[FF] The Princess’ Love (Part 4)

1011557_213562292162098_1964774670_n

[FF] The Princess’ Love (Part 4)

Author             : Indah (bianglalala27@gmail.com)

Type                : Chapter

Main Cast        : Choi Siwon, Im Yoona

Support Cast   : Leeteuk, Kim Taeyeon, Kwon Yuri, Kim Jong Woon, Seo Jo Hyun, Lee Donghae, etc

Genre              : School Life, Romance, Friendship

Rating             : 15+

 

Anyeong!!! Saya kembali lagi dengan ff ngawur ini, huahahaha… biarpun part 3 responsnya agak menurun, nggak apa-apa lahh.. saya tetep posting kelanjutannya kok. Ada yang nungguin? *kegeeran banget deh saya. Hohoho,, yasudah langsung aja, saya persembahkan part 4.

Happy Reading!

 

PART 4

 

Malam sudah mulai larut. Di sebuah jalanan di pinggiran Seoul yang sepi, sebuah mobil berwarna hitam berhenti. Choi Ki Ho keluar dari mobil itu dengan tergesa-gesa. Ia kemudian berlari menjauh, sementara mobil itu kembali melaju di tengah kegelapan. Sesekali Choi Ki Ho menoleh ke belakang, memeriksa apakah ada yang membuntutinya. Ternyata tidak. Merasa cukup aman, ia berhenti sejenak dan menelepon putranya.

“Yeobseyo, Aboeji,” terdengar suara Siwon mengangkat teleponnya.

“Siwon-ah,” Choi Ki Ho berusaha menetralkan kembali napasnya. “Kau di mana, Siwon-ah?” engahnya.

Ia tahu Siwon pasti akan merasa heran dengan sikapnya saat ini. Tapi ia harus memastikan kalau anaknya tidak sedang dalam bahaya.

“Aku masih di jalan, aku akan segera pulang. Ada apa dengan suaramu Aboeji? Aboeji ada di mana?”

Choi Ki Ho mendesah lega. “Jangan pulang ke rumah malam ini. Menginaplah di rumah Leeteuk. Malam ini Aboeji tidak pulang. Ingatlah, kau jangan pulang ke rumah malam ini,” pesannya.

Perasaan Siwon tidak enak mendengar perintah ayahnya. “Aboeji, apa yang terjadi?”

“Turuti perkataanku. Aboeji tidak bisa bicara sekarang. Aboeji harus segera pergi. Berhati-hatilah.” Choi Ki Ho menutup telepon tanpa menunggu jawaban Siwon. Setelah memasukkan ponsel ke dalam sakunya, ia cepat-cepat pergi dari tempat itu. Ia harus segera menemui seseorang. Seharusnya ia melakukan hal itu sejak dulu. Ki Ho berhenti lagi dan menelepon. Butuh beberapa detik untuk membuatnya tersambung dengan orang yang ingin ia ajak bicara. “Kita harus bertemu,” ucap Ki Ho saat sudah tersambung. “Kita harus segera bertemu, Im Tae San.”

Im Tae San sedikit terkejut mendapat telepon dari sahabat lamanya, Choi Ki Ho. Tapi sepertinya ia sudah menyangka cepat atau lambat hal itu akan terjadi. Mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Dua orang itu kemudian menjadi sahabat, tumbuh bersama, dan memimpikan hal yang sama. Orang-orang di sekitar mereka selalu mengatakan kalau nantinya mereka berdua akan menikah dan hidup bersama selamanya karena kedekatan yang mereka tunjukkan. Sayangnya, Im Tae San yang ambisius merusak segalanya. Mengkhianati sahabat terbaik sekaligus rekan kerjanya.

***

Siwon dan Leeteuk berjalan menuruni tangga rumah Leeteuk. Mereka sudah siap berangkat ke sekolah. Saat melewati ruang keluarga, tiba-tiba saja ayah Leeteuk yang sedang menonton berita pagi memanggil mereka.

“Aboeji, ada apa? Kami akan terlambat,” kata Leeteuk malas. Ia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh ayahnya.

Ayah Leeteuk tampaknya ingin memukul anak laki-lakinya itu. Leeteuk jarang sekali mendengarkan nasihatnya. “Kau masih menyetir sendiri saat ke sekolah?” Sepertinya sang ayah baru saja melihat berita kecelakaan lalu lintas di televisi.

Leeteuk yang sejak tadi berdiri mendesah malas. Masalah ini lagi, keluhnya. Ia lalu duduk di depan ayahnya. “Aboeji, aku sudah mengatakan berkali-kali kalau aku akan menyetir dengan sangat hati-hati. Batas maksimal kecepatanku adalah 60 km/jam. Tidak akan lebih dari itu,” ucap Leeteuk yang tentu saja bohong.

Siwon tertawa dalam hati, heran bagaimana bisa ayah Leeteuk percaya pada apa yang diucapkan oleh Leeteuk. Ia memilih menonton berita di televisi daripada mendengarkan bualan-bualan Leeteuk untuk meyakinkan ayahnya. Si pembawa berita di televisi mengatakan bahwa telah terjadi sebuah kecelakaan tunggal dini hari tadi di pinggiran kota Seoul. Pengemudi tewas di tempat karena mengalami benturan yang cukup keras di kepalanya. Pengemudi mobil adalah seorang pria berusia enam puluh satu tahun yang bernama Jang Dong Hyub, mantan salah satu direktur di Grup A yang baru saja mengundurkan diri. Sisa berita itu tidak lagi Siwon ketahui karena pikirannya telah dipenuhi kematian Tuan Jang yang menjadi majikan ayahnya. “Bagaimana bisa?” gumamnya tanpa sadar membuat Leeteuk dan ayahnya menoleh bersamaan.

“Wae?” tanya Leeteuk heran.

“Ah, itu. Korban kecelakaan itu adalah Jang Dong Hyub,” ujar Siwon.

“Kau mengenalnya?” giliran ayah Leeteuk yang bertanya.

“Ayah saya bekerja padanya, Ahjussi.”

“Begitu rupanya. Kau pasti mengkhawatirkan ayahmu,” kata ayah Leeteuk prihatin.

Siwon mengangguk. “Ne, Ahjussi. Tapi tadi pagi Aboeji sudah mengirim pesan pada saya agar jangan khawatir.” Pikiran Siwon kembali kepada ayahnya. Jadi inikah yang membuatnya tidak pulang semalam? Lalu mengapa Tuan Jang menyetir sendiri sementara ia memiliki supir pribadi? Mengapa ayahnya tiba-tiba menghilang saat Tuan Jang mengalami kecelakaan? Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak Siwon.

***

Entah apalagi yang harus Yoona lakukan untuk mengurangi bengkak di matanya akibat semalaman menangis. Memakai make up sama sekali tidak membantu. Yoona pasrah dan membiarkan matanya tetap seperti itu. Dengan malas ia keluar dari kamarnya tepat pada saat Yuri juga keluar. Mereka berdiri berhadapan, saling menatap satu sama lain. Meski masih sakit hati, Yoona berusaha bersikap biasa.

“Aku minta maaf karena mabuk waktu itu,” Yuri memulai. Sebenarnya setelah Yoona marah-marah padanya, ia berniat akan mengubah sikapnya pada Yoona. Tetapi yang terjadi justru ia membuat Yoona semakin marah padanya.

“Terserah Unnie saja,” balas Yoona dingin. Untuk apa sebenarnya kau minta maaf? Kau minta maaf karena kau akan pergi? cibirnya dalam hati.

Yuri menghela napasnya sebelum bicara lagi. “Aku tahu aku bukan kakak yang baik bagimu, tapi mulai sekarang aku akan bersikap baik padamu.”

Yoona tertawa sinis. “Sejak kapan Unnie ingin berubah seperti itu? Mengapa sangat tiba-tiba?” Apa karena kau dan Eomma akan pergi meninggalkanku dan kau merasa bersalah karena itu? imbuh Yoona dalam hati.

Sepertinya Yuri tidak bisa mendekati Yoona secara tiba-tiba seperti ini. Hubungan mereka sudah terlalu renggang, pantas jika Yoona merasa curiga dengan sikapnya. “Aku tahu kau marah. Mari kita pergi bersama malam ini, sebagai pengganti waktu aku mabuk kemarin.”

Rasa prihatinnya pada Yuri mendadak hilang setelah Yoona mendengar percakapan Yuri dan ibunya semalam. “Aku sibuk. Aku tidak bisa pergi dengan Unnie.” Yoona berlalu dari hadapan Yuri. Yuri merasa ada yang aneh pada Yoona, tapi dia tidak bisa menyebutkan apa itu. Ia juga melihat mata Yoona yang bengkak. Apa dia habis menangis? pikir Yuri. Yuri semakin khawatir pada adiknya karena Yoona bahkan melewatkan sarapan dan langsung pergi ke sekolah.

 

Keributan yang terjadi di pintu gerbang rumahnya membuat Yoona urung masuk ke mobil yang akan membawanya ke sekolah. Di sana ada seorang Ahjussi yang tampaknya memaksa masuk. Ia didorong oleh dua orang bodyguard yang berjaga di depan rumah keluarga Im dan jatuh tersungkur di jalanan.

“Ada apa?” tanya Yoona pada kedua penjaganya.

Kedua bodyguard itu mengangguk memberi hormat pada nona mudanya. “Ia memaksa bertemu dengan Presdir, Nona. Kami sudah memberitahunya kalau ia harus membuat janji dulu, terlebih Presdir sangat tidak suka ada sembarang orang yang masuk ke rumahnya.”

Ahjussi itu tersenyum meremehkan mendengar perkataan si penjaga. “Dia akan tidak akan marah karena sahabat lamanya datang berkunjung, anak muda,” katanya sambil membersihkan bajunya yang terkena debu.

Yoona menjadi penasaran dengan ahjussi itu. Sebelumnya ia tidak pernah bertemu orang yang menngaku teman ayahnya selain yang menjadi rekan bisnis ayahnya. Dia meneliti pria itu. Kesimpulannya sudah jelas kalau ia bukan rekan bisnis ayahnya. “Apakah Anda adalah teman ayah saya?”

Melihat Yoona yang bersikap jauh lebih sopan daripada kedua penjaganya, si ahjussi tersenyum. “Aku dan ayahmu telah bersahabat sejak kami masih di sekolah dasar. Kau pasti Yoona, kan?”

Yoona mengangguk heran. Pria itu mengenalinya, bahkan setelah ia meninggalkan Korea sejak kecil. “Benarkah?” Yoona memperhatikan ahjussi itu. Pria itu tidak terlihat seperti orang jahat. Dan lagi, ia mengenali Yoona. Mungkin memang ia adalah sahabat lama ayahnya. Senyuman pria paruh baya itu seperti mengingatkannya pada seseorang. “Appa masih ada di dalam. Ahjussi mungkin bisa menemuinya sebelum Appa berangkat ke kantor.” Yoona beralih pada penjaganya. “Kenapa kalian tidak bilang saja pada Appa kalau sahabatnya berkunjung?” kata Yoona dengan nada memerintah.

Ahjussi itu, Choi Ki Ho, juga memperhatikan Yoona. Dia sangat mirip ibunya, pikir Ki Ho. Tapi sepertinya sifat Tae San yang menurun padanya.

“Ahjussi, tunggulah sebentar di sini. Saya harus pergi ke sekolah,” Yoona mengangguk singkat pada Choi Ki Ho.

“Terima kasih,” Choi Ki Ho merasa beruntung karena Yoona mempermudah jalannya. “Ah, aku tidak menyangka putri Im Tae San tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.”

Yoona tersenyum mendengarnya. “Saya sudah pernah mendengarnya beberapa kali.”

***

 

Leeteuk berbaring kelelahan di rumput sambil mengatur napasnya. Beberapa detik kemudian Siwon mengikuti tingkahnya juga. Mereka baru saja berlari mengelilingi lapangan sepakbola.

“Aku akan mengajukan petisi ke menteri pendidikan agar menghapus lari dari pelajaran olahraga,” kata Leeteuk. “Lelahnya.”

Dasar orang kaya, maki Siwon dalam hati. “Berhenti mengeluh, Hyung. Mengapa orang kaya sering sekali mengeluh? Tidak ada gadis yang mau padamu kalau kau begitu terus, Hyung.”

Leeteuk meninju lengan Siwon. “Beraninya kau bicara begitu padaku. Tidak ada gadis yang berani menolakku.”

“Kau bahkan belum pernah berkencan dengan siapapun,” ejek Siwon.

“Aku akan berkencan dengan orang yang benar-benar kusukai,” Leeteuk membela diri.

Siwon terkekeh. “Jadi kau sudah menyukai seseorang, Hyung?”

“Tentu saja.”

“Aku mengenalnya?” pancing Siwon. Dia merasa curiga kalau Leeteuk menyukai Taeyeon. Menurutnya sikap Leeteuk yang selalu manis pada Taeyeon disebabkan karena Leeteuk menyukainya.

“Tentu saja m… tidak.” Leeteuk hampir kelepasan bicara. Selama ini ia berusaha menyembunyikan perasaannya dari Siwon. Hampir saja ia merusak segalanya.

Siwon tersenyum kecut mendengarnya. Apa orang itu Kim Taeyeon? tanya Siwon dalam hati. Mereka diam sebentar sebelum Leeteuk kembali bicara.

”Ah sepulang sekolah nanti aku akan menemani Taeyeon ke rumah sakit. Kau ikut?”

Siwon menggeleng. “Aku masih harus mengembalikan mobil gadis manja itu,” tanpa sadar Siwon sedikit tersenyum saat mengingat Yoona.

Tentu saja Leeteuk heran melihat raut wajah Siwon. Malam tadi saat ia bercerita apa yang terjadi pada Yoona, Siwon terlihat sangat frustasi. Tetapi sekarang Siwon justru tersenyum saat membicarakan hal itu. Im Yoona, hebat juga dia, pikir Leeteuk.

“Kau juga harus minta maaf padanya,” nasihat Leeteuk.

“Arra.”

***

 

Choi Ki Ho masuk ke ruang kerja Im Tae San di rumahnya. Tae San yang duduk di balik meja kerjanya tersenyum menyambut kedatangan Ki Ho. Mereka saling bertatapan selama beberapa saat sebelum akhirnya Tae San menyapa Ki Ho.

“Lama tidak bertemu, Ki Ho-ya. Bagaimana kabarmu?” sapanya. “Duduklah.”

Ki Ho tidak bergeming. Dia tetap berdiri di tempatnya. “Berhentilah, Tae San-ah. Aku telah memberikan semuanya padamu. Apa itu tidak cukup? Berhentilah sampai di sini,” pintanya.

Tae San beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati Ki Ho. Mereka kini berdiri berhadapan. “Kau benar-benar langsung pada sasaran. Bahkan kau sama sekali tidak menanyakan bagaimana kabarku.”

“Jang Dong Hyub tidak pernah membocorkan apapun pada polisi. Mengapa kau membunuhnya?” desis Ki Ho. Ia merasa sangat marah pada Tae San.

Tae San menghela napas. “Aku memang berniat membunuhnya. Tapi kecelakaan itu murni karena kesalahannya.”

“Tapi kau yang telah menyebabkan kematiannya,” teriak Ki Ho. Semalam Jang Dong Hyub yang pergi bersamanya telah menyuruh Ki Ho keluar dari mobilnya sebelum kecelakaan terjadi. Mereka tengah dikejar oleh beberapa orang tak dikenal yang Ki Ho yakini sebagai anak buah Im Tae San. Jang Dong Hyub yang mengetahui semua keburukan Tae San berniat melaporkan Im Tae San ke polisi. Sayangnya Tae San sudah tahu apa yang akan dilakukan Dong Hyub. Ia lalu menyuruh anak buahnya untuk membunuh Dong Hyub.

“Setelah ini aku akan berhenti, Ki Ho-ya. Aku akan mengembalikanmu ke posisimu semula,” janjinya.

Ki Ho mendengus tidak percaya. Baginya, semua ucapan Tae San kini adalah omong kosong. Ia sudah berkali-kali diperdaya oleh sahabatnya itu. “Aku tidak menginginkan uangmu. Ambillah semua. Aku hanya menginginkan keluargaku kembali,” kata Ki Ho lirih tapi penuh penekanan. “Aku akan membeberkan semuanya. Semua yang dulu kau lakukan, bahwa kau telah menyuap pemerintah Jeju untuk mendirikan hotel di sana, bahwa kau telah memfitnahku dan mengambil semua asetku secara ilegal.” Tekad Ki Ho sudah bulat. Ia tidak tahan lagi melihat sahabatnya melakukan kejahatan di depan matanya. Selama ini ia tutup mulut karena Tae San mengancam akan membunuh istrinya. Selain itu, Ki Ho selalu mengingat kenangan saat mereka masih menjadi sahabat baik dulu dan berharap Tae San akan berhenti dan berubah menjadi Tae San yang ia kenal dulu. Namun sepertinya Tae San sudah dibutakan oleh harta dan kekuasaan.

“Lakukanlah,” jawab Tae San dengan tenang. “Kurasa kau tidak benar-benar ingin berkumpul dengan keluargamu.”

Ucapan Tae San selalu membuat Ki Ho kalah. Ia tahu istrinya masih hidup dan kini berada di tangan Tae San. Tae San selalu mengancam akan membunuh istrinya jika ia melaporkan Tae San ke polisi. Dan itu benar-benar membuatnya gila.

***

 

Sepanjang jam pelajaran Yoona terus melamun. Tak ada satu pun penjelasan guru yang masuk ke otaknya. Pikirannya melayang memikirkan keluarganya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Jo Hyun sedikit heran melihat Yoona yang berubah menjadi sangat pendiam. Dia hanya tersenyum kecil saat siswa lain menyapanya. Jo Hyun akhirnya mengikuti Yoona pergi ke taman belakang sekolah saat jam makan siang.

Yoona duduk di tempat yang sama saat ia membolos dulu. Ia terus memikirkan apa yang telah ia dengar semalam. Mengapa ibunya ingin bercerai? Mungkinkah ayahnya sudah tahu tentang semua ini? Apa karena itulah ayahnya memberikan posisinya di perusahaan pada Yoona dan bukan Yuri?

“Im Yoona, kau memakai tempatku lagi,” Jo Hyun tahu-tahu sudah duduk di samping Yoona.

“Mianhe, aku hanya sedang ingin sendiri. Aku akan pergi sebentar lagi.”

Keheranan Jo Hyun semakin besar. Ia tahu benar Yoona paling tidak bisa mengalah dan pasrah seperti ini. “Kau kenapa? Gwenchana?”

Yoona hanya mengangguk samar. Matanya menatap kosong ke depan.

Jo Hyun belum menyerah. “Kau menemukan alamat Choi Siwon?”

Lagi-lagi Yoona hanya mengngguk.

“Kau bertemu dengannya?”

Mulut Yoona seperti dilem dan tidak bisa terbuka lagi. Sejak tadi ia hanya mengangguk-angguk menjawab pertanyaan Jo Hyun.

Jo Hyun berusaha sabar. Ia tahu Yoona sedang memikirkan sesuatu hingga ia seperti ini. Sejak Yoona menolongnya membawa kertas beberapa waktu lalu, Jo Hyun sudah bertekad akan menjadi teman yang baik bagi Yoona. “Kau ini kenapa? Apa Choi Siwon menolakmu?” katanya asal.

Berhasil. Yoona menoleh memandang kesal Jo Hyun yang ada di sampingnya. “Mengapa kau menyebut nama itu?”

“Jadi benar Choi Siwon menolakmu?” pancing Jo Hyun lagi.

Yoona berdecak. “Kau mendoakanku seperti itu?” katanya marah.

Kening Jo Hyun berkerut. “Jadi bukan karena itu? Lalu kenapa kau seharian ini? Kupikir kau sedang patah hati.”

Kemarahan Yoona hilang dan berganti dengan rasa heran. “Mengapa kau begitu perhatian padaku? Apa jangan-jangan kau jatuh cinta padaku?”

“Yak!” Jo Hyun memukul paha Yoona, membuat gadis bermarga Im itu meringis kesakitan. “Bicara apa kau?”

“Habisnya kau sangat perhatian padaku.”

Jo Hyun menghela napas. “Kau tidak ingat padaku? Kita pernah bertemu dulu.”

Yoona mengangkat alisnya heran. “Mengapa aku harus mengingatmu?”

Kesabaran Jo Hyun sepertinya kembali diuji. Ia sedikit menenangkan emosinya sebelum melanjutkan bicara. “Kita pernah bertemu dulu. Di New York.”

Pikiran Yoona kembali ke masa-masa saat ia masih bersama pamannya. Mengingat-ingat setiap kejadian yang dimaksud Jo Hyun. Tapi ia tidak mengingat apapun. “Aku tidak ingat. Memang kapan kita bertemu?”

Saat itu Yoona dan Jo Hyun masih berusia sepuluh tahun. Jo Hyun dan keluarganya sedang liburan Natal di Amerika. Ketika malam Natal, Jo Hyun pergi jalan-jalan sendiri dan tersesat. Ia menangis di taman kecil di dekat rumah paman Yoona. Jo Hyun sangat kedinginan karena salju mulai turun dan hari sudah malam. Yoona yang saat itu juga sedang berjalan-jalan heran melihat seorang anak tengah menangis di taman seorang diri.

“Are you okay?” tegurnya.

Jo Hyun yang berjongkok menatap orang yang menegurnya. “No,” isaknya.

Yoona sedikit bingung menghadapi anak itu. “It’s Christmas Night. What are you doing here? Where is your family? Why are you crying?”

Tangis Jo Hyun justru semakin parah, membuat Yoona semakin bingung.

Apa dia tersesat? Sepertinya dia bukan dari daerah ini, pikir Yoona. “Where do you come from?”

“I’m from Seoul. I came here with my family for Christmas,” jawab Jo Hyun di  sela isakannya.

Mendengar kata Seoul membuat Yoona bersemangat. “Aku juga orang Korea. Apa kau tersesat?”

Jo Hyun membersihkan air matanya, sedikit kega karena bertemu orang Korea di negara yang sangat asing baginya ini. “Ne. Aku pergi berjalan-jalan, tapi tiba-tiba aku ada di sini dan tidak tahu ke mana aku harus pulang.”

“Ayo pergi ke rumahku. Pamanku sangat pintar, pasti dia akan membantumu menemukan keluargamu,” Yoona sangat senang bertemu dengan seorang anak Korea yang sebaya dengannya.

“Apa tidak apa-apa?” tanya Jo Hyun sedikit ragu.

“Ayo ikut aku,” Yoona menggandeng tangan Jo Hyun yang dingin. Mungkin saja ia akan berubah menjadi es bila tidak segera pergi dari tempat itu. Mereka lalu berjalan bergandengan ke rumah paman Yoona. Keduanya asyik berceloteh menceritakan hadiah Natal yang mereka terima. Yoona dan Jo Hyun bahkan tidak mau berpisah ketika akhirnya keluarga Jo Hyun datang menjemput.

Perlahan, Yoona mulai mengingat kejadian itu. Dia tersenyum mengejek pada Jo Hyun. “Jadi kau anak cengeng itu?” semburnya.

Wajah Jo Hyun langsung cemberut. “Mengapa kau menyebutku cengeng, eoh? Saat itu benar-benar menakutkan.”

Yoona semakin senang meledek Jo Hyun. “Jadi apa kau senang bertemu kembali dengan pahlawanmu ini?”

“Kau sombong sekali,” cibir Jo Hyun. Yoona memang belum mau membicarakan masalahnya, tapi paling tidak dia bisa sedikit membuat Yoona tersenyum.

Bagaimana ia bisa mengingatku sampai saat ini? pikir Yoona heran. Ia tidak menyangka tindakan kecilnya menolong Jo Hyun akan mengubah hidupnya di kemudian hari.

***

 

Siwon mencari keberadaan Yoona ke setiap sudut sekolah. Sayangnya ia tidak menemukan gadis itu di manapun. Terpaksa akhirnya Siwon mencegat Yoona di dekat ruang kelasnya saat pulang sekolah.

“Yoona,” panggil Siwon saat Yoona lewat di depannya. “Mobilmu.”

Yoona terus berjalan tanpa memedulikan Siwon. Entah bagaimana perasaannya pada Siwon saat ini. Ia tak mau terus berada di dekat Siwon sementara ia tahu cintanya akan ditolak.

“Apa kau tidak mendengar aku memanggilmu?” Siwon akhirnya menarik paksa tangan Yoona dan membuat gadis itu berbalik dan menatapnya.

“Saat ini aku sedang tidak ingin bicara pada siapapun, Sunbae,” kata Yoona tanpa tenaga.

“Aku hanya ingin mengembalikan mobilmu,” kejengkelan Siwon agak surut melihat raut wajah Yoona yang sangat menyedihkan. Bengkak pada matanya masih sedikit terlihat, walau sudah tidak separah pagi tadi. Wajahnya sedikit pucat karena ia belum makan apapun sejak kemarin setelah mengantar Siwon ke rumah sakit.

Tangan Yoona terulur, meminta kembali kunci mobilnya. Ia langsung pergi tanpa mengatakan apapun setelah Siwon meletakkan kunci di genggamannya. Siwon tentu saja merasa sangat heran dengan perubahan tingkah Yoona. Ia lalu mengejar Yoona yang sudah berjalan beberapa langkah di depan.

“Aku menitipkan mobilmu di bengkel dekat sekolah. Aku akan mengantarmu ke sana,” kata Siwon. Dalam hati Siwon menertawai dirinya sendiri yang begitu peduli pada Yoona. Tapi bila dilihat lebih teliti, Yoona tidak begitu buruk. Ia hanya sangat cerewet dan terlalu naif.

Yoona masih diam dan Siwon menganggapnya sebagai tanda setuju atas tawarannya. Mereka berjalan beriringan ke bengkel tempat di mana mobil Yoona berada. Masing-masing sibuk berkutat pada pikirannya sendiri.

“Siwon,” panggil seseorang, membuat Siwon kembali tersadar dari lamunannya. Ternyata ia dan Yoona sudah sampai di bengkel. Leeteuk-lah yang tadi telah memanggilnya.

“Hyung, kau masih di sini?” Siwon memandang sekelillingnya. Leeteuk ternyata di sana bersama Taeyeon. Dia mengira Leeteuk pergi menjemput Taeyeon dan pergi ke rumah sakit. “Taeng, apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku pulang lebih awal, jadi aku datang kemari daripada harus menunggu Teukkie Oppa datang,” jelas Taeyeon. Dia memperhatikan orang lain yang datang bersama Siwon. “Nuguya?”

“Ah, dia Im Yoona,” jawab Siwon sedikit gugup. Sementara Yoona hanya mengangguk kecil pada Taeyeon.

“Jadi kau yang bernama Yoona? Aku Kim Taeyeon.” Taeyeon tampak sedikit terkejut mendengar Siwon menyebut nama Yoona, apalagi melihat ia dan Siwon datang bersama.

Yoona yang sebenarnya sudah tahu siapa Taeyeon mengangkat kedua alisnya, heran mengapa Taeyeon seperti mengenalnya. “Apa kau pernah mendengar namaku sebelumnya?”

Taeyeon mengangguk-angguk. “Tentu saja pernah. Aku mendengar Siwon dan Teukkie Oppa membicarakanmu.”

“Jeongmallyo?”

“Aku heran mengapa kalian bilang Yoona itu gadis aneh. Jelas-jelas dia sangat cantik,” kata Taeyeon pada Siwon dan Leeteuk.

Mendengar kata-kata Taeyeon barusan membuat Leeteuk sedikit takut kalau Yoona marah karena mereka menyebutnya aneh. “Yoona, aku tidak pernah mengatakan hal seperti itu,” elaknya.

“Jelas-jelas kau berkata seperti itu, Oppa,” Teayeon bersikeras, tidak memahami kalau Yoona bukan orang yang bisa dengan mudah memaafkan.

“Taeyeon-ah, aku tidak pernah berkata seperti itu,” Leeteuk memberi kode kepada Taeyeon dengan mengedip-ngedipkan matanya, meminta Taeyeon berhenti membahas topik itu.

“Oppa, ada apa dengan matamu?” sepertinya Teayeon tidak menangkap maksud Leeteuk.

Yoona memandang tajam pada Leeteuk. “Sunbae, benarkah kau berpikiran seperti itu?” desisnya.

Leeteuk yang tahu perangai Yoona tertawa hambar. “Aniya. Tentu saja tidak.”

Tatapan Yoona yang tajam sudah cukup menjelaskan kalau ia tidak mempercayai ucapan Leeteuk.

“Yoona, kenapa wajahmu sangat pucat?” Leeteuk mengalihkan pembicraan.

“Hyung, kau pandai mengalihkan pembicaraan,” kata Siwon yang sejak tadi hanya diam dan mendengarkan.

“Eii, siapa yang sedang mengalihkan. Wajahnya benar-benar pucat,” sangkal Leeteuk.

Diam-diam Siwon mencuri pandang ke arah Yoona. Matanya sedikit bengkak dan bibirnya terlihat pucat. Sejak tadi tingkahnya juga sudah seperti mayat hidup.

“Kami harus segera pergi,” ucap Leeteuk sebelum Yoona menyadari kalau ia memang sedang mengalihkan pembicaraan. “Siwon-ah, kau ikut bersama kami?”

Siwon sedikit bingung menanggapi pertanyaan Leeteuk. Dia ingin pergi bersama Leeteuk dan Taeyeon, tapi dia juga tidak tega meninggalkan Yoona sendirian. “Kalian pergilah. Aku akan mengantar Yoona,” kata Siwon setelah terdiam beberapa saat.

Taeyeon tersenyum penuh arti sambil menatap Siwon dan Yoona bergantian. “Geurae. Ddo mannayo. Oppa, kajja.” Taeyeon dan Leeteuk masuk ke mobil dan berlalu dari hadapan Siwon dan Yoona.

“Pasangan yang serasi,” gumam Siwon tanpa sadar sambil terus memandang mobil Leeteuk yang menjauh.

Tenggorokan Yoona tercekat. Ia melirik Siwon, melihat pemuda itu menatap kepergian dua sahabatnya dengan tatapan putus asa. Apa kau begitu menyukainya, Sunbae? pertanyaan Yoona hanya mampu bergema di hatinya saja.

Setelah mobil Leeteuk benar-benar menghilang dari pandangan, Siwon kemudian mengambil kunci mobil dari tangan Yoona dan membimbing gadis itu masuk ke mobil. “Aku akan mengantarmu pulang,” katanya sambil menyalakan mesin mobil.

“Shireo, aku tidak mau pulang,” tolak Yoona. Matanya menatap jalanan yang mereka lewati.

“Aku akan tetap mengantarmu pulang,” ucap Siwon dingin. Ia sudah cukup bersabar untuk menghadapi tingkah Yoona.

“Kalau begitu keluarlah, Sunbae. Sunbae tidak perlu mengantarku,” Yoona masih tidak mau menatap Siwon.

Siwon membuang napas kasar. Dia menepikan mobil lalu beralih pada Yoona. “Ada apa denganmu? Apa kau bertengkar dengan orang tuamu?” Melihat Yoona diam saja Siwon melanjutkan kata-katanya. “Aku tahu bagaimana kondisi keluargamu. Kau tidak perlu berpura-pura di depanku.” Sebenarnya Siwon tidak memiliki niat untuk ikut campur pada masalah Yoona. Dia hanya sedikit penasaran mengapa Yoona seperti itu. Semakin lama tampaknya Siwon justru semakin peduli pada gadis itu. Padahal Siwon selalu dibuat kesal oleh Yoona.

Kedua alis Yoona terangkat. Ia menoleh pada Siwon. “Apa yang Sunbae tahu tentang keluargaku?” katanya sinis. Rasanya memalukan mengetahui ada orang luar yang tahu kondisi keluarganya.

“Yuri-ssi sering bercerita padaku saat ia mabuk. Ia juga beberapa kali menyebutkan tentang adiknya. Aku baru tahu kalau adiknya itu kau saat kalian pergi ke bar bersama-sama.”

Yoona sedikit bimbang. Ia butuh seseorang untuk mendengarkan kesedihannya, tapi ia tidak yakin kalau Siwon mau mendengarkan. Mengetahui bahwa Yuri sering menjadikan Siwon tong sampahnya sedikit banyak membuat Yoona yakin kalau ia juga bisa mempercayai Siwon. “Aku mendengar kalau ibuku akan menceraikan ayahku,” katanya lirih.

Pandangan Siwon sepenuhnya kini terfokus pada gadis di sampingnya yang tengah menunduk. Ia mengerti apa yang menjadi kekhawatiran Yoona. Di negaranya, memiliki sebuah keluarga yang barantakan merupakan sesuatu yang buruk. Apalagi kelurga Im adalah salah satu keluarga yang cukup dikenal oleh masyarakat sebagai keluarga yang harmonis. Sudah pasti mereka akan menjadi bahan pembicaraan orang-orang di luar sana.

“Aku tidak peduli dengan omongan orang di luar sana. Aku bahkan tidak akan memikirkannya sama sekali,” lanjut Yoona yang membuat kening Siwon mengernyit.

“Lalu apa yang membuatmu sampai seperti ini?” tanya Siwon.

Yoona mengumpulkan kekuatannya. Mengingat kata-kata ibunya semalam selalu membuatnya sakit hati. “Eomma bilang dia akan pergi dengan Yuri Unnie setelah mereka bercerai. Mereka akan pergi tanpa aku.” Kalimat-kalimat selanjutnya mengalir lancar dari mulut Yoona. Ia menceritakan semua yang telah ia tahan sendiri. Tentang bagaimana orang tuanya menitipkan dia pada pamannya di New York, tentang ibunya yang tidak pernah menanyakan keadaannya, tentang hubungannya dengan Yuri yang sangat buruk, dan tentang ayahnya yang selalu sibuk dengan perusahaan.

Setiap kata yang Yoona ucapkan semakin membuat Siwon merasa bersalah pada Yoona. Gadis yang selalu ia bilang manja ternyata telah mengalami hal-hal menyedihkan di masa lalunya. Gadis yang selalu ia panggil bodoh ternyata begitu pintar menyembunyikan semua luka hatinya. “Semua akan baik-baik saja,” hiburnya.

Setetes air mata jatuh ke pipi Yoona. Gadis itu buru-buru menyekanya sebelum Siwon melihat. “Bagaimana bisa semuanya akan baik-baik saja?” Yoona tersenyum pahit.

“Ibuku juga pergi meninggalkanku,” ucap Siwon lemah. Yoona sama sekali tidak menyangka akan mendengar penuturan Siwon barusan. Ingatannya melayang kepada seseorang yang ia temui sembilan tahun yang lalu. “Dia pergi sembilan tahun yang lalu, tanpa mengucapkan apapun padaku.”

Dalam hatinya Yoona berteriak menolak kata-kata Siwon. Ia meremas liontin yang ia pakai di balik bajunya. Sekarang ia yakin kalau Choi Siwon adalah orang yang ia cari selama ini. Apa yang harus kulakukan Ahjumma? bisiknya dalam hati. Apa aku harus mengatakan semuanya sekarang? Di saat aku benar-benar merasa nyaman bersamanya?

“Dan sekarang aku baik-baik saja. Kau juga akan seperti itu,” lanjut Siwon.

Yoona menatap Siwon lekat-lekat. Mereka ternyata sama-sama bersembunyi di balik wajah dingin dan cuek yang mereka tampilkan. Yoona tahu Siwon sebenarnya sangat sedih karena ibunya pergi. Tapi Siwon tidak hanya pandai dalam semua mata pelajaran, ia juga pandai menyembunyikan kesedihannya.

“Aku akan membelikanmu cokelat, kau tunggu di sini,” kata Siwon tiba-tiba sambil melepas sabuk pengamannya.

“Wae?” Yoona tentu saja heran melihat tingkah Siwon.

“Kapan kau tearakhir kali makan? Wajahmu sudah seperti mayat,” Siwon sudah kembali bersikap seperti biasanya pada Yoona. Ia sedang berusaha menghilangkan suasana sedih yang ada di antara mereka.

“Kenapa Sunbae tidak mengajakku makan siang saja?” tawar Yoona.

“Cokelat baik untuk mengganti energi yang hilang dan mengembalikan mood,” jelas Siwon.

“Sunbae, bisakah kau membelikanku cokelat saat hari Valentine saja?”

Siwon tersenyum tipis mendengar penolakan Yoona. Gadis itu sudah tampak jauh lebih baik. Jawaban Yoona yang membuatnya tersenyum menandakan kalau suasana hati Yoona sudah jauh lebih baik. Wajah Siwon kembali serius. “Yoona, aku benar-benar minta maaf karena kejadian semalam. Dan gomawo sudah mengantarku ke rumah sakit.”

Yoona sebenarnya tidak berharap Siwon akan meminta maaf padanya mengingat sikap Siwon yang selalu dingin padanya. Meski wajahnya terlihat biasa saja, hatinya sangat gembira mendengar ucapan maaf Siwon. Otaknya dengan cepat bekerja untuk memanfaatkan kesempatan seperti ini. “Aku tidak bisa memaafkan Sunbae kecuali Sunbae mengabulkan empat permintaanku.”

Siwon tertawa tidak percaya. “Kau pikir aku seorang jin? Dan kenapa harus empat?”

“Karena aku spesial. Oppa benar-benar tidak mau melakukannya?” ancam Yoona.

“Mengapa kau tiba-tiba memanggilku oppa?” Siwon semakin curiga pada permintaan Yoona.

“Itu permintaanku yang pertama. Mulai hari ini sampai besok, aku akan memanggilmu oppa.” Lagi-lagi kelakuan Yoona telah berhasil membuat Siwon takjub.

***

 

Braakk.

Yoon Hae Ra masuk ke ruang kerja suaminya di kantor Grup A tanpa mengetuk terlebih dahulu. Im Tae San yang sedang duduk di mejanya dan mendiskusikan beberapa hal dengan Pengacara Shim tidak heran melihat kelakuan istrinya. Ia memberi kode pada Pengacara Shim untuk keluar dari ruangan itu. Im Tae San bangkit dan berjalan menghampiri istrinya di tengah ruangan.

“Ada masalah apa? Kita berada di kantor, perhatikan tingkah lakumu,” katanya pelan.

Hae Ra mendengus. Sejak tadi ia telah menahan amarahnya. “Kau memindahkan semua asetmu menjadi atas nama Yoona? Apa tujuanmu sebenarnya?” katanya tajam. Ia tidak menyangka Tae San akan menyerahkan semuanya pada Yoona. Bukankah menurut perjanjian dia akan mendapatkan lima puluh persen dari keseluruhan harta mereka?

Im Tae San menarik istrinya untuk duduk di sofa. “Kita bicarakan baik-baik.”

Setelah bertahun-tahun bersabar, Hae Ra tidak bisa lagi menahan semua kemarahannya pada suaminya. “Sebenarnya apa maksudmu? Cepat katakan padaku!”

Kemarin Im Tae San baru saja memindahkan semua asetnya menjadi atas nama Yoona, yang berarti Yoona-lah yang sekarang menjadi pemilik perusahaan. Im Tae San saat ini hanya menjadi pegawai putrinya. Berita itu seharusnya hanya ia dan Pengacara Shim yang mengetahuinya, tapi tampaknya Hae Ra tahu lebih cepat dari yang ia duga. “Ini hanya untuk mengalihkan perhatian media saja. Setelah Direktur Jang mengundurkan diri, ada banyak berita miring tentang Grup A. Kejaksaan berniat memeriksa keuangan perusahaan dan itu membuat beberapa investor mundur dan membatalkan kerjasama karena mengira kita telah berlaku kotor. Kabar penyerahan perusahaan pada keturunan kita akan menutupi berita miring itu.”

“Itu hanya alasanmu saja. Apa kata orang di luar sana jika mengetahui pemilik Grup A sekarang adalah seorang anak ingusan yang masih sekolah?” sembur Hae Ra berang. Ia tahu Im Tae San tidak mengatakan alasan yang sebenarnya. Itu hanya akal-akalannya saja untuk membuat Hae Ra tenang.

Tae San mendesah lirih. “Kalau aku memberikannya pada Yuri, mereka akan menuntut aku mundur karena Yuri sudah cukup umur dan aku sudah tidak punya kekuasaan apapun di sini. Yoona, aku adalah walinya dan aku akan mewakilinya memimpin perusahaan.”

“Kau benar-benar akan melakukannya? Kau tidak memikirkan bagaimana perasaan Yuri nantinya? Bagaimana anggapan orang-orang di luar sana bila kau justru mewariskan semua hartamu pada putri keduamu?”

“Yoona akan belajar bagaimana ia mengelola perusahaan. Lagipula sudah jelas Yuri telah menolak semua hal yang berkaitan dengan perusahaan. Hargailah keputusannya,” Tae San tak mau kalah.

“Ini bukan masalah penolakan Yuri. Kalaupun Yuri menginginkannya, aku yakin kau tetap akan memberikan semuanya pada Yoona. Apa karena Yoona mengingatkanmu pada wanita sialan itu?” teriak Hae Ra. “Bisakah kau memahami Yuri sekali ini saja? Ingatlah, Yuri juga putrimu,” pintanya putus asa.

Tae San menyandarkan tubuhnya ke sofa, pikirannya benar-benar kacau. “Aku akan tetap pada rencana semula. Aku akan membicarakan semua ini dengan Yuri.”

Yoon Hae Ra bukan orang bodoh yang percaya begitu saja perkataan suaminya. Ia tahu dengan pasti bagaimana otak licik Tae San bekerja. Im Tae San berniat menyelamatkan hartanya dan mengingkari perjanjian yang pernah mereka buat. Bagi Hae Ra, ini adalah kali kedua suaminya mengkhianati dirinya. Hae Ra sudah berada di puncak kemarahannya. Pengkhianatan Tae San padanya demi cinta pertamanya, Seo Yoon Joo, terpaksa ia abaikan karena memang Hae Ra tidak punya pilihan lain. Tapi sekarang ia tidak akan membiarkan Tae San mengkhianatinya lagi. Baiklah, kalau kau tetap bersikeras, aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku dengan caraku sendiri, kata Hae Ra dalam hati.

***

 

Siwon memijit pelipisnya. Malam sudah sangat larut dan ayahnya belum juga pulang. Pemeriksaan yang dilakukan polisi terkait kematian Tuan Jang seharusnya sudah usai berjam-jam yang lalu. Ia sengaja duduk di kursi kecil di depan rumahnya menunggu sang ayah. Setelah hampir dua jam ia duduk, barulah ayahnya pulang dengan wajah yang sangat lelah.

“Aboeji, aku sangat khawatir. Apa yanng terjadi? Aboeji baik-baik saja?” Siwon langsung memberondong ayahnya dengan berbagi pertanyaan yang sejak tadi memenuhi otaknya.

Choi Ki Ho mengangkat tangannya, mengisyaratkan Siwon untuk sedikit bersabar karena ia sangat lelah. Siwon kemudian mengikuti ayahnya masuk ke dalam rumah. Mereka duduk berhadapan di ruang tengah.

“Hari yang sangat melelahkan,” keluh Ki Ho sambil memijit-mijit kakinya.

“Aboeji ada apa? Mengapa semalam tidak pulang? Apa yang terjadi?” Siwon mengulangi pertanyaannya yang belum terjawab.

Ki Ho tersenyum melihat putranya yang begitu khawatir. “Semuanya baik-baik saja. Tuan Jang memaksa menyetir sendiri padahal ia sangat lelah. Polisi tadi memeriksa Aboeji sebagai saksi.”

Siwon belum puas mendengar jawaban ayahnya. Ia merasa ayahnya sedang menyembunyikan sesuatu darinya. “Lalu mengapa Aboeji menyuruhku tidur di rumah Leeteuk Hyung?”

“Aboeji hanya khawatir kau akan sendirian di rumah, Siwon-ah.”

Jawaban Ki Ho sangat tidak masuk akal di telinga Siwon. Ia sudah sering pulang larut malam dan tidak merasa takut sedikitpun. Sebenarnya apa yang disembunyikan ayahnya?

“Siwon-ah,” panggil Choi Ki Ho setelah terdiam beberapa saat. Kali ini suaranya sedikit bergetar, mungkin karena sudah terlalu lelah. “Menurutmu, apakah ibumu masih hidup?”

Tenggorokan Siwon tercekat. Bertahun-tahun ia dan ayahnya tidak pernah lagi membahas topik itu. Dan tiba-tiba saja ayahnya mengangkat topik itu, membuat Siwon semakin curiga kalau memang sesuatu telah terjadi. Hanya saja ayahnya tidak mau mengatakan hal itu padanya.

“Mengapa Aboeji tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanya Siwon.

“Bagaimana kalau ibumu telah benar-benar meninggalkan kita?” Ki Ho tidak menjawab pertanyaan Siwon. Ia memandang foto istrinya yang terpasang di atas meja kecil di sudut ruangan.

Hati Siwon menolak anggapan bahwa ibunya sudah meninggal. Ia sangat ingin kembali bersama lagi dengan ibunya. Tapi ia tidak mau terlalu berharap. Selama ini dia telah berharap terlalu tinggi, dan ia telah jatuh berkali-kali. Sedikitpun ia tidak mengetahui bagaimana kabar ibunya. Sang ibu seperti lenyap ditelan bumi. “Selama ini kita baik-baik saja. Mungkin kita juga akan baik-baik saja nantinya, Aboeji,” jawab Siwon diplomatis.

Choi Ki Ho mengangguk paham. Ia kemudian larut dalam pikirannya sendiri. Ki Ho tengah dihadapkan pada sebuah pilihan. Mengorbankan seseorang yang sangat ia kasihi demi orang banyak, atau bersikap egois demi kebahagiaan yang telah lama hilang dari hidupnya.

***

 

“Siwon Oppa, apa yang sedang kau baca?” tanya Yoona untuk yang kesekian kalinya. Ia dan Siwon sedang berada di perpustakaan sekolah. Ini adalah permintaan kedua Yoona. Ia dan Siwon akan berkencan dan melakukan banyak hal bersama-sama sepanjang hari.

Dengan malas Siwon mengangkat buku yang sedang dibacanya agar Yoona bisa membaca judul yang tertulis di sampulnya. Ia sudah menduga Yoona akan meminta hal-hal konyol seperti ini. Sayangnya ia telah berjanji kemarin akan menuruti semua permintaan Yoona.

Yoona mengangguk-angguk paham. “Oppa ternyata menyukai buku-buku ilmiah seperti ini.” Meski sama-sama berada di perpustakaan, Yoona sama sekali tidak membaca buku. Sejak tadi ia hanya memperhatikan Siwon yang sibuk membaca. “Oppa,” panggilnya.

“Mm?”

“Siwon Oppa.”

“Wae?” Siwon masih setia memandang bukunya.

“Siwon Oppa,” ulang Yoona.

Lama-lama Siwon gerah juga mendengar Yoona memanggilnya berulang-ulang. Ia menutup bukunya dengan kasar dan menatap Yoona tajam. “Ada apa?”

Yoona mengendikkan bahunya. “Eobseo. Aku hanya ingin memanggilmu saja. Rasanya sangat menyenangkan memanggilmu Oppa.”

Dalam hati Siwon terkekeh geli mendengar penuturan Yoona yang begitu polos dan jujur. Tapi apa semua yang telah Yoona ungkapkan padanya benar-benar tulus dari dalam hati gadis itu? Siwon tidak mau begitu saja mempercayai ucapan Yoona karena ia telah mengetahui kehebatan Yoona dalam bersandiwara selama ini. “Apalagi yang ingin kau lakukan?”

“Apa Oppa sudah tidak sabar lagi untuk melakukan hal lain bersama denganku?” tanya Yoona senang. Senyumnya terlihat begitu kontras dengan hari kemarin.

“Anak ini,” umpat Siwon. “Aku bosan berada di sini karena kau terus-terusan memandangku. Kau bilang ingin belajar bersama, tapi apa yang kau lakukan?”

Yoona hanya nyengir kuda. “Oppa harus menuruti semua kata-kataku hari ini. Kajja.” Gadis itu lalu bangkit dan menarik Siwon pergi dari tempat itu. Beberapa pasang mata menatap heran pada keduanya. Sejak kapan Im Yoona dan Choi Siwon menjadi sedekat itu?

 

Yoona membawa Siwon pergi ke sebuah game center di kawasan Myeongdong. Ia memilih permainan baseball yang terdapat di game center itu. Sebuah mesin akan melontarkan bola ke arah pemain dan pemain harus memukulnya dengan sebuah tongkat yang sudah disediakan. Setelah memasukkan beberapa koin ke mesin yang tersedia, Yoona meletakkan tasnya dan mengambil tongkat pemukul.

“Kau bisa bermain baseball?” tanya Siwon. Dia selalu merasa heran melihat tingkah Yoona. Baseball sama sekali tidak cocok dengan gadis seperti Yoona. Sebenarnya apa yang ada di otak gadis itu?

Yoona tertawa mendengar pertanyaan Siwon. “Tentu saja tidak. Tujuanku membawa Oppa kemari adalah untuk mengajariku bermain baseball.”

Selain basket, Siwon juga menyukai baseball. Meskipun kesal karena Yoona bertindak sesuka hatinya, Siwon juga tidak bisa mengelak kalau ia menyukai ide bermain baseball. Keinginannya bermain tampaknya lebih besar dibanding keinginannya memarahi Yoona yang selalu seenaknya. Siwon meletakkan tasnya di dekat milik Yoona, lalu mengambil tongkat pemukul dari tangan Yoona. Dia langsung masuk ke area permainan yang berbentuk kotak yang tertutup jaring di sekelilingnya, kemudian memposisikan diri menunggu mesin pelontar melemparkan bola padanya. Mesin pelontar melakukan pekerjaannya, melempar satu per satu bola pada Siwon sementara Yoona menunggu dengan kesal di luar jaring. Kedua pipinya menggembung seperti balon menyaksikan Siwon yang asyik memukul. Siwon terlihat sangat menikmati permainan itu.

“Oppa,” panggilnya kesal, membuat Siwon berhenti dari keasyikannya.

“Wae?”

Yoona ikut masuk ke arena permainan. “Mengapa Oppa malah asyik bermain sendiri?” rajuknya.

Siwon mengalah. Ia menyerahkan tongkat pemukul ke tangan Yoona. “Pukul yang benar.” Siwon berjalan hendak keluar dari arena, tapi buru-buru dicegat Yoona.

“Bukankah sudah kubilang Oppa harus mengajariku?” Yoona berdiri membelakangi Siwon dengan memegang tongkat pemukulnya.

Siwon menurut. Tidak adil rasanya hanya ia yang bersenang-senang dan membiarkan Yoona kesal sementara tujuannya adalah meminta maaf pada Yoona. “Buka kedua kaki selebar bahu dan tekuk lututmu. Pusatkan pandangan pada bola. Badanmu harus condong ke depan. Pegangan agak ke belakang, siku bengkok, sedikit di bawah bahu,” Siwon membantu Yoona memposisikan diri.

Yoona mengikuti instruksi Siwon. Sesekali Siwon membenarkan gerakan Yoona yang salah.

“Bersiaplah, bolanya datang,” kata Siwon memperingatkan.

Pandangan Yoona sudah terfokus pada bola, tapi raganya belum siap. Konsentrasinya buyar saat bola meluncur padanya. Otak dan tubuhnya seperti tidak mau bekerja sama. Bukannya memukul, Yoona justru menghindar ke belakang, membuatnya menginjak kaki Siwon.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Pukul bolanya!” Siwon sedikit meringis karena injakan Yoona ternyata cukup keras.

“Mianhe,” sesal Yoona. “Aku takut, bolanya sangat kencang.”

“Bersiaplah kembali. Aku akan membantumu.” Siwon membantu Yoona memegang tongkat pemukul. Posisi Siwon seperti sedang memeluk Yoona dari belakang. Berada di jarak yang sangat dekat dengan Siwon membuat jantung Yoona berdebar. Dia sedikit melirik ke arah Siwon yang tampak sangat serius menanti bola.

Meski Siwon juga merasa ada yang aneh saat berdekatan dengan Yoona, ia selalu bersikap biasa saja. “Bolanya datang. Hana.. Dul.. Set…,” pada hitungan ketiga mereka bersama-sama mengayunkan tongkat dan… berhasil! Bola melambung jauh setelah bertabrakan dengan tongkat pemukul.

“Yess!” Yoona bersorak gembira dan mengajak Siwon ber-high five. Awalnya Siwon ingin menolak, tapi melihat kegembiraan di wajah Yoona ia pun menyambutnya. “Aku memang hebat.”

Siwon tertawa mendengar Yoona memuji dirinya sendiri. Padahal yang baru saja memukul sudah pasti adalah Siwon. Yoona hanya berakting memegang tongkat saja. Siwon membiarkan Yoona terus menyombongkan diri, tidak berniat merusak kebahagiaan kecil gadis itu.

“Oppa, kita pergi saja. Aku lelah,” pinta Yoona manja. Mereka meninggalkan arena permainan baseball dan pergi berjalan-jalan di sekitar Myeongdong. Hari sudah mulai malam. Sepanjang perjalanan Yoona terus memegang tangan Siwon, tidak memedulikan protesnya. Yoona bersikeras kalau itu adalah bagian dari permintaannya yang harus Siwon kabulkan.

“Oppa, belikan aku sesuatu,” kata Yoona saat mereka berada di depan sebuah toko aksesoris.

“Apa yang kau inginkan?” sepertinya kini Siwon sudah lelah mengajukan protes yang selalu diacuhkan Yoona.

“Oppa harus memilihkannya untukku,” kata Yoona memamerkan senyum terbaiknya.

Sepuluh menit berikutnya Siwon sibuk memilih benda yang akan ia belikan untuk Yoona. Dia beralih dari satu rak ke rak yang lain. Mulai dari rak yang penuh dengan cincin pasangan, gelang, kalung, gantungan kunci, boneka, dan alat tulis yang bentuknya sangat aneh di mata Siwon. Ia benar-benar bingung. Ini adalah pertama kalinya Siwon memberi hadiah untuk seorang gadis.

Siwon ingin hadiahnya bisa menebus semua sikap buruknya pada Yoona. Keinginannya untuk membuat tawa Yoona terus melekat di wajahnya timbul dengan sendirinya. Yoona tiba-tiba muncul di hidupnya, membuatnya marah dengan sikapnya, membuatnya takjub dengan ide-ide konyolnya, membuatnya diam-diam tersenyum dengan tingkah polosnya, dan membuatnya khawatir dengan tindakan cerobohnya. Dan semua itu benar-benar membuat Siwon bingung pada apa yang dirasakannya.

Yoona menunggu dengan sabar di luar. Ia sengaja tidak ikut memilih. Wajahnya langsung berseri-seri saat akhirnya Siwon keluar dengan membawa sebuah plastik kecil.

“Apa yang Oppa beli?” Yoona merebut kantong plastik itu dari Siwon. Dia hanya menatap Siwon dengan tatapan penuh tanya saat mengetahui benda seperti apa yang Siwon beli.

“Tidak suka?” tanya Siwon saat melihat perubahan ekspresi Yoona.

“Karet penghapus?” Yoona balas bertanya dengan tatapan heran. Siwon telah  memberinya sebuah karet penghapus berbentuk rillakuma.

Raut wajah Siwon berubah serius. Matanya lurus menatap mata Yoona. “Hapuslah semua kenangan buruk yang pernah kau alami. Lalu hiduplah dengan bahagia,” kata Siwon. Dia tidak memiliki kalimat penghiburan untuk Yoona. Siwon juga tidak punya solusi untuk menyelesaikan semua masalah Yoona. Siwon hanya mengharapkan Yoona bisa hidup bahagia apapun yang terjadi padanya.

Hadiah yang Siwon berikan memang tidak seberapa. Tapi pesan yang ia sampaikan mampu membuat Yoona berkaca-kaca. Siwon memang tidak memberikan pujian atau rayuan padanya. Hanya sebuah nasihat tentang cara hidup. Namun itu justru menunjukkan kalau Siwon benar-benar peduli padanya.

“Oppa, gomawo. Ini hadiah termanis yang pernah kudapat,” Yoona menahan air matanya.

Siwon berdecak, “Kau ini cengeng sekali.”

“Semua ini karena Oppa,” gumam Yoona. Untuk sesaat mereka sama-sama terdiam, sedikit canggung dengan keadaan seperti ini. “Ah, aku juga ingin memberikan Oppa hadiah,” kata Yoona yang membuat alis Siwon terangkat.

“Mwo?”

“Pejamkan matamu, Oppa,” perintah Yoona.

Siwon sepertinya sudah paham gerak-gerik Yoona. Selalu saja gadis itu melakukan hal-hal yang tidak normal. “Shireo,” tolaknya.

Yoona mendelik marah. “Hari ini Oppa tidak boleh mengatakan tidak.”

“Apa kau akan menciumku?” tebak Siwon seperti membaca pikiran Yoona.

“Bagaimana Oppa tahu?” tanyanya malu. “Ini akan menjadi ciuman pertamaku. Dan aku ingin melakukannya dengan Siwon Oppa,” Yoona tertunduk malu.

Siwon menatap Yoona yang masih tertunduk. Sepanjang hari ini, tanpa sadar ia telah dibuat tertawa karena tingkah gadis itu. Meski selalu merasa keberatan dengan permintaan Yoona yang macam-macam, toh akhirnya Siwon melakukannya. Bahkan sedikit demi sedikit ia menikmatinya. Mulai dari permainan baseball, makan kue beras di pinggir jalan, dan banyak hal kecil lain yang membuatnya sedikit melupakan kekhawatirannya pada ayahnya. Di matanya, tiba-tiba saja Yoona menjadi gadis yang sangat cantik dan menggoda. Siwon merasa sangat nyaman bersama dengan gadis itu. Telinganya sudah mulai terbiasa mendengar rengekan manja Yoona, tangannya akan menyambut setiap genggaman Yoona, dan bibirnya akan tersenyum melihat semua kelakuan konyol Yoona. Apa mungkin karena hari ini aku terus-terusan bersamanya? pikir Siwon. “Mengapa? Mengapa ciuman pertamamu harus denganku?”

Yoona mengangkat kepalanya, menatap langsung ke mata Siwon. “Karena Oppa adalah orang yang spesial,” jawabnya manis.

“Kau tidak akan menyesal?” Siwon meyakinkan Yoona.

“Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin aku menyesal kalau…,” Yoona tidak sempat menyelesaikan kata-katanya karena bibirnya telah terkunci bibir Siwon. Entah dari mana keberanian itu datang. Dalam sekejap Siwon telah menangkup wajah Yoona dan menciumnya. Mata Yoona terbelalak, tidak percaya dengan apa yang sedang dialaminya. Siwon sedikit melumat bibir Yoona, membuat Yoona terbuai dan ikut memejamkan matanya. Setelah beberapa saat, Siwon melepas ciumannya. Wajah Siwon dan Yoona masih berdekatan, kedua ujung hidung mereka sesekali bersentuhan.

“…kalau aku melakukannya dengan orang yang kusukai,” Yoona menyelesaikan kalimatnya yang sempat terpotong karena ciuman Siwon.

Siwon tidak mengatakan apapun. Ia hanya terus menatap wajah Yoona yang bersemu merah. Perutnya bergejolak mendengar pernyataan Yoona, seperti ketika ia sedang menaiki jet coaster. Ada ketegangan dan ketakutan, namun lebih banyak kegembiraan. Sebuah dorongan muncul dari dalam dirinya untuk kembali mencium Yoona. Dan Siwon menuruti kata hatinya. Bibirnya kembali mengunci bibir Yoona.

Perlahan Yoona membalas ciuman Siwon. Tangannya naik meraih tengkuk Siwon dan memeluknya, seakan takut kalau Siwon akan pergi meninggalkannya. Kedua tangan Siwon memeluk mesra pinggang ramping Yoona. Entah ciuman ini hanya karena sebuah permintaan konyol dari seorang gadis naif atau karena ia memang sudah jatuh cinta pada Yoona, Siwon tidak lagi memikirkannya. Saat ini ia hanya ingin menikmati ciuman itu. Mereka terhanyut dalam dunia yang mereka ciptakan, mengabaikan tatapan aneh orang-orang yang lewat dan mencibir, mengabaikan semua kesedihan yang mereka rasa, serta mengabaikan semua pertengkaran yang pernah terjadi di antara mereka. Seperti hanya ada mereka berdua di dunia ini.

 

-TBC-

 

Sebenernya saya menyelesaikan part ini setelah baca berita Yoona-LSG, jadi ya agak2 nggak mood gimana gitu. So, harap maklum ya kalo feelnya kurang. Geje ya? Ngebosenin? Bikin ngantuk atau gimana? Semoga ngga kecewa sama ff ini yaa. terakhir, buat admin echa/resty saya mau ucapin makasih lagi ni udah publish ff saya. :* Jangan Lupa RCL yaaa… ^_^

Tinggalkan komentar

289 Komentar

  1. Dahlia GaemGyu

     /  Juli 17, 2014

    omona, YoonWon so sweet bgt, semoga YoonWon cpt bersatu deh

    Balas
  2. andrawiena

     /  Juli 19, 2014

    kasian banget yoona ga ada yg peduli ama dia
    seneng banget ada momen yoonwonnya

    Balas
  3. choi dong gun namjaelf

     /  Juli 19, 2014

    seru momen yoonwon y tpi masalah d kelurga mereka jg bru d mulai

    Balas
  4. Ra_YoonAddict

     /  Juli 25, 2014

    Aaaaa.. YoonWon kisseu. Romantis banget dipart ini YoonWonnya. Im Taesan kok jahat gitu sih.

    Balas
  5. Mia

     /  Agustus 1, 2014

    Cinta tlah bersemi

    Balas
  6. Choi Han Ki

     /  Oktober 14, 2014

    Ouw ouw yoonwon begitu sweet… Semoga siwon bisa terus membuat yoona tersenyum kasihan kan selama ini hanya kesedihan dan kesepian yg yoona rasakan

    Balas
  7. Ah akhir nya bsa lhat moment yw nya d sni bnyak lgi jdi snyum2 sndiri lhat klakuan yoona skaligus sdih!!klw bca yg agak mnyntuh mf chingu aku ikutan cengeng kaya yoona!!

    Balas
  8. Senengnya liat moment Yoonwon, sweett uhh..
    Dapet banget feelnya🙂 .
    Fighting!

    Balas
  9. Hem ak ga nyangka wonpa tadi suka sma taeng eoni . Tp kesini2 udh muali keracunan sigadist naif hehehe … Suka sma yoonwon disini malu2 kucing kekek :p :﹑

    Balas
  10. Kya… So sweet bgt ne hubungan YW udh mulai ada kemajuan ni, apalagi wonppa sudah mulai terbiasa dgn kehadiran Yoona di sisinya. Bahagia bgt melihat mereka andai saja itu menjadi kenyataan, hehehe………

    Balas
  11. Sweet kisses uhmmm… Oiya thor kpn nih taeyeon leeteuk jadian??

    Balas
  12. Nhiina

     /  Januari 26, 2015

    kyaa ! yoonwon kissing moment . .
    aigoo, so sweet . . gak mau ganggu ahh . .
    lebih baik lanjut sajaa …

    Balas
  13. Novi

     /  Februari 9, 2015

    Yee…
    Akhirnya siwon luluh sama yoona…
    Lanjut thor…..

    Balas
  14. Cha'chaicha

     /  Februari 9, 2015

    mulai banyak yoonwon moment, cie wonppa udh mulai jatuh cinta..

    Balas
  15. Hulda Nited

     /  April 26, 2015

    Bagian akhirnya…so sweet banget..

    Balas
  16. raratya19

     /  Oktober 18, 2015

    hidup yoona bnr2 miris di sini, semoga siwon selalu ada di samping yoona

    Balas
  17. YoongNna

     /  Februari 22, 2016

    KyaAaaa siwon mencium yoona kynya mereka berdua udh saling tertrik tnpa mreka sadari seneng lihatnya…
    Tkut jg niii ibunya yuri bkalan berbuat jhat pada yoona..

    Balas
  18. vitrieeyoong

     /  Maret 7, 2016

    Aku suka sma karakter YoonWon. YoonA frontal, ceroboh, PD, seenaknya, tapi sbnrnya polos.
    Siwon dingin, cuek, tpi sbnrnya pngertian dan perhatian.
    YoonA kkrangan ksih syang jdi kya gtu.
    Akhirnya Seo jdi tmnnya.
    Next!!!

    Balas
  19. nadila sari pramahesti

     /  Juli 10, 2016

    yeayyy siwon udh mulai lunak sama yoona ^^
    Omo!! yoonwoon kisseu hmmm sweet bgtt sih siwon. hubungan mereka mulai membaik yeayyy

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: