[Ficlet] Fourteen Days

ff 14thday

“Sorot mata itu.. mata abu-abu kelabu..”

Fourteen Days

A Story by choichoding007

Starring

[Super Junior] Choi Siwon & [SNSD] Im Yoona

Rating : Teen || Genre : Surrealism, Fantasy & Fluff || Leght : Ficlet

Supported by

[BTOB] Yook Sungjae

Recommneded song : Sung SiKyung’s 너에게 and Kim Taeyeon’s 가까이

.

.

.

 

“Demi Tuhan, aku bisa gila! Kenapa kau masih saja mengikutiku, huh? Aisssh..! Jinja!” Choi Siwon meremas rambutnya sambil mengerang frustasi. Pria dengan setelan casual—kaus hijau belang-belang yang di lapisi jaket hitam serta celana jeans biru dengan warna yang sudah memudar ditambah dengan beberapa sobekan di area lututnya—memandang geram kearah seorang gadis yang berdiri di sampingnya.

Dia baru saja pulang kerja. Sebelah pundakknya menyangga tas besar—tas kerjanya—sementara tangan kanannya meneteng plastik hitam yang berisi beberapa bungkus ramen. Rencananya ia akan langsung makan setelah sampai rumah. Melahap sebanyak-banyaknya ramen untuk cacing-cacing dalam perutnya kemudian lekas tidur nyenyak.

Akan tetapi agaknya semua itu tidak akan pernah terjadi.

Siwon melemparkan plastik hitam berisi ramen tadi ke atas meja. Menghempaskan tas kerjanya begitu saja, lalu melepas jaketnya dengan rasa kesal yang sudah di ubun-ubun.

Seminggu terakhir ini hidupnya menjadi sangat kacau. Tiga hari sebelum hidupnya berubah menjadi sangat kacau, dia diterima sebagai pegawai magang di sebuah distro di daerah Cheongdam-dong. Dia bukan warga Seoul.Ya, dia datang dari Busan untuk mengadu nasib di Seoul. Ibu kota yang terkenal dengan tempat yang tak terduga.

 “Mwo? Mwo? Mwo!” Suara Siwon meninggi beberapa octaf. Dia mendecakkan lidah sambil menjambaki rambutnya. “Wae? Kenapa menatapku seperti itu?”

Yang ditanya hanya nyengir, menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi. Lalu menggeleng. Kemudian mengerjap. Kedua kakinya ia tekuk di atas kursi. Sambil mengamati Siwon, gadis itu memiringkan kepala. “Kau lucu,” tukasnya sambil tersenyum tanpa dosa.

Mendengus kesal serta mengabaikan raut polos yang ditunjukkan oleh si gadis menyebalkan, Siwon menendang kardus-kardus yang berserakan di lantai sambil memekikkan sumpah serapah. Dia belum membereskan barang-barangnya semenjak kepindahannya. Dan sudah seminggu lebih kardus-kardus itu bagaikan barang rongsokan yang siap menjadi pelampiasan kekesalannya setiap pulang kerja.

Dengan rasa kesal yang masih meletup-letup, Siwon melepas kaos hijau belang-belangnya, menelanjangi dadanya. Dia melirik kearah si gadis menyebalkan lalu mendecakkan lidah lagi. “Kau bahkan tidak berbalik saat aku bertelanjang dada?”

Im Yoona mendongak untuk menatap Siwon. Dia menarik sudut bibirnya dan terkikik geli. “Aku menikmatinya.”

Demi Tuhan! Apa-apaan gadis ini!

Ya! Apa kau tidak pernah diajarkan sopan santun oleh orangtuamu? Kau tidak punya rasa malu, ya? Kenapa ada manusia sepertimu.” Sambil menggerutu Siwon melepaskan celana jeans-nya dan melemparkannya ke tumpukan baju di ruang duduk.

“Kau maniak Keroro, ya?” Gadis itu sedikit terbelalak setelah menatap boxer yang Siwon kenakan bergambar kartun si kodok hijau.

Mata Siwon beralih pada boxer-nya, lalu menatap Yoona. “Pemberian adikku,” katanya sambil memposisikan tubuh di atas kasur berukuran kecil yang hanya cukup di tempati oleh satu orang saja. “Aku tidak punya cukup baju. Semuanya belum sempat kucuci.” Dia menarik selimut sampai keatas kepala setelah menggumam samar, “Aissh! Bahkan besok aku tidak tahu harus pakai baju apa..”

Kepala Yoona berputar menatap kearah ruang duduk. Dia menatap tumpukan baju yang siap memecahkan rekor sebagai gunung baju terbusuk yang pernah ada. Yoona meringis sebelum akhirnya kembali menatap kearah Siwon yang terbungkus selimut.

“Siwonnie..”

“BERHENTI MEMANGGILKU SEPERTI ITU! DAN BERHENTI BICARA MALAM INI! AKU LELAH! AKU AKAN GILA!”

Setelah meneriakkan kalimat panjang nan keras itu Siwon kembali menutupi seluruh tubuhnya sambil terengah-engah, antara rasa kesal bercampur frustasi yang terasa menyerang seluruh urat nadinya.

Mata Yoona mengerjap-ngerjap kaget. Tapi dia tidak heran karena ini bukan kali pertama saja Siwon berteriak-teriak seperti anjing yang terjepit truk lindas. Gadis itu sudah terbiasa.

Sambil menggumam tidak jelas Yoona memainkan bibirnya seraya berjalan ke sisi ranjang. Dia duduk bersandar pada nakas sambil memeluk kedua lututnya. Ekor matanya melirik kearah Siwon yang terbungkus selimut. Dia menghela napas, lalu tersenyum simpul.

“Siwonnie..”

Tidak ada sahutan. Yang memanggilpun tidak begitu membutuhkan sahutan. Dia meletakkan dagunya diatas kedua lutut. Tangannya mengerat untuk memeluk kedua kakinya.

“Kau tahu ‘kan aku tidak punya siapa-siapa di Seoul. Kedua orangtuaku jauh dari Seoul. Aku hanya mengenalmu saja disini. Jadi, selama aku menyesuaikan diri kau tidak keberatan ‘kan jika aku menempel terus padamu? Hanya sampai minggu depan, aku berjanji!” Yoona mengangkat sebelah tangannya sebagai tanda bahwa ia akan memegang janjinya.

Dia menelik kearah Siwon dan menemukan gundukan selimut itu tidak bergerak barang sedikitpun. Yoona memainkan bibirnya lagi, mengerucut lucu. Dia tercenung sejenak sebelum kembali menoleh kearah Siwon.

Gendae… Siwonnie, kau belum menggosok gigi.”

Masih belum ada sahutan. Yoona menyentuhkan ujung telunjukkan pada gundukan selimut itu, menusuk-nusukkannya agar Siwon bergerak. “Kau akan sakit gigi jika tidak membiasakannya. Bangun sebentar dan pergi ke kamar mandi. Ya! Choi Siwon!”

HAJIMARA! HAJIMARA!” Siwon bergerak membabibuta di dalam selimut untuk menghentikan ujung jari Yoona yang mencubles selimutnya. Bahkan ujung jari Yoona bisa dikatakan tidak akan sampai melukai tubuhnya tapi reaksi pria itu begitu berlebihan-,,-

Sementara Siwon berjalan kearah kamar mandi sambil menyentakkan kaki, Yoona terkikik geli dibuatnya. Setidaknya meski Siwon terus menggong-gong seperti anjing kesetanan, pria itu tetap mau menuruti ucapannya.

***

 

Matahari masih menggantung rendah di ufuk barat. Sinarnya masuk kedalam cela-cela jendela dan menerobos masuk melalui korden.

-prakk.. prakk.. prang-

Suara gaduh sialan itu membangunkan Siwon dari mimipi indahnya. Dia menggeliat dan bangun dengan kepala pening akibat terbangun dengan  paksa. Dia mengucek mata. Menggaruk kepalanya dan mendecakkan lidah.

Ketika matanya benar-benar terbuka, dia berteriak. “MUSUN SURIYA!?” Kali ini matanya bahkan terbuka sepuluh kali lipat dari biasanya. Siwon tersaruk menyibakkan selimut dan lututnya harus mencium lantai terlebih dahulu sebelum dia bergegas menghampiri Yoona yang duduk membelakanginya.

“Ini sudah rusak. Aku sudah mencobanya tapi tetap tidak bisa.” Gadis itu menggumam. “Kupikir kau harus membeli yang baru. Lagipula untuk apa tetap memakai barang rongsokan.”

Bibir Siwon mencebik menatap Yoona yang masih saja membanting bolak-balik remote teve-nya.

Harga remote itu… harga remote itu…

Siwon membatin sedih. Rasanya sudah ada uap di atas kepalanya yang sebentar lagi akan meledak-ledak bak letusan gunung berapi.

Tapi belum sempat dia membuka mulut, ketukan pada pintu mengalihkan perhatian mereka. Dengan kesal Siwon membuka pintu dan mendapati seorang bocah laki-laki mengenakan pakaian seragam tengah tersenyum lebar. “Annyeong!”

Bocah itu mengangkat satu kakinya untuk melangkah kedalam. Tapi Siwon lebih dulu mendorong wajah bocah tadi dan menutup pintu dengan keras. “Mwoya?

Kepanikan merambati tubuh Siwon. Dia segera menarik tangan Yoona dengan buru-buru bahkan tidak membiarkan Yoona protes dia langsung memasukkan Yoona ke dalam kamar mandi. “Seseorang datang. Diam saja disitu dan jangan berisik,” perintahnya.

Lalu ia berjalan menuju pintu dan membuka pintu untuk bocah tadi.

Waeyeo?

Annie. Duduklah!” Siwon lebih dulu duduk. “Ada perlu apa kau datang kesini?”

Bocah itu menunjukkan bungkusan bekal dan memberikannya pada Siwon. “Eomma menyuruhku untuk mengantarkan itu,” katanya. Lalu mengamati tempat yang ia duduki kemudian mendongak.

Hyung..

Yang di panggil hanya menaikkan kedua alis tanpa mau mengangkat kepala dari semangkuk sup rumput laut yang masih mengepul.

Yook Sungjae meringis ngeri. Bukan karena cara makan kakak sepupunya yang nampak beringas, akan tetapi pemandangan di depan matanya yang terlampau indah jika di lihat dari puncak Himalayah.

Hyung, kau jorok sekali. Sudah hampir dua minggu kau tinggal disini dan kau betah dengan kardus-kardus serta gunung baju itu?” Sungjae melengok kakak sepupunya yang tidak bergeming. Dia mendecakkan lidah. Lalu kedua matanya menelusuri apartemen Siwon yang terlampau kecil bahkan untuk ukuran ruang duduk. Bahkan itu tidak layak di sebut ruang duduk. Antara ruang duduk dan kamar tidur tidak ada pemisahnya.

Yook Sungjae lebih dulu tinggal di Seoul. Kedua orangtuanya pindah ke Seoul semenjak dia masih dalam kandungan. Bisa dikatakan bahwa dia sudah menjadi anak Seoul sejak lahir. Ibu Sungjae yang notabene masih ada hubungan darah dengan ayah Siwon, menyuruhnya untuk mengunjungi kakak sepupunya itu sekaligus memberikan makanan.

Hyung, kau tidak ingin pindah saja kerumah kami? Aboeji bisa memberikanmu pekerjaan yang layak.”

Siwon menghentikan makannya sejenak. Lalu menggeleng tanpa pikir panjang.

Hyung, apa kau tidak takut jika ada hantu disini?” Sungjae meneliti sekali lagi. Lalu mencondongkan tubuhnya ke depan sambil menyipitkan mata. “Kudengar apartemen ini adalah bangunan tua. Apa kau pikir tidak menutup kemungkinan banyak hantu di sekitar sini, hm?”

pletak!-

Ya!

Mwo! Mwo!” Siwon membanting sendok dengan kesal. “Apa yang kau bicarakan? Apa kau tidak lihat aku sedang makan? Tidak ada hantu di dunia ini! Ya! Bajingan kecil, hentikan omong kosongmu itu sebelum aku menedang bokongmu!”

Sekonyong-konyongnya Sungjae terpatung masih sambil mengusap kepalanya yang kena pukul oleh kakak sepupunya itu. Dia menatap punggung Siwon yang masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintu dengan sangat keras. Sungjae mengerjap-ngerjap heran. “Apa-apaan dia itu?” gerurunya kesal, lalu membersihkan sisa-sisa nasi kuluman Siwon yang beterbangan di wajahnya.

Arrasseo! Arrasseo! Aku tahu kau takut hantu.”

“Yook Sungjae! Kau sudah bosan hidup?”

A-anio!”

***

 

“Jadi, kita akan pergi bersama?”

Iris mata Siwon menangkap wajah sumringah yang ditunjukkan oleh sang empunya. Dia mendengus. “Bukan untuk berkencan, oke? Hanya makan mie ramen saja. Seperti katamu,” perjelasnya dengan muka malas.

“Tidak apa-apa.” Yoona menarik sudut bibirnya lebih lebar.

Minggu pagi yang cerah untuk Yoona. Sepanjang perjalanan dia tidak ada hentinya menarik sudut bibirnya untuk tersenyum lebar. Kakinya melangkah dengan santai beriringan dengan Siwon. Sepertinya udara juga tidak begitu dingin bagi Yoona.

“Kau terlihat bahagia sekali hanya dengan makan mie ramen saja denganku. Kau tahu, ini tidak sebanding jika kau memenangkan undian berhadiah mobil.”

Yoona menolehkan kepalanya kearah Siwon, lalu mengulum senyum sebelum memamnggutkan kepala. “Kau benar. Ini memang tidak sebanding. Karena selama ini kita tidak pernah pergi bersama.”

“Hei, kau selalu membuntutiku. Bagaimana bisa kau berkata kita tidak pernah pergi bersama.”

Yoona tertawa. “Baiklah, baiklah. Akan kuralat. Maksudku pergi bersama atas dasar keinginanmu. Kau tahu, bagaimana kau dimataku. Kau—“

Stop!” Siwon mengangkat sebelah tangannya untuk mencegah Yoona berucap lebih panjang atau mereka akan terhanyut kedalam sebuah drama yang begitu melankolis. “Kau tahu betul aku tidak suka terlibat dalam sebuah drama seperti kegilaan para gadis.”

Kepala Yoona mengangguk.

“Bagus.” Siwon memasuki tenda kedai lebih dulu. Dia memesan dua mangkuk mie ramen dan sebotol soju.

“Hei, kau berniat mabuk?” Yoona bertanya menyelidik sambil mengerutkan dahi.

Mengingat fakta bahwa Yoona bukanlah gadis Seoul, Siwon memutar kedua bola matanya sambil mendengus. “Yang benar saja. Sebotol soju tidak akan membuatku mabuk sampai harus mendatangkan ambulance.”

Kerutan di dahi Yoona perlahan memudar. Mulutnya membentuk huruf ‘O’ kecil. Dia mengangguk-angguk dan merasa sedikit kurang pandai dalam mengenal Seoul.

Ketika pesanan mereka datang dan sepanjang Siwon menyuapkan mie ramen ke dalam mulutnya, Yoona tidak pernah berhenti mengoceh. Bercerita ini dan itu yang menurut Siwon selera gadis itu sungguh kuno. Gadis itu tidak pernah berhenti menceritakan kota tempat tinggalnya dan kota kelahirannya, Seoul.

 “Jadi, seberapa banyak kau mengenal Seoul?”

“Tidak banyak. Ketika aku sampai disini aku berfikir bahwa Seoul telah banyak berubah. Seoul saat aku masih kecil tidak semengagumkan ini. Dulu belum terdapat gedung-gedung raksasa pencakar langit dan lagi….”

Selanjutnya Siwon tidak bisa mendengarkan cerita Yoona yang begitu menggebu-gebu. Pria itu terdiam dengan bertopang dagu.

Ada beberapa kesimpulan yang didapatnya dari Yoona. Yang baru disadarinya.

Gadis itu memiliki manik mata yang indah. Warna abu-abu dengan hijau zamrud di dalamnya. Hidungnya mungil. Pipinya lebih tirus jika di lihat lebih dekat. Dia memiliki dahi yang indah meskipun bukan tipe dahi favorit. Siwon baru menyadari ternyata Yoona termasuk kedalam gadis yang menawan dengan kulit putih pucat dan kesempurnaan lekuk wajahnya. Apalagi bibir mungil Yoona yang bergerak ketika gadis itu sibuk berceloteh. Begitu menawan dan…

-glek-

Siwon menelan ludah dengan susah payah seperti ada biji durian yang mengganjal di tenggorokannya. Jantungnya kesemutan seperti tersengat bokong lebah yang tajam.

Hei, sejak kapan dia betah mendengarkan cerita orang? Dia bukan tipekal orang yang senang duduk manis sambil tersenyum menanggapi sebuah cerita panjang lebar yang teramat membosankan. Dan sejak kapan dia begitu tertarik terhadap seorang gadis asing yang baru ditemuinya? Oh kau sudah gila, Choi Siwon!

Tapi pemikiran itu tidak selaras dengan organ tubuhnya. Garis bibirnya melengkung. Dia tersenyum. Dia menyukai celotehan Yoona. Dia senang mendengarkannya. Dia merasa segalanya kini menjadi lebih ringan mendapati Yoona selalu ada disisinya. Kendati itu lebih pantas dikatakan membuntuti tapi yang sebenarnya Siwon telah merasa cukup nyaman.

Dan oh, sepertinya dia…

Jatuh cinta pada Im Yoona.

***

“Apa kau sudah gila?! Bagaimana mungkin kau mengambilnya tanpa membayarnya? Aissh..!”

“Kubilang ahjumma itu memberikannya padaku. Aku tidak harus membayarnya.”

Mata Siwon melotot tajam. “Ya, kau memang tidak harus membayarnya. Tapi kenapa kau mengambilnya sebanyak itu, bodoh!” Dia mendelik kearah segerombol pot berisis berbagai macam bunga yang ada dalam lingkaran lengan Yoona.

“Memangnya kenapa? Apa yang salah?” Yoona mengerucutkan bibirnya, kesal dengan ocehan Siwon.

“Tentu saja salah. Kita akan ke distro dan kau masih mau membuat semua orang menganggapmu tukang kebun? Gadis sinting penjual bunga beserta dengan potnya?” Siwon berteriak marah. Bagaimana tidak, setelah tadi pagi tenaganya sudah terkuras karena ulah si gadis menyebalkan yang menyebabkan kamar mandinya menjadi samudera pasifik dan sekarang pun gadis itu membuatnya naik pitam. Dia bisa memastikan memiliki pasangan hidup seperti Yoona bukanlah ide yang bagus.

Yoona mengerjap-ngerjapkan matanya. Lalu menoleh ke sekeliling. Melihat Yoona yang seakan mengabaikan ocehannya, Siwon juga ikut menatap sekeliling dengan napas naik turun. Dan saat itu dia sadar telah menarik banyak mata di sepanjang jalan. Siwon memejamkan mata rapat-rapat sambil mengerang frustasi. Lalu dengan kedongkolan hati yang sudah bercucu, dia menendangkan kaki ke segala arah, menendang krikil, menendang kaleng dan..

-duagh-

Ya! Siapa yang menendang kaleng ini?!”

Mata Siwon terbelalak. Begitupun Yoona. Mereka saling menatap. Dan dengan isyarat mata dari kedalaman hati mereka lantas mengambil langkah seribu.

“Kalian! Ya! Berhenti disana dasar anak-anak nakal!”

Yoona merasa pergelangan tangannya di genggam erat oleh tangan yang lebih besar dari tangannya. Angin meniup sepoi-sepoi kearahnya. Bibirnya tersenyum, menatap helai rambut hitam pekat yang ikut berterbangan oleh angin. Dia tertawa. Lelaki itu menggengganya erat sambil berlari. Merasakan kehangatan di pergelangan tangannya akibat sentuhan dari Siwon enatah bagaimana membuatnya selalu diliputi rasa senang tiada kepalang.

Begitu mereka berhenti dengan napas terengah-engah di persimpangan jalan, Yoona masih tidak berhenti untuk terus tersenyum lebar. Jantungnya berpacu kencang. Dia bisa merasakan detak jantunganya yang berdegup. Dan dia benar-benar merasa hidup untuk alasan itu.

“Oahh~ jinjja. Tadi itu benar-benar hebat. Ah, jinjja..”

Siwon yang masih terangah mengangkat kepalanya dan siap akan berteriak lagi. Tapi untuk sepersekian detik kemudian dia urung. Melihat senyum lebar yang tersungging di bibir Yoona juga binar mata itu. Bagaimana.. bagaimana menjelaskannya?

Disapu oleh tiupan angin membuat wajah tirusya terlihat menawan.(Oh. Siwon terpesona)

Dan mendapati sorot mata Yoona yang berbinar enatah bagaimana membuat lengkungan kecil di bibir Siwon. Dia paling suka dengan mata abu-abu Yoona. Terlihat begitu indah.

***

 

Siwon harap dia tidak berubah menjadi monster yang siap menghancurkan kebun binatang. Sudah tiga hari semenjak kepergian Yoona dan ia merasa hidupnya tidak jauh lebih baik ketika ada Yoona di rumahnya. Biasanya selalu ada saja celotehan Yoona tiap kali ia bangun tidur sampai akan tidur lagi. Biasanya dia akan marah-marah dan menggerutui kecerewetan Yoona dan selalu kesal dengan senyum polos yang ditunjukkan gadis itu.

Terakhir ia dibuat bingung kepalang ketika ia berlarian dari tempatnya kerja menuju rumahnya hanya untuk mengecek keadaan Yoona. Jihoo—teman kerjanya yang bermulut Ahjumma mengatakan bahwa akhir-akhir ini sering terjadi kasus meledaknya gas lantaran kelalaian pemilik rumah. Dan saat itu juga pikiran Siwon dihantui perasaan khawatir terhadap Yoona. Dia tidak menunggu jam makan siang untuk segera melesit ke rumahnya. Saat ia sampai di rumah dengan degup jantung seperti habis maratonan dengan kuda, ia merasakan lemas sekaligus lega mendapati Yoona yang tersenyum polos menyambutnya.

Dan kini rumahnya terasa sangat sepi. Yoona bilang dia harus pulang ke kota tempat tinggalnya karena ada urusan. Yoona bilang hanya sebentar dan akan kembali ke Seoul setelahnya. Tapi ini sudah tiga hari. Dan Siwon merasa tiga hari adalah waktu yang sangat lama.

Dia merindukan Yoona. Dia merindukan keberadaan Yoona yang selalu ada di sisinya.

Oh Tuhan… beginikah rasanya jatuh cinta?

Tidak, tidak, tidak. Dia tidak boleh seperti ini. Dia harus melakukan sesuatu. Harus!

***

 

Mengesampingkan dagup jantungnya yang berdetak kencang, Siwon meremas kedua lututnya dengan tidak sabar. Dia menekan kedua belah bibirnya menjadi satu garis tipis untuk menenangkan perasaannya sendiri agar tidak meledak sekarang. Dia duduk menunggu kereta. Ada perasaan yang meletup-letup di dadanya, bergemuruh menjerit agar kereta yang di tunggunya segera datang. Dia benar-benar sudah tidak sabar.

Tidak sabar menunggu kedatangan kereta.

Tidak sabar untuk bertemu dengan Yoona.

Tidak sabar lagi untuk mengatakan bahwa dia mencintai gadis itu.

Ya Tuhan, kenapa menunggu kereta saja membuat kakiku menengang!

“Akan pergi kemana, Nak?”

Kepala Siwon menoleh dengan sedikit kaget ketika mendapati seorang pria paruh baya dengan kacamata bundar sudah duduk di sampingnya.

“Hei, kau seperti tengah melihat hantu,” tegur si pria paruh baya sambil mengernyit bercanda. “Katupkan mulutmu, Nak.”

Saat itu juga Siwon tergagap menutup mulutnya yang sedikit terbuka. Dia terlalu banyak memikirkan akan bertemu Yoona. Terlalu banyak memikirkan perasaan senang yang baru pertama kali ia rasakan. Sampai-sampai tidak menyadari hal itu pasti sudah membuat otaknya tidak bekerja dengan baik.

“Jadi, kau juga akan pergi ke Busan?”

Kepala Siwon mengangguk. “Nde, aku berencana mengunjungi makam Ibuku terlebih dahulu. Setelah itu aku akan pergi ke Yoonaguni-jima” Siwon memberikan senyum lebar terbaiknya.

Sementara si pria paruh baya mengerutkan dahi. “Kau akan pergi kemana?”

Nde?” Kepala Siwon kembali berputar. “Ke Yoonaguni-jima.”

Lalu si pria paruh baya tertawa keras, sangat kencang. “Nak, jangan harap kau akan sampai disana dengan selamat.”

Apa?

“Kau tidak tahu daerah itu?” Si pria paruh baya memandang geli kearah Siwon setelah berhenti tertawa.

Hei, apa-apaan pak tua ini? Perlu diketahui bahwa ia bukanlah seseorang yang peduli dengan tataletak kota dan peduli dengan semua nama yang ada di peta.

“Pulau itu sudah lama tenggelam.”

Apa!

“Sebaiknya kau batalkan rencana pergi kesana sebelum kau di makan ikan paus. Kau harus banyak meluangkan waktu membaca koran, arra?” kata si pria paruh baya menepuk-nepuk pundak Siwon.

Siwon masih terdiam di tempat. Sibuk dengan segala sesuatu yang masih terasa sulit ditelan oleh otaknya.

Pulau itu sudah lama tenggelam, hilang di kedalaman air. Pulau tempat tinggal Yoona. Jadi, apa-apaan semua ini?

Dia tersenyum sumbing. Kini dia tahu mengapa semua orang sering memandangnya aneh tiap kali berjalan bersama Yoona. Bukan karena kecerewetan gadis itu yang sampai membuatnya harus berteriak-teriak. Semua orang pasti menganggapnya gila. Ironisnya kini dia merasa benar-benar akan gila.

Empat belas hari yang tertancap di otaknya. Empat belas hari hidup bersama Yoona—entah halusinasinya atau sesosok arwah. Empat belas hari yang dulunya ia rasa sangat lama kini terasa sangat singkat. Empat belas hari yang ternyata begitu berharga.

Mengangkat kepalanya yang tertunduk, ia lalu berdiri dari duduknya. Sepertinya harus ada beberapa rencana yang diundur. Rencana mengunjungi makam sang Ibu dan rencana menyatakan cinta. Bahkan mungkin yang terakhir itu tidak akan pernah terjadi.

Langkah Siwon terhenti ketika dia melihat sesosok gadis yang berdiri di seberang rel kereta. Sosok gadis dengan pakaian Lolita.

Dari tempatnya berdiri Siwon juga baru menyadari selama ini apa yang membuat Yoona begitu mencolok. Gadis itu mengenakan pakaian Lolita yang dipikir secara logika mana mungkin ada seorang gadis yang begitu percaya diri mengenakan pakaiana norak semacam itu. Siwon baru memerhatikannya.

Yoona ada di seberang sana, diantara orang lalulalang yang melewatinya, menembus tubuhnya.

Gadis itu tersenyum. Kali ini dengan senyum yang berbeda. Benar-benar berbeda. Senyum itu nampak berat. Yoona tersenyum tipis, tapi tidak meluluhkan kecantikannya. Dan lagi-lagi Siwon baru menyadari bahwa kulit gadis itu terlihat begitu pucat.

Beberapa menit mereka habiskan hanya untuk saling melemparkan pandangan. Ada sorot mata kesedihan, kekecewaan, ketidakberdayaan dan rasa bersalah.

Siwon menghela napas berat. Menjatuhkan tas ranselnya, dia lalu melangkahkan kaki menghampiri Yoona, menyeberangi rel kereta. Mati-matian Siwon menahan kedua lututnya yang mulai melemas. Tidak, jangan sekarang!

Matanya mulai mengabur tapi kakinya masih terua melangkah. Wajah Yoona semakin dekat. Sorot mata sendu milik Yoona menyakiti hati Siwon. Mata itu menunggunya. Manik mata indah milik Yoona bukan lagi berwarna abu-abu dengan hijau zamrud. Mata itu sepenuhnya berwarna abu-abu. Kelabu.

Yoona mengatupkan kedua matanya ketika napas Siwon menerpa wajahnya. Dia menahan napas untuk beberapa detik saat bibir tipis Siwon menempel diatas bibirnya yang pucat. Siwon menahan kepalanya dan mulai menyapukan bibirnya. Menciumnya. Melumatnya. Dengan sangat lembut, tidak memaksa dan begitu berhati-hati seolah momen itu bisa saja musnah sesegera mungkin. Dan Yoona merasakan tubuhnya mulai ringan

Sudut mata Siwon berair. Dia tidak lagi dapat membendung air mata yang kemudian jatuh membanjiri pipi. Karena pada kenyatanya lembut bibir Yoona tidak dapat ia rasakan. Karena pada hakikatnya semua ini hanyalah semu.

“Siwoonnie, bagaimana jika aku ini adalah orang yang hidup beratus-ratus tahun yang lalu yang datang ke masa kini hanya untuk melihatmu. Apa kau akan percaya?”

“Bodoh! Tentu saja tidak.”

“Aku menemuimu karena kau adalah cinta pertamaku.”

“Berhenti! Aku sudah sering mendengarkan cerita konyolmu ini.”

“Kau percaya adanya reinkarnasi? Seandainya kau percaya berarti aku di masa dulu adalah gadis yang mencintaimu”

“Yang benar saja!”

“Sungguh. Jika benar adanya reinkarnasi maka kau juga harus percaya bahwa aku di masa kinipun hanya akan menjadi gadis yang mencintaimu.”

“Ck! Omong kososng! Jadilah gadis yang realistis dan hentikan imajenasimu itu.”

“Kelak kau akan mengerti. Di dunia ini ada begitu banyak hal di luar nalar yang mau tidak mau harus kau terima.”

Aku telah berkelana menglilingi Seoul, mengelilingi dunia hanya untuk mencari sosokmu di masa kini. Hanya untuk menyampaikan perasaanku. Hanya untuk terus berada disisimu. Hanya untuk menebus kesalahanku. Sebab di masa lampau aku tak dapat melakukannya. Dan sekarang telah tiba saat kupergi. Empat belas hari bersamamu. Terimakasih.’’

***

 

Dan di tempat yang berbeda di sebuah ruangan bernuansa putih, detak jantung yang telah lama melemah kini berdegup lebih kuat. Jemari lentiknya bergerak pelan. Nafasnya menghembus berat membasahi oksigen.

Eomma! Yoona Noona sudah sadar. Appa, Eomma, cepat kesini. Noona membuka matanya!”

.

.

|Sekalipun itu di dunia mendatang. Kau tetaplah orang yang akan kucintai. Begitu janjiku.|

 

..FIN..

 

a/n : Everybudeh heloooo! Saya kembali dengan percobaan berbagai genre^^ ahihihii! Eh tapi berasa banget gak sih ini maenstream sekaleeeeee!!! T.T /hanyut ke jamban/ ini rencana awal mau dibikin drabble tapi gak jadi soalnya ntar kalo tetep ngotot dibikin drabble kesannya muaksa_-_ ini aja aku ngerasa masih ada kesan maksanya pfftt’-‘ Sebenernya cerita ini terlintas pas gak sengaja baca berita yang katanya benua atlantis hilang, gak tau juga sih yah banyak yang menduga-duga Indonesia adalah benua atlantis yang hilang *begitu kata mereka* Nah lebih-lebih abis liat Master’s Sun *telat bangeeeett* maka terciptalah maha karya mencengangkan karena saking absurd-nya ini. HAHA!

Maaf sekali kalau cerita saya makin ngawur u,u /sungkem/ tolong jangan tinggalkan fic ini begitu saja yah. Review-nya sangat ditunggu^^ 

Iklan
Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

119 Komentar

  1. Usie

     /  Februari 8, 2014

    aaahhhhkkkk,,
    kren bgt thor >,<
    sequel mna,, mna sequel

    #hrus_adda :@:D

    Balas
  2. FF yang keren banget thor! suka sama cerita dan bahasanya,aku betul2 tidak menyangka ceritanya seperti ini.. bagus :).ditunggu karya FF mu yang lainnya. figthing!^^

    Balas
  3. alfiah

     /  Februari 8, 2014

    so sweeeettt…..ffnya keren banget thor, walaupun cuma ficlet tapi feelnya kerasa banget
    kalo bisa dibikin sequelnya yah??hehe

    Balas
  4. wah drabblenya keren eon aku aja bacanya sampe terkagum kagum. Baca drabble ini jd inget drama rooftop prince ceritanya kan jg ada reinkernasinya.
    Btw atlantisnya udh tau si tp blm denger kalo negara kita itu atlantisnya yah percaya gak percaya kt serahin kpd
    allah sang pencipta saja. Duh kayanya kudu dan harus squel nih endnya gantung kan ga tau stlh yoong eon bangun dia bkal ktemu wonppa gak. Squel ya eon. Im waiting. Fighting and Keep writing.

    Balas
  5. lilyuchiha17

     /  Februari 9, 2014

    ffny keren bgttt buat sequelnya ya thor,,

    Balas
  6. Seyen

     /  Februari 9, 2014

    Kerenn bgt, bikinin ficlet rutin dong:D sequelnya ini, o iya aku suka ama posternya:)

    Balas
  7. Nice thor…
    aku suka sama ceritanya, ditambah bahasanya juga enak buat dibaca. Sequelnya dong thor. Masih penasaran sama yoonanya!!

    Balas
  8. Yulia

     /  Februari 9, 2014

    squel Thor…
    please:)

    Balas
  9. keren thor 😀 bikin sequelnya dong thor plissss penasaran sama yoona dimasa datang plisss

    Balas
  10. Hwaa kenapa yoona eonni ngga nyata dan ngga jadian sama siwon oppa??

    Balas
  11. Sering sering buat kayak ini ya

    Balas
  12. Rani Permatasari

     /  Februari 12, 2014

    aigoo neomu neomu daebak

    Balas
  13. Keren…. keren……
    Sempet bingung jga sih… knpa tuh Yoona ga malu lht Wonppa bertelanjang dada n pake boxer keroro…#secra Yoona kan alim n polos gtu lohh…# n dr situ jga ngerasa Yoona itu bneran ada atw ga??
    So, jwabanny ketebak…. ternyata Yoona adlah sesosok arwah yg cri cinta pertama…. Siwon Oppa… HmmHmmm.. 😥
    Reinkarnasi…. yaahh reinkarnasiny Yoona bru sdar tuh… kpn dong ketemu sma Wonppa… #berharap ada lanjutanny ni… hehehe…
    Gomawo ^^

    Balas
  14. aat yoonwon

     /  Februari 13, 2014

    Menunggu sequel dari ficlet ne, pokoknya wajib sequel

    Balas
  15. berin

     /  Februari 16, 2014

    wah bagus critanya….
    sequel ya thor 🙂

    Balas
  16. yulisa

     /  Februari 22, 2014

    Wahh kerreeennn crita ny
    Tp ending ny brasa msih gantung dehhh
    Klo bsa sequel yaa

    Balas
  17. SHP

     /  Maret 1, 2014

    SEQUELLL!! wajib sequel loh thor.. udh bikin kamarku banjir harus tanggung jwb :3

    Balas
  18. andreyani

     /  Maret 11, 2014

    Ya kasihan siwon..jatuh cinta sama hantu..

    Balas
  19. yaaah gantung nich endingnya,,,:( jadi yoong eonni itu…???tp gg kebayang gmna wajah frustasinya wonppa saat mnghadapi kepolosan yoona eonni,,,wkwkwk pasti lucu + imut bnget,,, hahahha,, di tunggu sequelnya thor,,, Hwating!!^^

    Balas
  20. Wahhh…
    Sungguh Biasa Diluar..
    Ahh salah Luar Biasa

    Balas
  21. KaRenYS4ever

     /  April 5, 2014

    Ini..
    Yoona sdh mninggal apa blm sih?
    Tdnya roh..tp di tmpat lain dia bangun..
    Jd Yoona kmbali ada atau tdk dmasanya Siwon skarang?
    Bingung nih eon..
    Next sequelnya dtunggu ya eon..

    Gomawo^^v

    Balas
  22. choi so ra

     /  April 6, 2014

    bagus, bhsnya enak.
    sequel sequel sequel *treakpaketoa

    Balas
  23. Kwon Lia

     /  April 21, 2014

    aahh, alur critanya ngefeel bnget author 😥
    suka suka :))
    ditunggu krya FF lainnya author 🙂
    keep writing & fighting ^_^)9

    Balas
  24. Loh2 kok gini???? Q ngga mudeng.. Tp lumayan memarik sg

    Balas
  25. scynurrul

     /  Juni 27, 2014

    daebak..nggak nyangka loh ternyata yoona hantu…
    itu belum selesai..sequel sequel

    Balas
  26. Choi Yoon Hwa

     /  Agustus 4, 2014

    wah kerennnnnn~
    semuanya udah ketebak yang dari tadi sempet gak mudeng. Tapi serius! ini keren banget!! Sequel! Sequel! Sequel!

    Balas
  27. fahji

     /  Agustus 31, 2014

    waw daebak !!
    waktu sepupu’a siwon dtg trus bicara ttg hantu, aku udh mulai curiga klo yoong itu hantu, tapi pas dia jln2 breng siwon mlh ragu, lah ternyata emng beneran -,- daebak thor !!
    semoga aja siwon ketemu sm yoong yg nyata 🙂

    Balas
  28. Dirin panggaliningtyas

     /  September 6, 2014

    Omo-omo:-*…
    Sweet bgt,terharu baca.a eon:-)…
    ya meskipun awal.a gk nyambung ama cerita.a tp pas dihayati lg baca.a nyambung jg hehe:-D…
    DAEBAK EON…
    Apalagi ada sequel.a hehe:-D…
    Fighting eon:-)…

    Balas
  29. Merisa Hermina putri

     /  Juni 11, 2015

    Aku udah 3 kali baca ini , dan sampe sekarang nungguin SEQUEL nya kok gak ada ada sih ? Lanjutan cerita atau cerita baru apapun di YOONWONITED KINGDOM ini juga gak ada ??? Ini authornya pada kemana ??? Lagi pada vakum yahhh ???? Aduh aduhhhh

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: