[FF] COMPROMISE : A CONFRONTATION (1)

COMPROMISE  A CONFRONTATION (1)

Misskangen Presents: COMPROMISE

 

Casts: GG’s Yoona as Im Yoona

           SJ’s Siwon as Choi Siwon

Cha Seung Won as Choi Seung Won

 

Minor Casts: GG’s Jessica as Im Soo Yeon / Jessica Jung

 F(x)’s Sulli as Park Sulli

SJ’s Choiteuk as Park Jung Soo

GG’s Taeyeon as Im Taeyeon

 

Genre: Romance, Family

 

Rating: Mature

 

Length : Chapters

 

Disclaimer : This is a remake fanfiction in YoonWon Version. All of the story and plot is mine. Do not copy or doing plagiarism. Please apologize for unidentified typo(s).

 

 

 

COMPROMISE : A CONFRONTATION (1)

 

 

 

Berita itu benar?

Bagaimana mungkin bisa sampai separah itu?

Apakah aku sudah membuat kesalahan begitu besar hingga menyebabkan semua ini terjadi?

Apa yang bisa aku lakukan untuk memperbaikinya?

 

Kepala Yoona sudah terasa begitu penuh dengan semua pemikiran-pemikiran mengenai sebuah kondisi yang sedang menimpanya. Baru saja ia diberitahu oleh sepupunya untuk menilik sebuah surat kabar harian terpercaya di Korea yang memberitakan tentang sebuah perusahaan yang dikenalnya.

 

SEORIM GROUP KOLAPS, RIBUAN PEKERJA TERANCAM PHK

 

Dari judul yang dibacanya saja sudah membuatnya menahan napas dan jantungnya ikut berdetak cepat. Seorim group, adalah perusahaan milik keluarganya dan peninggalan almarhum ayahnya. Dua belas tahun yang lalu ayahnya mengalami kecelakaan pesawat dalam perjalanan bisnis menuju Amerika. Saat itu Yoona masih berusia dua belas tahun dan ditinggalkan hanya berdua bersama kakak perempuannya yang berusia tiga tahun lebih tua darinya. Sementara, kedua bersaudara itu tak pernah bertemu dengan ibu kandungnya. Kenangan buruk masa lampau sudah menjadi latar belakang perpisahan anak dengan sang ibu, dan Yoona maupun kakaknya sama sekali tidak ingin mengingat akan hal itu.

 

Kesedihan yang melingkupinya setelah ditinggal mati sang ayah sedikit demi sedikit mulai terobati saat Yoona bertemu dengan Paman dan Bibinya yang kemudian didaulat untuk mengasuh kakak beradik Im sepeninggal ayahnya. Bibinya –adik dari ayah Yoona- begitu menyayanginya begitu pula dengan pamannya yang menghujani mereka dengan kasih sayang layaknya orang tua kandung kepada anaknya. Dua sepupunya, Minho dan Sulli, yang usianya jauh lebih muda darinya semakin menambah warna hidupnya. Merekalah yang kini menjadi kekuatan hidup bagi Yoona.

 

Saat ditinggalkan oleh ayahnya, Yoona dan Soo Yeon –kakak Yoona- menjadi dua saudara perempuan yang sangat berharga tinggi karena memiliki warisan begitu banyak dari sang ayah, termasuk sebuah perusahaan cukup besar yang membawahi usaha-usaha kelas menengah ke atas hingga kelas atas. Selama mereka dalam pengasuhan paman dan bibinya, maka perusahaan itu diurus oleh pamanya, Park Jung Soo.

 

Selama empat belas tahun hidup bersama pamannya, dan kini di usianya yang ke dua puluh enam sudah selayaknya Yoona dianggap mampu untuk mengurus perusahaan untuk membantu pamannya setelah cukup waktu masa pembelajarannya. Semasa masa kuliah, Yoona tak bosan hadir di kantor Seorim Group untuk belajar dan mengenal seluk beluk perusahaannya. Dan setelah gelar master diraihnya maka sudah saatnya Yoona mengambil posisi penting dalam perusahaannya.

 

Di saat Yoona meretas karirnya di dunia bisnis melanjutkan usaha ayah dan pamannya, justru ia harus mengalami kondisi dimana perusahaan yang dibanggakan mengalami masalah. Jalinan kerja sama dengan perusahaan besar menjadi sebuah petaka. Karena kekeliruan dalam membuat planning dan kesepakatan, justru memantik kerugian yang sangat besar. Hingga Seorim group mengalami guncangan hebat dan terancam gulung tikar.

 

“Ini semua salahku,” lirih Yoona ketika menghadap pada pamannya terkait pembicaraan kelanjutan nasib perusahaan ke depannya.

Jung Soo hanya bisa memijit pelipisnya yang berdenyut, sementara ia sama sekali tak sanggup menatap langsung pada keponakannya yang sedang memberikan pengakuan dosa. Saat ini Jung Soo tak mau menyalahkan siapapun terutama Yoona dalam kejadian ini. Yang harus dipikirkannya dengan begitu keras adalah bagaimana cara yang baik dan harus ditempuhnya untuk menjadi solusi masalahnya saat ini.

 

“Apa yang bisa kita lakukan, Samchon? Apa ada sesuatu yang bisa menyelamatkan Seorim dari kehancuran?” Yoona memandang lurus pada sang paman, sangat mengharapkan pria paruh baya itu akan berbicara dan memberikan satu ide padanya.

 

“Ada. Tapi aku tidak akan memakai cara itu untuk menyelesaikan masalah kita.” Jung Soo masih menghindari tatapan Yoona dengan matanya yang nyalang ke arah berlawanan.

 

“Apa itu?” tanya Yoona penasaran dengan tubuh yang menegang. Kebisuan Jung Soo membuat Yoona semakin tak bisa menyembunyikan keingintahuannya. “Samchon… tolong katakan padaku.” Kali ini Yoona memohon padanya dengan suara lembut namun meyakinkan.

 

Jung Soo paham dengan karakter keponakannya yang keras. Gadis itu tidak akan menyerah begitu saja dengan satu kata ‘tidak’ dari mulutnya. Dengan helaan napas yang berat ia mulai membuka kejujuran pada Yoona.

“Craftzen Enterprise –rekan kerja sama yang sudah menjadi duri dalam masalah perusahaan kita- adalah salah satu perusahaan yang dimiliki oleh Todou Group. Kita bisa saja meminta bantuan pemiliknya untuk menyelesaikan semua bencana ini. Namun aku tahu seperti apa Presdir Todou, maka aku tidak mau menjadikan hal ini sebagai solusi.”

 

Yoona mengerutkan keningnya. Ia masih tidak habis pikir dan terus antusias terhadap keengganan sang paman menjalin relasi dengan orang nomor satu dari Todou Group itu.

“Apa samchon memiliki masalah dengan Presdir Todou hingga tidak sudi berhubungan dengan orang itu?”

 

Jung Soo menggeleng lemah, ia tidak yakin jawaban seperti apa yang ingin dikatakannya pada Yoona. “Aku tahu karakter yang dimiliki olehnya. Lebih baik kau lupakan saja. Kita pasti punya jalan lain.” Tutup Jung Soo mengakhiri pembicaraan mereka.

 

Yoona POV

 

Sebuah tanda tanya besar menutup pembicaraanku dengan Paman Park. Mungkin beliau punya rahasia yang tidak bisa diceritakan, tetapi mungkin juga ia berusaha jujur tetapi sulit untuk membuka keseluruhan tabir.

 

Jika memang permasalahan yang menimpa perusahaan ada hubungannya dengan perusahaan yang dimiliki oleh Todou Group, sudah seharusnya Seorim Group menuntut lebih jauh pertanggung jawaban kepada pemiliknya. Namun Paman Park seperti menutupi sesuatu. Aku tahu beliau bukan orang jahat. Beliau sudah seperti ayah kandung bagiku, yang memberiku kasih sayang tanpa pamrih.

 

Aku harus mencari tahu lebih jauh soal masalah pelik ini. Masa depan perusahaan sedang dipertaruhkan. Aku akan berjuang keras untuk mempertahankan semua yang ada. Semua ini adalah peninggalan dan titipan dari Ayahku untuk dijaga dan dikembangkan dengan baik. Aku tidak ingin kehilangan segalanya begitu saja. Karena bukan hanya aku yang akan merugi, tetapi ada ribuan orang yang akan menderita jika Seorim benar-benar berakhir.

 

“Apa samchon tak ingin mempertimbangkan lagi untuk bertemu dengan Presdir Todou?” suatu ketika aku mencoba mengangkat topik itu lagi saat kulihat paman Park tampak sangat tertekan dengan masalah yang menimpa Seorim Group.

 

“Sudah aku katakan tidak, Yoong!” suara tinggi Paman Park cukup mengejutkanku. Pamanku adalah seorang pria yang tidak suka mengumbar uratnya jika berbicara, namun kali ini aku mencoba memaklumi situasinya jika dia bersikap seperti itu.

 

“Tapi semakin hari, Seorim semakin terancam. Aku pikir tidak ada salahnya kita mencoba.” Hanya sebuah dengusan kesal yang kutangkap sebagai respon dari Paman Park. Kemudian ia masih saja diam dan terlihat berpikir keras. “Aku akan mencoba menemuinya atas nama Seorim dan pewaris Seorim. Aku akan mencoba bernegosiasi.”

 

Penyampaian ide ini sudah kuputuskan setelah mengumpulkan keberanian dan berbagai pertimbangan. Kekacauan di perusahaan tidak lepas dari kesalahanku. Kalau saja strategi yang kubuat bersama tim perencanaan berjalan seperti yang diharapkan, maka Seorim tidak akan mencapai kerugian besar seperti sekarang.

 

“Aku hanya tidak ingin menjadikanmu umpan, Nak. Choi Seung Won, pria itu adalah pria licik yang menggunakan kekuasaannya untuk memperoleh apa yang diinginkannya. Aku yakin apa yang menimpa Seorim pasti ada campur tangan darinya.”

 

Paman Park sepertinya sudah memberi stempel ‘bad-guy’ pada Presdir Todou. Menilai seseorang dengan begitu sarkatis sama sekali bukan style yang biasa ditunjukkan olehnya. Tapi haruskah kita mempertahankan egoisme dan kekerasan hati saat kita berada di tepi jurang kematian, sementara hanya ada satu orang yang jelas bisa menyelamatkan? Aku pikir tidak ada salahnya sesekali membuang itu semua untuk mempertahankan kehidupan.

“Aku rasa tidak ada salahnya mencoba. Aku hanya memikirkan Seorim dan masa depan ribuan pekerjanya. Bukankah kita hanya punya satu bulan untuk memperbaiki Seorim sebelum semua investor dan stock holder meninggalkan kita?” aku mengungkit semua alasan yang dapat memperkuat rayuanku pada Paman Park agar beliau memberiku izin untuk melakukan tindakan.

 

Paman Park memejamkan mata beberapa saat. Aku pikir ini adalah keputusan yang sulit baginya. Sebenarnya aku tidak ingin menekannya dengan memberi sugesti bahwa aku akan baik-baik saja dengan ideku itu. Tapi aku hanya ingin berusaha, dan aku sangat tahu bahwa setiap usaha memiliki resiko.

“Baiklah, terserah kau saja. Aku memang tak bisa melarangmu karena kau punya hak penuh untuk melakukan hal itu sebagai salah seorang ahli waris. Tapi setelah kau bertemu dengannya nanti, aku harap kau bisa mengambil keputusan yang tepat.”

Aku mengangguk dan tersenyum. Inilah saatnya aku melakukan sesuatu untuk menyelamatkan perusahaan milik keluargaku.

 

***

 

Hari ini, tepat tiga hari setelah diskusi panjang lebar bersama Paman Park mengenai langkahku menemui Presdir Todou, akhirnya aku menginjakkan kaki di kantor pusat milik Todou Group. Luxury and of course precious one, adalah kata tepat untuk menggambarkan tempat ini. Tentu saja perusahaan ini jauh lebih besar dari perusahaan milik keluargaku. Lantas apakah perusahaan sebesar ini memiliki hak untuk menghancurkan perusahaan yang tak sebanding dengan mereka?’

 

“Anda bisa lewat sini, Nona Im. Presdir sudah menunggu kedatangan anda.” Seorang wanita yang merupakan sekretaris sang presdir itu menunjuk sebuah pintu menuju ruang bos besarnya.

 

Aku memasuki ruangan itu, berjalan di atas marmer putih yang mengkilap dengan aksen dekorasi minimalis yang kentara. Ruangan yang sangat nyaman, tentu saja didisain khusus untuk seorang pemimpin tertinggi dan berkuasa mutlak.

 

Welcome to my lovely office, Miss Im.” Seorang pria menyapaku dari kursi empuknya yang berada di belakang meja kerja yang teratur rapi. Usianya mungkin sudah mencapai lima puluhan tapi menurutku ia adalah pria yang cukup awet muda melihat postur tubuh dan gurat wajahnya yang kokoh. “Silahkan duduk. Aku sudah menanti kehadiran anda sejak konfirmasi melalui telepon dua hari yang lalu.”

 

Aku mengikuti arahannya untuk duduk di kursi di depannya. Bila begini aku merasa mirip dengan seorang karyawan yang sedang memberikan laporan kepada atasannya. Aku memberikan senyuman yang kupaksa terlihat santai namun tegas.

“Senang bertemu dengan anda Presdir Choi. Aku Im Yoona dan aku adalah—“

“Pewaris Seorim Group. Begitukan?” seenaknya ia memotong kata-kataku namun aku hanya mengangguk dengan senyuman kecut. “Aku sudah tahu tentangmu dan semua yang kau inginkan dari kedatanganmu kesini.”

 

Alisku terangkat mendengar penuturannya. Baiklah, aku mengerti bahwa Choi Seung Won adalah seorang businessman yang sangat menghargai waktu, jadi berbasa basi bukanlah sesuatu yang disukainya. “Suatu kehormatan bagi saya jika anda sudah memikirkan dan mempertimbangkan maksud saya tersebut, Mr. Choi.”

 

“Tentu saja, Ms. Im. Keinginanmu untuk mempertahankan Seorim dan keinginanku untuk mengambil alih Seorim, bukankah sesuatu yang bertolak belakang?” Tubuhku spontan menegang. Jadi benar ternyata musibah Seorim ada hubungannya dengan lelaki ini. Kini aku mulai bisa memahami apa yang dipikirkan orang-orang tentangnya.

You must be surprised, Ms. Im. Aku tahu persis bagaimana kondisi Seorim saat ini. Dan aku juga paham dengan hasratmu mempertahankan perusahaan itu. Oleh karenanya, aku sudah mempunyai ‘win-win solution’ bagi kita. “

 

Entah apa yang ada dipikiranku saat ini. Pria bermarga Choi yang satu ini benar-benar sosok pria yang matang dan sudah penuh pertimbangan bahkan sebelum terjun ke medan perang. Aku tidak punya pilihan selain mendengar ide solusi yang dikatakannya tadi.

“Apakah solusi yang anda pikirkan?” tanyaku singkat.

 

Senyum yang terukir di wajah pria itu menurutku penuh arti. Ia seperti sedang meneriakkan padaku melalui bahasa isyarat bahwa ‘kau tidak akan bisa menolak ideku ini’.

“Aku akan membantumu untuk masalah Seorim setelah kita membuat kesepakatan.”

“Kesepakatan apa?”

Seketika posisi duduknya yang semula santai di atas kursi empuk, kini berganti tegak dan sangat serius. “Kesepakatannya adalah aku akan membuat Seorim kembali normal bahkan mendapat peluang untuk menjadi lebih besar dengan dukungan Todou setelah kau menikahi putraku.”

 

Hening. Tidak ada suara yang menyambut sebelum aku tergelak sebentar. Aku pikir apa yang dikatakannya tadi benar-benar konyol.

“Apa anda masih hidup di zaman Joseon? Kesepakatan melalui ikatan pernikahan, itu benar-benar kuno!” Aku mencoba bersikap lancang dengan mengejeknya sebagai an old school man.

 

“Terserah kau menganggapnya lelucon. Tapi inilah kesepakatan yang kuajukan padamu, Ms. Im. Menikah dengan putraku, maka kau akan dapatkan semua yang kau inginkan!”

Aku terdiam. Teguran pria itu sedikit menyudutkanku karena memang ia sama sekali tidak bercanda atau melempar lelucon konyol.

“Aku tidak tahu kenapa kau mengajukan putramu sebagai barang taruhan, Mr. Choi.” Aku balik menginterogasinya, tidak mungkin ia tidak punya alasan untuk semua ini. “Oh, mungkinkah putramu seorang pria yang berbeda dari kebanyakan orang, apa dia tidak normal hingga kau mencarikan isteri untuknya?”

Oh tidak! Aku benar-benar ingin merutuki kata-kataku sendiri. Yang tadi itu sangat tidak sopan. Kata-kata frontal tidak tepat untuk dijadikan senjata saat ini. Babo Yoona!

 

“Kau salah! Putraku pria normal. Dia tampan, pintar, berbakat, dan sekarang ia sudah bisa mengikuti jejakku sebagai pebisnis sukses.” Mr. Choi sudah menghancurkan dan mematahkan semua argumenku dengan satu kalimatnya. Aku harus menerima kenyataan bahwa telingaku ingin mendengar kelanjutan ceritanya.

“Dan aku tidak akan sembarangan memilih wanita untuk kujadikan menantuku. Kesepakatan ini aku buat bukan tak memiliki tujuan khusus bagiku. Sebenarnya hubunganku dengan putraku sangat tidak baik, akan lebih mudah kalau kau menggambarkan kami seperti orang asing bahkan musuh. Selama ini ia tinggal di luar negeri, dan aku ingin memaksanya pulang melalui pernikahan.”

 

Jadi hubungan disharmonis antara ayah dan anak yang sudah membuat seorang pengusaha sukses menjadi frustasi hingga harus memikirkan cara kampungan untuk berbaikan dengan anaknya? Haruskah aku mengatakan ini kasus yang menarik?

 

“Lalu apa hubungannya dengan Seorim?”

“Itu hanya kebetulan, Ms. Im. Saat aku tahu Seorim akan diwariskan pada seorang gadis cantik sepertimu, aku merasa rencanaku bisa kujalankan dengan bantuanmu. Jadi aku mengatur agar semua menjadi seperti ini.”

Aku terkesiap dengan kenyataan yang baru saja diungkapkan olehnya. Kini aku sadar betapa liciknya seorang Choi Seung Won. Atau mungkin Paman Park sudah tahu pada akhirnya akan seperti ini jika aku menemuinya. Ini adalah alasan mengapa Paman Park bersikeras melarangku menemui Presdir Todou. Sebelumnya pasti mereka telah bertemu dan Paman sama sekali tidak menyetujui ide gila ini.

“Anda benar-benar orang yang penuh tipu muslihat, Mr. Choi.”

Ia tertawa, pasti aku bukanlah orang pertama yang mencapnya seperti itu. Sepertinya ia adalah orang yang sudah biasa menerima sumpah serapah dari banyak orang. Aku harus menyebutnya pria yang menyedihkan sekaligus menjengkelkan!

 

“Dengar Ms. Im, kesepakatan ini ibarat misi bagimu. Kau hanya perlu menarik perhatian putraku, menikah dengannya, dan melahirkan seorang pewaris Todou. Setelahnya kau bisa berpisah dengannya. Aku rasa lima tahun cukup bagimu untuk memberiku seorang cucu.”

 

Dengan penuh emosi aku berdiri dari posisi dudukku dan menatap tajam pada Choi Seung Won. Aku sangat tersinggung oleh perkataannya, seolah ia menganggapku seorang wanita yang bisa dibeli. Seolah aku adalah pelacur hina yang bersedia melakukan apa saja demi uang.

“Saya tekankan kepada anda bahwa saya tidak akan pernah menjual diri untuk hal seperti itu, Mr. Choi yang terhormat!”

 

“Aku tahu kau bukan wanita seperti itu, Ms. Im. Aku tahu kau wanita terhormat, karena itu aku memilihmu. Sudah kukatakan aku tidak akan memilih sembarang wanita untuk melahirkan cucuku.”

Aku mengeluarkan dengusan sebagai bentuk rasa tidak sukaku pada sikap frontalnya. Harusnya ia bisa menjadi seorang pria paruh baya yang berbudi luhur mengingat ia adalah seorang pengusaha terkenal. Tapi nyatanya ia tak lebih kerdil dari seorang penipu.

“Saya rasa kesepakatan ini tidak akan pernah terjadi. Saya permisi!” Dengan langkah tegap aku berbalik dan berjalan menuju pintu keluar. Langkahku sempat terhenti mendengar suara tingginya yang berteriak kepadaku.

 

“Aku yakin kau pasti akan kembali, Ms. Im. Ingatlah kau hanya punya waktu satu bulan sebelum Seorim benar-benar hancur. Kau hanya punya aku sebagai penyelamat.”

 

***

“Apakah aku harus melakukan hal ini?” ujarku lirih di hadapan Paman Park dan isterinya. Aku menceritakan semua kejadian yang ada saat pertemuanku dengan Presdir Todou termasuk jalan pintas mengenai kesepakatan konyol itu. Paman Park berulang kali mengumpat dan menyumpahi Choi Seung Won walau ia tahu itu sama sekali tidak ada gunanya. Bibiku memberikan tatapannya yang penuh penyesalan karena aku harus menghadapi dilema seperti ini.

 

“kau tidak perlu melakukannya. Kau mempertaruhkan masa depanmu untuk hal konyol seperti itu hanya akan merusak cita dan cintamu, sayang.” Usapan lembut tangan Bibi di rambutku terasa sangat nyaman. Suaranya yang merdu memberi ketenangan di hatiku. Ia adalah sosok ibu bagiku, sosok yang sangat aku rindukan meski aku tak pernah tahu bagaimana rupanya.

 

“Lalu bagaimana dengan Seorim, Imo? Aku dengar tadi siang para pekerja melakukan demo sebagai aksi protes terhadap kerja Seorim yang lamban dalam menyelesaikan masalah pelik ini. Aku sangat khawatir kalau kita sama sekali tidak bisa menemukan solusi lain.”

 

“Kau sudah memberitahu Soo Yeon tentang masalah ini? Mungkin dia bisa membantu,” tanya Bibiku lagi. Ah… aku sedikit melupakan kakakku yang satu itu. Tapi pemikiran untuk menghubungkan masalah ini dengannya pasti akan menemui jalan buntu.

Sekarang kakakku sudah memiliki karirnya tersendiri yang baru dimulai di Perancis sebagai seorang desainer muda. Sejak dulu memang ia tidak pernah tertarik dengan dunia bisnis yang dijalankan oleh Ayah. Terakhir kali aku mengunjunginya di Paris saat pernikahannya dengan seorang Diplomat Korea yang bekerja di Kedutaan Besar Korea di Paris. Aku turut senang saat ia berteriak padaku melalui Skype sambil menunjukkan masterpiecenya yang pertama sebagai desainer muda setelah ia melahirkan putrinya. Ia bahkan memberitahuku untuk memanggil dengan nama barunya, Jessica Jung – anggap saja itu nama panggungnya dan bermarga sesuai dengan suaminya, Jung Yunho.

 

“Aku pikir Eonni tidak akan punya solusi apapun untuk ini mengingat ia sama sekali tak tertarik dengan bisnis. Sebaiknya kita tak usah mengganggunya, biarkan saja ia berkembang dengan karirnya sebagai desainer.”

Tidak ada kata yang keluar dari mulut Bibi. Ia paham bahwa aku tidak ingin memberatkan Soo Yeon Eonni sekaligus tidak ingin kakakku itu menjadi pusing sendiri hingga turut campur dan membuat semuanya menjadi lebih runyam.

 

Aku dan Bibi menoleh pada Paman ketika mendengar suara helaan napas keras dari Paman Park yang mungkin mendengarkan percakapan kami sedari tadi.

“Sudahlah, berhenti memikirkan ide gila Choi Seung Won. Aku akan menemukan solusi secepatnya.” Wajah lelah yang terukir di wajah Paman Park jelas sekali menandakan bahwa ia mulai putus asa walaupun aku tau ia sama sekali tak berniat mengumbarnya pada kami.

 

***

Dua hari setelahnya, aku masih belum bisa melepaskan diriku dari bayang-bayang dan bisikan-bisikan suara Choi Seung Won. Sepertinya pria paruh baya itu sudah menjadi momok bagiku karena sulitnya ingatan tentangnya menghilang dari pikiranku.

 

Aku tidak bisa berkonsentrasi saat menghadiri rapat luar biasa yang diadakan di antara para pemegang saham dan investor Seorim. Wajah-wajah mereka tampak tidak ada yang cerah atau sumringah. Semuanya sama – dalam keadaan khawatir dan prihatin. Keadaan genting yang menyelimuti Seorim saat ini tidak hanya akan berdampak pada keluargaku, namun juga mereka dan tentu saja para pekerja.

 

Aku mendengar bahwa bersamaan dengan rapat ini, di luar kantor juga kembali terjadi demonstrasi para pekerja yang menuntut kejelasan nasib mereka. Kondisinya semakin memburuk karena Seorim sendiri tak juga bisa memperbaiki sistem kerja bagian keuangan selama masa krisis.

 

Selama rapat berlangsung, aku merasa seperti berada di neraka. Pemandangan Paman Park yang terus ditekan oleh semua anggota rapat membuatku sesak, sementara aku sama sekali tak bisa menolongnya karena tak ada satupun hal yang bisa kukatakan untuk menjamin bahwa Seorim akan baik-baik saja.

 

Selesai rapat, beralih kepada pemandangan di luar gedung yang membuatku tercengang. Para pekerja yang melakukan aksi demo mengamuk. Mereka mengutuk manajemen Seorim memberikan klarifikasi resmi terkait kerobohan tahta kerajaan bisnisnya. Beberapa security maupu staff yang berada di depan gedung berusaha keras untuk memberi pengertian, namun tak pernah mendapat respon yang baik dari pendemo. Parahnya, bahkan pendemo berani melempari kaca-kaca gedung dengan telur. Ini merupakan suatu penghinaan sekaligus teguran keras bagi Seorim.

 

Napasku tiba-tiba saja memburu dan jantungku berdetak begitu kencang. Pemandangan ini membuatku shock dan ingin menangis, hanya saja air mataku rasanya sulit sekali keluar. Sesak di dadaku semakin menjadi. Kali pertama aku melihat langsung kekacauan yang ada di perusahaanku dan saat itu juga aku berpikir bahwa sama sekali tidak ada cara lain. Aku lah kunci jawaban dari semua masalah ini. Pilihanku hanya satu dan aku harus berani mengambilnya sebagai resiko karena aku telah lalai dalam kepengurusan perusahaan.

 

Aku memutuskan untuk berlari meninggalkan kantor, secepat mungkin untuk sampai ke suatu tempat yang bisa menghentikan penderitaan Seorim dan tentunya memulai penderitaanku sendiri. Aku sudah tidak peduli lagi bagaimana nantinya hidupku akan berjalan. Yang aku tahu harus merelakannya dan menyiapkan diri meskipun aku harus masuk neraka.

 

“Saya akan melakukannya. Saya akan melakukan semua yang anda inginkan.” Kataku dengan napas terengah-engah begitu menemui Choi Seung Won di markas besarnya.

Choi Seung Won tersenyum sinis dan terlihat puas dengan kemenangannya. “Aku sudah memprediksi ini akan terjadi Nona Im. Selamat datang ke dalam keluarga Choi.”

 

“Saya akan melakukannya, tapi saya mohon agar anda merahasiakan kesepakatan ini dari putra anda.”

Ia mengangguk mantap dan senyuman lebarnya memberi keyakinan padaku bahwa ia juga memikirkan hal yang sama. “Tentu saja. Hanya kau dan aku serta pamanmu yang tahu tentang hal ini. Aku akan mengatur agar putraku sama sekali tak mencurigai apapun soal kesepakatan kita.”

 

***

“Eonni, kau sudah rapi pagi-pagi begini. Apa kau akan berangkat bekerja?”

Pagi itu aku tidak tahu hal apa yang membuat Sulli –sepupuku- sudah muncul di dalam kamarku dan menontonku yang sedang berias setelah selesai mandi.

“Eonni, aku dengar Seorim akan bangkrut, apa itu benar?” pertanyaannya kali ini menghentikan kegiatanku yang sibuk merapikan file ke dalam map. Aku menoleh padanya dan ekspresi datar wajahnya itu masih menunggu jawaban dari mulutku.

 

Aku menelan ludahku, apakah aku harus berbohong pada seorang anak remaja yang masa depannya juga bergantung dari nasib Seorim setelah ini? Tidak. Aku terlalu menyayangi Sulli seperti saudara kandungku sendiri, seperti aku menyayangi kakak kandungku -Sooyeon.

 

aniya… Seorim akan baik-baik, Sulli-ah. Kau tidak perlu khawatir.” Jawabku pada akhirnya. Yah, aku memang akan berusaha membuat Seorim kembali pada kejayaannya seperti sedia kala. Aku akan berjuang untuk mengamankan kehidupan keluarga ini walau pada akhirnya aku yang akan mengalami kehancuran.

 

Hari ini aku akan mulai bekerja di Todou. Segera setelah aku menyetujui kesepakatan yang diajukan Choi Seung Won, aku pun mendapat posisi bagus di perusahaan itu. Tentu saja ini sebagai kamuflase yang sengaja diatur sebelum kedatangan sang putra mahkota ke Seoul.

 

Selama beberapa hari pertama aku merasa sangat tidak nyaman dengan keistimewaan yang diberikan oleh sang Presdir kepadaku. Tatapan-tatapan penuh tanya dan curiga yang dilayangkan para pegawai kepadaku seakan selalu menjadi peringatan bahwa aku harus menjaga sikap dan berakting sebaik mungkin agar semuanya berjalan lancar seperti yang kuinginkan.

 

Choi Seung Won memberikan banyak informasi kepadaku tentang putranya. Choi Siwon, berusia 32 tahun. Salah satu lulusan terbaik University of Cambridge, dan saat ini berdomisili di Kanada sekaligus mengurusi perusahaan yang dibangun olehnya dengan susah payah. Membanggakan memang, tetapi yang disesalkan oleh Choi Seung Won adalah hubungan complicated yang terjalin dengan putranya itu. Choi Siwon tak pernah sepaham dengan sang Ayah, selalu berdebat dan gemar adu urat dengannya. Meskipun demikian, Choi Seung Won masih mengapresiasi sikap hormat yang selalu ditunjukkan Siwon walau terkadang anaknya itu akan bersikap sangat menyebalkan jika ada sesuatu tak mengena di hatinya.

 

“Choi Siwon adalah pria yang tampan, wanita manapun akan tergoda padanya. Tak hanya pada fisik namun juga pada segi finansialnya. Namun tugas beratmu adalah menghadapi kekerasan hatinya. Ia pria dingin dan terkesan bermulut tajam. Pintar-pintarlah melatih mentalmu untuk berkonfrontasi dengannya.”

Aku mengangkat sebelah alisku mendengar penilaian Presdir Todou terhadap putranya. Seburuk itukah seorang Choi Siwon? Apa dia pria yang tak punya hati yang bisa menyakiti siapapun hanya dengan satu kalimat yang keluar dari mulutnya?

 

“Anda tak perlu menakuti saya. Saya sudah siap jika harus bertemu dengannya sekarang.” Ujarku asal karena tak ingin disudutkan olehnya.

“Hei, berhentilah berbicara sangat formal seperti itu. Kau cukup memanggilku Abeonim dan hilangkanlah embel-embel formal lainnya.”

Aku hanya memutar bola mataku. Mengubah pandangan dan sikap kepada seseorang yang baru dikenal selama dua minggu bukanlah hal yang mudah jika kau sejak awal sudah menganggapnya sebagai seseorang yang menyebalkan.

 

***

Aku sudah membuat kebohongan besar jika mengatakan aku sudah siap bertemu dengan Choi Siwon. Sekarang saja aku berdiri dalam keadaan gugup di depan cermin besar yang terdapat di toilet kantor Todou. Mereka bilang jadwal kepulangan Siwon sudah semakin dekat dan aku pun semakin ingin ia tak pernah muncul di hadapanku.

 

Memikirkan harus menikah dengan seseorang yang baru dikenal apalagi ketika kau mengemban sebuah misi rahasia sudah pasti akan membuatmu lebih memilih kehilangan kewarasan. Sedangkan aku, aku pasti sudah benar-benar gila karena setiap detik aku terus memikirkannya. Pria asing. Menikah. Memiliki anak. Perceraian. Entahlah, semua seperti sudah tergantung manis di depan mataku untuk selalu ku baca setiap saat.

 

Setelah menghela napas panjang untuk menenangkan diri, aku beranjak dari toilet. Berjalan dengan kepala sedikit menunduk, lebih tepatnya menghindari tatapan sinis beberapa orang yang mungkin menganggapku jalang karena kemudahanku mendekati pimpinan mereka. Padahal keadaan ini sama sekali jauh dari apa yang mereka persepsikan.

 

Tanpa terduga aku sedikit terhempas ke belakang saat tak sengaja aku menabrak seseorang. Secepat aku akan jatuh, secepat itu pula aku meraih anggota tubuhnya untuk kujadikan pegangan. Namun ternyata ia lebih sigap saat menangkap tubuhku. Dengan tangannya yang besar ia menahan pinggangku. Tatapan kami beradu, saat itu pula aku menyadarinya seorang pria – pria dengan pesona di matanya.

 

êtes-vous d’accord?” suaranya memecah keheningan di antara kami sesaat setelah aku bisa menegakkan kembali tubuhku. Dan tadi dia bilang apa? Bukankah itu bahasa Perancis yang menanyakan apakah aku baik-baik saja? Aku pikir dia orang Korea karena wajahnya jelas sekali tidak berunsur wajah asing kebaratan.

Oui. Je suis désolé, monsieur!” Setidaknya paksaan kakakku yang mengajak belajar bahasa Perancis tidak sia-sia. Pria itu hanya mengangguk, tanpa senyuman lalu begitu saja pergi meninggalkan aku setelah meminta maaf padanya. Pria yang cukup arogan, itu menurutku.

 

***

Aku tidak tahu sihir macam apa yang dimiliki oleh seorang Presdir Todou di dunia bisnis Korea. Pengaruhnya sangat besar sampai-sampai aku tidak pernah membayangkan bahwa masalah yang sangat rumit yang menimpa Seorim dimana telah membuat gempar seluruh manajemen dan karyawannya dalam waktu berminggu-minggu bisa diredam hanya dalam tempo satu hari. Aku jadi merasa telah melakukan sebuah perjanjian dengan seseorang yang memiliki kuasa sangat besar, ibarat membuat perjanjian dengan iblis.

 

Belum hilang rasa kesalutanku padanya, Choi Seung Won sudah memintaku menemuinya di ruang kerjanya. Dia memintaku menemui seseorang yang menurutnya sangat penting. Aku mengerti dengan kata ‘penting’ itu karena telah berhasil mengejutkanku ketika melihat seorang pria muda yang duduk di sofa empuk ruangan tersebut. Pria itu adalah orang yang tak sengaja bertemu denganku di dekat toilet.

 

“Perkenalkan dia adalah Im Yoona, calon isterimu.” Aku membulatkan mata saat pria paruh baya itu memperkenalkan aku pada tamunya. Ya Tuhan, ternyata waktunya telah tiba. Aku harus bertemu dengan pria yang akan menjadi suamiku dalam waktu dekat, Choi Siwon.

 

Tatapannya beralih padaku. Pose duduknya yang sejak tadi terlihat santai namun tak membuang gaya arogan dari lipatan lengan di depan dadanya pun tidak berubah. Mata itu, yang tadinya terlihat jernih saat aku bertemu untuk pertama kali, kini tampak mengeras. Ekspresi wajahnya tidak berubah, tetap datar seperti tak ada sesuatu hal yang mengejutkan. Setidaknya ia bisa menunjukkan antusiasme atau setidaknya keacuhan bertemu dengan calon isterinya untuk pertama kali.

 

An-nyeong haseyo, Siwon-ssi.” Memberanikan diri untuk menyapa lebih dulu adalah ide paling bagus untuk menutupi kecanggungan saat ini. Pria itu melirikku, hanya sepintas senyumnya terlihat sebelum wajahnya kembali lurus. Dia mengangguk, merespon salamku.

Plaisir de vous voir, mademoiselle,” (Senang bertemu denganmu, Nona.)

Nde..?” spontan aku bereaksi keheranan. Sekali lagi ia menggunakan bahasa Prancis untuk berbicara denganku. Oh, aku sampai lupa kalau ia datang dari Kanada yang sebagian penduduknya berbahasa Prancis selain bahasa Inggris. Aku yakin sekali kalau dia bisa berbahasa Korea dengan baik, jadi anggap saja bahasa asing yang digunakannya hanya untuk pamer.

 

vous pouvez parler français, non?” (kau bisa berbahasa Prancis, kan?”)

Aku melirik Choi Seung Won yang duduk tak jauh dari sana. Ia hanya mengedikkan bahunya dan matanya seakan berteriak ‘sudah-kubilang-dia-seperti-itu’. Dengan kata lain ia sedang membuktikan padaku soal perkataannya tentang Choi Siwon. Aku harus mengakui jika putranya itu sudah memberi kesan pertama yang sedikit memalukan padamu sejak insiden di depan toilet.

 

Oui, mais juste un peu.” (Ya, hanya sedikit.)

Sebenarnya aku ingin menambahkan, ‘akan lebih baik kalau kau berbahasa Korea saja’. Tapi aku hanya ingin menjaga image ku dengan baik di depannya. Aku tak ingin langsung memberi kesan buruk padanya.

 

Pertemuan pertama hanya berlangsung singkat. Tidak ada pembicaraan panjang, karena begitu aku tiba dan diperkenalkan padanya tanpa sedikitpun respon lebih baik ditunjukkan olehnya, ia langsung pergi dengan alasan mengurus barang-barangnya yang masih berada dalam koper.

 

Choi Siwon, pria satu ini sangat sulit diprediksi. Sikapnya yang dingin dan cuek memang menyebalkan. Kesannya, ia seperti tak menganggapku ada. Aku tidak tahu akan seperti apa karakter-karakter yang dimilikinya yang akan kulihat nanti. Aku akan memerlukan kerja keras untuk bisa mendekatinya. Aku yakin setinggi apapun tembok yang dibangun olehnya, masih ada celah untukku menyusup masuk dan menembusnya.

 

“Kau lihat sendiri kan bagaimana sikap Choi Siwon tadi? Kalau begitu selamat berjuang, Yoona-ssi.”

 

***

Layar komputerku tidak berubah, sedari tadi masih saja berupa lembar kerja baru pada microsoft word tanpa ada ketikan huruf barang satu katapun. Pikiranku kembali melayang pada Choi Siwon. Kemunculannya kembali ke Seoul menjadi buah bibir di antara karyawan Todou, terutama karyawati yang lebih sibuk mengagumi ketampanan pria itu. Gossip pun mulai beredar dengan beragam pemberitaan absurd, mulai dari pengambilalihan kekuasaan Todou oleh Choi Siwon sampai kepada pemberitaan tujuan Siwon kembali adalah untuk menjemput tunangannya.

 

Aigoo, kalimat terakhir itu sangat mendekati kenyataan. Tetapi kalimat itu terkesan Choi Siwon datang karena keinginannya sendiri, padahal ia datang karena paksaan ayahnya untuk menemui calon isteri pilihan sang ayah. Aku jadi semakin sering mendapatkan pandangan-pandangan penuh tanya itu, terutama dari para pengagum Choi Siwon. Mereka jelas mencurigai aku sebagai salah satu kandidat.

 

Suara-suara berbisik dan desisan tiba-tiba tertangkap di telingaku. Aku menoleh ke kanan dan kiri kepada kubikel tetanggaku dan mendapati seorang pria sedang berjalan ke arahku. Kini aku tahu penyebab suara-suara sumbang itu. Kedatangan Choi Siwon ke ruang kerjaku, tepatnya kini dia berdiri di depan kubikelku.

Can we have talk?

Aku mengerutkan keningku. Ia ingin berbicara padaku. Ini untuk pertama kalinya ia memulai berbicara lebih dulu setelah pertemuan kemarin. Aku yakin ia susah payah menekan egonya untuk melakukan itu.

Aku mengangguk, lalu bangkit untuk mengikutinya yang telah berjalan lebih dulu. Aku sama sekali tak menoleh ke arah lain. Aku yakin tatapan semua orang dalam ruangan itu tertuju padaku.

 

Aku mengikutinya sampai masuk ke dalam sebuah ruangan. Ini pasti ruangan khusus yang telah disediakan untuknya sebagai ruang kerja baru. ia berdiri di depan jendela dengan membelakangiku. Tubuhnya yang tegap sangat pantas berbalut dengan kemeja dan jas yang sedang ia gunakan. Choi Siwon adalah seorang pria bertubuh tinggi dan mempunyai pesona tersendiri yang membuat dirinya terlihat begitu menarik. Baiklah, pasti sekarang jalan pikiranku sudah menyamai wanita-wanita di luar sana yang dalam sekejap menjadi fans-nya.

 

“Can you tell me what exactly you do want from this match-making, Ms. Im?”

Aku tertegun dengan kalimat pertama yang keluar dari mulutnya. Ia berbalik menghadapku, berdiri tegak dengan pose yang bisa dikatakan santai.

What do you mean, Siwon-ssi?” Berlagak tidak mengerti, lebih pantas untuk meresponnya. Aku tidak ingin menimbulkan kecurigaan di matanya.

 

Oh, come on… I know match-making isn’t a lovely idea for everyone who hopes happy life.” Nada skeptis jelas terdengar dari kata-katanya. Apa dia berusaha memancingku untuk mengatakan sesuatu yang jelas akan membuatnya terkejut? Aku tidak akan semudah itu kau kelabuhi, Tuan muda Choi!

 

“But match-making doesn’t mean you will live in ridiculous life.” Jawabku menekel argumennya soal perjodohan. Abaikan saja segala pemikiran bila aku setuju menjalani perjodohan dadakan ini karena sebuah misi tersembunyi.

 

Siwon tersenyum sinis. “Baiklah, jika kau berpikir seperti itu. Lalu mengapa gadis sepertimu begitu mudah menyetujui pengaturan pernikahan dengan seseorang yang sama sekali tidak kau kenal?” tanyanya tanpa niat mengintimidasi sedikitpun. “Ah, jangan katakan kalau kau melakukannya karena paksaan orang tua. Itu sangat klise!”

 

“Lalu bagaimana dengan kau sendiri, Siwon-ssi? Aku tahu hubunganmu dengan Presdir tidak baik, tapi kau mau saja dijodohkan olehnya.” Menyerang balik dengan memberikan sindiran dan membalikkan kata-katanya. Yes! Langkah yang sangat bagus untuk memulai konfrontasi, Yoona.

 

Siwon mendecakkan lidahnya diikuti smirk yang sedikitpun tak membuat wajah tampannya terlihat jelek. Ia berjalan mendekatiku, perlahan tapi pasti ia jelas hanya beberapa senti dari tubuhku. Tatapan matanya menajam, dan aku akui aku tidak suka dengan ekspresinya saat ini.

“Kau tidak tahu apa-apa tentangku ataupun ayahku, jadi berhentilah mengira-ngira.” Ucapnya dengan nada dingin. Aku memang tidak tahu hal yang mendasari hubungan disharmonisnya dengan sang ayah, jadi lebih baik tak usah menanggapi lebih jauh soal ini.

“Apa kau akan mengikuti perjodohan konyol ini? Kau tidak ingin protes, menolak atau justru kabur? Aku yakin kau bukan gadis bodoh yang menurut saja dengan keputusan sepihak.”

 

Kebanyakan orang yang tidak menyukai dengan perjodohannya mungkin akan melakukan apa yang kau katakan tadi, Choi Siwon. Tapi aku… aku sama sekali tidak punya alasan untuk menolak. Bukan tidak punya, lebih benar karena aku tak punya kuasa untuk melakukan semua itu. Jelas semua memang karena paksaan, tapi ini adalah pilihanku.

“Kau ingin mendengar jawabanku?” tawarku padanya namun ia bergeming tak memberi reaksi, jadi kulanjutkan saja semauku. “Jawabannya tidak. Apapun alasan yang kumiliki, aku tidak merasa kau perlu mengetahuinya.”

 

Siwon mendengus, mungkin saja dia merasa kesal karena aku tidak sesuai harapannya. Mungkin saja ia berharap aku ketakutan karena usaha intimidasi yang dilakukannya. Kau pantas untuk kecewa karena aku bukan type orang yang mudah menyerah pada sebuah provokasi atau ancaman kosong, Choi Siwon!

 

“Bagaimana dengan cinta? Biasanya gadis-gadis baik selalu menginginkan banyak cinta dalam hidupnya. Cih, padahal tidak semua cinta berakhir manis seperti impian mereka!”

Sarkatisme, tidak bisakah ia menyingkirkannya ketika berbicara? Mungkin jika dia kontra dengan janji-janji surga yang diberikan oleh kata ‘cinta’, setidaknya ia telah menunjukkannya di depanku.

“Cinta? Cinta bisa datang kapan saja dan dari siapa saja. Aku tidak akan mengejarnya karena aku yakin ia akan datang sendiri kepadaku.”

Terkutuklah mulutmu yang sudah berbicara sok mengikuti style pujangga, Im Yoona. Apa karena pria menyebalkan itu sehingga aku harus hilang kendali dan terus berusaha mengimbanginya?

 

“Jadi kau berharap aku akan mencintaimu?”

Oh tidak, tenggorokanku tercekat. Sudah pasti ia berpikir kalau yang kumaksud dengan cinta yang akan datang itu adalah dirinya, karena dialah calon suamiku.

“kau terlalu percaya diri, Siwon-ssi.” Wajahku pasti terlihat sangat antagonis mengingat aku mengatakannya dengan sangat tajam.

 

“Lalu siapa yang kau harapkan jika bukan aku sebagai tunanganmu dan calon suamimu, eoh?” aku mundur ke belakang, perlahan-lahan melangkah berlawanan arah karena Siwon yang terus saja menyudutkanku hingga terhenti ketika pinggangku menabrak meja kerjanya.

 

Aku diam. Jantungku benar-benar berdetak cepat tak karuan. Ternyata Choi Siwon tidak hanya pria berhati dingin, tapi ia juga sangat pintar melancarkan aksi-aksi yang mampu melemahkan musuhnya.

“Jika kau tidak mengharapkanku, apa kau sudah punya kekasih?”

Entah setan apa yang sudah merasuki Choi Siwon sampai ia berani menyentuh kulit pipiku dan menyusuri dengan ujung hidungnya. Gerakan pelan di sepanjang garis rahangku ternyata berefek juga pada lututku yang lemas. Aku berusaha bertahan agar tak merosot ke bawah dengan mengepalkan tangan di kedua sisi tubuhku.

 

“Apa kau tak pernah disentuh oleh seorang pria?” tanyanya padaku. Mungkin ia menyadari tingkah kaku dan tubuhku yang menegang saat ia melakukan godaannya terhadapku. Ini tidak benar, sekali saja aku menunjukkan kelemahanku di depannya maka aku akan kalah. Aku harus bangkit dan mengubah pemikirannya tentang diriku.

Aku mendorong bahunya sedikit kasar agar ia menjauh. Aku menatapnya tajam, berusaha mengesankan kalau aku sedang marah.

“Aku bukan wanita murahan yang bisa kau permainkan, Siwon-ssi. Sebaiknya kau menjaga sikapmu.”

 

Siwon tergelak padahal menurutku tidak ada sesuatu yang lucu di antara kami. Aku juga tidak merasa sedang melakukan lawakan yang mengundang tawa dari penonton.

“Menarik. Kau adalah partner bicara yang menyenangkan, Yoona-ssi. Setidaknya kau tidak mudah mengalah atau merasa kalah. Pembicaraan kita selanjutnya mungkin akan lebih menarik lagi.”

Selesai berbicara ia berbalik menjauhiku dan pergi meninggalkan ruang kerjanya begitu saja tanpa aba-aba sedikitpun. Begitu kesalnya ingin sekali aku melempar Choi Siwon dengan high heels ku. Pasti akan memberikan efek bagus jika mengenai kepalanya hingga ia tak akan lagi berpikir skeptis dan menyebalkan.

 

“Aish!! Dasar pria egosi. Arogan! Aku tidak bisa membayangkan hidup bersama dengan orang sepertimu!” umpatku setelah ia mengilang dari balik pintu yang ditutupnya.

 

To Be Continued….

 

 

Hello everybody!! Lama tak menyapa para readers di YWK yang makin rame aja…
Sorry banget karena aku juga jarang kirim fanfic ke YWK karena lebih aktif di blog pribadi, itu juga belakangan terabaikan T.T (ga ada yang tanya tuh!)
Kali ini aku menghadirkan ff yang… bukan ff baru sih, hanya ff remake dari ceritaku sebelumnya dengan couple yang berbeda. Memang cerita ini belum selesai, hanya saja di beberapa chapter yang sudah publish banyak readers yang berandai-andai dan request cerita ini jadi couple YoonWon (padahal sebelumnya aku pake cast nya si suami keduaku kkk~). So, dari pada aku absen terus sebagai author di YWK jadi ga masalah dong kalau aku publish cerita ini dan dikemas lebih fresh lagi hohoho….
Semoga readers suka yaaa….

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

294 Komentar

  1. Cha'chaicha

     /  September 3, 2014

    Wah wah dpt ff yg menarik lgi, kya’y bkal jdi ff yg seru..

    Balas
  2. Cha'chaicha

     /  September 3, 2014

    Wah wah dpt ff yg menarik lgi,

    Balas
  3. Sedih bgt ya Yoona
    kenapa perusahaan org tuanya jadi kacau begitu?
    Apa ada org sengaja ingin menghancurkan perusahaannya
    duh… Menegangkan sekeli bacanya jadi penasaran
    FF nya bgs bgt author
    dilanjuti ya

    Balas
  4. adistasdp

     /  September 9, 2014

    Suka banget sama karakter yoona dan siwon

    Balas
  5. devira

     /  September 15, 2014

    Wah seru seru ceritanya . Menarik🙂 . Sedih banget yoona mau mengorbankan dirinya buat membantu perusahaan keluarga😥 . Lanjut baca lagi🙂

    Balas
  6. ratna

     /  September 19, 2014

    keren banget ceritanya, meski aku gemes bngt sama karakter siwon, semangat ya author

    Balas
  7. Ulallaaaaaaa……………………….
    Gilaaaa FF nya bagus banget!
    Seru ceritanyaaaa!
    Cepetan dong pengen liat YoonWonnya nikah terus hidup dalam rumah tangga tapi sifat Siwonnya kayak gitu wkwk

    Balas
  8. FF nya seru bgt y
    sepertinya bakal ada cerita menarik dri couple ini
    aku suka bgt FF ini apalagi ceritanya nyambung bgt

    Balas
  9. Sera Pratiwi

     /  November 18, 2014

    Siwon nya dingin banget lah . Kasian yoona harus mengorbankan masa depannya demi perusuhaannya. Keren nih ceritanya

    Balas
  10. bee

     /  November 20, 2014

    Seruuuuuuu bgtt .. ak ktawa” sendiri mesem” bayangi jadi yoona :)) #benerinponi

    Balas
  11. hihihih.. ;D sabar ya eonni

    Balas
  12. Anita harahap

     /  Januari 3, 2015

    wiiihh siwon oppa dapat lawan yang sepadan tuh… ayoo yoona eonni taklukkan siwon oppa… hahahahaa semangat 45

    Balas
  13. ysed

     /  Januari 20, 2015

    Sikap siwon cuek+dingin bgt ma yoona. Liat aja lama* jatuh cinta ma yoona😀. Crita yg menarik😉

    Balas
  14. Wahh pria dingin arogan, dihadapkan dengan wanita keras kepala , bagai mana nanti rumah tangga nya ya?

    Aku izin baca next chapter nya ne!

    Balas
  15. bagus unnie
    pengen baca terus deh perjodohannya menantang binggit

    Balas
  16. Zhahra

     /  April 5, 2015

    Waaaah FFnya daeeeeebaaaaak banget….
    Wonpa jahat amet ya….
    Sabar ya yoona unni…
    Pasti lama kelamaan wonpa akan bertekuk lutut sma unni…
    Fighting unni…

    Balas
  17. Susi

     /  April 21, 2015

    Waaaahh sepertinya choi siwon mulai tertarik,, yaaahh wakaupun emang teteo arogan… Im yoona fightinh.. ✊

    Balas
  18. selvarospiyanti

     /  Mei 4, 2015

    Daebak, cerita nya seruuuu

    Balas
  19. Dwi Sivi Fatmawati

     /  Juni 20, 2015

    ffnya keren,, krna banyak tantangan di setiap ceritanya….
    aku beeharap banget sma kelanjutan ceritanaya….

    Balas
  20. Riskaa

     /  Desember 4, 2015

    Wah awal yang menarik author, jadi makin penasaran bca next chapternya…🙂

    Balas
  21. YoongNna

     /  Februari 18, 2016

    Seruuuu iiihhh gmn nnti hubngn yoona ma siwon kdepannya yaaaa aplgi skrg aja siwon udh mulai curiga ma yoona..

    Balas
  22. susi

     /  Maret 12, 2016

    Asataga tuan choi nya licik ya..😨
    Tapi gpp yang penting karna dia yoonwon bissa ketemu..☺
    Tapi ga setuju ah dengan kata perceraian nya..😞
    Siwon nya kaya nya orang yang super arogan dan dingin..
    Tapi suka banget sama karakter yoona nya dia bisa ngimbangin sikap siwon dan juga bisa adu mulut dengan baik dengan siwon jadi dia ga kalah..😄😄
    Dari sikap yoona nya yang berbeda gadis-gadis lain kaya nya udah mulai menarik perhatian siwon nih..☺

    Ff ini ada kelanjutan nya kan ya.. ??
    Menarik banget soal nya..☺

    Balas
  23. Izin baca … ff nya bagus….

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: