[OS’s Project YoonWonited Anniv.] Broken Pieces

broken pieces

Broken Pieces

©msdandelion,2014.

Yang kutahu hanyalah,kehilanganmu.

.

.

Siwon/Yoona |Romance/Hurt|Oneshoot
for Parental Guidance viewing.

.

.

—Oh baby tell me why’d you have to go
Cause this pain I feel
It wont go away.

Yoona menatap hamparan luas yang kini terlihat dengan sangat indah di kedua iris matanya. Disertai lenguhan napas yang dalam, ia menjatuhkan dirinya—berpadu menjadi satu dengan beribu-ribu pasir yang kini mengelilinginya. Dengan tidak bosannya,ia berulangkali menatap deburan ombak yang terus menyapu pasir-pasir yang ada.

Ia tidak pernah jengah mendengarkan bagaimana menyatunya suara ombak dengan pasir.

Karena itu indah,demikian yang dikatakan oleh seseorang baginya.

Menciptakan kenangan yang indah bersama—lantas pergi meninggalkannya begitu saja. Mungkin itu merupakan definisi yang tepat bagi seseorang yang mampu membuat Yoona merasakan bagaimana degupan jantungnya tidak beraturan.

Semuanya terasa sulit,seakan dunia ini kejam.

Sebutir tetes air jatuh tepat pada wajahnya, Yoona enggan mengingatnya kembali. Apa daya dirinya,tubuh dan otaknya tidak bekerja seperti hati kecilnya.

Sebagaimana, dirinya sendiri sangat-sangat merindukannya.

Lamat-lamat, suara langkah kaki memasuki pendengarannya. Hingga apa yang kini ia lihat,hanya terasa seperti mimpi—membawanya jauh dari dunia nyata.

“Siwon,” dimulai dengan sebuah nama, berharap bahwa semua ini hanya mimpi belaka. Ia sama sekali belum siap. Bagaimana ia dapat bertemu dengan pemuda tersebut dalam keadaan seperti ini?

Namun apa yang harus dilakukannya jika pemuda itu meninggalkannya tanpa membalas atau pun menatapnya sekalipun?

Seharusnya apa yang dirasakan olehnya sekarang adalah sebuah kebahagian terlampau besar, bukan sebuah sakit yang datang secara tiba-tiba mencabik-cabik hatinya. Menorehkan luka yang begitu dalamnya, hingga dia hanya dapat terduduk lemas.

Sampai-sampai,semua organ tubuhnya serasa tak berfungsi dengan baik.

“Siwon.” Ia menatap lirih pada  bayangan pemuda itu yang terlihat samar-samar,lalu menghilang.

.

.

—I thought that from this heartache,I could escape

But I fronted long enough to know

There ain’t no way

Dengan tergesa-gesa,Siwon segera membuka dan menutup kembali pintu mobilnya dengan cepat. Berulang kali ia mengerapkan iris matanya, berharap semoga apa yang tadi ia lihat bukanlah sebuah kenyataan.

Ia kembali bertemu dengan gadis itu.

Pernyataan yang benar-benar sangat ingin ia hapuskan dengan segera. Sudah lama ia pergi meninggalkan Korea dan tentu saja gadis itu, namun entah mengapa tatkala melihat kembali Korea setelah beberapa tahun berada di Amerika—menuntun dirinya untuk datang sekedar melihat-lihat.

Dan,sialnya ia harus bertemu gadis itu.

Setelah sekian lama mereka tidak bertemu, saling kehilangan kontak satu sama lain. Namun gadis tersebut tetap mengingatnya—bahkan namanya. Siwon mendesah kecil—tujuannya untuk berkunjung ke pantai tersebut sepertinya adalah hal yang salah. Seharusnya ia lebih memilih pulang terlebih dahulu, bertemu dengan ibunya—lantas beristirahat dengan tenang.

Terkutuk kau Choi Siwon.

Siwon segera menyalakan mesin mobilnya,dan menjalankannya menuju rumahnya. Menganggap bahwa semuanya hanyalah mimpi buruk yang harus dilupakannya.

Semuanya terlihat baik-baik saja.Mungkin.

.

.

—Well I thought I could just get over you baby

But I see that’s something I just can’t do

Yoona meletakan tas kecilnya pada nakas meja. Ia menarik salah satu lemari dan mengeluarkan sebuah kotak berukuran sedang, dibersihkannya debu-debu yang ada hingga tampak bersih. Dibukanya perlahan dan mengeluarkan diary miliknya yang selalu tersimpan rapi.

Juni-9-2013.

Ini adalah hari pertama aku bertemu dengannya. Secara tak sengaja ia menabrakku ketika aku sedang menari di sebuah pesta. Dan kami mulai berkenalan.

Secara beruntun, memori lama tersebut kembali melingkupi ingatan Yoona. Dimana semuanya terjadi begitu cepat, dan dimulai saat itu degup jantung Yoona sudah tak dapat terkontol kembali begitu melihat senyum yang dimiliki Siwon.

Juni-11-13.

Kami kembali bertemu, aku tidak menyangka bahwa ia adalah salah satu anggota dari klub tennisku. Aku bahkan tidak pernah menyadarinya. Kami sempat menyapa dan berbicara, ia juga mengajariku bermain tennis.

Yoona kembali tersenyum, ini adalah saat-saat yang paling ia rindu. Seakan-akan berputar dalam otaknya—membuat dirinya lantas kembali menerawang. Ia kembali melanjutkan ke halaman selanjutnya. Dan apa yang dibacanya benar-benar membuatnya tak dapat menahan senyumnya.

Agustus-22-13

Semua anggota mengadakan liburan dan kami memutuskan untuk pergi bersama-sama ke Busan. Pemandangan di sana benar-benar sangat indah. Aku senang sekali ketika dia mengajakku berjalan sekitar pantai.Aku sangat menikmatinya.

Yoona terus menatapnya, hari itu dimana semua yang dirasakannya pada Siwon mulai tumbuh. Berkembang menjadi sebuah cinta yang memang ingin ia rasakan.

Siwon adalah Cinta pertamanya.

Yoona terus membaca buku diary miliknya, mengingat kembali kenangan manis antara dirinya dan juga Siwon. Tatkala keduanya memulai untuk saling terbuka satu sama lain—dan pada akhirnya salah satu jatuh kedalam lubang cinta atau mungkin bahkan keduanya.

Namun,satu diantara mereka tidak menyadarinya. Dan terus mencoba menyangkal semuanya,mendendam semuanya dalam hati—lantas berakhir dengan sebuah kata ‘kandas’.

Januari-1-14

Mengapa ia pergi meninggalkanku begitu saja? Bagaimana dengan hubungan kita. Ia juga memtuskan kontak. Sebenarnya ada apa?

Pada hari itu, merupakan hari terburuk yang pernah Yoona alami dalam hidupnya. Tatkala Siwon malah pergi menjauh dan meninggalkannya begitu saja tanpa memberi kabar padanya. Ia harus kehilangan Siwon.

.

.

—All I do is lay around

Two years full of tears

From looking at your face on the wall.

Pagi tidak secerah biasanya—malah lebih gelap disertai dengan angin kencang yang kian berhembus. Yoona sedikit berlari kecil menuju halte bus terdekat,takut-takut hujan turun dengan derasnya—apalagi ia lupa membawa payung yang selalu berada dalam tasnya.

Apa yang Yoona asumsikan tadi memang benar, tidak sampai sepuluh detik ia menapaki  halte. Hujan sudah turun dengan derasnya, Yoona hanya menghela napasnya menatap Hujan yang mungkin tak kunjung reda.

Seseorang berlari terbirit menuju halte dan berdiri tepat disebelah Yoona. Dengan penasaran,ditiliknya orang disebelahnya. Betapa terkejutnya Yoona mengetahui bahwa itu Siwon yang sedang kebasahan berada tepat di sampingnya.

Sekonyong-konyong waktu berhenti dan membiarkan mereka saling menatap satu sama lain. Iris mata keduanya saling berpadu memancarkan emosi disetiap kedipan—tak memungkiri bahwa di dalamnya pun terselip kerinduan yang sangat diantaranya. Masing-masing terhanyut dalam tatapan dalam yang dibuat keduanya—hingga akhirnya sesuatu mengusik mereka berdua.

“Aaahh-!” pekik keduanya saat sebuah mobil menyiram genangan air pada tubuh mereka dan seketika merekapun basah kuyup.

“Bagaimana ini?” keluh Yoona menatap pakaiannya yang terlihat kotor dan basah.

“Kau tak apa?” suara Siwon yang terdengar mendadak, lantas menyerang Yoona.

“Aku tak apa-apa.” balasnya gugup, dengan segera menghindari tatapan manik mata Siwon dan mengalihkan pandangannya pada hujan yang tak kunjung mereda.

“Maaf,aku harus pergi dulu. Lama tak berjumpa.”

Perkataan tersebut seakan membuat hatinya kembali berdentum-dentum keras dan tak beraturan. Kendatipun begitu semuanya malah membuat Yoona takut bahwa Pemuda tersebut hanya mempermainkan dirinya—terlebih perasaanya. Karena ia tidak ingin di bodohi kedua kalinya oleh pemuda yang sama.

.

.

—But I guess it’s safe to say baby safe to say

That I’m officially missing you.

Ini adalah pertemuan kedua mereka. Seharusnya Siwon kesal,marah seperti tempo hari. Namun perasaannya malah terlampau senang. Apa memang mereka ditakdirkan?

Konyol.Begitu asumsi Siwon terhadap takdir dan juga cinta.

Sebenarnya bukan tanpa alasan ia meninggalkan Yoona begitu saja. Ia hanya takut bahwa apa yang ia rasakan sekarang hanya bertahan sebentar— menyerupai sebuah perasaan sahabat. Ia memilih untuk pergi,agar ia tidak menyakiti gadis tersebut. Ia tidak ingin di anggap hanya memainkan perasaan wanita tersebut.

Kendatipun, ia mengetahui bahwa Yoona memiliki perasaan terpendam baginya.

Siwon juga ingin, jika Yoona mengetahui bahwa sebenarnya mereka memiliki perasaan yang sama. Namun pemikiran Siwon berbeda—terlalu dini bagi dirinya untuk menyadari bahwa semuanya adalah sebuah cinta. Apa yang diinginkan oleh dirinya tentu sama dengan Yoona, hanya saja ia mau bahwa semuanya berjalan dengan perlahan-lahan dan ia perlu membuktikannya.

Ia telah memutuskan, apa yang ia lakukan untuk saat ini memang tepat.

Semuanya harus berjalan perlahan hingga sampai pada tujuannya—sampai dimana sebesar keinginan mereka untuk merajut sebuah hubungan yang lebih serius.

.

.

—Now I don’t even know you at all

I don’t know you at all

Yang barusan dilakukan oleh Siwon padanya benar-benar membuat Yoona tak dapat berdiam diri barang sejenak. Ia berulang kali memikirkan pertemuan mereka tadi yang secara tak sengaja.

Bagaimanapun,hatinya tak dapat menahan gejolak yang  perlahan kembali mendera datang. Seketika melingkupi dirinya yang terus berkata kepadanya bahwa ia masih memiliki perasaan terhadap Siwon. Semua cara telah ia lakukan hanya untuk melupakan Siwon, dan lagi semua itu dengan cepat musnah tertelan seketika.

Ia tidak pandai berbohong,apalagi terhadap dirinya sendiri.

Yoona menghela napasnya kasar, memikirkan semuanya membuat kepalanya terasa pening atas segala yang terjadi. Baik dengan pertemuannya tadi dengan Siwon maupun perasaannya sekarang. Haruskah ia jujur terhadap dirinya sendiri bahwa ia merindukan lelaki tersebut? Namun bagaimana jika Siwon tidak sependapat dengan dirinya, bahwa Siwon tidak merindukan dirinya sama sekali.

Ia tidak tahu. Ia tidak akan pernah tahu sampai ia sendiri yang harus membuktikannya—jika Siwon juga merindukan dirinya. Terlebih juga pada kemungkinan bahwa Siwon juga mencintai dirinya.

.

.

 

—And today

I’m officially missing you.

Yoona menyesap kopinya perlahan,menyisakannya hingga setengah—lantas meletakannya kembali pada meja. Sekali-kali, ia mencoba menilik jam yang melingkar manis pada pergelangan tangannya. Ia mencoba untuk bersikap biasa dan diam, Namun semua itu malah membuat hatinya semakin kalut.

“Mengapa mereka lama sekali?”

Yoona sedikit meremas ujung pakaiannya dan mengigit bibirnya pelan—tatkala seseorang yang ia tunggu sedari tadi datang.

“Siwon kemarilah!Cepat!” perintah Donghae—sahabatnya sembari menarik kursi yang tepat ada di hadapannya.

Sejenak keduanya saling bertukar pandang sesaat dan teralihkan seketika saat Donghae beranjak meninggalkan mereka. “Aku pergi dahulu,bye!”

“Hai,” sapa Siwon kaku seraya menggaruk tengkuknya. Suasananya kini benar-benar canggung bahkan terlihat kaku seperti kedua orang yang saling tak mengenal.

“Maaf aku yang meminta Donghae membawamu kesini. Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin kusampaikan,” balas Yoona memecah keheningan di antara mereka. Ia menarik lalu membuang napasnya berkali-kali demi menghilangkan semuan kegugupan dalam dirinya.

“Omong-omong,bagaimana keadaanmu? Sungguh aku tak percaya kita dapat bertemu kembali.”

“Baik-baik saja. Sebenarnya ada apa?” tanya Siwon tak sabar. Yoona mencoba menguasai dirinya, dan bersiap-siap memberitahu Siwon semua perasaannya.

“Aku tahu ini mungkin sangat klise, hanya saja aku ingin kau tahu bahwa aku sanagt merindukanmu.” Pernyataan Yoona jelas-jelas membuat Siwon tersentak kaget.

Gadis ini merindukan dirinya? Lantas bagaimana dengan dirinya sendiri?

“ Aku tak tahu ini perasaan apa, Namun semakin lama saat kita saling dekat. Aku seperti merasakan ada sesuatu yang terus bergejolak dalam hatiku ketika bersamamu.” Lanjut Yoona, Ia tak berani menatap Siwon sekarang. Ia terlalu takut untuk mengetahui perasaan Siwon. Ia hanya ingin mengeluarkan semua terlebih dahulu, agar ia merasa lebih tenang.

Dan, semua itu tak semudah seperti pemikirannya.

“Kau tahu aku merasa seperi berada pada langit tertinggi—aku merasa sangat-sangat bahagia. Sampai-sampai aku merasa tergila-gila padamu.” Yoona mencoba tetap tersenyum sembari memberitahu pada Siwon mengenai perasaanya itu. Sungguh ia tidak dapat menahan senyumnya—ketika ia kembali mengingat hal-hal itu.

“Namun seketika hal itu musnah saat kau sekonyong-konyong pergi meninggalkanku begitu saja. Kau seperti memasukanku kembali pada sebuah lubang kelam dan rasanya sangat sakit. Berulang kali aku mencoba mencarimu—dan semua yang kulakukan sama sekali tidak membuahkan hasil yang membuatku menyerah,” Senyum pada bibir Yoona pudar, ia harus menahan sesak pada dadanya. Cinta selalu ada pengorbanan serta kesakitan dan ia harus tahu bahwa cinta itu memang tidak segampang apa yang ia pikirkan selama ini.

Ia salah mengerti mengenai cinta.

Siwon hanya dapat terdiam mendengar semuanya. Kini ia sudah mendapatkan apa yang ia mau. Kejujuran yang ia butuhkan dari gadis tersebut, namun kenapa kerongkongannya terasa kelu dan ia hanya dapat diam—bahkan tak dapat bersuara sekalipun.

“Aku mencintaimu,maaf jika aku terlihat kurang ajar. Mencintai mu seenaknya saja,” Yoona segera menghapus air matanya yang merembes keluar. Sekarang ia merasa sedikit tenang serta lega. Ia dapat menyampaikan perasaannya secara langsung pada Siwon dan ia tak perlu untuk terus menerus menahannya sendiri.

“A—aku.” Siwon tak berhasil menyembunyikan keterkejutannya sekarang. Bagaimana caranya ia harus membalas perasaan gadis ini, sedangkan perasaannya sendiri saja masih belum menentu.

“Aku harus pergi, mendadak aku memiliki acara yang tak bisa aku tinggalkan.”

Siwon pergi meninggalkan tempat tersebut, menyisakan Yoona yang hanya duduk termenung.

Jadi, setelah ia memberitahu semuanya..hanya ini yang ia dapatkan?

Bodoh kau Yoona, mengapa kau dengan mudahnya menganggap bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama denganmu?

Bodoh— hanya kata-kata tersebut yang terus ia ucapkan tanpa henti pada dirinya sendiri.

Mengapa ia harus merasakannya lagi? Apakah Siwon tidak tahu bahwa sebenarnya ia sangat kehilangan Siwon?

.

.

—Oh can’t nobody do it like you

Said every little thing you do.

Siwon mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia merasa kesal dengan dirinya sendiri. Apa yang tadi ia sudah lakukan?

Hanya berdiam diri saja tanpa berbuat apa-apa?

Mengapa Yoona membuat dirinya harus terjatuh dalam perasaannya sekarang. Perasaannya yang tak menentu—apa ia mencintai gadis itu atau tidak.

Ia merasa seperti lelaki terbodoh dihadapan Yoona, ia tidak bisa sedetik pun melepaskan pandangannya melalui iris mata Yoona. Seakan-akan membiusnya untuk terus menatapnya. Seperti ada sesuatu yang terpancar sehingga membuat dirinya dikelubungi oleh perasaan serupa ketika mereka pertama kali bertemu.

Ia tidak dapat memberhentikan detakan jantung—bahkan sampai saat ini.

Ia kembali memutar rentetan kata demi kata yang Yoona ucapkan, dan ia dapat merasakan semua itu berasal dari hati Yoona buka dibuat-buat atau gadis itu hanya ingin memanfaatkannya saja. Ia hanya tak ingin jika ia harus kembali terjatuh pada lubang yang sa ma,pada luka yang sama.

Singkatnya, Ia tidak ingin dibohongi kembali oleh gadis.

Tapi,Yoona membuatnya merasa nyaman ketika ia bersama-sama dengan gadis itu. Ketika mereka saling bercanda-tawa satu sama lain. Begitu menyenangkan dan mampu membuat dirinya untuk sejenak meluapak masalah-masalah yang sedang ia hadapi.

Kini apa yang harus dilakukannya? Haruskah ia melawan semua perasaan kalutnya dan menerima gadis itu untuk menjadi pengisi hatinya?

Semuanya hanya bergantung pada keputusannya.

.

.

—I just can’t find a way

To let go of you

Yoona melangkahkan kedua kakinya berat, hari ini sungguh sangat melelahkan baginya—terutama bagi batinnya. Seharusnya ia bersiap diri atas segala hasil yang ia dapatkan, namun ia tetap gadis rapuh yang hanya terlihat kuat dari luar. Ia tidak bisa mengelak dari berbagai kesakitan yang muncul dan kembali mengoreskan luka pada hatinya.

“Ahjeossi,tolong berikan aku soju!” pekiknya. Mungkin ini satu-satunya cara untuk mendapatkan sebuah kebahagian, kendati itu hanya sesaat. Ia sangat membutuhkannya sekarang, membuang semua kesakitan itu agar tidak terus bersarang dalam hatinya.

Tak terhitung berapa banyak gelas maupun botol yang telah ia habiskan. Yang penting—ia dapat melupakan bagaimana perasaanya pada Siwon sejenak. Pandangannya mulai kabur—kepalanya mulai merasakan begitu amat sakit— lebih baik dibandingankan hatinya yang terus-menerus harus merasakannya.

“Ini,ambil saja kembaliannya.” Yoona berjalan sempoyongan sembari meletakan beberapa lembarang uang won, kemudian pergi begitu saja.

.

.

—It’s official

You know that I’m missing you

 

Apa sekarang ia hanya dapat berharap? Pada apa? bahkan mungkin kesempatan itu telah tiada.

Yoona belajar satu hal—ternyata kehilangan itu menyakitkan. Dan ini yang ia rasakan mengenai cinta pertama? Seharusnya ia merasakan bahagia,namun semua tidak berjalan seperti yang ia impikan.

Ia menapaki jalan dengan berat, ia lelah. Tanpa memperdulikan mobil yang kian berlalu-lalang, Yoona berjalan tak menentu—termasuk efek dari soju yang ia minum tadi. Setidaknya dengan kesadarannya yang hilang, ia dapat melupakan kesakitan tersebut.

TIN!

“Hei,tolong jalan dengan benar!”

Lututnya dengan bebas jatuh mengenai aspal jalan, sampai-sampai untuk berdiri pun ia tak mampu. Yoona menelungkupkan kepalanya diantara kedua lututnya yang lecet, ia menangis sekeras-kerasnya yang ia bisa. Mengeluarkan semua emosi yang terpendam dalam hatinya—ia membohongi dirinya selama ini dengan mengatakan bahwa ia adalah gadis kuat.

Kenyataannya ia tidak. Ia seperti bulu rapuh yang dapat terbang setiap saat tatkala angin berhembus kencang.

“Kau bodoh atau apa’hah?” sentak seseorang yang membuat dirinya kembali sakit. Mengapa lelaki itu masih peduli dan memperhatika dirinya.

Ia tak sanggup menolak tatkala kedua lengannya diangkat oleh Siwon—bahkan saat Siwon meletakan jemarinya pada punggung Yoona untuk mengendong dirinya. Kekuatannya jelas tak sebanding dengan Siwon—terlebih sekarang ia terlihat pucat dan kepalanya terasa begitu amat sakit.

Ia tidak tahu kemana Siwon akan membawanya pergi, terakhir ia hanya tahu bahwa ia terkulai lemas dalam mobil pemuda itu dan seterusnya kesadarannya perlahan mulai menghilang seiring dengan berjalannya mobil tersebut.

.

.

—I’m just a little tired,
I’m alright
Actually no, I’m…

Siwon menatap mata Yoona yang terpejam damai, Ia sedikit terkejut saat mencoba menyentuh puncak kepala gadis itu.

“Kumohon,jangan pergi,” tahan Yoona sembari mencoba bangkit dari tidurnya.

“Tapi kau sakit, aku akan pergi mengambil obat dahulu.” Sergah Siwon dan mencoba melepaskan genggaman jemari Yoona pada lengannya. Yoona mencoba tersenyum kecil tatkala ia menyadari bahwa Siwon khatir dengan keadaannya.

Sembari menunggu,ia menatap sekeliling kamar Siwon. Tatapannya jatuh pada sekupulan foto-foto dirinya dengan Siwon. Ia terperangah serta terkejut, Sebenarnya bagaimana perasaan Siwon padanya?

Yoona cepat-cepat mengalihkan pandangannya begitu Siwon masuk dengan membawa segelas air dan obat. “Ini minumlah terlebih dahulu,lalu kau boleh melanjutkan tidurmu kembali.” Serah Siwon pada Yoona.

“Apa aku boleh bertanya sesuatu? Dan aku ingin kau menjawabnya dengan jujur,” ujar Yoona setelah selesai meminum obatnya, Siwon hanya mengangguk setuju.

“Mengapa kau tidak jujur padaku?”

Iris mata Siwon membulat besar, “Apa maksudmu?”

“Mengapa kau malah memilih berbohong dibanding jujur mengenai perasaanmu padaku?” tanya Yoona pelan diselingi isakan. Semua seakan-akan kembali mucul menyerang dirinya. “Aku seperti ini karenamu!”

“Maaf—a-ku tak bermaksud,” Siwon merengkuh Yoona ke dalam dekapannya, berharap gadis itu dapat memberhentikan tangisnya. “Aku hanya belum yakin terhadap perasaanku,Yoona. Aku tak ingin ini malah membuat kau semakin tersakiti.”

Jadi, Apa yang dipikirannya selama ini salah? Siwon ternyata peduli terhadap dirinya?

“Aku tidak tahu jika akhirnya akan seperti ini.” Kesal Siwon seraya mengeratkan dekapannya. “Aku benar-benar minta maaf.”

Dikecupnya bibir Siwon—menghentikan permintaan maaf Siwon padanya. “Aku juga, seharusnya aku lebih mengerti.”

Keduanya kembali terdiam dalam keheningan—saling bertatapan satu sama lain. Mereka telah menyelesaikan berbagai maslah pada perasaan masing-masing, namun belum semuanya kelar. Sesuatu masih terlupakan—yang merupakan bagian sangat penting.

“Kau belum membalas pernyataanku tadi,” dengus Yoona kesal seketika, melepas kontak matanya denganSiwon.

“Yang mana?Aku tak ingat sama sekali.” Siwon bermaksud menggoda Yoona—membuat gadis itu semakin kesal.

“Jangan berpura-pura bodoh!” sungut Yoona—lantas membalikan tubuhnya membelakangi Siwon.

“Baiklah, Aku mencintaimu.” Perkataan Siwon sontak membuat Yoona merasa begitu bahagia. Hatinya membuncah—lantaran tak mampu menahan semua kebahagian yang tersirat dari hatinya.

“Terakhir, kau harus berjanji satu hal denganku.”

“Apa,hmm?”

“ Tinggalah disisiku selamanya, jangan pernah tinggalkan aku sendirian. Karena aku tak ingin kehilanganmu kembali.”

Keduanya tersenyum—saling mendekap satu sama lain dan memilih memejamkan mata bersama dalam sebuah kehangantan ditemani dengan rembulan yang kian bersinar terang—layaknya cinta mereka.

“I miss you like my heart is broken. You are broken pieces of my heart.

 I missing you.”

 

—fin.

A/n: my first oneshoot,aku minta maaf kalau ini emang ga sesuai dengan video yoonwon (Tamia-Offically Missing You) dari beberapa video yang ada hanya ini yang mampu aku buat .buat typo atau segala kesalahan yang ada dalam fic ini tolong dimaafkan and last semoga kalian menyukainya. Thanks for kak echa dan kak resty🙂

Tinggalkan komentar

99 Komentar

  1. thyta shedalihi

     /  April 18, 2014

    Aahhh akhirNya wonppa mau ju²r jGa denGan perasAaNnya…..

    Balas
  2. Annisa

     /  April 20, 2014

    Keren keren! Aku suka sama gayamu menulis FF, ringan, mudah dimengerti, dan diksinya itulohh😀😀 /nunjuknunjuk/ KEREEN! Btw ada yang sedikit salah mungkin itu ya?

    ”Apakah Siwon tidak tahu bahwa sebenarnya ia sangat kehilangan Siwon?”

    Haaaa~ Ini dia. Seharusnya penggunaan kata Siwonnya gk usah 2 kali. Jadinya terkesan tidak efektif gitu /halahapaini/ Jadi kalo menurut ku /menurutsayainilho/ bagusnya jadi seperti ini. Ada tambahan tanda baca juga, biar enak bacanya ‘w’ trus aku ubah juga tuh kata-katanya, biar kira kira lebih pas lah /plakkk/ /slapped/ /sorryT.T/

    ”Apakah Siwon tidak tahu, bahwa sebenarnya ia sangat merindukan dirinya?”

    Aku tau ini review gaje T.T ;A; Aku juga gk tau entah kenapa bisa itu yg aku fokuskan T.T /abaikan/ Padahal karya kamu udh bagus kok bisa aku review TAT /huweeee/ /slapped/ Ahhh ini komen gaje .-. Sorry ye nyampah /bow/

    Balas
  3. Aulia Araby

     /  April 22, 2014

    Cie cie YoonWon br1:)
    tp wonpoa kok ragu2 gtu tntang prsaanx ma yoona eon >_<
    kn ksian yoona eon td sllu mnunggu

    Balas
  4. Dede

     /  April 30, 2014

    Ceritantanya sedikit engga nyambung menurut q tapi bagus ko tapi kurang panjang.

    Balas
  5. any

     /  Mei 19, 2014

    Aku g suka. Maaf thor. Bahasanya ribet.

    Balas
  6. Mia

     /  Juli 10, 2014

    Dlm sebuah hubungan sngt di perlukan sebuah keterbukaan

    Balas
  7. Choi Tika

     /  Juli 30, 2014

    awalnya kesel bgt sama karakternya siwon oppa tp ternyata akhirnya dia mau jujur jg akan perasaannya ke yoona unnie🙂 keren kok thor ffnya !

    Balas
  8. gemes sama karakter siwon yang pengecut dan gak mau peka terhadap perasaannya sendiri,,,hoho kalo yoona gak memulainya, pasti hubungan mereka bakal stag gitu2 aja dan saling tersakiti >< tapi lega juga pas siwon mau jujur tentang perasaannya ke yoona dan mereka bisa bersama😀

    Balas
  9. Pertama tuh agak kesel deh sama karakternya WonPa disini,gak mau ngakuin perasaannya sendiri,tapi akhirnya mau juga deh. Yeay happy ending
    Keren Thor🙂

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: