[FF] THE PRINCESS’ LOVE (PART 2)

1011557_213562292162098_1964774670_n

THE PRINCESS’ LOVE (PART 2)

Author             : Indah (bianglalala27@gmail.com)

Type                : Chapter

Main Cast        : Choi Siwon, Im Yoona

Support Cast   : Leeteuk, Kim Taeyeon, Kwon Yuri, Kim Jong Woon, Seo Jo Hyun, Lee Donghae, etc

Genre              : School Life, Romance, Friendship

Rating             : 13+

 

 

Annyeong.. Saya mau ngucapin beribu terima kasih dulu buat admin Echa dan Resty yang sudah mau repot2 publish ff pertama saya yg ngga jelas ini. Juga buat readers budiman yang sudah RCL di part 1. Oiya, untuk part kemarin ada yang mengkaitkan dengan The Heirs. Sebenarnya ide cerita ini muncul waktu nonton drama itu. Gara2 kebanyakan drama yang saya tonton pemeran ceweknya miskin dan si cowok kaya raya, saya pengen bikin kebalikannya gitu, eh, taunya jadi begini. Selain itu sisanya adalah murni karangan tingkat tinggi saya yang suka ngaco. Maaf ya kalo jelek. Buat Siwonest, maaf ya Siwon saya bikin sederhana di ff ini. Juga buat Yoonaddict, Yoona saya bikin jadi centil. Untuk yoonwon momentnya saya minta maaf (lagi), mungkin di part2 awal sepertinya belum bisa bikin banyak karena ceritanya mereka baru merasakan sedikit getaran2 gitu deh. Udah ah, segitu dulu. Happy reading… ^ ^

 

PART 2

Mobil sport keluaran Eropa itu berhenti di lampu merah. Di dalamnya terdapat seorang siswa Hyundai yang duduk di belakang kemudi dan seorang pria paruh baya di sampingnya. Pemuda itu melihat spion, merapikan anak rambutnya, dan membenarkan posisi name tag-nya. Dia adalah Lee Donghae. Salah satu siswa paling berpengaruh di Hyundai karena kekayaan dan kekuasaan ayahnya. Saat lampu berubah hijau, dia langsung menginjak gas sehingga mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Pria paruh baya di samping Donghae menjadi agak ketakutan.

“Tuan, Anda tidak perlu terburu-buru seperti ini. Anda tidak akan terlambat, Tuan,” kata pria paruh baya itu hati-hati, takut tuannya tersinggung.

“Tenang saja, aku sudah mahir menyetir. Aku hanya sedang mencoba sampai di mana kemampuan mobil ini,” ujar Donghae santai. “Kau seharusnya bersyukur karena aku menggantikan pekerjaanmu ini. Tidak semua orang mendapat kesempatan sepertimu.”

Pria paruh baya yang ternyata adalah supirnya itu hanya bisa pasrah. Terlalu berbahaya baginya bila sampai menyanggah seorang Lee Donghae. Donghae memaksa menyetir sendiri meski ia mempunyai supir pribadi dan belum mendapat surat izin mengemudi.

Mereka semakin dekat dengan sekolah. Setelah melewati bengkel tempat Leeteuk menitipkan mobilnya, Donghae dapat melihat Siwon sedang bicara pada seorang anak perempuan. Sebuah senyum licik tergambar di wajah Donghae saat melihat anak perempuan yang bersama Siwon berjalan mundur melewati trotoar dan turun ke aspal. Dia sedikit membelokkan arah mobilnya sampai berada di satu garis lurus dengan anak perempuan itu tanpa mengurangi lajunya.

“Tuan, apa yang Anda lakukan? Anda akan menabrak anak itu,” kata supir Donghae panik. Tapi si badung Donghae justru semakin menikmati keadaan seperti ini.

Sayangnya, Siwon menyadari apa yang akan Donghae lakukan. Dia lalu menarik anak perempuan di depannya tepat sebelum mobil Donghae melintas dan mencelakainya.

“Hampir saja,” desah Donghae begitu melewati Siwon. Dia memukul kemudinya, melampiaskan rasa kecewa karena kegagalannya. Tidak ada rasa menyesal di wajahnya. Mengganggu Choi Siwon adalah hal yang menjadi salah satu hobinya.

Sementara itu, Siwon yang baru saja menyelamatkan Yoona dari kegilaan Donghae, tengah mengalami kecanggungan setelah matanya dan mata Yoona bertatapan selama beberapa detik. Ia baru menyadari tangannya masih memeluk tubuh Yoona dan cepat-cepat melepaskannya. Baru kali ini Siwon berada begitu dekat dengan seorang perempuan. Yoona juga merasa agak kikuk. Dia mengelus dadanya, berusaha membuat jantungnya kembali berdetak normal.

“Tadi itu hampir saja,” Leeteuk mendekat dan memecahkan keheningan di antara Siwon dan Yoona. “Dia selalu mencari masalah,” lanjutnya sambil menatap ke arah mobil Donghae menghilang. “Kalian berdua tidak apa-apa?”

“Ayo pergi,” ajak Siwon yang juga tengah berusaha menenangkan dirinya. Dia merangkul Leeteuk lalu berjalan meninggalkan Yoona yang masih terdiam.

Leeteuk menoleh pada Yoona, “Kami pergi dulu. Sampai jumpa.”

Tapi sepertinya ucapan Leeteuk tidak sampai di telinga Yoona yang masih sibuk dengan pikirannya. Kenapa aku berdebar seperti ini? Bukan karena mobil yang hampir mencelakaiku, tapi karena tatapan Siwon Sunbae. Kenapa seperti ini? pikirnya. Dia memandang sekelilingnya, menyadari bahwa ia kembali ditinggalkan seperti tadi. “Sunbae! Kenapa meninggalkanku? Kubilang tadi kita berangkat bersama,” teriaknya marah pada Siwon yang sudah agak jauh di depannya. “Ish, menyebalkan sekali.”

***

 

Presdir Im Tae San dan istrinya baru saja menyelesaikan makan paginya dengan salah satu rekan bisnis mereka. Kini mereka tengah berada di perjalanan menuju gedung kantor utama Grup A yang ada di Gangnam.

“Kau harus meluangkan waktu sedikit untuk kedua putrimu,” Presdir Im memecah keheningan. “Yuri hampir menyelesaikan kuliahnya, sedangkan Yoona baru pindah. Kau temanilah mereka. Kurangi kesibukanmu.”

Yoon Hae Ra mendengus. “Bukankah kau juga orang tua mereka?” Hubungan suami istri ini memang tidak seperti pasangan umumnya. Mereka bertahan lebih karena itulah satu-satunya cara untuk mempertahankan perusahaan. Tidak ada lagi perlakuan romantis di antara keduanya.

“Laki-laki itu, Kim Jong Woon, kita tidak bisa membiarkannya begitu saja,” Presdir Im menyebut nama pacar Yuri selama setahun terakhir. “Keluarga Kim memiliki hutang yang cukup besar. Aku curiga dia mendekati Yuri hanya karena Yuri adalah pewaris Grup A. Bila mereka menikah, Grup A akan ikut terseret bersama perusahaan mereka. Ini akan menguntungkan pihak mereka, tapi tidak untuk kita. Ini akan menjadi musibah.”

“Yuri tidak akan sebodoh itu. Dia bisa menentukan dengan siapa dia harus bergaul. Cepat atau lambat, mereka akan berpisah.” Mereka berdua kembali terdiam. Selain di depan umum, mereka jarang sekali berinteraksi.

“Ah, dan Yoona. Kau sudah menemuinya?”

“Mengapa kau tidak menemuinya sendiri? Dia anakmu,” ketus Hae Ra.

“Dia juga anakmu.”

Hae Ra tersenyum sinis. “Aku hanya memiliki satu orang anak. Im Yuri.”

Presdir Im tahu bahwa Yoon Hae Ra keras kepala. Hanya saja, setelah bertahun-tahun, ia ternyata masih sama, tidak mau mengakui bahwa Yoona juga anaknya. Mungkin sudah saatnya Im Tae San berhenti memohon pada Hae Ra untuk memperlakukan Yoona seperti ia memperlakukan Yuri. “Baiklah. Mulai sekarang, Yoona akan menjadi tanggung jawabku sepenuhnya. Dia juga yang nantinya akan menggantikan posisiku.”

“Mwo? Kau sedang mengancamku?” Yoon Hae Ra kaget mendengarnya. Dia merasa diperlakukan tidak adil. “Mengapa dia? Yuri adalah anak pertama keluarga Im. Bagaimana bisa kau memberikan posisimu pada anak itu?” Yoon Hae Ra sepertinya sangat marah. Dia bahkan tidak mau menyebut nama Yoona. Yoona memang bukan anak kandung Hae Ra. Semua orang di rumah, kecuali Yoona, mengetahui hal itu. Selama ini Hae Ra bekerja begitu keras agar ia bisa menguasai kekayaan suaminya dan mewariskannya pada Yuri. Hanya pada Yuri.

“Yuri tidak akan mendapat apapun kalau dia terus-terusan bermain-main seperti saat ini. Dia bahkan tidak pernah menunjukkan ketertarikannya pada perusahaan. Aku akan memberikan posisiku padanya jika dia bisa membuktikan bahwa dia lebih baik daripada Yoona.”

***

 

Yuri ternyata tidak pergi ke kampus. Ia membawa mobilnya masuk ke salah satu apartemen mewah di Gangnam. Setelah memarkir mobilnya, Yuri masuk ke dalam lift. Lift itu membawanya  ke lantai enam apartemen. Begitu sampai di pintu tujuannya, ia langsung memencet password apartemen yang sudah ia hafal di luar kepala. Yuri masuk dan memeriksa sekeliling ruangan. Ruangan itu masih gelap karena tirai-tirai jendela masih tertutup dan lampunya juga padam.

“Apa dia belum bangun?” gumam Yuri. Ia masuk ke dalam salah satu kamar dan mendapati seseorang tengah terlelap di ranjang di tengah kamar. Yuri sedikit berjingkat mendekati ranjang. Sesampainya di tepi ranjang, ia berjongkok, menyejajarkan wajahnya dengan orang yang sedang tidur. “Oppa, ireona! Jong Woon Oppa!” Yuri mengecup bibirnya singkat, membuat pria itu bangun dari tidurnya.

“Ah, chagi, sedang apa kau di sini? Aku masih ngantuk,” kata Jong Woon parau sambil menyibak selimut yang menutupinya. Ia kini bersandar di kepala tempat tidur dan menarik Yuri duduk di sampingnya. Yuri patuh, ia menyandarkan kepalanya di dada Jong Woon.

“Ayo kita jalan-jalan,” pintanya manja. “Besok kan oppa mulai bekerja. Oppa pasti akan sibuk dan mengabaikanku.”

“Justru karena besok aku sudah mulai bekerja, hari ini akan kuhabiskan untuk tidur. Siapa tahu besok aku harus lembur, makanya aku harus menabung jam tidur dulu.”

“Oppa, tidak ada orang yang lembur di hari pertamanya bekerja.”

Jong Woon tersenyum melihat tingkah Yuri yang manja. “Jangan manja, kau sudah besar. Kita tidur saja lagi. Kau sudah terlalu sering jalan-jalan.”

Yuri merengut kesal. Dia memang sangat manja bila sudah berhadapan dengan Jong Woon. Dari luar Yuri terlihat seperti wanita berkelas yang anggun dan sombong. Tapi di dalamnya ada rasa kesepian yang membuatnya selalu ingin diperhatikan. Jong Woon tahu itu. Dan dia tidak pernah keberatan dengan sikap manja Yuri.

“Aku akan mencari pria lain kalau begitu,” Yuri beranjak dari duduknya, berusaha memancing Jong Woon agar menuruti keinginannya.

“Kau berani melakukannya?” Jong Woon segera menarik Yuri agar kembali ke tempatnya semula. Dia memeluk Yuri erat-erat, menjadikannya sebagai guling.

“Oppa, lepaskan! Kau membuat bajuku jadi kusut,” teriak Yuri kesal. Ia memberontak, berusaha melepaskan diri dari pelukan Jong Woon.

Jong Woon mengacuhkannya. “Sudah kubilang kita tidur saja. Sebentar saja, eoh?”

Pergumulan itu dimenangkan oleh Jong Woon. Setelah Yuri agak tenang, Jong Woon sedikit melonggarkan pelukannya. Mereka saling menatap, menelusuri setiap inci wajah masing-masing.

“Oppa,” bisik Yuri.

“Emm?”

“Saranghae.”

Jong Woon tersenyum bahagia mendengarnya. Baginya, suara yang paling merdu adalah ketika Yuri mengatakan cinta padanya. “Nado saranghae.”

“Berjanjilah, Oppa. Kalau kau akan selalu bersamaku.”

“Yakso. Ayahmu, ibumu, atau siapapun, tidak akan pernah menghentikan cintaku.”  Jong Woon meraih dagu Yuri lalu mencium bibirnya lembut. Yuri menyambutnya. Baginya Jong Woon adalah rumahnya. Rumah yang di dalamnya ada kehangatan, kesejukan, kenyamanan, dan penuh dengan cinta. Jong Woon adalah tempat di mana Yuri akan selalu kembali, tidak peduli saat panas maupun hujan, siang ataupun malam. Yuri merasa dia tidak membutuhkan apapun selain Jong Woon. Keinginannya hanya melanjutkan hidupnya bersama Jong Woon, tanpa harus memikirkan inflasi yang akan mempengaruhi perusahaannya, karyawan yang mogok kerja, atau jatuhnya saham perusahaan mereka.

***

 

 

Yoona berjalan di koridor sambil menghentak-hentakkan kakinya, melampiaskan kekesalannya pada Siwon. Bagaimana bisa seorang Siwon mengacuhkannya? Dia tahu tidak semua orang menyukainya, tapi tidak ada yang terang-terangan seperti Siwon. Yoona sudah terbiasa dengan orang-orang yang bersikap manis padanya, meski itu hanya sandiwara. Paling tidak itu menunjukkan kalau mereka takut pada Yoona.

Dari arah berlawanan, Seo Jo Hyun tengah kesulitan membawa setumpuk kertas. Ia bertabrakan dengan seorang siswa, membuat kertas-kertas itu berterbangan ke lantai. Jo Hyun mendengus kesal. Ternyata yang menabraknya adalah Lee Donghae. Mengetahui fakta bahwa Lee Donghae seorang pengacau di sekolah, Jo Hyun memilih membiarkannya berlalu daripada harus berurusan dengannya. Dia memungut kertas-kertasnya yang berserakan. Tiba-tiba saja dia mendengar Donghae berteriak.

“Siapa yang melemparku?” katanya marah. Ternyata seseorang telah melempar punggungnya dengan sepatu. Selama ini, tidak ada yang berani padanya, bahkan hanya sekedar menyangkal omongannya. Ia begitu marah karena ada yang melemparnya dengan sepatu. Beberapa anak yang berada di sekitar tempat itu ketakutan melihat Donghae yang sedang marah.

Seo Jo Hyun memandang berkeliling, ikut mencari siapa pelempar sepatu itu. Penasaran pada orang yang begitu berani, atau mungkin bodoh, hingga melempar sepatunya pada Donghae. Sepintas dia melihat Yoona, yang hanya memakai sebuah sepatu. Jo Hyun menutup mulutnya tidak percaya. Tak mengerti dengan apa yang Yoona pikirkan sampai-sampai melakukan tindakan seperti itu. Dia dan siswa lain tidak akan pernah mengganggu ketenteraman Donghae, demi kelangsungan hidup mereka kelak. Jo Hyun berniat membawa Yoona pergi, tapi terlambat. Donghae sudah melihat Yoona yang hanya memakai satu sepatu di kakinya. Dengan membawa sepatu yang baru saja menabrak punggungnya, ia berjalan mendekati Yoona. Di arah yang berlawanan Yoona berdiri santai sambil melipat tangannya di dada.

“Apa maksudmu?” Donghae mengangkat sepatu Yoona, memamerkannya di hadapan gadis itu.

“Minta maaf.”

Donghae terbelalak mendengar ucapan Yoona. “Orang yang terkena lemparan sepatu adalah aku,” desisnya.

Yoona menunjuk Jo Hyun yang ada di belakang Donghae. “Minta maaf padanya.”

Mengikuti arahan Yoona, Donghae menoleh ke belakang, mendapati Jo Hyun yang tengah memandang gugup ke arah mereka. Donghae kembali menatap Yoona. “Dia sepertinya tidak keberatan. Kenapa kau harus? Apa kau ibunya?”

Wajah Yoona tidak menggambarkan ekspresi apapun. Dia tidak tahu menahu tentang reputasi Donghae di sekolah. “Minta maaf. Atau paling tidak kau harus membantunya membereskan itu semua.”

Donghae memperhatikan Yoona dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sekilas melihat name tag Yoona. Jadi ini putri konglomerat itu, kata Donghae dalam hati. Dia juga menyadari kalau Yoona adalah gadis yang bersama Siwon yang hampir ditabraknya pagi tadi. Sebuah pikiran aneh terlintas di kepalanya. Yoona cantik, dengan kepribadian yang menarik, tidak seperti kebanyakan gadis yang ia kenal. Sepertinya akan sangat menyenangkan jika ia bisa bersama Yoona. “Aku tidak akan minta maaf. Aku juga tidak akan membantunya.” Donghae berjongkok, lalu mengambil kaki Yoona yang tak bersepatu.

“Kau mau apa?” tanya Yoona heran.

Donghae mendongak dan tersenyum. Tidak menjawab pertanyaan Yoona. Secara mengejutkan, Donghae memasangkan sepatu Yoona. Tindakan yang menurut Donghae akan menbuat gadis-gadis jatuh cinta padanya. Semua orang langsung berbisik-bisik melihat adegan itu. Yoona diam saja. Dia tengah berusaha mencerna orang seperti apa yang menjadi lawannya itu. Diam-diam, Donghae tersenyum licik, puas dengan apa yang baru dilakukannya. Dia bangkit begitu menyelesaikan pekerjaannya. “Jangan melemparku lagi. Lain kali aku tidak akan berbaik hati padamu,” bisiknya di telinga Yoona. Matanya tertuju pada seseorang yang berada tidak jauh di belakang Yoona yang sejak tadi menyaksikan kejadian itu. Choi Siwon. Donghae pergi meninggalkan Yoona menuju tempat di mana Choi Siwon berada.

“Kau tidak terluka?” tanya Donghae begitu sampai di hadapan Siwon yang sedang bersandar di dinding. Siwon tidak menjawab, hanya balas menatap Donghae tajam dan menunggu kata-kata selanjutnya. “Sayang sekali, aku berharap kau sedikit lecet. Im Yoona pasti akan tersentuh melihatnya.”

Siwon sebenarnya heran dengan sikap Donghae padanya. Sejak awal Donghae sudah menjadi musuhnya. Selalu membuat Siwon menjadi bahan ejekan teman-teman sekelasnya. Menurut Siwon kebencian Donghae padanya mungkin karena kecerdasan yang dimiliki otaknya. Mereka selalu bersaing untuk berada di tempat pertama. Donghae selalu kalah. Biasanya Siwon bersikap cuek dan tidak peduli saat Donghae mengganggunya, selama itu hanya melibatkan mereka berdua dan tidak merugikan siapapun. Tapi, kali ini Donghae sepertinya berpikir akan menarik Yoona ke pertarungan mereka karena menganggap Yoona dan Siwon memiliki hubungan. Dan Siwon tidak menyukai ide itu. “Berhentilah. Aku tak tahu apa tujuanmu tapi jangan libatkan siapapun. Kau membenciku, aku juga membencimu. Jadi…”

“Im Yoona sangat cantik,” potong Donghae. “Aku hanya berniat membuatnya jatuh cinta padaku, bukan melibatkannya pada urusan kita.” Donghae sedikit merapikan kerah baju Siwon sebelum pergi dengan senyum penuh kemenangan. Dendamnya pada Siwon mungkin akan segera terbalas. Dia meyakini memang ada sesuatu antara Yoona dan Siwon. Ucapannya tadi memang benar, tentang Yoona yang cantik dan ide menjadikan Yoona pacarnya adalah hal yang menarik. Sedangkan mengalahkan Siwon dalam memperebutkan hati seorang gadis sudah jelas adalah bonus yang sangat spesial untuknya.

Siwon sibuk mereka-reka apa yang Donghae pikirkan. Lagi-lagi gadis itu, batinnya. Siapa sebenarnya dia? Bahkan semua urusanku kini berkaitan dengannya.

 

Sementara itu, Yoona sibuk menggerutu. Ia membawakan setengah kertas-kertas milik Jo Hyun yang ternyata lumayan berat.

“Kau tidak perlu melemparnya seperti tadi,” sesal Jo Hyun. “Kau akan dapat masalah.”

“Mengapa kau selalu mengatakan aku akan punya masalah? Aku akan baik-baik saja. Kau harusnya menyuruhnya minta maaf, kenapa malah diam? Dia akan terus bersikap seenaknya kalau kau terus begini,” Yoona menceramahi Jo Hyun.

Jo Hyun tergelak. Ironis rasanya mendengar kalimat seperti itu terlontar dari mulut seorang Im Yoona. “Bukannya kau juga seperti dia, Lee Donghae itu.”

Langkah Yoona sedikit melambat. Ia sadar dirinya juga sering bersikap sesuka hati. Tapi dasar Yoona. Ia bukan orang yang mudah mengaku kalah, apalagi di depan orang yang baru dikenalnya. “Tapi aku satu-satunya yang membantumu. Mereka hanya sibuk melihatmu memungut kertas-kertas sial ini. Tentu saja aku berbeda dari orang itu.”

Jo Hyun tersenyum dan mengangguk. “Nde. Kau berbeda dengan Lee Donghae.”

Senyum Yoona mengembang. Dia memang masih sangat kekanakan dan mau menang sendiri. “Apa ini?” tanya Yoona sambil menatap kertas yang dibawanya. “Kenapa kau membawanya sendiri? Ini berat. Apa kau tidak punya teman?”

Jo Hyun rasanya ingin menangis mendengar pertanyaan Yoona. Bukan karena pertanyaan Yoona yang tidak sopan, tapi karena fakta bahwa dia memang tidak punya teman. Ia sudah cukup sedih menerima kenyataan itu tanpa satu orang yang mengingatkannya lagi. Jo Hyun mempercepat langkahnya tanpa menjawab Yoona. Sebisa mungkin menghindar dari topik yang cukup sensitif baginya. “Cepatlah, aku buru-buru.”

“Kenapa dia?” gumam Yoona. Tiba-tiba Yoona menyadari sesuatu. Dia sadar kalau yang baru ia katakan telah menyakiti Jo Hyun. Topik tentang teman sepertinya sangat sensitif bagi Jo Hyun karena Yoona selalu melihat anak itu seorang diri. Dan bicara dengan yang lain kalau ada hal yang benar-benar penting. Entah mengapa, dia merasa bersalah atas tindakannya. Sedikit heran dengan dirinya sendiri yang biasanya egois dan cuek, kini mendadak jadi begitu peduli dengan perasaan Jo Hyun.

“Sedang apa kau di sana?” panggil Jo Hyun. “Cepatlah.”

“Jo Hyun, mianhe,” ucap Yoona. Dia menyadari ada kesamaan dirinya dengan Jo Hyun. Mereka tidak punya teman dan selalu sendiri. Yoona boleh saja selalu dikelilingi puluhan orang, tapi tidak ada yang benar-benar mengenalnya. Mereka hanya berpura-pura dekat, pura-pura tertawa, dan pura-pura bahagia saat bersamanya. Sayangnya mereka bahkan tidak ada yang sekedar pura-pura sedih atau menangis ketika Yoona sedang menderita. Mereka justru akan benar-benar bahagia.

“Gwenchana, aku memang tidak punya teman.” Jo Hyun mengamati Yoona. Menurutnya Yoona memang manja dan tidak sopan. Tetapi di saat bersamaan, Yoona juga tegas, keras kepala, dan sangat berani. Dan tanpa Yoona sadari, dia sebenarnya sangat peduli pada orang di sekitarnya. Diam-diam Jo Hyun tersenyum. Bersyukur karena sifat Yoona yang dulu pernah ia kenal masih ada walau tertutupi tingkahnya yang menyebalkan.

 

Siwon duduk sendiri di meja di sudut kantin tempat ia biasa makan bersama Leeteuk. Ia tengah memikirkan kejadian dua hari terakhir. Tentang Yoona yang tiba-tiba hadir dan mengajaknya berkencan, tentang bagaimana bisa Yoona menyukainya di pertemuan pertama mereka, tentang Donghae yang selalu saja mengusiknya, serta pipi Taeyeon yang memerah mendengar rayuan Leeteuk. Siwon menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran itu. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu memandang foto Taeyeon yang tengah tertawa lebar yang diam-diam ia simpan. Sejak dulu, Siwon sudah menyimpan rasa suka pada gadis itu. Dia sangat menyukai tawa riang Taeyeon, omelannya, atau ejekan-ejekan yang Taeyeon lontarkan untuk Siwon. Sayangnya Siwon terlalu takut untuk mengungkapkan perasaannya. Ia sendiri tidak yakin Taeyeon juga menyukainya mengingat Taeyeon selalu salah tingkah bila di depan Leeteuk.

“Who is she? Your sister?” Yoona tahu-tahu sudah berdiri di belakang Siwon ikut memperhatikan potret di ponsel Siwon.

Siwon tersentak, dengan gugup membalik ponselnya agar Yoona tidak bisa melihat lagi. Ia sangat takut orang lain mengetahui perasaan sukanya pada Taeyeon. Yoona menahan tawanya melihat ekspresi Siwon yang mirip orang yang ketahuan mengintip.

“Jawab aku, Sunbae,” tanpa dipersilakan Yoona sudah duduk di samping Siwon.

“Apa urusanmu? Pergilah,” Siwon bersikap dingin untuk menutupi kegugupannya.

“Tentu saja urusanku. Aku harus mengenal seluruh keluargamu karena mereka juga akan jadi keluargaku.”

Siwon tertawa singkat mendengar perkataan Yoona yang kelewat naif, membuat Yoona terpana. Ini pertama kalinya ia melihat tawa seorang Choi Siwon. Menurut Yoona, ketampanan Siwon bertambah seratus kali lipat saat dia tertawa.

“Lebih baik kau belajar. Jangan pikirkan hal yang aneh-aneh seperti itu,” Siwon pergi meninggalkan Yoona.

“Sunbae!” panggilnya namun Siwon tidak menyahut. Bibir Yoona mengerucut, menandakan dia kesal. Kepalanya ia letakkan di meja. “Mengapa kau begitu dingin, Sunbae? Padahal aku hanya ingin berterima kasih. Membuat frustasi saja,” racaunya.

“Kau ini kenapa? Suka sekali duduk di sini,” hardik Leeteuk. Ia duduk di depan Yoona. “Ah, pasti karena ada kau jadi Siwon pergi,” keluhnya.

“Sunbae, kenapa kau jadi menyalahkanku?” kata Yoona tak terima. “Aku hanya ingin berterima kasih padanya. Bagaimanapun juga dia sudah menolongku.”

Leeteuk tersenyum tidak percaya. “Jinja? Ternyata kau tahu hal-hal seperti itu juga.”

“Sunbae, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu.” Yoona kembali menjatuhkan kepalanya di meja, tidak peduli Leeteuk sudah mulai makan.

“Ya! Rambutmu bisa masuk ke makananku,” protes Leetuk. Melihat Yoona diam saja, Leeteuk akhirnya mengalah. Sepertinya Yoona memang sedang tidak bisa diajak bercanda. Dia sedikit menggeser piringnya agar terhindar dari rambut Yoona. “Soal tadi pagi, kurasa kau tidak perlu berterima kasih. Orang itu, Lee Donghae, hanya ingin mengganggu Siwon saja. Dia tidak benar-benar serius ingin menabrakmu.”

Kepala Yoona langsung terangkat. “Kau bilang Lee Donghae? Dia yang tadi pagi hampir mencelakaiku?”

“Oh, kau sudah mengenalnya?” Leeteuk lalu menceritakan bagaimana buruknya hubungan Siwon dan Donghae, serta dugaan Donghae yang mengira ada sesuatu antara Siwon dan Yoona. “Tapi kenapa aku menceritakannya padamu? Kau bahkan bukan temanku,” gumam Leeteuk heran. Entah kenapa dia jadi begitu terbuka pada Yoona. Sikap Yoona yang selalu blak-blakan sepertinya menular padanya. Dengan santainya ia bercerita pada Yoona seperti mereka sudah saling mengenal sejak lama. Mungkin karena ia merasa Yoona harus mengetahui hal itu, agar Yoona bisa mengantisipasi apa yang mungkin akan Donghae lakukan terhadapnya.

Yoona kini mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa Siwon si anak beasiswa memiliki musuh seorang Lee Donghae yang kaya raya, sombong, angkuh, dan kasar. Tapi mengapa? Apa yang menjadi alasan Donghae begitu memusuhi Siwon? Yoona sangat yakin meski Siwon dingin dan acuh, dia bukan orng yang suka mencari masalah. Dan Yoona punya firasat bahwa perlakuan romantis Donghae padanya juga memiliki kaitan dengan Siwon. “Aku tidak akan membiarkannya hidup tenang. Dia benar-benar sudah mencari masalah denganku,” kata Yoona.

Leeteuk heran melihat sikap Yoona yang tiba-tiba ikut memusuhi Donghae. “Mengapa kau berkata seperti itu?”

“Musuh Siwon Sunbae akan menjadi musuhku juga.”

Lagi-lagi Leeteuk dibuat menganga takjub akan sikap Yoona. Gadis ini memiliki segalanya yang diinginkan semua orang. Tapi mengapa ia jatuh cinta setengah mati pada orang seperti Siwon? “Sebenarnya apa yang membuatmu begitu menyukai Siwon?” Leeteuk sudah tidak peduli kalau ia menanyakan hal yang tidak sopan karena rasa penasarannya jauh lebih besar.

Wajah Yoona menjadi serius. “Ada banyak hal yang membuatku menyukainya, Sunbae.”

***

 

Saat Yuri kembali ke rumah, hari sudah menjelang malam. Ia agak terkejut melihat ayahnya yang biasanya sibuk menyambutnya di ruang keluarga. Presdir Im yang sedang duduk menekuri sebuah buku menoleh melihat Yuri yang baru pulang.

“Dari mana kau?” tanya Presdir Im. Ia menutup bukunya, memberi isyarat pada Yuri untuk duduk.

Yuri menurut. Setelah membungkuk memberi hormat pada ayahnya, ia duduk di sofa mengikuti arahan Presdir Im. “Aku tadi pergi bersama teman-teman, Appa. Sebentar lagi kami lulus, pasti akan sulit bertemu,” kata Yuri sopan. Ia selalu bersikap sopan di depan ayahnya. Beda dengan sikapnya bila hanya sedang bersama Yoona.

Presdir Im menghela napas. “Kau sudah besar, jangan hanya bermain. Sebentar lagi kau akan masuk ke perusahaan. Bermain tidak akan memberikan keuntungan apapun.”

Tenggorokan Yuri tercekat. Sudah sejak lama ia menolak masuk ke perusahaan karena ia ingin berkarir sebagai penyanyi. Tapi tentu saja keinginannya ditolak mentah-mentah oleh kedua orang tuanya. Mereka memaksa Yuri mengambil kuliah bisnis, dan setelah melewati perdebatan panjang, Yuri tidak cukup kuat untuk menang melawan orang tuanya. Menjalani kuliah dengan terpaksa dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain adalah salah satu bentuk protes Yuri. Sayangnya, otak Yuri yang cerdas selalu bisa menjawab semua ujian bahkan bila ia tidak belajar. Dan sekarang Yuri harus kembali menghadapi takdirnya sebagai penerus perusahaan setelah beberapa tahun terakhir ia abaikan.

“Appa, sudah kubilang aku tidak ingin menjadi penerus Appa atau Eomma. Aku tidak menginginkannya,” ucap Yuri. Suaranya bergetar meski ia sudah memberanikan diri untuk mengucapkan kalimat itu. Im Tae San adalah orang yang keras dan tegas. Tidak seorang pun bisa melawan otoritasnya, termasuk Yuri.

“Yuri-ah, aku tidak membesarkanmu untuk melawanku. Pikirkanlah lagi. Appa dan Eomma bekerja sangat keras untuk kalian, kau dan Yoona. Apa kau berniat mengecewakanku? Apa kau akan menghancurkan perusahaan yang telah kami besarkan dengan susah payah? Appa akan memberimu waktu untuk berpikir. Appa harap ku bisa berpikir dengan jernih dan bijaksana.” Itu adalah kata-kata khas Im Tae San untuk membuat lawannya merasa tidak mempunyai pilihan lain selain mengaku kalah.

Yuri merasa sangat marah. Ia beranjak tanpa memberi hormat. Sejak kecil, Yuri sudah bermimpi menjadi seorang penyanyi. Sudah pasti mimpinya itu ditentang oleh kedua orang tuanya. Mereka menganggap menyanyi adalah hobi, bukan sebuah cita-cita. Im Tae San dan Yoon Hae Ra kemudian memasukkan Yuri ke sekolah bisnis dan mendidiknya sangat keras, membuat Yuri merasa tertekan. Ia lalu melampiaskan rasa stresnya pada alkohol. Yuri sudah ingin mengakhiri hidupnya karena tekanan yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Tapi perlahan keinginan itu hilang saat ia bertemu dengan Jong Woon.

***

 

Siwon masuk ke kamarnya dan mengecek jadwalnya. Dua hari dalam seminggu ia menjadi tutor seorang siswa sekolah dasar, tiga hari lainnya ia bekerja paruh waktu bersama Taeyeon di bar milik Leeteuk. Mereka memang masih di bawah umur, tapi karena bantuan Leeteuk mereka berdua bisa bekerja di sana.

Masih satu jam lagi sebelum ia mulai bekerja di bar Leeteuk. Siwon membaringkan tubuhnya di sebuah kasur lipat. Mengistirahatkan sejenak tubuhnya sebelum ia bekerja. Ia meraih dompetnya, mengeluarkan sebuah foto dari dalam sana. Siwon memandangi foto itu lekat-lekat. Seorang wanita paruh baya yang tengah tersenyum. Foto itu sudah agak usang. Pinggirannya agak rusak karena terlalu sering kena gesekan saat Siwon mengeluarkannya dari dalam dompet. Warnanya juga sudah mulai memudar. Tanpa sadar Siwon meneteskan air matanya. Selalu begitu. Air mata Siwon tiba-tiba keluar begitu saja di saat seperti sekarang. Rasa kehilangan, rindu, kesepian, dan perasaan dibuang menyusup ke dadanya. Selama sembilan tahun ia merasakan hal itu, tanpa seharipun terlewat.

“Eomma, oedisseo? Bogoshiposso,” gumamnya.

Ibunya pergi saat ia masih berusia sepuluh tahun. Tidak ada ucapan perpisahan ataupun ciuman selamat tinggal untuknya. Saat ia terbangun di pagi hari rumah biasanya berbau harum karena masakan ibunya. Tapi pagi itu tidak ada bau apapun. Siwon kecil mencari ibunya di seluruh bagian rumah. Tetap ia tidak menemukan siapapun. Ayahnya mungkin sudah berangkat bekerja, itu sudah bisa dipastikan. Namun ibunya yang biasanya selalu membangunkannya dengan penuh kasih sayang setiap hari selama sepuluh tahun hidupnya kini tiba-tiba menghilang. Siwon mencari-cari di sekitar rumahnya. Ibunya selalu meninggalkan pesan jika akan pergi ke luar rumah. Ia tidak menemukan jejak ibunya. Akhirnya Siwon hanya menunggu ibunya pulang dengan penuh kesabaran. Sampai malam tiba, ibunya tidak juga kembali. Siwon sudah sangat putus asa. Seharian ia menunggu ibunya pulang tanpa makan. Tubuhnya sangat lelah dan ia sangat kelaparan. Di rumahnya belum ada telepon, jadi ia tidak bisa menelepon ayahnya yng sedang bekerja. Ketika ayahnya pulang, ia menangis histeris, mengatakan kalau ibunya hilang. Ayahnya tersenyum menenangkan, mengatakan kalau ibunya pergi dan mungkin akan kembali beberapa hari lagi. Siwon kecil mempercayainya meski kecewa karena ibunya tidak berpamitan padanya. Setiap hari Siwon menunggu sang ibu pulang di depan rumah dengan sabar. Ia selalu tidur larut malam, bersiap untuk membukakan pintu bagi ibunya jika tiba-tiba wanita itu pulang. Sayangnya, setelah bertahun-tahun ibunya tidak juga kembali.

Di waktu yang sama Yoona juga tengah memandangi potret di liontin peraknya. Wanita di liontin itu sama persis dengan wanita yang dilihat Siwon di kamarnya. Dia bergantian memandang potret wanita itu dengan seorang anak laki-laki di sisi lain liontinnya.

“Ahjumma, ada berapa banyak orang bernama Siwon di Korea? Mengapa kau hanya memberitahu namanya saja? Bahkan nama keluarganya saja tidak. Bagaimana kalau aku salah orang?” Yoona berbicara seakan-akan foto itu bisa mendengarnya. Ia teringat pada Choi Siwon. Selama di Korea, dia baru mengenal satu orang dengan nama Siwon. Apakah benar Choi Siwon adalah orang yang selama ini fotonya ia simpan? Sayangnya Yoona tidak tahu pasti.

Yoona sudah memegang liontin itu selama sembilan tahun. Selama itu juga, Yoona menyukai anak laki-laki di dalam liontin itu. Yoona hanya tau namanya. Siwon. Tapi entah bagaimana Yoona bisa jatuh cinta hanya dengan melihat foto masa lalu seseorang. Saat bertemu dengan Choi Siwon, Yoona merasakan ada kemiripan antara Siwon kecilnya dengan pemuda itu. Tiba-tiba pikirannya melayang ke waktu ia memergoki Siwon di kantin. Siapa sebenarnya gadis itu? pikirnya. Sampai saat ini, pikirannya berusaha menolak anggapan bahwa Siwon sudah mempunyai kekasih. Dia tidak cukup siap menerima kenyataan cintanya bertepuk sebelah tangan.

Suara pintu yang ditutup dengan kasar mengalihkan perhatian Yoona. Pasti Yuri unnie, pikirnya. Ada apa lagi? Mengapa temperamennya sangat buruk?

Yoona mengalungkan liontinnya, menyelipkannya di balik baju yang dipakainya lalu keluar kamar. Ia pergi ke kamar Yuri yang ada di depan kamarnya. Yoona merasa sedikit khawatir pada Yuri. Biar bagaimanapun, Yuri adalah satu-satunya saudara yang ia punya.

Yoona mengetuk pintu kamar Yuri. “Unnie, kau sudah pulang? Bolehkah aku masuk?”

Karena tidak terdengar jawaban dari Yuri, Yoona memutuskan untuk masuk. Yuri sedang duduk memeluk lutut di lantai dengan bersandar pada tempat tidurnya saat Yoona menegurnya. Ia agak kaget melihat Yoona tiba-tiba ikut duduk di depannya.

“Sedang apa kau?” katanya galak. Yuri paling tidak menyukai saat orang lain melihatnya sebagai gadis lemah.

Yoona cemberut, kesal dengan sambutan Yuri yang mirip anjing penjaga gerbang. Dia sudah akan meluapkan kekesalannya, hanya saja di saat bersamaan Yoona tahu Yuri sedang sedih. Wajahnya yang biasanya bersinar terlihat muram dan tak bercahaya. Sebisa mungkin Yoona mengabaikan rasa kesalnya dan bersikap ramah. “Aku sudah mengetuk pintu, tapi Unnie tidak menjawab. Jadi kupikir Unnie memperbolehkan aku masuk.”

Yuri hanya mendengus. “Ada apa?”

“Apa Unnie sudah makan? Mau kubawakan makanan kemari?”

“Pergilah! Aku sedang tidak ingin melihatmu.”

“Kau terlihat sangat lemah, Unnie,” Yoona berusaha bersabar. “Ayo kita makan bersama!”

“Apa kau tuli? Kubilang keluar!” ketus Yuri.

Emosi Yoona naik lagi, padahal baru beberapa saat yang lalu ia berniat menahannya dan mengabaikan kata-kata Yuri yang kasar. Tapi dasar Yoona, ia memang tidak bisa menyembunyikan rasa marahnya.

“Unnie, kenapa kau begitu padaku? Aku hanya ingin berbuat baik padamu. Aku ingin kita seperti saudara pada umumnya. Tapi sejak kecil kau selalu marah padaku tanpa alasan yang jelas. Kau juga tidak mau bicara padaku. Sebenarnya apa masalahmu? Kita sudah lama tidak bertemu dan kau masih tetap saja sama seperti dulu. Apa aku telah berbuat salah padamu? Kalau begitu katakan apa sebenarnya salahku,” Yoona meluapkan amarahnya.

Yuri sedikit terkejut melihat perubahan tingkah Yoona. Sejak dulu Yoona tidak pernah berkata seperti itu padanya, bahkan saat ia membuat Yoona kesal setengah mati. Terkadang Yuri merasa kasihan pada Yoona, hanya saja ia terlalu gengsi untuk menunjukkannya. Ia tahu Yoona juga pasti menderita sama sepertinya. Terlebih lagi, Yoona harus hidup jauh dari keluarganya sejak masih kecil. Yoona tidak mendapatkan kasih sayang yang semestinya ia dapatkan. Bahkan Yuri tidak pernah menunjukkan perlakuan sebagai seorang kakak. Dia menyadari Yoona sebenarnya masih terlalu kecil dan tidak mengerti apa yang akan terjadi pada dirinya. Dalam hatinya, Yuri tidak menginginkan Yoona menjadi seperti dirinya. Yuri lalu beranjak, mengambil tasnya dan berjalan keluar. “Ayo ikut aku. Kita akan keluar seperti saudara pada umumnya.”

 

Sepanjang perjalanan Yoona sibuk menerka-nerka ke mana Yuri akan membawanya. Ini adalah kali pertama ia dan Yuri pergi berdua. Yoona sama sekali tidak merasa curiga karena meski Yuri terlihat sangat membencinya, ia tahu kakaknya bukan orang jahat yang akan mencelakainya.

Tempat yang dituju Yuri memang bukan rumah tanpa penghuni atau gudang kosong di tengah hutan. Tapi tetap saja tempat itu membuat Yoona menganga tidak percaya. Bagaimana bisa seorang kakak mengajak adiknya yang masih berumur tujuh belas tahun pergi ke sebuah bar malam-malam begini?

Dengan sedikit lobi dari Yuri, petugas keamanan di bar itu mengizinkan Yoona masuk. Tentu saja, mereka sudah mengenal Yuri dengan baik karena Yuri adalah pelanggan di tempat itu sejak dua tahun lalu. Mereka lalu duduk di meja bar. Yoona merasa risih berada di tempat itu meski tempat itu masih sepi mengingat malam belum terlalu larut.

“Berikan aku yang biasa,” Yuri memesan pada bartender yang sedang berdiri membelakangi mereka. Sepertinya ia sedang memilih beberapa minuman untuk diraciknya.

“Unnie, kau sudah sering ke tempat ini?” Yoona agak terkejut mengetahui kakaknya sering pergi ke bar. Dia sibuk memeriksa seluruh sudut tempat itu dengan matanya yang besar.

Yuri melirik Yoona sebal. “Kau pikir aku masih bermain boneka?”

“Ah, Yuri-ssi, kau datang?” sapa bartender tadi yang kini siap melayani Yuri.

Daebakk, bahkan semua orang di sini mengenalnya. Seberapa sering sebenarnya Unnie kemari? Yoona bertanya-tanya dalam hati. Pandangannya kini beralih ke meja bar di hadapannya, membuat ia mendapat kejutan kedua malam ini.

Bartender itu, Choi Siwon, juga terkejut melihat orang yang datang bersama Yuri. Mata Siwon bertemu dengan mata Yoona yang seketika membesar. Dengan konyol gadis itu menggosok-gosok kedua matanya, mengira dirinya sudah gila karena selalu memikirkan Siwon. Bahkan berhalusinasi melihat Siwon kini sedang berada di hadapannya.

“Kau ini kenapa, eoh?” tanya Yuri heran, sedikit kesal melihat tingkah konyol Yoona.

“Unnie, siapa dia?” Yoona menunjuk Siwon.

Dalam hatinya, Siwon tertawa melihat tingkah Yoona. Awalnya ia mengira Yoona datang untuk mencarinya, tapi melihat keterkejutan Yoona saat melihatnya, Siwon tahu kalau Yoona memang tidak datang untuk menemuinya.

“Mengapa kau bertanya? Sudah jelas ia seorang bartender.”

“Aku akan membuat pesananmu, Yuri-ssi. Tunggu sebentar,” Siwon pura-pura tidak mengenal Yoona.

“Nde. Gomawo, Siwon-ah.”

Yoona mendesah lega, karena ternyata penglihatannya masih baik-baik saja dan ia tidak berhalusinasi. Itu memang benar Siwon. Tapi lagi-lagi Siwon mengacuhkan Yoona, membuat gadis cantik itu kesal.

“Kau juga harus membuatkanku satu, aku pesan yang sama seperti Yuri Unnie,” kata Yoona sok, padahal dia sama sekali belum pernah minum alkohol.

Yuri berdecak meremehkan, ia lalu berkata pada Siwon, “Beri dia lime squash saja.”

Siwon mengangguk mengiyakan. Dia melirik Yoona yang cemberut pada Yuri. Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya melihat pemandangan di depannya. Yoona sedang berdebat dengan Yuri tentang keinginannya minum alkohol yang tentu saja dilarang Yuri dengan alasan belum cukup umur. Dari situ Siwon tahu kalau pelanggannya adalah kakak dari gadis manja bernama Im Yoona.

“Unnie, sebenarnya kau mau apa sampai mengajakku ke tempat seperti ini? Kau tidak mengizinkan aku minum alkohol, lalu kenapa kau mengajakku ke sini?” Yoona akhirnya menyerah dengan usahanya untuk minum alkohol. Ia merasa ada yang salah dengan Yuri malam ini. Sikap Yuri yang menentang keinginan Yoona minum alkohol adalah sikap seorang kakak yang baik. Dan bila melihat sikap Yuri pada Yoona biasanya, gadis itu tidak akan peduli jika Yoona meminum racun sekalipun.

“Ada yang harus kubicarakan denganmu,” Yuri langsung menyesap minumannya begitu Siwon menghidangkan pesanan Yuri.

Dengan sabar Yoona menunggu Yuri minum. Dia sangat penasaran dengan apa yang akan Yuri katakan padanya. Inilah saat terintimnya dengan Yuri selama mereka hidup sebagai saudara. Sudah tiga gelas Yuri habiskan, tapi belum satu patah kata pun keluar dari mulutnya. Yuri sudah mulai mabuk. Wajahnya terlihat seperti orang frustasi. Tatapan matanya kosong, berbeda sekali dengan saat ia membuat Yoona jengkel. Yoona memandang Yuri iba. Pikirannya melayang, membayangkan malam-malam ketika Yuri pergi minum seperti ini. Apa yang membuatnya mabuk-mabukkan begini? Siapa yang biasa datang bersamanya? Apa dia sendirian atau ada yang menemani? Siapa yang mengantarnya pulang saat mabuk? Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Yoona.

“Unnie, jangan minum terus. Apa yang mau kau katakan padaku?” bujuk Yoona putus asa. Usahanya menghentikan Yuri minum sama gagalnya dengan usahanya untuk minum alkohol.

Sementara itu, Siwon diam-diam memperhatikan Yoona. Dia sedikit kasihan pada gadis itu. Yoona terlihat sangat berbeda dengan penampilannya yang biasa di sekolah. Tidak ada kesombongan dan keangkuhan seperti yang selalu ia tunjukkan. Yang ada hanya gurat putus asa dan kesedihan. Terlihat jelas bahwa Yoona tidak nyaman dengan suasana di bar yang semakin ramai, ditambah dengan kondisi kakak perempuannya. Yoona bahkan mengabaikan Siwon, padahal biasanya dia akan menempel seperti lem pada pemuda itu.

“Yoona, adikku yang cantik. Kau tidak minum? Ini pertama kali kita pergi bersama. Ayo kita minum untuk merayakannya.” Yuri mulai meracau tidak jelas. Ia menyodorkan gelasnya yang keempat ke mulut Yoona, menyuruh Yoona ikut minum bersamanya.

Tiba-tiba sebuah tangan mengambil gelas itu dari tangan Yuri, membuat gadis manis itu jengkel. Tapi kejengkelan Yuri hanya berlangsung beberapa detik karena dia terlalu mabuk. Kepalanya terkulai di meja bar, dengan kedua lengannya sebagai bantal.

Yoona beralih menatap penolongnya. Ternyata Siwon yang tadi mengambil gelas itu dari tangan Yuri. “Biasanya dia tumbang setelah gelas keempat,” jelas Siwon kikuk. Saat ini dia merasa agak canggung berhadapan dengan Yoona. Tangannya dengan lancang telah berbuat sesuatu tanpa meminta izin otaknya terlebih dahulu. Apa kau mau menjadi pahlawan baginya? Siwon memarahi dirinya. Siwon sendiri merasa heran dengan sikap pedulinya pada Yoona yang tiba-tiba muncul.

“Sudah kubilang jangan memberinya minuman itu lagi, Siwon-ah,” seorang laki-laki yang kira-kira dua tahun lebih tua dari Yuri datang menghampiri mereka. Tampaknya ia juga mengenal Yuri dengan baik. “Jika para pemula minum itu, mereka akan segera mabuk pada tegukan ketiga,” kata laki-laki itu pada Yoona yang terlihat bingung.

Siwon menggaruk tengkuknya, merasa sedikit bersalah karena selalu menuruti keinginan Yuri. “Mianhe, Hyung. Kau tahu sulit sekali menolak permintaannya,” ucapnya meminta maaf.

“Isshh, siapa sebenarnya kalian? Mengapa kalian semua mengenal kakakku?” Yoona sudah kembali ke dirinya yang biasa.

“Ah, kau pasti Yoona,” sahut laki-laki yang baru datang itu. “Aku Kim Jong Woon, pacar kakakmu.” Tangan Jong Woon terulur hendak berjabat tangan dengan Yoona.

“Jinja? Kau tidak bohong?” tanya Yoona penuh selidik. Dia selalu merasa curiga pada orang-orang yang baru dikenalnya.

Jong Woon tersenyum maklum. Sifatnya memang sama dengan Yuri, pikirnya. “Kau bisa mengeceknya di ponsel Yuri. Di sana akan ada nama dan fotoku bersama Yuri.”

Yoona menyambut uluran tangan Jong Woon dan menjabatnya singkat. Apa yang baru saja Jong Woon katakan ternyata benar-benar Yoona lakukan. Ia mengecek ponsel Yuri. Ternyata Jong Woon tidak berbohong. Ada beberapa foto mesranya bersama Yuri. Sejujurnya Yoona merasa lega dengan kedatangan Jong Woon. Dia tidak akan kebingungan mencari cara pulang ke rumah dengan selamat mengingat dia tidak mahir menyetir dan mereka tidak membawa supir. Apalagi dia masih belum begitu mengenal jalanan kota Seoul yang lama ditinggalkannya.

“Chagi-ah, sudah kubilang jangan datang kemari tanpa aku,” kata Jong Woon di telinga Yuri. Seperti sihir, Yuri langsung mengangkat kepalanya begitu mendengar suara Jong Woon.

“Oppa, kau datang?” ucap Yuri manja. Ia mengalungkan tangannya di leher Jong Woon yang berdiri di hadapannya. “Aku rindu padamu. Kau mau minum?”

Satu tangan Jong Woon meraih pinggang Yuri, menopang tubuh gadis itu agar tidak terjatuh sementara tangannya yang lain menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Yuri. “Ayo kita pulang. Jangan minum lagi. Kasihan dongsaengmu.”

Yuri menggeleng. “Ini pertama kalinya kami pergi bersama, Yoona pasti senang.”

Jong Woon melirik Yoona, ekspresi wajahnya tidak seperti apa yang Yuri katakan. Secara mengejutkan, tiba-tiba saja Yuri sudah mencium bibir Jong Woon. Kedua tangan Yuri semakin erat memeluk leher Jong Woon, membuat Jong Woon sedikit kesulitan untuk menolak. Sebenarnya Jong Woon tidak keberatan dengan ciuman Yuri, hanya saja ia merasa sedikit tidak enak melakukannya di depan Yoona. Tapi lama-lama Jong Woon membalasnya juga.

Siwon dan Yoona yang sama-sama menyaksikan adegan panas itu menjadi salah tingkah. Yoona menjadi makin salah tingkah saat matanya tidak sengaja bertemu dengan mata Siwon. Semburat merah menghiasi pipinya yang putih, untung saja tempat itu tidak terlalu terang sehingga rona merahnya tidak terlihat. Yoona berusaha mencari kesibukan lain untuk menghindari adegan panas antara kakaknya dan Jong Woon. Ia meraih gelas Yuri dan hendak meminumnya, untuk sekedar membuatnya melakukan sesuatu selain menonton Yuri. Yoona bahkan sudah lupa kalau minuman Yuri mengandung alkohol dengan kadar cukup tinggi.

“Mau apa kau?” Lagi-lagi Siwon mengambil gelas itu dari tangan Yoona sesaat sebelum Yoona meneguk isinya.

“Aku… aku haus,” kata Yoona gugup. Menyaksikan orang berciuman secara langsung sudah cukup membuatnya risih, apalagi di sana ada orang yang disukainya.

Siwon lebih cepat mengatasi rasa gugupnya karena ia sudah beberapa kali disuguhi adegan seperti itu baik oleh Yuri maupun pelanggannya yang lain. “Ini adalah Lime Green, kadar alkoholnya sangat tinggi. Kalau kau meminumnya seperti kalau kau sedang minum jus, kau akan langsung pingsan.”

Yoona baru menyadari kalau tadi ia mengambil gelas Yuri. Sangat terlihat kalau ia gugup dan salah tingkah hanya dengan menyaksikan orang berciuman. Padahal dia sudah lama tinggal di Amerika yang terkenal sebagai negara liberal. Lagi-lagi kau melakukan hal bodoh, batin Yoona memarahi dirinya sendiri. Yoona akhirnya menunduk memainkan tisu yang tadi digunakan sebagai alas gelas Yuri. Senyum Siwon muncul lagi melihat Yoona yang salah tingkah. Dia baru mengetahui satu fakta tentang Yoona. Gadis yang selalu terlihat riang itu ternyata memiliki kakak pecandu alkohol yang menjadi pelanggan Siwon. Dalam seminggu setidaknya Yuri pergi ke bar tiga atau empat kali. Siwon jadi mengenal Yuri dengan baik. Sedikit banyak ia tahu apa yang membuat Yuri menjadi seperti itu. Bahkan mungkin ia tahu lebih banyak daripada Yoona yang merupakan adik Yuri. Siwon yang awalnya sama sekali tidak peduli pada Yoona kini menjadi sedikit kasihan. Semua sikap yang ditunjukkan Yoona di depan umum benar-benar sangat berbeda dengan kenyataan yang selama ini dialaminya. Matanya menatap Yoona lekat-lekat. Rasa penasarannya pada gadis itu mulai muncul. Saat ini ia tidak lagi melihat Yoona sebagai gadis kaya yang manja. Hanya seorang gadis biasa yang takut berada di bar saat malam hari, seorang adik yang harus menuruti kata-katanya kakaknya untuk tidak minum alkohol, dan seorang siswa yang masih lugu.

Yoona merasa kalau Siwon sedang menatapnya. Ia kemudian mendongak, mendapati mata Siwon yang biasanya dingin kini tampak begitu teduh dan menenangkan. Tatapan seperti itulah yang selama ini Yoona rindukan. Bukan seperti tatapan penuh kedengkian dan intimidasi seperti yang biasa ia terima.

Siwon menyodorkan segelas berisi minuman pada Yoona. “Minumlah kalau kau haus,” katanya pelan.

Yoona terdiam, sedikit tidak percaya atas perlakuan baik Siwon padanya.

“Aku tidak menambahkan alkohol setetes pun di dalamnya,” lanjut Siwon karena mengira Yoona menaruh curiga padanya.

“Gomawo,” kata Yoona tulus. Ia tahu Siwon tidak akan memberinya sesuatu yang berbahaya mengingat sebelumnya Siwon sudah dua kali mencegahnya minum alkohol. Yoona kembali menunduk, menyembunyikan senyum gembiranya atas perlakuan Siwon padanya. Ingin rasanya ia menghentikan waktu. Rasanya Yoona rela menukar apapun yang ia punya asalkan ia bisa menatap mata teduh itu setiap hari.

 

-TBC-

 

Segitu dulu yaa… hehe.. Sekali lagi sy mau ucapin terima kasih buat admin Echa dan/atau Resty yang udah publish dan readers yang udah RCL. Karena ini ff pertama saya, sungguh komentar2 kalian bikin semangat nulis saya jadi berkobar. *apasih? Moga2 ngga mengecewakan yaa… dan moga2 bisa segera publish next partnya. ^ ^

Iklan
Tinggalkan komentar

320 Komentar

  1. andrawiena

     /  Juli 17, 2014

    hahaha yoona ngebet banget ama wonpa tapi dicuekin…
    mulai deh ada pengganggu

    Balas
  2. Dahlia GaemGyu

     /  Juli 17, 2014

    ada hubungan apasih antara eommanya siwon ama yoona, jd yoona juga bukan adik kandung yuri? penasaran

    Balas
  3. choi dong gun namjaelf

     /  Juli 19, 2014

    seru ff penuh teka teki,tpi itu yg bkn penasaran jd slalu g sbr dngan part sljt y

    Balas
  4. Ra_YoonAddict

     /  Juli 25, 2014

    Siwon suka ya sama Taeyeon. Berharap banget kalau Yuri itu bisa sayang sama Yoona. Kalau diliat2 Yoona kasihan juga g punya temen. Udah Yoona temenan aja sama Seohyun. Penasaran sama hubungan Yoona dan ibu Siwon.

    Balas
  5. Mia

     /  Agustus 1, 2014

    Cemistry udah ada nih

    Balas
  6. ahhh yoona kasian tuh, semuanya bersikap dingin sama yoona:(

    Balas
  7. Choi Han Ki

     /  Oktober 14, 2014

    Yaampun ternyata yuri dan yoona bukan saudara kandung dan dia tidak deket… Trus bagaimana yoona bisa ketemu sama orang yg nyuruh nyari siwon

    Balas
  8. Aku bngung yuri sma yoona itu ternyata bkan sodara kndung apA,,atau gmna gak tau ah,,ah akhir nya YW dh ada sdikit interaksi,,

    Balas
  9. Makin bikin penasaran. Greget liat Yoonwon nya ><
    Sebenernya ada hubungan apa Yoong eonni dan Ny.Choi di masa lalu?
    Ijin baca next chapternya! :))

    Balas
  10. Hemm hemm .. Mulai seruu nieehh … … ..:):)

    Balas
  11. Kasihan bgt Yoona ya meskipun hdp dgn kemewahan tapi miskin ksh sayang, wonppa benar2 dingin dan sengaja menjaga jarak dgn org lain

    Balas
  12. Nhiina

     /  Januari 26, 2015

    Apa hubungannya yoong eonn sama eommanya wonppa ? ?
    aigoo . . ternyta wonppa perhatian juga sama yoong eonn . . tapii wonppanya kan jatuh cnta sama taeng eonn . .
    huuu . . masih penasaran juga knpa sikapnya yull eonn sgitunya sama yoong eonn . .

    Balas
  13. Novi

     /  Februari 9, 2015

    Yoona kasian..

    Semuanya cuek….
    Gag ad yg peduli…

    Balas
  14. Cha'chaicha

     /  Februari 9, 2015

    Konflik mulai keliatan, sikap wonppa sdikit lbh baik,

    Balas
  15. Hulda Nited

     /  April 26, 2015

    Ouchhh….tapi kenapa eomma siwon ninggalin siwon??ckckckck yoona polos banget..

    Balas
  16. raratya19

     /  Oktober 18, 2015

    sebenarna yoona t anak siapa? dan ada hubungan apa yoona dengan ibu siwon?

    Balas
  17. Almira Putri

     /  Januari 27, 2016

    Memang hubungan keluarga I’m sama yoona apa sih bikin penasran ahja
    Trus eomma nya siwon siapa nya yoona ?

    Ahhh bikin penasaran cerita ini 😀

    Balas
  18. YoongNna

     /  Februari 21, 2016

    Ooowhh jd yoona tu adik tirinya yuri mkanya yuri slalu cuek ma yoona..
    Makin seru aja nii apalgi siwon udh mulai tertrik ma yoona dan dtmbh da donghae jg niii..

    Balas
  19. vitrieeyoong

     /  Maret 7, 2016

    YoonA frontal, tpi ddpan kluarga nnduk. Hhaha
    Hahh, YoonYul kurang akur, pdhal aku ska bnget sma mreka.
    Hmm, Going dkacangin mulu. Kyanya g pnya tmn yg bnran syang sma dia, Seo aku brharap pdamu
    Next!!

    Balas
  20. nadila sari pramahesti

     /  Juli 10, 2016

    knpa ya nyonya im ga suka sama yoona.? dan ada hubungan apa antara ibu siwon dan yoona ? jadi penasaran sama cerita selanjutnya ..

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: