[OS] Honesty of Heart

[OS] Honesty of Heart

 

Annyeong YWK…author bawa oneshoot lagi niihhh (lagi???)

Ada salah satu reader nih yang minta dibikinin ff sama author…jadi author nyoba iseng-iseng bikinin dan jadilah ff kayak gini,,mudah-mudahan aja ffnya sesuai harapan yah…mianhe baru kesampean bikin…^ ^

 

Author             : Choi Ji Hyun a.k.a Alfiah                             Type                : Oneshoot

Genre              : Romance, sad, friendship, etc…                   Rating             : General

Main cast         : Choi Siwon (SuJu), Im Yoon Ah (SNSD)

Other cast        : Lee Seung Gi, Park Shin Hye, Choi Min Jung (OC) as Eomma Siwon etc

                                                                         

Warning!

FF ini murni hasil pemikiran author. Tanpa jiplak!!

Don’t bashing! Don’t be plagiator! Don’t be silent reader!!!

WAJIIIBB RCL!!!

 

SIWON POV

Disinilah aku, di tempat yang selalu menjadi kenangan antara aku dan dia, dikala aku dan dia berbagi cerita ataupun melakukan permainan menyenangkan bersama. Berjuta kenangan indah yang telah aku dan dia lalui bersama di masa silam. Dia yang selalu hadir dalam hidup dan mimpiku, dia yang selalu menyapa pagiku dengan senyum cerianya, dia yang selalu membawaku menatap lebih jauh indahnya dunia, dan…dia yang selalu ada dalam setiap untaian doaku. Ah…aku semakin merindukannya, segala yang ada pada dirinya selalu membuatku rindu.

Namun kini aku tak dapat lagi menatap indah lekuk wajahnya, memandang bulat mata yang penuh dengan pancaran bahagia ataupun sekedar mendengar suaranya yang terkadang menggema di kepalaku. Sejak ia dan keluarganya memutuskan untuk pindah ke Chunceon aku tak dapat menciptakan kenangan indah bersamanya. Sejak itu, aku melalui hari-hariku sendiri tanpa kehadirannya yang menghangatkan hatiku. Dialah teman masa kecilku, dewi surgaku, Im Yoona.

Ya, dia adalah gadis pertama yang mampu mengetuk pintu hatiku. Awalnya kupikir ini hanyalah perasaan sayang antara teman kanak-kanak, hanya sebuah memori indah yang seiring berjalannya waktu akan digantikan dengan yang lainnya. Tetapi dugaanku salah, ini adalah cinta yang tumbuh dan tak sengaja ku pupuk menjadi cinta antar lawan jenis. Aku tak tahu pasti kapan cinta ini dimulai, karena sedari kecil kami terbiasa bermain bersama menikmati waktu berdua. Yang kutahu, aku menyadari hal ini sejak ia pergi ke Chunceon dan melanjutkan hidupnya disana. Aku mulai merasa kehilangan sosoknya dan mulai merindukannya. Kalau tidak salah, saat itu usia ku baru menginjak 11 tahun dan dia 10 tahun.

Sudah 6 tahun sejak kepergiannya kala itu, namun aku tak dapat melupakan dirinya. Kenangan masa kecil bersamanya masih tergambar jelas dalam ingatanku. Rasanya baru kemarin aku dan dia bermain bersama, tak kusangka aku telah melewati hidupku tanpa dirinya selama 6 tahun. Selama 6 tahun itu aku tak ada kontak dengannya. Entah nomor telepon ataupun alamat emailnya aku tak tahu sama sekali, karena dulu kupikir dia tak akan pernah pergi dan aku tak membutuhkan semua itu. Akupun tak berniat untuk mencari tahu, entahlah, hanya saja aku tak ingin tahu. Biarlah itu menjadi kenangan masa kanak-kanak antara aku dan dia, jika takdir mempertemukanku kembali aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan padaku untuk mengungkapkan perasaan yang terpendam selama ini.

©©©

6 tahun berlalu, sekarang aku sedang menempuh pendidikan di bangku kuliah, tepatnya sebulan yang lalu aku resmi menjadi mahasiswa di Busan University. Predikatku bukanlah lagi seorang siswa, melainkan mahasiswa yang pastinya banyak sekali tugas-tugas yang menanti untuk diselesaikan. Seperti sekarang ini, aku sedang menunggu sahabatku di taman kampus untuk bersama-sama mengerjakan tugas yang Park seonsaeng berikan minggu lalu. Sambil menunggu kedatangannya, sesekali aku melihat para mahasiswa yang juga berada di taman kampus, ada yang sedang bercengkrama dengan temannya, tidur dibawah pohon, atau sekedar duduk melepas lelah. Aku menghirup dalam-dalam udara siang ini, ‘aroma musim gugur, sebentar lagi musim panas akan segera berakhir’ pikirku.

“Siwon-ah!” terdengar teriakan seseorang memanggilku, kutolehkan pandanganku menuju sumber suara,

“Ah…kau sudah datang Seung gi-ya” ujarku menjawab panggilannya. Dia tersenyum lalu duduk di sebelahku. Dia membuang nafas sejenak lalu berkata

“Kajja! Kita selesaikan tugas dari Park seonsaeng, aku tak mau mendapat hukuman lagi karena telat mengumpulkan tugas seperti bulan lalu” aku tertawa kecil mendengar ucapannya

“Jika kali ini aku telat lagi mengumpulkan tugas, bisa dipastikan selama satu bulan kedepan aku dilarang mengikuti kuliahnya. Aigoo, menyeramkan sekali Park seonsaeng. Ditambah dengan kumis tebal yang selalu menghiasi wajahnya, sepertinya setiap malam ia selalu melakukan perawatan khusus pada kumis tebalnya itu hingga menimbulkan kesan menyeramkan.” ujarnya sedikit berbisik padaku diakhiri dengan senyum jailnya, aku tertawa geli mendengar ocehannya yang tidak masuk akal. ‘Dia memang selalu seperti ini, selalu membuatku tertawa setiap mendengar candaannya’ batinku.

Perkenalkan dia adalah sahabat sekaligus adik angkatku, Lee Seung Gi. Pasti kalian bertanya-tanya kenapa Seung gi bisa menjadi adik angkatku kan? Baiklah aku akan sedikit bercerita kapan dan mengapa hal ini bisa terjadi.

Ini dimulai menjelang aku lulus sekolah menengah pertama. Saat itu terjadi kecelakaan hebat yang menimpa kedua orangtua Seung gi yang mengakibatkan keduanya meninggal dunia beberapa jam setelah dibawa kerumah sakit, saat itu usianya menginjak 14 tahun, beberapa bulan lebih muda dariku. Karena wasiat dari appa Seung gi kepada appaku agar menjaga anak satu-satunya itu maka appa mengangkat Seung gi menjadi salah satu anak di keluarga Choi yang sekaligus menjadi adikku satu-satunya karena memang aku adalah putra sematawayang di keluarga ini. Orangtua Seung gi tidak memiliki saudara selain sahabatnya yaitu appaku oleh karena itu beliau meminta tolong kepada appa untuk mengurus anaknya.

Kemudian kami di sekolahkan di tempat yang sama, dia menjadi sahabat baikku di sekolah dan menjadi adik angkat yang menyenangkan di rumah. Banyak hari-hari yang kami lalui bersama, aku seperti mendapatkan kembali sesuatu yang telah lama hilang sejak kepergian Yoona kala itu. Kehadiran Seung gi sedikit demi sedikit mampu mengobati kehilanganku akan sosok Yoona, yaa walaupun tidak sepenuhnya, terkadang aku masih merindukannya hingga aku berhayal jika Yoona tiba-tiba datang menemuiku. Hahaha, aku terlalu merindukannya sehingga membayangkan hal yang tidak mungkin.

Sejak hari itu aku berjanji pada diriku sendiri bahwa akan selalu melindunginya, akan ku berikan apapun yang Seung gi inginkan semampuku. Aku tak ingin melihat lagi raut kesedihan pada wajahnya, cukup sekali aku melihatnya yaitu pada saat ia kehilangan kedua orangtuanya. Aku melakukan ini bukan hanya karena Seung gi adalah sahabat dan adik angkatku satu-satunya, tetapi juga karena aku sedikit mengerti bagaimana rasanya hidup di tinggalkan kedua orangtua dalam kecelakaan tragis. Walaupun Seung gi mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuaku, namun terkadang aku melihat sorot mata kerinduan kepada kedua orangtuanya yang telah lama meninggal karena yang kutahu Seung gi sangat dekat sekali dengan kedua orangtuanya.

©©©

 

Musim gugur semakin dekat, dedaunan yang sebelumnya terlihat hijau dan segar kini berubah warna menjadi kekuningan. Aroma angin timur mulai tercium terselip diantara dedaunan menyambut kedatangan musim gugur kali ini. Sungguh menenangkan apabila musim gugur akan tiba, pikirku. Beruntung siang ini panas matahari tidak terlalu menyengat di kulit dikarenakan musim gugur segera tiba, karena setelah pulang kuliah beberapa menit lagi aku dan Seung gi berencana akan pergi memancing. Menurut Min Ho (salah satu temanku dikampus) ada restaurant seafood yang menyediakan fasilitas memancing bagi para pengunjungnya, makanan yang disajikan disana juga sangat lezat dan menggugah selera. Kebetulan Seung gi ingin sekali memancing oleh karena itu siang ini kami memutuskan untuk pergi kesana sekaligus makan siang di restaurant itu.

“Hyung, siang ini kita jadi pergi ke Songsam restaurant kan?” tanya Seung gi membuka percakapan, saat ini kami sedang dalam perjalanan pulang kerumah menggunakan mobil hitamku.

“Seung gi-ya, sudah kukatakan padamu berkali-kali panggil aku dengan namaku tidak perlu kau memanggilku dengan sebutan ‘hyung’. Aku ini hanya beberapa bulan lebih tua darimu” ujarku tidak menanggapi pertanyaannya, aku menatapnya sekilas lalu kembali fokus menyetir. Entah mengapa aku lebih senang dia memanggilku dengan namaku, menurutku itu lebih terkesan akrab di telingaku karena memang usia kami tidak terpaut jauh.

“Tapi tetap saja kau adalah kakakku, aku menghormatimu sebagai kakakku oleh karena itu aku memanggilmu dengan sebutan ‘hyung’, seharusnya kau senang aku memanggilmu seperti itu” jawabnya dengan nada kesal yang dibuat-buat, namun justru terdengar aneh di telingaku.

“Ya sudah jika kau tetap tidak mau berhenti memanggilku ’hyung’, rencana memancing siang ini kita batalkan saja” ujarku pura-pura marah, hahaha…dia pasti kaget mendengar ucapanku bahwa aku akan membatalkan acara siang ini, aku tahu Seung gi sangat ingin memancing oleh karena itu aku menggunakan kesempatan ini untuk membuatnya berhenti memanggilku ‘hyung’.

“A…arraseo, aku akan berhenti memanggilmu ‘hyung’, aku akan memanggilmu dengan nama depanmu. Tapi tolong jangan batalkan rencana kita, ok?” pinta Seung gi  menatapku dengan wajah memelasnya, hahaha…kena kau!

“Hmm…akan ku pikirkan” jawabku singkat, kembali ia memasang raut kecewanya. Hahaha…senang rasanya jika berhasil mengerjainya.

“Ayolah hyung, ani maksudku Siwon-ah. Berbaik hatilah padaku” ujarnya memohon, aku terdiam sesaat kemudian mengangguk dua kali sebagai tanda setuju. Melihatku mengangguk dia tersenyum senang,

“Gomawo hyung” ujarnya kembali,

“Ya!” teriakku padanya,

“Mianhe…hehe” jawabnya dengan tersenyum kuda menampilkan gigi depannya yang rapi. Anak ini sudah kuperingatkan berkali-kali tetap saja tidak bisa menurut.

 

Beberapa menit kemudian kami sudah sampai di depan rumah, aku memarkirkan mobilku didepan rumah karena setelah bersiap-siap kami langsung pergi memancing. Kami berjalan diiringin candaan Seung gi dan tawa dariku, ‘Ah…rupanya ada tamu dirumah’ batinku melihat mobil berwarna merah terparkir di rumahku ’tapi sepertinya aku pernah melihat mobil ini’

“Siwon-ah, waeyo?” tanya Seung gi membuyarkan lamunanku. Aku menoleh padanya,

“Ah aniyo” jawabku,

“Wah…sepertinya kita kedatangan tamu di rumah” ujarnya melihat mobil merah tersebut.

“Iya, aku penasaran siapa yang datang” jawabku menanggapi ucapannya, mataku tak lepas dari mobil merah itu.

“Molla, mungkin teman lama eomma. Ini pertama kalinya aku melihat mobil ini terparkir di rumahku” jawabnya tidak tahu

“Benarkah? Tapi mengapa rasanya aku tidak asing dengan mobil ini?” aku bertanya-tanya menatapnya. Seung gi hanya mengangkat kedua bahunya pertanda ia juga tidak tahu. ‘Jika benar ini kali pertama mobil tersebut datang, mengapa aku merasa pernah melihatnya disuatu tempat? ‘ batinku, ‘Mungkin hanya perasaanku saja’ tambahku.

Kami berjalan memasuki rumah, sesampainya di ruang tamu aku mendengar sebuah suara yang tidak asing bagiku di ikuti suara laki-laki dan perempuan paruh baya serta suara eommaku. Pandanganku beralih ke sumber suara dan melihat eomma sedang bercengkrama dengan dua orang yang sudah cukup umur dan seorang yeoja disamping mereka, aku tak dapat melihat wajah mereka karena posisi duduknya yang membelakangiku. Eommaku menoleh melihat anak-anaknya sudah pulang.

“Kalian sudah pulang. Cepatlah kemari, ada yang ingin eomma kenalkan kepada kalian” ujarnya pada kami.

“Nde eomma” jawab Seung gi cepat, “Kajja hyung” ajaknya padaku

“Ah nde…” ujarku menghentikan lamunanku. Kami berjalan mendekat lalu duduk disamping eomma.

“Ini dia anak-anakku, Siwon dan Seung gi. Tentunya kalian masih ingat Siwon kan? Terlebih kau Yoona-ya,” ujar eomma memperkenalkan kami,

“Annyeong haseyo” jawab kami serempak, tiba-tiba mataku menangkap sesosok yeoja yang selama ini bernaung dihatiku,

“Omo! Kau! Kau Yoona kan? Im Yoona?” tanyaku tak percaya,

“Nde oppa, syukurlah kau masih ingat padaku” ujarnya diiringi senyum manisnya, ‘Bagaimana mungkin aku bisa melupakan seseorang yang selalu mengisi mimpi-mimpiku? Im Yoona, andai kau tahu bahwa aku selalu merindukanmu’ batinku,

“Hyung, kau mengenalnya?” bisik Seung gi padaku,

“Yoona itu teman masa kecilku, dulu kami bertetangga” jawabku ikut berbisik, dia mengangguk paham membalas ucapanku,

“Kau tidak banyak berubah Yoona-ya. Abeonim, ahjumeoni, Sudah lama tidak bertemu” ujarku menatap mereka satu-persatu, kembali Yoona tersenyum padaku.

“Wahh kau sudah besar rupanya, semakin tampan saja kau Siwon-ah persis seperti ayahmu. Adikmu juga tidak kalah tampan” puji ahjumeoni padaku dan Seung gi, aku yang dipuji seperti itu merasa malu sekaligus bangga karena aku dikatakan mirip appa, aku bangga menjadi seperti appaku.

“Ahjumeoni bisa saja memujiku, aku tidak setampan itu” jawabku sambil tersenyum malu.

“Tentu saja hyung tidak terlalu tampan, karena antara aku dan hyung akulah yang paling tampan” celetuk Seung gi membuka lelucon diiringi tawa khasnya, spontan semua orang tertawa termasuk Yoona. ‘Sudah lama aku tak mendengar tawamu Yoona-ya, sungguh membuat membuat hatiku melayang ke langit’

“Min Jung-ah, sepertinya anak bungsumu memiliki selera humor juga sepertiku. hahaha” ujar abeonim kepada eommaku.

“Seung gi memang seperti itu, dia selalu membuat lelucon dimanapun dia berada” kata eomma menanggapi ucapan abeonim.

“Oh iya Siwon-ah, kau tahu Yoona juga akan kuliah di Busan University, bukankah itu kampusmu dan Seung gi?” ujar eomma padaku

“Benarkah?” tanyaku pada eomma dan Yoona,

“Nde, eomma dan appa memutuskan untuk kembali menetap di Busan lagi oleh karena itu aku melanjutkan studi disini. Aku memilih Busan University karena lokasinya tidak jauh dari rumahku” jelasnya padaku, mataku langsung berbinar mendengarkan ucapannya, itu berarti kami akan satu kampus lagi bersama Yoona.

“Tapi kenapa kau tidak terlihat saat hari-hari pertama masuk kuliah?” tanya Seung gi pada Yoona,

“Itu karena ada beberapa urusan penting yang harus aku selesaikan terlebih dahulu di Chunceon, jadi mungkin besok aku baru masuk kuliah” jelasnya lagi,

“Aah…begitu” jawabku mengangguk paham,

“Hyung, kapan kita akan pergi memancing?” bisik Seung gi padaku sambil menyikut lenganku.

“Baiklah, kita pergi sekarang” jawabku, sepertinya aku harus mengakhiri pertemuanku dengan Yoona, aku tidak akan pernah bisa tidak menuruti permintaan Seung gi.

“Kalian sudah akan pergi? Duduklah disini lebih lama, appa dan eomma Yoona masih ingin bercakap-cakap dengan kalian” kata eomma mencoba mencegah kami pergi.

“Tidak apa-apa Min Jung-ah, tak perlu dipaksaan jika mereka memiliki kegiatan yang lain. Mereka masih muda mungkin sedikit bosan jika berlama-lama berbincang dengan orang tua seperti kita…hahaha” canda appa Yoona,

“Aniyo abeonim, adikku ini ingin sekali pergi memancing. Aku sudah berjanji akan mengajaknya siang ini” ujarku sedikit tak enak hati pada orangtua Yoona.

“Yeobo, kau ini selalu saja bergurau. Gwaenchana Siwon-ah, cepatlah pergi adikmu pasti sudah menunggu saat-saat itu” kata ahjumeoni padaku

“Gomawoyo ahjumeoni, Yoona-ya kau mau ikut bersama kami?” ujar Seung gi, ‘Hey, dalam rencana ini tidak ada bagian mengajak Yoona’ pikirku. Yoona menatap kami berdua

“Bolehkah?” tanyanya pada kami,

“Tentu saja jika orangtuamu mengijinkan juga” ujar Seung gi

“Tentu saja boleh, kalian pergilah bertiga, nikmati masa muda kalian. Aku rasa Yoona juga masih ingin bertemu sahabat lamanya” ujar abeonim, Yoona hanya tertawa mendengar ucapan ayahnya. ‘benarkah ia masih ingin bertemu denganku? Ah mungkin itu hanya gurauan abeonim mengingat beliau tipikal orang yang mudah bergurau’

“Baiklah kami pergi eomma, abeonim, ahjumeonim” pamitku pada eomma dan kedua orangtua Yoona.

“Kalian berhati-hatilah dijalan” pesan eomma pada kami bertiga.

“Nde eomma, semuanya kami pergi, Annyeong” pamit Seung gi diikuti salam dari Yoona,

“Hyung, palli kajja!” ujar Seung gi padaku,

“Kau ini tidak sabaran sekali. Kau dan Yoona tunggulah diluar, aku akan mengambil peralatannya di dalam” ujarku, lagi-lagi dia hanya tersenyum kuda.

©©©

 

Sesampainya di Songsam Restaurant, kami bergegas menuju tempat pemancingannya dan mempersiapkan peralatan yang sudah kami bawa. Seung gi begitu bersemangat mengeluarkan peralatan memancingnya, ia sudah tidak sabar untuk segera mendapat ikan dengan pancingannya itu. “Untuk menikmati akhir musim panas lebih menyenangkan bila dihabiskan dengan memancing” itu yang dikatakan Seung gi beberapa hari yang lalu padaku, alasan itulah yang membuatnya bersemangat sekali.

“Yoona-ssi, kajja kau juga ikut memancing, Siwon hyung sudah membawakan alat pancing untukmu juga” ajak Seung gi pada Yoona di sela-sela persiapannya, aku ikut menatap Yoona menunggu jawaban yang akan ia ucapkan.

“Ah aniyo, kalian saja yang memancing aku tidak pandai menangkap ikan, aku menunggu disini saja” ujarnya di iringi senyum lalu duduk di sebuah bangku tidak jauh dari kami.

“Geurae, kau duduk disitu saja dan lihat bagaimana pandainya aku menangkap ikan” ujarnya dengan begitu percaya diri.

“Ya! terakhir kali kita memancing kau hanya dapat 1 ekor saja, kalah jauh denganku yang mendapatkan 5 ekor” sangkalku meruntuhkan rasa percaya dirinya, Paboya! jika ingin mengatakan kebohongan jangan di depanku karena aku akan selalu membalasnya dengan kebenaran…hahaha. Rautnya berubah terkejut lalu mendekat padaku,

“Ya hyung, jangan katakan yang sebenarnya, kau ini tidak bisa diajak kerjasama” bisiknya padaku,

“Salah siapa kau tidak mengatakan padaku sebelumnya, dan berhentilah memanggilku hyung” balasku tanpa berbisik, lalu Seung gi tersenyum malu yang ditujukannya pada Yoona. Melihat tingkah laku kami seperti ini Yoona hanya tertawa kecil menanggapinya. ‘Ahh…andai saja kau tahu bagaimana hatiku melihat dirimu seperti itu Yoong, namun aku tak mampu mengutarakannya padamu. Aku terlalu penakut merubah apa yang kurasa kedalam kata-kata, karena sepertinya sudah ada seseorang yang mencoba mendekatimu’ batinku.

Kami menghabiskan saat-saat menyenangkan di Songsam restaurant, menyantap ikan hasil pancingan sendiri sungguh lebih mengasyikkan, apalagi di iringi senyum dan tawa milik Im Yoona, Kembali aku menikmati keindahan senyuman dan lekuk wajahnya yang selama ini membuat rindu. Untung saja ada Seung gi yang dapat mencairkan suasana diantara kami, jika tidak ada Seung gi mungkin aku akan menjadi pendiam dihadapan Yoona setelah sekian lama kami tidak bertemu. Ani, mungkin lebih tepatnya untung saja Seung gi mengajak Yoona di kegiatan kami ini, jadi aku dapat lebih lama mengobati kerinduanku pada Yoona.

“Hyung, setelah ini kita pergi ke toko kue milik keluarga Shin Hye yah? eomma memintaku membeli beberapa cake dan cookies untuk persediaan di rumah, tadi ia mengirimiku pesan singkat” ujarnya di sela-sela santap siang kami,

“Geurae, aku juga ingin membeli tiramitsu cake” jawabku mengiyakan,

“Tiramitsu cake? Untuk siapa? Seingatku di rumah tidak ada yang gemar memakan tiramitsu cake” tanyanya padaku dengan wajah penasaran,

“Aku membelinya untuk kuberikan kepada orangtua Yoona, mereka sangat menyukai tiramitsu cake. Sekedar untuk menyambut kepulangan mereka ke Busan, bolehkan Yoong?” jawabku menjelaskan pada Seung gi dilanjutkan pertanyaanku untuk Yoona,

“Tentu saja boleh, appa dan eomma akan sangat senang sekali mendapatkan hadiah darimu oppa” jawabnya, lagi-lagi ia kembali menyunggingkan senyumannya.

“Kalau begitu nanti kita pergi bersama saja” ujarnya di ikuti persetujuan kami berdua.

 

Pukul 3 siang kami sampai di toko kue milik keluarga Shin Hye, Shin Hye merupakan salah satu teman dekat aku dan Seung gi. Kami mengenalnya ketika kami sama-sama berada di bangku sekolah, namun sekarang dia tidak melanjutkan ke jenjang perkuliahan seperti kami dikarenakan kondisi ekonomi keluarganya yang minim. Walaupun dia tidak melanjutkan studinya tapi dulu dia terkenal cukup pintar di sekolah oleh karena itu terkadang aku, Seung gi dan Shin Hye bersama-sama memecahkan kasus yang diberikan dosen di toko kue ini. Aku terkadang merasa malu karena seorang Shin Hye yang tidak melanjutkan studipun masih mau belajar dan rajin membaca, tidak seperti kami yang tidak selalu fokus mendengarkan apa yang dosen katakan di kuliahnya, hehe…

“Annyeong Shin Hye-ya” sapaku pada Shin Hye yang berdiri tidak jauh dari tempat kasir.

“Annyeong, wahh kalian sudah lama tidak kemari. Apakah kali ini kalian akan mengerjakan tugas dari dosen lagi?” jawabnya dengan dibumbui candaan,

“Ahh aniyo, eomma meminta kami membeli beberapa cake dan cookies, ini daftar pesanannya” jawab Seung gi diiringi senyum lalu menyerahkan iphonenya pada Shin Hye,

“Baiklah kalau begitu akan kusiapkan pesanannya” jeda sejenak, “Hajiman siapa yeoja yang berdiri disebelahmu Siwon-ah, apakah dia yeojachingumu?” selidik Shin Hye menatap Yoona dan aku, aku yang ditanya seperti itu menjadi kikuk sekaligus malu, kutatap Yoona sekilas lalu menjawab pertanyaan Shin Hye,

“A…ani, dia bukan yeojachinguku. Dia Im Yoona, teman kecilku. Dulu kami bertetangga lalu dia dan keluarganya pindah ke Chunceon, sekarang dia baru kembali dan memutuskan untuk menetap di Busan lagi” jelasku panjang lebar, Yoona ikut tersenyum mengiyakan penuturanku.

“Aaa…aku mengerti sekarang, baiklah kalian duduklah dulu aku akan menyiapkan pesanan kalian” ujarnya ramah lalu pergi meninggalkan kami bertiga.

“Toko ini cukup bagus, desain interiornya didesain secara klasik. Sebagian besar bahan bangunannya menggunakan kayu jadi membuat pengunjung merasa nyaman, aku menyukainya” celetuk Yoona diantara kebisuan kami menunggu pesanan,

“Jinjjayo? Kau juga tahu mengenai desain interior bangunan?” tanya Seung gi membuka topik pembicaraan

“Nde, baru-baru ini aku menyukai seni merancang desain interior. Aku sangat menyukai bagaimana menata dan mengatur sebuah ruangan” ujarnya pada kami,

“Aku juga sangat menyukai desain interior, sepertinya kita memiliki hobi yang sama” ujar Seung gi senang,

“Sejak kapan kau menyukai seni merancang desain interior?” tanyaku pada Seung gi dengan tatapan terheran-heran, dia yang ditanya seperti itu langsung menatapku dengan tatapan sengit,

“Sudahlah hyung, kau diam saja” gumam Seung gi padaku, dia kembali mengajak Yoona berbicara tentang hal yang sama sekali tidak ia ketahui, ‘Hahh…lagi-lagi ia mengatakan kebohongan, dasar Lee Seung gi’ batinku.

Beberapa menit kemudian pesanan kami sudah siap, aku berjalan menuju kasir untuk membayar pesanan. Setelah selesai melakukan transaksi kulangkahkan kaki menuju tempat duduk dimana Seung gi dan Yoona berada, ‘mereka terlihat senang sekali’ gumamku dalam hati, ada rasa cemburu yang terlihat dalam benakku tapi segera kutepis jauh-jauh perasaan itu, ‘ahh sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja’ batinku lagi. Aku berjalan mendekati mereka,

“Seung gi-ya, Yoona-ya, kajja kita pulang” ajakku menghentikan tawa mereka,

“Sudah selesai? Kalau begitu kita pulang sekarang. Seung gi-ssi kita lanjutkan pembicaraan kita lain kali” jawab Yoona mulai beranjak dari duduknya, diikuti Seung gi. Saat melangkah keluar Seung gi menarikku menjauh dari Yoona,

“Seharusnya kau berlama-lamalah sedikit di tempat kasir, tadi kami sedang membicarakan hal yang penting” bisik Seung gi padaku,

“Aku rasa bukan pembicaraannya yang penting, tetapi kebersamaan yang kalian miliki berdua, benarkan?” ujarku menanggapi ocehan Seung gi, Seung gi yang sudah kepalang basah olehku hanya tersenyum kuda.

©©©

 

Malam harinya aku dan Seung gi berada dikamarku,

“Jadi kau benar-benar menyukai Yoona?” tanyaku pada Seung gi, jujur saja ada rasa kecewa saat aku menanyakan hal itu. Dia mengangguk pelan lalu berkata,

“Nde hyung, sepertinya aku jatuh cinta padanya” jawabnya mengiyakan, ‘Sungguh, aku tidak ingin mendengar jawaban itu darimu’ batinku,

“Secepat itukah? kalian kan baru bertemu satu hari” tanyaku lagi, mencoba memastikan apa yang baru saja aku dengar.

“Aku juga tidak tahu bagaimana menceritakannya padamu, tapi aku benar-benar menyukainya. Aku merasakan hal ini saat aku menatap manik matanya” jelasnya kembali, ‘Sudah kuduga hal ini akan terjadi, aiish mengapa kisahku begitu rumit’ aku mencoba menata hatiku agar Seung gi tidak tahu apa yang sedang kurasakan saat ini.

“Lalu apa yang harus aku lakukan untukmu?” tanyaku mengalah, tak mungkin aku mengatakan bahwa aku juga menyukai Yoona, bahwa akulah yang pertama kali bertemu dengannya. Tidak! Itu tidak mungkin kulakukan, jika itu terjadi Seung gi pasti akan merasa sakit hati dan mengalah untukku. Aku tidak mau itu terjadi, lebih baik aku saja yang berkorban.

“Bantu aku untuk mendapatkan hati Yoona, kau kan berteman dengannya sejak kecil jadi kupikir kau banyak tahu tentang Yoona, kau mau ya?” pintanya padaku, wajahnya begitu memelas meminta pertolongan. Aku menghela nafas sejenak, jika sudah begini aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menuruti kemuauannya,

“Baiklah, untuk beberapa hari kedepan aku akan menjadi cupidmu. Percayalah padaku, aku akan menembakkan panah cintamu tepat di hati Yoona” jawabku dengan nada seolah-olah sedang bahagia, aku mencoba menutupi rasa kecewaku dengan senyum bahagia.

“Kyaa…gomawo hyung!!!” ujarnya sangat gembira, dia memelukku seperti anak kecil yang baru saja diberi hadiah besar,

“Hahaha…sudah hentikan tingkah konyolmu ini, kau bukan anak kecil lagi Seung gi-ya” ujarku tersenyum senang, ‘mungkin inilah takdirku, untuk menyatukan dua hati manusia’ batinku. Akhinya Seung gi melepaskan pelukannya dan kembali duduk tenang.

“Mianhe…gomawo hyung” ucapnya, “Jadi apa yang harus aku lakukan agar Yoona menyukaiku?” tanyanya dengan posisi siap mendengarkan jawabanku. Aku mulai berpikir, membayangkan kejadian-kejadian dulu yang sempat aku dan Yoona lalui bersama.

“Kau tidak perlu banyak bertingkah, cukup menjadi dirimu apa adanya itu sudah menjadi nilai plus untuk Yoona. Tunjukan padanya bahwa kau benar-benar menyukai Yoona dan ingin melindunginya. Sesekali ajaklah dia berjalan-jalan, dia sangat menyukai pemandangan alam terutama awan” jelasku sambil membayangkan kenangan saat aku dan Yoona duduk di taman sekolah memandangi langit yang penuh awan.

“Saat ia bersedih, cobalah untuk mendengarkan segala keluh kesahnya, pinjamkan bahumu untuk menumpahkan tangisannya. Buat ia mengerti bahwa kau juga memahami apa yang ia rasakan saat itu, bahwa kau mampu meredakan tangisannya” lanjutku kembali, tak henti aku membayangkan kenanganku bersamanya di setiap ucapan yang aku lontarkan. Aku terdiam menyudahi penjelasanku, Seung gi mencerna kata-kataku lalu mengangguk paham,

“Sepertinya kau sangat memahami Yoona dibanding siapapun hyung” ujarnya padaku,

“A…aniyo, mungkin hanya perasaanmu saja. Kau kan selalu melebih-lebihkan segala sesuatu” kataku mengelak

“Benarkah? Mungkin saja” jawabnya dengan raut sedikit tak percaya,

“Sudahlah, mulai besok lakukan apa yang sudah aku katakan. Aku juga akan membantumu agar Yoona juga menyukaimu” ujarku, aku tak mau Seung gi berpikiran terlalu jauh tentang perasaanku.

“Geurae, sekali lagi gomawo hyung” katanya senang

“Berhentilah memanggilku hyung” larangku, sudah hampir bosan aku memperingatkan anak ini agar tidak memanggilku ‘hyung’.

“Arasseo…gomawo Siwon-ah” ujarnya meralat kata-katanya tadi.

©©©

 

Keesokan harinya Seung gi sudah mulai melancarkan aksinya dengan berbekal informasi yang ia dapatkan dariku semalam. ‘Ia benar-benar melakukan apa yang aku katakan’ pikirku, tugasku disini mencoba sesering mungkin membuat mereka bertemu dan berbicara berdua. Jika kebetulan Yoona mengajakku untuk pergi bertiga aku pura-pura memiliki sejuta alasan untuk mengelak tawaran Yoona, karena jika sudah begitu aku tidak mungkin menghilangkan kesempatan yang Seung gi miliki agar selalu berdua dengan Yoona, terlebih aku tidak sanggup memandangi Yoona yang tertawa begitu senang menanggapi tingkah laku Seung gi yang begitu baik padanya. Aku tak kuasa menahan rasa sakit hati yang selalu kurasakan setiap melihat mereka bersenang-senang bersama, lebih baik aku sendirian menumpahkan apa yang selama ini aku rasakan. ‘Ini lebih baik daripada aku harus selalu mengatur raut wajah dan kata-kataku didepan mereka’ gumamku pada diri sendiri.

 

“Hyung! Hyung!” panggil Seung gi dari ruang tamu, aku keluar dari kamar mendengar Seung gi memanggilku,

“Aku disini Seung gi-ya” ujarku membalas panggilannya, ia menoleh kearahku lalu segera berlari menghampiriku.

“Hyung, kau tahu saat ini aku merasa sangat bahagia sekali. Sepertinya ada banyak malaikat yang turun ke bumi untuk menyanyikan lagu kebahagiaan untukku” ujarnya dengan raut wajah yang begitu senang, belum pernah aku melihat ia sesenang ini.

“Memangnya ada kabar bahagia apa? Kau kelihatan senang sekali” balasku tak kalah senang,

“Yoona menerimaku, dia mau menjadi yeojachinguku hyung!” jawabnya, singkat dan jelas namun dapat meluruhkan senyuman di hatiku, bagai ragaku dilemparkan kedalam jurang terdalam serta dihantam batu besar begitu mendengar penuturannya. Aku mencoba sekuat tenaga untuk tetap tenang,

“Benarkah? Chukkae, aku turut bahagia mendengarnya” ujarku berbohong, bahagia? Pandai sekali kau berbohong Siwon.

“Akhirnya impianku untuk menjadikannya kekasihku tercapai sudah, aahhh…senang sekali rasanya. Baiklah aku akan segera bersiap-siap karena malam ini aku mengajaknya berkencan, sekali lagi gomawo hyung” katanya padaku, aku hanya tersenyum sebagai balasannya, kemudian berlalu menuju kamarnya sambil bersiul-siul senang.

Dengan sisa tenaga yang aku miliki sekarang aku berusaha berjalan menuju kamarku, sungguh berat langkahku sekarang. Sesampainya dikamar, kututup pintu rapat-rapat agar tidak ada yang mengetahui apa yang sedang terjadi padaku terutama Seung gi. Pertahananku runtuh, perlahan bulir-bulir air mata menetes dari mataku. Aku mencoba mengulas senyum, “Semoga kau bahagia dengannya Yoona-ya” gumamku. Selesai sudah tugasku menyatukan mereka berdua, begitu pula dengan kisah cinta tak terbalasku selama lebih dari 6 tahun ini.

 

Kembali aku menyaksikan kemesraan diantara mereka berdua. Saat berjalan saja mereka berpegangan tangan dengan cukup mesra, aku hanya sebagai pengikut mereka yang setia memandangi kebersamaan mereka dari belakang. ‘Aku juga ingin menggenggam tanganmu seperti itu Yoong’ batinku. Tapi kurasa sampai kapanpun hal itu tidak mungkin terjadi. Keceriaan yang mereka tampilkan berbeda jauh dengan kondisi hatiku belakangan ini. Sekeras apapun mata ini mencoba menghindar dari pemandangan yang menguras hati, tetap saja terkadang aku melihat mereka mengumbar kemesraan. Berpelukan di antara rindangnya pepohonan taman kampus, atau berciuman di depan rumah Yoona saat Seung gi mengantarnya pulang.

Seharusnya aku merasa senang karena misiku menyatukan mereka sudah berhasil, seharusnya aku ikut gembira melihat adikku satu-satunya mendapatkan kebahagiaannya, tapi mengapa aku tidak bisa melakukan semua itu? Mengapa selalu rasa kecewa dan sakit hati yang aku rasakan saat bersama mereka? Sungguh aku bukan seorang kakak dan teman yang baik. Aku tidak bisa turut bahagia melihat kebahagiaan mereka.

©©©

 

“Rumit sekali studi kasus ini, sepertinya besok aku benar-benar harus menanyakannya pada Kim seonsaeng” gumamku, saat ini aku sedang menatap layar notebook berusaha mengerjakan tugas yang diberikan Kim seonsaeng di ruang tv, tiba-tiba terdengar bel berbunyi menandakan ada tamu diluar. Jung ahjumma-pembantu dirumah kami segera berlari kecil mendengar bel berbunyi,

“Annyeong haseyo ahjumma” sayup-sayup terdengar suara sang tamu menyapa Jung ahjumma, sepertinya itu Yoona

“Yoona agashi…silahkan masuk, akan kusiapkan minuman untuk agashi” ujar Jung ahjumma sopan

“Gomawo ahjumma” jawab Yoona, terdengar langkahnya memasuki rumah diselingi suara pintu yang tertutup.

“Oppa…apa yang sedang kau lakukan?” ujarnya mendekat lalu duduk disampingku mencoba melihat apa yang sedang aku kerjakan.

“Aku sedang menyelesaikan tugas yang Kim seonsaeng berikan” ujarku menghilangkan rasa penasarannya, mataku beralih menatapnya berhenti mengerjakan tugasku.

“Ada apa kau kemari? Apa kau ingin bertemu dengan Seung gi?” tanyaku,

“Nde, dia tidak membalas pesanku atau mengangkat panggilan dariku jadi aku memutuskan untuk langsung bertemu dengannya. Dia ada dirumah tidak?” balasnya kembali bertanya padaku, sudah kuduga dia mencarinya bukan diriku.

“Dia sedang pergi mengantarkan pesanan eomma untuk appa, sebentar lagi dia akan pulang. Mungkin dia tidak membawa iphonenya oleh karena itu dia tidak membalas pesan atau mengangkat panggilanmu” jelasku padanya, dia mengangguk paham.

“Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu disini sambil menemanimu” ujarnya kembali dengan senyuman manisnya, aku ikut tersenyum melihatnya seperti itu. Matanya mulai melihat kesekeliling ruangan, lalu berhenti pada suatu sudut yang menurutnya terasa sangat tidak asing.

“Oppa, bukankah itu adalah kamar yang aku tempati saat menginap dikamarmu diwaktu kecil dulu?” tanyanya padaku, aku menoleh melihat kamar yang ia maksud

“Nde, kau masih ingat Yoong?” tanyaku sedikit bahagia, setidaknya aku dapat tersenyum mengingat kenanganku dulu bersamanya.

“Tentu saja! oppa, bolehkan aku masuk?” tanyanya meminta izin padaku,

“Tentu, kajja aku antarkan kau kesana” ujarku lalu berdiri diikuti Yoona, kami berjalan bersama menuju kamar tersebut. Perlahan kubuka pintu kamar ini, kembali kenangan-kenangan itu terlintas dipikiranku melihatnya, begitu banyak memori yang kami ciptakan dikamar ini saat kecil dulu.

“Wahh…benar-benar tidak ada yang berubah di kamar ini, masih sama seperti 6 tahun lalu” celotehnya, lalu berjalan masuk diikuti langkahku. Tiba-tiba Jung ahjumma masuk membawakan dua gelas minuman.

“Tuan, ini diletakkan dimana?” tanyanya padaku,

“Disana saja ahjumma” jawabku sambil menunjuk meja dekat tempat tidur,

“Benar-benar ditata rapi, sedikitpun tidak berubah setelah sekian lama aku tinggalkan” ujarnya lagi.

“Selama ini Jung ahjumma yang setia merawatnya, dia yang selalu membersihkan kamar ini. Benarkan ahjumma?” tanyaku pura-pura pada Jung ahjumma. Beliau yang dilempari pertanyaan seperti itu langsung terdiam, dia menatapku bingung. “Katakan saja iya” bisikku pada Jung ahjumma,

“Ah…iya agashi, saya yang selalu membersihkan tempat ini” ujarnya terbata-bata.

“Benarkah? Gamsahamnida ahjumma, kau sunggu baik sekali” ujar Yoona dengan mata berbinar pada Jung ahjumma. Sesungguhnya akulah yang selama ini merawat dan membersihkan tempat ini, aku mencoba menjaga kenangan satu-satunya yang aku miliki bersama Yoona.

“Kalau begitu saya permisi dulu” pamit Jung ahjumma pada kami. Aku dan Yoona hanya tersenyum ramah, kembali Yoona menyapu pandangannya pada kamar ini.

Tak lama kami menikmati kebersamaan ini, terdengar pintu depan terbuka menandakan ada seseorang yang masuk.

“Aku pulang” teriaknya, ternyata dia adalah Seung gi yang baru saja pulang.

“Sepertinya Seung gi sudah pulang” ujarku pada Yoona, dia menoleh padaku lalu berkata

“Sepertinya begitu” jawabnya riang,

“Sedang apa kalian disana?” tanya Seung gi berdiri di depan pintu kamar,

“Kau sudah pulang Seung gi-ya, Yoona hanya sedang melihat-lihat kamar ini tidak lebih” jawabku menjelaskan.

“Itu benar chagi-ya, kajja sebaiknya kita mengobrol diruang tamu saja” ajak Yoona pada kami,

“Kalian berdua saja, aku ingin pergi ke suatu tempat” ujarku mengelak, seperti biasa aku selalu menolak jika diajak untuk berkumpul bertiga.

“Ayolah hyung, kali ini saja turuti ajakan Yoona. Kau selalu menghindar jika Yoona mengajak kita berkumpul bertiga” pinta Seung gi padaku

“Bukan seperti itu, aku memang ada urusan diluar” ujarku menyakinkan mereka

“Baiklah kalau begitu, kajja chagi-ya” kata Seung gi mengalah. Mereka berjalan menuju ruang tamu, sedangkan aku sendiri membereskan notebook dan makalah yang terbengkalai di ruang tv. Setelah itu aku beranjak keluar dari rumah menuju toko kue milik Shin Hye, ‘mungkin itu tempat yang tepat untukku sekarang’ pikirku.

 

Sesampainya di toko kue Shin Hye aku langsung menuju meja dekat jendela yang biasa aku dan Seung gi tempati, beberapa saat setelah aku duduk Shin Hye menghampiriku dengan nampan berisi secangkir espresso yang dibawanya.

“Siwon-ah” sapanya padaku,

“Ah…annyeong Shin Hye-ya” jawabku seadanya

“Tidak biasanya kau sendiri, Seung gi tidak ikut?” ujarnya tersenyum seraya duduk di kursi disampingku dan meletakkan secangkir espresso di depanku, aku terdiam menanggapi pertanyaannya.

“Waeyo? Sepertinya kau sedang dirundung masalah” tanyanya begitu melihat raut wajahku yang tidak secerah biasanya.

“Kau benar…aku sedang menghadapi permasalahan yang rumit” jawabku di akhiri hembusan nafas yang berat.

“Masalah seperti apa? Berbagilah bersama kawanmu ini, barangkali saja aku dapat membantumu” ujarnya mencoba membantuku,

“Ku kira saat aku melakukan hal itu aku akan ikut tersenyum bahagia melihatnya mendapatkan kebahagiaan, ku kira aku akan dengan cepat melupakan apa yang aku rasakan padanya. Namun ternyata semua tak semudah dibayangkan, sampai detik ini aku masih tak percaya semua itu bisa terjadi” tuturku pada Shin Hye, walau aku tak mengatakan secara gamblang apa yang sedang terjadi tetapi aku yakin Shin Hye pasti sudah tahu apa yang aku maksud. Seperti itulah Shin Hye, dia selalu mengerti diriku entah bagaimana keadaanku dia memang selalu tahu.

“Memang rumit apa yang terjadi padamu, apalagi ini menyangkut 3 hati. Aku juga pasti akan melakukan hal yang sama denganmu jika itu terjadi padaku walaupun pada akhirnya aku akan merasakan sakit hati yang teramat sangat. Tindakanmu sudah benar Siwon-ah, yang perlu kau lakukan sekarang adalah mencoba menghapus segala rasa untuknya secara perlahan, cobalah untuk tidak hidup dengan kenangan-kenangan yang telah kau ciptakan bersamanya dahulu, tatap masa depanmu dan lihatlah orang-orang yang lebih peduli dan menyayangimu Won-ah” ujar Shin Hye penuh perhatian, kata-kata yang baru saja Shin Hye ucapkan setidaknya mampu membuatku sedikit berbesar hati apa yang telah terjadi padaku. ‘Shin Hye benar, tidak selamanya aku harus hidup dalam bayang-bayang kenanganku bersama Yoona. Aku memiliki kehidupan sendiri yang mungkin lebih baik dari siapapun’ batinku.

“Kau benar Shin Hye-ya, tidak seharusnya aku terpuruk dalam perasaan yang tak terbalaskan ini. Sudah sepantasnya aku mulai bangkit” ujarku menatap Shin Hye dan mencoba tersenyum semangat. Dia lalu meraih tanganku yang berada diatas meja lalu berkata

“Kau pasti bisa melakukannya Siwon-ah” lanjutnya,

“Nde, aku harus bisa” balasku, sedikit demi sedikit aku mulai merasakan semangat hidupku kembali.

“Itu baru temanku Siwon” katanya, aku hanya membalasnya dengan tersenyum.

“Ini sudah aku siapkan secangkir espresso untukmu, sebaiknya segera kau minum sebelum menjadi dingin” ujarnya sambil menyodorkan espresso untukku.

“Nde, gomawo atas semua saranmu. Dan juga terimakasih atas espressonya” balasku lalu meminum espresso yang ia berikan,

“Baiklah aku akan melayani pelanggan dulu, kau tetap disini aku segera kembali” ujarnya padaku lalu segera menyambut pelanggan yang baru memasuki toko.

Shin Hye benar, sekuat apapun aku menahan perasaanku pada Yoona tetap saja sebagai manusia biasa aku tak bisa melakukannya terus menerus. Sedalam apapun aku mencintainya dan menjaga kenanganku bersamanya, aku dan dia tidak bisa kembali ke masa dulu saat kami masih bermain bersama-sama. Yang harus aku lakukan adalah merelakannya pergi dari hatiku, melepaskan segala kenangan dengannya seperti gletser yang mencair, menata kembali puing-puing hatiku yang sempat runtuh karena kejadian lalu. Membuatnya menjadi utuh agar siap untuk kembali berlayar dan melabuhkan diri pada dermaga yang tepat. Dan mungkin ini kata-kata pertama dan terakhir yang dapat aku ucapkan untuk Yoona tanpa ditiupkan angin menuju padanya,

“Saranghae, Im Yoona”.

©END©

 

Gimana readers??? Bikin termewek-mewek nggak baca ending yang sedih? Kesampean juga nih bikin ff yang endingnya sedih…sebenernya aku juga nggak rela kalo yoonwon nggak bersatu tapi aku mau iseng bikin sad end…oia mianhe kalo banyak typo, saya males ngeditnya… ^ ^

Sequel?? Nggak usah yah…hahaha… Tetep ditunggu RCLnya loohhh….WAAAAJIIIIIIIBBBBB!!!!!!!!!!

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

101 Komentar

  1. KaRenYS4ever

     /  April 5, 2014

    Gigit bantal..napa mesti senggi yg pcaran mha yoong..
    Untung critanya bguss..habis kesal mulu tuh yg adanya bnyak yongi moment..mesra pula..
    Next ff dtunggu ya eon..

    Gomawo^^v

    Balas
  2. im yoo ra

     /  April 17, 2014

    Kenapa siwon ngga jadian sama yoona? Dan knpa yoona malah jadian sama seung gi?
    Tp kisah ini hampir sama loh dengan kisah cintaku eonnie#plaaak malah curhat
    tp daebbak atas ffnya eonnie

    Balas
  3. zubaidah

     /  April 25, 2014

    Hiks.. Author jahat,, masa yoona dipisahin ama siwon,, kan kasian,, tp bagus jalan ceritanya thor.. Aku suka ditunggu ff yoonwon selanjutnya..

    Balas
  4. Dede

     /  April 30, 2014

    Aduh kenapah yoonwon nya engga bersama?

    Balas
  5. any

     /  Mei 8, 2014

    Sebel kenapa harus sama seung gi…g cukup apa didunia nyata jadiannya udah bikin nyesek. Ehhh di ff juga jadian. Sebeeeeellllllll…

    Balas
  6. kok yoona sama seunggi…yahh thor wlaupun di dunia nyata gitu..seharusnya membahagiakan di ff donk..hehe mian

    Balas
  7. Mia

     /  Juli 11, 2014

    Kasian sekali siwon oppa lee sung gie bnr” haxa jdi pengganggu

    Balas
  8. Kasihan bgt wonppa
    cintanya bertepuk sebelah tangan
    endingnya penuh dgn galau
    bukannya ini FF tentang Yoonwon
    kenapa malah Lee Seung Gi yg
    jadian sama Yoona

    Balas
  9. mia rachma

     /  Januari 9, 2015

    kenapaaa harus ada seunggi…… kasiannnnn wonnie, pukkk pukkkk.

    Balas
  10. Choi Han Ki

     /  Mei 16, 2015

    Mwo !! Jadi siwon beneran melepas yoona dan merelakan yoona bersama seung gi ??

    Balas
  11. Kenapa yoona malah sama seung gi kenapa gak sama siwon aja..
    Sequelnya bikin yoonwon bersatu ya soalnya gak rela kalo yoona sama si seung gi..

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: