[3S] My Story Chapter 2

“MY  STORY”  (Destiny)

 

Tittle               : [3S] my story Chapter2

Author         : Tintin 305

Email/Twitter :Theartiny@gmail.com / @Heartiny11  

Main Cast      : ImYoona, Choi Siwon

Other Cast     : lee minho,

                             Tn Choi

                             Choi Jiwon

                             Kwon  Yuri

                             Tatsuya 

                             Tn Im,

                             Ny Im,

                             Imseolung,

                            Tanakkamitsuki, and find your self

 

Genre             : Romantic,  family, Sad, Friendsip

Length            : Therre shoot

 

 

 

Hai… readers semua J aku datang lagi bawa kelanjutan  ff gaje ku kemaren .

Selamat membaca yah!. N mohon di maklumi kalu masih banyak typo bertebaran di dini, karna ku gk sempet  buat  ngeditnya.

 

 

Happy reading ^^

 

 

 

oOo

 

 

 

Previous chap. . .

 

 

“aku tanya sekali lagi siapa namamu?, dan apa tujuanmu datang ke negara ini hah?!!” hardik sang petugas. Kesabaranya  benar – benar sudah habis karna orang yg ia tanyai ini malah terus diam tak bermaksud untuk menjawab

 

 

“haah baiklah sepertinya aku harus menggunakan kekerasan” ujar petugas  itu lalu mendekati andrew dan menjambak rambut andrew hingga kepalanya terangkat ke atas dan terlihatlah dengan jelas wajah andrew dari dekat.

 

“ tunggu dulu…. bukankah kau….,

 

 

Next chap . . .

 

Astaga!! jadi benar ini kau?. Ini benar – benar kejutan besar,  ternyata selama ini kau bersembunyi disini?, di jepang?”  ucapnya tercengang saat melihat wajah Andrew  lalu melepaskan tanganya dari rambut andrew dan beranjak keluar.

 

Andrew  tetap  diam  masih dalam  posisi duduk,  samar – samar ia mendengar suara petugas yang mengintrogasinya tadi menyuruh petugas lain untuk membawanya di ruang khusus hingga terdengar suara pintu terbuka dan datanglah petugas lain yang sepertinya akan  membawanya ke ruang khusus  yangia dengar tadi.

Andrew telah sampai di ruangan khusus. Sepertinya ruangan ini bukan sebuah lapas  dari kelihatanya ruangan ini sangat mewah mungkin tempat istrahat bagi para pejabat  yangdatang mengunjungi kantor ini pikirnya. Cukup lama dia terdiam sambil terus memperhatikan jalanan  kota  tokyo dari balik jendela ia menatap jalanan dengan tatapan kosong  seperti ada begitu banyak  yang  ia pikirkan. Hingga terdengar suara seorang   yang mengetuk pelan pintu bercat coklat itu dan  taklama  muncullah seorang pria tegap dengan stelan jas lengkap kepolisian.

“Andrew-can ada yangingin bertemu dengan mu” ucap  petugas  itu

 

“bertemu denganku? Siapa?” siwon merengitkan dahinya binggung

 

“saya juga kurang tahu!.  haruskah kami mengusirnya”

 

“tak perlu ,  biarkan dia masuk” jawabnya

 

Tak menunggu waktu lama orang  yang di maksudpun sudah menampakan dirinya  yang tak lain adalah tatsuya orang satu timnya.

 

“bagaimana kondisimu?  daijobbu nani ? mereka tidak melukaimu kan?” tanyanya beruntun

 

Andrew hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari kawanya itu

 

“kenapa malah senyum?, aku serius!. Tak tahu kah kau betapa khawatirya aku saat kau di jemput paksa oleh polisi itu”

 

“daijobbu.. tak usahkhawatir” jawabnya menenangkan

 

“syukurlah!. aku sudah tahu semuanya dari direktur bahwa kau di tangkap karna menjadi imigran gelap!. Dan juga ku dengar bahwa Andrew adalah nama samaranmu!”

 

“hm!  kau benar” jawabnya  tersenyum  getir

 

“kenapa kau berbohong seperti itu kau bahkan menipu negara ku dan menjadi imigran  gelap.  haah… ini benar – benar masalah besar” Ujarnya kecewa

 

“gomannassai” ucap andrew menunduk

 

“sudahlah!.  aku yakin kau punya alasan kenapa kau melakukan itu semua. Kau tenang saja aku dan direktur akan berusaha mengeluarkanmu dari sini”

 

“arigato!  Kau memang sahabat terbaikku” kata Andrew terharu

 

“itu lah gunanya sahabat!. Tapi tunggu dulu jika namamu bukan Andrew lalu siapa nama aslimu?. Ayolah ceritakan pada ku!.” Rengeknya

 

“choi siwon” jawab andrew  singkat

 

“oh!  choi siwon,  choi itu marga korea bukan?,  berarti kau orang korea!.” jawabnya santai namun tiba – tiba ia tersadar “Tunggu dulu kau bilang apa tadi choi apa? choi… s..siwon?”  tanyanya tak percaya

 

Andrew baru saja akan bicara tapi pintu tiba – tiba terbuka  hingga  mau  tak  mau   mengalihkan pandangan mereka berdua.

 

Nampak beberapa pria berbadan tegap memakai baju serba hitam dengan kacamata hitam dan headset di telinga  (#apalah itu namanya author gk tau *bow*)  menandakan bahwa pria – pria tersebut adalah seorang bodyguart dan diantara mereka tepatnya di tangeh mereka  muncullah seorang pria paruh baya dengan stelan jas lengkap berdiri di tengah seraya membunkuk  hormat.

 

“kami datang untuk menjemput tuan muda” ucap pria paruh baya tersebut

 

“sebaiknya kalian pergi aku tak mau pulang” jawab andew atau lebih tepatnya choi siwon dengan nada ketus dan dingin

 

“maaf tuan muda kami belum bisa pergi sebelum membawa tuan muda pulang” ucap sang pria paruh baya tadi

 

“apa??.  aku tak mau.”  jawab siwon kesal

 

Tatsuya hanya diam melihat andrew tidak bukan andrew lagi tapi siwon yang berbicara dengan pria tua itu ia melihat tampang kesal dari wajah siwon namun ia tak mengerti sama sekali apa yangmereka bicarakan ia tak mengerti  bahasa korea.

 

“mohon maafkan kami tuan muda jika  kami harus memaksa. Cepat kalian bawa tuan muda” suruhnya pada bodyguart di belakangnya

 

Siwon membelalakan matanya mendengar kalimat yang terucap dari sekertaris  kim itu.  nama dari pria paruh baya itu adalah kim ilsung dia sudah lama bekerja  di keluarganya. Dan sebenarnya   ia sudah   tahu  betul sikap serta kepribadiannya, sekertaris kim takkan pulang tanpa   mendapatkan hasil yang seharusnya  menjadi tanggung   jawabnya  yaitu membawa siwon kembali.

 

“yakk!… apa apan ini  lepaskan aku” siwon meronta  saat ia di tarik keluar dari ruangan itu

 

Tatsuya  yang  melihat itu langsung berdiri dan berusaha mencegah  orang- orang yang   membawa siwon namun langkahnya terhenti oleh 3 orang  bodyguart  yang menghalanginya ia ingin melawan namun ia tak bisa berkelahi dan lagi melihat tubuh kekar bodyguart itu sedikit mencitukan nyalinya hingga hanya kata – kata kasar  yangkeluar dari mulutnya tanpa perduli apa para bodyguart itu tahu  arti  dari perkataanya  atau tidak.

 

.

 

 

.

 

 

.

 

“apa yangkalian lakukan lepaskan tanganku” teriaknya pada dua bodyguart yang mencekal tangannya itu

 

“maafkan kami tuan muda” entah  para bodygart itu bodoh atau takut karna mereka tahu orang yang sedang mereka tarik itu adalah  tuan muda dari anak yang mempekerjakan mereka hingga dengan gampanya  mereka melepaskan cekalanya.  Tentu kelengahan  dari mereka tidak  di sia – siakan oleh siwon ia langsung berbalik dan berlari secepat yang ia bisa

 

sekertaris kim yang melihat itu langsung mengejar siwon  begitu juga para bodyguart mereka  ikut mengejar dari belakang, hingga terjadilah aksi kejar – kejaran.

Mereka terus mengejar siwon hingga sampai ke sebuah  gang  komplek perumahan yang agak sempit,   nafasnya sudah tersengal – sengal ia tak tahu harus kemana hingga siwon  memutuskan untuk berbelok dan masuk ke sebuah lorong  kecil.

 

shitt!” ucapnya  saat tau bahwa lorong itu buntu.  ia hendak berbalik tapi sialnya para bodyguart itu telah mengepungnya hingga tak ada pilihan lain  selain menghajar bodyguart itu satu persatu  namun sayang saat siwon masih sibuk menghajar para bodyguart itu  salah satu dari mereka langsung  memelintir  lengan siwon dari belakang  hingga ia  terjatuh ke tanah.  bodyguart yang  lain langsung memegang tanganya dan membantunya berdiri

 

“lepaskan aku!. Kalian dengar tidak?  ku bilang  lepaskan. aku tak mau pulang”   siwon berontak  berusaha melepaskan diri dari cekalan para bodyguartnya namun sia – sia bodyguart itu tak mau melepaskan cekalanya mereka  takut  hal yang  tadi terjadi lagi saat mereka melepaskan cekalannya.

 

“mohon maafkan kami tuan muda!, sebaiknya tuan muda ikuti saja kemauan kami jika tidak ingin terluka”. Setelah mengucapkan itu sekertaris kim menuntun  para  bawahanya itu untuk mengikutinya

siwon  tak punya pilihan lain selain mengikuti  kemauan  mereka toh kondisinya juga sudah sangat  lelah karna aksi kejar kejaran tadi dan  lagi wajahnya berdenyut sakit karna perkelahian yang di lakukanya barusa.

 

.

 

 

.

 

 

.

Tak butuh waktu lama rombongan sekertaris kim yang membawa siwon sampai di tempat tujuan.    bukan kembali kerumahnya di korea akan tetapi beristirahat sejenak di hotel bintang lima yangtak jauh dari pusat kota, sembari menunggu  seseorang  yang  akan datang melihat kondisinya.

 

“tuan muda istirahatlah dulu, kami sudah menyiapkan pakaian ganti untuk tuan muda  sebentar lagi nona akan segera datang. Jika tuan muda  perlu sesuatu panggil  saja kami.Kalau begitu saya permisi ”  ucap sekertaris kim seraya membungkuk hormat  lalu keluar dan meminta para bodyguart untuk memperketat kemanan

 

“haaaiishhh…”  siwon mengcak rambutnya kesalkarna  tak bisa berbuat apa apa  rasanya ia ingin lari dari kamar  ini secepatnya hanya saja mendengar  sekertaris  kim  yang menyuruh memperketat penjagaanya membuat ia harus bersabar dan menunggu sampai waktunya aman

Dan bisa kabur dengan mudah.

 

Sempat terlintas di pikiranya untuk keluar dari balkon kamar  itu tapi ia urungkan karna sepertinya sekertaris kim begitu sermat hingga menmpatkan beberapa bodyguart untuk berjaga tepat di bawah balkon kamar itu.

 

Drtt…drtt…drtt..

Handphone siwon berbunyi tertera nama tatsuya di sana

 

“moshi – moshi”

 

“andrew.”  “ah ! bukan maksudku siwon –can  daijobbu?” tanyanya khawatir

 

“hm!. daijobbu”

 

“kau dimana sekarang? Aku akan menyusulmu”

 

“tak perlu kau tenang saja tak akan terjadi hal yang buruk”

 

“bagaimana aku bisa tenang saat tadi aku melihatmu di seret seperti itu”  ujar tatsuya di sebrang sepertinya ia mulai  kesal

 

“kau ini  seperti kekasih ku saja”  siwon sedikit  bergidik ngeri, bagaimana tidak sedari  tadi tatsuya terus saja  menghawatirkanya  layaknya seorang pria yang menghawatirkan kondisi wanitanya.

 

“sekarang bukan saatnya main –main aku serius!. Katakan  kau dimana?.   biar  aku  menyusul mu  kesana”

 

 

“sudah ku bilang tak perl…..” siwon baru saja akan melanjutkan katanya saat tiba – tiba  pintu kamar itu terbuka dan nampaklah seorang gadis cantik dengan body yang semampai menghampirinya.

 

“nanti ku hubungi lagi” kata siwon langsung ,mematikan sambungan teleponya dengan tatsuya dan  menatap yeoja  itu dengan  tatapan  nyalangnya ia tak suka melihat yeoja itu ada di depannya saat ini

 

“hah… kau sungguh menyedihkan oppa” ujar  yeojatersebut setelah menyaksikan pemandangan di depanya saat ini, penampilan siwon  yang  acak – acakan dengan baju yangkotor penuh debu akibat terjatuh tadi dan beberapa luka lebam di sekitar wajahnya

 

“jika kau datang untuk menyuruhku pulang aku tak mau” ucap siwon  acuh

 

“kau begitu keras kepala oppa!. Baiklah jika kau memang tak ingin pulang tapi jangan salahkan aku jika oppa kembali menekam di penjara karna statusmu sebagai imigran gelap dan aku tak yakin oppa  bisa kembali lagi ke sini setelah di deportasi” ucap yeoja  itu santai sambil melipat kedua tanganya di depan dada  layaknya  seorang  yang  berkuasa

 

“kau benar benar keterlaluan Jiwon ah”  siwon makin menajamkan pandangannya kearah yeoj  bernama Jiwon itu

 

“aku?.  keterlaluan?.   Ck!  Yang benar saja!. Apa tak salah?  Oppa yang keterlaluan… bukan aku.” Hardik jiwon dengan nada sinis ia balik menatap siwon dengan pandangan yang tak kalah tajam

 

“apa maksudmu dengan bilang bahwa aku keterlaluan?. Bukankah kalian yang membuatku jadi begini?.    Memaksakan kehendak kalian  hingga aku benar-benar frustasi. Lalu dengan mudahnya kau bilang aku keterlaluan?. ” ucap siwon  penuh emosi

 

“tidakkah oppa berfikir bahwa seorang anak kandung  yang  tak datang pada hari kematian eommanya itu begitu keterlaluan” ucapnya dengan  nada  yang  masih terdengar  sinis

 

“kematian…. eommanya?. Aku tak mengerti maksudmu Jiwon ah!.”

 

“oppa jangan pura – pura tak tahu tentang kematian eomma”

 

“apa?  Maksudmu  Eomma….?. siwon tak dapatmelanjutkan kata katanya tiba – tiba saja ia merasa kosong matanya berkaca – kaca  ia masih belum percaya akan  apa yangia dengar tadi ‘emmanya telah tiada’.

“tidak mungkin…!. jangan bercanda Jiwon ah”.

 

“aku serius oppa!.  eomma sudah tiada, sejak oppa meninggalkan rumah tanpa kabar oemma jatuh sakit karna terus memikirkan oppa hingga akhirnya eomma meninggal” jawab Jiwon lirih entah kenapa  ia kembali mengingat kejadian di mana untuk  terakhir kalinya  ia melihat sosok eommanya

 

“tidak mungkin… ini tak mungkin” tubuh siwon terhuyung ke belakang ia benar – benar tak percaya  mendengar kenyataan ini, kenyataan tentang kematian i bunya dan juga kenyataan  bahwa ia yang  mengakibatkan ibunya jatuh sakit hingga meninggal. bahkan ia sama sekali tak datang mengatarkan ibunya ke tempat peristirahatan  terakhirnya. ia memang pantas di sebut anak durhaka.

 

“jadi ku mohon oppa kembalilah kerumah!.  apa oppa tak merindukkan kami?. Appa saat ini sekarang sakit keras  sudah cukup oemma yang  pergi aku tak mau appa juga pergi. Appa membutuhkan mu oppa kami membutuhkanmu” ucap jiwon dengan mata yang  berkaca – kaca hatinya mulai luluh  Karna tak mungkin ia bersikap  dingin kepada oppanya itu. Ia harus bisa kembali mebawa siwon ke rumah demi kesembuhan appanya ia harus rela menahan amarhnya karna sikap siwon yang  dengan teganya meninggalkan rumah hingga  kehidupan keluarganya kacau.

 

“tapi aku tak bisa jiwon ah kau tahu sendiri hubunganku dengan appa sedang tidak baik”

 

“bukankah sudah ku katakan bahwa appa saat ini membutuhkanmu oppa!.  aku yakin hubungan kalian bisa membaik”

 

“tetap saja aku tak bisa …” siwon masih tetap bersi keras tak mau pulang  ia sungguh tak ingin bertemu dengan ayahnya rasa kecewa nya terhadap sang ayah sampai saat ini belum hilang.

 

“ku mohon oppa kembalilah, demi aku dan juga eomma” entah apa yang terjadi padanya hingga  jiwon memilih  berlutut di depan siwon. Ia tak ingin pulang tanpa membawa siwon kembali, karana dengan adanya siwon mungkin ayahnya bisa sembuh dengan cepat dan juga keluarga mereka bisa kembali seperti dulu walaupun tanpa kehadiarn sosok ibu di dalamnya tapi jiwon percaya bahwa  siwon adalah sebuah kunci yang berharga yang dapat membuka pintu kebahagiaan keluarga choi yang sempat tertutup kembali terbuka.

 

Siwon yangmelihat itu terperanjat kaget akan sikap sang  adik

 

“jiwon ah apayang  kau lakukan bangunlah!.” Dengan sisa tenaganya siwon berusaha membangunkan  jiwon agar mau bangkit dari posisi sujudnya. Ini pertama kali ia melihat jiwon bersujud  untuk mendapatkan sesuatu. Mungkin bisa di katakan ini adalah aksi nekad bagaimana tidak jiwon berani membuang harga dirinya di depan siwon hanya untukk bersujud memohon agar kakaknya itu kembali.

 

“annio..!  aku tak akan bangun sebelum oppa bersedia kembali lagi kerumah” jiwon menepis tangan siwonyang  berusaha membanggunkanya

 

“jiwon ah ini sungguh berat untukku ku mohon mengertilah”

 

“sampai kapan aku harus mengerti oppa?. Aku membiarkan mu selama ini karna kau yakin bahwa oppa butuh waktu sendiri tapi ini sudah terlalu lama aku tak bisa berdiam diri lagi, apa lagi saat ini appa sedang sakit,  aku tak mau apppa pergi oppa. Ku mohon kembalilah ke rumah hiks…ku mohon.”   jiwon terisak

 

“jiwon ah…!.”  Siwon tak bisa melihat adik satu – satunya ini menangis.

sebenarnya ia ingin sekali kembali ke rumah,  hanya saja  ia masih belum siap untuk bertemu dengan ayahnya itu.  setelah apa yangayahnya lakukan padanya,  pada kehidupanya  di masa lalu masih membekas di hatinya.

 

Dengan teganya ayahnya memaksa dirinya untuk mengikuti seluruh keinginan sang ayah dan  dengan  seenaknya menggambil keputusan untuk menikahkanya  dengan orang  yangtak pernah ia cintai bahkan yeoja itu adalah  yeojachingu sahabatnya sendiri   ‘yg benar saja ini bukan  zaman dimana kita harus mengikuti kemauan orang tua masalah jodoh, setahunya jodoh itu sudah di atur oleh tuhan bukan di paksakan seperti ini’.  dan itu semua hanya karena ia adalah putra satu satunya – keluarga choi dan kelak ia akan menjadi pewaris tunggal dari perusahaan ayahnya jadi ia harus mencari calon istri yang  sederajat denganya.  karna tak tahan oleh kekangan sang ayah  ia lebih memilih pergi dari rumah lebih tepatnya kabur dari rumahnya  saat acara pernikahannya di langsungkan.

 

“oppa..” jiwon masih merengek dengan nada yang lirih

 

“baiklah aku akan pulang.  Tapi  jangan menangis lagi hm?” jawab siwon pasrah sambil membantu jiwon berdiri

 

 

“benarkah?. Tentu saja aku takkanmenangis lagi aku janji.”  jiwon  mengusap air matanya

Seraya tersenyum lebar karna usaanya untuk pura – pura menangis dan bersujud di depan oppanya ini berhasil.

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

.

 

 

 

 

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam menggunakan pesawat pribadi  milik keluarga choi  kini siwon dan jiwon telah sampai di korea tepatnya di bandara khusus milik keluarga mereka,   saat keluar dari bandara,  mereka langsung di sambut oleh puluhan wartawan yangmenunggu mereka sedari tadi. Banyak pertanyaan yang di lontarkan oleh beberapa wartawan mulai dari keberadaanya selama ini, alasan hilangnya ia saat pernikahannya hingga  kasus nya sebagai imigran gelap.

 

Siwon meringis kesal karna ulah wartawan –wartawan yang  sedari tadi bertanya tampa henti dan menghalangi jalanya untuk segera masuk kedalam  mobil. beruntung  hal itu tak  berlangsung lama karna para bodyguart dengan lihai menghalangi para wartawan  yangberusaha mendekat atau pun yangmenghalangi jalannya.

 

Sekitar 15 menit perjalanan siwon dan jiwon kini telah sampai di tempat tujuannya, bukan untuk  bertemu   ayahnya   melainkan menuju tempat dia mana abu sang ibunya   di tempatkan.

 

Siwon memandang nanar guci kecil dengan hiasan emas di sekelilingnya jiwon yang berada di belakang nya pun tak kuasa menahan air mata mengenang  ibu nyayang selama ini membesarkanya.

 

 

 

Siwon pov

 

Bisa ku lihat wajah eomma yangsudah lama ku tinggalkan dari foto yangterbingkai indah dekat guci tempat di mana abunya tersimpan.

 

“mianhe eomma… aku yangsalah… aku bersalah eomma aku salah” ucapku di iringi air  yang jatuh di pelupuk mataku.

 

Kenangan – kenangan  indah bersama eomma pun terus terngiang – ngiang di benakku   betapa bodohnya  aku  yang sengaja pergi saat itu bahkan kepergian  eomma  pun tak  ku  ketahui  sama  sekali  “sungguh maafkan  aku  eomma  maafkan  aku….”

 

“oppa tak salah ini sudah takdir, eomma memang harus pergi lebih dulu” dapat kurasakan kehangatan tangan dari jiwon  saat  ia meneyetuh bahuku

 

“jelas ini salahku jiwon ah….. harusnya  aku tak lari hari itu, harusnya aku menikah saja dengan min young  nona.  dengan begitu in semua tidak akan terjadi. aku sama saja telah membunuhnya jiwon ah, aku yang membuat eomma jadi begini aku  yang membuatnya meninggal aku pembunuh jiwon ah…. aku pembunuh….”

 

Tak lama kemudia aku merasakan  kehangatan lagi,  bukan jiwon  yang  memegang bahuku seperti tadi tapi ia memelukku seakkan aku bisa kapan saja jatuh, ya mungkin jika ia tak memelukku aku bisa terjatuh saat ini juga karna saat ini aku benar – benar rapuh.  rasanya sangat sakit mengingat  semuanya, mengingat perlakuanku pada mereka semua. Eomma, appa, jiwon dan juga padanya  pada orang  yang  benar – benar berarti dalam  hidupku  orang  yang  begitu aku cintai, ‘yoona’  aku telah menyakiti mereka,  aku bersalah,  benar – benar bersalah.

 

 

 

 

 

Kini aku dan jiwon sudah berada di rumah tempat dimana aku dulu tinggal  semuanya masih sama tak  ada  yangberubah rumah ini masih sama persis seperti beberapa bulan yanglalu saat aku lari dari sini.

 

“oppa sebaiknya kita temui appa dulu”

 

aku seketika menoleh  pada jiwon. ‘apa  katanya?  bertemu dengan appa?.  haah… aku belum siap’.

 

“ayolah oppa!.  mau tak mau oppa harus bertenu dengan appa, appa pasti sangat senang  melihatmu  sudah  kembali”

 

Sepertinya jiwon tau apa yang sedang ku pikirkan, ‘dia benar tak mungkinkan aku satu rumah dengan appa tapi tak pernah sekalipun bertemu dengannya lagi pula aku tak boleh berbuat kesalahan lagi kali ini aku harus berubah aku harus memperbaiki semuanya. Hei.. aku bukan  choi siwon yangkekanakan lagi, sekarang  aku sudah dewasa sudah sepantasnya aku memperbaiki semuanya semua kesalahan yangterjadi karena kebodohanku sendiri aku harus membayarnya’. tekatku

 

Setelah masuk ke kamar appa dapat ku lihat ia yangterbaring dengan beberapa alat medisyang  aku sendiri tak tau  apa  fungsinya tapi sepertinya appa benar – benar sakit keras terbukti dari banyaknya alat medis yang  ku lihat mengelilinginya dan beberapa obat obatan yangmemenuhi nakas.

 

“sepertinya appa  sedang istiraha oppa, sebaiknya kita keluar saja”

 

“hm sebaiknya   biarkan dia istirahal dahulu ” jawabku  mengiakan ajakan jiwon. Aku  Baru saja ingin melangkah bermaksud mengikuti jiwon yang  sedari tadi berjalan tiba – tiba sebuah suara menghentikan langkakhku dan jiwon aku jelas tau suara ini,  ini suara appa.

 

“siwon ah….” ucapnya sedikit serak, aku memantapkan hati ku untukk berbalik melihat ke arahnya

 

“siwon ah?  benarkah itu kau….?” ucapnya lagi, tapi aku masih diam  melihat kadalam manik matanya yang  sudah berkaca – kaca.  Aku sungguh tak tega  melihatnya

 

“oppa kenapa diam saja” dari nada suara jiwon bisa ku dengar bahwa ia terlihat kesal karna  aku yang terus diam manatap lurus kea arah appa tapi tak berkata apapun

 

“ne ……   appa,  i- ini aku siwon”  ucapku  sedikit bergetar munkin  kalau saja aku membuka  suara  lebih  banyak  lagi aku  tak  yakin  saat  ini  aku  bisa  tetap menatapnya tanpa menangis.  sungguh  rasanya saat ini aku ingin menangis  melihat kondisinya yang terbaring lemah.

 

“ternyata benar ini kau, kemarilah…”

 

Ku angkat sedikit kepalaku  melihat ke arah appa yang  merentangkan tanganya untuk memelukku. Tanpa pikir panjang langsung ku peluk appa walaupun agak susah karna posisi appa yangberbaring.

 

“bogosipo yo siwon ah”

 

“nado bogosipo yo appa” ucapku makin mengeratkan pelekanku. Aku berjanji appa ini adalah  terakhir  kalinya aku  mengecewakanmu  dan  ini adalah terakhir kalinya aku  membuatmu  menangis appa aku  berjanji.

 

Siwon pov end

 

 

 

Author pov

 

Sudah hampir seminggu siwon kembali ke  rumah dan seminggu itu pula siwon menghabiskan waktunya untuk merawat appanya yangsakit dan hal itu membuahkan hasil , ayahnya yangsemula sulit untuk bergerak kini mulai  leluasa mengerakkan seluruh badanya dan bisa sedikit – demi sedikit berjalan tapi  appa siwon tetap harus dirawat karena kondisinya  yangbelum memungkinkan.

 

Dan disini lah mereka bertiga berada  di sebuah gazebo di taman belakang rumah  nan mewah milik keluarga choi  itu.

 

“appa  cobalah  yang  ini…..” ucap jiwon menyuapi  buah  kiwi segar  ke mulut appanya

 

“hmmm… noemu  massita” ujar Tuan choi  masih dengan  mengunya buah  kiwi tadi

 

“benarkah?.  kalau begitu giliran oppa yang  mencobanya”. Jiwon kembali menyendok buah kiwi tadi dengan garpu kecil khusus buah lalu dengan perlahan menuntunya ke mulut siwon. “bagaimana?,  enak kan?”. Tanyanya menunggu respon siwon atas buah  yangtadi ia suapkan  pada oppanya itu

 

“biasa saja…” jawab siwon santai dan itu sukses membuat jiwon menggeram  kesal

 

“haissh…. oppa…”

 

“heh!  lihatlah   wajah  jelak mu itu,  badann mu  saja  yang  besar  tapi sifatmu  itu masih seperti anak kecil”  siwon  tersenyum seraya menatap jijik ke arah jiwon karna perubahan mimik jiwon yang begitu kekanakan

 

“oppa…. berhentilah bilang aku  kekanakan, aku sudah dewasa” rengek jiwon tak terima

 

“oh.. benarkah ?, little jiwon ah!.”

 

“appa…… lihatlah  siwon  oppa  meledekku  terus” rengeknya pada sang appa

 

Tuan  choi hanya tersenyum merespon rengekan dari jiwon tadi. Tiba – tiba wajahnya berubah menjadi  lebih serius dan menatap ke arah siwon yang  terus meledeki  jiwon dengan buyolan – buyolan konyolnya. Siwon yang  menyadari  tatapan  ayahnya itu langsung  mengehentikan  tawanya

 

“waeyo appa?”  ucap siwon binggung

 

Tuan choi menghela nafas sejenak “apa  kau  sudah  mengambil  keputusan  siwon ah?”

 

“maksud appa ?.  Keputusan  apa?” siwon mnyeritkan dahinya binggung dengan maksud  appanya itu

 

“tentang  yang   ku tanyakan tempo hari.  apa kau  ingin kembali  lagi ke perusahaan  atau  tidak?”

 

Siwon terdiam sesaat   lalu menunduk  “mianhe…. kalau  soal  itu aku  tak  bisa appa? Sesal siwon

 

“kenapa  begitu oppa?.  Kau harusnya kembali ke perusahaan, aku tak mungkin terus menerus  mengantikan  posisimu.  Tak tahu kah oppa  aku  hapir gila dengan urusan perkantoran” ujar  jiwon  dengan gaya serta mimik wajah yang  di buat – buat seolah – olah  sangat lelah  dengan   rutinitasnya  yang  menggantikkan siwon sebagai presdir di perusahaan  keluarganya itu

 

“jiwon  benar  siwon ah, sebaiknya  kau  pikirkan  lagi  keputusan mu  itu. Perusahaan membutuhkan mu.  Appa  harap kau  kembali ke perusahaan  lagi” ujar Tuan choi menepuk bahu kekar milik siwon

 

“tapi appa….”

 

“siwon ku mohon kali ini pikirkanlah baik baik hm?”

 

“ne appa aku  akan  mempetimbangkannya  lagi” siwon menghela nafas berat wajah tampan serta sorot mata hitamnya itu terlihat menerawang lagi entah apa yang saat ini ia pikirkan.

 

 

 

 

 

~  Keesokkan harinya  ~

 

Kantor Pusat Hyundai Departement  Store ……

 

Author  pov

 

Seorang yeoja cantik dengan dress putih selutut dan di padukan dengan jas hitam  yang melekat  indah di  badanya membuat orangyangmelihatnya terkagum – kagum akan kecantikan yeoja itu. terlebih senyumnya yangmerekah  dan  membungkuk sejenak memberi sapaan bagi para kariaman- kariawanyang  ia lewati.

 

Yeoja cantik itu, atau lebih di kenal dengan  nama  im yoona berjalan sedikit tergesa – gesa sesekali ia melirik jam tanganya  lalu kembali berjalan  menuju  lift yang berada di  loby kantor.

 

“haah…. kenapa lama sekali” runtutnya  kesal karna lift yangdi tunggu – tunggu belum juga terbuka  ia menghentak – hentakkan kakinya tak sabar.

 

Drtt….drttt…drtt….

Ponsel di saku jasnya bergetar segera ia menekan tobol hijau pada layar touch screen ponselnya  itu.

 

“yabbseo…. yoona  apa kau  sudah  sampai? Ujar orang di seberang telepon

 

“ah…   ne  minho  oppa  aku  sedangdi loby” jawab yoona

 

“hah…syukurlah.  Sebaiknya kau cepat ke sini  rapatnya  sudah  mulai”

 

Yoona tak  menjawab.  ia terus melihat ke  bagian  layar lift. ia di buat   kalut karna berburu dengan waktu  sedari tadi ia menunggu  namun belum juga lift terbuka ini bahkan sudah lewat dari 4 menit tapi tak ada tanda – tanda lift akan segera terbuka.

 

“yabseo?!. Yoona?  kau mendengarku?” tanya minho  di seberang  karna tak mendapat sahutan  dari yoona

 

“ah…. ne oppa.   aku   akan  ke sana sesegera mungkin.  Anyoeng…” ujarnya langsung mematikan sambunganya

 

 

 

“ yabbseo… yabbseo..!.” minho hanya menghela nafas pasrah nampaknya ia harus  menunggu dokument  yang  akan di presentase kannya di rapat hari ini dan tentunya saat ini dokument itu sedang berada di tangan yoona

 

Yoona tak bisa lagi menunggu lebih lama hingga lift terbuka  karna tak punya pilihan lain  akhirnya  ia memutuskan untuk menaiki tangga darudat.  masih dengan  jalanya yang  setengah berlalri itu mengakibatkan kakinya sedikit sakit karna memakai  heels.   tinggal satu tinggkat tangga lagi maka ia akan sampai  ke lantai  4 di mana ruang meeting itu di laksanakan namun tiba – tiba ia meringis kecil  karna kakinya yang   terasa nyeri.  Tapi bukan yoona namanya jika cepat menyerah walaupun sedikit sakit dan nyeri   ia tetap melanjutkan jalanya dengan melepas kedua heelsnya.  ia sudah sampai  di lantai empat   dapat ia lihat minho yang  sedang berdiri di depan pintu  ruang  rapat segera ia percepat langkahnya.

 

“oppa….” panggil nya

 

Minho menoleh ke arah yoona  yang  memanggilnya  ia tersenyum lega karna akhirnya yoona datang walaupun agak terlambat. Senyumnya memudar begitu  ia menyadari suatu hal hingga membuatnya cemas yoona yang  berjalan sedikit terseok dengan keringgat yang bercucuran di pelipisnya.

 

“yoona ya…  ada apa dengan mu..?”

 

“ini dokumentnya. Maaf aku terlambat…” ucapnya tersengal – sengal karna habis berlari dan tak menghiraukan pertanyaan dari minho

 

“aku tanya ada apa denganmu? Dan  astaga… kaki mu?, kenapa dengan kakimu?”  tanya minho sekali  lagi  sambil berjongkok memegang kaki yoona yang  terkilir tadi

 

“gwencana oppa!  aku  tak  apa” ucap yoona berusaha  menenangkan minho Yang terlawat khawatir padanya.

 

“kakimu  memar  begini kau bilang tak apa?!” ujar minho sedikit membentak

 

Yoona sedikit terhenyak dengan nada suara minho yang  memebentak itu.  ini pertama kalinya ia melihat  minho memebentak seseorang dan itu adalah dirinya  hingga ia hanya  menunduk berusa menahan  air matanya yangsiap tumpah..

 

Entahlah sejak  kapan  ia menjadi cengeng seperti ini yang  pasti ia benar – benar  takut atau bisa di bilang  trauma dengan  nada  bentakan atau  suara  apa saja yang bernada keras.

 

jika ia sudah mendengar bentakan seperti itu rasanya kejadian beberapa bulan  yang  lalu terulang kembali bagai dejavu baginya dan ia sangat takut akan hal itu.

 

Minho tersadar karna telah membentak yoona “mianhe… aku tak bermaksud membentakmu aku hanya khawatir pada mu” ucapnya menyesal

 

‘yoona..” ucap minho lagi karna tak mendapat respon dari yoona

 

“ah.. ne.  Sebaiknya oppa masuk mereka pasti sudah menunggu mu”

 

“tapi bagaimana denganmu?”   minho kembali khawatir akan kondisi yoona

 

“gwencana, aku tak apa. Tak perlu menghawatirkanku. Masuklah” jawab yoona lalu berjalan menuju ruang kerjanya di lantai 2

 

Minho masih berdiri di tempatnya memperhatikan yoona dari kejauhan.

ia masih belum bisa mengahalau rasa khawatirnya akan wanita itu. Tiba – tiba matanya membulat sempurna, segera ia berlari mengampiri yoona yang jatuh terduduk di lantai

 

“yoona ya gwencana?”

 

“ne gwencana” jawab yoona berusaha berdiri di bantu minho. “auww…” ringisnya pada pergelangan kakinya yang  terasa sangat sakit  saat ia  mencoba berdiri. untung minho dengan sigap menahanya agar tak jatuh ke lantai.

 

“kau tak apa?”

 

“kaki ku  sakit sekali”

 

“kalau begitu naiklah ke punggungku” ucap minho membungkuk sedikit badanya

 

“tak bisa!. Kaki ku susah di gerakkan”

 

Minho melihat ke arah yoona yang  masih memegangi pergelangan kakinya itu. Sebenarnya ada satu cara untuk membawa yoona keruangannya namun ia ragu untuk melakukanya tapi tak mungkin jika ia tetap membiarkan kondisi yoona seperti saat ini.  Minho tak bisa membiarkan ini terus, ia  langsung menggendong yoona ala bridel style  menuju lantai dua ruangan yoona.

 

Yoona kaget atas perlakuan minho “oppa  a-.apa  yang  kau lakukan” ucapnya sedikit terbata karena gugup akan jarak wajahnya dan  minho yang  sangat dekat

 

“aku tak mungin membiarkan mu begitu saja. Kaki mu sedang sakit  kau harus segera di obati” ujarnya masuk ke dalam lift sambil  menekan angka 2 pada  tombol lift

 

“tapi oppa aku berat, sebaiknya oppa turunkan saja aku, aku bisa berjalan sendiri”

 

‘annio!. Tadi  saat berdiri saja  kau hampir terjatuh. Jadi diamlah kita akan segera sampai”

 

 

 

 

 

 

 

 

“omo!!, apa yang  kalian lakukan” pekik yuri  Begitu sampai  minho dan yoona  masuk  di ruang  kerja. Sepertinya Yuri  salah  mengartikan maksud dari minho yang mengendong yoona saat ini karna terlihat dari  wajahnya penuh dengan kecurigaan.

 

Minho tak memperdulikan pekikan dari yuri itu ia langsung mendudukkan yoona pada kursi yang tak terlalu jauh dari pintu masuk .  minho menggengam  pergelangan kaki yoona yang  sedikit memar  itu lalu memutar karah kanan dan kiri  berusaha meluruskan urat – urat yang  terjepit(?).

 

“omo! Yoong  kakimu kenapa?” yuri yang sudah mulai mengerti atas maksud  pimpinanya  dengan  mengedong  yoona  itu pun kaget karna melihat pergelangan kaki yoona yang  memar.

 

“dia tak apa hanya keseleo saja” minho masih memijat pelan pergelangan kaki yoona

Yoona berusaha manahan sakit saat minho memijat –mijat pelan kakinya itu walaupun  minho sudah berusaha untuk tetap memijat secara halus dan lembut tetap saja yoona merasakan nyeri  dan sedikit sakit saat kakinya itu di sentuh apalagi harus di pijat.

 

“nah selesai !  gerakkan sedikit demi sedikit kakimu”

Yoona mulai memutar pergelangan kakinya itu  ajaibnya kakinya sekarang sudah bisa di gerakkan dan  lagi tidak sesakit ataupun senyeri tadi

 

“apa sudah enakkan” lanjut minho

 

“hm. Gomawo oppa”

 

“hah… syukurlah” minho benafas lega namun ia teringat  satu hal

“astaga!!  Rapatnya. Yoona aku kembali ke ruang rapat dulu kau tunggulah di sini” minho buru- buru bangkit dari dari posisinya saat memijit kaki yoona tadi dan berjalan agak tergesa – gesa. Namun ia berhenti sebentar lalu menoleh ke arah diman yuri dan yoona saat ini sedang memandangnya

 

“yuri!   kau jagalah  yoona sampai aku kembali arra…?”

 

“ne arrasso sajangnim” meskipun bingung atas permintaan minho  barusan  tapi  ia tetap menyanggupinya  lagi pula ia tak mungkin membiarkan rekan satu timnya yang sedang terluka begitu saja

 

“kalau begitu aku pergi” minho beranjak membuka pintu dan berlalu dari lantai dua menuju lantai empat dimana  rapat   Itu di adakan

 

 

Setelah  kepergian minho  yuri langsung menatap penuh curiga ke arah  yoona.

 

“wae? Kenapa menatap ku seperti itu?” yoona yang menyadari tatapan dari yuri itu merasa sedikit risih

 

“ada hubungan apa antara kau dan  sajangnim  hm ?”

 

“aku dan  minho oppa tak ada hubungan apapun”

 

“eiits… kau tidak bisa membohongiku yoong ,  kau bahkan memanggilnya oppa? kalian sedang berkencan  kan ? ternyatra gosip itu benar”

 

“gosip apa?”

 

“gosip tentangmu yang berkencan dengan sangjanim, hampir seluruh kantor tahu itu”

 

“mhwo?!  Annio!  Itu  tidak  benar  aku tak ada hubungan apapun denganya”

 

“lalu tadi  itu apa? Kau di gendong oleh sajangnim  begitu mesra.  Hah…  benar benar romantis”

 

“yak! Kau tak lihat  kakiku  sedang sakit.   jadi aku tak mungkin menolak saat sajangnim membantuku dengan cara itu”

“benarkah?.”

 

Yoona mendengus kesal karna  yuri  yang terus mengintrogasinya seakan akan ia adalah seorang  terdakwah kasus  kejahatan yang terus menerus di lemparkan pertanyaan –pertanyaan yang  jelas   tak penting baginya hanya membuang – buang waktu saja  pikirnya.

 

“baiklah – baiklah  aku  tahu!.   Tapi…. Bagaimana  rasanya”

 

“rasa apa?” yoona menyeritkankening  bingung maksud dari  yuri barusa ‘rasa katanya?  maksudnya apa sih?’ benaknya bertanya – tanya

 

“aish…  kau ini! Rasanya di gendong oleh sajangnim yang tampan itu.  Pasti menyenangkan bukan?”

 

“anni!!  biasa saja”

 

“benarkah? Tapi mukamu tak bisa berbohong  aku melihat sendiri kau begitu malu saat di gendonganya. Kau menyukainya kan? Mengaku  saja”

 

“annio aku tak mungkin menyukainya”

 

“jangan coba  menipuku  nona im aku tahu  itu. Lagi pula sepertinya sajangnim juga menyukaimu”

 

“benarkah  kau tahu darimana? Jangan sembarangan bicara”

 

“molla aku hanya menebaknya saja dari caranya melihatmu itu begitu dalam dan dia begitu perhatian padamu apa lagi kalau  bukan suka coba?. Dan sepertinya kau juga menyukainya kan?”

 

Yoona tak menjawab ia memikirkan  kata kata  yuri barusan apa benar  ia menyukai lee minho?  Entahlah   ia   juga tak tahu.  hatinya memang  merasa nyaman  dan terlindungi  saat bersama minho namun  saat  ini dan sampai detik  ini  ia masih sulit melupakan  seseorang  yang teramat ia cintai, seseorang yang sangat membuatnya amat terluka. Hingga kini ia masih belum bisa  menampik rasa yang teramat  dalam itu masih miliknya,  milik orang itu  hanya miliknya walaupun ia berusaha menghalau rasa itu tetap saja tak bisa semakin  hari perasaannya semakin dalam.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

“Bagaimana  kakimu?”

 

“sudah  lebih baik dari yang  tadi.  Gomawo karna sudah menolongku  tadi”

 

“itu bukan maslah”

 

“bagaimana rapat  tadi? Kau pasti mendapat omelan?  Ia  kan?”

 

“aku?  Mana mungkin  seorang  lee minho  mendapat  omelan .   malah sebaliknya aku  mendapat puluhan tepuk tangan dan juga  persetujuan atas target pemasaran yang ku ajukan”  ujar  minho sumbringah. Memang  Begitu rapat selesai minho langsung menyempatkan diri melihat kondisi  yoona

 

“wah !.  cukkae aku senang mendengarnya”

 

“gomawo,  ini juga berkatmu”

 

“nde?”

 

“kalau bukan  karna  saran yang  kau berikan  aku  tak  mungkin menyelesaikan laporan  itu dengan baik.  Gomawo karna sudah membantuku”

 

“aish..!   oppa  ini  bicara  apa aku hanya memberi saran sedikit saja  kok. Sisanya oppa yang  menyelesaikanya”

 

“baiklah  kau  memang  benar! Tapi tetap saja  secara tidak  langsung kau  ikut andil dalam pembuatan laporanku  itu”

 

Yoona hanya tersenyum  mendengar penuturan minho barusan ia memang mengakui bahwa dirinya ikut andil dalam  pembuatan  laporan  pemasaran itu karna memang minho mengerjakan laporan itu bersama yoona. Minho yang berfikir sementara yoona ikut menyemangati minho mereka membuat laporan itu di apartemen yoona.

 

“apa kau sudah dengar tentang acara besok malam?” perkataan   minho memecah keheningan antaranya dan yoona  karna yoona yang  tadi sempat melamun

 

“ne!  aku sudah mendengarnya dari yuri. Tentang acara penyambutan presdir baru itu kan?”

 

“hm! Sudah lama aku tak bertemu denganya” wajah minho terlihat menrawang tatapan terfokus kedepan

 

“maksudmu  siapa?  Presdir baru kita?” yoona menoleh ke arah minho dengan kening merengit  heran dengan eksprisi yang di tunjukkan minho saat ini.

 

“ hm! Sudah lama sekali rasaanya”

 

“kau mengenalnya?” tanyanya sekali lagi

 

“tentu saja,  dulu juga dia yang menempati posisi presdir di sini tapi tiba – tiba dia menghilang entah kemana. Tapi syukurlah  dia sudah kembali”

 

“begitu rupanya!!” yoona hanya menaikkan alisnya mengerti ia  menarik wajahnya yang sempat terfokus pada minho ke arah  lain.

 

‘jadi….   kau akan pergi kan?”

 

“tentu saja aku pergi  tapi  Yuri pergi bersama namjachingu nya  aku tak tahu harus pergi dengan siapa?”

 

‘bagaimana kalau  pergi denganku saja”

 

“benarkah? ” tanya yoona tak percaya

 

‘tentu saja! Itupun kalau  kau  mau”

 

“tentu saja aku mau! Gomawo kau  yang terbaik”

 

Minho tersenyum melihat sikap manja yoona yang  di tunjjukkan padanya.  Entah mengapa  ia sangat suka dengan  sikap yoona saat ini, rasanya hati dan jantungnya berdesir kencang begitu  melihat  wajah  polos dan  cantik   yoona yang begitu dekat denganya.

 

Apakah ia mulai jatuh cinta pada yoona?.  Sepertinya begitu  terbukti  saat  ini  ia sungguh tak bisa menampik bahwa yoona mulai menegisi kekosongan hatinya setelah di tinggal  pergi oleh kekasihnya.

 

Dan saat ini ia telah berjanji  pada  dirinya sendiri bahwa  minho takkan  pernah melepas orang terkasihnya ini,  ia takkan pernah  mengulangi kesalahanya  karna  telah  melepas orang  yang begitu  ia cintai.  cukup sekali saja ia melepas  seseorang  yang berharga untuknya dan  juga pernah mengisi kekosongan hatinya. Ia takkan rela bila harus kehilangan  yoona yang sudah mulai mengisi hatinya  itu.

 

.

 

 

 

 

.

 

 

 

.

 

Resort  Hotel  milik  perusahaan  Hyundai  itu  terlihat cukup ramai. Walaupun  hari – hari biasa juga Hotel ini akan tetap ramai namun kali ini berbeda orang – orang yang berlalu lalang di dalamnya sedang menanti  sebuah  acara  perekrutan serta sambutan dari presdir baru mereka.

 

Yoona dan  minho  yang  juga datang  memeriahkan acara ini pun terlihat baru saja memasuki gedung  Hotel.

 

“yoona….  di sini”  sahut  yuri   begitu  melihat  yooona dan minho yang baru  saja datang.

 

Minho dan yoona saling pandang sejenak kemudian terkikik pelan .  mereka benar – benar bingung dan  tidak  mengerti  dengan  tinkah  konyol yuri  itu. Tinggkah  yang kekanakan sekali pikir  mereka. Minho dan yoona berjalan mendekat ke arah yuri yang masih melambaikan  tanganya .

 

“ommo na! Yoong kau cantik sekali”  puji  yuri begitu ia berhadapan dengan yoona yang memang sangat cantik malam ini dengan dress panjang  merahnya  yang sangat indah  menempel di badanya itu.  terlebih  mek-up  yang yoona gunakan saat ini memang terlihat bisa dan sederhana tapi tidak mengurangi kecantiknya

 

“gomawo! Kau juga cantik yuri ah”

 

“aku memang  selalu cantik”

 

“ah!  yoong  aku  ke sana  dulu  yah?. Kau ngobrollah denganya. Kalau  ingin pulang panggil aku saja” minho yang merasa sedikit di acuhkan  memilih untuk bercengkrama dengan teman – teman nya yang berada tidak jauh dari tempatnya dan yoona saat ini  di bandingkan harus terus mendengar para wanita berbicara  sebaiknya memang ia harus mneyinggkir  sebentar, toh ia juga sudah lama tak  berkumpul bersama teman temanya itu.

 

“ne oppa”   angguk yoona tersenyum mengiyakan  kemauan  minho

 

 

“sajangnim benar – benar tampan  malam  ini. Kalian sungguh serasi cantik dan tampan” celetuk yuri saat minho berlalu dari hadapanya dan yoona

 

“aish! Jangan bicara yang  tidak-tidak” yoona mulai tak suka dengan topik yang yuri bahas lagi lagi masalah hubungannya dengan minho benar benar topik yang tak bermutu.

 

“aku  hanya barcanda!  begitu saja marah”

 

 

 

“Hadirin dan para tamu  undangan  saya mohon perhatianya” suara seseorang mengalihkan perhatian  seluruh orang  yang  ada di gedung tersebut  tak terkecuali  yuri dan yoona  yang sedang asyik mengobrol pun mengalihkan perhatian  mereka ke arah  stage yang di dekorasi sedemikian rupa hingga terkesan elegan dan  mewah. Dapat mereka lihat seorang pria paruh baya sedang berdiri di sana.

 

“saya sungguh berterimakasih   kepada tamu undangan serta kariawan yang  menyempatkan diri untuk   hadir  pada  malam  ini.  Seperti yang  kalian  tahu acara pada malam ini bertujuan untuk mengenalkan  presdir baru yang akan  memimpin perusahaan Hyundai. Meskipn mungkin di antara kalian ada yang sudah mengenalnya tapi kali ini saya akan mengenalkanya  secara langsung  di  depan  kalian semua terutama rekan – rekan media…..”

 

“kau tahu yoong  presdir baru kita itu sangat tampan” bisik yuri  masih memperhatikan panggung dimana pria paruh baya itu sedang berbicara

 

“benarkah?  Bukankah semua orang kau sebut tampan?”

 

“aish! Kali ini sungguh! dia itu sangat tampan. tubuh tegapnya,  senyumannya,  lesung pipitnya,  ahh…  dia betul – betul sempurna”

 

“terserahlah” jawab yoona acuh.  Ia  juga masih meperhatikan pria yang berbicara di panggung  itu. namun  saat pria paruh baya itu menuntun seseorang untuk naik ke panggung  ia merasa sekujur  tubuhnya  kaku  wajahnya  menegang seketika ia merasa sangat terkejut melihat sosok yang di sebut akan menjadi  presdir  itu  matanya terus menatap kearah  panggung.

 

Ia mengerjapkan mata berulang kali. Yoona  seketika  merasa lemas saat ia benar – benar dengan jelas melihat sosok itu.

 

“yoong ada apa?” yuri  keget saat melihat  yoona  yang  jatuh terduduk

 

 

‘ini tak mungkin… b-bagaimana   bisa?  dia… d-dia..” yoona nampak seperti kehilangan kesadaranya ia seperti orang  linglung  saat ini  ia sungguh tak bisa berfikir dengan jernih  apa yang ia lihat di depan sana benar –benar membuatnya shok berat.

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

Tobe continued…………………………

 

Aku minta maap kalu kelanjutanya malah gak sesuai harapan kalian, dan agak hambar karna  aku nyisain konflik pelik di chap akhir nanti.  Ku sengaja nyeritain semua kisah keduanya secara  bertahap n bkal  ada sesuatu di chap berikutnya jd tunggu aja yah  part terakhirnya dan   semuanya akan jelas.

 

Dan takkan  Aku lupa buant ngucapin  terima kasih banget  untuk  Admin  Echa  and  Gee  yang udah mau  ngepostingin ff abal – abal  ini.

 

Buat yang  habis baca jangan lupa RCL na!  Sampai  jumpa di part selanjutnya

Anyeong!!!! ^^

Tinggalkan komentar

209 Komentar

  1. LatiFaticts

     /  November 22, 2013

    lanjutkan

    Balas
  2. faridah

     /  Desember 31, 2013

    next..

    Balas
  3. Chap slnjtnya bnyak yw mment kok tpi gk jnji yah mmentnya sweet..
    Haha.. Tnang ajah sy jg gk rela yoongie brakhir ma minho..
    Sabar mnanti klanjtanya yah..

    Balas
  4. hilda

     /  Januari 19, 2014

    aduh, makin penasaran..
    next

    Balas
  5. farramutiara

     /  Maret 12, 2014

    annyeong i’m back!!!!^^kkk
    eonn ini acc wordpress dari ‘mutiara’ hehe
    ffnya tambah keren eonn, makin penasaran??><
    eonn bikin yoonwonya balikan lagi yaa;( trs updatenya cepet ya…
    still waiting buat ff eonnie;;)

    Balas
  6. elly

     /  April 18, 2014

    kok ngegantung min??? kpn dilanjut ff nya ?_?

    Balas
  7. yoona

     /  April 24, 2014

    Lanjut authorr

    Balas
  8. Next ^^ seru penasaran bgt reaksi yonna eonnie gmn sma wonpa ^^

    Balas
  9. Mana lanjutannya?-_-

    Balas
  10. RELLY

     /  September 17, 2014

    Thor…. mana ya lanjutan ff nya? udah lama banget…. n penasaran sama ending nya? ditunggu ya thor…. gomawo

    Balas
  11. cerita.nya menarik, bagus thorr penasaran sama kelanjutan.nya ..

    Balas
  12. Choi Han Ki

     /  Oktober 31, 2014

    Wah akhirnya yoona ketemu lagi sama siwon walaupun blm bertatapan langsung , kira2 giman selanjutnya ya ??

    Balas
  13. kira’ kelanjutannya gimana ya next

    Balas
  14. maria ulfa

     /  November 9, 2014

    aaaaa… mana lanjutannyaa ?? udah setahun thor😦 ini bikin penasaran bgttttt. ayodong thor bikin lagiiii

    Balas
  15. Ai juariah

     /  Desember 1, 2014

    Wah…yoona pasti syok bgt lihat siwon….kasian amat yoona…dan jangann sampai deh min hoo nyatain cinta nya bwat yoona ah…author…bkin mereka bersatu lagi….

    Balas
  16. Choi Han Ki

     /  Desember 5, 2014

    Mana ya ini kelanjutannya… Di tunggu next chapternya thor

    Balas
  17. amalia an

     /  Desember 21, 2014

    Kog pendek bwgt sich………tp seru bikin penasaran.
    Lanjut terus yaaaa.

    Balas
  18. al

     /  Januari 5, 2015

    hai author… aku riders baru,, mian aku baru koment part ini…..
    seru ceritanya….. jgan lma2 pblish lanjutanx y…
    penasaran…

    Balas
  19. al

     /  Januari 5, 2015

    hai author… aku riders baru,, mian aku baru koment part ini…..
    seru ceritanya….. jgan lma2 pblish lanjutanx y…
    penasaran…

    Balas
  20. ewiek

     /  Januari 23, 2015

    lanjutkan pleaseee,,,,,,,,

    Balas
  21. Mana nex chapter ny Thor? PenasaraN kira2 yoona sama lee minho apa wonpa??

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: