[FF] The Princess’ Love (Part 5)

1011557_213562292162098_1964774670_n

[FF] The Princess’ Love (Part 5)

Author             : Indah (bianglalala27@gmail.com)

Type                : Chapter

Main Cast        : Choi Siwon, Im Yoona

Support Cast   : Leeteuk, Kim Taeyeon, Kwon Yuri, Kim Jong Woon, Seo Jo Hyun, Lee Donghae, etc

Genre              : School Life, Romance, Friendship

Rating             : 15+

 

­Sebelumnya saya mau minta maaf karena lama publishnya. Idenya agak susah keluar di part ini. daann part ini amburadul se amburadulnyaaa… aahh pokoknya sebelum readers bilang macem2 saya udah ngaku klo part ini ancur. Tapi tetep saya publish sih. Hehe.. pokoknya jelek atau ngga bagus tetep comment yaa…

Happy reading!

 

Part 5

 

Terkadang tubuh kita bekerja lebih cepat sebelum otak memerintahkan. Itulah yang mungkin sedang terjadi pada Siwon. Berhadapan dengan Yoona seringkali membuat logikanya menguap. Gadis itu begitu ajaib dengan segala yang ada pada dirinya. Gadis itu tiba-tiba saja datang dan membuat dunianya kacau. Yoona memberi warna tersendiri di hidup Siwon yang serba hitam putih. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Siwon seperti tidak bardaya melawan setiap pesona yang Yoona tawarkan. Perlahan tapi pasti, Yoona masuk ke dalam hidupnya. Sayangnya Siwon tidak menyadari hal itu. Meski akal sehatnya menghalangi perasaan yang mulai tumbuh dan berkembang, tapi tubuhnya tidak bisa menolak keberadaan Yoona.

“Ayo pulang,” ajak Siwon sesaat setelah ia melepas ciuman keduanya.

Yoona masih terpaku, matanya mengerjap-ngerjap tidak percaya pada apa yang baru saja terjadi. Pipinya merah padam, dan ia tidak berani menatap Siwon. Tangannya terangkat untuk menyentuh bibirnya. Masih terasa lembutnya bibir Siwon di sana.

Lama-lama Siwon jengah melihat Yoona terus terdiam seperti itu. Ia sudah cukup sulit untuk bersikap biasa dan sikap Yoona justru memperparah keadaannya. Kesadaran Siwon sudah kembali, jauh lebih cepat dari Yoona yang masih di awang-awang. Dan ia merutuki dirinya karena begitu mudah terbawa suasana hingga akhirnya mencium Yoona. Siwon menarik napas panjang lalu meraih tangan Yoona, membawa gadis itu pergi dari sana tanpa menunggu persetujuannya.

Sepanjang perjalanan pulang tidak sepatah kata pun keluar dari mulut Yoona. Pikirannya masih berada di alam fantasinya. Dunianya terasa begitu ringan dan indah. Yoona masih ingin terus berada di sana, tapi rasanya tidak mungkin. Ia harus segera kembali ke kenyataan. Meski hal itu sangat berarti baginya, bisa saja ciuman mereka tadi sama sekali tidak berarti apapun bagi Siwon, kecuali hanya sebuah kesepakatan bodoh. Yoona sadar akan hal itu.

“Masuklah,” perintah Siwon saat mereka sampai di depan rumah Yoona. Siwon melepas genggamannya di tangan gadis itu.

Yoona yang sejak tadi terus menunduk menyembunyikan wajah merahnya hanya mengangguk kecil, lalu masuk ke dalam rumah. Ia masih terlalu malu karena ciuman tadi. Padahal ia hanya berniat mencium pipi Siwon, bukan bibirnya.

Siwon mendesah melihat sikap Yoona. Ia bukan orang yang mudah gugup dan sangat pandai menyembunyikan emosinya. Jadi, meski jantungnya masih berdebar, wajahnya terlihat datar seperti biasa.

Setelah memencet bel dan pintu pagarnya terbuka, Yoona langsung masuk tanpa mengucapkan apapun. Ia belum berani menatap manik mata Siwon. Begitu ia memastikan pintu pagar sudah tertutup kembali, Yoona baru menghela napas lega. Tanpa sadar sejak tadi ia terus menahan napasnya. Ia bersandar di sana, memikirkan Siwon yang terlihat sangat biasa. Apa ini tidak berarti apapun baginya? batinnya perih.

***

 

Bibir Siwon sesekali melengkung ke atas mengingat saat ia mencium Yoona. Entah apa yang merasukinya semalam hingga ia berani mencium gadis itu. Dan anehnya, Siwon sama sekali tidak merasa menyesal, meski ada kecanggungan di antara mereka setelah kejadian itu. Usai mengakhiri ciumannya, Siwon tidak berkata apapun. Dia hanya menggandeng tangan Yoona dan mengantarnya pulang. Memang ia rasa tidak ada yang perlu ia katakan. Yoona tidak meminta jawaban atas ungkapan perasannya. Siwon pun terlalu gengsi untuk menanyakan apakah Yoona butuh jawaban.

Berkali-kali Siwon menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha menghilangkan bayangan Yoona yang tampak begitu jelas di otaknya. Namun detik berikutnya pikirannya akan kembali lagi pada kejadian itu. Seharian ini ia banyak melamun. Siwon sampai tidak menyadari kalau sudah saatnya ia berangkat kerja paruh waktu di bar. Dengan tergesa-gesa ia bangun dari duduknya lalu menyambar jaket dan berlari ke luar rumah. Saat sedang menutup pagar rumahnya, Siwon dikejutkan oleh seseorang yang datang mencari ayahnya.

“Jeogiyo,” kata seorang wanita dari belakang Siwon.

Siwon berbalik menghadapi orang yang memanggilnya, seorang wanita lima puluhan dengan penampilan yang mewah bak seorang selebriti. “Nuguseyo?” tanya Siwon sopan.

Wanita itu tersenyum. “Aku mencari Tuan Choi Ki Ho. Apa beliau ada di rumah?”

Meski sedikit heran Siwon tetap menjawabnya. “Aboeji sedang bekerja, Nyonya.”

“Apakah kau putranya? Choi Siwon?” tebak wanita itu.

Siwon mengangguk heran. “Ne. Saya adalah putranya. Kalau boleh tahu, Anda siapa?”

“Namaku Yoon Hae Ra. Aku dan ayahmu dulu satu berada di kampus yang sama,” jawab wanita yang ternyata adalah Hae Ra.

Kedua alis Siwon terangkat. Ia tidak pernah tahu kalau ayahnya pernah kuliah mengingat selama hidupnya Siwon hanya menyaksikan ayahnya bekerja sebagai pekerja rendahan biasa. Kalau ayahnya pernah mengecap bangku universitas, seharusnya ia bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik. “Saya tidak tahu kalau Aboeji pernah kuliah.”

Hae Ra tertawa kecil. Jadi Ki Ho benar-benar merahasiakan semua ini dengan baik, pikirnya. “Ayahmu memang selalu rendah hati. Bahkan dia tidak menceritakan padamu kalau ia adalah salah satu mahasiswa terbaik di Universitas Yale?” Hae Ra berpura-pura terkejut.

“Ne?” Fakta bahwa ayahnya pernah mengecap pendidikan tinggi membuat Siwon cukup terkejut, apalagi tentang ayahnya menjadi mahasiswa terbaik. Salah satu mahasiswa terbaik di Universitas Yale? Memikirkannya saja Siwon tidak berani mengingat itu adalah salah satu universitas terbaik di dunia.

“Aku akan kembali lagi nanti,” kata Hae Ra tanpa menghiraukan keheranan di wajah Siwon. “Aku ingin menjadikan ayahmu sebagai rekan bisnis seperti dulu. Sedih rasanya melihat sahabatku menyia-nyiakan otak jeniusnya seperti ini,” keluh Hae Ra. Dengan sangat meyakinkan ia membuat wajahnya terlihat begitu sedih saat menceritakan Ki Ho. Hae Ra berbalik dan berjalan meninggalkan Siwon yang masih diliputi kebingungan. Senyum licik terukir di wajahnya. Langkah pertama berjalan dengan lancar, katanya dalam hati.

Sebenarnya apa yang terjadi? batin Siwon. Ia yakin semua yang terjadi belakangan ini saling berkaitan. Aneh rasanya jika mengingat kejadian-kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. Terlebih setelah mengetahui sedikit tentang masa lalu ayahnya yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Siwon. Siwon yakin banyak hal yang sengaja disembunyikan ayahnya. Apapun itu, Siwon bertekad akan mencari tahu.

***

Yoona kembali memeriksa penampilannya di depan cermin rias di kamarnya. Keluarga Im akan makan malam bersama di sebuah hotel bintang lima, jadi mau tidak mau Yoona harus berdandan rapi. Meski merasa marah pada ibu dan kakaknya, Yoona tetap harus ikut makan malam. Tidak ada pilihan lain. Ia mengoleskan pelembab ke bibir merah mudanya, membuat ia teringat peristiwa paling romantis dalam hidupnya. Perlahan ia menyentuh bibirnya. Yoona masih bisa merasakan hangatnya bibir Siwon saat menciumnya. Ini benar-benar bukan mimpi, gumamnya dalam hati.

“Yoona, ayo kita berangkat,” panggil Yuri dari balik pintu. Rencananya Yuri dan Yoona akan berangkat bersama dan bertemu dengan orang tua mereka di hotel.

Meski duduk bersebelahan di bangku belakang mobil dengan Yuri, Yoona sama sekali tidak mau memulai pembicaraan seperti biasanya. Yuri sendiri juga bingung bagaimana memulai pembicaraan dengan adiknya.

“Semalam kau pergi ke mana?” Yuri memecah keheningan.

“Jalan-jalan,” jawab Yoona singkat. Ia lalu menyuruh supir menyalakan radio.

Yuri paham maksud Yoona. Adiknya sedang tidak ingin bicara, makanya ia menyuruh supir menyalakan radio. Ada rasa kesal, tapi Yuri menahannya. Yoona sedang mengacuhkannya, ia tahu itu. Yang tidak ia ketahui adalah alasan di balik semua sikap Yoona yang tiba-tiba berubah padanya. Jadi inikah yang Yoona rasakan saat aku mengabaikannya? pikir Yuri.

 

Makan malam berlangsung dalam suasana yang kaku. Im Tae San telah memesan ruang VVIP dengan kualitas nomor satu, baik makanan maupun pelayanannya. Namun semua makanan itu terasa hambar di mulut Yoona. Ia merasa seperti sedang makan bersama orang asing. Tidak ada gurauan ringan antara orang tua dan anak, apalagi cerita tentang keseharian mereka. Sesekali hanya terdengar dentingan halus dari alat makan yang bergesekkan. Dengan kasar Yoona meletakkan garpunya di piring sehingga menimbulkan suara dentingan yang cukup keras, membuat keluarganya mengalihkan perhatian padanya.

Yoona balas memandang anggota keluarganya satu per satu. Ia benci harus berada di situasi seperti ini. “Apa tidak ada yang ingin kalian katakan? Kita susah payah meluangkan waktu untuk makan bersama, tetapi mengapa kalian hanya diam saja?”

“Yoona,” bisik Yuri, memberi kode agar Yoona berhenti. Ia sedikit kaget melihat Yoona bersikap kurang sopan di depan orang tua.

“Sebenarnya apa yang akan kalian bicarakan?” Yoona sudah tidak peduli lagi dengan kesopanan yang ditanamkan padanya.

Hae Ra meletakkan pisau dan garpunya di meja lalu berkata pada Yoona, “Ke mana semua sopan santun yang bertahun-tahun kami ajarkan padamu?”

Sebuah senyum pahit terukir di wajah Yoona. Bagaimana bisa ibunya berkata seperti itu padahal selama ini ia tidak pernah memedulikan Yoona? “Kami? Kami siapa? Appa dan Eomma tidak pernah mengajarkan apapun padaku. Samcheon yang melakukannya.”

Hae Ra refleks berdiri mendengar sindiran Yoona yang baginya sudah keterlaluan. Tapi Im Tae San buru-buru mencegah dan menyuruhnya duduk kembali.

“Selesaikan makan malammu dulu, Yoona-ya,” kata Tae San menengahi.

“Shireo, aku sudah kenyang.” Yoona berdiri dan membanting lap makannya ke meja. Makan malam keluarga macam apa ini, sungutnya dalam hati. Ia lalu berjalan menuju pintu keluar.

“Tunggu! Memang ada yang ingin kami sampaikan,” kata-kata Hae Ra berhasil menghentikan langkah Yoona.

Yoona memang berhenti. Tapi ia tetap pada posisinya menghadap pintu dan membelakangi keluarganya.

“Kami akan bercerai,” ucap Hae Ra pelan tapi penuh keyakinan.

Rahang Yoona mengeras menahan emosi yang hampir meledak di dadanya. Akhirnya ibunya mengatakan hal itu justru pada saat mereka sedang menikmati waktu bersama-sama untuk pertama kali setelah beberapa tahun. Yoona menutup matanya sejenak, mencari kekuatan untuk menghadapi keluarganya. Ia lalu berbalik, memandang wajah ayah dan ibunya secara bergantian. “Jinjayo?”

Im Tae San beranjak dan menghampiri Yoona. Ia memegang kedua bahu Yoona dengan wajah prihatin. “Mianhe, kami harus memberitahu kalian di saat seperti ini. Tujuan kami mengatakan ini lebih awal adalah agar kau dan Yuri tidak terlalu terkejut nantinya.”

Mata Yoona mulai berkaca-kaca. Ia tetap terkejut walau tahu hal ini akan terjadi. Tidak habis pikir mengapa orang yang telah bertahun-tahun menjadi suami-istri bisa dengan mudahnya mengatakan akan bercerai. “Waeyo? Tidak bisakah kalian tetap bersama?” tanyanya putus asa.

“Im Yoona, mengapa kau memaksa orang yang tidak saling mencintai untuk tetap bersama?” Tiba-tiba saja Yuri sudah berdiri di belakang ayahnya. Matanya agak merah karena sama-sama menahan air mata seperti Yoona. “Jangan bersikap egois, Yoona-ya,” desisnya pelan yang terdengar seperti petir di telinga Yoona. Yuri lalu melangkah meninggalkan ruangan, menyisakan Yoona yang terpana dengan kata-katanya.

Benarkah aku egois? Lalu bagaimana dengan kalian? Kalian hanya memikirkan yang terbaik bagi diri kalian sendiri tanpa mau tahu apa yang kurasakan. Apa perceraian adalah hal yang sangat menyenangkan? Apa begitu sulit hidup bersama sebagai sebuah keluarga? Yoona berteriak dalam hati.

***

 

“Jong Woon Hyung akan marah kalau tahu kau datang sendiri kemari, Yuri-ssi.”

Yuri tersenyum mendengar perkataan Siwon. Setelah meninggalkan hotel tempat ia dan keluarganya makan malam, Yuri langsung pergi ke bar. Ia selalu duduk di depan bar dan menyaksikan para bartender meracik minuman. “Oppa akan menjemputku nanti.”

Siwon hanya mengangguk paham. Ia memperhatikan Yuri dengan seksama, mengingatkannya dengan Yoona beberapa hari lalu yang sama lesunya dengan sang kakak. “Apa terjadi sesuatu?”

“Kau seperti paranormal saja,” canda Yuri. “Kau sangat mengerti aku, Siwon-ah.”

“Aku hanya menebak saja. Karena sejak kemarin Yoona juga seperti mayat hidup.” Siwon terlambat menyadari kata-kata yang tadi diucapkannya. Tanpa sadar ia telah mengatakan pada Yuri kalau ia mengenal Yoona, padahal awalnya ia pura-pura tidak saling mengenal dengan Yoona.

Yuri agak terkejut. Seingatnya Siwon dan Yoona tidak saling berbicara sewaktu ia mengajak Yoona ke tempat ini. “Kau mengenal Yoona?”

“Kami satu sekolah, dan aku beberapa kali bertemu dengannya di sekolah,” kata Siwon gugup karena pikirannya kembali ke saat ia mencium Yoona. Mengapa aku selalu memikirkan itu, rutuknya dalam hati. Siwon menyibukkan diri dengan mengambil beberapa botol vodka dan liquor dari rak penyimpanan.

“Ah, jadi begitu,” Yuri pura-pura percaya. Ia yakin Siwon dan Yoona lebih dari apa yang Siwon katakan. Jarang sekali Siwon membicarakan orang lain seperti ini. Menurut Yuri, meski Siwon bekerja di lingkungan seperti ini, Siwon adalah orang yang baik dan dapat dipercaya. Dan Yuri bersyukur karena Yoona mengenal Siwon. “Syukurlah, Yoona mendapat sunbae yang penuh pesona sepertimu. Jagalah dia dengan baik.”

Siwon hanya tertawa menanggapi ucapan Yuri. “Apa yang kau inginkan, Yuri-ssi?” tanya Siwon mengalihkan pembicaraan. Belakangan ini ia menjadi sangat sensitif terhadap hal yang berhubungan dengan Yoona.

“Menurutmu apa? Aku sedang banyak masalah, tertekan, dan sangat sedih. Apa yang cocok untukku?” Yuri balik bertanya.

Sejenak Siwon berpikir. “Malibu Dream? Rasanya enak, juga tidak terlalu berat,” Siwon memberi pertimbangan.

Yuri hanya mengangguk setuju. Ia percaya pada selera Siwon tentang minuman. Mulai dari whiskey, rum, liquor, gin, cognac, triple sec, sampai wine ia tahu semua. Siwon memang tidak pernah setengah-setengah dalam melakukan apapun. Begitu ia menerima tawaran Leeteuk sebagai bartender, dengan tekun ia mempelajari jenis-jenis minuman beralkohol dan berlatih meracik minuman.

Detik berikutnya Siwon sudah mengambil beberapa bahan untuk membuat pesanan Yuri. Tanpa diperintah otaknya memikirkan seorang gadis yang mungkin keadaannya sama seperti Yuri. Kalau Yuri mengalihkan pikirannya ke minuman, bagaimana cara gadis manja itu mengatasi masalah yang menderanya? Kau sudah gila, Siwon-ah, batinnya saat menyadari kalau ia mengkhawatirkan Yoona.

***

 

“Apa Anda bisa melakukannya, Jaksa Lee? Ada beberapa bukti kuat yang saya miliki, jadi bisa mempermudah Anda dalam pengusutan,” kata Choi Ki Ho pada seorang laki-laki yang duduk di balik meja di depannya.

Laki-laki itu mengangguk pelan. “Saya mengerti. Tapi untuk kasus sebesar ini kita benar-benar harus mendapatkan bukti yang kuat dan akurat. Jangan sampai mereka menuntut balik karena pencemaran nama baik. Kita harus berhati-hati, Tuan Choi.”

Choi Ki Ho mengiyakan. “Saya benar-benar berharap semua ini bisa berjalan sesuai rencana, Jaksa Lee.”

“Selama ini kami tidak bisa menyelidiki kasus A Grup karena tidak ada bukti yang cukup kuat. Semoga bukti-bukti milik Anda bisa membantu kami,” ucap Jaksa Lee.

“Bukti-bukti yang saya katakan tadi akan saya serahkan dalam beberapa hari,” kata Ki Ho. Ia lalu bangkit dari duduknya. “Saya sangat berterima kasih kejaksaan mau membantu menyelesaikan semua ini.”

Jaksa Lee berdiri dan menjabat tangan Ki Ho. “Itu adalah tugas kami. Kamilah yang harusnya berterima kasih karena Anda bersedia membantu.”

Ki Ho tersenyum. “Saya harus melakukan ini untuk menyelmatkan orang-orang yang saya sayangi,” gumamnya. Ia lalu pergi dari ruang kerja Jaksa Lee.

***

 

Menu makan siang hari ini adalah yangnyeom tongdak dan japchae, tapi Yoona hanya mengambil sekotak susu. Tenggorokkannya tidak mampu menelan makanan yang lebih  keras dari itu. Masalah keluarganya membuat nafsu makan Yoona yang besar menghilang begitu saja. Ia duduk bersama Jo Hyun yang asyik melahap makanannya.

“Kau sedang diet?” tanya Jo Hyun di sela-sela kunyahannya.

Yoona menggeleng pelan. “Aku tidak berselera.”

“Wae? Ada masalah apa?”

Belum sempat Yoona menjawab pertanyaan Jo Hyun, perhatiannya sudah teralih pada dua orang yang sedang berjalan mendekati mereka. Siwon dan Leeteuk yang masing-masing membawa nampan makan siangnya. Ia merasa belum siap menghadapi Siwon setelah kejadian malam itu. Yoona heran pada dirinya sendiri mengapa sebuah ciuman dapat berefek sangat besar pada perasaannya.

“Apa yang kau lihat?” Jo Hyun heran melihat tatapan Yoona terkunci pada satu titik. Ia menoleh ke belakang, mencari objek yang membuat Yoona terpana seperti itu. “Begitu besarkah rasa cintamu pada Siwon Sunbae?” sindir Jo Hyun saat tahu Yoona sejak tadi memandang Siwon.

Yoona baru menyadari kalau ia duduk di tempat yang biasa ditempati oleh mereka berdua. “Jo Hyun, ayo pergi,” ajaknya buru-buru. Ia malu berhadapan dengan Siwon karena pasti yang teringat adalah kejadian malam itu. Saat itu, Yoona tidak benar-benar berpikir Siwon akan menciumnya. Dan sekarang Yoona sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Ia telah berciuman dengan orang yang tidak punya hubungan apa-apa dengannya. Dan ia tidak mungkin bisa bersikap seperti biasanya.

Jo Hyun cemberut. “Kau tidak lihat kalau aku masih makan?”

Yoona hanya mendesah pasrah. Ia menunduk, tidak berani menegakkan kepalanya karena takut akan bertatapan langsung dengan Siwon.

“Apa duduk di sini sangat menyenangkan?” Leeteuk meletakkan nampannya dan duduk di samping Yoona. Siwon sengaja lebih dulu mengambil tempat duduk di samping Jo Hyun agar ada sedikit jarak di antara ia dan Yoona. Tapi dengan begitu justru ia dapat dengan leluasa memandang wajah Yoona.

“Aku akan segera pergi, Sunbae,” balas Yoona cepat tanpa memandang Leeteuk. Ia sibuk meneguk susunya sampai habis.

Leeteuk heran melihat Yoona yang begitu tenang saat bertemu Siwon, tidak histeris seperti biasanya. “Kau benar-benar akan pergi? Meskipun ada Siwon di sini?”

Pertanyaan Leeteuk membuat pipi Yoona memerah. “Sunbae, apa maksudmu?”

“Yoona, kenapa pipimu jadi merah begitu?” tanya Jo Hyun curiga. Ia menoleh menatap Siwon di sampingnya yang duduk dengan tidak tenang. “Siwon Sunbae mengapa kau begitu gugup?”

“Aniyo, gwenchana,” elak Siwon.

“Apa telah terjadi sesuatu di antara kalian?” tebak Leeteuk. Sejak tadi ia juga curiga memperhatikan tingkah Siwon dan Yoona yang tampak aneh. Mereka sama-sama terlihat canggung. Siwon yang biasanya sangat tenang kini terlihat gugup, sedangkan Yoona yang selalu percaya diri menjadi begitu pemalu.

Siwon dan Yoona sibuk berpikir mencari alasan dan tanpa sadar saling menatap, lalu buru-buru mengalihkan tatapan mereka ke arah lain.

“Tidak ada apa-apa, Sunbae.”

“Kau bicara apa, Hyung?”

Dalam waktu bersamaan Yoona dan Siwon menjawab pertanyaan Leeteuk.

“Pasti telah terjadi sesuatu,” teriak Leeteuk yakin, membuat beberapa anak menoleh ke meja mereka. Ia teringat saat terakhir kali melihat Siwon bersama Yoona. Saat itu Siwon lebih memilih pergi bersama dengan Yoona daripada bersama dengan sahabatnya. Dari situ Leeteuk bisa menangkap kalau memang ada sesuatu di antara mereka, meski Siwon selalu mengelak.

“Jo Hyun, ayo pergi,” Yoona langsung menarik Jo Hyun tanpa menunggu persetujuannya. Yoona merasa tidak sanggup lagi berada lebih lama berhadapan dengan Siwon. Apalagi di matanya Siwon terlihat biasa saja. Mungkin memang aku yang berlebihan, pikir Yoona.

“Ya! Im Yoona!” teriak Jo Hyun tertahan, kesal karena Yoona seenaknya menarik tangannya.

“Katakan padaku apa yang terjadi!” paksa Leeteuk setelah Yoona dan Jo Hyun meninggalkan mereka.

“Eobseo,” kata Siwon. Ia mulai menyantap makan siangnya, mengacuhkan Leeteuk yang masih pantang menyerah untuk mengorek rahasia antara Siwon dan Yoona.

“Marhaebwa,” bujuk Leeteuk lagi. “Mengapa ia tidak berteriak dan berkata macam-macam seperti biasanya padamu? Apa yang kalian lakukan kemarin? Sepertinya kau pergi dengannya?”

Siwon meletakkan sumpitnya di meja lalu menatap Leeteuk jengah. “Hyung, tidak ada yang terjadi,” tegasnya.

Leeteuk mengangguk paham. Melihat Siwon bersikap seperti itu menandakan kalau sahabatnya itu memang tidak ingin mengatakan apapun padanya. Leeteuk menghela napas, menyerah. Siwon tidak akan mau membuka mulutnya jika sudah seperti itu. Mungkin ia harus mencari tahu secara diam-diam.

***

 

Yuri duduk di tempat tidurnya sambil memijit kening. Kepalanya terasa agak berat karena alkohol semalam, ditambah perutnya masih kosong sejak pagi. Ia ingin tidur lagi, tetapi seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dengan malas Yuri menyeret kakinya berjalan dan membuka pintu.

“Appa,” kata Yuri begitu melihat ayahnya berdiri di depan pintu.

Im Tae San tersenyum. “Boleh Appa masuk?”

Meski sedikit heran karena ayahnya mendatanginya, Yuri tetap mempersilakan Im Tae San masuk. Mereka duduk berdampingan di sofa panjang.

“Appa, ada apa?” tanya Yuri. Tidak biasanya Tae San menemui Yuri. Yang biasa adalah Tae San menyuruh Yuri datang ke ruangannya.

Tae San memandang putrinya lekat-lekat. Semenjak Yoona lahir, perhatiannya memang hampir sepenuhnya tersita untuk gadis itu. Ia berpikir keberadaan Hae Ra sudah cukup bagi Yuri sehingga ia memilih berada di sisi Yoona. Namun dengan adanya pembicaraan tentang perceraian membuat Tae San merenungkan sikapnya pada Yuri selama ini. Bagamanapun Yuri juga putrinya. Dan mungkin ia juga terluka sama seperti Yoona saat mendengar berita itu. “Apa kau keberatan mengabulkan satu permintaan Appa?”

Kening Yuri berkerut. Ini bukanlah ayahnya yang biasa. Sudah jelas ada sesuatu di balik semua ini. “Ini pertama kalinya Appa meminta sesuatu padaku. Biasanya Appa langsung menyuruhku melakukan semua keinginan Appa.”

Tae San mengerti mengapa Yuri bersikap seperti itu padanya. Ia tidak mengindahkan sindiran Yuri. “Untuk melarangmu menjadi seorang penyanyi, Appa minta maaf. Dan karena selalu lebih memikirkan Yoona, Appa juga minta maaf. Appa tahu ini berat bagimu. Kau memiliki Eomma, sedangkan Yoona selalu sendirian. Kau mengerti mengapa Appa seperti ini, kan?”

Yuri hanya tersenyum sinis menanggapi semua ucapan ayahnya. Mengapa ia harus menanggung penderitaan dari perbuatan yang tidak pernah ia lakukan?

“Appa juga meminta maaf karena memindahkan aset menjadi atas nama Yoona, bukan namamu,” lanjut Tae San. “Ada banyak alasan yang membuat Appa melakukan semua ini. Bisakah kau mendukung rencana Appa? Appa berjanji akan mengabulkan semua keinginanmu. Kita akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Appa, kau, dan Yoona.”

Ternyata itulah tujuan Tae San menemui Yuri. Meminta restu dan maaf sang putri sebelum ia semakin tenggelam dalam perasaan bersalah.

Bagi Yuri, mendukung ayahnya berarti mengkhianati ibunya. Ia tahu pasti bila rencana ayahnya berhasil, ibunya tidak akan mendapat apapun. Semua aset keluarga Im akan kembali pada ayahnya. Padahal Hae Ra sudah bekerja sangat keras untuk bisa seperti sekarang. Yuri hanya diam, tidak memberi jawaban apapun untuk ayahnya. Ia sangat menyayangi kedua orang tuanya, bagaimanapun mereka memperlakukannya dengan buruk. Tapi untuk memilih salah satu di antara mereka bukanlah hal yang mudah. Yuri tetaplah seorang anak yang mengharapkan keluarganya bahagia tanpa ada perpecahan.

***

 

Donghae menunggu Yoona saat pulang sekolah. Mereka akhirnya bertemu saat Yoona hendak masuk ke mobil yang menjemputnya pulang. Dengan sigap Donghae menutup pintu mobil Yoona yang sudah dibuka oleh supirnya, membuat Yoona mendelik kesal. Donghae lalu berkata pada supir Yoona agar segera pergi karena ia yang akan mengantar Yoona pulang.

Yoona menyilangkan kedua tangannya di dada dan menatap Donghae tajam, meminta penjelasan atas tindakan sewenang-wenangnya barusan.

“Kita bertemu lagi, Yoona-ya,” kata Donghae tanpa dosa.

“Jangan panggil aku seperti itu, Sunbae!” sungut Yoona. Dari ekor matanya ia melihat Siwon sedang berjalan keluar dari gedung sekolah. Yoona sedikit iseng ingin melihat reaksi Siwon bila ia berdekatan dengan laki-laki lain. Dengan begitu, ia bisa tahu seberapa besar arti dirinya bagi Siwon. “Kau benar-benar mau mengantarku pulang, Sunbae?” Yoona sedikit mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Siwon berada tidak jauh dari mereka.

Donghae yang belum menyadari tujuan Yoona tersenyum senang karena Yoona sedikit ramah dan sepertinya akan menerima tawarannya. “Aku sudah bilang tadi kalau aku akan mengantarmu.”

Siwon yang mendengar percakapan mereka menjadi bertanya-tanya, apakah memang Yoona dan Donghae sedekat itu. Tetapi ia terus berjalan melewati Yoona dan Donghae seakan-akan mereka tidak ada. Yoona bukan adik, kekasih, atau sahabatnya. Ia tidak punya hak apapun atas gadis itu.

Melihat Siwon yang tetap cuek membuat Yoona kesal karena rencananya tidak berhasil. Ia berpikir mungkin memang Siwon benar-benar tidak menyukainya. Dan soal ciuman bisa saja karena Siwon adalah orang yang menepati janjinya untuk mengabulkan semua permintaan Yoona. Tidak lebih.

Karena ternyata Siwon bersikap seperti tidak ada yang terjdi, Yoona juga bertekad akan bersikap seperti biasanya. Ia akan mengesampingkan rasa canggungnya setelah kejadian itu. Tidak ada gunanya terus bertahan sementara orang yang ia sukai tidak pernah melihatnya. Mungkin inilah saat terbaik untuk mengatakan segalanya, pikir Yoona.

“Sunbae, aku masih ada urusan. Aku akan pulang sendiri,” kata Yoona. Tanpa menunggu reaksi Donghae, ia berlari menyusul Siwon.

Donghae berdecak kesal. “Mengapa sulit sekali untuk dekat denganmu?”

 

Yoona mengikuti Siwon dari jarak yang cukup dekat. Ia sedang menimbang-nimbang bagaimana cara untuk mengatakan pesan dari ibu Siwon untuk putranya. Yoona sudah cukup yakin kalau wanita yang memberikan liontin padanya adalah ibu dari Siwon yang ia kenal sekarang. Mengikuti Siwon seperti ini membuatnya teringat saat ia mengikuti Han Hye Won, ibu Siwon yang ia kenal saat berada di rumah sakit sembilan tahun lalu.

Yoona teringat saat ia terus mengikuti Han Hye Won seperti saat ini sembilan tahun lalu di lorong rumah sakit. Sejak bertemu di taman, rasanya Yoona tidak ingin jauh-jauh dari wanita itu. Hye Won Ahjumma telah membuat Yoona jatuh cinta pada sosok keibuannya yang begitu Yoona dambakan. Bahkan tanpa sepengetahuan Han Hye Won, Yoona mengikuti wanita itu pergi ke taman padahal suster baru saja menyuruhnya untuk tidur.

Saat itu tiba-tiba saja Hye Won berbalik, membuat ia dan Yoona berdiri berhadapan. Yoona yang tertangkap basah langsung berakting membuat kejadian itu seperti suatu kebetulan.

“Ahjumma, aku senang sekali bertemu lagi denganmu,” serunya. Ia memasang senyumnya yang paling manis, karena itu biasanya sangat manjur membuat orang-orang luluh saat melihatnya.

Hye Won menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Yoona. Ia meraih satu tangan Yoona dan menggandeng gadis kecil itu berjalan menuju taman. Mereka kembali duduk bersama di sebuah bangku taman dan bercerita ini itu. Meski Yoona selalu mendominasi percakapan, Hye Won tampaknya tidak pernah bosan mendengar setiap kata yang keluar dari mulut kecil Yoona.

“Yoona, ada sesuatu yang ingin Ahjumma katakan padamu,” kata Hye Won saat Yoona sudah kehabisan bahan cerita. “Kau mau mendengarnya?”

“Tentu saja, Ahjumma selalu mendengarkan saat aku bicara. Aku juga harus melakukan hal yang sama pada Ahjumma,” jawab Yoona penuh keyakinan.

Hye Won mengangguk paham. “Lalu, apakah kau mau membantu Ahjumma?”

Yoona mengangguk mengiyakan. “Apa yang bisa kubantu?”

Hye Won melepas liontin yang ia pakai dan membukanya. “Kau ingat dia?” tanyanya pada Yoona sambil menunjuk potret anak laki-laki kecil di dalam liontin.

“Siwon Oppa?”

Hye Won mangangguk mengiyakan jawaban Yoona. “Ahjumma ingin kau memberikan liontin ini padanya,” lanjut Hye Won.

Alis Yoona terangkat. “Waeyo? Mengapa Ahjumma tidak memberikannya sendiri? Lagipula, mengapa Ahjumma memberikannya pada Siwon Oppa lagi? Bukankah Siwon Oppa telah memberikannya untuk Ahjumma?” celoteh Yoona bingung.

“Selain itu, kau juga harus menyampaikan pesan Ahjumma untuknya,” Hye Won tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan Yoona.

“Apakah Ahjumma akan meninggal? Mengapa harus aku yang menyampaikan pesan? Bukankah setelah Ahjumma sembuh Ahjumma akan kembali ke rumah dan bertemu dengan Siwon Oppa?” tanya Yoona polos.

Hye Won tertawa kecil, tidak menyangka Yoona begitu pintar dan cerewet. Ia menggeleng pelan, menyangkal semua pertanyaan Yoona. “Ahjumma akan pergi jauh, jadi tidak bisa menemuinya. Tetapi ada beberapa hal yang ingin Ahjumma katakan pada Siwon. Kau bisa menyampaikannya pada Siwon?”

Tidak ada pilihan bagi selain mengiyakan permintaan ahjumma yang sangat ia sayangi. Meski masih diliputi rasa heran, kepala Yoona akhirnya mengangguk setuju. “Apa yang harus kukatakan padanya?”

Hye Won diam sejenak, mencoba menumpahkan semua yang ia rasakan ke dalam kalimat sederhana yang bisa Yoona ingat. “Bilang padanya kalau Ahjumma baik-baik saja. Ahjumma akan segera kembali ke rumah secepat mungkin. Ahjumma juga ingin meminta maaf karena pergi tiba-tiba dan tidak pernah mengucapkan selamat tinggal. Dan katakan pada Siwon kalau Ahjumma sangat mencintainya. Kau bisa mengingatnya?”

Otak Yoona berusaha merekam semua kata-kata Hye Won tanpa ada yang terlewat. Tapi bagaimana ia bisa menemukan Siwon? “Ahjumma, di mana aku bisa menemukan Siwon Oppa?”

Tiba-tiba saja tiga orang laki-laki bertubuh kekar dengan setelan hitam-hitam mendatangi mereka. Yoona sedikit ketakutan melihat orang-orang itu. Menurutnya  penampilan laki-laki kekar itu mirip seperti penjahat yang ada di televisi. Ternyata mereka datang untuk  menjemput Hye Won. Yoona bisa tahu karena melihat Hye Won yang bersiap untuk pergi setelah salah satu dari mereka memberikan kode pada wanita itu untuk berdiri.

“Chakkamannyo,” pinta Hye Won pada laki-laki itu. Ia membelai kepala Yoona terakhir kalinya sebelum pergi dan berkata, “Kau pasti bisa menemukannya, Yoona-ya. Lakukan itu untuk Ahjumma, eoh?”

“Ahjumma,” teriak Yoona memanggil Hye Won yang dibawa pergi oleh ketiga lelaki itu. Yoona hanya bisa pasrah melihat orang yang ia sayangi pergi. Ia terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi. Yang ia tahu adalah ahjummanya tersayang sedang sakit dan mungkin akan meninggal sehingga tidak bisa bertemu lagi dengan putranya.

“Kau mengikutiku?” tegur Siwon tiba-tiba. Ia sudah tahu sejak awal kalau Yoona mengikutinya, tapi ia diam saja.

Yoona sedikit terkejut karena sejak tadi ia melamun. Ia baru sadar kalau dirinya dan Siwon sudah berhadap-hadapan. “Aku ingin mengatakan permintaan keempatku,” kata Yoona ragu.

“Jigeum?”

“Apa Sunbae ada waktu?”

Kening Siwon sedikit berkerut karena Yoona kembali memanggilnya Sunbae. “Kau sudah tidak memanggilku oppa lagi?”

“Aku bilang akan memanggilmu oppa hanya sampai kemarin. Aku orang yang menepati janji, Sunbae,” ucap Yoona meski sebenarnya ia ingin memanggil Siwon dengan embel-embel oppa. Tapi baginya janji adalah sesuatu yang harus ia tepati.

Siwon mengangguk paham. Terselip sedikit kekecewaan di hatinya karena Yoona benar-benar menepati janjinya. “Sepertinya tidak bisa. Aku sudah ada janji.”

“Janji apa?” tanya Yoona penasaran. “Apa Sunbae akan menghabiskan waktu bersama Kim Taeyeon itu?”

Otak Siwon yang jenius langsung menangkap gelagat cemburu dari Yoona. “Memangnya kau harus tahu?” Siwon mulai merasakan kenikmatan tersendiri saat membuat Yoona kesal dan cemburu.

Bibir Yoona merengut, raut wajahnya tampak kecewa. Ia menganggap jawaban Siwon adalah tanda bahwa tebakannya benar. “Jadi benar begitu?”

Tawa Siwon akhirnya pecah melihat ekspresi Yoona, membuat gadis itu menatapnya heran. “Jadi kau benar-benar menyukaiku? Apa kau sangat cemburu dengan Taeyeon?”

Kepala Yoona menunduk. Entah mengapa ia merasa agak malu sekarang kalau harus mengungkapkan perasaannya pada Siwon, padahal sebelumnya ia seakan bermuka tembok. “Bukankah sudah kubilang kalau aku benar-benar menyukai Sunbae,” gumamnya.

Siwon menghentikan tawanya saat melihat Yoona menjadi serius. Sedikit merasa tidak enak karena menertawakan perasaan orang lain, sementara ia juga tahu bagaimana rasanya menyukai seseorang. “Bagaimana kalau lain kali saja?” tawar Siwon. “Sekarang aku harus pergi ke bar dan berlatih bersama Heechul Hyung.”

“Jadi Sunbae tidak akan pergi dengan Kim Taeyeon?” semangat Yoona muncul kembali mendengar Siwon mempunyai janji dengan orang lain. Meski Siwon tidak menyukainya, Yoona merasa lega karena Siwon tidak bersama gadis lain.

“Panggil Taeyeon dengan sebutan unnie, dia lebih tua darimu,” perintah Siwon.

Yoona mengangguk setuju. Ia sama sekali tidak membenci Taeyeon. Yoona hanya sedikit iri dengan gadis itu karena bisa begitu dekat dengan Siwon. “Kalau begitu aku akan ikut dan menunggu Sunbae berlatih. Kajjaa!” tanpa menunggu persetujuan Siwon, Yoona menarik tangan Siwon sekuat tenaga pergi dari tempat itu. Harus sekuat tenaga memang, karena tubuh dan tenaga Siwon jauh lebih besar dibandingkan dengan tubuh Yoona yang kurus.

“Kau benar-benar akan ikut?” tanya Siwon heran. Terakhir kali ia memperhatikan Yoona saat di bar, gadis itu sama sekali tidak menikmati, bahkan terkesan takut terhadap suasana saat itu. “Kau tidak takut berada di bar?”

Yoona memalingkan wajahnya pada Siwon, menampakkan senyumnya yang paling cantik. “Ani. Ini kan masih siang. Lagipula ada Sunbae yang akan melindungiku di sana. Geraeji?”

Siwon pasrah membiarkan Yoona menariknya pergi. Gadis itu akan selalu memaksakan keinginannya, Siwon tahu itu. Ada begitu banyak pertanyaan di benak Siwon tentang Yoona. Muncul sebuah niat untuk mencoba menerima semua perlakuan Yoona padanya. Karena pada kenyataannya Siwon juga menikmati setiap waktunya bersama gadis itu. Ia diam-diam berjanji untuk mengenal Yoona lebih dekat, menghapus kesedihannya, dan membuat tawa ceria Yoona selalu ada setiap hari. Siwon bahkan mulai melupakan rasanya pada Taeyeon yang sudah cukup lama memenuhi hatinya.

***

 

“Apa ini?” Yoona menunjuk ke sebuah gelas yang berisi minuman berwarna cokelat dengan whip cream di atasnya.

“Almond chocolate coffee,” jawab Siwon. Ia masih sibuk menakar beberapa bahan yang akan dibuatnya menjadi segelas minuman.

Yoona memandang takjub pada gelas itu. “Jadi ada alkohol yang rasanya kopi juga? Aku baru tahu,” gumamnya kagum. Sejak tadi ia asyik menyaksikan Siwon berlatih meramu minuman di bar milik Leeteuk. “Lalu ini apa?” tanya Yoona sambil mengangkat sebuah gelas dengan minuman berwarna hijau terang.

Siwon melirik ke gelas yang diangkat Yoona. “Midori Sour.”

Yoona mengangguk-angguk meski tidak mengerti apa yang dikatakan Siwon. Senang rasanya bisa melihat sisi lain Siwon saat sedang bekerja. Siwon bolak-balik mengambil beberapa botol minuman yang sangat asing di mata Yoona, menakarnya, mencampurkan satu dengan yang lain, menambahkan es batu, sesekali menggunakan shaker atau blender, lalu menuangnya ke dalam gelas saji. Terkadang Siwon membiarkan Yoona ikut menghias hasil karyanya dengan sebuah cherry atau potongan jeruk. Tapi tidak pernah sekalipun ia membiarkan Yoona mencicipinya.

“Kau sudah menyelesaikannya?” tanya seorang laki-laki yang baru datang. Ia adalah Heechul, guru Siwon dalam hal yang berhubungan dengan bartender.

“Ne, Hyung. Ini yang terakhir,” kata Siwon sambil menuang minuman berwarna orange kekuningan ke sebuah gelas kecil. Yoona memberi sentuhan terakhir dengan menambahkan potongan lemon di atasnya.

“Yeppeuda,” seru Yoona girang. “Boleh aku meminumnya?”

Siwon langsung merebut gelas itu dari tangan Yoona dan memberikannya pada Heechul. “Hyung, cobalah.”

Heechul tersenyum melihat tingkah Siwon dan Yoona sebelum menerima gelas itu dan menyesapnya. “Kau memang hebat, Siwon-ah. Kau belajar dengan sangat cepat,” pujinya. “Bagaimana dengan yang lain?”

Siwon menunjuk beberapa minuman yang sudah tersaji dengan cantik di meja bar dan membiarkan Heechul mencicipinya satu per satu. Ia melirik Yoona di sampingnya yang cemberut karena tidak diperbolehkan mencicipi barang seteguk. “Kau marah?”

“Tentu saja,” gerutu Yoona yang membuat Siwon tersenyum. Tangannya terangkat membelai lembut rambut Yoona dan mengacaknya pelan.

“Dasar pemarah. Tunggu sampai kau cukup umur baru kau boleh meminumnya,” ujar Siwon.

Tidak jauh dari mereka, Leeteuk dan Taeyeon sama-sama menyaksikan adegan manis antara Siwon dan Yoona. Mereka sukses membuat kening Leeteuk keriting karena heran. Begitu juga dengan Taeyeon. Sebelumnya Siwon tidak pernah bercerita apapun tentang hubungannya dengan Yoona yang ternyata cukup dekat. Jelas saja ia kaget melihat tawa Siwon dan sikap ramahnya pada Yoona yang baginya sangat tiba-tiba. Siwon tidak mudah akrab dengan orang yang baru ia kenal. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membuat Siwon merasa nyaman di dekat seseorang.

“Aku tidak tahu kalau mereka sedekat itu,” gumam Taeyeon heran. “Bukankah kau bilang Siwon itu manusia es, Oppa?”

Leeteuk mengendikkan bahunya. Ia juga baru menyadari perubahan besar yang terjadi pada diri Siwon dalam waktu sesingkat ini. “Kemarin rasanya mereka masih bertengkar. Aku juga tidak tahu apa yang sudah terjadi di antara mereka.”

Taeyeon menghela napas. “Aku senang kalau Siwon sudah menyukai seseorang,” ujar Taeyeon. Dia sedikit melirik Leeteuk yang masih memperhatikan Siwon dan Yoona. “Mungkin aku juga harus segera mencari pacar.” Taeyeon sebenarnya ingin memancing Leeteuk karena ia merasa Leeteuk tidak berani untuk memulai terlebih dahulu. Leeteuk hanya terus-terusan menggodanya tetapi tidak pernah lebih serius dari itu.

Ucapan Taeyeon sukses membuat perhatian Leeteuk teralihkan. Ia ganti menatap Taeyeon dengan tatapan menggoda. “Mengapa kau harus mencari? Di depanmu sudah ada pria tampan dan menawan,” godanya.

Taeyeon sedikit tersipu karena perkataan Leeteuk, tapi ia menutupinya. “Kau bercanda, Oppa? Di depanku hanya ada seorang siswa tapi terlihat seperti ahjussi.”

“Ya! Kau mengataiku?” Leeteuk meraih tengkuk Taeyeon dan menghimpitnya dengan lengannya. Ia lalu mengacak-acak rambut gadis itu sampai benar-benar kusut. Tawanya pecah begitu melihat penampilan Taeyeon yang berantakan, tanpa memedulikan protes Taeyeon yang menyuruhnya berhenti tertawa.

***

 

Choi Ki Ho duduk seorang diri di sebuah restoran bergaya Jepang. Seseorang telah menyewa satu ruang privat tempat ia duduk sekarang. Mereka berdua telah berjanji akan bertemu dan membicarakan beberapa hal. Tidak berselang lama, seorang pelayan membuka pintu geser dan mempersilakan seorang wanita masuk ke ruangan itu.

“Oremanieyo, Ki Ho-ya,” sapa wanita itu sambil memposisikan diri duduk di depan Choi Ki Ho.

“Yoon Hae Ra, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu dengan cara seperti ini,” balas Choi Ki Ho. “Apa yang ingin kau katakan? Aku tidak punya banyak waktu.”

Hae Ra tersenyum menatap kawan lamanya itu. Ia mengenal Ki Ho dan Tae San saat sama-sama kuliah di Universitas Yale. Hubungannya dengan Ki Ho ikut terputus bersamaan dengan runtuhnya persahabatan Tae San dan Ki Ho bertahun-tahun lalu. Dan sekarang Hae Ra ingin meminta bantuan Choi Ki Ho untuk menjalankan rencananya. “Aku akan langsung pada tujuanku mengajakmu bertemu, Ki Ho-ya. Ada sesuatu yang harus kulakukan, dan  aku membutuhkan batuanmu.”

Kening Ki Ho mengernyit. “Bantuan macam apa?”

“Aku yakin kau tahu bagaimana hubunganku dan Tae San selama ini. Aku ingin menghancurkannya. Tapi aku tidak bisa melakukannya sendiri. Jadi aku butuh bantuanmu,” kata Hae Ra. Ia sedikit takut kalau Ki Ho menolak rencananya mengingat Ki Ho adalah orang yang sangat membenci kecurangan.

“Tak usah berbelit-belit. Katakan saja apa yang kau inginkan dariku, meski aku tidak bisa berjanji akan membantumu.”

Setelah mengambil napas yang cukup panjang, Hae Ra mengatakan rencananya pada Ki Ho. “Tae San sudah memindahkan semua asetnya menjadi atas nama Yoona, dan itu membuatku tidak bisa mengambil apapun jika aku bercerai darinya. Tapi kau memiliki bukti-bukti bahwa kaulah pemilik dari separuh kekayaan Tae San sekarang. Dengan sedikit muslihat, kita bisa mengambil semuanya kembali. Kita akan membagi semuanya secara adil. Dan aku akan mengembalikan posisimu di perusahaan seperti semula.”

Sebuah senyum getir tampak di wajah Ki Ho. “Mengapa kalian menjadi seperti ini? Sejak kapan kalian berubah?” tanyanya lebih kepada dirinya sendiri. Rasanya sangat menyakitkan melihat orang-orang terdekatnya satu per satu berubah menjadi monster yang menyeramkan. Monster yang hanya memikirkan uang dan kekuasaan.

“Banyak hal yang membuatku berubah, Ki Ho-ya. Semuanya terasa sangat berat. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk tetap bisa bertahan,” kata Hae Ra pelan. Ada nada pilu di setiap kata-katanya.

“Mianhe,” ucap Ki Ho. “Aku akan mengembalikan semua seperti semula, tapi bukan dengan cara seperti ini. Aku akan melakukannya dengan caraku sendiri,” lanjut Ki Ho. Ia sedikit tersentuh melihat keadaan Hae Ra. Tetapi Ki Ho sudah membulatkan tekadnya akan mengembalikan Tae San yang sekarang menjadi Tae San yang dulu ia kenal. Bukan dengan sebuah kecurangan lain yang justru akan menambah rumit keadaan. Ia akan melakukannya dengan cara yang benar-benar bersih dan adil hingga tidak ada pihak yang akan tersakiti lagi.

***

 

Dua orang itu berdiri berdampingan memandang Sungai Han pada malam hari. Angin dingin bulan November menerpa wajah cantik Yoona dan memainkan rambut panjangnya. Sesekali ia mengeratkan mantelnya, mencari sedikit kehangatan di malam musim dingin seperti saat ini. Di sampingnya, Siwon melakukan hal yang sama. Kedua tangannya ia masukkan ke saku celana seragam yang ia pakai.

“Neomu yeppo,” gumam Yoona sambil memandang lampu-lampu beraneka warna yang menyala di kejauhan. Ini adalah kali pertama ia menikmati malam di pinggiran Sungai Han.

“Jangan bilang kau baru pertama kali datang kemari,” kata Siwon.

“Ini memang pertama kalinya aku datang kemari.”

Siwon menoleh kaget. “Jinjayo? Kemana saja kau selama ini?”

Yoona hanya mendesah. Ia memutar tubuhnya menghadap Siwon. Tangannya menyentuh lengan Siwon, meminta Siwon melakukan hal yang sama. “Sunbae, ada yang harus kukatakan padamu. Ini adalah permintaan keempatku. Tolong dengar ceritaku sampai akhir,” katanya saat sudah berhadapan dengan Siwon.

Angin berhembus semakin keras, membuat rambut Yoona tampak sedikit berantakan. Di bawah temaram lampu dan hembusan angin, Yoona tampak begitu cantik di mata Siwon. Benarkah ia telah jatuh cinta pada gadis naif yang selalu ceroboh dalam waktu sesingkat ini?

Perlahan, tangan Siwon terangkat menyingkirkan helaian rambut yang jatuh di wajah Yoona. “Apa yang mau kau katakan?” tanyanya lembut. Siwon lagi-lagi menyalahkan dirinya karena begitu mudah terbawa suasana dan menjadi melankolis seperti ini. Ia bertekad tidak akan pernah lagi ke tempat-tempat dengan cahaya yang redup bersama Yoona.

Yoona tidak menjawab pertanyaan Siwon. Ia justru maju satu langkah lalu memeluk Siwon erat dan membenamkan wajahnya di dada bidang milik Siwon, membuat pemuda itu heran.

“Waegurae?” tanya Siwon heran. Tubuhnya menjadi sekaku papan karena terlalu kaget mendapat sebuah pelukan dari Yoona. Tidak ada jawaban, hanya sebuah gelengan lemah dari kepala Yoona yang masih menempel di dada Siwon. Meski sempat merasa ragu, namun akhirnya tangan Siwon membelai lembut punggung Yoona, memberi ketenangan pada gadis itu. ”Ada apa?” ulangnya lembut.

Yoona melepas pelukkannya. Ia melepas liontin yang selama ini selalu ia pakai lalu menyerahkannya ke tangan Siwon.

Tatapan mata Siwon terfokus pada benda yang sudah bertahun-tahun tidak dilihatnya. Ia kenal betul dengan liontin itu. Liontin yang ia berikan untuk sang ibu saat ulang tahunnya, yang ia beli dengan uang hasil tabungannya sendiri. Jantungnya berdegup kencang, antara kaget, tegang, takut, senang, dan beribu rasa lain yang berdesakkan di dadanya. Setelah puas mengamati liontin itu, memastikan kalau itu benar-benar milik ibunya, Siwon ganti menatap Yoona. “Bagaimana kau mendapatkan ini?”

“Sunbae harus mendengar ceritaku sampai selesai,” kata Yoona lirih. Ia sudah bisa membayangkan rekasi Siwon saat mengetahui semua ini. Meski sudah mempersiapkan diri, tetap saja ada rasa takut terselip di hatinya.

“Sebenarnya apa yang mau kau katakan?” Siwon sudah mulai tidak sabar. Bertahun-tahun ia tidak mendengar kabar apapun dari ibunya dan sekarang sebuah benda yang sangat lekat dengan ibunya tiba-tiba ada di hadapannya bersama dengan seorang gadis asing. Siwon benar-benar tidak mengerti. Apa itu artinya ibunya masih hidup dan berada tidak jauh dari tempatnya berada? Atau justru ibunya sudah pergi ke dunia lain? Sekuat tenaga ia menahan semua pertanyaannya dan mendengarkan kata-kata Yoona.

“Aku ingin minta maaf karena membuatmu menunggu begitu lama, Sunbae. Juga untuk keegoisanku.” Yoona mengambil jeda sebentar sebelum mengatakan deretan kata yang sudah berkali-kali ia rangkai sebelum bertemu Siwon. “Sembilan tahun yang lalu, aku bertemu dengan seorang ahjumma di rumah sakit. Dialah yang memberiku liontin itu.” Selanjutnya Yoona menceritakan semua detail pertemuannya dengan Hye Won sampai pada saat tiga orang laki-laki berbaju hitam membawa Hye Won pergi.

Siwon tidak butuh lama untuk mencerna kata-kata Yoona. Bagaimana bisa semua ini terjadi? Apa yang sebenarnya ibunya lakukan di rumah sakit? Sakitkah dia? Mengapa tidak sekalipun ibunya mengeluh sakit? Mengapa harus pergi diam-diam? Mengapa ibunya merahasiakan itu semua? Lalu sekarang di mana ibunya? Apa yang ia lakukan selama ini? Begitu banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan, tetapi tidak ada yang keluar dari mulutnya. Siwon hanya menatap Yoona dengan pandangan sedih.

Yoona pun begitu. Ia terdiam menunggu reaksi Siwon. Tidak tahu apa lagi yang mesti ia katakan. Semua kalimat yang ia rangkai sebelum ini menguap begitu saja.

“Lalu di mana dia sekarang?” tanya Siwon pelan saat menemukan kembali ketenangannya.

Kepala Yoona menggeleng pelan. “Mollayo. Setelah orang berbaju hitam itu membawa Ahjumma pergi, aku tidak pernah melihat Ahjumma lagi,” jawabnya lirih.

Kaki Siwon sedikit goyah. Ia memilih duduk di sebuah bangku tak jauh dari tempat mereka berdiri. Pikirannya sangat kalut. Siapa yang membawa Eomma? Di mana Eomma sekarang? Apa itu artinya Eomma masih hidup?

“Sunbae,” Yoona menghampiri Siwon dan berdiri di depannya. “Mianhe, karena baru mengatakannya sekarang.”

“Mengapa kau baru mengatakannya sekarang?” tanya Siwon datar. “Setiap hari selama sembilan tahun, aku hidup dalam penyesalan, kekhawatiran, ketakutan, perasaan terabaikan, dan kesedihan. Aku menyesal mengapa hari itu aku tidak bangun lebih pagi dan melihat kepergian Eomma. Aku khawatir bila ada sesuatu yang buruk terjadi padanya. Aku takut jika aku tidak akan bisa bertemu lagi dengannya. Aku merasa diabaikan oleh ibuku karena dia bahkan tidak memikirkan bagaimana perasaanku saat pergi. Dan aku sangat bersedih karena perlahan hidupku menjadi tak berarti.” Siwon tidak berbicara dengan nada yang tinggi, bahkan terkesan datar. Tapi itu justru semakin membuat Yoona cemas.

“Mianhe, Sunbae,” hanya itu yang bisa Yoona katakan. Kepalanya tertunduk semakin dalam.

Siwon tersenyum getir. “Mengapa baru sekarang?” ulangnya. “Kalau kau mengatakannya padaku sejak dulu mungkin Eomma masih berada di sini,” lanjutnya sinis.

Ini yang sudah Yoona nantikan. Kemarahan Siwon padanya karena tidak menyampaikan pesan itu sejak dulu. “Mianhe karena aku begitu egois, Sunbae. Karena aku baru menemukanmu setelah bertahun-tahun dan tidak langsung memberitahukan semua ini. Karena aku begitu menyukaimu dan tidak ingin kau membenciku karena ini.”

“Kau takut aku akan membencimu? Bahkan aku sempat membenci ibuku karena meninggalkanku tanpa mengatakan apapun,” sesalnya. Ia merasa marah, entah pada siapa. Ia marah karena rasanya ini semua tidak adil. Ibunya adalah orang yang sangat baik, tidak mungkin kalau ada orang yang mau berbuat jahat padanya. Siwon marah karena ia tidak bisa melakukan apapun di saat ibunya mungkin sangat menderita. Siwon marah karena baru mengetahui semua ini sekarang.

“Sunbae,” panggil Yoona lirih. Ia tahu Siwon sangat terpukul dan marah mengetahui semua ini. Matanya mulai berkaca-kaca. Sakit rasanya melihat Siwon bersedih seperti itu. Semua pembelaannya sepertinya akan sia-sia di mata Siwon saat ini. Yoona akhirnya memilih diam dan menunggu Siwon melampiaskan emosinya.

“Pergilah. Aku ingin sendiri,” kata Siwon lemah.

Yoona tidak menyangka ekspresi Siwon yang begitu datar justru membuat hatinya semakin sakit. Ia akan lebih senang kalau Siwon memarahinya, bukan menyembunyikan semua kesedihannya seperti ini.

“Kubilang pergi,” ulang Siwon penuh penekanan.

Kaki Yoona melangkah mundur menjauh dari Siwon. Meski berat ia menuruti keinginan Siwon. Mungkin memang Siwon sedang butuh waktu untuk sendiri. Yoona merasa bersalah karena tidak bisa menyampaikan pesan itu sejak dulu dan membuat Siwon seperti sekarang. Tapi ia juga sudah berusaha sekuat tenaga untuk itu. Yoona pasrah kalau-kalau Siwon akan membencinya karena ini.

Sepeninggal Yoona, air mata Siwon perlahan mulai menetes. Ia mengacak rambutnya frustasi. “Eomma, apa yang sebenarnya terjadi?” bisiknya putus asa.

 

-TBC-

Huaahh… mian..mian..mian… mian kalo part ini ngga memuaskan. Otak lagi butek banget soalnya. Moga2 next part lebih baik dari ini. doakan saya semoga bisa lebih baik lagi dlm menulis ff yaa. Buat yang nungguin sequel  a day in the life sabar yaa, masih proses nih. ^ ^

Buat yang udah baca dan komentar dari part 1 sampai part ini, saya ucapin makasih buaannyaakk. seneng banget baca komentar2 kalian. Buat Resty dan Echa makasih udah publish ff ini. *pelukcium

Tinggalkan komentar

262 Komentar

  1. yoonwon

     /  Juli 17, 2014

    makin seru..
    semoga endingnya bahagia

    Balas
  2. Dahlia GaemGyu

     /  Juli 17, 2014

    baru ajja romantisan,, ehh marah-marahan lg, pke Siwon ngusir Yoona segala lg… daebak thor

    Balas
  3. nita malik

     /  Juli 18, 2014

    ini makin seru aja ceritanya. daebak!

    Balas
  4. andrawiena

     /  Juli 19, 2014

    cie..cie..wonpa mulai suka nih tpi koq trakhirnya marah2 gtu sih 😦

    Balas
  5. siwon udh mulai suka ciee ;;) makin seru daebak banget!!!

    Balas
  6. Ra_YoonAddict

     /  Juli 25, 2014

    Baru aja baikan. Siwon jangan marah dong sama Yoona. G suka banget sama sifatnya Haera dan Taesan mereka itu bener2 mata duitan.

    Balas
  7. Mia

     /  Agustus 1, 2014

    Eah mereka pisah deh.

    Balas
  8. icha

     /  Agustus 4, 2014

    Daebak bgt

    Balas
  9. eka_fitriani

     /  Oktober 13, 2014

    heyy author aku readers baru di blog ini..
    salam kenal

    sebenernya ga bgitu suka ama ff yoonwon,biasa nya couple yg lain ,tapi pas baca di blog ini KEREN seru lagi,jadi ketagihan nyampe lupa mau comment
    jdi comment nya dari part ini…

    izin baca selanjutnya 🙂

    Balas
  10. Choi Han Ki

     /  Oktober 14, 2014

    Huhuhu 😥 akhirnya siwon tau semua tentang ibunya tapi sedih juga… Dan kalo yoona baru memberi tahu sekarang itu bukan salahnya donk kan dulu dia juga masih kecil gk tau siwon dimana , aduh wonpa jangan marah ma yoona ya..

    Balas
  11. Yah siwon ko mrah sma yoongie di chapter ini makin tgang ajj,,

    Balas
  12. Aku ikutan sedih liat Yoonwon bertengkar gitu :(( .
    Semoga aja mereka kembali berbaikan 🙂 .
    Ff mu keren eonni (y)
    Fighting!

    Balas
  13. Paling suka chap nie krn bnyak moment yw.a wlw end dr chap ini mreka bertengkar tp ga nyangka wonpa bisa kiss2 lama sma yoona eoni heheh #daebak 🙂

    Balas
  14. Sungguh benar2 rumit keluarga Yoona, kira2 apa Yuri mau menerima permintaan appanya
    hubungan YW baru saja di mulai, tapi ada saja masalahnya cinta mereka benar2 di uji ya, hiks…
    Ff nya daebak bgt Chingu
    o ia chingu sblumnya aku udh komentar tandai aja klo ada nama Khaira itu namaku kadang aku suka pakai nama lengkap dan kadang nama singkat. Tapi nama khairanya gk akan hilang

    Balas
  15. Nhiina

     /  Januari 26, 2015

    wonppa ? jeball , jangan benci yoong eonn . . kasihan sama yoong eonn . .lagipula ini bun salahnya yoong eonn .

    Balas
  16. Novi

     /  Februari 9, 2015

    Duh,, jgn2 siwon jd benci sama yoona…
    Jangan donkkkk….

    Balas
  17. Cha'chaicha

     /  Februari 9, 2015

    Aduh baru mulai lbih deket, tapi pisah lgi, gmna coba…

    Balas
  18. Hulda Nited

     /  April 26, 2015

    Baru aja romantisme..ehh udah marah nih wonie..next

    Balas
  19. raratya19

     /  Oktober 18, 2015

    sebenarnya apa yang terjadi??? duh duh duh

    Balas
  20. YoongNna

     /  Februari 22, 2016

    Kira2 kmna yaaa ommanya siwon apa bner telah disekap ma tuan tae san…
    Aduuuhh seneng deehh di awl2 klhatan kalau siwon udh mulai nyaman ma yoona wlpun msh agak nyangkal dan gensi ngakuinnya…

    Balas
  21. vitrieeyoong

     /  Maret 7, 2016

    Knpa Wonppa g mau dngerin pnjelasan YoonA dulu, hahhh.
    Pdahal dari awal nyampe tengah aku udah bhagia bnget krna Wonppa udah mulai perhatian k Yoong. Ehh diakhir, berantem lagi.
    Yul eonni peduli jga k Yoong, mski dblkang.
    Next!!!

    Balas
  22. nadila sari pramahesti

     /  Juli 10, 2016

    ciyeee siwon udh mulai naksir yoona nih haha lucu bgt liat kelakuan mereka berdua yg sama-sama maluu hihi. hae ra jahat banget sihhh…..

    siwon jgn marah dong sama yoona.. makinn seru aja nih

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: