[Songfic] Star-Star-Star

By

Tintin 305

Cast :  Im yoon Ah | Other cast :  Choi siwon, Im yoonhee, Choi sooyoung, Lee donghae||

||Genre : Life, Tragedy, family, sad, friendship || Leght :  One shoot (10.259words)||

|| Rating : General  || Poster by : Tintin 305 ||

 

HI! Readers YWK  Aku balik lagi dengan songfic dari lagu “SNSD Star-Star-Star”  entah kenapa aku lebih suka ngebuat songfic  ampe stok songfic di lappy numpuk dan ku pengen ngeshare ini buat kalian para readers.

Sempet kecewa ma respon songfic pertama ku karna siders masih meraja lela aku sempet ke pikiran buat nge protek songfic kali ini cuman aku masih ngasih kesempatan buat kalian untuk ninggalin jejak  karna aku ngerti ending songfic pertama ku itu agak gantung tapi ku dah siapin sequelnya kok dan dalam bentuk  songfic juga sih.

 

Biar mempermudah kalian  ngebaca yang  tulisan mode italic itu khusus pov nya  yoona.

Dan maapin yah kalu ceritanya agak beda ma liriknya *yang penting masih berhubunganlah* J.

 

^Sorry  for  typo^

 

Happy reading^^

 

hana dul set tto hana dul set
michigetda byeoldeura
a muri chyeodabwado niga boijil anha, oh baby
du nune gadeuk goin nunmul ttaemune da neo ttaemune
beonjyeojin geulja wiro bichin uneun nae eolgul, oh baby
tto ulji mallago nal dajimhaebwado tto ureo


( 1,2,3, sekali lagi  1,2,3, Bintang,  aku akan menjadi gila
Tidak peduli berapa kali aku melihatmu,  Aku tidak bisa melihatmu, oh sayang
Karena air mata yang ada di mataku, itu semua karena kamu
Tangisan di wajahku itu lebih mencerminkan perkataanku, oh sayang
Aku berjanji pada diriku tidak akan menangis lagi, tapi aku menangis lagi)
 

“perpisahan?  Siapa yang  menginginkan sebuah perpisan? Adakah  yang  ingin berpisah dengan seseorang yang begitu kau cintai,  aku rasa tidak.  tidak akan ada yang  mau  berpisah  begitupun denganku, sungguh aku tak pernah  menyangka  kalau  pada  akhirnya  aku dan dia akan berpisah dengan cara seperti ini”.

 

 “Berdiri diam di tempat dimana aku sering bertemu denganya  dan  mengingat  masa – masa  indahku bersamannya   hanya  hal  sederhana  itu yang  bisa  aku  lakukan. Karna  tak mungkin untukku  memintanya kembali  lagi ke sisiku, dia begitu jauh hingga aku tak bisa lagi berbuat apa apa    selain menangis meratapi kisahku yang  begitu  menyedihkan.  Aku rasa aku sudah mulai gila.  Aku bahkan sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menangisnya  lagi  tapi  nyatanya  itu  tidak  semudah yang aku kira.  menagis dan terus menangis  sepertinya  akan  menjadi  hobby  baru  ku  saat  ini”.  

 

“kau sudah siap?” suara berat  namja  yang  terdengar  dari arah pintu  kamar  membuatnya mengalihkan wajahnya dari cermin

 

“hm!.  Tapi,  apa baju ini tidak terlalu mencolok” tanyanya  lalu kembali memperhatikan pantulan tubuhnya dari balik cermin

 

Siwon tersenyum menunjukkan dimple di  kedua sudut  bibirnya . Ia mendekat lalu memeluk  tunanganya itu dari belakang sembari menyandarkan dagunya pada bahu  orang  terkasihnya  itu.

 

“yoona percayalah  padaku! Kau terlihat cantik sangat cantik. Aku bahkan tak tahu apa aku bisa mengalihkan pandanganku  darimu walau hanya untuk sedetik  pun  aku tak yakin ”

 

Bulu kuduk Yoona  meremang  majahnya merah  padam,  rasa  malu  serta  risih dengan perilaku tunangannya  itu  berbaur  dengan  perlukan posesif  yang  terkesan  hangat  yang  di  berikan  choi  siwon untuknya.

 

Perlakuan  ini sering terjadi  padanya  bahkan  sejak   3  tahun  menjalin  hubungan  harusnya  ia sudah mulai terbiasa dengan perlakuan  yang  begitu  romantis  itu.  tapi ia tak bisa menutupi rasa malu yang teramat dan juga detak jantungnya yang  berdegup kencang  bahkan  ketika dekat dengan siwon ia berusaha mati matian agar tak terlihat salah tingkah.

 

“benarkah?” yoona pada akhirnya berbalik setelah terdiam cukup lama demi  menetralkan  perasaan yang  berkecamuk  di dadanya  dan berhadapan  langsung  dengan  mata  obsidan   nan  teduh  milik choi siwon yang  juga balik  menatapanya

 

Siwon kembali menyunggingkan senyumnya ia mengelus surai  kecoklatan  milik   yoona dengan penuh kelembutan dan manuntun bibirnya ke arah  kening yoona yang  bertautan ragu.

 

Siwon mengecupnya cukup lama dan perlakuannya  itu  sukses membuat yoona mau tak mau menutup kedua kelopak matanya menikmati sentuhan kasih yang di berikan siwon untuknya.

 

Siwon melepas bibirnya dari kening yoona dan kembali menatap yoona dengan senyuman yang merekah  “kau tahukan aku  tak pernah  berbohong  padamu?.  Kajja!!  para tamu sudah berkumpul di bawah”

 

Yona hanya menggangguk lalu berjalan bergandengan dengan siwon menuju lantai bawah dimana acara pertunangan nya dengan namja yang menggandeng tangannya saat ini di laksanakan tepat pada tanggal yang sama  di mana ia untuk pertama kalinya bertemu dengan siwon  “11 april 2011”.

 

.

 

 

 

.

 

 

 

Riuh tepuk tangan  serta kalimat – kalimat menggoda dari  mc yang membawakan acara pertunangan pun mengawali puncak acara malam  itu dimana sesi pertukaran cincin di laksanakan baik keluargadan kerabat   yoona ikut mnerasakan kebahagiaan  begitu melihat yoona menautkan cincin emas putih dengan ukiran berlian bertuliskan  inesialnya  pada jari  siwon dan kembali terdengar  tepukkan gembira dari para tamu undangan  yang   mengelagar  ke seluruh  ruang  tengah  nan  megah milik keluarga im.

 

mulai dari langit – langit hingga bagian panggung  pun nampak terlihat elegan dan tak menghilangkan kesan mewah dengan  perpaduan  warna biru  putih yang  mendominasi  seluruh  ruangan menambah kesan kalsik di dalamnya.

 

 

.

 

 

.

 

“kau lelah?”

 

“anni! aku malah takut oppa  yang kelelahan karena meladeni rekan bisnis appa”

 

“kau terlalu berlebihan sayang… aku sama sekali tak lelah!” Siwon tersenyum geli dengan  kalimat kekhawatiran yang di lontarkan yoona  padanya.  bagaimana mungkin ia lelah hanya karna bercengkrama sebentar dengan rekan bisnis mertuanya. Tapi ia sungguh suka dengan yoona yang  menghawatirkanya.

 

Yoona tersenyum dan kembali ke pososisinya menyandarkan kepalanya di dada bidang tunanganya itu dan kembali mengeratkan pelukanya.

 

“aku sungguh bahagia oppa”

 

“nde?” siwon yang semula menatap ribuan bintang  di langit kota seoul pun menoleh ke arah yoona yang menatapnya dengan senyuman tulus

 

“aku bahagia oppa, noemu  noemu  hengbokhae”

 

“nado,  nan jongmall  hengbokhe”  siwon membalas  pernyataan yoona dengan  mengertakan pelukanya dan sama sama menyandarkan dirinya pada tubuh yoona

 

“oppa tak bertanya kenapa aku begitu bahagia?” mendapat respon yang terkesan biasa dari siwon membuat wajah yoona merengguh  kesal

 

Siwon terkikik geli dengan ekspresi kesal yang  yoona tunjukkan “tanpa kau beritahupun aku mengerti maksudmu yoong”

 

“oppa…” yoona makin menampakkan ekspresi kesal dan jengkelnya dengan memanyunkan bibirnya kedepan dan  langsung  melepaskan diri dari pelukan siwon

 

“ahhh… baiklah!! Kenapa  kau  jadi  sensitiv  begini?  Memang  apa  yang  mebuat tunanganku  ini begitu bahagia? Hm?” siwon kembali  menarik yoona untuk tetap diam  ke posisi  mereka semula

 

“aku bahagia karna aku memiliki oppa.  Gomawo   karna oppa   selalu ada di sampingku  saat aku membutuhkan mu  aku  tak tahu  jika tidak ada  kau  akan bagaimana  aku  nantinya.  Aku sungguh sungguh mencintaimu. Saranghae oppa…  jongmall  saranghae ”

 

Siwon hanya dapat terdiam.  Ingin  rasanya ia membalas pernyataan  yoona  barusan.  ia juga ingin memberitahu yoona kalau dia, seorang choi siwon takkan bisa hidup tanpa  im yoona di sampingnya. Tapi entah kenapa ia merasakan hal aneh di hatinya seperti ada yang mengganjal di hatinya hingga ia tak mampu menjawab.  semua kata yang  harusnya  ia  katakan  seperti  tercekat di lehernya ia bahkan tidak tahu ada apa denganya.  siwon hanya berusaha  menjawab dengan gesture yang  ia berikan  dengan  mencium puncak kepala yoona dengan penuh perasaan .

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Minggu 10  january  2012,

 

 

Di tengah  hamparan  rerumputan  hijau  yang  tersamarkan oleh lampu temaram  taman  membuat  pasangan ini begitu betah dengan posisi  yoona berbaring di  pangkuan  siwon  yang  juga sedang bersandar  pada   pohon yang  cukup rindang.  Siwon terus tertawa dengan topik yang  yoona ceritakan  ia tak pernah berhenti membelai sayang  puncak  kepala yoona  yang  berda tepat di pengkuannya  itu.

 

“oppa tak ingin bercerita apapun padaku?” yoona menghentikan aktifitas berceritanya begitu sadar bahwa sedari tadi  ia  yang  bercerita sendiri atau mungkin karan ia yang terlalu keasikkan bicara  sampai tak sadar  bahwa hampir satu jam  ia bercerita.

 

“aku rasa tak ada yang  perlu  kuceritakan.  Kau  kan  tahu  camp  militer  bukan  kampus dimana kau selalu mendapatkan hal –hal yang lucu dan menyenangkan di sana”

 

‘benar  juga!!” yoona menghela nfas berat padahal ia berharap siwon mau bercerita sedikit padanya  tentang pekerjaanya  sebagai  tentara  AU  korea

 

Susana kembali senyap, baik siwon maupun yoona tak berbicara  yoona  hanya terus memandang ke atas langit  malam yang  begitu  indah  sedangkan siwon tetap pada aktifitasnya mengelus pelan puncak kepala yoona.

 

“apa oppa tahu?.  bintang di sana,  anni ribuan bintang di luar sana bisakah oppa menghitungnya?”

 

Siwon merengit kan dahi binggung ia mengarahkan  pandanganya  kearah bintang  yang  di maksud yoona  “kurasa bisa. Mungkin butuh 3 atau 4 hari ahh… atau mungkin  tak bisa,  mereka terlalu banyak untuk ku  hitung  aku  hanya akan  kehilangan  konsentrasi  saat  mengemudikan  pesawat  bila harus  menghitung  satu  persatu ”

 

“oppa aku serius!!!”

 

“baiklah… ku rasa tidak bisa mereka begitu banyak dan  sepertinya posisinya selalu berubah-ubah”

 

“kau melupakan satu hal oppa!!”

 

“apa?”

 

“bintang memang selalu berubah posisi tapi tak pernah sekalipun bintang meningglakan malam bukankah bintang begitu setia oppa?”

 

“itu karna mereka  hanya  ada  setiap malam tiba yoong!”

“aku  tahu  itu oppa! Tapi apa oppa tak pernah berfikir?,  bukankah tuhan selalu menciptkan sesuatu berpasang  pasangan.  Jika tak ada hitam maka takkan  ada kata putih, jika tak ada hidup maka takkan ada kata mati. Begitupun bintang jika tak ada  malam  maka  kata  bintang  pun  takkan ada”

“bagimana dengan  bulan?  Bulan juga ada setiap malam yoong”

 

“ishhh oppa…” yoona yang kesal mencubit pelan perut siwon hingga membuatnya meringis

“aah… appoyo changia ya” siwon mengusap  pelan  perutnya

 

“salah  sendiri  oppa  selalu  membuatku  kesal” yoona memalingkan wajahnya  sembari melipat kedua tanganya di atas dada menegaskan bahwa saat ini ia benar  benar kesal

 

“ah  changia  jangan marah.. jeball maafkan  oppa  ne? Oppa hanya bercanda”

 

“oppa aku maafkan tapi dengan satu  syarat”

 

“apa?”

 

Yoona tersenyum menarik wajahnya untuk kembali menatap siwon yang sedang menunggu jawabannya

 

“oppa harus  menemaniku minggu ini bagaimana?”

 

“kau kan tahu aku harus kembali ke camp  minggu ini mana bisa aku menemanimu yoong”

 

“kalau begitu aku takkan memafkan mu” yoona beranjak bangun dari posisinya tapi dengan cepat siwon menahannya
“baiklah oppa akan menamanimu”

 

“janji..”

 

‘ne!. Akan oppa usahakan”

 

Yoona tersenyum penuh kemenangan kembali pandanganannya ia lemparkan  ke atas sana dimana  ia bisa kembali melihat bintang bintang  yang begitu di sukainnya

 

“Aku heran padamu  kenapa  kau begitu menyukai bintang?”  siwon melirik sebentar ke arah  di mana yoona tengah menampakan wajah berbinarnya saat menatap bintang di atas sana

 

“entahlah apa yang membuatku  menyukai  bintang  tapi  mereka  selalu  menerangi  jalanku  jika malam tiba mereka seperti menjagaku  saat aku terlelap dan…”

 

“sudah jangan di teruskan  kau sudah sering bilang itu yoong!”

 

Yoona tersenyum dengan nada bicara siwon yang  sepertinya begitu kesal  karna lagi – lagi yoona membahas  tentang  seberapa  ia menyukai  benda berkilauan  itu  di hadapanya.

 

“oppa!!” yoona  merubah ekspresinya dengan begitu cepat. Ia menatap serius ke arah siwon yang kini juga menatapnya

 

 

“oppa mau kan berjanji padaku?”

 

“mwho ya?”

 

berjanjilah oppa akan seperti  bintang di sana, bintang yang selalu setia menemani malam bintang yang selalu bersinar terang di kala gelap, aku ingin oppa melakukannya untukku melakukan hal yang sama seperti bintang aku ingin oppa selalu setia di sampingku dan terus menerangi hatiku ini.”

 

Siwon hanya mengganguk  sebagai  jawaban entah mengapa persaannya kembali gelisah. Seperti  ada sesuatu  yang kembali menganjal di hatinya.

 
na eotteokhae, molla eotteokhae eotteokhae
na ireoke, molla michige ireoke
da neo ttaeme, jeongmal neo ttaeme
na amugeotdo hal su eobtjanha nan neol

(Apa yang harus aku lakukan?  Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan,
Apa yang harus aku lakukan?  Ini aku!
Aku tidak tahu mengapa aku menjadi gila seperti ini
Semua karenamu
Benar-benar karenamu
Aku tidak dapat melakukan apapun,)

“kebahagian itu begitu dekat,  hari  yang  akan  ku  lalui  bersamnya  pasti  akan  sangat menyenangkan.  kehidupanku akan bertambah indah denganya di sini,  di sisiku.   kehidupanku akan segera berubah.  4 tahun bersamanya  dan menjalin hubungan denganya  takkan lagi sia – sia karna pada akhirnya hubungan itu menjadi  suatu  tali yang mengikat  kami  begitu  erat.  Aku bahkan tak pernah bisa berpaling dari sosoknya. Sosoknya yang begitu menawan dia yang begitu  lihainya memasuki ruang hati  yang semula kosong hingga tak tersisa lagi tempat untuk orang  lain”

 

“hanya dia, hanya seorang choi siwon saja yang terukir indah di sini tepat di hatiku ini hanya dialah  seorang.   Mungkin ini terlalu berlebihan tapi sungguh  entah mengapa aku tak bisa untuk sedikitpun meningglkanya karna aku begitu bergantung padanya”

 

 

 

 

 

“dia sibuk lagi?”

 

“hm!  Aku takkan bisa melarangnya, kau tahukan seperti apa dia.  dia tak mungkin meninggalkan tugasnya  begitu saja..”

 

“hahh… aku  sungguh tak mengerti hubungan kalian.  Dalam seminggu hanya bisa bertemu sekali saja sungguh hubungan yang aneh. Aku jadi curiga jangan- jangan siwon mu itu punya kekasih lain”

 

 

Pletak!!

 

“yak! aishh… appoyo yoong” sooyoung mengelus kepalanya yang berdenyut karna mendapat satu jitakan dari yoona

 

“siapa suruh bicara sembarangan. Siwon oppa tak mungkin begitu”

 

“ahhh  iya… iya  kau minta maaf!.  tapi tak perlu memukulku seperti itu”

 

“kau  memang  pantas menadapatkanya!!” yoona kembali memilih deretan  dress yang tergantung rapi di depanya dan tak memperdulikan sooyoung yang  terus mengerutu kesal.

 

 

“pernikahanmu tinggal sebulan lagi kan?” pertanyaan  sooyoung  memecah  keheningan di antara ke duanya

 

“ne! Waeo?”

 

“kau sudah melihat baju pengantinmu belum?”

 

“belum mungkin minggu depan karna siwon oppa masih harus menyelesaikan tugasnya sebelum mengambil cuti”

 

“lagi lagi sibuk bertugas!,  apa hanya dia tentara korea yang bertugas di perbatasan? Kan bisa di ganti orang  lain”

 

“sudahlah jangan di bahas lagi.  aku  ke kasir dulu,  kau tunggulah di sini”

 

Sooyoung hanya mengagguk mengiayakan perkataan yoona.  dapat ia lihat punggung  yoona yang mulai menjauh dari  ruang ganti menuju  tempat kasir dimana tempat membayar  itu berada.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

15  february  2013

 

Seorang  yeoja dengan balutan gaun putih sedang duduk dengan gusar  ruangan  yang di hias sedemikian rupa itu  begitu  sepi tinggallah dia sendiri duduk sambil sesekali menghela nafas mencoba menghalau rasa gugupnya karna sebentar  lagi  acara  pernikahanya akan di mulai.

 

“yoong!!”

 

Yoona  seketika menoleh  ke arah pintu dimana arah suara itu berasal. Ia tersenyum lega paling tidak saat ini ia tidak sendirian berperang dengan rasa gugupnya karna sekarang sooyoung datang untuk melihatnya.

 

“kenapa baru datang sekarang?”

 

“mianhe aku  masih harus mengantri saat ke salon tadi. Dimana  yoonhee eonni? Kenapa dia tak ada di sini?” sooyoung memutar pendanganya ke seluruh ruangan, ruangan itu begitu sepi hanya ada dirinya dan yoona saja

 

“entahlah! Dia pergi meningalkan ku sendirian disini. benar- benar keterlaluan” yoona mengumpat kesal karna di tinggalkan sendirian di ruangan itu padahal jelas – jelas dia butuh seorang teman untuk menagani persaanya yang  bercampur aduk saat ini.

 

“jadi siapa yang akan mengantarmu menuju altar?”

 

“mungkin jaebum oppa! Memangnya kenapa?”

 

“annio! Aku hanya bertanya saja”

 

 

“yoona!!  Kajja,   saatnya  kau untuk  masuk” suara yoonhee terdengar dari balik pintu itu kontan membuat yoona dan  sooyoung  yang sedang asyik bercerita berbalik ke arah pintu di mana yoonhee berdiri.

 

“kenapa eonni baru muncul” yoona memasang wajah cemberutnya

 

“aishh kau ini! Mau  menikah atau berdebat  denganku?  Kajja nanti  kita terlambat” yoonhee menarik yoona  dan  membawanya  ke halaman   belakang  villa itu dengan langkah yang sedikit tergesa – gesa bahkan tak memperdulikan yoona yang agak susah berjalan di karenakan gaunnya yang cukup panjang.

 

“oppa apakah sudah  saatnya?” yoonhee bertanya  pada  han jaebum yang tak lain adalah suaminya dengan  nafas  yang sedikit tersengal sengal akibat berlari tadi.

 

“kurasa ia!” jaebum  menengok kebelakang tepatnya pada yoona  yang  juga mengatur  nefasnya yang tersengal “sbenarnya kalian darimana? Kenapa kalian  seperti orang yang habis berlari?” lanjutnya bingung karna melihat kondisi baik yoonhee maupun yoona  yang  tersengal sengal

 

“oppa salahkanlah istrimu itu!.  Mana ada orang  yang  membawa  pengantin wanita dengan berlari. apa dia tak tahu kalau aku sussah bergerak dengan gaun panjangku ini?” yoona menatap kesal eonninya itu. Sedangkan yoonhee hanya  menyengir  tak  jelas

 

“sudahlah!!  Ini waktunya  kau  ke  altar  kajja….”  jaebum  menarik tangan yoona dan menggandenganya menuju taman tengah dimana  janji suci pernikahnya akan di laksanakan.

 

Alunan musik mengiringi  langkah kaki yoona dan jaebum  dan tepat di depanya siwon menunggu dengan senyum cerahnya.

 

ia nampak gagah dengan stelan jas putih dengan dasi pita yang melekat di kerah kemejanya terlebih di wajahnya tersirat kebahagiaan takkala melihat yoona yang juga terlihat cantik dengan gaun putih bak seorang  putri.

 

Jaebum berhenti tepat di hadapan siwon dan menyerahkan genggaman tangan yoona  yang kemudian di sambut oleh siwon dengan senyuman khasnya.  Baik siwon dan yoona hanya saling  melemparkan senyum tipis dan tatapan penuh cinta. Berdiri keduanya di depan pastur yang sedang  membacakan nasihat  nasihat pernikahan.

 

 

“saudara Choi siwon bersediakah kau  menjadi suami bagi saudari Im yoon ah  baik senang maupun susah, sehat maupun sakit? Dan  bersediakah kau  menerima kekurangan kekuranganya  dan mau menerima segala kelebihannya?”

 

Untuk sesaat Siwon  melirik kearah  yoona  dan  tersenyum  lalu mengalihkan pandanganya kepada sang  pastur  “Ya! Saya bersedia”

 

“saudari Im yoon ah  bersediakah  kau  menjadi  isrtri bagi saudara Choi siwon baik senang  maupun susah, sehat maupun sakit? Dan  bersediakah kau  menerima kekurangan  kekuranganya  dan  mau menerima segala kelebihannya?”

 

Yoona kembali menatap mata obsidan  milik siwon “Ya! Saya bersedia” jawabnya tnapa melepas tatapanya itu

 

“dengan ini saya nyatakan kalian sah sebagai suami istri, bagi mempelai  pria silahkan  mencium mempelai wanitanya”

 

Siwon dan yoona kembali berhadapan dengan sedikit gugup siwon menundukan sedikit badanya  dan dengan perlahan menuntun bibirnya ke arah yang seharusnya. Siwon mengulum bibir tipis yoona dengan lembut keduanya menutup mata menikmati kesan yang tercipta dari ciuman itu.

 

Sorak soray serta tepuk tangan terdengar bersamaan dengan  ciuman panjang  ke duanya, mereka seakan larut dengan apa yang di saksikanya  tak terkecuali keluarga  siwon dan yoona yang juga nampak bahagia karna  pada akhirnya pernikahan antara yoona dan siwon   terlaksana setelah sempat tertunda  karna kematiaan  ayah  yoona setahun  lalu. Hingga tak heran  Han  jaebum yang merupakan kerabat lelaki terdekatnya   lah  yang  mengantar  yoona  ke  altar.

 

 

 

 

byeolbyeolbyeol byeolmankeum saranghae
watdeongeoya neoreul chaja jeo meolliseo neon shining star
byeolbyeolbyeol byeolmareul da haebwado
pyohyeoni andwae jeongmal neomuna
dap daphae ije nan eotteoke haeya hana

(Aku mencintaimu sebanyak bintang-bintang, bintang, bintang, bintang
Aku datang  padamu  untuk mencarimu  Kau bagai  bintang yang bersinar jauh
Bintang, bintang, bintang, bintang  Tidak peduli apa yang aku katakan
Aku benar-benar tidak dapat mengekspresikan diriku
Aku frustrasi sekarang)

“seperti yang ku duga hidupku menjadi lebih sempurna dengan adanya dia. Saat ini dia  selalu ada di dekat ku pelukanya  lah yang menjadi pelelap dalam tidurku, wajahnya pula  yang  Pertama kali kulihat saat ku terjaga dari tidurku”.

 

“aku begitu mencintainya. Cintaku   bahkan  lebih banyak dari bintang bintang, lebih terang dari ribuan bintang.  Aku tak tahu apa jadinya aku tanpamu  aku bahkan tidak bisa mengekspresikan diriku jika sampai hal itu terjadi  mungkin aku akan begitu frustasi”.

 

Matahari  masuk dari celah celah gorden kamar  tapi  tidak  membuat pasangan  ini  bangkit dari tempat tidurnya.

 

saat sang namja mulai terusik dengan sinar yang tepat mengenai  wajahnya ia telah terjaga tapi bukanya bangun ia malah makin merapatkan diri pada tubuh polos  sang  istri  ia memeluknya dengan begitu erat seakan takut jika ia tak memeluknya dengan cara itu, yeoja itu bisa lari kapan saja.

 

Yoona melnguh. Bagaimana tidak pelukan posesif sang suami membatasi  ruang geraknya. Yoona mengeliat pelan berharap siwon mau sedikit melonggarkan pelukannya, tapi nyatanya salah siwon malah menarik yoona untuk kemudian di peluk serat eratnya.

 

“oppa! Bisakah kau lepaskan pelukanmu ini?  Aku harus menyiapkan sarapan”

 

“biarkan begini, sebentar saja… hanya sebentar” siwon menggumam dengan mata yang masih mengatup.

 

Yoona hanya bisa pasrah  mengikuti kemauan sang suami toh ia juga sedang dalam keadaan lelah  karna aktifitas yang mereka lakukan semalam. Yoona hanya bisa menikmati pelukan hangat dari siwon  dengan perlahan  lahan  ia mulai  menutup mata kembali memasuki alam mimpinya.

.

 

 

.

 

 

.

 

Waktu berjalan begitu cepat. Hari demi hari mereka lalui bersama baik siwon  maupun yoona menikmati  kebersamaan  mereka yang begitu  indah.

4 bulan usia pernikahan mereka bukanlah waktu yang singkat  layaknya pasangan suani istri biasa, mereka terkadang  bertengkar  itupun  terjadi lantaran siwon yang tidak bisa berbohong di depan yoona.

 

seperti hari ini siwon kembali dari camp  militer begitu larut karna teman – teman  wanitannya  memintannya untuk minum bersama dan hal itu tentu membuat yoona geram, ingin rasannya ia menjambak rambut yeoja yang berani mengajak suaminya minum bersama  tapi yang dapat ia lakukan hanya mendiami siwon seperti  hal yang  biasa yang  ia lakukan jika sedang  marah

 

“yoongie ya! Oppa hanya minum bersama tidak melakukan hal  lain”

 

Yoona tetap diam dan  mengeratkan selimut hingga menutupi seluruh badanya

 

“yoongie ya  sungguh oppa tak melakukan  hal yang  macam  macam. Kau kan tahu oppa tak pernah berbohong  padamu”

 

“lalu kenapa oppa tak menolaknya ?”

 

“oppa tak bisa menolaknya yoong, mereka bilang sudah terlalu lama kami tak berkumpul bersama jadi mau tak mau oppa menurutinya saja”

 

“tapi  oppa membuatku menunggu lama.  oppa kan bisa mengabariku kalau oppa akan pulang lebih larut dari biasannya dengan begitu aku tak perlu menunggu”

 

“mianhe oppa sama sekali tak kepikiran untuk menghubungimu”

 

“jadi yang oppa pikirkan hanya bersenang  senang  dengan  teman  yeoja  oppa  saja? Oppa sama sekali tak memikirkanku?”

 

“bukan begitu yoong aku hanya…..”

 

“hikss… kenapa kau tega sekali padaku hiks…. padahal aku sudah berusaha memasakkan  makanan yang enak untukmu tapi kau malah… hiks… kau malah  mamilih bersenang  senang  dengan  teman mu itu kau begitu kerterlaluan oppa…hiks..”

 

Siwon terperangah ia langsung menaiki ranjang mendekati yoona yang tengah terhiasak masih dengan selimut tebal yang membukus hampir seliruh badannya.

 

“y-yoong ku mohon jangan menangis oppa tak  tahu  kalau  kau yang akan memasak malam ini”

 

“oppa tak tahu atau pura – pura tak tahu? Aku sudah mengirim pesan padamu tapi kau malah mengabaikan pesan ku itu”

 

“pesan? Aku  tak tahu kalau kau  mengirim pesan yoong”  siwon memang tak tahu kalau yoona mengiriminya pesan karna sedari tadi ia tak mengecek ponselnya

 

Hiks….hiks… hiks…

Kembali suara  tangisan yoona terdengar.

 

“y-yoona…” siwon langsung mengangkat tubuh  yoona agar dapat di peluknya. Siwon mengunci pergerakan yoona ketika istrinya itu mengeliat berusa melepaskan diri dari kukungannya

 

“m-mianhe  yoong  maafkan oppa!. Oppa benar  benar tak tahu  tentang pesan itu.  oppa mengaku salah yoong   jangan menangis seperti ini ku mohon jangan menangis”

 

Yoona terdiam  tak lagi  menagis  ia terdiam begitu merasakan bahunya di basahi oleh air mata. Siwon  menangis? Bukankah harusnya  hanya dia yang menangis  kenapa  jadi seperti  ini?.  yoona  yang masih berdebat kebingungan dengan pikirannya itu bahkan tak menyadari kalau  siwon  telah melepaskan pelukanya  dan kini tengan  menatapnya.

 

“yoona…” siwon mengusap pelan sisa air mata di kedua pipi yoona dengan lembut. Dan tentu perlakuakuannya itu membuat yoona tersadar dari keterpakuannya

 

“ jangan menangis lagi hm?,  kau boleh marah padaku  memukulku atau  kalau  perlu bunuh saja  aku tapi jangan menangis di depanku  kau  membuatku  sedih”

 

“dasar bodoh!  mana bisa aku membunuhmu aku akan terus menangis bila melakukannya” yoona merasa terharu  dengan  perkataan  siwon  itu.  tanpa sadar air matanya kembali  mengalir di wajahnya bukan karna  masalah  tadi tapi kali ini lebih kepada rasa bahagia karna ia memiliki siwon di sisinya yang bahkan tidak tega bila melihatnya menangis

 

“yoona sudah kukatakan jangan menagis….”  siwon kembali merengkuh tubuh yoona kedalam pelukannya

 

Hiks…hiks…hiks…

Yoona yang  kembali  menangis bahkan  lebih  keras dari sebelumnya  membuat siwon  ingin sekali rasannya  ia  menyayat telinganya yang sudah berani menagkap suara isakan itu  kalau saja yoona tidak mebalas pelukannya mungkin saja apa yang  sempat ia bayangkan tadi benar benar akan terjadi.

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

Drtt….drtt…drtt….

Getaran ponsel milik siwon yang di letakkannya dia atas nakas membuat si empunya  terjaga  tapi bukannya menjawab tanpa tahu siapa yang memanggil  ia malah  menekan layar merah  lalu kembali memeluk sang istri yang terlelap begitu damai.

 

Drttt…drtt…drtt….

Kembali ponselnya bergetar entah ini  sudah keberapa kalinya ponselnya itu bergetar dan entah sudah berapa kali pula siwon mengabaikannya.

Tapi tidak dengan yoona yang semula ikut acuh dan kembali melanjutkan tidurnya itu nampaknya mulai tergangu

 

“oppa ponselmu bergetar”

 

“biarkan saja “ jawab siwon acuh  ia memeluk yoona makin erat

 

“aisshh…. oppa!!” yoona bangkit dari posisi tidurnya hingga pelukan siwon terlepas dan menganggkat panggilan yang  membuat  ponsel suaminya itu bergatar terus sedari tadi. Hingga siwon mau tak mau bangkit dari tidurnya  dengan mata yang  nampak masih mengantuk.

 

“siwon kenapa baru mengangkat sekarang? Kita dalam masalah besar  perbatasan di kepung  tentara utara kau harus  ada di sini sekarang.  Tentara kita tak bisa malakukan penerbangan tanpa kau di sini kami membutuhkan strategi mu sekarang” terdengar suara panik dari orang  di sebrang

 

Yoona hanya diam ia melirik siwon yang menatapnya heran

 

“siapa yang  menelpon?”

 

“bukan siapa – siapa”

 

 

“yakk! kau dengar tidak?” kembali  terdengar suara orang di sebrang

 

 

Yoona baru saja akan mematikan panggilan itu  tapi  karna siwon yang kelewat  penasaran dengan cepat siwon mengambil alih  ponselnya itu dan tertulis id ‘donghae’ disana

 

“yobseo? Donghae ah? Ada apa?”

 

“ada apa? Kau tak mengerti  apa yang barusan aku katakan?”

 

“tadi istri ku yang mengangkat” siwon melirik sekilas ke arah yoona

 

“kalau begitu cepatlah kesini  ke adaan benar benar darurat sepertinya mereka tahu kau sedang tidak ada di camp karna  itu  mereka  melakukan  penyerangan”

 

“apa? Baiklah  tunggulah aku  akan segera ke sana” siwon mematikan panggilan itu dan bergegas menggambil  jaket yang tergantung di dinding dan  mendekat ke arah yoona yang terus memperhatikannya

 

“aku pergi  ne?” pamitnya mengecup singkat bibir yoona

 

“o-oppa bisakah kau tak pergi?” yoona menahan lengan siwon begitu siwon hendak berjalan keluar

 

“waeo?  Oppa harus pergi yoong mereka membuntuhkan oppa” siwon duduk di tepian ranjang mengelus pelan surai kecoklatan milik yoona

 

“  Persaanku tidak enak. Tidakk bisakah oppa di gantikan dengan orang lain saja?”

 

“tidak bisa yoong  Oppa tetap  harus pergi”

 

“tapmmpph…..”  siwon mengunci mulut yoona yang baru saja akan bicara dengan ciumannya. Ia mengulum bibir bawah istrinya itu dengan lembut.

 

“jangan berpikiran yang macam – macam arra?” ucapnya begitu melepas ciumannya  dan   kembali mengelus sayang rambut yoona

 

“tapi oppa harus janji akan pulang dengan selamat”

 

Siwon hanya menampakkan senyumannya tangannya bergerak merapikan  rambut  yoona yang  sedikit berantakkan lalu turun pada kedua pipi  mulus istrinya itu. Ia mengelusnya dengan penuh kasih sayang

 

“kau tenang saja takkan terjadi apa apa. Aku pergi”

 

Siwon berdiri dari duduknya dan  berjalan  keluar dari kamar  mereka.

 

Yoona mendesah pelan di liriknya jam dinding di kamarnya itu menunjukkan pukul 3 pagi

 

“bahkan ini masih sangat pagi, orang  korea utara itu benar benar aneh  menyerang di saat pagi buta seperti ini, apa mereka tak tidur”  yoona mengerutu kesal karna  sepertinya pagi ini akan ia habiskan sendirian karna siwon lagi lagi mendapat panggilan untuk mengatasi kekacauan di  perbatasan  memang  ini bukan  pertama terjadi, sebelum sebelumnya siwon selalu mendapat panggilan tugas secara mendadak.

Yoona hanya mampu mengerutu kesal berusaha menghibur dirinya dan  menghilangkan persaan tak nyaman di hatinya.

 

 

 

 

 

Sinar pagi telah jelas terlihat, yoona yang sudah lebih dulu terjaga sejak pukul 3 pagi itu mulai melakukan aktifitasnya sebagaimana aktifitas ibu rumah tangga biasa hanya saja tak seberat ibu rumah tangga yang lain yang harus mengerjakan semuannya sendiri  ia di bantu oleh asisten rumah tangga  yang sejak kecil merawatnya.

 

Yoona hanya kebagian pekerjaan – pekerjaan  ringan seperti menyiram tanaman dan mengganti tanaman yang rusak. Awalnya hwang ajhuma yang merupakan asisten rumah tangganya melarangnya melakukan itu tapi yoona  tetap bersih keras.

 

biar bagaimanapun ia ingin di kenal sebagai istri yang baik yang mengurus suaminya serta rumah yang mereka tinggali  itu walaupun  pekerjaan  inti  itu di ambil alih oleh ajhuma hwang  tapi  setidaknya ada pekerjaan yang ia ambil dari pada harus berdiam diri dirumah tanpa melakukan apa- apa.

 

“YOONA..!!!” teriakan  sooyoung dari  belakang membuat yoona membalikkan badannya dan tampa sengaja ia malah menyenggol  fas bungga matahari  kecil kesayanganya

 

“yoong ….” sooyoung berusaha mengatur nafasnya yang tersengal karna berlari begitu kencang dari ruang tengah menuju halaman belakang tempat  di mana yoona  sedang  melakukan aktifitas kebunya seperti biasa

 

“waeo? Isshhh…..  karna mu bunga kesayanganku jatuh”  yoona memunguti serpihan fas keramik yang berserakan itu satu persatu.

 

Sooyoung ikut menunuduk mensejajarkan posisinya dengan yoona matannya menyiratakan suatu  rasa keprihatinan yang mendalam

“kau  sudah nonton berita belum?”

 

“memangnya kenapa? Apa ada gosip baru?” yoona menengadahkan  pandangannya ke arah sooyoung dengan mimik muka heran

 

“anni bukan gosip… berarti kau belum melihat berita pagi ini”

 

“memang berita apa? Jangan membuatku penasaran”

 

“tentara korea utara berhasil melumpuhkan perbatasan dan dari apa yang  ku dengar  banyak orang terluka karna insiden itu”

 

“hahhh…  kau ini jangan bercanda mana mungkin tenara kita bisa kalah”  yoona kembali memusatkan perhatiannya pada pecahan fas yang berserakan di lantai

 

“yoong  aku tak bercanda!.  apa kau sudah menghubungi siwon? Bagaiman keadaanya?”

 

“kau pikir siwon oppa ikut menjadi korban?” ucap yoona dengan nada sedikit berteriak

 

“y-yoona…”

 

“ asal kau tahu  Siwon oppa baik baik saja dan akan selalu baik baik saja” yoona bernjak masuk  kedalam. Ia benar benar marah pada sooyoung yang berfikiran tidak – tidak dengan kondisi suaminya

 

 

“oh! Ya tuhan”

 

yoona menghentikan langkahnya  ia yang  awalnya  ingin masuk ke kamar  berbalik ke arah hwang  ajhuma  yang  sedang  menonton TV sepertinya sebuah  siaran  berita.

Perasaan tak enak kembali  mengrogoti  hatinya.

 

“ajhuma apa yang  kau lakukan?”

 

“nyonya… hikss…  t-tuan.. tuan..  nyonya”

 

‘tuan? Tuan siapa? Siwon oppa?”

 

Ajhuma hwang  bergegas menganti chanel  TV yang  lain di mana berita yang  baru saja di tontonya di tayangkan di sana .

Yoona hanya melihat apa  yang  ajhuma  hwang  lakukan  matanya terfokus pada layar  Lcd  itu.

 

“Pemerintah sedang  mengadakan  rapat  terkait dengan di serangnya perbatasan.

Kabar terbaru yang kami dapatkan ada sekitar  23  tentara militer kita meninggal dunia di tempat kejadian.  salah  satu korban  di antaranya  adalah  ketua  penerbangan  AU  yang  memegang peran penting dan penyusunan strategi perang  yang  masih dalam proses pencarian.

 

pesawat yang di kemudikanya menabrak gunung  karna menghindari perumahan warga sipil korea utara.

di duga ia tak sempat menyelamatkan diri karna  terjebak di dalam pesawat. Saat ini tim pencari sedang menelusuri tempat kejadian  untuk mengefakuasi bangkai pesawat.

 

Kami dan  kru yang bertugas turut berduka atas hilangnya nyawa tentara kita semoga  mereka dapat  di terima di sisinya.

 

“ sekian breaking  news kali ini, Kim hyori  malaporkan langsung dari tempat kejadian”

 

 

“ini tidak mungkin…” yoona  berpegangan  pada sandaran sofa  ia shok sekarang apa yang barusan ia dengan dari berita itu membuatnya seakan kehilangan arah.  matanya menatap kosong  latar TV yang masih  menampakkan rentetan daftar tentara yang meninggal.

 

“y-yoong?…” sooyoung  seakan  tahu persaan sahabatnya itu hanya bisa menepuk pelan pundaknya berusaha menyalurkan kekuatan  unutk yoona

 

 
hana dul seeo bwado kkeuchi boijil anha, oh baby
gaseume gadeuk damgin chueok ttaemune tto ni saenggage
mot dahan yaegil kkeonae honjatmalppun irado, oh baby
neol dollyeodallago nal bonaedallago ni gyeote

(Apa yang harus aku lakukan sekarang Tidak peduli berapa kali aku menghitung,
Aku tidak dapat mengetahui hasil akhirnya, oh sayang  Karena semua kenangan yang ada di hatiku,

Aku memikirkanmu lagi  Aku tidak dapat mengatakan sesuatu yang aku inginkan

Jadi aku katakan itu pada diriku sendiri, oh sayang)

“kebahagiaan  yang  kau berikan padaku begitu singkat.  aku masih ingin bersamanya  tidak bisakah kau  kembalikan dia padaku? Apa yang harus kulakukan sekarang?  bagaimana mungkin aku bisa hidup tanpa dia di sisiku.  mengapa kau begitu tega  merenggutnya dariku? Kenapa? Apa aku punya kesalahan? Katakan.. apa aku bersalah padamu?  Tidak bisakah kau menahanya lebih lama di sini di sisiku?. Sekali saja kumohon hanya sekali saja ku mohon tuhan ku mohon ”


yoona berlari kencang  menuju camp militer  utama di mana begitu banyak orang yang bertriak histeris dan menanggis menanyakan  keluarga mereka  yang  ikut dalam pertempuran semalam.

Yoona melanjutkan langkahnya di susul sooyoung yang ikut mengekorinya menuju ruangan  kolonel  lee sung dam yang  mengetuai seluruh armada  militer  baik angkatan  darat maupun angkatan udara.

 

Tentara yang berjaga di pintu masuk menuju  koridor  ruangan  utama  itu  membarikan  jalan padanya karna ia tahu betul siapa yoona bahkan  seluruh  tentara armada udara telah mengenal yeoja itu yeoja yang merupakan  istri  dari  atasan  mereka  atasan yang  bahkan sampai saat ini belum di ketahui keberadaannya.

 

“oh? Yoona ssi?”

 

“dimana? Dimana dia?  katakan dimana dia?” yoona meledakkan  amarahnya di depan  kolonel  lee, peraasaan khawatir jelas terlihat di wajahnya  ia berharap choi siwon  suaminya itu  masih  selamat bagaimanapun  keadaannya  nanti  ia sungguh mengharapkan satu keajaiban bahwa suaminya itu akan kembali di sisinya dengan selamat.

 

“yoong tenangkan dirimu” sooyoung menyentuh pelan pundak yoona agar sahabatnya itu mampu mengasai diri dari luapan emosi

 

“kenapa hanya diam saja? Kolonel  ku mohon katakan di mana dia? Dia baik baik saja kan? Tidak terjadi sesuatu yang burukkan?”

 

sekali lagi yoona bertanya dengan  nada  yang  sama  karna satu  satunya  orang  yang  di harapkannya bisa memberitahu keberadaan suaminya itu hanya diam dan menunduk lemah.

 

Dan dengan gelagat yang di berikan kolonel muda itu yoona bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa suaminya itu tidak dalam kondisi yang baik.

 

“kami mohon maaf yoona ssi kami sudah mengerahkan seluruh pasukan udara untuk mencari jasadnya tapi….”

 

“apa? Jasad katamu?  Jangan bicara sembarangan! Suamiku belum meninggal. Dia pasti masih ada di suatu tempat. Dia tak mungkin meninggalkanku seperti ini!!” yoona memotong  cepat perkataan kolonel lee ia tak mau mendengar hal yang jauh lebih buruk dari itu kata ‘jasad” yang di ucapkannya saja sudah membuat dirinya serasa  kehilangan nyawa

 

“lalu apa yang bisa kami lakukan? Bagaimana mungkin tentara udara tidak bisa menemukannya?” sooyoung mengambil alih percakapan itu ia takkan bisa membiarkan yoona  menghabiskan tenagannya  hanya untuk  menumpahkan amarahnya di depan pria ini yang pada akhirnya hanya akan mengucapkan kata yang sama dengan apa yang mereka dengar dari berita.

 

“itu  karna medan yang  di tempuh sangat rumit jadi kami harus mengerahkan pasukkan darat dan udara.  tapi kami mohon maaf sampai saat ini kamu belum menemukan kabin pesawat maupun jasad dari pimpinan choi. Tapi anda bisa  bertanya langsung pada tentara lee dia  ikut bersamanya saat insiden naas terjadi”

 

“lee? Maksudmu lee donghae?” yoona yang mulai menyerah dan pasrah dengan kondisi siwon nanti  kini seperti mendapat setitik cahaya terang  yang mungkin akan di dapatnya begitu bertemu donghae.

 

“ya, kalau ingin bertemu dengannya ikuti  saya”

 

Yoona dan sooyoung mengikuti langkah kolonel  lee menuju bangunan yang tak terlalu jauh. Dari kelihatanya  itu adalah ruang kesehatan para tentara.

 

Yoona dapat melihat tim medis yang  berkeliaran di  sekitar gedung itu seperti terlihat panik ada yang membawa  tandu berisi  mayat tentara yang telah meninggal dengan kondisi yang begitu mengenaskan  ada juga yang di papah  karna  terluka di bagian kakinya.

 

Yoona terus melihat orang – orang di sekelilinganya berharap satu diantaranya adalah suaminya bahkan ia tak sadar  jikalau  kini  kolonel lee dan sooyoung telah berhenti tepat di depan pintu sebuah ruangan.

 

“ahhhh!!!!”  suara kesakitan dari seorang pria terdengar jelas di telinganya. Yoona melirik ke arah kolonel lee yang mengaggukan kepala seakan menyuruhnya untuk masuk.

 

Dengan gerakan pelan ia memutar knop pintu dan terlihatlah dengan jelas pria yang bertariak tadi tengah mengerang kesakitan saat kakinya berusaha di balut dengan gips tebal oleh para suster di sampingnya.

 

“donghae ssi” suara yoona yang tertangkap oleh  indra pendengaranya  membuatnya menoleh ka arah di mana ada sooyoung dan kolonel  lee yang  tengah  berdiri tepat  samping  kanannya

 

Mata donghae memerah begitu melihat yoona ia tak dapat mencegah air matanya itu untuk turun karna saat ini air matanya terjun begitu bebasnya.

 

Yoona yang  melihat  itu  berjalan  mendekat  ia sedikit berjongkok agar bisa menyamakan tingginya dengan donghae yang tengah terduduk.

 

“w-waeo? Kenapa menanggis? Tidak tejadi hal yang buruk kan? Siwon oppa baik baik saja kan?”

 

Nada suara yoona yang bergetar membuat donghae makin  terisak bahunya naik turun karena tangisannya yang begitu hebat.

 

“mianhe.. hikss… harusnya aku ikut mati bersamanya saja,  aku sungguh minta maaf…”

 

“a-apa?”

 

“kolonel!!”  terikan seorang  prajurit  itu membuat seluruh orang  yang berda di ruangan itu sekatika menoleh ke arahnya

 

“ada apa?”

 

“kami sudah menemukannya, bangkai serta jasadnya sudah di temukan” penjelasan dari salah satu prajurit itu membuat yoona refleks berdiri  ia  merasa shok atas di dengarnya itu.

 

Ia tahu siapa yang di maksud sebagai jasad itu, ia cukup tahu itu tapi tidak bisakah  tuhan memberikan sebuah keajaiban  untuknya  kata ‘jasad’  yang di sebutkan itu rasanya begitu menyayat hatinya. Sampai saat  ini  ia masih belum  menyangka kejadian  yang  begitu buruk  itu  meninpa suaminya menimpa dirinya, dan juga kehidupanya. Rumah tangga yang baru seumur  jagung  itu haruskah berakhir  tragis seperti ini.

.

 

.

 

.

Dengan langkah berat yoona mencoba mendekat pada  kantung  jenazah  yang  sebagian orang di sana telah mengakui bahwa sosok yang ada di dalam sana adalah suaminya,  choi siwon.

Dengan gerakan perlahan ia mulai menyibak kantung berwarna kuning terang itu.

 

“i-ini tidak mungkin….”  Yoona membekap mulutnya dengan kedua tangnya shok  begitu dengan jelas terlihat wajah yang seharian ini membuatnya khawatir setengah mati.

 

 

kkok butakhae, jebal ireoke butakhae
kkok haneure, naui gidoreul haneure
nal wirohae, nareul wirohae
jundaneun neon eodie inni jebal
byeolbyeolbyeol byeoldeura malhaebwa
kkeutnangeoni geureongeoni daedaphaebwa utjiman malgo
byeolbyeolbyeol byeoldeura butakhae
dan hanbeonmanira do nal nae sarang
ni gyeote naragal su itge haejwo
Aku ingin kau kembali, aku ingin kembali ke sisimu

(Aku mohon padamu,  ke langit,
Doaku pergi ke langit menghiburku,  menghiburku Aku mohon, di mana kamu sekarang
Bintang, bintang, bintang, bintang  Bicara padaku Ini sudah berakhir, bukan?
Jawab aku, jangan hanya tertawa Bintang, bintang, bintang, bintang
Aku mohon padamu  Sekali saja, sayangku, biarkan aku terbang ke sisimu)

“semua sudah berakhir, kisahku berakhir sampai di sini pantaskah aku tertawa saat ini? Pantaskah untukku tersenyum di saat kau benar benar telah pergi meninggalkanku untuk waktu yang lama anni mungkin untuk selamanya kenapa kau begitu tega?

 

 Ku mohon padamu tidak bisakah kau kembali? Sekali saja bari aku kesempatan bersamamu,  sekali saja biarkan aku mersakan indahnya membina keluarga bersamamu. Atau perlukah aku yang kesana? Ku mohon jawab aku.  jika itu satu satunya cara unutk tetap bersamamu aku akan kesana..”

 

 

Proses  kremasi  itu di dominasi oleh suara tangis yang tertahan, begitu  peti  mati  itu mulai tertutup sepenihnya  oleh gundukan tanah.

 

Hanya yoona saja yang sedari tadi diam badanya terasa begitu lemas  kalau  saja tidak ada sooyoung  yang berdiri di belakanganya menopang nya untuk tetap berdiri tegak mungkin saja ia bisa dengan begitu mudah terjatuh.

Matanya memrah tapi tidak ada satupun air mata di sana tatapannya yang terfokus pada nisan itu begitu kosong.

 

.

 

.

 

.

 

“yoong…” yoonhee yang baru saja tiba dari jepang  berlari menuju lantai dua di mana kamar dongsaengnya itu berada.  Ia begitu terkejut mendapat kabar bahwa suami dari dongsaeng kesayangannya itu telah tiada hingga membuatnya begitu di rundung rasa panik pasalnya kabarnya itu baru di dengarnya sehari setelah proses kremasi.

 

 

“yoona  jangan bodoh!! lepaskan pisaunya..” sooyoung   mendekat ke arah yoona yang sudah menekan  mata pisau itu pada lehernya hingga darah terlihat di sana

 

“jangan mendekat!!!” yoona memundurkan langkah begitu sooyoung  berniat mengambil alih pisau yang di gengamnya

 

“lepaskan pisau itu yoong….” sooyoung kembali membujuk yoona

 

“ku bilang  jangan mendekat!!!”

“apa yang kau lakukan yoong!!” Yoonhee yang baru sampai di kamar yoona  itu di buat tercengang dengan apa yang di lihatnya yoona berusa melukai dirinya sendiri  lebih tepatnya ingin bunuh diri.

 

“yoonhee eonni??” sooyoung menampakkan wajah bersyukurnya begitu melihat yoonhee kakak yoona itu akhirnya datang dan mungkin saja bisa membantunya menghalangi  aksi  nekat yoona saat ini.

 

Yoonhee dengan gerak cepat langsung memluk yoona hingga pisau yang  sempat di gengamnya terlepas. Yoonhee memeluknya begitu erat ia mengis di bahu dongsaenya  itu  mana kala melihat seberapa tertekanya yoona hingga nekat ingin bunuh diri.

 

“lepas!!! Lepaskan aku.. biarkan aku mati… lepas” yoona berteriak keras berusaha   melepaskan diri dari pelukan yoonhee tapi nyatan  tak bisa karna sooyoung  membekapnya  takkalah erat dari belakang

 

“ku mohon yoong,  jangan begini eonni mohon..” yoonhee meledakkan tangisnya begitu mendengar kata ingin mati yang yoona ucapkan.

 

.

 

.

 

.

Dongahae mengehala nafas berat ia berjalan mendekat kaearah pintu besar bercat coklat muda itu dan menkenan tombol bel yang tepat barada di sisi pintu

 

“anda siapa?”

 

“oh anyonghaseo  saya donghae,  lee donghae teman  siwon.  apa yoona-ssi ada di dalam?”

 

“ne nyonya memang ada di dalam”

 

“bisakah saya bertemu denganya ada hal penting  yang  harus  saya sampaikan”

 

“oh !. ne  silahkan”

Donghae  mengikuti hwang ajhuma yang melangkah ketaman belakang dimana yoona tengah duduk termenung disana.

 

“nyonya ada yang ingin bertemu”

 

Yoona diam tidak menjawab ia masih fokus menatap kosong  pot bunga di depanya. Hwang ajhuma saling bertukar pandang dengan donghae kemudian mendesah pelan

 

“nyonya teman tuan choi datang  ia ingin bertemu dengan anda”

 

Tanggapan yoona tetap sama diam dan menatap kosong objek di depanya ia seperti tidak mendengar suara seorang pun di sekitarnya.

 

“bisa tinggalkan kami sebentar ajhuma?”

 

“nde?”

 

‘tenanglah aku tak akan  berbuat  macam  macam”

 

“ baiklah kalau begitu saya permisi”

 

Donghae menatap kearah yoona sedih ia bisa merasakan sedalam apa kini yoona tengah terluka ia mendekat duduk tepat di hadapan yoona.

 

“yoona-ssi  aku sungguh minta maaf  padammu. Tentang  insiden itu aku sungguh minta maaf”

 

Hening yoona tetap diam bahkan donghae sengaja menunda perkatannya yang selanjtunya demi membiarkan yoona berbicara padanya tapi sepertinya hanya akan sia sia karna  sampai beberapa menit pun yoona tak pernah  melepas  pandanganya  pada  bunga kecil yang menjadi objek penglihatanya sedari tadi.

 

“yoona-ssi  bukan hanya kau merasa kehilangan aku juga aku sebagai  sahabatnya juga mersakan yang sama. Kalau  bisa memilih sebaiknya aku saja yang bertukar posisi denganya  aku tak bisa melihat orang orang di sisnya begitu merasa sedih karna kehilangan sepertimu saat ini.

Kau terus saja termenung sperti ini membuat ku makin mersa bersalah.  siwon pasti tidak akan suka melihat. Mu seperti ini”

 

Dan sekali lagi donghae hanya bisa mendesah  pasrah  karna lagi  lagi  yoona hanya diam

 

“baiklah sepertinya aku datang di  waktu  yang  kurang  tepat” dongahae menaruh sebuah mp3 recording di atas  meja dekat pot bunga yang  sedari tadi di perahtikan yoona “itu rekaman percakapan terkahir kami dengan siwon sebelum pesawatnya  kehilangan  ke seimbangan dan jatuh.  biar bagaimana pun kau harus mendengarnya. Aku pergi dulu”

 

Yoona melirik kearah Mp3 record yang di lettakan denghae itu. tanganya perlahan menekan tombol power

 

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

“ lompat lah duluan”

 

“apa? Kau gila bagiaman denganmu? Kita melompat bersama saja”

 

“kau lompalah dulu aku harus memutar kemudi ke arah gunung itu kalau tidak pesawat ini kan jatuh ke rumah penduduk”

 

“ apa kau sudah gila aku tak mau”

 

“ya.. ya.. apa yang kau lakukan siwon…”

 

“krrksss… siwon kau mendengarku?”

 

‘ne……”

 

“krrksss… melompatlah sekarang tak ada waktu lagi”

 

“aku  tak bisa tombol nya macet aku tak bisa melompat”

 

‘krrksss…. jangan bercanda coba sekali lagi…”

“tetap saja tidak bisa”

 

‘krrksss….putar arah  kau bisa menabrak gunung”

 

“mianhe…. “

 

“krrkssss…. apa?”

 

“tolong  sampaikan padanya permohonan maafku ini….”

 

“krrrkkss… yakk!! Kau ini bicara apa?”

 

“tolong  bilang  padanya bahwa aku begitu mencintaniya tolong sampaikan pada istriku kalau aku sangat mencintainya”

 

“krrkssss… siwon jangan main- main .  ini perintah!!!  putar kemudimu ke arah kanan kau bisa menabrak gunung”

 

“mianhe…”

 

“BUSSH!!!!!” *anggap suara ledakan*

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

 

Yoona membekap mulutnya menahan suara tangisnya begitu percakapan yang di dengarnya itu berakhir  apa lagi dengan suara ledakan  yang begitu besar membuatnya makin merasa begitu sedih dengan kejadian yang dia lami suaminya itu dan lagi kalimat maaf dan cinta yang di ucapkanya pun membuat yoona makin tenggelam dalam  rasa sakit yang begitu hebat.

 

Flash back

 

Siwon berlari dari arah koridor kecil yang  menghubungkannya  pada  ruangan  rahasia di mana ia telah di tunggu di sana

 

“oh?  Pimpinan…” salah  satu  prajutit  membungkung  hormat begitu  melihat  siwon  yang  baru  saja membuka pintu

 

“bagaimana?  Area apa saja yang sudah di serang?” siwon mendekat ke arah layar monitor yang memantau setiap sudut camp

 

“mereka sudah berhasil melumpuhkan wilayah begian timur”

 

 

“sepertinya kali ini mereka benar benar ingin mengacaukan  pertahanan  di  wilayah perbatasan” Siwon mendesah pelan tatapan  matanya  tetap  terfokus  pada  layar monitor  yang  memonitoring aksi  perang  yang  terjadi  saat  ini.

 

 

“lalu apa yang harus kita lakukan”

 

“tidak ada cara  lain  kita harus  merubah  posisi  perlawanan  ke a rah  barat dan utara  kerahkan semua tentara darat  ke arah barat dan utara” ucap siwon berbalik mentap kolonel  lee yang merupakan pimpinannya itu seakan meminta izin atas apa yang di rencanakannya tadi

 

“baiklah kalau begitu perintrahkan komando tempur darat untuk beralih menjaga sisi bagian barat dan utara dan kirim beberapa dokter di area timur segera  tangani tentara yang masih selamat”

 

“siap!!!” prajurit yang menjadi lawan bicaranya itu membungkuk hormat lalu berbalik  menuju  tempat di mana di sebutkan oleh kolonel  lee tadi.

 

“tapi kolonel  kalau area utara dan barat kita pertahankan bagaimana dengan area selatan? Sementara di sana adalah titik temu perbatasan” ucap donghae dengan wajah yang  begitu cemas

 

“kau tenang saja  tentara tempur udara yang akan bermain di sana. Aku akan terjun kangsung ke area selatan akan kuhabisi  pasukan  tempur  mereka  yang  mencoba  mendekat  ke wilayah kita” siwon mentap  kembali layar monitor di depannya matanya berkilat marah

 

.

 

.

 

.

 

 

 

Pertempuran udara antara tentara bara udara itu berlangsung  hampir satu jam  lamanya baik  tentara korea utara maupun selatan  bertempur saling mencari kelemahan masing masing  untuk dapat menjatuhkan  lawan dan kali ini  pesawat  tempur tentara utara    hanya tersisa 4 saja.

 

bukan perkara mudah bagi siwon dan timnya untuk melumpuhkan tentara korea utara yang  hampir sekitar 20 pesawat itu untuk bisa di kalahkan untungnya siwon yang  memang  pandai menyusun strategi perang itu membuat para musuhnya itu cukup kewalahan dan kesempatan  itu  tidak di sia siakan mereka langsung menghujani dengan tembakan – tembakan hingga musuh tak dapat berkutik.

 

Seperti kini siwon mengemudikan pesawat  F-111 Aardvark  nya itu begitu kencang. siwon bahkan menyelip ke sisi samping  kabin pesawat  prajurit korea utara seakan tak takut ia malah berjalan di depannya layaknya sebuah pancingan dan ia adalah umpannya.

 

Dan benar saja pesawat  berjenis F-22  raport milik musuh itu pun yang awalnya berusaha memberi serangan  pada pasukanya yang  lain  yang kebetulan siwon ikutkan ke dalam  pertempuran  udara langsung berbalik mengejar pesawat yang di kendarai nya.

 

Ada  3 pesawat musuh yang berhasil terpancing dengan taktik yang di jalankan siwon. Siwon yang memang  begitu  pandai dalam  mengemudikan  pesawat  itupun  memutar  kemudi  karah  sebaliknya hingga membuat psawat  F-22 raport di belakangnya itu saling bertubrukan dan kehilangan keseimbangan hingga jatuh ke bawah.

 

Siwon tersenyum lega begitu ke tiga pesawat yang  sejak setengah jam lalu berusaha ia lumpuhkan kini telah membaur dalam api ledakan yang begitu besar. Ia seakan lupa jikalau pesawat musuh yang tersisa tinggal 4 dan yang telah berhasil di lumpuhkanya tadi hanya  3.

 

Saat  siwon melajukkan pesawat  F-111 Aardvark  dengan kecepatan sedang , dari arah belakang pesawat musuh yang  tersisa  terlebih  dulu  meledakkan tembakan tembakkan ke arahnya  hingga membuatnya sedikit kehilangan  keseimbangan  terlebih sayap kanan pada pesawat itu seakan ti dak berfungsi menyangga keseimbangannya

 

“astaga apa yang terjadi?” donghae nampak gusar ketika melihat siwon kewalahan mengatur posisi terbanya pesawat. Ini adalah pertama kalinya ia ikut dalam pertempuran karna pekerjaannya yang sebelumnya hanyalah mengawasi jalanya pertempuran.

 

“pesawatnya sulit di kendalikan  sepertinya mesin nya rusak” siwon terus berusaha menstabilkan kondisi mesin pesawta  F-111 Aardvark  nya itu

 

“apa? Lalu apakah kita akan jatuh?” donghae merasa semakin takut di buatnya ini pertempuran pertama yang di ikutinya dan sepertinya akan menjadi pertempuran  terakhir pula.

 

“ lompat lah duluan”

 

“apa? Kau gila bagiaman denganmu? Kita melompat bersama saja”

 

“kau lompalah dulu aku harus memutar kemudi ke arah gunung itu kalau tidak pesawat ini kan jatuh ke rumah penduduk”

 

“ apa kau sudah gila aku tak mau”

 

Mendapat respon yang sama karna donghae yang tetap menolak untuk melompat siwon langsung memencet tombol  jump pada kursi dongahe yang tepat berada di belakangnya itu

 

“ya.. ya.. apa yang kau lakukan siwon…”

 

Siwon menghela nafas pelan lalu memfokuskan diri pada kemudi  pesawatnya

 

“krrksss… siwon kau mendengarku?” suara dari seorang pria terdengar dari earphone yang tepat terpasang di telinganya

 

‘ne……”

 

“krrksss… melompatlah sekarang tak ada waktu lagi”

 

Setelah memastikan posisi pesawat nya akan jatuh tepat di gunung dan jauh dari perumahan  yang tadi sempat ia jauhi itu siwon melepas stablet kemudinya dan menekan tombol jump  pada kursinya itu hal yang sama seperti apa yang barusan di lakukanya pada donghae.

 

“aku tak bisa tombol nya macet aku tak bisa melompat” siwon yang terus berusaha menekan tombol jump tapi hasilnya tetap sama kursi yang harusnya melompat keluar dari pesawat itu  sepertinya mengalami masalah.

 

‘krrksss…. jangan bercanda coba sekali lagi…”

“tetap saja tidak bisa”

 

‘krrksss….putar arah  kau bisa menabrak gunung”

 

“minhee…. “

 

“krrkssss…. apa?”

 

“tolong sampaikan padanya permohonan maafku ini….”

 

“krrrkkss… yakk!! Kau ini bicara apa?”

 

“tong bilang padanya bahwa aku begitu mencintaniya tolang sampaikan pada istriku kalau aku sangat mencintainya”

 

“krrkssss… siwon jangan main- main putarkemudimu ke rah kanan kau bisa menabrak gunung”

 

“mianhe…” siwon menutup matanya erat begitu dengan jelas terlihat gunung di hadapanya

 

“BUSSH!!!!!”

 

Suara ledakan yang begitu hebat terdengar dari radius 15km di mana donghae baru saja mendarat sehabis melakukan pelompatan darurat.

Dongahe membelalakan matanya terkejut? Tentu saja ia bahkan tak bereaksi apa apa padahal jelas kaki kananya saat ini tengah terluka sehabis menghantam  tebing  saat berusaha mendarat tadi.

 

“siwoonnnnn!!!!… siwonnnn!!! Hiks… siwon….” donghae berteriak  di iringi isakannya yang begitu keras

 

 

Sedangkan tim yang berada dalam ruangan pengawasan menangis  meareka larut dalam tangis kesedihan pimpinan mereka jelas tak akan selamat mengingat begitu besarnya suara ledakan itu dan mungkin mereka akan kehilangan sosok yang begitu menjdi panuta, n pimpinan yang begitu baik dan begitu pandai dalam pengaturan strategi perang itu.  mereka akan sangat kehilangan dia seorang tentara terbaik choi siwon.

 

Flash back end…

 

 

 

 

 

“nyonya  makanlah  sedikit saja  kalau nyonya begini terus nyonya akan sakit” untuk kesekian  kalinya hwang ajhuma  membujuk  majikannya  itu yang tak lain adalah yoona untuk memakan makanan yang di buatkanya siang ini.

 

“biar aku yang menyuapinya ajhuma istirhatlah”  yoonhee bergerak mendekat ke arah yoona yang masih duduk diam di atas ranjang menatap kosong diding di depanya.

 

 

Yoonhee  makin di buat khawatir dengan kondiri yoona yang begitu menyedihkan. Kantung mata yang  hitam  begitu jelas terlihat terlebih mata sayu yang di tunjukkan itu begitu membuatnya ingin menangis.

ini memang bukan pertama kali ia melihat dongsaengnya  seperti itu  karna  hal yang  sama seperti yang saat ini di lihatnya pernah terjadi  saat ayahnya meninggal setahun yang lalu dan kini ekspresi yang sama kembali di tunujukkannya malah kali ini lebih parah dari sebelumnya

 

 

“yoong…”

 

Yoona melirik sebentar ke arah kirinya di mana yoonhee duduk lalu  kembali menatap diding di depanya dengan tatapan yang sama seperti tadi begitu kosong

 

“y-yoong  ku mohon jangan begini” yoonhee tidak dapat menahan suranya yang bergetar  ia berusaha menahan tangis yang keluar begitu melihat yoona yang seolah olah tidak memperdulikanya dan kembali tenggelam dalam kesedihanya.

 

“pergilah aku ingin sendiri….” jawab yoona tanpa  melepas pandanganya

 

“eonni takkan pergi sebelum kau makan.  Sudah hampir dua hari ini kau tak makan apapun, sekarang makanlah” yoonhee mengambil semangkuk bubur  abalon kesukaan  yoona  dan  menyodorkan sesendok  untuknya

 

Belum sempat yoona berbalik ingin menolak  makanan yang di sodorkan yoonhee itu tiba tiba ia merasakan mual di perutnya.

 

‘y-yoona waeo?” yoonhee ikut berlari menyamakan langkah yoona yang berjalan terburu buru ke arah kamar mandi

 

Uueekk… uueekkk…uueekk…

Yoona terus memuntahkan isi perutnya.  hal itu membuat yoonhee khawatir terlebih  melihat kondisi yoona yang  makin melemah dengan wajah yang begitu pucat.

 

“yoong kau kenapa?”

 

“e-eonni….” yoona menatap yoonhee sebentar  sebelum kemudian jatuh pingsan

 

“y-yoona… yoong!!  Bagunlah!!  yoona!!”

 

.

 

.

 

.

“eugh..” yoona mengerjapkan matanya berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya lampu yang begitu menyilaukan.

 

“yoong kau sudah sadar” yoonhee mendekat kearah yoona dan langsung menggengam tangan dongsaenya itu

 

Yoona hanya melirik sekilas ke arah yoonhee  ia memutar pandangannya  ke seluruh ruangan di mana ia berda karna jelas ini bukan  kamarnya  ruangan ini begitu asing baginya

 

“kita di rumah sakit” ucap yoonhee  seakan mengerti dengan ekspresi yang di berikan dongsaengnya  itu

 

“rumah sakit? Memang aku sakit apa?” entah karna yoona  begittu tertakan atau apa  hingga bahkan saat  bertanya pun suaranya begitu datar tidak ada ekspresi di wajahnya semuanya  seakan biasa saja.

 

“yoong.. eonni tak tahu ini berita baik atau malah sebaliknya untukmu.  Tapi biar bagaiman pun kau harus mengetahuinya” yoonhee menggengam kedua tangan yoona lembut berusa mentransfer kekuatan untuk dongsaengnya itu  “kau sekarang sedang mengandung yoong u-usianya sudah hampir dua bulan” lanjutnya

 

“a-apa? A-aku…” yoona menundukkan wajahnya menatap tak percaya pada perutnya yang masih nampak rata seperti  biasa. Perlahan lahan wajahnya mulai basah karna air mata yang tanpa henti tergerai jatuh dengan sendirinya.

 

Dia benar benar tidak tahu bagaiman  mengekspresikan persaannya saat in.  Bahagiakah karna pada akhirnya ia akan segera menjadi seorang  ibu  atau harus bersedih karna kabar bahagia ini justru datang di saat hidupnya  serasa hampir berakhir.

 

“y-yoong untuk itu kau harus hidup dengan baik demi bayi yang ada di kandunganmu” yoonhee mengelus pelan lambut yoona yang masih nampak terisak.

 

Lebih dari apapun ia sanggat mengerti bagaimana persaan yoona saat ini, di saat suaminya bahkan belum genap sebulan meninggalkanya  yoona harus menerima bahwa pada nantinya  anaknya itu akan hidup sebagai sorang yatim.

 
Star, star, star, ooh baby, star, star, star, oh

 

 

(Bintang, bintang, bintang
Ooh sayang, bintang, bintang, bintang ooohhh ~)

 

 

“kau masih di sana? Tidakkah kau lihat betapa menderitanya aku saat ini? Bahkan di saat  kau  tak ada pun  mengapa kau masih bisa membuatku begitu tersiksa seperti ini?

 

Kau tahu aku selalu mengingat mu, selalu memimpikanmu aku begitu merindukanmu entah sampai kapan aku begini.

 

 tapi jujur di hati ku ini masih berharap semua ini hanya mimpi yang ketika aku tersadar kau masih ada di sampingku, mengegam tanganku dan memelukku seperti yang sering kau lakukan untukku begitu sederhana tapi aku bagitu menyukainya”.  

 

 

7  april 2013

 

Yoona  tengah duduk di sebuah taman yang cukup luas dengan hamparan rumput hijau di sekelilingnya. Tempat yang sama ketika ia dan siwon pergi  berkencan.

 

Ia menekuk lututnya dengan kedua tangan melingkar di kedua sisinya.

Yoona menatap ke arah atas di mana  bisa dengan jelas di  lihatnya bintang  yang berkedap kedip menampakkan cahaya yang begitu indah.

 

Hari ini seharusnya menjadi hari spesial di mana ia akan merayakan hari lahirnya orang  yang  begitu di cintainya.  seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya,  seseorang  yang bahkan sampai detik ini begitu di rindukanya.

 

Ini sudah memasuki bulan bulan ke sebelas  sejak  kepergiannya dan juga ini adalah bulan ke  sepuluh di mana di dalam rahimnya hidup buah cintanya dengan orang yang begitu  ia cintai dan mungkin tak lama lagi ia akan menyandang status sebagai seorang ibu.

 

“yoong  sebaiknya kita pulang  sekarang  ini sudah cukup larut.  tidak baik wanita  hamil berlama lama duduk di luar  kau tahu di sini begitu dingin” yoonhee  merangkul pelan pundak yoona membatunya untuk berdiri

 

‘ahhh…”

 

“waeo? Kau kenapa yoong?” yoonhee menunduk meraih tubuh yoona yang secara tiba tiba jatuh terduduk.

 

“ahhh perutku…ahhh sakit sekali…” yoona memjamkan mata berusaha menahan  rasa yang begitu menyakitkan di daerah perutnya

 

“astaga i-ini  yoong sepertinya kau akan melahirkan” pekik yoonhee begitu melihat air ketuban yoona yang telah pecah mangaliri betis putih miliknya.

 

Yuri meregoh tas selempangnya mencari ponsel yang ada di dalamnya begitu ia mendapatkan ponselnya dengan cepat ia menghubungi  seseorang untuk memnita bantuan membawa yoona ke rumah sakit secepatnya.

 

“yeobseo?  Oppa kau dimana?”

 

“…..”

“bisakah oppa tinggalkan itu sebntar?”

 

“….”

 

“y-yoona dia  sepertinya akan melahirkan aku tak kuat memapahnya”

 

“…..”

 

“arrasso!  Aku akan menunggumu”

 

yoonhee  mematikan sambunganya itu lalu balik menatap ke rah yoona yang masih berusaha menahan rasa sakitnya.

 

“yoong kau tahan sedikit ne? Jaebum oppa akan segera kesini”

 

 

 
nan neol byeolbyeolbyeol byeolmankeum saranghae
watdeon geoya neoreul chaja jeo meolliseo neon shining star
byeolbyeolbyeol byeolmareul da haebwado
pyohyeoni andwae jeongmal neomuna
dapdaphae ije nan eotteoke haeya hana

 

(Aku mencintaimu sebanyak bintang-bintang, bintang, bintang, bintang
Aku datang padamu untuk mencarimu Kau bagai bintang yang bersinar jauh
Bintang, bintang, bintang, bintang  Tidak peduli apa yang aku katakan
Aku benar-benar tidak dapat mengekspresikan diriku  Aku frustrasi sekarang

Apa yang harus aku lakukan sekarang?)

 

“aku masih terus mengingatmu. Kau  yang begitu aku cintai, bagaimana bisa aku melupkanmu? Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti aku kan tetap mencintaimu.   Hingga tiba saatnya  aku kembali ke sisimu bisakah kau menungguku?  ku mohon tunggulah  hingga saat itu datang, kau maukan menungguku?”.

 

 

“tarik nafas dalam dalam lalu keluarkan perlahan, iya seperti itu ulangi seperti itu” dokter shin terus memberi pengarahan pada yoona sebelum proses  kelahiran itu dimulai

 

“kalau begitu ini saatnya mari kita mulai”  dokter shin menatap ke arah  dua suster yang  akan ikut andil dalam peroses persalinan itu.

 

“kau sudah siap yoona ssi?”

 

Yoona hanya mengganguk lemah

 

“dorong secara perlahan lahan…”

 

Ahhhh….

 

“iya perlahan saja jangan di paksakan”

 

Ahhhhh……

 

 

 

 

 

 

 

“kenapa lama sekali?” yoonhee menatap pintu ruangan persalinan itu dengan harap  harap cemas pasalnya ini sudah hampir satu  jam  lebih  tapi  pintu  itu tak sekalipun terbuka

 

“kau tenang saja tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi, dokter shin adalah dokter terbaik di sini” jaebum merangkul pelan pundak istrinya menuntunnya untuk duduk tenang di kursi tunggu

 

 

 

 

 

“yoonhee eonni!!!”   sooyoung berlari kencang dari arah koridor panjang rumah sakit  membuat pandangan jaebum dan yoonhee  teralih ke arahnya.

 

“bagaimna yoona? Apa di baik baik  saja?” sooyoung dengan nafas yang tersengal akibat berlari itu langsung bertanya pada yoonhee.

 

“aku juga tak tahu dia masih di dalam” yoonhee menunduk lemah entah kenapa persaannya tak enak

Ia begitu  takut  akan terjadi hal yang buruk pada yoona yang sedang bertaruh nyawa di dalam sana.

 

“hahhh…” sooyoung menghela nafas berat sembari mendudukkan diri pada kursi tunggu tepat di samping yoonhee duduk.

 

 

 

 

 

“hahhh… hahhh ….” yoona  mengatur  helaan nafasnya  yang  tersa berat ia sungguh lelah matanya terasa begitu berat hingga dengan  perlahan lahan kedua mata itupun mengatup.

 

 

 

 

“yoong…. sadarlah ku mohon”  yoona  membuka matanya yang sempat tertutup  itu begitu mendengar suara yang entah dari mana asalnya tapi ia begitu  tahu suara ini suara orang yang begitu  di cintainya entah sudah berpa  lama ia tak mendengarnya lagi

 

“yoong…” kembali suara itu terdengar  yoona memutar matanya mengelilingi seluruh ruangan berharap  menangkap suara dari sosok yang begitu di rindukanya itu.

 

Dan benar saja tepat de samping  kananya siwon tengah berdiri memberikan senyum tulus untuknya senyum yang sedari dulu sangat di sukainya.

 

“o-oppa?”

 

“ne! Ini oppa yoong! Oppa datang untukmu”

 

“apa aku sedang bermimpi?”

 

Siwon hanya tersenyum ia menggengam tangan yoona lembut.

 

Dingin itu yang di rasakan yoona tangan siwon begitu dingin saat menggengam tangannya berbeda dengan dulu tangan itu begitu pucat wajahnya juga terlihta sama pucatnya.

 

“oppa…”

 

“kau harus kuat yoong!.  oppa akan selalu di sini bersamamu, kau harus bisa melahirkanya anak kita kau harus kuat demi dia”

 

 

 

“yoonnassi….yoonassi apa kau baik baik saja? Kau mendengarku?”

Suara panik jelas terdengar dari  mulut dokter shim karna melihat keadaan yoona  yang  mulai melemah.

 

Suara dokter shim yang melengking itu pun membuat yoona tersadar dan membuka mata ia menoleh ke arah samping tapi tidak jua menemukan sosok siwon.

 

Ia medesah kecawa karna benra apa  yang  di  pikirkanya  tadi  ia  hanya sedang  terbawa mimpi dari tidurnya.

 

“yoona-ssi? Apa  kau masih bisa melnjutkanya atau perlu kita lakukan oprasi saja?” kembali suara dokter shim yang terdengar

 

Yoona menggelang lemah.   biar bagaimna pun ia sudah terlanjur memilih melakukan persalinan dengan normal ia tak mau melahirkan dengan cara oprasi.

 

ini adalah kelahiran anak pertamanya dan ia ingin memberikan suatu kesan tersendiri  karna telah mealahirkan bayi  dengan cara yang normal.

 

”kalau begitu lakukan seperti  tadi dorong  lagi secara perlahan”

 

“ Ahhhh…. hhhh…”

 

“iya kepalanya sudah terlihat. sedik lagi yoona- ssi sedikit lagi…”

 

“Ahhhhhhhhh…..”

 

 

 

 

 

 

“bayinya sudah lahir” yoonhee yang  mendengar  suara tangisan bayi  itu  refleks  berdiri dari duduknya

 

“ne?”

 

“oppa tak mendengarnya itu suara tangisan bayi”

 

“ahh iya itu suara tangisan bayi eonni.   yoona berhasil melahirkan”

 

Mereka mendekat ke arah pintu persalinan ketika pintu itu terbuka lebar dan nampaklah sosok dokter shin  yang berdiri di sana

 

‘bagaimna bayinya?”

 

Dokter shin tersenyum lembut mengarah kan padanganya pada yoonhee yang bertanya tadi “bayinya sehat,  dan bayi  itu begitu tampan”

 

“t-tampan berarti bayinya  namja?” sooyoung nampak sumringah mendengar  bahwa yoona sahabantnya itu telah  melahirkan seorang  bayi  laki laki.

 

“ne bayinya laki laki”

 

“tapi  apa yoona baik baik saja”

 

“awalnya saya sempat khwatir begitu yoona- ssi  kelelahan ia bahhkan jatuh tertidur beberapa menit tapi untungnya  sekarng  kondisinya baik baik saja”

 

“syukurlah”

 

“masukklah kalian ingin melihat bayinya kan?”

 

Dokter shim melangkah masuk kedalam  ruangan di ikuti yoonhee, sooyoung dan jaebum di belakangnya.

 

 

“yoong…”

Yoona menoleh ke arah sooyoung  ia memberikan senyuman  tipis pada sahabatnya itu.

 

“ini bayinya… seorang susuter memberikan bayi  mungil  lengkap dengan bedongnya pada yoona

Yoona tersenyum mengecup kilat dahi bayinya itu. Begitu mungil dan tampan.

 

ia tertegun sesaat ketika dengan jelas ia lihat bayinya itu memiliki senyuman yang sama dengan ayahnya bayinya itu memiliki lesung pipit yang sama persis dengan siwon.  ia seperti melihat siwon yang terlahir kembali di hari yang sama dengan kelahiran siwon 7 april 2013.

 

 

“woahh… dia begitu tampan. Boleh aku menggendongnya?”

 

Yoona  mengangguk  pelan sembari  meletakkan bayinya itu tepat di pangkuan sooyong

 

“ahhhh…”

 

“yoong kau kenapa?”

 

“ahhhhh……..”

 

“astaga d-darah eonni itu d-darah” sooyoung menunjuk ke arah selangkangan yoona yang mulai di aliri darah segar  hal itu sontak membuat yoonhee melebarkan mata panik

 

“y-yoong?  P-pangill dok ter oppa c-cepat panggil dokter” yoonhee gelalapan ia begitu panik  tubuhnya mulai bergetar ketakutan

 

 

“ahhhh…” yoona terus mengerang kesakitan

 

“y-yoong..” suara bergetar itu terdengar dari sooyoung dan yoonhee

“astaga! Suster cepat  ambilkan kapas bersih dan sekantong darah B sekrang” titah dokter shin pada suster yang berdiri diam di sampingnya

“dokter yoona kenapa? Sebenarnya apa yang terjadi denganya?” jaebum yang sedari tadi diam tak bisa menampik lagi rasa khwatirnya begitu melihat adik iparnya itu meraung (?)  kesakitan

“sepertinya ini pendarahan yang serius” dokter menatap khawatir ke arah yoona

 

“e-eonni..hhhh..” yoona berusaha menahan rasa sakitnya ia menarik pandanganya ke arah yoonhee yang berdiri di samping kirinya. “eonni… mau kan menjaganya untukku?” Dengan gerakan perlahan ia menggegam tangan eonninya itu

Yoonhee  terisak pelan ia mengerti kalimat yang di ucapkan yoona itu adalah suatu pertanda jikalau waktu yang di miliki dongsaengnya itu takkan lama lagi

“eonni harus berjanji  merawatnya seperti merawat anak eonni sendiri”

Yoonhee mengganguk lemah. Ruangan itu di penuhi iskan yang memilukan baik dari sooyoung dan jaebum dan juga dokter shin yang  melihat itupun tak bisa menahan air mata bagitu mendengar perkataan  yang di ucapkan dari bibir yoona itu.

 

“changia…” panggilan yang begitu lembut tertangkap oleh indra pendengarnya yoona menoleh ke arah depan di mana siwon tersenyum dengan sinar yang menyilakan di sampingnya “kajja”

 

Sudut bibir yoona perlahan melengkung ia tersenyum lembut  pada siwon dengan perlahan lahan matanya mulai mengatup tanpa melepas senyum dari bibirnya

 

“yoona!!…”

 

seketika tangis mereka pecah orang yang mereka sayangi itu telah pergi ke sisinya. oran g yang begitu berarti di hidup mereka itu kini pergi untuk selama lamanya menyisakan kesedihan yang mendalam apa lagi bayi  yang baru di lahirkanya itu seakan mengerti ibunya telah menyusul sang ayah itu pun iku menagis dalam gendongan sooyoung.

 

 

 

 

“cintaku pada akhirnya akan berlabuh kembali padamu meskipun kau jauh aku kan tetap kembali kesisimu.  aku mencintaimu tidak peduli  dunia yang  sempat  megukungku  tapi  pada akhirnya kita kembali bersama di sini di dunia yang  abadi  kita berdua takkan lagi terpisah”

Choi siwon…

“aku begitu bahagia bisa kembali bersamamu .  hidupku yang semula begitu kacau tanpamu kini takkan  lagi  kurasakan aku juga begitu mencintaimu.  terima kasih karna mau menungguku datang ke sisimu aku sungguh mencintaimu”

Im Yoona…..

 

 

 

<<THE END>>

 

 

Gimana? Makin gaje aja  yah critanya?  Sbenarnya gak  tau ni  crita bisa di sebut sad  ending atau happy ending ? kalian nilai sndiri aja deh  n maapin yah kalu cerianya  rada rada ngaur aku gk terlalu tahu tentang ke militeran korea jadi  ngarang dikit gak apa apa dong *wkwkwk*

Kalu kalian ngerasa sedikit kecewa ma endingnya gak apa –apa kluarin aja uneg uneg kalian pada kolom  komentar kkkk~~ n perlu kalian ketahiu kalu  ni crita belum brakhir  loh  kan masih ada little siwon jadi spertinya akan ada kisah yang baru dari kehidupan yang baru pula^^.

so tetep jadi readers  yang  baik yah “musti kudu ninggalin  jejak  biar  akunya semangat  nulisnya” *eh? Ngetik maksudnya :D*

 

Gomawo buat admin Geey dan eonni Echa yang telah memposting ff ini J

 jomgmal gomapta eonn…*kecupss^^*

(ne ceomna^^)

Tinggalkan komentar

206 Komentar

  1. tisu mana….tisu mana….
    y ampun endingx pnuh dgn air mata ksian ank mreka hrs ytim piatu, blm d’ksih nm lg
    uuaaaaaa…..

    Balas
  2. RELLY

     /  Mei 12, 2014

    Aku ada dapat email cerita sequel Star-Star-Star Black Rose Chapter 1, tapi di PW begitu juga dengan teasernya. Karena penasaran dengan cerita awalnya seperti apa aku buka google dech…. ternyata menarik ff nya. Chingu bisa ga ya aku minta pw Black Rose chapter 1 nya… gomawo

    Balas
    • maap sblumnya, berhubung posel sy hilang untk kdua klinya.. jadi untuk PW langsung chat ke email (tintinhearttiny@gmail.com) yah lngsung sy bales kok..

      Balas
  3. Ff nya keren banget dan menyentuh banget…sampai aku menangis ngga jelas…tapi kesian dong..bayinya di tinggalin sendirian tapi aku seneng akhirnya yoonwon kembali bersatu lagi .. chukae…

    Balas
  4. Kim Yuni

     /  Mei 24, 2014

    Keren thor, ceritanya bikin air mata ku terus”an keluar,, sedih banget,,

    Balas
  5. rita octaria

     /  September 27, 2014

    omo jdi siwon dan yoona pergi ningglin bayi mereka….. hiks hiks kshn aegy nya

    Balas
  6. maap sblumnya, berhubung posel sy hilang untk kdua klinya.. jadi untuk PW langsung chat ke email (tintinhearttiny@gmail.com) yah lngsung sy bales kok..

    Balas
  7. amalia an

     /  Desember 21, 2014

    Astaga. …yoonwon meninggal. ….kasian anak mereka dy bru lhr lagi. ..

    Balas
  8. Air mataku sampai jatuh bacanya
    FF ini benar2 menguras air mata
    apalagi cinta mereka berakhir dan bersatu di alam lain
    lalu bagaimana dgn anaknya?
    Kshn bgt org tuanya meninggalkannya. Bagaimana perasaan sang anak nantinya
    hiks……… Hiks………
    FF nya benar2 daebak
    inspirasi yg luar biasa

    Balas
  9. Nangis bacanya.. nyentuh banget😦 bagus author FFnya, daebak!!

    Balas
  10. Terharu banget aku Thor😥 Nyesek ceritanya sampe meneteskan air mata dari awal sampe akhir. Bisa dibilang Happy Ending. Kasihan juga orang anaknya YoonWon yang ditinggal orang tua nya😥

    Balas
  11. Aaakkhhh sumpah baca ff ini kost-kostanku jadi kebanjiraaaannn kkkkk.
    Sumpah nyesek bangeett!! Bacanya sampe baper banget. DDAEBAK!! YoonWon emang pasangan sejati. Isi tape recorder percakapan Siwon oppa & Donghae oppa memilukkan banget. Terus nasibnyananak mereka gimana?? Aaakkkhhhhh GOOD JOB AUTHOR!!

    Balas
  12. melani

     /  April 3, 2016

    Wow ceritanya sedih bgt sampe nangis waktu bacanya tapi kasihan juga sama bayinya dia gak punya ortu karna yoonwonnya udah meninggal n cinta mereka abadi hanya maut yg memisahkan trus mereka kembali bersama walaupun bukan di dunia..

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: