[FF] The Princess’ Love (Chapter 3)

1011557_213562292162098_1964774670_n

Author             : Indah (bianglalala27@gmail.com)

Type                : Chapter

Main Cast        : Choi Siwon, Im Yoona

Support Cast   : Leeteuk, Kim Taeyeon, Kwon Yuri, Kim Jong Woon, Seo Jo Hyun, Lee Donghae, etc

Genre              : School Life, Romance, Friendship

Rating             : 13+

 

PART 3

9 years ago

Yoona berbaring bosan di sebuah kamar rumah sakit di kota Seoul. Sudah satu minggu ia dirawat karena sakit. Kata dokternya dia baru boleh pulang dua atau tiga hari lagi. Yoona kecil yang biasanya selalu berlari kesana kemari merasa sangat tersiksa harus terus berbaring di tempat tidur. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitarnya, Yoona berjingkat keluar dari kamarnya, masih memakai piama rumah sakit. Ia berjalan menggeret tiang penyangga infusnya ke taman rumah sakit, berharap mendapat udara yang lebih segar dibanding di ruang rawatnya. Yoona duduk di sebuah bangku panjang yang kosong, menikmati matahari pagi yang bersinar sangat cerah.

“Kapan aku bisa bermain lagi?” Yoona merentangkan kedua tangannya, melemaskan otot-ototnya yang kaku akibat terlalu lama berbaring.

“Mengapa kau di sini anak manis? Bukankah kau sedang sakit?” seorang wanita paruh baya yang sangat cantik duduk di samping Yoona. Tampaknya ia juga pasien di rumah sakit itu karena mengenakan piama dengan model yang sama seperti yang dikenakan Yoona. Wanita itu juga membawa serta infusnya seperti Yoona.

“Aku sangat bosan berada di kamar seharian, Ahjumma. Mereka tidak mengizinkanku melakukan apapun selain tidur,” Yoona mengadu pada wanita itu. Saat berbicara mulutnya merengut lucu dan sangat menggemaskan.

Ahjumma itu tertawa melihat Yoona kecil yang sangat imut. Dia teringat pada anaknya yang mungkin satu atau dua tahun lebih tua dari Yoona. “Kau harus beristirahat dulu agar sembuh dan bisa bermain seperti biasanya,” Ahjumma itu menasehati Yoona.

“Tapi aku bosan,” elak Yoona keras kepala. “Mereka selalu meninggalkan aku sendirian, menyuruh minum obat yang rasanya pahit, dan menyuntikku di mana-mana. Aku tidak suka. Lagipula sekarang aku sudah sehat. Sebentar lagi aku akan pulang. Ah, apa Ajhumma juga sedang sakit? Mengapa Ahjumma berada di sini? Bukankah seharusnya Ahjumma beristirahat?” Yoona terus berbicara tanpa menghiraukan jawaban dari wanita di sampingnya itu. Dia sangat senang karena mendapat teman untuk mengobrol.

“Pelan-pelan kalau bicara, anak manis,” kata wanita itu lembut. Sosoknya yang keibuan membuat Yoona langsung menyukainya. “Ahjuma harus menghirup udara yang segar seperti di sini, makanya Ahjumma kemari. Ah, siapa namamu, chagi?”

Senyum Yoona mengembang mendengar wanita itu memanggilnya ‘chagi’ dengan penuh kasih sayang. Seumur hidupnya, Yoona tidak pernah mendapat perlakuan selembut itu dari ibunya. “Namaku Yoona, Im Yoona.”

Ahjumma itu membelai rambut Yoona dengan sayang. Ia teringat pada anak laki-lakinya yang ia tinggalkan. Tapi melihat wajah Yoona kecil yang penuh dengan tawa sedikit mengobati rasa rindu pada putranya. “Yoona, Ahjumma juga punya seorang anak. Dia sangat tampan dan baik hati. Mungkin dia sedikit lebih tua darimu.”

“Jinja? Di mana dia? Bolehkah aku bermain dengannya?” tanya Yoona tidak sabar.

Lagi-lagi Ahjumma itu tertawa melihat tingkah menggemaskan Yoona. “Dia sedang di belajar di rumah. Kau harus segera sembuh agar bisa bermain dengannya.”

Yoona mengangguk-angguk semangat. “Aku janji akan segera sembuh, Ahjumma. Tapi aku tidak pernah punya teman. Apa dia mau berteman denganku?” Wajah Yoona berubah lesu.

Mendengar pengakuan Yoona yang begitu polos Ahjumma itu menjadi kasihan. Yoona sebenarnya adalah gadis kecil yang ceria dan menggemaskan. Hanya saja ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari keluarganya. “Tentu saja dia akan menjadi temanmu, Yoona sayang. Kalian akan melakukan banyak hal bersama-sama, eoh?”

“Jinja?” Yoona kembali bersemangat mendengarnya.

Ahjumma itu mengangguk haru, melihat Yoona yang terlihat sangat bahagia hanya dengan hal kecil seperti itu. “Ahjumma membawa fotonya, kau mau melihatnya?”

Leher Yoona seperti tidak merasakan lelah pagi itu karena ia terus saja mengangguk-angguk penuh semangat. Tawanya tidak pernah lepas menghiasi wajahnya. Ahjumma itu mengambil liontin perak yang dipakainya dan membuka liontin itu.

“Ini adalah hadiah ulang tahun yang diberikan putraku padaku,” Ahjumma itu memberitahu Yoona.

“Aku juga ingin hadiah seperti itu,” kata Yoona iri yang disambut oleh tawa Ahjumma.

Ahjumma itu akhirnya membuka liontin yang ia kenakan, menunjukkan pada Yoona dua buah foto yang terpasang di dalamnya. Di satu sisi terdapat foto Ahjumma cantik itu yang sedang tersenyum, sedangkan di sisi lain terpasang sebuah foto anak laki-laki berusia sepuluh tahun.

“Ini putraku,” kata Ajhumma itu.

“Siapa namanya, Ahjumma?”

“Namanya Siwon.”

***

Present time

“Apa tadi Yoona datang kemari?” tanya Leeteuk pada Siwon sesaat setelah Yoona pergi. Bar itu memang dikelola oleh Leeteuk, sebagai ajang uji coba bisnisnya. Keluarga Leeteuk memiliki jaringan kafe dan bar berkelas yang tersebar di seluruh Korea. Ayahnya menyuruh Leeteuk mencoba mengelola salah satu kafe, namun ditolaknya. Leeteuk lebih memilih bar sebagai kelinci percobaannya. “Aku melihatnya pergi bersama Yuri Noona.”

“Siapa Yoona?” sela Taeyeon yang tiba-tiba saja sudah ada di antara mereka.

“Yoona adalah gadis aneh yang tergila-gila pada Choi Siwon,” bisik Leeteuk, tapi tetap saja Siwon bisa mendengarnya.

Mata Taeyeon membulat. “Jinjayo? Jadi dia kemari untuk bertemu denganmu?” Taeyeon mengalihkan tatapannya pada Siwon. “Tapi seberapa aneh dia? Apa kau juga menyukainya?”

Siwon mendesah malas. “Bicara apa kalian? Dia memang datang, tapi bukan untuk menemuiku.”

Leeteuk tertawa melihat ekspresi Siwon. “Jangan marah. Apa kau kecewa karena dia tidak datang untuk menemuimu?”

“Sudah seberapa jauh hubungan kalian? Mengapa kau tidak bercerita padaku? Apa dia cantik?” Taeyeon langsung memberondong Siwon dengan pertanyaan yang terlintas di kepalanya. Dia merasa kesal pada Siwon karena tidak menceritakan tentang Yoona padanya. Padahal ia selalu bercerita setiap detail hidupnya pada Siwon.

“Diamlah, kalian berdua! Mengganggu saja,” kata Siwon marah, yang justru membuat Leeteuk dan Taeyeon semakin senang.

“Lalu bagaimana Yoona bisa kemari?” Leeteuk masih penasaran.

Siwon mendelik kesal. “Dia datang bersama kakaknya, Yuri-ssi. Kau puas?”

Leeteuk terkikik senang karena berhasil meledek Siwon. “Ah, jadi mereka berdua kakak adik. Baguslah, kau mungkin akan mendapat restu dari Yuri dengan mudah.”

Siwon mengambil sebuah gelas dan pura-pura akan melemparnya pada Leeteuk.

“Taeyeon-ah, ayo kita pergi. Hari ini Siwon sangat sensitif,” Leeteuk buru-buru menarik tangan Taeyeon menjauh dari Siwon sebelum anak itu benar-benar melemparnya. Taeyeon menurut. Ia tidak pernah bisa menolak ajakan Leeteuk. Selain Siwon, Leeteuk adalah satu-satunya laki-laki yang dekat dengannya. Sikap Leeteuk selalu menyenangkan dan hangat. Meski berasal dari keluarga kaya, Leeteuk tidak ragu makan bersama Siwon dan Taeyeon di kedai pinggir jalan. Dan hal itu membuat Taeyeon sangat mengagumi Leeteuk.

Dengan mata membara Siwon memandang tangan Taeyeon yang digandeng Leeteuk. Sebisa mungkin ia menahan hasratnya untuk menarik tangan Taeyeon dari genggaman Leeteuk. Sayangnya ia tidak bisa melakukannya. Taeyeon bukan pacarnya, bukan pula keluarganya. Dan ia tidak punya hak apapun atas diri Taeyeon. Siwon hanya bisa berdiam diri, merutuki sifat pengecutnya yang tidak berani mengungkapkan apa yang dia rasakan.

Aku harus mengatakan padanya, tekad Siwon. Apapun yang akan terjadi, aku tidak peduli. Aku akan mengatakan pada Taeyeon kalau aku mencintainya.

***

Dengan susah payah Yoona memapah Yuri menuju kamarnya. Dalam hati Yoona berdoa agar tidak berpapasan dengan kedua orang tua mereka. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan menimpa mereka bila bertemu dengan ayah atau ibunya dalam keadaan seperti itu.

“Wuah, lelahnya,” Yoona menghempaskan diri ke salah satu sofa di kamar Yuri setelah menaikkan Yuri ke tempat tidur. Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka, membuat Yoona refleks berdiri dari duduknya. Hal yang ditakutkannya terjadi. Ibunya melihat mereka pulang dan mengikuti ke dalam kamar.

Tanpa dipersilakan Yoon Hae Ra masuk dan memeriksa keadaan Yuri. Ia tidak menghiraukan Yoona yang sejak tadi berdiri tidak tenang. Setelah merasa Yuri hanya mabuk dan akan baik-baik saja, barulah Hae Ra berbicara pada Yoona. “Apa yang terjadi padanya? Aku melihat kalian masuk bersama.”

Yoona bingung memikirkan jawaban atas pertanyaan ibunya yang langsung pada sasaran. Jawaban jujur sudah pasti akan membuat Yuri mendapat masalah. Meski Yuri sudah cukup besar untuk mengkonsumsi alkohol, tapi mabuk-mabukan tetap menjadi hal yang tabu bagi keluarga terpandang seperti mereka. Apalagi jika orang tua mereka tahu kalau Yuri sudah sering seperti itu. “Tadi kami makan di luar, lalu Unnie bertemu dengan temannya. Teman Unnie mengajak minum wine yang ada di tempat itu. Kami tidak bisa menolaknya, jadi kami menerima ajakannya. Yuri Unnie hanya minum dua gelas dan ia langsung mabuk,” karang Yoona. Sedikit heran dengan kemampuan mengarangnya yang seringkali datang di saat terjepit.

Hae Ra sebenarnya tidak percaya. Dia tidak mencium aroma wine dari napas Yuri. Tapi ia tidak bisa menyalahkan Yoona karena justru anak itu yang mungkin telah menolong Yuri. “Aku tahu kau berbohong. Jangan sampai ayahmu tahu hal ini. Pergilah, ambilkan air untuk Yuri,” perintahnya.

“Eomma tidak menanyakan keadaanku?” tanya Yoona kecewa. Menurutnya seorang ibu harus merasa khawatir bila putrinya yang berumur tujuh belas tahun pergi ke tempat penuh dengan alkohol.

Hae Ra berusaha sabar menghadapi Yoona. Sebenarnya ia sangat membenci anak itu. Hae Ra jugalah yang mencetuskan ide agar Yoona tinggal di New York bersama pamannya. “Berhenti bersikap manja seperti itu. Kau sudah cukup besar untuk bisa membedakan mana yang benar dan salah.” Setiap perkataan yang keluar dari mulut Hae Ra tidak pernah seperti seorang ibu di telinga Yoona. Tapi Hae Ra tidak peduli. Yoona memang bukan anaknya. Sudah cukup menderita baginya melihat Yoona setiap hari. Apalagi ditambah jika ia harus bersikap manis padanya.

Yoona menunduk kecewa. Sempat terlintas di benaknya untuk kembali ke New York dan hidup bersama dengan pamannya, tapi urung dilakukannya. Masih ada hutang pada seseorang yang belum ia bayar. Ditambah dengan kondisi Yuri yang tampaknya mengkhawatirkan. Dia harus bertahan di sini. Apapun yang terjadi, kau pasti bisa menghadapinya, Yoona menyemangati dirinya sendiri.

***

Siwon sibuk mengumpulkan foto-foto lamanya bersama Taeyeon di ruang tengah rumahnya. Dia berniat memberikan sebuah album yang berisi foto-foto mereka dan mengungkapkan perasaannya pada Taeyeon. Televisi ia biarkan menyala, agar rumah tidak terlalu sepi. Kegiatannya terhenti karena heran melihat ayahnya yang sibuk bersiap pergi di hari Minggu seperti ini.

“Aboeji, mengapa berpakaian rapi seperti itu? Ini hari minggu,” kata Siwon heran. Biasanya ayahnya, Choi Ki Ho, akan bermalas-malasan seharian sebagai balas dendam karena telah berhari-hari bekerja.

Choi Ki Ho juga menghentikan kegiatannya. Ia duduk di samping Siwon dan sedikit mengamati apa yang sedang Siwon lakukan. “Jadi kau menyukainya?” ledeknya, membuat Siwon gugup.

“Ini tidak seperti yang Aboeji pikirkan. Aku hanya sedang membereskan foto-foto saja, agar terlihat lebih rapi,” Siwon mencari-cari alasan. Dia terlalu malu mengakui perasaannya pada ayahnya sendiri. “Ah, Aboeji belum menjawab pertanyaanku.”

Ayah Siwon bekerja sebagai seorang supir pribadi salah seorang pengusaha. Biasanya ia mendapat libur di hari Minggu. Tapi tampaknya tuannya sedang sangat membutuhkannya saat ini. “Kau tahu, sejak Tuan Jang berhenti dari Grup A, dia sibuk kesana-kemari bertemu dengan orang-orang. Jadi Aboeji juga harus mengantarnya, bahkan di hari Minggu. Kemarin saja kami pergi ke Busan.”

Siwon sedikit heran mendengarnya. Ia kenal dengan Tuan Jang yang menjadi majikan ayahnya. “Tapi kenapa Tuan Jang berhenti dari Grup A? Bukankah posisinya sudah sangat bagus di sana?”

“Aboeji juga tidak tahu alasannya,” Choi Ki Ho beranjak dari duduknya, kembali bersiap-siap. Televisi tengah menayangkan berita tentang dunia bisnis. Mereka sedang menayangkan berita dari Grup A yang siap memperbesar jaringannya dengan membuka sebuah anak perusahaan di Jepang dan beberapa negara Asia lain. “Im Tae San, kau benar-benar melakukannya dengan sangat baik,” gumam Choi Ki Ho saat melihat berita itu.

Mendengar gumaman ayahnya membuat kening Siwon sedikit berkerut. Dari cara ayahnya berbicara ia seperti mengenal Im Tae San dengan baik. Padahal Im Tae San adalah seorang chaebol Korea sedangkan ayahnya hanya seorang supir. “Apa Aboeji mengenal Im Tae San?” tanya Siwon heran.

Choi Ki Ho hanya menghela napas, tidak menjawab pertanyaan Siwon yang baginya tidak penting. “Aboeji akan kembali malam nanti. Kau sebaiknya siapkan makan malam untuk Aboeji.”

Meski masih sedikit heran dengan sikap ayahnya, Siwon berusaha tidak memikirkannya. “Aku akan buatkan makanan kesukaan Aboeji. Berhati-hatilah, Aboeji.” Siwon kembali meneruskan pekerjaannya setelah ditinggal sang ayah. Pembicaraan mereka biasanya hanya seputar sekolah Siwon dan pekerjaan Choi Ki Ho. Mereka tidak pernah lagi membicarakan wanita yang sangat mereka sayangi, ibu Siwon. Siwon tahu ayahnya juga sama sedihnya seperti dia. Tetapi anak itu tidak ingin membuat penderitaan ayahnya bertambah dengan memasang kesedihannya di hadapan sang ayah. Kehilangan cinta dan melihat orang yang disayangi selalu bersedih sudah pasti akan membuat hidup seseorang seperti di neraka.

***

“Ya! Seo Jo Hyun, cepat beritahu aku!” Yoona berteriak pada ponselnya. Ia berjalan mondar-mandir di kamarnya. Beberapa saat lalu ia menelepon Jo Hyun untuk menanyakan alamat Siwon. Entah bagaimana belakangan ini mereka menjadi lumayan dekat.

Di seberang, Jo Hyun menjauhkan ponselnya, melindungi gendang telinganya dari teriakan Yoona. Yoona telah menyuruhnya secara paksa untuk mencari alamat Siwon lewat data di sekolah. “Bisakah kau memintanya dengan sopan santun yang telah diajarkan keluarga Im?” Jo Hyun belum mau memberikan informasi yang telah didapatnya. Dia pikir Yoona harus mengubah sikap kurang ajarnya dulu.

Yoona menghembuskan napas kesal. Ia tahu Jo Hyun tidak seperti orang lain yang suka menjilat. Itulah salah satu alasan mengapa Yoona menyukai gadis pendiam itu. Dan saat ini si gadis pendiam sedang berusaha memperbaiki tingkah laku si gadis cerewet. “Baiklah, bisakah kau memberikan alamat Choi Siwon padaku?”

Jo Hyun terkikik. Walaupun Yoona meminta dengan logat yang sedikit dibuat-buat, tapi paling tidak ia tidak bersikap seperti seorang bos padanya. “Akan kukirimkan lewat SMS nanti.”

“Awas kalau kau berbohong,” Yoona masih sempat mengancam Jo Hyun sebelum menutup teleponnya.

“Yoona, kau di dalam?” panggil seseorang dari balik pintu. Yoona melempar ponselnya ke tempat tidur dan belari membuka pintu tepat saat orang di balik pintu juga membukanya. Kening Yoona bertabrakan dengan pintu, membuat suara dentuman yang cukup keras.

“Appo,” Yoona mengelus-elus keningnya menahan sakit.

“Gwenchana?” tanya orang yang membuka pintu yang ternyata adalah Presdir Im. Dia heran terhadap tingkah Yoona yang selalu berlari kesana-kemari yang belum hilang juga.

Yoona hanya mengangguk sambil terus memegang keningnya yang sedikit memerah. Ia berjalan mengikuti ayahnya menuju tempat tidurnya dan duduk berdampingan. “Appa, ada apa? Appa merindukanku?”

Im Tae San tersenyum melihat Yoona yang selalu terlihat ceria. Ia mengelus rambut Yoona perlahan. Matanya menatap Yoona sendu. “Anak Appa sudah besar. Kau tumbuh dengan baik. Tapi kau sangat ceroboh.”

Mulut Yoona mengerucut. “Tentu saja aku tumbuh dengan baik meski aku tidak tinggal di sini,” Yoona berniat sedikit menyindir ayahnya.

Mengetahui maksud putrinya, Im Tae San hanya tersenyum tipis. “Kau harus menjadi anak yang kuat. Jangan mudah menangis karena hal-hal kecil. Kau akan menggantikan Appa di perusahaan.”

“Mengapa bukan Yuri Unnie saja yang menggantikan Appa? Unnie sangat pintar dan cekatan. Juga tidak cengeng seperti aku.” Pikiran Yoona sedang berusaha menangkap maksud ayahnya. Menurutnya ia masih terlalu muda untuk membicarakan hal seperti ini dengan ayahnya. Dan lagi-lagi ayahnya hanya menemuinya karena hal-hal yang berkaitan dengan bisnisnya.

Melihat Yoona yang tumbuh semakin besar, ingatan Im Tae San melayang ke masa lalu. Saat ia tengah berada di sebuah rumah sakit menggendong seorang bayi yang baru lahir.

“Tae San-ah,” panggil seorang wanita yang berbaring di ranjang rumah sakit. Wajahnya sangat mirip dengan Yoona.

Im Tae San mendekat dengan masih menggendong bayi itu. “Ada apa?”

“Berjanjilah padaku kau akan merawatnya seperti kau merawat Yuri. Dia mungkin akan menjadi gadis yang nakal, tapi dia juga pasti pintar dan cantik. Kau tidak harus memberinya semua uangmu. Kau hanya harus memberikannya kasih sayang dan cinta agar ia tidak kesepian karena tidak ada ibunya,” wanita itu berkata dengan lemah. Wajahnya pucat seperti tidak tersisa sedikitpun energi di tubuhnya.

“Apa yang kau katakan? Kau akan hidup dan merawatnya, Yoon Joo-ya,” Im Tae San tidak tega melihat orang yang sangat ia cintai berbaring lemah tak berdaya.

Yoon Joo menggeleng pelan. “Sampaikan pada Hae Ra kalau aku meminta maaf padanya. Aku bersalah padanya. Maafkan aku,” isak Yoon Joo.

Hati Im Tae San seperti teriris mendengarnya. Seo Yoon Joo adalah cinta pertamanya, jauh sebelum ia bertemu dengan Yoon Hae Ra. Dan setelah bertahun-tahun berpisah, mereka kembali dipertemukan dalam keadaan yang sangat rumit. Im Tae San telah memiliki istri dan seorang putri berusia empat tahun, sedangkan Yoon Joo telah menjadi seorang janda karena suaminya meninggal dunia. Rasa yang sudah mereka bunuh selama bertahun-tahun tiba-tiba saja tumbuh kembali, membuahkan seorang putri. Sayangnya Yoon Joo tak bisa berlama-lama melihat putrinya di dunia. Ia meninggal beberapa waktu setelah melahirkan putrinya. Mengetahui suaminya memiliki seorang anak dengan wanita lain, Hae Ra murka. Niatnya untuk bercerai dan membawa pergi Yuri ia urungkan karena keluarganya masih terlilit hutang dan hanya Im Tae San yang bisa menolongnya. Sejak saat itu, hubungan mereka lebih seperti rekan kerja dibandingkan seperti suami istri. Dengan setengah hati ia mengasuh putri Seo Yoon Joo, sebagai kompensasi atas sebagian harta Im Tae San yang akan diberikan padanya.

“Appa,” panggil Yoona membuyarkan lamunan ayahnya. “Ada apa? Mengapa Appa melamun?”

“Sebentar lagi, semua yang menjadi milik Appa akan menjadi milikmu. Kau harus bisa mempertahankannya. Jangan biarkan orang lain merebutnya darimu,” Im Tae San tampaknya masih ragu akan mengatakan semuanya pada Yoona mengingat Yoona tidak tahu-menahu tentang bisnisnya.

Kening Yoona berkerut, sama sekali tidak mengerti maksud ayahnya. “Aku tidak mengerti, Appa.”

“Begini, sebentar lagi, Appa akan memindahkan semua milik Appa menjadi atas namamu. Kau akan memiliki perusahaan, hotel, resort, mobil, helikopter, dan beberapa vila di luar negeri. Setelah kau menyelesaikan sekolahmu, kau yang akan menjadi presdir seperti Appa,” jelas Presdir Im yang sukses membuat mulut Yoona menganga lebar.

“Waeyo?” hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Yoona. “Apa Appa akan pergi?”

Presdir Im tersenyum. “Appa tidak akan kemana-mana. Ada banyak alasan, kau akan segera mengetahuinya.” Ia beranjak meninggalkan Yoona yang masih bingung. Sesampainya di luar kamar, ia menelepon seseorang yang sepertinya adalah bawahannya. “Bereskan dia sekarang! Dan Hubungi Pengacara Shim segera.”

***

Yoona dan mobilnya berhenti di dekat rumah Siwon. Matanya menjelajah lingkungan itu, mencari keberadaan rumah keluarga Choi. Setelah menemukannya, Yoona mengetuk pagar rumah Siwon yang terbuat dari kayu. Tidak ada yang menjawab. Yoona mengintip dari celah pagar. Sepertinya memang tidak ada orang di rumah. Dengan lesu Yoona kembali ke mobilnya. Ia menunggu di dalam mobil.

Sementara itu, Siwon ternyata tengah membeli beberapa keperluan dapur yang akan ia gunakan untuk memasak nanti saat ayahnya pulang. Dia kembali ke rumahnya dengan menenteng dua buah kantong plastik di tangannya. Siwon tidak menyadari ada sebuah mobil mewah terparkir di dekat rumahnya. Ia berjalan melewati Yoona yang sepertinya tertidur karena terlalu lama menunggu Siwon. Saat Yoona membuka matanya Siwon sudah masuk ke rumah dan menutup pintu pagar.

“Ahjussi, apa tadi ada seorang pemuda masuk ke rumah itu?” tanya Yoona pada supirnya. Ia menyesal karena telah tertidur dan tidak bisa melihat keberadaan Siwon.

“Tadi ada seorang pemuda yang masuk, Nona,” jawab supirnya.

Itu pasti Siwon Sunbae, pikirnya. Sebuah ide yang menurut Yoona cemerlang muncul di kepalanya. Ia ingin menghabiskan waktu berdua dengan Siwon, jadi ia menyuruh supirnya untuk pulang.

“Bagaimana Nona pulang kalau saya pergi?” ternyata si supir adalah orang yang cukup baik karena mengkhawatirkan keselamatan Yoona.

“Aku bisa pulang sendiri. Pergilah,” kata Yoona ngotot. Butuh kekuatan lebih untuk melawan keinginan Im Yoona.

Sesaat setelah supirnya pergi, Yoona melihat Siwon sudah berpakaian rapi sedang mengunci pagar rumahnya. Cepat-cepat Yoona keluar dan menghampiri Siwon.

“Sunbae, bagaimana kabarmu?” sapanya riang. Senyumnya tidak pernah ia tinggalkan saat berhdapan dengan Siwon.

Lagi-lagi Siwon dibuat kaget dengan kemunculan Yoona yang baginya selalu tiba-tiba dan di mana saja. Ia berpikir mungkin setelah ini ia akan bertemu Yoona saat baru keluar dari kamar mandi. “Darimana kau datang?” katanya heran.

“Aku datang dari surga untuk menjemputmu dan kita akan pergi ke sana bersama-sama, Sunbae,” jawab Yoona asal.

“Ah, jadi benar kau bukan manusia. Lalu kau ini apa?”

“Malaikat,” ucap Yoona penuh percaya diri.

Siwon mendengus. “Malaikat pencabut nyawa maksudmu?”

Mulut Yoona mengerucut. “Kau selalu bisa membalas ucapanku, Sunbae,” keluhnya.

“Tentu saja. Otakku jauh lebih berisi dibanding milikmu.” Siwon sudah berbalik akan pergi saat Yoona bertanya lagi padanya.

“Sunbae mau pergi ke mana? Aku bisa mengantar Sunbae,” tawar Yoona, berharap Siwon menerimanya dan mereka bisa menghabiskan sedikit waktu berdua.

Dengan kesal Siwon kembali menghadapi Yoona. “Mengapa kau selalu ingin tahu urusan orang lain?”

“Aku hanya menawarkan bantuan. Sunbae bisa menolaknya kalau tidak mau.”

Ponsel di saku Siwon tiba-tiba berdering. Ia lalu mengangkatnya. “Yeobseyo. Taeyeon-ah, ada apa?”

Yoona memperhatikan Siwon yang sedang bertelepon. Menebak-nebak dengan siapa pemuda itu bicara hingga membuat raut wajahnya berubah cemas.

“Aku sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi aku akan sampai. Kau diam saja di sana. Jangan pergi ke manapun.” Siwon sangat serius saat mengatakannya. Dia langsung pergi tanpa bicara apapun pada Yoona.

Dengan melihat raut wajah Siwon, Yoona bisa memahami kalau ada sesuatu yang buruk terjadi. Dia ingin bisa membantu Siwon, tapi bagaimana caranya? Siwon pasti menolak apapun yang akan ia lakukan. Tapi tidak ada salahnya mencoba, pikirnya. “Sunbae, apa kau buru-buru? Aku bisa mengantarmu ke manapun kau mau,” teriaknya.

Di luar dugaan, Siwon menghentikan langkahnya. Tampaknya ia sedang berpikir apa yang sebaiknya ia lakukan. Berjalan ke halte dan menunggu bus sudah pasti akan memakan waktu lebih lama baginya untuk sampai di tempat tujuannya. Ditambah lagi ia harus segera sampai di tempat itu. Siwon akhirnya menerima tawaran Yoona.

“Sunbae mau pergi ke mana?” tanya Yoona berlagak seperti supir. Ia kini duduk di belakang kemudi dan Siwon di sampingnya.

“Kau benar-benar akan menyetir?” Siwon sepertinya ragu dengan kemampuan Yoona. Dia pikir mereka akan pergi bersama seorang supir, bukan berduaan dengan gadis manja itu saja.

Yoona mengangguk bangga. Beberapa waktu yang lalu ia sempat belajar menyetir bersama pamannya di New York. Tapi ia belum pernah mempraktekkannya di jalan raya. Yoona menyalakan mesin mobilnya. Sebenarnya ia agak takut karena belum punya pengalaman. Tapi ia ingin terlihat keren di depan Siwon. Yoona menginjak pedal gas dengan kekuatan yang cukup besar sehingga membuat mobil tiba-tiba melesat. Yoona berteriak panik, tidak menyangka mobilnya akan berlari begitu cepat. Mobil itu meluncur beberapa meter dari tempatnya semula sebelum Siwon dengan sigap menarik rem tangan yang menghentikan laju mobil. Keduanya terlontar dengan cukup keras ke arah depan dan terselamatkan dari benturan dengan dashboard oleh sabuk pengaman yang mereka pakai.

Tubuh Yoona membeku, syok dengan kejadian yang baru ia alami. Ia hampir saja bunuh diri dan membunuh pria yang ia sukai hanya dengan satu hentakan kaki. Siwon sama kagetnya dengan Yoona. Dia tidak percaya Yoona berani membawa mobil dengan kemampuan menyetirnya yang seperti itu.

“Neo micheosseo?” bentak Siwon. “Kau bilang kau bisa menyetir.”

Yoona pasrah dimarahi oleh Siwon. Pemuda itu cukup menakutkan di mata Yoona saat sedang marah. Dia juga merasa bersalah telah membuat Siwon berada dalam bahaya. “Mianhe. Aku hanya ingin membantu Sunbae,” lirihnya.

Siwon menghela napas panjang, berharap kesabarannya juga akan bertambah panjang dalam menghadapi Yoona. “Bagaimana kau datang kemari? Kau bahkan tidak bisa menyetir.”

“Aku bersama supirku tadi,” jawab Yoona. Kepalanya tertunduk, takut menghadapi kemarahan Siwon.

“Di mana dia sekarang?”

Kepala Yoona tertunduk semakin dalam. “Aku menyuruhnya pulang.”

“Mwo? Bagaimana bisa kau menyuruhnya pulang sedangkan kau sendiri tidak bisa membawa benda ini?” Siwon memarahi Yoona.

“Ini hari Minggu, jadi aku menyuruhnya pulang. Aku hanya berniat memberinya hari libur,” Yoona terlalu malu untuk mengakui alasan konyolnya menyuruh si supir untuk pulang.

“Kau seharusnya diam di rumah jika ingin memberinya hari libur,” kata Siwon sengit. Dia keluar lalu berjalan mengitari mobil menuju pintu kemudi dan membukanya. “Keluarlah,” perintah Siwon pada Yoona.

Yoona diam saja. Terlalu takut menghadapi Siwon yang sedang marah.

Melihat Yoona ketakutan, nada bicara Siwon sedikit melunak. Bagaimanapun juga Yoona memang tidak punya niat buruk padanya. “Keluarlah. Biar aku yang menyetir.” Siwon menarik Yoona keluar dan masuk ke dalam mobil. Ia menunggu sampai Yoona duduk di sampingnya lalu menyalakan mesin mobil.

“Sunbae bisa menyetir?” kata Yoona kagum. Dia memperhatikan Siwon yang fokus menyetir. Di matanya, Siwon terlihat sangat keren saat berada di belakang kemudi.

“Tentu saja. Diamlah. Aku sedang buru-buru.”

Mulut Yoona terkatup sepanjang sisa perjalanan. Ia tidak berani membuka mulutnya, takut membuat kemarahan Siwon tumbuh lagi. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi melintasi jalanan kota Seoul. Siwon tampaknya benar-benar sedang diburu waktu. Mobil itu kemudian memasuki pelataran sebuah rumah sakit. Siapa yang sakit? batin Yoona penasaran. Selesai memarkir mobil, Siwon keluar dan berlari memasuki gedung rumah sakit meninggalkan Yoona yang terseok-seok di belakangnya. Langkah Siwon yang panjang tentu saja tidak bisa diimbangi Yoona. Susah payah Yoona mengejar Siwon yang berlari seperti orang dikejar setan.

Siwon akhirnya berhenti di depan ruang operasi. Dia sangat khawatir mendapati Taeyeon duduk di ruang tunggu sendirian dengan wajah penuh air mata. Setelah mengatur napasnya sejenak, Siwon berjongkok di hadapan Taeyeon, mengangkat dagu gadis itu dan mengusap air matanya perlahan. “Ahjumma akan baik-baik saja. Kau jangan khawatir,” kata Siwon lembut.

Mendengar kata-kata Siwon, tangis Taeyeon justru semakin pecah. Ia sangat khawatir dengan ibunya yang sedang menjalani operasi akibat kecelakaan yang dialami beberapa saat lalu. “Kata mereka Eomma kehilangan banyak darah. Eomma mendapat benturan di kepalanya. Appa masih di luar kota. Eottokhe, Siwon-ah?” isaknya.

“Dokter sedang mengoperasi Ahjumma. Mereka adalah dokter yang hebat. Ahjumma akan baik-baik saja,” Siwon menenangkan Taeyeon. Kedua tangannya menggenggam erat tangan Taeyeon yang begitu dingin.

“Jinja? Aku sangat takut,” lirih Taeyeon.

Siwon mengangguk yakin. Dia duduk di samping Taeyeon dan merangkul bahu gadis itu. Kepala Taeyeon terkulai lemah di bahu Siwon yang masih mengucapkan kata-kata untuk menenangkan sahabat yang sangat disayanginya itu. “Uljima, Taeyeon-ah.”

Yoona berada cukup dekat dengan mereka untuk bisa melihat dan mendengar setiap kata yang Siwon ucapkan pada Taeyeon. Gadis yang sedang menangis itu adalah gadis yang tempo hari ia lihat di dalam ponsel Siwon. Semua perlakuan dan perkataan Siwon pada Taeyeon berbanding seratus delapan puluh derajat dengan sikap Siwon padanya. Yoona tersenyum kecut. “Jadi karena ini Sunbae begitu khawatir?” gumamnya pelan. Yoona masih bisa bertahan dengan sikap dingin dan penolakan Siwon. Mungkin saja memang sifat Siwon yang seperti itu dan ia yakin bisa mengubahnya. Tetapi melihat Siwon begitu mengkhawatirkan seseorang yang ia yakini bukan anggota keluarganya seperti itu, membuat Yoona yakin kalau hati Siwon sudah terisi. Yoona melangkah pergi dengan sedih, tidak sanggup melihat kebersamaan Siwon dan Taeyeon yang ternyata sangat menyakitinya.

Yoona kembali ke tempat mobilnya diparkir. Ia ingin segera pergi dari tempat itu. Tiba-tiba Yoona teringat sesuatu yang membuatnya menepuk keningnya. Kunci mobilnya masih ada pada Siwon. Dia tidak mungkin masuk lagi dan meminta kuncinya pada Siwon. Apa sebaiknya naik taksi saja? Yoona menimbang-nimbang.

Pada akhirnya Yoona memutuskan untuk menunggu Siwon di dekat mobilnya. Ia berharap Siwon datang padanya dan setidaknya menyerahkan langsung kuncinya. Hari sudah mulai malam. Memasuki bulan November, angin menjadi semakin dingin. Gadis itu berjongkok di depan mobilnya, berdiri, berjalan ke sana ke mari, lalu berjongkok lagi untuk membuang kejenuhan yang melandanya. “Apa Sunbae akan datang? Atau dia tidak datang?” racaunya.

Leeteuk yang mendapat pesan dari Siwon tentang kecelakaan yang menimpa ibu Taeyeon langsung pergi ke rumah sakit. Di pelataran rumah sakit, sekilas ia melihat Yoona yang sedang berjongkok di dekat sebuah mobil. Leeteuk menyangkal pikirannya yang menganggap ia telah melihat Yoona. “Mana mungkin ia ada di sini,” gumamnya.

Dengan langkah terburu-buru Leeteuk berjalan menuju tempat di mana Taeyeon berada. Saat sampai, ia terkejut mendapati pemandangan di depannya. Taeyeon tengah tertidur karena lelah menangis. Kepalanya masih bersandar di bahu Siwon. Sedangkan kedua tangan Siwon menggenggam erat tangan Taeyeon. Wajah Siwon terlihat sangat kusut dan khawatir. Melihatnya, Leeteuk seperti menyadari sesuatu. Selama ini Siwon tidak pernah mau mendekati gadis-gadis karena ia memang telah menyukai seseorang. Orang itu adalah Taeyeon, satu-satunya gadis yang dekat dengannya. Leeteuk memijit keningnya perlahan, kepalanya tiba-tiba saja terasa berat. Selama ini, diam-diam Leeteuk juga menyukai Taeyeon. Suatu saat nanti ketika Siwon mempunyai kekasih, ia berniat meminta Taeyeon menjadi pacarnya. Tujuannya agar Siwon tidak terlalu merasa kehilangan sahabatnya. Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi, batinnya perih. Leeteuk berjalan mendekat dan menormalkan kembali raut wajahnya yang terkejut.

Siwon menoleh ke asal suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya. “Kau datang?” sapanya saat Leeteuk sudah berdiri di hadapan mereka.

“Bagaimana keadaan Ahjumma?” tanyanya pelan, takut Taeyeon terbangun.

“Sebentar lagi mungkin operasinya akan selesai.”

“Lalu di mana Kim Ahjussi?”

“Dia sedang dalam perjalanan kemari. Tadi ia sedang berada di luar kota.”

Tidur Taeyeon sedikit terusik karena suara-suara di dekatnya. Ia terbangun dan mendapati Leeteuk tengah berdiri menatapnya dengan tatapan prihatin. “Teukkie Oppa,” Taeyeon sedikit kaget melihat Leeteuk datang. Sesungguhnya ia sangat senang karena Leeteuk peduli padanya.

“Gwenchana?” Leeteuk berusaha tersenyum meski hatinya masih sakit karena melihat Taeyeon dan Siwon.

Taeyeon mengangguk pelan. “Gomawo Oppa sudah datang. Kurasa Eomma akan baik-baik saja.”

Tangan Leeteuk membelai rambut Taeyeon yang sedikit berantakan. “Kau harus kuat.”

Seorang dokter yang mengoperasi ibu Taeyeon keluar dari ruang operasi dan memberitahukan kalau operasi sudah selesai dan berhasil. Ibu Taeyeon sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat biasa.

“Syukurlah semua berjalan dengan lancar,” desah Leeteuk yang diamini Siwon. Mereka sekarang hanya berdua karena Taeyeon sedang mengurus administrasi ibunya. “Kepalaku sampai sakit waktu mengetahui hal ini, sampai-sampai aku berhalusinasi melihat gadis manja itu di tempat parkir.”

Telinga Siwon sedikit tergelitik mendengar frasa ‘gadis manja’ yang baginya sekarang identik dengan Im Yoona. “Gadis manja siapa?”

“Im Yoona. Siapa lagi?”

“Mwo?” Siwon benar-benar lupa dengan keberadaan Yoona. Ia merasa sedikit khawatir dengan gadis manja itu. Saat Leeteuk datang hari sudah cukup malam. Kalau benar apa yang dilihat Leeteuk, berarti Yoona masih ada di sini dan ia sudah menunggu selama hampri tiga jam. Apa anak itu sudah gila? pikir Siwon. Sebenarnya apa yang sedang dilakukannya?

Siwon pergi meninggalkan Leeteuk yang penasaran dengan tingkah anehnya. Entah mengapa Siwon merasa khawatir pada Yoona. Dia tidak bisa menyetir, tidak tahu apa-apa tentang Seoul, dan malam semakin dingin. Tangan Siwon merasakan benda asing yang berada di saku celananya. Terjawab sudah semua pertanyaannya tentang Yoona saat ia meraih benda itu keluar dari sakunya. Kunci mobil milik Yoona.

Di luar, Yoona masih menunggu Siwon dengan sabar. Sudah hampir tiga jam ia membuang waktu dengan berdiri dan berjongkok. Aku sudah menunggu selama sembilan tahun, mengapa sekarang aku harus menunggu lagi? rutuknya dalam hati. Yoona kembali berjongkok. Tangannya sibuk mecoret-coret lantai beton dengan sebatang lidi yang ia temukan sementara mulutnya sibuk bergumam. “Sunbae akan datang, Sunbae tidak akan datang. Sunbae akan datang, Sunbae tidak akan datang.”

Siwon mendesah lega saat mendapati Yoona sedang berjongkok di depan mobilnya dan asyik mencorat-coret lantai beton di bawahnya. Paling tidak Yoona tidak pergi keluyuran di tengah kota malam-malam seperti ini. Dia sedikit iba melihat tingkah Yoona. Dulu ia juga sering seperti itu saat menunggu ibunya yang pergi tanpa pamit. Siwon seperti melihat bayangan dirinya di masa lalu.

“Gadis bodoh. Apa yang sedang kau lakukan?” teguran Siwon lebih terdengar seperti bentakan. “Mengapa kau tidak pulang dan justru berada di sini? Mengapa kau tidak masuk dan meminta kembali kunci mobilmu?” Sebenarnya Siwon tidak berniat memarahi Yoona. Hanya saja ia sedikit bingung mengungkapkan kekhawatirannya pada gadis itu.

Yoona mendongak mendengar suara Siwon yang seperti petir di telinganya. Dia sangat senang sekaligus takut. Senang karena pada akhirnya Siwon datang padanya, dan takut karena lagi-lagi Siwon membentaknya. “Sunbae, kau datang? Aku sudah lama menunggumu.”

“Siapa yang menyuruhmu menungguku? Apa kau bodoh? Kau tidak memikirkan tubuhmu kedinginan di sini? Apa kau akan meminta pertanggungjawabanku saat kau demam nanti?”

Yoona yang sudah lelah menunggu tidak rela kalau Siwon memarahinya. Ia merasa sangat kecewa dengan sikap Siwon padanya. Padahal Siwon hanya harus meminta maaf padanya dan Yoona akan segera melupakan apa yang terjadi.

“Pulanglah. Ini kukembalikan,” Siwon menyerahkan kunci mobil ke tangan Yoona. “Kau bisa menelepon supirmu, kan?”

“Shirreo,” Yoona mengembalikan kuncinya pada Siwon. “Aku akan pulang sendiri. Aku bukan gadis manja dan bodoh seperti kata Sunbae. Sunbae bisa mengembalikan mobilku besok.” Yoona berlari meninggalkan Siwon dengan penuh kejengkelan. Setelah menunggu berjam-jam, bukan ini yang ia harapkan akan terjadi. Kalau tahu akan begini, lebih baik ia pulang sejak tadi.

Siwon mengacak rambutnya frustasi. Ia tidak mengerti apa yang Yoona inginkan. Dia hendak kembali masuk ke gedung rumah sakit, namun hatinya membisikkan sesuatu. Yoona adalah gadis kaya yang tidak tahu-menahu kehidupan di jalanan Seoul pada malam hari. Belum lagi fisiknya yang sudah pasti akan membuat para lelaki hidung belang mengejar-ngejarnya. Siwon menahan marahnya dan berlari menyusul Yoona yang sudah berjalan di trotoar. Langkahnya terhenti saat melihat sebuah mobil berhenti di dekat Yoona. Pengemudi mobil itu keluar dan menghampiri Yoona.

“Im Yoona-ssi, anyeong!” Lee Donghae, si pengemudi mobil, menyapa Yoona yang memandangnya heran.

Yoona berdecak kesal. “Kau lagi?”

“Mengapa kau sangat tidak sopan padaku?” Donghae tadi tidak sengaja melihat Yoona sedang berjalan sendirian. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas seperti ini untuk mendekati gadis itu.

“Mood-ku sedang sangat buruk Lee Donghae-ssi. Jadi sebaiknya kau minggir,” ketus Yoona. Ia mendorong Donghae agar menyingkir dari hadapannya dan kembali berjalan.

Donghae mengikuti Yoona, menyejajarkan langkahnya dengan gadis itu. “Wae? Kau bertengkar dengan Siwon? Kau mau aku membalas dendam padanya?”

Yoona berhenti dan menatap Donghae dengan tatapan menyelidik. “Mengapa kau menyebut nama itu?”

Mendengar Yoona tidak mau menyebut nama Siwon membuat hati Donghae bersorak. Jadi benar tebakkannya, sepertinya mereka sedang bertengkar. “Ayo kuantar pulang. Tidak baik gadis cantik sepertimu berjalan sendirian di malam hari.” Donghae menarik Yoona dan membukakan pintu mobilnya.

“Yoona,” panggil Siwon yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka. Dia merasa bersalah karena telah memarahi Yoona, padahal sebenarnya ia hanya khawatir pada gadis itu. Bahkan untuk pertama kalinya ia memanggil Yoona dengan menyebut namanya, tanpa embel-embel manja atau bodoh.

Yoona menoleh menatap Siwon. “Aku sedang tidak ingin bicara denganmu, Sunbae.” Tanpa perlu dibujuk Donghae lagi, Yoona masuk ke dalam mobil pemuda itu.

Donghae tersenyum menatap Siwon penuh kemenangan. Ini adalah saat-saat yang sudah lama ia tunggu. Melihat Siwon tidak berdaya dan kalah.

Siwon menatap nanar mobil Donghae yang semakin menjauh. Ia menyesal telah memperlakukan Yoona dengan kasar. Bagaimanapun juga Yoona tidak sepenuhnya bersalah. Gadis itu hanya terlalu naif. Siwon menendang sebuah kerikil di dekatnya, melampiaskan kekesalan pada dirinya sendiri dan pada Yoona yang lebih memilih pergi bersama Donghae.

***

Leeteuk mengantar Teayeon kembali ke rumahnya setelah diusir dengan paksa oleh ayahnya yang baru datang dengan alasan ia harus bersekolah besok. Dengan berat hati, Taeyeon meninggalkan ibunya yang masih di bawah pengaruh obat bius dan pulang bersama Leeteuk.

“Oppa, gomawo. Oppa selalu mengantarku pulang,” kata Taeyeon saat mobil Leeteuk berhenti di depan rumahnya. Biasanya Leeteuk juga mengantar Taeyeon satelah selesai bekerja di barnya.

“Aku bahkan akan mengantrmu sampai ke bulan jika kau mau,” canda Leeteuk, membuat Taeyeon tersenyum.

“Aku akan masuk. Oppa juga harus segera pulang dan istirahat,” Taeyeon berpamitan dan melepas sabuk pengamannya. Ia sedikit kesulitan melepas sabuk pengaman.

Melihat Taeyeon yang kesulitan, Leeteuk melepas sabuk pengamannya dan mencondongkan tubuhnya, berusaha membantu melepas sabuk pengaman Taeyeon. Tampaknya mobil Leeteuk memang hanya mau patuh pada pemiliknya. Dengan cepat Leeteuk sudah berhasil melepas sabuk pengaman yang melingkari Taeyeon. Taeyeon yang sejak tadi menunduk tiba-tiba mengangkat kepalanya, membuat wajah mereka berhadapan dengan jarak hanya beberapa senti. Mereka saling menatap cukup lama. Masing-masing larut dalam dunianya sendiri. Tangan Leeteuk perlahan terangkat, merapikan anak rambut yang jatuh di wajah manis Taeyeon. Tatapan mereka tidak pernah lepas satu sama lain.

“Oppa,” bisik Taeyeon tertahan. Jantungnya sudah berdebar kencang karena ia berada di jarak yang sangat dekat dengan Leeteuk. Melihat Leeteuk memejamkan mata dan semakin mendekatkan wajahnya, mata Taeyeon ikut terpejam, menunggu saat di mana wajah mereka akan bersentuhan.

Bayangan Siwon tiba-tiba terlintas di benak Leeteuk. Ia teringat tawa Siwon saat mereka bertiga sedang berkumpul dan bercengkerama. Hanya pada saat-saat itulah Siwon tertawa. Leeteuk tidak ingin membuat tawa itu hilang dari wajah Siwon karena ia tahu kalau Siwon juga menyukai Taeyeon. Ia membuka matanya kembali. Sebisa mungkin ia menahan hasratnya mencium Taeyeon. Sebagai gantinya ia hanya mengelus pipi Taeyeon lembut, membuat mata Taeyeon kembali terbuka.

Sebenarnya Taeyeon sedikit kecewa, ia menatap Leeteuk dengan tatapan penuh tanya.

“Masuklah,” bisik Leeteuk. “Tidurlah yang nyenyak. Jangan menangis lagi.” Leeteuk kembali ke posisinya semula. Ia tidak berani menatap mata Taeyeon karena merasa telah melakukan kesalahan.

Taeyeon tidak mengatakan apa-apa. Wajahnya sudah sama merahnya dengan kepiting rebus. Dia masuk ke rumahnya, menutup pintu kembali, kemudian bersandar di sana. Jantungnya masih berdebar. Melihat perlakuan Leeteuk tadi, ia yakin kalau Leeteuk juga mempunyai perasaan yang sama seperti dirinya. Tapi sepertinya ada sesuatu yang menahan Leeteuk untuk tidak menunjukkan perasaannya yang tidak ia ketahui.

Sementara itu, di dalam mobil, Leeteuk sibuk mengutuk dirinya sendiri karena kelepasan. Ia tidak bisa membayangkan jika Siwon mengetahui hal ini. “Pabo,” Leeteuk memukul kepalanya sendiri.

***

“Kau bertengkar dengan Siwon?” tanya Donghae pada Yoona yang sedari tadi hanya melamun. Ia hanya bicara saat menyebutkan alamat rumahnya. “Mengapa diam saja? Kau harus menjawab saat ada yang bertanya padamu. Itu baru namanya sopan santun.”

“Apa maksudmu sebenarnya, Sunbae?” akhirnya Yoona membuka mulutnya.

“Aku tidak mengerti maksudmu,” jawab Donghae. Ia melirik ke arah Yoona yang memandang lurus ke depan.

“Antara kau dan Siwon Sunbae, sebenarnya apa yang membuatmu membencinya?” Bahkan di saat marah Yoona masih peduli pada Siwon.

Donghae tersenyum. Ternyata Yoona tahu lebih banyak dari yang ia bayangkan. Ia merasa tidak perlu menutupi apapun di depan Yoona. “Lalu kenapa kau mau ikut denganku kalau tahu aku adalah musuh Siwon?”

Yoona mendesah malas. “Baiklah. Turunkan aku di sini.”

Senyum Donghae lagi-lagi tersungging. “Wae? Kenapa kau sangat sensitif?”

“Aku hanya ingin membalas Siwon Sunbae saja. Sekarang dia sudah tidak ada di sini. Kau bisa menurunkanku,” kata Yoona lemah. Dia sudah sangat lelah kalau harus berdebat dengan seseorang lagi.

“Tentu saja aku tidak akan menurunkanmu. Kau pikir orang macam apa aku ini?” Donghae diam sejenak, ia lalu melanjutkan, “Kau benar-benar ingin tahu mengapa aku memusuhi Siwon?”

Tatapan Yoona beralih pada Donghae, mencari keseriusan di kata-kata yang baru saja ia ucapkan. “Kau akan mengatakannya padaku?”

Melihat Yoona tidak secuek tadi membuat Donghae ingin mengerjainya lagi. “Tentu saja tidak.”

Yoona tersenyum sinis. Dia adalah tipe yang tidak mau mengalah dan semua keinginannya harus terwujud. Yoona tidak akan menyerah begitu saja pada Donghae. “Kalau begitu aku akan menuntutmu.”

Kening Donghae berkerut. Ia memikirkan tindakannya pada Yoona yang mungkin telah kelewatan, rasanya tidak ada. Justru Yoona-lah yang selalu bersikap kurang ajar padanya. “Kau mau menuntutku karena apa?”

“Aku akan mengatakan pada pengacaraku kalau ada seorang siswa tanpa surat izin mengemudi yang menyetir dengan ugal-ugalan dan hampir saja menabrakku di dekat sekolah. Apakah mungkin itu sebuah percobaan pembunuhan?”

Semua hal kecil yang berkaitan dengan Im Yoona akan menjadi besar dan penting. Donghae tahu itu. Sama seperti dirinya, Yoona juga dibesarkan di lingkungan bisnis yang membuat mereka selalu bisa mencari keuntungan di setiap celah terkecil. Dan Yoona dengan sangat baik telah menggunakan celah kecil itu untuk menusuk Donghae. Donghae menyesal telah bermain-main dengan keselamatan seseorang berdarah Im. “Hampir saja aku lupa kau ini adalah seorang keturunan Im.”

Yoona tersenyum menang. “Kupastikan setelah ini kau tidak akan lupa, Sunbae.”

“Tapi aku tidak akan mengatakannya sekarang. Aku akan memberitahumu nanti,” janji Donghae, membuat Yoona kesal. Dia kembali terdiam dan menatap lurus ke depan.

Tidak jauh di belakang mereka, sebuah Jaguar hitam melaju dengan kecepatan sedang. Jaguar itu sudah mengikuti mobil Donghae sejak tadi. Pandangan si pengemudi Jaguar tidak pernah lepas dari mobil abu-abu milik Donghae. Ya, Choi Siwon memutuskan mengikuti Yoona yang pergi bersama Donghae. Ia khawatir Donghae akan melakukan hal buruk pada Yoona kalau mengingat perkataan Donghae padanya di sekolah. Tapi ternyata tidak terjadi apa-apa. Donghae hanya mengantar Yoona sampai di depan rumah gadis itu kemudian pergi. Dari kejauhan, Siwon memandang Yoona yang masuk ke dalam rumahnya. Sedikit lega karena Donghae tidak melakukan apapun seperti yang ia takutkan.

***

Yuri pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Beberapa waktu belakangan Jong Woon sangat sibuk dan mereka tidak bisa bertemu. Sudah berkali-kali Yuri berjanji tidak akan pergi minum lagi, tapi ia selalu mengingkarinya. Ia berpapasan dengan ibunya di tangga. Hae Ra yang mencium bau alkohol dari tubuh Yuri langsung menarik putrinya masuk ke dalam kamar.

“Apa sebenarnya masalahmu, Yuri-ah? Mengapa kau minum lagi?” Hae Ra memarahi Yuri yang duduk di tempat tidurnya.

Yuri tersenyum sinis mendengar perkataan ibunya. “Ah, Eomma akhirnya peduli pada apa yang kulakukan,” gumamnya tapi masih bisa didengar dengan jelas oleh Hae Ra.

“Bicara apa kau, Yuri-ah? Eomma adalah ibumu. Eomma selalu peduli padamu,” Hae Ra duduk di samping putrinya. Dia mengelus rambut Yuri dengan penuh kasih sayang. Sedikit takjub karena ternyata Yuri telah tumbuh begitu besar dan cantik tanpa disadarinya. Ternyata selama ini mereka jarang sekali menghabiskan waktu berdua.

“Funny, aku sama sekali tidak merasakan kepedulianmu, Eomma,” Yuri menangkis tangan Hae Ra yang masih membelai rambutnya. “Setiap hari yang Eomma lakukan hanya mengurus perusahaan. Apa semua ini tidak cukup untuk Eomma, eoh?”

Hae Ra berusaha memaklumi kemarahan Yuri padanya meski ia sedikit sakit hati. “Semua yang Eomma lakukan selama ini adalah untukmu. Eomma bekerja siang dan malam agar kita bisa hidup tenang nantinya.”

“Aku tidak menginginkan semua ini, Eomma. Aku hanya ingin Eomma mendengar ceritaku setiap malam. Bagaimana aku jatuh cinta, keada siapa aku jatuh cinta, lalu kita akan membicarakan pernikahanku dan mempersiapkannya, dan aku akan belajar memasak untuk suamiku dari Eomma. Itulah hal-hal yang aku inginkan, Eomma,” kata Yuri lemah. Kedua matanya sudah siap mengeluarkan air mata, tapi ditahannya.

Desahan panjang keluar dari mulut Hae Ra. “Bertahanlah sebentar lagi, Yuri-ah. Setelah semua berlalu, kau dan Eomma akan hidup seperti yang kau inginkan.”

Yuri tidak mengerti maksud ibunya. Bukankah selama ini mereka hidup satu rumah dan berkecukupan, tapi tetap saja mereka tidak bisa melakukan hal-hal tadi? “Apa maksud Eomma? Apa yang akan segera berlalu?”

Hae Ra tidak segera menjawab. Ia seperti mengumpulkan semua kekuatannya untuk mengatakan sesuatu pada Yuri. “Eomma akan mengajukan permohonan cerai dengan ayahmu.”

Kepala Yuri seperti mendapat hantaman palu raksasa saat mendengar pernyataan ibunya. Ia tidak percaya dengan pendengarannya. “Maldo andwe,” gumamnya.

Mendengarkan dari celah pintu kamar Yuri yang tidak tertutup sempurna, Yoona juga sama kagetnya dengan kakaknya. Dia baru saja akan masuk ke kamarnya dan merasa aneh melihat pintu kamar Yuri sedikit terbuka. Ia memutuskan untuk memeriksa kamar Yuri dan mendapati ibunya dan Yuri sedang bicara. Yoona memang hanya mendengar bagian bahwa ibunya akan menceraikan ayahnya, tapi itu sudah cukup untuk membuat kakinya goyah. Kata-kata Hae Ra selanjutnyalah yang berhasil membuah kakinya benar-benar kehilangan kekuatan untuk berdiri.

“Eomma akan mengambil separuh kekayaan keluarga ini lalu kita berdua pergi dari tempat ini,” lanjut Hae Ra.

Yoona terduduk di balik pintu kamar Yuri. Mendengar ibunya berniat menceraikan ayahnya sudah cukup membuat hatinya seperti ditusuk pisau. Ditambah lagi ternyata ia tidak ada di dalam rencana hidup sang ibu. Ibunya hanya akan pergi bersama Yuri dan meninggalkannya sendiri. Seluruh dunia seperti runtuh dan menimpanya. Ia merasa tidak diinginkan, ditolak, dan terbuang. Setelah Siwon, kini ibunya sendiri yang menolak keberadaannya. Yoona menguatkan kakinya untuk berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamar menuju kamar mandi. Ia menyalakan keran bathtub, keran wastafel, dan keran shower sekaligus. Kakinya tidak bisa lagi menopang tubuhnya yang kecil. Ia terduduk di samping bathtub. Tangisnya yang ia tahan sejak tadi akhirnya pecah. Yoona tidak peduli lagi tubuhnya akan kedinginan karena percikan air dari shower membasahi pakaiannya.

Siwon masih memandang rumah Yoona dari kejauhan. Menebak-nebak di ruang mana Yoona tidur dan belajar. Rasa bersalahnya pada Yoona membuat ia sedikit banyak memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan gadis itu. Siwon sudah cukup lama mengenal Yuri dan mengetahui latar belakang keluarganya. Saat mabuk, Yuri sering meracau tentang masalahnya. Dari situlah Siwon tahu banyak tentang keluarga Im yang sebenarnya tidak harmonis. Yuri beberapa kali menyebut tentang adik tirinya yang tinggal di Amerika. Mengatakan bahwa sebenarnya adiknya adalah anak yang baik, tapi ia membencinya karena merasa sang ayah lebih menyayangi adiknya daripada dirinya.

Mungkin Siwon sedikit memahami apa yang Yoona rasakan karena ia juga tidak berasal dari keluarga yang sempurna. Ibunya meninggalkannya begitu saja. Sebenarnya ia sama sekali tidak membenci Yoona. Ia hanya tidak suka dengan tingkah manja dan kekanakan Yoona. Ponsel Siwon tiba-tiba saja bergetar. Ia mengambilnya dan membaca nama yang tertera di layar. “Yeobseyo, Aboeji.”

“Siwon-ah,” suara Choi Ki Ho seperti orang baru berlari. “Kau di mana, Siwon-ah?” engahnya.

Siwon sedikit heran dengan suara ayahnya yang terengah-engah. “Aku masih di jalan, aku akan segera pulang. Ada apa dengan suaramu, Aboeji? Aboeji ada di mana?”

Choi Ki Ho kembali terengah. “Jangan pulang ke rumah malam ini. Menginaplah di rumah Leeteuk. Malam ini Aboeji tidak pulang. Ingatlah, kau jangan pulang ke rumah malam ini,” pesannya.

Perasaan Siwon tidak enak mendengar perintah ayahnya. “Aboeji, apa yang terjadi?”

“Turuti perkataanku. Aboeji tidak bisa bicara sekarang. Aboeji harus segera pergi. Berhati-hatilah.” Choi Ki Ho menutup telepon tanpa menunggu jawaban Siwon.

Hati Siwon semakin tidak enak. Ia berusaha keras memikirkan apa yang sedang terjadi pada ayahnya. Ia heran mendengar suara napas ayahnya yang terengah-engah. Pekerjaan ayahnya bukanlah sesuatu yang berhubungan dengan kejahatan atau apapun yang membuatnya bisa dikejar-kejar seseorang. Beberapa hari terakhir ayahnya selalu sibuk mengantar Tuan Jang pergi. Apa terjadi sesuatu pada Tuan Jang? pikirnya frustasi. Sial, sebenarnya apa yang terjadi, Aboeji?

-TBC-

Yoonwon benrantem, please jangan pada kesel yaa yaa yaaa… ini adalah ujian cintanya mereka. Kalo mereka sanggup kan cinta mereka bakal jadi lebih kuat. Hehehe. Lagi2 saya ucapin terima kasih buat admin yang udah publish ini ff ngga jelas. Kalo ada typo harap maklum ya. Semoga ngga mengecewakan. Jangan lupa RCL. *kedip2*

Tinggalkan komentar

274 Komentar

  1. raratya19

     /  Oktober 18, 2015

    semoga rencananya ibunya yuri gagal, dan sebnarnyya ada hubungan apakah antara ayah siwon dengan ayah yoona?

    Balas
  2. YoongNna

     /  Februari 21, 2016

    Makin seru aja niii crtanya…
    Kshan yoona cuma appanya yg sayang dan yuri jg sbrnya syng ma yoona cuma ngrasa iri aja jdi gengsi..
    Aduuuhh kira2 ada apa yaaa dg appanya siwon mkin pnsran aja nii

    Balas
  3. vitrieeyoong

     /  Maret 7, 2016

    Masalah keluarganya numpuk bnget. Semuanya sailing berkaitan. Dunia sempit!
    Yul eonni gengsian amat,
    Siwon dewasa
    Going msih kya bocah
    Ibunya Yul eonni jhat, knpa?
    Next!!!

    Balas
  4. Nadila sari pramahesti

     /  Juli 10, 2016

    skrang mulai tahu knpa yoona bisa mengenal ibunya siwon.

    kasihan yoona dia menderita banget,dibalik sikap cerianya ternyata ia memendam kesedihan. smoga siwon bisa baik sama yoona

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: