal ucapan Siwon yang seratus persen benar.

Siwon tertawa. Satu-satunya yang membuatnya nyaman hanya Yoona. Bodoh, Siwon mengutuk dalam hati. Bagaimana bisa kau baru menyadarinya?

“Aku hanya lega karena dulu kau bilang tidak menyukainya, jadi sekarang kau bisa bebas,” bantah Yoona. Mereka baru saja berbaikan dan Yoona tidak mau Siwon menganggapnya pengkhianat karena diam-diam menyimpan rasa padanya.

Tangan Siwon terangkat untuk membelai rambut Yoona lalu merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. “Bogoshipo, Yoong,” bisiknya.

“Nado.”

Ada kelegaan yang sarat dalam diri Siwon saat Yoona mengucapkan kata itu. Seharusnya sejak dulu ia melakukannya. Siwon terlalu takut kehilangan Yoona hingga ia ‘memaksa’ gadis itu menjadi sahabatnya. Agar ia bisa selalu ada di sisinya selamanya, walau Yoona memiliki kekasih atau suami.

“Bagaimana kalau kita menikah?”

“Mwo?” Yoona melepaskan diri dari pelukan Siwon, menatap laki-laki itu penuh tanya. Terakhir kali ia melakukan check up di rumah sakit, dokter bilang kesehatannya sangat baik, termasuk pendengarannya.

Siwon menampakkan senyum terbaiknya, membuat lesung pipit kesukaan Yoona terbentuk sempurna. “Telingamu tidak salah. Aku memang mengajakmu menikah.”

“Pura-pura?” tanya Yoona tergagap.

“Bukan, untuk yang sebenarnya,” balas Siwon geli saat melihat raut wajah Yoona.

“Tapi aku kan sahabatmu,” kata Yoona. Ada nada sedih saat ia mengatakannya.

“Bagiku, pernikahan hanya sekali seumur hidup. Kau selamanya sahabatku. Jadi kupikir aku bisa menikah denganmu. Kau tetap sahabatku dan menjadi istriku. Kurasa itu lebih hemat.”

“Mwo? Hemat?” Yoona tertawa tidak percaya. Diam-diam ia menunduk menyembunyikan senyum bahagianya. Sekarang ia tahu kalau Siwon juga mencintainya. Tak peduli seberapa aneh cara Siwon mengungkapkannya, ia tetap senang. Bahkan Siwon tak perlu mengatakan dengan kata-kata romantis seerti pasangan lain. Siwon-nya memang seperti itu. Dia berbeda dan istimewa.

Siwon mengangkat dagu Yoona dan mendekatkan wajahnya. Satu tangannya telah melingkar di pinggang gadis itu. “Saranghae,” bisiknya lembut sebelum melumat bibir Yoona.

 

END

 

Hai… ini ff oneshoot yang saya bikin buat project yoonwonited anniv. Gaje bgt ya? Hehe. Ngga tau kenapa munculnya ide ya begini waktu liat videonya. Biarlah dibilang ngga nyambung, lagi mentok ide juga. terima kasih bgt buat yang udah baca sampai sejauh ini, terlebih RCL. Hehe.. harap dimaklumi ya kalau ada kekurangan atau kesalahan atau typo di ff saya ini. sampai jumpa lagi…

Buat echa/resty makasih udah posting..

Iklan
Tinggalkan komentar

180 Komentar

  1. choi so ra

     /  April 6, 2014

    ceritanya bagus dan mudah dipahami. Yoonwon jjang! Bikin sequel eonn.

    Balas
  2. KaRenYS4ever

     /  April 6, 2014

    Hhuhuhu.. T.T
    Nangis nih krn crita cintanya Yoona sdh mnyedihkan sjak awal bahkan ktika 7thn kmudian brtemu lg dng Siwon..
    Tp untung ada Shindong..
    Dan akhirnya mrka brsatu jg..
    Ffnya dpt bnget feelnya..bgus bnget jg..
    Ffnya bkin aku sedih, terharu n senang akhirnya mrka baikan lg..
    Next ff dtunggu ya eon..

    Gomawo^^v

    Balas
  3. yeaayy endingnya saling mencintai hihi^*^ sequel dongg 🙂

    Balas
  4. desakasri

     /  April 6, 2014

    Reblogged this on desakasrip.

    Balas
  5. hanna lee

     /  April 10, 2014

    Wahhh daebak ceritanya bagus ga kecepetan ga kelamaan, sequel yoonwon married dong oenni^^

    Balas
  6. Yulia

     /  April 11, 2014

    Nice FF….
    bagus dan feelnya jg dapet Thor…

    Balas
  7. andreyani

     /  April 15, 2014

    So sweet ,,bikin sequelnya donk

    Balas
  8. Untung endingnya gak sad..
    Soalnya dipertengahan sampe akhr uda pasang wajah sedih bacanya…

    Bagus.
    Bahasa kalimatnya jg lancar dan mudah dipahami…

    Nice.
    Aku suka OS kamu.
    Jika ada waktu dan punya jalan crita lg, buat sequelnya ya. .
    Haha

    Balas
  9. Choi Ilmhy

     /  April 20, 2014

    Kerennnnn ,,
    God job

    Balas
  10. tintin305

     /  April 24, 2014

    Duhh.. Sy telat bgt yah ampe gk tau kalu ada ff project ini
    maap yah eonn baru ngevote skrang abis sy hiatus UN eonn ni ajah baru baca

    dan sy suka ma critnya yoona masih mendem cnta dan nyatan wonppa jg sama uhh so sweetnya

    tpi hnya krna mslah spele jdi musuhan gitu uh.. 😦 tpi endingnya..

    kya!! Ending membhagiakan 😀

    Balas
  11. ireene

     /  April 24, 2014

    Baguusss!!

    Balas
  12. Dede

     /  April 29, 2014

    Sedih senang dan bahagia terasa bnget dsinih apa lgh persabatan mereka sangat kompak. suka banget sama ceritanya coba ceritanya lebih panjang pasti tambah seru.

    Balas
  13. 0330

     /  Mei 1, 2014

    Wuaaaaa… seruuuuuu!! Tapi endingnya kayak kecepetan hehehehm

    Balas
  14. Aoel

     /  Mei 2, 2014

    Bagus… Ngena banget sama aku.,

    Balas
  15. shin ji hyun

     /  Mei 12, 2014

    daebakk… Nyeseknya ada senengnya ada. Campur aduk deh bacanya. Keren keren..

    Balas
  16. Waaaahhh awalnya menyesakkan banget bagi Yoona..
    Aku malah berpikir jangan-jangan ini sad ending.
    Aku kaget pas Siwon bilang kalau dia gak bakal suka sama sahabatnya sendiri .____.
    Tapi aku suka sama ceritanya, simple and fresh! 🙂

    Balas
  17. any

     /  Mei 19, 2014

    Bagus thor aku suka. Feelnya juga dapet. Cowok emang kebanyakan agak lemot sama urusan asmara kayak siwon. Hehehe

    Balas
  18. Ommo!!! Akhirnya wonpa bisa ngungkapinnya. Ya walopun ngga romantis: bkin yg lbih keren lg ya.. Di tungguuuu

    Balas
  19. kerren banget, pokoknya ya gitu dehh, susah ngomongnya..bahasanya tu enak..mengalir, ga tertekan gitu…

    Balas
  20. Yeahhh . . Daebak . . Romence , i like itt

    Balas
  21. Choi Tika

     /  Juli 30, 2014

    aaa happy ending feelnya dpt bgt 🙂 ternyata siwon oppa jg mencintai yoona unnie. Butuh sequel nih tp kyanya authornya ga bakal bkin sequelnya ya? u,u

    Balas
  22. merrychoi

     /  Agustus 4, 2014

    happy ending!! daebakk 😉 sahabat jadi cinta.. wkwkwk ^^

    Balas
  23. merrychoi

     /  Agustus 4, 2014

    wahh happy ending!! daebakk 😉

    Balas
  24. cerita.nya bagus kalo jadi yoona pasti nyesek karna bertepuk sebelah tangan, tapi akhir.nya happy endingg ..

    Balas
  25. Duh… Romantis bgt thor
    emang betul jg sahabat bisa saja jadi cinta seperti kisah Yoonwon hehehe……… FF nya menarik bgt
    I Like it…

    Balas
  26. Uuuuhhh so sweet moment yoonwon nya dapet banget..

    Balas
  27. Han Eun Sub

     /  Maret 24, 2015

    Romantisnya ….

    Balas
  28. Terharu aku thor T.T
    Kirain bakalan sad ending.
    Cerita ini sedikit mirip sama kisahku 🙂
    Keren ceritanya….

    Balas
  29. aqila

     /  Desember 29, 2015

    Daebak !! Ff nya keren 🙂
    Keep writing thor 🙂
    YoonWon J-jang !!~~

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: