[FF] Endless love (Chapter 1)

[FF/Freelance] Endless love

Tittle               : [FF/freelance] Endless love-chapter1

Author            : Tintin305

Email/Twitter: Theartiny@gmail.com /@heartiny11

Main cast        : Im yoona, Choi siwon,

                          Im seulong, Park jiyoung

Other cast       : you can find it..

Genre                         : Family, romance, fluf, sad, friendship

Leght              : Series (on-going)

 

 

 

 

 

 

Hellu readers semua.. Tintin kembali lagi dengan new ff  yeey!!. Kali ini saya membawa ff series ini termaksud nekad juga karna jujur saya gak tau bisa ampe berchapter2 kah karya saya kali ini.. tapi yah gak ada salahnya kan  mencoba :). Saya curhat sedikit boleh yah? Ni cerita entah gimana langsung nongol begitu saya berpapasan dengan  someone  yang… *yah kalian ngerti lah*  trus entah otak saya yang  lagi eror atau  gimana  tapi  saya  bener-bener ngehayalin kisah yang di jadiin fic ini adalah cerita yang Main castnya saya sendiri hahaha.. *gila gak tuh!*.

 

Saya Harap semua memaklumi tulisan saya kali ini agak amburadul gak jelas dan makin gaje jadi  nikmatilah bahan bacaan kalian kali ini 🙂

^Don’t Forget To RCL^

^Sorry If  You’re Find Typo^

Happy Reading^^

 

 

 

 

Jalanan kota saat itu terlihat legang hanya beberapa kendaraan yang berlalu lalang melintasi jalan besar kota busam. malam semakin larut tapi tidak menyurutkan niat yeoja kecil ini untuk sekedar menghentikan langkah dan beristirahat sejenak mengingat hampir dua jam lamanya ia berjalan mencari  keberadaan kedua orang tuanya yang entah dimana adanya.

 

Ia terpisah sekitar dua setengah  jam yang lalu saat berada di terminal kota. Ia masih begitu kecil untuk bisa mengingat dimana tempat terakhir kali ia bersama kedua orang tuanya. Ia bukan juga gadis kecil yang bisa dengan mudah berbaur dengan lingkungan baru yang mungkin bisa memudahkanya bertanya tentang keberdaan ibu nya atau sekedar meminta pertolongan untuk bisa kembali bertemu dengan ibu dan ayahnya.

 

tapi satu hal yang sangat di ketahuinya, rumahnya sangat jauh dari sini ia tak tahu di mana tepatnya atau mungkin nama daerah dimana rumahnya berada.  bukankah jelas dia masih begitu kecil atau mungkin perlu penambahan dia gadis kecil berusia kurang dari 4 tahun berjalan sendiri di tengah malam di sebuah kota yang memang tak  terlalu besar tapi untuk ukuran anak kecil sepertinya ini adalah masalah besar.

 

“ibu.. ayah..”

 

Ia terduduk  lemah  di  trotoar  jalan merasa lelah dan  ketakutan, di malam yang gelap sendirian di tepian jalan sungguh pengalaman pertama yang tak menyenangkan. Menangis pun rasanya percuma meskipun ia masih begitu kecil ia bukan anak yang bodoh, dia dilahirkan di keluarga yang terpandang dan mempuni di bidang ekonomi ia masih bisa mengingat dengan jelas wajah kedua orang tuanya kecerobohanya memang memilih mengikuti seseorang yang jika dilihat sekilas postur tubuhnya persis seperti sang ayah hingga membuatnya tersesat sejauh ini.

 

“hey.. nak  kenapa kau  sendirian di sini”

Suara lembut seseorang menyadarkan keterpakuanya. Gadis kecil itu mendongak dengan wajah lesuh terlalu lelah berjalan sedari tadi.

 

“kemana ibu mu?” wanita itu duduk menanti jawaban atas pertanyaan yang di lontarkanya barusan

“aku tak tahu” gadis itu menjawab tak kalah lesuh

 

“kalau begitu ikutlah dengan ku,  ini sudah begitu larut tidak baik sendirian seperti ini”

 

Gadis itu mengeleng pelan-menolak ajakannya

 

“aku janji besok kita cari ibumu bersama-sama bagaimana?”

 

“aku ingin bertemu ibu sekarang”

 

Wanita  itu mendesah  kecewa, ia mengerti perasaan gadis kecil ini hanya saja tetap menunggu di jalan seperti ini di malam yang terus bergerak cepat dan membiarkanya tetap menunggu selama itu bukan ide yang baik.

 

“kalau begitu boleh aku tahu namamu?”

 

Gadis itu terdiam seperti sedang berfikir namun beberapa detik kemudian  mengeleng

 

“margamu?”

 

Gadis itu kembali mengeleng

 

“sepertinya ini akan sangat rumit,  kita harus ke kantor polisi lebih dulu tapi sebelum itu kau perlu istirahat kau nampak lelah,  ikutlah denganku,  rumah ku tak terlalu jauh dari sini”

 

Gadis kecil itu menoleh menatap wanita paruh baya  yang tengah nenenggadahkan tangan di depanya. Dengan sedikit keberanian ia menyambut uluran tangan itu sedikit takut memang bagaimana pun ia tidak mengenal wanita itu tapi takkan ada salahnya untuk mencoba mengikuti saran wanita tadi lagi pula ia tak punya pilihan lain ia sudah terlalu lelah berjalan dan rasanya kini  ia mulai mengantuk.

.

 

.

 

.

 

“Ibu..!!”

 

Terbangun dari mimpi buruknya gadis kecil itu menyadari jika ia kini berada di sebuah ruangan yang cukup asing. Ia menolehkan setiap pandanganya ke penjuru ruangan bercat biru tua itu, begitu banyak poster-poster kartun anime yang tertancap rapi di sekelilingnya. Ini jelas bukan kamarnya lalu ada di mana dia sekarang?.

 

“kau sudah bangun!”

Cukup lama terdiam mencoba memahami situasi yang mengharuskanya berada di tempat yang begitu asing, hingga beberapa detik kemudian  Ia tersentak begitu mendengar suara bocah laki-laki yang mungkin 5 tahun lebih tua darinya itu berjalan  mendekat.

 

“aku ingin ganti baju.. aku tak bermaksud mengusirmu, tapi  ini kamarku, kau bisa keluar sebentar,  sarapan dengan anak-anak yang lain”

 

Gadis kecil itu masih diam menatap wajah bocah laki-laki itu dengan tatapan polosnya

 

“kau ingin melihatku mengganti baju?”

 

Begitu sadar dengan maksud bocah itu  dia, si gadis kecil itu mengeleng cepat dan turun dari ranjang beranjak keluar.

 

 

“oh? Kau sudah bangun nak” wanita paruh baya yang dia ingat betul itu adalah wanita yang sama yang membawanya kemari berjalan merangkulnya seperti akan menuntunya ke suatu tempat.

 

“kau sarapanlah dengan teman-temanmu yang lain” wanita itu menuntunya untuk  duduk di sebuah kursi kosong tepat di depan meja berbentuk oval yang cukup panjang.

 

Gadis itu tak menjawab ia diam sembari menunduk menyembunyikan wajahnya dengan rambutnya yang tergerai jatuh. Terlalu takut untuk sekedar mengangkat kepala bertatap muka dengan belasan anak dengan usia beragam  yang menatapnya heran.

 

.

 

.

 

.

 

“sepertinya ini agak sulit, mencari keberedaan orang tuanya tanpa tahu nama dan marga ini benar-benar tugas yang rumit”

 

petugas kepolisian itu menatap gadis kecil yang menunduk itu sembari mendesah pelan.

 

“kau yakin sama sekali tak tahu siapa namamu nak?”

 

Gadis kecil itu kembali mengeleng. Bukan karna ia yang masih begitu kecil hingga tak tahu nama sendiri,  hanya saja jika boleh jujur ia memang sama sekali tak tahu namanya ia selalu di panggil dengan sebutan nona muda di rumah tak ada panggilan istimewa dari kedua orang tuanya karna kesibukkan keduanya yang mau tak mau mengharuskanya besar dengan didikan pengasuh. Dan ketika ia berlibur dengan  ayah dan ibunya ia malah kehilangan jejak mereka.

 

“saya akan berusaha mencari keberadaan orang tuanya. Karna sampai saat ini belum ada laporan kehilangan, tapi begitu ada yang melapor telah kehilangan anaknya maka kami akan segera menghubungi anda” polisi itu beralih menatap wajah wanita yang sedari tadi ikut duduk mendampingin gadis kecil itu

 

“baiklah sekali lagi terima kasih” dengan membungkukkan sedikit badanya wanita  itu beralih menggenggam lengan gadis kecil yang duduk manis tepat di sampingnya kemudian beranjak keluar dari kantor kepolisian dimana tadinya mereka berharap akan langsung mendapat titik terang keberadaan orang-tua dari anak yang sedari tadi tanganya ia genggam erat.

.

 

 

.

 

 

.

 

Seminggu sudah ia tinggal di panti itu, Panti yang memang cukup kecil di banding banyaknya anak yang  menempatinya.  Ia sudah cukup menunggu selama seminggu tapi tak ada kabar tentang  keberadaan kedua orang tuanya. Sungguh ia  merasa tak nyaman dengan tempat ini.  di panti itu, begitu banyak anak, begitu banyak orang,  tempat yang begitu bising dan dia paling benci keramaian terlebih kebisingan.

 

Jika begitu banyak wahana permainan di taman belakang  ia akan lebih memilih untuk berdiam diri menyaksikan sekumpulan anak- anak panti itu bermain dengan wajah- wajah bahagia. Terkadang ia iri dulu ia juga sempat tersenyum seperti itu,  dulu jika ia ingin bermain akan begitu banyak penjaga rumah serta beberapa pengasuh yang menjadi teman bermainya dikala bosan. Tapi kini ia begitu jauh dari rumah sangat jauh-mungkin…

 

“aku harus pulang”

Ia berguman sambil terus berfikir cara untuk bisa pergi dari sini dan kembali pulang kerumahnya.  Dengan Sesekali melirik keadaan panti malam itu ia berjalan pelan jam memang masih menunjukkan pukul 20 KST tapi panti  agak sedikit sepi dari biasanya mungkin semua sedang bergelut dengan makan malam mereka masing – masing atau apalah ia tak terlalu memikirkanya yang terpenting adalah keluar dari tempat itu dan pulang kerumah.

 

Ia memilih melewati pintu belakang terlalu beresiko jika pergi melewati pintu depan. Dengan langkah hati –hati ia melewati jendela panjang di mana ia yakini di dalamnya ada begitu banyak anak yang tengah menunggu makan malam.

 

“ hey!! nak?.. kau mau kemana?”

Langkahnya terhenti sejenak  ia tahu suara itu, bisa dia pastikan itu suara  Im yoong-eun wanita  yang selama seminggu ini mengurusnya dan wanita yang mengajaknya untuk tinggal sementara di panti itu, Panti miliknya.

 

Tapi tak ada waktu lagi ia harus segera pulang ia merindukan rumah terlebih ibu dan ayahnya ia sangat merindukan keduanya.

 

Dengan sedikit berlari ia keluar dari halaman panti itu tanpa melihat sekeliling jalan besar itu ia tetap berlari sekuat tenaga karna ia tahu saat ini ada beberapa orang yang ikut mengejarnya. Tanpa tahu dari arah kanan sebuah mini bus melaju dan tak bisa mengontrol kecepatan kemudinya hingga  membuat tubuhnya terpental jauh.. sangat jauh,  ia tertabrak.

 

begitu banyak darah yang keluar dari pelipisnya ia tak sadarkan diri kejadian itu begitu cepat beberapa orang yang ikut mengejarnyapun tak bisa berbuat apa-apa hanya rasa shok dan  terdengar pula teriakan kecil dari beberapa wanita yang ikut menyaksikan tubuh mungil yeoja kecil yang terpental begitu jauh dari tempatnya berlari.

.

 

 

 

.

 

 

 

 

.

 

 

Gadis kecil itu kembali termenung seperti biasa ia akan memilih menyendiri di bandingkan harus berbaur dengan beberapa anak yang mengajaknya ikut bermain. Bukan nya tak mau bermain, dengan keterbatasanya saat ini akan sangat susah untuknya bermain. Ini sudah sekitar 3hari sejak ia keluar dari rumah sakit dan satu minggu tiga hari ia terpisah dari ibunya.

 

“ jika mengingat sekeras apa tubuhnya terhantam, kita masih bisa bersyukur anak ini masih di beri keselamatan”

 

Tanpa sadar setets iar merembes jatuh mengaliri pipi mulusnya teringat perkataan dokter sehari setelah operasi di bagian kepalanya usai.

 

“ tapi kami sungguh  minta  maaf  karna  sepertinya gadis kecil ini telah mengalami kebutaan”

 

Yah, dia buta keterbatasanya kini adalah kebutaanya ia hanya bisa mendengar tapi akan sangat sulit baginya untuk melihat. Dunianya kini hanya tersisa kegelapan. Semuanya gelap lari dari panti inipun takkan ada lagi gunanya,  ia sudah tak bisa melihat. selamanya dunianya akan terus gelap ia takkan pernah bisa pulang, jikapun ia pulang hanya akan ada nona muda yang buta dan ia tahu pasti ini akan menjadi pukulan besar bagi kedua orang tuanya.

 

“jangan menangis terus.. wajahmu jadi jelek sekarang”

 

Gadis kecil itu menoleh mencoba mencari sumber suara itu

 

“aku di depanmu..”

 

Ia masih tetap mempertahankan posisi kepalanya yang menoleh ke arah samping begitu malu karna ia salah memposisikan wajahnya ke arah yang seharusnya di mana suara itu berasal.

 

“kau masih ingat aku kan? Bocah lelaki yang kamarnya kau pakai selama tinggal di sini”

 

Untuk sejenak suasana kembali hening. Gadis kecil itu tampak sedikit berfikir  jelas dengan kerutan di sekitar kening nya.

 

“ahh.. paling tidak kau bisa mengenali suaraku. Kau tahu..  takkan ada orang panti yang tidak mengenal suara ku ini, suaraku begitu merdu”

 

Hening sesaat….

 

“aku seulong.. im seulong. Namamu?” bocah itu kembali mendominasi susana dengan terus mengajaknya bicara.  senyuman manis nampak terlihat di wajahnya sambil mensejajarkan tubuhnya dengan posisi gadis kecil yang tengah duduk sembari menekuk lututnya di pojok  ruang tengah itu.

 

“hey.. kau mendengarkukan? Jangan bilang sekarang  telingamu ikut bermasalah..”

 

Bocah lelaki itu nampak mulai tak sabaran melihat bagaimana gadis kecil itu tak merespon perkataanya terlebih  keberdaanya sedari tadi nampak di acuhkan.

 

“ahh.. baiklah sepertinya  kau memang  tak ingin di ganggu”

 

“aku tak punya nama..”

 

Langkah  Bocah  itu terhenti, berbalik  dari posisinya yang bermaksud pergi meninggalkan gadis kecil itu dalam kondisi yang sama, merenung.. dengan kedua alis yang bertautan binggung

 

“kau tak punya nama?”

 

Gadis kecil itu menggeleng pelan sangat pelan tanpa suara hanya dengan gelengan kepala  siapapun itu akan tahu jika jawaban yang dia berikan adalah ‘tidak’.

 

“ yoona..”

 

Dengan gerakkan cepat ia mendonggak. Meskipun tak dapat melihat,  pupil mata hitam itu  nampak bergerak liar berusaha menatap sosok bocah yang baru saja menyebutkan sebuah nama, namun entah itu siapa.

 

“artinya anak kecil tak berdosa, itu namamu sekarang” dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya seulong-bocah lelaki itu menatap wajah gadis kecil itu dengan bianaran mata bahagia dan dengan senyum yang kembali merekah.

 

“…. yoona?”  sedikit menggumam, gadis kecil itu mengulang kembali nama yang belum genap semenit itu di ucapkan.

 

“itu nama dariku.. kau tak boleh menggantinya”

 

Yoona, nama yang kini ia punya hanya terdiam. Ia  kembali menjatuhkan tatapanya kelantai dengan kondisi yang masih sama,  gelap.

 

“ahh.. iya,  Kau harus mau  mendengarku bernyanyi dengan piano.  Ku jamin kau takkan kecewa, sungguh  Suaraku  ini begitu  merdu”

 

Seulong berdiri beranjak dari pojok kiri  ruangan itu ke sisi kanan tepat  dimana sebuah piano hitam terduduk  rapi dengan beberapa figura kecil di atasnya.

 

“..naege dwidurasoji marayo…”

 

Dengan gerakan perlahan si gadis kecil itu memutar arah pandangnya ke kanan memusatkan seluruh perhatianya ketika mendengar sebuah melody bersamaan dengan suara merdu yang jelas dia tahu jika itu seulong, bocah yang dengan begitu sabar mengajaknya bicara beberpa menit lalu.

 

Dan jika saja ia bisa melihat bagaimana lihainya jemari putih kecil itu bermain diatas tuts putih dengan melody hitam  terlebih seberapa besar penghayatan yang di pusatkannya,  siapapun akan yakin jikalau ia seorang gadis remaja,  yoona nama gadis kecil  itu kini jelas akan langsung terkesima melihat bagaimana kharisma seulong itu keluar meski tak begitu mengetahui lagu apa yang tengah dinyanyikanya, yoona dalam hatinya kini  telah jelas menyimpan rasa kekaguman yang besar untuk bocah itu-Im seulong..

 

 

    Don’t turn away from me

Look into my eyes all the world is white

 

You mustn’t disappear from my life

Know that you are my light

If you leave, you take away my whole word

 

(reason-jung il young)                           

 

 

 

 

 

~20 years latter  ~

 

 

 

“pagi bu..”

 

 

“oh? Kau sudah bangun rupanya” Ny park tersenyum simpul melihat penampilan putri kesayanganya yang nampak rapi dengan mini dress coklat yang  melekat indah di badanya

 

“bagaimana aku cantik kan?” jiyoung memutar badanya memperjelas penampilanya pagi itu

 

“iya…  kau sangat cantik sayang”

 

“ benarkah?! Baguslah. Ahh ya.. kalau bagitu aku harus segera pergi pesawatnya akan segera tiba” dengan sedikit  melirik arloji yang terpampang manis di lengannya jiyoung mencium kilat  pipi Ny park  dan bergegas melangkah menuju pintu keluar.

 

“jiyoung.. ibu kan sudah bilang tak perlu menjemputnya, kau ada jadwal kuliah”

 

Jiyoung gadis berumur 20 tahun itu menghentikan langkah berbalik menatap ibunya

 

“tapi bu…  sudah lama aku ingin bertemu denganya, paling tidak biarkan aku menjemputnya” dengan sedikit memelas jiyoung menatap wajah Ny park yang juga tengah menatapnya sambil menggeleng lemah, tanda tak setuju.

 

“kau harus tetap perhatikan kuliahmu. Lagi pula malam ini ibu mengundang mereka makan malam bersama.. jadi kau harus tetap berkuliah”

 

“bu..”

 

“tidak ada penolakan. Pergilah ke kampus, supir jang sudah menunggu di depan”

 

“baiklah… tapi apa tak bisa singgah sebentar saja? bandara juga tak terlalu jauh dari sini”

 

“Park  jiyoung!!”

 

“ahh.. arra!! Aku akan ke kampus sekarang” dengan persaan dongkol jiyoung memasang sepatu kets miliknya dan sedikit menghentakkan kaki kesal bahkan bibirnya pun tak henti-hentinya  menggerutu.

 

 

 

 

 

Inceon Airport…

 

Suasana Bandara pagi itu nampak seperti biasa begitu ramai. Namja yang baru beberapa menit menginjakkan kaki di bumi kota seoul itu nampak mengedarkan pandanganya melihat sekeliling bandara hingga beberapa detik kemudian lesung pipit itu timbul di kedua pipinya ia tersenyum begitu melihat seseorang tak jauh dari tempatnya berdiri tengah melambaikan tangan.

dengan langkah di percepat namja itu berjalan lebih dekat

 

“ahh minho-ya lama tak bertemu” siwon-pria itu memeluk erat seorang namja yang kini nampak membalas pelukanya

 

“sepertinya hyung sangat merindukanku. Bagaimana  kabarmu  hyung?”

 

“aku baik.” Siwon terlihat menenggok ke arah sekitar

 

“kau sendirian saja? ibu dan  jiyoung tak ikut?” tanyanya kemudian setelah benar-benar memastikan orang yang di harapkanya ada di tempat itu tak nampak menjemputnya

 

“ahh.. ne aku sendiri,  jiyoung sedang ada kuliah dan ibu-mu sepertinya sedang ada sedikit urusan jadi  tak bisa ikut menjemput”

 

“mereka tega sekali.. apa mereka tak merindukanku”

 

Minho nampak berusa menahan tawanya melihat perubahan mimik wajah siwon bagaimana tidak?,  siwon kini nampak muram layaknya anak kecil yang terlihat sedih dengan muka polosnya tapi sungguh itulah yang membuatnya begitu lucu seorang choi siwon pria berusia 27 tahun eksekutif muda sebuah perusahaan terkenal di inggrish yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai presdir perusahaan yang juga cukup berpengaruh di asia itu malah kini nampak seperti anak kecil dengan wajah seperti itu.

 

“Ya!! Apa yang kau tertawakan?”

 

“ahh.. annio! Kajja emmonim choi sudah menunggumu”

 

Minho merangkul pelan bahu siwon mensejajarkan langkah, keduanya  bergegas berjalan masuk ke dalam mobil dan beberapa detik kemudian mobil silver itu nampak melaju membelah kota seoul yang entah mungkin  karna cuaca yang agak berawan hingga terlihat sedikit legang.

 

Siwon sedari tadi sibuk dengan fikiranya sendiri matanya bergerak liar mengamati seluk beluk seoul,  kota kelahiranya. Entah ini hanya firasanya atau memang seoul kota yang kini ia pijaki nampak banyak berubah semenjak 11 tahun lamanya ia kini bisa kembali merasakan susana sejuk kota seoul. Ia sungguh merasa tak sabaran untuk segera bertemu orang-orang terdekatnya.

 

 

“ya! Hyung tak ingin turun?”

 

 

“eoh? Kita sudah sampai?” Terlalu jauh masuk kedalam lamunanya ia bahkan tak menyadari kini mobil ferari silver minho telah masuk ke pekarangan rumahnya.

 

 

“sebenarnya apa yang hyung pikirkan? kita bahkan sudah hampir semenit sampai, aku tahu mobilku ini begitu nyaman tapi ingatalah eomma-nim choi menunggu di dalam”

 

“aishh.. dasar kau tunggu saja besok aku akan membeli mobil yang lebih mahal ketimbang mobil butut mu ini”

Setelah mengucapkan itu, Siwon melegang masuk kedalam tanpa perduli dengan minho yang kini terlihat memprotes dirinya atas hinaan pada mobil ferari kesayanganya.

 

 

“bu..”

 

“oh ya tuhan…” Ny choi yang saat itu tengah bergelut dengan beberapa tanaman rimbun di sekitar halaman belakang spontan terlonjat kaget begitu lengan kekar siwon memeluknya dari belakang.

 

“siwon-ah kau membuat ibu kaget..”

 

“waeo? tak tahukah aku begitu merindukan Ny choi ini” siwon nampak tak perduli dengan ekspresi Ny choi itu ia bahkan  menarik tubuh ibunya untuk kembali ia peluk

 

“ahh ya!” melepaskan pelukannya siwon langsung menatap ibunya itu dengan alis terangakat  “ibu.. kenapa tak menjemputku di bandara?”

 

“tadinya  ibu ingin menjemputmu tapi minho memaksa untuk tetap di rumah”

 

“tapi tadi dia bilang kalau ibu sedang ada urusan..”

 

“ahh.. itu.. karna aku tak ingin hyung bertanya lebih banyak” minho yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu itu langsung melayangakan pembelaannya.

 

“paling tidak tak perlu membohongiku” siwon melirik minho dengan tatapan tajam lalu kembali menatap ibunya

 

“ayah dimana?”

 

“dia sedang mengurus berkas-berkasmu sebelum masuk ke perusahaan”

 

“ahh.. begitu. Ya sudah bu, aku ingin istirahat dulu bangunkan aku jika ayah pulang” tambahnya kemudian beranjak pergi dari taman belakang tak menghiraukan minho yang ketika berpapasan denganya di daun pintu itu nampak ingin berbicara denganya.

 

“eomma-nim.. siwon hyung marah padaku?” minho dengan raut wajah yang jelas sangat berlebihan itu menunnjuk diri sendiri seakan tak percaya jika baru beberapa menit ia dan siwon bertemu setelah 11 tahun lamanya terpisahkan jarak kini ia nampaknya harus menerima jika siwon tengah marah kepadanya

 

“sepertinya begitu. Harusnya kau jangan berbohong padanya kau tahu sendiri dia paling benci di bohongi”

 

“astaga!! Eomma-nim ini bahkan sudah 11 tahun berlalu tapi kenapa sifat anehnya itu tak pernah hilang”

 

“kau benar minho-ya, nampaknya ini akan sangat sulit sifatnya masih sama seperti dulu”  Ny choi menghela nafas berat ada sesuatu yang saat ini tengah berkelebat di fikirannya suatu tindakkan yang mungkin jika hal itu terbongkar sebagai sebuah kebohongan entah bagaimana tanggapan siwon nantinya

 

“apa maksud eomma-nim?” minho menatap Ny choi bingung dengan kalimat yang baru saja di dengarnya itu

 

“ahh.. anni bukan apa-apa”

 

 

Siwon pov…

 

Aku sudah cukup menunggu hari ini tiba dimana kontrak kerjaku berakhir dengan sebuah perusahaan  properti swasta terkenal di inggris. Percaya atau tidak, selama hampir 11 tahun boleh di katakan aku besar dan belajar mandiri di sana mulai dari aku yang bersekolah setingkat SMA hingga  kuliah dengan biaya hidup yang ku cari sendiri.

 

Cukup aneh memang jika di lihat  latar belakang keluarga ku yang cukup mempuni aku malah mencari uang untuk membiayai ongkos hidupku selama di sana sendiri. Hal itu bukan tanpa alasan karna ada sesorang yang membuatku termotifasi aku seakan merasa hidup di tengah rasa jenuh yang ku alami saat usiaku masih cukup belia kurang lebih 7 tahun. dia cinta pertamaku bahkan sampai saat ini aku tak bisa menampik rasa  cinta itu masih ada untuknya, dia-jiyoung-ku, ahh.. bagaimana kabarnya?.

 

Aku sangat merindukanya kami memang sering berhubungan via email pekerjaanku yang mengharuskanku sering berkerja lembur membuatku sulit untuk sekedar bertemu denganya atau bahkan untuk sekedar  menghubunginya saja aku tak punya waktu yang cukup. Terakhir bertemu mungkin saat ia pamit berlibur dengan ayah dan ibunya. malam ini sepertinya akan jadi pertemuan pertamaku denganya setelah ia dan keluarganya yang malah menghilang entah kemana.

 

“siwon-ah.. kajja jiyoung dan ibunya pasti sudah menunggu”

 

Aku mengganguk singkat kembali menatap pantulan wajahku di balik cermin. Aku tak ingin terlihat buruk untuk pertemuan kali ini karna sebentar lagi aku bisa melihat wajahnya, wajah yang kini telah dewasa.

 

 

.

 

 

 

 

.

 

 

 

 

.

 

“anyonghasseo eomma-nim..” membungkukkan badanku aku menyapa emma-nim park yang baru saja membukakan pintu untukku juga ibu dan  ayah yang sengaja datang memenuhi undangan makan malam dari keluarga park

 

“kalian sudah tiba rupanya, masuklah”

 

Rumah ini tak berubah masih sama sejak terakhir aku kesini

 

“siwon-ah!”

 

“ah.. ne?”

 

‘kemarilah..”

 

aku berjalan mendekat ke arah eomma-nim park yang tengah terduduk santai bersama  ayah dan ibu. Tapi tunggu dulu… jiyoung kemana?

 

“jiyoung akan menyusul mungkin masih berdandan di kamar”

 

Ahh sungguh aku tak bisa berkata lagi bahkan kini aku hanya bisa tertunduk malu sepertinya emma-nim park bisa membaca apa yang tengah ku pikirkan kini sampai-sampai tahu kalau aku tengah mencari sosok jiyoung atau mungkinkah terlihat jelas di wajahku ini.

 

“nah itu dia..”

 

Entah apa yang ada di pikiranku begitu emma-nim park berkata seperti itu aku refleks berdiri memperhatikan sosok gadis yang tengah menuruni tangga. aku tak terlalu jelas melihtanya selain jarak yang agak jauh lampu lantai atas yang  menyoroti tangga  yang sedikit temaram itu nampak membuatku begitu penasaran tapi tak menghilangkan senyuman yang tanpa ku sadari terukir jelas di wajahku kini.

 

Namun bebera detik kemuadian senyumku perlahan-lahan memudar begitu jelas kini yeoja itu berdiri di hadapanku

 

“anyeong oppa”

 

Ini aneh… inikah jiyoung?

 

 

Siwon pov end…

 

Siwon masih diam menatap yeoja di hadapnya itu dengan lebih seksama tatapanya pun sulit di artikan bahkan wajahnya kini terlihat  seperti tengah berfikir keras

 

“siwon-ah.. kenapa diam saja bukankah kau merindukan jiyoung?”

 

‘jadi benar dia jiyoung?’ siwon membatin masih tak melepas pandanganya

 

“oppa waeo? Apa ada yang salah denganku?”

 

‘ya… sangat’ kembali siwon membatin menatap penuh selidik kearah jiyoung yang kini terlihat salah tingkah di perhatikan sedari tadi

 

“aissshh.. anak ini benar-benar. Jangan terlalu jauh terkesima denganya,  kau membuatnya malu” rangkulan hangat Tn choi langsung membuatnya tersadar

 

“ahh.. mianhe” sedikit membungkuk siwon kembali melempar tatapanya ke arah jiyoung yang terlihat tersenyum manis di hadapanya

 

‘bahkan senyumnya berbeda’

 

 

“ahh.. sepertinya makanannya sudah siap kajja kita makan bersama” Ny park merangkul pundak Ny choi berjalan ke arah ruang makan di ikuti Tn choi, jiyoung dan juga siwon di belakangnya

 

Makan malam itu terlihat santai Ny choi, Ny park dan juga Tn choi yang memang telah bersahabat sejak lama nampak berbagi cerita tentang kedua anak mereka tanpa tahu kini keduanya saling menatap dengan ekspresi yang berbeda.

 

Jiyoung yang terus mencuri pandang ke arah siwon dengan malu –malu dan siwon yang juga menatapnya masih dengan pikiran yang sama saat melihatnya pertama tadi-tak percaya, tak percaya bahwa kini jiyoung tengah berhadapan denganya atau lebih tepatnya ada keraguan dari dalam hatinya jika yeoja yang tengah ia lihat ini bukanlah jiyoung-nya.

 

 

“j-jangan di makan” Mata siwon terbelalak begitu sesendok pasta yang ia yakini telah terlumuri bumbu kacang itu terkunyah masuk ke dalam mulut jiyoung

 

“ne?”

 

Siwon bergegas beranjak dari duduknya menghampiri jiyoung dengan panik

“muntahkan sekarang juga!.  jangan di telan..”

 

“oppa kenapa sih”

Jiyoung menyingkirkan perlahan jemari siwon yang hendak memjit kecil tengkuknya

 

“kau mau mati? ku bilang muntahkan!”

 

“mati? Aku takkan mati hanya karna sesendok pasta oppa..”

 

“di pasta itu ada kacang..”

 

“lalu kenapa?”

 

“kenapa? Astaga!!  jiyoung-ah kau bisa saja mati karna alergi dengan kacang”

 

“ oppa bercanda yah? Sejak kapan aku alergi kacang? Aku bahkan tak punya alergi apapun dengan makanan”

Sedikit tertawa jiyoung menatap siwon dengan wajah anehnya (?)

 

“kau tak alergi kacang? Tapi… bagaimana bisa? Bukankah sewaktu kecil kau alergi dengan kacang?”

 

“oppa ini ada-ada saja aku tak pernah alergi dengan kacang”

 

Ny park dan Ny choi nampak saling berpandangan sesaat sebelum kemudian menarik nafas berat.

 

Sementara Siwon terdiam sibuk berfikir dengan fakta yang baru saja di dengarnya ‘jiyoung sama sekali tak alergi dengan kacang?, tapi bukankah sewaktu kecil jiyoung bahkan harus di rawat berhari-hari karna dia yang memberinya permen kacang? Siwon jelas masih ingat saat itu, saat dimana ia begitu kalut melihat jiyoung yang merintih kesakitan karna alergi yang di deritanya. lalu kenapa sekarang malah jadi begini? Sungguh ini semakin aneh..

 

 

***

 

 

Busam Medical Hospital…

 

Namja itu berlari dengan sedikit terengah engah melirik beberapa nomor pintu ruang rawat dimana seseorang yang begitu berharga baginya tengah berada di dalamnya.

Langkahnya terhenti sedikit lega begitu menemukan ruangan yang menjadi tujuan utamanya.

 

“yoona-ya…”

 

“eoh? Oppa..”

 

namja itu mendekat ke arah ranjang dimana yoeja yang baru sepersekian detik  di sebutkan namanya itu terlihat tengah duduk bersandar pada sandaran ranjang

 

“gwencana?”

 

“anda tenang saja,  pasien  baik –baik saja beruntung ia segera di bawa kesini kalau tidak mungkin akan ada hal yang lebih fatal terjadi padanya”

 

Dokter dengan name-tag Shin ji-hun itu bersuara, begitu mengerti dengan sikap panik namja yang tengah menggengam erat tangan pasien yang baru saja keluar dari ruang ICU beberapa menit lalu.

 

‘ahh.. ne!  khamsamida uissa-nim” namja itu menunduk sebentar sekedar memberi hormat pada dokter yang bisa di katakan  telah menyelamatkan nyawa yoona yeoja yang kini tengah duduk bersandar pada pangkal ranjang.

 

“ceomna-yo. Ah ya! Jika  sudah merasa lebih enakan pasien bisa lebih cepat pulang”

 

“benarkah? Aku sudah merasa jauh lebih sehat sekarang jadi aku bisa pulang sekarang  kan dokter?”

 

“Yoona!!..”

 

“eoh? Waeo? aku memang sudah merasa lebih sehat sekarang”

 

 

“mianhe.. tapi saya rasa anda harus beristirahat sejenak mungkin besok anda bisa pulang. Kalau begitu saya permisi ada operasi yang harus saya tangani”

 

“ne.. uissa-nim sekali lagi terimakasih”

 

Namja itu kembali duduk di tepian ranjang  masih menatap yoona dengan khawatir

 

“kau tahu bagaimana khawatirnya aku saat ajhuma han bilang kau masuk rumah sakit?  bagaimana bisa  kau memakan pane-cake kacang?”

 

“ aku sungguh tak  tahu  jika  itu pane-cake kacang”

 

“harusnya kau lebih berhati-hati yoona-ya.. kau tak dengar perkataan dokter barusan? Kalau terlambat sedikit saja itu bisa sangat fatal  untukmu”

 

“ mianhe..”

 

“sudahlah… tak ada gunanya minta maaf. Kau sebaiknya istirahat oppa akan menjagamu di sini”

 

“tapi aku ingin pulang oppa di sini tidak nyaman”

 

“annio.. kau harus istirahat. Besok  kau baru boleh pulang”

 

“seulong-oppa…” yoona memperlihatkan wajah memelasnya berharap dengan begitu seulong namja yang ia yakini tengah duduk di pinggiran ranjang itu memenuhi keinginanya untuk pulang. Yoona tak main-main saat bilang merasa tak nyaman berada di rumah sakit. Kenangan  saat ia kecil menjalani operasi besar pasca kecelakaan seakan terulang kembali karna dirinya yang berada di tempat yang sama. Rumah sakit. Dan seulong tahu itu.

 

 

“oppa mohon yoona..  hanya sampai besok. Setelah itu kau bisa kemanapun sepuasmu asal jangan melakukan hal yang bisa membahayakanmu”

 

Oh.. andai yoona bisa melihat seberapa serius kini wajah seulong saat mengatakan itu

 

“arra… oppa  selalu menang jika berdebat denganku”

 

Yoona berucap sedikit murung sambil memposisikan badanya berbaring dengan  bantuan seulong tentunya.

 

 

 

 

Ke-esokan Harinya….

 

Yoona sudah siap dengan baju santainya sudah dari 30 menit yang lalu ia di bantu seorang suster untuk melepas baju pasienya. Dan sudah selama itu pula ia termenung dengan wajah yang di tekuk samar duduk di tepian ranjang menunggu seulong yang sampai saat ini belum muncul untuk membawanya pulang. Jika saja tak ada larangan dari seulong untuk tetap duduk diam menunggunya,  sebenarnya bisa saja ia berjalan menyusul namja itu, yang katanya akan mengkonsultasi masalahnya pada dokter umum di rumah sakit itu.

 

“lama menunggu?”

 

Yoona mengangguk pelan masih bertahan dengan posisinya yang duduk di pinggiran ranjang

 

“mengantuk?”

 

“hm.. sangat. Sebenarnya apa yang oppa lakukan kenapa lama sekali? aku bosan. ingin tidur”

 

Seulong mendekat membelai sayang surai panjang kecoklatan itu

 

“oppa hanya berkonsultasi sedikit dengan dokter  shin  masalah matamu. Dan kau tahu apa yang dokter  shin katakan?”

 

“memang apa yang dia katakan?” Yoona terlihat sedikit penasaran rasa kantuknya pun agak berkurang

 

“dokter shin merekomendasikan operasi pencakokkan kornea mata di rumah sakit seoul dia punya kenalan dokter  spesialis mata di sana. Aku bahkan sudah menyimpan nomernya”

 

“seoul?”

 

“ya..kota seoul”

 

“bukankah itu sangat jauh dari sini.. lagi pula operasi itu sangat mahal. Lebih baik tak usah”

 

“mana boleh begitu. Apa kau tak ingin melihat wajah oppa? Kau tak ingin melihat dunia lagi”

 

“aku ingin.. hanya saja aku tahu itu akan sangat sulit, terlebih aku yakin biayanya tak sedikit”

 

Seulong mengubah posisi duduknya, berjongkok di hadapan yoona sembari menggengam jemari itu lembut.

 

“yoona… dengarkan oppa baik-baik. Oppa sungguh ingin kau bisa melihat, oppa ingin kau bisa berkatifitas tanpa keterbatasan, oppa ingin sekali melihatmu tersennyum dengan mata yang normal. Meskipun nantinya biaya operasimu tak sedikit oppa akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa membuatmu kembali melihat, melihat wajah ku”.

 

“oppa…”

 

Mata bulat itu tanpa sadar mengeluarkan air mata, terharu dengan kata-kata yang di ucapkan seulong barusan terlebih suara lembut nan merdu itu seakan menegaskan ia tengah meyakinkan dirinya untuk meraih kebahagiaan yang lebih jika dapat melihat nantinya dan yoona yakin seulong bersungguh-sungguh dengan ucapanya itu.

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

“astaga yoona apa yang kau lakukan malam-malam begini di luar?” ajhuma han berjalan setengah berlari mendekat kearah yoona yang tengah duduk bersila di rerumputan hijau taman belakang panti.

 

“hanya ingin menghirup udara malam saja, ajhuma tak perlu khawatir” balas yoona tersenyum kembali melakukan aktifitasnya menghirup berulang-ulang udara malam yang agaknya dingin mengingat musim semi telah usai.

 

“tapi yoona.. seulong akan marah jika tahu kau keluar kamar. Kondisimu belum benar-benar pulih”

 

Yoona menghela nafas sedikit kesal lagi-lagi ia di perlakukan layaknya anak kecil padahal ini sudah hampir seminggu semenjak ia keluar dari rumah sakit tapi lihatlah bagaimana seulong dan ajhuma han memperlakukanya, ia seakan-akan baru saja sembuh dari penyakit yang mengharuskanya terbaring koma hingga bergerak sedikit saja akan ada larangan dari mereka, ajhuma han dan terlebih Im seulong.

 

“seulong oppa sedang keluar dia takkan tahu. Lagi pula aku hanya ingin mengingat sejukanya udara busam karna mungkin besok aku tak bisa kesini terlalu sering”

 

“ajhuma tahu yoona..  hanya saja di sini terlalu dingin kau bisa sakit”

Meskipun bisa mengerti persaan yoona yang mungkin saja takkan bisa menikmati musim dingin di busam karna ia dan seulong yang akan berangkat ke seoul esok hari tapi membiarkannya di luar dengan udara sedingin ini jelas akan membuat yoona sakit.

 

“ahh.. baiklah. Oh ya!. Bagimana kalau ajhuma menemaniku bermain piano?”

 

“bermain piano?”

 

“ ya.. aku tahu suaraku tak sebagus seulong oppa tapi paling tidak aku masih bisa memainkan piano lebih baik darinya”

 

“ya sudahh.. ajhuma akan menemanimu asalkan kau masuk”

 

Yoona tersenyum senang bergegas berdiri namun hampir terjatuh karna kurang menyeimbangkan badanya untung ajhuma han dengan gerak  cepat menahanya.

 

“aku lupa membawa tongkatku..” yoona tertawa lebar,  lebih pada dirinya sendiri yang dengan cerobohnya melupakan alat yang bisa memudahkanya berjalan.

 

 

Melody merdu yang keluar dari piano yang tegah yoona mainkan itu membuat sebagian orang dalam panti berjalan mengikuti arah suara hingga bertumpu di ruang tengah dimana yoona tengah tersenyum sembari terus melanjutkan gerakan tanganya yang menekan lembut tuts hingga mengahasilkan irama yang senada tanpa tahu jikalau kini ada begitu banyak pasang mata yang melihatnya dengan heran terlebih ajhuma han ia jelas terkejut melihat yoona yang ternyata begitu mahir bermain dengan benda berirama itu.

 

Bagaimana pun yoona tak bisa melihat rasanya terlalu kasar jika di sebut ‘buta’ hanya saja baru kali ini ia mengetahui kelebihan yoona dalam bermain piano. Yang dia tahu bahkan seisi panti itu ketahui jika yoona adalah yeoja yang tertutup sekalipun sering berrmain dengan beberapa anak panti tapi tetap saja hanya dengan dia, chaerin-sahabatnya,  seulong dan  juga mendiang ajhuma Im yang tak lain adalah ibu angkatnya yang bisa dengan leluasa di ajaknya bicara.

 

Tapi ini? Ini bahkan benar-benar menjadi kejutan jika setahu mereka seulong adalah pemain piano terhandal di panti kini bahkan yoona nampak lebih handal darinya.

 

“ya tuhan!  yoona.. sejak kapan kau bisa bermain piano? Kenapa ajhuma bahkan tak mengetahuinya?” ajhuma han tak bisa lagi memendung segala tanya yang berkelebat di pikiranya, begitu melody yang  di bawakan yoona usai ia segera bertanya dengan penuh rasa penasaran

 

Yoona tertawa pelan dari suara ajhuma han saja ia bisa mersakan jika kini wanita paruh baya itu benar-benar penasaran sekaligus terkejut dengan apa yang baru di lakukanya tadi

 

“ku rasa saat usiaku 6 tahun.  saat emma-nim tiada aku tak pernah lagi memainkanya jadi jelas ajhuma tak tahu itu”

 

 

“tapi sewaktu yoong-eon eonni ada aku tak pernah sekalipun mendengarmu bermain piano”

 

“ahh.. itu karna..”

 

“dia malu ajhuma dia bahkan hanya memainkanya di depanku, ibu dan dengan chaerin saja” seulong memutus cepat perkataan yoona membuat yeoja itu hanya bisa merenggut murung-rahasianya terbongkar sudah.

 

“tapi kenapa mesti malu? Kau memainkanya dengan baik”

 

 

“aku hanya kurang percaya diri jika menjadi pusat perhatian”

 

 

“benarkah begitu? Tapi bukanya sedari tadi kau jadi pusat perhatian?” seulong sedikit berbisik di telinga yeoja itu ingin sedikit menggodanya.

 

“oppa bicara apa sih.. di sini hanya ada aku dan ajhuma han”

 

“ahh.. andai kau melihat ini yoona.  di sini…. sedari tadi ada begitu banyak anak panti yang memperhatikanmu”

 

“a-apa?” yoona merasakan panas di sekitar wajahnya yang mungkin terlihat memerah sekarang ini,  jantungnya sedikit berdetak—malu  dia jelas tak tahu ada begitu banyak sorot mata yang melihatnya jika saja ia tahu itu yoona takkan berani memainkan piano itu.

 

Ajhuma han menolehkan badan ke belakang ia juga bahkan sama sekali tak menyadari jika sedari tadi beberapa anak panti berdiri saling berdempetan di depan pintu ruang tengah

 

“apa yang kalian lakukan di sana? Masuk dan segeralah tidur!” ajhuma han sedikit mengertak hingga membuat beberapa dari mereka lari terbirit-birit kembali ke kamar masing-masing. Setelah memastikan bahwa ruangan itu tinggallah mereka ajhuma han berbalik kembali menatap yoona yang kini masih terlihat berdiam diri terlalu shok mungkin..

 

“mereka sudah pergi”

 

“ahh.. aku benar-benar malu…” menutup kedua mukanya yoona sedikit mengeleng-gelengkan kepala menyayangkan kejadian tadi.

 

Sedang ajhuma han dan seulong tentunya, saling bertatapan sesaat namun setelahnya tertawa sumbang tak bisa menahan begitu  melihat bagaimana lucunya kini ekspresi yoona.

 

 

 

***

 

 

 

“siwon-ah”

 

“ahh.. ya? Ada apa bu?” siwon yang kala itu tengah termangu di taman belakang tersadar begitu Ny choi-ibunya menududkan diri di depanya.

 

“kau pergilah kerumah jiyoung, setelah perekrutanmu di perusahaan kenapa tak lagi menemuinya?”

 

“ahh.. ya bu akan ku usahakan aku masih harus berdaptasi dengan lingkungan kantor jadi mungkin untuk beberapa hari kedepan akan jarang menemuinya”

 

“bukan jarang menemuinya tapi baru sekali menmuinya..” Ny choi meralat perkataan siwon yang sepertinya ingin mengalihkan bahan pembicaran dengan cepat.

 

Siwon merunduk lemah

 

“aku agak sedikit bingung bu”

 

“bingung dengan siapa? Jiyoung?”

 

“ya.. aku merasa dia agak aneh. Dia seperti bukan jiyoung. Ada begitu banyak perubahan darinya”

 

Ny choi sedikit mengalihkan tatapanya dari siwon ke arah pohon mapple tak  jauh darinya namun kemudian berucap

“dia sudah dewasa jelas akan ada begitu banyak sifat yang berubah darinya. Lagi pula kau baru sekali bertemu denganya bagaimana bisa kau tahu dia berubah..”

 

 

“aku hanya merasakanya saja bu”

 

“perasaan mu bisa saja salah. Temuilah dulu dia  ibu rasa dia baru saja pulang dari kampus”

 

“apa ibu yakin aku harus menemuinya sekarang?”

 

“ya.. tentu. Temuilah dia terimalah apapun kini perubahan yang ada padanya kalian sudah sama-sama dewasa pasti tahu apa yang terbaik nantinya”.

 

Meskipun tak sepenuhnya mengerti dengan kalimat terakhir Ny choi  siwon tetap mengikuti saran ibunya itu untuk menemui jiyoung mungkin perkataan ibunya ada benarnya jiyoung kecil dan jiyoung yang sekarang jelas akan ada perbedaan.

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

,

 

 

Siwon memacu Audi R8 hitam miliknya itu dengan kecepatan sedang tersenyum melirik sekilas bungkusan tart strowberry yang di belinya beberapa menit yang lalu yang pasti ia yakin jiyoung akan sangat menyukai pemberianya kali ini mungkin bisa di angggap sebagai penebusan atas kesalahanya yang mendiami dan tak menghiraukan jiyoung beberapa hari lalu.

 

Tak butuh waktu lama audi hitamnya itu kini telah terparkir manis masuk kedalam halaman keluarga Park yang  cukup luas.

 

 

“oh? Oppa kau datang?” jiyoung yang masih terlihat rapi mungkin baru saja pulang sehabis melakukan aktifitas kuliahnya nampak terkejut melihat kedatangan siwon yang tiba-tiba.

 

“kau tak ingin membiarkan ku masuk?”

 

“ahh..ne t-tentu saja oppa boleh masuk” dengan sedikit tergagap jiyoung menuntun siwon ke arah sofa ruang tamu untuk duduk sementara di sana

 

“siwon-ah.. kau datang”

 

“ne eomma-nim maaf selama bebrapa hari ini aku begitu sibuk dengan urusan kantor sampai-sampai tak mampir ke sini” siwon sedikit membungkuk hormat dan menyatakan sedikit penyesalanya pada Ny park yang bergabung duduk di sofa bersamanya dan jiyoung.

 

“gwencana siwon-ah lagi pula eomma-nim mengerti posisimu sebagai presdir pasti sangat menguras waktu”

 

Siwon menunduk sedikit  senyum terpantri di wajahnya merasa diri selalu nyaman jika berada di keluarga park ini.

 

“tapi apa yang kau bawa itu?”

Dengan mengamati lebih seksama sebuah bingkisan di samping siwon Ny park memberanikan diri bertanya

 

“ya tuhan.. aku hampir lupa” siwon meraih bungkusan itu lalu menenggadahkanya di depan jiyoung

 

“ini untukmu”

 

“untukku?” jiyoung yang sedari tadi lebih banyak diam sedikit terperanjat begitu siwon memenunjukkan bingkisan itu di depan wajahnya

 

“ya”

 

“ahh.. oppa tak perlu repot-repot membawakan hal seperi ini untukku”

Dengan perlahan jiyoung membuka kotak persegi itu setelah terlebih dulu membuka kantungnya tentunya.

 

“strowberry?”

Jiyoung mendesah lesuh dia pikir akan ada sesuatu yang istimewa di dalamnya meski harusnya ia sudah bisa menebak jika isinya adalah sebuah tart. tapi ini? Strowberry?.

 

“waeo?.. bukankah kau suka strowberry?”

 

“siapa bilang aku suka…”

 

“ya dia sangat suka strowberry siwon, terimakasih karna sudah begitu repot membelikan tart itu untuknya”

 

dengan cepat Ny park memotong kalimat jiyoung. Sedang jiyoung menoleh heran ke arah ibunya dalam hati ia bertanya tanya adakah sesuatu yang aneh dengan ibunya hingga berbicara jika ia menyukai strowberry? Sedang dia sedari dulu sangat membenci rasa strowberry yang begitu manis dan ia tahu pasti ibunya mengatahui itu dengan jelas.

 

Siwon menatap dua wanita itu dengan kembali terheran-heran meskipun bukan seorang peramal siwon bisa menebak  kelanjutakan kalimat jiyoung tadi yang jelasnya nanti akan mengatakan jika ia tak menyukai strowberry. Dan ia juga bisa membaca gelagat Ny park yang seperti menyembunyikan sesuatu entah apa itu. Ia masih sangat binggung dengan kondisi ini. Semua ini nampak makin terlihat aneh.

 

 

sebenarnya apa yang tengah di sembunyikan dariku?

 

.

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

.

 

TBC………

 

 

 

 

 

Gimana? adakah dari kalian yang akan memprotes karna di sini tak ada moment YOONWON? Atau kenapa YOONWON blom ketemu?  Biar saya perjelas yah… ini masih chapter awal akan ada chapter-chapter lainya yang saya bisa pastikan ada satu chapter yang full moment yoonwon dan di chap dua  kedunya kan di pertemukan oleh author dan tuhan tentunya. Jelas jika YW moment muncul genre yang akan masuk itu fluf dan romance dan pastinya akan romantis…tis..tis. untuk itu marilah kita bersama-sama berdoa agar penyakit malas ngetik saya tak kambuh lagi *wkwkwk*

 

ya sudah komentar kalian adalah biang (?) penyemangatku, sumber motifasiku,  serta kekuatan untukku  JADI WAJIB APA??  Yupps!! RCL…RCL…RCL.. ingat yah RCL  buktikan kalau kalian para reader itu nyata dan ada untuk mendukung hubungan si dua visuall tersayang ini okeh!! ;). Ahh.. ya! perlu kalian tahu kalu saya tuh orangnya paling ceroboh jadi kalu nemuiin Typo di setiap fic yang saya tulis harap reader semua memaklumi..

 

Ucapan terimakasih tak henti-hntinya saya ucapkanpada

admin kerajaan  YWK kak Resty dan kak Echa yang sudah meluangkan waktunya untuk mempublis ff percobaan saya ini.

Saya bener-bener berterima kasih

*Peluk dan sayang dariku*

Tinggalkan komentar

140 Komentar

  1. anggraeni

     /  Februari 21, 2014

    kyanya critanya bakal seru nih
    d tunggu part selanjutnya

    Balas
  2. aprilyoonwon

     /  Februari 22, 2014

    Duuh makien penasaran sma story y..
    Onnie jngan lma2 y chap 2 y…

    Balas
  3. aku suka sama ceritanya thor :3 terharu ngeliat karakter yoona disini,feel nya dapat.. aku tunggu kelanjutannya. fighting!^^

    Balas
  4. hilda

     /  Februari 25, 2014

    keren thor, next!

    Balas
  5. thea

     /  Februari 25, 2014

    suka banget cepetan part 2 nya y?!! ga sabar!!

    Balas
  6. rika (thata)

     /  Februari 25, 2014

    Ceritanya bagus d tngguh patr berikutnya

    Balas
  7. kyknya seru nih. jadi yg maksud Siwon itu Jiyoung yg skrng jd Yoona? trs Jiyoung skrng itu siapa? anak angkatnya? kenapa ortunya Yoona pas Yoona menghilang ga nyariin Yoona? jd bikin penasaran! lanjutt nihh jgn lama” ne ^^

    Balas
  8. Relly

     /  Februari 26, 2014

    Cerita yg sangat menarik… dan menunggu moment Yoonwon. Ternyt belum ada hehehe… next…

    Balas
  9. soneya2996chn

     /  Februari 26, 2014

    ditunggu moment yoonwon-nya author yg baik!^^ bagus ceritanya,fresh~

    Balas
  10. dhika

     /  Maret 5, 2014

    jgn2 yoona sengaja ditinggalin sama ortu’a lgi…kasian bgt yoona dah buta ga tahu nama asli’a lgi…siwon oppa dah mulai curiga kyk’a…ditunggu chapter 2 secepat’a…hehehe

    Balas
  11. andreyani

     /  Maret 13, 2014

    Lanjuut,,k3ren nih ceritanya

    Balas
  12. lanjut” keren bgt crita.a

    Balas
  13. wah cerita nya . . .
    Kerrreeeeen ! ! !
    next chap!

    Balas
  14. KaRenYS4ever

     /  April 5, 2014

    Eonnie..ffnya bgus bngettt..aku suka critanya..
    Siwon mmang sifatnya bgus bnget lngsung sadar keanehan2 pd jiyeon..
    Next chap dtunggu scepatnya ya eon..

    Gomawo^^v

    Balas
  15. zahrania

     /  April 7, 2014

    critanya seruu bgt,yah mskipun blum da moment yoonwon..
    tpi aq suka..
    aq ikutan sdih krna yona gk bsa nglihat..tpi tkjub jga krna yoona bisa mainin piano bgtu baik bhkan mnglahkan seulong..
    duh dan kapan ya wonpa akan tau klo jiyoung yg skrang itu bkan jyoung yg dulu…

    Balas
  16. Desbbuing

     /  April 8, 2014

    Ide ceritanya bagus, seru banget.. Tapi mungkin gaya penulisan nya bisa lebih ditingkatin kerapihan ama pengejaannya.. FIGHTING ❤

    Balas
  17. Tidak buruk.permulaan yg bgus dn menarik.. Jadi penasaran sm kelanjutannya

    Balas
  18. semoga ada lebih banyak perbedaan…nggak sabar pingin liat yoona nggak buta lagi..

    Balas
  19. Waaahh keren thor jadi gk sabar nunggu kelanjutan nya… ! Next part?

    Balas
  20. amalia an

     /  Januari 9, 2015

    Jangan2 yoona itu ad/ jiyhung yg hilang?
    Ceritanya psti makin seru klo itu beneran.
    Penasaran sm crta selanjutnya.

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: