[FF] The Princess’ Love (Part 6)

1621796_234230713428589_1975223209_n

[FF] The Princess’ Love (Part 6)

Author             : Indah (bianglalala27@gmail.com)

Type                : Chapter

Main Cast        : Choi Siwon, Im Yoona

Support Cast   : Leeteuk, Kim Taeyeon, Kwon Yuri, Kim Jong Woon, Seo Jo Hyun, Lee Donghae, etc

Genre              : School Life, Romance, Friendship

Rating             : 13+

Salam Nited! *hormat

Anyeong! Saya kembali bawa lanjutan ff ini. ada yang nungguin? *nggak *garuk2tanah. Kayaknya ini part terpanjang yang pernah saya bikin (±18 hal A4), ssoo siap2 aja kalo pada bosen (moga2 sih enggak). Kalo ada typo mohon dimaafkan yaa. Okelah, saya ngga mau banyak bacot. Langsung aja… tetereteteteeeettttt…. Part 6

Happy Reading!

Part 6

Siwon masih duduk mematung di kamarnya. Tatapannya terkunci pada sebuah benda yang ia genggam. Benda itulah yang telah berhasil membuat pikirannya kacau. Liontin ibunya yang diberikan Yoona padanya. Siwon teringat ucapan ayahnya tentang sang ibu beberapa waktu lalu. Apakah saat itu ayahnya bermaksud mengatakan kalau ibunya sudah meninggal? Apa ayahnya tahu tentang penyakit ibunya?

Lamunan Siwon buyar saat terdengar suara pintu dibuka. Ia meraih liontin ibunya dan memasukkan ke saku celananya.

“Siwon-ah,” panggil ayahnya yang baru pulang.

Siwon beranjak keluar dari kamarnya dan menemui ayahnya di ruang tengah. “Ne, Aboeji. Aku baru saja mau meneleponmu.” Sebenarnya tidak juga. Siwon hanya berusaha terlihat seperti biasa di depan ayahnya.

“Aboeji sudah pulang. Tidurlah,” perintah Ki Ho. Ia mengambil air putih yang ada di meja dan meneguknya sampai habis.

Menuruti perintah ayahnya, Siwon kembali menuju kamarnya. Baru dua langkah tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Ah, kemarin ada yang mencarimu, Aboeji.” Siwon berbalik dan duduk di depan ayahnya.

Kedua alis Choi Ki Ho terangkat. “Nuguya?”

“Dia bilang namanya Yoon Hae Ra,” kata Siwon pelan. Matanya memandang ayahnya penuh selidik, mengamati setiap perubahan ekspresi ayahnya saat mendengar nama itu.

Wajah Ki Ho sedikit menegang saat Siwon mengatakannya. Hanya sesaat memang, tapi bisa terlihat oleh mata jeli Siwon. “Ah, apa yang dia katakan?” tanya Ki Ho santai, padahal hatinya sudah was-was menerka apa yang Hae Ra katakan pada Siwon.

“Tidak banyak,” jawab Siwon. “Dia mengatakan kalau kalian adalah teman lama dan ingin bertemu dengan Aboeji.”

“Hanya itu?” Ki Ho harus memastikan seberapa banyak yang Siwon tahu tentang semua yang sedang terjadi.

Siwon tersenyum melihat ayahnya yang tampak khawatir. Dugaan bahwa ayahnya menyembunyikan sesuatu benar adanya. Terlihat jelas dari wajah sang ayah meski ia berusaha terlihat biasa. “Wanita itu bilang kalau kalian adalah teman kuliah. Di Universitas Yale.”

Bingo. Ekspresi Ki Ho seakan menjawab pertanyaan Siwon. Sekarang ia tahu darimana ia mendapat otak jeniusnya. Kata-kata Hae Ra bahwa ayahnya adalah salah satu mahasiswa terbaik terbukti benar meski Ki Ho belum mengiyakan. Pertanyaannya sekarang adalah mengapa sang ayah menyembunyikan fakta ini darinya?

“Ada lagi?” gumam Ki Ho. Ia menghiraukan tatapan tajam Siwon padanya. Putranya yang menuruni kejeniusannya sudah pasti curiga mengetahui hal ini. Tapi belum saatnya Siwon tahu tentang sejarahnya.

“Aboeji tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?” tanya Siwon menyelidik.

Ki Ho menggeleng pelan. “Tidak ada yang harus kukatakan padamu.”

Sebuah senyum kecewa tampak di wajah Siwon. “Aku tahu kalau Aboeji menyembunyikan sesuatu dariku,” gumamnya.

“Tidak ada yang Aboeji sembunyikan, Siwon-ah,” sangkal Ki Ho meski ia tahu Siwon tidak akan percaya. Namun baginya Siwon masih terlalu muda untuk mengetahui semua ini.

Jangan berbohong padaku, Aboeji, pinta Siwon dalam hati. “Kurasa aku sudah cukup besar untuk mengetahui apa yang terjadi,” ucap Siwon. “Selama ini aku bertanya-tanya mengapa aku begitu pintar tanpa harus belajar. Sekarang aku tahu jawabannya. Aboeji yang telah menurunkannya padaku. Aku baru tahu fakta itu. Juga fakta tentang Eomma yang dirawat di rumah sakit sebelum ia menghilang.”

Kalimat terakhir Siwon membuat Ki Ho mengalihkan pandangannya pada putranya. Rahangnya mengeras menahan keterkejutan karena Siwon mengetahui hal itu.

Siwon tersenyum miring melihat ekspresi ayahnya. “Ah, kurasa Aboeji juga sudah tahu itu. Mengapa hanya aku yang tidak tahu?” katanya perih. Siwon lalu beranjak ke dalam kamar, meninggalkan ayahnya yang masih terpaku. Semua orang tampaknya tahu apa yang terjadi pada ibunya. Bahkan Yoona yang bukan siapa-siapanya pun tahu. Mengapa mereka harus menyembunyikan semuanya dariku? batin Siwon marah.

***

 

Lagi-lagi Yoona sarapan seorang diri. Sejak tadi ia hanya memainkan makanannya tanpa semangat. Tadinya Yoona ingin mengurung diri di kamar, tapi Jo Hyun memaksanya untuk tetap berangkat ke sekolah.

“Yoona,” panggil seorang laki-laki berusia tiga puluhan yang memakai kacamata minus. Laki-laki itu meletakkan beberapa berkas yang ia bawa di meja dan duduk di samping Yoona.

“Changmin Oppa,” seru Yoona kaget. “Oppa tidak ke kantor?”

“Pengacara Shim,” Changmin mengoreksi panggilan Yoona.

Yoona berdecak kesal. “Aku tidak mau memanggilmu begitu,” gerutunya. “Panggilanku tidak akan berubah meski Oppa sudah menjadi pengacara Appa.”

Changmin tersenyum mendengar ucapan Yoona. Sejak kecil Changmin dibesarkan oleh keluarga Im. Saat lulus dari sekolah hukum terkenal, ia langsung magang sebagai pengacara di Grup A. Karena kehebatan dan kesetiaannya, Im Tae San mengangkat Changmin sebagai pengacaranya meski usianya tergolong muda.

Suara ketukan sepatu yang mendekat membuat Yoona dan Changmin mengalihkan pandangannya. Mereka mendapati Yuri yang sudah rapi berjalan ke meja makan. Gadis itu tersenyum dan mengangguk kecil pada Changmin. “Oppa akan makan di sini?” sapanya.

Changmin menggeleng dengan senyuman di wajahnya. “Aniya. Hanya ada sedikit urusan dengan bocah ini,” jawabnya sambil menunjuk Yoona yang pura-pura sibuk makan.

Yuri menatap Yoona yang terlihat asyik dengan makanannya. Terselip sedikit kesedihan di hatinya. Yoona begitu mudah akrab dengan orang lain, tapi ia sendiri justru sangat sulit untuk berdekatan dengannya.

“Kau akan pergi ke kampus?” tanya Changmin.

Yuri memaksakan tersenyum. “Ne.” Ia mengambil segelas air jeruk dan meneguknya beberapa kali. “Aku pergi dulu, Oppa,” pamitnya.

Pandangan Changmin terus tertuju pada punggung Yuri yang menjauh, tanpa sadar kalau sejak tadi Yoona mengamatinya.

“Yuri Unnie sudah punya pacar, jadi sebaiknya Oppa jangan banyak berharap,” nasihat Yoona.

Changmin yang baru menyadari bahwa Yoona mengetahui perasaannya pada Yuri menjadi sedikit kikuk. “Teruskan makanmu!”

Yoona terkikik melihat tingkah Changmin. Mereka sudah saling mengenal sejak kecil jadi wajar saja kalau keduanya cukup dekat. “Ah, kenapa Oppa kemari? Ada urusan apa denganku?” tanya Yoona yang tiba-tiba teringat dengan ucapan Changmin pada Yuri.

“Ada beberapa berkas menyangkut pemindahan aset yang harus kau tanda tangani,” jawab Changmin sambil mengambil beberapa kertas yang ia letakkan di meja. Changmin memilah-milah kertas itu menjadi beberapa bagian lalu menyerahkan satu bagian pada Yoona. “Sekarang kau adalah putri mahkota kerajaan bisnis ayahmu.”

Yoona menyeringai malas. “Oppa, ada yang ingin kutanyakan padamu,” kata Yoona setelah menerima berkas yang diberikan Changmin. Ia meletakkan kertas-kertas itu di meja makan.

“Mwo?”

“Mengapa Appa memindahkan asetnya padaku?”

Changmin terlihat agak bimbang menjawab pertanyaan Yoona. Kepercayaan Im Tae San yang ia raih dengan usaha keras tidak ingin ia sia-siakan dengan mengatakan yang sebenarnya pada Yoona. Tetapi Changmin juga sangat menyayangi Yoona seperti adik kandungnya sendiri, dan ia selalu gagal menolak permintaan Yoona. “Kau tanda tangan dulu, baru aku akan menjawab pertanyaanmu,” putus Changmin. Ia harus menjamin Yoona tidak bisa menolak untuk menyetujui rencana ayahnya.

Meski ragu, akhirnya Yoona menuruti syarat Changmin. Ia menandatangani beberapa kertas yang ada di depannya. “Sekarang cepat katakan,” perintahnya saat mengembalikan kertas-kertas itu pada Changmin.

“Berjanjilah padaku kau akan berpura-pura tidak tahu tentang ini,” Changmin memperingatkan Yoona.

Gadis itu mengangguk tidak sabar. “Palli, Oppa. Aku akan terlambat kalau begini terus.”

Changmin menghela napasnya sebelum melanjutkan. “Pemindahan aset bertujuan untuk melindungi aset itu sendiri. Kejaksaan tampaknya akan memeriksa ayahmu dan Grup A dalam waktu dekat. Dengan cara ini, aset-aset milik ayahmu bisa diselamatkan dari penyitaan jika ia terbukti bersalah. Tentu ini adalah rahasia. Orang tidak banyak yang tahu kalau ayahmu memiliki aset-aset yang sekarang menjadi atas namamu ini.”

“Tapi mengapa kejaksaan memeriksa Appa? Apakah Appa melakukan kejahatan?” tanya Yoona bingung.

“Dalam dunia bisnis, tidak ada yang benar-benar putih. Kebanyakan justru berada di area abu-abu,” jawab Changmin yang terdengar lebih seperti gumaman.

Kedua alis Yoona bertautan memikirkan perkataan Changmin. Kalau tangkapannya benar, itu berarti ayahnya bukanlah pengusaha yang benar-benar bersih. Ayahnya telah melakukan sesuatu yang kotor. Sekotor apa dan bagaimana bentuknya, Yoona tidak tahu pasti. Namun ada sebuah kekecewaan timbul di hatinya karena ternyata ayahnya memanfaatkan putrinya sendiri untuk melindungi aset-asetnya. Dan Yoona sama sekali tidak menyukai ide itu.

***

 

“Kau harus membantuku,” paksa Jo Hyun. Sejak tadi ia memohon pada Yoona untuk pergi ke rumahnya sepulang sekolah. Makan siang mereka sama sekali belum tersentuh karena Jo Hyun terus-terusan merayu Yoona.

Mulut Yoona mengerucut lucu. “Memangnya kau siapa menyuruhku datang ke rumahmu dan membantumu?” gerutunya.

Jo Hyun memicingkan matanya kesal. “Kau berhutang alamat Siwon Sunbae padaku. Kau harus membayarnya sekarang,” desisnya.

Yoona mendesah pasrah. “Kau sangat perhitungan.” Akhirnya ia mengangguk setuju. Mungkin lebih baik daripada terus berada di rumah, pikirnya.

“Jinjayo? Kau setuju?” pekik Jo Hyun girang.

Kedua alis Yoona terangkat heran melihat reaksi Jo Hyun yang baginya terlalu berlebihan. “Eoh. Tapi memangnya apa yang harus kubantu?” tanya Yoona penasaran.

Sebuah senyum misterius tergambar di wajah Jo Hyun. “Kau akan tahu nanti,” sahutnya senang. Tampaknya rencananya akan berjalan dengan baik karena Yoona menyetujui ajakannya. “Ah, aku harus menemui Appa. Sampai jumpa,” kata Jo Hyun tiba-tiba. Ia bergegas pergi meninggalkan Yoona yang semakin bingung dengan tingkahnya.

Ada apa dengan anak itu? pikir Yoona heran. Tidak biasanya Jo Hyun yang pendiam meledak-ledak seperti ini. Yoona mengendikkan bahunya karena tidak menemukan jawaban atas sikap aneh Jo Hyun. Ia kembali menghadapi makan siangnya tanpa selera. Otaknya memutar kembali kejadian semalam bersama Siwon. Namun tiba-tiba bayangan sang ayah dan ibunya yang akan bercerai menggantikan memori itu. Tanpa sadar Yoona justru semakin kuat mengaduk-aduk makanan di piringnya karena merasa kesal.

“Di luar sana banyak orang kelaparan, jangan menyia-nyiakan makanan seperti itu,” Donghae tiba-tiba datang dan duduk di tempat yang Jo Hyun tinggalkan.

Yoona hanya memandang Donghae singkat lalu mengaduk-aduk makanannya kembali. Dia sedang tidak dalam mode siap berperang dan meladeni Donghae.

“Mau kusuapi?” tawar Donghae genit.

“Aku bisa makan sendiri, Sunbae,” tolak Yoona pelan.

Donghae mengernyit heran melihat Yoona yang tidak bersemangat. Biasanya Yoona selalu memasang wajah sinis bila berhadapan dengannya. Ia mengamati Yoona lekat-lekat. Jelas ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Entah mengapa Donghae lebih suka Yoona yang biasanya meski selalu kasar dan seenaknya. “Apa kau sakit?” tanyanya memastikan. Untuk pertama kalinya, Donghae merasa prihatin saat melihat orang lain bersedih.

Yoona hanya menggeleng pelan.

“Kau bertengkar dengan Siwon?” tebak Donghae. “Kalau iya bilang saja padaku. Aku akan membuatnya menyesal seumur hidup karena membuatmu begini,” lanjutnya.

“Aniyo,” kata Yoona singkat.

Donghae menyerah. Ia menutup mulutnya dan memperhatikan Yoona lebih dalam. Ada sesuatu yang baru disadarinya. Yoona tak pernah menggubris semua rayuannya karena dia memang tidak butuh kata-kata dan perlakuan romantis seperti gadis lain yang Donghae kenal. Gadis ini lebih membutuhkan telinga yang siap mendengar ceritanya. Yoona adalah cerminan dirinya dalam bentuk lain. Dikelilingi banyak orang tapi tidak satupun yang benar-benar tulus bersamanya.

“Kau selalu menolak kebaikanku,” keluh Donghae.

Yoona tersenyum tipis melihat Donghae merajuk. “Mengapa aku harus menerima kebaikanmu?” cibirnya. “Kau hampir menabrakku bahkan sebelum kita saling mengenal.”

Donghae tergelak. “Jangan mengingat hal itu. Aku hanya sedang bermain-main.”

“Bermain-main dengan nyawa seseorang?” sahut Yoona sinis.

“Nah, begitu lebih baik,” Donghae tersenyum puas.

“Mwo?” tanya Yoona bingung. Ia tidak mengerti mengapa Donghae tersenyum begitu lebar padahal ia tidak sedang melawak.

“Im Yoona yang seperti ini terlihat lebih baik daripada Im Yoona yang tadi,” jelas  Donghae.

Yoona tersenyum mendengar perkataan Donghae. Meski dengan cara yang sedikit aneh, Yoona tahu maksud Donghae adalah untuk menghiburnya. “Apapun tujuanmu mendekatiku, aku tetap berterima kasih padamu, Sunbae,” katanya. Teman-temannya yang lain tidak pernah mencoba menghiburnya karena mereka pikir hidup Yoona selalu bahagia.

Donghae balas tersenyum. Ia merasakan ketulusan di dalam ucapan Yoona. Sial, rutuk Donghae dalam hati. Gadis ini benar-benar membuatku tidak berdaya.

Di seberang ruangan, tatapan tajam Siwon tertuju pada meja yang ditempati Donghae dan Yoona. Setelah semalaman merenungkan sikapnya pada Yoona, ia ingin meminta maaf pada gadis itu. Tapi melihat Yoona sedang bersama dengan musuhnya, amarah Siwon muncul kembali. Dengan sedikit tergesa ia berjalan mendekati mereka.

“Sunbae, aku pergi dulu,” kata Yoona saat melihat Siwon di dekat mereka. Ada sedikit keengganan untuk bertemu Siwon karena sikapnya semalam. Ia berjalan berlawanan arah dengan posisi Siwon yang ada di belakang Donghae. Mengapa aku menghindar? Bukankah aku tidak bersalah? batin Yoona heran.

“Sedang mencoba menghindariku, Nona Im?” kata Siwon, cukup keras untuk membuat siswa lain menengokkan kepalanya pada Yoona. Terpaksa Siwon melakukannya karena begitu Yoona menyadari keberadaannya, gadis itu langsung pergi. Jika Siwon tidak nekat memanggilnya, mungkin saja Yoona akan melenggang dari hadapannya. Siwon tidak ingin Yoona salah memahami sikapnya semalam.

Langkah Yoona terhenti. Ia mengambil napas sebentar sebelum berbalik menghadapi Siwon. Butuh kekuatan lebih untuk tetap bersikap dingin setelah melihat mata teduh pemuda itu. Kali ini Yoona tidak ingin menerima begitu saja perlakuan dingin Siwon padanya. Alisnya bertautan heran saat berbalik dan melihat Siwon sudah berdiri berhadapan dengan Donghae dalam jarak yang sangat dekat.

“Jangan ganggu dia, Siwon-ah. Tuan Putri kita sedang dalam mood yang jelek,” kata Donghae santai. Dia langsung menahan Siwon saat pemuda itu lewat di mejanya. Satu celah sempit seperti ini sudah pasti akan Donghae manfaatkan untuk mengambil Yoona dari Siwon.

Siwon tertawa tanpa suara. Dia memandang Donghae dari atas ke bawah. “Apa kau peri pelindungnya? Seharusnya kau memakai sayap di punggungmu,” balas Siwon. Raut wajahnya berubah serius. “Jangan campuri urusanku dengannya,” desisnya.

Merasa menjadi pusat perhatian, Yoona cepat-cepat mendekat pada Siwon dan Donghae. “Jangan berciuman di depan umum, Sunbae,” celetuk Yoona saat menyadari sempitnya jarak di antara Siwon dan Donghae.

Keduanya langsung menghadiahi Yoona dengan tatapan mematikan. “Apa maksudmu?” bisik Siwon. Matanya tertuju pada bibir Yoona yang sedikit terbuka setelah mendengar kata berciuman.

Yoona mengikuti tatapan Siwon yang berakhir di bibirnya. Pipinya memanas karena teringat kejadian di Myeongdong bersama Siwon. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, menghindari tatapan tajam Siwon. “Mengapa Sunbae memanggilku?” katanya gugup.

Siwon melirik sebentar pada Donghae sebelum menarik Yoona pergi dari tempat itu. “Ayo bicara.”

***

 

Jo Hyun mengetuk pintu ruang kepala sekolah dengan hati-hati. Setelah mendapat balasan dari balik pintu, ia baru masuk ke dalam ruangan itu. Di sana ada seorang pria yang duduk di balik meja kerjanya, sibuk dengan beberapa dokumen di depannya. Sebagian rambutnya sudah memutih, namun pancaran matanya penuh dengan kehangatan. Sebuah papan nama dari kayu bertuliskan Seo Yoon Jae terpasang di mejanya.

“Appa,” panggil Jo Hyun. Ia langsung duduk di kursi tanpa diperintah.

Seo Yoon Jae mengangkat kepalanya sejenak dari dokumen-dokumennya saat melihat putrinya masuk. “Ada apa, Hyunnie?”

“Yoona setuju untuk ke rumah kita sepulang sekolah nanti,” lapor Jo Hyun senang.

“Benarkah?” Seo Yoon Jae melepas kacamata bacanya dan meletakkannya di meja.

Jo Hyun mengangguk bangga. “Dia sangat keras kepala, Appa. Susah sekali membujuknya,” adunya pada sang ayah.

Yoon Jae tertawa melihat Jo Hyun kesal. “Kalau begitu dia memang benar-benar mirip dengan Yoon Joo,” gumamnya. “Anak Appa memang hebat. Kerja bagus, Hyunnie,” puji Yoon Jae.

“Semoga Yoon Joo Imo gembira dengan kejutan kita,” harap Jo Hyun.

***

 

Siwon yang merasa cemburu karena melihat Yoona dan Donghae bersama, tidak menyadari kalau ia menggenggam pergelangan tangan Yoona dengan cukup keras. Ia merasa khawatir mengingat ancaman Donghae tentang Yoona. Siwon membawa Yoona ke hall basket yang saat itu kosong.

“Sunbae, appoyo,” rintih Yoona. Meski sedikit kesakitan, ia tidak berusaha melepaskan diri dari Siwon.

Menyadari apa yang dilakukan tangannya pada Yoona, Siwon cepat-cepat melepas genggamannya. Terlihat sedikit bekas merah di pergelangan Yoona. “Mianhe.”

Yoona menggigit bibirnya. Otaknya sibuk menerka mengapa Siwon membawanya kemari. Ia masih takut kalau-kalau Siwon akan marah padanya. “Gwenchana.” Jantung Yoona berdebar kencang menanti Siwon bicara.

“Apa yang kau bicarakan dengan Donghae?”

“Ne?” Yoona tidak menyangka Siwon akan membicarakan Donghae. Dia pikir Siwon akan bicara tentang ibunya.

Siwon mendesah kesal. “Anak itu mendekatimu karena mengira kita memiliki hubungan. Dia hanya ingin memanfaatkanmu dan menggangguku. Jangan dekat-dekat dengannya,” larangnya.

Sikap Siwon yang selalu berubah-ubah membuat Yoona bingung. Dia sudah tahu latar belakang Donghae dan tidak akan dengan mudah terjebak dalam perangkapnya. Mengapa Siwon harus mengkhawatirkan hal itu? Bahkan selama ini Donghae selalu baik padanya walau sedikit genit. “Ada apa denganmu, Sunbae? Donghae Sunbae tidak melakukan hal yang buruk padaku, dia hanya menghiburku.”

“Jangan percaya padanya! Dia hanya ingin menggunakanmu untuk membalasku,” Siwon masih teguh dengan pemikirannya tentang Donghae.

Yoona mendengus tidak percaya. Sikap Siwon padanya justru lebih menyakitkan bila dibandingkan Donghae. “Tidakkah Sunbae berpikir kalau sikapmu padaku justru lebih buruk daripada Donghae Sunbae?”

Siwon tertegun. “Apa maksudmu?”

“Sejak awal aku sudah mengatakan perasaanku pada Sunbae, tapi Sunbae tetap dingin padaku. Kadang-kadang sikapmu sangat lembut, tapi saat berikutnya kau marah-marah padaku. Aku bahkan menceritakan semua masalah keluargaku padamu, tapi sikap Sunbae tetap sama. Saat aku menyampaikan pesan ibumu, Sunbae juga mengacuhkanku tanpa mau tahu apa yang kulakukan untuk menemukanmu. Lalu saat ini Sunbae memarahiku karena ada seseorang yang menghiburku. Apa aku tidak berhak untuk sedikit gembira?” Yoona mengeluarkan semua yang ia rasakan selama ini.

Dada Siwon terasa sesak mendengar penuturan Yoona. Selama ini ia tidak pernah berpikir tentang hal itu. Maksud tindakannya selama ini pada Yoona ternyata tidak tersampaikan dengan semestinya. Siwon tidak pernah bermaksud menyakiti Yoona, hanya saja ia tidak bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya pada gadis itu. “Menurutmu mengapa aku melakukan semua itu?” Siwon balas bertanya setelah diam selama beberapa saat.

Yoona tersenyum miris. Ia menganggap semua sikap dingin Siwon padanya karena Siwon membencinya. “Aku tahu kalau Sunbae tidak menyukaiku dan menyukai orang lain. Jadi mulai sekarang aku akan menjauh darimu, Sunbae. Lagipula sudah tidak ada alasan untuk tetap berada di dekatmu,” katanya lirih. Yoona berhenti bicara, sedikit menerawang untuk mencegah air matanya keluar.

Siwon mendesah putus asa karena Yoona tidak juga mengerti perasaannya. Ia ingin berteriak mengatakan yang sebenarnya pada Yoona, tapi tenggorokannya terasa sangat berat.

“Aku akan bilang pada Donghae Sunbae kalau kita tidak memiliki hubungan apapun,” lanjut Yoona. Ia berjalan keluar dari hall meninggalkan Siwon.

“Mengapa jadi seperti ini?” Siwon menendang sebuah bola basket di dekatnya dengan kesal. Tidak mengerti mengapa Yoona sangat tidak peka untuk merasakan perhatiannya selama ini.

***

 

Jong Woon menghampiri Yuri yang duduk di balkon apartemennya. Beberapa hari ini Yuri rutin melamun di balkonnya sambil memandang senja. Laki-laki itu mendudukkan diri di samping kekasihnya lalu menggenggam satu tangan Yuri.

“Ada apa denganmu?” tanyanya lembut.

Yuri menyandarkan kepalanya di bahu Jong Woon. “Oppa, apa yang harus kulakukan?” gumam Yuri. Batinnya sedang bergelut menghadapi dua pilihan yang sangat sulit.

Tangan Jong Woon merengkuh Yuri masuk ke pelukannya, memberitahu kalau Yuri bisa bersandar padanya apapun yang terjadi. “Kau mau menceritakan masalahmu?” tawarnya. Jong Woon tidak pernah mengharuskan Yuri menceritakan semua masalahnya, tapi ia selalu ada saat Yuri ingin bicara.

“Appa dan Eomma akan bercerai. Aku tidak tahu akan berada di pihak mana. Dan Yoona, tiba-tiba sikapnya berubah. Dia  mengacuhkanku dan tidak bicara pada siapapun di rumah,” kata Yuri lemah. “Apa yang harus kulakukan, Oppa?”

Jong Woon menghela napas pelan. Ia memahami apa yang dirasakan Yuri. “Kau harus berada di satu pihak dengan Yoona,” jawab Jong Woon.

“Wae?” Yuri melepaskan diri dari pelukan Jong Woon. Jawaban Jong Woon tidak pernah terpikir olehnya. Yuri sedikit heran karena Jong Woon tahu pasti bagaimana hubungannya dengan Yoona.

Sebuah senyum terukir di wajah Jong Woon. Hatinya bertanya-tanya kapan Yuri akan sadar kalau jauh di dalam nuraninya ia menyayangi Yoona. “Karena kalian adalah putri keluarga Im. Memangnya apalagi?”

Yuri terdiam memikirkan jawaban Jong Woon. Menurutnya, satu-satunya pilihan sejak Yoona hadir dalam keluarganya adalah membenci gadis itu. Tidak peduli sebaik apapun sikap Yoona padanya, Yuri tetap membenci sang adik. Adik tiri tepatnya. Saat Yoona masuk ke dalam keluarga Im, semuanya berubah. Tidak ada makan bersama, jalan-jalan bersama, atau kegiatan lain yang dilakukan sebuah keluarga bahagia. Keluarganya berubah menjadi sangat kaku dan acuh. Ayah dan ibunya tidak lagi saling mencintai. Selama ini Yuri menyalahkan Yoona atas semua perubahan yang terjadi.

“Yoona juga pasti bersedih karena hal ini,” lanjut Jong Woon. “Bertahun-tahun ia jauh dari keluarganya, dan saat ia kembali, orang tuanya justru bercerai. Menurutmu bagaimana perasaannya? Untuk sekali ini, berdirilah di sampingnya.”

Air mata Yuri menetes saat mendengar penuturan Jong Woon. Rasa bersalahnya pada Yoona terasa semakin besar. Tapi di sisi lain, ia masih tetap menyalahkan Yoona. Luka hati yang ia tanggung sejak kehadiran Yoona masih belum sembuh. Ia ingin dekat dengan Yoona seperti layaknya saudara, namun hatinya selalu sakit saat melihat tawa di wajah Yoona. Karena tawa itu adalah sebuah pengkhianatan yang telah menghancurkan keluarganya.

***

 

Hari sudah sore saat Yoona dan Jo Hyun keluar dari Jaguar hitam milik Yoona. Mereka sampai di rumah Jo Hyun dan disambut oleh seorang wanita cantik yang sangat ramah.

“Hyunnie, mengapa lama sekali?” sapanya saat mereka sampai di ruang keluarga.

“Mianheyo, Eomma,” kata Jo Hyun manja. “Eomma, aku membawa teman. Dia akan membantuku menyiapkan hidangan upacara.”

Ibu Jo Hyun memandang Yoona yang berdiri di samping putrinya. Ia tampak terkejut saat melihat Yoona. Cepat-cepat ia menormalkan kembali raut wajahnya dan tersenyum ramah.

Yoona mengangguk memberi hormat pada ibu Jo Hyun. “Im Yoona imnida. Saya satu kelas dengan Jo Hyun.”

“Tentu saja aku tahu siapa dirimu. Kita pernah bertemu di New York dulu,” kata ibu Jo Hyun.

“Mianhamnida, saya sedikit lupa,” Yoona membunguk kecil meminta maaf.

“Gwenchana. Kau sangat cantik, Yoona-ya. Bisakah aku memanggilmu begitu?” tanya ibu Jo Hyun. “Kau bisa memanggilku Seo Ahjumma kalau kau mau.”

Lagi-lagi Yoona tersenyum. Sikap Seo Ahjumma yang ramah mengingatkannya pada sosok Han Hye Won. Mengapa justru orang lain yang bersikap hangat padaku, batinnya sedih mengingat sikap keluarganya selama ini. Yoona mengangguk menyetujui ucapan Seo Ahjumma.

“Aku dan Yoona akan bersiap-siap dulu. Kajja, ikut aku,” Jo Hyun menarik Yoona pergi ke kamarnya di lantai dua. Begitu sampai, Jo Hyun langsung merebahkan dirinya di tempat tidur.

“Sebenarnya kau mau apa?” tanya Yoona penasaran karena Jo Hyun belum juga mengatakan tujuannya membawa Yoona ke rumahnya. Dia ikut berbaring di samping Jo Hyun.

“Bantu aku menyiapkan hidangan untuk upacara jesa nanti malam,” pinta Jo Hyun.

“Mengapa repot-repot? Kau bisa menyuruh pembantu untuk melakukan itu,” tolak Yoona.

Andai saja kau tahu untuk siapa upacara ini, kau takkan berani bicara seperti itu, kata Jo Hyun dalam hati.

“Memang kematian siapa yang akan diperingati?” tanya Yoona lagi.

Ibumu, batin Jo Hyun lagi. Ingin rasanya ia berkata seperti itu pada Yoona, tapi cepat-cepat ia buang pikiran itu jauh-jauh. “Kematian adik ayahku,” kata Jo Hyun lirih. Jo Hyun sudah berjanji pada ayahnya untuk merahasiakan hal ini dari siapapun, termasuk Yoona.

***

 

Siwon membanting pintu loker khusus pegawai bar dengan keras. Bukannya menutup, pintu itu justru kembali terbuka. Kesal karena pintu itu tak juga menutup, Siwon akhirnya meluapkannya dengan meninju loker lain di samping lokernya.

Taeyeon yang kebetulan berada beberapa loker dari Siwon heran dengan sikap kasar pemuda itu. Jarang sekali Siwon memperlihatkan emosinya di depan orang lain. Sebagai orang yang sudah bertahun-tahun mengenalnya, Taeyeon tahu ada yang sedang dipikirkan oleh Siwon.

“Kau mau menggantinya kalau pintu itu rusak?” Taeyeon sedikit memarahi Siwon. Setelah mengunci kembali lokernya, ia berjalan mendekati Siwon yang berdiri mematung di depan lokernya.

Siwon agak kaget karena tidak melihat Taeyeon masuk ke ruangan itu. Dia hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Taeyeon.

“Waeyo?” Taeyeon mengikuti Siwon duduk di lantai dan bersandar pada loker.

“Taeng, apakah sikapku buruk padamu?” tanya Siwon pelan.

Taeyeon mengernyit heran mendengar pertanyaan Siwon. Selama ini Siwon selalu bersikap sopan pada siapapun, meski terkesan dingin. Awalnya Taeyeon berpikir kalau Siwon hanya asal bicara, tapi melihat raut wajahnya, Taeyeon mengerti kalau Siwon sedang serius. “Kau memperlakukanku dengan sangat baik. Memangnya kenapa?”

“Jinjayo? Seseorang mengatakan kalau sikapku sering menyakitinya,” kata Siwon lirih, hampir terdengar seperti sebuah bisikan.

Dalam hatinya Taeyeon menebak apa yang terjadi pada Siwon hingga membuatnya seperti ini. Tidak ada orang selain dia dan Leeteuk yang cukup dekat dan berinteraksi secara pribadi dengan Siwon untuk bisa mengatakan hal itu. Dia teringat pada Yoona yang belakangan ini sepertinya dekat dengan Siwon. “Siapa yang mengatakannya? Yoona?”

Siwon mengangguk samar. “Padahal aku tidak pernah bermaksud untuk menyakitinya.”

Taeyeon diam-diam tersenyum setelah mendengar pengakuan Siwon. Ia tahu Siwon tidak pintar mengungkapkan perasannya lewat kata-kata. Mungkin Yoona telah salah memahami semua perlakuan Siwon padanya. Karena Siwon yang ia kenal tidak akan tega menyakiti orang lain, kecuali Donghae. Taeyeon diam menunggu Siwon melanjutkan ceritanya.

“Rasanya sakit mendengar dia mengatakan hal itu. Pikiranku sedang kacau dan aku tidak bisa mengendalikan emosi. Dan Yoona selalu ada bersamaku saat itu terjadi. Tanpa sadar aku bersikap buruk padanya. Aku benar-benar bingung pada diriku sendiri. Aku merasa khawatir padanya, tapi aku justru membentaknya,” Siwon meremas rambutnya frustasi.

“Kalau begitu kau harus meminta maaf dan mengatakan apa yang kau rasakan padanya,” saran Taeyeon. Ini adalah pertama kalinya Siwon menceritakan perasaannya pada seorang gadis kepada Taeyeon.

Siwon mendesah lemah. “Haruskah?”

Tawa Taeyeon meledak karena Siwon benar-benar buta dalam masalah percintaan. Bahkan ia tidak menyadari kalau ia sudah jatuh cinta pada Yoona.

“Mengapa kau tertawa?” tanya Siwon heran.

“Aku tidak menyangka kalau jenius sepertimu ternyata bisa berbuat bodoh juga,” ejek Taeyeon.

“Mwo?”

“Kau tidak menyadari kalau kau sudah jatuh cinta pada Yoona?”

Siwon terdiam memikirkan jawaban atas pertanyaan Taeyeon. Belakangan ini pikirannya sudah dipenuhi hal itu, tapi Siwon belum bisa memastiknnya apakah itu cinta atau hanya sekedar simpati.

“Jangan menyiksa dirimu sendiri dengan bersikap seperti itu. Katakan yang sebenarnya sebelum semua menjadi semakin kacau,” lanjut Taeyeon. Tangannya menepuk-nepuk bahu Siwon, memberikan dukungannya pada sahabat yang selalu membantunya itu.

“Kau juga harus begitu,” Siwon balik memberi saran pada Taeyeon.

Gadis itu menatap Siwon dengan raut bertanya, tidak mengerti maksud ucapan Siwon.

Siwon tersenyum penuh arti. “Katakan pada Teukkie Hyung kalau kau menyukainya.”

“Mwo?” pekik Taeyeon kaget. Ia tidak menyangka kalau Siwon tahu perasaannya pada Leeteuk. Pipinya memerah karena malu. “Siapa.. siapa bilang aku menyukainya?” katanya terbata.

“Kau sendiri yang bilang aku ini jenius,” sahut Siwon bangga. Ia merasa heran mengapa hatinya tidak sakit saat mengatakan itu pada Taeyeon. Sepertinya Yoona memang telah berhasil merebut tempat Taeyeon di hatinya.

Taeyeon selalu kalah saat bicara dengan Siwon. Ia menghela napas panjang menyerah. “Jangan katakan apapun padanya, Siwon-ah. Aku selalu menyukai saat-saat bersamanya dan tidak ingin ada yang berubah karena ia tahu perasaanku.”

“Geurae, tapi jangan terlalu lama menahannya. Kau sendiri yang bilang agar jangan menyiksa diri,” Siwon mengembalikan kata-kata Taeyeon padanya. Sebuah senyum terkembang di wajah Siwon. Ada sedikit kelegaan karena membagi bebannya dengan orang lain. Juga karena ia berhasil menjawab pertanyaannya sendiri tentang Yoona beberapa waktu ini.

***

 

Yoona dan Jo Hyun tidak banyak bicara saat menata mangkuk-mangkuk berisi lauk dan sayuran di meja altar. Dibantu oleh Nyonya Seo, pekerjaan itu memakan waktu yang tidak terlalu lama. Persiapan upacara selesai saat tulisan doa terakhir diletakkan di meja altar. Jo Hyun memandang hasil karya mereka dengan puas, tapi Yoona merasa ada yang kurang.

“Mengapa tidak ada foto bibimu?” tanya Yoona.

“Mwo?” Jo Hyun sedikit bingung menjawab pertanyaan Yoona. Biasanya memang mereka memasang foto bibi Jo Hyun. Tetapi untuk kali ini mereka sengaja tidak memasangnya karena Yoona datang ke upacara itu. “Tidak perlu, kami sudah melihatnya dengan hati kami,” jawab Jo Hyun ragu, sedikit takut kalau Yoona tidak mempercayai alasan konyolnya.

Yoona tersenyum mendengar alasan aneh Jo Hyun, tapi tidak membahasnya lagi. “Ah, siapa nama bibimu? Aku ingin menuliskan sebuah doa untuknya,” kata Yoona tiba-tiba.

Jo Hyun bimbang akan menjawab pertanyaan Yoona atau tidak. Akan mencurigakan kalau ia menolak untuk menjawab, tapi ia tidak mau mengambil resiko kalau rahasianya akan terbongkar. “Seo Yoon Joo,” gumam Jo Hyun pada akhirnya.

“Yoona, kau kah itu?” seru seseorang yang baru datang bersamaan dengan jawaban Jo Hyun.

Yoona dan Jo Hyun berbalik menyambut orang itu. Ternyata Seo Yoon Jae, ayah Jo Hyun sekaligus kepala Hyundai International Highschool, yang baru pulang bekerja.

“Anyeonghaseyo, Kepala Sekolah,” sapa Yoona ramah. Di sekolah ia sama sekali belum pernah bertemu dengan Seo Yoon Jae.

“Sudah lama kita tidak bertemu. Kau sudah besar sekarang,” ucapnya sambil menepuk lengan Yoona. “Kami sangat berterima kasih atas bantuanmu saat di New York dulu.”

“Saya senang bisa membantu,” balasnya. “Saya turut berduka cita atas meninggalnya adik Anda.”

Yoon Jae tersenyum kecut. Hatinya sakit melihat Yoona tumbuh begitu mirip dengan Seo Yoon Joo, adiknya. Wajar saja jika mereka sangat mirip karena Yoona adalah putri kandungnya. Dengan kata lain, Yoona adalah keponakan Seo Yoon Jae. “Terima kasih. Kita akan memulai ritualnya sebentar lagi.”

“Ne, Appa. Kami juga akan berganti baju,” kata Jo Hyun. Lagi-lagi ia menarik Yoona pergi sebelum Yoona merasa ada yang aneh dengan sikap ayahnya di pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun.

Yoona sendiri merasa sedikit heran mengapa Jo Hyun mengajaknya ke ritual jesa yang biasanya dikhususkan untuk keluarga saja. Tapi Yoona tidak mau berprasangka macam-macam. Dengan keramahan yang ditunjukkan keluarga Seo padanya sudah cukup menjadi alasan baginya untuk tetap tinggal dan mendoakan salah satu anggota keluarga mereka. Yang sebenarnya juga keluarganya.

Seo Yoon Jae yang masih berdiri di depan meja altar tersenyum memandang kumpulan doa yang tersusun di sana. “Yoon Joo-ya, kau lihat? Putrimu hadir dan mendoakanmu hari ini. Dia sangat cantik dan mirip denganmu. Berbahagialah di sana,” ucapnya lirih.

***

 

Donghae berjalan menuruni tangga rumahnya dengan agak tergesa. “Appa,” panggilnya sambil mengetuk pintu sebuah ruangan yang merupakan ruang kerja ayahnya di rumah. Tidak ada jawaban. Donghae melirik jam di tangannya. Biasanya sang ayah sudah pulang ke rumah. “Apa Appa belum pulang?” gumamnya seraya membuka pintu ruangan ayahnya.

Lampu ruangan itu masih padam. Setelah memastikan ayahnya memang belum pulang, Donghae menyalakan lampu dan mendekat ke meja kerja ayahnya. Di sana ada beberapa dokumen yang terbuka. Tidak biasanya Appa membiarkan mejanya berantakan seperti ini, pikir Donghae. Dia iseng membolak-balik dokumen itu karena membaca judulnya. Dokumen itu berisi seluk-beluk A Grup yang membuat Donghae bingung. “Apakah Appa akan melakukan audit pada A Grup? Appa sungguh berani,” pujinya pada sang ayah mengingat ia tahu betapa besar pengaruh A Grup di Korea.

“Anak nakal, apa yang kau lakukan di sana?” bentak Jaksa Lee yang tiba-tiba muncul di pintu. “Diam di sana!” perintahnya sambil berjalan mendekati Donghae.

“Appa, aku tidak melakukan apapun,” Donghae kembali meletakkan dokumen A Grup ke meja. “Aku hanya ingin mengmbil kembali kartu kreditku.”

Sebuah jitakan mendarat di kepala Donghae. Tidak begitu keras memang, tapi cukup untuk membuat Donghae meringis kecil. “Berani-beraninya kau!”

Donghae menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan memasang wajah memelas. “Aku sudah menjalani hukuman selama satu minggu, Appa. Itu adalah minggu terberat dalam hidupku.”

Jaksa Lee boleh jadi sangat keras dengan musuh-musuhnya, tetapi pada putranya yang sangat nakal, ia justru terlalu lembek. “Berjanjilah untuk tidak menggunakannya seperti dulu,” katanya memperingatkan.

“Kali ini aku akan menggunakannya dengan bijkasana,” janji Donghae. Senyumnya melebar saat ayahnya membuka dompet mengambil sebuah kartu kredit. Pantas saja aku tidak menemukannya di sini, ternyata Appa menyimpannya di dalam dompetnya, batin Donghae. “Target Appa berikutnya adalah A Grup?” Donghae mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum ayahnya bicara macam-macam untuk menasihatinya.

Kegiatan Jaksa Lee terhenti sejenak karena Donghae mengetahui rencananya yang terbilang rahasia. Dia memandang dokumennya yang tertinggal di meja dan menyalahkan dirinya karena telah ceroboh. “Sebaiknya kau tidak mengatakan hal ini pada siapapun,” ancamnya. Ia menyerahkan sebuah kartu kredit yang diterima Donghae dengan penuh rasa syukur.

“Tentu saja aku akan merahasiakannya, Appa. Aku adalah anak yang berbakti,” Donghae menyombongkan diri. “Tapi apa yang akan terjadi pada A Grup setelah Appa memeriksa mereka?” tanya Donghae ketika teringat pada Yoona.

Jaksa Lee heran melihat Donghae tiba-tiba ingin tahu tentang pekerjannya. “Kalau semua rumor tentang A Grup yang selama ini beredar terbukti kebenarannya, maka keluarga Im kemungkinan besar akan kehilangan semua asetnya karena merekalah pemilik A Grup. Jika Presdir Im terbukti bersalah, tentu saja dia akan dipenjara. Mengapa kau bertanya?”

“Hanya penasaran saja,” gumam Donghae. “Appa, aku pergi dulu. Annyeong.” Donghae pergi meninggalkan ayahnya yang mulai sibuk membereskan dokumen-dokumennya. Apa Yoona tahu tentang ini? pikirnya.

***

 

Yoona berbaring miring setelah bolak-balik berganti posisi di ruang kesehatan. Seharusnya ia senang karena tidak perlu mengikuti pelajaran lantaran Guru Kang mengusirnya untuk beristirahat setelah melihat wajahnya terlihat pucat. Tetapi matanya tidak juga mau terpejam meski tubuhnya terasa lemah.

“Apa yang terjadi denganku? Mengapa jadi begini?” racaunya. Matanya membulat saat mendengar dua orang yang tengah berbicara masuk ke ruang kesehatan. Sesaat sebelum dua orang itu sampai, Yoona memejamkan kedua matanya pura-pura tertidur.

“Jadi kau sudah memutuskan?” tanya suara wanita yang Yoona yakini sebagai Dokter Song. Sekedar informasi, Hyundai benar-benar membuktikan kualitasnya dengan menempatkan dokter profesional di ruang kesehatan mereka.

“Saya belum yakin. Saya hanya sedang mempertimbangkan saja,” balas suara yang lain.

Bagaimana aku bisa melupakannya kalau terus-terusan berada di dekatnya, keluh Yoona dalam hati saat mengenali suara Siwon yang sedang berbicara dengan Dokter Song.

“Aku benar-benar mengharapkan kau masuk kedokteran, Choi Siwon. Dengan otakmu, kau bisa mengambil spesialis dalam beberapa tahun,” tampaknya Dokter Song sedang merayu Siwon untuk mengikuti jejaknya. “Aku akan mengambil beberapa formulir dari universitas di Jepang untukmu. Sepertinya ketinggalan di mobil. Kau tunggu di sini sebentar,” Dokter Song tidak membiarkan Siwon kesempatan untuk menolak tawarannya.

“Dia sangat terobsesi padaku sepertinya,” gumam Siwon setelah Dokter Song keluar. Pandangannya menyapu mengelilingi ruangan itu dan sedikit heran melihat Yoona tengah tertidur di salah satu ranjang. Siwon lalu mendekati ranjang itu dan memperhatikan Yoona yang pura-pura terlelap.

Merasa Siwon mendekatinya, tubuh Yoona sedikit menegang. Sebisa mungkin ia menahan dirinya agar tidak membuat gerakan yang mencurigakan. Ia bahkan menahan napasnya. Apa yang mau dilakukannya? batin Yoona.

Siwon menarik sebuah bangku ke samping ranjang Yoona dan duduk di sana. Tanpa sadar, bibirnya membentuk sebuah senyuman saat melihat wajah cantik di depannya. Benar apa kata Taeyeon bahwa ia telah jatuh cinta. “Kenapa kau pergi saat aku belum selesai bicara?” kata Siwon pelan saat teringat pertemuan mereka terakhir kali. Ia meraih tangan Yoona dan menggenggamnya.

“Sunbae?” Tanpa sadar mata Yoona langsung terbuka lebar ketika tangan Siwon menggenggam tangannya.

“Kau tidak tidur?” tanya Siwon kaget bercampur heran karena Yoona terbangun.

Yoona bangun dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang. “Mengapa Sunbae memegang tanganku? Aku bahkan pura-pura tidur agar tidak bertemu denganmu,” gerutunya.

Siwon tertawa tanpa suara mendengar Yoona yang begitu jujur. “Kau bahkan memelukku, tapi aku tidak pernah protes,” sahut Siwon tidak terima.

Wajah Yoona memanas dan ia yakin sudah muncul rona merah di sana. Cepat-cepat ia menutup wajah dengan kedua tangannya. “Jangan berbicara tentang itu di depanku!” pintanya malu.

Siwon menarik tangan Yoona dari wajahnya dan tersenyum lembut. Kepalanya mendongak menatap mata almond Yoona. “Mianhe,” ucapnya sungguh-sungguh.

Yoona mengerjapkan matanya beberapa kali tidak percaya pada pendengarannya. “Wae?”

“Malam itu, aku tidak marah padamu,” ucap Siwon.

“Geundae…”

“Aku marah pada diriku sendiri,” potong Siwon. Kali ini ia tak ingin membiarkan Yoona salah paham padanya lagi. “Belakangan ini ada banyak hal yang menggangguku, lalu kau datang dengan berita itu. Aku hanya marah karena tidak bisa berbuat apapun untuk ibuku.”

“Sunbae tidak marah padaku karena baru menyampaikan pesan itu?” tanya Yoona hati-hati.

Genggaman Siwon di tangan Yoona menguat. Kepalanya menggeleng pelan. “Mianhe karena telah membentakmu. Biasanya aku begitu saat khawatir.”

Sebuah senyum malu menghias wajah Yoona. Benarkah apa yang baru saja ia dengar? Siwon khawatir padanya? Kebahagiannya tiba-tiba saja diganggu oleh getaran telepon di sakunya. Dengan cepat Yoona mengambil dan membaca nama pemanggil yang tertera di layar ponselnya. Jong Woon Oppa? pikirnya heran. “Yeobseyo, Oppa,” Yoona menjawab panggilan di ponselnya.

Siwon mengernyit heran melihat raut wajah Yoona yang terkejut saat menerima panggilan itu lalu berubah panik. Setelah beberapa saat, tangan Yoona perlahan turun dari sisi kepalanya dan jatuh di pangkuan.

“Sunbae, otteokhe?” katanya lemah.

Siwon mengambil ponsel Yoona dan memeriksa layarnya. Panggilan dari Jong Woon itu belum berakhir. Cepat-cepat ia menempelkan ponsel Yoona di telinganya. “Hyung, ini Siwon. Apa yang terjadi?”

Saat akhirnya ia mengakhiri pembicaraannya dengan Jong Woon, ekspresi Siwon menjadi tidak jauh berbeda dengan Yoona. Namun Siwon jauh lebih tenang.

“Sunbae, otteokhe?” ulang Yoona panik. Matanya sudah berkaca-kaca karena pembicaraannya dengan Jong Woon.

“Tenangkan dirimu dulu,” Siwon mengusap pipi Yoona.

Yoona menatap Siwon putus asa. “Bagaimana bisa aku tenang?” Ia bangun dari duduknya dan berjalan panik hendak keluar dari ruang kesehatan.

“Chakkaman,” Siwon bangkit meraih tangan Yoona dan menahannya. “Kita pergi bersama.”

Yoona pasrah membiarkan Siwon menariknya pergi. Setengah berlari mereka menelusuri koridor yang sepi karena siswa lain masih ada di dalam kelas. Tangan Yoona berubah dingin dalam genggaman Siwon. Dari ujung koridor, tiba-tiba Leeteuk muncul dan memanggil Siwon. Mereka berdua berhenti dan menghampiri Leeteuk.

“Kau ke mana saja? Guru mencarimu,” ujar Leeteuk begitu Siwon berhenti di depannya.

“Hyung, pinjamkan mobilmu,” kata Siwon dengan napas memburu, mengacuhkan pertanyaan Leeteuk yang mengernyit heran.

Leeteuk terlihat ragu tapi tangannya meraih kunci mobi di sakunya. Rasa herannya bertambah karena mereka terlihat panik. Pandangannya turun ke tangan Siwon dan Yoona yang saling bertautan. “Ada apa?”

Siwon merebut kunci mobil dari tangan Leeteuk. “Aku pinjam dulu. Akan kukembalikan nanti. Ah, katakan pada guru kalau aku sakit, eoh. Gomawo,” pesannya lalu meninggalkan Leeteuk yang penasaran karena tingkah mereka.

***

 

Jong Woon berkali-kali melihat waktu di jam tangannya. Meski wajahnya terlihat tenang, hatinya sangat khawatir. Tak berapa lama, terdengar suara gaduh dari pintu apartemennya. Seseorang telah menggedor-gedor pintu itu padahal di sana sudah terpasang bel dan interkom. Jong Woon lalu berjalan melewati ruangan menuju ke pintu.

“Akhirnya kalian datang,” katanya lega begitu membuka pintu dan melihat Yoona datang bersama Siwon.

“Oppa, apa yang terjadi?” tanya Yoona panik.

“Masuklah dulu,” Jong Woon membuka pintu lebih lebar mempersilakan keduanya untuk masuk. Dengan anggukan kepalanya, Jong Woon mengisyaratkan Yoona dan Siwon untuk duduk di ruang tamu.

“Oppa, di mana Yuri Unnie?” kata Yoona tidak sabar. Ia menolak untuk duduk dan tetap berdiri.

Jong Woon mengangguk paham. Ia berjalan ke seberang ruangan diikuti oleh Siwon dan Yoona. Mereka berhenti di sebuah pintu. Begitu pintu terbuka, Yoona langsung menghambur masuk dan mendapati Yuri tengah berbaring terlelap di tempat tidur. Satu tangannya dipasangi selang infus.

“Pagi tadi Yuri mencoba bunuh diri dengan menelan beberapa butir obat tidur. Seharusnya keadaannya sudah membaik karena dokter sudah mengeluarkan semua isi perutnya. Hanya saja di tubuhnya masih dipengaruhi alkohol semalam. Itu yang membuatnya agak mengkhawatirkan,” jelas Jong Woon.

Tangan Yoona membekap mulutnya, menahan teriakan kaget yang siap keluar dari tenggorokannya. Yoona dan Yuri dibesarkan di lingkungan yang cukup religius yang menganggap bunuh diri adalah dosa besar. Pastilah Yuri mengalami tekanan yang sangat besar hingga berpikir bunuh diri adalah jalan keluar.

“Aku tidak bisa membawanya ke rumah sakit dan memberitahu orang tua kalian mengenai ini karena pasti akan lebih menyusahkan nantinya,” lanjut Jong Woon. “Ada pekerjaan yang harus kutangani sekarang, jadi aku memintamu untuk datang dan menjaganya, Yoona-ya.”

Yoona hanya mengangguk mengiyakan. Ia masih bertanya-tanya mengapa Yuri mencoba bunuh diri. “Mengapa Unnie melakukannya?” tanyanya dengan suara bergetar.

Jong Woon menghela napasnya sejenak. Butuh tiga detik sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Yoona. “Sebaiknya kau tanyakan sendiri padanya. Aku tidak punya hak untuk mengatakannya padamu.”

Sebuah desahan kecewa keluar dari mulut Yoona. Ia merasakan tangan Siwon meremas bahunya memberi dukungan. Sebesar apapun kemarahannya pada Yuri, Yoona tidak bisa menampik kenyataan kalau ia sangat menyayangi kakanya. Hatinya sakit melihat Yuri menahan bebannya sendiri.

“Kapan kau kembali, Hyung?” tanya Siwon yang sejak tadi terdiam.

“Mungkin sore nanti aku sudah kembali. Kalau kalian lapar, cari saja makanan di dapur. Aku akan pergi sekarang,” pamitnya. Tatapan Jong Woon beralih pada Yoona. “Berhenti bersikap saling mengacuhkan. Saat ini kau dan Yuri harus berada di kapal yang sama,” nasihatnya. Jong Woon kemudian keluar dari kamar dan menutup pintu kembali.

Siwon membalikkan tubuh Yoona hingga mereka saling berhadapan. Kedua tangannya masih berada di bahu Yoona. “Jong Woon Hyung bilang Yuri baik-baik saja. Kau jangan khawatir.”

Kepala Yoona tertunduk. “Apa yang ada di pikirannya? Seharusnya aku yang ingin bunuh diri,” isaknya lirih. Satu tangannya berusaha menyeka setetes air mata yang turun ke pipinya.

Dalam sekejap Siwon sudah merengkuh Yoona ke dalam pelukkannya. Tangannya mengusap punggung gadis itu dan membiarkannya menangis di dadanya. Ia tak peduli seragamnya basah terkena air mata dan ingus karena tangisan Yoona. Siwon hanya berharap bisa menjadi tempat bersandar bagi Yoona setiap saat gadis itu limbung.

 

Sepanjang siang Yoona dan Siwon hanya menghabiskan waktu dengan duduk diam dan melamun. Yuri belum juga bangun karena efek obat penenang yang sepertinya masih bekerja. Yoona duduk memeluk lutut di balkon sedangkan Siwon berada di ruang tamu. Saat jam makan siang hampir habis, barulah Siwon beranjak ke dapur mencari makanan.

Yoona yang masih melamun menatap kota dari ketinggian sedikit terkejut saat Siwon menyodorkan sepotong sandwich padanya. Karena Yoona hanya diam dan tidak mau menerima pemberian itu, Siwon akhirnya duduk di sampingnya.

“Haruskah aku menyuapimu?” tawarnya yang membuat Yoona tersenyum.

“Sunbae, pergilah. Aku bisa menjaga Yuri Unnie sendiri,” kata Yoona. Dia merasa tidak enak harus melibatkan Siwon dalam urusan keluarganya. Terlebih ia sudah berniat menjauh dari Siwon.

Sandwich di tangan Siwon akhirnya diletakkan begitu saja di meja. Siwon ingin mengatakan apa yang ia rasakan pada Yoona, tapi ia tidak cukup percaya diri. Apalagi melihat sikap Yoona yang semakin menunjukkan kalau rasa sukanya pada Siwon tidak sebesar dulu.

“Jadi kau benar-benar ingin menjauhiku?” tanya Siwon. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Yoona mengangguk dan menurunkan kakinya dari kursi. “Sunbae tidak menyukaiku, jadi aku harus menjauh. Setelah menyampaikan pesan Hye Won Ahjumma, aku tidak punya alasan untuk ada di dekatmu lagi. Apalagi Sunbae menyukai orang lain,” papar Yoona.

Siwon merutuki Yoona yang selalu salah mengambil kesimpulan. Bagaimana bisa semua perhatiannya pada Yoona dianggap sebagai tidak menyukai? Mungkin caranya salah, tapi tidak bisakah Yoona melihat itu dari sudut pandang Siwon?

“Paboya,” Siwon mengetuk kening Yoona pelan. Semoga dengan begitu otak Yoona bisa berfungsi lebih baik. “Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?”

“Memang harus bagaimana lagi?”

“Mengapa kau harus menjauhiku? Bukankah kau bilang menyukaiku? Apa itu tidak cukup untuk terus berada di dekatku?”

Tubuh Yoona menegang mendengar ucapan Siwon. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum menatap Siwon di sampingnya. Benarkah Siwon sedang memintanya untuk tetap tinggal di sisinya?

Sebuah senyum tersungging di bibir Siwon. Ia beranjak dari kursi lalu berjongkok di depan Yoona. Satu tangannya meraih tangan Yoona dan menggenggamnya. “Bagaimana bisa kau berpikir orang yang membentakmu karena khawatir itu tidak menyukaimu? Apa kau pikir aku akan peduli pada orang yang tidak kusukai? Aku bahkan mengikutimu dan Donghae saat dia mengantarmu pulang. ”

Penuturan Siwon sukses membuat mulut Yoona melongo tidak percaya. Kepalanya sedikit menunduk untuk dapat melihat langsung ke mata Siwon. Adakah kebohongan di sana? Tidak. Yoona hanya menemukan sorot teduh yang begitu tulus dari mata itu.

“Jinjayo?” mulut Yoona hanya mampu mengatakan satu kata tadi. Jantungnya sudah siap meloncat keluar karena terlalu gembira.

Dengan tangannya yang bebas, Siwon mengacak rambut Yoona. “Apa aku terlihat seperti sedang berbohong?”

Yoona menghambur memeluk Siwon yang ada di depannya. Siwon yang berjongkok sedikit kesulitan untuk menjaga keseimbangannya setelah manuver Yoona yang begitu tiba-tiba. Kakinya tidak cukup kokoh untuk menahan tubuhnya dan tubuh Yoona hingga ia terjengkang ke belakang. Siwon jatuh berbaring dengan Yoona di atasnya, masih memeluk erat lehernya. Wajahnya terbenam di dada Siwon.

“Aah,” rintih Yoona.

“Gwenchana?” tanya Siwon khawatir. Kepalanya sedikit berdenyut karena menghantam lantai.

“Gwencahana.” Yoona melepas pelukannya dari leher Siwon dan cepat-cepat bangkit. Tangannya terulur untuk membantu Siwon berdiri. “Mianhe,” ucapnya dengan penuh penyesalan.

Siwon menepuk bagian belakang bajunya yang sedikit terkena debu saat terjatuh. “Wae?”

“Karena aku telah merusak momen romantis kita.”

Kegiatan bersih-bersih Siwon terhenti karena ucapan Yoona. Sesaat kemudian ia tergelak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Apa yang Sunbae tertawakan?” kata Yoona heran.

“Sebenarnya apa yang ada di otakmu?” balas Siwon setelah tawanya reda.

Yoona merengut kesal karena menyadari Siwon menertawainya. Tapi itu hanya bertahan sebentar lantaran senyumnya kembali merekah saat Siwon memeluknya.

“Jangan pernah menjauh atau menghindariku, eoh?” bisik Siwon yang dijawab Yoona dengan anggukan. Ia merasakan tangan Yoona semakin erat memeluk pinggangnya. Siwon tidak bisa mencegah senyum bahagianya. Rasanya lebih bahagia daripada saat ia berhasil melakukan home run dan membuat timnya menang, atau saat ia mencetak poin terbanyak saat pertandingan basket. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu ada di samping Yoona dan mendukungnya. Setelah bertahun-tahun berkutat dengan perasaan sedih dan penyesalan, Siwon tidak menyangka dapat meraih kebahagiaan dalam waktu sesingkat dan sesederhana ini.

 

TBC

Akhirnya selesai juga part ini *lapkeringet. Bosankah kalian membaca part ini? Moga2 si enggak *ngarep. Apakah alurnya terlalu lambat? memuaskan atau gimana? Pokoknya saya menunggu komentar2 reader semua untuk perbaikan di part selanjutnya. Makasih sebelumnya buat yang komentar.

Oiya, kemungkinan part 7 nanti bakal saya protect. Kalo saya ada pulsa sama kuota internet pasti saya kasih deh pwnya.

Jangan lupa RCL yaa…

Untuk Echa/Resty terima kasih buaannyaaak karena udah posting ff ini. *peluksatu2. Tanpa kalian ff saya ini ngga akan mungkin ada di dunia. hehehe

 

Iklan
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

313 Komentar

  1. Nonaranun

     /  Desember 15, 2014

    yeeee akhirnya siwon nyadar jga dia sukA ma Yoona

    Balas
  2. Nhiina

     /  Januari 26, 2015

    yeeee . . akhirnyaa yoonwon jadian juga . .
    tapi setelah wonppa mengetahui semuanya , apakah wonppa akn membenci yoong eonn ? ?
    aku berharapnya sih enggak !!

    Balas
  3. Novi

     /  Februari 9, 2015

    Yee..
    Akhirnya siwon nyadar perasaannya sama yoona…
    Lanjut thor…

    Balas
  4. Cha'chaicha

     /  Februari 9, 2015

    Yey yoonwon jadian..

    Balas
  5. Zhahra

     /  Maret 6, 2015

    Ahhhhh….akhirnya yoonwon berani ngumkapin perasaan masing”….
    Biasanya siih langsung end kan…
    Tpi pasti msih ada konflik lgi dah….
    Tpi gag pa” dah…ttep aku suka eonni…
    Buwat yoonwon apa siih yg gag..

    Balas
  6. Hulda Nited

     /  April 26, 2015

    Akhirnya siwon sadar juga..ciee yoonwon…

    Balas
  7. selvarospiyanti

     /  Mei 13, 2015

    Aaah seneng ahirnya wonppa nyatain jga klo wonppa suka sma yoona,

    Balas
  8. raratya19

     /  Oktober 18, 2015

    finally yoonwon bersatu, tapi apa yang sebenarnya terjadi sama yuri? semoga yoonyul bisa bersatu sebagai saudara

    Balas
  9. Almira Putri

     /  Januari 27, 2016

    Ceritannya makin seru. Moment yoonwoon. Juga malkin banyak cocweet

    Seu ceritannya thor 😀
    Fighthing

    Balas
  10. YoongNna

     /  Februari 24, 2016

    Akhrnya siwon ngungkapin jg persaannya ke yoona bhwa dia juga suka..
    Mdh2n stlh ni yuri ma yoona bsa akur dan saling menyayangi..

    Balas
  11. vitrieeyoong

     /  Maret 7, 2016

    Acieee, ngaku. Wonppa, Wonppa.
    YoonHyun sepupu? Ckup mengejutkan, dan ahh akhirnya ada yang peduli jga sma Yoong.
    Yul eonni bnr kta Joongwon brdirilah dsamping Yoong kli ini aja.
    Tkut Wonppa ntar malah bnci sma Yoong stlah tau smuanya,,
    Next!!!

    Balas
  12. nadila sari pramahesti

     /  Juli 10, 2016

    yeayy akhirnya siwon ngungkapin perasaannya seneng deh bacanya ;-).

    aigoo ternyata yoona adalah sepupu dari seohyun… makinn seruu dan penasaran deh hihi

    Balas
  13. Ayu

     /  Oktober 22, 2016

    Author part 7 nya kok ga adaaaaaaa :’|

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: