[OS] A Day In The Life

[OS] A Day In The Life

Author             : Indah (bianglalala27@gmail.com)

Type                : One shoot

Cast                             : Choi Siwon, Im Yoona

Genre              : Romance

Rating             : 17+

 

Anyeong!! Yadong saya lagi kumat, nih, jadi bikin ff ngawur begini. Hehehe… Lagi pengen bikin yang banyak momen yoonwonnya juga. Eh, tahu-tahu jadinya begini. Sebelumnya maaf ya kalo jelek. Maaf  juga kalo kata-katanya terlalu vulgar. Tapi biarpun jelek, tetep RCL setelah baca dong yaaa…. *kedip2

 

 

Siwon tersenyum menatap kembang api yang menyala di langit kota Seoul. Meski hanya melihat dari balik jendela kaca apartemennya, kembang api itu tetap terlihat sangat cantik. Ini adalah kebiasaan Siwon saat malam tahun baru selama beberapa tahun terakhir. Setiap malam pergantian tahun, dia akan menyendiri di apartemennya sambil mengenang kenangan lima tahun lalu. Sebuah kenangan yang tidak akan pernah bisa ia lupakan. Sebuah kenangan masa muda yang telah mengubah hidupnya yang kosong menjadi penuh dengan harapan.

 

Miami, 1st January, 5 years ago

Seorang yeoja berusia dua puluh tahun menggeliat di balik selimut putih yang menutupi tubuh telanjangnya. Dia merasa kalau geraknya sedikit terhalangi. Benar saja, sebuah lengan kekar memeluk erat pinggangnya, membuat yeoja itu sulit bergerak. Dia berbalik, menghadapkan diri pada pemilik lengan yang memeluknya. Mereka kini berhadapan. Namja pemilik lengan kekar itu tampaknya masih berada di alam mimpinya.

“Wake up!” bisik si yeoja lembut tepat di telinga si namja.

Dengan mata yang masih tertutup, namja itu tersenyum dan mempererat pelukannya.

Jari-jari si yeoja bergerak perlahan menelusuri wajah tampan namja di depannya. “Siwon Oppa, wake up,” bisiknya lagi.

Namja itu, Siwon, akhirnya membuka mata, menatap yeoja di depannya penuh cinta. “What? I’m so sleepy, honey,” katanya manja.

Yeoja itu tersenyum menyerah. Entah sihir apa yang Siwon miliki sehingga bisa membuat yeoja itu takluk dengan begitu mudahnya. Ia balas memeluk Siwon. “Aku harus segera pergi. Pesawatku berangkat lima jam lagi,” gerutunya.

Siwon sedikit terkejut, tidak menyangka kebersamaannya dengan yeoja di pelukannya tinggal sebentar lagi. “Can you stay here till tomorrow?” pinta Siwon. “Aku masih ingin bersamamu, Yoona-ya.”

Yeoja yang dipanggil Yoona itu menempelkan wajahnya di dada bidang Siwon, menghirup aroma tubuh namja yang baru ia kenal selama beberapa jam. Ia juga tidak ingin cepat-cepat pergi dari tempatnya berada. Namun ada banyak hal di luar sana yang harus segera ia lakukan. “Aku ingin sekali, tapi aku benar-benar harus pergi hari ini.”

Siwon mendesah kesal, lalu dengan cepat menyambar bibir Yoona dan melumatnya, seakan itu adalah ciuman terakhir mereka. Ia tidak ingin Yoona berbagi ciuman dengan namja lain, apalagi bercinta seperti yang mereka lakukan beberapa jam lalu. Sejak bertemu dengannya semalam, Siwon sudah bertekad akan menjadikan Yoona sebagai miliknya.

“Oppa,” desah Yoona berusaha menghentikan ciuman panas Siwon. “We have to stop here.”

Raut kecewa tampak di wajah Siwon. Ia baru mengenal Yoona satu jam sebelum terompet tahun baru berbunyi tapi Yoona sudah berhasil menelusup ke setiap aliran darahnya. Tak butuh waktu lama untuk membuat keduanya berpindah dari klub malam di pinggir pantai tempat mereka bertemu ke kamar hotel yang Siwon tinggali selama berada di Miami. Dan semuanya mengalir begitu saja. Siwon tidak bisa lagi membendung gairah mudanya saat melihat Yoona. Yoona pun tak berbeda jauh. Bergaul dengan anak muda Amerika yang sangat liberal membuat Yoona tak bisa menolak setiap sentuhan yang Siwon berikan. Dengan kesadarannya ia menerima, bahkan membalas setiap godaan yang Siwon berikan. Masa muda memang indah. Mereka tak lagi memikirkan resiko perbuatan mereka. Justru mereka akan semakin bahagia dan bangga karenanya.

Yoona melepaskan diri dari pelukan Siwon dan beranjak duduk. Dia harus segera berkemas karena ia sudah memesan tiket untuk pulang.

“Would you be my girlfriend?” Siwon sudah mendekap Yoona dari belakang, melingkarkan lengannya di sekeliling bahu Yoona, dan perlahan mencium setiap inci bahu indah milik yeoja itu.

Kecupan Siwon yang lembut lagi-lagi membuat Yoona terbuai. Ia memejamkan matanya sejenak, menguatkan diri untuk menolak setiap kenikmatan yang Siwon tawarkan padanya. “Oppa, let’s stop here. Orang macam apa yang mau menjadi pacar seseorang yang baru ia kenal selama beberapa jam?”

“Orang macam apa yang mau bercinta dengan orang yang baru ia kenal selama satu jam?” balas Siwon. Ia berhenti dari kegiatannya mencium bahu Yoona. Kini Siwon beralih ke punggung mulus yeoja cantik itu.

Yoona tersenyum kecut. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Siwon. Benar kalau ia hidup dengan cukup bebas di Amerika, tapi ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Terlebih dengan orang yang baru ia kenal. Namun entah bagaimana Yoona memberikan pengecualian untuk Siwon. Malam tadi adalah malam paling luar biasa dalam hidupnya. Siwon-lah penyebabnya. Namja itu telah berhasil menaklukkannya dengan mudah. Membuatnya melewati malam pergantian tahun dengan sangat luar biasa dan menjadikan momen itu tak akan pernah bisa terlupakan.

Siwon sadar kalau perkataannya tadi menyinggung Yoona meski sebenarnya ia tidak berniat seperti itu. Ia meraih dagu Yoona, memaksa yeoja itu beralih menatapnya. “Aku tidak bisa mengatakan alasan mengapa aku menjadi seperti ini, Yoona-ya. Perasaanku padamu benar-benar tulus. I love you.” Siwon menutup pernyataannya dengan sebuah kecupan kecil di kening Yoona.

Kali ini Yoona benar-benar ingin melepaskan diri sebelum ia tidak bisa menahan hasratnya karena godaan Siwon yang terus-menerus ia luncurkan. Yoona mengambil sebuah selimut dan melilitkannya sebatas dada, beranjak dari tempat tidur yang telah berhasil membuainya. Dengan cepat Siwon menghentikan kegiatan Yoona dan menariknya jatuh tepat di atasnya. “Aku akan mengantarmu ke bandara. Tinggallah di sini beberapa jam lagi,” pinta Siwon. Ia masih belum menyerah untuk mendapatkan yeoja itu.

Yoona akhirnya menyerah setelah beberapa saat mencari ketulusan di mata elang namja itu. Ia mengecup bibir Siwon sebagai tanda persetujuannya. Jemarinya lagi-lagi menari di wajah Siwon, mengagumi keindahan pahatan Tuhan yang begitu sempurna.

Siwon tersenyum senang karena Yoona menuruti keinginannya. Ada yang berbeda dengan gadis di pelukkannya itu dengan yeoja lain yang ia kenal. Siwon tidak tahu apa itu. Hanya butuh beberapa jam saja untuk membuatnya jatuh sepenuhnya ke dalam pesona yeoja itu. Yoona, sama-sama berasal dari Korea. Hanya itu yang Siwon tahu. Mereka sepakat hanya saling memberitahu nama saja, tidak dengan nomor telepon, alamat, atau yang lainnya. Siwon hanya tahu yeoja yang bersamanya bernama Yoona. Begitupun dengan Yoona.

Jemari Yoona kini beralih ke dada bidang Siwon, menggeseknya perlahan, dan sesekali menciumnya. Mengirim godaan pada Siwon yang terlihat sangat menikmati saat-saat seperti itu. Pada akhirnya mereka justru kembali melakukannya. Bercinta dengan orang asing yang mereka anggap sebagai bagian dari petualangan di masa muda. One night stand with some random guy, begitu Yoona menyebutnya.

 

 

“Setelah ini aku harus kembali ke kampus dan menyelesaikan semua maket yang belum kukerjakan,” keluh Yoona saat mereka selesai bercinta (lagi). Kepalanya bersandar pada dada Siwon yang sedikit basah karena keringat.

“Kau kuliah?” tanya Siwon sedikit terengah. Ia melupakan kesepakatan yang semalam mereka buat dan berniat mencari tahu lebih dalam tentang yeoja itu.

Yoona mengangguk. “Aku mengambil jurusan arsitektur. Apa yang Oppa lakukan sehari-hari?”

Tangan Siwon membelai surai halus milik Yoona. Sebuah senyum getir tersungging di bibirnya mengingat kehidupan yang ia jalani selama ini. “Tidak banyak. Bangun tidur, bersenang-senang, kelelahan, tidur, lalu bersenang-senang kembali.”

“Really? Anything else?”

Siwon mengangguk. “I don’t have anything to do. Just enjoying my life.”

Mata Yoona sedikit membesar tidak percaya. Ia sendiri harus melakukan banyak hal untuk bertahan hidup dan bekerja keras agar cita-citanya tercapai. “Sekolah? Bekerja?”

“Kadang-kadang aku pergi kuliah, kalau sedang ingin saja.” Siwon mengeratkan pelukannya di tubuh Yoona, membelai punggungnya hingga membuat yeoja itu sedikit bergidik geli.

Yoona memandang sekelilingnya. Hotel tempatnya sekarang berada bukanlah hotel kelas bawah yang ia gunakan untuk menginap bersama teman-temannya saat berlibur. Yoona yakin biaya menginap semalam di hotel ini lebih dari dua ratus dollar. “Oppa, orang macam apa yang hidupnya hanya bersenang-senang tetapi menginap di tempat seperti ini?”

“Orang sepertiku ini. Aku sampai bingung ke mana harus membuang semua uangku,” kata Siwon pelan. Mungkin kalimat Siwon barusan terdengar sangat sombong. Namun begitulah kenyataannya. Ia tidak perlu bekerja seperti yang lain, semua dalam hidupnya sudah tersedia. Yang perlu ia lakukan hanya bersenang-senang.

“Apa menyenangkan hidup seperti itu?” gumam Yoona. Pikirannya melayang ke kesehariannya. Ia harus bekerja paruh waktu untuk membiayai hidupnya di negara asing ini. Tidak bisa secara resmi bekerja karena visanya adalah visa belajar dan ia bisa ditahan karena melanggar aturan. Itu yang membuatnya cukup kewalahan mencari orang yang mau mempekerjakannya secara ilegal.

“Not really. Ada banyak waktu di mana aku merasa bosan. Tapi inilah hidupku,” Siwon mengendikkan bahunya.

“Tidak adil. Ada begitu banyak orang di luar sana yang harus mempertaruhkan nyawa agar bisa mendapat beberapa dollar saja sementara Oppa hanya bersenang-senang dan mendapatkan semua yang kau mau,” protes Yoona.

Siwon mengangkat alisnya. “Mengapa kau tiba-tiba marah? Bukan salahku kalau aku mempunyai banyak uang bahkan sebelum aku lahir.”

Yoona beranjak duduk, memandang Siwon yang masih setengah berbaring lekat-lekat. “Aku tidak menyalahkan Oppa. Aku hanya mengatakan dunia ini tidak adil.” Pipi Yoona sedikit menggembung karena kesal. Selama ini ia tidak percaya kalau memang benar-benar ada orang seperti Siwon, yang hidupnya serba mudah. Tapi inilah kenyataannya.

Tawa Siwon berderai melihat Yoona merajuk. Setelah melakukan tindakan yang begitu dewasa bersamanya, kini yeoja itu bertingkah seperti anak-anak. Siwon ikut duduk dan menciumi pipi Yoona dengan gemas. “Kalau begitu menikah saja denganku, lalu hidupmu akan seperti seorang ratu,” tawarnya. Ia agak heran pada dirinya sendiri yang begitu mudah melamar Yoona yang baru pertama kali ia temui. Begitu banyak wanita di sekelilingnya, tapi tak satupun yang berhasil membuat Siwon mengeluarkan kalimat seperti tadi.

“Oppa tidak kuliah, tidak bekerja, dan hanya bersenang-senang. Bagaimana kalau Oppa tiba-tiba bangkrut? Apa Oppa yakin bisa membiayai hidupku?” cibir Yoona.

Siwon terdiam sejenak sambil berpikir. “Bagaimana kalau kau saja yang bekerja? Aku akan jadi bapak rumah tangga,” candanya.

Yoona tergelak lalu meninju dada bidang Siwon. “Berani Oppa melakukan itu padaku?” pekiknya marah, meski hanya pura-pura.

“Tentu saja tidak. Aku akan bekerja siang dan malam untuk menghidupimu,” ucapnya sambil menggelitik perut Yoona.

“Stop Oppa!” desah Yoona di sela tawanya.

Siwon menuruti perintah Yoona, menunggu tawa Yoona reda sebelum kembali melanjutkan usahanya memiliki Yoona. “Jadi bagaimana? Will you marry me?” Tidak ada lagi tawa atau senyuman, hanya ada kesungguhan yang terpancar di wajah tampan Siwon. Dia benar-benar sudah dibuat gila oleh Yoona.

Tawaran Siwon adalah hal yang paling menggiurkan selama hidup Yoona. Jauh lebih menggiurkan daripada saat ia ditawari beasiswa di Virginia Polytechnic Institute yang akhirnya ia terima. Menikah dengan Siwon berarti meninggalkan semua kesulitannya selama ini, juga semua mimpi-mimpinya.

“Apa Oppa benar-benar serius mengajakku menikah? Oppa bahkan belum mengenalku selama dua puluh empat jam.” Yoona kembali berbaring, tubuhnya terasa remuk setelah berkali-kali mengimbangi gairah Siwon.

Siwon tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Begitu banyak wanita dalam hidupnya tapi tak satupun yang membuatnya tampak bodoh seperti sekarang. Menyatakan cinta pada seorang yang baru ia kenal. Dari pengalamannya, wanita-wanita itulah yang pertama kali menyatakan cinta, mengajaknya ini itu, memohon padanya agar terus bersama, dan banyak lagi ocehan mereka yang tidak Siwon gubris. Ia lalu berbaring miring di samping Yoona, menggunakan satu tangannya sebagai penyangga sementara tangannya yang lain mengelus pipi Yoona.

“Aku tidak pernah main-main dengan perkataanku. Apa ini artinya kau menolakku?”

Senyum Yoona tersungging di bibirnya, tak menyangka Siwon begitu serius dengan perkataannya. “Siapa bilang aku menolak? Aku bukannya menolak, tapi aku tidak bisa memberi jawaban.”

Mata Siwon tak pernah lepas dari paras cantik Yoona. Kekagumannya pada yeoja itu justru semakin bertambah setiap detiknya. “Why?”

“Kuliahku masih belum selesai. Aku tidak kan meninggalkannya setelah bersusah payah untuk masuk. Setelah itu, masih banyak mimpi yang ingin kucapai. Menikah denganmu adalah tawaran yang sangat menggiurkan, tapi itu berarti semua usahaku selama ini menjadi sia-sia,” jelas Yoona setengah menggerutu. Sedikit menyesal karena telah mengikuti ajakan teman-temannya untuk mennghabiskan malam pergantian tahun di Miami dan akhirnya bertemu Siwon yang membuatnya takluk.

“Kau masih bisa kuliah setelah menikah. Memangnya apa mimpimu?”

Mata Yoona terpejam saat pikirannya menjelajah kembali ke masa lalu, memikirkan semua mimpinya yang satu per satu berusaha ia wujudkan. “Aku ingin menjadi arsitek, lalu membangun rumah yang hangat dan nyaman untuk sebuah keluarga. Itu salah satunya.”

Dalam hatinya Siwon tertawa, tidak menyangka keinginan Yoona hanya sesederhana itu. Dia pikir Yoona ingin menjadi orang yang merancang gedung-gedung pencakar langit tertinggi di dunia, atau bangunan besar lainnya. Ternyata tidak. “Lalu yang lain?”

“It’s secret. Pokoknya masih banyak yang ingin kulakukan sebelum menikah.” Yoona bermain-main dengan mencubit pipi Siwon. “Oppa, kau tampan sekali,” rayunya.

Siwon tersenyum senang. Pujian Yoona membuat hatinya benar-benar gembira. Padahal ia sudah sering orang-orang melontarkan pujian padanya. Tapi lagi-lagi Yoona memang berbeda. Hanya dialah yang bisa membuat Siwon begitu bahagia dengan rayuan gombal seperti itu. Bibirnya kembali menciumi wajah Yoona, dari kening, pipi, mata, hidung, bibir, sampai ke leher. “Sepertinya aku tidak akan pernah bosan denganmu, Yoona-ya,” desahnya.

“Kau baru mengenalku selama beberapa jam, Oppa,” Yoona mengingatkan Siwon.

“Lalu mengapa kau mau bercinta denganku?  Kurasa waktu bukan masalah bagi kita.”

Skak. Yoona sendiri tidak tahu mengapa ia mau saja bercinta dengan Siwon. Semalam ia tidak terlalu mabuk dan masih cukup sadar untuk menolak Siwon. Namun nyatanya ia tidak melakukannya. Yeoja itu hanya mengendikkan bahunya. “Aku juga tidak tahu. Oppa sendiri bagaimana? Mengapa menggodaku sampai akhirnya seperti ini?”

“Karena kau cantik.”

Yoona tertawa tidak percaya. “Hanya itu?”

“Tentu saja itu awalnya,” lanjut Siwon. “Setelah kita berkenalan aku merasa ada sesuatu dalam dirimu yang terus-menerus menarikku untuk tetap berada di sekitarmu. Thats what people call with love at the first sight.”

“Dasar gombal,” cibir Yoona. Akal sehatnya menolak setiap kata-kata manis yang keluar dari mulut Siwon meski hatinya berdebar setiap kali mendengarnya. Yoona bukanlah yeoja kecil yang mudah termakan rayuan lelaki. Ia tahu persis bagaimana cara Siwon bersenang-senang. Mungkin ia juga bagian dari acara hura-hura Siwon. Tekadnya sudah bulat untuk hanya mengenal Siwon sebatas ini dan tidak akan termakan semua rayuannya.

Siwon tertawa. “Kalau begitu apa arti semua ini bagimu?”

“Just one night stand with some random guy,” Yoona berusaha terlihat biasa saja. Ia ingin menunjukkan kalau ia tidak menganggap serius semua perbuatannya semalam. Padahal Siwon tahu pasti kalau ini adalah pengalaman pertama bagi Yoona.

“Jadi kau memutuskan untuk melepas keperawananmu bersama orang asing sepertiku?” tanya Siwon memastikan. Menurutnya sangat aneh mengingat Yoona bukan tipe gadis yang bisa dengan terbuai dengan rayuan mautnya. Buktinya Yoona masih bisa menolak semua tawaran yang pasti akan diterima setiap wanita yang Siwon tiduri.

Yoona mengangguk. “Aku juga tidak menyangka akan berakhir seperti ini,” gumamnya. Yoona beringsut mendekat pada Siwon dan memeluknya. Ia tidak peduli Siwon akan menganggapnya sebagai wanita murahan. Yang ia inginkan hanyalah menikmati setiap detik yang tersisa bersama Siwon. “Kurasa aku tidak akan bisa menemukan orang asing sepertimu lagi, Oppa,” lanjutnya.

“Kalau begitu ayo kita menikah,” ajak Siwon lagi.

“Mengapa Oppa sangat senang mengajakku menikah? Aku tidak pintar memasak,” kata Yoona. Terlalu berat baginya untuk mengatakan tidak karena sebagian dirinya juga menginginkan hal itu.

“Mengapa kau selalu berputar-putar dan tidak menjawab pertanyaanku?” Siwon balas bertanya. “Kau tidak perlu susah-susah melakukan sesuatu lagi setelah menjadi istriku.”

“Ck, justru itulah yang namanya hidup, Oppa. Setelah kita berjuang untuk melakukan sesuatu, kita akan mendapat bayarannya. Aku berusaha sekuat tenaga untuk mencapai impianku. Mungkin nantinya aku tidak akan menjadi orang yang dikenal di mana-mana, tapi aku ingin bisa tersenyum saat mengenang masa laluku. Aku tidak ingin menjadi tua dan menyadari kalau selama hidupku ternyata tidak ada hal yang kulakukan.”

Siwon tercekat. Selama ini memang tidak banyak yang ia lakukan selain membuang uang. Tidak ada yang terasa spesial bahkan saat ia bisa mendapatkan hati seorang aktris terkenal yang dipuja banyak orang. Tidak sekali pun ia mengenang masa-masa yang telah terlewat, apalagi sambil tersenyum puas. Sebenarnya apa yang sudah ia lakukan selama ini?

“Meski semua ini sulit dan sangat menyusahkan, rasanya akan sangat puas ketika kita bisa meraih mimpi kita,” lanjut Yoona. “Kita harus berjuang untuk mendapat sesuatu yang benar-benar kita inginkan. Itulah yang namanya hidup, Oppa.”

Kata-kata Yoona membuat Siwon seperti ditampar. Benar kalau ia mendapatkan segala yang ia inginkan tanpa perlu banyak usaha. Itu yang membuatnya selalu meremehkan segala sesuatunya. Ia terjebak dalam kenyamanan yang membuatnya menjadi mati rasa. Tidak ada yang perlu diperjuangkan dalam hidup mewahnya. Dengan satu jentikan jari, semua yang ia inginkan akan segera merapat padanya.

“Oppa mengapa diam saja?” tegur Yoona meliht Siwon yang tidak memberi tanggapan. Ia melepas pelukannya lalu beranjak bangun. “Aku mandi dulu.” Tanpa menunggu balasan Siwon, Yoona melenggang ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.

Siwon masih termenung meresapi setiap kata yang Yoona ucapkan. Belum pernah ada orang yang memberitahu tentang mimpi dan perjuangan sebelum ini. Apakah ini yang membuatnya merasa bosan? Karena ia tidak punya sesuatu untuk diperjuangkan? Karena ia tidak tahu mimpi seperti apa yang harus ia perjuangkan?

 

“Dasar pemalas,” umpat Yoona saat baru keluar dari kamar mandi dan mendapati Siwon masih terbaring seperti saat ia meninggalkannya tadi. Yeoja itu hanya memakai handuk yang ia lilitkan sebatas dada. Sesekali ada air yang menetes ke bahunya dari rambutnya yang masih basah. Ia menghampiri Siwon dan duduk di tepi tempat tidur. “Oppa kenapa?”

Siwon menggeleng pelan lalu beranjak duduk. Tangannya menyingkirkan helaian rambut Yoona yang jatuh di pipi yeoja itu. “Mengapa kau mandi sendiri dan tidak menungguku?” rajuknya manja.

“Kalau kita mandi bersama aku tidak yakin bisa keluar secepat ini,” jawab Yoona. “Sebaiknya kau mandi, Oppa. Dua jam lagi pesawatku akan lepas landas,” Yoona memberikan penekanan di setiap kata-katannya.

“Okay, honey,” Siwon mengecup bibir Yoona pelan. Tapi ternyata itu adalah sebuah kesalahan. Bukannya melepas ciumannya, Siwon justru semakin bersemangat melumat bibir Yoona. Tangan kanannya bergerak melepas handuk yang melilit di tubuh Yoona sementara tangan kirinya menekan tengkuk Yoona.

Jangan lagi, keluh Yoona dalam hati saat tangan Siwon mulai meraba dadanya. “Oppa!” hentaknya. Yoona sedikit beringsut menjauh dari namja itu. “Kau benar-benar mau membuatku ketinggalan pesawat?”

Siwon tersenyum, membuat lesung pipitnya terlihat jelas. “Bolehkah?”

Mata Yoona membulat. “Jangan mimpi!” Dengan paksa ia menarik Siwon dari tempat tidur dan mendorongnya ke kamar mandi. Setelah berhasil membuat Siwon masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya, barulah Yoona berpakaian dan membereskan barang-barangnya. Dia meraba lehernya, mencari sesuatu yang biasanya menempel di sana. “Di mana kalungku? Sepertinya semalam masih ada,” gumamnya.

“Apa yang kau cari?” tanya Siwon yang baru keluar dari kamar mandi dan melihat Yoona sedang membolak-balik selimut.

“Kalungku. Semalam sepertinya masih kupakai. Oppa melihatnya?” Yoona masih sibuk dengan kegiatannya. Kalung itu adalah benda yang berharga baginya, pemberian sang ibu sebagai hadiah karena ia diterima di Virginia Tech.

Siwon ikut-ikutan mencari kalung Yoona. Semua tempat, sampai di balik lemari, juga ia periksa. Tapi mereka tidak menemukan apapun. “Bagaimana kalau aku belikan yang baru?”         usul Siwon. Ia menghempaskan badannya di sofa, memperhatikan Yoona yang masih mencari.

“Tidak usah,” tolak Yoona tanpa memandang Siwon. “Mungkin memang aku meninggalkannya di hotel tempatku menginap.” Akhirnya Yoona menyerah. Dia ikut duduk di samping Siwon.

“Berikan nomor telepon dan alamatmu. Akan kuhubungi kalau kalungnya kutemukan,” ujar Siwon.

Yoona tersenyum melihat Siwon yang masih gigih meminta alamatnya sejak semalam. Ia tahu itu hanya akal-akalan Siwon agar mereka bisa bertemu lagi. Tetapi Yoona sudah membuat keputusan. Siwon hanya akan menjadi some random guy yang pernah tidur bersamanya, tidak lebih dari itu. “Kalau kau menemukannya anggap saja itu kenang-kenanganku untukmu, Oppa.”

“Kau adalah yeoja yang paling sulit kutangani, Yoona-ya,” desah Siwon. Ia tak rela hanya menjadi seseorang yang pernah tidur dengan Yoona. Ia  ingin menjadi satu-satunya namja yang tidur dengan Yoona. “Mengapa kau tidak mau memberikan nomor teleponmu? Aku tidak akan berbuat jahat padamu.”

Yoona mencium pipi Siwon. “Sorry. Kalau kita ditakdirkan bersama, suatu saat nanti kita pasti bertemu dengan cara yang indah.”

“Bagaimana kalau kau hamil?” sergah Siwon. “Bukankah aku harus bertanggung jawab?”

“Aku tidak sedang berada di masa suburku, Oppa.”

Jawaban Yoona membuat Siwon lesu. Ia sudah kehabisan alasan untuk membuat Yoona memberikan alamat atau nomor teleponnya.

“Meskipun aku hamil aku juga belum tentu mau menikah denganmu,” kata Yoona lagi.

“Kenapa?”

“Karena kau pemalas. Tidak pernah melakukan apapun selain bersenang-senang. Mana ada yeoja yang mau denganmu?” ucap Yoona setengah bercanda.

Meski Siwon tahu Yoona tidak serius mengatakannya, tetap saja penuturan Yoona menusuk hatinya. Mengapa Yoona berkata seperti itu padahal setiap hari Siwon selalu dikelilingi wanita yang berharap menjadi pendampingnya? Bukankah itu berarti banyak yang menginginkannya? Tetapi mengapa Yoona selalu menolaknya?

“Oppa, aku hanya bercanda,” sesal Yoona saat melihat Siwon tidak menanggapi ucapannya. “Aku tidak bermaksud menyinggungmu.”

Siwon menggeleng pelan lalu menatap manik mata Yoona. “Kau tidak menyinggungku. Aku hanya sedang berpikir tentang sesuatu.” Siwon mendekap Yoona, mencium puncak kepalanya dengan sayang. Mungkin inilah saat-saat yang akan ia kenang nantinya.

Mata Yoona membesar saat melihat waktu yang ditunjukkan arlojinya. “Oppa, kita harus bergegas ke bandara. Empat puluh menit lagi pesawatku lepas landas,” pekik Yoona panik.

 

 

“Di mana barang-barangmu yang lain?” tanya Siwon saat mereka sampai di bandara.

“Temanku membawakannya dan kami sudah berjanji akan bertemu langsung di terminal keberangkatan,” jawab Yoona.

Mereka berdua berjalan beriringan memasuki bandara dengan bergandengan tangan. Siwon masih merasa berat untuk melepas Yoona pergi. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan.  Yoona jelas-jelas menolak semua tawarannya.

“Sampai di sini saja Oppa mengantarku,” kata Yoona saat sampai di sebuah eskalator. Ia melepas genggamannya di tangan Siwon.

“Kau benar-benar akan pergi begitu saja?” tanya Siwon putus asa. Rasanya berat sekali melepas yeoja di hadapannya itu.

Yoona mengangguk yakin. “Ini adalah awal tahun yang luar biasa, Oppa. Mungkin ini pertama dan terakhir kali aku melakukan hal gila seperti ini.”

Siwon tersenyum lega. Paling tidak, untuk saat ini ia yakin Yoona tidak akan bersama dengan namja lain. Ia maju selangkah dan merengkuh Yoona ke dalam pelukannya. “Aku tidak akan pernah melupakan hari ini. I love you,” bisiknya yang membuat Yoona tersenyum.

“Oppa, percayalah padaku. Kalau memang kita ditakdirkan bersama, kita akan bertemu kembali dengan cara yang indah,” Yoona mengulangi ucapannya saat masih di hotel.

Siwon mengangguk mengiyakan. Ia melepas pelukannya dan ganti mencium bibir Yoona. “Goodbye kiss,” desahnya di antara ciuman mereka.

“Itu pesawatku,” teriak Yoona panik saat mendengar pemberitahuan dari pengeras suara yang terpasang di setiap sudut bandara. “Oppa, adios!” Yoona melambaikan tangan pada Siwon lalu berlari menaiki eskalator.

Siwon memandang punggung Yoona yang menjauh dengan tatapan nanar.  Tiba-tiba ia menyadari mengapa Yoona begitu menarik dan membuatnya jatuh cinta. Yoona begitu ‘hidup’. Ia benar-benar ‘hidup’, tidak hanya sekedar menjalani kehidupan seperti dirinya. Yoona ‘hidup’ dengan segala mimpi, perjuangan, dan semangatnya. Sedangkan Siwon tampak seperti robot yang tidak punya hasrat apapun bila dibandingkan dengan yeoja itu. Dalam hitungan jam Yoona berhasil membuat Siwon menyadari kalau hidupnya begitu tidak berarti. Yoona telah mengisi satu tempat kosong di hati Siwon dengan caranya sendiri. Yoona telah membuat Siwon memiliki sesuatu untuk diperjuangkan. Yoona telah menjadikan dirinya layak untuk Siwon perjuangkan.

 

 

Present time

Siwon beranjak dari depan jendela karena kembang api sudah tidak menyala. Itu berarti sudah lewat tengah malam. Ia mendudukan diri di sebuah sofa kulit yang terdapat di ruangan itu. Tangannya meraih sebuah benda yang tergeletak di meja di depannya. Sebuah kalung platina dengan gantungan berinisial Y. Kalung Yoona yang ia temukan di kamar hotelnya sehari setelah Yoona pergi.

“Yoona, bagaimana kabarmu?” tanya Siwon pada kalung di depannya. “Kau lihat penghargaan yang kudapat kemarin? Aku bukan lagi pemalas seperti katamu dulu. Aku sudah berjuang untuk mendapatkan keinginanku.” Siwon terus berbicara seakan-akan kalung itu adalah makhluk hidup. “Aku merindukanmu, Yoona-ya,” bisiknya.

 

End

Hahahaha… kelar juga. Geli sendiri waktu bikin adegan yang nyerempet2 NC. Tapi intinya kan memang bukan itu, intinya adalah gimana hidup kita kalo kita nggak punya mimpi dan sesuatu yang harus diperjuangkan. Hidup bakalan terasa hambar *ceileh, saya sotoy banget yaahh, hehe… maaf ya kalo ngga memuaskan, nggak ada feel, dan banyak cacat di sana sini. Memang saya masih belajar, jadi ya begini ini prosesnya. Buat mimin echa dan resty makasi banget udah publish. *kecupbasah :*. Oiya, kalo memungkinkan, mungkin saya bakalan bikin sequelnya. Mungkin tapi, kalo ada yang nungguin sequelnya juga. Hehehe

Jangan Lupa RCL yaa… sampai jumpa lagi di ff saya yang lain *pedebanget

Iklan
Tinggalkan komentar

346 Komentar

  1. Sequel thor.berhrp mrk bertemu kmbl and happy ending.

    Balas
  2. wah bagus ceritanya…
    ditunggu sequel nya unnie

    Balas
  3. YoongNna

     /  Mei 11, 2015

    Keren bgt crtanya bkin siwon sdar kalau hidup hrus pnya mimpi ….

    Balas
  4. vivi bustari

     /  Mei 14, 2015

    author plis tolong dilanjutkan tolong gak ikhlas ah mau kelanjutannnnn;'( bikin kayak sinetron donk hahhah seruuuuu bgt parah

    Balas
  5. dias puspita

     /  Juni 2, 2015

    Sequeelll pleaseee…pengen tau kabar yoona bgmn,berhasilkah mewujudkan keinginannya…
    Siwon knp gag memanfaatkn kekayaanya utk nyari yoona..
    Ayooo saeng sequel..hwaiting

    Balas
  6. good job athor…hbat ceritanya suka bnget…

    Balas
  7. Dwi Swarnita

     /  Juni 19, 2015

    Sedih mah kenapa gak ketemu sih thor ? ;(

    Balas
  8. We We

     /  Juni 23, 2015

    So sweet… eonni, lanjut dong ceritanya. Pengen mereka bener2 ketemu deh… 😂😂😂

    Balas
  9. DjfaLin

     /  Juni 29, 2015

    eonni sequelnya doonggg
    ditunggu yaa

    Balas
  10. Nur khayati

     /  Juli 9, 2015

    Masih gantung cerita.a, harus ada squel nih (maksa dikit),,^^
    Y00nW0n harus ketemu d masa depan, Amien.,
    NC.a gk begitu banyak k0k -_-,
    Yg paling penting ada pelajaran brharga yg bisa d petik dr Qu0te Y00na buat Siw0n tntang mimpi yg harus d prjuangkan,,
    Dan yg harus d prjuangkan 0leh Siw0n saat ini adalah buat nemuin keberadaan.a Y00na..
    Fighting Siw0n.>>>

    Balas
  11. Bagus ceritanya,, penasaran selanjutnya nih,, harus buat ya author,,

    Balas
  12. Ica yoonwon ^^

     /  Agustus 31, 2015

    End nya ga puas, sequel please T,T

    Balas
  13. nytha91

     /  September 4, 2015

    thor sequelnya dong…endingnya bikin penasaran bgt tingkat dewa dewi nih..

    Balas
  14. dias puspita

     /  Februari 1, 2016

    Sequelll plisss…

    Balas
  15. Ni ff udah lama tp aq baru nemu! Telat 😏

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: