[FF] THE PRINCESS’ LOVE

THE PRINCESS’ LOVE

Author             : Indah (bianglalala27@gmail.com)

Type                : Chapter

Main Cast        : Choi Siwon, Im Yoona

Support Cast   : Leeteuk, Kim Taeyeon, Kwon Yuri, Yesung, Seo Jo Hyun, Lee Donghae, etc

Genre              : School Life, Romance,

Rating             : 13+

 

PART 1

Sebuah Jaguar hitam melintas dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota Seoul. Di dalamnya hanya terdapat seorang gadis cantik yang duduk di kursi belakang dan seorang laki-laki yang memegang kemudi. Si gadis sibuk bercermin, merapikan rambutnya. Ia kemudian beralih merapikan seragam sekolahnya, lalu memasang name tag-nya. Im Yoona. Begitu nama yang tertulis di sana.

Beberapa saat kemudian mobil itu memasuki sebuah pintu gerbang. Di atasnya terukir tulisan berwarna emas. Hyundai International High School. Tampak siswa-siswi lain yang juga baru memasuki area sekolah. Sebagian besar diantar oleh mobil yang tak kalah mewah dengan yang ditumpangi Yoona. Hanya beberapa saja yang terlihat berjalan kaki. Jaguar hitam itu akhirnya berhenti di depan sebuah gedung. Im Yoona menunggu supirnya membukakan pintu. Dia menghembuskan napas lalu berkata pada dirinya sendiri, “You’ll be fine, Yoona.”

Dengan gerakan anggun Yoona turun dari mobilnya. Semua mata seakan-akan terhipnotis melihat Yoona yang tengah berdiri menghadapi pintu masuk gedung itu. Hari ini adalah hari pertamanya, jadi wajar saja semua orang menatap ke arahnya. Seorang gadis cntik yang asing di mata mereka. Yoona terlihat begitu sempurna dengan seragamnya. Rambut panjangnya ia biarkan terurai. Hampir semua anak laki-laki langsung terpesona melihatnya. Yoona terkekeh dalam hati. Aku memang sempurna, batinnya lalu melangkah masuk dengan penuh percaya diri.

Hyundai International High School adalah sekolah paling bergengsi di Korea Selatan. Selain memiliki puluhan murid jenius, sekolah ini merupakan sekolah termahal di Korea. Fasilitasnya lengkap, dengan kualitas nomor satu. Biaya sekolah di tempat ini mungkin bisa untuk membeli sebuah rumah. Oleh karenanya, sekolah ini juga dipenuhi dengan anak-anak konglomerat Korea. Yoona, putri kedua konglomerat Im Tae San, juga akhirnya memilih pindah dari sekolahnya yang dulu di New York ke tempat ini.

Yoona masuk ke dalam kelas ditemani seorang guru yang menjadi wali kelasnya. Bisa dipastikan semua anak langsung menatapnya. Anak laki-laki memandangnya dengan tatapan penuh rasa syukur karena Yoona ternyata satu kelas dengan mereka, sedangkan yang perempuan hanya mendengus kesal melihat tingkah anak laki-laki. Guru Kang lalu menyuruh Yoona memperkenalkan diri.

“Hai, nama saya Im Yoona. Saya baru pindah dari New York. Semoga kita bisa berteman,” katanya manis. Dia membungkuk sedikit, masih dengan senyum manisnya yang membuat semua laki-laki terhanyut. Kau harus bisa membuat mereka terpana melihatmu, dengan begitu mereka akan dapat dengan mudah kau taklukan, begitu prinsip Yoona.

“Yoona-ssi, kau duduk di sampingku saja,” seorang siswa mencoba merayu Yoona, yang disambut teriakan riuh seisi kelas. Yoona hanya tersenyum ramah membuat semua jatuh hati padanya.

Sementara itu, di ruangan lain seorang siswa sedang menyelesaikan soal di papan tulis. Dengan cekatan ia menuliskan jawaban soal matematika yang cukup sulit. Sang guru yang sejak tadi mengamati siswa itu tersenyum puas saat si siswa selesai menuliskan jawabannya.

“Perfect, Choi Siwon. Kau baru saja menyelesaikan soal tersulit ujian masuk universitas,” ucapnya bangga. Siswa itu, Choi Siwon, hanya tersenyum sebelum kembali ke tempat duduknya.

“Kau memang hebat, chingu-ya,” kata seseorang yang duduk di belakang kursi Siwon. “Kau harus jadi guru privatku.”

Lagi-lagi Siwon hanya tersenyum, menampilkan kedua lesung pipitnya. Dia sudah bosan mendengar pujian orang-orang padanya. Apalagi temannya yang duduk di belakangnya, Leeteuk, yang dikenal sangat alergi pada matematika. Siwon adalah siswa dengan IQ dan nilai tertinggi di sekolah. Kelak dia bisa masuk universitas manapun yang ia mau. Bahkan beberapa universitas sudah mulai menawarkan beasiswa pada Siwon, mengingat ia saat ini duduk di tingkat akhir. Ya, Siwon adalah si jenius yang tidak pernah mengeluarkan biaya apapun untuk sekolah karena kepintarannya. Karena ia selalu mendapatkan beasiswa.

Satu-satunya sahabat Siwon di sekolah ini hanya Leeteuk. Meski hampir seluruh sekolah mengenalnya, tak satupun berniat menjadi teman Siwon. Siwon memang berasal dari keluarga sederhana, bukan keluarga kaya raya seperti sebagian besar siswa lain. Mungkin karena itu siswa lain menjauhinya. Berpikir bahwa Siwon berada satu kasta di bawah mereka. Hanya Leeteuk yang sepertinya tidak mempermasalahkan status Siwon. Dia sendiri tidak mempermasalahkannya. Siwon juga terkesan menutup diri dan tidak banyak bicara. Satu-satunya teman bicaranya hanya Leeteuk. Awalnya Siwon menolak saat ditawari masuk sekolah ini. Dia sudah bisa memastikan tidak akan bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Namun mengingat selembar ijazah yang sangat berharga berlambang Hyundai, ia terpaksa menahan perasaannya selama tiga tahun. Dan sudah dua tahun lebih ia mampu bertahan. Tinggal sebentar lagi, kau akan keluar dari semua ini, Siwon-ah, pikirnya. Bersabarlah sebentar lagi.

***

  Yoona memandang isi kantin sekolah dengan seksama, berusaha mencari meja yang masih kosong. Setelah menemukan satu di sudut, ia kemudian berjalan ke meja itu. Hampir sepuluh menit dia menolak ajakan makan bersama teman-teman barunya. Meski Yoona diinginkan banyak orang, dia bukan tipe yang bisa dengan mudahnya makan dengan siapapun. Dia akan memilih sendiri dengan siapa dia bicara, makan, atau berteman, tidak peduli orang lain tersinggung atau tidak.

Tiba-tiba seorang laki-laki yang tampaknya lebih tua dari Yoona duduk di kursi kosong di hadapannya. Yoona mengernyit heran. Tidak merasa pernah melihat wajah di hadapannya. Dia hanya mendengus lalu meneruskan makannya tanpa memedulikan orang di depannya.

Laki-laki itu, Leeteuk, menatap Yoona dengan seksama. Sampai beberapa saat lamanya, hingga dia belum menyentuh makanannya sama sekali.

Yoona merasa agak risih, meski awalnya tidak peduli. Dengan agak kasar dia meletakan sumpitnya di atas meja.

“Wae?” hardiknya.

Leeteuk memasang senyum malaikatnya. “Yeppo, neomu yeppo.”

“Ara. Aku tahu aku cantik,” sergah Yoona.

Leeteuk agak kaget mendengar reaksi Yoona. Tidak biasanya ia menemukan gadis dengan kepercayaan diri seperti Yoona. Cantik dan sombong, pikirnya. “Aku belum pernah melihatmu sebelum ini,” katanya. “Kau di tingkat berapa? Namamu siapa?”

Yoona tersenyum singkat mendengar pertanyaan Leeteuk. “This is my first day. Aku di tingkat pertama. Im Yoona.”

“Aku Leeteuk, tingkat terakhir.”

“Memang aku tanya?”

“Wah, kelihatannya saja ramah. Ternyata kau seperti ini,” gumam Leeteuk.

Yoona hanya mencibir lalu kembali meneruskan makannya. Ia memang bukan orang yang suka basa-basi. Selalu langsung pada sasaran dan bersikap seenaknya. Tapi entah mengpa justru hal itu yang membuat orang-orang semakin ingin mendekatinya. Banyak orang ingin menjadi temannya meski mereka tahu Yoona suka bersikap seenaknya. Mungkin karena ia cantik, jadi orang-orang bisa memaafkannya dengan mudah. Atau mungkin karena ia kaya raya dan populer. Entahlah.

“Kenapa kau duduk di sini?” tanya Leeteuk lagi.

“Wae? Memangnya kenapa? Tidak boleh?” Yoona menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari makanannya.

Leeteuk tersenyum. “Ini tempatku dan temanku. Selain kami tidak ada yang duduk di sini.”

“Oh. Aku duduk di sini sekarang.”

Kini giliran Leeteuk yang meletakkan sumpitnya di meja. Agak sedikit frustasi menghadapi Yoona yang menjawab seadanya. Wajahnya pun tanpa ekspresi. Siapa gadis ini? Mengapa meski dia tidak sopan dan seenaknya aku tidak kesal padanya? Leeteuk tengah memperhatikan Yoona saat ekor matanya melihat Siwon sedang berjalan ke arahnya.

“Choi Siwon!” panggilnya.

Wajah Yoona tiba-tiba berubah mendengar nama itu. Antara kaget dan tidak percaya. Kegiatan makannya terhenti. Dia menatap Leeteuk lalu beralih ke Choi Siwon. Saat akhirnya Siwon sampai di meja, menarik kursi, dan duduk di samping Leeteuk, Yoona masih sibuk menatap Siwon.

Siwon yang heran ada orang lain yang duduk di sana. Dia berbisik pada Leeteuk, “Nugu?”

“Yoona, ini Choi Siwon. Satu kelas denganku,” Leeteuk memperkenalkan Siwon.

Yoona masih menatap Siwon dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia seperti tidak mendengar ucapan Leeteuk.

“Kenapa dia?” bisik Siwon yang merasa aneh karena Yoona terus menerus memperhatikannya.

Leeteuk mengangkat bahu. “Yoona, kau kenapa? Kenapa melihat Siwon begitu?”

Yoona masih diam. “Ara,” katanya tanpa sadar.

“Kau tahu apa? Kau tahu Siwon?” tanya Leeteuk heran.

“Mwo? Memangnya aku tadi bilang apa?” Yoona sedikit tersentak. Sepertinya ia baru kembali ke dunia nyata.

“Kau tadi bilang ‘ara’. Masa kau tidak sadar?” kata Leeteuk gemas.

Alis Yoona sedikit terangkat. “Ah, maksudku aku tahu kalian berada di tingkat yang sama, Sunbae” kata Yoona. “Tapi, kau terlihat jauh lebih tua.”

Leeteuk melotot mendengar ucapan Yoona yang kurang sopan. Anak ini! Aku hanya setahun lebih tua dari Siwon, rutuknya dalam hati. “Kau! Kalau kau adikku sudah kupukul kepalamu karena mengatakan hal seperti itu.” Dia agak sedikit menyesal karena terpesona pada Yoona awalnya. Tapi, di memang sangat cantik, pikirnya lagi.

Yoona mengangkat bahu. “Aku kan bukan adikmu.”

“Aish, anak nakal.” Sumpit Leeteuk hampir terbang ka wajah Yoona kalau dia tidak menahan diri. Bagaimanapun juga Yoona adalah perempuan. Dia lalu teringat tingkah Yoona saat Siwon datang. “Jangan-jangan kau suka pada Siwon sampai melihatnya seperti orang bodoh?” tembak Leeteuk.

Yoona terdiam mendengar perkataan Leeteuk. Dia lalu memandang Siwon dan Leeteuk bergantian. Sampai akhirnya pandangannya hanya tertuju pada Siwon. “Ne, Sunbae. Aku menyukai temanmu. Aku benar-benar menyukai Siwon Sunbae.”

“MWO?” Siwon dan Leeteuk hampir berteriak kaget mendengar perkataan Yoona yang blak-blakan. Bagamana bisa seorang gadis langsung menyatakan cinta pada orang yang baru ditemuinya?

“Wae? Kenapa kalian berteriak seperti itu?” Yoona mengembangkan senyum manisnya. Dia lalu beralih pada Siwon yang terlihat kaget dan heran, masih dengan senyum di bibirnya. “Sunbae, ayo kita berkencan!”

***

“Gadis gila,” gumam Leeteuk. Masih sedikit tidak percaya dengan pernyataan cinta yang tadi dilihatnya. “Kau, kenapa kau tadi menolaknya?” Leeteuk bertanya pada Siwon. Mereka sedang mengambil buku di loker. Leeteuk sejak tadi terus saja mengoceh tentang Yoona.

“Memang aku harus bagaimana? Apakah begini, ‘Ah, baiklah Yoona-ssi, ayo kita berkencan, aku juga sangat menyukaimu’?” cibir Siwon. Dia lalu bersandar pada pintu loker, menunggu Leeteuk yang masih mencari sesuatu di dalam lokernya. “Kau sendiri yang bilang dia itu gila. Kau mau aku berkencan dengan gadis tidak waras, eoh?”

Leeteuk mengunci lokernya lalu berjalan beriringan menuju ke kelas bersama Siwon. “Tapi dia sangat cantik. Dia juga bermarga Im, yang berdasarkan informasi yang kudengar adalah ahli waris A Grup. Kau kan bisa mencoba berkencan satu kali dengannya, jangan hanya berkencan dengan buku-buku itu saja.”

Lagi-lagi Siwon tersenyum. Bukan senyum bahagia memang, tapi senyum masam yang penuh dengan kebencian. “Aku tidak suka gadis manja seperti dia. Aku juga tidak menyukai gadis bodoh. Kau tahu itu.”

“Mengapa kau seperti ini, Siwon-ah?” kata Leeteuk putus asa. Dia sudah berkali-kali menyuruh Siwon membuka hatinya untuk perempuan, tapi usahanya selalu gagal. Siwon tidak pernah mau mendekati anak perempuan, didekati pun selalu menghindar. Sebenarnya tujuan Leeteuk adalah membut Siwon sedikit menikmati hidupnya. Awalnya Siwon jarang sekali tersenyum, apalagi tertawa. Dia sangat kaku, tidak pernah bicara pada siapapun di sekolah. Sekarang sudah lebih baik, karena Leeteuk.

“Kau pikirkan saja nilai-nilaimu, tak usah pikirkan aku. Kalau kau bisa mengalahkanku di pelajaran Matematika, aku akan berkencan dengan siapa saja yang kau pilih,” tantang Siwon.

“Kau janji?”

Siwon mengngguk.

“Baik…,” kata-kata Leeteuk terputus saat ia menyadari sesuatu. Siwon adalah siswa terpandai di sekolah, khususnya di bidang eksak, sedangkan dirinya adalah penghuni klasemen akhir di mata pelajaran Matematika. Yang artinya dia butuh keajaiban untuk mengalahkan Siwon.

***

Siwon, batin Yoona. Dia ada di sini. Dia ada di sini! Yoona terus mengulang-ulang nama itu dalam hatinya. Bahkan dia membolos pelajaran olahraga dan duduk melamun di taman belakang sekolah. Pikirannya tidak pernah lepas dari sosok Choi Siwon yang baru ditemuinya hari ini.

“Kau sedang apa di sini?” tanya seseorang membuyarkan lamunan Yoona. Ia mendudukan diri di samping Yoona.

Kening Yoona sedikit berkerut. Saat ini jam pelajaran sedang berlangsung. Mengapa ada siswa yang berkeliaran seperti dirinya. Dia sedikit mengingat wajah anak perempuan itu. Sepertinya mereka satu kelas.

“Nuguya?” tanya Yoona tanpa basa-basi.

Anak itu tersenyum, tidak merasa kesal atau marah dengan sikap Yoona yang terkesan kurang sopan. “Seo Jo Hyun. Kita satu kelas. Kenapa kau bolos?”

Ah, benar. Dia memang satu kelas denganku, batin Yoona. Tapi kenapa dia juga bolos? Dia tidak terlihat seperti anak nakal.

“Wae? Kau juga bolos,” lagi-lagi Yoona bersikap menjengkelkan, menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya dengan pertanyaan lain.

Seo Jo Hyun tersenyum. “Aku benci olahraga. Membuatku banyak berkeringat.”

Mereka sama-sama diam beberapa saat sebelum Jo Hyun melanjutkan. “Kalau kau sampai ketahuan membolos di hari pertamamu kau pasti akan punya masalah besar.”

Yoona hanya mengangkat bahu meremehkan.

“Tapi mungkin juga tidak,” lanjut Jo Hyun. “Kau adalah pewaris A Grup. Mungkin kau akan dimaafkan.”

“Kalau aku bukan pewaris A Grup, apa yang akan terjadi?” gumam Yoona. Pikirannya beralih pada ayah, ibu, dan kakaknya. Sejak kepindahannya dua hari lalu, ia sama sekali belum bertemu dengan mereka. Sebelumnya, Yoona memang tidak tinggal di Seoul bersama keluarganya. Ia tinggal di New York bersama keluarga pamannya.

“Tentu saja kau akan dapat masalah,” kata Jo Hyun.

Yoona mencibir. “Kau bukan pewaris A Grup. Kau juga akan dapat masalah karena membolos.”

“Mungkin.”

Mereka terdiam lagi. Dan Yoona tidak berniat memulai percakapan.

“Bagaimana perasaanmu menjadi pewaris A Grup?” tanya Jo Hyun. Yoona diam, merasa Jo Hyun masih akan meneruskan ucapannya. “Semua orang ingin dekat denganmu, semua orang membicarakanmu, betapa beruntungnya dirimu, semua tingkahmu tidak akan membut mereka marah, kau akan mudah dimaafkan. Bagaimana rasanya?”

“Kau juga mendekatiku dengan alasan itu?”

Jo Hyun menggeleng. “Aku tidak mendekatimu. Tempat ini milikku. Tidak ada yang kemari selain aku.”

“Wae?” Apa semua tempat di sekolah ini milik pribadi? pikir Yoona saat teringat kejadian di kantin tadi. Setelah Leeteuk, giliran gadis ini.

“Ayahku pemilik sekolah ini.”

Bibir Yoona sedikit tertarik ke atas. “Kalau begitu aku meminjamnya untuk hari ini. Aku akan mencari tempat lain.”

“Bagus. Aku tidak suka berbagi.”

“Seo Jo Hyun,” tiba-tiba Yoona mengalihkan tatapannya pada Jo Hyun, “kau tahu Choi Siwon?”

“Choi Siwon?”

Yoona mengngguk. “Arayo?”

“Wae? Ada apa dengan Choi Siwon sampai kau menanyakannya?” Jo Hyun menatap Yoona curiga, mengingat Siwon bukan orang yang disukai di Hyundai.

“Hanya penasaran saja.”

Jo Hyun tidak percaya dengan jawaban Yoona. Tapi dia tetap menjawabnya. “Tentu saja semua orang di sini tahu siapa Choi Siwon. Siswa yang selalu menempati peringkat pertama, dengan IQ jauh di atas rata-rata. Dia hanya punya satu kekurangan, tapi itu seperti tidak termaafkan.”

“Begitu?” Benarkah itu Siwon?

“Kekurangannya adalah dia tidak punya apa-apa. Keluarganya tidak berasal dari golongan atas. Dan itu membuatnya berada di level terbawah di sini.”

Yoona agak kaget mendengarnya. Hanya saja dia menutupinya dengan baik. “Bagaimana dia bisa di sini kalau tak punya uang?”

“Beasiswa. Dia tidak pernah mengeluarkan uang sepeserpun untuk sekolah.”

“Jadi begitu,” Yoona beranjak dari duduknya. “Gomawo sudah meminjamkan tempatmu. Aku pergi. Ah, aku menyukaimu. Kau tidak berpura-pura seperti yang lain.”

Jo Hyun tersenyum. “Aku mungkin akan menyukaimu.”

“Kau akan menyukaiku,” ralat Yoona. “Tidak ada yang tidak menyukaiku,” lanjutnya.

Seo Jo Hyun memperhatikan Yoona yang berjalan menjauhinya. “Im Yoona. Lama tak berjumpa,” bisiknya.

***

Presdir Im Tae San tengah sibuk dengan beberapa dokumen di mejanya saat pintu ruangannya diketuk.

“Masuk,” katanya. Im Tae San adalah pria berusia enam puluh lima tahun yang memiliki delapan puluh persen saham di A Grup. Dia secara otomatis menjadi presiden direktur sekaligus pemilik perusahaan yang bergerak di berbagai bidang, mulai dari hotel dan resort sampai makanan.

Seorang pria paruh baya masuk sambil membawa beberapa dokumen. Dia membungkuk memberi hormat. “Presdir, Direktur Jang mengundurkan diri pagi ini. Surat pengunduran dirinya baru sampai tadi.” Pria itu lalu menyerahkan sebuah amplop beserta beberapa dokumen. “Dan ini adalah dokumen pembelian saham Direktur Jang. Dia sudah bersedia menjualnya pada kita.”

“Sekretaris Kim, pastikan dia tidak membocorkan apapun tentang A Grup pada pihak lain,” desah Im Tae San. Dia membuka kacamatanya, menaruhnya di atas meja, lalu memijit pelipisnya. “Aku akan sangat kehilangan Direktur Jang,” gumamnya.

Saat hendak mohon diri, Sekretaris Kim tiba-tiba teringat sesuatu. “Ah, Presdir. Tadi pihak sekolah putri Anda menelepon.”

“Ada apa?”

“Putri Anda katanya membolos mata pelajaran olahraga.”

“Mwo?” Im Tae San mendongak, menatap Sekretaris Kim tak percaya. Sejak dulu Yoona memang manja dan seenaknya, tapi tidak pernah mendatangkan masalah.

“Ne. Karena ini hari pertamanya, dan Nona Im sudah membolos, maka pihak sekolah memberitahu Presdir.”

Im Tae San menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi. “Anak itu, selalu saja membuat khawatir. Pastikan istriku tahu masalah ini.”

“Ne, Presdir.”

Sepeninggal Sekretaris Kim, Presdir Im meraih sebuah pigura di mejanya. Dia memandangi pigura itu. Di dalamnya ada fotonya, istrinya, Yoon Hae Ra, Im Yuri, dan Yoona kecil. Dari keempat orang dalam foto itu, hanya Yoona kecil yang tertawa lebar. Ketiganya hanya tersenyum. Potret itu diambil tujuh tahun lalu, saat Yoona berusia sepuluh tahun dan belum pindah bersama pamannya. “Bersiaplah, Yoona. Takdir besar tengah menantimu.”

***

 

Yoona berbaring bosan di kamarnya. Sejak pulang sekolah tidak ada hal yang dilakukannya. Dia baru datang dua hari lalu, dan jelas tidak mempunyai teman. Di rumahnya hanya ada pembantu. Padahal rumahnya sangat besar, dengan perabot super mewah. Halaman rumahnya bisa digunakan untuk bermain sepak bola. Tetapi penghuninya hanya empat orang dengan kesibukan tingkat tinggi. Ralat, tiga orang yang super sibuk dan satu orang remaja yang sedang mencari kesibukan. Bahkan saat kembali dari New York, Yoona hanya dijemput seorang supir. Dua tahun ia tidak bertemu keluarganya. Sayangnya, meski ia memaksa pindah ke Seoul, harapan untuk berkumpul bersama keluarganya belum juga terkabul.

Ia beranjak menuju laci meja di samping tempat tidurnya, mengeluarkan sebuah peti kayu kecil dari dalamnya. Perlahan ia membuka peti kecil itu. Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto dan barang-barang kecil lain yang mungkin bagi orang lain terlihat seperti sampah. Yoona mengambil sebuah liontin perak. Liontin itu berbentuk oval dengan ukiran yang sangat indah di bagian luarnya. Saat liontin itu dibuka, ada dua buah foto terpasang di sana, seorang wanita di satu sisi dan anak kecil yang sedang tersenyum di sisi lainnya. Yoona memandangi potret itu cukup lama.

“Apa yang harus kulakukan?” Yoona bertanya pada potret di liontin itu. Berharap mendapat jawaban meski dia tahu itu tidak mungkin.

Tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk. Disusul suara seorang wanita.

“Yoona, kau di dalam?” tanya suara itu.

Senyum Yoona terkembang di bibirnya. Eomma! pekiknya dalam hati. “Ne, Eomma.” Yoona berjalan ke pintu, hendak membukakan pintu untuk ibunya. Tapi beberapa langkah sebelum ia sampai di pintu ibunya sudah membuka pintu sendiri. “Eomma!” Yoona langsung memeluk ibunya yang sudah dua tahun tidak ditemuinya. Namun Yoona merasa agak janggal. Ibunya tidak memberikan reaksi apapun. Yoona melepas pelukkannya. “Eomma, waeyo? Tidak rindu padaku?”

Wanita itu, Yoon Hae Ra, tidak menjawab pertanyaan Yoona. Wajahnya terlihat begitu serius. Dari penampilannya, dapat dipastikan ia baru pulang bekerja. “Apa yang ada di pikiranmu sehingga kau membolos di hari pertamamu?”

Yoona kaget mendengarnya. Sangat kecewa karena topik pertama yang mereka bicarakan setelah lama tidak bertemu adalah tentang ia membolos. Yoona tidak menyangka pihak sekolah akan langsung memberitahu orang tuanya, bukan memanggil dirinya terlebih dahulu. Dan lagi, itu hanya pelajaran olahraga, bukan seperti ia berkelahi atau mencuri. “Aku tidak berniat membolos, Eomma,” Yoona membela diri. Pikirannya sibuk mencari-cari alasan.

Hae Ra memicingkan matanya. Dan Yoona selalu ketakutan kalau melihat ibunya yang seperti ini. “Apa alasanmu? Kenapa kau tidak mengatakan alasanmu pada gurumu di sekolah?”

“Itu karena aku tidak punya pakaian olahraga. Aku baru dua hari di sini,” Yoona masih ngotot tidak mau disalahkan.

“Alasan macam apa itu? Semua keperluanmu sudah disiapkan. Jangan mengada-ada. Ini adalah pertama dan terakhir kali aku mendengar hal seperti ini. Kalau kau berulah lagi, kami akan mengirimmu ke asrama,” ancam Hae Ra. Sama seperti Yoona, Yoon Hae Ra juga tidak suka basa-basi. Hae Ra ikut mengelola bisnis suaminya yang membuatnya menjadi super sibuk. Dia berangkat pagi-pagi dan pulang malam hari. Jadilah Yoona dan kakaknya, Yuri hidup bersama pembantu di rumh itu karena ayah mereka, Im Tae San justru lebih sibuk dari sang ibu.

“Ne, Eomma,” sahut Yoona pasrah. Ia tahu tak akan pernah bisa menang melawan ibunya. Yoona juga sudah paham kapan ia harus mengaku kalah daripada urusannya bisa makin panjang. “Mianhe.”

Sebuah desahan keluar dari mulut Hae Ra. “Aku lelah sekali, jadi kuharap kau tidak menambah beban pikiranku,” katanya lalu pergi meninggalkan Yoona.

Yoona tertawa tidak percaya melihat sikap ibunya. “Begitu saja? Im Yoona, tidak ada yang merindukanmu,” katanya pahit.

***

 

Yoona tengah menikmati sarapannya saat Yuri datang. Ia bergabung bersama Yoona di meja makan, mengambil kursi di depan Yoona. Kedua orang tuanya sedang menikmati sarapan bersama dengan rekan kerja mereka di hotel.

“Unnie, bogoshiposso,” katanya begitu Yuri duduk. “Akhirnya kita bertemu lagi.” Yoona beranjak dari duduknya, hendak memeluk Yuri. Tapi tiba-tiba Yuri menahannya.

“Aku tahu kau rindu padaku, tapi jangan memelukku. Aku tidak mau bajuku kusut,” katanya cuek tanpa memandang Yoona.

Mulut Yoona menganga, shock mendapati siap Yuri yang sama seperti ibunya. Sejak dulu mereka memang tidak akur. Yuri selalu menolak jika Yoona mengajak bermain bersama. “Unnie, kenapa kau selalu menyebalkan? Tidak bisakah kau berpura-pura sedikit?” sembur Yoona kesal.

Yuri masih santai menikmati makanannya. Sama seperti Yoona, Yuri juga cantik. Penampilannya selalu nomor satu di antara teman-temannya. Paduan yang sempurna antara cantik, pintar, kaya, dan stylish. Satu lagi kesamaan mereka, sama-sama sering bersikap menjengkelakan dan seenaknya. “Kau tahu aku tidak suka bersandiwara. Tapi baiklah, aku ucapkan selamat datang,” katanya. “Kau mau berdiri di situ terus?”

“Unnie!” pekik Yoona tertahan. Setengah mati ia berusaha menahan keinginannya untuk berteriak. Dia lalu berjalan kembali ke kursinya dengan menghentak-hentakkan langkahnya dan menjatuhkan diri di kursi dengan kasar. Begitu tubuh Yoona menempel di kursi, Yuri langsung bangkit dari duduknya.

“Aku selesai.” Yuri mengambil tasnya lalu beranjak pergi. “Aku akan ke kampus. Belajarlah dengan baik.”

“Unnie, kau tidak pernah berubah,” gumam Yoona. Dia memandang kepergian Yuri dengan tatapan nanar. Selera makannya jadi hilang. “Lihat saja, begitu aku lulus sekolah, aku akan segera pergi dari rumah ini,” tekadnya.

***

“Aboeji,” panggil Siwon. Tidak ada balasan. Siwon lalu memeriksa kamar ayahnya. Ternyata tidak ada siapapun di sana. Ia menutupnya kembali. “Apa dia berangkat bekerja tanpa memberitahuku lagi?” Pandangan Siwon tertuju pada meja di tengah ruangan. Di sana terdapat semangkuk nasi dengan beberapa lauk sederhana. Secarik kertas berisi tulisan diletakkan di samping mangkuk nasi. Siwon mengambil kertas itu dan membacanya. Ternyata ayahnya sudah berangkat kerja dan menyiapkan sarapan untuk Siwon.

Rumah Siwon hanya terdiri dari dua kamar, satu ruang yang biasa digunakan sebagai ruang tamu dan ruang makan, dapur, serta satu kamar mandi. Kecil memang. Tapi itu semua didapat dengan kerja keras ayahnya sebagai supir di keluarga kaya. Siwon hanya tinggal dengan sang ayah. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari keluarga mereka selain kecerdasan Siwon yang di atas rata-rata.

Siwon menutup dan mengunci pagar rumahnya. Karena jarak rumah dan sekolahnya cukup jauh, dia harus naik bus setiap hari. Setiap pagi dia berjalan menuju halte bus yang dekat dengan rumahnya.

“Hei, siswa Hyundai!” teriak seseorang di belakang Siwon.

Sebuah senyum terkembang di bibir Siwon mendengar suara itu, ia lalu berbalik, menghadapi si pemanggil yang sudah sangat dikenalnya. “Yaa, Kim Taeyeon. Kau rajin sekali. Sejak kapan kau bisa bangun pagi?”

Gadis itu, yang bernama Kim Taeyeon, menyejajarkan langkahnya di samping Siwon. “Aku selalu bangun pagi sekarang. Aku sudah berubah. Aku akan mengalahkanmu di ujian nasional nanti,” sombongnya. Tentu saja ia tidak serius, karena ia sadar kemampuan otaknya psti kalah jauh dibanding Siwon.

Siwon hanya terkekeh. Bersama Taeyeon, Siwon terlihat berbeda. Lebih banyak tersenyum dibanding saat dia berada di Hyundai. Mereka berjalan bersama menuju halte. Siwon dan Taeyeon bertetangga, dan itu membuat mereka menjadi dekat meski mereka tidak satu sekolah. Siwon bahkan sangat mempercayai Taeyeon. Dia menceritakan semua kesulitannya pada gadis mungil itu. Baginya, Taeyeon adalah gadis yang berbeda dari semua gadis yang ia kenal. Mereka duduk di bangku halte yang masih sepi.  Tiba-tiba sebuah mobil sport berwarna merah berhenti di depan mereka. Kaca depan mobil itu terbuka, memperlihatkan pemuda dengan senyuman yang memikat.

“Siwon-ah, ayo masuk,” katanya pada Siwon. Dia beralih memandang Taeyeon, masih dengan senyumannya. “Anyeong, Taeyeonnie. Kau mau ikut bersama kami?”

“Jangan memanggilnya seperti itu, Hyung. Aku ingin muntah mendengarnya,” ucap Siwon sambil bergidik.

Taeyeon balas tersenyum pada orang itu. “Aku ingin, Leeteuk oppa, tapi arah kita berbeda. Kau bisa terlambat,” katanya.

“Aigoo, uri Taeyeon memang selalu manis. Kyeopta,” Leeteuk sedikit menggoda Taeyeon.

Pipi Taeyeon sedikit memerah mendengar perkataan Leeteuk. Siwon yang melihatnya jadi langsung curiga.

“Pipimu kenapa jadi merah begitu? Jangan tergoda oleh Hyung, dia memang begitu pada semua gadis,” Siwon sedikit tidak rela melihat Taeyeon terpesona pada Leeteuk.

“Ya! Aku bukan playboy, Siwon-ah. Taeyeon, jangan dengarkan dia. Kau hanya harus mendengar oppa saja, eoh?”

Siwon langsung pura-pura muntah, sementara Taeyeon masih tersenyum senang sambil mengangguk. “Ne, oppa.”

“Ayo kita berangkat, sebelum dia berubah menjadi tomat raksasa,” sergah Siwon. Leeteuk terkekeh. Apalagi melihat perubahan sikap Taeyeon yang berubah menjadi seperti nenek sihir.

“Yak, Choi Siwon. Akan kubalas kau,” katanya marah.

***

Leeteuk memarkir mobilnya di depan sebuah bengkel dekat sekolah. Tampaknya pemilik bengkel sudah hafal dengannya karena begitu Leeteuk memarkir mobilnya, ahjussi pemilik bengkel langsung menyambutnya.

“Selamat pagi, Tuan Muda,” sapanya.

Leeteuk tersenyum lalu melemparkan kunci mobilnya pada ahjussi itu. Si ahjussi dengan sigap menangkapnya. Sekolah memang melarang siswanya membawa kendaraan bermotor. Tapi dasar Leeteuk keras kepala, dia tetap membawa sendiri mobil hadiah ulang tahunnya dua tahun lalu. Jadilah dia harus menitipkan pada bengkel langganannya. Siwon dan Leeteuk melanjutkan berjalan kaki. Tidak begitu jauh memang.

Sementara itu, Jaguar hitam milik Yoona tengah melintas tidak jauh di belakang kedua pemuda itu. Yoona yang sedang memperhatikan jalan, tiba-tiba melihat keberadaan Siwon dan Leeteuk.

“Ahjussi, STOP!” teriaknya refleks pada sopir pribadinya.

“Ada apa, Nona?” tanya sopir itu heran. Siwon dan Leeteuk kini sudah ada di belakang mereka.

“Kubilang berhenti,” ulang Yoona. Sopirnya akhirnya menghentikan mobil. Yoona langsung mengambil tasnya lalu keluar dari mobil. Ia menunggu Siwon dan Leeteuk yang sedang berjalan ke arahnya sambil melambaikan tangan. “Annyeong, Sunbae,” sambut Yoona begitu mereka hanya berjarak beberapa langkah.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Leeteuk heran.

Yoona tersenyum manis pada Siwon, “Aku ingin berangkat bersama Siwon Sunbae.”

Jawaban Yoona membuat Leeteuk ternganga. “Daebakk. Kau tidak sakit hati? Siwon sudah menolakmu kemarin.”

“Aku lupa,” sahut Yoona enteng.

Siwon menatap Yoona tanpa ekspresi. “Aku tidak mau berangkat bersamamu.” Siwon berjalan mendahului mereka. Leeteuk buru-buru menyusulnya.

Lagi-lagi Yoona ditolak. Tapi herannya dia tidak merasa sakit hati. Dia tetap dengan penuh percaya diri berlari kecil mengejar Siwon yang sudah beberapa langkah di depannya. “Tidak ada yang pernah menolak perkataanku sebelumnya. Sunbae yang pertama,” katanya riang. “Aku jadi semakin menyukaimu, Sunbae.”

“Choi Siwon, daebakk,” gumam Leeteuk. Dia heran melihat Yoona yang sangat blak-blakan. Semenjak dia berteman dengan Siwon, baru kali ini dia melihat seorang gadis mengungkapkan perasaannya pada Siwon.

Siwon menghentikan langkahnya tiba-tiba, membuat Yoona yang berada di belakangnya menabrak punggungnya.

“Sunbae, gwenchana? Kenapa berhenti tiba-tiba?”

“Menjauhlah dariku,” kata Siwon dingin. Dia berbalik menghadapi Yoona. “Jangan mendekatiku lagi.”

Yoona mundur satu langkah. “Sejauh ini? Aku tidak bisa lebih jauh dari ini, Sunbae.”

Siwon menatap Yoona garang, membuat Yoona agak ngeri. Yoona lalu mundur beberapa langkah lagi sampai kakinya berada di jalan, tidak di trotoar. Saat hendak berbalik Siwon melihat sebuah mobil yang sangat ia kenal sedang berjalan dengan kecepatan tinggi ke arah Yoona. Sementara itu, Yoona yang masih menatap Siwon dengan kesal tidak menyadari bahaya di belakangnya. Mobil itu semakin mendekat. Siwon yang tahu siapa pengendara mobil itu menggeram kesal. Secepat kilat ia menarik Yoona naik kembali ke trotoar tepat saat mobil gila itu melintas. Siwon menarik napas lega. Sedetik saja Siwon terlambat, Yoona bisa dipastikan terserempet mobil itu.

“Gwenchana?” tanya Siwon. Dia masih menatap mobil itu yang semakin menjauh. “Dasar gila,” makinya. Siwon agak heran karena Yoona yang cerewet tidak menjawab pertanyaannya. Ia lalu bertanya lagi, kali ini dengan menatap Yoona. “Gwenchana?”

Tiba-tiba suasana canggung menghinggapi mereka berdua. Bagaimana tidak? Posisi mereka seperti sedang berpelukan. Mereka berdiri berhadapan dengan lengan Siwon yang melingkar di punggung Yoona. Kedua tangan Yoona mencengkeram bagian depan jas seragam Siwon. Wajahnya langsung mememerah berhadapan dengan Siwon sedekat ini. Jantungnya berdegup kencang. Dia menengadahkan kepalanya, membuatnya langsung menatap mata elang Siwon. Apa ini? Mengapa jantungku berdegup sangat cepat? Mengapa aku bahkan tidak bisa menjawab pertanyaannya?

 

-TBC-

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

293 Komentar

  1. Ra_YoonAddict

     /  Juli 25, 2014

    Ceritanya seru banget. Lucu deh sama tingkahnya Yoona kalau deket Siwon. Tapi kalau diliat2 Yoona itu kasihan banget kaya g dianggap sama keluarganya.

    Balas
  2. Mia

     /  Agustus 1, 2014

    Seorang putri yg jatuh cinta pda rakyat biasa tuh

    Balas
  3. tau dah yoona emg bner2 mempesona, go yoona🙂

    Balas
  4. Choi Han Ki

     /  Oktober 14, 2014

    Yoona unnie kesepian yakk… Jangan khawatir sini aku temenin heeheheh😀 yoona2 udah di tolak tapi masih tetep kekh

    Balas
  5. Seru2 min ff daebak apalagi di sni yoona nya lucu,,tpi kya nya konflik nya bkal brat bnget ya min,,so tau#abaikan

    Balas
  6. Wah keren (y)
    Yoong eon ngegemesin banget sih :* pengen aku cium *digorokSiwon* -_-”
    Siwon cuek amat sihh, kan kasian Yoong eonni T.T

    Fighting!

    Balas
  7. Kekeke lucu sma yoona di ff nie yoona terkesan polos bgt dan klw wonpa sich biasa cuek2 bebek kekek lanjutt thoorr🙂

    Balas
  8. Saeng aku baca lg FF buatanmu
    rasanya kagak bosan2 bacanya
    FF ini benar2 sangat menantang
    inspirasimu benar2 pas bgt

    Balas
  9. utycoyumy

     /  Desember 12, 2014

    astaga yoona bisa banget sih langsung ngajak siwon kencan. tapi kasihan sih yoona gak dipeduli sm mama dan kakaknya.😦

    Balas
  10. Nonaranun

     /  Desember 15, 2014

    Great fanfic

    Balas
  11. Nhiina

     /  Januari 26, 2015

    kok yoong eonn digituin sih sama keluarganya ? ? memangnya ada apa sih ? ? apkah yoong bukan anak kadung dari im tae san ? ?

    Balas
  12. Novi

     /  Februari 9, 2015

    Daebak chingu..
    Ceritanya seru bgd…
    Lanjut…lanjut…
    Gag sabar… ^^

    Balas
  13. Cha'chaicha

     /  Februari 9, 2015

    Tingkah yoona lucu blak”an tapi terkesan buat nutupin perasaan dan keadaan keluarga’y, wah” wonppa dingin bgt sifat’y..

    Balas
  14. Telat nih baca FF ini….😀
    so sweet YoonWon moment nya… baru pertama kali baca FF yang kayak gini. DAEBAK !

    Balas
  15. Wah…telat nih *BGT* bacanya… baru pertama kali nemuin FF YoonWon yg kayak gini. Unik kisahnya….

    Balas
  16. Hulda Nited

     /  April 26, 2015

    Yoona jujur apa polos sih??ckckckc tampang siwon ngak pantas jadi orang kelas bawah…tapi seru..next

    Balas
  17. selvarospiyanti

     /  Mei 13, 2015

    Cerita nya seru + lucuu, jdi ketawa2 sndri baca nyaaa, yonna nya blak2 bgt, seru seru

    Balas
  18. ketawa sendiri sama tingkah laku yoona yang blak blakan banget haha

    Balas
  19. raratya19

     /  Oktober 18, 2015

    Kasihan yoona 😢 dan aku masih penasaran sebenarnya apa hubungan yoon dan siwn di masa lalu? Dan seo hyun?

    Balas
  20. vitrieeyoong

     /  Desember 13, 2015

    Aigooo,,, keren.
    Wonppa jdi holang mskin. Hhhaaa,, seru.
    Yoong arogan yehh,,
    Kyanya kongliknya seru nihh..
    Next!!!

    Balas
  21. Almira Putri

     /  Januari 27, 2016

    Baru buka-buka ff yang belom pernah baca.
    Daebakk ceritannya seru , mengangkat cerita sekolah . Yoona blak-blak kan mulu😀
    Siwon jenius dan sangat dingin

    Balas
  22. YoongNna

     /  Februari 21, 2016

    Baru part 1 tp udh menarik niii crtanya..
    Kaya’y yoona udh kenal siwon sblmnya dehhh tp gk tw jg sh tp seneng aja dsni yoona yg ngejar2 siwon..
    Klrga Im sbuk amat trus jg knpa gk harmonis yaaa terlhat dri sikap mreka ma yoona..
    Bkin pensran aja next ijin bca part 2nya

    Balas
  23. Nadila sari pramahesti

     /  Juli 10, 2016

    hai aku reader baru ^^ ceritanya seru banget deh lucu sama tingkah laku yoona yg cuek. siwon sweet bgt sih nolongin yoona hehe. siapa sih kira2 yg ada dimobil itu?

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: