[OS] Winter Hurt

 1507809_222351384616522_559109814_n

Winter Hurt

by

choichoding007

Starring

[Super Junior] Choi Siwon. [SNSD] Im Yoona. [Soloist] Lee Seunggi

General || Daily-Life, Angst & Romance || One-Shoot

Supported by

[SNSD] Kim Taeyeon

a/n : Halo! Apa masih ada yang menunggu tulisanku? Aku akan memperingatkan kalian bahwa ide cerita ini sangat mainstream yeahh apalagi dengan tiga tokoh utama itu, kalian pasti sudah tahu kan bagaimana kisah cinta ini? Atau mungkin beberapa author sudah ada yang meluncurkan cerita semacam ini. Well, aku ingin menyampaikan bahwa meski kalian telah mengetahui endingnya, meski kalian sudah menjumpai ff dengan ide cerita yang sama aku harap kalian bisa menikmati tiap cerita yang disampaikan oleh para author dengan gaya penulisan mereka masing-masing serta mengambil kesimpulan bahwa ide cerita yang sama belum tentu keseluruhan alur akan sama juga. So, enjoy and happy reading^^

.

.

.

Is this what love is? Does it hurt the more you do it?

The more I get closer to you. My feeling grow bigger. It scares me[1]

Siwon masih duduk disana. Menggerakkan jemari maskulinnya sekedar untuk mengetuk-ngetuk meja kafe. Siang itu cuaca cukup bersahabat saat memasuki bulan Januari. Meski rasa dingin masih meraupi Seoul namun tidak sedingin di bulan Desember. Tidak sebeku Desember kemarin. Ya, Desember yang dingin dan…. hampa.

“Bagaimana kabarmu?” Akhirnya kata itu keluar dari mulutnya setelah terdiam tiga puluh menit lamanya.

Im Yoona, mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk. Dia menatap pria di depannya dan menemukan pria itu perlahan menyunggingkan senyum. Senyum yang sesungguhnya sangat ia rindukan.

“Aku baik,” katanya balas tersenyum, memaksakan sebuah senyum lebih tepatnya. “Oppa sendiri bagaimana? Apa acara di Sanghai kemarin berjalan lancar?” Dia bertanya, sekedar berbasa-basi sekaligus menutupi kegugupan yang tiba-tiba saja menghampirinya.

Siwon menarik napas, lalu mengangguk ringan. “Aku baik.” Dia berkata tanpa memandang Yoona. “Acaranya juga berjalan lancar. Kami cukup senang menyaksikan pergantian tahun di Shanghai.”

Lalu,

Hening.

Setelah itu Yoona tidak tahu harus berkata apalagi. Dia menunduk untuk menatap ujung taplak meja—menghindar dari kontak mata dengan Siwon.

Tidak pernah ia merasa secanggung ini bersama Siwon sebelumnya. Biasanya akan ada suara Siwon yang super menjengkelkan untuk menggodanya. Biasanya akan ada suara nyaringnya yang sibuk mengomeli Siwon. Biasanya pertemuan mereka diwarnai dengan canda tawa, dengan kehangatan. Biasanya mereka tidak sekaku ini. Dan sejujurnya Yoona membenci situasi seperti ini.

“Yoona-ssi..”

Saat itu Yoona merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Siwon tidak pernah memanggilnya seformal itu. Dia mengangkat kepala dengan perlahan. “Ya?”

Disana. Di seberang sana. Pria yang duduk tepat di hadapannya saat ini tengah tersenyum lembut. Menatapnya dengan sorot mata sendu.

Chukkae..

“A-apa?”

Dia kembali tersenyum. “Selamat atas status barumu. Aku mendengar tentang berita itu. Ya, tentu saja sangat membuat semua orang terkejut sekaligus bahagia. Lee Seung Gi berkencan dengan Girs’ Generation Im Yoona. Woah, daebak.

Yoona menatap pria itu masih menyunggingkan senyum. Seolah dia tidak tahu apa-apa. Seolah dia tidak mengerti kebenarannya. Dan seolah dia tidak pernah terlibat di dalamnya.

Kepala Yoona menunduk sejenak. Dia menghela napas kemudian balas menatap Siwon dan memberikan senyumnya. “Gomawo, Oppa.

Dada Siwon mendesir miris ketika menyampaikan kata-kata itu. Dia tidak menyangka bahwa sebuah perbuatan itu tidak semudah ucapan. Memang.

Dan disinilah dia. Duduk berhadapan dengan gadis yang bahkan saat ini masih menguasai relung hatinya. Gadis bermata indah kecoklatan dengan bulu mata lentik di bawah alisnya yang rapi. Gadis yang berhasil menyita perhatiannya sejak kali pertama mereka bertemu.

Bohong jika ia mengatakan bahwa ia tidak merindukan gadis ini. Dusta jika ia mengatakan bahwa perasaan itu sudah lepas darinya.

Dan disana gadis itu berada. Duduk di hadapannya. Hanya berjarak beberapa senti. Harusnya ada banyak cerita yang dapat mereka bagi setelah sekian lama tak bertemu dikarenakan kesibukan masing-masing. Seharusnya pertemuan ini dapat menyembuhkan rindu yang ada. Ya, seharusnya seperti itu.

Tapi kerap kali kenyataan memang jauh dari harapan. Semuanya sirna hanya dengan satu hempasan saja. Mematahkan sayap-sayap kecil yang hendak beranjak.

Yoona tersentak ketika ponsel dalam tasnya bergetar. Dia meraih ponselnya, setelah menyentuh layar untuk menerima panggilan, dia menempelkannya pada telinga. “Nde, Oppa?”

Siwon memerhatikan gadis itu memutar kepalanya ke belakang. Dan di balik jendela kaca besar dia menemukan sesosok pria berkacama hitam, duduk di balik kemudi dalam mobil tengah melambai kearah Yoona. Gadis itu balas melambai ringan sebelum memutar tubuhnya lagi dan memutuskan sambungan.

“Kekasihmu?”

Yoona tidak langsung menjawab. Dia mengusap lengannya sebelum mengangguk, “Eoh,” katanya tanpa menatap Siwon.

Sekelebet perih itu menghampiri dada Siwon. Kepalanya mengangguk-angguk tapi dia tidak mengeluarkan kata apapun. Dia tahu apa yang akan gadis itu katakan. Dia lebih memilih diam, menunggu gadis itu mengatakannya langsung.

Oppa, aku harus pergi.”

Tidak. Jangan!

“Terimakasih untuk hari ini sudah menteraktirku. Sampaikan salamku untuk Oppadeul. Sampaikan juga ucapan selamat ulangtahun untuk Sungmin Oppa dan maaf karena belum bisa memberikannya hadiah.” Jeda sejenak sebelum Yoona melanjutkan. “Aku pergi. Selamat tinggal, Oppa.”

Tubuh Siwon masih membeku disana. Pandangannya kosong. Dia tidak mendengar apapun yang gadis itu ucapkan. Kecuali kalimat terakhirnya. “Selamat Tinggal”

“Yoona-ssi..”

Gadis itu menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menemukan Siwon sudah berdiri tak jauh darinya. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Dia menyunggingkan senyum lembut. Lalu maju beberapa langkah ke depan, mendekat pada Yoona, memutus jarak diantara mereka.

Mata Yoona membulat sempurna. Dia bisa memastikan bahwa jantungnya nyaris berhenti berdetak dan waktu terhenti begitu saja. Dia, Choi Siwon tengah membelai kepalanya, menepuk-nepuknya lembut.

Sudah lama sekali. Sudah lama sekali dia tidak merasakan belaian itu. Belaian tangan Siwon di kepalanya entah bagaimana selalu berhasil membuatnya merasa tenang. Merasa bahwa ia aman. Merasa bahwa ia tidak perlu khawatir. Bahwa segalanya akan baik-baik saja.

“Jaga dirimu baik-baik, Yoong.”

Im Yoona mengalihkan perhatiannya pada Choi Siwon. Pria itu tengah menatapnya lurus-lurus. Dengan bibir yang tersenyum. Dengan sorot mata yang sulit diartikan.

“Dan kau harus bahagia…… mm?”

Yoona tidak lagi bisa bertatap pandang dengan Choi Siwon. Dia hanya menganggukkan kepala. Dan setelah Siwon melepaskan tangannya dari ujung kepalanya, Yoona lantas berbalik. Meninggalkan Siwon tanpa mampu untuk menatap laki-laki itu.

Dia mengangkat tangan dan mengusap setetes cairan bening yang keluar dari matanya.

Selamat Tinggal.

***

 

Tepat pukul sebelas malam. Dan Yoona baru saja menutup pintu di belakangnya. Dia mengganti sepatunya dengan sandal rumah. Dorm sudah sangat sepi di jam seperti ini. Ya, tentu saja semua member sudah terlelap, mengistirahatkan diri untuk pekerjaan yang lebih melelahkan besok.

Yoona berjalan diantara kegelapan, hanya bertemankan temeram lampu dari arah dapur. Dia menggerakkan lehernya dan memujat-mijat pundaknya yang terasa pegal. Ini bukan kali pertama ia pulang larut malam. Syuting hari ini juga tidak begitu melelahkan. Akan tetapi ada bagian dari dirinya yang harus di tenangkan, yang harus di istirahatkan.

“Kau baru pulang?”

Hampir saja Yoona menjatuhkan gelas dalam genggamannya saking kagetnya. Dia baru saja mengambil gelas dari rak piring ketika suara Taeyeon tiba-tiba mengejutkannya.

Eonnie! Kau mengagetkanku,” katanya setelah menepuk-nepuk dada dan menghembuskan napas.

“Dari tadi aku duduk disini. Kau saja yang tidak melihatku,” kata Taeyeon sambil lalu. Dia meneguk secangkir teh hangatnya. “Bagaimana syutingmu hari ini?”

“Baik,” jawab Yoona ketika ia membungkuk untuk mengambil sebotol air dari dalam kulkas dan menuangkannya ke dalam gelas.

“Sudah makan?”

Setelah meneguk air, gadis itu kembali mencondongkan tubuhnya ke depan, meneliti isi kulkas. “Aku sedang mencari.”

“Tidak ada sisa makanan disana.” Taeyeon mendengar gadis itu mendengus. “Mau kubuatkan?” tawarnya kemudian.

Yoona menutup pintu kulkas, lalu berjalan kearah meja makan. Dia duduk di samping Taeyeon, di salah satu dari kesembilan kursi yang ada di sana. “Anni. Tidak perlu. Aku sudah makan bersama yang lain tadi.” Dia memberikan senyum simpul.

Kim Taeyeon memandang gadis di sampingnya dengan heran. Gadis di sampingnya itu menghembuskan napas pelan, lalu meneguk air lagi.

“Ada masalah apa?”

Kepala Yoona berputar cepat kearah Taeyeon. Dia mengangkat kedua alis lalu mengerjap sekali. “A-apa?” Gadis itu tertawa sumbang, lalu menyentuh kedua pipinya. “Apa aku terlihat begitu lelah? Apa wajahku terlihat aneh?”

Taeyeon tahu gadis itu menyembunyikan sesuatu. Im Yoona memang bukanlah tipekal orang yang mudah bercerita. Dia hanyalah gadis yang akan terus menunjukkan pada semua orang bahwa dia gadis yang kuat. Tidak peduli apapun yang terjadi dia tidak pernah mengijinkan orang lain memandangnya lemah. Seperti sebuah karang, terlihat kuat di luar namun sebenarnya rapuh.

Ketika Taeyeon tidak juga mengeluarkan suara dan situasi itu membuat Yoona merasa tidak nyaman, bunyi dering dari ponselnya seolah menyelamatakan dirinya dari tatapan Kim Taeyeon.

Kim Taeyeon mengerutkan dahi ketika Yoona hanya menatap ponselnya berdering, membiarkan benda persegi itu bergetar dengan lampu berkedip-kedip.

“Kenapa tidak di angkat?” tanyanya.

“Eoh? Ahh.” Iris mata Yoona bergerak gelisah. Dia sibuk memikirkan jawaban untuk pertanyaan itu. Sebenarnya dia bisa saja menjawab sedang tidak ingin menerima telepon atau itu hanyalah nomor asing yang tidak ingin ia gubris. Tapi dia tahu Leader-nya itu tidak akan semudah itu menerima alasannya.

“Kau masih mencintainya?”

Mwo?

Kim Taeyeon menunjuk ponsel Yoona yang masih berkedip-kedip dengan dagu. “Siwon Oppa.”

“A-apa? Ahh, tentu saja tidak. Itu—“

“Aku mengerti.”

Kali ini Im Yoona tidak memberikan reaksi apapun termasuk menatap Kim Taeyeon dengan kedua alis terangkat atau sekedar membuka mulutnya. Dia menghela napas panjang. Kendati dirinya menyangkal mentah-mentah asumsi dari Kim Taeyeon, dia harus mengakui bahwa Taeyeon termasuk Leader yang peka terhadap anggotanya.

“Aku hanya tidak mengerti,” gumam Yoona pelan, nyaris tak terdengar. “Dan tidak ingin membuat semua ini semakin rumit.”

“Jadi?”

“Aku tidak tahu. Seunggi Oppa terlalu baik. Dia pria yang begitu lembut dalam memerlakukan wanita. Dan dia bersedia menungguku selama ini. Aku tidak bisa begitu saja mengabaikan kebaikannya.”

“Kau mencintainya?”

“Aku akan berusaha.”

“Lalu Siwon Oppa?”

Im Yoona terdiam sejenak. Dia menggigit kecil bibir bawahnya. “Akan ada begitu banyak orang yang terluka. Terlalu beresiko. Meskipun aku ingin tapi dunia tidak akan semudah menerima hubunganku seperti bersama dengan Seunggi Oppa. Perusahaan, fans, karir Super Junior juga So Nyeo Shi Dae, semua itu akan dipertaruhkan.”

Untuk sesaat keheningan menguasi mereka. Taeyeon cukup mengerti sampai disitu.

“Jadi..” Suara Yoona kali ini terdengar serak, tidak setegar tadi. “Jadi apakah aku salah Eonnie? Apakah aku salah jika memikirkan mereka semua dengan mengorbankan perasaannya? Apa aku begitu egois? Apa aku begitu jahat? Begitu kejam? Jika itu benar maka beritahu aku harus bagaimana. Beritahu aku apa yang harus aku lakukan. Dan b-bagaimana ini? A-aku harus bagaimana, Eonnie?”

Suara Yoona tersendat-sendat dan Taeyeon melihat air mata itu perlahan-lahan mengalir di sepanjang pelupuk mata Yoona. Gadis itu terisak. Membekap mulutnya dengan tangannya yang bebas. Taeyeon menggeser kursinya lalu menarik bahu Yoona pelan, dia memeluk gadis yang kini terlihat rapuh itu.

Sekuat apapun ia berusaha menahan tangis, Yoona tetaplah gadis normal yang bisa merasakan sakit di dadanya. Dia menenggelamkan kepalanya di bahu Taeyeon dengan bahu bergetar karena terisak.

Kim Taeyeon tidak mengatakan apa-apa. Gadis mungil itu mengangkat tangannya untuk menepuk-nepuk pelan punggung kurus Yoona. Memberi ketenangan untuk gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Bahkan gadis ini mengorbankan perasaannya sendiri demi memikirkan perasaan orang lain.

Arrayo.” Taeyeon memejamkan mata sambil mengeratkan pelukannya pada Yoona. Dia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ketika ia melepas pelukannya dan menatap wajah basah Yoona dia tidak bisa mencegah setetes air matanya yang jatuh.

“Kalau begitu,” kata Taeyeon masih memegang bahu Yoona. “Sekarang angkat telpon darinya. Selesaikan semua yang belum terselesaikan. Jangan menangis lagi. Sekalipun kau merasakan sesak jangan pernah menangis di depannya. Kau bisa melakukannya untukku?”

Mata basahnya menatap Taeyeon dengan sedikit keraguan. Lama. Sampai akhirnya ia memanggutkan kepala.

Taeyeon mengulum senyum, lalu memberi isyarat untuk segera menerima panggilan dari Siwon. Sejenak Yoona menatap ponselnya yang sudah berkedip-kedip lagi. Dia meraihnya dan menyentuh layar untuk menerima panggilan.

Nde, Oppa?” Ia berusaha sekeras mungkin agar suaranya tidak terdengar serak.

Sambil menghapus jejak air matanya dengan punggung tangan, Yoona mengerutkan dahi. Tidak ada sahutan, hanya terdengar suara hembusan napas seseorang.

Oppa, waegeurae?

“Bisakah kau buka jendela?”

Yoona terdiam sejenak. Memikirkan maksud dari ucapan Siwon.

“Sekarang.”

Sejenak Yoona menoleh kearah Taeyeon. Gadis berpawakan mungil itu menaikkan kedua alis, seolah bertanya-ada apa?-pada Yoona. Lalu setelah menimang-nimang Yoona akhirnya berdiri kemudian berjalan kearah jendela. Dia menyibakkan tirai. Mulut Yoona sedikit terbuka dengan ketidakpercayaan akan matanya.

Choi Siwon sudah berdiri di seberang sana, bersandar pada tiang lampu sambil mendongak, menatap kearahnya. Siwon menyunggingkan sebuah senyum lalu mengangkat sebelah tangannya untuk menyapa Yoona.

“Apa aku menganggumu?”

Tidak. Sama sekali tidak!

“Yoong..” Siwon memasukkan sebelah tangannya yang tidak memegang ponsel ke dalam saku mantel. Meskipun Yoona tidak menjawab dia tahu gadis itu akan tetap mendengarkannya. “Bisakah kau turun sebentar?” Dia meminta dengan suara pelan, tak berdaya. “Aku… kurasa aku merindukanmu.”

Detik itu juga dada Yoona mendesir. Seluruh aliran darahnya mengalir lebih cepat. Yoona menutup tirai. Lalu mulai berbalik dan berjalan melewati ruang tengah, mengabaikan Taeyeon yang memangil-manggil namanya. Dia melangkah pelan menyusuri lorong-lorong apartemen. Lalu semakin lebar dan berubah menjadi setengah berlari.

Ketika sampai di lantai bawah dan dia berjalan menuju trotoar, dia harus mencegah dirinya agar tidak berlari dan menghambur ke pelukan Siwon. Dia harus mencegah air mata sialan itu agar tidak menetes. Dan harus terus berjalan tenang menghampiri Siwon.

 

Become your shadow. Follow you around everyday

Embrace your tired shoulders

I can only watch you, who

Run away two steps when I approach one step[2]

 

Siwon mengulas senyum tipis. Mereka sudah berdiri berhadapan. Tapi tidak ada yang memulai pembicaraan. Mereka membiarkan keheningan yang cukup lama menguasai pertemuan itu. Hanya mengandalkan kontak mata, seolah melempar pertanyaan satu sama lain dengan percakapan batin.

Sementara itu kedua tangan Yoona mengepal di sisi tubuhnya. Ia ingin bersuara, sekedar bertanya tapi lidahnya kelu. Ia terlalu takut pertahanan yang susah payah ia bangun akan roboh begitu saja.

Annyeong..” sapa Siwon lebih dulu. Dia menyembunyikan kedua tangannya ke dalam saku mantel. Agar Yoona tidak bisa melihat sebagaimana tangan itu ingin merungkuh tubuh gadis itu untuk masuk ke dalam pelukannya. Agar Yoona tidak tahu bahwa jari-jarinya kram untuk menekan dalam-dalam perasaan rindu yang tersemat.

Im Yoona memaksakan senyum terbaiknya. Meski yang tercipta hanyalah senyum sedih ia berusaha menekan getar pada suaranya. “Annyeong..” balasnya akhirnya. Diam-diam Yoona menghela napas.

“Belum tidur?”

Aku tidak bisa tidur. Terlalu sulit. Yoona membatin sedih. Dia mengalihkan perhatiannya lalu menggeleng pelan.

Saat itu angin berhembus dari arah barat. Menerbangkan beberapa helai rambut Yoona. Menghantarkan rasa dingin di sekujur tubuh Yoona. Dan dia baru menyadari bahwa ia hanya mengenakan kaus lengan panjang khusus untuk musim dingin dengan celana jeans biru tua. Dia lupa memakai mantel yang ia sampirkan di kursi dapur. Dia lupa malam ini masihlah musim dingin. Dan dia lupa bahwa orang yang ada di hadapannya bukan lagi kekasihnya yang siap memberi kehangatan kala ia menggigil.

Gelagatnya Choi Siwon baru saja menjebol temengnya sendiri. Mengesampingkan tekad yang sudah ia bangun, dia mengambil satu langkah ke depan. Lalu mendekap tubuh Yoona, membungkus tubuh mereka dengan mantelnya, memberi kehangatan di antara dayuh-dayuh angin.

Yoona terkesiap. Tubuhnya menegang. Dan dia tidak bisa bergerak. Tapi juga tidak mencoba untuk melepaskan diri dari Siwon.

Sebentar saja. Hanya sebentar saja.

Entah Siwon yang tengah berbisik kepadanya atau hati kecilnya yang meminta demikain. Entahlah. Yoona juga tidak mengerti. Dia hanya mengikuti nalurinya saja. Gadis itu perlahan-lahan mengatupkan kelopak mata. Dia menghembuskan napas, sadar bahwa sedari tadi ia menahan napas.

“Apakah besok kau ada waktu?”

Sulit bagi Yoona untuk menjawab pertanyaan itu disaat ia tengah terbuai dengan momentum ini. Beruntungnya gadis itu dapat menguasai diri dan memaksa otaknya bekerja kembali.

“Ya.” Dia menjawab dengan suara lirih. Sekali lagi mengendalikan suaranya agar tidak terdengar bergetar.

“Hmm..”

W-wae?

Anni,” katanya setelah terdiam sejenak. Lalu ia melepaskan pelukannya. Memberikan senyum terbaiknya untuk Yoona. Ketika hendak mengusap kepala Yoona—seperti kebiasaannya dulu—dia mengurungkan niatnya dan tangannya yang akan bergerak berhenti di udara. Siwon tersenyum sedih. Dia menunduk sebentar, lalu kembali mendongak.

Geurae.. kembalilah ke dorm dan segera tidur. Cuci tangan dan gosok gigi jika tidak ingin—“

Oppa! Apa kau pikir aku ini anak kecil!”

Sesaat suasana canggung diantara mereka sirna. Siwon terkekeh pelan. Dia mengusap pucuk kepala Yoona. Lagi-lagi harus melupakan tekadnya. Setelah mengusap rambut Yoona dan membuat Yoona kembali dikuasai rasa canggung, Siwon merapikan rambut Yoona. Kedua tangannya kini sudah berada di sisi pipi Yoona. Matanya menatap lurus kedalaman mata Yoona.

Dia tersenyum. “Jaljayo.” Setelah mengatakan itu dia menyuruh Yoona untuk cepat-cepat masuk ke dalam dorm sebelum udara semakin dingin.

Ketika Yoona berjalan perlahan menyebrangi jalan, ada sebesit keganjalan dalam hati Siwon. Dia memerhatikan gadis itu sudah berada di seberang jalan. Lalu dorongan itu menyeruak dalam dirinya.

“Yoongie-ya.”

Siwon menjejalkan kedua tangannya ke dalam saku mantel ketika Yoona menoleh kearahnya.

“Besok, maukah kau datang ke taman dekat Sungai Han? Tidak apa-apa jika kau terlambat. Aku akan menunggumu.”

Kesunyian yang hanya diisi oleh hembusan angin yang berlalulalang membuat jantung Siwon berdegup lebih kencang. Dia sadar tengah menahan napas ketika gadis itu masih menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan. Namun ketika gadis itu perlahan mulai menarik sudut bibirnya dan menganggukkan kepala, dia bisa merasakan paru-parunya kembali terisi udara.

 

What is love that it ties me up? Why?

Back then, when you looked at me, back than just for one minute, one second, you should stop that

I only knew you. I didn’t know the beginning or end. I’m so pathetic for horribly falling for you without fear[3]

 

Yoona duduk dengan sedikit kegelisahan ketika ia berhasil mencapai bangku yang tidak di duduki oleh satupun orang. Dia menghela napas dan mengembungkan pipinya karena kegelisahan yang mulai menyiksanya. Kebiasaan seorang Choi Siwon belumlah berubah. Dia masilah sama seperti pria tiga tahun yang lalu.

“Apa aku membuatmu menunggu lama? Mianhae tapi sedikit sulit untuk mendapatkan sepeda ini.”

Untuk sejenak gadis itu tidak dapat mengatakan apa-apa. Ini tidak berubah dari tiga tahun yang lalu. Sama sekali tidak. Choi Siwon yang duduk diatas sepeda mengenakan topi baseball birunya. Dengan pakaian yang sama. Dengan sepeda yang sama. Yah, persisi seperti kali pertama mereka berkencan.

Choi Siwon mengulum senyum. “Yoong. Aku ingin mengajakmu melintasi waktu, saat dimana kita menumbuhkan bahagia. Mungkin tidak seperti mesin waktu tapi aku bisa menjamin tidak akan ada yang berubah.” Lalu jeda sejenak sebelum pria itu mengulurkan tangannya. “Jadi, mari kita bersama-sama kembali ke masa lalu, hanya untuk hari ini, mm? Im Yoon Ah, maukah kau berkencan denganku?”

Seperti dokumenter yang diputar ulang. Yoona merasakan perasaan itu menghangatkannya. Perasaan yang begitu nyaman. Yoona membiarkan air matanya menetes ketika ia menganggukkan kepala dan menerima uluran tangan Siwon. Pria itu memakaikan topi yang lain padanya, lalu menuntunnya untuk duduk pada boncengan belakang.

Ketika Siwon sudah mengayuh sepedanya, Yoona harus mati-matian menahan sesak yang memenuhi dadanya. Dia memejamkan mata sambil mengeratkan pelukannya pada pinggang Siwon. Menerima dengusan angin musim dingin yang menyapu permukaan kulitnya.

Rasanya sungguh menyesakkan saat kau harus berpura-pura tersenyum bahagia jika sebenarnya kau tahu kemana cerita ini akan berakhir. Dan pada akhirnya yang harus kau lakukan hanyalah menikmati setiap detiknya. Membuang jauh-jauh sebersit harapan.

People smile with an effort, hiding the truth. As if they’re happy

While hiding the lie in the word love. As if it will be forever

Someday when I’m left at the edge of the world alone. I might miss you

Someday when I’m tamed to the edge of sadness. I might regret at the end[4]

 

Langit Seoul telah berubah jingga ketika mereka memutuskan untuk berhenti pada sebuah kedai di pinggir jalan. Mereka menghabiskan waktu seharian untuk mengunjungi tempat-tempat yang dulunya pernah mereka kunjungi untuk berkencan. Siwon benar mengatakan bahwa tidak ada yang berubah. Tempat-tempat itu masih ada. Hanya saja mereka tidak bisa berlama-lama mengingat status mereka kali ini yang bisa saja sangat mudah untuk dikenali para pemburu berita.

Setidaknya ada satu hal yang tidak akan Yoona lupakan untuk hari ini. Satu waktu dimana ia menjadi gadis paling bahagia. Satu waktu dimana ia merasa dunia ini begitu indah. Dia bisa tertawa bebas. Dan itu ketika bersama Choi Siwon.

“Bibi, tolong berikan kami dua bubur kacang merah.”

Nde.”

Yoona memerhatikan tenda kedai tempatnya berteduh. Ia mengulas senyum sembari mengusap lengannya. “Aku tidak menyangka tempat ini masih saja sama seperti tiga tahun yang lalu.”

“Mmm.” Siwon menyutujui. “Ohh, mana liontin yang tadi? Biar kupakaikan untukmu.”

Yoona merogoh tas dan memberikan liontin itu pada Siwon. Ketika Siwon berhasil memenangkan game saat mereka ke Lotte World tadi ia mendapatkan hadiah sebuah liontin berbentuk hati.

Siwon menggeser duduknya untuk dapat memakaikan liontin itu pada leher Yoona. Mengesampingkan fakta bahwa saat ini bibir mereka hanya berjarak lima sentimeter saja, Yoona menahan napas. Saat ini bahkan ia bisa mendengar degup jantungnnya sendiri. Ia tidak berkedip sama sekali karena terlalu takut Siwon bisa mendengar jantungnya yang hampir melompat-lompat.

Aigoo.. Aigoo.. anak muda jaman sekarang sangat tidak tahu tempat.” Seorang wanita paruh baya—si pemilik kedai—meletakkan dua mangkuk bubur kacang merah sebelum berkacak pinggang sambil menggelengkan kepala. Kedua sejoli itu serta merta menarik diri. Siwon mengusap tengkuknya sambil tersenyum canggung. Sementara Yoona tertunduk dengan wajah merona.

“Ahh, Bibi. Ini tidak seperti yang bibi pikirkan.” Pria itu mengibas-ibaskan sebelah tangannya.

Wanita pemilik kedai itu menyipitkan mata. Sejurus kemudian ia terkekeh. “Arrasseo, arrasseo.”

Sebelum Siwon menarik napas lega wanita itu kembali mengejutkannya. “Omo. Bukankah kau anak tiga tahun yang lalu?”

“Bibi masih mengingatku?”

“Aisssh..! kau meremehkan ingatanku. Aku memang sudah tua tapi ingatanku sungguh tajam. Bagaimana bisa aku melupakan pembeliku yang paling tampan, huh?”

Siwon kembali mengusap kepala belakangnya sambil tertawa renyah. Diam-diam Yoona mendengus.  Tidak mengherankan jika para ahjumma bisa langsung akrab dengan seorang Choi Siwon. Pria itu memiliki sejuta kata yang sangat disukai para ahjumma. Ini bukan kali pertama saja ketika ia berkencan dengan Siwon dan akan ada saja ahjumma yang melirik pria itu.

“Eoh, apakah dia kekasihmu?”

Sesaat Yoona terhenyak. Tenggorokannya tercekat ketika ia ingin membantah pertanyaan itu. Dia menoleh dan menemukan Siwon tengah menatapnya.

Geundae, aku seperti tidak asing dengan wajahmu. Apa kau seorang bintang TV?”

Andwee!” Suara Siwon mendengung dalam telingannya. Ia terlalu terkejut ketika Siwon mengggenggam tangan kanannya lalu menariknya keatas. “Dia kekasihku. Gadisku,” kata Siwon tersenyum. Lalu mengalihkan tatapannya dari Yoona. “Lihat, kami memiliki cincin yang sama.”

Siwon mensejajarkan tangan mereka dengan tangan kanan Yoona yang masih dalam genggamannya. Yoona merasa dia tidak bisa mencegah senyumnya. Yang tersemat pada jari manis mereka bukanlah cincin perak ataupun emas, bukan juga cincin berlian yang menawan. Yang tersemat di jari manis mereka hanyalah sejumput bunga liar yang dibuat oleh Siwon ketika mereka melewati taman. Nampak seperti sesuatu yang tak berharga namun begitu berkesan untuk Yoona—sama seperti kencan pertama mereka.

Wanita pemilik kedai itu mencibir Siwon yang terlalu pelit untuk membelikan seorang gadis sebuah cincin. Setelah berdebat sejenak dengan Siwon, ia menyuruh mereka untuk segera melahap bubur kacang merah itu, sebelum dingin.

Ketika Yoona menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulutnya ia terkejut karena rasa panas yang menyentuh bibirnya.

Siwon yang melihat itu terkikik geli. “Astaga, apa kau begitu bersemangat melahap makanan ini, huh?”

Ya! Oppa. Berhenti menertawakanku!” Karena Siwon tak juga berhenti tertawa, Yoona melemparkan sendoknya lalu mengembungkan pipi.

Terhitung tiga detik setelah itu Siwon menghentikan tawanya. Dia mengambil sendoknya sendiri lalu meraup bubur Yoona. Dia meniupnya. Dengan wajah penuh kesabaran. Setelah uap itu tidak lagi mengepul, dia menyodorkannya pada Yoona. Memberikan senyum lembut. “Mianhae.”

Mungkin tak terhitung pria itu telah membuatnya tercengang dengan segala sikapnya. Untuk hari ini maupun hari yang lain Choi Siwon masilah pria yang tak dapat ia baca.

‘Ketika aku melihatnya berubah menjadi seorang pria yang penuh perhatian. Aku mulai merasa cemas. Apakah dia akan memerlakukan gadis lain sama sepertiku? Apakah perhatian dan tatapan mata itu dia berikan pada semua gadis? Pertanyaan yang tidak akan mendapatkan sebuah jawaban. Karena aku merasa cemburu tiap kali melihatnya bersama dengan gadis lain.’

“Yoona, kau masih ingat ketika pertama kali kita bertemu?”

Yoona menganggukkan kepala. Saat ini mereka tengah berdiri di halaman belakang gedung SM Entertainment. Mengulang kilas balik masa lalu. Mengulang sejarah hidup yang sebenarnya tidak pernah terulang.

Sambil mengeratkan genggaman tangannya pada tangan kurus Yoona, Siwon mendesah. “Dulu aku masih sangat culun, ya?”

Yoona menganggukkan kepala lagi. Dia tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Dan bagaimana bisa ia melupakan kejadian itu? Pertemuan dengan bocah berusia belasan tahun dengan rambut landaknya yang awut-awutan. Dengan celana komprang dan kaos bercelona yang kedodoran. Bocah itu adalah Choi Siwon—yang notabene adalah salah satu seniornya yang tidak sengaja ia tubruk ketika ia berlarian menghindar dari kejaran Jessica.

Tiba-tiba saja Siwon melepas genggamannya. Membuat Yoona terkesiap dan nyaris meraih kembali tangan pria itu. Tangannya terasa dingin dan ia merasakan sesuatu yang tiba-tiba terasa kosong. Dia kehilangan.

Mengesampingkan perih ketika menatap mata Yoona yang nampak terluka, Siwon menarik bibirnya untuk tersenyum. Dia memiringkan kepala sambil menyilangkan kedua lengan di depan dada, ia mengamati diri Yoona. Lalu setelah hening cukup lama Siwon maju satu langkah. Dia membuka topi Yoona, kemudian menyatukan helai rambut Yoona dan memasukkannya melewati topi. Menjadikan rambut Yoona yang tergerai sekarang menjadi terkuncir.

“Seperti inilah ‘Yoona-ku’ yang dulu,” kata Siwon menatap manik matanya. “Gadis kuat yang tidak mudah menangis. Gadis cerewet yang tidak tahu berdandan. Dia, ‘Yoona-ku’. Gadis yang apa adanya.”

Ada letupan aneh yang menyeruak dalam diri Yoona. Dia tidak berusaha untuk menyuarakan apapun karena pandangannya mulai mengabur. Berusaha bersikap tegar, Yoona mengerjap-ngerjapkan mata untuk menyapu lapisan bening yang tertumpuk di permukaan korneanya. Menyadari bahwa ini tidak akan bertahan lama adalah duri yang menusuk-nusuk dadanya. Semua ini akan segera berakhir. Kenangan manis bersama Siwon. Perasaan bahagia tiap kali berada di dekat pria itu.

Siwon melepaskan topi Yoona lagi. Kali ini ia membuangnya asal, membiarkan rambut Yoona tergerai. Dia masih menatap wajah Yoona dan menyadari dadanya terasa sesak. “Tapi malam ini Yoona-ku bukan lagi gadis yang seperti itu. Dia bukan lagi gadisku atau Yoona-ku. Dia adalah Im Yoona, visual dari Girls Generation. Figur yang di sorot banyak mata. Sosok yang menanggung tanggung jawab besar. Gadis yang masih harus berjuang demi impiannya.” Siwon menangkup wajah Yoona yang tertunduk. “Ketika kau merasa sakit percayalah bahwa aku mengertimu. Percayalah bahwa aku tahu tentang perasaanmu.”

Isakan pertama melompat dari bibir Yoona. Ia mati-matian menahannya. Ia tidak menatap Siwon. Ia tidak berani.

“Yoona, apa dengan melihatku saja membuatmu sedih?” Kali ini suara Siwon terdengar sangat terluka. “Apa aku membebanimu, Yoona? Aku membuatmu tidak nyaman, mm?”

Air mata Yoona mulai berjatuhan. Dia mencengkram dadanya yang kini terasa begitu sesak. Dan isakan-isakan kecil itu berubah menjadi tangis. Bahkan untuk menggelengkan kepalanya saja Yoona merasa ia sudah tidak sanggup.

Mengerti akan kesakitan gadis itu Siwon menarik tubuh Yoona dan memeluknya. Saat itu juga Yoona merasa lututnya tidak cukup kuat untuk menyangga tubuhnya sendiri. Dia menangis tersedu-sedu di dada Siwon. Kedua tangannya mencengkram kuat mantel Siwon, melampiaskan rasa sakitnya selama ini, melampiaskan tangisnya yang tertahan sepekan ini.

Mianhae. Jeongmal mianhaeyo.” Menyadari cairan asin yang jatuh meluncur melewati tulang hidungnya, Siwon mengeratkan pelukannya. “Membuatmu menangis seperti ini aku minta maaf. Menempatkanmu pada pilihan yang sulit aku juga minta maaf. Aku merasa terlalu berhati-hati hingga aku tidak bisa melindungimu dengan pantas. Aku melukaimu. Maaf. Aku minta maaf.”

Yoona sangat ingin mengatakannya. Bahwa ia juga ingin meminta maaf. Tapi sekali lagi suaranya tertelan oleh tangisnya yang memenuhi rongga dada. Yang bisa ia lakukan hanyalah mencengkram kuat-kuat mantel Siwon, mencegah pria itu untuk tidak melepaskan pelukannya.

“Yoongie-ah,” panggil Siwon diantara tarikan napasnya yang berat. “Berjanjilah padaku.”

Ketika Siwon melepaskan pelukannya, lagi-lagi Yoona terkesiap. Tidak. Dia belum siap. Jangan berkata apapun… jangan katakan apapun!

Siwon menatap Yoona lurus-lurus diantara air mata yang menggumpal di korneanya. Ibu jarinya bergerak untuk menghapus jejak air mata Yoona. Sementara gadis itu masih sesegukan, ia kini balas menatap Siwon.

“Berjanjilah kau akan baik-baik saja.”

Tangis Yoona kembali pecah. Dia menggelengkan kepala dan menggigit bibir bawahnya. Dia belum bisa menjanjikan hal itu jika semua ini akan berakhir.

Sejujurnya Siwon mengerti perasaan gadis itu. Tapi dia harus mengajukan hal itu. Meminta Yoona untuk baik-baik saja. Agar dia bisa melepaskannya. Agar rasa sesal yang menyiksanya bisa sedikit terobati.

“Yoong, berjanjilah.”

Air matanya tidak juga mau berhenti sementara hatinya mencelos mendengar kata-kata Siwon. Akhirnya Yoona mengangguk. Dan setelah itu dia tidak mampu menahan sendu sedan tarikan napasnya karena terisak.

Siwon memaksakan senyum, meski ia tahu air matanya juga berjatuhan. Dia menyentuh pucuk kepala Yoona, lalu membelainya. Dan betapa Yoona menyukai sentuhan itu. Mungkin ini tidak akan menjadi yang terakhir kali. Tapi setelah ini, setelah malam ini mereka harus mulai melupakan segalanya.

“Kau harus tahu bahwa hari ini aku begitu bahagia. Aku tidak pernah menyesalkan pertemuan kita. Mencintaimu juga dincintaimu. Percayalah aku sangat bersyukur.”

Ketika Yoona membekap mulutnya dengan kedua tangan, Siwon menyadari sejumput bunga liar yang ia sematkan untuk jari manis Yoona. Pria itu tersenyum sedih. Dia meraih tangan kiri Yoona, lalu melepaskan cincin itu. Setelah itu dia juga melepaskan cincin miliknya. Siwon membuangnya jauh-jauh. Membuat tangis Yoona berhenti dan ia terhenyak.

“Barang itu tidak penting,” katanya. Lalu matanya mengarah pada liontin berbentuk hati yang mengalung pada leher Yoona. Siwon menariknya, terlepas dari leher Yoona. Lagi-lagi membuat Yooona terhenyak. “Ini juga menjadi tidak penting.”

Sebelum Siwon berhasil membuangnya, Yoona mencegahnya. Gadis itu menggelengkan kepala. Tapi Siwon menghiraukannya dan membuang jauh-jauh liontin itu.

Yoona tidak tahu selanjutnya apa yang terjadi tapi dadanya terasa semakin sesak.

Gomawo.” Siwon memaksakan bibirnya untuk tersenyum dan menjejalkan kedua tangannya pada saku mantel. Dia maju selangkah, lalu mencium kening Yoona lama.

Saranghae,” bisiknya sebelum berjalan membelakangi Yoona. Meninggalkan Yoona yang masih menangis.

Jangan pergi… Jangan pergi… Jangan pergi…

Yoona ingin sekali meneriakkan kata-kata itu. Memohon pada Siwon untuk tetap tinggal. Tapi ia sama sekali tidak bisa berteriak. Dadanya sesak. Lidahnya kelu. Dan hanya ada suara tersendat dari bibirnya.

Gadis itu tidak tahu seberapa sakit Siwon harus mencegah dirinya sendiri untuk tidak berhenti melangkah dan berbalik untuk memeluknya. Yoona tidak tahu seberapa terlukanya dia memaksakan diri untuk terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Sebab jika ia menoleh pertahanannya akan runtuh. Sebab jika ia menghentikan langkahnya segalanya akan berubah menjadi seperti yang ia inginkan. Dan itu tidak boleh terjadi.

Siwon mendongakkan kepala, menahan lelehan air mata yang tidak mau berhenti. Dia menatap langit malam. Menyembunyikan luka yang ada, pria itu tersenyum sedih.

-Dan disinilah kita. Bertemu dan berpisah. Di tempat yang sama. Dengan degup jantung yang sama. Masih dengan rasa yang sama. Di bawah langit Seoul.-

 

Love is the moment, the day, the moment I let you go

My heart stopped, time stopped, it keeps hurting

Love is the moment, the day, the moment I left you

Love left too, it keeps hurting

In your eyes, in your mind, love is[5]

.

.

|Ketika satu kisah telah berakhir, itu berarti kisah yang lain baru dimulai|

.

|FINISH|

—-

Song Quote List :

[1] SNSD’s Jessica Jung—“That One Person, You” (Ost. Dating Agency)

[2] Super Junior’s Eunhyuk and Donghae—“Still You”

[3] Kara—“Runaway”

[4] G-Dragon ft. Jannie Kim—“Black”

[5] 2AM’s Lee Changmin—“Moment” (Ost. The Heirs)

—-

a/n : Dan seperti inilah kisah ini berakhir hehe.. eumm aku gak masukin Lee Seung Gi ke dalam fic ini, ada yang kecewa? Hehe. Awalnya sih pengen biar menghidupkan kesan nyesek gitu>< tapi kok yah susah gitu nulis namanya *.* /sembunyi di dalam topi ChilBong/ Jadinya dia cuma nangkring nama doang, biar mantes-mantesin cast gitu XXD Oh yah, ini pasti pasaran banget kan yah, tema macem gini. Yah maklumi ajalah jiwa para author kalo lagi galo bawaannya pen di tuangin kedalam panpik.-. Kkk~ Dan kenapa endingnya begono?! Well, mungkin buat latihan aja kali yah jaga-jaga aja gitu kalau mereka gak jadi *gak amin tujuh turunan. basuh mulut pake bibir ChilBong/eh*

Oke, kritik dan saran sangat ditunggu :^)

Tinggalkan komentar

124 Komentar

  1. agatharia

     /  Juli 13, 2014

    Banyak crita dgn cast mrk b3 tp yg ini bnr” kerennnn..wlwpun cm os tp bisa bikin ak nangis..aaaaa daebak!!

    Balas
  2. Ceritanya keren
    Aku hampir nangis😥

    Balas
  3. Damayanti

     /  September 6, 2014

    Ini cerita pertama yang sukses buat ane Nangis *prokprokprokbuatauthornya:’D Dua jempol buat author, kalau bisa ampe empat daah sekalian😀 Gumawo^^

    Balas
  4. aldiana elf

     /  Januari 6, 2015

    pengen happy ending,,
    seung gi sama yoona nggak cocok banget

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: