[FF] Lovely Bride (Chapter 3)

Tittle                               : Lovely Bride (My Silly Engagement’s Sequel)

Author                            : misskangen

Genre                             : Romance, Family, Fluff

Rating                             : Mature

Type                               : Chapters

Length                            : 4000+

Casts                              : Choi Siwon, Im Yoona, Park Gyuri, Byun Baekhyun, Kwon Yuri

Disclaimer                      : All the story and plot is mine. Do not copy or doing plagiarism. Please apologize for unidentified typo(s).

 

 

Story Part 3

 

 

Wajah cantik Yoona yang tadinya sumringah dan merekah bak bunga mawar merah yang indah seketika berubah. Pemandangan yang ada di depan matanya lah yang menjadi satu-satunya penyebab perubahan air mukanya tersebut. Siapapun sosok yang baru hadir itu sudah membuatnya tidak senang.

 

Wanita, lagi-lagi muncul seorang wanita yang tidak pernah dikenal olehnya sebelum ini dan telah menjadi pengganggu dalam hubungannya dengan Siwon. Yoona menyadari bahwa memiliki calon suami setampan Choi Siwon memiliki suka duka tersendiri. Suka, saat ia menjadi begitu terpesona dan merasa sangat beruntung karena memiliki seseorang yang sangat tampan dan sebentar lagi sah menjadi miliknya seorang. Duka, ketika ada begitu banyak cobaan yang berasal dari bermacam-macam tipe wanita yang secara tiba-tiba muncul dengan pengakuan mereka yang mengenal Siwon secara dekat.

 

Siapapun wanita yang bernama Gyuri itu, jelas sudah merusak mood Yoona hari ini. Ketika Yoona sedang sibuk memikirkan destinasi bulan madunya, kini semakin ruwet dengan kedatangan wanita itu. Bukan karena ia wanita yang tidak dikenal olehnya, tapi karena karena kelakuan wanita itu membuat Yoona sama sekali tidak bisa berpikir jernih.

 

“Siwon-ssi, aku tak percaya bisa bertemu denganmu disini,” ujar Gyuri begitu riang setelah berhasil mendaratkan ciuman di pipi kanan dan kiri Siwon. Senyumannya yang lebar menandakan bahwa ia merasa sangat gembira bisa bertemu dengan kenalan lamanya. “Aku dengar kau ini orang yang super sibuk… maka kejutan sekali kau muncul disini.”

 

Yoona menatap tajam pada tangan Gyuri yang menempel dan melingkar di lengan Siwon. Lirikan maut pun diarahkan Yoona pada Siwon, membuat pria yang sedari awal sudah tak nyaman dengan kehadiran Gyuri semakin gencar mencoba menjauhkan Gyuri dari tubuhnya.

 

“Oh hai Gyuri-ssi… aku juga tak menyangka bertemu denganmu disini,” kata Siwon dengan penuh kejujuran. Bisa dikatakan begitu jujur jika ia mau menambahkan kalau dirinya sangat tidak ingin bertemu dengannya disini. “Aku datang kesini untuk perencanaan perjalanan bulan madu kami.” Siwon pun menarik lengan Yoona ketika ia menekan kata ‘kami’ dalam kalimatnya.

 

Rangkulan Siwon di bahu Yoona membuat raut wajah Gyuri yang tadi sangat ceria langsung berubah datar – lebih tepatnya shock. “Bulan madu?” tanyanya dengan suara tercekat. Tatapan matanya langsung mengarah pada Yoona yang sudah menaikkan sebelah alisnya. “Jadi kau akan menikah?” tanya Gyuri lagi tak yakin.

 

Siwon mengangguk mantap, meyakinkan Gyuri bahwa ia sedang tak melemparkan candaan. “Perkenalkan ini Im Yoona, tunanganku sekaligus calon pengantinku tercinta.”

 

Yoona melirik Siwon sambil mengerutkan dahinya. Ia merasa Siwon terkesan sangat berlebihan saat memperkenalkannya pada wanita yang tiba-tiba muncul itu. Yoona tahu jika terkadang Siwon suka bersikap aneh dan membuatnya harus selalu siap menerima kejutan, tetapi kalimat ‘calon pengantin tercinta’ sepertinya tidak begitu penting untuk dikatakan pada orang asing.

 

“Sayang, dia adalah Park Gyuri. Teman SMA dan teman kuliahku selama beberapa semester di Korea,” Siwon mengelus punggung Yoona, berharap agar gadis itu mengurangi ketegangannya dan menunjukkan antusiasme perkenalannya dengan Gyuri.

 

Annyeonghaseyo… Im Yoona imnida,” ujar Yoona malas dengan senyuman tak ikhlas pula. Entah kenapa Yoona bisa menangkap tatapan tak suka dari mata Gyuri. Bahkan ia juga bisa mendengar dengusan kecil dari hidung wanita itu. Mungkin sejak awal perasaan Yoona yang menganggap Gyuri sebagai sebuah ancaman yang mengakibatkan insting kecurigaan dan kecemburuannya meningkat drastis.

 

Annyeong, Park Gyuri imnida,” balas Gyuri dengan senyuman kecut. Ia hanya memandang Yoona sekilas dan merasa tidak begitu nyaman dengan kenyataan melihat gadis muda yang cantik bersanding dengan pria tampan di depannya. “Aku memang sempat mendengar gosip pertunanganmu, tapi aku tak menyangka kalau ternyata berita itu benar.” Pernyataan itu lebih membutuhkan klarifikasi dari Siwon yang notabene adalah kenalan lamanya.

 

“Tentu saja berita itu benar, kau bisa melihat liputannya di beberapa majalah yang terbit beberapa bulan yang lalu.” Siwon langsung meluruskan pemahaman wanita itu dengan kalimat tegas.

 

Sekali lagi Gyuri mendengus, kemungkinan besar Siwon dan Yoona dapat melihatnya dari wajah masam Gyuri. “Tapi aku yakin kau terpaksa menikah karena perjodohan. Biasanya keluarga Chaebol selalu seperti itu. Benarkan, Siwon-ssi?”

 

Siwon sudah mengira bahwa Gyuri pasti berbicara sinis seperti itu – sesuatu yang sudah menjadi ciri khasnya dan Siwon sangat tak menyukainya. Sementara Yoona hanya menggeretakkan giginya mendengar kelancangan Gyuri melalui kata-katanya itu.

“Dijodohkan atau tidak, aku rasa itu bukan urusanmu Gyuri-ssi. Yang jelas kami berdua saling mencintai. Begitu kan, Sayang?” Siwon serta merta mencium pipi Yoona di depan Gyuri dan membuat wanita itu jengkel setengah mati hingga hanya bisa menelan ludahnya saja.

 

“Sepertinya kau sangat tidak senang dengan kehadiran kami disini Gyuri-ssi ani.. lebih tepatnya kehadiranku,” Yoona pun kembali membuka suara setelah selama beberapa waktu harus bersabar menonton pertemuan antara dua teman lama. “Apa kau merasa tidak suka karena Siwon Oppa akan menikah denganku sehingga sikapmu begitu sinis?”

 

Gyuri dan Siwon terperangah dengan kalimat frontal yang diucapkan Yoona. Bahkan Park Gyuri mulai gelagapan dan merasa sedikit was-was karena tak mengira bahwa tunangan Choi Siwon adalah seorang gadis bermulut tajam.

Jagiya.. apa yang kau—“

“Apa maksudmu berkata seperti itu, Yoona-ssi?”

 

Yoona mendecakkan lidahnya dan memperlihatkan ekspresi sarkatis di wajahnya. “Kalian berhentilah berlaku seolah tidak ada sesuatu yang disembunyikan. Jangan berpikir aku terlalu bodoh untuk tak menyadari tingkah kalian berdua.” Yoona melipat kedua lengannya di depan dada dengan rahang yang ikut mengeras.

“Oppa… aku lelah, sebaiknya kita pulang saja. Satu lagi, aku juga beubah pikiran  menggunakan agency ini untuk mengurusi perjalanan bulan madu kita.” Berbicara ketus dan berjalan ala wanita arogan, itulah yang dilakukan saat ini dengan meninggalkan dua manusia yang masih berdiri diam dan terkejut dengan sikap Yoona.

 

“Yoona-yah…” panggil Siwon segera setelah ia kembali dari kekagetannya dan berusaha mengejar langkah Yoona menuju pintu keluar.

 

“Siwon-ssi!! Kenapa jadi begini? Masalah pribadi tidak seharusnya disangkutpautkan dengan pekerjaan!” teriak Gyuri menanggapi kepergian Siwon. “Tapi kau akan mengundangku ke pernikahanmu, kan?!”

 

 

Kau akan mengundangku ke pernikahanmu, kan?” ulang Yoona mencontoh nada bicara Gyuri setelah sempat mendengarnya tadi. “Cih, benar-benar wanita tidak tahu malu! Sudah jelas ketahuan belangnya masih saja berkelit dan minta diperhatikan!”

 

“Berhentilah bersungut-sungut. Aku pikir kau tadi juga sedikit keterlaluan,” Siwon menanggapi omelan Yoona seraya memasang seatbelt nya. Dengan sangat terpaksa ia mengikuti Yoona kembali ke dalam mobil setelah berkonfrontasi dengan Gyuri.

 

Yoona menoleh pada Siwon, menatapnya dengan menyipitkan mata. “Aku ke-ter-la-lu-an?” ulang Yoona dengan menekankan setiap suku kata. Yoona menghela napas kasar untuk meredakan emosinya. “Terserah jika Oppa berpendapat seperti itu. Aku tidak peduli!”

 

“Tapi aku peduli! Aku hanya tidak ingin calon istriku bersikap kurang santun di depan orang lain yang baru dikenal. Itu tidak mencerminkan sikap wanita kelas atas, Sayang.”

 

“Ck, masa bodoh dengan topik ‘sikap wanita kelas atas’ itu. Siapapun wanita di dunia ini akan bersikap sama jika menghadapi wanita sinis seperti itu. Dan Oppa sendiri, aku tidak peduli ada hubungan apa dengannya di masa lalu, yang aku tahu Oppa selalu saja bersikap manis di depannya.” Lagi-lagi Yoona bersungut-sungut kesal.

 

“Bukan begitu maksudku, aku hanya mencoba menjaga sikapku di depan siapapun.” Siwon membela dirinya.

 

“Lebih tepatnya menjaga sikap di depan para wanita yang menyukaimu dan menjadi fans mu itu,” ralat Yoona asal.

 

Siwon meremas stir kemudinya, menahan agar dirinya tak mengeluarkan pernyataan yang pedas untuk menandingi kekeraskepalaan tunangannya. Mereka baru saja berbaikan beberapa jam yang lalu, jadi ia tak ingin masalah ini menjadi background pertengkaran mereka yang lebih hebat lagi. Sudah cukup selama ini orang ketiga, keempat atau kesekian kali yang menjadi penyebab utama pertengkaran mereka. Siwon memilih untuk mengalah dan tidak ingin memperumit kesalahpahaman.

“Baiklah, terserahmu saja. Lalu kau ingin bagaimana?”

 

“Aku ingin gunakan agency lain untuk mengurusi perjalanan bulan madu kita. Aku sudah tidak berselera menggunakan Agency tadi!” Usulan Yoona lebih mirip dengan ancaman.

 

“Ya ampun, hanya karena kecemburuan kau menilai sebuah agency tidak kompeten!” protes Siwon.

“Bukan karena kecemburuan, lebih tepatnya karena kewaspadaan! Aku hanya tidak ingin wanita hantu itu merusak banyak hal. Memangnya Oppa mau kalau sampai kita batal menikah?”

 

Siwon menghembus napas kasar, kekesalannya semakin bertambah karena sekali lagi Yoona mengucapkan kata ‘batal menikah’ di depannya. “baiklah.. baiklah… aku akan menuruti semua keinginanmu, Tuan Putri. Kau selalu saja menggunakan frasa itu untuk menekanku.”

Lihat saja kalau kau sudah resmi menjadi istriku, aku takkan membiarkanmu mendikteku seperti ini, Sayang… tambah Siwon dalam hati.

 

Yoona menggigit bibir bawahnya, menyadari bahwa sudah membuat kesalahan dari kata-kata terakhirnya pada sang kekasih. Maafkan aku, Oppa. Aku sendiri tak mengerti kenapa aku bisa setakut ini menjelang pernikahan kita. Sungguh aku tak ingin menyakitimu…

 

 

Gomo, apa Yoona ada di dalam?” sapa Baekhyun ketika melihat Nyonya Im membukakan pintu untuknya. Malam itu Baekhyun yang sudah dua minggu tidak kelihatan batang hidungnya pun muncul di depan pintu rumah keluarga Im.

 

Nyonya Im mengangguk menjawab pertanyaan Baekhyun. Keponakannya yang satu itu memang begitu akrab dengan kedua putrinya, terutama Yoona karena perbedaan usia mereka yang tidak jauh. Nyonya Im juga sangat hapal hal-hal apa yang akan terjadi jika Yoona dan Baekhyun bertemu. Kadang kala mereka akan terlihat sangat akrab layaknya saudara kandung, dan terkadang salah satu pihak akan terlihat mengenaskan karena menjadi korban sikap otoriter salah satunya. Dan siapapun tahu jika Baekhyun lah yang selalu menjadi korban salah sasaran itu.

 

“Yoona ada di kamarnya,” ujar Nyonya Im. “Kau sudah makan malam, Baekhyunnie?”

 

“Kebetulan aku sengaja belum makan malam, Gomo. Aku sangat suka masakan di rumah ini,” cengir Baekhyun dengan modus laparnya yang mengelus-elus perut.

“Kalau begitu mari kita makan malam bersama dulu,” ajak Nyonya Im dan baekhyun pun setia mengikuti bibi tersayangnya itu ke ruang makan.

 

“Oh, Baekhyun kau datang?” sapa Yuri yang sedang menikmati makan malamnya di meja makan. Terlihat Tuan Im tersenyum menjawab sapaan Baekhyun yang tanpa ditawari lebih dulu sudah bersiap mengambil piring dan memperhatikan menu makan di atas meja.

 

“Wah… ini pasti enak sekali,” Baekhyun sudah tidak sabar menghabiskan makan malamnya dengan begitu lahap. “Yoona tidak makan malam?” tanyanya setelah menyadari tidak ada Yoona di meja makan.

 

“Yoona bilang belum selera makan. Dia masih betah berada di kamarnya,” jawab Yuri asal sambil mengunyah, kemudian meneguk air putih dari gelasnya. “Apa Yoona menyuruhmu datang?”

Baekhyun hanya mengangguk karena mulutnya penuh dengan makanan sehingga menanggapi Yuri hanya sekedarnya saja.

 

“Untuk apa Yoona menyuruhmu datang? Aku curiga kalian merencanakan sesuatu yang aneh..” Yuri seolah menyelidiki Baekhyun bahkan sebelum pemuda itu sempat menemui Yoona.

Baekhyun berhenti mengunyah sebentar, matanya berkedip-kedip gemas tampak seperti sedang berpikir lalu kemudian ia mengedikkan bahunya. “Tidak tahu, Yoona hanya bilang ingin bertemu karena aku sudah lama tak mengunjunginya.”

 

Yuri memutar bola matanya dan menggeleng-geleng tak heran. Kepolosan Baekhyun sepertinya sudah keterlaluan. Apakah sepupu kecilnya yang satu ini tidak bosan terus-menerus ditindas oleh adiknya?

“Setelah ini kau temuilah Yoona di kamarnya. Kau sepertinya harus berhati-hati jika Yoona memintamu melakukan sesuatu.”

 

“Memangnya tidak apa-apa kalau aku masuk ke kamar Yoona lagi?” tanya Baekhyun polos.

“Aku pikir selama ini kau mendapat kebebasan masuk ke kamar Yoona, jadi tidak ada salahnya kau ke sana lagi. Apa sih yang kau takutkan?”

 

“Aku hanya tidak mau Pangeran Kuda milik Yoona itu akan mengamuk kalau dia tahu aku masuk ke kamar Princessnya, oh aniya… lebih tepatnya ia akan mencekikku kalau tahu aku mengganggu calon pengantinnya.”

 

Keluarga Im yang ada di ruang makan pun terpingkal-pingkal mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Baekhyun. Pemuda satu ini memang sangat naif, seperti anak kecil yang mudah saja dipermainkan oleh orang dewasa.

 

“Baekhyunnie, kenapa menantu Choi harus berlaku seperti itu padamu? Kau itu kan sepupunya Yoona, bukan kekasih atau selingkuhannya..” Nyonya Im mengelus kepala keponakannya yang imut itu.

 

Baekhyun menghela napas pendek. Makannya baru saja selesai tetapi Keluarga Im sudah menanyakan panjang lebar soal topik kedatangannya ke rumah ini. “Ini semua karena Yoona yang lebih dulu memperkenalkanku sebagai kekasih bohongannya kepada Choi Siwon, jadi tunangannya itu salah paham dan selalu saja cemburu padaku walaupun sudah jelas aku sepupu Yoona.” Adu Baekhyun kepada bibinya.

 

“Kasihannya sepupuku yang tampan ini…” iba Yuri pada Baekhyun tapi menahan tawanya sebisa mungkin. “Lain kali kau jangan terlalu polos, jadi kau tidak akan terus menerus jadi korban monopoli pasangan keras kepala itu!”

 

 

Yoona sedang melakukan fitting gaun pengantin yang didisain sendiri olehnya ditemani oleh ibu dan kakaknya, Yuri. Bukannya memperhatikan detail gaun yang sedang dipakainya, Yoona malah sibuk bolak-balik melihat ponselnya.

 

Yuri yang sedari memperhatikan tingkah adiknya pun menjadi gemas hingga dengan sengaja ia mencubit lengan Yoona.

“Awww! Kenapa Eonni mencubitku?” protes Yoona setelah tak lagi fokus pada ponselnya.

“ish… kau ini, kenapa kemarin tidak menerima tawaran tunanganmu saja untuk fitting gaunmu bersamanya kalau memang kau sedang merindukan pria itu!” omel Yuri sambil berkecak pinggang. “Aku lihat kau lebih konsentrasi pada ponselmu dari pada gaunmu ini!”

 

“Aku sedang tidak menunggu telepon darinya,” kerlit Yoona.

“Lalu kau menunggu telepon dari siapa?”

“Baekhyun.”

“Untuk apa kau menunggu anak itu? Gaunmu lebih penting dari pada si Bacon,” Yuri masih belum selesai dengan omelan soal gaun pengantin, kini ditambahi munculnya nama Baekhyun.

 

“Ini juga penting! Aku punya sedikit bisnis dengannya.” Dalih Yoona cuek.

“Seperti kau tahu bisnis saja! Aku sudah menduga kalau kedatangan Baekhyun ke rumah pasti ada sesuatu yang kalian rencanakan. Ada masalah apa lagi?” Yuri terang-terangan menunjukkan kecurigaannya.

 

“Itu ra-ha-si-a! Eonni tidak perlu tahu.”

Yuri hanya mendengus pasrah, malas jika harus melanjutkan perdebatannya dengan sang adik yang tampaknya sangat kekeuh untuk merahasiakan komplotannya dengan Baekhyun.

 

Nyonya Im sudah sejak beberapa menit yang lalu terus memperhatikan tingkah kedua putrinya yang sejauh ini walaupun keduanya sudah dan akan berstatus sebagai wanita menikah tetapi tetap saja tidak bisa menghilangkan kebiasaan meributkan hal sepele layaknya gadis-gadis remaja. Setidaknya sebagai ibu, Nyonya Im merasa lega karena kedua putrinya memiliki hubungan yang harmonis dan saling menyayangi meskipun tidak luput dari omelan-omelannya untuk terus memberi nasehat kepada keduanya.

 

“Kalian seperti tidak punya tempat khusus untuk bertengkar!” tegur Nyonya Im dan seketika kedua putrinya menoleh kepadanya. “Apa sudah selesai fitting nya? Bagaimana gaun ini menurutmu, Yoong?”

 

Yoona menyadari tatapan ibunya, ia pun segera melihat-lihat keseluruhan gaun yang dipakainya dan menggerakkan tubuhnya berlenggak-lenggok seperti model fashion show. “Gaun ini… sempurna!”

Yuri mencibir, sudah pasti ia mengira Yoona asal jawab saja pertanyaan ibunya. Yoona berlagak sangat memperhatikan detail gaunnya padahal sedari tadi ia lebih menyukai ponselnya dan menunggu kabar dari Baekhyun.

 

“Kau bilang kemarin menantu Choi mengajakmu ke travel agency untuk perencanaan perjalanan bulan madu kalian… apa sudah ada keputusan kemana kalian akan pergi?” tanya Nyonya Im setelah Yoona melepaskan gaunnya dan menyelesaikan beberapa pembicaraan dengan sang designer.

 

Yoona terperanjat dengan pertanyaan ibunya. Ia tidak harus memberitahukan ibu dan kakaknya bahwa kemarin semuanya gagal total. Ia bahkan belum sempat memutuskan destinasi bulan madunya, malah muncul ketidaknyamanan akibat kehadiran seorang wanita bernama Gyuri.

“Oh, itu… kami masih belum memutuskan. Kami… masih bingung mau pergi kemana,” dusta Yoona  dengan cengiran paksa.

 

“Ya ampun, minggu depan adalah pernikahan kalian tetapi kalian sama sekali belum menyelesaikan urusan persiapan bulan madu!” pekik Yuri menyayangkan keadaan ini.

 

“Menurut Eomma, lebih baik kalian bulan madu ke Eropa saja. Maksudnya agar kalian sekaligus bisa singgah ke London untuk melihat tempat tinggalmu disana nanti,” usul Nyonya Im mengenani destinasi bulan madu.

Yoona berpikir mungkin usulan ibunya tepat karena memang ia belum mempersiapkan tempat tinggalnya di London. “Boleh juga. Menurut Eomma sebaiknya aku tinggal di apartemen atau flat saja?”

 

“Bagaimana kalau kau gunakan saja apartemen yang pernah digunakan Seulong sewaktu dia kuliah di London? Fasilitasnya lengkap dan nyaman.”

“Aigoo… apakah nasib anak bungsu harus selalu memakai hal-hal warisan kakaknya?” cibir Yoona protes dengan penawaran ibunya.

“Kalau begitu kau minta saja Choi Siwon membelikanmu apartemen atau rumah baru sekalian di London. Aku yakin dia pasti akan bersedia mengabulkan keinginanmu seperti biasanya..” Yuri ikut nimbrung, memberikan usulan asal yang sebenarnya bertujuan menyindir Yoona.

 

“Itu ide yang bagus, Eonni!” Yoona memetik jarinya dan tersenyum lebar karena ia sangat menyukai ide kakaknya itu. Sementara Yuri hanya terperangah dengan reaksi Yoona.

 

 

“Yak! Aku memberimu waktu dua hari untuk memberi laporan, kenapa kau baru datang sekarang, eoh? Kau terlambat satu hari!” umpat Yoona pada seorang pemuda tampan di depannya.

 

Baekhyun baru saja datang untuk menemui Yoona di taman belakang rumahnya dan belum apa-apa dirinya sudah kena sembur sepupu kesayangannya itu. Baekhyun pun meringis dan pasrah bila harus menghadapi wajah judes Yoona yang menurutnya cukup horor.

“Aku minta maaf kalau terlambat. Dan harusnya kau bisa maklum kalau mencari informasi tentang seseorang itu tidak semudah yang kau bayangkan. Apalagi kemarin itu kan hari minggu, orang itu juga punya kesibukan tersendiri di hari libur jadi sedikit sulit untuk mencari datanya.”

 

Penjelasan Baekhyun cukup dimengerti oleh Yoona, jadi ia tidak membiarkan dirinya berlama-lama mengomeli anak itu lebih jauh lagi. Berganti kini Yoona menatap Baekhyun dengan sangat serius, menunjukkan bahwa Yoona sedang tidak ingin bercanda atau bermain-main seperti biasa yang dilakukannya bersama Baekhyun.

“Lalu apa yang sudah kau dapatkan soal Park Gyuri itu?”

 

“Oh, dia itu Noona yang sangat cantik,” spontan Baekhyun menjawab.

Pletakk!!! Jitakan Yoona mulus mendarat di kepala Baekhyun. Lelaki malang itu hanya bisa mengaduh dan mengelus kepalanya. Tentu saja ia baru sadar kalau sudah salah mengatakan sesuatu di depan sepupunya yang sedang dirundung awan sensitif itu.

“Kau suka sekali memukul kepalaku. Ini sakit!” rengek Baekhyun.

 

“aku menyuruhmu menyelidiki wanita itu bukan untuk menilainya cantik atau tidak, Bacon! Lagipula aku masih jauh lebih cantik dan alami,” omel Yoona.

Baekhyun memonyongkan bibirnya sementara wajahnya cemberut lucu. Ia tidak heran kalau topik masalah kecantikan akan menjadi hal yang dibenci Yoona untuk saat ini. Jika tidak, wanita itu akan membahas lebih panjang lagi soal kecantikannya yang tidak boleh disandingkan dengan wanita-wanita yang (mungkin) lebih tua darinya.

 

“Baiklah, Nona Narsis. Aku mendapat keterangan kalau Park Gyuri itu adalah General Manager di Zenith Travel. Karirnya menanjak dari waktu ke waktu seiring kesuksesan travel agency itu. Karena kecantikannya ia lumayan populer di kalangan pria-pria kaya dan—“

 

“Cukup. Aku tidak tanya bagaimana kisah hidup dan karirnya!” Yoona memotong perkataan Baekhyun begitu saja. “Langsung ke intinya saja, apa hubungan Choi Siwon dengan Park Gyuri di masa lalu? Atau justru mereka masih memiliki hubungan sampai sekarang?”

 

Hening sesaat, sepertinya Baekhyun sedang berpikir dan menyusun kata-kata dalam kepalanya agar Yoona bisa menerima dan memahami hal-hal yang akan disampaikannya.

“Park Gyuri itu adalah wanita yang bersekolah dan kuliah di tempat yang sama dengan calon suamimu. Banyak saksi mengatakan kalau hubungan mereka cukup dekat ah.. lebih tepatnya wanita itu yang suka menempel pada Choi Siwon.” Baekhyun menerangkan pelan-pelan semua informasi yang diperolehnya selama dua hari susah payah menyelidiki wanita bernama Park Gyuri.

Yoona mengangguk-angguk paham dan membuat Baekhyun sedikit merasa tenang walaupun belum keseluruhannya ia ceritakan.

 

“Lalu kesimpulan apa yang kau dapat dari penyelidikanmu mengenai hubungan mereka?” tanya Yoona lagi. Baekhyun terperanjat, ini adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab karena ia sendiri tak berani mengambil kesimpulan. “Kenapa diam? Menurutmu bagaimana?”

 

“Ya… aku tidak tahu!” jawab Baekhyun polos sambil mengedikkan bahunya. Yoona menepuk keningnya sendiri, merasa bodoh karena menanyakan hal seperti itu pada lelaki cengeng seperti Baekhyun. “Tapi kemarin…” kalimat Baekhyun tergantung, ia ragu untuk melanjutkannya.

 

“Kemarin apa?”

“Ah, tidak ada apa-apa.” Kelit Baekhyun cengengesan.

“Yak, jangan sembunyikan sesuatu dariku! Cepat katakan!”

Dalam hati Baekhyun merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menahan untuk berbicara lebih banyak mengenai apa yang dilihatnya tempo hari. Dengan mengumpulkan keberanian, ia memutuskan untuk jujur pada Yoona.

“Kemarin aku melihat Park Gyuri menemui Choi Siwon di kantor Hyundai. Aku mengikutinya hanya sampai Lobby dan mendengar ia bertanya soal Direktur Hyundai pada receptionist.”

 

“Apa?!!!” pekik Yoona keras. “jadi wanita itu bertemu dengan Choi Siwon? Di kantornya?” Baekhyun mengangguk pelan. Pemuda itu mulai takut dengan reaksi Yoona melihat rahangnya yang mengatup keras, matanya yang menyipit, dan bibirnya yang membentuk garis lurus.

“Kurang ajar sekali wanita itu! Dia berani mengambil kesempatan dalam kesempitan!”

 

“Hei, kau jangan salah paham dulu. Kita kan tidak tahu apa yang mereka bicarakan.” Baekhyun mencoba untuk meredam emosi Yoona yang sudah terlanjur naik.

 

Yoona berdiri dari duduknya dan bergegas masuk ke dalam rumah meninggalkan Baekhyun yang sedang kebingungan. Tak lama Yoona kembali ke taman belakang rumah, telah berganti pakaian dan membawa tas sandang.

“Baekhyunnie… sekarang kau temani aku ke Kantor Hyundai!” perintahnya pada Baekhyun. Lelaki imut itu membulatkan matanya, terkejut dengan keinginan Yoona.

 

“Untuk apa kita pergi kesana?”

“Tentu saja meminta klarifikasi dari Choi Siwon soal wanita itu,” Yoona menggeram pelan ketika berbicara. Ia pun tanpa aba-aba menarik lengan Baekhyun dan menyeretnya keluar rumah menuju motor sport yang terparkir di halaman depan.

Baekhyun mengacak rambutnya sendiri, meringis dan menyesal setengah mati sudah berbicara panjang lebar pada Yoona mengenai pertemuan Siwon dan Gyuri.

“Matilah aku!”

 

 

Kantor pusat Hyundai Group hari itu seperti biasa berjalan dengan beberapa karyawan yang berlalu lalang kesana-sini dengan kepentingan masing-masing. Tidak ada sesuatu yang menakutkan atau mengkhawatirkan bagi seorang Baekhyun untuk datang ke kantor ini selain sepupu cantiknya yang tengah berjalan mendahului di depan.

 

Kalau saja punya pilihan, maka Baekhyun akan dengan senang hati kabur dari tempat itu dan bersembunyi jauh atau selama mungkin dari penglihatan banyak orang termasuk dari kenyataan mengenai kecebohannya setelah begitu jujur pada Yoona. Seperti di arak ke ruang sidang yang akan memutuskan hukuman baginya, itulah yang dirasakan Baekhyun. Ia hanya berharap sepupunya itu tidak akan berbuat sesuatu yang akan menyulitkannya.

 

Di lain sisi, Yoona berjalan begitu tegap. Garis-garis wajahnya menunjukkan bahwa wanita itu sedang tidak dalam kondisi yang baik untuk diajak bercanda atau sekedar berbasa-basi dengan siapapun. Mendatangi kantor milik calon suaminya dengan misi khusus terkait kekesalannya terhadap informasi dari Baekhyun mengenai pertemuan Siwon dengan Gyuri kemarin adalah latar belakang sikapnya saat ini.

 

“Yoona, kau jangan marah-marah padanya. Aku mohon…” langkah kaki Yoona terhenti mendengar rengekan Baekhyun di belakangnya. Baekhyun sedang mencoba memastikan nasib dengan merayu Yoona agar tidak mengamuk pada sang tunangan hanya karena kecemburuan.

“Kau harus tanyakan dulu kebenarannya. Kita tidak tahu apapun soal pertemuan itu.” Baekhyun berbicara dengan serius seolah memberi perlawanan pada tatapan lurus yang diberikan Yoona padanya. “Aku tidak ingin kau mempermalukan dirimu sendiri. Ingatlah, pernikahanmu tinggal menghitung hari.”

 

“aku tidak marah,” ucap Yoona cepat. “Aku tidak akan marah, Bacon. Aku tidak marah.” Kata-kata Yoona yang berulang terdengar seperti wanita itu sedang mensugesti dirinya sendiri bahwa ia datang dalam damai dan senantiasa berusaha untuk tidak meledak bak bom waktu.

 

 

Yoona hanya memberikan salam singkat ketika bertemu dengan Sekretaris Kim di depan ruang kerja Siwon. Pria paruh baya itu entah bagaimana bisa menangkap sinyal mengkhawatirkan dari kedatangan Yoona kesana. Senyuman kecut dan terpaksa yang ditunjukkan Yoona padanya tidak sedikitpun mengurangi kecurigaan itu.

 

Setelah Yoona masuk ke dalam ruangan, Sekretaris Kim menoleh pada Baekhyun yang sengaja ditinggalkan di luar untuk menunggu – lebih tepatnya tidak ingin mengganggu dan semakin mengacaukan situasi.

“Apa ada masalah?” tanya Sekretaris Kim pada pemuda itu.

Baekhyun hanya bisa mengangkat bahu, tidak tahu harus bersikap bagaimana karena ia sendiri sedang harap-harap cemas menanti reaksi Yoona ketika keluar dari ruangan Siwon.

 

 

 

“Sayang, kau datang?” Siwon cukup terkejut mendapati kemunculan sosok Yoona di depan meja kerjanya Segera ia menutup folder yang berisi dokumen-dokumen yang baru saja didiskusikan dalam meeting bulanan di kantornya.

 

Yoona tidak mengeluarkan suara barang sepatah katapun. Ia terus memandangi Siwon namun sulit untuk mengartikan raut wajahnya. Mungkin sedih, kecewa, marah, atau putus asa.

“Eomonim mengizinkanmu berkeliaran keluar rumah?” ada nada candaan dalam kalimat Siwon guna mencairkan suasana. Ia bisa merasakan kalau ada sesuatu yang tak biasa pada gadis yang bediri mematung di depannya.

 

Gelengan kepala Yoona menegaskan jawaban untuk Siwon, “Eomma tidak tahu aku keluar rumah. Aku pergi diam-diam.” Sikap diam Yoona ternyata disela oleh deru napasnya yang berat, seolah ia baru saja berlari cepat dan terburu-buru untuk sampai kesana. Kenyataannya, Yoona sedang menahan dirinya untuk tidak mengumbar amarah ataupun kekesalannya pada pria itu. Tidak, sebelum ia bisa menyampaikan sesuatu yang selama ini sering menghantui pikirannya.

 

“Lalu kau melakukan aksi kabur dari rumah dan menemuiku karena kau terlalu merindukanku?”

Yoona tak menjawab Siwon yang sedang berusaha menggodanya. Ia hanya menatap kosong dan pikirannya melanglang buana terhadap pertimbangan banyak hal. Siwon mengerutkan keningnya, tiba-tiba ia menjadi khawatir dengan sikap yang ditunjukkan Yoona saat ini.

“Apa ada masalah?”

 

Helaan napas berat masih terdengar dari Yoona. Kedua tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya. Ini adalah cara baginya untuk menahan diri sekaligus mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan kerisauan hatinya.

“Aku datang untuk memastikan satu hal.”

“Memastikan soal apa?”

“Ini tentang dirimu, hatimu.”

 

Mata Siwon tak berkedip seiring pandangannya yang terfokus pada Yoona menyusul perkataan gadis itu dalam memberikan jawaban untuknya. Ia kemudian berdiri dari singgasana empuknya, memperlebar langkah untuk mempersingkat waktu agar ia bisa secepatnya menggapai gadis itu.

“Apa maksudmu?”

 

“Ini… tentang keputusanmu,” Yoona mendongak, memberikan tatapan sendu pada Siwon sementara kakinya mulai terasa sedikit gemetar. Entah karena ketakutannya yang mengira telah melakukan kesalahan atau mungkin karena kegelisahannya menyambut reaksi yang nantinya akan diberikan oleh Siwon.

“Apa Oppa tidak ingin berubah pikiran atau mempertimbangkan lagi pada keinginanmu untuk menikahiku?”

 

“Ck, kau membahas itu lagi. Apa kau tidak bosan terus menerus mempertanyakan hal itu?” Siwon meremas rambutnya, tidak habis pikir bila topik yang sama selalu menjadi momok menakutkan menjelang detik-detik pernikahannya. “kau berbicara seakan kau meragukan keseriusanku untuk memperistrimu.”

 

Kesan dingin dalam suara Siwon membuat dada Yoona tiba-tiba sesak. Perkiraan bahwa pria itu sedang marah dan kesal padanya membuat pikirannya beringsut mengarah pada hal-hal negatif.

“Bukan aku meragukanmu, Oppa. Tapi…” tenggorokan Yoona seolah mendapat serangan tiba-tiba sehingga ia kehilangan tenaganya untuk sekedar berbicara lebih banyak.

“Tapi apa?”

 

“Tapi akulah yang meragukan diriku sendiri.” Air mata sedikit demi sedikit menggenangi mata Yoona dan volumenya semakin meningkat dari detik ke detik. “Aku merasa aku belum pantas dan aku juga takut. Aku takut aku tidak bisa menjadi seperti apa yang kau harapkan. Aku takut kau akan kecewa padaku dan pada akhirnya menganggap penikahan ini sebagai suatu kesalahan yang berakhir pada penyesalan.”

 

Siwon belum bereaksi apapun. Ia sengaja membiarkan Yoona mengeluarkan segala hal yang ada dalam pikirannya agar ia bisa lebih jujur dan mengurangi apa yang tadi disebut sebagai ketakutannya.

 

“Bagiku kau begitu sempurna, walau terkadang menyebalkan. Tetapi pantaskah aku bila dibandingkan dengan wanita-wanita yang ada di sekelilingmu. Mereka terlihat anggun, cantik, bahkan mereka memiliki karir yang bagus.”

Air mata yang sudah memenuhi pelupuk mata Yoona akhirnya jatuh. Ia tak mampu menyembunyikan atau menahan rasa gelisah yang bercampur dengan amarah maupun kesedihannya dalam dirinya. Entah bagaimana ceritanya menjelang pernikahannya Yoona masih saja dalam dillema dan tekanan pun seolah tak pernah lelah menghinggapinya. Yoona sama sekali tak menemui cara terbaik untuk menyingkirkan rasa takut tersebut.

 

“Oppa pasti tahu kan, aku belum memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan. Aku belum punya karir yang cemerlang, aku hanya anak manja yang tidak bisa apa-apa,” isakan Yoona mulai mengganggu pendengaran Siwon dalam memahami kata-katanya.

 

“Sshhh…” Siwon menghentikan kalimat-kalimat tak penting dan penuh keraguan yang keluar dari mulut Yoona. Ia menarik tubuh gadisnya, dan membawa ke dalam pelukannya yang erat, hangat, dan nyaman. Tangannya yang besar dan kokoh mampu memberi sentuhan lembut di kepala sang kekasih, membelai mesra rambut halusnya.

“Yoona-yah, kau tidak perlu meragukanku. Semua yang kau takutkan itu tidak benar. Bukankah aku pernah katakan padamu bahwa aku adalah pria beruntung yang memilikimu di sisiku.”

 

Di dada Siwon, tempat Yoona menyandarkan kepalanya dan mendengar detak normal jantung pria itu, ia teringat akan kata-kata Siwon yang selalu saja mengatakan bahwa Yoona adalah anugerah yang didapatnya dari Tuhan melalui perjodohan yang dibuat oleh kedua orang tua mereka. Yoona menyesali bahwa tak seharusnya ia lupa akan hal itu, bahwa Siwon selalu membisikkan kata-kata manisnya yang memberi sanjungan dan dukungan penuh pada dirinya untuk terus bersanding dengan pria yang menjadi cinta barunya tersebut.

“Kau mungkin memang belum memiliki karir bagus seperti yang kau katakan itu, tapi kau jangan lupa kalau kau memiliki aku. Kau memiliki cintaku yang hanya akan kuberikan pada satu wanita, yaitu dirimu. Akulah yang akan menjadi pendukungmu untuk mendapatkan semua yang kau inginkan, maka kau harus harus percaya padaku.”

 

Yoona melepas pelukan eratnya dari tubuh Siwon, mendongak untuk melihat langsung mata tunangannya. Siwon tidak tersenyum, tidak pula sedang marah. Pria itu tampak sangat serius. Ia sama sekali tidak sedang melempar lelucon untuk menghibur Yoona.

“Apakah cinta saja cukup, Oppa?”

 

Salah satu sudut bibir Siwon tertarik, memvisualisasikan senyuman separuh yang mempesona. Setidaknya, apa yang diperlihatkan Siwon sudah cukup untuk menghibur Yoona, mengurangi kebimbangannya ketika pertama kali ia datang ke tempat ini untuk menemui Siwon.

“Mungkin cinta saja takkan cukup. Oleh karena itu kita harus berkomitmen untuk saling mendukung dan membantu untuk mewujudkan impian terbesar kita. Dan dibutuhkan kepercayaan sebagai fondasinya.” Siwon memegang kedua bahu Yoona, sementara matanya begitu intens menatap Yoona.  “Kau percaya padaku kan?”

 

Karena tak sedikitpun kebohongan terpancar dari mata itu, maka Yoona pun berusaha meyakinkan dirinya bahwa Siwon adalah pria yang paling tepat dan tentunya paling diinginkannya dengan berlatar belakang cinta yang tanpa syarat. Yoona pun mengangguk, membenarkan bahwa ia percaya pada Siwon.

 

“Aigoo… kalau seperti ini kau terlihat menyedihkan, Sayang.” Siwon mengguncang bahu Yoona yang sedari tadi disentuhnya. Suaranya sudah berubah lebih ceria tak lagi begitu serius. “Apa saja yang kau lakukan di rumah sampai kantung matamu tampak mengerikan seperti itu, eoh?”

 

Sindiran Siwon cukup menohok bagi Yoona. Ia tahu jika saat ini wajahnya terlihat mengerikan dengan mata panda. “Aku hanya butuh istirahat saja, Oppa!” ujar Yoona dengan gelembung di pipinya.

 

“Apa Eommonim menyuruhmu bekerja keras di rumah sampai kau tidak punya waktu untuk relax?” Yoona hanya menggeleng dan memasang wajah menggemaskan. “baiklah, kalau begitu ayo kita pergi…”

 

Siwon menarik tangan Yoona, menggenggamnya dan menyeret gadis itu untuk mengikuti langkahnya.

“Oppa, kita mau kemana?”

 

“Pulang.” Siwon menoleh sebentar ke arah Yoona sebelum melanjutkan langkahnya. “Kita masih punya beberapa hari untuk menghilangkan mata pandamu sebelum orang-orang melihatmu sebagai pengantin zombie di atas altar.”

 

“Yak, enak saja!” pekik Yoona menanggapi ejekan Siwon.

 

Sampai di luar ruangannya, langkah Siwon terhenti. Awalnya berniat pamit kepada Sekretaris Kim karena ia akan meninggalkan kantor lebih cepat, namun ia sedikit kaget melihat Baekhyun sedang berdiri disana.

 

“Kau juga ada disini, Byun Baekhyun?” datar saja Siwon menanyai sepupu Yoona yang sudah ketar-ketir menunggu keluarnya pasangan itu dari ruang kerja Siwon.

 

Ne…” jawab baekhyun dengan cengiran khas nya. Baekhyun melirik Yoona dan berkomunikasi dengannya melalui isyarat mata, seolah mereka sudah terlatih untuk berbicara melalui telepati.

Senyuman kecut di bibir Yoona membuat kepala Baekhyun penuh dengan pertanyaan yang membutuhkan jawaban secepatnya. Apa mereka tidak jadi bertengkar? Atau mungkin sudah ada perjanjian atau kompromi baru lagi di antara mereka? Entahlah, Baekhyun hanya bisa menebak-nebak.

 

“Kenapa ada Baekhyun disini?” Siwon berbalik dan bertanya pada Yoona. Matanya yang menyipit mengisyaratkan bahwa ia mencurigai sesuatu. Tenggorokan Yoona seperti tercekat, sekali lagi ia melirik Baekhyun. Yoona mulai berpikir kalau situasi Baekhyun kembali tertangkap dalam radar bahaya.

“Oh jangan-jangan Baekhyun yang sudah membawamu kabur diam-diam dari rumah, kan?” tuduh Siwon sinis menunjuk hidung Yoona.

Aniyooo…!!” Pekik Baekhyun membela diri sedangkan Yoona hanya memberikan cengiran permohonan maafnya.

 

 

^To Be Continued…^

Iklan
Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

77 Komentar

  1. KaRenYS4ever

     /  April 6, 2014

    Baekyun kyaknya udah trauma parah sma Siwon..ckck..
    Smpai2 ketakutan gtu..
    Tadi kirain Yoona mau marah2 dkantornya Siwon..untunglah trnyata tdk..
    Next part dtunggu scepatnya ya eon..

    Gomawo^^v

    Balas
  2. asrikim

     /  April 11, 2014

    Ya ampun,,,pansangan yoonwon ini tidak ada hari tampa beramtem enggk capek apa,,?sekali2 romantis gitu,,,selalu aja ada masalahnya yg membuat mereka emosi,,,kasihan sibacon kena lampiasan kemarahan yoona yg sedang cemburu tingkat akut,,,ceritanya makin Ya ampun,,,pansangan yoonwon ini tidak ada hari tampa beramtem enggk capek apa,,?sekali2 romantis gitu,,,selalu aja ada masalahnya yg membuat mereka emosi,,,kasihan sibacon kena lampiasan kemarahan yoona yg sedang cemburu tingkat akut,,,ceritanya makin Ya ampun,,,pansangan yoonwon ini tidak ada hari tampa beramtem enggk capek apa,,?sekali2 romantis gitu,,,selalu aja ada masalahnya yg membuat mereka emosi,,,kasihan sibacon kena lampiasan kemarahan yoona yg sedang cemburu tingkat akut,,,ceritanya makin Ya ampun,,,pansangan yoonwon ini tidak ada hari tampa beramtem enggk capek apa,,?sekali2 romantis gitu,,,selalu aja ada masalahnya yg membuat mereka emosi,,,kasihan sibacon kena lampiasan kemarahan yoona yg sedang cemburu tingkat akut,,,ceritanya makin seru,,,,!!!

    Balas
  3. Tingkat kecemburuan Yoona makin meningkat aja ya, untung aj Wonppa bisa meredam semuanya

    Balas
  4. haha bacon kasihan sekali kamu oppa…udah punya sepupu jahil aka yoona, bkal punya ipar kyak siwon juga..haha

    Balas
  5. Dahlia GaemGyu

     /  Juli 19, 2014

    kasian bgt si baekhyun,,, klo udh ngadepin YoonWon baekhyun ketekutan bgt,,, kasian kasian kasian

    Balas
  6. Fitriawandi

     /  Juli 28, 2014

    Yoonwon masih aja suka bertengkar. Kasihan baekhyun kayaknya trauma bgt sama siwon

    Balas
  7. Any

     /  Agustus 12, 2014

    Dari awal sampe sequelnya berantem terus nih yoonwon. Kasih yg romantis dong thor. Gimana mereka mau honeymoon y kalo berantem. Honeymoonnya pas ti lucu…yoona ogaj2 tp maumau

    Balas
  8. Hahahahahaha kasian kali lah si baekhyun hahahah yoong jahat hahahahaha.wonppa tu kerennnnnn

    Balas
  9. Cha'chaicha

     /  Agustus 29, 2014

    hehe kasian bgt cy bacon jdi korban melulu..

    Balas
  10. Jahaha baekyeon mau ngapin tu??
    Kekeke

    Balas
  11. choi han ki

     /  Oktober 7, 2014

    Yaampun yoona cemburuan bgtt ya.. Sepertinya pembatalan pernikahan menjadi senjata yg mujarab buat yoona untuk menekan siwon hehehe …

    Balas
  12. Kasian baekyhun slalu apes kena omelan,pd hal niat slalu ngebntu…cekkk…

    Balas
  13. Makn seru ff nya 😀

    Balas
  14. nina

     /  November 14, 2014

    hahahaha,, baekhyun yg malangggg…

    Balas
  15. Part ini Ω̶ќυ̲̣̥ suka yoona skrng sdh mulai dewasa dan siwon jg tdk mergukan prnikahannya tnggal nngu hari-Hnya saja
    Btw,,Baekhyunie lucu bgt haha

    Balas
  16. YoonaChoi

     /  Agustus 29, 2015

    Lucu bgt pas yoona cemburu sama gyuri, yoonanya masih sensitif ya, yaampun baekhyn yg sabar ya ngadepin 2 orng yg saling jatuh cinta hehhe 🙂

    Balas
  17. YoongNna

     /  Februari 19, 2016

    Aduuuuhhh kshan bgt sh baekhyun jd ssran mulu..
    Mdh2n pernkhan yoona ma siwon brjln dg lancar deeehhh

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: