[FF] Still With You (Chapter 3)

Still With You

by

choichoding007

Main Cast : [Super Junior] Siwon. [SNSD] Yoona. [SNSD] Yuri // Support Cast : [SNSD] Tiffany. [2PM] Nichkhun. [SHINee] Minho. [f(x)] Krystal & Sulli. [CN Blue] Minhyuk & Jonghyun // Length : Chaptered Fic // Genre : Marriage Life, Romance & Hurt // Rating : PG 15 // Credit Poster : Illah_Iluth

|1st Chapter| |2nd Chapter|

.

.

.

3rd Chapter

Gelap. Hanya ada cahaya dari arah dapur ketika Siwon membuka pintu apartemen. Wajah lelahnya melengok ke sekeliling. Dia melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah. Langkah kaki yang pelan mengantarnya untuk berjalan melewati ruang duduk, memasuki sebuah ruang yang tak asing lagi.

Siwon duduk di sisi ranjang. Sedang mengamati wajah yang tengah terlelap sambil menghela napas. Diusapnya wajah lelap itu. Menyingkirkan helai rambut dari sana.

Sentuhan jemari Siwon membuat sang empunya menggeliat kecil. Dia terjaga dari lelapnya dan menatap sosok pria yang duduk memerhatikannya dengan sedikit terkejut.

Oppa?

Senyum bibir Siwon menyambutnya. Wanita itu baru akan bangun ketika Siwon mencegahnya. “Berbaringlah,” kata Siwon. “Aku juga akan berbaring.”

Lalu dia melepaskan tuxedo hitamnya dan meletakkannya pada gantungan baju. Dia kembali dan membaringkan tubuhnya di samping Yoona. Dengan posisi menghadap wanita itu, dia menyelimuti tubuh mereka. Memposisikan dirinya senyaman mungkin.

“Ada apa?” tanya Yoona pelan. Mata bulatnya memandang keseluruhan wajah Siwon.

Yang ditanya hanya mengulum senyum. “Tidak ada apa-apa.”

“Jangan bohong.”

“Begitu kentara sekalikah?”

Dia terdiam. Sejenak. Tangannya terulur menyentuh sisi wajah Siwon. Mengusapnya lembut. Wanita itu membuat kelopak mata Siwon terkatup, terbuai akan perlakukan lembutnya.

“Aku tidak tahu. Tapi setiap kali kau pulang kemari di tengah malam wajahmu nampak menyedihkan.”

Kelopak mata Siwon terbuka. Menemukan sorot mata Yoona yang tidak menatapnya lurus. Seperti tengah menerawang.

Mianhae.Aku membuatmu—“

“Ssstt..” Jari telunjuk Yoona yang lembut menyentuh ujung bibir Siwon. Mencegah pria itu berkata lebih.

Dia tersenyum. Menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Siwon. Dan memberi kecup menenangkan di dahi Siwon. Cukup lama.

“Tidurlah.” Yoona berbisik. Menyudahi percakapan ringan mereka.

Kemudian mata mereka bertemu. Menyimpan sejuta makna yang berbeda. Menyembunyikan asa yang timbul. Tiba-tiba sebersit rasa pedih datang menghantam. Menyelubungi hati Siwon yang dipenuhi rasa bersalah.

Wanita ini tidak salah apa-apa. Dia sama sekali tidak bersalah. Bahkan ia layaknya bayi tanpa seberkas pun dosa.

Dirinya coba untuk menghapus bersitan itu. Tapi rasa bersalah terhadap wanita yang berbaring di sampingnya ini semakin timbul. Siwon merasa telah menjadi orang paling berdosa di dunia. Dia telah melibatkan wanita tak berdosa ini terkurung dalam segudang pelik masalahnya.

Dan satu kecupan kini mendarat di bibir Yoona. Senyumnya mengembang. “Gomawo,” kata Siwon.

Matanya menemukan Yoona yang balas tersenyum padanya. Wanita itu memeluknya. Melingkup tubuhnya dengan hangat. Detak jantung Yoona seperti irama lembut pengantar tidur. Matanya mulai terpejam. Dan sebutir kristal itu lolos dari sudut mata. Meratapi nasib. Meratapi kemalangan. Dan meratapi kebodohannya.

Sedang di tempat yang berbeda. Seorang wanita juga tengah meratapi sepi senyap di hatinya. Jari-jari lentiknya bergerak mengusap tempat kosong di sampingnya. Ia tengah berbaring di atas tempat tidur. Dengan bertemankan angin malam yang masuk dari celah-celah jendela. Merasuk kedalam tulang-tulang rusuknya.

Dia Kwon Yuri. Wanita malang yang sama sekali belum pernah mendapat nafkah batin dari sang suami.

***

Embun tak pernah meninggalkan pagi..

Pagilah yang kadang kala hadir tanpa sebutir embun.

Begitu kata para penyair.

Lampu-lampu di sekitar gang-gang kecil itu masih menyala disaat langkah kaki Siwon menyusuri jalan setapak. Diantara para pejalan kaki lainnya ia menjejalkan kedua tangan masuk kedalam saku mantel yang hangat. Sepatu boot yang membungkus kaki jenjangnya beradu dengan butiran kapas putih yang menyatu di tiap ruas jalan.

Berada di apartemen nomor 270, ia membuka pintu. Masuk dengan segera untuk menyembuhkan rasa dingin yang senantiasa memeluknya sepanjang pagi tadi dengan penghangat ruangan.

Siwon melepas mantel cokelatnya. Kemudian bergegas menuju dapur dengan segudang bahan-bahan dapur dalam tiga kantong belanja yang baru dibelinya.

“Darimana?”

Suara serak khas bangun tidur yang berasal di belakangnya menggerakkan kepala Siwon untuk menoleh. Menemukan sosok wanita yang sudah tidak asing di matanya. Yoona mendekat. Dengan wangi khas yang Siwon sukai.

“Darimana saja? Kupikir kau pergi pagi-pagi sekali karena tidak ingin sarapan denganku.”

Senyum reka Siwon sunggingkan di wajahnya. Terulur untuk meraih wanita-nya, pria itu merapikan rambut Yoona yang berantakan akibat baru bangun tidur.

“Sudah merindukanku?” godanya seraya mengerlingkan sebelah mata.

Dengusan kecil keluar dari bibir Yoona. Dia memukul dada Siwon. “Percaya diri sekali!” ujarnya memalingkan wajah. Menyembunyikan lengkungan kecil pada bibir tipisnya.

Senyum Siwon melebar. Dia memiringkan kepala. “Hei, ayolah mengaku saja.”

Mwoya?” kilah Yoona tak mau mengaku. Ekor matanya menemukan tiga kantong belanja Siwon di atas meja dapur. “Apa itu? Kau yang membeli itu semua?” tanyanya pada Siwon. Mengalihkan pembicaraan.

“Hm-mm. Aku berencana memasakkan sesuatu untukmu.”

“Untukku?” Kedua alis Yoona terangkat. “Dalam rangka apa? Aku tidak sedang berulang tahun, Siwon.”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

“Eng…” Siwon mengusap dagu sambil menunjukkan wajah berfikir dalam. Dia menatap Yoona lalu tersenyum penuh arti. “Sudahlah. Lebih baik Nyonya Choi yang terhormat ini mandi dulu. Cuci rambut supaya kau tidak perlu menunggu terlalu lama, arrachi?” Dia membalikkan tubuh Yoona dan menepuk bokong wanita itu agar segera menuruti perintahnya.

Dan satu pekik ancaman Yoona membuatnya terkekeh.

***

Empat puluh lima menit kemudian Yoona sudah keluar dari kamar. Dengan rambut setengah basah. Mengenakan pakaian santai—kaos putih polos serta celana jeans pendek. Matanya menelusuri seisi dapur. Tidak ada Siwon. Dapur pun sudah terlihat dibersihkan.

“Disini.”

Menemukan senyum Siwon yang melengok dari beranda menuntun wanita itu berjalan kesana.

“Duduklah.” Siwon mempersilahkan sembari menunjuk kursi malas di sampingnya dengan dagu. Pria itu menyembunyikan senyumnya di balik cangkir espresso ketika menangkap rona terpanah dari mata Yoona yang melebar.

“Wow! Kau sungguh memasaknya sendiri?” tanya Yoona duduk di kursi malas dan memandang tak percaya makanan yang tersaji diatas meja bundar diantara kursi malasnya dan Siwon.

Beberapa potong shushi dengan irisan rapi menggiurkan disajikan dalam satu piring berukuran sedang. Secangkir espresso milik Siwon juga sacangkir green tea miliknya turut melengkapi acara sarapan sedehana itu.

Mereka menikmati sarapan sederhana sembari menatap biru langit Seoul. Sama-sama menengadah. Sama-sama menerawang jauh. Hening. Hanya ada suara teguk the Yoona dan sapuan angin pagi.

“Yoona..”

“Ya?”

Siwon menoleh dan mendapati wanita itu tengah menatapnya dengan mata beningnya, sedang menunggu. Dia menghela napas sebelum kembali menatap kedepan.

“Bagaimana ini?”

“Maksudmu?”

“Aku menyakiti banyak orang.”

Yoona cukup tertegun dengan kalimat itu. Dia tidak mencoba menyela. Menunggu apa yang akan diucapkan oleh laki-laki dengan gurat sedih di wajahnya.

“Aku terlalu egois hingga melibatkan banyak orang terjerat dalam masalahku. Seharusnya mereka semua bisa hidup lebih baik jika saja aku tidak melibatkan mereka,” tuturnya. Lalu menoleh pada Yoona. “Dan kau, Yoona. Aku terlalu banyak melibatkanmu dalam masalah ini. Aku bahkan tidak tahu apakah aku masih pantas berucap kata maaf.”

Bibir Yoona bergetar menatap Siwon yang menundukkan kepalanya. “Siwon—“

“Maaf.” Siwon menyela lebih dulu. Kepalanya terangkat dan langsung mengahadap pada Yoona, menatap manik mata wanita itu. “Tolong maafkan aku, Yoona. Aku bersalah.” Suara Siwon bergetar. Yoona menangkap mata pria itu membasah. Lalu meneteskan air mata.

Yoona berinisiatif menolak gagasan itu. “Tidak, Siwon.” Dia mengangkat tubuhnya kemudian mendekat pada lelaki itu, berjongkok di depan Siwon dan menyentuh tangan lelaki itu. “Kau tidak bersalah. Jangan mengatakan maaf padaku. Kita sudah menyetujui semua ini. Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri. Justru aku sangat berterimakasih padamu. Kau tahu, kau malaikat penolongku. Jika tidak ada kau maka aku tidak akan tahu bagaimana kehidupanku di tempat terkutuk itu. Jadi berhentilah menyiksa dirimu sendiri. Mm?”

Air mata sudah bercucuran membasahi wajah Yoona. Wanita itu mencegah dirinya untuk tidak sesegukan hingga membuat tangannya yang menggenggam Siwon bergetar.

Menatap wanita itu menggerakkan tangan Siwon bergerak untuk menyentuh wajahnya. Siwon mengusapnya, menghapus aliran sungai kecil itu. “Uljjima, Yoona-ya. Mm?”

Yoona memejamkan mata untuk menghentikan airmatanya. Merasakan hangat lembut sentuhan Siwon.

“Yoona, apa kita perlu pergi dari sini? Apa kita harus pergi ke Jepang? London? Bali? Mm? Katakana, Yoona. Kemana kita seharusnya pergi?”

***

Nyonya Choi tengah membolak-balik buku desain di tangannya ketika pintu ruang di belakangnya terbuka. Kwon Yuri, berjalan menghampiringya dengan senyum ramah. “Eommoni..” sapanya. “Maaf, membuat Eomma menunggu.”

Nyonya Choi meletakkan buku desain milik Yuri keatas meja. Kemudian berdiri dan menyembut pelukan Yuri sambil balas tersenyum maklum. “Tidak apa-apa. Kau pasti sangat sibuk. Apa eomma mengganggu?”

“Tidak. Sama sekali tidak. Aku senang eomma menyempatkan waktu datang kemari.”

Mereka kembali duduk di sofa panjang dalam ruang kerja Yuri. Mertuanya itu memang bukan kali pertama saja datang untuk mengunjunginya. Tapi ini adalah kunjungan pertama dari dua bulan setelah kepulangan sang mertua dari Kanada. Dan satu jam yang lalu ibu mertuanya itu menelpon ingin datang berkunjung dan membicarakan sesuatu. Meskipun mereka bisa saja bertemu di luar kantor namun tentu saja kunjungan mertuanya hari ini sedikit banyak membuatnya cemas. Tidak biasanya.

Eomma, apa kita perlu keluar untuk makan siang? Kurasa jam makan siang sudah hampir tiba.” Yuri menawarkan. Sekedar ingin membuat ibu mertuanya merasa nyaman ketika ingin membicarakan sesuatu yang belum Yuri ketahui. Mungkin saja itu berita buruk. Atau sebaliknya.

Sedang wanita setengah baya itu tersenyum, menggelengkan kepala dan menggenggam tangan Yuri. “Tidak, Yuri-ah. Eomma hanya sebentar.”

Kepala Yuri mengangguk. Mengerti bahwa sesuatu yang akan mereka bicarakan bukan sesuatu yang bisa dibicarakan di tempat umum.

Mata tua wanita itu menatap kedalam mata bening milik Yuri. Dia menggerakkan kedua tangannya untuk menangkup wajah Yuri, mengusapnya sebentar. “Kau sudah tumbuh dewasa, Yuri-ah. Kau tumbuh menjadi wanita yang cantik. Kau tahu, kau sudah kuanggap seperti puteriku sendiri.”

Kwon Yuri mengetahuinya. Ibu mertuanya memanglah wanita yang lembut dan penuh kasih. Dia sendiri sudah menganggap sosok wanita di hadapannya ini layaknya ibu kandungnya sendiri.

“Dulu kau masih sangat kecil saat ibu dan ayahmu datang untuk menitipkanmu pada kami. Kau menangis tidak ingin kedua orangtuamu pergi. Saat itu aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa kau adalah puteriku. Aku akan menjagamu melibihi apapun. Dan pada saat kedua orangtuamu benar-benar pergi meninggalkanmu dan tak pernah kembali, aku bersumpah tidak akan pernah membiarkanmu menjatuhkan air mata sebanyak saat pemakaman mereka.”

Yuri membiarkan air matanya menetes saat menatap sang ibu mertua yang menerawang jauh. Dengan mata tuanya yang juga sudah berair.

“Bahkan dari sebelum kau dalam kandungan, aku dan juga ibumu sudah berniat akan menjodohkanmu dengan Siwon. Kalian tumbuh bersama, mengenal satu sama lain dari bayi. Dan mengetahui baiknya hubungan kalian benar-benar membuatku senang, Yuri. Kau tahu, aku bermimpi kau dan Siwon bisa membangun rumah tangga yang bahagia. Aku sungguh berharap Siwon adalah pria yang bisa membawamu dalam bahagia. Kalian memeliki anak. Kemudian menjadi ayah dan ibu yang harmonis. Terus berlanjut menjadi kakek-nenek.”

Nyonya Choi tersenyum getir. Dia menunduk sebelum kemudian menatap pada Yuri. “Kau tahu ‘kan Yuri, seberapa besar aku berharap kau bisa mewujudkan mimpi itu?”

Wanita itu tidak tahu harus menjawab apa selain menganggukkan kepala. Bagaimana mungkin mimpi itu dapat terwujud jika dari kedua belah pihak tidak memiliki satu kesepakatan yang sama. Bagaimana bisa angan itu dapat menjadi nyata jika Siwon tidak pernah mau memandangnya. Memangnya siapa yang tidak ingin diperlakukan seperti seorang isteri yang selayaknya? Bukannya hanya menjadi wanita yang duduk menunggu suami di tengah malam yang tidak pernah pulang.

“Sayang, ada apa?” suara Nyonya Choi yang lembut semakin membuat tubuh Yuri bergetar. Ibu mertuanya sudah mengetahui semuanya. Pertanyaan itu bukan ditujukan atas air mata yang terus mengalir di pipinya. Pertanyaan itu tertuju untuk semua fakta yang telah diterima oleh sang ibu mertua.

“Saat aku pulang dari Kanada dan mendapati keadaan kalian yang tidak baik-baik saja, aku merasa sedih, Sayang. Kenapa? Kenapa kalian seperti itu? Dua tahun menikah, tidakkah cukup membuat kalian kembali seperti dulu?”

Yang Yuri ketahui selanjutnya adalah tubuhnya melemah. Dan dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Menangis sejadi-jadinya.

***

“Nona, aku tidak sanggup lagi. Es krim yang aku bawa selalu meleleh jika aku terus saja seperti ini.” Ahn Jungwoo—seorang pria berkacamata bundar dengan tubuh gempal terengah-engah dengan es krim yang sudah melelh di tangan kanannya.

Sedang sang lawan bicara masih menyibukkan diri dengan cermin di tangannya. Memandang pantulan dirinya sendiri, ia menjawab, “Aku sudah tidak menginginkannya.”

M-mwo? Geundae…”

Tiffany Hwang menatap asistennya dengan tatapan malas. Dan hal itu sukses membuat sang asisten bungkam seribu bahasa. Tiffany menatap keluar jendela, melihat pada lokasi syuting yang ramai di huni oleh para crew yang telah mondar-mandir.

Dengan anggun dia melepas jaket beludru kemudian melangkahkan kaki untuk keluar dari mobil. Begitu ia berjalan selangkah, salah satu crew menghampirinya, dengan senyum cerah. “Ah~ Nona, senang dapat bekerjasama dengan anda. Saya harap anda bisa merasa nyaman selama tiga bulan mendatang.” Pria itu berkata dengan wajah sumringah sebelum membungkukkan badan.

Sedang sang artis hanya memberi senyum simpul. “Siapa nama sutradaranya?”

Ye?

Asisten Tiffany yang mengetahui kesalahan itu langsung menyahut. “Dia hanya sedikit lupa namanya,” katanya cepat. Tahu benar bahwa Tiffany tidak pernah memedulikan siapa sang sutradara karena dia hanya tahu terima job serta mengetahui perannya yang akan menaikkan pamornya sebagai aktris tersohor di Korea.

“Ahh~” Pria itu mengangguk. “Namanya—Ah, tepat sekali. Dia sang sutradara,” katanya sambil menunjuk pada pria yang baru saja datang. “Nichkhun Horvejkul.”

Sebelah alis Tiffany terangkat sambil kepalanya mengikuti arah telunjuk pria di depannya. Dia menatap sosok di seberang sana yang sibuk berbincang-bincang dengan kameramen. Tangannya terulur melepas kacamata hitamnya dengan perlahan. Dan bersamaan dengan itu pria yang disebut Nichkhun Horvejkul itu turut membalikkan badan. Mata Tiffany membulat sempurna.

MWOYA!!!

***

Memilih satu per satu barang bukanlah hal yang disukai oleh Kang Minhyuk. Pria berkacamata bundar itu harus membuang jauh-jauh rasa malunya ketika semua mata kini tertuju padanya. Ini semua karena Krystal Jung!

Gadis yang tidak tahu waktu saat meminta bantuan. Dan bisa-bisanya gadis itu memintanya untuk membelikan pembalut! Harus diulangi lagi? Pembalut! Oh, astaga. Bayangkan saja seorang remaja berwajah manis seperti Kang Minhyuk harus berada di tengah-tengah popok wanita. Berdiri diantara para gadis dan ibu-ibu. Ini pelecehan, tentu saja!

Kang Minhyuk menghela napas panjang saat dia telah keluar dari supermarket. Memandang pembalut yang terbungkus dalam kantong plastik itu dia terbayang wajah Krystal Jung yang menyebalkan. Minhyuk harus bersyukur kantong plastik itu berwarna hitam. Dia tidak harus menahan malu sepanjang ia berjalan.

Awas saja kau Krystal Jung!

Minhyuk baru akan melangkah ketika matanya menagkap dua orang yang tengah berjalan tak jauh darinya. Dia memfokuskan pandangannya tapi dua orang tersebut telah berbelok di persimpangan jalan. Dahi Minhyuk mengernyit. “Bukankah itu—“

‘Bruk’

Jweosonghamnida.” Minhyuk meminta maaf lebih dulu. Merasa dirinya yang berjalan tanpa memerhatikan jalan.

Gwenchana.”

Mendengar suara itu kepala Minhyuk terangkat. Kedua alisnya turut terangakat dengan  mulut sedikit terbuka. “Eoh. Jonghyun Hyung?”

Pria itu menatap Minhyuk ragu-ragu. “Ye?

Beberapa menit kemudian mereka sudah duduk di dalam mobil Jonghyun. Dalam perjalanaan ke rumah Krystal. Jonghyun menawarkan tumpangan dan Minhyuk dengan senang hati menerimanya.

Hyung, kudengar kau menjadi dokter termuda di salah satu Rumah Sakit Seoul. Woah! Tak kusangka Lee Jonghyun yang pendiam itu benar-benar menjadi seorang dokter.” Minhyuk terus menggumamkan kata Daebak terkagum. Tidak heran memang, Lee Jonghyun—kakak kelasnya di sekolah menengah keatas itu memang sudah terkenal akan kepandaiannya selain memiliki wajah yang tampan.

Wajah tampan itu melukiskan sebuah senyum. “Tidak seperti yang kau bayangkan,” kata Jonghyun merendah.

“Kau juga sama sekali tidak berubah. Tidak suka dipuji,” balas Minhyuk mencibir. “Jadi, di Rumah Sakit mana kau bekerja? Kebetulan Nenek suka sekali mengeluh tentang punggungnya. Mungkin kau bisa memberiku kompensasi jika aku berkunjung ke tempatmu bekerja, huh?” Minhyuk menaik-turunkan kedua alisnya sambil memasang senyum lebar.

Jonghyun melirik sejenak pada Minhyuk sebelum memberi senyumnya. “Aku tidak sedang bekerja di Rumah Sakit.”

“Lalu?”

“Hanya mengurus seseorang yang sedang sakit,” kata Jonghyun. “Di rumahnya.”

Minhyuk mengernyit. “Dokter pribadi?”

Sambil memutar stir berbelok kearah kanan, Lee Jonghyun mengangkat bahu. “Begitulah.”

***

Kaki jenjangnya melangkah dengan anggun di sepanjang koridor. Rambut hitam pekatnya ia biarkan terurai jatuh hingga pinggul. Kwon Yuri, wanita yang di segani sepanjang ia berjalan melangkahkan kaki di bangunan megah ini. Tentu saja. Mereka adalah bawahan suaminya. Jadi, tidak heran jika semua orang menaruh hormat padanya.

Senyum bangga terselip di bibir tipis milik Yuri. Ini kali pertama dia menginjakkan kaki di kantor Siwon—mengingat Siwon tidak mengijinkannya datang kemari barang sedetik pun. Dan ya, dia suami yang kejam.

Hari ini Yuri membulatkan tekad untuk menerjang ultimatum Siwon. Dia memang seharusnya melakukan sesuatu. Hanya untuk memastikan sesuatu. Suapaya mendapatkan sesuatu pula.

Sesaat Yuri temangu saat dia telah sampai di depan pintu ruangan Siwon. Sekteratis Siwon bilang kalau Siwon sedang tidak ingin di ganggu. Tapi dirinya bersikeras dan menggunakan alas an sang ibu mertua hingga membuat wanita berwajah imut itu memperbolehkannya menemui Siwon.

Yuri tidak mengetuk pintu atau menanyakan dirinya boleh masuk atau tidak terlebih dahulu pada Siwon. Dia membuka pintu. Melangkah masuk dengan tenang. Matanya menangkap Siwon yang baru saja mengangkat kepala dari tumpukan lembar-lembar putih yang cukup tak di mengerti oleh Yuri—setidaknya itu adalah lembar-lembar yang cukup berharga bagi mereka pebisnis.

Choi Siwon mengernyitkan dahi. Yuri dapat melihat ada luapan emosi di balik mata Siwon. Pria itu tengah menahan emosi dengan sikap tenangnya.

“Ada perlu apa?” tanyanya dingin. Sangat kentara tengah menahan geram.

Bibir tipis Yuri yang di poles lipgloss berwarna pink muda melengkung. Mengabaikan tatapan Siwon yang bisa saja membunuhnya, Yuri melanjutkan langkah. Mendudukkan diri di atas sofa panjang berwarna putih gading—warna lembut, dia juga menyukai warna lembut.

Sebelum Yuri menjawab pertanyaan Siwon, wanita itu menyempatkan diri untuk mengamati ruangan Siwon. Minimalis. Segala interior yang menggambarkan Siwon.

“Aku tidak tahu bahwa kau senang dengan warna lembut dan gelap secara bersamaan.” Kepala Yuri berputar kembali pada Siwon. “Sejak kapan?”

Untuk beberapa saat mata mereka bertemu. Menyiratkan arti yang berbeda. Sebelum akhirnya Siwon yang lebih dulu membuang muka.

Cih! Bahkan kau tidak tahu hal sekecil itu tentang suamimu,” cibirnya tersenyum miring. “Pantaskah kau di sebut Nyonya Choi yang terhormat?” Siwon menekankan tiap kalimatnya sambil menatap tajam kearah Yuri.

Kata-kata Siwon sudah bisa membuat kedua tangan Yuri mengepal. Tapi wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dia tetap menjaga ekspresi wajahnya agar tetap tenang. Mengesampingkan rasa sakit atas kata-kata Siwon, dia menarik sudut bibirnya. Kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan kearah jendela kaca yang langsung menghubungkan pada Seoul dengan bangunan pencakar langitnya.

“Disini nyaman,” kata Yuri. Lalu menoleh sebentar pada Siwon. “Pantas saja kau betah berlama-lama disini bahkan tidak pernah pulang sebulan terakhir ini. Tak kusangka bahkan hanya sebuah ruangan bisa mengalahkan kasur yang empuk.” Wanita itu membalas kata-kata Siwon sebelum kembali menatap kedepan.

Siwon berjalan melangkah ke seberang meja, menyandarkan tubuhnya sambil menyilangkan kedua lengan di depan dada. “Aku tidak pernah mengijinkan seorang wanita menginjakkan kaki disini lebih dari lima belas menit. Jadi sebelum aku melakukan sesuatu yang bisa melukaimu kuharap kau cukup tahu diri dan segera meninggalkan kantorku.”

“Kau tidak tahu?” Alis Yuri melengkung, menantang Siwon. “Istrimu ini sedang merasa nyaman. Dan saat dia sudah merasa nyaman di satu tempat maka dia tidak akan meninggalkan tempat itu sampai dia bosan.”

Arrayo. Setelah kau merasa puas kau tidak hanya akan meninggalkannya, kau membuangnya seperti sampah.”

Kali ini senyum kecil Yuri lebih terlihat seperti seringai geli. “Geurae..” Yuri mendesah. Kemudian menatap Siwon yang masih bersandar pada meja. Dia melangkah kearah Siwon. Sampai berdiri tepat di hadapan Siwon. Sambil menatap Siwon dengan senyum kecilnya, kedua tangan Yuri bergerak menjalari sisi lengan Siwon. Matanya mengikuti jalur gerak tangannya sampai bertatap pada manik mata gelap milik Siwon.

“Tidakkah kau merindukanku, Siwon?”

“Singkirkan tanganmu dariku.”

“Kenapa? Kau masih merasa gugup?”

Yuri menyungguingkan senyum liciknya, menantang Choi Siwon yang mengeraskan rahang. Mengabaikan tatapan mata Siwon, Yuri semakin mempersempit jarak antara mereka. Mengetahui bahwa lelaki di depannya tidak akan bisa melakukan apa-apa, menimbulkan keberanian Kwon Yuri untuk merangkulkan lengannya di sekitar leher Siwon.

“Aku merindukanmu,” bisik Yuri tepat di telinga Siwon. Ada kepuasan tersendiri saat merasakan tubuh Siwon sedikit menegang. Setidaknya lelaki itu tidak menolak ucapannya. Dia masih diam mematung di tempat. Ketika Yuri kembali menatap ke dalam manik mata Siwon dan lelaki itu juga balas menatapnya. Yuri menemukan apa yang ia cari.

Wanita itu memejamkan mata sebelum akhirnya menempelkan bibir pink-nya di atas bibir Siwon.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Hingga pada detik ke lima Siwon tidak berontak. Hal itu membuat senyum Yuri mengembang ketika ia mengakhiri ciumannya.

“Kau terlalu banyak berbohong, Siwon. Kau masih mencintaiku.”

Yuri dapar tersenyum penuh kemenangan kali ini. Dia mendapatkan apa yang ia cari. Menatap sekali lagi raut wajah Siwon yang disukainya, ia mengusap dada Siwon yang terbungkus kemeja putihnya sebelum beranjak meninggalkan pria itu.

Sepeninggal Yuri, Siwon masih terdiam di tempat. Dia tidak cukup mengerti mengapa kini pandangannya justru mengabur. Tangannya bahkan harus berpegangan pada sisi meja untuk menjaga keseimbangan tubuhnya sendiri.

Sial! Sialan!

Tidak sampai tiga detik berlalu, semua benda yang ada di atas meja telah di sapu habis oleh Siwon. Dilemparkan menjadi berkeping-keping. Dia mengerang frustasi, marah.

Benci pada dirinya sendiri. Benci pada kenyataan. Sebab apa yang di katakan Yuri tidak ada yang salah. Dan Siwon benci mengakui hal itu.

***

“Halo?”

“Ya?”

“Benar ini dengan Nyonya Choi? Saya harap anda bisa segera datang kemari. Sepertinya suami anda sedang mabuk berat dan saya ragu apakah dia bisa naik taxi atau tidak. Jadi, anda bisa datang kemari, ‘kan?”

“Aku segera kesana.”

Lima belas menit kemudian bartender yang tengah duduk terkatuk itu terbangun oleh suara sepatu yang beradu dengan lantai kayu tempatnya bekerja. Wajah kantuknya berubah sedikit cerah menyambut kedatangan sosok yang ditunggunya. Ia membungkuk memberi hormat.

“Ada apa dengannya?” tanya si wanita.

Sang bartender menatap tubuh pria yang terkapar di sampingnya—kepala yang di sembunyikan di balik lipatan lengan di atas meja bar.

“Kurasa dia sudah melampaui batas minum.”

Si wanita menatap sedih pada tubuh pria itu. Dengan meminta bantuan sang bartender tadi dia bisa membawa Siwon masuk ke dalam taxi. Setelah mengucapkan kata terimakasih pada sang bartender, taxi berjalan membelah malam Seoul menjelang pagi.

Wanita itu harus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk memapah Siwon sampai pada kamar, mengingat berat badan Siwon dengannya tidak sebanding. Begitu Siwon ia baringkan di atas ranjang, ia beranjak untuk melepas kemeja Siwon dan menggantinya dengan T-shirt putih polos. Begitu juga dengan celana kerja dan sepatu Siwon.

Nafasnya menghela berat. Kemudian ia duduk di sisi ranjang, mengamati wajah mabuk Siwon, raut wajah kegelisahan.

Tangannya bergerak untuk menyingkirkan sejumput rambut Siwon yang menghalangi dahinya. Namun belum sempat untuk melepaskan tangannya dari wajah pria itu, ia di kejutkan dengan suhu badan pria itu yang tiba-tiba berubah derastis. Panas.

Dengan kepanikan yang menggerogoti jantungnya, ia segera beranjak menuju dapur. Mengambil baskom berisi air hangat dan handuk kecil.

Setelah kembali ke sisi Siwon ia dengan telaten mengompres pria itu. Mengganti handuk dan air serta menjaga pria itu sampai terkantuk-kantuk.

“Yhh..”

Kepalanya yang terkatuk langsung kembali tegak. Matanya mengerjap untuk mengusir rasa kantuk. Memerhatikan wajah Siwon yang berkeringat. Dia mengernyit menyaksikan pria itu mengigau.

“Yhhu..”

Pelan, dia mendekat dengan sedikit ragu pada Siwon. Untuk mendengar lebih jelas apa yang dikatakan Siwon. Tangannya bergerak ingin menenangkan Siwon.

“Yuri.”

Gerak tangannya berhenti. Jantungnya tidak bekerja setelah berdetak keras sebelumnya. Dia tidak mengerjap. Tidak bisa bereaksi apapun selain mematung di tempat.

Dan tidak lama kemudian bibirnya menyunggingkan senyum.

***

Langit Seoul yang membiru memberikan akses sang menatri untuk masuk menembus korden putih yang tertiup angin pagi. Wajah tenang itu mulai terusik. Kelopak mata yang terpejam bergerak-gerak tak tenang. Lenguhan khas bangun tidur keluar dari bibirnya. Matanya terbuka namun terkatup kembali dengan sedikit ringisan. Merasakan pening di kepalanya yang langsung menghantam pusat otaknya.

Mengusap serta memijit pelipisnya sendiri membangunkan tubuh Siwon untuk terduduk. Iris mata gelapnya meneliti sekitar.

Ini kamarnya. Jadi, siapa yang membawanya kemari?

Disaat ia masih bertanya-tanya dan hendak berdiri, suara lenguhan kecil mengurungkan niat awalnya. Dia menoleh ke sisi kanan ranjang. Menemukan sosok wanita yang tengah meringkuk tanpa selimut di bawah sana.

Diam-diam Siwon tersenyum kecil. Gelagatnya Siwon memang sudah sembuh dari kesadarannya. Ia bangkit dari tempat tidur kemudian berjalan melintasi ranjang dan memindahkan tubuh kecil wanita tadi ke atas ranjang.

Siwon sudah sangat pelan membaringkan tubuh wanita itu, sangat berhati-hati dan tidak ingin membangunkannya. Namun agaknya pergerakan kecil itu sudah membuat sang empunya tubuh terusik. Dia menggeliat, membuka kelopak matanya.

“Siwon?” Suaranya serak, akibat baru bangun tidur bercampur rasa kaget.

Sedang pria itu memberinya senyum penyesalan. “Aku membangunkanmu? Maaf,” tuturnya tulus. “Tidurlah. Kau pasti lelah semalaman merawatku.”

Im Yoona menggelengkan kepala. Dia hendak duduk namun Siwon mencegahnya.

“Jangan membantah. Kau perlu istirahat. Aku akan membuatkan sarapan sementara kau berbaring saja, mm?”

Sebelum Siwon berhasil bangkit, Yoona mencegah lengan pria itu. “Semalam..” Yoona mengatur kata-kata yang ingin ia ucapkan sementara matanya beradu pandang dengan mata Siwon yang tengah menunggu lanjutan kalimatnya. “Semalam kau mengigau.”

Kedua alis Siwon terangkat. “Benarkah?” Siwon diam sejenak setelah menerima anggukan dari Yoona. “Apa itu sesuatu yang buruk? Maksudku, semua orang bisa saja mengigau di saat mereka tidak sadar, ‘kan?”

Senyum menenangkan ia berikan pada Yoona. Ia baru akan melepaskan tangan Yoona ketika wanita itu menggeleng seraya memejamkan mata. Bersikukuh tidak ingin melepaskan Siwon.

“Kau..” Tenggorokan Yoona tiba-tiba serasa tercekat. “Apa kau masih mencintainya?” Yoona berani bersumpah yang keluar dari mulutnya tadi bukanlah suaranya sendiri melainkan suara cicitan burung.

Apa? Kenapa? Kenapa dia hanya diam?

Kebungkaman Siwon entah mengapa membuat sedikit kegusaran dalam diri Yoona. Mata itu memang tidak dapat lagi berbohong. Lagipula Siwon juga tidak mengelak. Yoona sudah menemukan jawaban atas pertanyaannya.

“Sudahlah. Kenapa kau suka sekali mengalihkan pembicaraan? Aku akan—“

“Biar aku saja yang menyiapkan sarapan.” Yoona memotong perkataan pria itu dan segera mengambil langkah beranjak dari sana. Dia butuh udara untuk paru-parunya yang tiba-tiba terasa menyempit.

***

Sarapan mereka sejauh ini berjalan baik-baik saja. Begitu baiknya sampai tidak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara. Hanya terdengar suara garpu dan sendok yang beradu di atas piring.

Siwon yang banyak mencuri pandang kearah Yoona. Dia melirik saat wanita itu mengambilkannya nasi dan sayuran. Yoona sama sekali tidak memandangnya. Dan hal itu sedikit banyak membuat Siwon merasa tidak nyaman.

“Dia menemuiku kemarin.” Siwon membuka pembicaran. Sekali lagi mencuri pandang kearah Yoona dan menemukan wanita itu berhenti mengunyah. Hanya sedetik. Tapi Siwon bisa melihat ekspresi yang berbeda setelahnya.

“Kurasa Eomma berhasil memprovokasinya. Dia tidak akan mengambil langkah sejauh itu jika tidak ada seseorang yang mendukungnya.”

Masih mendengarkan cerita Siwon, Yoona semakin makan dengan pelan—teramat pelan.

“Dan kupikir aku masih belum bisa melupakan penghiantannya. Di saat kami sudah membangun angan bersama dan siap untuk mewujudkannya, dia pergi begitu saja. Meninggalkanku demi orang lain yang katanya lebih dicintainya daripada aku.”

Siwon tersenyum kecut. Lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. “Hal yang paling kubenci dan membuatku marah adalah fakta bahwa aku masih saja mencintainya. Setelah apa yang dia lakukan padaku di masa lalu, bahkan rasa itu tidak juga berubah. Bukankah ini gila? Huh!”

Kepala Yoona yang sedari tadi tertunduk, kini terangkat. Menemukan pandangan Siwon yang tak lagi fokus ke depan—menatap pada korden jendela. Tapi Yoona tahu pria itu tengah menerawang jauh.

Menjadi selir atau wanita simpanan atau apapun itu yang pantas disebut untuknya, sedikit banyak membuat Yoona mengetahui kisah hidup Siwon yang rumit. Wanita yang dua tahun ini menjadi istri Siwon adalah mantan kekasihnya dulu. Yang ia ketahui adalah wanita yang sangat digilai Siwon sejak dulu. Kemudian disaat mereka sudah hampir melakukan janji suci di gereja, si wanita pergi begitu saja tanpa memberi alasan yang jelas. Hal itu melukai hati Siwon. Tentu saja! Dan disaat Siwon tengah mencba bangkit dari keterpurukan, wanita itu tiba-tiba kembali di dalam kehidupan Siwon. Menyetujui rancangan perjodohan yang menjadi amanat dari sang ayah.

Sekalipun Siwon berkata puluhan bahkan ribuan kali bahwa dia mencintainya, Yoona tahu sesungguhnya hal itu tidaklah sungguh-sungguh. Siwon orang yang senang menggodanya. Jadi, perkataan semacam ‘aku mencintaimu’ tidaklah pernah di anggap sungguh-sunggu oleh Yoona. Apalagi dia hanyalah wanita yang di selamatkan Siwon disaat ambang kematiannya. Jadi, Yoona memang tidak seharusnya menaruh harapan lebih. Tidak boleh.

Yoona menggerakkan perlahan tangannya untuk menyentuh punggung tangan Siwon. Lembut, menggenggamnya. Kepala Siwon menoleh pada Yoona. Menemukan wanita itu tengah tersenyum tulus padanya. “Jangan khawatir. Ada aku disini. Kau lupa? Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa aku ini adalah rumahmu? Mm?” senyumnya mengembang, seperti malaikat.

Suara Yoona yang lembut menenangkan, menggetarkan hati Siwon. Dia merasa tenang sekaligus berdebar.

Perasaan ini…

***

Suara gaduh memang tidak pernah lepas dari sebuah ruang kelas anak sekolah disaat jam kosong. Kang Minhyuk baru saja menguap lebar seluas lubang buaya ketika Krystal Jung menjatuhkan bokongnya tepat di bangku sebelah.

Gadis itu menatap Minhyuk dengan mata berbinar di tambah dengan senyum lebar.

Minhyuk menaikkan sebelah alis. “Ada apa? Kau tidak sedang mendapat cokelat gratis, ‘kan?”

“Tidak, tidak. Lebih dari itu.”

“Kakakmu pulang dari San Fransisco?”

“Tidak. Dia masih harus berada disana untuk menyelesaikan kuliahnya.”

“Kau dimarahi Guru Park?”

Krystal mendengus. “Tidak, Minhyuk. Wajahku tidak akan sebahagia ini jika orang tua berkepala botak itu memarahiku.”

“Lalu apa?”

“Coba tebak lagi.”

Minhyuk menghembuskan napas pelan. Dahinya kembali berfikir, menunjukkan seolah-olah ia benar-benar menebak arti dari wajah bahagia Krystal pagi ini.

“Emm.. Kau baru mendapat diskon belanja?”

“Tidak.”

“Kalau begitu aku tidak tahu.”

Ya!” Krystal memberenggut marah mendapati Minhyuk yang menyerah dengan begitu cepat. Tapi wajah gadis itu segera berubah kembali menjadi sumringah ketika mengingat tujuan utamanya menemui Kang Minhyuk.

“Kau tidak ingin tahu kenapa aku sebahagia ini?” Krystal memiringkan kepalanya untuk menatap wajah Minhyuk yang tengah membaca buku.

Pria itu menatap Krystal melalui ekor matanya. “Mmm?” sahutnya, merespon pertanyaaan Krystal dengan setuju.

Senyum Krystal melebar. Gadis itu seperti tengah menghitung, mempersiapkan sesuatu yang akan ia tunjukkan pada Minhyuk. Kemudian, “Ta-da!

Alis Minhyuk kembali terangkat. “Kuku?”

Krystal menggerak-gerakkan kesepuluh jemarinya yang berjejer di depan wajah Minhyuk. “Yup. Aku baru saja mewarnai kukuku dan menambahkan sedikit hiasan. Bagaimana menurutmu? Cantik, bukan?”

Mendengus kesal karena merasa telah di permainkan oleh gadis ini, Minhyuk melengos begitu saja. “Tanganmu tidak pantas dengan warna itu.”

Gadis itu balas mendengus. Kemudian ia bergeser sedikit. Meletakkan ujung dagunya di antara kedua lengan yang terlipat di atas meja. Ia mengamati wajah serius Minhyuk yang kembali larut membaca buku setebal kotak sepatu. Bibir Krystal melengkung, otaknya menimang sebentar. “Minhyuk-aa..”

Krystal berhenti sebentar. Menatap buku-buku jari Minhyuk yang berwarna putih. “Aku.. kurasa aku akan menemui Choi Minho.”

Gerak mata Minhyuk yang mengitu intruksi bacanya berhenti. Dia tidak melirik Krystal meskipun ia tahu Krystal sedang tidak menatapnya.

“Lalu?”

“Aku akan mengatakan padanya. Tentang perasaanku,” Krystal menggigit kecil bibir bawahnya. “Menurutmu apa dia akan terkejut?”

Telinga Minhyuk mendadak mendengung keras hingga membuatnya tuli akan kata-kata Krystal selanjutnya. Tiba-tiba saja terselip rasa nyeri yang merambati ulu hatinya. Kemudian ia merasa kosong. Dan rasa ketidakrelaan.

Sebenarnya Minhyuk juga tidak tahu perasaan macam apa itu. Dia hanya merasa tidak suka dengan kalimat Krystal yang membuatnya tidak nyaman dan…. gundah.

***

Sepersekian detik setelah mendudukkan diri di atas kursi, Yuri dikejutkan oleh dering ponselnya di atas meja. Dengan malas oleh rasa lelah yang menggerogoti tubuhnya, ia menempelkan benda persegi itu pada telinga setelah menyentuh layar menerima panggilan.

Yeoboseo?

“….”

Yeoboseo?” Yuri menjauhkan ponselnya untuk menatap layar, nomor yang tak dikenalnya terpampang disana. Dahinya mengernyit.

Yeob—“

“Ini aku.”

Tertegun. Tubuh Yuri menegang. Suara ini.. bukankah ini…

“Bagaimana kabarmu?”

Lidah Yuri terlalu kelu hanya untuk bergerak. Tenggorokan Yuri terlalu kering hanya untuk berdehem. Dan tangannya terlalu lemah hanya untuk menyentuh layar berwarna merah pada ponselnya.

“Yuri?”

“K-kau?” Akhirnya setelah memaksakan diri wanita itu dapat bersuara.

“Bisakah kita bertemu? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu.”

“A-apa?”

“Jangan menolaknya atau kau akan tahu sendiri akibatnya.”

Setelah itu hanya terdengar suara Pib—panggilan diputuskan. Sepersekian menit setelahnya Yuri baru bisa menghembuskan napas yang sedari tadi ditahannya. Jantungnya masih bekerja dengan tidak normal. Mendadak tubuhnya gemetar. Kedua tangannya mencengkram satu sama lain dengan gusar.

***

Minho baru saja akan berjalan ke ruang tengah ketika mendengar suara bel berbunyi. Pria itu mengurungkan niat, membalikkan badan untuk berjalan kearah pintu depan. Tanpa melihat pada intercom, ia membuka pintu apartemennya.

Kedua alis tebal Minho menyatu. Mata besarnya menatap sosok gadis yang berdiri di hadapannya dngan pandangan bertanya.

“Krystal?” tanyanya, melirik ke sekitar. “Malam-malam begini ada apa kau kemari?”

Yang di tanya masih saja menundukkan kepala. Sesekali melirik kearah Minho. Namun sepersekian detik berikutnya langsung menunduk. “Emm..” Gadis itu menyelipkan helai rambutnya ke belakang telinga. Mencoba untuk mengusir rasa gugup yang sepenuhnya ia rasakan.

Minho menaikkan kedua alisnya. “Masuklah. Kurasa kau akan membicarakan hal yang serius.” Ia mempersilahkan, memberi ruang pada Krystal agar gadis itu bisa masuk ke dalam apartemennya.

Namun gadis itu secepatnya menggelengkan kepala. “Tidak, tidak perlu. Ini memang penting tapi tidak begitu penting. Maksudku bisa kukatakan penting tapi belum tentu denganmu.”

“Benarkah? Kalau begitu apa itu?”

Gelagat Krystal selanjutnya membuat dahi Minho semakin mengernyit. Dia tidak mengerti ada apa dengan gadis ini. Sedari tadi yang dillihatnya Krystal terus saja menarik dan menghembuskan napas. Lalu menggumam. Kemudian berdehem. Tapi sampai pada menit ke sembilan gadis itu belum mengatakan apapun.

“Krys—“

“Aku menyukaimu!” kata Krystal lantang. Matanya yang bertemu pandang dengan mata Minho yang menyiratkan keterkejutan langsung jatuh ke bawah, ia memejamkan kedua matanya. “Aku menyukaimu, Minho-sshi. Sejak tiga tahun yang lalu aku sudah menyukaimu. Maaf. Maafkan aku karena mengatakan ini. Tapi kupikir semakin lama perasaan ini akan terus membebaniku jika tidak kuutarakan. Aku minta maaf membuatmu terkejut.” Krystal menyelesaikan kalimatnya dengan membungkukkan badan, cukup lama.

Nafasnya berhembus dengan lega. Bibirnya mengulas senyum tipis. Nyatanya ia berhasil sampai disini. Mengutarakan perasaannya. Kini ia merasa lebih ringan, ada satu beban yang terangkat. Setidaknya ia sudah berani maju satu langkah. Sekarang yang harus dilakukannya hanyalah menunggu respon dari Minho. Entah pria itu memiliki perasaan yang sama padanya atau tidak. Dia harus siap menerima hasilnya. Meskipun ia sadar betul harapan itu sepenuhnya menggemburu di dadanya.

Minho masih membatu di tempat dengan mulut sedikit terbuka dan mata yang tak berkedip. Dia terlalu kaget dengan pernyataan Krystal barusan. Gadis itu baru saja menyatakan perasaannya. Sekarang apa yang harus ia katakan?

“A-aku.. emm.. Krys..” Minho tergagap, tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Ketika ia siap untuk membuka mulut lagi, seseorang memanggilnya.

Oppa, siapa yang datang? Kenapa lama sekali?”

Suara seorang gadis yang ceria di belakang Minho membuat Krystal tertegun sejenak. Suara itu tidak asing di telinganya. Itu… bukankah…

Mulut Krystal ternganga. Pendengarannya tidak salah. Dia memang mengenal suara itu.

“Sulli-aa..” Minho bersuara lirih ketika kedua gadis itu bertemu pandang dengan ekspresi yang sama-sama terkejut.

“Krystal—“ Sulli maju selangkah tapi Krystal dengan gerak cepat mundur.

“Ahh, Sulli-aa. Kau juga ada disini?” Suara Krystal terdengar bergetar. Iris matanya bergerak liar. Tidak menatap Minho maupun Sulli lagi. “A-aku… aku baru tahu ternyata kalian ini sepasang kekasih. Sahabat macam apa aku ini.” Ia tertawa sumbang. Mengambil langkah mundur dengan gerak kikuk. Sebelum ia berhasil untuk lebih tenang, punggungnya menabrak tong sampah dan mengakibatkan suara gaduh. Tubuhnya terjatuh ke lantai dengan isi tong sampah yang mengotori sebagian bajunya.

Sulli maju selangkah lagi, bermaksud untuk membantu Krystal berdiri. Namun secepat mungkin Krystal membuat tubuhnya sendiri berdiri dan mencegah Sulli berjalan lebih dekat padanya. “Gwencahan. Aku baik-baik saja. Aku tidak apa-apa, sungguh,” katanya sambil tersenyum bodoh. Karena nyatanya ia tidak bisa mencegah setets air mata yang meluncur begitu saja dari sudut matanya.

Tidak ingin lebih memepermalukan dirinya lagi, Krystal segera menambahkan. “Baiklah, nikmati malam kalian. Aku tidak akan mengganggu, tenang saja. Dan selamat malam.”

“Krystal, tunggu sebentar..” Sulli berusaha menghentikan langkah gadis itu tapi Krystal terlampau keras kepala hingga ia mengabaikan panggilan Sulli.

Gadis itu berlari secepat yang ia bisa. Merasakan sudut matanya yang berair, punggung tangannya bergerak menghapus sungai kecil itu dengan kasar. Ia tidak merasakan apapun selain sesak. Dadanya terasa sesak. Hatinya sakit. Ini terlalu sulit untuk di rasakan. Mengetahui fakta bahwa orang yang paling kau gilai ternyata adalah kekasih dari gadis yang telah kau anggap sahabat baikmu sendiri.

***

Krystal menenggelamkan kepalanya dalam-dalam diantara kedua lutut yang ia tekuk dan menangis sejadi-jadinya disana. Berusaha membekap mulutnya yang tidak bisa berhenti terisak. Bahunya bergetar hebat. Ia merasa menjadi gadis terbodoh di dunia. Ia malu dan tolol.

Entah sudah berapa lama ia habiskan hanya untuk menangis disana. Ia tidak berani pulang dengan mata sembab. Ia jatuh terduduk disana karena tak sanggup lagi menahan tangis. Saat dirasa air matanya telah terkuras habis hingga membuat urat matanya sakit untuk mengeluarkan air mata lagi, Krystal menggigit bibir bawahnya dengan keras. Menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan keras.

Ia tidak tahu ini jam berapa. Yang ia tahu mungkin saja orang rumah sudah tidur  hingga ia bisa menyelinap masuk ke dalam kamarnya tanpa harus menjawab pertanyaan sang ibu ketika menemukan matanya yang sembab.

Gadis itu berjalan sempoyongan menyusuri gang-gang kecil menuju rumahnya. Tatapannya kosong, kepalanya terus saja menunduk. Sesekali ia menghapus sisa air matanya. Sesekali juga isakan kecil keluar dari bibirnya.

“Kau gila!”

Langkah Krystal terhenti. Suara bentakan itu berasal dari ujung gang. Suara seorang perempuan yang tersulut emosi.

“Dengar, kau tidak bisa lari dari kontrak ini. Kau sudah terikat dan tidak bisa lari lagi.”

“Aku tahu tapi tidak bisa secepat ini, bodoh!”

“Apa yang tidak bisa kalu lakukan?”

Mengabaikan pertengkaran antara kedua orang itu, Krystal kembali melanjutkan langkahnya. Ia terlalu lelah dan begitu tidak peduli dengan pertengkaran sepasang kekasih itu.

“Membunuh Ayah Choi Siwon!”

Kaki Krystal berhenti dengan refleks. Matanya melebar mendengar suara si wanita yang menyebutkan nama itu. Dia memang tidak mengenal Choi Siwon. Tapi ia tahu bahwa Choi Siwon adalah kakak laki-laki Choi Sulli, sahabatnya—sebelum kejadian tadi.

“Memangnya kenapa? Jangan katakan kau benar-benar mencintainya. Cih! Wanita jalang!”

“Brengsek! Hentikan omong kososngmu itu. Aku tidak pernah melibatkan perasaan kedalam pekerjaanku.”

“Jadi apa masalahnya?”

Rasa penasaran itu menggerakkan tubuh Krystal untuk mengintip di balik tembok. Kedua orang yang tengah membicarakan pembunuhan Ayah Choi Siwon yang berarti juga Ayah dari Sulli, mereka bicara saling berhadapan. Dari tempat Krystal berdiri, samar-samar ia hanya bisa menangkap si laki-laki yang berdiri di hadapan si wanita yang membelakanginya.

Krystal menyipitkan mata, menajamkan penglihatannya pada sosok lelaki di seberang sana yang hanya di terangi oleh lampu temaram. Laki-laki jangkung dengan pakaian serba hitam. Celana hitam, jaket hitam dan topi hitam. Laki-laki itu memiliki alis yang tebal serta rahang yang keras. Matanya tajam penuh geram.

Ketika Krystal hendak menyembulkan kepalanya lagi, suara rating pohon yang terinjak oleh kakinya seketika membuat jantungnya berdegup kencang. Laki-laki itu langsung menoleh padanya. Dan seketika itu juga tubuh Krystal di kerumuni oleh rasa taku yang luar biasa. Tatapan laki-laki itu begitu mencekam, siap meremukan jantung Krystal yang malang hanya dalam satu henyakkan saja.

Nuguya!

To Be Continued…

 

a/n : Sorry too late to post it. I have been a busy girl since I was a collage, so can’t make me write a long story. I think this story has been for gotten., but some of readers still be corious so I continue it. Well, aku ingin menambahkan bahwa keseluruhan dari cast disini saling berhubungan satu sama lain. Tidak perlu khawatir karena aku akan berusaha buat YoonWon Moment-nya lebih banyak dan memang cerita ini akan mengarah pada mereka. So, I hope you want to follow the next story :^)

Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

167 Komentar

  1. raratya19

     /  November 9, 2014

    Sumpah, siwon jahat bgt, tega bgt sama yoona, aku kalau jadi yoona mungkin ga kuat kalo cuma dijadiin tempat pelarian aja, ceritanya keren thor

    Balas
  2. ziyah sone

     /  November 24, 2014

    sedih bgt nsib yoona, d tunggu prt berikut.a

    Balas
  3. Kasian yoona,tp kyknya yuri jahat ya Ga bnr2 mncintai siwon. Lanjutannya cotan dong…ditunggu loh…abis keren ceritanya Ga mudah ditebak jd bikin penasaran

    Balas
  4. malang banget nasib eonni ku. awas aja kalo smpe siwon bikin yoona nangis nantinya. Ok di tunggu chapter selanjutnya ya semoga happy endingnya yoongwon bersatu.

    Balas
  5. Zhahra

     /  Januari 5, 2015

    Ya tuhan siwon jahat bwgetz deh…
    Gag rela klau yoona di gituin…
    Author…maaf bru bc ffnya…
    Tp sumpah ne keren…

    Balas
  6. ewiek

     /  Januari 19, 2015

    bagus banget ceritanya……………..ditunggu part selanjutnya yg kemungkinan lebih seru dan banyakin partnya minhyuk ama krystalnya………………suka ama couple bonachanyoung…….

    Balas
  7. kya yoong sabar.itu siapa yang memebunuh appa siwon?

    Balas
  8. Di chapter ini banyak yg sakit hati yaa u,u
    Ternyata yuri ga beneran cinta sama siwon, kasian yoonanya:(

    Balas
  9. Zhahra

     /  Maret 23, 2015

    Ish…..sebel sama wonpa…
    Pengen banget jambak rambutnya yuri unni…
    Tpi gag mungkin…di real life yonyul kan sahabatan banget…
    Tpi penasaran sebelum sma wonpa yoona unni gmna kehidupannya…
    Trus kenapa bisa mereka bersama…?
    Kpan nextnya unni..
    Cepetan donk

    Balas
  10. Sumpah… Siwon jahat banget sih sama Yoona😦
    Kasihan nasibnya Yoong Eonni yang hanya jadi simpanannya😥
    Nyesek banget Thor di part ini.

    Balas
  11. st marwah nasar

     /  April 13, 2015

    Ceritanya kerennn banget eonni…

    Balas
  12. nytha91

     /  Oktober 22, 2015

    kasian yoona cuma jadi simpanannya siwon..siwon engga bisa ambil keputusan banget sih…ceritanya kapan dilanjut lagi thor??? bikin penasaran tingkat dewa soalnya sebel banget sama siwon and yuri..please jangan sad ending bwt yoonwon ya thor ^^

    Balas
  13. YoongNna

     /  Desember 30, 2015

    Sumpaaahhh niii kereenn bgt crtanya..
    Jd pnsran spa cwo yg bcara ma yuri jd sbnrnya dsni yuri jhat yaaa pd kluarga siwon pdhl oemmanya siwon baik bgt…
    Kshan yoona hnya jd tmpt pelarian siwon aja mdh2n nnti siwon bsa tulus cinta ma yoona…
    Aaahhh krystal dlm bhya brharap sh minhyuk bsaa nyalametin krys..

    Balas
  14. Ceritanya keren dan buat alis naik sbelah. Ditunggu klanjutan critanya ya secepatnya soalnya pnasaran bgt sma alurnya🙂 be fight

    Balas
  15. Kasiaan banget nasib yoona, hanya untuk pelarian..

    Balas
  16. Jadi yuri yang bunuh ayah Siwon oppa??
    Terus cowok itu siapa??

    Balas
  17. Nurul~937

     /  Juni 15, 2016

    Sedih bgt ceritanya thor, , kasihan yoona cuma buat pelarian siwon. . Semoga happy ending. . Yoona bahagia. .
    Fighting thor. . .^^

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: